...

LINGKUNGAN FISIK DAN KEKAYAAN MIKROALGA DI DANAU

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

LINGKUNGAN FISIK DAN KEKAYAAN MIKROALGA DI DANAU
LINGKUNGAN FISIK DAN KEKAYAAN MIKROALGA
DI DANAU UNIVERSITAS TERBUKA, TANGERANG SELATAN
Budi Prasetyo ([email protected])
Elizabeth Novi Kusumaningrum
Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Terbuka
ABSTRAK
Desain pembuatan danau UT di samping sebagai tempat resapan air, wahana rekreasi,
sarana olahraga, juga merupakan habitat penting bagi tumbuhan dan hewan air (golongan
alga sampai jenis vertebrata). Informasi mengenai data mikroalga serta kondisi fisik dan
kimiawi lingkungan danau UT belum diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian. Tujuan
penelitian untuk mengukur kekayaan mikroalga, keanekaragaman mikroalga, dan kondisi
lingkungan fisik dan kimiawi. Metode yang digunakan adalah mengidentifikasi setiap jenis
dan menghitung jumlah individu mikroalga, serta menganalisis kualitas air. Hasil
pengukuran kecerahan air danau dikatakan relatif keruh (52-60 cm). Pengukuran suhu air
menunjukkan besaran angka 31-31,5oC, kisaran suhu tersebut baik bagi pertumbuhan
mikroalga. Nilai derajat keasaman air adalah 7,3-7,5, sedangkan hasil pengukuran DO
sebesar 0,5-0,57 mg/L. Kekayaan mikroalga yang teridentifikasi di danau UT sebanyak 21
genus ditemukan di empat stasiun dengan total populasi 4.080 individu/mm3. Persentase
jumlah individu terbanyak adalah Scenedesmus sp. Indeks kekayaan jenis termasuk
kategori sedang (3,33). Kepadatan individu tertinggi ditemukan di stasiun-2 (bagian tengah)
sebesar 4.651 individu/Liter, selanjutnya diikuti oleh stasiun-3 dari tepi danau sampai tepi
gasebo (2. 318 individu/Liter), stasiun-1 di bagian tepi danau (2.025 individu/Liter), dan
stasiun-4 di bagian keluaran air (1.193 individu/Liter). Indeks biodiversitas jenis cukup
rendah yaitu 2,107.
Kata kunci: danau UT, mikroalga
ABSTRACT
Lake of Open University (UT) is designed not only as a container, watershed, irrigation,
sports, and recreation, but also as critical habitat for the survival of plants and aquatic
animals ranging from algae groups to types of vertebrate. Information relating to the data
microalgae and environmental conditions of lake UT physical and chemical have not been
investigated. Research objectives were to measure the wealth of microalgae that live in
Lake UT, the microalgae diversity, and the physical and chemical environment. The method
used to identify each kind of microalgae, is by counting the number of individuals
microalgae, and analyze the water quality. Measurement results showed that the brightness
of the physical environment of the lake water had turbid category (52-60 cm). The
temperature of the lake water showed 31 to 31.5 oC, this temperature range is good for the
growth of microalgae. Value of the degree of acidity of water was 7.3 to 7.5. DO
measurements generating valued from 0.5 to 0.57 mg/L. The wealth of microalgae that live
in lake UT was identificated as many as 21 genera at four stations with a total population of
4.080 individual/mm3. The highest percentage individual was Scenedesmus sp. Species
richness index was 3,33 (medium category). Highest individual density was found in th
Prasetyo, Lingkungan Fisik dan Kekayaan Mikroalga
middle of the lake by 4.651 individualLitre, followed by a passage from edge of the lake to
the edged of gazibu (2.318 individual/Litre), the edge of lake (2.025 individual/Litre), and the
last outlet (1.193 individual/Litre) lake. Biodiversity index is quite low at 2.107.
Keywords: lake UT, microalgae
Danau UT merupakan danau air tawar buatan yang berada di kampus UT Kelurahan Pondok
Cabe Ilir, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan. Desain pembuatan danau tersebut, lebih
diutamakan sebagai tempat resapan air, di samping sebagai tempat rekreasi dan sarana olahraga.
Namun demikian danau UT juga mempunyai fungsi lain yakni sebagai habitat penting bagi
kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan air mulai dari golongan alga sampai jenis vertebrata.
Pembuatan danau UT dilaksanakan sekitar awal tahun 2005, dengan tetap memperhatikan
dan mempertimbangkan lingkungan sekitarnya termasuk diantaranya perkampungan warga di sekitar
UT, gedung-gedung perkantoran UT, dan juga sungai aktif yang mengalir masuk di komplek
perkantoran UT. Pada saat itu inlet danau UT berasal dari air sungai tersebut, namun sekitar awal
tahun 2006, inlet danau tersebut telah ditutup sehingga sumber masukan air ke danau hanya berasal
dari sumber mata air yang ada di dalamnya dan curahan air hujan. Luas areal danau UT sekitar 1,3
Ha dengan kedalaman bervariasi, yakni di bagian tepi sekitar 148 cm dan di bagian tengah sekitar
330 cm. Secara estetika danau UT cukup menarik, rapi, terawat bersih, di bagian tengahnya terdapat
bangunan gasebo yang dapat diakses melalui jembatan, dilengkapi juga dengan air mancur buatan,
sedangkan di sekitarnya dikelilingi oleh jogging track.
Berbagai mikroalga yang hidup di danau tersebut memiliki beragam manfaat sehingga
berpengaruh terhadap eksistensi makhluk hidup lain maupun lingkungannya. Manfaat mikroalga
antara lain sebagai bahan baku industri farmasi dan kosmetika (Kawaroe et al., 2010). Di samping
itu, mikroalga dapat pula dimanfaatkan sebagai sumber substantif bioaktif, bahan dasar pakan
ternak, dan keperluan pertanian atau pupuk (Reith, 2004). Selain untuk makanan, pakan, dan
pertanian, mikroalga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai jenis bahan bakar hayati atau
biofuel (Prabakaran & Ravindran, 2012), misalnya metana yang merupakan hasil proses pencernaan
anaerobik biomassa algae (Spolaore et al., 2006). Beberapa jenis mikroalga yang telah berhasil
dikultivasi pada skala industri, diantaranya Chlorella sp., Spirulina sp., Dunaliella salina, dan
Nannochloropsis sp. (Kawaroe et al., 2010).
Informasi mengenai data mikroalga serta kondisi lingkungan danau UT secara fisik dan
kimiawi belum diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian. Diharapkan dari hasil penelitian
diperoleh informasi mengenai data lingkungan fisik dan kekayaan mikroalga di danau UT yang dapat
dimanfaatkan sebagai data sumber (source data) bagi para peneliti serumpun ilmu serta pelengkap
data kajian tentang mikroalga di danau-danau wilayah Tangerang Selatan.
METODE
Penelitian dilaksanakan di danau UT, Kelurahan Pondok Cabe Ilir, Kecamatan Pamulang,
Tangerang Selatan selama 9 bulan dari Februari sampai dengan Oktober 2011, mulai pukul 09.0012.00 WIB. Penentuan lokasi pengambilan sampel dilakukan dengan cara sebagai berikut:
ditetapkan empat titik pengambilan sampel yaitu 1). di bagian tepi awal diberi kode stasiun-1, 2). di
bagian tengah (midlet) diberi kode stasiun-2, 3). dari tepi danau ke tepi gasebo diberi kode stasiun-3,
dan 4). di bagian keluaran air (outlet) diberi kode stasiun-4. Keempatnya ditetapkan sebagai plot
120
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 14 Nomor 2, September 2013, 119-127
penelitian. Prosedur kerja meliputi: 1) pada setiap plot penelitian (stasiun-1, stasiun-2, dan stasiun-4)
secara vertikal dilakukan pengambilan sampel mikroalga dengan menggunakan alat Kemmerer
Water Sampler. Sampel air diambil dari daerah permukaan, bagian tengah kedalaman danau, dan
dari bagian dasar danau. Kemudian pada plot penelitian stasiun-3 dilakukan pengambilan sampel
secara horizontal dengan menggunakan perahu kecil satu kali jalan. 2) sampel air yang diperoleh
tersebut kemudian disaring dengan menggunakan plankton net nomor 25. 3). air hasil saringan
ditampung dalam botol koleksi bertutup untuk dipreservasi dengan formalin 4%. 4) botol-botol koleksi
dibawa ke laboratorium, dengan menggunakan haemocytometer dan mikroskop binokuler dilakukan
pengamatan untuk menentukan jenis dan jumlah/kepadatan mikroalga. Identifikasi mikroalga
berdasarkan Algae Identification, Lab Guide (Serediak & Huynh, 2011). 5) dilakukan pengukuran
parameter lingkungan yang menjadi pembatas pertumbuhan mikroalga yakni kecerahan, temperatur,
pH, kedalaman, dan konsentrasi oksigen terlarut. Seluruh pengambilan sampel dan pengukuran
parameter lingkungan dilakukan sebanyak 2 kali ulangan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rincian pengukuran parameter meliputi: a) kecerahan, b) temperatur, c) pH (derajat
keasaman), d) konsentrasi oksigen terlarut (DO), dan d) tingkat kedalaman danau disajikan dalam
Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Rata-rata Pengukuran Parameter Fisik dan Kimiawi Danau UT
Lokasi Pengambilan Sampel
Parameter
Stasiun-1
Stasiun-2
Kecerahan
60 cm
55,5 cm
Temperatur
31,50C
31,50C
Derajad Keasaman (pH)
7,3-7,4
7,4-7,5
Konsentrasi oksigen terlarut (DO)
0,57 mg/L
0,5 mg/L
Tingkat kedalaman danau
140-148 cm
300-330 cm
Stasiun-4
52 cm
310C
7,4-7,5
0,5 mg/L
141-143 cm
Kecerahan Perairan
Pengukuran kecerahan perairan di danau UT menggunakan alat secchi disk, dilakukan dari
permukaan air sampai mencapai kedalaman tertentu dengan pengamatan secara visual.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerahan perairan danau UT (Tabel 1)
dikategorikan keruh (rendah). Menurut Arthington (1980), kondisi perairan dapat dibedakan menjadi
tiga bagian berdasarkan tingkat kecerahannya, yakni perairan keruh apabila nilai kecerahannya 0,251 m, perairan sedikit keruh memiliki nilai kecerahan 1-5 m, sedangkan perairan jernih memiliki nilai
kecerahan di atas 5 m. Sumber masukan air danau UT berasal dari sumber mata air yang berada di
dalamnya dan air curahan hujan. Kekeruhan perairan yang terjadi lebih disebabkan adanya aktivitas
biologi mikroalga dan hewan air lainnya (vertebrata dan invertebrata) yang hidup di danau tersebut.
Di samping itu juga karena kedalaman danau tidak terlalu dalam (148-330 cm) memungkinkan
partikel tanah dan lumpur di bagian dasar terangkat ke atas permukaan. Kecerahan memiliki dampak
ekologis yaitu akan menyebabkan penurunan penetrasi cahaya ke dalam perairan kemudian
berakibat pada menurunnya kegiatan fotosintesis dan produktivitas primer fitoplankton (Nybakken,
1992). Salah satu upaya untuk meningkatkan kecerahan air adalah perlu dilakukan pengerukan
kembali secara berkala bagian dasar danau agar bertambah kedalamannya.
121
Prasetyo, Lingkungan Fisik dan Kekayaan Mikroalga
Temperatur Perairan
Temperatur merupakan salah satu faktor kehidupan yang sangat penting dalam proses
metabolisme mikroalga perairan. Perubahan temperatur perairan yang terjadi sangat dipengaruhi
oleh kondisi musim, letak lintang suatu wilayah, kedalaman perairan, ketinggian suatu tempat dari
permukaan laut, dan waktu pengukuran. Kenaikan suhu perairan akan berdampak pada
meningkatnya kebutuhan oksigen, namun di sisi lain akan mengakibatkan turunnya kelarutan oksigen
dalam air. Hasil pengukuran temperatur pada permukaan perairan danau UT di tiga stasiun
menunjukkan nilai yang tidak begitu bervariasi yakni tepi = 31,50C, midlet = 31,50C, dan outlet = 310C
(Tabel 1). Nilai kisaran temperatur tersebut adalah normal bagi pertumbuhan mikroalga, karena
menurut Reynolds (1989) kisaran suhu optimal bagi pertumbuhan mikroalga adalah 250C-400C.
Derajat Keasaman (pH) Perairan
Derajat keasaman atau pH merupakan nilai yang menunjukkan konsentrasi ion hidrogen
dalam air. Nilai pH suatu perairan dapat mencerminkan keseimbangan antar asam dan basa dalam
perairan tersebut. Nilai pH dipengaruhi oleh beberapa parameter, antara lain aktivitas biologi, suhu,
kandungan oksigen, dan konsentrasi ion-ion. Hasil dari aktivitas biologi adalah gas CO2 yang
merupakan hasil respirasi. Gas ini akan membentuk ion buffer atau penyangga untuk menjaga
kisaran pH di perairan agar tetap stabil (Prescod, 1979). Hasil pengukuran pH (Tabel 1)
menunjukkan bahwa pH perairan danau UT masih sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan untuk
kehidupan mikroalga di perairan. Ditegaskan oleh Pescod (1973) kisaran rata-rata pH bagi
pertumbuhan mikroalga perairan adalah 6,5-8.
Konsentrasi Oksigen Terlarut (Disolved Oksigen/DO) Perairan
Hasil pengukuran konsentrasi oksigen terlarut di tiga stasiun penelitian dengan
menggunakan alat Dissolved Oxygen Meter digital berkisar antara 0,5-0,57 mg/L (Tabel 1).
Berdasarkan data hasil pengukuran dapat dikatakan bahwa DO perairan danau UT sangat rendah (di
bawah ambang batas). Kondisi ini terjadi karena danau UT tidak memiliki inlet sehingga sirkulasi
udara secara linier tidak terjadi, akibatnya difusi oksigen ke dalam perairan danau sangat kurang. Di
samping itu juga karena keberadaan danau yang dikelilingi oleh gedung perkantoran dan tembok
pembatas menyebabkan sangat kurangnya pergolakan massa air yang diciptakan oleh angin.
Sebagai salah satu upaya perbaikan kualitas konsentrasi oksigen terlarut di Danau UT
disarankan a). untuk menghidupkan pompa air mancur yang terdapat di tepi danau secara berkala,
misalnya seminggu sekali selama 6 jam, diharapkan mampu meningkatkan agitasi permukaan air
danau, b) ditanami tumbuhan air (Nymphaea alba, Plantago sp., Eichornia crassipes, dan Sagittaria
latifolia) untuk memperkaya komponen ekosistem danau.
Kekayaan dan Struktur Komunitas Mikroalga
Hasil identifikasi mikroalga di danau UT pada empat titik pengambilan sampel ditemukan 21
spesies mikroalga. Perbandingan jumlah individu antarspesies cukup signifikan, Scenedesmus sp.
merupakan mikroalga yang ditemukan di 4 stasiun dengan jumlah individu paling banyak (22,8%),
urutan berikutnya diikuti oleh Characium sp. (19,9%), Oocystis sp. (14,2%), Gomphonema sp.
(8,1%), dan Zygnema sp. (6,7%). Menurut Beherepatil dan Deore (2013) Scenedesmus sp. tersebut
diidentifikasi sebagai Scenedesmus dimorphus dan Scenedesmus dimorphus quadricauda var.
quadrispina. Adapun 21 spesies mikroalga yang ditemukan sebagai berikut Zygnema sp.,
Scenedesmus sp., Characium sp., Crucigenia sp., Peridinium sp., Oocystis sp., Gomphonema sp.,
122
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 14 Nomor 2, September 2013, 119-127
Agmeneilum sp., Navicula sp., Tetrastrum sp., Dictyosphaerium sp., Phycotonis sp., Pleurococcus
sp., Botryoccoccus sp., Synedra sp., Kirchneriella sp., Ulothrix sp., Chlorella sp., Stichococcus sp.,
Lagerheimia sp., dan Ankistrodesmus sp. Sedangkan variasi frekuensi ditemukannya mikroalga di
seluruh stasiun tertera pada Gambar 1.
Frekuensi antar-spesies mikroalga
di empat plot penelitian
10
5
7
4
0
4
di 4
di 3
stasiun
di 2
stasiun
stasiun
6
di 1
stasiun
Gambar 1. Histogram frekuensi antar-spesies mikroalga di empat plot penelitian
Tingginya jumlah individu Scenedesmus sp. mengindikasikan bahwa kemungkinan besar
lingkungan perairan danau UT telah mengalami pencemaran kategori sedang. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Fodorpataki, Bartha, dan Keresztes (2009), Scenedesmus sp. merupakan alga hijau
yang menjadi bioindikator dari lingkungan ekosistem air yang sedang mengalami stres.
Sebaran spesies mikroalga di 4 plot penelitian
20
11
17
14
12
0
Jumlah spesies yang
teridentifikasi di 4
plot penelitian
Gambar 2. Histogram sebaran spesies mikroalga di empat plot penelitian
Diantara stasiun-1 sampai dengan stasiun-4 memiliki jumlah sebaran jenis mikroalga yang
berbeda, sebaran jenis terbanyak ditemukan di stasiun-2 (midlet), yakni 17 spesies, urutan
123
Prasetyo, Lingkungan Fisik dan Kekayaan Mikroalga
selanjutnya diikuti oleh stasiun-3 (14 spesies), stasiun-4 (12 spesies), dan terakhir 11 spesies
mikroalga ditemukan di stasiun-1 (Gambar 2). Hasil perhitungan indeks kekayaan jenis di danau UT
adalah 3,33, nilai indeks tersebut termasuk dalam kategori sedang karena menurut Jorgensen,
Cotanza, dan Xu. (2005), besaran indeks kekayaan jenis dikatakan baik apabila memiliki nilai > 4.0,
dikategorikan moderat (sedang) apabila nilainya 2,5-4.0, dan dikategorikan buruk jika nilainya < 2,5.
Indeks Kelimpahan
Indeks kelimpahan mikroalga di empat stasiun penelitian menunjukkan hasil yang cukup
berbeda, kepadatan mikroalga tertinggi ditemukan di stasiun-2 yaitu 4.651 individu/Liter selanjutnya
diikuti oleh stasiun-3 sebanyak 2.318 individu/Liter, stasiun-1 sebanyak 2.025 individu/Liter, dan
terakhir di bagian outlet atau stasiun-4 sebanyak 1.193 individu/Liter (Gambar 3). Tingginya nilai
indeks kelimpahan mikroalga di stasiun-2 disebabkan oleh faktor banyaknya nutrien (kandungan
bahan organik dan unsur hara) bagi kebutuhan hidup mikroalga lebih terkonsentrasi di bagian midlet
(stasiun-2) yang memiliki kedalaman lebih diantara stasiun penelitian lainnya.
Kelimpahan mikroalga (individu/liter)
antar-stasiun penelitian
6.000
4.000
2.000
0
Stasiun-2
Stasiun-3
Stasiun-1
Stasiun-4
Gambar 3. Histogram indeks kelimpahan spesies mikroalga antar-stasiun penelitian
Alasan ini juga diperkuat bahwa diprediksi karena pada stasiun-2 tersebut tidak terlalu dalam (3,30
m) maka tidak terdapat pergerakan air dari dasar ke permukaan atau sebaliknya secara signifikan.
Dengan demikian dimungkinkan terjadinya pertumbuhan dan perkembangan sel mikroalga yang lebih
baik (Yuliana & Tamrin, 2007). Pada stasiun-4 nilai indeks kelimpahannya paling kecil karena sifat
mikroalga yang lemah daya renangnya sehingga lebih tergantung pada pergerakan air, diperkirakan
sebagian kecil mikroalga terbawa oleh arus outlet. Di bagian outlet merupakan daerah yang
pergerakan airnya relatif lebih deras dibandingkan stasiun lainnya.
Indeks Keanekaragaman
Hasil perhitungan indeks keanekaragaman jenis mikroalga di seluruh stasiun penelitian relatif
tidak berbeda jauh. Besaran nilai indeks keanekaragaman jenis mikroalga di stasiun-1 adalah 2,079,
124
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 14 Nomor 2, September 2013, 119-127
di stasiun-2 sebesar 2,312 sedangkan di stasiun-3 sebesar 1,992 dan terakhir di stasiun-4 adalah
2,044 (Gambar 4).
Indeks keanekaragaman jenis mikroalga
di empat stasiun penelitian
2,4
2,2
2
1,8
Stasiun-1
Stasiun-2
Stasiun-3
Stasiun-4
Gambar 4. Histogram indeks keanekaragaman jenis mikroalga di empat stasiun penelitian
Secara keseluruhan rata-rata nilai keanekaragaman jenis mikroalga di danau UT adalah
2,107 nilai tersebut termasuk kategori rendah, karena menurut Wilhm & Dorris (1968), besaran
indeks keanekaragaman jenis dikatakan rendah apabila nilai H’ < 2,3026, dikategorikan sedang
apabila nilai 2,3026 < H’< 6,9078, dan dikategorikan tinggi jika nilai H’> 6,9078. Rendahnya nilai
keanekaragaman jenis mikroalga di danau UT karena sumber masukan air ke danau hanya berasal
dari sumber mata air yang berada di dalam danau dan dari curahan air hujan.
Indeks Kemerataan
Indeks kemerataan jenis mikroalga di empat stasiun penelitian menunjukkan hasil yang tidak
berbeda jauh. Besaran indeks kemerataan di stasiun-1 adalah 0,683, di stasiun-2 sebesar 0,759, di
stasiun-3 sebesar 0,654, dan di stasiun-4 sebesar 0,671. Secara keseluruhan hasil indeks
kemerataan tersebut termasuk kategori tinggi yang berarti jumlah individu pada masing-masing
spesies relatif sama, tidak memiliki perbedaan yang mencolok di setiap stasiun (Odum, 1971).
Kondisi ini dapat dikatakan bahwa lingkungan di danau UT relatif stabil, penyebaran individu setiap
jenis relatif merata dan tidak adanya kecenderungan terjadi dominasi spesies lain secara ekstrim
(Yuliana & Tamrin, 2007).
Indeks Dominasi
Hasil indeks dominasi spesies mikroalga di empat stasiun penelitian sebagai berikut: kisaran
indeks dominasi jenis di stasiun-1 berkisar antara 0-0,055, di stasiun-2 sebesar 0-0,046, di stasiun-3
sebesar 0-0,104, dan di stasiun-4 berkisar antara 0-0,085. Secara keseluruhan hasil indeks dominasi
jenis tersebut tergolong rendah karena memiliki nilai yang cenderung mendekati angka 0, ini berarti
bahwa di danau UT tidak terdapat jenis yang secara ekstrim dominan terhadap sesama jenis
mikroalga lainnya dalam segala aktivitas biologi.
125
Prasetyo, Lingkungan Fisik dan Kekayaan Mikroalga
SIMPULAN
Keberadaan danau UT yang berfungsi sebagai resapan air bagi seluruh bangunan
perkantoran UT dan rumah warga sekitarnya relatif masih muda usianya (8 tahun). Hasil identifikasi
kekayaan mikroalga di danau UT kurang bervariasi, hanya ditemukan 21 spesies mikroalga dengan
perbandingan jumlah individu antarspesies cukup signifikan. Scenedesmus sp. merupakan mikroalga
dengan jumlah individu terbanyak (22,8%). Indeks kekayaan jenis di danau UT termasuk dalam
kategori sedang, yaitu 3,33, sedangkan indeks keanekaragaman jenisnya tergolong rendah (2,107).
Indeks kemerataan jenis mikroalga di danau UT adalah 0,654-0,759. Kisaran indeks dominasi antarspesies mikroalga adalah 0-0,104.
Perolehan hasil pengukuran parameter fisik dan kimiawi di danau UT sebagai berikut
kecerahan perairan dikategorikan keruh (52-60 cm) sedangkan besaran nilai temperatur permukaan
perairan adalah 31-31,50C, nilai kisaran temperatur tersebut normal bagi pertumbuhan mikroalga.
Nilai derajat keasaman perairan berkisar antara 7,3-7,5, nilai tersebut masih sesuai dengan kondisi
yang dibutuhkan untuk kehidupan mikroalga di perairan. Adapun perolehan nilai konsentrasi oksigen
terlarut di perairan danau tergolong sangat rendah, yakni berkisar antara 0,5-0,57 mg/L.
Secara keseluruhan dapat disarikan bahwa kondisi lingkungan danau UT akan suistanable
apabila beberapa upaya perbaikan yang telah penulis paparkan di atas dapat segera diakomodasi
dan dilaksanakan secara berkala berkelanjutan.
REFERENSI
Arthington, A. (1980). The fresh water environment. Kelvin Grove College, Queensland. Australia.
Beherepatil, K.H., & Deore, L.T. (2013). Genus scenedesmus from different habitats of Nashik and
it’s environs (M.S) India. International Journal of Bioassays, XI, (2)
Fodorpataki, L., Bartha, C., & Keresztes, Z.G. (2009). Stress-physiologycal reaction of the green alga
Scenedesmus opoliensis to water pollution with herbicides. Journal Analele Universităţii din
Oradea, Fascicula Biologie, 16, (1).
Jorgensen, S.E, Cotanza, R., & Xu, F.L. (2005). Handbook of ecological indicators for assesment of
ecosystem healt. C.R.C Press. Diambil tanggal 10 Februari 2011 dari www.crcpress.com.
Kawaroe, M, Prartono, T, Sunuddin, A, Sari, D.W, & Augustine, D. (2010). Mikroalga: potensi dan
pemanfaatannya untuk produksi bio bahan bakar. Bogor. PT Penerbit IPB Press.
Nybakken, J.W. (1992). Marine biology: An ecological approach. Cambridge. Addison-Wesley
Longman, Limited.
Odum, E. P. (1971). Fundamentals of ecology, Philadelphia, PA. W. B. Saunders Company.
Pescod, M.B. (1973). Investigation of rational effluent and stream standard for tropical countries.
Bangkok: AIT.
Prabakaran, P., & Ravindran, A.D. (2012). Scenedesmus as a potential source of biodiesel among
selected microalgae. Current Science, 102, (4).
Prescod, D.W (1979). How to know the freshwater Algae. Iowa: M.W.C Brown Company Publisher.
Reith, J.H. (2004). Microalgal mass cultures for Co-production of fine chemicals and biofuels & water
purification. Netherland. Universiteit van Amsterdam, IBED-Aquatic Microbiology.
Reynolds, C.S. (1989). Physical determinant of phytoplankton succesison. In U. Sommer (ed)
Plankton ecology. Springler-Verlag.
Serediak, N., & Huynh, M-L. (2011). Algae identification, Lab Guide. Agriculture and Agri-Food
Cananda.
126
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 14 Nomor 2, September 2013, 119-127
Spolaore, P., Claire, J.C., Elie, D., & Arsene, I. (2006). Commercial application of microalgae. Journal
of Bioscience and Bioengineering, 101, (2), 87-96.
Wilhm, J.R., & Dorris, C.T. (1968). Biological parameters for water quality criteria. Biosciencis, 18,
(2).
Yuliana & Tamrin (2007). Fluktuasi dan kelimpahan fitoplankton di danau Laguna Ternate, Maluku
Utara. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences), IX, (2).
127
Fly UP