...

Analisis dan Perancangan Wireless Roaming (Studi Kasus

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Analisis dan Perancangan Wireless Roaming (Studi Kasus
Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (SC-SITI)
Palembang, 21-22 Agustus 2015
Analisis dan Perancangan Wireless Roaming
(Studi Kasus Universitas Baturaja)
Muhammad Sofyan1, Leon Andretti Abdillah2, Hadi Syahputra3
1,3
2
Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bina Darma
Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bina Darma
Palembang, Indonesia
1
[email protected], [email protected]
Abstract. Wireless roaming is one way to improve the reliability of a network
of hotspots that are still using the topology Basic Service Set (BSS). When the
user walks away from one access point (AP) or one AP die then begins to lose
the signal, the mobile station (MS) is automatically connected with the AP to
another without reconfiguring. Devices that support wireless roaming is the AP
TP-Link TL-WR740N using DD-WRT firmware that supports DHCP
forwarder. Wireless roaming makes it easy for the user if there is more than one
AP in an area.
Keywords: Access point, BSS, DD-WRT, DHCP, Mobile station, Wireless
roaming.
1 Pendahuluan
Maraknya perkembangan teknologi membuat masyarakat tidak bisa lepas dari
internet, itulah sebabnya di tempat-tempat seperti kampus atau perkantoran
disediakan fasilitas hotspot. Hotspot sendiri adalah lokasi dimana user dapat
mengakses internet melalui mobile computer (seperti laptop atau smart phone) tanpa
menggunakan koneksi kabel. Jaringan hotspot menggunakan jaringan wireless yang
menggunakan radio frekuensi untuk melakukan komunikasi antara perangkat
komputer dengan access point (AP). Pada umumnya peralatan wifi hotspot
menggunakan standardisasi IEEE 802.11b atau IEEE 802.11g dengan menggunakan
beberapa tingkat keamanan seperti WEP dan atau WPA [1].
Wireless roaming adalah salah satu cara untuk meningkatkan reliabilitas dari suatu
jaringan hotspot yang masih menggunakan topologi Basic Service Set (BSS) [2].
Ketika user berjalan menjauhi salah satu access point atau salah satu AP mati
kemudian mulai kehilangan sinyal, mobile station (MS) secara otomatis terkoneksi
dengan AP yang lain tanpa harus melakukan konfigurasi ulang. Perangkat yang
mendukung wireless roaming adalah AP TP-Link TLWR740N dengan menggunakan
firmware DD-WRT yang mendukung DHCP forwarder. Wireless roaming
memberikan kemudahan bagi users jika terdapat lebih dari satu AP dalam suatu area.
Jaringan lokal nirkabel atau wireless local area network (Wireless LAN atau
WLAN) merupakan jaringan komputer yang media transimisinya menggunakan
gelombang radio, berbeda dengan jaringan LAN konvensional yang menggunakan
31
Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (SC-SITI)
Palembang, 21-22 Agustus 2015
kabel sebagai media transmisi sinyalnya. Standar yang digunakan dalam WLAN
adalah 802.11 yang ditetapkan oleh IEEE. Versi 802.11 saat ini menyediakan
kecepatan transfer data hingga 600 Mbps (802.11n). Seperti semua standar 802 IEEE,
standar 802.11 berfokus pada dua lapisan terbawah model Open System
Interconnection (OSI), yaitu physical layer dan data link layer [3].
Gambar 1 menunjukkan contoh penerapan jaringan WLAN. Terlihat untuk
pengaksesan data tidak lagi menggunakan media kabel tetapi sudah menggunakan
radio. Teknologi yang dipakai adalah spread spectrum. Spread spectrum dalam
telekomunikasi adalah salah satu teknik modulasi dimana sinyal ditransimisikan
dalam bandwidth yang jauh lebih lebar dari frekuensi sinyal awal informasi. Saat ini
teknologi spread spectrum banyak diaplikasikan khususnya pada WLAN dan
komunikasi mobile, karena menyediakan bandwidth yang lebar dan sinyalnya lebih
kebal terhadap derau (noise) [4].
Gambar 1. Contoh Jaringan WLAN
Teknik nirkabel internet berbasis Wireless bertumpu pada konsep yang ditentukan
oleh standart IEEE 802.11.terlepas dari jenis PHY (lapisan fisik) yang dipilih, IEEE
802.11 mendukung 3 topologi dasar untuk WLAN [5], yaitu: 1) Independent Basic
Service Set (IBSS) atau jaringan ad-hoc atau peer-to-peer, 2) Basic Service Set (BSS)
terdiri dari setidaknya satu AP yang terhubung ke infrastruktur jaringan kabel dan
satu set end station nirkabel (MS). Dengan demikian, konfigurasi BSS menggunakan
sebuah AP sebagai penghubung antar client, 3) Extended Service Set (ESS) terdiri dari
serangkaian BSS yang saling overlap (masing-masing terdapat AP), yang terhubung
bersama membentuk suatu distribution system (DS). Mobile node dapat melakukan
roaming antara AP sehingga dapat mencakup kawasan yang cukup luas [6].
Hotspot adalah suatu koneksi jaringan wireless yang tersedia dan siap pakai,
dimana pengguna dengan perangkat WLAN yang compatible, dapat terhubung ke
Internet atau private intranet. Hotspot, atau yang lebih dikenal sebagai Wi-Fi hotspot
tersusun atas perangkat atau komponen WLAN, server, dan ISP bila terhubung ke
Internet [7].
32
Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (SC-SITI)
Palembang, 21-22 Agustus 2015
2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah dengan melalui tahap-tahap
penelitian, seperti berikut [5]: 1) Menentukan Topologi Jaringan, 2) Menentukan
Spesifikasi Perangkat, 3) Melakukan Instalasi Software, 4) Penentuan Lokasi
Pengujian, dan 5) Melakukan Konfigurasi Jaringan.
Gambar 5. Topologi Jaringan yang Dibangun
2.1 Menentukan Topologi Jaringan
Topologi jaringan yang dirancang, menggunakan provider mobile broadband untuk
menerapkan wireless roaming (gambar 5). Jaringan yang dibangun akan
menghubungkan 6 (enam) gedung.
2.2 Menentukan Perangkat Access Point
Untuk membangun hotspot yang menggunakan topologi ESS sehingga menerapkan
wireless roaming maka digunakan dua buah access point yang menjalankan fungsi
DHCP forwarder. Access point yang digunakan adalah TP-Link model TL-WR740N.
Access point ini telah dilengkapi dengan perlengkapan yang dibutuhkan seperti unit
power supply dan kabel LAN ethernet standar [5].
2.3 Melakukan Instalasi Software
Instalasi software dilakukan pada perangkat AP dan MS. Pada AP diinstal firmware
DD-WRT, sedangkan pada MS diinstal Wireshark dan bandwidth monitor. Proses
instalasi firmware DD-WRT pada AP dilakukan melalui dua tahapan, yaitu: 1)
33
Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (SC-SITI)
Palembang, 21-22 Agustus 2015
melakukan upgrade menggunakan firmware DD-WRT versi factory-to-ddwrt.bin,
dan 2) tl-wr740n- webflash.bin.
2.4 Penentuan Lokasi Pemasangan Access Point
Dalam penelitian ini Access Point ditempatkan pada beberapa posisi yang berbeda
dengan jarak tertentu, agar didapatkan fungsi wireless roaming. Perangkat
ditempatkan pada beberapa gedung di Universitas Baturaja.
2.5 Melakukan Konfigurasi Jaringan
Setelah melakukan proses instalasi firmware DD-WRT pada AP, tahap berikutnya
adalah mengkonfigurasi jaringan agar dapat beroperasi dengan baik dan dapat
memenuhi syarat tercapainya jaringan hotspot yang menggunakan wireless roaming.
Konfigurasi pertama dilakukan pada router yang digunakan sebagai DHCP server
sebagai berikut: 1) IP local pada router menggunakan IP address 192.168.137.1
dengan netmask 255.255.255.0 pada interface bridge-local, dan 2) PPP client yang
dibuat berisi konfigurasi modem 3G yang digunakan seperti channel modem, APN,
username dan password yang disesuaikan dengan ISP yang digunakan. Karena pada
penelitian ini digunakan ISP IM3 maka APN, username, dan password diisi sesuai
dengan konfigurasi dari masing-masing ISP.
Konfigurasi berikutnya dilakukan pada AP. Langkah-langkahnya adalah sebagai
berikut: 1) IP local pada AP dibuat default 192.168.1.1 dengan netmask
255.255.255.0, 2) WAN connection type pada AP dibuat disable, 3) DHCP type untuk
setiap access point dibuat menjadi DHCP forwarder, 4) Nama SSID untuk setiap AP
dibuat sama dengan nama “Roaming”, dan 5) Security pada setiap AP dibuat sama
dengan network key qwerty123.
3 Hasil dan Pembahasan
Pengujian dilakukan dengan cara melakukan test berupa download, ping time, dan
trace route pada MS yang terkoneksi dengan AP Roaming1 tetapi masih dalam
jangkauan sinyal AP Roaming1. Setelah itu, MS dibuat menjauhi AP Roaming1
sampai diluar jangkauan AP Roaming1. Hasil dari pengujian sebelum menggunakan
wireless roaming dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pengujian Sebelum Menggunakan Wireless Roaming
Pengujian
Bandwidth
Throughput
Ping Time
Dalam
Jangkauan AP
Jauh dari
Jangkauan AP
360,5 Kbps
43.4 KB/s
160 ms
Diluar Jangkauan AP
177.8 kbps Koneksi terputus
23.7 KB/s Koneksi terputus
450 ms Koneksi terputus
34
Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (SC-SITI)
Palembang, 21-22 Agustus 2015
3.1
Pengujian Bandwidth, Throughput, dan Ping Time Setelah Menggunakan
Wireless Roaming
Pengujian berikutnya mirip seperti Tabel 1, tetapi ketika MS sudah berada diluar
jangkauan AP Roaming1, MS mengalami putus koneksi ke ISP tetapi tetap terhubung
dengan router. MS secara otomatis pindah ke AP Roaming2 dan mengambil service
dari AP Roaming2. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 2.
Dalam perpindahan tersebut terdapat delay waktu. Jika menggunakan ping time,
terdapat beberapa kali Request Time Out (RTO) sedangkan jika menggunakan
download koneksi mengalami drop beberapa detik sebelum kembali berjalan normal,
tergantung dari server download.
Tabel 2. Hasil Pengujian Setelah Menggunakan Wireless Roaming
Pengujian
Bandwidth
Throughput
Ping Time
Dalam
Jangkauan AP
Jauh dari
Jangkauan AP
Area Roaming
368.5 kbps
40.5 KB/s
160 ms
140.6 kbps
17.3 KB/s
470 ms
0-373 kbps
0-47.7 KB/s
RTO-200ms
Diluar Jangkauan AP
344.1 kbps
53.7 KB/s
200ms
Pada pengujian yang dilakukan terdapat delay waktu yang dibutuhkan ketika MS
berpindah dari AP Roaming1 ke AP Roaming2 (0-373 kbps). Informasi tersebut
mempunyai arti bandwidth yang didapat turun ke 0 kbps selama beberapa detik
sebelum kembali berjalan normal. Delay waktu yang didapatkan ilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil Pengujian Delay Setelah Menggunakan Wireless Roaming
Pengujian
Throughput
Ping Time
Delay Waktu
43 Detik
n/a
RTO
n/a
6 kali
Selain pengujian menggunakan bandwidth, pengujian juga menggunakan ping time
untuk mengetahui delay perpindahan antar AP. Ketika MS berada jauh dari jangkauan
AP Roaming1 dan sudah mulai mendeteksi adanya AP lain (yang dalam pengujian ini
adalah AP Roaming2, MS secara otomatis melakukan perpindahan koneksi ke AP
Roaming2 yang menyebabkan beberapa kali RTO (Request Time Out).
3.2 Pengujian Reliability Kinerja Jaringan
Pengujian reliability kinerja jaringan dilakukan beberapa kali untuk memastikan
apakah sistem yang dibangun sudah berjalan sesuai yang diinginkan. Reliability
jaringan yang dimaksud adalah dimana seorang user yang terkoneksi dengan AP
Roaming pertama tidak perlu melakukan konfigurasi ulang ketika pindah ke AP
Roaming kedua dalam jaringan wireless. Device menangkap sinyal terbaik dan secara
otomatis MS berpindah ke access point yang lain tanpa melakukan konfigurasi ulang.
35
Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (SC-SITI)
Palembang, 21-22 Agustus 2015
3.3 Analisis Cara Kerja Wireless Roaming
Roaming merupakan perpindahan koneksi ketika bergerak antar access point. Ketika
area cakupan dari dua atau lebih access point mengalami overlap maka station yang
berada di area overlapping tersebut bisa menentukan koneksi terbaik, dan seterusnya
mencari access point yang terbaik untuk melakukan koneksi. Untuk meminimalisasi
packet loss selama perpindahan, access point yang lama dan access point yang baru
saling berkomunikasi untuk mengkoordinasikan proses.
Probe request berisi Service Set Identifier (SSID) dari jaringan yang diharapkan
bergabung. Ketika access point dengan SSID yang sama ditemukan, access point
membalas probe request tersebut.
Ketika host menerima sebuah beacon yang berisi SSID dari jaringan dan berusaha
bergabung. Kemudian station mencari alamat MAC address dimana beacon berasal
mengirimkan autentifikasi request dengan tujuan untuk meminta access point agar
dapat bergabung dengannya. Apabila station di-set untuk menerima semua macam
SSID, maka station mencoba bergabung dengan access point yang pertama kali
mengirimkan sinyal dan bergabung dengan access point yang sinyalnya paling kuat.
4 Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan perancangan yang telah diuraikan di atas, penulis
menyimpulkan sejumlah hal sebagai berikut:
1. Dalam hal stabilitas untuk jaringan hostpot yang menggunakan wireless
roaming cukup stabil dilihat dari hasil pengujian bahwa klien dapat bergerak
dan mendapatkan IP yang sama tanpa melakukan konfigurasi ulang
2. Dengan diterapkannya wireless roaming, jangkauan dari suatu jaringan
hotspot dapat bertambah luas dan jumlah usernya.
Daftar Pustaka
1. O. W. Purbo, et al., "Jaringan Wireless di Dunia Berkembang," Edisi Kedua, 2007.
2. L. McKeag, "WLAN Roaming–the basics," Techworld Online Magazine, 2004.
3. M. Ergen, Mobile broadband: including WiMAX and LTE: Springer Science & Business
Media, 2009.
4. P.
Pasaribu.
(2006).
Wireless
LAN.
Available:
http://kambing.ui.ac.id/onnopurbo/library/library-ref-ind/ref-ind-2/physical/wireless/ParlinPublication-Wireless%20LAN-24April2006.pdf
5. F. A. K. Sejati, et al., "Perancangan dan Analisis External Wireless Roaming pada Jaringan
Hotspot Menggunakan Dua Jaringan Mobile Broadband," in Seminar Nasional Teknologi
Informasi dan Komunikasi Terapan (SEMANTIK2012), Semarang, 2012.
6. O. W. Purbo. (2001). Gambaran Wireless LAN IEEE 802.11. Available:
http://onno.vlsm.org/v10/onno-ind-2/physical/Wireless/gambaran-wlan-ieee802-052001.rtf
7. D. Minoli, Hotspot Networks: Wi-Fi for Public Access Locations. New York: McGrawHill, 2003.
36
Fly UP