...

Print this article - Jurnal Kesehatan Badan Penelitian dan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Print this article - Jurnal Kesehatan Badan Penelitian dan
HUBUNGAN PROSES KERJA DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK
IRITAN PADA PETANI RUMPUT LAUT DIKABUPATEN BANTAENG
SULAWESI SELATAN
The Correlation of Irritant Contact Dermatitis among Seaweed Farmers with
Their Working Process in Bantaeng District, South Sulawesi
Khadijah Azhar dan Miko Hananto*
Abstract. Work-related dermatitis is one of the most common occupational diseases. It stems from irritant
substances or allergens and can produce a rush or other skin condition ranging from mild and temporary to
severe and long-term. In the period of June until December 2004, there were reports of skin disease arised
from seaweed farmers in Bantaeng District, South Sulawesi. For that reason, the purpose of this study was
to analyze the correlation of irritant contact dermatitis among seaweed farmers with their working process.
Two hundred and ten respondents were selected by systematic random sampling in 7 villages from-14
villages that has a seaweed production center. All respondents were evaluated to examine their general
physical health and skin condition. They were also interviewed to obtain information about individual
characteristics and working-related behavior. Laboratory test was conduct to examine seaweed samples and
chemical assessment of seawater. The result showed that 118 respondents (56,2%) were diagnosed a workrelated Irritant Contact Dermatitis (ICD). Hands (fingers) were common location for the disease can be
found and seaweed farmers whose working duration more than twenty days in a month will have a risk of
2.6 times to experience ICD. An estimated the toxic substances that produced are hydroid, we suggested
farmers should use personal protective equipment (PPE) such as boots and gloves. It was also important to
do personal hygiene, including hand washing and bathing after work.
Keywords: Irritant contact dermatitis, work-related disease, seaweed farmers
PENDAHULUAN
Dewasa ini para pekerja di seluruh
dunia masih berada dalam kondisi kerja yang
belum aman dan beresiko menimbulkan
gangguan kesehatan. International Labour
Organization (ILO) memperkirakan setiap
tahun 1,1 juta orang meninggal karena
penyakit/ kecelakaan akibat hubungan kerja,
sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta
kejadian kecelakaan dan sisanya adalah
kematian penyakit yang berhubungan dengan
pekerjaan (Sulistomo, 2002).
Masalah kesehatan kerja sudah diatur
dalam UU No.23 tahun 1992 tentang
kesehatan, yaitu pada pasal 23 yang
menyatakan
bahwa
kesehatan
kerja
diselenggarakan
untuk
mewujudkan
produktivitas kerja yang optimal agar setiap
pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan diri sendiri dan masyarakat
sekelilingnya sejalan dengan program
perlindungan tenaga kerja (Pusat Kesehatan
Kerja, 2005)
Di Indonesia, jumlah penduduk usia
produktif (15-55 tahun) pada tahun 2005
berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik
(EPS) lebih dari 105 juta orang dan 89,7%
diantaranya adalah pekerja aktif. Sebanyak
70% - 80% dari angkatan kerja yang ada
bergerak di sektor informal (Sumitra, 2005).
Pekerja di sektor ini seringkali bekerja dalam
lingkungan
yang
kurang
baik dan
mengabaikan kesehatan/ keselamatan kerja
akibat permodalan yang lemah dan
pengetahuan tentang kesehatan yang kurang.
Sampai saat ini data mengenai
penyakit akibat kerja belum akurat, terutama
karena kegiatan surveilans dan system
monitoring
untuk
mendeteksi
dan
melaporkan kecelakaan dan kematian akibat
kerja belum maksimal, juga kualitas sumber
daya manusia yang terlibat belum memadai
(WHO, 2002). Padahal kesehatan pekerja
adalah aset pembangunan yang seharusnya
dilindungi dan diperhatikan.
Salah satu kasus penyakit akibat
kerja adalah yang terjadi pada petani rumput
laut di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi
Selatan. Menurut laporan kepada dinas
kesehatan setempat terjadi peningkatan kasus
penyakit kulit pada hampir 75% petani
rumput laut dengan keluhan gatal dan infeksi
sekunder dalam kurun waktu Juni -
' Peneliti pada Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 10 No 1, Maret 2011 : 1 - 9
Desember
2004.
Berdasarkan
hasil
pemeriksaan
awal, dokter
puskesmas
memperkirakan gangguan kulit itu sebagian
besar adalah dermatitis kontak (Herryanto,
2005)
Kasus gangguan kulit ini adalah hal
yang baru dan belum pernah dilaporkan
terjadi sepanjang perjalanan budidaya rumput
laut, baik di wilayah Sulawesi Selatan
(Kabupaten Takalar dan Kabupaten Bulu
Kumba) maupun di tempat lainnya seperti
Bali, Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten
Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Kasus
penyakit kulit akibat kerja di seluruh dunia
sekitar 40% dan 80% -90% diantaranya
adalah dermatitis kontak iritan dan atau
alergen. Agen-agen iritan umumnya adalah
substansi-substansi yang apabila mengenai
seseorang pada konsentrasi dan waktu
pemaparan
yang
mencukupi
akan
menimbulkan injury (McCunney, 1988).
Pada petani rumput laut, lama kerja dan
intensitas dari tiap-tiap proses pekerjaan
berbeda-beda
diperkirakan
ikut
mempengaruhi kejadian dermatitis kontak.
Berkaitan dengan budidaya rumput
laut ini, maka dicurigai adanya agen iritan
biologis. Hal ini diperkuat dengan pengakuan
para petani rumput laut yang mulai
merasakan gangguan kulit sejak beralih
profesi dari nelayan menjadi petani rumput
laut. Mereka melakukan penyiapan bibit,
penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan
penjemuran. Selama proses kerja itu
diperkirakan ada toksin dalam air laut yang
kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal.
Pertama, akibat perubahan lingkungan
(kepadatan rumput laut yang berbeda dengan
tempat lainnya), kedua, adanya senyawa
toksik yang dihasilkan oleh biota laut akibat
lingkungan terganggu dan ketiga adalah
adanya substansi toksik yang menempel pada
rumput laut sehingga apabila terjadi kontak
langsung dengan rumput laut akan
menimbulkan gangguan kulit. Hal inilah
yang
melatarbelakangi
dilakukannya
penelitian mengenai hubungan proses kerja
dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada
petani rumput laut di Kabupaten Bantaeng,
Sulawesi Selatan.
Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan proses kerja
dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada
petani rumput laut sehingga nantinya dapat
dimanfaatkan untuk merancang upaya
promotif, preventif, kuratif yang efektif bagi
peningkatan derajat kesehatan petani rumput
laut di Kabupaten Bantaeng dan sebagai
bahan masukan dalam pelaksanaan program
kesehatan khususnya kesehatan kerja.
Metode
Penelitian ini adalah penelitian
deskriptif yang menggunakan desain cross
sectional, dimana faktor yang mempengaruhi
dan yang dipengaruhi diukur pada saat yang
sama. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh petani rumput laut di Kabupaten
Bantaeng. Sampel adalah sebagian dari
populasi petani rumput laut yang dipilih di 7
desa dari 14 desa sentra rumput laut secara
random. Jumlah sampel dihitung dengan
menggunakan rumus uji hipotesis 2 proporsi
sebagai berikut:
Rumus (Ariawan, 1995):
n
Keterangan:
n
= besar sampel
Z1-0/2
=
Zi_p
= derajat kemaknaan pada kekuatan uji Zi.p=80%
PI
= proporsi petani rumput laut yang tidak menderita dki = 58,33
P2
= proporsi petani rumput laut yang menderita dki = 38,71
deff
derajat kemaknaan a pada dua sisi = 5%
= desain efek (2)
Hubungan proses kerja dengan...( Khadijah & Miko)
Berdasarkan rumus di atas jumlah
sampel minimal adalah 198. Untuk
menghindari adanya sampel yang bias, maka
jumlah sampel tersebut ditambahkan menjadi
210 responden. Penentuan besar sampel
didasari oleh hasil penelitian sebelumnya
(Gotama, 2005).
Variabel yang dianalisis
Variabel-variabel yang dianalisis
adalah varibel sosial demografi, varibel
kesehatan dan variabel hasil pemeriksaan
laboratorium. Variabel
sosial-demografi
menggambarkan karakteristik petani rumput
laut, antara lain: jenis kelamin, umur, tingkat
pendidikan,
dan
kepemilikan
lahan.
Sedangkan variabel kesehatan menunjukkan
hubungan antara faktor risiko dengan
kejadian dermatitis kontak iritan. Variabel
terakhir yaitu pemeriksaan laboratorium
meliputi sampel rumput laut, air laut
(pemeriksaan biota laut, zooplankton dan
fitoplankton).
Cara pengumpulan data
Pemilihan secara random sebanyak 7
desa dari 14 desa petani rumput laut yang
lokasinya masuk ke dalam sentra budidaya
rumput laut. Responden dipilih dengan cara
systematic
random
sampling
dengan
memperhatikan banyaknya petani rumput
laut (proporsional) di masing-masing desa
(berdasarkan listing petani rumput laut)
sehingga diperoleh sampel sebanyak 210
orang.
Dilakukan anamnesa, pemeriksaan
fisik secara umum dan kesehatan kulit oleh
dokter umum dan dokter ahli kulit.
Selanjutnya wawancara dengan kuesioner
untuk mengetahui karakteristik individu,
lama kerja, lama kontak,
pekerjaan
sampingan, hygiene perorangan, perilaku
pada waktu kerja dan pemakaian alat
pelindung diri serta observasi potensi bahaya
lingkungan kerja, hygiene kerja, dan sumber
pencemaran lingkungan.
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh diolah dengan
perangkat lunak statistik dan dianalisis secara
deskriptif dalam bentuk label dan narasi.
HASIL
A. Karakteristik responden petani rumput
laut
Karakteristik
responden
petani
rumput laut terdiri dari jenis kelamin, umur,
tingkat pendidikan dan kepemilikan lahan
(lihat tabel 1). Responden sebagian besar
adalah perempuan (61,9%) dengan kelompok
kerja usia produktif (15 -55 tahun) sebanyak
83,8%.
Sebanyak
78,0%
responden
berpendidikan rendah yaitu tidak sekolah tamat SD, dan status pekerja sebagian besar
adalah
pemilik
lahan
(65,2%).
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden menurut Karakteristik Responden di Kabupaten
Bantaeng,2005(N=210)
No.
1.
2.
3.
4.
Karakteristik
Jenis Kelamin
a.Laki-laki
b.Perempuan
Kelompok Umur
a.< 15 tahun
b. 15- 54 tahun
c. > 55 tahun
Tingkat Pendidikan
a.Rendah
b.Sedang
c. Tinggi
Kepemilikan Lahan
a. Pemilik
b. Saudara/keluarga
c. Buruh
n
%
80
130
38,1
61,9
12
176
22
83,8
10,5
164
25
21
78,0
11,9
10,1
137
25
48
65,2
11,9
22,9
5,7
Jiirnal Ekologi Kesehatan Vol. 10 No 1, Maret 2011 : 1 - 9
Distribusi pembagian tugas atau
bidang kerja masing-masing petani rumput
laut dapat dilihat di label 2. Terlihat bahwa
sebanyak 179 responden (85,2%) mempunyai
tugas
melakukan
pembibitan.
Proses
pembibitan
dilakukan
dengan
cara
menggunakan rumput laut segar (± 10 cm)
yang baru dipanen kemudian dipotong
dengan menggunakan alat (pisau atau
gunting) atau tanpa alat. Kemudian diikatkan
pada tali plastik dengan panjang 15 m
berpelampung botol plastik bekas air mineral
yang direntangkan dengan jarak tiap ikatan
15 -20 cm. Kedua ujung bentangan itu diberi
pemberat agar tidak hanyut. Bentangan yang
terkumpul dalam waktu 1 x 24 jam sudah
harus dibawa ke laut dengan menggunakan
perahu untuk ditanam.
Rumput laut yang sudah ditanam
harus tetap diperhatikan pertumbuhannya
dengan cara pemeliharaan. Pada proses ini
petani rumput laut harus menyingkirkan
sampah ataupun gulma yang dapat
mengganggu
kehidupan rumput laut.
Biasanya dilakukan sekali dalam satu minggu
tetapi bisa juga lebih sering mengingat
rumput laut yang ditanam dekat tepi pantai
akan lebih banyak menerima sampah
dibandingkan yang letaknya lebih jauh dari
bibir pantai. Jumlah responden yang
melakukan pekerjaan pemeliharaan sebanyak
83 orang (39,5%).
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden menurut Jenis Pekerjaan Responden di Kabupaten
Bantaeng, 2005
No.
1.
2.
n
%
Jenis Pekerjaan
Proses pekerjaan
a.Pembibitan
b. Pemeliharaan
c.Pemanenan
d.Penjemuran
e.Lainnya: Pencucian tali/botol
179
83
87
182
3
85,2
39,5
41,4
86,7
Pekerjaan lain
a. Nelayan
b. Petani sawah/ladang
c. Petambak
d. Lainnya
16
31
1
36
7,6
14,8
0,5
17,1
Setelah 40 hari sejak penanaman
rumput laut sudah bisa dipanen. Banyaknya
responden yang terlibat pada proses
pemanenan sebanyak 87 orang
(41,4%).
Setiap petak lahan yang berisi 20 -30
bentang bisa menghasilkan 500 - 1000 kg,
tergantung cuaca, apabila musim hujan
hasilnya lebih sedikit akibat air laut yang
kotor.
Rumput laut yang sudah dipanen
selanjutnya dijemur di darat selama 3 hari
dan setelah kering dijual kepada pengumpul.
Biasanya tugas ini dilakukan oleh kaum
wanita dan anak-anak selain melakukan
pembibitan. Namun demikian seorang
1,4
pekerja dapat melakukan berbagai jenis
pekerjaan tersebut tergantung kebutuhannya.
Jumlah responden yang melakukan tugas ini
sebanyak 182 orang (86,7%). Waktu yang
tersisa dari kegiatan budidaya rumput laut ini
masih cukup banyak terlihat dari jenis
pekerjaan lain yang responden lakukan yaitu
sebagai petani sawah/ladang (14,8%),
nelayan (7,6%), petambak (0,5%) dan
lainnya (17,1%). Proporsi tertinggi untuk
untuk lama kerja adalah lebih dari 1 tahun
yaitu 57,6%. Lamanya bekerja dalam satu
hari kurang atau sama dengan 8 jam (70,5%)
dan jumlah hari kerja dalam 1 bulan lebih
dari 20 hari (58,6%) dapat dilihat di tabel 3.
Hubungan proses kerja dengan...( Khadijah & Miko)
label 3. Distribusi Frekuensi Responden menurut Lama Kerja Responden di Kabupaten
Bantaeng, 2005
No
1.
2.
3.
n
Lama Kerja
Lama Kerja
a. < 1 tahun
b. > 1 tahun
Jumlah jam kerja per hari
a. < 8 jam
b. > 8 jam
Jumlah jam kerja per bulan
a. < 20 hari
b. > 20 hari
B. Pemeriksaan Kulit Responden
Pemeriksaan kulit responden yang
dilakukan bertujuan untuk mendapatkan
%
89
121
42,4
57,6
148
62
70,5
29,5
87
123
41,4
58,6
gambaran tentang penyakit yang diderita oleh
petani rumput laut. Hasil pemeriksaan dapat
dilihat pada tabel 4 berikut ini.
Tabel 4 Hasil Pemeriksaan Fisik Kulit Responden di Kabupaten Bantaeng, 2005
Pemeriksaan fisik kulit
Diagnosa:
a. Kemungkinan Dermatitis Kontak Iritan
b. Kemungkinan Dermatitis Kontak Alergi
c. Dermatitis Jamur
d. Sehat
Diagnosa dokter menyatakan bahwa
kemungkinan
OKI
sebanyak
56,2%,
kemungkinan dermatitis kontak alergi adalah
33,8%, dermatitis karena jamur 4,3%
(sebagian besar berupa Pytiriasis versicolor)
dan sisanya sebanyak 5,7% adalah responden
yang bebas dari penyakit kulit.
Dari pemeriksaan tersebut juga
dilihat posisi DKI karena diduga erat
N
%
118
71
9
12
56,2
33,8
4,3
5,7
kaitannya dengan intensitas dan frekuensi
kontak petani terhadap alergen penyebab
dermatitis, khususnya yang dialami oleh
mereka
yang
bertugas
melakukan
pembibitan. Lokasi terjadinya penyakit kulit
pada bagian tubuh sebelah kanan dan kiri
sebagian besar berada di tangan/jari (49,5% 51,4%) dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5 Lokasi Gangguan Kulit pada Responden di Kabupaten Bantaeng, 2005
Lokasi gangguan kulit
No.
Kanan (%)
Kiri (%)
1.
Tangan/jari
51,4
49,5
2.
Lengan bawah/siku
36,7
33,3
3.
Paha/tungkai bawah
13,3
11,4
4.
Leher
11,0
8,1
5.
Dada/Punggung
10,0
6,2
6.
Kaki
8,1
7,6
7.
Wajah/Muka
7,6
6,2
8.
Telinga
2,9
1,9
9.
Perut/pinggang
1,9
1,9
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 10 No 1, Maret 2011 : 1 - 9
label. 6 Hasil Analisis Bivariat antara Faktor Risiko dengan Dermatitis Kontak Iritan pada
Responden Petani Rumput Laut di Kabupaten Bantaeng, 2005
Faktor Risiko
l.WaktuKerja
Lama kerja
Jam kerja/hari
Hari kerja/bln
a. > 1 tahun
b. < 1 tahun
a. > 8 jam
b. < 8 jam
a. > 20 hari
b. < 20 hari
2. Jenis Pekerjaan
Pembibitan
a. Ya
b. Tidak
Pemeliharaan
a.Ya
b. Tidak
Pemanenan
a.Ya
b. Tidak
Penjemuran
a.Ya
b. Tidak
3. Pemakaian
a. Ya
APD
b. Tidak
Dermatitis Kontak Iritan
Tidak
Ya
n
%
n
%
P
OR (95% CI)
68
50
40
78
81
37
56,2
56,2
64,5
52,7
65,9
42,5
53
39
22
70
42
50
43,8
43,8
35,5
47,3
34,1
57,5
0,998
1,0(0,56-1,73)
0,116
1,63(0,8-3,01)
0,001
2,60 (1,48 -4,58)
103
15
33
85
38
80
102
16
57,5
48,4
39,8
66,9
43,7
65,0
56,0
57,1
76
16
50
42
49
43
80
12
42,5
51,6
60,2
33,1
56,3
35,0
44,0
42,9
0.343
1,44(0,67-3,10)
0.001
0,32(0,18-0,57)
0.002
0,41 (0,23 -0,73)
0.913
0,95(0,42-2,13)
49
69
52,1
59,5
45
47
47,9
40,5
0.285
1,34(0,77-2,33)
Pada label 7 disajikan hasil analisis
hubungan faktor resiko dengan uji ChiSquare, yaitu untuk kelompok
pekerja
dengan waktu kerja lebih dari 20 hari dalam
1 bulan, banyaknya responden yang
menderita dermatitis kontak iritan adalah
65,9% dengan nilai p = 0,001 dan OR= 2,60
(95%CI 1,48 - 4,58). Dengan demikian
peluang menderita dermatitis kontak iritan
2,6 kali lebih besar pada kelompok ini
di banding kelompok dengan waktu kerja
kurang dari 20 hari dalam 1 bulan.
Sedangkan untuk jenis pekerjaan, tidak
ditemukan hubungan yang signifikan antara
kejadian dermatitis kontak iritan dengan
pembibitan dan penjemuran. Sedangkan jenis
pekerjaan pemeliharaan dan pemanenan
didapatkan bersifat protektif dengan OR
masing-masing 0,32 dan 0,41.
PEMBAHASAN
A. Dermatitis Kontak Iritan.
Sekilas mengenai dermatitis, adalah
peradangan kulit (epidermis dan dermis)
sebagai respon terhadap pengaruh faktor
dan
faktor endogen,
yang
eksogen
menimbulkan
kelainan
klinis
berupa
efloresensi polimorfik (eritema, edema,
papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan
gatal.
Dermatitis kontak terjadi karena
respon peradangan terhadap bahan eksternal
yang kontak pada kulit. Dikenal dua jenis
dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak
iritan (DKI) yang merupakan respon non
imunologik dan dermatitis kontak alergi
(DKA) yang diakibatkan oleh mekanisme
imunologik spesifik, keduanya dapat bersifat
akut maupun kronis (Trihapsoro, 2003).
Bahan penyebab dermatitis kontak pada
umumnya adalah bahan kimia yang
terkandung dalam alat-alat yang dikenakan
oleh penderita (asesoris, pakaian, sepatu,
kosmetika, obat topikal), atau yang
berhubungan dengan pekerjaan/ hobi (semen,
sabun cuci, pestisida, bahan pelarut, bahan
cat, tanaman), serta dapat pula oleh bahan
yang berada disekitarnya (debu semen, bulu
binatang atau polutan yang lain). Disamping
bahan penyebab ada faktor penunjang yang
mempermudah timbulnya dermatitis kontak
yaitu suhu udara, kelembaban, dan gesekan.
Prevalensi terjadinya DKA lebih
rendah dibandingkan prevalensi DKI karena
hanya mengenai orang yang kulitnya sangat
peka (hipersensitif). DKI timbul pada 80%
dari seluruh penderita dermatitis kontak
sedangkan DKA kira-kira hanya 20%.
Hubungan proses kerja dengan...( Khadijah & Miko)
Meskipun demikian pada kenyataannya
banyak DKA yang tidak terdiagnosis
sehingga tidak dilaporkan. Salah satu
penyebab utama adalah tidak tersedianya
alat/ bahan uji tempel (patch test) sebagai
sarana diagnostik (Trihapsoro, 2003).
B. Lama Kerja.
Menurut Makheev (1986), status
kesehatan pekerja dipengaruhi oleh 4 faktor
yaitu lingkungan pekerja, perilaku pekerja,
pelayanan kesehatan kerja dan faktor genetik.
Dari keempat faktor tersebut yang paling
berperan
adalah
lingkungan
pekerja
(Sulistomo, 2002). Pekerjaan sebagai petani
rumput laut mengharuskan seseorang akan
sering terpapar langsung dengan cuaca di
udara terbuka dan agen iritan akan langsung
merusak kulit dengan cara mengubah pH
kulit, reaksi dengan protein (denaturasi),
ekstraksi lemak dari lapisan luar kulit atau
dengan menurunkan daya tahan kulit
(McCunney, 1988)
Sedangkan reaksi tubuh akibat alergi
dari agen iritan adalah dengan membentuk
komplek hapten-protein yang merangsang
pembentukan antibodi. Selanjutnya akan
terjadi penyumbatan pada kelenjar dan
saluran sebasea sehingga timbul peradangan
lokal. Perlu diketahui bahwa substansi yang
sama bisa menimbulkan reaksi iritasi
sekaligus reaksi alergi, biasanya konsentrasi
yang lebih tinggi akan menyebabkan reaksi
iritasi.
Berkaitan dengan tempat kerja,
keluhan dermatitis kontak iritan okupasional
sering muncul akibat substansi di tempat
kerja yang kontak langsung dengan kulit.
Biasanya iritasi tersebut akan pulih sendiri
dalam waktu beberapa minggu setelah
paparannya dihentikan serta selama tidak ada
komplikasi yang timbul, misalnya tidak ada
infeksi (ccohs, 2008).
Pada petani rumput laut diperkirakan
agen yang berperan adalah toksin yang
dihasilkan oleh hydroid (Herryanto, 2005).
Yaitu
golongan
invertebrata primitif
berbentuk polip yang menempel pada rumput
laut dan pada tali pengikat. Hydroid yang
merupakan anggota dari orde Hydrozoa
memiliki penampilan seperti tanaman,
mempunyai tiga tahap dalam siklus
hidupnya. Tahap pertama adalah larva yang
sangat kecil dan berenang bebas di perairan,
tahap kedua adalah sessile yang membentuk
koloni hydroid, kemudian berubah menjadi
medusa. Organisme ini memiliki nematocytes
atau stinging apparatus yang tersusun dari
cnidoblast, apabila mengenai kulit akan
menusuk dan mengeluarkan toksin yang
menimbulkan reaksi gatal. Reaksi ini tetap
ada
meskipun
nematocytes
tersebut
dikeringkan. Memiliki toksisitas yang
bervariasi mulai sedang hingga tinggi
(Monfrecola, 2003).
Hasil analisis mendapatkan bahwa
responden petani rumput laut yang memiliki
jumlah hari kerja lebih dari 20 hari dalam
satu bulan berpeluang menderita dermatitis
kontak iritan 2,6 kali dibandingkan kelompok
dengan hari kerja yang lebih sedikit dengan
nilai p = 0.001 dan OR= 2.60 (1,48 - 4,58
95% CI). Sedangkan untuk kriteria lama
kerja lebih ataupun kurang dari setahun
jumlah penderita dermatitis kontak iritan
sama (56,2%) dan untuk kelompok dengan
waktu kerja lebih dari 8 jam sehari jumlah
penderita dermatitis kontak iritan lebih
banyak (64,5%) dibanding dengan waktu
kerja kurang dari 8 jam sehari (52,7%).
Selanjutnya, untuk dua kategori terakhir ini
tidak dapat dibuktikan secara statistik
memiliki hubungan yang signifikan dengan
kejadian dermatitis kontak iritan.
Temuan ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan terhadap pekerja pabrik,
dimana variabel lama kontak berhubungan
secara bermakna dengan OKI (Octovanni,
2009). Secara teori, lama dan intensitas
paparan substansi dengan manusia adalah
faktor yang menyebabkan DKI disamping
jenis dan jumlah/ konsentrasi substansi
tersebut. Hal ini juga didukung dari hasil
wawancara responden yang sebagian besar
mengakui keluhan penyakit ini mulai diderita
sejak bekerja sebagai petani rumput laut.
Paparan
sinar
ultraviolet
sehingga
menyebabkan fotodermatitis kemungkinan
tidak ada sebab pada fotodermatitis onzetnya
lebih cepat, ditandai dengan eritema dan
bulla pada daerah kontak. Segera setelah
erupsi timbul maka akan diikuti dengan
hiperpigmentasi (Trihapsoro, 2003). Kondisi
ini tidak ditemukan pada responden yang
diamati.
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 10 No 1, Maret 2011 :1 - 9
C. Jenis Pekerjaan
Di dalam budidaya rumput laut
meskipun sudah ada pembagian tugas, tetapi
pada prakteknya seseorang dapat melakukan
beberapa jenis pekerjaan sekaligus seperti
pembibitan,
penanaman,
pemeliharaan,
pemanenan dan penjemuran. Keterbatasan
dari penelitian ini tidak dilakukannya
pemisahan responden per masing-masing
pekerjaan yang digeluti. Selain itu proporsi
responden dari setiap jenis pekerjaan, yaitu
pembibitan, pemanenan, pemeliharaan dan
penjemuran, tidak sama. Sehingga hal ini
mungkin mempengaruhi hasil analisis
statistik dalam melihat keterkaitan kejadian
OKI dengan jenis pekerjaan petani rumput
laut tersebut.
Namun demikian ditinjau dari
proporsi penderita OKI, terlihat lebih banyak
terjadi pada responden yang melakukan
pembibitan (57,5%) dibandingkan dengan
responden yang tidak melakukan pembibitan
(48,4%). Pada proses pembibitan rumput laut
dipotong-potong dengan tangan sehingga
kemungkinan hydroid yang menempel pada
rumput laut terganggu kehidupannya dan
mendorong ia melepaskan toxin sebagai
bentuk alami perlindungan diri. Hal ini
diperkuat dari hasil pemeriksaan lokasi
terjadinya gangguan kulit yang sebagian
besar berada di bagian tangan atau jari.
Sedangkan pada proses pemeliharaan dan
pemanenan, aktivitas petani rumput laut
kemungkinan tidak mengusik kehidupan
hydroid secara langsung sehingga tidak
banyak responden yang menderita OKI
(39,8% dan 43,78%).
diperkirakan karena adanya toxin yang
dihasilkan oleh hydroid selama proses
tersebut.
Saran
Sebaiknya dilakukan penelitian yang
lebih mendalam dengan desain penelitian
yang lebih baik mengenai keterkaitan
kejadian dermatitis kontak iritan dengan budi
daya rumput laut sehingga dapat dilakukan
upaya pencegahan DKI pada petani. Selain
itu sebaiknya para petani rumput laut
diberikan pengarahan yang intensif mengenai
penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti
sepatu bot - dalam hal ini dikhususkan bagi
pekerja yang bertugas melakukan pembibitan
- dan sarung tangan selama melakukan
pekerjaan di laut maupun di darat. Aspek
personal hygiene juga harus diperhatikan
termasuk di antaranya adalah
mencuci
tangan dan mandi setiap selesai bekerja untuk
mencegah agen iritan menempel pada kulit
sehingga dapat menimbulkan iritasi.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih
atas kesempatan yang diberikan kepada
Kepala Pusat Ekologi dan Status Kesehatan,
Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Departemen Kesehatan dan
Kepala Dinas Kesehatan Kab Bantaeng
berserta staf, yang memfasilitasi pelaksanaan
penelitian dan penulisan naskah ini.
DAFTAR PUSTAKA
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Ada hubungan yang signifikan antara
kejadian dermatitis kontak iritan dengan
responden petani rumput laut yang memiliki
lama kerja lebih dari 20 hari per bulan.
Besarnya risiko kelompok responden ini
terkena dermatitis kontak iritan adalah 2,60
kali dibanding kelompok responden dengan
waktu kerja yang lebih sedikit.
Kejadian dermatitis kontak iritan
lebih banyak ditemukan pada responden
dengan jenis pekerjaan pembibitan, hal ini
Ariawan, Iwan. 1995. Metode Survei Cepat untuk
Pemantauan dan Evaluasi Program
Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia.
Contact
dermatitis.
diunduh
dari:
http://id.wikipedia.org
Dermatitis Irritant Contact. 2008. diunduh dari
http://www.ccohs.ca/oshanswers/diseases/der
matitis.html
Herryanto. 2005. Survey Penyakit Kulit pada Petani
Rumput Laut di Kabupaten Bantaeng
Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2005.
Laporan Penelitian Puslitbang Ekologi
Kesehatan. DepKes RI.
Ida Bagus, Indra Gotama. 2005. Faktor risiko
dermatitis kontak iritan pada petani rumput
laut di Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Disertasi. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia.
Hubungan proses kerja dengan...( Khadijah & Miko)
McCunney, Robert J. 1988. Handbook of Occupational
Medicine. The American Occupational
Medical Associaton. USA.
Monfrecola, G and Posteraro, G. 2003. Skin Diseases
from The Marine Environment, pp.494 495. European Handbook of Dermatological
Treatments.
diunduh
dari
http://books.google.co.id/
Octovanni,
Angkit. 2009. Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Dermatitis Kontak
Iritan pada Pekerja Pabrik Pengolah Aki
Bekas di Lingkungan Industri Kecil (LIK)
Semarang.
Skripsi.
diunduh
dari:
http ://eprints .undip. ac. id
Phoon, WO. 1988. Practical Occupational Health. PG
Publishing Pte Ltd. Singapore.
Pusat
Kesehatan Kerja. 2005. Pedoman Upaya
Kesehatan Kerja bagi Petugas Kesehatan
Kabupaten/Kota. DepKes RI. Jakarta.
Sulistomo, Astrid. 2002. Penyakit Akibat Kerja dan
Penyakit
yang
Berhubungan
dengan
Pekerjaan. Kumpulan Makalah Seminar K3
RS. Persahabatan. Jakarta.
Sumitra, Tata, dkk. 2005. Profil Masalah Kesehatan
Pekerja di Indonesia Tahun 2005: Hasil Studi
di 12 Kabupaten-Kota. PT Japaru Gama
Karsa dan Pusat Kesehatan Kerja. Jakarta.
Trihapsoro, Iwan. 2003. Dermatitis Kontak Alergik
pada Pasien Rawat Jalan di RSUP Haji Adam
Malik
Medan.
diunduh
dari
http://repository.usu.ac.id
World Health Organization. 2002. Health Situation in
the South East Asia Region 1998-2000. New
Delhi.
Fly UP