...

Fakta tentang PEnyAndAng dIsABILITAs dan PEKERjA AnAK

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Fakta tentang PEnyAndAng dIsABILITAs dan PEKERjA AnAK
Organisasi Perburuhan Internasional
Proyek EAst-Penciptaan Lapangan Kerja untuk Kaum Muda
melalui Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan
Organisasi
Perburuhan
Internasional
Jakarta
LEMBAR FAKTA - Juli 2011
Fakta tentang PEnyAndAng
dIsABILITAs dan PEKERjA AnAK
M
asih sedikit penelitian yang menelaah kaitan antara penyandang
disabilitas dan pekerja anak. Pandangan pembuat kebijakan
mengenai permasalahan ini, cenderung terbentuk dari temuantemuan non-empiris. Lembar fakta ini mencoba untuk meringkas data yang
tersedia, dan menyediakan ikhtisar tentang persoalan ini baik dari perspektif
global maupun dalam konteks Indonesia khususnya. Lembar fakta ini tersusun
menjadi tiga bagian: bagian I mendefinisikan istilah-istilah terkait; bagian
II memberikan latar belakang kuantitatif, menyajikan angka-angka global
dan khususnya angka-angka yang ada di Indonesia tentang penyandang
disabilitas dan pekerja anak; sementara bagian III melihat secara khusus
kaitan antara kedua isu tersebut.
I. TENTANG PENYANDANG
DISABILITAS DAN PEKERJA
ANAK
Konvensi PBB tahun 2006 tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas (UN Convention on the Rights of
Persons with Disabilities /UNCRPD) memperkenalkan
pendekatan ‘sosial’ terkait definisi disabilitas dan
penyandang disabilitas, yaitu “...kondisi – kondisi
yang timbul dari interaksi antara penyandang
disabilitas dan hambatan sikap maupun lingkungan
yang menghalangi peran serta penuh dan efektif
mereka dalam masyarakat secara setara”1. UNCRPD
menegaskan kembali bahwa penyandang disabilitas
harus menikmati hak-hak yang sama dengan
1
Preamble, UNCRPD, 2006
individual yang bukan penyandang disabilitas, dan
menekankan bahwa masyarakat harus menjunjung
prinsip pemenuhan akodomasi yang layak (reasonable
accommodation) atas kebutuhan-kebutuhan mereka,
guna menjamin partisipasi mereka secara maksimal.
Program Penghapusan Pekerja Anak Internasional
(International Programme on the Elimination of
Child Labour/IPEC) dari kantor ILO menjabarkan
pekerja anak (child labour) sebagai “anak – anak
yang terlibat dalam pekerjaan yang membahayakan
mereka secara mental, fisik, sosial dan moral serta
dapat menyakiti mereka; Pekerjaan tersebut juga
dapat membahayakan pendidikan mereka (termasuk
mengurangi kesempatan anak untuk bisa bersekolah,
mengharuskan anak untuk meninggalkan sekolah
lebih awal dan mengharuskan anak agar berusaha
menggabungkan kehadiran mereka disekolah
dengan pekerjaan yang berat dan dalam waktu yang
panjang)”2.
Perkiraan Global, dalam juta
Laki-laki
Perempuan
900
800
700
600
500
400
300
II. ISU DALAm ANGKA
200
100
0
Penyandang disabilitas, Pendidikan
dan Pekerja Anak di Tingkat global
UNICEF memperkirakan bahwa sedikitnya ada 150
juta anak penyandang disabilitas3, sementara WHO
dan Bank Dunia memperkirakan jumlah anak usia
0-14 tahun dengan tingkat “disabilitas sedang atau
berat” mencapai 93 juta jiwa, dimana 13 juta anak
diantaranya, menyandang disabilitas berat. Jumlah
anak laki-laki penyandang disabilitas lebih besar
daripada anak perempuan, yang mungkin menyiratkan bahwa bayi perempuan dengan disabilitas,
berpeluang lebih kecil untuk dapat bertahan hidup.
sekitar 80 persen penyandang disabilitas banyak
terdapat di negara-negara berkembang, di mana
mereka merupakan bagian dari 15 hingga 20 persen
masyarakat miskin4.
Jumlah anak-anak kelompok usia 5-17 tahun yang
diklasifikasikan ‘bekerja’ adalah 306 juta anak secara
global. Dari total jumlah tersebut, 70 persennya atau
sekitar 215 juta anak, merupakan pekerja anak5.
Analisis terhadap tren global6 menunjukkan bahwa
kasus pekerja anak mengalami penurunan (-3.2
persen antara tahun 2004 dan 2008), terutama di Asia
dan Pasifik, yang meskipun demikian tetap menjadi
wilayah dengan angka absolut pekerja anak terbesar.
Kebanyakan pekerja anak di wilayah ini masih terus
2
3
4
5
6
7
8
Jumlah anak
Anak-anak
yang bekerja
Pekerja
anak
Anak-anak di
pekerjaan yang
berbahaya
sumber: ILO, Mempercepat tindakan Penghapusan Pekerja Anak/
AcceleratingAaction against Child Labour, Geneva, 2010.
bekerja dalam sektor pertanian, dan mayoritas dari
mereka, melakukan pekerjaan tanpa mendapatkan
upah.
Penyandang disabilitas, Pendidikan
dan Pekerja Anak di Indonesia
survei sosial–Ekonomi Nasional (sUsENAs) tahun
2006 mengindikasikan bahwa 3 juta orang, atau
1,4 persen dari total populasi penduduk, hidup
dengan disabilitas. Perbedaan angka disabilitas di
Indonesia dan angka global menunjukkan kurang
terwakilinya penyandang disabilitas di negara ini.
Menurut angka perkiraan terbaru (WHO, 2005), jumlah
anak penyandang disabilitas di Indonesia adalah 1,5
juta7. sebuah kajian Bank Dunia tahun 2005, yang
menggunakan survei rumah tangga untuk meneliti
hubungan antara disabilitas dengan status ekonomi
rumah tangga, mendapati bahwa insiden disabilitas
tampaknya lebih tinggi di kelompok paling miskin
dalam suatu populasi penduduk.
semua anak memiliki hak yang sama untuk
mendapatkan pendidikan dasar. Namun demikian,
menurut laporan WHO dan Bank Dunia8 anak-anak
Definisi pekerja anak menurut ILO IPEC, http://www.ilo.org/ipec/facts/lang--en/index.htm
UNICEF, The state of the world’s children 2006: excluded and invisible, New York, 2005
World Bank, Poverty and disability: a survey of the literature, Social Protection Discussion Paper, Washington, 1999.
ILO, Accelerating action against child labour, Geneva, 2010
Ibid.
ILO – EAST Project, Disability, access to education and child labour: exploring the links, Jakarta, 2010
WHO and World Bank, World Report on Disability, 2011
penyandang disabilitas di Indonesia tidak memiliki
kesempatan yang sama seperti yang dimiliki oleh
anak-anak yang bukan penyandang disabilitas.
Kesenjangan tingkat partisipasi sekolah antara anak
penyandang disabilitas dengan anak-anak lainnya
mencapai 60 persen.
Prevalensi Penyandang Disabilitas,
usia 6-17 tahun
Kelompok
termiskin
Indonesia
2003*
0.70
Kelompok
ke 2
0.55
Kelompok
ke 3
0.41
Kelompok
ke 4
0.50
Kelompok
terkaya
0.38
*survei ini termasuk penyandang disabilitas penglihatan, pendengaran,
wicara dan fisik
sumber: Bank Dunia, Disabilitas, kemiskinan dan sekolah di Negaranegara sedang berkembang: Hasil dari 11 survei Rumah tangga, social
Protection Discussion Paper, Washington, 2005.
secara tradisional, jumlah pekerja anak di Indonesia
lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah di
negara-negara Asia dan Pasifik lainnya9, terutama bila
dibandingkan dengan Asia selatan. Namun demikian,
pada tahun 2009, negara ini diperkirakan memiliki
1,7 juta pekerja anak usia 5-1710, rentang usia yang
menjadi acuan survei Pekerja Anak.
Pekerja Anak di Indonesia menurut
kelompok usia, dalam ribuan
Laki-laki
500
400
300
200
100
0
Usia 13-14
sumber: survei Pekerja Anak Indonesia, 2009
9
Kaitan antara penyandang disabilitas dan pekerja anak
merupakan hal yang kompleks untuk diteliti. Buktibukti yang ada tidak memberikan jawaban selaras
satu sama lain mengenai hubungan sebab akibatnya.
Hidup dengan disabilitas sering kali berarti bahwa
seorang anak lebih rentan terhadap pelanggaranpelanggaran hak asasi, termasuk hak atas pendidikan
atau layanan kesehatan. Pertanyaannya adalah
apakah disabilitas membuat seorang anak lebih
rentan terjerumus dalam pekerja anak juga? Beberapa
hipotesa sudah dicermati dalam berbagai penelitian
mengenai hal ini.
Hipotesa pertama mengenai kaitan antara disabilitas
dengan pekerja anak yang banyak diterima, umumnya
bersifat satu arah, yaitu keterlibatan dalam pekerja
anaklah yang mengakibatkan adanya risiko bagi
anak akan terjadinya disabilitas karena terpapar
pekerjaan berbahaya. Menurut Konvensi ILO No. 182,
terlibat menjadi pekerja anak akan ‘berbahaya’ jika
‘sifat dan lingkungan tempat pekerjaan itu dilakukan
dapat membahayakan kesehatan, keselamatan, atau
moral anak-anak’11. Pekerjaan seperti itu, di dalam
kondisi kerja yang berbahaya atau tidak sehat dapat
mengakibatkan cedera, kesehatan yang buruk, dan
cacat tetap.
Perempuan
600
Usia 10-12
III. KAITAN ANTARA
PENYANDANG DISABILITAS
DAN PEKERJA ANAK DI
INDoNESIA
Usia 15-17
Akan tetapi, hipotesa kedua mengenai keterkaitan
dua hal tersebut yang lebih kontroversial lagi,
bersifat kebalikannya bahwa disabilitas dapat
mengakibatkan anak rentan terjerumus menjadi
pekerja anak. Meneliti korelasi ini merupakan suatu
tantangan. Ada beberapa faktor tambahan yang ikut
bermain dan efeknya tidak mudah diuraikan. Lebih
dari itu, variabel-variabel yang berkaitan dengan
ILO – EAST Project, Disability, Access to Education and Child Labour: exploring the links, Jakarta, 2010
Survei Pekerja Anak Indonesia tahun 2009
Konvensi ILO mengenai Larangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak, 1999 (No.182)
10
11
kemiskian berasosiasi erat dengan disabilitas dan
pekerja anak, karena mereka adalah penyebab dan
sekaligus akibat dari kemiskinan12. Penelitian lebih
lanjut juga terkendala oleh kurangnya data dan
sulitnya survei rumah tangga untuk dapat menangkap
adanya disabilitas, karena keluarga-keluarga seringkali menyembunyikan disabilitas sebagai akibat ketakutan akan stigma dan malu.
sebuah sarana yang bermanfaat untuk menganalisa
keterkaitan antara disabilitas dan pekerja anak
adalah pendidikan. Mengingat perannya sebagai
intervensi utama dalam penghapusan pekerja anak,
pendidikan sering dipandang pada implikasinya bagi
anak dan pekerjaan. sebagai contoh, dalam statistik
pekerja anak, indikator-indikator untuk pendidikan
dasar universal berfungsi sebagai gambaran untuk
mengukur variasi-variasi dalam perburuhan anak13.
Anak-anak yang tidak bersekolah kemungkinan
besar akan terlibat dalam kegiatan-kegiatan untuk
memperoleh pendapatan dan dalam pekerja anak.
Bukti dari Indonesia menunjukkan bahwa putus sekolah
sering terkait dengan kendala-kendala keuangan14 dan
kebutuhan agar anak ikut membantu mendapatkan
penghasilan bagi rumah tangga15. selain itu, sebagai
akibat dari putus sekolah, anak-anak kehilangan
kesempatan untuk memperoleh berbagai keterampilan
guna membuka pintu peluang memperoleh pekerjaan
yang layak di masa mendatang.
disabilitas merupakan faktor kuat yang menghalangi
anak untuk dapat mengikuti pendidikan. stigma dan
ketidaktahuan masyarakat sering mendorong orang
tua untuk mengurung anak penyandang disabilitas
di rumah. Bila sumber daya rumah tangga itu
terbatas, orang tua mungkin hanya akan memberikan
pendidikan kepada anak-anak bukan penyandang
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
disabilitas, berlandaskan keyakinan bahwa mereka
memiliki kesempatan untuk dapat membantu
saudara mereka yang memiliki disabilitas di masa
depan16. sebagai akibatnya, anak-anak penyandang
disabilitas cenderung memperoleh pendidikan yang
relatif lebih sedikit. UNEsCO memperkirakan bahwa
sepertiga dari 75 juta anak di seluruh dunia yang
tidak bersekolah adalah penyandang disabilitas17.
Kemungkinan se-orang anak usia 6-11 tahun dengan
disabilitas untuk bersekolah hanyalah setengah dari
anak tanpa disabilitas18. Dalam konteks Indonesia,
meskipun pemerintah sudah mengupayakan pendidikan yang inklusif, tingkat partisipasi sekolah
dasar dari anak-anak penyandang disabilitas masih
sekitar 60 persen19 lebih rendah dibanding dengan
anak-anak tanpa disabilitas.
Bagi anak-anak penyandang disabilitas yang
bersekolah, sistem dan infrastruktur pendidikan
dapat memperparah marjinalisasi. Akses fisik ke
gedung sekolah mungkin tidak memadai, kurikulum
dan pedagoginya tidak tepat, mungkin ada hambatanhambatan sikap dan guru mungkin kurang terlatih
untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan unik
dari, maupun kebutuhan akan sarana pendukung bagi
siswa penyandang disabilitas. Beberapa anak dengan
disabilitas mungkin merasa sekolah itu bising,
membingungkan dan mengancam20. Lingkungan
pendidikan non-inklusif akan meningkatkan, alih-alih
menurunkan, hambatan-hambatan yang dihadapi oleh
anak-anak penyandang disabilitas, oleh karenanya
makin memperburuk marjinalisasi sehingga tidak
memungkinkan bagi mereka untuk terlibat secara
utuh sesuai dengan kemampuannya21.
Meskipun memiliki peluang lebih rendah untuk
bersekolah, anak-anak penyandang disabilitas
Korelasi antara disabilitas dan kemiskinan bekerja di kedua arah. Sebagaimana dikemukakan oleh kebijakan singkat ini, penyandang disabilitas seringkali disertai dengan tingkat
pendidikan yang rendah, dan akibatnya, keterampilan rendah dan berkurangnya kesempatan untuk mencari pekerjaan. Hidup dengan disabilitas juga berarti menghadapi biaya
tambahan, seperti perawatan kesehatan. Di sisi lain, kemiskinan dapat menyebabkan disabilitas melalui beberapa faktor seperti kekurangan gizi, ketidak mampuan untuk mendapatkan
akses ke perawatan kesehatan, atau keterlibatan pekerja anak.
ILO, Accelerating action against child labour, Geneva, 2010
ILO-IPEC, Indonesia’s Youth Labour Market and the Impact of Early School Drop Out and Child Labour, 2006
ILO-EAST, Equivalency Education and Access to Decent Work, Jakarta, 2010
N E Groce, Adolescents and youth with disability: Issues and challenges, Asia Pacific Disability Rehabilitation Journal, Vol.15 No.2, 2004, pp.13-32
UNESCO, Global Monitoring Report on Education for All, 2010
UNESCO, Global Monitoring Report on Education for All, 2008 study of 20 developing countries
UNESCO, Global Monitoring Report on Education For All, 2010
Ibid.
Referensi pasale 24 tentang Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas Convention on the Rights of Persons with Disabilities, Education,http://www.un.org/disabilities/documents/
convention/convoptprot-e.pdf
tampaknya tidak secara sistematis lebih rentan
menjadi pekerja anak. sebuah kajian cepat
kualitatif22 yang baru-baru ini dilakukan oleh ILOEAst di kota Kupang, provinsi Nusa tenggara timur
(Ntt) Indonesia menemukan bahwa kebanyakan anak
penyandang disabilitas dan tidak bersekolah yang
diwawancarai tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan
untuk memperoleh pendapatan. Mereka juga tidak
ditemukan melakukan tugas-tugas rumah tangga.
Justru sebaliknya, mereka kebanyakan ‘idle/tidak
melakukan kegiatan apapun’. Meskipun disabilitas
menjadi faktor kerentanan bagi anak untuk memiliki
kesempatan berpartisipasi dalam pendidikan di
sekolah, temuan-temuan ini menyiratkan bahwa
disabilitas, dalam beberapa kasus, bisa menjadi
faktor ‘pelindung’ dalam kaitannya dengan pekerja
anak (sebagai akibat disabilitas).
Analisa terhadap kaitan isu pekerja anak dengan
pendidikan seringkali didasarkan pada asumsi bahwa
keluarga miskin akan memaksimalkan pemanfaatan
modal kerja yang ada pada mereka; tetapi, bukti dari
survei pekerja anak menunjukkan bahwa (a) kadangkadang banyak anak-anak tidak bersekolah dan tidak
pula bekerja (b) fenomena ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan keterlibatan anak-anak dalam
tugas-tugas rumah tangga, atau ketidaktersediaan
pekerjaan23. Kajian cepat yang dilakukan oleh ILO-EAst
di Indonesia menunjukkan bahwa dalam kasus anakanak penyandang disabilitas, keprihatinan orangtua
untuk melindungi anaknya memainkan peranan
penting dalam keputusan untuk tidak mempekerjakan
mereka.
Akan tetapi, bukti dari penelitian-penelitian lain
mengarah pada kesimpulan yang berbeda. sebuah
Working paper dari ILO-IPEC24, yang mengambil
perspektif lebih global, mengatakan bahwa disabilitas bisa menjadi faktor ‘pendorong’ bagi anak
untuk masuk menjadi pekerja anak. temuan-temuan
makalah tersebut didasarkan pada data survei pekerja
22
23
24
25
anak yang dilaksanakan dengan dukungan ILO-IPEC Program Monitoring dan Informasi statistik tentang
Pekerja anak/statistical Information and Monitoring
Programme on Child Labour (sIMPOC) di Kamerun
dan Ekuador. Bukti yang di dapat dari penelitian
ini mendukung kecenderungan bahwa anak-anak
penyandang disabilitas cenderung ‘idle’, tetapi juga
sekaligus menunjukkan bahwa ‘idle’ total hanya terjadi pada beberapa individu penyandang disabilitas
dengan persentase yang relatif kecil. Lebih sering
terjadi, anak-anak penyandang disabilitas ditemukan
terlibat secara substansial dalam kegiatan-kegiatan
produktif. Dalam beberapa konteks, mereka justru
lebih cenderung bekerja daripada anak-anak bukan
penyandang disabilitas25.
Jam kerja rata-rata per minggu,
menurut jenis kelamin dan status
disabilitas, kelompok usia 5-17
tahun, dalam %
Anak-anak penyandang
disabilitas
Anak-anak bukan
penyandang disabilitas
35
30
25
20
15
10
5
0
Laki-laki
Perempuan
Ekuador
Laki-laki
Perempuan
Kamerun
sumber: ILO-IPEC, Working paper on Descriptive Evidence on Child
Labour and Disabilities, Geneva, 2010
KERANGKA KERJA HUKUm
DAN KEBIJAKAN DI INDoNESIA
Mengenai disabilitas
Pemerintah Indonesia sudah mengambil berbagai inisiatif terkait perlindungan hak-hak
penyandang disabilitas dan mempromosikan
lingkungan yang inklusif:
• 1997: Undang-undang Penyandang Cacat:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4.
ILO – EAST Project, Disability, access to education and child labour: exploring the links, Jakarta, 2010
UCW, The puzzle of “idle” children: neither in school nor performing economic activity. Evidence from six countries, October 2003
ILO-IPEC, Working Paper on Descriptive Evidence on Child Labour and Disabilities, Geneva, 2010
There are however methodological issues with this study that does not differentiate disability and illness
• 2007: Menandatangani Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
• 2004-2013: Rencana Aksi Nasional untuk
Langkah Peningkatan Kesejahteraan Penyandang Cacat Indonesia Mengenai
Pekerja Anak
• 1999: Ratifikasi Konvensi ILO mengenai
Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja, 1973 (No.138).
• 2000: Negara Asia pertama yang meratifikasi Konvensi ILO mengenai Pelarangan
dan tindakan segera Penghapusan BentukBentuk Pekerjaan terburuk bagi Anak, 1999
(No.182).
Pendidikan Inklusif
• 2003 Undang-Undang sistim Pendidikan
nasional: menetapkan bahwa anak-anak
usia wajib sekolah dan dengan kebutuhan
kusus menerima ‘perhatian yang sama’
dari pemerintah. Beberapa tahun belakangan, hal ini diwujudkan dengan didirikannya 2.230 sekolah pendidikan khusus
baru. Hingga 2007, telah dibangun 9.999
‘tempat belajar’ bagi anak-anak dengan
disabilitas di seluruh provinsi, dikelola
oleh 2.574 sekolah. secara keseluruhan,
pada tahun 2007, lebih dari 327.326 siswa
siswi penyandang disabilitas memperoleh manfaat dari tempat-tempat ini.
• 2007-2015 Progam Conditional Cash
Transfer (Program Keluarga Harapan)
aktif di 118 kabupaten dan 25
provinsi (pada tahun 2011). Keluargakeluarga yang bersedia anak-anak
mereka diintegrasikan kembali ke sekolah,
menerima bantuan sejumlah UsD 45
sampai 90 per tahun, tergantung pada
jumlah anak dan nilai mereka.
Bukti-bukti yang tidak seragam ini menyiratkan
bahwa kaitan antara penyandang disabilitas
dan pekerja anak terjadi sesuai dengan konteks
spesifik masing-masing. Di mana sikap terhadap
isu disabilitas sangat negatif, orang tua akan lebih
cenderung menyembunyikan anak-anak penyandang
26
disabilitas dari masyarakat umum. Dalam kasus ini,
disabilitas bisa berfungsi sebagai faktor pelindung
dari terlibatnya anak menjadi pekerja anak. sentimen
lokal terhadap kegiatan mengemis, yang merupakan
akibat lazim dari disabilitas dan kemiskinan, juga
dapat membatasi insiden pekerja anak di kalangan
anak-anak penyandang disabilitas26. Namun demikian,
seperti diperlihatkan pada bagan di atas ini, dalam
konteks lain, di mana sikap yang berbeda mungkin
berpengaruh, dan ketika tekanan ekonomi meningkat,
maka hidup dengan disabilitas dapat mengakibatkan
anak jauh lebih rentan terhadap eksploitasi dan waktu
kerja yang panjang.
REKomENDASI
Program-program untuk penghapusan pekerja
anak dan anak-anak penyandang disabilitas perlu
diintegrasikan secara lebih baik, khususnya
dengan:
• Memasukkan disabilitas sebagai salah satu dimensi survei pekerja anak, bersama dengan
status pendidikan, status kerja, dan keterlibatan dalam tugas-tugas rumah tangga;
• Mengupayakan pendekatan holistik untuk pendidikan yang inklusif dengan memfasilitasi partisipasi yang bermakna dari anak-anak dengan
disabilitas, dan anak-anak yang rentan terhadap
pekerja anak, di dalam proses belajar;
• Mengutamakan usaha-usaha untuk menarik
anak-anak dari pekerjaan berbahaya guna mencegah kecelakaan/sakit yang dapat mengakibatkan disabilitas;
• Memaksimumkan kapasitas pembelajaran (sekolah dan kejuruan) dari anak-anak dengan disabilitas sekaligus memperkuat kebijakan, tindakan
dan sistem yang ditujukan untuk mengurangi kemungkinan bahwa keterampilan baru yang mereka dapatkan akan menjadikan mereka rentan
pada eksploitasi.
ILO – EAST Project, Disability, access to education and child labour: exploring the links, Jakarta, 2010
Fly UP