...

Fakta dan Opini Pada Editorial dengan Membaca Intensif Siswa

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Fakta dan Opini Pada Editorial dengan Membaca Intensif Siswa
Lembar Pengesahan
ARTIKEL
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED
INSTRUCTION TERHADAP KEMAMPUAN MEMBEDAKAN KALIMAT
FAKTA DAN OPINI PADA EDITORIAL DENGAN MEMBACA
INTENSIF SISWA KELAS XI SMA NEGERI 3 LANGSA TAHUN
PEMBELAJARAN 2013/2014
Disusun dan Diajukan oleh:
NURNA SETIA NINGSIH
NIM 071222110040
Telah Diverifikasi dan Dinyatakan Memenuhi Syarat
untuk Diunggah pada Jurnal Online
Medan, September 2013
Menyetujui :
Editor,
Pembimbing Skripsi,
Drs. Basyaruddin, M.Pd.
NIP 19580904 198601 1001
Hendra K. Pulungan,S.Sos,M.Ikom.
NIP 19770717 200604 1 001
1
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED
INSTRUCTION TERHADAP KEMAMPUAN MEMBEDAKAN KALIMAT
FAKTA DAN OPINI PADA EDITORIAL DENGAN MEMBACA
INTENSIF SISWA KELAS XI SMA NEGERI 3 LANGSA TAHUN
PEMBELAJARAN 2013/2014
Oleh
Nurna Setia Ningsih
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jelas efektivitas penggunaan
model pembelajaran Problem Based Instruction dalam meningkatkan kemampuan
membedakan kalimat fakta dan opini pada editorial dengan membaca intensif.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 3 Langsa
dengan jumlah 80 siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh
populasi,dengan kata lain penelitian ini adalah penelitian populasi. Instrument
yang digunakan untuk menjaring data adalah penugasan dengan tes pilihan
berganda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen.
Kata kunci :-Efektivitas – problem based instruction – memnedakan kalimat fakta
dan opini pada editorial dengan membaca intensif
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan mempengaruhi
berbagai bidang termasuk bahasa Indonesia. Ditinjau dari hasil belajar yang
dicapai, bidang bahasa Indonersia sangat rendah pada setiap jenjang pendidikan.
Bahasa Indonesia termasuk mata pelajaran yang masih dianggap rendah mutunya,
baik dari segi proses belajar maupun hasil belajarnya. Dalam proses pembelajaran
keaktifan siswa di kelas masih rendah, siswa cenderung pasif, hanya duduk dan
mendengarkan guru saja.
2
Banyak faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya suatu proses
pembelajaran. Faktor tersebut dapat berupa individual dan faktor sosial. Faktor
individual berupa faktor kematangan, kecerdasan, motivasi. Selain itu faktor
kognitif juga mempengaruhi hasil belajar yang akan dicapai. Sedangkan faktor
sosial adalah faktor yang berasal dari luar organisme misalnya faktor keluarga dan
guru.
Sampai saat ini siswa hanya terbiasa menerima dan menghafal apa yang
diberikan guru tanpa termotiviasi untuk memahami isi pelajaran. Untuk mengatasi
hal ini, guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat digunakan dalam
proses pembelajaran agar siswa termotivasi untuk belajar sehingga memperoleh
hasil belajar yang maksimal.
Banyak model pembelajaran maupun alternatif lain yang dapat digunakan
guru dalam rangka pembelajaran, hanya permasalahannya bagaimana memilih dan
menggunakan model pembelajaran yang dapat menampilkan kegiatan belajar
siswa yang optimal dan banyak menampilkan berbagai keterampilan proses.
Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan
dan melaksanakan proses belajar yang berlangsung demi mencapai hasil belajar
yang lebih baik.
Berdasarkan observasi lapangan sebelumnya dan disertai wawancara
secara informal dengan Ibu Nilawati S.Pd seorang guru bahasa Indonesia SMA
Negeri 3 Langsa, masalah yang ditemukan pada siswa khususnya Standar
Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasarnya (KD) dalam kemampuan
membedakan kalimat fakta dan opini yaitu nilai ulangan harian maupun ulangan
3
umum siswa mendapat nilai rata-rata rendah. Nilai yang diperoleh siswa masih
banyak di bawah Standar Kelulusan Belajar Minimal (SKBM) dan jauh dari yang
diharapkan. Hal ini disebabkan karena, kurangnya kemauan dan keseriusan siswa
dalam belajar, rendahnya kemampuan siswa dalam memahami informasi dalam
sebuah bacaan atau wacana, kurangnya pengetahuan siswa dalam menentukan
kalimat fakta dan opini. Masalah lain yang terlihat adalah adanya kesulitan siswa
dalam menentukan kalimat fakta dan opini, kurangnya pemahaman siswa tentang
ciri-ciri kalimat fakta dan opini, kurangnya pemahaman siswa tentang perbedaan
kalimat fakta dan opini dan alokasi waktu belajar di sekolah sangat terbatas
sehingga materi fakta dan opini tidak luas dipelajari siswa.
Menurut Slameto (2003: 33), “Agar siswa dapat belajar dengan baik maka
model pembelajaran harus disesuaikan setepat, seefisien, dan seefektif mungkin”.
Kemudian, Ibrahim (2006:12) mengatakan, “Untuk mencapai hasil belajar yang
maksimal siswa harus terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran bahkan
menjadi pelaku utama pembelajaran”.
Rohani (2008:12) juga mengatakan bahwa:
Kegiatan pembelajaran yang harus dikembangkan adalah kegiatan
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, mengembangkan
kreativitas, menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang,
bermuatan nilai etika, estetika, logika dan kinestika serta menyediakan
pengalaman belajar yang beragam”. Hal ini berarti, berhasil tidaknya
pencapaian tujuan pembelajaran bergantung pada bagaimana proses
pembelajaran direncanakan dan dijalankan guru secara profesional
Salah satu jalan untuk memecahkan masalah yang dapat meningkatkan
hasil belajar siswa adalah dengan model pembelajaraan Problem Based
Instruction. Model pembelajaran Problem Based Instruction merupakan suatu
4
model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang
memiliki sifat kemampuan yang berbeda. Pembelajaran ini dapat ditandai dengan:
(1) siswa belajar dalam tim dalam mencapai tujuan; (2) tim-tim terdiri atas siswa
yang berprestasi rendah, sedang, tinggi; (3) tim ini terdiri atas campuran ras,
budaya, gender, dan (3) sistem berorientasi kelompok maupun individu.
Pembelajaran dengan model Problem Based Instruction dapat memberikan
pengaruh yang kuat dalam diri siswa. Peran guru dalam pembelajaran adalah
memberikan berbagai masalah, memberikan pertanyaan dan memfasilitasi
investigasi dan dialog sehingga guru meningkatkan inkuiri dan pertumbuhan
intelektual.
Model Problem Based Instruction ini menunjukkan hasil yang cukup
bagus. Seperti yang telah dilakukan oleh Rossahayati (rossachemist 88.
blog.unsac.id/2010/04/24/peneltian-tindakan-kelas), hasil kegiatan pembelajaran
dengan menggunakan model ini didapatkan nilai rata-rata 8,31 daya serap 80,31
dan kategori keberhasilan 70-95%, dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran
tanpa menggunakan model Problem Based Instruction hanya memperoleh hasil
berupa nilai rata-rata 6,37 daya serap 60,37 persen dari target 100 persen, kategori
keberhasilan 50-70 persen. Nilai pembanding atau peningkatan Problem Based
Instruction rata-rata 1,94 dari 35 siswa kelas XI. Karena itu, disimpulkan
penggunaan model ini dipandang lebih berhasil dan nyata meningkatkan mutu
pembelajaran bahasa Indonesia.
Uraian di atas mengindikasikan model pembelajaran Problem Based
Instruction sesuai digunakan dalam pembelajaran membaca intenbsif untuk
5
membedakan kalimat fakta dengan ipini pada editorial. Menentukan fakta dan
opini memerlukan penalaran yang tepat. Oleh karena itu, penggunaan model
pembelajaran Problem Based Instruction dianggap tepat karena model
pembelajaran ini didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan
penyelidikan nyata dari permasalahan yang nyata. Permasalahan nyata jika
diselesaikan secara nyata memungkinkan siswa memahami konsep bukan sekedar
menghafal konsep.
Perlakuan yang diterapkan dalam model pembelajaran Problem Based
Instruction mengoptimalkan kemampuan siswa melalui pengajuan pertanyaan
atau masalah, berfokus pada keterkaitan antardisiplin, penyelidikan autentik,
menghasilkan produk dan memamerkannya, serta kolaborasi, sehingga siswa
dapat memilih, menentukan serta memberikan alasan-alasan yang tepat ketika
menentukan kalimat fakta dan opini pada suatu editorial.
Berdasarkan hal di atas dalam penelitian ini penulis mencoba menerapkan
model pembelajaran Problem Based Instruction dengan judul: Efektivitas Model
pembelajaran Problem Based Instruction terhadap Kemampuan Membedakan
Kalimat Fakta dan Opini pada Editorial dengan Membaca Intensif Siswa Kelas XI
SMA Negeri 3 Langsa Tahun Pembelajaran 2013/2014
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3
Langsa pada siswa kelas XI. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap
tahun pembelajaran 2013/2014.
6
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 3
Langsa tahun pembelajaran 2013/2014, berjumlah 214 siswa. Sample dalam
penelitian ini sebanyak 2 (dua) kelas setara yakni siswa kelas XI.IPS-1 dan
XI.IPS.2 masing-masing sebanyak 80 siswa kelas Eksperimen dan 40 siswa kelas
Kontrol..
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen,
yaitu suatu metode penelitian yang menekankan kepada pengendalian atau
pengontrolan atas objek yang diamatinya dan tujuannya adalah untuk
mendemontrasikan adanya jalinan sebab akibat antarvariabel dependen dengan
variabel independen.
Dalam disain eskperimen terdapat kelompok yang disebut kelompok
eksperimen yaitu kelompok yang sengaja dipengaruhi oleh variabel-variabel
tertentu, dan kelompok kontrol, yaitu yang tidak dipengaruhi oleh variabelvariabel itu. Kelompok kontrol dimaksudkan sebagai pembimbing hingga terjadi
perubahan akibat variabel-variabel eksperimen itu.
Penelitian ini mengeksperimenkan model pembelajaran Problem Based
Instruction. Tolak ukur yang digunakan adalah memperoleh hasil belajar yaitu
beberapa perbedaan nilai rata-rata tes menulis fakta dan opini siswa yang diajar
menggunakan model pembelajaran Problem Based Instruction dan konvensional.
Berdasarkan metode eksperimen yang dikemukakan di atas maka satu
kelompok dianggap sebagai kelompok eksperimen, yaitu siswa yang mendapatkan
pembelajaran membedakan kalimat fakta dengan opini melalui membaca intensif
menggunakan model pembelajaran Problem Based Instruction, sedangkan
kelompok lainnya adalah kelompok kontrol yaitu siswa yang memperoleh
pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional.
7
Instrumen yang digunakan untuk menjaring data pada penelitian ini
digunakan instrumen tes. Tes adalah alat ukur pendidikan yang dipergunakan
untuk mengukur aspek–aspek dalam bentuk angka. Pada penelitian ini tes yang
digunakan adalah tes kemampuan memvedakan kalimat fakta dan opini yang
terdapat dalam editorial melalui membaca intensif. Tes tersebut berbentuk objektif
sebanyak 20 soal dengan 5 pilihan jawaban yaitu fakta atau opini.
Setelah data penelitian diperoleh, penganalisisan data dilakukan dengan cara
menilai lembar kerja siswa kelas kontrol dan eksperimen, menghitung nilai ratarata kelas kontrol dan eksperimen, menguji normalitas, homogenitas tes. Dan
terakhir menguji hipotesis. Setelah dilakukan perhitungan, t0 yang diperoleh lebih
besar dari ttabel yaitu 5,41 >2,06 dan 5,41 >2,80, maka hipotesis nihil (Ho) ditolak
dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Hal ini membuktikan bahwa Model
Problem Based Instuction lebih efektif daripada metode ceramah dalam
membedakan kalimat fakta dan opini pada editorial.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kemampuan Membedakan Kalimat Fakta dan Opini pada Editorial dengan
Membaca Intensif Siswa Pada Kelompok Eksprimen
No.
Subjek
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Nama Siswa
Membedakan Kalimat Fakta Dan
Opini Kelompok Eksprimen
Tes Akhir (Post Test)
90
85
85
95
90
90
95
95
90
Yuna Ilyas
Suli Rosmawati
Arin Junia Putri
Sri Wijayati
Yolanda Putri
Rabiatul Adawiyah
Sofan Nasution
Ratna Dewi
M. Dicky Ardiyan
8
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Mhd. Hariadi Maulana
Wira Budiman
Dewinta Putri Erwindhani
Windy Yulistina
Arni Sofiana
Novita Angraini
Mela Yolanda
Selva Liana Putri
Irwansyah
Adilina Hulu
Vika Anjelia Sitorus
Kim Evita Elfehyun
Tamara Moko Ginting
Khairunnisak S
Tri Fitriani Putri
Sari Hanum Pane
Syafitri Ny. Nst
Bagus Setiawan
Iis Yunita
Putro Kumala Sari
Pandi Ardiansyah
Liza Umami
Rini Agustin Bangun
Devi Permata Sari
Dewi Novita Sari
Desi Nurhalimah HSB
Sui Pratiwi
Selvi Liana Putri
Gusti Prabowo Singgih
Nadia Anwar
Kharul Munawar
Jumlah
Rata-rata
85
90
85
95
90
85
95
95
100
90
85
95
95
90
95
85
85
95
95
85
85
95
90
95
85
95
90
90
80
80
95
3610
90,25
Dari tabel di atas terlihat secara terinci kemampuan membedakan kalimat
fakta dan opini pada editorial dengan membaca intensif siswa pada kelompok
eksprimen. Rata-rata kemampuan membedakan kalimat fakta dan opini pada
editorial dengan membaca intensif siswa pada kelompok eksprimen setelah
9
mendapatkan
perlakuan
pembelajaran
membaca
menggunakan
model
pembelajaran problem based instruction adalah sebesar 90,25.
Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa peningkatan kemampuan membedakan
kalimat fakta dan opini pada editorial dengan membaca intensif siswa pada
kelompok eksprimen setelah menggunakan model pembelajaran problem based
instruction mengalami peningkatan.
Kemampuan Membedakan Kalimat Fakta dan Opini pada Editorial dengan
Membaca Intensif Siswa Pada Kelompok Kontrol
No.
Subjek
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Nama Siswa
Indri Irmayani
Muhammad Syaiban
Tri Yuninda Ningsih
Nurul Ramadhani Nst
Elifa Tanziliani
Andreano Yoanda
Sri Wahyuni
Dedek Ilhamsyah
Dewi Santi
Akim Thalibu Rangga
Fakri Mulia
Boby
Syahrul Ramadhan
Kiki Nurhayati
Taufik Alhadi
Suci Soleha
Mahyaruddin
Musthafa Goas
Farida Siska
Nurfadhilah Hsb
Yayuk Agustina
Siti Fatimah
Mardiah
Ratina Mutiara
Sulastri Padang
Mhd. Idris Prawira
Dwi Aulia Sari
Misnan
Membedakan Kalimat Fakta dan
Opini Kelompok Kontrol
Nilai Tes Akhir (Pos Test)
75
80
80
80
80
90
80
90
80
85
90
85
80
90
75
90
85
85
75
85
85
85
80
85
85
75
75
90
10
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Senita Clara Hutabarat
Julaika
Siti Rabita
Sri Eka Pratiwi
Rahmadani
Ray Rani
Maya Sari
Zulpan Apandi
Wiwid Angraini
Almira Sari
M. Al-Hafiz
Mizi Al Taher
Jumlah
Rata-rata
75
85
80
90
90
90
85
80
80
80
85
95
3335
83,38
Dari tabel di atas terlihat secara terinci kemampuan membedakan kalimat
fakta dan opini pada editorial dengan membaca intensif siswa pada kelompok
kontrol. Rata-rata kemampuan membedakan kalimat fakta dan opini pada editorial
dengan membaca intensif siswa pada kelompok kontrol setelah mendapatkan
perlakuan pembelajaran membaca menggunakan metode konvensional sebesar
83,38.
Dari
hasil
tersebut
dapat
dikatakan bahwa
rata-rata
kemampuan
membedakan kalimat fakta dan opini pada editorial dengan membaca intensif
siswa pada kelompok kontrol dengan menggunakan metode konvensional lebih
rendah daripada rata-rata kemampuan membedakan kalimat fakta dan opini pada
editorial dengan membaca intensif siswa pada kelompok eksprimen.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka
dapat disimpulkan bahwa kemampuan membedakan kalimat fakta dengan opini
menggunakan model pembelajaran Problem Based Instruction siswa kelas XI
SMA Negeri 3 Langsa Tahun Pembelajaran 2013/2014 dapat dikatakan berhasil
11
hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata yeng diperoleh dari post testadalah 90,25.
dan Kemampuan membedakan kalimat fakta dengan opini menggunakan
pembelajaran secara konvensional siswa kelas XI SMA Negeri 3 Langsa Tahun
Pembelajaran 2013/2014 dapat dilihat dari nilai rata-rata dari post testadalah
83,38. dapat dikatakan juga Model pembelajaran Problem Based Instruction
efektif digunakan dalam meningkatkan kemampuan membedakan kalimat fakta
dengan opini siswa kelas XI SMA Negeri 3 Langsa tahun pembelajaran
2013/2014. Dengan kata lain penggunaan model pembelajaran Problem Based
Instruction dapat meningkatkan kemampuan membedakan kalimat fakta dan opini
pada editorial dengan membaca intensif siswa kelas XI SMA Negeri 3 Langsa
Tahun Pembelajaran 2013/2
DAFTAR PUSTAKA
Abrar, A.N. 2006. Panduan Buat Pers Indonesia Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset
Alwi, Hasan dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek) Edisi Revisi
V. Jakarta: Rineka Cipta
Djuroto, F. 2005. Menulis Artikel Dan Karya Ilmiah. Bandung: Remaja Doliarya
Fadil Al Karsad’s, Membedakan Kalimat Fakta, Kalimat Pendapat, dan Kalimat
Opini, tahun 2012
Hamalik, O. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Hariwijaya, M. 2007. Pedoman Teknis Penulisan Karya Ilmiah. Skripsi, Tesis,
dan Disertasi. Yogyakarta: Citra Pustaka
Hasibuan, JJ dan Moedjiono. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bina
Aksara
12
Ibrahim, M. 2006. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya
Rohani, A. 2008. Pengolahan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Salsabila Siti Syerifah, Fakta dan Opini. Tahun 2009
Silitonga, P.M. 2010. Statistik, Teori dan Aplikasi dalam Penelitian. Medan:
FMIPA Unimed
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta
Purwoningsih, Tuti. Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) Pada
Pembelajaran Fisika Di SMA. Tahun. 2010.
Sudjana. 2008. Metode dan Teknik Pemberlajaran Partisipatif. Bandung: Falah
Production
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana
Pustaka
Suyono. 2007. Cerdas Berpikir Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Ganeca
Exact
Trianto. 2008. Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivisme. Jakarta:
Prestasi Pustaka
Tukan. 2008. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: Yudhistira
13
Fly UP