...

keynote speech menteri agama ri seminar nasional "membangun

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

keynote speech menteri agama ri seminar nasional "membangun
KEYNOTE SPEECH MENTERI AGAMA RI
SEMINAR NASIONAL "MEMBANGUN PENDIDIKAN ISLAM
BERBASIS ICT" DI IAIN WALISONGO SEMARANG
KAMIS 12 PEBRUARI 2009
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Yth. Rektor LAIN Walisongo,
Hadirin dan hadirat yang saya hormati,
Pada saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia telah memasuki era
industrialisasi. Mungkin sebagian penduduk di kota-kota besar ada yang memasuki
masyarakat pasca-industrial, tetapi sebagian lain masih berpola hidup tradisional
dengan mengandalkan bercocok tanam, pertanian tradisional, peternakan, perikanan,
dan pengolahan hasil-hasil laut secara sederhana. Kesenjangan ini tentu amat
mencolok karena pada saat yang sama negara-negara industri moderen sedang
merancang sebuah abad yang di dalamnya penggunaan energi alternatif menjadi
andalan, produksi berbasis teknologi biologi dan bersifat massal, pesatnya informasi
melalui media massa, dan teknologi hadir dengan piranti utamanya sebagai ICT
(Information and CommunicationTechnology). Abad industri juga ditandai dengan
ketersediaan berbagai pilihan dalam pendidikan, meningkatnya kebutuhan akan
tenaga ahli dan terampil (expert and professional), dan bertambahnya mobilitas
horizontal dan vertikal, serta meluasnya budaya organisasi.
Jika pendidikan menjadi pilihan penting dalam era industrialisasi, pertanyaannya
adalah pendidikan yang bagaimana yang dapat mengembangkan sumberdaya
manusia yang mampu mentransformasi budaya yang cocok dengan zamannya?
Pertanyaan ini perlu diajukan karena masih terdapat kesenjangan antara sikap dan
perilaku yang dituntut dalam masyarakat industrial dengan pola hidup sebagian besar
masyarakat Indonesia, terutama umat Islam pada khususnya. Masyarakat industrial
menuntut mentalitas percaya diri, disiplin tinggi, kerja keras, tanggungjawab,
kerjasama, tangguh, professional, cerdas dan terampil, kemampuan bersaing, kreatif
dan inovatif. Sementara itu, nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat Indonesia
masih menggantungkan pada nasib, produktivitas kerja yang rendah, pemanfaatan
waktu yang tidak efektif, kurang percaya diri untuk merintis peluang baru bagi
kemajuan, berkembangnya budaya diam, tidak disiplin, suka menerabas, dan
berorientasi masa lalu.
Melihat kenyataan demikian maka sebagian umat Islam di Indonesia tampaknya
belum siap menghadapi, apalagi melakukan, transformasi sosialbudaya secara kreatif.
Hal ini terlihat pada kondisi sosial ekonomi, budaya dan keagamaan yang masih
rapuh, taraf pendidikan umat masih rendah, kelembagaan pendidikan hanya peniru
sistem yang datang dari luar, pembelajaran lebih banyak melestarikan yang telah ada
dan bukan inovatif, dan orientasi pendidikan lebih banyak sebagai buruh/pencari
kerja ketimbang menciptakan lapangan kerja barn atau berwirausaha. Perekonomian
kita masih ketinggalan sehingga umat lebih berperan sebagai konsumen daripada
sebagai produsen dan pelayan jasa professional.
Saudara-saudara sekalian,
Apa yang saya paparkan di atas bukan untuk memupuk pesimisme, melainkan
menjadikan landasan berpikir membangun pendidikan Islam seperti apa yang cocok
dengan perkembangan zaman yang kita alami saat ini? Kita perlu memikirkan hal ini
dengan serius mengingat kondisi pendidikan Islam yang ada scat ini belum
sepenuhnya kondusif untuk melakukan transformasi secara cepat. Apakah berarti kita
harus diam, tentu saja tidak. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan jika ingin
bangunan pendidikan Islam cocok dengan perkembangan dan dinamika masyarakat
yang terus berkembang. Pertama, kita harus melakukan lompatan kuantum, dalam
arti keluar dari kebiasaan (khariqul `adah) atau dari pola hidup bermalas-malasan,
tidak disiplin, menggantungkan nasib, kurang percaya diri, produktifitas kerja rendah,
nrimo ing pandhum, dan sebagainya menuju sikap dan perilaku utama seperti kerja
keras, disiplin tinggi, mentalitas percaya diri, tanggungjawab, tangguh, profesional,
kreatif, dan inovatif. Sikap-sikap demikian itu sesungguhnya adalah cerminan dari
perilaku Muslim paripurna (akhlaq al-karimah) yang dijadikan misi kenabian
Muhammad SAW. yang maksudnya adalah bahwa aku diutus oleh Allah tiada lain
tujuannya kecuali untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur. Kedua,
melakukan transformasi kelembagaan pendidikan dengan mengedepankan amar
ma'ruf nahi munkar. Sebagai institusi sosial, fungsi pendidikan adalah fungsi budaya
untuk melestarikan dan mengembangkan sistem nilai masyarakatnya. Karena
pendidikan Islam berasas pada nilai-nilai luhur Islam, maka lembaga pendidikan
Islam (tak terkecuali pendidikan tinggi Islam) harus mampu melakukan amar ma'ruf
nahi munkar dalam kerangka keimanan kepada Allah SWT. Cita-cita ini akan
menjadi daya dorong bagi siapapun yang terlibat dalam pendidikan untuk bangkit
mengadakan perubahan.
Ketiga, memanfaatkan kemajuan sains dan teknologi dengan ICT (Information
and Communication Technology) sebagai piranti pengembangan kelembagaan dan
sistem pendidikan Islam. Mengapa langkah ini diambil? Karena mempertimbangkan
kenyataan bahwa abad ini adalah abad saintifik-teknologikal, dimana sains dan
teknologi merupakan faktor dominan dalam kebudayaan dan peradaban manusia.
Tanda-tanda ke arah itu sudah jelas di depan mata, misalnya proses globalisasi
informasi dan nilai-nilai melalui berbagai produk kemajuan teknologi informasi
mutakhir seperti internet dan jaringan televisi. Tak ragu lagi, kemajuan teknologi
telah mengubah cara pandang masyarakat dan memunculkan berbagai perubahan.
Hanya saja harus kita sadari bahwa produk teknologi (yang saat ini dominan di
tangan negara-negara Barat) tidak pernah "bebas nilai" (value free). Kenyataan
menunjukkan bahwa kehadiran suatu produk teknologi tidak sekedar menghadirkan
"perangkat" belaka, tetapi juga cara berpikir, pandangan hidup, norma, budaya, atau
sistem nilai tertentu. Oleh karena itu, pemanfaatan ICT dalam pendidikan Islam perlu
memperhatikan kemungkinan-kemungkinan tersebut.
Hadirin dan hadirat yang saya hormati,
Akhirnya, saya menyampaikan apresiasi terhadap IAIN terutama IAIN Walisongo
yang menyelenggarakan seminar ini. Sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, IAIN
memang harus peduli terhadap pengembangan kelembagaan dan sistem pendidikan
Islam. Upaya membangun pendidikan Islam berbasis ICT perlu direspon secara
positif. Namun, yang lebih penting adalah sikap istiqomah terhadap perkembangan
itu sendiri. ICT hanyalah piranti, alat, bukan tujuan, tapi pelaku pendidikan
(pimpinan, dosen, dan mahasiswa) adalah penentu utama keberhasilan pembangunan
pendidikan.
Waffaqonallahu Waiyyakum,
Wassalamu' alaikum Wr. Wb.
Jakarta, 12 Pebruari 2009
Menteri Agama RI
ttd
Muhammad M. Basyuni
Fly UP