...

faktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya karies - E

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

faktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya karies - E
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TIMBULNYA KARIES
GIGI PADA SISWA-SISWI DI SD INPRES TENDA-RUTENG
KABUPATEN MANGGARAI
THE FACTORS RELATING TO DENTAL CARIES ON STUDENTS OF SD
INPRES TENDA-RUTENG MANGGARAI REGENCY
OLEH:
FERGILIANA CECILIA PRISILA JENATU
CHATARINA DWIANA WIJAYANTI
WILHELMUS HARRY SUSILO
ARTIKEL ILMIAH
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIK SINT CAROLUS, JAKARTA
BULAN APRIL, TAHUN 2014
1 Mahasiswa
STIK Sint Carolus
Tetap STIK Sint Carolus
3 Dosen Tidak Tetap STIK Sint Carolus
2 Dosen
1
2
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TIMBULNYA KARIES
GIGI PADA SISWA-SISWI DI SD INPRES TENDA-RUTENG
KABUPATEN MANGGARAI
ABSTRAK
Karies merupakan masalah kesehatan gigi yang kejadiannya semakin meningkat. Faktor
penyebab karies yaitu umur, jenis kelamin, konsumsi makanan kariogenik/manis, pola
menggosok gigi, frekuensi perawatan dokter gigi. Tujuan penelitian untuk mengetahui
faktor–faktor yang berhubungan dengan timbulnya karies gigi pada anak usia sekolah.
Penelitian menggunakan metode kuantatif dengan desain studi cross sectional. Responden
berjumlah 123 orang yang ditentukan dengan menggunakan simple random sampling.
Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan formulir pemeriksaan karies gigi
berdasarkan Riskesdas 2007. Item kuesioner berjumlah 15 item dengan nilai r untuk uji
validitas adalah 0.33 dan Alfa Chronbach’s 0.742. Hasil penelitian terdapat hubungan antara
konsumsi makanan kariogenik/manis (p value 0.027), umur (p value 0.000), jenis kelamin (p
value 0.007) dengan karies gigi sedangkan pola menggosok gigi (p value 0.886), frekuensi
perawatan dokter gigi (p value 0.993) tidak berhubungan. Berdasarkan hasil penelitian ini
disarankan agar anak usia sekolah mengurangi konsumsi makanan kariogenik untuk menjaga
kekuatan struktur giginya dan terhindar dari karies gigi.
Kata kunci
: Karies gigi, faktor-faktor penyebab karies gigi, anak usia sekolah.
THE FACTORS RELATING TO DENTAL CARIES ON STUDENTS OF SD INPRES
TENDA-RUTENG MANGGARAI REGENCY
ABSTRACT
Caries is dental health problem which increasingly happens. The cause of caries relates to
cariogenic foods consumption, age, sex, frequency of brushing teeth and also depends on
treatment frequency by a dentist. The purposes of this research is to find out the factors
relation to the cause of the caries experienced by the school-age children. This research
applies quantitative method with a cross sectional study design. The sample of this study
amounted to 123 children and it was taken with simple random sampling. The research use
questionnaire instrument and dental caries examination form based on Riskesdas 2007.
Questionnaire has totally 15 items with validation test use r point is 0.33 and Alfa
Chronbach’s is 0.742. The results of research showed that there was the significant relation
between the consumption of cariogenic foods (p value = 0.027), age (p value = 0.000), gender
(p value = 0.007) with the dental caries but the frequency of brushing teeth (p value 0.886)
and the frequency of dental care (p value = 0.993) have not relation significant. Based on the
result of research,it is suggested that the school age children to decrease the consumption of
cariogenic foods because not only to safe the teeth from caries but also to maintain the
strength and structure of the teeth.
Sign word : Caries, factors of caries, school-age children.
3
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Karies merupakan masalah kesehatan gigi yang kejadiannya semakin meningkat.
Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang diakibatkan oleh ulah
mikroorganisme pada karbohidrat yang dapat difermentasikan sehingga terbentuk asam
dan menurunkan pH di bawah kritis mengakibatkan terjadinya demineralisasi jaringan
keras gigi (Sumawinata, 2004). Angka kejadian karies semakin meningkat didukung
data World Health Organization (2003) bahwa angka kejadian karies pada anak
mencapai 60–90 persen. Survei kesehatan gigi yang dilakukan oleh direktoral pada
daerah kota menyatakan bahwa anak umur 8 tahun mempunyai prevelansi karies 45.2%
rata-rata 0,84, anak umur 12 tahun sebesar 76.62% rata-rata 2,21, sedangkan anak umur
14 tahun mempunyai prevelansi kariesnya 73.2% dan rata-rata 2,69. Data penderita
karies gigi pada anak di lokasi penelitian yaitu SD Inpres Tenda adalah sejumlah 49%
(Posyandu Pembantu Tenda, 2012).
2. Rumusan Masalah
Karies gigi merupakan masalah kesehatan rongga mulut yang perlu mendapat
perhatian khususnya pada anak. Anak-anak dalam usia pertumbuhan, mengalami proses
pergantian gigi sulung menjadi gigi tetap/permanen. Perawatan gigi yang baik
mempengaruhi kekuatan struktur gigi tetap/permanen tersebut.
Dari kajian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang
faktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya karies gigi pada siswa-siswi di SD
Inpres Tenda Ruteng Kabupaten Manggarai tahun 2013.
3. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya karies gigi pada siswasiswi di SD Inpres Tenda Ruteng Kabupaten Manggarai tahun 2013.
b. Tujuan Khusus
1) Diketahui gambaran umur, jenis kelamin, konsumsi makanan kariogenik/manis,
pola menggosok gigi, frekuensi perawatan oleh dokter gigi, dan kejadian karies
gigi pada siswa-siswi di SD Inpres Tenda Ruteng Kabupaten Manggarai tahun
2013.
4
2) Diketahui hubungan antara umur dengan timbulnya karies gigi pada siswa-siswi
di SD Inpres Tenda Ruteng Kabupaten Manggarai tahun 2013.
3) Diketahui hubungan antara jenis kelamin dengan timbulnya karies gigi pada
siswa-siswi di SD Inpres Tenda Ruteng Kabupaten Manggarai tahun 2013.
4) Diketahui hubungan antara makanan kariogenik atau manis dengan timbulnya
karies gigi pada siswa-siswi di SD Inpres Tenda Ruteng Kabupaten Manggarai
tahun 2013.
5) Diketahui hubungan antara pola menggosok gigi dengan timbulnya karies gigi
pada siswa-siswi di SD Inpres Tenda Ruteng Kabupaten Manggarai tahun 2013.
6) Diketahui hubungan antara frekuensi perawatan oleh dokter gigi dengan
timbulnya karies gigi pada siswa-siswi di SD Inpres Tenda Ruteng Kabupaten
Manggarai tahun 2013.
4. Manfaat Penelitian
a. Bagi Responden
Sebagai bahan refleksi diri atas pemeliharaan kesehatan gigi yang telah dilakukan,
sehingga mengarah pada perubahan perilaku menuju perilaku positif dalam
pemeliharaan kesehatan gigi.
b. Bagi Perawat
Sebagai masukan ilmu dan bahan informasi untuk meningkatkan pengetahuan
tentang karies gigi dan sebagai dasar memberi pendidikan kesehatan dalam usaha
promotif dan preventif kesehatan gigi pada anak Sekolah Dasar.
c. Bagi Instansi Sekolah Dasar
Sebagai sumber informasi untuk membuka atau mengembangkan usaha kesehatan
gigi dalam upaya mengurangi kejadian karies gigi pada anak Sekolah Dasar.
d. Bagi Peneliti
Sebagai proses belajar dan pengalaman untuk memperluas pengetahuan mengenai
faktor-faktor yang berhubungan dengan karies gigi.
B. METODE PENELITIAN
1. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas 3, 4, dan 5 Sekolah Dasar
Inpres Tenda-Ruteng Kabupaten Manggarai dengan total jumlah 195 orang. Sampel
berjumlah 123 orang. Pengambilan sampel menggunakan cara simple random
5
sampling yang merupakan jenis probabilitas yang paling sederhana. Proses
pengambilan sampel dilakukan dengan memberi kesempatan yang sama pada setiap
anggota populasi yakni siswa-siswi SD kelas 3, 4, dan 5 untuk menjadi anggota
sampel. Teknik pengambilan anggota sampel menggunakan cara mengundi dengan
tahapan sebagai berikut:
a. Membuat nomor undian sebanyak 195 buah dengan 72 buah nomor undian
berisikan tulisan kosong.
b. Menggumpulkan semua siswa/i kelas 3, 4, dan 5 yang berjumlah 195 orang.
c. Siswa dan siswi kelas 3, 4, dan 5 yang terpilih akan menjadi responden penelitian.
d. Sampel penelitian yang dipakai sebanyak 123 orang.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Inpres Tenda-Ruteng Kabupaten
Manggarai-Flores NTT, pada bulan Agustus 2013 yang dimulai dari tanggal 12
sampai tanggal 24 Agustus.
3. Prosedur Pengambilan Data
Peneliti mengajukan surat permohonan izin penelitian dari institusi pendidikan
untuk diajukan kepada Kepala Sekolah SD Inpres Tenda-Ruteng. Peneliti
mempersiapkan 1 orang asisten unutk membantu proses penelitian. Peneliti
memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan penelitian dan mengkoordinasikan
pelaksanaan penelitian dengan guru yang ditunjuk oleh Kepala Sekolah sebagai
penanggung jawab. Peneliti melakukan pendekatan kepada siswa-siswi kelas 3, 4, dan
5, menjelaskan tujuan penelitian dan meminta siswa-siswi untuk menandatangani
surat persetujuan menjadi responden. Responden mengisi kuesioner dan dilakukan
pemeriksaan rongga mulut (melihat gigi yang karies) oleh peneliti dan asisten peneliti.
4. Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi atau
pengamatan langsung pada kondisi kesehatan gigi berdasarkan acuan format
pemeriksaan karies gigi menurut Riskesdas 2007. Sebelum melakukan penelitian,
kuesioner terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas dimana jumlah item
kuesioner yang valid dan reliabel sebanyak 15 item dengan nilai r 0.33 dan Alfa
Chronbach’s 0.742.
6
Observasi tingkat keparahan karies gigi diamati berdasarkan jumlah DMF-T
untuk gigi permanen dan def-t untuk gigi sulung. Gigi digolongkan berlubang (kode
D=decay), bila terdapat satu atau lebih lubang/karies pada permukaan gigi. Gigi
digolongkan hilang (Kode M=missing), bila gigi telah dicabut atau tinggal sisa akar.
Gigi
digolongkan
ditumpat/ditambal
(kode
F=
filling)
bila
gigi
telah
ditumpat/ditambal sehingga tidak tampak adanya lubang lagi atau gigi dipasang
mahkota/crown. Khusus untuk gigi yang sudah tanggal atau hilang pada gigi sulung
tidak akan dihitung karena gigi tersebut akan digantikan oleh gigi permanen.
5. Analisis data
a. Analisis univariat statistik deskriptif
Analisa univariat dalam penelitian ini melihat distribusi frekuensi dan
persentase yang disajikan dalam bentuk tabel dari seluruh variabel yang meliputi
umur, jenis kelamin, konsumsi makanan kariogenik, pola menggosok gigi,
frekuensi perawatan oleh dokter gigi, dan kejadian karies gigi. Bertujuan untuk
mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi dari masing-masing variabel.
b. Analisis bivariat
Analisa bivariat digunakan untuk menguji hubungan antara variabel-variabel
independen dan variabel dependen dengan menggunakan uji satistik Chi-Square
dan Kendall’s Tau b, dengan tingkat kemaknaan 5%, dan ketentuan sebagai
berikut: hubungan dikatakan bermakna jika p value < 0.05 dan tidak bermakna jika
p value > 0.05.
7
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Analisis Univariat
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Variabel Penelitian (Umur, Jenis Kelamin,
Konsumsi Makanan Kariogenik, Frekuensi Menggosok Gigi, Frekuensi
Perawatan Dokter Gigi, Tingkat Keparahan Karies Gigi) pada Siswa-Siswi di
SD Inpres Tenda Agustus 2013
Umur (Tahun)
Frekuensi
8 tahun
33
9 tahun
41
10 tahun
31
≥ 11 tahun
18
123
Total
Jenis Kelamin
Laki – laki
62
Perempuan
61
Konsumsi Makanan Kariogenik
Sedikit
56
Banyak
67
123
Total
Frekuensi Menggosok Gigi
Tidak baik
36
Baik
87
123
Total
Frekuensi Perawatan oleh Dokter Gigi
Tidak efektif
96
Efektif
27
123
Total
Tingkat Keparahan Karies Gigi
Sangat rendah
42
Rendah
26
Moderat
31
Tinggi
15
Sangat tinggi
9
123
Total
(Sumber : Data primer yang sudah diolah, 2013)
8
Persentase (%)
26.8
33.3
25.2
14.6
100
50.4
49.6
45.5
54.5
100
29.3
70.7
100
78.0
22.0
100
34.1
21.1
25.2
12.2
7.3
100
2. Analisis Bivariat
Tabel 2
Hubungan Variabel Independen (Umur, Jenis Kelamin, Konsumsi Makanan
Kariogenik, Frekuensi Menggosok Gigi, Frekuensi Perawatan Dokter Gigi) dengan
Variabel dependen (Karies Gigi) Siswa-Siswi di
SD Inpres Tenda Agustus 2013
Umur
8 tahun
9 tahun
10 tahun
≥ 11 tahun
Total
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Sangat
rendah
n
%
4 3.3
18 14.6
10 8.1
10 8.1
42 34.1
Karies Gigi
Rendah Moderat Tinggi Sangat
tinggi
n %
n
%
n % n %
4 3.3 13 10.6 7 5.7 5 4.1
7 5.7 7
5.7 7 5.7 2 1.6
10 8.1 8
6.5 1 0.8 2 1.6
5 4.1 3 2.4 0 0.0 0 0.0
26 21.1 31 25.2 15 12.2 9 7.3
Total
n
33
41
31
18
123
Nilai p
%
26.8 0.000
33.3
25.2
14.6
100
23 18.7 12 9.8 22 17.9 3 2.4 2 1.6 62 50.4 0.007
19 15.4 14 11.4 9
7.3 12 9.8 7 5.7 61 49.6
42 34.1 26 21.1 31 25.2 15 12.2 9 7.3 123 100
Total
Konsumsi Makanan
Kariogenik
Sedikit
24 19.5 13 10.6 10
Banyak
18 14.6 13 10.6 21
42 34.1 26 21.1 31
Total
Frekuensi
Menggosok Gigi
Tidak baik < 2 kali 14 11.4 6 4.9 9
sehari
Baik ≥ 2 kali sehari
28 22.8 20 16.3 22
42 34.1 26 21.1 31
Total
Frekuensi
Perawatan Dokter
Gigi
Tidak efektif
32 26.0 21 17.1 24
Efektif
10 8.1 5 4.1 7
42 34.1 26 21.1 31
Total
(Sumber : Data primer yang sudah diolah, 2013)
8.1 7 5.7 2 1.6 56 45.5 0.027
17.1 8 6.5 7 5.7 67 54.5
25.2 15 12.2 9 7.3 123 100
7.3
5 4.1
2
1.6
36 29.3
0.886
17.9 10 8.1 7 5.7 87 70.7
25.2 15 12.2 9 7.3 123 100
19.5 12 9.8 7 5.7 96 78.0
5.7
3 2.4 2 1.6 27 22.0
25.2 15 12.2 9 7.3 123 100
0.993
Pembahasan Analisis Univariat :
Total responden berjumlah 123 orang dengan distribusi frekuensi umur terbanyak ada
pada usia 9 tahun yang berjumlah 41 responden (33.3%) dan anak dengan jenis kelamin
kelamin laki-laki jumlahnya lebih banyak yaitu 62 responden (50.4%). Umur anak usia
sekolah berkisar antara 6 sampai 12 tahun. Pada usia tersebut anak – anak sedang mengalami
9
pergantian gigi sulung menjadi gigi permanen. Periode gigi campuran ini sangat sering
mengalami karies gigi. Perempuan lebih besar resikonya untuk mengalami karies karena
erupsi gigi lebih lama dalam mulut sehingga faktor resiko penyebab karies gigi lebih lama
terpapar dengan gigi (Suwelo, 1992).
Tabel 1 memperlihatkan bahwa responden yang mengkonsumsi makanan kariogenik
dalam jumlah banyak memiliki frekuensi paling banyak yaitu berjumlah 67 responden
(54.5%). Makanan kariogenik merupakan makanan yang banyak mengandung karbohidrat,
bersifat menempel pada gigi dan mudah hancur dalam mulut. Karbohidrat mempunyai
substrat untuk membentuk asam bagi bakteri dan polisakarida ekstra sel yang mengakibatkan
demineralisasi email (Kidd & Bechal, 1992). Makanan yang termasuk dalam makanan
kariogenik adalah gula, madu tetes/sirup, sirup jagung, buah kering seperti kismis, kue, roti,
es krim, susu, permen (Wong, 2008). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa banyak anak
yang mengkonsumsi makanan kariogenik dalam jumlah banyak. Hal tersebut dapat
disebabkan karena anak-anak menyukai makanan yang rasanya manis.
Siswa-siswi SD Inpres Tenda sebagian besar memiliki frekuensi menggosok gigi baik
yaitu sejumlah 87 anak (70.7%) tetapi masih banyak yang tidak efektif melakukan perawatan
oleh dokter gigi yaitu sejumlah 96 anak (78.0%). Menggosok gigi minimal dilakukan 2 kali
dalam sehari yaitu pada pagi hari setelah makan dan malam sebelum tidur. Hasil penelitian
pada tabel 1 memperlihatkan bahwa banyak anak yang memiliki frekuensi menggosok gigi
baik yaitu ≥ 2 kali dalam sehari. Kebiasaan yang baik tersebut dapat dipengaruhi oleh orang
tua yang mengajarkan anak-anaknya menyikat gigi di rumah. Guru wali kelas juga sering
mengajak anak muridnya untuk membiasakan diri menggosok gigi setiap hari. Perawatan
dokter gigi yang efektif, dilakukan sebanyak 6 bulan sekali. Penelitian memberikan hasil
bahwa masih banyak siswa-siswi di SD Inpres Tenda yang tidak efektif melakukan perawatan
gigi. Puskesmas setempat, biasanya melakukan pemeriksaan gigi 2 kali setahun ke sekolah
tersebut. Pemeriksaan gigi hanya dikhususkan pada anak-anak yang masih di kelas 1 dan 2.
Tingkat keparahan karies gigi, frekuensi terbanyak ada pada tingkat sangat rendah yaitu
sejumlah 42 anak (34.1%) tetapi masih dapat dilihat bahwa masih ada anak yang mengalami
karies tingkat moderat, tinggi, dan sangat tinggi. Karies gigi dibagi menjadi 5 tingkat
keparahan karies. Mengukur tingkat keparahan karies biasanya menggunakan indeks DMF-T
untuk gigi permanen atau def-t untuk gigi sulung. Decay (d) merupakan jumlah gigi yang
karies, missing (M/e) merupakan jumlah gigi yang sudah tanggal, dan filled (f) merupakan
jumlah gigi karies yang sudah ditambal. Khusus untuk gigi yang sudah tanggal atau hilang
pada gigi sulung tidak akan dihitung karena gigi tersebut akan digantikan oleh gigi permanen.
10
Tabel 1 memperlihatkan bahwa beberapa siswa-siswi masih mengalami karies dengan tingkat
keparahan moderat, tinggi, dan sangat tinggi. Hal tersebut dapat dipengaruhi karena konsumsi
makanan kariogenik yang sering sehingga akan terlihat banyak gigi yang karies.
Pembahasan Analisis Bivariat :
1. Hubungan Umur dengan Karies Gigi :
Analisis dengan uji kendall’s tau b didapatkan hasil ada hubungan bermakna antara
umur dengan karies gigi pada siswa-siswi di SD Inpres Tenda-Ruteng, Kabupaten
Manggarai, (p value 0.000 < α 0.05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Lia Kartika (2008) yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna
antara umur dengan karies gigi dan bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan
oleh Khusnul Khotimah dan Suhadi Purnomo (2013) yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan bermakna antara umur dengan karies gigi.
Anak–anak usia sekolah umumnya memiliki gigi yang sudah bercampur antara gigi
susu dan gigi permanen. Margareta (2012) mengatakan usia yang semakin bertambah,
memiliki kemungkinan besar mengalami karies karena gigi akan sering terpapar langsung
dengan faktor penyebab karies. Pada usia 6-10 tahun, beberapa gigi sulung akan tanggal
dan digantikan oleh gigi permanen. Gigi permanen yang tumbuh adalah gigi seri, gigi
taring, gigi premolar pertama dan kedua serta gigi molar pertama. Usia 11-14 tahun adalah
usia pertama kali anak memiliki gigi permanen sehingga gigi molar kedua sangat rentan
mengalami karies sampai maturasi kedua selesai (Margareta, 2012).
Tabel 2 memperlihatkan bahwa dari 33 siswa-siswi yang berusia 8 tahun, 13 orang
(10.6%) mengalami karies gigi tingkat moderat dimana gigi yang karies berjumlah 3 gigi.
Anak juga masih ada yang mengalami karies tingkat tinggi dan sangat tinggi yaitu 7 orang
(5.7%) untuk tingkat tinggi dan 5 orang (4.1%) untuk tingkat sangat tinggi. Anak yang
sering mengkonsumsi makanan manis tetapi tidak segera membersihkan gigi
menyebabkan gigi sulungnya cepat rusak dan tanggal. Jika gigi yang karies tersebut masih
tergolong gigi sulung maka dipastikan tempatnya diganti oleh gigi permanen.
2. Hubungan Jenis Kelamin dengan Karies Gigi
Analisis dengan uji chi-square didapatkan hasil ada hubungan bermakna antara jenis
kelamin dengan karies gigi pada siswa-siswi di SD Inpres Tenda-Ruteng, Kabupaten
Manggarai, (p value 0.007 < α 0.05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Rusmali (2010) yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara
11
jenis kelamin dengan karies gigi dan bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan
oleh Lia Kartika (2008) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara
jenis kelamin dengan karies gigi. Suwelo (1992) mengatakan bahwa perempuan lebih
besar resikonya untuk mengalami karies karena erupsi gigi lebih lama dalam mulut
sehingga faktor resiko penyebab karies gigi lebih lama terpapar dengan gigi.
Keparahan karies tingkat tinggi dan sangat tinggi memperlihatkan bahwa responden
perempuan sejumlah 12 orang (9.8%) dan 7 orang (5.7%) jumlahnya lebih banyak
dibandingkan dengan responden laki-laki yang hanya berjumlah 3 orang (4.8%) dan 2
orang (3.2%). Gigi yang karies, rata-rata berjumlah 4 - > 6 gigi. Pada tingkat moderat,
responden laki-laki jumlahnya memang lebih banyak yaitu sejumlah 22 (17.9%) anak
tetapi berdasarkan tingkat keparahan karies gigi responden perempuan jumlahnya lebih
banyak. Hal ini terjadi karena pertumbuhan gigi anak perempuan lebih lama dan
kematangannya pun belum sempurna sehingga mudah mengalami karies gigi dalam
jumlah banyak.
3. Hubungan Konsumsi Makanan Kariogenik dengan Karies Gigi
Analisis dengan uji kendall’s tau b didapatkan hasil ada hubungan bermakna antara
konsumsi makanan kariogenik dengan karies gigi pada siswa-siswi di SD Inpres TendaRuteng Kabupaten Manggarai, (p value 0.027 < α 0.05). Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Lia Kartika (2008), yang menyatakan bahwa ada
hubungan antara pola konsumsi makanan kariogenik dengan karies gigi dan bertolak
belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Ita Astit Karmawati, Siti Nurbayani
Tauchid, Nita Noviani Harahap (2011), yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang
bermakna antara pola konsumsi makanan kariogenik dengan karies gigi.
Makanan kariogenik dapat menyebabkan suasana asam di dalam mulut dan mengubah
pH mulut menjadi sangat rendah (4,5). Suasana mulut yang asam memudahkan proses
demineralisasi atau penghancuran email semakin cepat sehingga gigi mudah mengalami
karies (Hongili & Aditiawarman, 2012). Anak usia sekolah dasar semakin mandiri
sehingga mereka lebih sering mengkonsumsi snack dan makanan ringan lainnya di luar
rumah (Brown, 2005). Makanan ringan tersebut cenderung bersifat kariogenik. Makanan
kariogenik seringkali meninggalkan sisa di sela-sela gigi. Sisa makanan yang lama
tertinggal menyebabkan resiko terjadinya karies gigi menjadi besar. Gigi yang tidak segera
dibersihkan berpengaruh pada produksi bakteri di dalam mulut. Bakteri akan memecah
makanan tersebut dan menciptakan suasana asam di dalam mulut hanya dalam waktu 20
12
detik. Suasana asam menyebabkan pengikisan email gigi yang semakin sering sehingga
gigi menjadi karies. Tabel 2 memperlihatkan bahwa dari 67 anak yang banyak
mengkonsumsi makanan kariogenik, sebanyak 21 orang (17.1%) mengalami karies gigi
tingkat moderat, dimana gigi yang karies rata-rata berjumlah 2.7-4.4 gigi. Gigi menjadi
karies sampai tingkat moderat erat kaitannya dengan konsumsi makanan kariogenik yang
sering. Anak yang sedikit mengkonsumsi makanan kariogenik, frekuensi terbanyak ada
pada karies tingkat sangat rendah yaitu 24 orang (19.5%), dimana tidak ada gigi karies
atau hanya 1 gigi yang karies. Penelitian ini memberikan bukti bahwa konsumsi makanan
kariogenik yang sering menyebabkan banyak gigi menjadi karies sedangkan semakin
sedikit mengkonsumsi makanan kariogenik dapat mengurangi kejadian karies gigi.
4. Hubungan Frekuensi Menggosok Gigi dengan Karies Gigi
Analisis dengan uji chi-square didapatkan hasil tidak ada hubungan bermakna antara
frekuensi menggosok gigi dengan karies gigi pada siswa-siswi di SD Inpres TendaRuteng, Kabupaten Manggarai, (p value 0.886 > α 0.05). Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Lia Kartika (2008), yang menyatakan bahwa tidak
ada hubungan bermakna antara pola menggosok gigi dengan karies gigi dan bertolak
belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Khusnul Khotimah dan Suhadi Purnomo
(2013) yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara pola menggosok gigi
dengan karies gigi.
Bentuk perawatan gigi yang paling utama dan sederhana adalah menggosok gigi.
Menggosok gigi yang baik dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari atau sesudah
mengkonsumsi makanan manis di luar jam makan yang normal (Margareta, 2012).
Menggosok gigi setelah makan baik dilakukan agar sisa makanan tidak menempel di gigi.
Menggosok gigi pada malam hari sebelum tidur sangat penting karena saat tidur terjadi
interaksi antara bakteri dalam mulut dan sisa makanan yang tertinggal di gigi
(Hockenberry, 2007). Faktor yang perlu diperhatikan dalam menggosok gigi diantaranya,
yaitu cara atau teknik menggosok gigi. Menggosok gigi perlu menggunakan pasta gigi.
Pasta gigi mampu mengurangi produksi asam dan meningkatkan pembentukan mineral
pada email gigi. Hal lainnya yang menjadi perhatian adalah bentuk sikat gigi. Sikat gigi
harus diganti secara rutin karena sikat yang rusak atau berbulu kasar dapat mempengaruhi
proses penyikatan, merusak gusi dan menyebabkan gusi berdarah dan penipisan email gigi
secara bertahap.
13
Tabel 2 memperlihatkan bahwa siswa-siswi SD Inpres Tenda sebagian besar memiliki
frekuensi menggosok gigi yang baik yaitu sejumlah 87 anak tetapi masih mengalami
karies pada tingkat moderat, tinggi, dan sangat tinggi. Hal tersebut dapat diakibatkan
karena teknik menggosok gigi yang tidak benar, sehingga sisa makanan tetap tinggal di
sela gigi dan menimbulkan karies. Teknik yang benar mampu menghilangkan plak dan
mengangkat sisa makanan di sela-sela gigi. Gerakan horizontal atau gerakan maju mundur,
membantu menghilangkan plak pada gigi sedangkan gerakan vertikal ke atas dan ke
bawah, mampu mengangkat sisa makanan pada sela-sela gigi. Setiap pemeriksaan gigi
oleh petugas puskesmas, anak diberi pengajaran tentang cara menggosok gigi yang benar.
Teknik yang diajarkan seperti teknik horizontal dan vertikal. Kebiasaan tersebut dapat
pula diajarkan oleh orang tua atau gurunya, karena pada dasarnya anak suka meniru
perilaku orang dewasa.
5. Hubungan Frekuensi Perawatan oleh Dokter Gigi dengan Karies Gigi
Analisis dengan uji chi-square didapatkan hasil tidak ada hubungan bermakna antara
frekuensi perawatan oleh dokter gigi dengan karies gigi pada siswa-siswi di SD Inpres
Tenda-Ruteng, Kabupaten Manggarai, (p value 0.993 > α 0.05).
Frekuensi perawatan gigi yang efektif adalah 6 bulan sekali dalam setahun.
Pemeriksaan gigi rutin oleh dokter gigi merupakan upaya untuk menghindari karies gigi.
Perawatan tersebut menjadi lebih baik bila dilakukan dengan mengurangi konsumsi
makanan kariogenik atau selalu menggosok gigi dengan baik dan benar sehingga gigi
menjadi sehat dan bersih.
D. SIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Responden dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah yang berumur 8 - ≥ 11
tahun. Distribusi frekuensi terbanyak ada pada usia 9 tahun yaitu sejumlah 41 anak
(33.3%) dan berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah berjenis kelamin laki-laki
yang berjumlah 62 anak (50.4%). Siswa-siswi sebagian besar mengkonsumsi makanan
kariogenik dalam jumlah banyak yaitu 67 anak (54.5%). Banyak pula anak yang
memiliki frekuensi menggosok gigi baik yaitu sejumlah 87 orang (70.7%) tetapi
sejumlah 96 anak (78.0%) tidak efektif melakukan perawatan gigi ke dokter gigi.
Penelitian ini memberikan hasil adanya hubungan yang bermakna antara variabel
umur (p value 0.000 < α 0.05), jenis kelamin (p value 0.007 < α 0.05), dan konsumsi
14
makanan kariogenik (p value 0.027 < α 0.05), dengan timbulnya karies gigi. Variabel
lainnya yaitu frekuensi menggosok gigi (p value 0.886 > α 0.05) dan frekuensi
perawatan dokter gigi (p value 0.993 > α 0.05) memberikan hasil tidak ada hubungan
yang bermakna dengan timbulnya karies gigi.
2. Saran
a. Instansi Sekolah Dasar
Instansi Sekolah Dasar hendaknya melibatkan para guru dan semua warga
sekolah untuk bersama–sama mengupayakan peningkatan kesehatan gigi di sekolah.
Para guru dapat menerangkan kepada anak-anak muridnya mengenai bahaya
konsumsi makanan kariogenik yang berlebihan terhadap kerusakan gigi. Sekolah
dapat meningkatan kegiatan UKS dengan mengajak anak-anak melakukan
perawatan gigi yang baik setelah mengkonsumsi makanan kariogenik.
b. Perawat di daerah setempat
Para perawat diharapkan dapat menjadi penyalur informasi mengenai pengaruh
konsumsi makanan kariogenik terhadap timbulnya karies gigi serta menyampaikan
hubungan antara jenis kelamin dan umur dengan timbulnya karies gigi.
c. Orang tua
Orang tua hendaknya memberikan perhatian lebih bagi kesehatan rongga mulut
(gigi) anak-anaknya yang berusia 6-12 tahun. Anak- anak lebih mudah mengikuti
perilaku orang yang dekat dengannya. Orang tua perlu memberikan pengawasan
dalam mengurangi frekuensi jajan makanan kariogenik. Orang tua juga perlu
membatasi pemberian uang jajan kepada anaknya sehingga kemungkinan anak untuk
jajan semakin kecil. Orang tua, meminimalkan frekuensi jajan anak dengan cara
menyediakan makanan yang lebih sehat seperti buah-buahan dan sayuran yang dapat
menghambat terjadinya karies gigi.
d. Anak Usia Sekolah
Anak-anak perlu memperhatikan kesehatan giginya. Perilaku yang baik adalah
dengan menggosok gigi setelah mengkonsumsi makanan kariogenik/manis.
e. Peneliti
Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian terhadap faktor yang tidak
begitu dalam dibahas oleh peneliti yaitu teknik menggosok gigi. Jika judulnya terkait
faktor-faktor maka dapat menganalisis data sampai analisis multivariat sehingga
diketahui faktor yang paling erat hubungannya dengan karies gigi. Peneliti
15
selanjutnya dapat melakukan pemeriksaan karies gigi menggunakan formulir
pengukuran keparahan karies gigi yang sudah dipakai peneliti atau memakai
formulir pemeriksaan gigi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. (Available from:
http://books.google.co.id, 17 April 2013).
Berhman, dkk. (2000). Ilmu Kesehatan Anak. Ed.2 Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Brooker, C. (2008). Ensiklopedia Keperawatan. Alih bahasa: Andry Hartono, Brahm U.
Pendit, Dwi Widiarti. Jakarta: EGC. (Available from: http://books.google.co.id, 05 April
2013).
Brown, J.E. et.al. (2005). Nutrition Through the Life Cycle. (2nd ed). Wadsworth: USA.
(Available from: http://books.google.co.id, 05 April 2013).
Bunga, A.L., & Emiliana, T. (2011). Panduan Riset Keperawatan. Jakarta: STIK Sint
Carolus.
Capernito, L.J. (2009). Diagnosis Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinik. Alih bahasa:
Kusrini Semarwati Kadar…(et all) ; editor edisi bahasa Indonesia, Eka Anisa Mardella,
Meining Issuryanti.− Ed 9. Jakarta: EGC. (Available from: http://books.google.co.id, 30
April 2013).
Departemen Kesehatan RI. (2011). Profil Data Kesehatan Indonesia 2011. (Available
from: http:// www.depkes.go.id, 08 April 2013).
,(2009). Survei Kesehatan Rumah Tangga 2009. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI. Available from: http://www.depkes.go.id, 08 April 2013).
Dewanti. (2012). Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi dengan
Perilaku Perawatan Gigi Pada Anak Usia Sekolah di SDN Pondok Cina 4 Depok. Skripsi
: Universitas Indonesia.
Gibson, J. (2002). Anatomi & Fisiologi Modern untuk Perawat. Alih bahasa, Bertha
Sugiarto ; editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester. – Ed. 2. Jakarta : EGC. (Available
from: http://books.google.co.id, 01 Mei 2013).
Ginting, B. Mulut Sehat Gigi Kuat. (1985). Jakarta : EGC.
Ghofur, A. (2012). Kesehatan Gigi dan Mulut. Yogyakarta: Mitra Tunggal.
Hockenberry. M. J., & Wilson, D. (2007). Wongs nursing care infants and children. St.
Louis: Mosby Elsevier. (Available from: http://books.google.co.id, 27 November 2013).
16
Hongini, S.Y., & Mac, A. (2012). Kesehatan Gigi dan Mulut. Bandung: Penerbit Pustaka
Reka Cipta.
Ircham. (2003). Penyakit- penyakit gigi dan mulut pencegahan dan perawatannya.
Yogyakarta: Liberty.
Karmawati, I.A., dkk. (2011). Perbedaan risiko terjadinya karies baru pada anak usia 12
tahun murid SD UKGS dan SD non UKGS di wilayah Kecamatan Cilanda Jakarta Selatan.
Jurnal Health Quality Vol. 2 (no 4), 228- 231, Available from:
http://www.scribd.com/doc/157761429/314-Ita-Astit-233, (Acces 08 Mei 2013).
Kedokteran gigi. (2011). Makanan penyebab karies gigi. Available from:
http://kedokterangigi.net (Acces 08 Mei 2013).
Kennedy. (2002). Konservasi gigi Anak (Pediatric Operative Dendistry). Jakarta: EGC.
(Available from: http://books.google.co.id, 27 April 2013).
Khotimah, K., dkk. (2013). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Karies gigi
pada anak usia 6-12 tahun di SD Negeri Karangayu 03 Semarang. Jurnal Ilmu
Keperawatan
dan
Kebidanan
Vol.1
(no
4).
(Available
from:
http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id, 7 Desember 2013).
Kidd, E.A.M, & Bechal, S.J. (1992). Dasar-Dasar Karies, Penyakit dan
Penanggulangannya. Alih Bahasa Narlan Sumawinata & Safrida Faruk. Jakarta: EGC.
Kartika, L. (2008). Hubungan pola makan dan teknik menyikat gigi terhadap kesehatan
rongga mulut pada anak usia 7-12 tahun di SD Strada Slamet Riyadi I Jakarta. Skripsi.
STIK Sint Carolus.
Mansjoer, A. (2009). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Margareta, S. (2012). 101 Tips & Terapi Alami agar Gigi Putih & Sehat. Yogyakarta:
Pustaka Cerdas.
Maulani, C., & Jubilee, E. (2005). Kiat Merawat Gigi Anak. Jakarta: Kelompok Gramedia.
(Available from: http://books.google.co.id, 08 April 2013).
Moehji, S. (2003). Ilmu Gizi. Jakarta: PT Bhatara Karya Aksara.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2003). Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika.
Pearce, E.C. (2004).
Gramedia.
Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Penerbit PT.
Pine, C. (1997). Community Oral Health. Michigan: Quintessence Pub.
17
Riset Kesehatan Dasar. (2007). Pedoman pengukuran dan pemeriksaan. Available from:
http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id (Acces 4 Juli 2013).
,(2007). Profil Data Kesehatan Masyarakat Propinsi Nusa Tenggara
Timur. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta : Bakti Husada.
Rusmali. 2010. Faktor tingginya karies gigi (DMF-T) pada anak usia sekolah dasar umur 5
s/d 14 tahun berdasarkan nilai status kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) di kota Pontianak.
Jurnal, 5-7. (Available from: http://www.scribd.com/doc, 08 April 2013).
Schuurs, A.H.B. (1993). Patologi Gigi Geligi. Yogyakarta: UGM Press.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed
Methods). Bandung: Penerbit Alfabeta.
Sumawinata, N. (2004). Senaria Istilah Kedokteran. Jakarta: EGC (Available from:
http://books.google.co.id, 30 April 2013).
Susilo, W.H. (2013). Diktat Metodologi Penelitian: Program Ilmu Keperawatan Bio
Statistika & Praktikum untuk Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Tidak dipublikasikan.
Situmorang, N. (2006). Dampak Karies Gigi dan Penyakit Periodontal terhadap Kualitas
Hidup. Studi Di Dua Kecamatan Kota Medan. Tesis. Program Pascasarjana Ilmu
Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Universitas Indonesia.
Suwelo, I.S. (1992). Karies Gigi Pada Anak Dengan Berbagai Faktor. Jakarta: EGC.
Uyanto, S.S. (2006). Pedoman Analisis Data dengan SPSS. Ed 2. Jogyakarta: Penerbit
Graha Ilmu.
WHO (World Health Organization). (2003). The World Oral Health Report 2003.
(Available from: http://www.who.int, 08 April 2013).
Widya, Y. (2008). Pedoman Perawatan Kesehatan Gigi Anak. Bandung : Penerbit Yrama
Widya.
Wong, D.L, dkk. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. alih bahasa, Agus Sutarna,
Neti Juniarti, H.Y. Kuncara ; editor edisi bahasa Indonesia, Egi Komara Yudha… (et all).
– Ed. 6. Jakarta : EGC.
Wright, J.T. (2010). Defining the contribution of genetics in the etiology of dental caries. J
Dent Res;89 (11):1173-1174. (Available from: http://jdr.sagepub.com, 08 April 2013).
Yuwono. (2003). Faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya karies dentis di SMA
Negeri 15 Semarang. Jakarta : EGC.
18
Fly UP