...

174 PENGEMBANGAN PRODUK-PRODUK LEMBAGA KEUANGAN

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

174 PENGEMBANGAN PRODUK-PRODUK LEMBAGA KEUANGAN
174
PENGEMBANGAN PRODUK-PRODUK LEMBAGA
KEUANGAN MIKRO SYARIAH
Mahmudatus Sa’diyah
SMK Walisongo Jepara, Indonesia
e-mail: [email protected]
Meuthiya Athifa Arifin
Pengadilan Agama Kudus, Indonesia
Abstract: Islamic microfinance institutions is one of the pillars in the
financial intermediation process. Microfinance is needed by small and
medium-sized communities both for consumption and production, and
also save the results of their efforts. This study aims to determine the
theoretical foundations associated with the development of products
Islamic microfinance institutions. The results showed that the
development of products LKMS through enterprise planning process
to determine the market demand, establish a strategic decision in the
formation of products, improve the product, even to innovate new
products as an effort to improve the quality of services and products
LKMS services. Through Islamic principles in product development
stage, the products can provide variation LKMS lawful and good for
the benefit of society in general. Efforts related to the development of
performance management products generate LKMS lead to the
implementation of activities in the form of an increase in the product.
It is as a form of improving managerial quality in LKMS.
Keywords: Product Development and Microfinance Institutions
Sharia
Abstrak : Lembaga keuangan mikro syariah merupakan salah satu
pilar dalam proses intermediasi keuangan. Keuangan mikro
dibutuhkan oleh kelompok masyarakat kecil dan menengah baik untuk
konsumsi maupun produksi serta juga menyimpan hasil usaha mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dasar-dasar teori yang
terkait dengan pengembangan produk-produk lembaga keuangan
mikro syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan
produk-produk LKMS melalui proses perencanaan perusahaan untuk
mengetahui keinginan pasar, menetapkan keputusan yang strategis
dalam pembentukan produk, memperbaiki produk, bahkan membuat
inovasi produk-produk baru sebagai upaya peningkatan kualitas
175
layanan dan produk jasa LKMS. Melalui prinsip syariah pada tahapan
pengembangan produknya, maka produk-produk LKMS dapat
memberikan variasi yang halal dan baik untuk kemaslahatan
masyarakat secara umum. Upaya yang berkaitan dengan
pengembangan produk menghasilkan kinerja manajemen LKMS
mengarah pada pelaksanaan kegiatan berupa peningkatan produk. Hal
ini sebagai wujud meningkatkan kualitas manajerial di LKMS.
Kata Kunci: Pengembangan Produk dan Lembaga Keuangan Mikro
Syariah
PENDAHULUAN
Lembaga Keuangan Mikro Syariah merupakan sebuah lembaga
perekonomian mikro syari’ah yang bergerak menghimpun dan
menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat kecil, baik yang
bersiafat sosial (nirlaba) seperti Zakat, infak dan sedekah ataupun
penyaluran dan pembiayaan modal usaha yang bersifat laba dengan
sistem bagi hasil. Kehadiran LKMS sebenarnya bisa menjadi suatu
solusi alternatif bagi perekonomian Bangsa Indonesia yang
kebanyakan masyarakatnya bergerak di bidang Usaha Mikro Kecil
dan Menengah. Hal ini dikarenakan LKMS lebih fleksibel dan bisa
menjangkau masyarakat kecil dibandingkan dengan Bank yang hanya
bisa menjangkau kalangan menengah ke atas. LKMS juga
diharapakan bisa sebagai suatu solusi alternatif yang ampuh sebagai
pilihan bagi masyarakat agar dapat terhindar dari praktek – praktek
ribawi yang banyak di terapkan oleh para rentenir di sekitar
lingkungan tempat tinggal dan diharapkan bisa menggantikannya
dengan prinsip muamalah sesuai dengan ajaran Islam dikarenakan
LKMS memang menjunjung tinggi asas-asas tersebut.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa, LKMS juga
mengikuti konsep produk pada produk jasa yang diberikan. Menurut
Philip Kotler (1993: 18) yang menyatakan ada penjual-penjual yang
dibimbing oleh konsep produk bahwa konsumen akan menyukai
produk yang memberikan kualitas dan prestasi yang paling baik.
Manajer pada organisasi yang berorientasi pada produk ini, akan
memfokuskan energi ini pada pembuatan produk yang baik dan
perbaikannya secara terus menerus.
Salah satu cara untuk menghadapi hal-hal tersebut diatas adalah
dengan pengembangan produk yaitu melakukan perbaikan atau
menghasilkan produk baru yang berbeda dengan produk yang telah
ada. Pengembangan produk pada dasarnya adalah usaha yang
dilakukan untuk memperbaiki produk yang sedang berjalan atau
176
menambah jenis produk yang belum ada. LKMS harus mampu
meningkatkan dan memberikan inovasi yang baru pada produk jasa
sebagai usaha manajemen dalam menghadapi perubahan selera, dan
persaingan yang semakin meningkat sehingga dapat mempertemukan
keinginan pasar melalui produk LKMS yang tidak ketinggalan dari
produk lembaga keuangan mikro konvensional.
Seperti yang dikatakan Sondang P. Siagian (2007: 147) bahwa
pengembangan produk adalah upaya menarik minat pelanggan untuk
membeli dan menggunakan produk baru yang dihasilkan oleh
perusahaan tersebut karena mereka merasa puas terhadap produk yang
selama ini sudah diluncurkan, dipromosikan dan dijual diperusahaan
yang bersangkutan. Karena yang menjadi sasaran adalah pelanggan
lama, strategi pengembangan produk mencakup 3 jenis kegiatan yaitu
mengembangkan dan meluncurkan produk baru, mengembangkan
variasi mutu produk lama, dan mengembangkan model dan bentukbentuk tambahan terhadap produk lama itu.
Saat ini, anggota pengguna produk jasa LKMS sudah semakin
selektif dalam memilih berbagai produk yang diinginkannya. Oleh
karena itu, LKMS perlu upaya dalam melakukan pengembangan
produknya agar dikenal oleh masyarakat dan juga agar pangsa
pasarnya mampu bersaing dengan lembaga keuangan lainnya.
Pengembangan produk LKMS adalah sebagai salah satu faktor
yang harus diperhatikan oleh LKMS agar bisa terus bertahan hidup.
Tujuan pengembangan produk sebagai upaya untuk menghasilkan
inovasi-inovasi produk LKMS yang mampu memberikan keunggulan
dalam produk-produknya agar diminati oleh nasabah atau anggota
sebagai kecepatan LKMS dalam merespon perubahan keinginan
nasabah. Dari uraian dalam latar belakang tersebut di atas, maka
permasalahan
yang
akan
menjadi
pambahasan
adalah
pengembangan produk-produk lembaga keuangan mikro syariah.
Landasan Teori
Pengertian Produk Jasa
Produk menurut Philip Kotler (2000) adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapat perhatian, dibeli,
digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan dan
kebutuhan. Dalam definisi secara luas, produk meliputi objek secara
fisik, jasa, orang, tempat, organisasi, ide, atau bauran dari semua
bentuk-bentuk tadi.
177
Produk jasa akan menghasilkan suatu penilaian tentang kualitas
atau mutu hasil yang baru dapat dibuktikan setelah konsumen
menggunakan jasa tersebut. Produk yang diberikan akan menjadi titik
perhatian pertama dari konsumen dan akan menjadi ciri khas dari
perusahaan atau lembaga tersebut. Karakteristik pada Lembaga
Keuangan Mikro Syariah dalam menjalankan usahanya dalam bentuk
jasa (service) akan terlihat dari konsep yang menjadi pijakan dalam
pengembangan produk Lembaga Keuangan Mikro Syariah.
Konsep syariah akan memberikan prinsip pengembalian
keuntungan yang adil karena uang hanya sebagai medium dalam
transaksi dalam QS. An-Nisa: 29 dan QS. Al-Baqarah: 275. Jadi,
produk yang dimaksudkan dalam tulisan ini merupakan produk jasa
yang ada di Lembaga Keuangan Mikro Syariah.
Definisi Pengembangan Produk
Pengembangan produk ialah apabila suatu perusahaan
meluncurkan produk baru yang ditujukan pada pasar yang sekarang
pun sudah dimasuki. (Siagian, 2007: 146). Di dalam kamus marketing,
arti dari istilah pengembangan produk adalah kegiatan yang mengarah
ke dimilikinya ciri khas yang baru atau berbeda dari sebuah produk
atau manfaat konsumen. Pengembangan tersebut membentang dari
konsep yang sama sekali baru untuk memenuhi “keinginan”
konsumen yang ditetapkan secara baru hingga modifikasi dari sebuah
produk yang telah ada, penyajian dan kemasannya. Ia merupakan
bagian dari sebuah proses yang harus berkesinambungan untuk
menahan masa penurunan dalam daur hidup intrinsik dari suatu
produk yang ada. (Hart, 2005: 163)
Pengembangan produk adalah suatu usaha yang direncanakan
dan dilakukan secara sadar untuk memperbaiki produk yang ada, atau
untuk menambah banyaknya ragam produk yang dihasilkan dan
dipasarkan. Pengembangan produk terdiri atas penjualan-penjualan
yang bertambah yang diusahakan oleh perusahaan-perusahaan dengan
mengembangkan yang diperbaharui untuk pasar-pasarnya yang
sekarang. (Moekijat, 1990: 438)
Menurut Kotler (2000: 374) pengembangan produk adalah tiap
perusahaan harus mengembangkan produk baru. Pengembangan
produk baru membentuk masa depan perusahaan. Produk pengganti
harus diciptakan untuk mempertahankan atau membangun penjualan.
Perusahaan dapat menambah produk baru melaui akuisisi dan/atau
pengembangan produk baru.
178
Pada penulisan ini yang dimaksud dengan pengembangan
produk adalah suatu usaha perusahaan untuk menarik minat pelanggan
dengan memodifikasi produk yang telah ada untuk menambah variasi
produk yang dipasarkan.
Tujuan Pengembangan Produk
Menurut Buchari Alma (2000:101) tujuan pengembangan
produk adalah
1. Untuk memenuhi keinginan konsumen yang belum puas
2. Untuk menambah omzet penjualan
3. Untuk memenangkan persaingan
4. Untuk meningkatkan keuntungan
5. Untuk mencegah kebosanan konsumen
Tahap-Tahap Pengembangan Produk
Agar pelaksanaan pengembangan produk dapat berjalan
dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan, perlu diperhatikan
tahap-tahap dalam melaksanakan pengembangan produk. Menurut
Kotler (2002: 382) tahap-tahap pengembangan produk terbagi menjadi
delapan tahap yaitu :
1. Pemunculan Gagasan
Pengembangan produk berawal dari pencarian gagasan. Gagasan
produk biasanya berasal dari berbagai sumber, diantaranya yaitu
manajer pengembangan dan penelitian, pelanggan, ilmuwan,
pesaing, pegawai, pesaing, saluran pemasaran dan manajemen
puncak
2. Penyaringan Gagasan
Gagasan yang disampaikan oleh pihak-pihak di atas disortir
menjadi tiga kelompok yaitu gagasan yang menjanjikan, gagasan
yang pas-pasan, dan gagasan yang ditolak. Dalam menyaring
gagasan, perusahaan harus memperhatikan dan menghindari dua
kesalahan yaitu
a. Kesalahan Membuang, kesalahan ini terjadi jika perusahaan
membuang ide yang sebenarnya baik untuk dikembangkan.
Karena kurangnya gambaran perusahaan terhadap potensi ide
tersebut maka perusahaan membuangnya
b. Kesalahan Jalan Terus, kesalahan ini terjadi apabila
perusahaan mengembangkan ide yang sebenarnya merugikan,
hal ini akan mengakibatkan produk yang dikembangkan
mengalami kegagalan di pasar
3. Pengembangan dan Penyajian Konsep
179
Gagasan yang menarik harus disempurnakan menjadi konsep yang
dapat diuji, gagasan produk adalah yang mungkin dapat
ditawarkan oleh perusahaan ke pasar. Konsep produk adalah versi
terinci dari suatu gagasan yang dinyatakan dalam istilah-istilah
yang berarti bagi konsumen
4. Pengembangan Strategi Pemasaran
Perusahaan yang mengembangkan produk dengan melalui strategi
pemasarannya perlu memperkenalkan produknya kepada pasar,
yang mencakup tiga bagian pokok yaitu:
a. Bagian pertama
· Menjelaskan ukuran, struktur dan perilaku pasar sasaran
· Rencana penentuan posisi produk, penjualan, pangsa pasar
dan laba yang diinginkan dalam beberapa tahun yang akan
datang
b. Bagian kedua
· Mengikhtisarkan rencana harga produk itu
· Strategi distribusi
· Anggaran pemasaran untuk tahun pertama
c. Bagian ketiga
· Menjelaskan penjualan jangka panjang
· Menjelaskan sasaran laba
· Menjelaskan strategi bauran pemasaran selama jangka
waktu itu
5. Analisis Bisnis
Setelah manajemen mengembangkan konsep produk dan strategi
penasaran, manajemen dapat mengevaluasi daya tarik bisnis.
Manejemen perlu melakukan persiapan proyeksi penjualan, biaya,
dan laba untuk menentukan apakah semua itu memenuhi tujuan
perusahaan. Jika memenuhi, konsep itu dapat dilanjutkan ketahap
pengembangan produk
6. Pengembangan Produk
Jika konsep produk dapat melewati pengujian bisnis, konsep itu
akan berlanjut
ke bagian litbang dan/atau rekayasa untuk
dikembangkan menjadi produk fisik
7. Pengujian Pasar
Tahap dimana produk diberi merk, kemasan dan program atas
tanggapan konsumen dan penyaluran terhadap masalah-masalah
perlakuan, penggunaan dan pembelian barang ulang produk
senyatanya serta pengkajian atas seberapa luas pasar
sesungguhnya. Luasnya pengujian pasar yang harus diadakan akan
180
bergantung pada dua segi yaitu biaya dan resiko penanaman modal
disatu pihak dan pihak lainnya adalah keterbatasan waktu dan
biaya penelitian
8. Tahap Komersialisasi
Tahap ini merupakan tahap peluncuran produk ke pasar dimana
perusahaan yang berkapasitas sebagai produsen suatu produk akan
memutuskan mengenai peluncuran produk ke pasar. Dalam tahap
ini, kewajiban manajemen adalah menentukan kapan (when),
kepada siapa (who), dan bagaimana (how) produk-produk itu
dipasarkan
Tahapan atau proses pengembangan produk menurut sumber
Glen L. Urban, John R. Hauser dan Nikhilesh Dholakia yang
diterangkan kembali oleh Boyd, Walker dan Larreche, yaitu:
1. Tujuan dan strategi produk
2. Identifikasi peluang. Mengidentifikasi peluang pasar melalui
segmentasi pasar yang luas untuk meningkatkan sumber
pendanaan dan mengatasi likuiditas.
3. Desain produk. Membuat desain produk yang sesuai dengan
permintaan atau kebutuhan nasabah, bentuk desain yang sesuai
visi, misi dan tujuan lembaga keuangan mikro syariah.
4. Pengujian pra produk. Pada tahap ini, produk yang telah dicoba
untuk dipasarkan. Kemudian dilakukan pengamatan mengenai
reaksi pasar terhadap produk ini. Dengan demikian, tim
pengembang dapat menganalisa apakah produk ini sudah diterima
konsumen atau perlu dimodifikasi lagi sebelum benar-benar
dikomersialisasikan.
5. Komersialisasi. Tahap ini merupakan tahap akhir dari siklus
pengembangan produk. Ada 4 keputusan yang harus dibuat pada
tahap ini, yaitu: kapan waktu peluncurannya, dimana produk akan
dipasarkan terlebih dahulu, target pasar potensial yang akan
dibidik, anggaran biaya untuk pemasaran produk.
Lembaga Keuangan Mikro Syariah
Memahami pengertian Lembaga keuangan paling tidak dapat
dipahami dari apa yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, yang memberi pengertian bahwa Lembaga Keuangan
adalah badan di bidang keuangan yang bertugas menarik uang dan
menyalurkannya kepada masyarakat. Hal senada terdapat dalam
Undang-undang Nomor 14 Tahun 1967 Tentang pokok-pokok
Perbankan baik konvensional maupun syariah, yang menjelaskan
181
Lembaga Keuangan adalah semua badan yang melakukan kegiatankegiatan di bidang keuangan dengan menarik uang dari masyarakat
dan menyalurkan uang tersebut kembali ke masyarakat.
Dari pengertian diatas, apabila dikaitkan dengan kata “syariah”
dapat dipahami bahwa Lembaga Keuangan Syariah adalah badan yang
melakukan kegiatan-kegiatan di bidang keuangan dengan menarik
uang dari masyarakat dan menyalurkan uang tersebut kembali ke
masyarakat dengan menggunakan prinsip syariah. Kata “mikro” pada
penyebutan lembaga Keuangan Mikro Syariah memberi pengertian
lebih menunjukkan kepada tataran ruang lingkup / cakupan yang lebih
kecil. Dengan asumsi perbandingan bahwa lembaga keuangan besar
salah satunya adalah berbentuk bank dengan modal berskala besar,
maka lembaga keuangan mikro adalah bentukan lain dari bank atau
sejenisnya yang mempunyai capital kecil dan diperuntukkan untuk
sector usaha mikro kecil.
Lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) terdiri dari berbagai
lembaga diantaranya BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah), BMT
(Baitul Mal Wat Tamwil), Lembaga Pengelola Zakat (BAZ dan LAZ),
lembaga pengelola wakaf. Keempat lembaga tersebut mempunyai
hubungan yang erat dan saling mempengaruhi satu sama lain dan
berhubungan erat dengan lembaga syariah lainnya yang lebih besar.
Tulisan ini mengkaji mengenai BPRS, BMT:
1. BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah)
Menurut undang-undang (UU) Perbankan No. 7 tahun
1992, BPR adalah lembaga keuangan yang menerima simpanan
uang hanya dalam bentuk deposito berjangka tabungan, dan atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dalam bentuk itu dan
menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Pada UU Perbankan No.
10 tahun 1998, disebutkan bahwa BPR adlah lemabaga keuangan
bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional
atau berdasarkan prinsip syariah.
Pengaturan pelaksanaan BPR yang menggunakan prinsip
syariah tertuang pada surat Direksi Bank Indonesia No.
32/36/KEP/DIR/tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan
Prinsip Syariah tanggal 12 Mei 1999. Dalam hal ini pada
teknisnya BPR syariah beroperasi layaknya BPR konvensional
namun menggunakan prinsip syariah.
Tujuan didirikannya BPR Syariah adalah: a)
meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat islam, terutama
masyarakat golongan ekonomi lemah yang pada umumnya di
daerah pedesaan, b) menambah lapangan kerja terutama di tingkat
182
2.
kecamatan sehingga dapat mengurangi arus urbanisasi, c)
membina semangat ukhuwah islamiyyah melalui kegiatan
ekonomi dalam rangka meningkatkan pendapatan per kapita
menuju kualitas hidup yang memadai.
Untuk mencapai tujuan operasional BPR Syariah tersebut
diperlukan strategi operasional yaitu: a) BPR Syariah tidak
bersifat menunggu terhadap datangnya permintaan fasilitas
melainkan bersifat aktif dengan melakukan sosialisasi/penelitian
kepada usaha-usaha berskala kecil yang perlu dibantu tambahan
modal, sehingga memiliki prospek bisnis yang baik, b) BPR
Syariah memiliki jenis usaha yang waktu perputaran uangnya
jangka pendek dengan mengutamakan usaha skala menengah dan
kecil, c) BPR Syariah mengkaji pangsa pasar, tingkat kejenuhan
serta tingkat kompetitifnya produk yang akan diberi pembiayaan.
Baitul Maal Wattamwil (BMT)
LKMS BMT adalah sebutan ringkas dari Lembaga
Keuangan Mikro Syariah Baitul Maal wat Tamwil atau Balaiusaha Mandiri Terpadu, sebuah Lembaga Keuangan Mikro
Syariah (LKMS) yang memadukan kegiatan ekonomi dan sosial
masyarakat setempat. Baitul maal Wattamwil (BMT) adalah
kelompok swadaya masyarakat sebagai lembaga ekonomi rakyat
yang berupaya mengembangkan usaha-usaha produktif dan
investasi dengan sistem bagi hasil untuk meningkatkan kualitas
ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil dalam upaya
pengentasan kemiskinan (Harisman, 2003 :74).
Kegiatan LKMS BMT adalah mengembangkan usahausaha ekonomi produktif dengan mendorong kegiatan menabung
dan membantu pembiayaan kegiatan usaha ekonomi anggota dan
masyarakat lingkungannya. LKMS BMT juga dapat berfungsi
sosial dengan menggalang titipan dana sosial untuk kepentingan
masyarakat, seperti dana zakat, infaq dan sodaqoh dan
mendistribusikannya dengan prinsip pemberdayaan masyarakat
sesuai dengan peraturan dan amanahnya.
Tujuan BMT yaitu meningkatkan kualitas usaha ekonomi
untuk kesejahteraan anggota pada kususnya dan masyarakat pada
umumnya. Sedangkan sifat BMT yaitu memiliki usaha bisnis
yang bersifat mandiri, ditumbuhkembangkan dengan swadaya dan
dikelola secara profesional serta berorientasi untuk kesejahteraan
anggota dan masyarakat lingkungannya. BMT dapat didirikan dan
dikembangkan dengan suatu proses legalitas hukum yang
bertahap. Awalnya dapat dimulai sebagai kelompok swadaya
183
masyarakat dengan mendapatkan sertifikat operasi/kemitraan dari
PINBUK (pusat inkubasi bisnis usaha kecil dan menengah) dan
jika telah mencapai nilai aset tertentu segera menyiapkan diri
kedalam badan hukum koperasi.
BMT mempunyai ciri-ciri: a) berorientasi bisnis, mencari
laba bersama, meningkatkan pemanfaatan ekonomi paling bawah
untuk anggota dan lingkungannya, b) bukan lembaga sosial tetapi
dimanfaatkan untuk mengaktifkan penggunaan dana sumbangan
sosial, zakat, infaq dan sadaqah bagi kesejahteraan orang banyak
secara berkelanjutan, c) ditumbuhkan dari bawah berdasarkan
peran partisipasi dari masyarakat sekitar, c) milik bersama
masyarakat setempat dari lingkungan LKMS BMT itu sendiri,
bukan miliki orang lain dari luar masyarakat itu.
Peran BMT di masyarakat meliputi: a) motor penggerak
ekonomi dan social masyarakat banyak, b) ujung tombak
pelaksanaan sistem ekonomi syariah, c) penghubung antara kaum
aghnia (kaya) dan kaum dhu’afa (miskin), d) sarana pendidikan
informal untuk mewujudkan prinsip hidup yang barakah.
Fungsi BMT di masyarakat meliputi: a) meningkatkan
kualitas SDM anggota, pengurus, dan pengelola menjadi lebih
professional, salaam, dan amanah sehingga semakin utuh dan
tangguh dalam berjuang dan berusaha menghadapi tantangan
global, b) mengorganisir dan memobilisasi dana sehingga dana
yang dimiliki oleh masyarakat dapat termanfaatkan secara optimal
di dalam dan luar organisasi untuk kepentingan rakyat banyak, c)
mengembangkan kesempatan kerja, c) mengukuhkan dan
meningkatkan kualitas usaha dan pasar produk-produk anggota,
d) memperkuat dan meningkatkan kualitas lembaga-lembaga
ekonomi dan sosial rakyat banyak.
Produk-Produk Lembaga Keuangan Mikro Syariah
Secara fungsional, operasional lembaga keuangan mikro syariah
adalah hampir sama, seperti KJKS (Koperasi Jasa Keuangan Syariah),
BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah), BMT (Baitul Mal Wat
Tamwil). Dilihat dari fungsi pokok operasional lembaga keuangan
mikro syariah ada dua fungsi pokok dalam kaitan dengan kegiatan
perekonomian masyarakat. Kedua fungsi tersebut menurut Ridwan
(2004), LKMS memiliki dua fungsi utama yaitu funding atau
penghimpunan dana dan lending atau pembiayaan. Dua fungsi utama
ini memiliki keterkaitan erat, terutama dalam kaitannya dengan
184
rencana penghimpunan dana supaya tidak menimbulkan dana
menganggur (iddle money) di satu sisi dan rencana pembiayaan untuk
menghindari terjadi kurangnya dana/ likuiditas (illiquid) saat
dibituhkan di sisi yang lain.
Dari kedua fungsi tersebut sebagai lembaga keuangan mikro
syariah memiliki dua jenis dana yang dapat menunjang kegiatan
operasionalnya, yaitu: dana bisnis dan dana ibadah. Dana bisnis
sebagai input dana dapat ditarik kembali oleh pemiliknya, tetapi dana
ibadah sebagai input dana tidak dapat ditarik kembali oleh yang
beramal, kecuali dana ibadah untuk pinjaman.
Sesuai dengan fungsi dan jenis dana yang dapat dikelolah oleh
lembaga keuangan mikro syariah tersebut diatas, selanjutnya
melahirkan berbagai macam jenis produk pengumpulan dan
penyaluran dana oleh LKMS. Sebagai gambaran ringkas tentang
produk-produk LKMS tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Produk Pengumpulan Dana
Produk pengumpulan dana adalah bentuk simpanan yang
terikat dan tidak terikat atas jangka panjang waktu dan syaratsyarat tertentu dalam penyertaan dan penarikannya. Adapun akad
yang mendasari berlakunya simpanan di LKMS adalah akad
Wadi’ah dan akad Mudharabah. (Muhammad, 2000: 117-118):
a. Simpanan wadi’ah adalah titipan dana yang tiap waktu dapat
ditarik pemilik atau anggota dengan cara mengeluarkan
semacam surat berharga pemindahbukuan/transfer dan perintah
membayar lainnya. Simpanan yang berakad wadi’ah ada dua,
yaitu wadi’ah amanah dan wadi’ah yadhomanah.
1) Wadi`ah amanah, yaitu penitipanbarang atau uang tetapi
LKMS tidak mempunyai hak untuk mendayagunakan
titipan tersebut. Atas pengembangan produk ini, LKMS
mensyaratkan adanya jasa (fee) kepada penitip (muwadi`).
2) Wadi`ah yad amanah, yaitu akad penitipan barang atau
uang kepada LKMS, namun LKMS memiliki hak untuk
mendayagunakan dana tersebut. Atas akad ini, penitip
(muwadi`) mendapatkan imbalan berupa bonus yang
besarnya sangat tergantung dengan kebijakan manajemen
LKMS.
b. Simpanan Mudharabah adalah simpanan pemilik dana yang
penyetoran dan penarikannya dapat dilakukan sesuai dengan
perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Pada simpanan
mudharabah tidak diberikan bunga sebagai pembentukan laba
bagi LKMS, tetapi diberikan bunga bagi hasil. Variasi
185
simpanan yang berakad mudharabah antara lain Simpanan Idul
Fitri, Simpanan Idul Adha (Qurban), Simpanan Haji, Simpanan
Pendidikan, dan Simpanan Kesehatan. Selain kedua jenis
simpanan tersebut, LKMS juga mengelola dana ibadah seperti
Zakat, Infaq dan Shodaqoh (ZIS), yang dalam hal ini LKMS
dapat berfungsi sebagai amil.
Selain kedua jenis simpanan tersebut, LKMS juga
mengelolah dana ibadah seperti zakat, infaq dan shodaqah (ZIS)
yang dalam hal ini LKMS dapat berfungsi sebagai amil.
(Muhammad, 2000: 119)
2. Produk Penyaluran Dana
LKMS bukan sekedar lembaga keuangan non bank yang
bersifat sosial, tetapi juga sebagai lembaga bisnis dalam rangka
memperbaiki perekonomian umat, akad dana yang dikumpulkan
dari anggota harus disalurkan dalam bentuk pinjaman kepada
anggotanya. Pinjaman tersebut disebut juga pembiayaan, yaitu
suatu fasiltas yang diberikan LKMS kepada anggotanya untuk
menggunakan dana yang telah dikumpulkan dana yang telah
dikumpulkan oleh BMT dari anggotanya.
Orientasi pembiayaan yang diberikan LKMS adalah untuk
mengembangkan dan atau meningkatkan pendapatan anggota dan
LKMS. Sasaran pembiayaan ini adalah semua sektor ekonomi,
seperti pertanian, industri rumah tangga, perdagangan dan jasa.
Ada dua jenis akad dalam pembiayaan, yaitu akad syirkah dan
akad jual beli, yang kemudian dikembangkan oleh LKMS
menjadi berbagai jenis pembiayaan sebagai berikut (Muhammad,
2000: 119-120):
a. Pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil (BBA), Pembiayaan berakad
jual beli. Pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil yaitu suatu
perjanjian pembiayaan yang disepakati antara LKMS dengan
anggotanya, yang mana LKMS menyediakan dananya untuk
sebuah investasi dan atau pembelian barang modal dan usaha
anggotanya yang kemudian proses pembayarannnya dilakukan
secara mencicil atau angsuran. Jumlah kewajiban yang harus
dibayarkan oleh peminjam adalah jum1ah atas harga barang
modal dan mark-up yang disepakati.
b. Pembiayaan Murabahah (MBA), pembiayaan berakad jual beli.
Pembiayaan Murabahah (MBA) pada dasarnya merupakan
kesepakatan antara LKMS sebagai pemberi modal dan anggota
sebagai peminjam. Prinsip yang digunakan adalah sama seperti
pembiayaan. Bai’u Baithaman Ajil, hanya saja proses
186
pengembaliannya dibayarkan pada saat jatuh tempo
pengembaliannya.
c. Pembiayaan Murabahah (MDA), pembiayaan dengan akad
syirkah. Pembiayaan Murabahah (MDA) adalah suatu
perjanjian pembiayaan antara LKMS dan anggota, LKMS
menyediakan dana untuk penyedian modal kerja sedangkan
peminjam berupaya mengelola dana tersebut untuk
pengembangan usahanya. Jenis usaha yang dimungkinkan
untuk memberikan pembiayaan adalah usaha-usaha kecil
seperti pertanian, industri rumah tangga dan perdagangan.
d. Pembiayaan Musyarakah (MSA), pembiayaan dengan akad
syirkah. Adalah penyertaan LKMS sebagai pemilik modal
dalam suatu usaha yang mana resiko dan keuntungan
ditanggung bersama secara berimbang dengan porsi
penyertaan.
e. Pembiayaan Al Qardhul Hasan adalah perjanjian antara LKMS
dengan anggotanya, hanya anggota yang dianggap layak yang
dapat diberi pinjaman. Kegiatan yang dimungkinkan untuk
diberikan pembiayaan ini adalah anggota yang terdesak dalam
melakukan kewajiban-kewajiban non usaha atau pengusaha
yang menginginkan usahanya bangkit kembali yang oleh
karena ketidakmampuannya untuk melunasi kewajiban
usahanya.
Analisis
Lembaga Keuangan Mikro Syariah merupakan sebuah lembaga
perekonomian mikro syari’ah yang bergerak menghimpun dan
menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat kecil, baik yang
bersiafat sosial (nirlaba) seperti Zakat, infak dan sedekah ataupun
penyaluran dan pembiayaan modal usaha yang bersifat laba dengan
sistem bagi hasil. LKMS di dalamnya mencakup BPRS, BMT, dan
Koperasi Syariah.
Strategi pengembangan produk-produk lembaga keuangan
mikro syariah dimulai dengan langkah awal identifikasi masalah
kebutuhan dan keinginan nasabah terhadap pelayanan. Ketika
langkah-langkah tersebut sudah mewujudkan output maka penciptaan,
pengembangan produk-produk pun dilakukan. Sasaran dari
pengembangan produk LKMS adalah masyarakat kecil. Dalam
mencapai tujuannya lembaga keuangan mikro syariah harus mampu
menciptakan strategi pengembangan produk yang cukup baik. Salah
satu cara yang dilakukan lembaga keuangan mikro syariah dalam
187
pengembangan produk-produk yang dimilikinya adalah dengan cara
mengembangkan produk-produk seperti berbagai macam produk
simpanan/ tabungan (simpanan wadiah, simpanan pendidikan,
simpanan nikah, simpanan idul fitri, simpanan qurban/ aqiqoh,
simpanan haji dan simpanan mudharabah berjangka (deposito).
Hal ini dilakukan untuk memudahkan para mitra LKMS dalam
melakukan simpanan sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan tujukan.
Selain itu, produk-produk tersebut dilakukan untuk menarik para
calon nasabah agar mau bergabung dengan LKMS yang sebagian
besar nasabah cenderung menitipkan tabungannya ke bank. Dengan
berbagai macam produk yang dimiliki LKMS harapannya mampu
bersaing dengan lembaga keuangan konvensional. Bukan hanya dalam
melakukan penghimpunan dana saja dalam mengembangankan
produk-produknya, akan tetapi LKMS juga mengembangkan produkproduk di bidang penyaluran dana, seperti: pembiayaan mudharabah,
pembiayaan musyarakah, pembiayaan murabahah, pembiayaan ijarah.
Hal ini dilakukan LKMS untuk memudahkan nasabah dalam
memberikan pinjaman sesuai dengan apa yang diinginkan.
Pola pengembangan produk yang dilakukan oleh LKMS
yaitu
dengan menggunakan sistem analisis SWOT. Dalam
menghadapi persaingan usaha yang terus dapat bersaing dengan
para pesaingnya. LKMS menerapkan strategi SWOT dalam
menjalankan usahanya, strategi ini sangat penting dalam setiap usaha,
karena strategi ini secara tidak langsung dapat memaksimalkan
kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara
bersamaan dapat meminimkan kelemahan (Weknesses) dan ancaman
(Threats). Strategi SWOT yang digunakan LKMS adalah dengan
memahami dan mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada dalam
LKMS ini sendiri dan juga harus mampu membaca peluang dan
ancaman yang ada dari luar LKMS.
Analisis kekuatan (Strengths) yang harus dilakukan LKMS
meliputi: a) adanya reputasi yang baik di bidang pelayanan, b)
memliki sumber daya manusia yang telah berpengalaman baik di
bidang wirausaha atau agama, c) banyak menciptakan produk pilihan
yang dapat memudahkan nasabah dalam memilih produk yang
diinginkan, d) memiliki kerjasama dengan banyak pihak. Sedangkan
analisis kelemahan (Weknesses) mencakup: sistem operasional yang
digunakan kurang cangggih, jumlah karyawan minim, besarnya nisbah
bagi hasil yang diberikan oleh LKMS untuk pembiayaan masih lebih
tinggi di banding bunga bank. Analisis peluang (Opportunistic)
mencakup: peningkatan jumlah nasabah dari tahun ke tahun, sistem
188
yang digunakan bagi hasil bukan bunga, kebiasan masyarakat lebih
memilih membeli barang cicilan dari pada harus membeli secara
langsung, analisis ancaman (Threats) mencakup: banyaknya pesaing
yang ada di pasar terutama para rentenir yang dianggap cepat dan
mudah dalam memberikan pinjaman, kejujuran nasabah masih lemah
dalam memberikan laporan keuangan.
Selain itu pada pengembangan produk-produk LKMS sangat
efektif dimata masyarakat seperti pada produk-produk untuk
menghimpun dana dan penyaluran dana yang dilakukan oleh
masyarakat. Dalam produk penghimpunan dana pola yang digunakan
yaitu dengan memberikan kebebasan kepada mitranya untuk
menitipkan uangnya dalam bentuk berbagai macam simpanan
yang ada sehingga mitra LKMS merasa senang dengan banyaknya
pilihan produk-produk yang ada karena dapat menyesuaikan diri
dengan tujuan ia menabung.
Dalam menyalurkan dana, LKMS memberikan kebebasan
kepada mitra untuk apa uang yang dipinjam digunakan asalkan
masih dalam batas kewajaran dan tidak melanggar syariat
Islam. Akan tetapi dalam menyalurkan dananya LKMS tidak
begitu saja dengan mudah memberikan pinjaman kepada nasabah.
LKMS tetap menggunakan prosedur yang ada seperti menggunakan
sistem 5C. guna meminimalkan risiko bermasalahnya atau tidak
kembalinya Pembiayaan. Kelima prinsip tersebut meliputi:
1. Character
Keyakinan pihak LKMS bahwa si peminjam
mempunyai moral, watak, ataupun sifat-sifat pribadi yang
positip dan koperatip dan juga mempunyai rasa tanggung
jawab baik dari kehidupan pribadi sebagai manusia,
kehidupan sebagai anggota masyarakat ataupun dalam
menjalankan kegiatan usahanya.
2. Capacity
Suatu penilaian kepada calon debitur mengenai
kemampuan melunasi kewajiban-kewajibannya dari
kegiatan usaha yang dilakukannya atau kegiatan usaha yang
akan dilakukannya yang akan dibiayai dengan pembiayaan
dari LKMS. Jadi jelaslah maksud dari penilaian terhadap
capacity ini untuk menilai sampai dimana hasil usaha
yang akan diperolehnya tersebut, akan mampu untuk
melunasinya tepat waktu sesuai dengan perjanjian yang
telah disepakatinya.
3. Capital
189
Penilaian terhadap jumlah dana atau modal sendiri
yang dimiliki oleh LKMS. Hal ini kelihatannya kontradiktif
dengan tujuan pembiayaan yang berfungsi
sebagai
penyedia dana. Namun memang demikianlah halnya
dalam kaitan bisnis murni, semakin kaya seseorang ia akan
dipercaya untuk memperoleh pembiayaan.
4. Collateral
Suatu penilaian terhadap barang-barang jaminan yang
diserahkan oleh peminjam atau debitur sebagai jaminan
atas pembiayaan yang diterimanya. Manfaat collateral
yaitu sebagai alat pengamanan apabila usaha yang
dibiayai dengan pembiayaan tersebut gagal atau sebab
lain dimana debitur tidak mampu melunasi pembiayaannya
dari hasil usahanya yang normal
5. Condition of economy
Condition of economy yaitu adalah situasi dan
kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain
yang mempengaruhi kondisi perekonomian pada suatu
saat.
Untuk mewujudkan pengembangan produk pada Lembaga
Keuangan Mikro Syariah salah satunya dengan mengunakan strategi
jempul bola (mendatangi mitranya langsung) baik yang mau
melaksanakan kegiatan simpanan maupun setoran pembiyaan.
Pendekatan ini dilakukan dengan cara petugas langsung mendatangi
calon nasabah dan para petugas yang diutus oleh pihak lembaga
menjelaskan mengenai konsep keuangan serta system dari perspektif
syariah. Jemput bola dapat pula dipahami sebagai upaya Lembaga
Keuangan Mikro Syariah mengembangkan tradisi silaturrahmi yang
menurut Rasulullah SAW dapat menambah rezeki, memanjangkan
umur serta menjauhkan manusia dari dendam dan kebencian. Strategi
ini dilakukan Lembaga Keuangan Mikro Syariah untuk memudahkan
mitranya bertransaksi serta untuk melawan rentenir dikenal
mempunyai pelayanan sangat cepat dan mudah dalam memberikan
pinjaman kepada korbannya.
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa: LKMS
memiliki produk dengan prinsip syariah yang terdiri dari produk
penghimpunan dana dan produk penyaluran dana. Produk-produk
LKMS sudah memenuhi syarat sebagai produk LKMS yang dapat
digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai produk LKMS yang
190
halal, bebas riba, dan telah sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah
Nasional dan kelayakan produk serta operasional LKMS dibawah
pengawasan Dewan Pengawas Nasional. Proses atau tahapan
pengembangan produk meliputi: pertama; tujuan dan strategi produk
lembaga keuangan mikro syariah yang dikembangkan, kedua;
mengidentifikasi peluang pasar melalui segmentasi pasar yang luas
untuk meningkatkan sumber pendanaan dan mengatasi likuiditas,
ketiga; membuat desain produk yang sesuai dengan permintaan atau
kebutuhan nasabah, bentuk desain yang sesuai visi, misi dan tujuan
lembaga keuangan mikro syariah, keempat; pengujian produk yang
layak digunakan oleh nasabah, kelima; melaksanakan komersialisasi
dengan pengelolaan risiko operasional dan manajemen resiko. Salah
satu cara yang dilakukan lembaga keuangan mikro syariah dalam
pengembangan produk-produk yang dimilikinya adalah dengan cara
mengembangkan produk-produk seperti berbagai macam produk
simpanan/ tabungan (simpanan wadiah, simpanan pendidikan,
simpanan nikah, simpanan idul fitri, simpanan qurban/ aqiqoh,
simpanan haji dan simpanan mudharabah berjangka (deposito).
Pengembangan produk-produk di bidang penyaluran dana, seperti:
pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, pembiayaan
murabahah, pembiayaan ijarah. Hal ini dilakukan LKMS untuk
memudahkan nasabah dalam memberikan pinjaman sesuai dengan apa
yang diinginkan. Pola pengembangan produk yang dilakukan
oleh LKMS yaitu dengan menggunakan sistem analisis SWOT
mencakup kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities),
kelemahan (Weknesses) dan ancaman (Threats).
Daftar Pustaka
Harisman.2003.Jejak-jejak Ekonomi Syariah.Jakarta.Senayan Abadi
Publishing
Hendi Hidayat,“Prinsip
Pemberian
Kredit”,
17
Februari
2009 dari
http://ngenyiz.blogspot.com/2006/02/prinsip-pemberiankredit-5c-principle.html
http://zanikhan.multiply.com/journal/item/3524/LEMBAGA_KEUAN
GAN_MIKRO_SYARIAH
Kotler, Philip. 1993. Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan,
Implementasi dan Pengendalian. Jakarta: Fakultas Ekonomi
UI
191
Kotler, Philip. 2000. Marketing Managemen. New Jersey Prentice
Hall.
Moekijat. 1990. Kamus Manajemen. Bandung: Mandar Maju
Muhammad,
2002.
Lembaga-Lembaga
Kontemporer. UII Press: Yogyakarta.
Keuangan
Muhammad. 2002. Manajemen Pembiyaan
Yogyakarta: UPP AMP YKPN
Bank
Umat
Syariah.
Norman A. Hart dan John Staplenton. 2005. Kamus Marketing.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Rendra, Bhirawa. 2011. Dampak Pembiayaan Sektor Pertanian oleh
Lembaga
Pembiayaan
Syariah
Terhadap
Tingkat
Kesejahteraan Para Petani (Studi Kasus Kecamata torjun,
kabupaten Sampang), http:// www.google. com. Diakses
tanggal 1 Juni 2014
Ridwan, M. 2005. Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil (BMT).
Yogyakarta: UII Press.
Sondang P. Siagian. 2007. Manajemen Strategik. Jakarta: PT Bumi
Aksara
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta
Fly UP