...

KAMPANYE BURUNG MALEO - bp2sdm

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

KAMPANYE BURUNG MALEO - bp2sdm
1
KAMPANYE BURUNG MALEO (Macrocephalon maleo)
DI SUAKA MARGASATWA BAKIRIANG
BALAI KSDA SULAWESI TENGAH
Oleh:
POPPY OKTADIYANI, S.Hut.1
Suaka Margasatwa (SM) Bakiriang merupakan kawasan pengawetan sumber
daya alam hayati dan penyangga kehidupan, kawasan ini menyimpan beberapa
komunitas tumbuhan dan satwa endemik Sulawesi yang langka/ terancam punah di
Provinsi Sulawesi Tengah seperti Burung Maleo (Macrocephalon maleo), Monyet hitam
sulawesi (Macaca tonkeana), Musang coklat (Macrogalidia muschenbroeckii), Nuri
sulawesi (Tanygnatus sumatranus), Rangkong sulawesi (Rhyticeros cassidix) yang
perlu dijaga keberadaanya dari aktifitas manusia seperti perburuan, pembukaan lahan,
kebakaran hutan karena dapat menyebabkan kepunahan tumbuhan maupun satwa
tersebut.
Burung maleo (Macrocephalon maleo) yang merupakan salah satu spesies
kunci dari kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bakiriang serta harta karun bagi Sulawesi
Tengah dan bagi masyarakat seluruh dunia. Mengingat maskot ini mempunyai makna
yang besar bagi masyarakat Sulawesi Tengah, yaitu sebagai lambang kemandirian
karena Burung Maleo mulai hidup mandiri sejak dalam lokasi peneluran serta sebagai
lambang kesetiaan karena Burung Maleo ini bersifat monogami yang hidup setia
sampai mati dengan pasangannya.
Statusnya saat ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999
tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa adalah ‘Dilindungi’. Menurut CITES/
organisasi perdagangan tumbuhan dan satwa liar dunia termasuk kategori ‘Appendix
I’ (Daftar spesies hidupan liar yang tidak boleh diperdagangkan secara internasional)
sedangkan menurut IUCN/ organisasi konservasi alam dunia adalah ‘terancam
punah’, sehingga perlunya dilakukan upaya pelestarian Burung Maleo dari kepunahan.
Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) telah
menetapkan Burung Maleo (Macrocephalon maleo) sebagai salah satu dari 14 (empat
belas) spesies terancam punah Indonesia yang akan ditingkatkan populasinya sebesar
3% (tiga persen) dalam Indikator Kinerja Utama (IKU) Program Rencana Strategis
2010 – 2014. Balai KSDA Sulawesi Tengah mendapat tugas untuk meningkatkan
populasi spesies terancam punah sebanyak 4 (empat) jenis termasuk Burung Maleo
1
Penyuluh Kehutanan Muda Balai KSDA Sulawesi Tengah
2
(Macrocephalon maleo), spesies yang lainnya Anoa (Bubalus quarlesii dan Bubalus
depressicornis), Babirusa (Babyrousa babyrussa), dan Burung Kakak Tua Kecil Jambul
Kuning (Cacatua sulphurea).
Dalam rangka menyadarkan semua pihak dalam melestarikan Burung Maleo,
Balai KSDA Sulawesi Tengah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi
Sulawesi Tengah, MGDP PT Pertamina EP, PT. Donggi Senoro LNG, dan Kelompok
Kerja Konservasi Maleo (K3M) melaksanakan Kampanye Pelestarian Burung Maleo di
SM Bakiriang pada tanggal 7 Oktober 2013. Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur
Sulawesi Tengah, Direktur Jenderal PHKA diwakili oleh Kepala Sub Direktorat
Pemanfaatan dan Pengawetan Jenis Direktorat KKH, Kepala Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) lingkup Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Banggai, Kepala
Balai Besar dan Kepala Balai Unit Pelaksana Teknis Kemeterian Kehutanan di Provinsi
Sulawesi Tengah, General Manager MGDP PT Pertamina EP, Presiden Direktur PT
Donggi Senoro LNG, dan masyarakat sekitar kawasan SM Bakiriang.
Dalam kampanye ini diisi acara seperti pameran konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya; penanaman pohon untuk pemulihan ekosistem SM
Bakiriang; kunjungan ke lokasi Konservasi Ex-situ di lokasi PT. Donggi Senoro LNG
Desa Uso Kecamatan Batui; serta pelepasan/ re-stocking Burung Maleo ke habitat
aslinya SM Bakiriang. Sumber anakan Burung Maleo yang dilepasakan yaitu 27 (dua
puluh tujuh) ekor diperoleh dari hasil Konservasi In-situ yaitu penetasan semi alami di
SM Bakiriang kerjasama dengan MGDP PT Pertamina EP dan penetasan semi alami
Balai KSDA Sulawesi Tengah di luar kawasan SM Bakiriang; serta hasil Konservasi
Ex-situ dengan teknologi inkubator di lokasi PT. Donggi Senoro LNG Desa Uso
Kecamatan Batui sebanyak 11 (sebelas) ekor. Setelah kegiatan restocking Burung
Maleo ini rencana dilanjutkan dengan kegiatan penanaman di areal nesting ground
Burung Maleo seluas 2 (dua) Ha dengan jenis Palapi, Nyantoh, Kemiri, Cemara laut,
Ketapang, dan Rhizophora. Upaya penanaman ini akan terus dilakukan bersama
dalam rangka konservasi dalam perbaikan habitat Maleo di SM Bakiriang.
Konservasi Burung Maleo tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dari
satu sektor saja, tetapi harus melibatkan stakeholder terkait, antara lain pemerintah
daerah, lintas Kementerian, LSM, Perguruan Tinggi, sektor swasta, dan masyarakat.
Beberapa sektor swasta yang telah terlibat saat ini adalah Matindok Gas Development
Project (MGDP) PT Pertamina EP sesuai dengan Perjanjian Kerjasama antara Balai
KSDA Sulawesi Tengah dengan PT Pertamina EP Nomor: 116/IV.K-26/1/2010 dan
Nomor:
008/EP2Q10/2010-S0
tanggal
3
Februari
2010
tentang
Kerjasama
3
Pengelolaan Kawasan SM Bakiriang Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah
untuk Area Perlintasan Pipa PT Pertamina EP serta PT Donggi Senoro LNG sesuai
Perjanjian Kerajasama antara Balai KSDA Sulawesi Tengah dengan PT Donggi
Senoro LNG tentang Pelestarian Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Nomor:
S.421/IV.K-26/1/2013 dan Nomor: 004/DSLNG-AGR/IV/2013 tanggal 11 April 2013.
Selain sektor swasta, dari pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ikut
berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian Burung Maleo, seperti Kelompok Kerja
Konservasi Maleo (K3M) dan Aliansi Tompotika (AlTo). Maka dari itu mari kita dukung
oleh kita semua program pelestarian SM Bakiriang dan termasuk di dalamnya
pelestarian Burung Maleo sebagai warisan sumberdaya alam di Sulawesi Tengah.
Seperti yang dikatakan Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah dalam akhir
sambutannya “Saya selaku pengelola kawasan SM Bakiriang, sangat berharap agar
upaya pelestarian Burung Maleo di SM Bakiriang tidak hanya menjadi tanggung jawab
satu sektor pemerintahan saja, tetapi harus melibatkan stakeholders terkait, antara lain
pemerintah daerah, lintas Kementerian, LSM, Perguruan Tinggi, dan sektor swasta
serta kesadaran masyarakat. Mengingat jenis Burung Maleo ini merupakan
sumberdaya alam yang ‘terancam punah’, sehingga perlunya upaya pelestarian
Burung Maleo dari kepunahan”.
Fly UP