...

PERSEBARAN DAN HABITAT PERSINGGAHAN BURUNG

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PERSEBARAN DAN HABITAT PERSINGGAHAN BURUNG
Berita Biologi 13(2) - Agustus 2014
PERSEBARAN DAN HABITAT PERSINGGAHAN BURUNG MIGRAN
DI KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU
[Distribution and Stopover Habitat of Migratory Birds in Natuna,
Riau Archipelago Province]
Tri Haryoko
Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Gedung Widyasatwaloka, Jl. Raya Jakarta Bogor KM 46 Cibinong Bogor 16911
email: [email protected]
ABSTRACT
Indonesia has become an important part in the flyway of migratory birds due to the existing of high variety of habitat types that support for
their life. Until now, the migratory birds records from Natuna Regency, which is the border area of Indonesia located in the South China
Sea, are limited. This study was aimed to determine distribution and stopover habitat of migratory birds in the Natuna Regency area. The
study was conducted in 2011 and 2013. Result from observations showed 14 species of migratory birds that belongs to five district birds
families were identified in this area. They were Ardeidae (two species), Charadriidae (four species), Scolopacidae (six species), Laridae
(one species) and Hirundinidae (one species). Southern Bunguran area has the highest record of migratory birds than other regions in
Natuna. The migratory bird used four types of stopover habitat in Natuna Regency. i.e mangrovs, coastal, lakes / wetlands and other open
areas.
Key words: Distribution, Habitat, Migratory birds, Natuna
ABSTRAK
Indonesia menjadi bagian penting dalam jalur penerbangan burung migran karena memiliki berbagai tipe habitat yang mendukung
kehidupannya. Kabupaten Natuna yang berada di Laut Cina Selatan sebagai wilayah perbatasan memiliki sangat sedikit data tentang
burung migran. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data dan informasi penyebaran dan habitat persinggahan burung migran di
Kabupaten Natuna. Penelitian dilakukan pada tahun 2011 dan 2013. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di wilayah Kabupaten
Natuna dapat teridentifikasi sebanyak 14 jenis burung migran yang terdiri atas lima famili yaitu Ardeidae (dua jenis), Charadriidae (empat
jenis), Scolopacidae (enam jenis), Laridae (satu jenis) dan Hirundinidae (satu jenis). Kecamatan Bunguran Selatan memiliki catatan
terbanyak dibandingkan wilayah lain di Natuna. Burung migran menggunakan empat tipe habitat di Kabupaten Natuna, yaitu mangrove,
pantai (hamparan pasang surut), danau/rawa dan daerah terbuka lainnya sebagai habitat persinggahan.
Kata kunci: sebaran, habitat, burung migran, Natuna
PENDAHULUAN
Keanekaragaman jenis burung di Indonesia
sekitar 18 % dari total burung di dunia, yaitu
berjumlah 1598 jenis. Indonesia juga menjadi
bagian dari jalur penerbangan 149 jenis burung
migran (Sukmantoro et al., 2007). Burung migran
adalah burung yang melakukan pergerakan kegiatan
terbang dari populasi tempat berbiak menuju lokasi
tidak berbiak yang terjadi setiap tahun. Migrasi
dilakukan dengan tujuan untuk memberikan
tanggapan terhadap perubahan kondisi alam
(cuaca) yang ekstrim, seperti musim dingin dengan
suhu yang sangat rendah. Beberapa tipe habitat
yang mendukung burung migran adalah
pegunungan, rawa-rawa, danau, perairan pantai,
lahan basah, mangrove serta hamparan lumpur
karena menyediakan berbagai sumber pakan
(Howes et al., 2003).
Berbagai penelitian tentang burung migran
terus berkembang di Indonesia, sehingga dalam
kurun waktu 2008-2014 telah berhasil menambah
jumlah jenis burung migran sebanyak 13 jenis yang
terdiri dari tiga jenis baru dan 10 jenis catatan baru.
Oleh karena itu sampai dengan 2014 jumlah
burung yang ada di Indonesia berjumlah 1611 jenis.
Diantara penambahan jenis catatan baru
merupakan burung bermigrasi yaitu Himantopus
himantopus, Calidris bairdii, Phalaropus fulicaria,
Larus heuglini, Puffinus heinrothi, Charadrius
hiaticula, Calidris melanotos (Iqbal et al., 2010;
Redman, 2011; Taufiqurrahman et al., 2011;
Trainor et al., 2011; Robson, 2012; Robson, 2013;
*Diterima: 27 Juni 2014 - Disetujui: 5 Agustus 2014
221
Haryoko - Persebaran dan Habitat Persinggahan Burung Migran di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Assiddiqi et al., 2014). Penelitian juga telah
mengidentifikasi kurang lebih 19 lokasi/kelompok
lokasi sebagai daerah penting bagi kehidupan
burung migran (Howes et al., 2003). Namun
demikian Kepulauan Natuna, Kabupaten Natuna
Provinsi Kepulauan Riau belum termasuk dalam
daerah penting tersebut. Kepulauan Natuna
merupakan salah satu kepulauan terluar Indonesia
yang terletak di Laut Cina Selatan, berada di antara
Semenanjung Malaysia dan Pulau Kalimantan
(Badan Lingkungan Hidup, Kabupaten Natuna
2011). Kepulauan Natuna secara biogeografis
mempunyai arti penting karena bertindak sebagai
batu-batu loncatan (stepping stones) dalam paparan
Sunda Besar (Whitten et al., 1987). Penelitian
burung migran belum banyak
dilakukan di
Kepulauan Natuna, publikasi pertama mencatat 16
jenis burung migran (Oberholser, 1932), namun
sejak itu belum ada lagi catatan terbaru tentang
burung migran di daerah tersebut.
Adanya rentang waktu yang lama dan berbagai
perubahan habitat yang terjadi di Kepulauan
Natuna, maka diperlukan adanya data dan informasi
terbaru tentang burung migran di wilayah tersebut.
Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan data dan informasi penggunaan
habitat dan penyebaran
burung migran di
Kabupaten Natuna. Hal ini diperlukan untuk
inventarisasi penyebaran dan pemantauan jenis
burung di wilayah Indonesia. Disamping itu, hasil
penelitian ini dapat bermanfaat dalam penyusunan
starategi pengelolaan sumberdaya hayati di
Kabupaten Natuna serta upaya-upaya konservasi
terhadap burung migran di Indonesia.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilaksanakan di Pulau Bunguran, P.
Sendanau dan P. Tiga dari tujuh kecamatan di
wilayah Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan
Riau pada Agustus-Oktober 2011 dan Agustus-
222
September 2013. Pengamatan menggunakan
metode jalur transek (Bibby et al., 2000).
Pengamatan dilakukan dengan menyusuri pinggir
danau dan pantai ketika air laut surut, sambil
melihat konsentrasi burung pantai yang ada dengan
menggunakan teropong (Howes et al., 2003).
Waktu pengamatan dilakukan pada pagi hari
(06.00-09.00), siang hari (12.00-14.00) dan sore
hari (15.00-17.30) dengan menggunakan teropong
REGALTM dari Celestron® dan dokumentasi
dilakukan dengan kamera Canon. Seluruh data dan
koordinat lokasi perjumpaan digunakan untuk
memetakan distribusi burung migran di Kabupaten
Natuna dengan menggunakan program DIVA-GIS
7.5 (Hijmans et al., 2012). Identifikasi jenis burung
berdasarkan Buku Seri Panduan Lapangan Burung
-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan
(MacKinnon et al., 1998) dan A Field Guide to the
Waterbirds of Asia (Sonobe dan Usui, 1993).
HASIL
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan
di wilayah Kabupaten Natuna dapat teridentifikasi
sebanyak 14 jenis dari 851 individu burung migran
(Tabel 1) yang terdiri atas lima famili yaitu
Ardeidae (dua jenis), Charadriidae (empat jenis),
Scolopacidae (enam jenis), Laridae (satu jenis) dan
Hirundinidae (satu jenis). Burung migran tersebut
dapat di kategorikan dalam tiga kelompok, yaitu
burung pantai migran (Charadridae, Scolopacidae,
Lariidae), burung air migran (Ardeidae) dan burung
migran lainnya (Hirundinidae). Tipe habitat yang
digunakan oleh burung migran yaitu danau/rawa,
pantai (hamparan pasang surut), hutan mangrove
dan area terbuka lainnya (jaringan listrik pada
kabel) (Gambar 1). Daerah penyebaran burung
migran di Kabupaten Natuna dapat dilihat pada
Gambar 2.
Berita Biologi 13(2) - Agustus 2014
223
Haryoko - Persebaran dan Habitat Persinggahan Burung Migran di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Gambar 1. Tipe habitat persinggahan burung migran: A. danau/lahan basah; B. pantai; C. mangrove; D.
jaringan kabel listrik daerah terbuka (Various stopover habitat types used by by migratory birds:
lakes/wetlands; B. coastal; C. Mangrove; D. electricity cable in open areas).
Kabupaten Natuna memiliki beberapa tipe
habitat yang sesuai untuk burung migran yaitu
hutan mangrove, pantai pasang surut dimana pantai
tersebut pada waktu surut mempunyai hamparan
pantai sejauh 100-150 m dari garis pantai, danau/
lahan basah, serta tempat terbuka lainnya. Jaringan
kabel listrik dan tonggak bambu atau kayu di
sekitar pantai dan tempat terbuka lainnya sebagai
tempat bertengger jenis burung migran. Pantai dan
mangrove di Desa Cemaga Kecamatan Bunguran
Selatan merupakan habitat utama bagi keberadaan
burung migran di Kabupaten Natuna.
PEMBAHASAN
Habitat persinggahan burung migran di
Kabupaten Natuna
Habitat persinggahan yang digunakan burung
migrasi di Kabupaten Natuna dapat diidentifikasi
224
menjadi empat tipe habitat yaitu danau/lahan basah,
pantai (hamparan pasang surut), mangrove dan
daerah terbuka lainnya. Ardea alba dan Charadrius
alexandrinus dapat dijumpai di danau/lahan basah
karena habitat tersebut menyediakan berbagai
sumber pakan untuk burung migran dan burung air
lainnya. Sebanyak 14 jenis burung migran di
Kabupaten Natuna menggunakan habitat pantai
pasang surut. Pada waktu surut berbagai sumber
pakan (ikan, gastropoda, bivalvia dan krustasea)
dapat dijumpai di hamparan pasir pantai sehingga
berbagai jenis burung mudah untuk mengambil
sumber pakan tersebut. Habitat mangrove juga
menjadi tempat untuk mencari pakan dan tempat
istirahat yang baik selama air pasang. Jenis burung
migran yang menggunakan habitat ini adalah Actitis
hypoleucos dan Charadrius mongolus.
Berita Biologi 13(2) - Agustus 2014
Gambar 2. Sebaran dan Perjumpaan Burung Migran di Kabupaten Natuna (Distribution and encounter of
Migratory birds in Natuna).
Salah satu jenis burung migran yang yang
menggunakan habitat terbuka dan jaringan kabel
sebagai tempat bertengger dan beristirahat setelah
mencari pakan adalah Hirundo rustica. Burung ini
memanfaatkan serangga terbang sebagai sumber
pakannya. Keberadaan burung migran di berbagai
tipe habitat tersebut terkait erat dengan ketersediaan
pakan burung tersebut (Howes et al., 2003).
Keragaman dan perjumpaan burung migran
sangat ditentukan oleh mikrohabitat, ketersediaan
sumber pakan dan keamanan di tempat beristirahat
dan mencari makan (Sonobe and Usui, 1993). Jumlah jenis dan perjumpaan individu terbanyak berada
di daerah pantai pasang surut Tabel 1). Keberadaan
habitat yang belum banyak terganggu oleh aktivitas
pembangunan dan agak jauh dari pemukiman, men-
225
Haryoko - Persebaran dan Habitat Persinggahan Burung Migran di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
jadi faktor lain keberadaan burung migran didaerah
tersebut.
Catatan Burung Migran di Kepulaun Natuna
Burung migran yang tercatat di Kabupaten
Natuna selama ini adalah 25 jenis (Tabel 2). Dalam
penelitian ini menjumpai sebanyak enam jenis burung migran yang sama tercatat Oberholser (1932),
delapan jenis merupakan perjumpaan baru dan 11
jenis tidak dijumpai lagi.
Tabel 2. Catatan Burung Migran dari Kabupaten
Natuna 1932-2013 (Records of Migratory
birds in Natuna Regency 1932-2013)
Hal ini disebabkan oleh perbedaan lokasi dan
waktu pengambilan data sehingga terjadi perbedaan
jumlah dan jenis burung migran yang teramati di
Kepulauan Natuna. Pada penelitian sebelumnya
lokasi penelitian dilakukan di 11 pulau (P. Brian, P.
Bunguran, P. Kombe, P. Laut, P. Lingung, P.
226
Midei, P. Pandak, P. Panjang, P. Seraia. P.
Sirhassen, P. Subi) di Kepulauan Natuna,
sedangkan pada penelitian ini hanya di tiga pulau
(P. Bunguran, P.Sendanau dan P. Tiga). Perbedaan
juga terjadi pada waktu pengambilan data, dimana
daftar jenis Oberholser (1932) diperoleh dari data
bulan Mei-Agustus, sedangkan penelitian ini
dilakukan pada Agustus-Oktober. Adanya rentang
waktu lebih dari 75 tahun juga memungkinkan
adanya perubahan akibat pembangunan di
Kepulauan Natuna.
Hasil pengamatan juga menunjukkan beberapa
wilayah telah berkembang menjadi pemukiman,
perkantoran, pusat perdagangan dan beberapa hutan
dataran rendah sudah terfragmentasi menjadi
ladang, perkebunan serta sawah. Adanya
pemanfaatan hasil hutan oleh perusahaan pada
tahun 1980-an menyisakan sedikit hutan primer.
Badan Lingkungan Hidup, Kabupaten Natuna
(2011) melaporkan lahan yang terbangun sebesar
12,45 % sedangkan hutan yang tersisa adalah 45,27
%.
Hal ini berbeda dengan Oberholser (1932)
yang menggambarkan bahwa Pulau Bunguran pada
umumnya berbatu dan tertutup oleh hutan lebat.
Berdasarkan kondisi tersebut memungkinkan
adanya perubahan habitat dan alih fungsi sehingga
beberapa jenis burung migran tidak dijumpai pada
pengamatan terkini.
Persebaran burung migran di Kabupaten
Natuna
Burung
migran
tidak
melakukan
perkembangbiakan di wilayah Kabupaten Natuna,
mereka hanya menggunakan habitat sementara
selama musim dingin di tempat asalnya. Dalam
penelitian ini
belum dapat diketahui apakah
wilayah Kabupaten Natuna menjadi tempat
persinggahan sementara berbagai jenis burung
migran tersebut atau menjadi tujuan akhir burung
tersebut di Indonesia. Untuk mengetahui hal
tersebut diperlukan pemantauan secara berkala dan
penandaan pada burung migran diwilayah tersebut.
Apabila individu dan populasi yang telah tertandai
Berita Biologi 13(2) - Agustus 2014
dapat diamati di wilayah lain maka burung tersebut
hanya singgah di Kabupaten Natuna. Dalam uraian
dibawah ini menjelaskan persebarannya di
Kabupaten Natuna serta prsinggahan habitat.
1. Ardea alba Linnaeus, 1758 (Cangak Besar/
Great Egret)
Burung yang termasuk dalam famili Ardeidae
berstatus sebagai burung dilindungi berdasarkan
UU No.5 Tahun 1990 dan PP No.7 Tahun 1999
(Sukmantoro et al., 2007). Lokasi perjumpaan di
Danau Tapau (Bunguran Tengah) dan Cemaga
(Bunguran Selatan). Habitat yang digunakan adalah
pantai pasang surut sejauh 100- 150 m dari garis
pantai dan danau/lahan basah.
2. Egretta intermedia (Wagler, 1829) (Kuntul
Perak / Yellow-billed Egret)
Burung berstatus sebagai burung dilindungi
dan termasuk dalam famili Ardeidae memiliki
panjang tubuh 69 cm, lokasi berbiak di Afrika,
India, Asia Timur sampai Australasia (MacKinnon
et al., 1998). Lokasi perjumpaan di pantai Desa
Cemaga (Bunguran Selatan). Habitat yang
digunakan adalah pantai pasang surut dengan
panjang surut sejauh 100- 150 m dari garis pantai.
3. Pluvialis squatarola (Linnaeus, 1758) (Cerek
besar, Grey Plover)
Burung yang termasuk dalam famili
Charadridae berstatus tidak dilindungi, memiliki
panjang tubuh 28 cm dan berbiak di bagian utara
Alaska, Kanada dan Rusia (MacKinnon et al.,
1998). Lokasi perjumpaan di Desa Cemaga
(Bunguran Selatan). Habitat yang digunakan adalah
pantai pasang surut dengan panjang surut sejauh
100- 150 m dari garis pantai.
4. Charadrius
alexandrinus Linnaeus, 1758
(Cerek Tilil/ Kentish Plover)
Burung ini termasuk dalam famili Charadridae
berstatus tidak dilindungi dengan panjang tubuh 15
cm, berbiak di bagian selatan Eropa sampai Jepang,
Equador, Peru, Chili, Amerika bagian Selatan dan
Karibia (BirdLife International, 2012). Lokasi
perjumpaan adalah Danau Tapau (Bunguran
Tengah), Pantai Ranai (Bunguran Timur) dan
Cemaga (Bunguran Selatan). Habitat yang
digunakan adalah pantai pasang surut dengan
panjang surut sejauh 100- 150 m dari garis pantai
dan danau/rawa.
5. Charadrius mongolus Pallas, 1776 ( Cerekpasir
Mongolia/ Lesser Sand Plover)
Burung yang termasuk dalam famili
Charadridae berstatus tidak dilindungi, berbiak di
Asia Timur Laut dan bermigrasi ke Afrika, Asia
Tenggara,
Australia
dan
Selandia
Baru
(MacKinnon et al., 1998). Lokasi perjumpaan di
Desa Kelanga (Bunguran Timur Laut) dan Desa
Cemaga (Bunguran Selatan). Habitat yang
digunakan adalah pantai pasang surut dengan
panjang surut sejauh 100- 150 m dari garis pantai
dan mangrove.
6. Charadrius dubius Scopoli, 1786 (Cerek
Kalung-kecil / Little Ringed Plover)
Burung berstatus tidak dilindungi ini termasuk
dalam famili Charadridae, memiliki ukuran panjang
tubuh 16 cm, berbiak di Afrika dan Erasia
(MacKinnon et al. 1998). Lokasi perjumpaan
adalah pantai Desa Cemaga (Bunguran Selatan).
Habitat yang digunakan adalah pantai pasang surut
dengan panjang surut sejauh 100- 150 m dari garis
pantai.
7. Limosa limosa (Linnaeus, 1758) (Birulaut
Ekor-hitam/ Black-tailed Godwit)
Burung yang termasuk dalam famili
Scolopacidae berstatus tidak dilindungi, namun
berdasarkan Redlist IUCN 2007 berkategori
mendekati terancam (NT=Near Threatened).
Berukuran panjang tubuh 40 cm, berbiak di Eropa
Utara dan Asia, tetapi pada musim dingin
bermigrasi ke selatan sampai Australia dan
Selandia Baru (MacKinnon et al. 1998). Lokasi
227
Haryoko - Persebaran dan Habitat Persinggahan Burung Migran di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
perjumpaan di Desa Cemaga (Bunguran Selatan).
Habitat yang digunakan adalah pantai pasang surut
dengan panjang surut sejauh 100- 150 m dari garis
pantai.
8. Numenius arquata (Linnaeus, 1758) (Gajahan
Besar/ Eurasian Curvew)
Burung ini berstatus dilindungi, berukuran
besar dan termasuk dalam famili Scolopacidae,
berbiak di Erasia utara, pada waktu musim dingin
bermigrasi sampai Indonesia dan Australia
(MacKinnon et al., 1998). Lokasi perjumpaan di
pantai Desa Cemaga (Bunguran Selatan). Habitat
yang digunakan adalah pantai pasang surut dengan
panjang surut sejauh 100- 150 m dari garis pantai.
9. Numenius phaeopus (Linnaeus, 1758)
(Gajahan Penggala/ Whimbrel)
Burung
ini
termasuk
dalam
famili
Scolopacidae berstatus sebagai burung dilindungi
dan memiliki panjang tubuh 43 cm yang berbiak di
Eropa Utara dan Asia, bermigrasi ke selatan sampai
ke Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru
(MacKinnon et al., 1998). Lokasi perjumpaan di
Desa Cemaga (Bunguran Selatan). Habitat yang
digunakan adalah pantai pasang surut dengan
panjang surut sejauh 100- 150 m dari garis pantai.
10. Tringa totanus (Linnaeus, 1758) (Trinil Kakimerah / Common Redshank)
Burung ini berstatus tidak dilindungi, memiliki
panjang tubuh 28 cm, berbiak di Afrika dan Erasia
serta termasuk dalam famili Scolopacidae dan
bermigrasi ke Selatan sampai Indonesia dan
Australia (MacKinnon et al., 1998). Di Kabupaten
Natuna dapat dijumpai di pantai Desa Cemaga
(Bunguran Selatan). Habitat yang digunakan adalah
pantai pasang surut dengan panjang surut sejauh
100- 150 m dari garis pantai.
11. Tringa nebularia (Gunnerus, 1767) (Trinil
Kaki-hijau/Common Greenshank)
Burung ini berstatus tidak dilindungi, memiliki
228
panjang tubuh 32 cm dan termasuk dalam famili
Scolopacidae. Berbiak di Erasia Utara, tetapi pada
musim dingin melakukan migrasi ke selatan
sampai ke Selandia Baru dan Australia
(MacKinnon et al., 1998). Lokasi perjumpaan di
Desa Kelanga (Bunguran Timur Laut). Habitat
yang digunakan adalah pantai pasang surut dengan
panjang surut sejauh 100- 150 m dari garis pantai.
12. Actitis hypoleucos (Linnaeus, 1758) (Trinil
Pantai / Common Sandpiper)
Burung
berstatus
tidak
dilindungi,
berukuran agak kecil, berbiak di Afrika dan Erasia,
melakukan migrasi ke selatan sampai Australia,
termasuk dalam famili Scolopacidae (MacKinnon
et al., 1998). Wilayah perjumpaan di hutan
mangrove dan pantai Desa Cemaga (Bunguran
Selatan). Habitat yang digunakan adalah pantai
pasang surut dan mangrove.
13. Sterna hirundo Linnaeus, 1758 (Daralaut
Biasa /Common Tern)
Burung berstatus sebagai burung dilindungi,
termasuk dalam famili Laridae, dengan panjang
tubuh 35 cm, berbiak di Amerika Utara, Eropa dan
Asia. Pada musim dingin bermigrasi ke selatan
menuju Amerika Selatan, Afrika, Indonesia dan
Australia (MacKinnon et al., 1998). Lokasi
perjumpaan di Desa Cemaga (Bunguran Selatan)
dengan tipe habitat yang digunakan adalah pantai
pasang surut.
14. Hirundo
rustica
Linnaeus,
1758
(Layanglayang Asia /Barn Swallow)
Burung ini berstatus tidak dilindungi dan
termasuk dalam famili Hirundinidae, berukuran
panjang tubuh 20 cm, berbiak di belahan bumi
utara dan bermigrasi ke selatan menuju Afrika,
Asia, Filipina, Indonesia dan Australia (MacKinnon
et al., 1998). Daerah perjumpaan adalah pantai dan
jaringan kabel listrik Desa Cemaga (Bunguran
Selatan), P. Sendanau (Bunguran Barat), Chinak
dan daerah terbuka Desa Kelarik (Bunguran Utara),
Berita Biologi 13(2) - Agustus 2014
Desa Harapan Jaya (Bunguran Tengah), Tanjung
Kumbik (Pulau Tiga).
Potensi dan konservasi lahan basah di
Kabupaten Natuna
Kabupaten Natuna memiliki beberapa pantai
dan lahan basah yang berpotensi menjadi daerah
tempat persinggahan dan jalur burung migran.
Burung menjadikan pantai, lahan basah serta
tegakan tumbuhan yang ada diatasnya sebagai
tempat mencari pakan dan beristirahat (Howes et
al., 2003). Hamparan pantai pasang surut dan
mangrove
merupakan habitat penting bagi
sebagian besar burung migran. Diantara lahan
basah pantai dan mangrove yang berpotensi untuk
kehidupan burung migran berada di Watugajah
(Bunguran Timur), Chinak (Bunguran Utara), Desa
Cemaga (Bunguran Selatan), Tanjung Kumbik
(Pulau Tiga), Desa Kelanga (Bunguran Timur
Laut) dan Ranai (Bunguran Timur), sedangkan
danau yang berpotensi dalam kehidupan burung
migran yaitu Danau Tapau (Bunguran Tengah).
Habitat lahan basah di Kabupaten Natuna juga
tidak terlepas dari ancaman kerusakan dan alih
fungsi. Kegiatan pembangunan dan aktifitas
penduduk yang tinggi memungkinkan lokasi
penting tersebut akan menyusut dan bahkan akan
hilang. Oleh karena itu upaya pelestarian dan
konservasi habitat perlu dilakukan bersama-sama
antara pemerintah dan masyarakat. Menjaga
keberadaan hutan mangrove, pembangunan
berwawasan lingkungan, pengembangan ekowisata
di habitat burung migran dan pendidikan
lingkungan diberikan sejak dini merupakan upayaupaya konservasi yang bisa dilakukan untuk
menjaga kelestarian habitat burung migran di
Kabupaten Natuna.
KESIMPULAN
Kabupaten Natuna menjadi bagian dari
perlintasan burung migran yang berasal dari
belahan bumi utara, yang melakukan migrasi
menuju ke bagian selatan. Selama penelitian
mencatat sebanyak 14 jenis burung migran di
Kabupaten Natuna. Berbagai tipe habitat yang
digunakan burung migran yaitu danau/lahan basah,
hamparan pantai pasang surut, hutan Mangrove
dan jaringan kabel listrik di daerah terbuka. Habitat
pantai dan mangrove di Desa Cemaga Kecamatan
Bunguran Selatan merupakan kawasan utama
perjumpaan jenis burung migran.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penelitian ini merupakan hasil kerjasama
antara Pusat Penelitian Biologi LIPI dan
Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna (Badan
Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan dan
Perkebunan). Terimakasih kepada Kepala Badan
Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Kehutanan dan
Perkebunan Kabupaten Natuna atas bantuan dan
kerjasamanya.
Penulis
juga
mengucapkan
terimakasih kepada Dr. Dewi Malia Prawiradilaga
atas masukan dan saran dalam penulisan ini,
Hazriani SSi, Endang Purwati SPt, Pak Ardi,
Mahadatunkamsi, Awal Riyanto, Cahyo Rahmadi,
Sigit Wiantoro, Anang S Achmadi, Darmawan,
Sofyan Sauri, Haryono atas kerjasama selama
kegiatan di Kabupaten Natuna.
DAFTAR PUSTAKA
Assiddiqi Z, SY Azizah, L Nazar, AF Rohmah, N
Rahmawan and H Azmi. 2014. First Indonesian
record
of
Pectoral
Sandpiper
Calidris
melanotos. Kukila 17 (2), 56-58.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Natuna. 2011. Profil
Keanekaragaman Hayati Kabupaten Natuna, 4-12. PT
Miranthi Konsultan Permai, Bandung.
Bibby C, M Jones dan S Marsden. 2000. Teknik-teknik
Ekspedisi Lapangan: Survei Burung,43-48 . BirdLife
International-Indonesian Programme, Bogor.
BirdLife International. 2012. "Charadrius alexandrinus".
IUCN Red List of Threatened Species. Version 2013.2.
International Union for Conservation of Nature.
(Diunduh 26 November 2013).
Hijmans RJ, L Guarino and P Mathur. 2012. DIVA-GIS
Version 7.5. LizardTech, Inc., the University of
California. US.
Howes J, D Bakewell dan YR Noor. 2003. Panduan Studi
Burung Pantai, 1-24,113-120. Wetlands InternationalIndonesia Program, Bogor.
Iqbal M, H Abdillah and A Nurza. 2010. Black-winged Stilt
Himantopus himantopus himantopus, a new shorebird
for Indonesia. Wader Study Group Bulletin. 117
(1), 63–65.
229
Haryoko - Persebaran dan Habitat Persinggahan Burung Migran di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
MacKinnon J, K Phillipps dan BV Balen.1998. BurungBurung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan, 5881, 266-269. Puslitbang Biologi-LIPI, Bogor.
Oberholser HC. 1932. The Birds of The Natuna Islands, 1-13,
Bulettin 159, Smithsonian Institution United States
National Museum, Washington.
Redman N. 2011. First Record of Baird’s Sandpiper Calidris
bairdii for Indonesia. Kukila 15, 122-123.
Robson C. 2012. From the Field. Birding ASIA 18, 112-119.
Robson C. 2013. From the Field. Birding ASIA 20, 121-127.
Sukmantoro W, M Irham, W Novarino, F Hasudungan, N
Kemp
dan M Muchtar. 2007. Daftar Burung
Indonesia No.2, 1-25. Indonesian Ornithologist’Union,
Bogor.
230
Sonobe K and S Usui. 1993. A Field Guide to the Waterbirds
of Asia, 20-51. Wild Bird Society of Japan, Tokyo.
Taufiqurrahman I, DA Sujatmiko and MA Utomo. 2011.
First record of Red Phalarope Phalaropus fulicaria for
Indonesia. Kukila 15, 106-108.
Trainor CR, Imanuddin and J Walker. 2011. Heuglin’s Gull
Larus heuglini on Wetar Island, Banda Sea: the first
Indonesian record. Forktail 27, 95-96.
Whitten AJ, SJ Damanik, J Anwar and N Hisham. 1987.
The Ecology of Sumatra, 25-30. 2 nd Edition. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
Fly UP