...

1 KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI RESORT TAPOS

by user

on
Category: Documents
7

views

Report

Comments

Transcript

1 KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI RESORT TAPOS
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)
KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI RESORT TAPOS,
SEKSI PTN WILAYAH VI TAPOS,
BIDANG PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL WILAYAH III BOGOR,
BALAI BESAR TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO
JANUARI-JULI 2011
Disusun oleh:
Muhamad Rusda Yakin
108095000008
PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISALAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011/1432 H
1
KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI RESORT TAPOS,
SEKSI PTN WILAYAH VI TAPOS,
BIDANG PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL WILAYAH III BOGOR,
BALAI BESAR TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO
JANUARI-JULI 2011
Muhamad Rusda Yakin
108095000008
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sains
Pada Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISALAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011/1432 H
2
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Laporan PKL
: KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI RESORT
TAPOS, SEKSI WILAYAH VI TAPOS, BIDANG
PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL WILAYAH III
BOGOR, BALAI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE
PANGRANGO, JANUARI-JULI 2011
Lokasi
: Resort Tapos, Seksi Wilayah VI Tapos, Bidang
Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor, Balai
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Nama
: Muhamad Rusda Yakin
NIM
: 108095000008
Program Studi
: Biologi
Fakultas
: Sains dan Teknologi
Menyetujui,
Pembimbing I
Pembimbing II
Arie Yanuar, S.Hut
NIP. 19850130 200912 1 004
Nani Radiastuti M.Si
NIP. 19650902 200112 2 001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Biologi
DR. Lily Surayya Eka Putri, M. Env. Stud
NIP. 19690404 200512 2 005
3
KATA PENGANTAR
Puji disertai syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
ini s/ebagai suatu upaya menjalankan kewajiban selama menjalankan perkuliahan.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda umat seluruh alam
yang telah membawa peradaban manusia dari zaman Jahiliyah menuju zaman
syarat ilmu dan pengetahuan, Dialah Nabi besar Muhammad SAW, Kepada
keluarganya, sahabatnya, serta para pengikutnya yang InsyaAllah selalu siap
mempertahankan wasiat yang telah diberikan.
Salah satu tujuan dilakukannya Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini ialah
bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung yang ada di kawasan
Hutan Konservasi Alam Tapos Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
(TNGGP) Jawa Barat. Hal demikian merupakan salah satu upaya untuk
mendukung konservasi burung Indonesia meskipun dapat dikatakan PKL ini
hanyalah sebuah hal kecil melihat tingginya Sumber Daya Burung yang dimiliki
oleh Bangsa ini. Tetapi betapapun itu, besar harapan dari dilakukannya PKL ini
dapat memberikan sumbangsih yang dapat dirasakan oleh sebagian besar orang
khususnya pengamat dan pecinta burung serta kemudian menimbulkan motivasi
terhadap semanagat konservasi Sumber Daya Alam Indonesia.
Penyelesaian PKL ini bukanlah tidak mengalami hambatan, mulai dari
pengambilan data hingga penyusunan laporannya penulis telah banyak
mendapatkan bantuan-bantuan dari berbagai pihak baik itu dalam hal materi,
nasihat maupun mptivasi yang luar biasa, oleh karena itu dalam kesempatan ini
4
penulis mengucapakan terima kasih yang luar biasa kepada semua pihak,
khususnya kepada :
1. Ibu Dr Lily Surayya Eka Putri, M.env.Stud selaku ketua Program Studi
Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Nani Radiastuti M.Si selaku Pembimbing II yang telah membimbing
penulis dalam penulisan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
3. Bapak Arie Yanuar, S.Hut selaku pembimbing I yang telah membimbing
penulis selama pengambilan data di lapangan dan dalam penyusunan
laporan.
4. Bapak Tugiman selaku Kepala Resort Tapos, Dily Musmulya (staff) dan
Sukato Susilo (staff) serta Keluarga Besar Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango
yang
telah
memberikan
izin
kepada
penulis
untuk
melaksanakan PKL
5. Mama tercinta yang telah mencurahkan doa, semangat dan kasih sayang
yang tak terukur dalamnya kepada penulis, serta almarhum Bapak yang
meskipun kehadirannya tak dirasakan tetapi bayangannya selalu
menghadirkan motivasi yang tak ada habisnya bagi penulis sehingga
laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dapat terselesaikan dengan
penuh semangat.
6. Kedua adikku, yang selalu mengisi kekosongan waktu dan memberikan
semangat kepada penulis untuk menjalankan PKL
7. Juli Wahyu Wulandari yang selalu menemani dan memberikan motivasi
kepada penulis terutama dalam menjalankan PKL
5
8. Maulya Arfi S., Untari Uni Comara dan Muthia Rizkita Atas segala
waktunya untuk berdiskusi dan atas bantuannya dalam menjalankan PKL
9. Mang Abot, Mang mukti, Mang Abas, Mang Anwar dan Umi yang telah
banyak memberi nasihat dan pengarahan selama pengambilan data di
lapangan
10. Angga P. Putera, M.Si, Eko Prasetyo, S.Si dan Deden Ibnu Aqil, S.Si
beserta keluarga besar KPP Tarsius sebagai partner di lapangan dan atas
segala kerjasama yang terjalin, terimakasih banyak
11. Keluarga besar biologi 2008 sebagai teman seperjuangan yang telah
bersama-sama berjuang dan saling memberikan sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan PKL ini
12. Seluruh pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
laporan PKL ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih
banyak
Semoga apa yang telah kalian berikan dapat bermanfaat dan dibalas oleh
Allah SWT, amin.
Jakarta, 27 Juli 2011
Penulis
6
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................... 4
DAFTAR ISI .................................................................................................... 7
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... 10
DAFTAR TABEL ............................................................................................ 11
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang...................................................................... 12
1.2. Tujuan PKL.......................................................................... 14
1.3. Manfaat PKL........................................................................ 15
BAB II
GAMBARAN UMUM.
2.1. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango .......................... 16
2.2. Keadaan Ekosistem dan Vegetasi Hutan.............................. 17
2.3. Satwa Liar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ... 18
2.4. Kawasan Hutan Konservasi Alam Tapos ............................. 19
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Karakteristik Morfologi dan Fisiologi Burung .................... 20
3.2. Pakan .................................................................................... 21
3.3. Habitat dan Persebaran ........................................................ 22
3.4. Konservasi Burung di Indonesia .......................................... 23
BAB 1V
METODE PENELITIAN
4.1. Waktu dan Lokasi ................................................................ 25
4.2. Peralatan............................................................................... 25
4.3. Cara Kerja ............................................................................ 25
4.4. Analisis Data ........................................................................ 26
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Data Keanekaragaman Jenis burung
7
5.1.1. Transek Pasir Genteng ................................................ 28
5.1.2. Transek Pasir Banteng ................................................. 33
5.1.3. Transek Cibayawak...................................................... 37
5.1.4. Transek Tarsius ............................................................ 41
5.2. Suku-suku Burung di Kawasan Konservasi Tapos
5.2.1. Nectariinidae ............................................................... 45
5.2.2. Artamidae.................................................................... 46
5.2.3. Apodidae ..................................................................... 46
5.2.4. Phasianidae ................................................................. 46
5.2.5. Picidae ......................................................................... 47
5.2.6. Dicaeidae .................................................................... 47
5.2.7. Muscicapidae .............................................................. 48
5.2.8. Acciptridae .................................................................. 48
5.2.9. Ploceidae ..................................................................... 48
5.2.10. Oriolidae ................................................................... 49
5.2.11. Sylvidae .................................................................... 49
5.2.12. Camphepagidae ......................................................... 49
5.2.13. Timaliidae ................................................................. 49
5.2.14. Pycnonotidae ............................................................. 50
5.2.15. Columbidae ............................................................... 50
5.2.16. Alcedinidae ............................................................... 50
5.2.17. Zosteropidae.............................................................. 51
5.2.18. Turdidae .................................................................... 51
5.2.19. Dicruridae ................................................................. 51
5.2.20. Trogonidae ................................................................ 52
5.2.21. Capitonidae ............................................................... 52
5.2.22. Strigidae .................................................................... 52
5.2.23. Cuculidae .................................................................. 53
5.3. Jenis-jenis Burung di Kawasan Konservasi Tapos .............. 53
BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan .......................................................................... 58
8
6.2. Saran .................................................................................... 59
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 60
LAMPIRAN .................................................................................................... 62
9
DAFTAR GAMBAR
Gambar1. Peta lokasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ...................... 17
Gambar 2. Bondol peking (Lonchura punctulata) .............................................. 32
Gambar 3. Cinenen Jawa (Orthotomus sepium) ................................................. 36
Gambar 4. Walet linchi (Collocalia linchi)......................................................... 40
Gambar 5. Kacamata biasa (Z. Palpebrosus) ...................................................... 45
Gambar 6 Elang ular bido (S. cheela) dan Elang hitam (I. Malayensis) ............. 57
10
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Keanekaragaman jenis burung di transek Pasir Genteng ................. 28
Tabel 1.2 Keanekaragaman jenis burung di transek Pasir Banteng ................. 33
Tabel 1.3 Keanekaragaman jenis burung di transek Cibayawak ..................... 37
Tabel 1.4 Keanekaragaman jenis burung di transek Tarsius............................ 41
Tabel 1.5 Jenis-jenis burung di Kawasan Konservasi Tapos ........................... 53
11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Hutan indonesia memiliki luas areal hutan yang sangat besar, di dalam
hutan tersebut terdapat keanekaragaman satwa yang luarbiasa dan sebagian besar
satwa di hutan Indonesia merupakan endemik yang tidak ditemukan di negara
lain. Keanekaragaman jenis hayati di Indonesia yang terhimpun dalam ekosistem
hutan tropika mulai dari ekosistem pantai hingga ekosiatem pegunungan,
jumlahnya mencapai 47 ekosistem. Dengan berbagai keanekaragaman hayati yang
berbeda dan latar belakang demikian, dunia menetapkan Indonesia sebagai negara
megabiodiversity (Heriyanto, 2008). Berdasarkan keragaman ekosistem dan jenis
satwa endemik, Indonesia memiliki 515 jenis mamalia besar (39% endemik), 511
jenis reptil (29% endemik), 1531 jenis burung (26% endemik), 270 jenis amfibi
(37% endemik), 35 jenis primata (18% endemik), dan 121 jenis kupu-kupu (44%
endemik) (BAPPENAS, 2003).
Menurut Wisnubudi (2009), satwa burung (avifauna) merupakan salah
satu margasatwa yang mudah dijumpai hampir di setiap tempat dan mempunyai
posisi yang penting sebagai salah satu kekayaan satwa di Indonesia. Jenisnya
sangat beranekaragam dan masing-masing jenis memiliki nilai keindahan
tersendiri. Untuk hidupnya burung memerlukan syarat-syarat tertentu, antara lain
ialah kondisi habitat yang cocok dan aman dari segala macam gangguan. Burung
merupakan satwa liar pengguna ruang yang cukup baik, yang terlihat dari
12
penyebarannya, baik secara horizontal maupun vertikal. Berdasarkan stratifikasi
penggunaan ruang pada profil hutan maupun penyebaran secara horizontal pada
berbagai tipe habitat, menunjukkan adanya kaitan yang erat antara burung dengan
lingkungan hidupnya terutama dalam pola adaptasi dan strategi untuk
memperoleh sumber pakan. Penyebaran vertikal pada jenis-jenis burung dapat
dilihat dari stratifikasi ruang pada profil hutan. Berdasarkan stratifikasi profil
hutan maka dapat diperoleh gambaran mengenai burung dalam memanfaatkan
ruang secara vertikal, yang terbagi dalam kelompok burung penghuni bagian
paling atas tajuk hutan, burung penghuni tajuk utama, burung penghuni tajuk
pertengahan, penghuni tajuk bawah, burung penghuni semak dan lantai hutan,
selain itu juga terdapat kelompok burung yang sering menghuni batang pohon.
Menurut Peterson (1980), penyebaran jenis-jenis burung sangat dipengaruhi oleh
kesesuaian tempat hidup burung, meliputi adaptasi burung terhadap lingkungan,
kompetisi, strata vegetasi, ketersediaan pakan dan seleksi alam. Penyebaran
burung dalam suatu area berhubungan erat dengan tipe-tipe habitatnya. Di sisi
lain, perubahan dalam suatu lansekap sebagai akibat pengaruh manajemen
manusia selalu mempunyai konsekuensi terhadap komposisi dan kemelimpahan
jenis-jenis burung.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu
kawasan konservasi yang di pulau Jawa yang memiliki hutan dengan kondisi yang
masih terjaga, keberadaannya diharapkan
dapat berfungsi sebagai konservasi
lansekap, ekosistem, jenis dan plasma nutfah, serta meyuburkan pembangunan
ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya, dan juga
13
mendukung logistik untuk penelitian, pemantauan, pendidikan dan pelatihan yang
terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat
lokal, regional, nasional maupun global. Banyak jenis burung di kawasan ini
yang memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Sebagian di antaranya juga
termasuk burung-burung endemik pulau Jawa, atau dapat pula burung daerah
sebaran terbatas, sehingga gangguan kelestariannya dapat menyebabkan
kelangkaan. Potensi keindahan morfologis, keunikan tingkah laku dan kemerduan
suara, merupakan daya tarik burung yang menyebabkan perburuannya sering
dilakukan terutama untuk kesenangan (hobiis). Selain itu, di beberapa lokasi,
satwa burung banyak pula yang diburu untuk dijadikan sebagai makanan (sumber
protein hewani). Dengan demikian, keberadaan satwa burung tersebut semakin
hari semakin berkurang populasinya, bahkan dikhawatirkan berkurang pula ragam
jenisnya. Berhubungan dengan hal tersebut, kawasan ini masih belum banyak
dilakukan kegiatan konservasi terutama untuk konservasi burung hutan. Oleh
karena
itu,
kegiatan
inventarisasi
yang
dilanjutkan
dengan
analisa
keanekaragaman jenis yang diaplikasikan melalui sebuah kegiatan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) sangatlah penting untuk mengetahui keadaan burung di kawasan
ini sebagai upaya untuk memenuhi tantangan dan mendukung upaya konservasi
keanekaragaman hayati.
1.2
Tujuan PKL
Mengetahui keanekaragaman jenis burung yang terdapat di Resort Tapos,
Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III
Bogor, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
14
1.3
Manfaat PKL
Manfaat dari dilakukannya Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah :
1. Mengetahui keanekaragaman jenis burung yang terdapat di Resort
Tapos, Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang Pengelolaan Taman
Nasional Wilayah III Bogor, Balai Besar Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango
2. Mengetahui keberadaan jenis burung yang dilindungi UU (PP No.7
tahun
1999),
termasuk
status
konservasi
(IUCN)
dan
perdagangannya (CITES).
3. Sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut mengenai burung yang
terdapat di Resort Tapos, Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang
Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor, Balai Besar
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
15
BAB II
GAMBARAN UMUM
2.1. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP)
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan kawasan
konservasi yang memiliki peranan penting bagi pelestarian ekosistem hutan hujan
tropis pegunungan. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango termasuk ke dalam
lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.
Menurut Whitten et al., 1999, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
(TNGGP) terbentuk dari dua gunung berapi kembar dengan tinggi masing –
masing 2.958 m dan 3.019 m. Secara geografis, kawasan ini terletak di antara 106
°51' - 107°02' BT dan 64°1' - 65°1' LS dan secara administratif termasuk ke dalam
wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Karena merupakan dataran
tinggi dengan dua puncak utama, Gunung Gede (2958 m dpl) dan Gunung
Pangrango (3019 m dpl), ekosistem di dalamnya merupakan hutan hujan tropis
pegunungan Jawa Barat yang relatif utuh.
Sejarah panjang kegiatan konservasi dan penelitian dimulai sejak tahun 1830
dengan terbentuknya kebun raya kecil di dekat Istana Gubernur Jenderal Kolonial
Belanda di Cipanas, kemudian kebun raya kecil ini diperluas sehingga menjadi Kebun
Raya Cibodas. Pemerintahan Kolonial Belanda sangat antusias untuk meningkatkan
tanaman-tanaman penting dan bernilai ekonomis serta perkebunan komersial,
sehingga dibangunlah suatu stasiun penelitian dan percobaan pertanian di dataran
tinggi ini. Tidak lama setelah itu, botanis-botanis lokal kemudian mulai tertarik untuk
16
meneliti keanekaragaman tumbuhan disekitar pegunungan ini (Anonim, 2010).
Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai
Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di
Malaysia pada tahun 1995 (Whitten et al., 1999).
Gambar. 1 Peta lokasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
(Sumber: USAID, 2006)
2.2. Keadaan Ekosistem dan Vegetasi Hutan
Tipe ekosistem yang terdapat pada kawasan hutan TNGGP berdasarkan
keetinggiannya dikategorikan ke dalam tiga, yaitu tipe ekosistem sub Montana
(1000 - 1500 m dpl), Montana (1500 - 2400 m dpl) dan sub Alpin (2400 m dpl ke
atas). Karakteristik tipe ekosistem sub-montana adalah mempunyai vegetasi
pohon yang besar dan tinggi seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), dan puspa
17
(Schima walliichii). Tipe ekosistem ini mempunyai tiga strata tajuk yaitu (1)
Altingia Excelsa dan Castanopsis Argentea yang dapat mencapai ketinggian lebih
dari 60 meter (2) Antidesma Tetandrum dan Litsea sp. dengan ketinggian antara
10-20 meter (3) Ardisia Fuliginosa dan Dichroa Febrifuga berupa belukar (3-5
meter). Pada tipe ekosistem ini juga ditemukan tumbuhan epiphyt seperti anggrek
serta tumbuhan memanjat dan tumbuhan bawah. Tipe ekosistem Montana
merupakan hutan dengan keragaman jenis yang ditandai dengan sedikitnya jenis
tumbuhan bawah. Jenis-jenis pohon yang dapat dijumpai diantaranya Puspa
(Schima walichii) yang mempunyai daun muda warna merah dan Podocarpus
Imbricatus jenis berdaun jarum. Batang-batang pohon umumnya ditumbuhi lumut.
Tipe Ekosistem sub-alphin mempunyai karakteristik adanya dataran yang
ditumbuhi rumput Isachne pangerangensis, bunga eidelweis (Anaphalis
javanica), violet (Viola pilosa), dan cantigi (Vaccinium varingiaefolium).
Kekhassan tipe ekosistem hutan ini adalah terdapatnya rumput Isachne
Pangrangensis dan Eidelweiss (Anaphlis Javanica) yang banyak dikenal sebagai
"Bunga Abadi".
2.3. Satwa Liar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP)
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan habitat
beranekaragam jenis burung, terdapat sekitar 251 jenis dari 450 jenis yang
terdapat di Pulau Jawa atau lebih dari 50% total seluruh jenis burung Pulau Jawa.
Di kawasan ini juga ditemukan beberapa jenis burung langka seperti Elang Jawa
(Spizaetus Bartelsi) dan jenis burung hantu Java Scops-Owl (Otus Angelinae).
Selain burung, di TNGGP juga ditemukan berbagai jenis primata dan mamalia
18
lain. Di antaranya adalah Owa (Hylobates Moloch), Surili (Presbytis Comata,
Lutung (Trachypithecus Auratus), Macan Tutul (Panthera Pardus), Kucing Hutan
(Felis Bengalensis), Kancil (Tragulus Javanicus), Anjing Hutan (Cuon Alpinus),
Satwa Sigung (Mydaus Javanensis), Bajing Terbang (Galeopterus Variigatus),
dan Kijang (Muntiacus Muntjak). Berdasarkan informasi Junghuhn pada tahun
1839, di kawasan TNGGP ini pernah di jumpai Badak Jawa (Rhinoceros
Sondaicus). Namun, tidak ditemukan catatan resmi mengenai keberadaan jenis
satwa ini dan sampai saat ini tidak pernah ditemukan keberadaan jenis satwa
tersebut.
2.4. Kawasan Penelitian Hutan Koservasi Alam Tapos
Tapos merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
(TNGGP) yang berada pada bidang pengelolaan taman nasional wilayah III
Bogor-Jawa Barat. Secara garis besar keadaan Hutan Konservasi Alam Tapos
sama dengan keadaan TNGGP sendiri. Jenis tumbuhan puspa (Schima walliichii)
merupakan jenis yang banyak ditemukan pada kawasan ini. Untuk informasi
satwa liar di kawasan ini masih belum banyak data yang menjelaskan
keberadaannya. Pada Kawasan Hutan Konservasi Alam Tapos terdapat beberapa
blok/jalur pengamatan, yaitu Jalur Tarsius yang mewakili daerah lembah, Jalur
Pasir Banteng yang merupakan daerah punggungan dengan tipe vegetasi pohon
besar, Jalur Cibayawak yang mewakili daerah datar, dan Jalur Pasir Genteng yang
merupakan daerah perbatasan antara hutan konservasi dengan perkebunan warga.
19
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3. 1 Karakteristik Morfologi dan Fisiologi Burung
Burung (Aves) memiliki ciri khusus antara lain tubuhnya terbungkus bulu,
memiliki dua pasang anggota alat gerak, anggota anterior mengalami modifikasi
menjadi sayap, sedangkan sepasang anggota posterior disesuaikan untuk hinggap
dan berenang, masing-masing kaki berjari 4 buah, cakar terbungkus oleh kulit
yang menanduk dan bersisik, mulutnya memiliki bagian yang terproyeksi sebagai
paruh atau sudu yang terbungkus oleh lapisan zat tanduk. Burung modern masa
kini tidak memiliki gigi, tarsometatarsus tertutup kulit yang mengalami
penandukan dan pada umumnya berbentuk sisik. Ekor memiliki fungsi khusus
dalam menjaga keseimbangan dan mengatur kendali saat terbang. Paruh
merupakan modifikasi dari bibir, kulit luar yang mengeras dan membentuk sarung
zat tanduk dan membungkus tonjolan tulang pada rahang (Peterson,1980).
Burung melakukan respirasi dengan paru–paru yang terhubung dengan
sejumlah kantung-kantung udara sebagai alat penafasan tambahan. Kantung udara
pada burung berfungsi sebagai thermostat, sebab burung memiliki metabolism
yang cepat dan suhu tubuh yang tinggi serta tidak mempunyai kelenjar keringat
penyejuk. Jantung terdiri dari 2 ruang aurikel dan 2 ruang ventrikel yang terpisah
secara sempurna dengan lengkung aortaterletak di sebelah kanan. Saluran
pencernaan meliputi tembolok (crop), lambung kelenjar dan lambung empedu
(Gizzard, empedu), dua buah sekum (caecum), usus besar dan kloaka. Fertilisasi
20
internal, pada burung jantan jarang mempunyai organ inttromitten (seperti penis),
bersifat ovipar dengan telur yang berkulit keras berupa cangkang.
3. 2 Pakan
Menurut Hernowo (1989), jenis-jenis burung berdasarkan makanan utamanya
dapat dikelompokan menjadi pemakan daging (karnivora), pemakan buah
(Frugivora), pemakan biji-bijian (seed feeder), penghisap madu (nektarvora),
pemakan serangga (Insektivora) dan pemakan segala (Omnivora). Perilaku
mencari makanan burung berkaitan erat dengan ciri morfologinya. Kebiasaan
makan juga merupakan bagian mendasar suatu relung (niche) yang ditempati dan
sebagian dibentuk karena kompetisi dengan spesies lain. Perilaku burung yang
lain adalah loafing, yaitu keadaan tidak bergerak yang meliputi berbagai perilaku
seperti tidur (sleeping ), bertengger (sitting), berdiri (Standing) membersihkan
bulu (preening) dan buang air (defecation) yang dilakukan diluar teritori berbiak.
Selain mencari makan, burung menghabiskan waktunya dengan loafing di tempattempat yang aman / terlindung dari bahaya. Burung biasanya memerlukan kondisi
lingkungan dan makanan yang spesifik. Di sisi lain, setiap jenis pohon dan
komposisi jenis pohon suatu komunitas dapat menciptakan berbagai kondisi
lingkungan dan ketersediaan makanan yang spesifik bagi jenis-jenis burung
tertentu (niche atau relung ekologi). Dengan makin banyak jenis pohon berarti
akan terciptnya
berbagai kemungkinan
jenis burung dapat hidup bersama.
Ketersedian pakan dalam habitat yang ditempati merupakan salah satu faktor
utama bagi kehadiran populasi burung. Burung tidak memanfaatkan seluruh
21
habitatnya, melainkan melakukan seleksi terhadap beberapa bagian dari habitrat
tersebut yang digunakan sesuai dengan kebutuhannya.
3. 3 Habitat dan Persebaran
Keberadaan burung di suatu habitat berkaitan erat dengan faktor-faktor fisik
seperti tanah, air, temperatur, cahaya matahari serta faktor-faktor biologis yang
meliputi vegetasi dan keadaan satwa lainnya. Penggunaan habitat oleh burung
berubah-ubah tergantung penampakan habitat yang menyediakan makanan.
Pengubahan aktifitas makan pada struktur vertikal di bagian tanaman sangat
dipengauhi oleh penyebaran di pohon tersebut. Kehadiran suatu burung pada
suatu habitat merupakan hasil pemilihan yang berarti habitat tersebut sesuai untuk
kehidupannya. Pemilihan habitat ini akan menentukan jenis-jenis burung yang ada
pada lingkungan dengan kondisi tertentu. Hidup dalam lingkungan yang khusus
itu akan memberikan berbagai penamaan yang dapat meningkatkan perbedaan
perilaku pada berbagai jenis burung dalam menggunakan habitatnya.
Keanekaragaman jenis burung pada suatu wilayah tidak terlepas dari
faktor-faktor yang mempengaruhinya, di antara faktor-faktor tersebut adalah:
1.
Luas wilayah, semakin luas wilayah tempat burung-burung tinggal maka
keanekaragaman jenis burungnya semakin tinggi
2.
Struktur dan keanekaragaman jenis vegetasi, pada daerah
yang
keanekaragaman jenis tumbuhannya tinggi maka keanekaragaman jenis
hewannya termasuk jenis burungpun semakin tinggi pula. Hal ini
disebabkan karena setiap jenis hewan hidupnya bergantung pada
sekelompok jenis tumbuhan tertentu
22
3.
Keanekaragaman dan tingkat kualitas habitat secara umum di suatu lokasi,
semakin
majemuk
habitat
maka
cenderung
semakin
tinggi
keanekaragaman jenis burungnya
4.
Pengendali ekosistem yang dominan, keanekaragaman jenis burung
cenderung rendah dalam ekosistem yang terkendali secara fisik dan
cenderung
tinggi
dalam
ekosistem
yang
diatur
secara
biologi
(Odum,1998).
3. 4 Konservasi Burung di Indonesia
Sebagian diantara burung-burung di Indonesia
termasuk burung-burung
endemik (hanya hidup di daerah setempat), atau dapat pula burung daerah sebaran
terbatas, sehingga gangguan kelestariannya dapat menyebabkan kelangkaan.
Potensi keindahan morfologis, keunikan tingkah laku dan kemerduan suara,
merupakan daya tarik burung yang menyebabkan perburuan sering dilakukan
terutama untuk kesenangan (hobiis). Selain itu, di beberapa daerah, satwa burung
banyak pula satwa burung yang diburu untuk dijadikan sebagai makanan (sumber
protein hewani). Dengan demikian, keberadaan satwa burung tersebut semakin
hari semakin berkurang populasinya, bahkan
dikhawatirkan berkurang pula
ragam jenisnya. Berdasarkan PP No 7 tahun 1999, kegiatan koleksi dan
penangkaran burung di daerah merupakan bagian adari pengelolaan diluar habitat
(ex-situ) dengan maksud untuk menyelamatkan sumber daya genetik dan populasi
jenis satwa burung. Kegiatan tersebut meliputi pula pemeliharaan, perkembangbiakan, serta penelitian dan pengembangannya. Namun masih terdapat
permasalahan diantaranya menentukan jenis serta kerapatan tumbuhan yang
23
diperlukan sehingga terbentuk suatu ekosistem yang seimbang, termasuk
berfungsinya satwa penyerbuk, pengendali hama, pemencar biji, setra pemangsa.
Masalah ini seharusnya menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan oleh Ornitolog
untuk melakukan usaha pelestarian burung. Pengetahuan mengenai pakan serta
mikroklimat bersarang sangat bermanfaat sebagai landasan penangkaran di dalam
kandang. Hasil penangkaran tentunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan reintroduksi. Guna menjaga eksistensi sekaligus memulihkan populasi burung di
Indonesia, perlu dilakukan kegiatan konservasi. Konservasi burung dapat
dilakukan secara in-situ (di dalam habitat alaminya) seperti melalui perlindungan
jenis, pembinaan habitat dan populasinya, dan secara ex-situ (di luar habitat
alaminya), salah satu diantaranya melalui penangkaran. Kegiatan penangkaran
burung tidak hanya sekedar untuk kegiatan konservasi jenis dan peningkatan
populasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian dan
pengembangan wisata. Kegiatan penangkaran dapat dilakukan oleh lembaga
konservasi, baik pemerintah maupun swasta. Penagkaran burung harus
mempertimbangkan jenis burung dan status kelangkaannya, serta kesiapan
lingkungan penangkaran, baik lingkungan biologi (habitat hidup burung) maupun
lingkungan fisik (Seperti kandang / sangkar).
24
BAB IV
METODE PENELITIAN
4. 1 Waktu dan Lokasi
Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada 2330 Januari 2011, 27-29 Mei 2011 dan 4-10 Juli 2011 di Resort Tapos, Seksi PTN
Wilayah VI Tapos, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor, Balai
Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pengambilan data dilakukan
pada empat jalur yaitu Pasir Genteng, Pasir Banteng, Cibayawak, dan Tarsius
Pengambilan data dilakukan setiap hari dengan interval waktu pagi (07.00-09.00)
dan sore (15.30.-17.00).
4. 2 Peralatan
Alat yang digunakan selama pengamatan meliputi teropong binokuler, buku
catatan beserta alat tulisnya, papan jalan, buku panduan lapangan burung-burung
di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan, kamera digital, kompas, jas hujan
(raincoat)/ponco dan parang / golok.
4. 3 Cara Kerja
Metode yang digunakan adalah metode line transect dengan cara menyusuri
empat lokasi yaitu Cibayawak yang mewakili daerah datar dengan tipe vegetasi
pohon yang tidak terlalu besar, Pasir genteng yang merupakan daerah perbatasan
antara hutan konservasi dengan perkebunan warga dengan vegetasi umumnya
semak , Pasir Banteng yang mewakili daerah punggungan dengan tipe vegetasi
25
pohon berukuran besar dan Tarsius yang mewakili daerah lembah. Pengambilan
data dilakukan dengan metode VES (Visual Encounter Survey atau Survei
penjumpaan langsung) dengan rancangan transek/Transect Design (Heyer et al,
1994). Dimana objek yang diamati adalah objek yang dijumpai pada saat
pengamatan dilakukan baik yang terlihat langsung maupun hanya data vocalisasi
(suara). Sedangkan pengambilan data dilakukan mengikuti transek dengan jarak
maksimal 2 (dua) kilometer pada masing-masing jalur.
4. 4 Analisis Data
Analisis data yang diperoleh menggunakan rumus Indeks Shannon-Wiener
untuk menghitung indeks keanekaragaman (diversity index) jenis, indeks
keseragaman, dan indeks dominansi dihitung menurut Odum (1998) dengan
rumus sebagai berikut :
1. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener:
s
H’ = -  (ni/N) ln (ni/N)
i=1
Dengan tolak ukur jika H’ < 1,0 maka keanekaragaman jenis dikatakan
rendah, produktivitas sangat rendah sebagai indikasi adanya tekanan yang berat
dan ekosistem tidak stabil. Jika H’ di antara 1 dan 3,32 (1,0 < H’ < 3,322) maka
keanekaragaman jenisnya sedang, produktivitas cukup, kondisi ekosistem cukup
seimbang, tekanan ekologis sedang. Dan jika H’ > 3,322 maka keanekaragaman
jenis dapat dikatakan tinggi, stabilitas ekosistem mantap, produktivitas tinggi,
serta tahan terhadap tekanan ekologis.
26
2. Indeks keseragaman :
E = H’/Hmax
Dengan asumsi bahwa jika E=0, maka dapat dikatakan bahwa nilai
keseragamannya rendah atau masing-masing jenis burung memiliki kekayaan
jenis yang berbeda. Sedangkan jika E=1, maka artinya jenis-jenis burung yang ada
relatif seragam atau jumlah individu masing-masing jenis relatif sama.
3. Indeks dominansi :
s
D
=
∑
[ ni/N ]2
i=1
Dengan asumsi bahwa jika D=0, maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat
jenis yang mendominasi jenis lain. Sedangkan jika D=1, maka artinya ada salah
satu jenis yang mendominasi jenis lain pada komunitas burung di kawasan
konservasi Tapos (Odum, 1998).
Keterangan :
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener
E = Indeks keseragaman
D = Indeks dominansi simpson
ni = Jumlah individu genus ke-i
N = Jumlah total individu seluruh genera
Hmax= Indeks keanekaragaman maksimum
(= ln S, dimana S = Jumlah jenis)
27
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5. 1 Data Keanekaragaman Jenis Burung
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa masing-masing transek memiliki
jenis-jenis burung yang cukup beranekaragam. Terdapat beberapa burung yang
hanya ditemukan pada transek tertentu karena dipengaruhi oleh beberapa faktor di
antaranya adalah keadaan pakan yang sangat ditentukan oleh karakter vegetasi
pohon pakan transek tersebut. Perbedaan jenis-jenis burung yang ditemukan
akhirnya membuat adanya perbedaan indeks keanekaragaman, indeks dominansi
dan indeks kesamaan masing-masing transek, adapun indeks-indeks biologi
tersebut sebagaimana disajikan pada tabel 1.1 hingga 1.4.
5.1. 1 Transek Pasir Genteng
Tabel 1.1 Data keanekaragaman jenis burung transek Pasir Genteng
No.
Suku
Nama
Jumlah
Daerah
Individu
Elang hitam
H’
D
1
0,05
0,0001
1
0,05
0,0001
1
0,05
0,0001
Jenis
Ictinaetus
1
Acciptridae
malayensis
2
3
Spilornis
Elang ular
cheela
bido
Todirhampus
Cekakak
chloris
sungai
Acciptridae
Alcedinidae
28
Collocalia
4
Apodidae
Walet linchi
20
0,33
0,0483
Kekep babi
1
0,05
0,0001
Sepah gunung
4
0,13
0,0019
Dederuk Jawa
1
0,05
0,0001
Tekukur
2
0,08
0,0005
Cabe polos
2
0,08
0,0005
Cabe gunung
3
0,11
0,0011
Cabe Jawa
7
0,2
0,0059
2
0,08
0,0005
2
0,08
0,0005
Madu Jawa
3
0,11
0,0011
Madu sriganti
3
0,11
0,0011
linchi
Artamus
5
Artamidae
leucorhynchus
Pericrorotus
6
Camphepagidae
miniatus
Streptopelia
7
Columbidae
bitorguata
Streptopelia
8
Columbidae
chinensis
Dicaeum
9
Dicaeidae
concolor
Dicaeum
10
Dicaeidae
sanguinolentum
Dicaeum
11
Dicaeidae
trichileum
12
13
Ficedula
Sikatan
westermanni
belang
Rhipidura
Kipasan
javanica
belang
Muscicapidae
Muscicapidae
Aethopyga
14
Nectariinidae
mystacalis
15
Nectariinidae
Nectarinia
29
jugularis
Oriolus
16
Kepudang
Oriolidae
1
0,05
0,0001
Puyuh batu
1
0,05
0,0001
Caladi ulam
1
0,05
0,0001
Bondol Jawa
4
0,13
0,0019
30
0,37
0,1086
3
0,11
0,0011
1
0,05
0,0001
6
0,19
0,0043
2
0,08
0,0005
Cinenen Jawa
3
0,11
0,0011
Perenjak Jawa
2
0,08
0,0005
hutan
xanthonotus
Coturnix
17
Phasianidae
chinensis
Dendrocopus
18
Picidae
Macei
Lonchura
19
Ploceidae
leucogastroides
20
Lonchura
Bondol
punctulata
peking
Ploceidae
Passer
21
Ploceidae
Gereja Erasia
montanus
22
23
24
Ploceus
Manyar
philippinus
tempua
Pycnonotus
Cucak
aurigaster
kutilang
Pycnonotus
Merbah
goiavier
cerukcuk
Ploceidae
Pycnonotidae
Pycnonotidae
Orthotomus
25
Sylvidae
sepium
Prinia
26
Sylvidae
fleviventris
30
Pteruthius
27
Timaliidae
Ciu kunyit
2
0,08
0,0005
5
0,06
0,0030
aenobarbus
Zosterops
28
Kacamata
Zosteropidae
biasa
palpebrosus
H’=2,97
91
Total
D=0,18
E=0,89
Keterangan: H’= Indeks keanekargaman, E= Indeks kesamaan dan D= Indeks
dominansi
Pada transek Pasir genteng ditemukan 28 jenis burung yang secara
keseluruhan dalam 17 suku. Indeks keanekaragaman jenis (H’) burung pada
transek ini adalah 2,97, artinya keanekaragaman jenis burung di transek ini
tergolong sedang dengan produktivitas yang cukup. Hal ini didukung dengan
kondisi ekosistem yang cukup seimbang sehingga tekanan ekologis yang
didapatkan oleh burung-burung di kawasan ini adalah dalam kisaran menengah.
Indeks indeks keseragaman (E) jenis burung di transek ini adalah 0,89 yang
menandakan bahwa nilai keseragaman jenis-jenis burung di kawasan ini
cenderung rendah atau dapat dikatakan bahwa masing-masing jenis burung yang
ada memiliki kekayaan jenis yang berbeda-beda. Dan untuk indeks dominansi (D)
jenis burung di transek ini adalah 0,18 yang artinya pada transek ini tidak terdapat
jenis burung yang mendominasi jenis burung lainnnya secara jelas terlihat(Odum,
1998). Jenis burung yang ditemukan dengan jumlah terbanyak adalah jenis
Bondol peking (Lonchura punctulata), burung ini termasuk jenis burung
berukuran relatif kecil (11 cm), berwarna coklat. Tubuh bagian atas berwarna
31
coklat, bercoretan, dengan tangkai bulu putih, tenggorokan berw rna coklat
kemerahan. Tubuh bagian bawah berwarna putih, bersisik coklat pada dada dan
sisi tubuh. Burung remaja, tubuh bagian bawah berwarna kuning tua tanpa sisik.
Iris berwarna coklat, paruh berwarna kelabu kebiruan dan kaki berwarna hitam
kelabu (Gambar 2). Burung ini umum ditemukan di dataran rendah sampai dengan
ketinggian 1800 mdpl (Mackinnon, 2010). Pasir genteng sendiri merupakan
daerah yang tersusun atas pepohonan yang tidak terlalu lebat serta didominasi
oleh hamparan alang-alang yang luas di kanan dan kiri transek. Secara
keseluruhan, Pasir genteng merupakan daerah terbuka yang didominasi oleh
semak-semak dan tanah lapang sehingga dari suatu titik kita dapat mengamati
daerah ini secara keseluruhan. Kondisi vegetetasi seperti ini yang kemudian
mendukung kehidupan jenis burung tersebut, walaupun jumlahnya paling banyak
akan tetapi belum dikatakan mendominasi jenis burung lainnya sesuai asumsi
pada indeks dominansi. Selain mendukung kehidupan jenis burung, keadaan
vegetasi seperti inilah yang menyebabkan pengambilan data dapat dilakukan
dengan mudah di suatu titik karena tak terhalang oleh pepohonan, oleh karenanya
transek pasir genteng ini sangat cocok untuk melakukan pengamatan burung
dengan metode plot.
Gambar 2. Burung Bondol peking (Lonchura punctulata)
32
(Sumber: MackKinnon, 2010)
Suku-suku burung yang ditemukan pada transek ini meliputi suku
Nectariinidae (Burung madu), Artamidae (Kekep), Apodidae (Walet), Phasianidae
(Puyuh), Picidae (Pelatuk), Dicaeidae (Burung cabe), Muscicapidae (Sikatan dan
Kipasan), Acciptridae (Elang), Ploceidae (Bondol), Oriolidae (Kepudang),
Sylviidae (Burung pengicau), Camphepagidae (Sepah), Timaliidae (Burung
pengoceh), Pycnonotidae (Cucak-cucakan), Columbidae (Merpati-merpatian),
Alcedinidae (Raja udang), dan Zosteropidae (Burung kacamata).
5.1. 2 Transek Pasir Banteng
Tabel 1.2 Data keanekaragaman jenis burung transek Pasir Banteng
Nama
No.
Suku
Jumlah
Jenis
H’
D
Daerah
Individu
Elang hitam
1
0,13
0,0017
Kekep babi
1
0,13
0,0017
1
0,13
0,0017
Takur tohtor
1
0,13
0,0017
Cabe gunung
2
0,2
0,0069
Ictinaetus
1
Acciptridae
malayensis
Artamus
2
Artamidae
leucohynchus
3
Pericrocotus
Sepah
miniatus
gunung
Camphepagidae
Megalaima
4
Capitonidae
armillaris
Dicaeum
5
Dicaeidae
sanguinolent
33
um
Dicaeum
6
Dicaeidae
Cabe Jawa
1
0,13
0,0017
1
0,13
0,0017
Sikatan ninon
1
0,13
0,0017
Madu sriganti
1
0,13
0,0017
Caladi ulam
1
0,13
0,0017
Caladi tilik
2
0,2
0,0069
1
0,13
0,0017
1
0,13
0,0017
3
0,27
0,0156
2
0,11
0,0069
1
0,13
0,0017
trohileum
Dicrurus
7
Srigunting
Dicruridae
macrocerus
hitam
Eumyas
8
Muscicapidae
indigo
Nectarinia
9
Nectariinidae
jugularis
Dendrocopus
10
Picidae
macei
Picoides
11
Picidae
moluccensis
12
Pycnonotus
Cucak
bimaculatus
gunung
Pycnonotidae
Kukuk
13
Strigidae
Strix seloputo
seloputo
Orthotomus
14
Sylvidae
Cinenen Jawa
sepium
15
16
Prinia
Perenjak
flaviventris
Jawa
Harpactes
Luntur
Sylvidae
Trogonidae
reinwardtii
gunung
34
Brachypterix
17
18
Cingcoang
Turdidae
leucophrys
coklat
Zosterops
Kacamata
Zosteropidae
palpebrosus
1
0,13
0,0017
2
0,2
0,0069
biasa
H’=2,67
24
Total
D=0,07
E=0,92
Keterangan: H’= Indeks keanekargaman, E= Indeks kesamaan dan D= Indeks
dominansi
Pada transek Pasir banteng ditemukan 18 jenis burung yang secara
keseluruhan tergolong ke dalam 15 suku. Indeks keanekaragaman jenis (H’)
burung pada transek ini adalah 2,67, artinya seperti yang ditemukan pada transek
pasir genteng, keanekaragaman jenis burung di transek ini tergolong sedang
dengan produktivitas yang cukup. Hal ini didukung dengan kondisi ekosistem
yang cukup seimbang sehingga tekanan ekologis yang didapatkan oleh burungburung di kawasan ini adalah dalam kisaran menengah. Untuk indeks
keseragaman (E) jenis burung di transek ini adalah 0,92 yang menandakan bahwa
nilai keseragaman dari jenis-jenis burung di kawasan ini cenderung rendah atau
dapat dikatakan bahwa masing-masing jenis burung yang ada memiliki kekayaan
jenis yang berbeda-beda. Dan untuk indeks dominansi (D) jenis burung di transek
ini adalah 0,07 yang menunjukkan bahwa pada transek ini tidak terdapat jenis
burung yang mendominasi jenis burung lainnnya secara jelas terlihat(Odum,
1998). Adapun jenis burung yang ditemukan dengan jumlah terbanyak adalah
Cinenen Jawa (Orthotomus sepium), burung ini termasuk burung berukuran kecil
35
(11 cm), berwarna kelabu, berkepala merah karat. Burung jantan memiliki
mahkota, kerongkongan, dan pipi merah karat, bulu yang lain berwrana abu-abu
kehijauan, perut putih tersapu kuning. Sedangkan burung betinamemiliki warna
kepala tidak semerah jantan, dagu dan tenggorokan atas putih. Perbedaannya
dengan Cinenen kelabu ialah warna punggung lebih zaitun, sisi tubuh lebih
kuning, tidak begitu kelabu. Iris berwarna coklat kemerahan, paruh coklat dan
kaki merah muda. (Gambar 3). Burung ini merupakan burung endemik Jawa dan
Bali dan dapat ditemukan di dataran rendah sampai dengan ketinggian 1500 mdpl
(Mackinnon 2010). Bila dilihat dari kondisi vegetasinya, daerah ini didominasi
oleh pepohonan yang tinggi dan rimbun serta pada titik tertentu dijumpai daerah
terbuka yang tidak terlalu luas. Hal ini tentu mempengaruhi jenis-jenis burung
yang hidup di kawasan tersebut. Berdasarkan kondisi vegetasinya, dapat
diperkirakan bahwa burung-burung yang mendominasi kawasan ini adalah jenisjenis burung petengger dan burung-burung semak belukar yang biasanya
beraktivitas di kanan dan kiri transek.
Gambar 3. Burung Cinenen Jawa (Orthotomus sepium)
(Sumber: MackKinnon, 2010)
36
Sebagian dari jenis-jenis burung yang ditemukan pada transek ini ditemukan
juga pada transek Pasir genteng. Tetapi ada beberapa suku yang tidak ditemukan
pada transek tersebut yaitu suku yaitu Turdidae (Cingcoang), Dicruridae
(Srigunting), Trogonidae (Luntur), Capitonidae (Takur), dan Strigidae (Burung
hantu/kukuk).
5.1. 3 Transek Cibayawak
Tabel 1.3 Data keanekaragaman jenis burung transek Cibayawak
Nama
No.
Suku
Jumlah
Jenis
H’
D
Daerah
Individu
Elang hitam
1
0,08
0,0003
Elang ular bido
1
0,08
0,0003
Walet linchi
10
0,31
0,0319
Sepah kecil
1
0,08
0,0003
Sepah gunung
3
0,15
0,0027
Takur tohtor
3
0,15
0,0027
Cabe gunung
7
0,27
0,0156
Ictinaetus
1
Acciptridae
malayensis
Spilornis
2
Acciptridae
cheela
Collocalia
3
Apodidae
linchi
Pericrocotus
4
Camphepagidae
cinnamomeus
Pricrocotus
5
Camphepagidae
miniatus
Megalaima
6
Capitonidae
armillaris
7
Dicaeidae
Dicaeum
37
sanguinolentu
m
Dicaeum
8
Dicaeidae
Cabe Jawa
8
0,28
0,0204
Sikatan ninon
2
0,13
0,0013
Sikatan belang
2
0,13
0,0013
1
0,08
0,0003
Madu gunung
1
0,08
0,0003
Madu sriganti
1
0,08
0,0003
Caladi ulam
1
0,08
0,0003
Caladi tilik
3
0,15
0,0027
Cucak gunung
1
0,08
0,0003
Cinenen Jawa
2
0,13
0,0013
trochileum
Eumyas
9
Muscicapidae
sanguinolentu
m
Ficedula
10
Muscicapidae
westermanni
11
Rhipidura
Kipasan
javanica
belang
Muscicapidae
Aethopyga
12
Nectariinidae
eximia
Nectarinia
13
Nectariinidae
jugularis
Dendrocopus
14
Picidae
macei
Picoides
15
Picidae
moluccensis
Pycnonotus
16
Pycnonotidae
aurigaster
Orthotomus
17
Sylvidae
sepium
38
Prinia
18
Sylvidae
Perenjak Jawa
2
0,13
0,0013
2
0,13
0,0013
3
0,15
0,0027
2
0,13
0,0013
polychroa
Brachipteryx
19
20
21
Cingcoang
Turdidae
leucophrys
coklat
Zosterops
Kacamata
montanus
gunung
Zosterops
Kacamata
palpebrosus
biasa
Zosteropidae
Zosteropidae
H’=2,88
56
Total
D=0,09
E=0,94
Keterangan: H’= Indeks keanekargaman, E= Indeks kesamaan dan D= Indeks
dominansi
Pada transek Cibayawak ditemukan 21 jenis burung yang secara keseluruhan
digolongkan ke dalam 12 suku. Indeks keanekaragaman jenis (H’) burung pada
transek ini adalah 2,88 yang artinya seperti yang ditemukan pada transek pasir
genteng dan Pasir Banteng, keanekaragaman jenis burung di transek ini tergolong
sedang dengan produktivitas yang cukup. Hal ini didukung dengan kondisi
ekosistem yang cukup seimbang sehingga tekanan ekologis yang didapatkan oleh
burung-burung di kawasan ini adalah dalam kisaran menengah. Untuk indeks
keseragaman (E) jenis burung di transek ini adalah 0,94 yang berarti bahwa nilai
keseragaman dari jenis-jenis burung di kawasan ini adalah cenderung rendah atau
dapat dikatakan bahwa masing-masing jenis burung yang ada memiliki kekayaan
jenis yang berbeda-beda pada setiap jenisnya. Sedangkan untuk indeks dominansi
39
(D) jenis burung di transek ini adalah 0,09, hal ini menunjukkan bahwa pada
transek Cibayawak tidak terdapat jenis burung yang mendominasi jenis burung
lainnnya (Odum, 1998). Jenis burung yang ditemukan dengan jumlah terbanyak
adalah jenis Walet linchi (Collocalia linchi), burung ini merupakan jenis burung
berukuran kecil (10 cm). Tubuh bagian atas berwarna hitam kehijauan buram,
tubuh bagian bawah berwarna abu-abu jelaga, perut keputih-putihan, ekor sedikit
bertakik. Iris berwarna coklat tua, paruh dan kaki berwarna hitam (Gambar 4).
Jenis walet ini merupakan walet yang mudah ditemukan disemua tipe ketinggian.
Gambar 4. Burung Walet linchi (Collocalia linchi)
(Sumber: MackKinnon, 2010)
Sebagian besar jenis burung yang ditemukan di transek ini juga dapat
ditemukan di transek Pasir banteng. Jenis-jenis burung yang ditemukan di transek
ini seluruhnya dapat ditemukan di transek Pasir genteng, artinya bahwa transek
Pasir genteng memiliki kekayaan jenis burung yang lebih tinggi dan kompleks
dibandingkan dengan transek ini. Meskipun di atas disebutkan bahwa transek ini
berdekatan dengan transek Cibayawak akan tetapi terdapat perbedaan jenis burung
yang ditemukan di kedua transek tersebut. Hal ini terjadi karena meskipun
jaraknya berdekatan tetapi keduanya mempunyai tipe vegetasi yang berbeda di
40
mana transek ini terdiri dari pepohonan lebat sedangkan transek Cibayawak
merupakan transek dengan tipe track jurang. Transek Cibayawak sendiri
merupakan kawasan yang mewakili topografi lereng bukit di mana Jalur ini jika
dibandingkan dengan Jalur Pasir Banteng dan Tarsius lebih terbuka vegetasinya
karena pada beberapa bagian kita akan dengan mudah melihat sisi lain bagian
kawasan. Dengan demikian sering dijumpai burung-burung di kawasan ini pada saat
terbang, namun banyak pula ditemukan burung-burung yang aktivitasnya bertengger
sambil mencari pakan.
5.1. 4 Transek Tarsius
Tabel 1.4 Data keanekaragaman jenis burung transek Tarsius
Nama
No.
Suku
Jumlah
Jenis
H’
D
Daerah
Individu
Elang hitam
1
0,11
0,0003
1
0,08
0,0003
Sepah gunung
3
0,15
0,0024
Takur tohtor
1
0,08
0,0003
Tekukur biasa
1
0,08
0,0003
Ictinaetus
1
Acciptridae
malayensis
Alcedo
2
Raja udang
Alcedinidae
meninting
meninting
Pericrocotus
3
Camphepagidae
miniatus
Megalaima
4
Capitonidae
armillaris
Sterptopelia
5
Columbidae
chinensis
41
Cocomantis
6
Cuculidae
Wiwik kelabu
1
0,08
0,0003
Cabe Jawa
6
0,22
0,0097
Srigunting hitam
2
0,11
0,0011
Sikatan belang
1
0,08
0,0003
Kipasan bukit
1
0,08
0,0003
Kipasan belang
1
0,08
0,0003
Madu sriganti
1
0,08
0,0003
1
0,11
0,0003
Caladi tilik
1
0,08
0,0003
Bondol Jawa
3
0,15
0,0024
Bondol peking
3
0,15
0,0024
Gelatik Jawa
1
0,08
0,0003
merulinus
Dicaeum
7
Dicaeidae
trochileum
Dicrurus
8
Dicruridae
macrocerus
Ficedula
9
Muscicapidae
westermanni
Rhipidura
10
Muscicapidae
euryura
Rhipidura
11
Muscicapidae
javanica
Nectarinia
12
Nectariinidae
jugularis
Ayam hutan
13
Phasianidae
Gallus varius
hijau
Picoides
14
Picidae
moluccensis
Lonchura
15
Ploceidae
leucogastroides
Lonchura
16
Ploceidae
punctulata
17
Ploceidae
Padda
42
oryzivora
Passer
18
Ploceidae
Gereja Erasia
5
0,20
0,0067
Cucak kutilang
1
0,08
0,0003
Cucak gunung
2
0,11
0,0011
Cinenen Jawa
4
0,17
0,0043
Perenjak Jawa
2
0,11
0,0011
Perenjak coklat
1
0,08
0,0003
1
0,08
0,0003
1
0,08
0,0003
4
0,17
0,0043
8
0,27
0,0171
montanus
Pycnonotus
19
Pycnonotidae
aurigaster
Pycnonotus
20
Pycnonotidae
bimaculatus
Orthotomus
21
Sylvidae
sepium
Prinia
22
Sylvidae
flaviventris
Prinia
23
Sylvidae
polychroa
Ciung-mungkal
24
Timaliidae
Cochoa azurea
Jawa
Pteruthius
25
Timaliidae
Ciu kunyit
aenobarbus
26
Brachypteryx
Cingcoang
leucophrys
coklat
Turdidae
Zosterops
27
Zosteropidae
Kacamata biasa
palpebrosus
H’=3,15
61
Total
D=0,06
E=0,96
43
Keterangan: H’= Indeks keanekargaman, E= Indeks kesamaan dan D= Indeks
dominansi
Pada transek Tarsius ditemukan 27 jenis burung yang secara keseluruhan
terhimpun ke dalam 18 suku. Indeks keanekaragaman jenis (H’) burung pada
transek ini adalah 3,15, artinya seperti yang ditemukan pada transek pasir genteng,
Pasir Banteng, dan Cibayawak keanekaragaman jenis burung di transek ini
tergolong sedang dengan produktivitas yang cukup besar. Hal ini didukung
dengan kondisi ekosistem yang cukup seimbang sehingga tekanan ekologis yang
didapatkan oleh burung-burung di kawasan ini adalah dalam kisaran menengah.
Untuk indeks keseragaman (E) jenis burung di transek ini adalah 0,96 yang
menunjukkan bahwa nilai keseragaman dari jenis-jenis burung di kawasan ini
adalah rendah atau dapat dikatakan pula bahwa masing-masing jenis burung yang
ada memiliki kekayaan jenis yang berbeda-beda. Sedangkan indeks dominansi (D)
jenis burung di transek ini adalah 0,06 yang menunjukkan bahwa pada kawasan
ini tidak terdapat jenis burung yang mendominasi jenis burung lain (Odum, 1998).
Jenis burung yang ditemukan dengan jumlah paling banyak adalah Kacamata
biasa (Zosterops palpebrosus), burung ini merupakan jenis burung berukuran
kecil (11 cm), berwarna hijau kekuningan. Ras buxtoni dan auriventer yang
terdapat di ujung paling barat Jawa, Kalimantan, dan Sumatera sangat mirip
Kacamata gunung. Perbedaannya dengan jenis tersebut yaitu adanya garis kuning
sempit di bawah perut tengah, paha berwarna kelabu muda. Ras melanurus di
tempat lain di Jawa memiliki tubuh bagian bawah berwarna kuning, ada bercak
kuning di atas paruh, tubuh bagian atas hijau-zaitun, tenggorokan dan tungging
44
kuning, hanya sedikit atau sama sekali tidak ada warna kuning di atas kekang. Iris
berwarna
coklat-kuning, paruh coklat tua, dan kaki berwarna kelabu-zaitun
(Gambar 5). Burung ini umum ditemukan di dataran rendah sampai dengan
ketinggian 1400 mdpl (Mackinnon, 2010).
Gambar 5. Burung Kacamata biasa (Z. Palpebrosus)
(Sumber: MackKinnon, 2010)
Keadaan vegetasi Transek Tarsius sendiri merupakan kumpulan vegetasi
yang tumbuh pada wilayah lembah dengan tipe pohon besar. Adapun untuk taksa
burung yang ditemukan di transek ini tetapi tidak ditemukan di transek lainnya
adalah Cuculidae (Wiwik).
5. 2 Suku-suku burung yang ditemukan di kawasan konservasi Tapos
5. 2. 1 Nectariniidae
Nectariinidae (Burung madu), merupakan suku burung tropis dunia lama
yang berukuran kecil dan berwarna warni dengan paruh panjang melengkung.
Pada umumnya merupakan pemakan nektar, serangga dan sari bunga. Burungburung dala suku ini sangat aktif dan bergerak terus dalam mencari makan.
Burung ini juga berperan sebagai media penyerbukan bagi bunga-bunga tropis,
dengan bentuknya yang menyerupai terompet dan berwarna merah-jingga. Sarang
45
burung madu bergantung di atas pohon yang terbuat dari rumput-rumputan dan
bahan lunak lainnya.
5. 2. 2 Artamidae
Artamidae (Kekep), merupakan suku kecil yang biasanya terdapat di
australasia, merupakan burung berukuran sedang dan pemakan serangga.
Kebiasaan burung ini adalah menangkap serangga sambil terbang melayang dan
melingkar mirip dengan burung layang-layang sejati walaupun sebenarnya tidak
berkerabat. Burung ini cenderung berkelompok, berkerumun dan berdempetan
pada tenggeran tinggi terbuka. Sarang burung ini berbentuk mangkuk sederhana
yang dibuat di cabang pohon.
5. 2. 3 Apodidae
Apodidae (Walet), merupakan suku burung pemakan serangga, terbang cepat,
dan teesebar luas di dunia (kosmopolit). Sepintas terlihat menyerupai burung
layang-layang tetapi justru lebih dekat kekeabatannya dengan burung colibri di
Amerika. Burung ini memiliki ciri khas sayap panjang dan runcing yang
menunjuk ke belakang saat terbang, dan memiliki kaki berukuran kecil. Biasanya
burung ini beristirahat dengan bergantungan di dinding karang dengan kukunya
zang tajam. Bersarang di gua, lubang pohon, atau di bawah langit-langit rumah.
Sarang burung ini berbentuk mangkok, terbuat dari lumpur atau air ludahnya
(pada beberapa jenis). Burung ini mempunyai kebiasaan mencari makan sambil
terbang, menggunakan mulut yang lebar untuk menangkap serangga
5. 2. 4 Phasianidae
46
Phasianidae (Puyuh), merupakan suku burung yang tersebar luas di seluruh
dunia, hidupnya di permukaan tanah. Burung ini mempunyai sayap yang pendek
dan membulat serta ekor pendek. Burung ini bersarang di tanah tetapi tidur di atas
pohon. Biasanya burung ini terbang ragu-ragu dan biasanya hanya untuk jarak
pendek, tetapi merupakan pelari yang baik
5. 2. 5 Picidae
Picidae (Pelatuk) merupakan burung yang beranggota banyak dan dikenal
dengan baik. Merupakan burung berukuran sedang dan mempunyai paruh yang
panjang dan kuat untuk melubangi kayu. Kaki pada burung ini beradaptasi untuk
bergayut pada pohon hanya dengan dua jari ke depan dan dua lainnya ke
belakang. Bulu ekornya yang kaku digunakan sebagai penopang keseimbangan
ketika melubangi kayu untuk bersarang. Burung ini mempunyai kebiasaan terbang
membungkuk dan tidak tetap, serta bersuara keras tidak selaras. Suara ini
biasanya terdengar bergenderang untuk berkomunikasi
5. 2. 6 Dicaeidae
Dicaeidae (Burung cabe), merupakan burung yang berukuran sangat kecil
yang pada umumnya mempunyai warna bulu yang terang. Kelompok burung ini
hidup di puncak-puncak pohon dan memakan serangga serta buah-buahan.
Biasanya burung ini hidup di tempat-tempat yang terdapat kembang benalu seperti
kebun-kebun, hutan mangroove dan semak karena burung ini merupakan media
penyerbukan bagi tanaman tersebut. Dibandingkan dengan kelompok lainnya,
kelompok ini lebih menyukai tinggal di hutan. Sarangnya berbentuk kantung yang
47
indah tergantung pada ranting berdaun dan terbuat dari serat dedaunan serta
rerumputan yang dijalin oleh jaring laba-laba
5. 2. 7 Muscicapidae
Muscicapidae (Sikatan dan Kipasan) merupakan suku burung yang sangat
besar di dunia lama dan beraneka ragam. Burung ini merupakan pemakan
serangga-serangga kecil. Burung ini mempunzai kepala yang bulat, paruh runcing
berpangkal lebar, dan berkaki kecil dengan tungkai pendek. Sebagian besar
burung ini mencari makan dalam kelompok campuran dengan jenis lain. Sarang
burung ini berbentuk mangkuk, dilapisi rambut, dan dihiasi lumut
5. 2. 8 Acciptridae
Acciptridae (Elang), merupakan suku burung agak besar sampai sangat besar
dan merupakan burung pemangsa. Burung ini mempunyai paruh berbentuk kail
dan kuat untuk mencabik tubuh mangsanya. Kelompok burung ini membuat
sarang besar dari batang kayu yang menempel dan menjulang di pohon atau batu
karang
5. 2. 9 Ploceidae
Ploceidae (Bondol) merupakan suku yang sangat besar populasinya dan
tersebar di Australia, Asia, Afrika, dan Eropa. Burung ini berukuran kecil dengan
ekor pendek, dan paruh yang tebal-pendek digunakan untuk memakan biji.
Burung ini mempunyai kebiasaan hidup berkelompok dan bergerombol besar.
Kebiasaan tersebut menjadikan burung ini menjadi hama bagi lahan pertanian
48
5. 2. 10 Oriolidae
Oriolidae (Kepudang) merupakan suku kecil terdiri dari burung-burung kekar,
bulunya berwarna-warni dan berparuh kuat. Burung ini merupakan pemakan buah
dan serangga. Sarang burung ini berbentuk mangkuk yang tersulam rapi terdiri
dari akar-akar dan serat-serat yang didukung oleh ranting dan bergantung di
percabangan
pohon.
Burung
ini
bersuara
merdu
dan
terbang
santai
menggelombang
5. 2. 11 Sylviidae
Sylviidae (Burung pengicau), merupakan suku besar burung dunia lama,
berukuran kecil dan mempunyai pergerakan yang lincah. Burung ini merupakan
pemakan serangga dengan paruh sempit menajam. Sarang burung ini pada
umumnya terbuat dari daun berbentuk mangkuk atau kubah yang rapih.
Kebanyakan burung ini berwarna bulu tidak menarik dan sulit diidentifikasi di
lapangan
5. 2. 12 Camphepagidae
Camphepagidae (Sepah), merupakan suku burung dunia lama yang
mempunyai bulu yang halus dan lembut serta kaki yang pendek. Kebanyakan
jenis burung ini bersuara ribut, mencolok, dan hidup berkelompok pada tajuk
pohon. Burung ini merupakan burung pemakan serangga, tetapi pada beberapa
jenis merupakan pemakan buah
5. 2. 13 Timaliidae
Suku Timaliidae (Burung pengoceh) merupakan suku besar , sulit diuraikan
karena mencakup banyak kelompok burung yang beraneka ragam. Burung ini
49
umumnya ribut, suka berkelompok dan kebanyakan mempunyai ocehan yang
sangat resik. Banyak dari burung jenis ini aktif di atas atau dekat tanah,
mempunyai sarang berbentuk mangkuk di pohon-pohon atau semak
5. 2. 14 Pycnonotidae
Pycnonotidae (Cucak-cucakan) merupakan suku besar di Asia-Afrika,
mempunyai leher dan sayap yang pendek, ekor agak panjang, dan paruh ramping.
Merupakan burung pemakan buah-buahan serta serangga. Burung ini mempunzai
kicauan yang ramai serta sangat musical pada beberapa jenis. Suku burung ini
cenderung hidup di pohon dan membuat sarang berbentuk mangkuk yang tidak
rapi, bukan merupakan kelompok burung migran
5. 2. 15 Columbidae
Columbidae (Merpati-merpatian), merupakan suku burung yang tersebar di
seluruh dunia, makanan utama burung ini adalah buah-buahan dan biji-bijian.
Sarang burung ini terbuat dari ranting-ranting yang tampak rapuh untuk
meletakkan telur di dalamnya. Kicauan burung ini merupakan irama yang
berulang-ulang dan ketika terbang menghasilkan suara berbunyi khas
5. 2. 16 Alcedinidae
Alcedinidae (Raja udang) merupakan kelompok burung berwarna terang,
dengan kaki dan ekor yang pendek, kepala besar dan paruh yang kuat. Burung ini
merupakan pemakan serangga atau vertebrata kecil, pada beberapa jenis
merupakan pemakan ikan. Sarang burung ini dibuat di tanah, batang pohon, tebing
sungai, atau sarang rayap, telur burung ini sendiri berwarna putih. Penyebaran
burung ini luas tersebar di seluruh dunia
50
5. 2. 17 Zosteropidae
Zosteropidae (Burung kacamata) merupakan suku besar yang tersebar di
Asia, Afrika, dan Australia. Burung ini disebut burung kacamata dikarenakan
mempunyai lingkar bulu keperakan di sekitar matanya yang menyerupai
kacamata. Burung ini berukuran tubuh kecil, bentuk paruhnya kecil, ramping dan
melengkung, bersayap pendek serta kaki yang pendek dan kuat. Pergerakan
burung ini sangat gesit, sering membentuk kelompok campuran dengan burung
lain, aktivitas utamanya ialah berterbangan di antara puncak pohon untuk mencari
bebuahan kecil dan serangga. Sarang burung ini berbentuk mangkuk yang bersih
dan rapi, ditempatkan pada percabangan pohon
5. 2. 18 Turdidae
Turdidae (Cingcoang), merupakan suku burung yang populasinya sangat
besar dan tersebar cukup luas. Karakter warna pada burung ini sangat bervariasi,
ukuran tubuhnya sedang, berkepala bulat dengan kaki agak panjang, paruh
ramping dan tajam, serta bersayap lebar. Makanan burung ini berupa serangga,
cacing, dan invertebrata lainnya, serta buah-buahan kecil. Sarang burung ini
berbentuk mangkuk, berserabut dan beberapa diperkuat dengan lumpur, serta
dihiasi lumut. Sebagian besar jenis burung ini mempunyai kicauan yang merdu
5. 2. 19 Dicruridae
Dicruridae (Srigunting), merupakan suku burung yang jumlahnya kecil,
tersebar luas di Asia, Afrika, Australia, dan Kepulauan Solomon. Karakter bulu
burung ini sebagian besar berwarna hitam, mempunyai paruh yang kuat, dan ekor
yang terbelah. Makanan burung ini adalah serangga, kebiasaan makan burung ini
51
adalah memburu serangga di udara dari cabang pohon tempat ia bertengger.
Sarang burung ini berbentuk mangkuk yang ditenun dengan rapi, ditempatkan
pada cabang bawah yang menggarpu
5. 2. 20 Trogonidae
Trogonidae (Luntur) merupakan suku yang terdiri dari burung-burung
bertubuh besar dan berwarna bulu mencolok. Burung ini mempunyai paruh, kaki,
dan sayap yang pendek, ekor yang panjang, dan bulu-bulu yang lunak serta halus.
Telur burung ini berwarna kuning tua yang diletakkan di sarang dalam lubang
pohon. Makanan burung ini adalah serangga, kebiasaan makannya adalah berburu
serangga dari cabang yang rendah di hutan yang lebat
5. 2. 21 Capitonidae
Capitonidae (Takur) merupakan suku burung yang jumlahnya kecil,
mempunyai karakter bulu berwarna-warni, paruhnya berukuran besar dan kuat.
Burung ini mempunyai kebiasaan yang sama dengan pelatuk yaitu membuat
lubang di pohon untuk bersarang. Makanan burung ini yaitu buah-buahan, biji,
dan bunga, terutama menyukai buah ara kecil. Hampir semua jenis burung ini
mempunyai kebiasaan duduk diam untuk waktu yang lama di puncak pohon,
mengeluarkan suara yang monoton yang keras dan berulang
5. 2. 22 Strigidae
Strigidae (Burung hantu/kukuk) merupakan suku burung yang tersebar luas di
seluruh dunia, mempunyai ciri khas berupa mata berukuran besar yang mengarah
ke depan dan leher yang bisa diputar ke belakang. Burung ini merupakan burung
yang aktif di malam hari (Nocturnal), dengan suara yang khas dan terkesan
52
angker. Telur burung ini berwarna putih, diletakkan pada sarang yang berupa
lubang pada pohon, jika pada lingkungan domestik sarangnya biasa ditemukan
pada lubang bangunan
5. 2. 23 Cuculidae
Cuculidae (Wiwik), yaitu merupakan suku burung-burung pemakan serangga,
mempunyai tubuh berukuran ramping memanjang, dilengkapi dengan sayap dan
ekor yang panjang serta paruh yang melengkung serta kuat untuk menangkap
serangga
yang
menjadi
pakan
utamanya.
Beberapa
jenis
burung
ini
mengutamakan ulat kupu-kupu sebagai pakan.
5. 3 Jenis-jenis burung yang ditemukan di kawasan konservasi Tapos
Tabel 1.5. Jenis-jenis burung di kawasan konservasi Tapos
Status
No.
Taksa
Status
Perlindungan
Nama Daerah
Konservasi Perdagangan
UU
1
Aethopyga eximia
Madu gunung
LC
-
√
2
Aethopyga mystacalis
Madu Jawa
LC
-
√
3
Alcedo meninting
LC
-
√
Kekep babi
LC
-
-
Cingcoang coklat
LC
-
√
VU
-
-
Raja udang
meninting
Artamus
4
leucorhynchus
Brachipteryx
5
leucophrys
Ciung-mungkal
6
Cochoa azurea
Jawa
53
7
Cocomantis merulinus
Wiwik kelabu
LC
-
-
8
Collocalia linchi
Walet linchi
LC
-
-
9
Coturnix chinensis
Puyuh batu
LC
-
-
10
Dendrocopus macei
Caladi ulam
LC
-
-
11
Dicaeum concolor
Cabe polos
LC
-
-
Cabe gunung
LC
-
-
Dicaeum
12
sanguinolentum
13
Dicaeum trochileum
Cabe Jawa
LC
-
-
14
Dicrurus macrocerus
Srigunting hitam
LC
-
-
Sikatan ninon
LC
-
-
Sikatan belang
LC
-
-
LC
-
-
Eumyas
15
sanguinolentum
16
Ficedula westermanni
17
Gallus varius
Ayam hutan
hijau
18
Harpactes reinwardtii
Luntur gunung
EN
-
-
19
Ictinaetus malayensis
Elang hitam
LC
App II
√
Bondol Jawa
LC
-
-
Lonchura
20
leucogastroides
21
Lonchura punctulata
Bondol peking
LC
-
-
22
Megalaima armillaris
Takur tohtor
LC
-
-
23
Nectarinia jugularis
Madu sriganti
LC
-
√
24
Oriolus xanthonotus
Kepudang hutan
NT
-
-
54
25
Orthotomus sepium
Cinenen Jawa
LC
-
-
26
Padda oryzivora
Gelatik Jawa
LC
-
-
27
Passer montanus
Gereja Erasia
LC
-
-
Sepah kecil
LC
-
-
Pericrocotus
28
cinnamomeus
29
Pericrorotus miniatus
Sepah gunung
LC
-
-
30
Picoides moluccensis
Caladi tilik
LC
-
-
31
Ploceus philippinus
Manyar tempua
LC
-
-
32
Prinia polychroa
Perenjak Jawa
LC
-
-
33
Pteruthius aenobarbus
Ciu kunyit
LC
-
-
34
Pycnonotus aurigaster
Cucak kutilang
LC
-
-
Cucak gunung
LC
-
-
Pycnonotus
35
bimaculatus
36
Pycnonotus goiavier
Merbah cerukcuk
LC
-
-
37
Rhipidura euryura
Kipasan bukit
LC
-
-
38
Rhipidura javanica
Kipasan belang
LC
-
√
39
Spilornis cheela
Elang ular bido
LC
App II
√
40
Sterptopelia chinensis
Tekukur biasa
LC
-
-
41
Streptopelia bitorguata
Dederuk Jawa
LC
-
-
42
Streptopelia chinensis
Tekukur
LC
-
-
43
Strix seloputo
Kukuk seloputo
LC
-
-
44
Todirhampus chloris
Cekakak sungai
LC
-
-
55
Kacamata
45
Zosterops montanus
LC
-
-
LC
-
-
gunung
46
Zosterops palpebrosus
Kacamata biasa
Keterangan: LC= Least Concern, EN= Endangered, Vu= Vulnereable, NT= Near,
Threatened, App II= Appendix II, - = Tidak, √ = Ya
Secara keseluruhan, selama pengamatan yang dilakukan telah berhasil
mengidentifikasi sebanyak 46 jenis burung dari seluruh spot pengamatan ataupun
transek yang ada di kawasan konservasi Tapos. Sebagian besar jenis burung yang
ditemukan di kawasan konservasi ini memiliki status konservasi Least Concern
(LC) atau beresiko rendah berdasarkan kriteria keterancaman IUCN dalam Balen
(2010). Selain itu ditemukan pula jenis burung yang memiliki status konservasi
Near Threatened (NT) atau mendekati terancam punah, yaitu jenis burung
Kepudang hutan (Oriolus chinensis), bila dilihat dari karakter morfologi serta
potensi yang dimilikinya burung ini sangat berpotensi untuk dijadikan hewan
peliharaan. Oleh karena itu, jika tidak dilakukan upaya yang lebih mendalam
dikhawatirkan keberadaan jenis burung ini di alam liar semakin berkurang. Selain
dua status konservasi yang telah disebutkan di atas, pada kawasan ini ditemukan
pula jenis burung yang mempunyai status konservasi Vulnerable (VU) atau rentan
yaitu jenis burung Ciung-Mungkal Jawa (Cochoa azurea), dengan demikian perlu
dilakukan upaya perlindungan tersendiri terhadap jenis burung ini agar tidak
menuju ke keadaan yang lebih buruk dari saat ini. Dan terakhir yang paling
mengkhawatirkan adalah pada khawasan ini ditemukan jenis burung yang status
konservasinya Endangered (EN) atau genting yaitu Luntur gunung (Harpactes
56
reinwardtii), oleh karena itu sangat perlu dilakukan upaya konsrervasi yang lebih
mendalam terhadap jenis-jenis seperti ini karena mungkiin masih ada jenis-jenis
lain yang status konservasinya sama dengan jenis tersebut agar keberadaan jenis
burung ini tetap terjaga di kawasan konservasi Tapos.
Selain dari status konservasinya berdasarkan kriteria IUCN, pada kawasan ini
ditemukan pula jenis burung yang status perdagangannya masuk dalam kriteria
CITES yaitu Appendix dua pada jenis Elang hitam (Ictinaetus malayensis ) dan
Elang ular bido (Spilornis cheela), yang berarti kedua jenis ini dapat terancam
kepunahan apabila diperdagangkan secara bebas (gambar 6). Pada kawasan
konservasi ini ditemukan pula beberapa jenis burung yang dilindungi Peraturan
Pemerintah No. 7 Tahun 1999 yaitu burung Madu gunung (Aethopyga eximia),
Madu Jawa (Aethopyga mystacalis), Raja udang meninting (Alcedo meninting),
Cingcoang coklat (Brachipteryx leucophrys), Elang hitam (Ictinaetus malayensis),
Madu sriganti (Nectarinia jugularis), Kipasan belang (Rhipidura javanica) dan
Elang ular bido (Spilornis cheela).
Gambar 6. Burung Elang ular bido (Spilornis cheela) dan Elang hitam (Ictinaetus malayensis)
(Sumber: MackKinnon, 2010)
57
BAB VI
PENUTUP
6. 1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan data yang diperoleh pada pengamatan di lapangan,
maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Indeks keanekaragaman (H’) jenis burung di Resort Tapos, Seksi PTN
Wilayah VI Tapos, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III
Bogor, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada
Januari-Juli 2011 adalah sedang dengan produktivitas yang cukup besar
dan didukung kondisi ekosistem yang seimbang sehingga tekanan
ekologisnya menengah
2. Jenis-jenis burung di kawasan konservasi tapos Resort Tapos, Seksi PTN
Wilayah VI Tapos, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III
Bogor, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada
Januari-Juli 2011 memiliki indeks keseragaman (E) yang rendah atau
dapat dikatakan bahwa masing-masing jenis burung yang ada memiliki
kekayaan jenis yang berbeda-beda
3. Indeks dominansi (D) jenis burung di Resort Tapos, Seksi PTN Wilayah
VI Tapos, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor, Balai
Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada Januari-Juli 2011
menunjukkan bahwa pada kawasan ini tidak terdapat jenis burung yang
mendominasi jenis burung lainnya.
58
4. Di Resort Tapos, Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang Pengelolaan
Taman Nasional Wilayah III Bogor, Balai Besar Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango terdapat jenis burung yang dilindungi UU.
6. 2 Saran
Berdasarkan apa yang telah didapatkan dari pengamatan yang dilakukan
maka perlu diupayakan sebuah pengkajian lebih mendalam terhadap nilai
keanekaragaman jenis burung yang ada di Resort Tapos, Seksi PTN Wilayah VI
Tapos, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor, Balai Besar
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango untuk menjaga kelestarian terutama
untuk menjaga keanekaragaman jenis burung yang ada mengingat terdapat
beberapa jenis burung di kawasan ini yang tergolong ke dalam ruang lingkup
status konservasi yang menghawatirkan, dan secara keseluruhan Resort Tapos,
Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III
Bogor, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki potensi
sumber daya alam yang masih terjaga, oleh karena itu perlu adanya upaya
bersama untuk kelestariannya yang tidak lain merupakan habitat berbagai fauna
khususnya burung hutan.
59
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2010. Babi Hutan .http://www.wildlife.gov.my,// diakses pada tanggal
1Juni 2011.
BAPPENAS. 2003. National Biodiversity Action Plan for International
Development. Bappenas, Jakarta.
Heriyanto, N. M., R. Garsetiasih dan P. Setio. 2008. Status Populasi dan Habitat
Burung di BKPH Bayah, Banten. Pusat Litbang dan Konservasi Alam,
Bogor. Jurnal Hutan dan Konservasi Alam vol V(3), 239-249.
Hernowo,
J.B.
1985.
Studi
Pengaruh
Keanekaragaman Perkampungan
Tanaman
pekarangan
terhadap
Jenis Burung Daerah Pemukiman
Penduduk di Wilayah Tingkat II Bogor. Skripsi. Jurusan Konservasi
Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Heyer, W.R., M.A., Donelly, R.W., Macdiarmid, L.C., Hayek, and M.S. Foster.
1992. Measuring and Monitoring Biological Diversity: Standard Methods
for Amphibians. Smithsonian institution. Press. Washington.
MacKinnon, J., K. Philips dan B. V. Balen. 2010. Panduan Pengamatan Burung
Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Puslitbang Biologi-LIPI, Bogor.
Odum, E.P. 1998. Dasar-dasar Ekologi : Terjemahan dari Fundamentals of
Ecology. Alih Bahasa Samingan, T. Edisi Ketiga. Universitas Gadjah
Mada Press, Yogyakarta. 697p
Peterson, R. T. 1980. Pustaka Life. Tiara Pustaka, Jakarta.
USAID, 2006. Kemitraan Penggunaan Air Untuk Konservasi TNGGP.
Environmental Services Program, Development Alternatives, Inc. for the
United States Agency
60
Whitten, T., R. E Soeriaatmadja,, S.A. Afiff. 1999. Seri Ekologi Indonesia Jilid II
: Ekologi Jawa dan Bali. Prenhalindo. Jakarta
Wisnubudi, G. 2009. Penggunaan Strata Vegetasi oleh Burung di Kawasan Wisata
Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Vis Vitalis vol. II(2).
61
Lampiran
Transek Pasir banteng
Transek Cibayawak
Transek Pasir genteng
Transek Tarsius
62
Pengambilan data di lapangan
Resort Tapos
Elang Hitam
Tapos, Gunung Gede Pangrango
63
Fly UP