...

analisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

analisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN TB
PARU PADA FASE INTENSIF DI RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI
Budiman, Novie E. Mauliku, Dewi Anggraeni
STIKES A. Yani Cimahi
ABSTRAK
Ketidakpatuhan penderita TB dalam minum obat menyebabkan angka kesembuhan penderita rendah, angka
kematian tinggi dan kekambuhan meningkat serta yang lebih fatal adalah terjadinya resisten kuman terhadap
beberapa obat anti tuberkulosis atau multi drug resistence, sehingga penyakit TB paru sangat sulit disembuhkan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat
dengan kejadian tuberkulosis paru pada fase intensif di Rumah Sakit Umum Cibabat Cimahi. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah analisis faktor. Sampel yang terlibat sebanyak 67 orang responden yang patuh
minum obat TB paru. Sampel dipilih dengan tehnik total sampling.
Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik wawancara dengan alat bantu berupa kuesioner. Analisis data
melalui dua tahapan, yaitu analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan analisis faktor untuk
mengetahui hubungan (intterrelationship) antar variabel independen. Analisis faktor dilakukan dengan beberapa
tahapan yaitu penetapan subjek, pembentukan matrik korelasi, ekstraksi faktor, rotasi faktor dan pemberian
nama faktor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur mempunyai korelasi (hubungan) yang sangat kuat (r=0,76),
pendidikan mempunyai korelasi yang kuat (r=0,65), penghasilan mempunyai korelasi yang kuat (r=0,72), sikap
pasien mempunyai korelasi yang kuat (r=0,56) sedangkan peran Pengawas Menelan Obat (PMO) mempunyai
korelasi yang sedang (r=0,34) terhadap kepatuhan minum obat TB paru. Dari proses analisis faktor tersebut
terdapat dua faktor terbentuk yaitu faktor karakteristik responden (predisposisi) yang terdiri dari umur, pendidikan,
penghasilan dan pengetahuan dan faktor pendorong (reinforcing) yaitu sikap.
Disarankan kepada keluarga penderita TB paru dan petugas kesehatan yang ada di RSU Cibabat Cimahi agar
lebih ditingkatkan lagi dalam mengawasi serta memberikan perhatian lebih kepada penderita TB paru agar mau
meminum obat TB paru sampai tuntas agar pasien TB paru memperoleh kesembuhan dari penyakit TB paru
secara optimal.
Kata Kunci : TB paru, Kepatuhan minum obat
ABSTRACT
Disobedience of TB victims in taking medicine causes number of their recovery low, high death rate and suffer
increase and more fatal was bacteria resistence over anti TB medicine or multy drug resistance, therefore, TB
disease is hard to be cured.
The objective of this research is to analyze factors interrelated with medicine intake with tuberculosis case in
intensive phase at Cibabat General hospital Cimahi. Research design used was factor analysis. Samples
involved numbered for 67 respondents who were obedient in taking TB medicine. Samples were chosen by Total
sampling technique.
Data collecting is done by interview with questionnaire as medium. Data analysis was through two phases, those
were univariate analysis to discover frequency distribution and factor analysis to discover interrelationship
between independent variables. Factor analysis was done by several phases such as subject determining,
correlative matrix formation, factor extraction, factor rotation and factor naming.
Research result showed age has strong relationship (r=0,76), education has strong relationship (r=0,65), income
has strong relationship (r=0,72), patient attitude has strong relationship (r=0,56), whereas, role of Medicine
Intake Overseer (PMO) has average realtionship (r=0,34) over obedience on taking TB medicine. From the
process of factor analysis there were two factors formed, those were respondent characteristic factor
(predisposition) which stands from age, education, income and knowledge, and boosting factor (reinforcing), that
was attitude.
Family of the TB victims and health officers at Cibabat General hospital are suggested to increase more
supervision and give more attention over TB victims, so they drink their medicine until done, so they can recover
from TB entirely
Key Word
A.
:
TB, Obedience of taking medicine
PENDAHULUAN
Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah penyakit kronis menular yang merupakan masalah kesehatan
masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) dalam annual report on global
TB control 2003 menyatakan terdapat 22 negara dikategorikan sebagai highburden countries terhadap TBC
(Depkes RI, 2007). Pada tahun 1999 WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 orang penderita TBC
dengan jumlah kematian sebanyak 140.000 orang. Kuman Tuberkulosis (TB) telah meng‐infeksi 1/3
penduduk dunia (±2,2 milyar), diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB dunia, terjadi pada
negara‐negara berkembang. Kematian wanita karena TB lebih banyak daripada kematian karena hamil, nifas
persalinan, dan 75% klien TB adalah kelompok usia produktif (15‐50 tahun) (Aditama, 2004).
Salah satu negara berkembang yang terinfeksi kasus TB adalah Indonesia. Indonesia menempati
peringkat ketiga jumlah penderita TBC di dunia, setelah India (1.762.000) dan china (1.459.000). Depkes RI
memperkirakan bahwa setiap tahunnya terdapat 528.000 kasus baru TB di Indonesia (Menkes RI, 2010).
Perkiraan Depkes RI tersebut mengacu pada hasil survey dari seluruh Rumah Sakit (RS) yang
menyatakan bahwa 220.000 orang pasien penderita TB baru per tahun atau 500 orang penderita per hari,
inilah yang membuat Indonesia menduduki peringkat 3 didunia dalam jumlah penderita TB. Data 2008, angka
kematian 88.000 orang/tahun atau 240 orang/hari meninggal akibat penyakit TB (Arifin, 2009).
Secara umum dapat disimpulkan bahwa setiap hari 20.000 orang jatuh sakit TB, setiap jam 833 orang
jatuh sakit TB, setiap menit 13 orang jatuh sakit TB, setiap 5 detik satu orang jatuh sakit TB, setiap hari 5.000
orang meninggal akibat TB, setiap jam 208 orang meninggal akibat TB, setiap menit 3 orang meningal akibat
TB, setiap 20 detik 1 orang meninggal akibat TB, dan setiap detik orang terinfeksi TB (Arifin, 2009).
Di Jawa Barat diperkirakan sekitar 700.000 orang terkena penyakit TB setiap tahunnya. Jumlah
penderita TBC yang tercatat dalam data PPTI (Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia) Kota
Cimahi pada tahun 2009 adalah sebanyak 466 penderita TBC dewasa dan 53 penderita TBC Anak. Jumlah
tersebut masih jauh dari perkiraan Dinas Kesehatan yang sebesar 605 penderita. Target penemuan
pengidap BTA positif gagal dicapai. Pada 2009, dari target 1.495 hanya ditemukan 741 orang BTA positif
(45,2 %). Target 2008 juga gagal dipenuhi, karena dari sasaran 1.323 hanya ditemukan 685 (44,1 %). Pasien
yang berhasil terjaring tersebut berdasarkan data dari puskesmas, rumah sakit dan kader-kader Pengawas
Menelan Obat (PMO) yang secara aktif menjaring suspect TBC di wilayah binaannya masing-masing (Dinkes
Cimahi, 2010).
Berikut ini merupakan data jumlah penderita TB paru tahun 2008 sampai dengan 2009 di Rumah Sakit
Umum Cibabat, tabel dibawah ini membuktikan bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan kunjungan
pasien dengan TB Paru dan masih banyaknya penderita TB Paru di kawasan Cimahi dan sekitarnya.
400
350
Januari
300
Februari
250
Maret
200
April
150
Mei
100
Juni
50
Juli
Agustus
0
2008
2009
Grafik 1. Jumlah Penderita TB Perbulan
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti selama melakukan praktek kesehatan
masyarakat (PKM) yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret sampai dengan 26 Maret 2010, dengan
mewawancarai petugas kesehatan RSU Cibabat selama 20 hari diperoleh dari 145 pasien yang datang
dengan BTA positif, 78 (54%) pasien dinyatakan drop out dari waktu minum obat yang ditentukan dan 67
(46%) pasien yang patuh minum obat. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor yaitu pasien pindah ke
pelayanan kesehatan lain, jauhnya lokasi rumah sakit, dan kematian.
Angka ketidakteraturan atau kepatuhan berobat akan menimbulkan efek tidak tercapainya angka
konversi dan angka kesembuhan, sehingga upaya meningkatkan kepatuhan berobat merupakan prioritas
dalam program P2TB Paru karena gagalnya penyembuhan penyakit tuberculosis paru salah satunya
disebabkan oleh ketidakpatuhan penderita (Avianty, 2005). Ketidakpatuhan penderita TB dalam minum obat
menyebabkan angka kesembuhan penderita rendah, angka kematian tinggi dan kekambuhan meningkat
serta yang lebih fatal adalah terjadinya resisten kuman terhadap beberapa obat anti tuberkulosis atau multi
drug resistence, sehingga penyakit TB paru sangat sulit disembuhkan (Depkes RI, 2007).
Menurut penelitian Kartini (2001), ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan
seseorang untuk meminum obat, yaitu antara lain: usia, pekerjaan, waktu luang, pengawasan, jenis obat,
dosis obat, dan penyuluhan dari petugas kesehatan. Menurut penelitian Avianty (2005) pengetahuan dan
sikap menjadi faktor kepatuhan seseorang dalam minum obat. Berdasarkan latar belakang diatas maka
penulis tertarik untuk menganalisis faktor apa saja yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada
pasien TB Paru di Rumah Sakit Umum Cibabat Cimahi.
Menurut Departemen Kesehatan RI bahwa yang menjadi penyebab gagalnya penyembuhan penderita
TB paru salah satunya adalah kepatuhan pasien dalam berobat. Atas dasar tersebut, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah analisis faktor apa saja yang berhubungan dengan kepatuhan minum
obat pasien TB Paru di Rumah Sakit Umum Cibabat Cimahi tahun 2010?
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan
dengan kepatuhan minum obat dengan kejadian tuberkulosis paru pada fase intensif di Rumah Sakit Umum
Cibabat Cimahi
B.
METODOLOGI PENELITIAN
Kepatuhan adalah suatu sikap yang merupakan respon yang hanya muncul apabila individu
tersebut dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Jika individu tidak
mematuhi apa yang telah menjadi ketetapan dapat dikatakan tidak patuh. Kepatuhan minum obat di
pengaruhi oleh beberapa variabel yaitu variabel umur, pendidikan, penghasilan, pengetahuan, sikap, dan
peran PMO (Avianty, 2005).
- Umur
-
Kepatuhan Minum Obat
pada Pasien TB Paru di
Rumah Sakit Umum
Cibabat
Pendidikan
Penghasilan
Pengetahuan
Sikap
Peran PMO
Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian
Penelitian ini merupakan analisis faktor sebagai alat analisis, penelitian ini mencoba menemukan
hubungan (interrelationship) beberapa variabel yang saling independen satu dengan yang lainnya,
sehingga bisa dibuat kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian explanatory survey dengan pendekatan cross
sectional, yaitu subyek hanya diobservasi sekali pada saat penelitian.
Definisi Konseptual dan Operasional
Tabel 1. Definisi Konseptual dan Opersional Variabel
Variabel
Umur
Pendidikan
Variabel
Penghasilan
Definisi
konseptual
Satuan waktu yang
mengukur waktu
keberadaan suatu benda
atau makhluk, baik yang
hidup maupun yang mati
Suatu proses yang
mencakup dimensi dan
kegiatan-kegiatan dari
intelektual, psikologi dan
sosial yang diperlukan
untuk meningkatkan
kemampuan manusia
dalam mengambil
keputusan (machfoe
Definisi
konseptual
Nilai maksimum yang
dapat dikonsumsi oleh
seseorang dalam suatu
periode dengan
mengharapkan Keadaan
yang sama pada akhir
periode(library.usu.ac.id/f
e/akuntansi-rustam2.pdf
Definisi
Operasional
Lamanya kehidupan
responden dihitung
sejak tahun lahir
sampai tahun saat
dilakukan penelitian
Tingkat pendidikan
formal terakhir yang
berhasil ditempuh oleh
responden yang
ditunjukkan dengan
ijazah yang dimiliki
Alat ukur
Kategori
Wawancara
1. Tidak
sekolah
2. Tidak
tamat SD
3. Tamat SD
4. SMP
5. SMA
6. PT
Definisi
Operasional
Jumlah rupiah yang
diterima oleh keluarga
responden baik
penghasilan pokok atau
Sampingan untuk
mencukupi kebutuhan
keluaga
Alat ukur
Kategori
Kuesioner
skala
ordinal
1. 15-44 th
2. 45-64 th
3. ≥ 65 th
Wawancara
1. >1.100.000
2. ≤1.100.000
ordinal
ordinal
skala
Ordinal
Pengetahuan
Sikap
PMO
Pengalaman seseorang
tentang keadaan sehat
dan sakitnya seseorang
yang menyebabkan
seseorang tersebut
bertindak untuk
mengatasi masalah
sakitnya dan bertindak
untuk mempertahankan
kesehatannya atau
bahkan meningkatkan
status kesehatannya
(http:/wikipedia.org/wiki/e
ngetahuan)
reaksi atau respon
seseorang yang masih
tertutup terhadap suatu
stimulus atau objek
(Notoatmodjo, 2003)
Tingkat pengetahuan
responden tentang TB
Paru
Wawancara
1. Baik=76100%
2. Sedang= 5675%
3. kurang = ≤
55%
Ordinal
Pendapat responden
terhadap pengobatan
penyakit TB Paru
wawancara
Ordinal
Petugas kesehatan TB
Paru agar menelan obat
secara teratur sampai
pengobatan
selesai(Depkes RI, 2002)
Petugas yang
mengingatkan
responden dalam hal
minum obat
Wawancara
1. mendukung=
> mean
(47,16)
2. tidak
mendukung=
≤ mean
(47,16)
1. Ada
2. Tidak
ada
Nominal
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2002). Pada
penelian ini populasinya adalah kunjungan pasien TB Paru dengan BTA Positif yang dinyatakan patuh
minum obat di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat Tahun 2009 sebanyak 67 orang.
Untuk menganalisis data selanjutnya digunakan metode analisis faktor. Proses analisis faktor
digunakan untuk menemukan hubungan sejumlah variabel yang saling independen satu dengan yang lain,
sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal
(Malhotra, 1996 dalam ¶ http://digilib.petra.ac.id diperoleh tanggal 08 April 2010).
C.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kepatuhan adalah suatu sikap yang merupakan respon yang hanya muncul apabila individu
tersebut dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Jika individu tidak
mematuhi apa yang telah menjadi ketetapan dapat dikatakan tidak patuh. Kepatuhan minum obat di
pengaruhi oleh beberapa variabel yaitu variabel umur, pendidikan, penghasilan, pengetahuan, sikap, dan
peran PMO (Avianty, 2005).
1. Analisa Univariat
Penelitian ini berupa analisa Univariat, pada bagian ini akan diuraikan deskripsi (gambaran) data hasil
penelitian berupa variabel bebas (variabel yang mempengaruhi) terhadap kepatuhan minum obat TB
paru yang terdiri dari umur, pendidikan, pengetahuan, penghasilan, sikap dan peran pengawas
menelan obat di RSU Cibabat Cimahi.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden menurut umur, pendidikan, penghasilan, pengetahuan, sikap
dan peran PMO di RSUD Cibabat Cimahi tahun 2010
Variabel
Umur
15-44 Tahun
45-64 Tahun
TOTAL
Pendidikan
Tidak Sekolah
Tidak Tamat SD
Tamat SD
SMP
SMA
PT
TOTAL
Penghasilan
> Rp. 1.100.000
< Rp 1.100.000
Total
Sikap
Mendukung
Tidak mendukung
Total
Peran PMO
Ada
Tidak Ada
Total
Frekuensi
Persentase
43
24
67
64.2
35.8
100
2
4
6
18
36
1
67
3
6
9
26.9
53.7
1.5
100
4
63
67
6
49
100
35
32
67
52.2
47.8
100
49
18
67
73.1
26.9
100
Berdasarkan tabel 1 dapat diketauhi bahwa umur pasien TB paru yang patuh minum obat di RSU
Cibabat Cimahi seperti yang terlihat bahwa sebagian besar responden berumur antara 15-44 tahun
sebanyak 43 responden (64,2%). pendidikan pasien TB paru yang patuh minum obat di RSU Cibabat
Cimahi seperti yang terlihat bahwa lebih dari setengahnya responden yang berpendidikan SMA
sebanyak 36 responden (53,7%). Hasil penghasilan pasien TB paru yang patuh minum obat di RSU
Cibabat Cimahi seperti yang terlihat bahwa hampir semua responden berpenghasilan kurang dari sama
dengan Rp.1.100.000,- sebanyak 63 responden (94%). Dan pengetahuan pasien TB paru yang patuh
minum obat di RSU Cibabat Cimahi seperti yang terlihat bahwa hampir setengahnya responden
berpengetahuan kurang sebanyak 32 responden (47,8%).
Hasil sikap pasien TB paru yang patuh minum obat di RSU Cibabat Cimahi seperti yang terlihat
bahwa lebih dari setengahnya responden bersikap mendukung terhadap pengobatan TB sebanyak 35
responden (52,2%). Hasil peran Pengawas Menelan Obat (PMO) terhadap pasien TB paru yang patuh
minum obat di RSU Cibabat Cimahi seperti yang terlihat bahwa sebagian besar responden menyatakan
bahwa ada peran pengawas menelan obat (PMO) dalam kepatuhanan pengobatannya sebanyak 49
responden (73,1%).
2. Analisa Faktor
Pada proses analisis faktor ini peneliti akan mengelompokan faktor berdasarkan variabel independen
(umur, pendidikan, penghasilan, pengetahuan, sikap, peran PMO) yang berhubungan dengan
kepatuhan minum obat pasien TB Paru pada fase intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat tahun
2010. Selain itu mencari variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi kepatuhan minum obat TB
paru.
a. Pembentukkan matrik korelasi
Pada analisis ini akan dikelompokkan faktor - faktor berdasarkan variabel yang mempengaruhi
kepatuhan minum obat TB paru. Matrik ini digunakan untuk mendapatkan nilai kedekatan hubungan
antar variabel penelitian dan menentukan besaran nilai Barlett Test of Sphericity yang digunakan
untuk mengetahui apakah ada korelasi yang signifikan antar variabel, untuk dapat lolos pada uji
selanjutnya harus menunjukkan angka ≤ 0,05 agar penelitian dapat dianalisis lebih lanjut, dan
kedua adalah Keiser Meyers Oklin (KMO) Measure of Sampling Adequancy.
Tabel 2. Kaiser-Mayer-Olkin (KOM) and Batlett’s
Kaiser-Meyer-Olkin Measure Of Sampling
0.700
Adequacy (MSA)
P Value
Barlett’s test of Spherricity
0.000
Dari hasil pengujian di atas analisis faktor dinyatakan beberapa variabel termasuk dalam faktorfaktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat TB. Pada tabel pertama nilai KMO-Measure of
Sampling Adequacy (MSA) menunjukkan nilai 0,7 atau diatas 0,5 dan Barlett’s test of Spherricity
memiliki angka signifikan adalah 0,00001. Hal ini berarti kumpulan variabel tersebut dapat diproses
lebih lanjut. Sedangkan berdasarkan Anti-image Correlation, seperti yang terlihat pada tabel 3
berikut ini.
Tabel 3. Anti-image Correlation
Variabel
Korelasi
Umur
0.678
Pendidikan responden
0.628
Penghasilan
0.718
Pengetahuan
0.745
Sikap
0.464
Pengawas Menelan Obat
0.340
Berdasarkan tabel 3 tersebut menunjukkan bahwa ada dua variabel yang memiliki nilai MSA di
bawah 0,5 yaitu variabel sikap (0,464) dan pengawas menelan obat (PMO) (0,340), variabel
tersebut dikeluarkan satu persatu sampai semua variabel mempunyai nilai korelasi di atas 0,5.
Seperti yang terlihat pada tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Anti-image Correlation
Variabel
Korelasi
Umur
0.757
Pendidikan responden
0.655
Penghasilan
0.720
Pengetahuan
0.740
Sikap
0.561
Setelah satu variabel yaitu PMO dikeluarkan didapatkan hasil angka KMO and Barlett’s sebesar
0,700 dengan nilai MSA variabel di atas 0,5 dan kelima variabel tersebut adalah umur, pendidikan,
penghasilan, pengetahuan, dan sikap. Hal ini berarti uji Ekstraksi faktor dapat dilakukan karena
semua variabel yang mempengaruhi kepatuhan minum obat TB paru mempunyai nilai MSA diatas
0,5.
b. Ekstraksi faktor
Pada tahap ini, akan dilakukan proses inti dari analisis faktor, yaitu melakukan ekstraksi terhadap
sekumpulan variabel yang ada di KMO > 0,5 sehingga terbentuk satu atau lebih faktor. Untuk
menilai faktor yang terbentuk dapat dilihat pada hasil tabel Total Variance Explained berikut ini.
Tabel 5. Total Variance Explaind
Initial Eigenvalues
Komponen
Total
Varian (%)
Kumulatif (%)
1
2.198
44
44
2
1.017
20.3
64.3
3
0.814
16.2
80.6
4
0.583
11.7
92.2
7.8
100
5
0.388
Berdasarkan tabel 5 di atas dari variabel-variabel yang ada terbentuk dua faktor dengan nilai
Eigenvalues diatas 1 yaitu komponen 1 (2,198) dan komponen 2 (1,017). Dengan demikian dua
faktor adalah hasil reduksi kelima variabel yang optimal. Ada lima variabel yang dimasukkan dalam
analisis faktor. Kelima variabel tersebut membentuk dua faktor, maka varian yang dapat dijelaskan
oleh dua faktor adalah varian faktor pertama adalah (2,198 : 5) X 100% = 43,96%. Varian faktor
kedua adalah (1,017 : 5) X 100% = 20,34%. Total kedua faktor akan dapat mejelaskan 43,96% +
20,34% atau 64,3 % dari kelima variabel asli tersebut.
c. Rotasi Faktor
Pada proses rotasi faktor, matriks faktor ditranformasikan kedalam matriks yang lebih sederhana,
dimana lebih mudah diinterpretasikan hasil dengan melihat faktor loading yaitu angka yang
menunjukkan besarnya korelasi antara suatu variable (pendidikan, pekerjaan, penghasilan,
pengetahuan dan sikap dengan faktor dua yang terbentuk).
Adapun proses penentuan variabel mana akan masuk ke faktor yang mana, dilakukan dengan
melakukan perbandingan besar korelasi pada setiap baris di dalam setiap tabel distribusi komponen
matrik yang dirotasi seperti yang terlihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5. Rolated Component Matrix
Komponen
No.
Variabel
1
2
1
Umur
-0.613
0.205
2
Pendidikan responden
0.849
0.135
3
Penghasilan
0.766
0.217
-0.019
4
Pengetahuan
0.698
0.968
5
Sikap
0.036
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa variabel-variabel sebagai berikut : variabel umur,
memiliki korelasi terkuat dengan faktor 1, karena memiliki nilai loading diatas 0,5 dan lebih tinggi
dibanding dengan faktor 2, yaitu sebesar -0,613, sehingga indikator ini termasuk dalam faktor 1.
Untuk indikator pendidikan termasuk dalam faktor 1 dengan nilai loading sebesar 0,849. Indikator
penghasilan termasuk dalam faktor 1 dengan nilai loading sebesar 0,766. Indikator pengetahuan
termasuk dalam faktor 1 dengan nilai loading sebesar 0,698. Sedangkan indikator sikap termasuk
dalam faktor 2 dengan nilai loading sebesar 0,968. Dari analisis diatas dapat disimpulkan, dari lima
faktor yang diteliti dengan proses factoring bias direduksi menjadi hanya dua faktor, yaitu :
1)
2)
D.
Faktor 1 terdiri dari variabel umur, pendidikan, penghasilan dan pengetahuan, faktor ini
dinamakan faktor karakeristik responden (predisposing factor).
Faktor 2 terdiri dari variabel sikap, faktor ini dinamakan faktor pendorong (renforcing factor).
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Hasil akhir dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Umur pasien TB paru mempunyai korelasi (hubungan) yang sangat kuat (r=0,76) dengan
kepatuhan minum obat TB paru.
b. Pendidikan pasien TB paru mempunyai korelasi (hubungan) yang kuat (r=0, 65) dengan kepatuhan
minum obat TB paru.
c. Penghasilan pasien TB paru mempunyai korelasi (hubungan) yang kuat (r=0, 72) dengan
kepatuhan minum obat TB paru.
d. Pengetahuan pasien TB paru mempunyai korelasi (hubungan) yang kuat (r=0, 74) dengan
kepatuhan minum obat TB paru.
e. Sikap pasien TB paru mempunyai korelasi (hubungan) yang kuat (r=0, 56) dengan kepatuhan
minum obat TB paru.
f. Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) terhadap pasien TB paru mempunyai korelasi (hubungan)
yang sedang (r=0, 34) dengan kepatuhan minum obat TB paru.
g. Analisis faktor mengungkapkan dua faktor pembentuk kepatuhan minum obat TB yaitu : 1) faktor
karakteristik responden terdiri dari : umur, pendidikan, penghasilan dan pengetahuan. 2) faktor
pendorong yang membentuk kepatuhan minum obat TB yaitu sikap.
h. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan minum obat TB paru di RSU Cibabat
Cimahi tahun 2010 adalah faktor pendorong yang membentuk kepatuhan minum obat TB paru
yaitu sikap. Hal ini karena faktor pendorong yang menbentuk kepatuhan minum obat TB
mempunyai nilai proses rotasi (Rotated Componen Matrix) dengan kepatuhan minum obat paling
besar yaitu 0,968 dibanding faktor karakteristik responden.
2. Saran
a. Bagi RSU Cibabat
Diharapkan hasil penelitian dapat menjadi sumber informasi terbaru untuk para petugas kesehatan
khususnya di RSU Cibabat dalam memberikan pendidikan kesehatan atau penyuluhan kepada
pasien TB paru dalam rangka meningkatkan pengetahuan pasien sehingga terbentuk sikap yang
positif (mendukung terhadap minum obat TB paru) agar masalah drop out minum obat TB paru
berkurang. Adapun strategi yang dilakukan dalam penyuluhan diantaranya :
1) Memberikan bahan materi penyuluhan tentang penatalaksanaan pengobatan TB paru selama
6 bulan sampai tuntas.
2) Memajang spanduk atau media lain yang dapat meningkatkan pengetahuan pasien TB paru
dalam hal minum obat.
3) Mengadakan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat agar memasukkan materi tentang
pentingnya minum obat TB paru sampai dengan tuntas.
b. Bagi keluarga pasien
Disarankan kepada keluarga penderita TB paru agar lebih ditingkatkan lagi dalam megawasi serta
memberikan perhatian lebih kepada penderita TB paru untuk membentuk sikap positif dari penderita
yang pada akhirnya mau meminum obat TB paru sampai tuntas demi memperoleh kesembuhan dari
penyakit TB paru secara optimal serta mencegah dari kekambuhan penyakit TB paru.
Fly UP