...

siaran pers - Burung Indonesia

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

siaran pers - Burung Indonesia
SIARAN PERS
Peningkatan Ancaman Kepunahan Burung di Indonesia
Bogor ‐ Pada tahun Keanekaragaman Hayati Internasional 2010 ini dua pukulan sekaligus menohok dunia konservasi. Target penurunan laju kepunahan pada tahun 2010 terbilang gagal. ʺLaju kehilangan keanekaragaman hayati sedang berlanjut dengan pesat, dan yang kita lakukan untuk mengurangi tekanan pada jenis, habitat dan ekosistem barulah hal‐hal sepele,ʺ terang Dr Stuart Butchart, Koordinator BirdLife Global Research and Indicators, Menjelang hari lingkungan hidup sedunia 5 Juni 2010, BirdLife International secara resmi telah mengumumkan hilangnya individu terakhir burung titihan alaotra (Tachybaptus rufolavatus) yang hanya terdapat di Danau Alaotra, Madagaskar. Jenis titihan berwarna coklat yang hanya terdapat di bagian timur pulau seluas 58.1540 km2 ini kalah bersaing dengan ikan‐ikan pemakan daging yang diintroduksi ke danau tersebut. Selain itu, laju kehilangan hutan alam sekitar danau, perburuan liar, introduksi tanaman dan hewan eksotis ditengarai sebagai biang percepatan punahnya jenis burung yang tidak mampu terbang jauh tersebut. Hal yang sama dihadapi Indonesia. ʺTahun 2010 ini kami menganalisa bahwa jenis‐jenis burung yang terancam punah di Indonesia meningkat jumlahnyaʺ, ujar Dwi Mulyawati peneliti konservasi burung di Burung Indonesia. ʺSelain pelatuk‐kelabu besar (Mulleripicus pulverulentus) yang tercatat mengalami penurunan populasi hingga hampir 50% di seluruh rentang persebarannya, lima jenis lainnya turut menghadapi nasib yang samaʺ, imbuhnya. Jalak putih contohnya, burung endemik Pulau Jawa dan Bali ini kerentanannya meningkat menjadi Kritis (CR/Critically Endangered). Perdagangan satwa menyebabkan populasi burung ini berkurang 80% dalam kurun 10 tahun terakhir. Populasi kecil tersebut akan semakin sulit bertahan jika habitat terakhir mereka dialihfungsikan. Sementara itu burung kehicap kofiau dan cekakak‐pita kofiau, yang hanya ada di Pulau Kofiau, Kepulauan Papua Barat, kehilangan habitat hutan primer dan sekunder akibat pembalakan yang dilakukan sejak tahun 1970. Dua jenis burung lainnya yang merupakan jenis migrasi, juga menghadapi masalah kehilangan habitat. ʺBagaimanapun juga lahan basah dan pesisir merupakan kawasan rapuh, yang mudah dialihfungsikan atau terpolusi, namun sangat penting bukan hanya untuk komunitas burung dan keanekaragaman hayati lainnya tetapi jutaan manusia di seluruh dunia memanfaatkan lingkungan tersebut sebagai sumber makanan dan air bersih,ʺ ujar Dr Stuart Butchart, Koordinator BirdLife Global Research and Indicators. Alih fungsi lahan dan kerusakan habitat adalah hal‐hal utama yang menyebabkan peningkatan keterancaman keragaman hayati. ʺIndonesia adalah penyumbang utama keragaman burung dunia. Maka kita juga harus memimpin upaya perlindungan habitat dengan pengelolaan hutan yang lebih baik dan menghindari pengalihan fungsi pesisir tanpa kajian lingkungan yang mendalam,ʺ menurut Agus Budi Utomo, Acting Executive Director Burung Indonesia.* Informasi lebih lanjut:
1. Dwi Mulyawati, Bird Conservation Officer Burung Indonesia, +62-(0)812 80196748
2. Henny M Sembiring, Head of Communication and Business Development Burung Indonesia, +62(0)2518357222
Siaran Pers Burung Indonesia 1 Keterangan untuk editor:
1.
Jenis titihan berwarna coklat yang hanya terdapat di bagian timur pulau seluas 58.1540 km2 ini kalah bersaing dengan ikan‐ikan pemakan daging yang diintroduksi ke danau tersebut. Selain itu, laju kehilangan hutan alam sekitar danau, perburuan liar, introduksi tanaman dan hewan eksotis ditengarai sebagai biang percepatan punahnya jenis burung yang tidak mampu terbang jauh tersebut.
2. Kehicap kofiau dan cekakak‐pita kofiau adalah dua jenis burung endemik Pulau Kofiau, Kepulauan Papua Barat ini pertama kali dikoleksi spesimennya untuk kepentingan ilmiah pada 1875. Hilangnya hutan primer dan sekunder akibat pembalakan yang dilakukan sejak tahun 1970 di pulau seluas 144 km2 dianggap menjadi penyebab menurunnya populasi kedua jenis burung endemik tersebut. Kehicap kofiau dinilai Rentan (Vulnerable), sedangkan cekakak‐pita kofiau, yang termasuk dalam kelompok raja‐udang, dikategorikan sebagai Genting (Endangered).
3. Dua jenis burung bermigrasi yang menghabiskan musim dinginnya di sepanjang garis pantai Indonesia, gajahan timur dan kedidi besar, menghadapi masalah yang sama karena kehilangan habitat mereka. Berdasarkan pemantauan di kawasan Asia saat melakukan perjalanan jauhnya dari lokasi berbiak di Siberia, Rusia, tercatat lebih dari 10% populasi global kedidi besar yang singgah di Teluk Saemangeum, Korea Selatan menghadapi ancaman berupa reklamasi pantai, dan secara umum berkurangnya lahan basah dan polusi di kawasan Yellow Sea. Kedua jenis sekarang berstatus lebih Rentan terhadap kepunahan.
4. Status keterancaman jalak putih (Sturnus melanopterus), burung endemik Pulau Jawa dan Bali ini pada tahun 2010 menjadi lebih Kritis (CR). Burung berbulu putih dengan sayap hitam dan lingkar mata kuning ini juga terlihat berkurang di pasar burung. Perdagangan satwa menyebabkan populasi burung yang kerap mengunjungi Pulau Lombok, NTB, berkurang 80% dalam kurun 10 tahun terakhir. Populasi kecil burung ini semakin sulit bertahan di kawasan lindung apabila dialihfungsikan. 5. Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) merupakan organisasi konservasi nasional yang berbasiskan keanggotaan, dan bekerja pada upaya‐upaya konservasi burung, penelitian dan pengelolaan informasi, jaringan kerja, komunikasi dan advokasi, serta pengembangan keanggotaan. Burung Indonesia adalah bagian dari kemitraan global BirdLife International, kemitraan masyarakat madani untuk konservasi terluas di lebih dari 100 perwakilan negara.*
Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) Jl. Dadali 32 Bogor ‐ Indonesia Bogor 16003 ‐ Indonesia Tel. +62 251 8357222 Fax. +62 251 8357961 e‐mail: [email protected] Siaran Pers Burung Indonesia 2 
Fly UP