...

Konstruksi Skala Sikap terhadap Pelajaran Matematika dan Sains

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Konstruksi Skala Sikap terhadap Pelajaran Matematika dan Sains
Periantalo dkk. Konstruksi skala sikap….
Konstruksi Skala Sikap terhadap Pelajaran Matematika dan Sains
Construction Scale Attitudes toward Math and Science Lessons
Jelpa Periantalo 1)*, Fadzlul1), Nofrans Eka Saputra1)
1)
Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
*
Corresponding author: [email protected]
Abstract
Student attitude toward subject is strong predictor for academic successful. Student
with positive attitude shows good academic achievement and attitude poor
achievement. Earlier information about student attitude can optimilize academic
successful. Education stake holders can change attitude. Therefore, it needs a
measurement to know student attitude toward subject. The purpose of research is to
construct scale attitude toward Mathematics and Natural Sciences subject. Instrument
should be valid, reliable, and discriminative and practice. Research used
psychological measurement method. It used 185 high school students for subject. It
used semantif differential method in scale (1-7). There were 68 items in scale.
Factorial validity confirmed three factor construct a scale. Convergent validity
showed there was positive correlation among scale component. Scale had internal
consistency reliability 0,84 and test parallel reliability 0,92. All items had
discrimination power D > 4,00. Final scale uses 12 items. Instruction and scoring can
be done easily. Scale has good psychometric properties. It has good validity, satisfied
reliability, high discrimination power for items, and practice in used.
Keywords: attitude, semantic differensial, validity, reliability, discriminative
Abstrak
Sikap siswa terhadap pelajaran merupakan prediktor kuat dalam keberhasilan belajar.
Siswa bersikap positif memiliki prestasi belajar bagus. Siswa yang bersikap negatif
prestasi belajar tidak memenuhui kriteria minimum kelulusan. Pengetahuan dini
tentang sikap siswa dapat mengoptimalisasikan keberhasilan belajar. Pelaku
pendidikan dapat mengubah sikap siswa terhadap pelajaran tersebut. Untuk itu, perlu
sebuah instrumen mengetahui sikap siswa. Tujuan penelitian membuat sebuah
instrumen pengukuran sikap siswa terhadap pelajaran Matematika dan Sains.
Instrumen yang diharapkan adalah valid, reliabel, diskriminatif dan praktis. Penelitian
ini menggunakan metode konstruksi alat ukur psikologi. Penelitian melibatkan 185
subjek siswa SMA. Skala menggunakan format penskalaan semantif differensial (17). Item dibuat sebanyak 68. Validitas faktorial mengkonfirmasi tiga faktor
membentuk skala. Validitas konvergen menunjukkan adanya korelasi positif antar
komponen skala. Reliabilitas skala metode konsistensi internal sebesar 0,84 dan tes
paralalel 0,92. Semua item memiliki indeks diskriminasi item D > 4,00. Skala
memiliki propertis psikometri yang baik. Skala memiliki validitas yang memenuhui
kriteria, reliabilitas yang sesuai standar, semua item diskriminatif serta praktis dalam
penggunaan. Skala final menggunakan 12 item
Kata kunci : sikap, semantif differensial, validitas, diskrminasi, reliabilitas,
36
Edu-Sains Volume 3 No. 2 Juli 2014
dkk, 2011). Siswa tersebut aktif bertanya,
menjawab, mengerjakan tugas. Siswa
memiliki sikap negatif kurang memahami
pelajaran, kurang percaya diri, tidak bisa
memecahkan masalah dengan rumus dan
tidak melihat hubungan ilmu bagi
masyarakat (Olasimbo & Rotimi, 2013).
PENDAHULUAN
Sikap merupakan salah satu prediktor
perilaku. Sikap individu saat ini bisa
menjadi landasan apa yang akan dilakukan.
Hal ini disebabkan karena sikap memiliki
komponen kepercayaan, perasaan dan
kecenderungan berperilaku (Lahey, 2007).
Komponen tersebut memiliki tendensi
positif maupun negatif (Azwar, 2011). Saat
individu memiliki sikap positif terhadap
sesuatu. Individu memiliki kepercayaan
yang positif, perasaan baik dan berperilaku
aktif. Individu merasa sesuatu hal penting,
bermanfaat, mudah, mengasikkan. Hal ini
berdampak
pada
performa
positif.
Sebaliknya, individu bersikap negatif
cenderung
tidak
menyenangi
sesuatu. Individu merasa sesuatu tidak
penting,
tidak
bermanfaat,
susah,
membosankan.
Individu
cenderung
menghasilkan perfoma yang tidak sesuai
dengan standar.
Pengetahuan sikap terhadap pelajaran
bermanfaat pendidik. Pendidik dapat
mengubah sikap siswa melalui penerapan
metode pembelajaran (Lafortune dkk, 2013).
Pada dasarnya, sikap manusia dapat diubah
(Lahey,
2007).
Penerapan
metode
pembelajaran baru dapat mengubah sikap
siswa terhadap pelajaran (Abdulkarim &
Raburu, 2013). Soomro dkk (2011) berhasil
mengubah sikap siswa terhadap pelajaran
Fisika.
Penggunaan
metode 5
Es
(Engagement, Exploration, Explanation,
Elaboration and Evaluation) membuat siswa
lebih bersifat positif pada pelajaran sains
(Adesoji, 2013).
Salah satu aspek penting memahami sikap
dan perilaku adalah tentang pengungkap
sikap (Azwar, 2011). Ada berbagai metode
pengungkapan sikap. Metode tersebut
berupa observasi langsung, penanyaan
langsung, pengungkapan langsung maupun
skala sikap. Metode skala (self-report)
merupakan metode dianggap paling handal
dan banyak digunakan (Azwar, 2011;
Naisaban, 2005). Kelebihan metode ini
adalah dapat dipertanggungjawabkan secara
kuantitatif.
Validitas,
reliabilitas,
objektivitas maupun standardisasi bisa
dioptimalkan. Metode ini dapat melibatkan
subjek dalam jumlah besar dan waktu relatif
singkat.
Sikap memiliki peran penting dalam dunia
pendidikan (Zan & Martino, 2007). Sikap
siswa merupakan prediktor terbesar dalam
prediksi keberhasilan belajar (Gbore, 2013).
Prestasi akademik merupakan indikator
utama keberhasilan belajar. Keberhasilan
belajar siswa tergantung pada sikap siswa
terhadap pelajaran tersebut (Farooq & Shah,
2008; Mohamed & Waheed, 2012). Dengan
mengetahui sejak dini sikap siswa terhadap
pelajaran, ada berbagai langkah yang bisa
dilakukan dalam optimalisasi keberhasilan
belajar.
Sikap terhadap pelajaran berhubungan
dengan prestasi belajar (Narmadha &
Chamundeswari, 2013; Rusgianto, 2006).
Siswa memiliki sikap positif memiliki
prestasi belajar bagus. Sementara, siswa
memiliki sikap negatif memiliki prestasi
belajar yang jelek. Siswa bersikap positif
aktif dalam pembelajaran di kelas (Eryilmaz
Tujuan penelitian membuat alat ukur (skala)
yang memenuhui persyaratan psikometris.
Persyaratan tersebut berupa validitas,
reliabilitas, diskriminatif, praktis dan
applikatif (Azwar, 2009; Cohen & Swerdik,
37
Periantalo dkk. Konstruksi skala sikap….
direkomendasikan di perguruan tinggi. Skala
dapat dimanfaatkan dalam mengevalusi
suatu proses pembelajaran. Konselor bisa
menggunakan
dalam
konseling
pendidikan.
2005; Urbina, 2004). Skala berisi item
mengungkap
aspek
yang
hendak
diungkap. Skala memiliki keterpercayaan
hasil ukur di atas 90%. Skala bisa
membedakan subjek yang memiliki sikap
positif dan negatif. Skala memiliki standar
yang jelas dalam instruksi maupun norma.
Biaya pembuatan, petunjuk maupun cara
pemberian skor sederhana. Jumlah item
skala sedikit sehingga waktu pengerjaan
singkat. Skala bisa digunakan aplikasi
praktis di bidang pendidikan.
METODE
Prosedur
Konstruksi alat ukur psikologi melalui
berbagai tahapan. Tahapan ini bertujuan
untuk mencapai alat ukur yang baik dan
melalui berbagai proses yang berkelanjutan.
Penelitian ini melihat kandungan yang ada
di dalam skala. Kandungan tersebut berupa
validitas internal, indeks diskriminasi item,
reliabilitas, jumlah item dan kepraktisan
skala (Gambar 1).
Penelitian ini merupakan bagian pembuatan
skala sikap terhadap pelajaran yang
diajarkan di sekolah umum di Indonesia.
Penelitian dimulai dengan pelajaran
Matematika dan Sains yang terdiri dari
Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi.
Pelajaran tersebut merupakan pelajaran yang
diajarkan sejak SD dan bahkan sampai di
perguruan tinggi.
Pelajaran tersebut
berkaitan langsung dengan pengembangan
sains dan teknologi. Pelajaran tersebut bisa
menghasilkan suatu produk teknologi nyata.
Namun, pelajaran tersebut seringkali
dianggap tidak mengenakkan oleh para
siswa. Padahal pelajaran tersebut memiliki
peran penting dalam pengembangan ilmu
pengetahuan Indonesia. Dengan mengetahui
sikap siswa terhadap pelajaran tersebut, ada
banyak hal yang bisa dilakukan untuk
optimalisasi prestasi belajar. Para pemangku
pendidikan bisa melakukan suatu langkah
untuk optimalisasi sikap siswa terhadap
pelajaran tersebut.
Penelitian
dapat
memberikan
manfaat dalam pengembangan pendidikan.
Manfaat berupa manfaat teoritis maupun
praktis. Skala ini dapat digunakan sebagai
instrumen dalam penelitian pendidikan.
Skala dapat digunakan untuk memvaliditasi
instrumen yang baru dibuat. Skala dapat
membantu dalam menentukan peminatan di
SMA. Bahkan, skala dapat memberikan
informasi
jurusan
apa
yang
Penetapan Konsep
Pemilihan Format Skala
Penulisan Item
Uji Coba Skala
Uji Diskriminasi Item
Uji Validitas Faktorial
Penyusunan Skala Final
Uji Reliabilitas
Uji Validitas Konvergen
Gambar 1. Tahapan Konstruksi Skala
Konstruksi skala diawali dengan penetapan
konsep hendak diungkap. Penetapan konsep
bersumber pada literatur. Konsep ditetapkan
berupa sikap siswa terhadap pelajaran
Matematika dan Sains. Teori tentang sikap
38
Edu-Sains Volume 3 No. 2 Juli 2014
digunakan untuk pembuatan item skala ini.
Terdapat empat komponen sikap yang
dinilai, yaitu : Matematika, Fisika, Kimia
dan Biologi. Item dibuat berdasarkan konsep
dan format penskalaan yang dipilih. Item
tersebut kemudian direview oleh validator
(orang yang ahli di bidang tersebut).
Evaluasi item bertujuan melihat apakah item
sesuai dengan konsep. Item yang telah
dievaluasi siap diujicoba di lapangan. Hasil
ujicoba dijadikan landasan dalam melakukan
uji indeks diskriminasi item. Indek
diskriminasi item memberikan gambaran
item yang lolos seleksi. Item lolos dilakukan
uji validitas faktorial ‘confirmatory factor
analysis’. Hasil uji validitas faktorial
dijadikan landasan penyusunan skala. Skala
tersebut diuji reliabilitas dan validitas
konvergen. Pada tahapan ini, norma dan
interpretasi dibuat.
Item dibuat harus lebih banyak dari
item final. Ada berbagai item yang gugur
dalam
seleksi.
Ketersediaan
item
memudahkan dalam menemukan item
terbaik Peneliti disarankan membuat item
sebanyak dua, tiga dan bahkan empat kali
item final (Widhiarso, 2010). Item terbaik
memberikan propertis psikometri yang baik
pula pada skala. Sebanyak 68 item dalam
penelitian dengan target akhir sebanyak 12
item. Komponen Matematika, Fisika, Kimia
dan Biologi memberikan sumbangan
sebanyak 17 item.
Penulisan Item
Pada penetapan konsep telah dijelaskan
bahwa ada dua konsep dasar penelitian ini.
Pertama adalah sikap dan yang kedua adalah
pelajaran Matematika dan Sains. Format
penskalaan yang digunakan berupa semantif
differensial. Konsep sikap dan format
penskalaan semantif differensial digunakan
dalam penurunan item. Teori sikap yang
digunakan berupa teori sikap dari Osgood
(Azwar, 2013). Osgood mengatakan bahwa
ada tiga jenis komponen sikap: potensi,
evaluasi dan aktivitas.
Format Penskalaan
Format penskalaan yang digunakan berupa
semantik differensial. Item yang dibuat
didasarkan pada dua kata sifat yang
berlawanan. Di antara dua kata sifat
tersebut, terdapat suatu jenjang kontinum
angka tertentu. Kata sifat yang bersifat
negatif diletakkan pada bagian kiri.
Sementara, kata sifat positif diletakkan di
sebelah kanan (Gambar 2).
Berat
Tabel 1. Item
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
---1---2---3---4---5---6---7--- ringan
Gambar 2. Format Penskalaan
Subjek
diminta
untuk
memberikan
tanggapan terhadap suatu pelajaran.
Tanggapan diletakkan pada angka. Angka
menjadi skor subjek. Skor tersebut
digunakan dalam analisis data.
Jumlah Item
39
Item
Tidak menarik - menarik
tidak mengasyikkan - mengasyikkan
tidak bermanfaat - bermanfaat
tidak penting - penting
susah - gampang
menakutkan - menantang
jelek - bagus
biasa – istimewa
tidak disenangi – disenangi
dihindari- ditunggu
menyedihkan – menggembirakan
rumit – sederhana
dibenci - dicintai
membosankan - membetahkan
melesukan - menggairahkan
Periantalo dkk. Konstruksi skala sikap….
16
17
Uji
reliabilitas
konsistensi
internal
menggunakan model Koefisien Alpha. Uji
reliabilitas paralel dan validitas konvergen
menggunakan korelasi bivariat. Analisis ini
menggunakan bantuan SPSS 16.
jijik - takjub
berat - ringan
Teknik
semantik
differensial
hanya
membuat serangkaian item dari dua kata
sifat yang berlawanan. Penulis cukup
membuat dua kata sifat yang berhubungan
dengan suatu objek sikap. Item di atas
digunakan untuk keempat komponen skala.
Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi
menggunakan item di atas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Indeks Diskriminasi Item
Tahapan pertama dalam analisis adalah uji
indeks disrkiminasi item. Uji ini juga
dikenal dengan uji daya beda item. Uji ini
menggunakan teknik korelasi antara item
dengan skor total. Item yang baik memiliki
korelasi positif tinggi dengan skor total.
Berikut ini hasil uji diskriminasi item
keempat komponen skala.
Subjek
Subjek penelitian berasal dari siswa SMA.
Skala ini digunakan untuk evaluasi
pembelajaran, peminatan SMA, penjurusan
kuliah maupun konseling bagi siswa SMA.
Penelitian dilakukan pada SMAN Titian
Teras H. Abdurahman Sayoeti - Jambi.
Sekolah tersebut dipilih karena keberagaman
asal siswa dan kemudahan prosedur
perizinan. Siswa berasal dari semua
kabupaten/kota di Propinsi Jambi dan
bahkan luar daerah. Subjek yang dilibatkan
dari kelas X, XI dan XII baik berasal dari
kelas IPA maupun IPS. Pengisian skala
dilakukan pada jam pelajaran.Waktu
pengerjaan skala sekitar 10 menit.
Pengerjaan oleh subjek dilakukan pada
Maret 2012.
Tabel 2. Hasil Indeks Diskriminasi Item
No.
Item
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Reliabilitas
Teknik Analisis Data
Analisis Indeks diskriminasi item
menggunakan teknik korelasi. Teknik ini
mengkorelasikan antara skor item dengan
skor total skala. Item memenuhui kriteria
memiliki korelasi positif dengan skor total
skala. Pada validitas konstrak, analisis
dilakukan dengan metode analisis faktor
‘confirmatory factor analysis’. Analisis
faktor
mengkonfirmasi
faktor
yang
membentuk skala. Ketiga faktor yang
dikonfirmasi berupa potensi, evaluasi dan
aktivitas.
Item
memenuhui
standar
berkorelasi positif tinggi dengan satu faktor
dan berkorelasi rendah dengan faktor lain.
Mat
Fis
Kim
Bio
.701
.722
.445
.544
.539
.645
.662
.669
.790
.813
.758
.517
.732
.740
.759
.625
.594
.937
.748
.766
.645
.658
.668
772
.805
.805
.833
.828
.815
.621
.849
.839
.794
.639
.648
.960
.812
.815
.693
.707
.720
.740
.769
.763
.848
.792
.786
.624
.829
.795
.797
.730
.676
.962
.740
.784
.621
.602
.700
.702
.767
.739
.856
.805
.602
.693
.811
.801
.786
.749
.700
.956
Tabel 2 menunjukkan indeks diskriminasi
item dari setiap komponen. Semakin tinggi
korelasi item dengan skala semakin
memenuhui kriteria item tersebut. Item yang
memiliki korelasi positif yang tinggi
40
Edu-Sains Volume 3 No. 2 Juli 2014
mendukung fungsi skala. Item tersebut dapat
membedakan individu yang memiliki
karakteristik tinggi maupun rendah. Item
dapat menjelaskan individu yang bersikap
positif maupun negatif. Indeks diskriminasi
item merupakan landasan dalam memilih
item untuk analisis lebih lanjut. Item yang
lolos seleksi jika memiliki koefisien ≥ 0.30
(Urbina, 2004). Item tersebut menunjukkan
item yang bisa berfungsi dengan baik. Item
tersebut dapat membedakan subjek yang
memiliki atribut atau tidak (Azwar,
2013). Semua item pada skala sikap
terhadap pelajaran Matematika dan Sains
lolos
seleksi.
Semua
skor
indeks
diskriminasi item berada ≥ 0.30. Data juga
menunjukkan reliabilitas skala setiap
komponen. Reliabilitas subskala Matematika
sebesar 0,93. Reliabilitas skala Fisika
sebesar 0,96. Reliabilitas skala Kimia
sebesar 0,96. Reliabilitas skala Biologi
sebesar 0,95.
3
Validitas Faktorial
Tabel 3. Hasil Analisis Faktor
1
2
Fisika
13, 14,
15, 16
3, 4
6, 8,
16
3, 4
Kimia
14, 15
3,4
5, 12,
17
5,17
Validitas faktorial merupakan jenis validitas
konstruk. Validitas yang didasarkan pada
data di lapangan. Data tersebut mencari
hubungan dengan teori yang membentuk
skala. Azwar (2013) analisis faktor
merupakan prosedur matematika yang
kompleks untuk melihat saling hubungan
antar variabel. Dasar analisis faktor adalah
perilaku manusia banyak ragamnya.
Perilaku yang banyak ragam didasari oleh
faktor yang terbatas (Suryabrata, 2006).
Perilaku yang sejenis berkumpul pada satu
faktor tertentu. Item perilaku tersebut
berkorelasi tinggi dengan suatu faktor.
Confirmatory factor analalisys digunakan
dalam
penelitian
ini.
Teknik
ini
mengkonfirmasi
faktor
yang
telah
diasumsikan (Widhiarso, 2010). Osgood
mengatakan bahwa sikap memiliki tiga
dimensi utama, yaitu: evaluasi, aktivitas dan
potensi (Azwar, 2011). Ketiga dimensi
tersebut dikonfirmasi melalui analisis faktor.
Syarat utama alat ukur yang baik adalah
valid (Azwar, 2009). Validitas mengacu
sejauh mana alat ukur mampu mengungkap
aspek yang hendak diungkap (Suryabrata,
2006). Validitas yang digunakan dalam
penelitian ini berupa validitas logis, faktorial
dan konvergen. Validitas logis didapat
melalui analisis rasional item (Azwar,
2013). Validitas ini memastikan bahwa item
sesuai dengan konstrak yang hendak
diungkap. Validitas faktorial dan konvergen
didapat melalui analisis statistik.
Mtk
5, 17
Validitas faktorial menunjukkan tiga faktor
membentuk skala. Ketiga faktor tersebut
adalah evaluasi, aktivitas dan potensi.
Validitas faktor melihat sejauh mana muatan
faktor analisis sesuai dengan teori yang
mendasari (Suryabrata, 2005). Faktor
tersebut sesuai dengan asumsi teoritis yang
diajukan. Item-item serumpun berkumpul
pada di suatu dimensi. Dimensi aktivitas
diwakili
oleh
item
dibenci-dicintai,
membosankan-membetahkan
melesukanmenggairahkan.
menakutkan-menantang,
biasa-istimewa, jijik-takjub. Dimensi potensi
diwakili oleh susah-gampang, rumitsederhana, berat-ringan. Dimensi evaluasi
diwakili oleh tidak bermanfaat-bermanfaat
dan tidak penting-penting. Item serumpun
berkumpul pada suatu faktor (Widhiarso,
2010).
Validitas
Nomor
Item
Faktor
5, 12
Bio
8, 15,
16
3,4
41
Periantalo dkk. Konstruksi skala sikap….
Item
Analisis faktor memberikan gambaran item
terbaik. Item terbaik berkumpul pada suatu
faktor. Item memiliki korelasi yang tinggi
dengan satu faktor, memiliki korelasi rendah
dengan faktor lain. Analisis faktor
memberikan konfirmasi terhadap tiga faktor
yang membentuk skala. Item yang
berkorelasi tinggi dengan satu faktor
menjadi item final.
Tabel 4. Penyusunan Skala Final
Matema
tika
Fisika
Kimia
Biologi
Skala
Utama
Paralel
No
faktor
No
faktor
5
3
12
3
4
2
3
2
15
1
14
1
5
2
12
2
4
3
3
3
8
1
16
1
17
3
12
3
3
2
4
2
15
1
16
1
5
3
17
3
3
2
4
2
16
1
15
1
Validitas Konvergen
Validitas konvergen merupakan bagian dari
validitas
konstruk.
Validitas
yang
didasarkan pada data lapangan. Validitas
yang mencari hubungan di dalam struktur
skala. Validitas konvergen didapat melalui
korelasi antar subskala. Subskala secara
teoritis berhubungan erat memiliki korelasi
tinggi. Sementara, subskala secara teoritis
tidak berhubungan erat berkorelasi rendah
(Azwar, 2009; Suryabrata, 2006; Widhiarso,
2010).
Tabel 4 merupakan spesifikasi dalam
penyusunan final skala. Pada subskala, item
yang dirakit sebanyak tiga item. Satu item
berasal dari setiap faktor. Total semua item
adalah 12 item. Jumlah item yang dirakit
sedikit. Hal ini digunakan untuk kepraktisan
skala. Skala pararel digunakan skala
cadangan dan reliabilitas paralel.
Tabel 6. Korelasi antar Komponen Skala
Mat
Fis
Kim
Bio
Reliabilitas
Fis
Kim
Bio
Mat
1
.522** .429** .181*
1
.623** .445**
1
.437**
1
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
komponen satu sama lain memiliki
hubungan. Matematika memiliki korelasi
tinggi dengan Fisika dan Kimia. Ada banyak
materi yang berhubungan dengan angka di
Tabel 5. Reliabilitas
Koefisien
N
12
Koefisien reliabilitas skala konsistensi
internal sebesar 0,84. Secara umum,
koefisien reliabilitas yang bagus adalah ≥
0,90 (Azwar, 2013; Suryabrata, 2006).
Penurunan reliabilitas disebabkan jumlah
item. Item awal berjumlah 17 menjadi 12.
Banyaknya jumlah item mempengaruhi
reliabilitas (Azwar, 2013). Reliabilitas
konsistensi
internal
0,80
sudah
menunjukkan reliabilitas yang bagus (Sing
& Jha, 2010). Pada pendekatan paralel tes,
koefisien reliabilitas sebesar 0,924. Hal ini
menunjukkan bahwa skala memiliki
reliabilitas yang bagus. Hal ini berarti bahwa
92,4% merupakan skor murni dan 0,76%
error pengukuran. Skala memiliki tingkat
kepercayaan tinggi.
Penyusunan Skala Final
Sub
Skala
12
Tes
Konsistensi
internal
Paralel
0,84
0,92
185
185
42
Edu-Sains Volume 3 No. 2 Juli 2014
Fisika dan Kimia. Sementara berkorelasi
rendah dengan Biologi. Hampir tidak ada
materi yang berhubungan dengan angka di
Biologi. Sebaliknya, hampir tidak Materi
yang berhubungan dengan Biologi di
Matematika. Fisika berkorelasi dengan
Kimia dan Biologi. Korelasi Fisika dengan
Kimia lebih tinggi daripada Fisika
dengan Biologi. Materi Fisika lebih banyak
berhubungan dengan Kimia daripada
Biologi. Kimia memiliki hubungan cukup
tinggi dengan Biologi. Ada banyak materi
Biologi di Kimia.
merasa pelajaran tersebut sulit, kompleks
dan jijik.
KESIMPULAN
Faktor yang diasumsikan terbukti sehingga
skala memiliki validitas faktorial. Keempat
komponen skala ‘Matematika, Fisika, Kimia
dan Biologi’ memiliki korelasi positif.
Reliabilitas skala dengan metode konsistensi
internal sebesar 0,84 dan metode tes paralel
sebesar
0,92.
Reliabilitas
tersebut
menunjukkan reliabilitas yang bagus. Semua
item yang berada dalam skala memiliki skor
D ≥ 4,00 sehingga semua item memiliki
diksriminasi item yang bagus. Jumlah item
yang sedikit, petunjuk penggunaan dan
pemberian
skor
sederhana
sehingga
memudahkan tester dan subjek.
Norma
Norma mengacu kepada makna dari
skor yang didapat. Norma yang digunakan
dalam penelitian ini berupa norma
berdasarkan
kriteria.
Saat
subjek
mendapatkan suatu skor, skor dapat dilihak
klafisikasi. Klasifikasi memiliki interpretasi
tertentu.
REFERENSI
Tabel 7. Norma Skala
Skor
20, 21
17, 18,19
13, 14, 15, 16
8, 9, 10, 11, 12
3, 4, 5, 6, 7,
Abdulkarim, R. & Raburu, P. 2007.
Determining
the
Attitude
of
Undergraduate Students towards
Physics through Concept Mapping.
Mediterranean Journal of Social
Sciences, Volume 4 Issue 3 Pages
331-337.
Klasifikasi
Sangat Positif
Positif
Netral
Negatif
Sangat Negatif
Adesoji, F.A. 2008. Managing Students’
Attitude towards Science through
Problem
Solving
Instructional
Strategy. Anthropologist, Volume 10
Issue 1 Pages 21-24.
Tabel 7 di atas merupakan norma dari skala
sikap. Penggunaan norma berdasarkan sub
skala. Skala memberikan informasi tentang
sikap terhadap pelajaran Matematika, Fisika,
Kimia dan Biologi. Makna sikap positif
adalah subjek menyenangi pelajaran
tersebut. Subjek betah saat berada di kelas
tersebut. Subjek merasa pelajaran tersebut
penting dan bermafaat. Subjek merasa
pelajaran tersebut gampang, sederhana, dan
istimewa. Semenrara makna sikap negatif
adalah subjek tidak menyenangi pelajaran
tersebut. Subjek merasa pelajaran tersebut
tidak penting dan tidak bermanfaat. Subjek
Azwar, S. 2009. Validitas dan Reliabilitas.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2011. Sikap : Teori dan
Pengukurannya. Ed. Ke-2.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
43
Periantalo dkk. Konstruksi skala sikap….
Azwar, S. 2013. Penyusunan Skala
Psikologi. Ed. Ke-2. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Naisaban, L. 2005. Psikologi Jung: Tipe
Kepribadian Manusia dan Rahasia
Sukses dalam Kehidupan. Jakarta:
Grasindo.
Cohen, R. J., Swerdlik, M. E. 2005.
Psychological
Testing
and
Assessment: an Introduction to Test
and Measurement. 6th Ed. Boston:
Mc Graw Hill.
Mohamed, L., & Waheed, H. 2011.
Secondary
Students’
Attitude
towards Mathematics in a Selected
School of Maldives. International
Journal of Humanities and Social
Science, Volume 1 Issues 15, Pages
277-281.
Eryilmaz, A., Yildiz, I. & Akin, S. 2011.
Investigating
of
Relationships
between Attitudes towards Physics
laboratories,
Motivation
and
Motivation
for
the
Class
Engagement. Eurasian Journal
of Physical Chemistiry Education,
Volume I (Special Issue) Pages 5964.
Narmadha, U., & Chamundeswari, S.
2013. Attitude towards Learning of
Science and Academic Achievement
in Science among Students at the
Secondary Level.
Journal of
Sociological Research, Volume 4
Issue 2 Pages 115-124.
Farooq, M.S., & Shah, S. Z. U. 2008.
Students’
Attitude
toward
Mathematic. Pakistan Economic and
Social Review, Volume 6 Issue 1
Pages 75-83.
Olasimbo, O., & Rotimi, C.O. 2013.
Attitudes of Students towards the
Study of Physics in College of
Education Ikere Ekiti, Ekiti State,
Nigeria
Olusola,
Olasimbo. American International
Journal of Contemporary Research,
Volume 2 Issue 12 Pages 86-89.
Gbore, L.O. 2013. Relative Contributions
of Selected Teachers’ Variables and
Students’
Attitudes
toward
Academic Achievement in Biology
among Senior Secondary School
Students in Ondo State, Nigeria.
Mediterranean Journal of Social
Sciences, Volume 4 Issue 1
Pages 243-250.
Singh, K. & Jha, S. J. 2010. The Positive
Personality Traits Questionnaire:
Construction
and
Estimation
of
Psychometric
Properties.
Psychological Study, Volume 55
Issue 3 Pages 248–255.
Lafortune, L., et.al. 2013. Evolution
of Pupils’ Attitudes to Mathematics
When Using a Philosophical
Approach.
Analytic
Teaching, Volumne 20 Issue 1
Pages 46-63.
Lahey,
Soomoro, A. Q., Qaisrani, M. M., & Uqaili,
M.A. 2011. Measuring Students’
attitudes Towards Learning Physics:
Experimental Research. Australian
Journal of Basic and Applied
Sciences, Volume 5 Issue 11 pages
2282-2288.
B. B. 2007. Psychology: an
introduction. 9th Ed. Boston: Mc
Graw Hill.
44
Edu-Sains Volume 3 No. 2 Juli 2014
Suryabrata, S. 2005. Pengembangan Alat
Ukur Psikologis. Yogyakarta: Penerbit
Andi.
Widhiarso, W. (2010). Konstrak psikologi.
http://wahyupsy.blog.ugm.ac.id/
diakses 12 Januari 2011.
Urbina, S. 2004. Psychological testing. New
York: John Wiley and Sons.
Zan, R., Martino, P. D. 2007. Attitude
toward Mathematics: Overcoming
the Positive/Negatives Dichotomy.
Monograph, Volume 3, Pages 157-168
Widhiarso, W. (2010). Analisis Butir dalam
Pengembangan
Pengukuran
Psikologi. http://wahyupsy.blog.ugm.
ac.id/ diakses 12 Januari 2011
.
45
Fly UP