...

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENGUNGKAPKAN

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENGUNGKAPKAN
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENGUNGKAPKAN WAKTU
(TIME) MELALUI MODEL MAKE A MATCH DI KELAS II
SDN 8 LIMBOTO BARAT KABUPATEN GORONTALO
LEMBAR PENGESAHAN JURNAL
Diajukan sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan
Pada Fakultas Ilmu Pendidikan
Oleh
FATMAH TANIYO
NIM : 151 410 160
Pembimbing I
Pembimbing II
Dra. Hj. Evi Hasim, M.Pd
NIP. 19600128 198603 2 003
Wiwy T. Pulukadang, S.Pd, M.Pd
NIP. 19800306 200604 2 025
Mengetahui
Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Dra. Hj. Hakop Walangadi, M.Si.
NIP. 19580712 198403 2 001
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENGUNGKAPKAN WAKTU
(TIME) MELALUI MODEL MAKE A MATCH DI KELAS II
SDN 8 LIMBOTO BARAT KABUPATEN GORONTALO
Fatmah Taniyo, Evi Hasim, M.Pd, Wiwy T. Pulukadang1
Abstrak
Masalah dalam penelitian ini adalah apakah melalui model make a match dapat
meningkatkan kemampuan siswa mengungkapkan waktu (time) bahasa Inggris di kelas II
SDN 8 Limboto Barat Kabupaten gorontalo? Tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kemampuan siswa mengungkapkan waktu (time) bahasa Inggris melalui
model Make A Match .
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus 1 dan siklus II.
Berdasarkan data observasi awal siswa yang mampu mengungkapkan waktu (time) bahasa
Inggris yakni hanya 9 (24 %) dari 38 orang siswa. Pada siklus I sebanyak 17 (45%) dari 38
orang siswa dan pada siklus II meningkat menjadi 31 (82 %) orang siswa dari 38 orang
siswa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model
Make A Match dapat meningkatkan kemampuan mengungkapkan waktu (time) bahasa
Inggris pada siswa kelas II SDN 8 Limboto Barat Kabupaten Gorontalo.
Kata Kunci : Mengungkapkan waktu (time), model Make A Match
1
Fatmah Taniyo Selaku Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar; Dra. Hj. Evi Hasim, M.Pd selaku
Dosen tetap Pendidikan Guru Sekolah Dasar, UNG; Wiwy T. Pulukadang, S.Pd, M.Pd Selaku dosen Tetap
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Pendahuluan
Bahasa Inggris mempunyai peran dalam berbagai disiplin dan menunjukkan daya
fikir manusia, dimana dalam pembelajaran bahasa Inggris banyak menuntut siswa agar
mampu berkomunikasi dengan baik secara lisan maupun tulisan, untuk itu guru harus
berupaya memberikan kesan yang bermakna dan menyenangkan yang di sajikan dengan
media yang menarik bagi siswa sehingga pelajaran bahasa Inggris dapat dipahami dengan
mudah.
Mengingat pentingnya peranan mengungkapkan waktu (time) tersebut bagi
perkembangan siswa, maka cara guru mengajar mengungkapkan waktu (time) haruslah
memilih metode yang tetap dan benar sehingga mudah dipahami anak yang mungkin
selama ini cara penyampaian guru kurang tepat. Dalam pengajaran baik metode maupun
strategi pendekatan hasil yang diperoleh siswa relatif rendah serta anak kurang berminat
dalam pengajaran Bahasa Inggris.
Adapun masalah yang ditemukan di SDN 8 Limboto Barat dalam kemampuan
mengungkapkan waktu (time) yakni masih banyak kendala yang dialami siswa dalam
mengungkapkan waktu (time). Siswa terkadang belum memahami dalam mengungkapkan
waktu (time). Selain itu, masalah lain banyak siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam
mengungkapkan waktu (time). Hal ini disebabkan karena beberapa faktor. Antara lain
siswa tidak mempunyai tujuan pembelajaran yang jelas, siswa tidak dapat memiliki konsep
dasar dari materi yang diajarkan, serta terbatasnya kemampuan siswa dalam menunjukkan
kemampuannya sehinnga kemampuan siswa untuk mengungkapkan waktu (time) tidak
meningkat. Kondisi inilah yang menyebabkan kemampuan mengungkapkan waktu (time)
siswa sulit untuk dipahami. Untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa kelas II,
guru menggunakan model make a match. Dengan ini siswa dianggap mampu
mengungkapkan waktu dalam bahasa Inggris.
Melihat hal ini peneliti
tertarik mengangkat permasalahan dalam
judul
“Meningkatkan Kemampuan Mengungkapkan Waktu (Time) Melalui Model Make A
Match Di Kelas II SDN 8 Limboto Barat Kabupaten Gorontalo’’
Pengertian Kemampuan Mengungkapkan Waktu
Mengungkapkan tidak datang secara langsung, melainkan harus melalui latihan
yang banyak dan teratur. Mengungkapkan atau pengungkapan adalah kegiatan yang
menggunakan tulisan sebagai mediumnya. Kegiatan pengungkapan tersebut adalah cara
penyampaian pesan kepada orang lain yang harus dapat dipahami. Sebab kegiatan
pengungkapan merupakan bentuk pengembangan kemampuan mengungkapkan perlu
mendapat perhatian yang sungguh-sungguh sejak pendidikan dasar. Sebagai aspek,
kemampuan mengungkapkan dapat di kuasai siapa saja yang memiliki kemampuan yang
intelektual yang memadai. Dalam mengungkapkan pula siswa diharuskan memiliki
kegemaran mengungkapkan untuk meningkatkan pengetahuan. Siswa dapat menuangkan
wawasannya
serta
menyukai
kegiatan
mengungkapkan
seperti
waktu
(time).
Mengungkapkan merupakan proses belajar yang memerlukan ketekunan berlatih, semakin
rajin berlatih maka mengungkapkan semakin meningkat. Oleh karena itu, keterampilan
mengungkapkan siswa perlu di kembangkan dan di harapkan semua siswa mampu
mengungkapkan waktu (time). Mengungkapkan adalah kegiatan yang menuntut adanya
latihan dan membutuhkan ketelitian serta kecerdasan dalam menyajikan sebuah gagasan
dan perhatian untuk mengungkapkan waktu (time).
Berdasarkan uraian diatas, jelas bahwa kemampuan mengungkapkan waktu (time)
sangat penting. Jadi kemampuan mengungkapkan waktu (time) adalah kesanggupan
seseorang berusaha dengan diri sendiri untuk mampu mengungkapkan dan melatih diri
sendiri untuk mengungkapkan waktu (time).
langkah - langkah Make A Match Dalam Pembelajaran Mengungkapkan Waktu
(Time)
1.
Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok
untuk sesi review.
2.
Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu.
3.
Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
4.
Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
5.
Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
6.
Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat
menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah
disepakati bersama.
7.
Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda
dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8.
Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu
yang cocok.
9.
Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.
Keseluruhan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini telah dibuktikan oleh
Widyaningsih, dkk (2008) mengatakan penggunaan model make a match dapat
meningkatkan keefektifan Proses Belajar Mengajar (PBM) dan mampu meningkatkan hasil
belajar siswa.
Keunggulan Dan Kelemahan Make A Match
Suatu model pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Ada pun
kelebihan dari make a match adalah sebagai berikut :
a. Siswa terlibat langsung dalam menjawab soal yang disampaikan kepadanya melalui
kartu.
b. Meningkatkan kreativitas belajar siswa.
c. Menghindari kejenuhan siswa dalam mengikuti kegiatn belajar mengajar.
d. Pembelajaran lebih menyenangkan karena melibatkan media pembelajaran yang
dibuat oleh guru.
Sedangkan kekurangan model make a match adalah :
a. Sulit bagi guru mempersiapkan kartu-kartu yang baik dan bagus sesuai dengan
materi pelajaran.
b. Sulit mengatur ritme atau jalannya proses pembelajaran.
c. Siswa kurang menyerapi makna pembelajaran yang ingin disampaikan karena
siswa hanya merasa sekedar bermain saja.
d. Sulit membuat siswa berkonsentrasi.
Metode Penelitian
Tempat penelitian ini dilaksanakan di SDN 8 Limboto Barat Kecamatan Limboto
Barat Kabupaten Gorontalo yang dimulai pada bulan april 2014 sampai dengan juni 2014.
Penulis mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah
tersebut, sehingga memudahkan dalam mencari data, peluang waktu yang luas dan subyek
penelitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis. Dalam penelitian ini yang menjadi
subyek penelitian adalah siswa kelas II SDN 8 Limboto Barat Kecamatan Limboto Barat
Kabupaten Gorontalo dengan jumlah siswa 38 orang terdiri 26 orang anak laki-laki dan 12
orang siswa perempuan, dengan mayoritas pekerjaan orang tua sebagai petani. Adapun
aspek-aspek yang diteliti meliputi aktivitas belajar, hasil belajar, serta respon siswa
terhadap pembelajaran. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu deskriptif
kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif berupa nilai tes tertulis yang
diperoleh siswa, sedangkan analisis kualitatif berupa informasi tetap keefektifan
pembelajaran didalam kelas ketika guru mengajarkan bahasa Inggris. Analisis deskriptif
kuantitatif disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Sedangkan deskriptif kualitatif
dilakukan untuk mendeskripsikan perilaku siswa yang diketahui dari hasil pengamatan
dengan menggunakan lembar observasi yang terjadi pada pelaksanaan proses belajar
mengajar. Skor tertinggi yang dapat dicapai siswa adalah 100 dengan nilai ketuntasan 65.
Deskripsi Hasil Penelitian
Dari kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di SDN 8 Limboto Barat khususnya
pada siswa kelas II, Peneliti mengadakan observasi awal, dalam hal ini peneliti mengamati
kegiatan belajar mengajar di kelas II yaitu pada pembelajaran bahasa Inggris khususnya
kegiatan belajar siswa dalam mengungkapkan waktu (time) bahasa Inggris. Dari hasil
observasi, peneliti mengambil data perolehan kemampuan siswa dalam mengungkapkan
waktu (time) bahasa Inggris, yang dapat dilihat pada perolehan nilai kemampuan siswa
mengungkapkan waktu (Time) bahasa Inggris
Dari hasil pengamatan observasi awal di atas dapat diuraikan sebagai berikut :
a. dari 38 orang siswa terdapat 9 orang siswa yang masuk pada kategori mampu atau 24 %
b. siswa yang masih pada kategori tidak mampu berjumlah 29 orang siswa atau 76 %
Data di atas menunjukkan bahwa dari seluruh siswa kelas II, berjumlah 38 orang
siswa yang mengikuti proses belajar mengajar sebahagian besar atau 76 % belum mampu
mengungkapkan waktu. Nilai rata-rata kemampuan mengungkapkan waktu bahasa Inggris
sebesar 47 atau masih pada kategori cukup yakni mencakup 24 % atau belum berhasil
a.
Tahap pelaksanaan Siklus I
Hasil Kemampuan siswa mengenal waktu (time) dalam bahasa Inggris setelah
diadakan tindakan pada siklus I mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan hasil
kemampuan siswa pada observasi awal
Dari hasil penilaian pada siklus I ini jika dilihat pada tabel di atas maka dapat
diuraikan bahwa meningkatkan ketepatan bahasa Inggris mengalami peningkatan sampai
45 % atau 17 orang siswa yang mampu dan masih 21 orang siswa yang tidak mampu atau
55%.
Melihat hasil refleksi dari tindakan pada siklus I guna meningkatkan kemampuan
siswa dalam mengungkapkan waktu bahasa Inggris ini maka diadakan tindakan lanjutan
yaitu dengan mengadakan kegiatan siklus II. Kegiatan pemantauan/observasi dilakukan
selama proses pembelajaran berlangsung bertujuan untuk mengetahui tingkah laku siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran mengungkapkan waktu dalam bahasa Inggris
melalui model make a match. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I, maka
peneliti bersama guru mitra menetapkan beberapa kelemahan yang ditemukan dan perlu
diperbaiki sehingga kemampuan siswa mengungkapkan waktu (time) bahasa Inggris
melalui model make a match dapat ditingkatkan. Adapun hasil refleksi siklus I adalah
sebagai berikut :
1) Dalam aspek ketepatan dalam memasangkan kartu bahasa Inggris dengan baik
dan
benar
ditemukan
siswa
belum
mampu
mencocokkan
bila
guru
menyampaikannya secara lisan.
2) Penggunaan make a match belum maksimal dimana siswa kurang berperan aktif
dalam proses pembelajaran
3) Penguasan kelas kurang dimiliki oleh guru dalam hal ini peneliti
4) Langkah-langkah pembelajaran kurang sistematis
5) Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran belum maksimal.
6) Evaluasi dalam pembelajaran kurang sesuai dengan langkah-langkah make a
match dimana evaluasi harus menggunakan lembaran kerja namun siklus I hanya
disampaikan secara lisan.
b.
Pelaksanaan Tindakan Siklus 2
Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini guru sebagai pengajar benar-benar telah
menerapkan
langkah-langkah pembelajaran
yang
efektif
sesuai
dengan
model
pembelajaran make a match dalam meningkatkan kemampuan mengungkapkan waktu
(time) bahasa Inggris. Siklus II membahas tema yang sama seperti pada siklus I yaitu
Kebutuhan manusia, dan proses pembelajaran mengacu pada Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), Pada siklus sebelumnya yaitu siklus I langkah-langkah model make a
macth belum dilaksanakan secara efektif oleh peneliti sehingga belum mampu
memberikan hasil yang maksimal terhadap peningkatan kemampuan mengungkapkan
waktu(time) bahasa Inggris atau dengan kata lain pelaksanaan tindakan pada siklus I
belum berhasil. Untuk melihat kemampuan siswa, pada siklus II ini dilaksanakan evaluasi
tertulis. Berikut ini hasil kemampuan siswa dalam mengungkapkan waktu (Time) bahasa
Inggris melalui model make a match.
Berdasarkan dari data tabel di atas menunjukkan adanya peningkatan kemampuan
siswa, dimana dari 38 orang siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar yang
memperoleh nilai 65 keatas berjumlah 31 orang. Dengan demikian maka jumlah siswa
yang tergolong mampu sebesar 82%, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dibawah 65
kebawah hanya ada 7 orang. Dengan demikian, siswa mengalami peningkatan kemampuan
sebesar 82% pada siklus II. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar diperlukan pula
pengamatan aktivitas siswa seperti yang telah dilaksanakan diobservasi awal dan siklus I.
Pada siklus II telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Dengan
meningkatnya aktivitas guru tersebut dalam membelajarkan mengungkapkan waktu (time)
bahasa Inggris melalui model make a match di kelas II SDN 8 Limboto Barat kabupaten
gorontalo, maka penelitian ini dianggap berhasil dan tidak perlu lagi dilanjutkan pada
siklus berikutnya.
Berdasarkan data hasil kemampuan siswa pada siklus II telah mengalami
peningkatan dari siklus I. Hal ini dapat dilihat pada hasil kemampuan siswa pada siklus II,
dimana kemampuan siswa meningkat menjadi 82% yang memperoleh nilai 65 ke atas atau
dapat dikategorikan mampu dengan nilai rata-rata kelas adalah 70 %. Dengan
meningkatnya kemampuan siswa mengungkapkan waktu (time) bahasa Inggris melalui
model make a match di kelas II SDN 8 Limboto Barat, maka penelitian ini dianggap
berhasil.
Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus
dilakukan dalam empat tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan tindakan, tahap
pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian diperoleh dari data hasil evaluasi berupa tes
lisan pada siklus I maupun siklus II. Dari siklus I dan siklus II tersebut dapat diketahui
peningkatan kemampuan siswa dalam mengungkapkan waktu (time) bahasa Inggris dan
untuk mengetahui perubahan perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran. Pada siklus I
siswa yang tepat mengartikan waktu bahasa Inggris sebanyak 17 orang (45%) dan yang
tidak mampu sebanyak 21 orang (55%).
Ketidakberhasilan pada siklus I yakni masih banyak siswa yang belum menguasai
waktu (time) dalam bahasa Inggris, siswa masih merasa bingung dengan model make a
match karena make a match merupakan hal yang baru bagi mereka. Media pembelajaran
yang digunakan pun belum begitu menarik. Sedangkan pada siklus II siswa belum tepat
mengartikan waktu bahasa Inggris meningkat menjadi 31 orang (82%). Sedangkan yang
tidak mampu 7 orang (18%). Siswa yang tidak mampu ini di sebabkan oleh kemampuan
mencari pasangan belum tepat, kemampuan mengartikan time dalam bahasa Inggris belum
jelas.
Pada pembelajaran siklus II, kendala-kendala yang dihadapi pada siklus I sudah
teratasi pada siklus II yakni sebagian besar siswa sudah menguasai waktu (time) bahasa
Inggris, siswa juga sudah bisa menunjukkan gambar waktu dengan tepat dalam bahasa
Inggris. Selain itu peneliti mengulang ulang cara membaca kata ataupun kalimat bahasa
Inggris dengan benar sebagai contoh, dan menggunakan media pembelajaran yang lebih
menarik.
Berdasarkan data yang diperoleh serta analisis hasil pengamatan menunjukkan
bahwa penggunaan model
make a match sangat efektif untuk digunakan dalam
meningkatkan kemampuan siswa dalam mengungkapkan waktu (time) bahasa Inggris.
Penggunaaan model make a match terbukti memaksimalkan aktivitas siswa dalam
pembelajaran. Siswa terlihat aktif dalam melaksanakan permainan make a match dalam
mengungkapakan waktu (time) bahasa Inggris.
Tabel IV Perbandingan Kemampuan Siswa Mengungkapkan Waktu (Time) Bahasa Inggris
Melalui Model Make A Match Sejak Observasi Awal sampai dengan Siklus II
No.
Hasil Pengamatan
Rata-Rata Hasil
Persentase
Belajar
Kemampuan
1.
Observasi Awal
47
24%
2.
Siklus I
55
45%
3.
Siklus II
70
82%
Dari tabel tersebut jelas menunjukkan bahwa pada observasi awal tingkat
persentase kemampuan siswa hanya sebesar 24% atau 9 orang dari 38 dari jumlah siswa
yang ada di kelas II SDN Limboto Barat. Sedangkan capaian rata-rata kelas hanya 47.
Pada siklus I terlihat bahwa tingkat persentase kemampuan siswa meningkat menjadi 45%
atau 17 siswa dari 38 jumlah siswa. Pada siklus II terlihat bahwa tingkat persentase
kemampuan siswa mencapai 82% atau 31 siswa dari 38 jumlah siswa yang ada di kelas II
SDN 8 Limboto Barat dengan nilai rata-rata 70.
Temuan dan hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa hipotesis penelitian
tindakan kelas ini yang meyatakan bahwa : “Apabila dalam pembelajaran menggunakan
model make a match, maka kemampuan siswa mengungkapkan waktu (Time) bahasa
Inggris di kelas II SDN 8 Limboto Barat dapat meningkat.
Terkait hasil penelitian tersebut maka model make a match hendaknya dapat
dijadikan sebagai salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi guru
dalam meningkatkan pembelajaran. Melalui penggunaan model make a match diharapkan
mampu memotivasi siswa untuk lebih giat belajar sehingga dapat meningkatkan
kemampuan mengungkapkan waktu dengan hasil yang maksimal. Implikasi dari hal
tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan mengungkapkan waktu secara
optimal terhadap pembelajaran bahasa Inggris yang dibelajarkan.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian teori dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya,
maka dalam penelitian ini penulis dapat menarik kesimpulan bahwa penggunaan model
make a match pada pembelajaran bahasa Inggris khusunya tentang ketepatan
memasangkan waktu, dapat meningkatkan kemampuan siswa. Hal ini ditunjukan oleh
terpenuhinya indikator kinerja yang telah ditetapkan yakni, minimal 65 % dari jumlah
seluruh siswa kelas II memperoleh nilai 65 dengan rincian perolehan sebagai berikut:
siklus I memperoleh nilai rata-rata 55 atau 45 % siswa yang mampu dan pada siklus II
perolehan nilai rata-rata meningkat menjadi 70 atau 82% siswa yang mampu.
Dilaksanakannya penelitian tindakan kelas sampai pada siklus II, karena proses
pembelajaran mengungkapkan waktu bahasa Inggris di siklus I belum mencapai indikator
kinerja atau kemampuan siswa masih rendah. Setelah diperbaiki pada pelaksanaan
tindakan siklus II, maka kemampuan siswa meningkat.
Saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut :
1.
Peneltian ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi siswa untuk meningkatkan
kemampuannya pada pengungkapan waktu (time) bahasa Inggris
2.
Penelitian dengan menggunakan model
make a match diharapkan bisa
dikembangkan dalam membelajarkan mata pelajaran lainnya sehingga
dapat
membawa perubahan kearah yang lebih baik serta menjadi tambahan teknik dalam
pembelajaran yang sudah beragam.
Daftar Pustaka
Widyaningsih, dkk. 2008. Penggunaan Model Pembelajaran. Jakart
Pulukadang,Wiwy T. 2013. Pendidikan Bahasa Inggris (Bahan Ajar).Gorontalo. Fakultas
Ilmu Pendidikan UNG
Pulukadang,Wiwi T, Hasim Evi. 2014. Bahasa Indonesia Di Perguruan Tinggi.Gorontalo.
Fakultas Ilmu Pendidikan UN
Mamu, Rahmawaty. 2008. Bahasa Inggris Profesi Kependidikan (Bahan Ajar).
Pendidikan Guru Sekolah Dasar : Universitas Negeri Gorontal
Curran, Lorna. 2009.Pengertian Make A Match, Langkah-Langkah Make A Match. Jakarta
Lie. 2003. Metode Make A Match
http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/metode-make-match.html.akses tanggal
12 Januari 2014
Fly UP