...

KESIAPAN BELAJAR SISWA TUNARUNGU YANG

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

KESIAPAN BELAJAR SISWA TUNARUNGU YANG
HUMANITAS Vol. 12 No.2. 73-81
ISSN 1693-7236
KESIAPAN BELAJAR SISWA TUNARUNGU YANG MENEMPUH
PENDIDIKAN INKLUSI
Bagus Cakraningrat, Fuadah Fakhruddiana
Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan
Jl. Kapas No.9 Semaki, Yogyakarta
[email protected]
[email protected]
Abstract
This research aims to know the deaf student readiness who took inclusive education to learn
and to know the condition that supports and hampers it. This research used quantitative
method by case approach. The data were collected by interview and documentation study.
Content analysis was conducted to analyze the data. According to the result of the research,
it can be concluded that both of the subjects could be said ready for the exam at inclusive
school. The supportive factors of the deaf students readiness are parents’ attention giving,
cooperative teachers and friends’ help while the inhibiting factors that hamper their readiness
are more to the technical problems such as lack of literacy ability that cause difficulties in
understanding the lesson.
Keywords : deaf, inclusive education, study readiness
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan belajar siswa tunarungu yang
menempuh pendidikan inklusi serta mengetahui kondisi yang mendukung dan menghambat
kesiapan belajar siswa tunarungu yang menempuh pendidikan inklusi. Metode penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode wawancara
dan studi dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
isi (content analysis). Dari hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa kedua
subjek dapat dikatakan siap menempuh pendidikan di sekolah inklusi. Faktor pendukung kesiapan
belajar dua subjek tunarungu yang menempuh pendidikan inklusi adalah perhatian orang tua, guru
yang kooperatif, dan teman-teman yang membantu. Sedangkan faktor penghambatnya adalah lebih
pada hal-hal teknis (kurangnya kemampuan berbahasa, sehingga kesulitan memahami pelajaran).
Kata kunci : kesiapan belajar, pendidikan inklusi, tunarungu
Kesiapan Belajar Siswa Tunarungu yang Menempuh Pendidikan Inklusi
Pendahuluan
Anak berkebutuhan khusus (ABK)
merupakan anak yang memiliki hambatanhambatan tertentu yang berbeda dengan anak
yang lainnya. Salah satu ABK adalah anak
yang mengalami gangguan pendengaran
atau yang biasa disebut dengan tunarungu.
Menurut Winarsih (2007), seseorang
yang tunarungu adalah seseorang yang
mengalami kekurangan atau kehilangan
kemampuan mendengar baik sebagian
maupun seluruhnya yang diakibatkan oleh
tidak berfungsinya sebagian atau seluruh
alat pendengaran. Anak tunarungu tidak
dapat menggunakan alat pendengarannya
dalam kehidupan sehari-hari, hal ini
berdampak terhadap kehidupannya secara
kompleks terutama pada kemampuan bahasa
sebagai alat komunikasi yang sangat penting
(Winarsih, 2007).
Individu/anak dengan kemampuan
pendengaran yang kurang, seringkali
terisolasi dari orang-orang di sekelilingnya
baik di rumah, sekolah, tempat bekerja, dan
masyarakat (Fusick, 2008). Anak tunarungu
dengan keterbatasannya juga berhak
mendapatkan pendidikan seperti anak
lainnya, anak-anak tersebut mempunyai hak
yang sama dalam memperoleh pendidikan
dan layanan-layanan dari pemerintah serta
bantuan dari masyarakat. Pasal 5 UndangUndang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa
“setiap warga negara mempunyai hak yang
sama untuk memperoleh pendidikan yang
bermutu” (Pemerintah RI, 2010). Sistem
sekolah umum siswa dengan kekurangan
pendengaran dapat memilih belajar via
inklusi, pendidikan khusus, atau pelayanan
khusus yang mendukung (Fusick, 2008).
Menurut Dirjen PLB (2006) pendidikan
inklusif merupakan sistem penyelenggaraan
pendidikan yang memberikan kesempatan
74
kepada semua peserta didik dari berbagai
kondisi dan latar belakang untuk mengikuti
pendidikan atau pembelajaran dalam satu
lingkungan pendidikan secara bersamasama, dengan layanan pendidikan yang
disesuaikan kebutuhan dan kemampuan
peserta didik. Model yang diberikan sekolah
inklusif ini menekankan pada keterpaduan
penuh, menghilangkan keterbatasan dengan
menggunakan prinsip education for all
(Smart, 2010).
Dunia anak-anak berkebutuhan khusus
terutama anak tunarungu banyak dikenal
dengan sebutan dunia segregatif, dimana
anak-anak tunarungu hanya bersekolah
di sekolah khusus (SLB-B), yang ratarata siswanya hampir memiliki diagnosis
yang sama. Di sekolah inklusif, anak-anak
tunarungu ini akan diperkenalkan dengan
dunia yang sebenarnya dimana latar belakang
siswa sangat beragam sehingga heterogenitas
terasa sangat kental. Menurut Gray, Hosie,
Russell, & Ormel (2001) inklusi yang sukses
bagi anak-anak bisu dan tunarungu juga
tergantung dari bagaimana mereka dapat
menyesuaikan diri secara emosi dan sosial
terhadap lingkungan (Thagard, Hilsmier,
& Easterbrooks, 2011). Seorang anak yang
tidak memiliki kesiapan untuk belajar di
sekolah inklusi akan mengalami hambatan
dalam menjalani proses belajar. Menurut
Slameto (2013) kesiapan sebagai faktor
yang mempengaruhi proses belajar memiliki
pengertian sebagai berikut, kesiapan adalah
kesediaan untuk memberikan respon atau
reaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri
seseorang dan juga berhubungan dengan
kematangan, karena kematangan berarti
kesiapan untuk melaksanakan kecakapan.
Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam
proses belajar, karena jika seseorang itu
belajar dan memiliki kesiapan maka hasil
belajarnya akan optimal.
75
Salah satu permasalahan dalam
sekolah inklusi adalah kesiapan belajar.
Kesiapan ditunjukkan oleh anak dengan
merespon positif terhadap sekolah yang
mendukung proses belajarnya seperti
metode pembelajaran, tersedianya sarana
dan prasarana untuk anak dengan tunarungu,
penerimaan guru dan teman di sekolah,
serta dukungan yang besar dari orang tua.
Pendidikan inklusif dirasa belum maksimal
karena belum memadainya kualitas guru
bagi siswa berkebutuhan khusus. Dinas
Pendidikan Provinsi DIY sendiri baru
menyediakan 132 GPK (Guru Pembimbing
Khusus) untuk sekolah-sekolah inklusi. GPK
diambil dari SLB, dan hanya mendampingi
dua kali dalam seminggu (Suara Merdeka).
Siswa yang memiliki kebutuhan khusus harus
didampingi setiap hari. Permasalahan yang
dihadapi oleh siswa tunarungu diakibatkan
karena adanya keterbatasan komunikasi
dalam proses belajar. Guru diharuskan
untuk menghadapkan wajahnya kepada
mereka saat berbicara, serta harus menulis
dengan jelas, sedangkan banyak siswa lain
yang juga tidak boleh diabaikan. Banyak
orang tua yang terlalu memaksakan anaknya
yang memiliki tunarungu untuk bersekolah
di sekolah inklusi, karena merasa pilu dan
malu untuk menyekolahkan anaknya di
SLB, padahal kenyataannya anak tersebut
belum mampu untuk bersekolah di sekolah
inklusi. Hal ini dapat mempengaruhi
kesiapan peserta didik yang memiliki
tunarungu dalam menempuh pendidikan
inklusi sehingga mencapai hasil belajar
yang baik.
Slameto (2013) mengemukakan
kesiapan adalah keseluruhan kondisi
seseorang yang membuatnya siap untuk
memberi respon atau jawaban dengan
cara tertentu terhadap suatu situasi.
Menurut Djamarah (2011) kesiapan untuk
belajar merupakan kondisi diri yang telah
dipersiapkan untuk melakukan suatu
kegiatan. Tiga aspek yang mempengaruhi
kesiapan yaitu: ( a) kondisi fisik, mental,
dan emosional; ( b) kebutuhan atau motif
tujuan; (c) keterampilan dan pengetahuan
yang telah dipelajari (Slameto, 2013).
Slameto (2013) juga memaparkan faktorfaktor yang mempengaruhi kesiapan belajar,
yaitu: (a) faktor keluarga; (b) faktor sekolah
yang terdiri dari guru, sumber belajar, dan
keadaan ruang kelas; (c) faktor lingkungan.
Berdasarkan teori ekologi menurut
Urie Bronfenbrenner (Berns, 2004) struktur
mikrosistem menjadi masukan interaksi
langsung dengan agen-agen sosial (social
agents) yang berkembang baik. Anak akan
berinteraksi dalam suatu lingkungan atau
komunitas yang signifikan seperti merespon
sikap dari guru, persahabatan, dukungan bagi
siswa, dukungan untuk guru, kepemimpinan,
administrasi, kurikulum, penilaian, program,
keterlibatan orang tua dan keterlibatan
masyarakat, sehingga persiapan terbaik bagi
siswa yang menempuh pendidikan inklusi
adalah interaksi a n a k secara aktual di
dalam kelas. C ara yang paling bagus
demi pencapaian pengertian dan kerjasama
yang besar adalah keterlibatan siswa yang
disertai dengan dukungan yang positif
(Smith, 2006). Proses menuju kesiapan
memiliki pengaruh dari dalam maupun dari
luar, sehingga siswa dikatakan siap apabila
mampu untuk merespon positif terhadap
lingkungan tempat siswa berada.
Berdasarkan permasalahan dan
pemaparan para ahli di atas, peneliti tertarik
untuk meneliti kesiapan belajar siswa
tunarungu yang menempuh pendidikan
inklusi serta faktor pendukung dan
penghambat dalam proses pembelajarannya.
R umusan masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimana kesiapan belajar siswa
tunarungu yang menempuh pendidikan
inklusi serta kondisi apa saja yang
Kesiapan Belajar Siswa Tunarungu yang Menempuh Pendidikan Inklusi
mendukung dan menghambat kesiapan
belajar siswa tunarungu yang menempuh
pendidikan inklusi.
Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif
dengan metode studi kasus. Menurut Bodgan
dan Taylor (Moleong, 2010) metodologi
kualitatif adalah prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif kualitatif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang diamati.
Hancock & Algozzine (2006), menyatakan
bahwa penelitian studi kasus adalah
penelitian yang dilakukan terhadap suatu
‘obyek’, yang disebut sebagai ‘kasus’, yang
dilakukan secara seutuhnya, menyeluruh dan
mendalam dengan menggunakan berbagai
macam sumber data.
Penggunaan metode penelitian
kualitatif dengan pendekatan studi kasus
ini, realitas mengenai kesiapan belajar siswa
tunarungu yang menempuh pendidikan
inklusi akan dipandang sebagai suatu
hasil konstruksi pemikiran yang dinamis
dan penuh makna. Sugiyono (2011)
menyebutkan bahwa realitas dalam metode
penelitian kualitatif merupakan konstruksi
dari pemahaman terhadap semua data
dan maknanya. Teknik pemilihan subjek
menggunakan
purposive
sampling.
Pemilihan metode purposif didasarkan
pada pernyataan Poerwandari (2009)
bahwa pengambilan sampel pada penelitian
kualitatif harus disesuaikan dengan masalah
dan tujuan penelitian. S ubjek penelitian
a d a l a h siswa tuna rungu bawaan yang
masuk dalam klasifikasi profound losses
yang menempuh pendidikan inklusi, duduk
di kelas VII dan sebelumnya menempuh
pendidikan di SLB, diperoleh dua subjek
dalam penelitian ini.
76
Metode pengambilan data yang
dilakukan
adalah
dengan
metode
wawancara dan analisis dokumen. Data
akan dianalisis dengan menggunakan teknik
analisis isi (content analysis). Penelitian
ini menggunakan wawancara dengan
metode semi terstruktur yang termasuk
dalam kategori in-depth interview dan
dalam pelaksanaannya lebih bebas bila
dibandingkan dengan wawancara terstruktur.
Berdasarkan kondisi di lapangan subjek
penelitian adalah siswa tunarungu, maka
wawancara secara langsung tidak dapat
digunakan untuk memperoleh data, sehingga
digunakan metode wawancara secara
tertulis dengan menggunakan media tulis,
tatapi peneliti akan melakukan wawancara
langsung kepada significant person, yaitu
orang tua dan GPK dari subjek penelitian.
Peneliti juga melakukan observasi pada
saat subjek sedang belajar di dalam kelas
dengan menggunakan metode observasi
non partisipan untuk menambah kekuatan
data. Metode studi dokumentasi yang
digunakan peneliti diarahkan pada data
hasil rapor kedua subjek saat menempuh
pendidikan selama satu semester di sekolah
inklusi.
Menurut Moleong (2010) data yang
diperoleh dalam penelitian akan lebih
diyakini kebenarannya jika ada dua sumber
atau lebih menyatakan hal yang sama, oleh
karena itu untuk mencapai kredibilitas
penelitian, maka peneliti melakukan
pendekatan triangulasi. Triangulasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
triangulasi sumber dan triangulasi metode.
Menurut Patton (Moleong, 2010) triangulasi
sumber memiliki arti membandingkan dan
mengecek ulang derajat keterpercayaan suatu
informasi yang diperoleh melalui sumber
yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
Triangulasi metode yaitu pengecekan
terhadap derajat kepercayaan penemuan
77
hasil penelitian dengan beberapa teknik
pengumpulan data yaitu menggunakan
metode wawancara dan studi dokumentasi.
Hasil dan Pembahasan
Kedua subjek dalam penelitian
ini, mengalami tunarungu sejak kecil.
Menurut klasifikasi yang dipaparkan oleh
Streng (Haenudin, 2013), tunarungu yang
dialami kedua subjek termasuk dalam
klasifikasi profound losses, yaitu kehilangan
kemampuan pendengaran 75 dB ke atas.
Subjek pertama mengalami kehilangan
kemampuan pendengaran sebesar 120 dB
yang diakibatkan oleh adanya kelainan
pada otak bagian kirinya, sedangkan subjek
kedua mengalami kehilangan kemampuan
pendengaran sebesar 98-99 dB yang
diakibatkan oleh penyakit ketika dalam
kandungan.
Kedua subjek sedang menempuh
pendidikan di sebuah sekolah inklusi di
Bantul, yaitu di SMP Negeri dan duduk
di kelas VII, artinya subyek belum terlalu
lama menempuh pendidikan inklusi. Model
pendidikan inklusi yang diterapkan di SMP
Negeri ini, berdasarkan pernyataan Vaughn,
Bos & Schumn (Direktorat Pembinaan
Sekolah Luar Biasa, 2008) termasuk ke
dalam kelas reguler dengan pull out; yaitu
anak berkebutuhan khusus belajar bersama
dengan anak lain di kelas reguler, namun
dalam waktu-waktu tertentu ditarik keluar
dari kelas reguler ke ruang bimbingan atau
ruang sumber untuk belajar dan mendapat
layanan bimbingan dari Guru Pembimbing
Khusus. Kedua subjek sebelumnya
menempuh pendidikan di sebuah SLB.
Subjek pertama pernah bersekolah di
SLB BSP, sedangkan subjek kedua pernah
bersekolah di SLB Negeri.
Gangguan
pendengaran
yang
dialami oleh kedua subjek ini terkadang
mengakibatkan kedua subjek mengalami
kesulitan dalam belajar di sekolah. Kesulitan
belajar ini dikarenakan keterbatasan dalam
kemampuan bahasa kedua subjek, sehingga
sulit untuk bisa memaknai sebuah kalimat.
Hal ini juga didukung oleh Efendi (2008)
bahwa kehilangan pendengaran yang
dialami anak tunarungu berdampak pada
kemiskinan kosakata, kesulitan berbahasa
dan berkomunikasi. Gangguan pendengaran
juga pernah menyebabkan kedua subjek
merasa malu dengan keadaannya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Solikhatun (2013), membuktikan
bahwa interaksi sosial yang dilakukan
penyandang tunarungu di lingkungan
sosialnya menggambarkan bahwa dalam diri
penyandang tunarungu cenderung memiliki
rasa kurang percaya diri, minder, tidak
mudah dekat dengan orang lain khususnya
orang normal, tapi dengan berjalannya
waktu, kedua subjek sudah mampu untuk
beradaptasi dengan lingkungan inklusi
tempat mereka bersekolah.
Kedua subjek memiliki motivasi
dan kesungguhan dalam hal belajar,
terlihat bahwa mereka selalu mengerjakan
tugas yang diberikan oleh guru, selalu
membawa pelajaran sesuai jadwal, selalu
memperhatikan yang guru jelaskan di
kelas dan selalu disiplin dalam hal belajar.
Motivasi belajar merupakan kekuatan, daya
pendorong, atau alat pembangun kesiapan
dan keinginan yang kuat dalam diri siswa
untuk belajar secara aktif, kreatif, efektif,
inovatif, dan menyenangkan (Hanafiah,
2009).
Kedua subjek memiliki motif yang
sama untuk belajar di sekolah inklusi, yaitu
agar bisa belajar untuk bersosialisasi dengan
orang normal, karena sebagai bagian yang
integral dari masyarakat yang mendengar,
anak tunarungu tidak dapat lepas dari nilai
sosial yang berlaku dan harus dilaksanakan
Kesiapan Belajar Siswa Tunarungu yang Menempuh Pendidikan Inklusi
(Efendi, 2008). Subjek pertama, masuk
ke sekolah inklusi adalah keinginannya
sendiri, walaupun subjek sempat merasa
menyesal ketika sudah masuk ke sekolah
inklusi, tetapi dengan adanya dukungan
dari orangtuanya, subjek bisa kembali
percaya diri untuk tetap meneruskan
pendidikan di sekolah inklusi. Subjek
kedua, masuk ke sekolah inklusi adalah
keinginan orangtuanya, karena orangtuanya
menginginkan subjek untuk bisa belajar
bersosialisasi dengan orang- orang normal
dan subjek pun menyetujui keputusan
orangtuanya.
Kedua subjek sebenarnya tidak
memiliki
masalah
kognisi,
tetapi
keterbatasan yang dimiliki, terkadang
menyebabkan subjek memperoleh nilai
yang kurang memuaskan dalam ulangan,
hal ini lebih sering terjadi pada subjek
pertama dibandingkan dengan subjek
kedua. Hasil rapor yang diperoleh oleh
kedua subjek, bahwa subjek pertama masih
memperoleh dua nilai dibawah standar
KKM, seperti mata pelajaran IPA dan Seni
Budaya dengan nilai 2.73 dari skala 4.00
dan dua nilai sama dengan KKM seperti
mata pelajaran Penjaskes dan Bahasa
Jawa dengan nilai 2.86 dari skala 4.00,
sedangkan semua nilai subjek kedua sudah
berhasil mencapai KKM, walaupun dengan
nilai yang sama dengan standar KKM seperti
mata pelajaran Bahasa Inggris dan Seni
Budaya dengan nilai 2.86 dari skala 4.00.
Pintner (Efendi, 2008), seorang psikolog
yang bekerja pada lembaga pendidikan
anak tunarungu mengemukakan, bahwa
anak tunarungu hanya dapat menunjukkan
kemampuan dalam bidang motorik dan
mekanik, serta intelegensi konkret, tetapi
memiliki keterbatasan dalam intelegensi
verbal dan kemampuan akademik.
Kedua subjek juga memiliki keluarga
yang sangat mendukung kegiatan belajar
78
mereka. Bentuk dukungan yang diberikan
oleh keluarga subjek pertama dan kedua
tidak jauh berbeda. Bentuk dukungan yang
diberikan pada subjek pertama berupa
pemberian pemahaman terkait kondisi
subjek, perhatian, bimbingan, kasih sayang,
dan semangat ketika subjek merasa menyesal
masuk ke sekolah inklusi, sedangkan pada
subjek kedua, bentuk dukungan yang
diberikan berupa dukungan tenaga, biaya,
pikiran, bimbingan, perhatian dan usaha
untuk memenuhi apa yang dibutuhkan
dalam kegiatan belajar subjek. Dukungan
positif yang diberikan untuk kedua subjek,
membuat kedua subjek memiliki persepsi
positif kepada keluarga yang menyebabkan
kedua subjek memiliki kesiapan belajar
yang baik.
Slameto (2013) mengemukakan
bahwa perhatian dan bimbingan orang tua di
rumah akan mempengaruhi kesiapan belajar
siswa. Hal ini didukung dengan teori ekologi
yang dipaparkan oleh Urie Bronfrenbrenner
(Berns, 2004) yang mengungkapkan bahwa
keluarga sebagai mikrosistem, adalah
suasana yang memberikan pemeliharaan,
kasih sayang, dan berbagai kesempatan
yang memiliki dampak signifikan terhadap
perkembangan kesiapan belajar anak.
Sekolah juga memiliki peranan
yang penting dalam mempengaruhi
kesiapan belajar siswa tunarungu, apabila
sekolah dapat menciptakan hubungan
dan komunikasi yang baik, menggunakan
metode pembelajaran yang aktif-interaktif,
mencukupi sarana penunjang pembelajaran,
menciptakan suasana tertib dan disiplin, maka
akan dapat mendorong kesiapan belajar para
siswa dalam proses pembelajaran di sekolah
(Slameto, 2013). Menurut Bronfrenbrenner
(Berns, 2004) sekolah adalah mikrosistem
dimana anak- anak secara formal belajar
tentang lingkungan belajar mereka dan anak
berinteraksi dalam suatu lingkungan atau
79
komunitas yang signifikan. Guru mendorong
pengembangan berbagai keterampilan dan
perilaku dengan bertindak sebagai model
peran serta memberikan motivasi bagi
anak untuk siap dalam belajar. Sekolah
inklusi tempat kedua subjek mengikuti
proses belajar sudah memberikan dukungan
yang besar bagi kedua subjek, yaitu
dengan memberikan pelajaran tambahan
khusus setelah pulang sekolah untuk kedua
subjek dan siswa ABK lainnya agar mereka
mampu untuk mengikuti pembelajaran di
kelas dengan baik. Hal ini juga didukung
dengan guru yang sudah kooperatif untuk
mengayomi mereka di dalam kelas, selain
itu sekolah juga meminjamkan buku paket
penunjang belajar untuk bisa digunakan oleh
siswa agar mereka bisa mengulang pelajaran
yang dijelaskan oleh guru di sekolah.
Kedua subjek memiliki lingkungan
pergaulan yang mampu untuk mendukung
mereka secara baik. Teman-teman kedua
subjek memiliki kepedulian yang tinggi dan
sangat kooperatif membantu kedua subjek
belajar di kelas. Teman bergaul pengaruhnya
sangat besar dan lebih cepat masuk dalam
jiwa anak. Teman bergaul yang baik akan
berpengaruh baik terhadap belajar anak dan
sebaliknya teman bergaul yang kurang
baik akan berpengaruh kurang baik pula
(Slameto, 2013). Menurut Bronfrenbrenner,
teman juga merupakan bagian dari
mikrosistem yaitu setting dimana anak-anak
pada umumnya tanpa pengawasan orang
dewasa akan saling berinteraksi. Manfaat
memiliki teman adalah anak-anak bisa
merasakan siapa diri mereka dan apa yang
dapat dilakukan, dengan membandingkan
dirinya dengan orang lain, hal ini akan
saling memberikan dukungan, kelekatan,
serta sumber pengalaman bekerja sama,
sehingga lingkungan pergaulan yang baik
akan menambah kesiapan belajar siswa di
sekolah (Berns, 2004).
Berdasarkan
pemaparan
hasil
diatas, menunjukkan bahwa kedua subjek
sudah memiliki kesipan belajar. Kondisi
yang mendukung kesiapan belajar subjek
pertama berupa perhatian, bimbingan, dan
kasih sayang dari orang tua, guru yang
kooperatif, teman-teman yang membantu
subjek untuk belajar, dan semangat dari diri
subjek sendiri. Kondisi yang menghambat
adalah rumah subjek yang jauh sehingga
mengakibatkan subjek jarang berangkat
sekolah.
Kondisi yang mendukung kesiapan
belajar subjek kedua berupa dukungan
tenaga, biaya, pikiran, bimbingan, perhatian
dari orang tua dan usaha untuk memenuhi
yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar,
guru yang kooperatif, dan teman-teman
yang membantu subjek untuk belajar,
sedangkan kondisi yang menghambat yaitu
kemampuan bahasa yang kurang sehingga
subjek terkadang sulit untuk memahami
pelajaran di kelas.
Keluarga sebagai unit terkecil
disarankan untuk lebih bisa menyempatkan
waktu memberikan dukungan sosial berupa
perhatian, kasih sayang, penghargaan, dan
pertolongan kepada mereka ketika berada
di rumah. Sekolah juga diharapkan dapat
mempersiapkan guru yang akan mengajar
siswa tunarungu di kelas, karena siswa
tunarungu memerlukan cara pengajaran
yang berbeda dengan siswa normal, guru
juga diharapkan bisa memberikan standar
penilaian yang berbeda dengan siswa
normal dan disesuaikan dengan kemampuan
akademik siswa ABK khususnya siswa
tunarungu untuk memberikan pengalaman
berhasil bagi mereka, serta menghadirkan
guru pembimbing khusus (GPK) bagi
siswa tunarungu lebih sering agar siswa
tunarungu mampu mengikuti setiap
proses pembelajaran secara baik dengan
bimbingan GPK.
Kesiapan Belajar Siswa Tunarungu yang Menempuh Pendidikan Inklusi
Pemerintah juga diharapkan untuk
lebih bisa melihat dan memenuhi kebutuhan
ABK khususnya siswa tunarungu yang
menempuh pendidikan di sekolah inklusi
dan bisa menetapkan standar asesmen bagi
para ABK terutama siswa tunarungu yang
ingin masuk ke sekolah inklusi baik dari
aspek akademik maupun perkembangannya,
agar diketahui modalitas siswa berkenaan
dengan kemampuan dan kebutuhannya
dalam pembelajaran.
Simpulan
Kedua subjek sudah memiliki kesiapan
belajar yang sebagaimana diharapkan.
Subjek pertama yang mendapatkan
dukungan berupa pemberian pemahaman
terkait kondisi subjek, perhatian, bimbingan,
kasih sayang, dan semangat dari orang
tua, sekolah, dan teman-teman sehingga
menghasilkan bentuk respon yang positif
dari subjek, begitu juga dengan subjek
kedua yang mendapatkan dukungan dari
orang tua, sekolah, dan teman-teman berupa
tenaga, biaya, pikiran, bimbingan, perhatian
dan usaha untuk memenuhi apa yang
dibutuhkan dalam kegiatan belajar subjek,
sehingga subjek menghasilkan bentuk
respon yang positif terhadap lingkungan
subjek. Sekolah, guru dan pemerintah juga
diharapkan dapat memberikan dukungan
kepada ABK terutama anak tunarungu
dalam hal yang dapat mendukung kesiapan
belajar anak tunarungu seperti fasilitas dan
kesiapan guru dalam mengajar ABK.
Daftar Pustaka
80
pembinaan tenaga kependididkan
dalam pendidikan inklusif. Jakarta:
Dit PSLB Depdiknas
Dirjen PLB. (2006). Pendidikan inklusif.
Jakarta: Direktorat Pembinaan SLB
Dirjen Dikdasmen
Djamarah, S. B. 2011. Psikologi belajar.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Efendi, M. (2008). Pengantar psikopedagogik
anak berkelainan. Cetakan kedua.
Jakarta: Bumi Aksara
Ericks-Brophy, A., Durriex-Smith, A.,
Olds, J., Fitzpatrick, E., Duquette, C.,
Whittingham, J. (2006). Facilitators
and barriers to the inclusion of orally
educated children and youth with
hearing loss in schools: promoting
partnerships to support inclusion.
The Volta Review; Spring 2006; 106,
1; ProQuest Nursing & Allied Health
Source pg. 53 - 88
Fusick, L. (2008). Serving clients with
hearing loss: best practices in
mental health counseling. Journal of
Counseling and Development, 86, 1,
102
Haenudin. (2013). Pendidikan anak
berkebutuhan khusus tunarungu.
Jakarta: Luxima
Hancock, D.R. & Algozzine, B. (2006).
Doing case study research practical
guide for beginning researchers. New
York and London: Teachers College
Columbia University
Berns, R. M. (2004). Child, family, school,
community. 6th ed. USA: Wadsworth
Moleong, L.J. (2010). Metodologi
penelitian kualitatif. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar
Biasa. (2008). Pengadaan dan
Orr, A.C. & Hammig, S.B. Inclusive
postsecondary strategies for teaching
81
students with learning disabilities:
a review of the literature. Learning
Disability Quarterly; Summer 2009,
32, 3; ProQuest Nursing & Allied
Health Source
Suara Merdeka. (2014). 1.926 ABK DIY
belum tersentuh pendidikan. diunduh
dari:
http://berita.suaramerdeka.
com/1-926-abk-diy-belum-tersentuhpendidikan. 21 Oktober 2014.
Pemerintah Republik Indonesia. (2010).
Undang-undang SISDIKNAS: Sistem
pendidikan nasional. Bandung:
Fokusmedia
Sugiyono. (2011). Metode penelitian
kuantitatif, kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Poerwandari, K. (2009). Pendekatan
kualitatif. Cetakan ketiga. Depok:
LPSP3 UI
Slameto. (2010). Belajar dan faktorfaktor yang mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta.
Smart, A. (2010). Anak cacat bukan
kiamat: metode pembelajaran dan
terapi untuk anak berkebutuhan
khusus. Yogyakarta: Ar-Ruz Media.
Smith, D. J. (2006). Inklusi sekolah ramah
untuk semua. Bandung: Nuansa.
Thaghard, E.K., Hilsmier, A.S., &
Easterbrooks, S.R. (2011). Pragmatic
language in deaf and hard of hearing
students: correlation with success in
general education. American Annals
of The Deaf. Vol. 155, No.5, page 526
- 534
Winarsih, M. (2007). Intervensi dini bagi
anak tunarungu dalam pemerolehan
bahasa. Jakarta: De pdikbud.
Fly UP