...

keputusan direktur jenderal pos dan telekomunikasi

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

keputusan direktur jenderal pos dan telekomunikasi
PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
TAHUN 2013
TENTANG
PERENCANAAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO
PADA PITA FREKUENSI RADIO 350 – 438 MHz
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang
Mengingat
: a.
bahwa untuk melaksanakan ketentuan dalam Pasal 3
Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2000 tentang
Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit,
perlu
ditetapkan
perencanaan
penggunaan
spektrum
frekuensi radio sebagai bagian dari pembinaan penggunaan
spektrum frekuensi radio dan orbit satelit;
b.
bahwa sesuai ketentuan dalam Pasal 6 Peraturan Pemerintah
Nomor 53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum
Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, perencanaan penggunaan
spektrum frekuensi radio meliputi perencanaan penggunaan
pita frekuensi radio (band plan) dan perencanaan penggunaan
kanal frekuensi radio (channeling plan);
c.
bahwa dalam rangka penggunaan pita frekuensi radio 350 –
438 MHz yang sesuai dengan peruntukannya dan tidak saling
mengganggu, perlu ditetapkan perencanaan penggunaan
spektrum frekuensi radio pada pita frekuensi radio 350 – 438
MHz;
d.
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang
Perencanaan Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Pada
Pita Frekuensi Radio 350 – 438 MHz;
: 1.
Undang-Undang Nomor : 36 Tahun 1999 tentang
Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3881);
2.
Peraturan Pemerintah Nomor : 52 Tahun 2000 tentang
Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 107, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3980);
-23.
Peraturan Pemerintah Nomor : 53 Tahun 2000 tentang
Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 108,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3981);
4.
Peraturan Presiden Nomor : 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan
dan
Organisasi
Kementerian
Negara,
sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2013 tentang Perubahan
Keempat atas Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009
tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;
5.
Peraturan Presiden Nomor : 24 Tahun 2010 tentang
Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta
Susunan Organisasi serta Tugas, dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara, sebagaimana telah diubah beberapa kali,
terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2013
tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Presiden Nomor
24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara serta Susunan Organisasi serta Tugas,
dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;
6.
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor
17/PER/M.KOMINFO/10/2005 tentang Tata Cara Perizinan
dan Ketentuan Operasional Penggunaan Spektrum Frekuensi
Radio sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Komunikasi
dan
Informatika
Nomor
23/PER/M.KOMINFO/12/2010 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor
17/PER/M.KOMINFO/10/2005 tentang Tata Cara Perizinan
dan Ketentuan Operasional Penggunaan Spektrum Frekuensi
Radio;
7.
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor
19/PER/M.KOMINFO/10/2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak Dari Biaya Hak
Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio sebagaimana telah
diubah
dengan
Peraturan
Menteri
Komunikasi
dan
Informatika Nomor 24/PER/M.KOMINFO/12/2010 tentang
Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Komunikasi dan
Informatika Nomor 19/PER/M.KOMINFO/10/2005 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan
Pajak Dari Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio;
8.
Peraturan Menteri Komunikasi
dan lnformatika
Nomor
29/PER/M.KOMINFO/07/2009
tentang
Tabel
Alokasi
Spektrum Frekuensi Radio Indonesia sebagaimana telah
diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Menteri
Komunikasi dan lnformatika Nomor xx Tahun 2013 tentang
Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Komunikasi dan
lnformatika Nomor 29/PER/M.KOMINFO/07/2009 tentang
Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia;
9.
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor
33/PER/M.KOMINFO/08/2009
tentang
Penyelenggaraan
Amatir Radio;
-310. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor
17/PER/M.KOMINFO/10/2010 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Komunikasi dan Informatika;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN
MENTERI
KOMUNIKASI
DAN
INFORMATIKA
TENTANG PERENCANAAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI
RADIO PADA PITA FREKUENSI 350 - 438 MHz.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika ini yang
dimaksud dengan:
1.
Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan
atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tandatanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui
sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik
lainnya.
2.
Spektrum frekuensi radio adalah kumpulan pita frekuensi
radio.
3.
Pita frekuensi radio adalah bagian dari spektrum frekuensi
radio yang mempunyai lebar tertentu.
4.
Kanal frekuensi radio adalah bagian dari pita frekuensi radio
yang ditetapkan untuk suatu stasiun radio.
5.
Lebar kanal adalah selisih antara frekuensi Pembawa suatu
kanal frekuensi radio dengan frekuensi Pembawa dari kanal
frekuensi radio berikutnya.
6.
Stasiun radio adalah satu atau beberapa perangkat pemancar
atau perangkat penerima atau gabungan dari perangkat
pemancar dan penerima termasuk alat perlengkapan yang
diperlukan di satu lokasi untuk menyelenggarakan
komunikasi radio.
7.
Sistem komunikasi radio konvensional adalah komunikasi
radio bergerak darat (land mobile), komunikasi radio dari titik
ke titik (point to point) antar-stasiun repeater, yang dapat
berupa komunikasi dupleks atau komunikasi simpleks.
8.
Sistem komunikasi radio trunking adalah komunikasi radio
bergerak darat (land mobile) berupa komunikasi dupleks yang
memungkinkan setiap penggunanya mendapatkan akses
terhadap kanal frekuensi radio secara otomatis.
9.
Komunikasi dupleks adalah komunikasi dua arah secara
bersamaan antar pengguna frekuensi radio menggunakan
moda Frequency Division Duplexing.
10. Komunikasi simpleks adalah komunikasi dua arah secara
bergantian antar pengguna frekuensi radio menggunakan
moda Time Division Duplexing.
-411. Frequency Division Duplexing, yang selanjutnya disebut FDD,
adalah jenis moda telekomunikasi melalui gelombang radio
yang uplink dan downlink-nya berpasangan pada dimensi
frekuensi radio, sehingga uplink dan downlink menggunakan
pita frekuensi radio atau kanal frekuensi radio yang berbeda.
12. Time Division Duplexing, yang selanjutnya disebut TDD,
adalah jenis moda telekomunikasi melalui gelombang radio
yang uplink dan downlink-nya berpasangan pada dimensi
waktu, sehingga uplink dan downlink menggunakan pita
frekuensi radio atau kanal frekuensi radio yang sama.
13. Sistem komunikasi radio trunking analog adalah sistem
komunikasi radio trunking yang menggunakan teknik
modulasi analog.
14. Sistem komunikasi radio trunking digital adalah sistem
komunikasi radio trunking yang yang menggunakan teknik
modulasi digital.
15. Kewajiban Pelayanan Universal adalah kewajiban yang
dibebankan kepada penyelenggara jaringan telekomunikasi
dan atau jasa telekomunikasi untuk memenuhi aksesibilitas
bagi wilayah atau sebagian masyarakat yang belum
terjangkau oleh penyelenggaraan jaringan dan atau jasa
telekomunikasi.
16. Komunikasi amatir radio adalah komunikasi radio untuk
tujuan penyelenggaraan amatir radio.
17. Alat dan perangkat telekomunikasi jarak dekat (Short Range
Device) adalah pemancar berdaya pancar rendah yang
menyediakan komunikasi radio jarak pendek untuk aplikasi
bergerak dan tetap pada pita-pita frekuensi radio tertentu
dengan resiko minimal dalam menyebabkan interferensi
terhadap perangkat telekomunikasi radio lainnya.
18. Dinas komunikasi radio adalah suatu dinas yang didefinisikan
dalam Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia
yang mencakup transmisi, emisi, dan/atau penerimaan dari
gelombang – gelombang radio untuk tujuan telekomunikasi
tertentu.
19. Dinas tetap adalah suatu dinas komunikasi radio antara titiktitik tetap tertentu.
20. Dinas bergerak adalah suatu dinas komunikasi radio antara
stasiun bergerak dan stasiun darat, atau antar stasiunstasiun bergerak.
21. Dinas radiolokasi adalah suatu dinas radio penentu untuk
keperluan radiolokasi.
22. Dinas satelit eksplorasi bumi (aktif) adalah suatu dinas
komunikasi radio antara stasiun-stasiun bumi dan satu atau
lebih stasiun-stasiun ruang angkasa, yang dapat termasuk
hubungan antara stasiun-stasiun ruang angkasa dimana
informasi yang berhubungan dengan karakteristik dari bumi
dan fenomena alamnya, termasuk data yang berhubungan
-5dengan keadaan lingkungan, diambil dari sensor-sensor aktif
pada satelit-satelit bumi.
23. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang komunikasi dan informatika.
24. Direktur Jenderal adalah direktur jenderal yang mempunyai
tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan
standardisasi teknis di bidang sumber daya dan perangkat
pos dan informatika.
BAB II
PERUNTUKAN PENGGUNAAN
PITA FREKUENSI RADIO 350 – 438 MHz
Pasal 2
Peruntukan penggunaan pita frekuensi radio 350-438 MHz
meliputi:
a. sistem komunikasi radio konvensional;
b. keperluan Kewajiban Pelayanan Universal;
c.
sistem komunikasi radio trunking;
d. dinas komunikasi radio selain dinas tetap dan dinas bergerak;
e.
amatir radio;
f.
pengoperasian alat dan perangkat telekomunikasi jarak dekat
(Short Range Device);
g.
dinas satelit eksplorasi bumi (aktif); dan
h. dinas radiolokasi.
Pasal 3
(1)
Penggunaan pita frekuensi radio untuk sistem komunikasi
radio konvensional, keperluan Kewajiban Pelayanan Universal,
sistem komunikasi radio trunking, dan dinas radiolokasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, huruf b, huruf
c, dan huruf h termasuk kategori primer.
(2)
Penggunaan pita frekuensi radio untuk amatir radio,
pengoperasian alat dan perangkat telekomunikasi jarak dekat
(Short Range Device), dan dinas satelit eksplorasi bumi (aktif)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e, huruf f, dan
huruf g termasuk kategori sekunder.
(3)
Pengkategorian primer atau sekunder pada penggunaan pita
frekuensi radio untuk dinas komunikasi radio selain dinas
tetap dan dinas bergerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 huruf d diatur di dalam Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi
Radio Indonesia.
Penggunaan pita frekuensi radio yang termasuk kategori
sekunder sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
harus memenuhi ketentuan:
a. tidak boleh menyebabkan gangguan yang merugikan
(harmful interference) terhadap penggunaan pita frekuensi
radio yang termasuk kategori primer; dan
b. tidak mendapatkan perlindungan terhadap adanya
gangguan yang merugikan (harmful interference) yang
(4)
-6disebabkan oleh penggunaan pita frekuensi radio yang
termasuk kategori primer.
BAB III
PERENCANAAN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO
(BAND PLAN) PADA PITA FREKUENSI RADIO 350-438 MHz
Pasal 4
(1)
Sistem
komunikasi
radio
konvensional
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 huruf a terdiri dari:
a. sistem komunikasi radio konvensional dupleks; dan
b. sistem komunikasi radio konvensional simpleks.
(2)
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan)
pada pita frekuensi radio 350-438 MHz untuk sistem
komunikasi radio konvensional dupleks sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan dengan moda FDD
pada pita frekuensi radio:
a. 350-352,1 MHz berpasangan dengan 355-357,1 MHz;
b. 359,1-364 MHz berpasangan dengan 364,1-369 MHz;
c.
369-370 MHz berpasangan dengan 370-371 MHz;
d. 371-375 MHz berpasangan dengan 376-380 MHz;
e.
430-431 MHz berpasangan dengan 434-435 MHz; dan
f.
431-431,5 MHz berpasangan dengan 432-432,5 MHz.
(3)
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan)
pada pita frekuensi radio 350-438 MHz untuk sistem
komunikasi radio konvensional simpleks sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b ditetapkan dengan moda TDD
pada pita frekuensi radio:
a. 352,1-355 MHz;
b. 364-364,1 MHz;
c.
375-376 MHz;
d. 406,5-410 MHz;
e.
431,5-432 MHz; dan
f.
432,5-434 MHz.
Pasal 5
(1)
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan)
pada pita frekuensi radio 350-438 MHz untuk keperluan
Kewajiban Pelayanan Universal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 huruf b ditetapkan pada pita frekuensi radio:
a. 357,1-359,1 MHz; dan
b. 389-390 MHz.
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan pita frekuensi
radio untuk keperluan Kewajiban Pelayanan Universal
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Menteri.
-7Pasal 6
(1)
Sistem komunikasi radio trunking sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 huruf c terdiri dari:
a. sistem komunikasi radio trunking analog; dan
b. sistem komunikasi radio trunking digital.
(2)
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan)
pada pita frekuensi radio 350-438 MHz untuk sistem
komunikasi radio trunking analog sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a ditetapkan dengan moda FDD pada pita
frekuensi radio 380-389,5 MHz berpasangan dengan 390399,5 MHz.
(3)
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan)
pada pita frekuensi radio 350-438 MHz untuk sistem
komunikasi radio trunking digital sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b ditetapkan dengan moda FDD pada pita
frekuensi radio:
a. 380-389,5 MHz berpasangan dengan 390-399,5 MHz;
dan
b. 410-420 MHz berpasangan dengan 420-430 MHz.
Pasal 7
(1)
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan)
pada pita frekuensi radio 399,9-406,51 MHz untuk dinas
komunikasi radio selain dinas tetap dan dinas bergerak.
(2)
Penggunaan pita frekuensi radio 406-406,1 MHz untuk dinas
komunikasi radio selain dinas tetap dan dinas bergerak
dibatasi untuk Rambu Radio Penunjuk Posisi Darurat Satelit
Berdaya Rendah.
(3)
Dinas komunikasi radio selain dinas tetap dan dinas bergerak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d meliputi:
a. dinas satelit bergerak (bumi-ke-angkasa);
b. dinas satelit bergerak (angkasa-ke-bumi);
c. dinas satelit meteorologi (angkasa-ke-bumi);
d. dinas bantuan meteorologi;
e. dinas satelit radionavigasi;
f.
dinas satelit frekuensi dan tanda waktu standar;
g. dinas penelitian ruang angkasa (angkasa-ke-bumi);
h. dinas operasi ruang angkasa (angkasa-ke-bumi); dan
i.
dinas satelit eksplorasi bumi (bumi-ke-angkasa).
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan pita frekuensi
radio untuk dinas komunikasi radio selain dinas tetap dan
dinas bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Menteri.
Pasal 8
(1)
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan)
pada pita frekuensi radio 430-438 MHz untuk amatir radio.
-8-
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan pita frekuensi
radio untuk komunikasi amatir radio sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 9
(1)
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan)
pada pita frekuensi radio 433-435 MHz untuk pengoperasian
alat dan perangkat telekomunikasi jarak dekat (Short Range
Device).
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan pita frekuensi
radio
untuk
pengoperasian
alat
dan
perangkat
telekomunikasi jarak dekat (Short Range Device) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 10
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan) pada
pita frekuensi radio 432-438 MHz untuk dinas satelit eksplorasi
bumi (aktif).
Pasal 11
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan) pada
pita frekuensi radio 435-438 MHz untuk dinas radiolokasi.
Pasal 12
Perencanaan penggunaan pita frekuensi radio (band plan) pada
pita frekuensi radio 350-438 MHz sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, dan
Pasal 11 digambarkan dalam Lampiran I yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
BAB IV
PERENCANAAN PENGGUNAAN KANAL FREKUENSI RADIO
(CHANNELING PLAN) PADA PITA FREKUENSI RADIO 350-438 MHz
Pasal 13
Perencanaan penggunaan kanal frekuensi radio (channeling plan)
berisi:
a. lebar kanal;
b. nomor kanal;
c.
batas bawah kanal;
d. frekuensi pembawa (carrier frequency); dan
e.
batas atas kanal.
Pasal 14
(1)
Penggunaan pita frekuensi radio untuk sistem komunikasi
radio konvensional dupleks dan sistem komunikasi radio
konvensional simpleks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (2) dan ayat (3) menerapkan lebar kanal sebesar 25 kHz.
-9(2)
Perencanaan penggunaan kanal frekuensi radio (channeling
plan) untuk sistem komunikasi radio konvensional dupleks
pada pita frekuensi radio sebagaimana dimaksud dalam Pasal
4 ayat (2) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(3)
Perencanaan penggunaan kanal frekuensi radio (channeling
plan) untuk sistem komunikasi radio konvensional simpleks
pada pita frekuensi radio sebagaimana dimaksud dalam Pasal
4 ayat (3) tercantum dalam Lampiran III yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 15
(1)
Penggunaan pita frekuensi radio 380-389,5 MHz berpasangan
dengan 390-399,5 MHz untuk sistem komunikasi radio
trunking analog dan sistem komunikasi radio trunking digital
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan ayat (3)
huruf a menerapkan lebar kanal sebesar 25 kHz dan 12,5 kHz.
(2)
Perencanaan penggunaan kanal frekuensi radio (channeling
plan) untuk sistem komunikasi radio trunking analog dan
sistem komunikasi radio trunking digital pada pita frekuensi
radio 380-389,5 MHz berpasangan dengan 390-399,5 MHz
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan ayat (3)
huruf a sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri
ini.
Pasal 16
(1)
Penggunaan pita frekuensi radio 410-420 MHz berpasangan
dengan 420-430 MHz untuk sistem komunikasi radio trunking
digital sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf b
menerapkan lebar kanal sebesar 12,5 kHz dan 6,25 kHz.
(2)
Perencanaan penggunaan kanal frekuensi radio (channeling
plan) untuk sistem komunikasi radio trunking digital pada pita
frekuensi radio 410-420 MHz berpasangan dengan 420-430
MHz sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf b
tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
BAB V
PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO 350-438 MHz
DI KAWASAN PERBATASAN
Pasal 17
(1)
Penggunaan pita frekuensi radio 350-438 MHz yang cakupan
pemancarnya dapat menjangkau wilayah negara lain, terlebih
dahulu dilakukan koordinasi oleh Direktur Jenderal dengan
Administrasi telekomunikasi negara tetangga yang berkaitan.
(2)
Sebagai bagian dari koordinasi penggunaan pita frekuensi
radio 350-438 MHz dengan Administrasi telekomunikasi
- 10 negara tetangga, Direktur Jenderal dapat menetapkan
ketentuan koordinasi yang berisi:
a. pita frekuensi radio atau kanal frekuensi radio yang
dapat digunakan;
b. jarak koordinasi (coordination distance);
c.
batasan maksimal daya pancar;
d. batasan maksimal kuat sinyal (signal strength);
e.
batasan maksimal kuat medan (field strength); dan/atau
f.
batasan minimal rasio daya antara sinyal pembawa
dengan sinyal penginterferensi (Carrier to Interference
Ratio).
(3)
Penggunaan pita frekuensi radio 350-438 MHz di kawasan
perbatasan harus memperhatikan ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2).
BAB VI
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
Pasal 18
Pengawasan dan pengendalian terhadap Peraturan Menteri ini
dilakukan oleh Direktur Jenderal.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 19
Permohonan Izin Stasiun Radio (ISR) untuk penggunaan pita
frekuensi radio 350-438 MHz yang diterima oleh Direktur Jenderal
sebelum diberlakukannya Peraturan Menteri ini tetap dapat
diproses sepanjang memenuhi persyaratan administratif dan
sesuai hasil analisa teknis.
Pasal 20
(1)
Pengguna pita frekuensi radio 350-410 dan 430-438 MHz
eksisting wajib memenuhi ketentuan dalam Peraturan Menteri
ini paling lama 2 (dua) tahun sejak Peraturan Menteri ini
mulai berlaku.
(2)
Pengguna pita frekuensi radio di atas 410 MHz dan di bawah
430 MHz eksisting wajib memenuhi ketentuan dalam
Peraturan Menteri ini paling lama tanggal 31 Desember 2017.
Pasal 21
Alat dan perangkat telekomunikasi yang menggunakan pita
frekuensi radio 350-438 MHz wajib bersertifikat sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
- 11 BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 22
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara
Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
REPUBLIK INDONESIA,
TIFATUL SEMBIRING
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR
- 12 LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN
INFORMATIKA
NOMOR
TAHUN 2013
TENTANG
PERENCANAAN PENGGUNAAN SPEKTRUM
FREKUENSI RADIO PADA PITA FREKUENSI RADIO
350 – 438 MHz
PERENCANAAN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO (BAND PLAN)
PADA PITA FREKUENSI RADIO 350-438 MHz
A. Band Plan pada pita frekuensi radio 350-380 MHz
Keterangan :
a) FDD (1) : 350-352,1 MHz berpasangan dengan 355-357,1 MHz
Pasangan pita frekuensi radio ke-1 untuk sistem komunikasi radio
konvensional dupleks.
b) FDD (2) : 359,1-364 MHz berpasangan dengan 364,1-369 MHz
Pasangan pita frekuensi radio ke-2 untuk sistem komunikasi radio
konvensional dupleks.
c) FDD (3) : 369-370 MHz berpasangan dengan 370-371 MHz
Pasangan pita frekuensi radio ke-3 untuk sistem komunikasi radio
konvensional dupleks.
d) FDD (4) : 371-375 MHz berpasangan dengan 376-380 MHz
Pasangan pita frekuensi radio ke-4 untuk sistem komunikasi radio
konvensional dupleks.
e) TDD : 352,1-355 MHz; 364-364,1 MHz; dan 375-376 MHz
Pita frekuensi radio untuk sistem komunikasi radio konvensional
simpleks.
f)
KPU : 357,1-359,1 MHz
Pita frekuensi radio untuk keperluan Kewajiban Pelayanan Universal.
- 13 B. Band Plan pada pita frekuensi radio 380-430 MHz
Keterangan :
a) FDD (A) : 380-389,5 MHz berpasangan dengan 390-399,5 MHz
Pasangan pita frekuensi radio ke-1 untuk sistem komunikasi radio
trunking analog dan sistem komunikasi radio trunking digital.
b) FDD (B) : 410-420 MHz berpasangan dengan 420-430 MHz
Pasangan pita frekuensi radio ke-2 untuk sistem komunikasi radio
trunking digital.
c) TDD : 406,5-410 MHz
Pita frekuensi radio untuk sistem komunikasi radio konvensional
simpleks.
d) KPU : 389-390 MHz
Pita frekuensi radio untuk keperluan Kewajiban Pelayanan Universal.
e) Selain Dinas Tetap dan Dinas Bergerak : 399,9-406,1 MHz
Pita frekuensi radio untuk dinas komunikasi radio selain dinas tetap
dan dinas bergerak.
C. Band Plan pada pita frekuensi radio 430-438 MHz
Keterangan :
a) FDD (5) : 430-431 MHz berpasangan dengan 434-435 MHz
Pasangan pita frekuensi radio ke-5 untuk sistem komunikasi radio
konvensional dupleks.
b) FDD (6) : 431-431,5 MHz berpasangan dengan 432-432,5 MHz
Pasangan pita frekuensi radio ke-6 untuk sistem komunikasi radio
konvensional dupleks.
c) TDD : 431,5-432 MHz dan 432,5-434 MHz
Pita frekuensi radio untuk sistem komunikasi radio konvensional
simpleks.
d) Dinas radilokasi : 435-438 MHz
Pita frekuensi radio untuk dinas radiolokasi.
e) Amatir : 430-438 MHz
Pita frekuensi radio untuk komunikasi amatir radio dengan kategori
sekunder.
f)
Eksplorasi satelit bumi (aktif) : 432-438 MHz
- 14 Pita frekuensi radio untuk dinas satelit eksplorasi bumi (aktif) dengan
kategori sekunder.
g) SRD : 432-438 MHz
Pita frekuensi radio untuk pengoperasian alat dan perangkat
telekomunikasi jarak dekat (Short Range Device) dengan kategori
sekunder.
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
REPUBLIK INDONESIA,
TIFATUL SEMBIRING
- 15 LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN
INFORMATIKA
NOMOR
TAHUN 2013
TENTANG
PERENCANAAN PENGGUNAAN SPEKTRUM
FREKUENSI RADIO PADA PITA FREKUENSI RADIO
350 – 438 MHz
PERENCANAAN PENGGUNAAN KANAL FREKUENSI RADIO (CHANNELING PLAN)
UNTUK SISTEM KOMUNIKASI RADIO KONVENSIONAL DUPLEKS
A.
Pita Frekuensi Radio 350-352,1 MHz berpasangan dengan 355-357,1 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 25 kHz
f0 = 353,5500 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 - 3,55 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 1,5 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 83
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
350,0125
350,0375
350,0625
…
83
352,0625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
350,0250
350,0500
350,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
350,0375
350,0625
350,0875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
355,0125
355,0375
355,0625
…
352,0750
352,0875
357,0625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
355,0250
355,0500
355,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
355,0375
355,0625
355,0875
…
357,0750
357,0875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 16 -
B. Pita Frekuensi Radio 359,1-364 MHz berpasangan dengan 364,1-369 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 25 kHz
f0 = 364,0500 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 – 4,95+ 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 0,05 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 195
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
359,1125
359,1375
359,1625
…
195
363,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
359,1250
359,1500
359,1750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
359,1375
359,1625
359,1875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
364,1125
364,1375
364,1625
…
363,9750
363,9875
368,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
364,1250
364,1500
364,1750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
364,1375
364,1625
364,1875
…
368,9750
368,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 17 -
C. Pita Frekuensi Radio 369-370 MHz berpasangan dengan 370-371 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 25 kHz
f0 = 370 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 - 1 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 39
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
369,0125
369,0375
369,0625
…
39
369,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
369,0250
369,0500
369,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
369,0375
369,0625
369,0875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
370,0125
370,0375
370,0625
…
369,9750
369,9875
370,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
370,0250
370,0500
370,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
370,0375
370,0625
370,0875
…
370,9750
370,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 18 -
D. Pita Frekuensi Radio 371-375 MHz berpasangan dengan 376-380 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 25 kHz
f0 = 375,5 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 – 4,5 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 0,5 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 159
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
371,0125
371,0375
371,0625
…
159
374,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
371,0250
371,0500
371,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
371,0375
371,0625
371,0875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
376,0125
376,0375
376,0625
…
374,9750
374,9875
379,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
376,0250
376,0500
376,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
376,0375
376,0625
376,0875
…
379,9750
379,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 19 -
E. Pita Frekuensi Radio 430-431 MHz berpasangan dengan 434-435 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 25 kHz
f0 = 432,5000 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 - 2,5 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 1,5 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 39
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
430,0125
430,0375
430,0625
…
39
430,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
430,0250
430,0500
430,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
430,0375
430,0625
430,0875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
434,0125
434,0375
434,0625
…
430,9750
430,9875
434,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
434,0250
434,0500
434,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
434,0375
434,0625
434,0875
…
434,9750
434,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 20 -
F. Pita Frekuensi Radio 431-431,5 MHz berpasangan dengan 432-432,5 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 25 kHz
f0 = 431,7500 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 - 0,75 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 0,25 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 19
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
431,0125
431,0375
431,0625
…
19
431,4625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
431,0250
431,0500
431,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
431,0375
431,0625
431,0875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
432,0125
432,0375
432,0625
…
431,4750
431,4875
432,4625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
432,0250
432,0500
432,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
432,0375
432,0625
432,0875
…
432,4750
432,4875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
REPUBLIK INDONESIA,
TIFATUL SEMBIRING
- 21 LAMPIRAN III
PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN
INFORMATIKA
NOMOR
TAHUN 2013
TENTANG
PERENCANAAN PENGGUNAAN SPEKTRUM
FREKUENSI RADIO PADA PITA FREKUENSI RADIO
350 – 438 MHz
PERENCANAAN PENGGUNAAN KANAL FREKUENSI RADIO (CHANNELING PLAN)
UNTUK SISTEM KOMUNIKASI RADIO KONVENSIONAL SIMPLEKS
A.
Pita Frekuensi Radio 352,1-355 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Simpleks
: TDD
: 25 kHz
f0 = 352,1000 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn' = f0 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 115
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
352,1125
352,1375
352,1625
…
115
354,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
352,1250
352,1500
352,1750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
352,1375
352,1625
352,1875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
352,1125
352,1375
352,1625
…
354,9750
354,9875
354,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
352,1250
352,1500
352,1750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
352,1375
352,1625
352,1875
…
354,9750
354,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 22 -
B.
Pita Frekuensi Radio 364-364,1 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Simpleks
: TDD
: 25 kHz
f0 = 364 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn' = f0 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
Nomor
Kanal
1
2
3
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
364,0125
364,0375
364,0625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
364,0250
364,0500
364,0750
DOWNLINK
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
364,0375
364,0625
364,0875
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
364,0125
364,0375
364,0625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
364,0250
364,0500
364,0750
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
364,0375
364,0625
364,0875
- 23 C.
Pita Frekuensi Radio 375-376 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Simpleks
: TDD
: 25 kHz
f0 = 375 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn' = f0 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 … 39
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
375,0125
375,0375
375,0625
…
39
375,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
375,0250
375,0500
375,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
375,0375
375,0625
375,0875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
375,0125
375,0375
375,0625
…
375,9750
375,9875
375,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
375,0250
375,0500
375,0750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
375,0375
375,0625
375,0875
…
375,9750
375,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 24 -
D. Pita Frekuensi Radio 406,5-410 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Simpleks
: TDD
: 25 kHz
f0 = 406,5000 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn' = f0 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 139
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
406,5125
406,5375
406,5625
…
139
409,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
406,5250
406,5500
406,5750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
406,5375
406,5625
406,5875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
406,5125
406,5375
406,5625
…
409,9750
409,9875
409,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
406,5250
406,5500
406,5750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
406,5375
406,5625
406,5875
…
409,9750
409,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 25 -
E.
Pita Frekuensi Radio 431,5-432 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Simpleks
: TDD
: 25 kHz
f0 = 431,5000 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn' = f0 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 19
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
431,5125
431,5375
431,5625
…
19
431,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
431,5250
431,5500
431,5750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
431,5375
431,5625
431,5875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
431,5125
431,5375
431,5625
…
431,9750
431,9875
431,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
431,5250
431,5500
431,5750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
431,5375
431,5625
431,5875
…
431,9750
431,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
- 26 -
F.
Pita Frekuensi Radio 432,5-434 MHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Simpleks
: TDD
: 25 kHz
f0 = 432,5000 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn' = f0 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 59
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
432,5125
432,5375
432,5625
…
59
433,9625
Nomor
Kanal
DOWNLINK
432,5250
432,5500
432,5750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
432,5375
432,5625
432,5875
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
432,5125
432,5375
432,5625
…
433,9750
433,9875
433,9625
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
432,5250
432,5500
432,5750
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
432,5375
432,5625
432,5875
…
433,9750
433,9875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
REPUBLIK INDONESIA,
TIFATUL SEMBIRING
- 27 LAMPIRAN IV
PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN
INFORMATIKA
NOMOR
TAHUN 2013
TENTANG
PERENCANAAN PENGGUNAAN SPEKTRUM
FREKUENSI RADIO PADA PITA FREKUENSI RADIO
350 – 438 MHz
PERENCANAAN PENGGUNAAN KANAL FREKUENSI RADIO (CHANNELING PLAN)
UNTUK SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING ANALOG DAN
SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING DIGITAL PADA PITA FREKUENSI RADIO
380-389,5 MHz BERPASANGAN DENGAN 390-390,5 MHz
A. Pita Frekuensi Radio 380-389,5 MHz berpasangan dengan 390-399,5 MHz
dengan lebar kanal 25 kHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 25 kHz
f0 = 389,75 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 - 9,75 + 0,025n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 0,25 + 0,025n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,0125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,0125
n = 1, 2, 3 …. 379
Batas Atas Kanal = fn + 0,0125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,0125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan:
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
380,01250
380,03750
380,06250
…
379
389,46250
Nomor
Kanal
DOWNLINK
380,0250
380,0500
380,0750
…
Batas
Batas
Frekuensi
Atas
Bawah
Pembawa
Kanal
Kanal
(MHz)
(MHz)
(MHz)
380,0375 390,01250 390,0250
380,0625 390,03750 390,0500
380,0875 390,06250 390,0750
…
…
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
390,0375
390,0625
390,0875
…
389,4750
389,4875 399,46250
399,4875
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
399,4750
- 28 -
B. Pita Frekuensi Radio 380-389,5 MHz berpasangan dengan 390-399,5 MHz
dengan lebar kanal 12,5 kHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 12,5 kHz
f0 = 389,75 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 - 9,7375 + 0,0125n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 0,2625 + 0,0125n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,00625
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,00625
n = 1, 2, 3 …. 758
Batas Atas Kanal = fn + 0,00625
Batas Atas Kanal = fn' + 0,00625
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
380,01875
380,03125
380,04375
…
758
389,48125
Nomor
Kanal
DOWNLINK
Batas
Batas
Frekuensi
Atas
Bawah
Pembawa
Kanal
Kanal
(MHz)
(MHz)
(MHz)
380,0250 380,03125 390,01875 390,0250
380,0375 380,04375 390,03125 390,0375
380,0500 380,05625 390,04375 390,0500
…
…
…
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
390,03125
390,04375
390,05625
…
389,4875 389,49375 399,48125
399,49375
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
399,4875
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
REPUBLIK INDONESIA,
TIFATUL SEMBIRING
- 29 LAMPIRAN V
PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN
INFORMATIKA
NOMOR
TAHUN 2013
TENTANG
PERENCANAAN PENGGUNAAN SPEKTRUM
FREKUENSI RADIO PADA PITA FREKUENSI RADIO
350 – 438 MHz
PERENCANAAN PENGGUNAAN KANAL FREKUENSI RADIO (CHANNELING PLAN)
UNTUK SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING DIGITAL PADA
PITA FREKUENSI RADIO 410-420 MHz BERPASANGAN DENGAN 420-430 MHz
A. Pita Frekuensi Radio 410-420 MHz berpasangan dengan 420-430 MHz dengan
lebar kanal 12,5 kHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 12,5 kHz
f0 = 420 MHz
UPLINK
DOWNLINK
fn = f0 - 10 + 0,0125n
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
fn'= f0 + 0,0125n
Batas Bawah Kanal = fn - 0,00625
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,00625
n = 1, 2, 3 …. 799
Batas Atas Kanal = fn + 0,00625
Batas Atas Kanal = fn' + 0,00625
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
1
2
3
…
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
410,00625
410,01875
410,03125
…
799
419,98125
Nomor
Kanal
DOWNLINK
410,0125
410,0250
410,0375
…
Batas
Batas
Frekuensi
Atas
Bawah
Pembawa
Kanal
Kanal
(MHz)
(MHz)
(MHz)
410,01875 420,00625 420,0125
410,03125 420,01875 420,0250
410,04375 420,03125 420,0375
…
…
…
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
420,01875
420,03125
420,04375
…
419,9875
419,99375 429,98125
429,99375
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
429,9875
- 30 B. Pita Frekuensi Radio 410-420 MHz berpasangan dengan 420-430 MHz dengan
lebar kanal 6,25 kHz
Jenis komunikasi
Moda
Lebar kanal
: Dupleks
: FDD
: 6,25 kHz
f0 = 420 MHz
fn = f0 - 9,99375+ 0,00625n
fn'= f0 + 0,00625+ 0,00625n
n = 1, 2, 3 …. 1598
UPLINK
DOWNLINK
Frekuensi Pembawa = fn
Frekuensi Pembawa = fn'
Batas Bawah Kanal = fn - 0,003125
Batas Bawah Kanal = fn' - 0,003125
Batas Atas Kanal = fn + 0,003125
Batas Atas Kanal = fn' + 0,003125
fL = Batas Bawah Kanal
fU = Batas Atas Kanal
fC = Frekuensi Pembawa
Contoh perhitungan channeling plan :
UPLINK
DOWNLINK
Nomor
Kanal
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
Batas
Bawah
Kanal
(MHz)
Frekuensi
Pembawa
(MHz)
Batas
Atas
Kanal
(MHz)
1
2
3
…
410,009375
410,01250
410,015625
420,009375
420,01250
420,015625
410,015625
410,01875
410,021875
420,015625
420,01875
420,021875
410,021875
410,02500
410,028125
420,021875
420,02500
420,028125
…
…
…
…
…
…
1598
419,990625
419,99375
419,996875
429,990625
429,99375
429,996875
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
REPUBLIK INDONESIA,
TIFATUL SEMBIRING
Fly UP