...

Efektivitas Berbagai Konsentrasi Laktosa dalam Pengencer Tris

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Efektivitas Berbagai Konsentrasi Laktosa dalam Pengencer Tris
TAMBING et al.: Efektivitas berbagai konsentrasi laktosa dalam pengencer Tris terhadap viabilitas semen cair kambing Saanen
Efektivitas Berbagai Konsentrasi Laktosa dalam Pengencer Tris terhadap
Viabilitas Semen Cair Kambing Saanen
SURYA NATAL TAMBING1, I-K. SUTAMA2 dan R.I. ARIFIANTINI3
1
BPTP Sulawesi Selatan, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 17.5 Sudiang, Makassar 90242
2
Balai Penelitian Ternak, PO BOX 221, Bogor 16002
3
Bagian Reproduksi dan Kebidanan, Fakultas Kedokteran Hewan-IPB, Bogor 16680
(Diterima dewan redaksi 3 Juli 2003)
ABSTRACT
TAMBING, S.N., I-K. SUTAMA, and R.I. ARIFIANTINI. 2003. Effectivity of various concentration of lactose in Tris extender on
liquid semen viability of Saanen bucks. JITV 8(2): 84-90.
The objective of this study is to determine the best concentration of lactose in Tris extender in maintaining liquid semen
viability of Saanen bucks stored at 5°C. Four heads of Saanen bucks of 2-4 years old were used as semen source. Semen was
collected once a week using an artificial vagina. Variance analysis was conducted based on completely randomized design with
three treatments, i.e 30, 60, and 90 mM lactose (L30, L68 and L90). Duncan test was used to observe the different between
treatment. Results indicated that the mean percentage of motility, live sperm, intact plasma membrane, and intact acrosomal cap
of liquid semen in treatment L30 (70.83; 78.20; 79.56 and 81.20% respectively) were significantly higher (P<0.05) than treatment
L60 (67.08; 73.73; 75.01 and 76.87% respectively) and treatment L90 (61.50; 71.88; 69.08 and 71.33% respectively). After
storage for 48 hours at 5°C apparently the mean percentage of motility, live sperm, intact plasma membrane and intact
acrosomal cap in treatment L30 were significantly higher (P<0.05) than those of in treatment L60 and L90. Decreasing percentage
of motility, live sperm, intact plasma membrane, and intact acrosomal cap during storage at 50C from 0 until 48 hour in
treatment L30 (42.83; 19.75; 40.84 and 39.00% respectively) were significantly lower (P<0.05) than those of in treatment L60
(55.41; 23.06; 50.14; and 50.90% respectively) and treatment L90 (54.83; 29.93; 50.14 and 50.97% respectively). It was
concluded that supplementation 30 mM lactose in Tris extender could maintain liquid semen viability in Saanen bucks.
Key words: Saanen bucks, lactose, liquid semen
ABSTRAK
TAMBING, S.N., I-K. SUTAMA dan R.I. ARIFIANTINI. 2003. Efektivitas berbagai konsentrasi laktosa dalam pengencer Tris
terhadap viabilitas semen cair kambing Saanen. JITV 8(2): 84-90.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi laktosa terbaik dalam pengencer Tris yang dapat
mempertahankan viabilitas semen cair kambing Saanen serta kaitannya dengan penyimpanan semen pada suhu 5°C. Empat ekor
kambing Saanen jantan berumur 2-4 tahun digunakan sebagai sumber semen. Penampungan semen dilakukan sekali dalam
seminggu dengan menggunakan vagina buatan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan
tiga perlakuan, yaitu konsentrasi laktosa 30 mM (L30), 60 mM (L60) dan 90 mM (L90). Perbedaan antar perlakuan digunakan uji
Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan persentase motilitas, spermatozoa hidup, membran plasma utuh dan tudung
akrosom utuh semen cair pada perlakuan L30 (masing-masing: 70,83; 78,20; 79,56 dan 81,20%) nyata (P<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan L60 (masing-masing: 67,08; 73,73; 75,01 dan 76,87%) dan perlakuan L90 (masing-masing:
61,50; 71,88; 69,08 dan 71,33%). Setelah penyimpanan pada suhu 5°C selama 48 jam ternyata rataan persentase motilitas,
spermatozoa hidup, membran plasma utuh dan tudung akrosom utuh pada perlakuan L30 nyata (P<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan L60 dan perlakuan L90. Penurunan persentase motilitas, spermatozoa hidup, membran plasma
utuh, dan tudung akrosom utuh selama penyimpanan pada suhu 5°C dari 0 jam hingga 48 jam pada perlakuan L30 (masingmasing: 42,83; 19,75; 40,85 dan 39,00%) nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan L60 (masing-masing:
55,41; 23,06; 50,14 dan 50,90%) dan perlakuan L90 (masing-masing: 54,83; 29,93; 50.14; dan 50,97%). Disimpulkan bahwa
penambahan laktosa sebesar 30 mM dalam pengencer Tris dapat mempertahankan viabilitas semen cair kambing Saanen.
Kata kunci: Kambing Saanen, laktosa, semen cair
PENDAHULUAN
Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi susu
kambing lokal dapat ditempuh melalui pendekatan
aspek pemuliabiakan, yaitu melalui persilangan dengan
kambing bergenetik unggul dalam produksi susu,
seperti kambing Saanen. Kambing ini berasal dari
84
lembah Saanen di Swiss, dan termasuk jenis kambing
berukuran besar. Dilaporkan bahwa produksi susu
kambing Saanen dapat mencapai 5930 pounds atau
2695,3 kg selama satu masa laktasi (ANONIMOUS,
2002).
Inseminasi buatan (IB) adalah salah satu alat bantu
dalam penerapan program pemuliabiakan. Teknologi IB
JITV Vol. 8. No.2. Th. 2003
mempunyai
peranan
penting
dalam
sistem
pemuliabiakan ternak kambing terutama untuk
mengontrol reproduksi dan meningkatkan potensi
genetik hasil persilangannya (produksi susu dan
daging). Ada dua tujuan utama penerapan teknologi IB
pada kambing, yaitu mengoptimalkan program seleksi
dan merupakan sarana untuk mengontrol waktu
kelahiran (LEBOEUF et al., 1998).
Salah satu faktor pendukung dalam upaya
mengoptimalkan program IB pada ternak kambing
adalah tersedianya semen beku yang memenuhi standar
minimal. Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan semen
beku kambing yang memenuhi standar minimal yang
layak digunakan dalam program IB. Hal ini disebabkan
terjadi serangkaian kejadian berupa pembentukan
kristal-kristal es, baik intra maupun ekstraseluler dan
kejutan dingin selama proses kriopreservasi, serta
ditemukannya enzim fosfolipase A dalam plasma semen
yang bersifat toksik pada semen. Sebagai
konsekuensinya, kualitas semen setelah thawing
menjadi rendah. Apabila ini digunakan dalam program
IB akan menghasilkan angka kebuntingan yang rendah.
ROCA et al. (1997) menyatakan bahwa inseminasi
dengan teknik intra-serviks menggunakan semen beku
kambing menghasilkan jumlah spermatozoa melewati
cincin serviks sangat rendah dan akibatnya angka
pembuahan rendah. Angka kebuntingan yang diperoleh
dari hasil IB dengan menggunakan semen beku antara
40,9-46,7% (RITAR dan SALAMON, 1983; RITAR et al.,
1990; RITAR dan BALL, 1993; NGANGI, 2002).
Penggunaan semen cair dalam program IB
merupakan alternatif untuk mengantisipasi sulitnya
mendapatkan semen beku kambing yang memenuhi
standar minimal. Dari berbagai penelitian menunjukkan
angka kebuntingan pada kambing yang diperoleh
dengan menggunakan semen cair dalam program IB
antara 62,5-73,1% dengan konsentrasi spermatozoa 60120 juta/0,5 ml (RITAR dan SALAMON, 1983; ROCA et
al., 1997). Walaupun proses penyimpanan semen cair
kambing umumnya dilakukan pada suhu 4-5°C, namun
permasalahannya adalah komposisi, tonisitas dan
karakteristik dari pengencer yang dibutuhkan untuk
penyimpanan semen cair pada kambing belum banyak
dilaporkan (LEBOEUF et al., 2000).
Ketersediaan sumber energi yang berasal dari
karbohidrat merupakan salah satu prasyarat untuk
pengencer semen yang baik. Laktosa dapat digunakan
sebagai salah satu sumber energi bagi semen selama
proses penyimpanan. Laktosa tergolong dalam
disakarida dan mempunyai peranan sebagai sumber
energi, membantu pengeluaran air dari dalam sel
sehingga mengurangi kemampuan air untuk membentuk
kristal-kristal es, sebagai penyangga osmotik untuk
menghindari pembengkakan sel, dan menstabilkan
Jumlah larutan pengencer (ml) =
membran sel. VISHWANATH dan SHANNON (2000)
menyatakan bahwa golongan karbohidrat (khususnya
disakarida) mempunyai kemampuan menggantikan
molekul air secara normal dalam kelompok polar
hydrated dan sifat-sifat ini akan membantu
menstabilkan membran sel selama transisi melalui zone
temperatur kritis, serta mengubah sifat mekanik dari
pengencer melalui peningkatan viskositas.
Penggunaan laktosa dalam pengencer semen cair
kambing, khususnya semen kambing Saanen belum
banyak dilaporkan, sehingga memerlukan penelitian
lebih lanjut. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi
salah satu informasi dasar dalam program preservasi
semen kambing Saanen.
MATERI DAN METODE
Hewan percobaan
Hewan percobaan yang digunakan adalah empat
ekor kambing Saanen jantan berumur 2-4 tahun sebagai
sumber semen. Semua ternak yang digunakan sehat
ditinjau dari aspek performans reproduksi. Ternak
ditempatkan dalam kandang individu, yang masingmasing dilengkapi dengan palaka dan tempat minum.
Pakan yang diberikan berupa rumput gajah 2 kg ekor-1
hari-1, ampas bir 1500 g ekor-1 hari-1 dan konsentrat 700
g ekor-1 hari-1. Air minum diberikan secara ad libitum.
Metode penelitian
semen
Penampungan
dilakukan
dengan
menggunakan vagina buatan sekali seminggu. Segera
setelah penampungan dilakukan evaluasi semen secara
mikroskopis meliputi: volume, warna, kekentalan dan
pH; dan mikroskopis meliputi: gerakan massa,
konsentrasi
spermatozoa,
persentase
motilitas,
persentase hidup, persentase abnormalitas, persentase
membran plasma utuh dan persentase tudung akrosom
utuh. Semen yang diencerkan harus memiliki
persyaratan, yaitu minimal persentase motilitas 70%,
konsentrasi 2 x 109 sel/ml, gerakan massa +++,
persentase hidup 80% dan persentase abnormalitas
<15% (EVANS dan MAXWELL, 1987).
Semen yang telah memenuhi persyaratan
selanjutnya diencerkan dalam pengencer Tris (Tabel 1)
hingga mencapai 100 ml. Pengenceran semen
menggunakan sistem satu tahap pada suhu kamar,
dengan konsentrasi spermatozoa 100 juta sel per straw
(0,25). Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah
konsentrasi laktosa 30 mM (L30), 60 mM (L60) dan 90
mM (L90). Jumlah larutan pengencer yang digunakan
(dalam ml) adalah:
Volume semen x konsentrasi sperma x % motilitas
100 juta/0,25
- volume semen
85
TAMBING et al.: Efektivitas berbagai konsentrasi laktosa dalam pengencer Tris terhadap viabilitas semen cair kambing Saanen
Tabel 1. Komposisi pengencer yang digunakan dalam penelitian
Komposisi bahan pengencer
Perlakuan
L30
L60
L90
Tris (g)
2.96
2.96
2.96
Asam sitrat (g)
1.65
1.65
1.65
Fruktosa (g)
2.0
2.0
2.0
Laktosa (mM)
30
60
90
Kuning telur (ml)
20
20
20
Penisilin (IU/ml)
1000
1000
1000
Streptomisin (µg/ml)
1000
1000
1000
Aquabidest (ml) ad.
100
100
100
Semen yang telah diencerkan selanjutnya disimpan
pada suhu 3-5°C di dalam lemari es. Pengamatan
terhadap viabilitas semen cair dilakukan pada 0, 24 dan
48 jam penyimpanan dalam lemari es.
Parameter yang diamati
Parameter viabilitas semen cair yang diamati adalah
persentase motilitas, hidup, membran plasma utuh
(MPU) dan persentase tudung akrosom utuh (TAU)
spermatozoa masing-masing setelah pengenceran, dan
pada saat penyimpanan dalam lemari es (0, 24 dan 48
jam).
Motilitas spermatozoa ditandai oleh spermatozoa
bergerak ke depan (progresif) dihitung secara subjektif
pada 10 lapang pandang yang berbeda dengan
menggunakan mikroskop cahaya pembesaran 400 kali.
Spermatozoa hidup ditandai oleh kepala yang
transparan atau tidak berwarna, sedangkan yang mati
berwarna merah bila diwarnai dengan zat pewarna
eosin. MPU ditandai dengan ekor spermatozoa
melingkar atau membengkak, sedangkan yang rusak
ditandai dengan ekor lurus bila semen dipaparkan
dalam larutan hipoosmotik. TAU ditandai dengan ujung
kepala berwarna hitam, sedangkan yang rusak berwarna
putih bila dipaparkan dengan larutan formalin 1%.
Jumlah spermatozoa yang dievaluasi minimal 200
dengan menggunakan mikroskop cahaya pembesaran
400 kali.
Analisis data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan
dan jumlah penampungan sebanyak enam kali sebagai
ulangan. Perbedaan antar perlakuan digunakan uji
Duncan (STEEL dan TORRIE, 1993).
86
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik semen segar
Pengamatan kuantitas dan kualitas semen segar
secara makroskopis dan mikroskopis dimaksudkan
untuk mengetahui layak tidaknya semen tersebut
diproses lebih lanjut dan menentukan kadar
pengenceran semen. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kuantitas dan kualitas semen segar yang
diperoleh tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian
sebelumnya (Tabel 2). Sebagai pembanding, volume
semen kambing Peranakan Etawah rata-rata 0,95 ml,
konsistensi kental, warna putih sampai krem,
konsentrasi spermatozoa 2,94 milyar/ml, pH 7,13,
gerakan massa +++, persentase motilitas 72,79%,
persentase hidup spermatozoa 82,54% dan persentase
abnormalitas spermatozoa 10,17% (TAMBING et al.,
2001).
Berdasarkan pada pengamatan karakteristik semen
segar terlihat bahwa kuantitas dan kualitas semen segar
kambing Saanen percobaan layak untuk digunakan
sebagai sumber semen terutama untuk proses
pembuatan semen cair.
Pengaruh perlakuan terhadap viabilitas semen cair
Pengaruh perlakuan terhadap viabilitas semen
sesudah pengenceran memberikan respon yang berbeda,
dimana rataan persentase motilitas, hidup, MPU dan
TAU spermatozoa semen cair pada perlakuan L30 nyata
(P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan
L60 dan L90 (Tabel 3). Hal ini mengindikasikan
penambahan laktosa sebesar 30 mM dalam pengencer
Tris optimal dalam mempertahankan tekanan osmotik
pengencer sehingga tingkat recovery spermatozoa
JITV Vol. 8. No.2. Th. 2003
menjadi lebih baik. Sebagaimana dikatakan MOLINIA et
al. (1994) bahwa penambahan karbohidrat dalam
pengencer dengan konsentrasi optimal akan
memperbaiki recovery spermatozoa dan ini sebagai
akibat langsung dari pengaruh osmolaritas pengencer
dan bukan pengaruh krioprotektif.
Dari hasil penelitian ini juga terlihat bahwa
peningkatan konsentrasi laktosa dalam pengencer Tris
akan menyebabkan rataan persentase motilitas, hidup,
MPU dan TAU spermatozoa menurun. Hal ini mungkin
disebabkan pada konsentrasi laktosa yang lebih tinggi
menyebabkan terjadi perubahan tekanan osmotik pada
pengencer ke arah hipertonik. Pengencer yang bersifat
hipertonik menandakan bahwa molekul-molekul atau
partikel-partikel di luar sel lebih banyak daripada di
dalam sel. Akibatnya terjadi pengeluaran air dari dalam
sel untuk mengencerkan molekul-molekul di luar sel,
sehingga sel akan mengkerut (SUPRIATNA dan
PASARIBU, 1992). Efek yang ditimbulkan bila sel
mengkerut adalah terjadi kerusakan pada organelorganel intraseluler, sehingga viabilitas spermatozoa
menjadi rendah. Hal inilah yang mungkin terjadi pada
perlakuan L60 dan L90 sehingga viabilitas semen cair
lebih rendah dibandingkan dengan pada perlakuan L30.
Sebaliknya hasil penelitian SINGH et al. (1995; 1996)
menunjukkan bahwa penambahan laktosa sebesar 180
mM dalam pengencer Tris menghasilkan kualitas semen
cair kambing Beetal lebih baik dibandingkan dengan
konsentrasi laktosa 60 mM dan 120 mM. Sebagai
pembanding, penambahan laktosa 70 mM dalam
pengencer Tris menghasilkan kualitas semen anjing
yang terbaik setelah pengenceran (YILDIZ et al., 2000).
Tabel 2. Karakteristik semen segar
Parameter
Rataan nilai
Referensi
Volume (ml)
0,98 ± 0,45
1,15b
Konsentrasi sperma (x 106/ml)
3366,7 ± 70,63
3630b
Total sperm/ejakulat (x 106)
3211,5 ± 117,31
4090b
Warna
krem
-
Konsistensi
kental
-
+++
+++a
pH
6,85 ± 0,29
-
Motilitas (%)
71,67 ± 2,58
85,41c
Hidup (%)
85,79 ± 3,94
-
Abnormalitas (%)
9,68 ± 4,45
8,41b
Tudung akrosom utuh (%)
85,37 ± 4,62
-
Membran plasma utuh (%)
82,40 ± 5,08
-
Gerakan massa
a
AHMED et al. (1997)
KARAGIANNIDIS et al. (2000)
c
AZERÊDO et al. (2001)
b
Tabel 3. Viabilitas semen cair pada berbagai konsentrasi laktosa dalam pengencer tris pada suhu kamar
Parameter (%)
Perlakuan
L30
L60
L90
Motilitas
70,83 ± 2,58a
67,08 ± 3,68b
61,50 ± 3,32c
Hidup
78,20 ± 2,33a
73,73 ± 1,30b
71,88 ± 4,37b
MPU
79,56 ± 3,50a
75,01 ± 3,86b
69,08 ± 3,67c
TAU
81,20 ± 4,59a
76,87 ± 4,84b
71,33 ± 4,37c
Nilai dengan huruf berbeda pada baris yang sama menunjukkan beda nyata (P<0,05)
87
TAMBING et al.: Efektivitas berbagai konsentrasi laktosa dalam pengencer Tris terhadap viabilitas semen cair kambing Saanen
Selanjutnya setelah penyimpanan pada suhu 5°C
dalam lemari es terlihat bahwa rataan persentase
motilitas dan hidup spermatozoa pada perlakuan L30
nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan
perlakuan L60 dan L90 hingga 48 jam penyimpanan
(Tabel 4). Hal ini didukung lagi oleh tingkat penurunan
motilitas dan hidup spermatozoa dari 0-48 jam
penyimpanan pada perlakuan L30 (masing-masing 42,83
dan 19,75%) nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan
dengan perlakuan L60 (masing-masing 55,41 dan
23,06%) dan L90 (masing-masing 54,83 dan 29,93%).
Tabel 4.
Demikian juga pada keutuhan membran plasma dan
tudung akrosom spermatozoa setelah penyimpanan
pada suhu 5°C dalam lemari es, terlihat bahwa rataan
persentase MPU dan TAU spermatozoa pada perlakuan
L30 nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan
perlakuan L60 dan L90 (Tabel 5). Hal ini didukung lagi
oleh tingkat penurunan persentase MPU dan TAU
spermatozoa dari 0-48 jam penyimpanan pada
perlakuan L30 (masing-masing 40,84 dan 39,00%) nyata
(P<0,05) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan
L60 (masing-masing 50,14 dan 50,90%) dan L90
(masing-masing 50,14 dan 50,97%).
Rataan persentase motilitas (%M) dan hidup (%H) spermatozoa semen cair dan tingkat penurunannya selama
penyimpanan pada suhu 5°C
Karakteristik semen
%M
L30
L60
L90
0
70,83 ± 2,58a
67,08 ± 3,68b
61,50 ± 3,32c
66,47 ± 3,19
a
b
c
29,67 ± 2,89
36,64 ± 4,05
b
c
15,45 ± 3,98
24
%H
Perlakuan
Lama penyimpanan
(jam)
44,50 ± 4,73
35,75 ± 4,54
Rataan
48
a
28,00 ± 4,40
11,67 ± 4,64
6,67 ± 2,89
Rataan
47,77 ± 3,90
38,17 ± 4,29
32,61 ± 3,03
a
b
Penurunan dari 0 - 48 jam
42,83 ± 3,21
55,41 ± 3,51
54,83 ± 2,55b
0
78,20 ± 2,33a
73,73 ± 1,30b
71,88 ± 4,37b
64,60 ± 2,67
a
b
b
61,67 ± 4,10
c
50,36 ± 3,18
24
67,96 ± 3,55
62,54 ± 4,73
54,51 ± 4,02
48
a
58,45 ± 3,34
b
50,67 ± 3,10
41,95 ± 3,11
Rataan
68,20 ± 3,07
62.31 ± 3,04
56,11 ± 3,83
a
b
29,93 ± 3,54c
Penurunan dari 0 - 48 jam
19,75 ± 2,85
23,06 ± 2,30
Nilai dengan huruf berbeda pada baris yang sama menunjukkan beda nyata (P<0,05)
Tabel 5. Rataan persentase MPU dan TAU spermatozoa semen cair dan penurunannya selama penyimpanan pada suhu 5°C
Karakteristik semen
% MPU
L30
0
79,56 ± 3,50a
75,01 ± 3,86b
69,08 ± 3,67c
74,55 ± 3,68
a
b
c
43,00 ± 2,67
c
27,51 ± 2,10
24
% TAU
Perlakuan
L60
Lama penyimpanan
(jam)
56,53 ± 4,19
47,56 ± 2,50
24,92 ± 1,33
48
b
38,72 ± 2,80
b
24,87 ± 0,34
18,94 ± 3,15
Rataan
58,27 ± 3,50
49,15 ± 2,23
37,65 ± 2,72
a
b
Penurunan dari 0 - 48 jam
40,84 ± 3,10
50,14 ± 2,15
50,14 ± 3,51b
0
81,20 ± 4,59a
76,87 ± 4,84b
71,33 ± 6,37c
76,47 ± 5,27
a
b
c
48,45 ± 3,04
c
29,51 ± 2,06
24
59,83 ± 4,23
49,70 ± 4,29
35,83 ± 0,61
48
a
42,20 ± 2,78
b
25,97 ± 0,39
20,36 ± 3,00
Rataan
61,08 ± 3,87
50,85 ± 3,17
42,51 ± 3,33
a
b
50,97 ± 4,68b
Penurunan dari 0 - 48 jam
39,00 ± 3,70
Nilai dengan huruf berbeda pada baris yang sama menunjukkan beda nyata (P<0,05)
88
Rataan
L90
50,90 ± 3,61
JITV Vol. 8. No.2. Th. 2003
Tingginya motilitas dan daya hidup semen cair
kambing setelah penyimpanan pada suhu 5°C pada
perlakuan L30 dibandingkan dengan L60 dan L90
mengindikasikan bahwa penambahan laktosa 30 mM
dalam pengencer Tris optimal menyediakan substrat
energi untuk kelangsungan hidup spermatozoa selama
penyimpanan pada suhu 5°C (proses pendinginan).
Selama berlangsungnya proses pendinginan, akan
terjadi penurunan aktivitas spermatozoa sehingga perlu
dijaga jangan sampai rusak. Oleh karena itu, perlu
tersedia energi yang optimal dalam pengencer, yang
mana akan digunakan oleh spermatozoa untuk tetap
hidup dan bergerak aktif. Karbohidrat (khususnya
golongan disakarida) disamping berperan sebagai
krioprotektan dan mempertahankan tekanan osmotik
pengencer serta keutuhan membran plasma, juga
menyediakan substrat energi untuk kebutuhan
spermatozoa selama proses penyimpanan (YILDIZ et al.,
2000; SALAMON dan MAXWELL, 2000).
Selain itu, pada perlakuan L30 menyebabkan
persentase MPU dan TAU spermatozoa lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan L60 dan L90 selama
penyimpanan pada suhu 5°C. Hal ini disebabkan pada
konsentrasi L30 telah optimal melindungi membran
plasma dari kerusakan selama proses pendinginan.
Sebagaimana diketahui, bahwa salah satu sifat laktosa
adalah senyawa pereduksi yang akan menetralisir kerja
hidrogen peroksida, yang mana diketahui dapat
merusak ikatan ganda asam lemak tak jenuh dari
fosfolipid bilayer membran plasma spermatozoa.
Akibatnya membran plasma spermatozoa tetap stabil
dan utuh, yang sekaligus juga melindungi tudung
akrosom dari kerusakan selama proses pendinginan.
Rendahnya viabilitas semen cair pada perlakuan L60
dan L90 selama penyimpanan pada suhu 5°C lebih
disebabkan pada faktor perubahan tekanan osmotik
pengencer. Tingginya konsentrasi laktosa melebihi
konsentrasi optimal akan mengakibatkan tekanan
osmotik pengencer berubah ke arah hipertonik. Efek
yang ditimbulkan adalah muncul gejala osmotic-shock
pada spermatozoa, yang ditandai dengan kerusakan
pada membran plasma spermatozoa sehingga proses
metabolisme terganggu dan pada akhirnya menurunkan
motilitas spermatozoa. Tanda-tanda adanya osmoticshock adalah penurunan viabilitas dan integritas
membran plasma spermatozoa (CORREA et al., 1996).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil
kesimpulan bahwa penambahan laktosa sebesar 30 mM
dalam pengencer Tris dapat melindungi spermatozoa
dari berbagai cekaman selama penyimpanan pada suhu
50C dalam lemari es, sehingga dapat mempertahankan
viabilitas semen cair (motilitas, daya hidup, MPU dan
TAU spermatozoa) kambing Saanen. Perlu penelitian
lebih lanjut tingkat keberhasilan penggunaan semen cair
yang dihasilkan ini di lapangan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan penghargaan dan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Proyek PAATP-Badan Litbang Pertanian yang
memberikan bantuan dana sehingga penelitian ini
dapat terlaksana dengan baik.
2. Laboratorium Ruminansia Kecil-Balai Penelitian
Ternak, Bogor dan Laboratorium Unit Rehabilitasi
Reproduksi (URR)-FKH, IPB yang telah
memberikan fasilitas dan kemudahan-kemudahan
lainnya untuk pelaksanaan kegiatan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
AHMED, M.M.M., S.A. MAKAWI, and A.A. GADIR. 1997.
Reproductive performance Saanen bucks under tropical
climate. Small Rumin. Res. 26:151-155.
ANONIMOUS. 2002. American Dairy Goat Breed Description.
http://www.goatweb.com/discover/dairy/saanen.shtml.
[19 Juni 2002].
AZERÊDO, G.A., C.R. ESPER and K.T. RESENDE. 2001.
Evaluation of plasma membrane integrity of frozenthawed goat spermatozoa with or without seminal
plasma. Small Rumin. Res. 41 : 257-263.
CORREA, J.R, M.C. RODRIQUEZ, D.J. PATTERSON, and P.M.
ZAVOS. 1996. Thawing and processing of cryopreserved
bovine spermatozoa at various temperatures and their
effects on sperm viability, osmotic shock and sperm
membrane functional integrity. Theriogenology. 46:
413-420.
EVANS, G. and W.M.C. MAXWELL. 1987. Salamon’s Artificial
Insemination of Sheep and Goats. Butterworths,
London. 194 hal.
KARAGIANNIDIS, A., S. VARSAKELI and G. KARATZAS. 2000.
Characteristics and seasonal variation in the semen of
Alpine, Saanen and Damascus goat bucks born and
raised in Greece. Theriogenology. 53: 1285-1293.
LEBOEUF, B., E. MANFREDI, P. BOUE, A. PIACÈRE, G. BRICE,
G. BARIL, C. BROQUA, P. HUMBLOT and M. TERQUI.
1998. Artificial insemination of dairy goats in France.
Livestock Prod. Sci. 55: 193-203.
LEBOEUF, B., B. RESTALL and S. SALAMON. 2000. Production
and storage of goat semen for artificial insemination.
Anim. Reprod. Sci. 62: 113-141.
MOLINIA, F.C., G. EVANS, P.I. QUINTANA CASARES and
W.M.C. MAXWELL. 1994. Effect of monosaccharides in
Tris-based diluent on motility, acrosome integrity and
fertility of pellet frozen ram spermatozoa. Anim.
Reprod. Sci. 36: 113-122.
89
TAMBING et al.: Efektivitas berbagai konsentrasi laktosa dalam pengencer Tris terhadap viabilitas semen cair kambing Saanen
NGANGI, L.R. 2002. Efektivitas lama Pemberian Implan
Progesteron Intravaginal dan Waktu Inseminasi
terhadap Penampilan Reproduksi Kambing Peranakan
Etawah. Tesis. Program Pascasarjana-IPB, Bogor. 76
hal.
RITAR, A.J., and S. SALAMON. 1983. Fertility of fresh and
frozen-thawed semen of the Angora goat. Aust. J. Biol.
Sci. 36: 49-59.
RITAR, A.J., P.D. BALL and P.J. O’MAY. 1990. Artificial
insemination of Cashmere goats: effects on fertility and
fecundity of intravaginal treatment, method and time
insemination, semen freezing process, number of motile
spermatozoa and age of females. Reprod. Fertil. Dev. 2:
377-384.
RITAR, A.J. and P.D. BALL. 1993. The effect of freezethawing of goat and sheep semen at a high density of
spermatozoa on cell viability and fertility after
insemination. Anim. Reprod. Sci. 31: 249-263.
ROCA, J., J.A. CARRIZOSA, I. COMPOS, A. LAFUENTE, J.M.
VAZQUEZ and E. MARTINEZ. 1997. Viability and fertility
of unwashed Murciano-Granadina goat spermatozoa
diluted in tris-egg yolk extender and stored at 5°C.
Small Rumin. Res. 25: 147-153.
SALAMON, S. and W.M.C. MAXWELL. 2000. Storage of ram
spermatozoa. Anim. Reprod. Sci. 62: 77-111.
90
SINGH, M.P., A.K. SINHA and B.K. SINGH. 1995. Effect
cryoprotectants on certain seminals attributes and on the
fertility of buck spermatozoa. Theriogenology. 43:
1047-1053.
SINGH, M.P., A.K. SINHA, B.K. SINGH and R.L. PRASAD.
1996. Effect of cryoprotectants on release of various
enzymes from buck spermatozoa during freezing.
Theriogenology. 45: 405-416.
STEEL, R.G.D. dan J.H. TORRIE. 1993. Prinsip dan Prosedur
Statistika. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
SUPRIATNA, I. dan F.H. PASARIBU. 1992. In Vitro Fertilisasi,
Transfer Embrio dan Pembekuan Embrio. Pusat Antar
Universitas, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
TAMBING, S.N., M.R. TOELIHERE, T.L. YUSUF dan I.K.
SUTAMA. 2001. Kualitas semen beku kambing
Peranakan Etawah setelah ekuilibrasi. Hayati. 8: 70-75.
VISWANATH, R. and P. SHANNON. 2000. Storage of bovine
semen in liquid frozen state. Anim. Reprod. Sci. 62: 2353.
YILDIZ, C., A. KAYA, M. AKSOY and T. TEKELI. 2000.
Influence of sugar supplementation of the extender on
motility, viability and acrosomal integrity of dog
spermatozoa during freezing. Theriogenology. 54: 579585.
Fly UP