...

budaya terhadap informasi

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

budaya terhadap informasi
TINJAUAN KRITIS TENTANG PENGARUH BUDAYA TERHADAP SISTIM AKUNTANSI
Zaitul
Fakultas Ekonomi Universias Bung Hatta
ABSTRAK : Budaya merupakan factor lingkungan yang paling kuat mempengaruhi sistim akuntansi suatu negara dan juga
bagaimana individu dinegara tersebut menggunakan informasi akuntansi. Pengaruh budaya terhadap sistim akuntansi
merupakan issu yang banyak dibicarakan oleh akademisi dan praktisi. Bahkan isunya menyangkut tentang apakah budaya
mempengaruhi akuntansi atau sebaliknya. Banyak para ahli menawarkan kerangka teori hubungan budaya dan akuntansi
seperti Gray dan Hofstede. Pengujian tentang kerangka teori ini pun sudah banyak di lakukan. Hasil pengujian
menyimpulkan hasil yang beragam tapi secara keseluruhan kerangka teori Gray dan Hofstede masih relevan bahkan berguna
dalam mendisain standar akuntansi internasional selain digunakan oleh investor dalam mapping budaya dan disclosure
diberbagai Negara.
Kata kunci ; Budaya dan Sistim Akuntansi
ABSTRACK: Culture is one of the factors affecting the accounting system in a country. It also influences how people use
the accounting information in that country. Effect of culture toward the accounting system is the current issues in academic
and practice community. Moreover, the study is just whether the culture affect the accounting system but also whether the
accounting affect the cultures. Several researchers have done that research and conclude that the theory of Gray and
Hofstede is still relevant to design international accounting standard.
Keyword ; Culture and Accounting System
1.
LATAR BELAKANG
Sejarah akuntansi dan akuntan terus mengalami perubahaan. Pertama kali akuntansi ditemukan hanya sebagai sistim
pencatatan pada jasa perbankan dan perhitungan pajak. Kemudian terus berkembang menjadi sistim pencatatan
berganda (double entry) untuk memenuhi kebutuhan atas informasi akuntansi. Sejalan dengan perkembangan
industrialisasi, akuntansi pun berkembang pada analisa prilaku biaya dan akuntansi manajemen. Dengan adanya
konsep modern corporation, untuk menstimulasi diperlukan laporan keuangan dan audit tahunan. Perkembangan
terakhir, akuntansi telah menemukan cara untuk mengukur dan melaporkan masalah criminal pada perusahaan dan
organisasi non-profit lainnya. Lebih jauh akuntansi juga menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan di
pasar modal baik domestic maupun internasional. Bahkan perkembangan akuntansi mengarah pada penggunaan
kemajuan teknologi dan informasi dalam menerapkan sistim informasi akuntansi.
Perkembangan akuntansi diatas dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah kondisi budaya, ekonomi,
hukum, social dan politik di lingkungan dimana akuntansi itu berkembang. Akuntansi di negara A akan berbeda
dengan negara lainnya. Karena setiap negara mempunyai budaya, ekonomi, social, hukum dan politik yang berbedabeda juga. Negara yang mempunyai kondisi budaya, ekonomi, social, politik dan hukum yang sama akan
mempunyai perkembangan akuntansi yang sama.
Budaya merupakan factor lingkungan yang paling kuat mempengaruhi sistim akuntansi suatu negara dan juga
bagaimana individu dinegara tersebut menggunakan informasi akuntansi. Banyak di literatur ditemukan argumentasi
bahwa akuntansi sangat dipengaruhi oleh budaya (Violet, 1983), dan kurangnya konsensus dalam praktik akuntansi
antar negara karena tujuannya adalah budaya bukan masalah teknis (Hofstede, 1986). Argumentasi ini telah
membawa kesepakatan yang tak tertulis bahwa budaya negara mempengaruhi dalam memilih teknik akuntansi.
Ada tiga aspek penting kajian tentang pengaruh budaya terhadap sistim akuntansi, diantaranya adalah (a) pelaporan
keuangan, (b) pertimbangan dan sikap auditor, dan (c) sistim pengendalian manajemen. Makalah ini hanya
memfokuskan pada pengaruh budaya terhadap pelaporan keuangan. Mangacu pada model Hofstede's (1980) untuk
pembentukan dan stabilisasi pola budaya, Gray (1988) mengembangkan kerengka untuk menjelaskan bagaimana
budaya mempengaruhi sistim akuntansi nasional. Secara singkat, Gray (1988) menjelaskan bahwa nilai-nilai budaya
yang di amalkan secara bersama-sama di negara tertentu akan merubah budaya akuntansi yang seterusnya akan
mempengaruhi sistim akuntansi negara yang bersangkutan
2.
TUJUAN DAN MANFAAT.
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan dimensi budaya dan konsep Budaya menurut teori Hofstede dan Gray.
Lebih jauh, tulisan ini juga ingin melihat apakah teori budaya menurut Hofstede dan Gray masih relevan digunakan
untuk mendisain sistim akuntansi dan keperluan lainnya seperti Mapping budaya. Tulisan ini bermanfaat untuk
standart setter, akademisi dan praktisi sebagai input untuk menentukan strategi penyusunan laporan keuangan.
3.
BUDAYA DAN AKUNTANSI
Budaya adalah nilai dan attitude yang digunakan dan di yakini oleh suatu masyarakat atau negara. Variabel budaya
tergambar dalam kelembagaan Negara yang bersangkutan (dalam sistim hukum dll). Hofstede (1980; 1983) meneliti
dimensi budaya di 39 negara. Dia mendefinisikan budaya sebagai “The collective programming of the mind which
-1-
distinguishes the members of one human group from another' (Hofstede 1983) dan membagi dimensi budaya
menjadi 4 bagian
•
Individualism (lawan dari collectivism). Individualism merefleksikan sejauh mana individu mengharapkan
kebebasan pribadi. Ini berlawan dengan collectivism (kelompok) yang didefinisikan menerima tanggungjawab
dari keluarga, kelompok masyarakat (suku dll).
•
Power distance. Didefinisikan sebagai jarak kekuasan antara Boss B dengan Bawahan S dalam hirarki
organisasi adalah berbeda antara sejauh mana B dapat menentukan prilaku S dan sebaliknya (Hofstede 1983).
Pada masyarakat yang power distance besar, adanya pengakuan tingkatan didalam masyarakat dan tidak
memerlukan persamaan tingkatan. Sedangkan pada masyarakat yang power distance kecil, tidak mengakui
adanya perbedaan dan membutuhkan persamaan tingkatan didalam masyarakat.
•
Uncertainty avoidance. Ketidakpastian mengenai masa depan adalah sebagai dasar kehidupan masyarakat.
Masyarakat yang tingkat ketidakpastiannya tinggi akan mengurangi dampak ketidakpastian dengan teknologi,
peraturan dan ritual. Sedangkan masyarakat dengan tingkat menghindari ketidak pastian yang rendah akan
lebih santai sehingga praktik lebih tergantung prinsip dan penyimpangan akan lebih bisa ditoleransi.
•
Masculinity, (Vs femininity). Nilai Masculine menekankan pada nilai kinerja dan pencapaian yang
nampak,sedangkan Feminine lebih pada preferensi pada kualitas hidup, hubungan persaudaraan, modis dan
peduli pada yang lemah.
Empat dimensi budaya diatas mengidenfikasi nilai dasar yang mencoba untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan
budaya secara umum di seluruh dunia.
Hofstede dan Bond (1988) menambahkan dimensi budaya kelima yaitu Confucian Dynamism, yang kemudian
dinamakan dengan orientasi jangka panjang. Hofstede (2001) mendefinisikan orientasi jangka panjang sebagai
gambaran masa datang yang berorientasi pada reward dan punishment. Dimensi ini diciptakan ketika survey budaya
cina dan mungkin mewakili perbedaan antara budaya barat dan timur.
Gray (1988) mengidentifikasi empat budaya akuntansi yang bisa digunakan untuk mendefinisikan sub-budaya
akuntansi: Professionalism, Uniformity, Conservatism, and secrecy. Penjelasan mengenai nilai-nilai sub-budaya
tersebut sebagai berikut;
•
Professionalism vs. Statutory Control adalah preferensi untuk melaksanakan pertimbangan profesional individu
dan memelihara aturan-aturan yang dibuat sendiri untuk mengatur profesionalitas dan menolak patuh dengan
perundangan-undangan dan kontrol dari pihak pemerintah.
•
Uniformity vs. Flexibility – adalah suatu preferensi untuk memberlakukan praktik akuntansi yang seragam
antara perusahaan dan penggunaan praktik tersebut secara konsisten dan menolak flexibelitas.
•
Conservatism vs. Optimism – adalah suatu preferensi untuk suatu pendekatan hati-hati dalam pengukuran dan
juga sesuai dengan ketidakpastian masa yang akan datang. Dimensi menolak untuk konsep lebih optimis dan
pendekatan yang penuh resiko.
•
Secrecy vs Transparency – adalah suatu preferensi untuk bersikap konfidensial dan membatasi disclosure
informasi mengenai bisnis dan menolak untuk bersikap transfaran, terbuka, dan pendekatan
pertanggungjawaban pada publik.
Hubungan antara dimensi budaya menurut Hofstede dan dimensi akuntansi menurut Gray dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut;
•
Profesionalisme berhubungan erat dengan individualisme yang tinggi, sangat tergantung pada pertimbangan
profesional dan menolak pengawasan hukum. Profesionalisme juga berhubungan dengan tingkat menghindari
ketidak pastian yang rendah (menerima variasi pertimbangan profesional) dan masculiniti serta power distance
yang kecil (butuh dana pensiun dan mutual fund lainnya).
•
Keseragaman dekat dengan tingkat menghindari ketidakpastian yang kuat dan individualisme yang rendah
serta power distance yang tinggi.
•
Konservatisme berhubungan kuat dengan menghindari ketidak pastian yang kuat dan induavidualisme yang
rendah dan maskulinitas yang tinggi.
•
Secrecy sangat dekat dengan menghindari ketidakpastian yang tinggi dan power distance yang besar serta
individualisme dan maskulinitas yang rendah.
4.
PENGARUH BUDAYA TERHADAP PELAPORAN KEUANGAN.
Banyak publikasi ilmiah mendokumentasikan bahwa akuntansi di pengaruhi oleh budaya dan perbedaan budaya
tersebut dijadikan sebagai dasar melakukan harmonisasi (lihat Bedford, 1966; Mueller, 1968; and Seidler, 1969).
Tulisan-tulisan awal ini tidak menjelaskan bagaimana budaya mempengaruhi akuntansi.
Violet [1983, p. 6] menyatakan bahwa bahasa merupakan variabel budaya yang paling penting. Bahasa merupakan
fondasi untuk mempromosikan budaya. Memandang akuntansi adalah bahasa bisnis. Dari sini dapat disimpulkan
bahwa prinsip akuntansi akan bervariasi tergantung pada variasi budaya yang dimiliki oleh negara yang
bersangkutan. (Violet, 1983, p. 6). Dia juga meyimpulkan bahwa akuntansi sebaliknya juga mempengaruhi budaya
dan sukses komite standar akuntansi internasional dalam mendapatkan diterimanya standar internasional tersebut
juga tergantung pada variabel budaya.
-2-
Harrison dan McKinnon (1986) mengembangkan suatu kerangka pikir untuk mejelaskan bagaimana sistim pelaporan
akuntansi berubah. Karena akuntansi merupakan sistim sosial. Perubahan pada sistim akuntansi dapat dijelaskan
dalam bentuk 4 aspek penting ; intrusive events, intra-system activity, trans-system activity, and the cultural
environment. Berdasarkan kerangka tersebut, perubahan pada akuntansi merupakan produk dari interaksi kejadiankejadian dilapangan dan interaksi antara sistim akuntansi dan sistim sosial lingkungan dalam negara.
Doupnik dan Salter (1995) menjelaskan lebih dalam bahwa kerangka pikir yang dikembangkan oleh Harrison dan
McKinnon [1986] merupakan pengembangan model umum perkembangan akuntansi. Norma dan nilai-nilai budaya
di pandang sebagai faktor yang mempengaruhi praktik akuntansi. variabel ini juga mempengaruhi pentingnya
intrusive events yang berasal dari lingkungan ekternal. Jika lingkungan ekternal, struktur lembaga, norma dan nilai
budaya berbeda antar negara, maka praktik akuntansi yang ada seharusnya juga berbeda antar negara.
Nobes [1998] mengembangkan suatu model alasan kenapa terjadi perbedaan akuntansi internasional. Dia
mengelompokan sistim akuntansi menjadi dua tipe: (1) kelompok A (akuntansi pemegang saham dari luar) dan (2)
kelompok B (akuntansi pajak dan kreditor). Dua variabel digunakan untuk menentukan apakah negara tertentu
masuk ke kelompok A atau B: (1) jenis budaya dan (2) kekuatan sistim pendanaan dari luar. Berdasarkan model ini,
negara dengan budaya jenis 1 telah mengembangkan akuntansi dari sitim pendanaan ekuitas dari luar dan masuk
kedalam kelompok A, sebaliknya masuk ke kelompok B. Nobes menfokuskan pada sistim pendanaan dan akuntansi.
kontribusi signifikan dari temuan Nobe ini adalah pendanaan ekuitas tidak masuk kelompok sistim akuntansi A.
Nobes selanjutnya mengusulkan bahwa negara yang didominasi oleh budaya akan menggunakan kelompok sistim
akuntansi yang di impor dari luar, tanpa mempertimbangkan sistim pendaaan ekuitas dari luar. Ini disebabkan oleh
status kolonial, rendahnya tingkat perkembangan, atau negera kecil lebih dipengaruhi oleh budaya negara lain.
Harrison dan McKinnon (1986), Doupnik and Salter (1995) dan sampai penjelasan tertentu Nobes (1998)
memberikan dasar pemikiran untuk menjelaskan bagaimana budaya dapat mempengaruhi akuntansi.
5.
BUDAYA DAN DISCLOSURE
Lingkungan dimana perusahaan beroperasi akan berdampak terhadap pelaporan keuangan dan disclosure. Salah satu
aspek lingkungan adalah budaya. Negara-negara yang mempunyai budaya menghindari ketidakpastian yang tinggi,
di harapan akan lebih menyimpan informasi sehingga hubungan antara disclosure dan tingkat ketidakpastian
negative.
Masyarakat yang bersifat individualistik dan lingkungan lebih kompetitif dan kurang menyimpan rahasia, sehingga
mempengaruhi disclosure secara positif (Jaggi dan Low, 2000). Masyarakat yang Power distance yang tinggi akan
mempunyai gambaran usaha dengan menggalakan penggunaan informasi secara ektensif (Zarzeski 1996) sehingga
mempunyai hubungan negative dengan disclosure. Masyarakat dengan karakteristik maskuliniti cendrung
melaporkan informasi (high disclosure) Namun hasilnya masih menjadi bahan pertanyaan.
6.
Diskusi
Pengujian terhadap kerangka pikir yang diajukan oleh Gray telah banyak di uji secara empiris oleh beberapa peneliti.
Dibawah ini dijelaskan beberapa uji empiris yang menguji kerangka teori tersebut.
•
Pengujian keempat hipotesa gray
Eddie (1990) melakukan pengujian 4 hipotesa yang diajukan Gray. Eddie (1990) menggunakan pendekatan
electic untuk menkonstruksi nilai-nilai budaya akuntansi di 13 negara asia pasifik. Dia menggunakan 10 faktor
untuk mengukur budaya akuntansi. Indeks budaya akuntansi yang digunakan oleh Eddie mempunyai hubungan
dengan indeks dimensi budaya yang di kenalkan oleh Hofstede’s. Dengan kata lain bahwa hipotesa yang di
ajukan oleh Hofstede terbukti.
Salter and Niswander (1995) menggunakan analisa regressi untuk menganalisa hipotesa Gray dengan
menggunakan atribut sistim akuntansi sebagai independen variabel dan indeks dimensi budaya Hofstede
sebagai variabel independen. Salter and Niswander (1995) menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara Uncertainty Avoidance dan indeks akuntansi, sedangkan dimensi lain tidak mempunyai hubungan.
Khususnya, individuliasme berhubungan dengan kerahasiaan dan bertolak belakang dengan Gray’s
expectation. Masculinity mempunyai hubungan yang signifikan dengan konservatisme, tapi tidak dengan
kerahasiaan (secrecy) seperti yang di hipotesakan.
Sudarwan and Fogarty (1996) menggunakan pendekatan lain dan memfokuskan pada satu negara. Mereka
menguji hubungan antara karakteristik masyarakat Indonesia, praktik pelaporan korporasi Indonesia dan
standar akuntansi yang dibuat oleh IAI. Sudarwan and Fogarty (1996) menggunakan structural equation
modeling (SEM) untuk menganalisa hubungan tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan
antara perubahan pada masculinity dengan nilai-nilai akuntansi. Sudarwan dan Fogarty (1996) hanya
mendukung 4 dari 13 yang ada. Dimensi individualisme konsisten dengan Gray dan hasil untuk power
distance mempunyai hubungan dengan uniformity dan konsorvatisme tapi tidak untuk profesionalisme dan
secrecy.
-3-
Hasil pengujian terhadap kerangka teori yang diajukan oleh Gray menyimpulkan hasil yang berbeda-beda.
Perbedaan ini perlu di analisa lagi apakah disebabkan oleh metodologi atau hal lainnya. Dari dapat di
simpulkan bahwa kerangka teori yang di ajukan oleh Gray masih testable dan tidak mutlak.
•
Pengujian secrecy.
Gray and Vint (1995) menguji dimensi secrecy saja. Gray and Vint (1995, p. 36) menyatakan “untuk menguji
hipotesa secrecy”, diperlukan operasionalisasi hubungan antara secrecy dan praktik disclosure. Secrecy
menggunakan proxy dengan menggunakan database praktik disclosure dari proyek yang di buatkan oleh Gray,
et al (1984).
Individualism dan Masculinity mempunyai hubungan positif dengan disclosure dan power distance dan
uncertainty avoidance berhubungan dengan negatif dengan disclosure. hasil ini mendukung temuan bahwa
uncertainty avoidance dan individualism mempunyai kekuatan dalam menjelaskan praktik disclosure.
Zarzeski (1996) menfokuskan bagaimana pengaruh budaya dan kekuatan pasar dalam praktik disclosure yang
berorientasi pada investor. Hasilnya mendukung hipotesa dan menunjukan uncertainty avoidance dan
masculinity berhubungan dengan disclosure berbeda-beda tergantung pada perusahaan internasional. Ada
hubungan positif antara disclosure dan uncertainty avoidance tapi hubungan yang kuat terjadi pada sample
internasional. Zarzeski (1996, p. 35) menyimpulkan bahwa "perusahaan lokal mengungkapkan lebih
budayanya dari pada perusahaan internasional. Kemudian Zarzeski (1996) menunjukan faktor luar dapat
mempengaruhi hubungan antara budaya dan sistim akuntansi.
Wingate (1997) menguji pengaruh budaya pada jumlah disclosure yang di haruskan oleh aturan. Dia
menemukan budaya menjelaskan variasi disclosure yang dilakukan praktik di negara sample. Dia menyarankan
bahwa budaya sangat berguna untuk mengevaluasi di lingkungan auditing.
Jaggi dan Low (2000) mengembangkan dan menguji disclosure internasional yang memfokuskan pada
hubungan antara budaya, sistim legal, dan disclosure. Hasil regresi menunjukan bahwa sistim legal
mempengaruhi disclosure. Hasilnya menunjukan tidak ada pengaruh disclosure pada negara-negara common
law. Pengaruh variabel budaya pada disclosure di negara code law sangat signifikan tapi sesuai dengan arah
yang diharapkan.
Hope (2003) menguji isu untuk sample yang lebih besar yang mewakili 39 negara. Hasil regresi menunjukan
hanya mendukung untuk hipotesa individualisme mempunyai hubungan positif dengan disclosure. Masculinity
juga mempunyai pengaruh yang signifikan tapi arah yang berbeda. Analisa untuk negara code law dan
common law, Hope memperoleh koefisien regressi yang signifikan. Hanya power distance tidak signifikan
pada negara code law.
7.
Kesimpulan
Pengaruh budaya terhadap sistim akuntansi merupakan issu yang banyak dibicarakan oleh akademisi dan praktisi.
Bahkan isunya menyangkut tentang apakah budaya mempengaruhi akuntansi atau sebaliknya. Banyak para ahli
menawarkan kerangka teori hubungan budaya dan akuntansi seperti Gray dan Hofstede.
Pengujian tentang kerangka teori ini pun sudah banyak di lakukan seperti Addie (1990) , Hope (2003) dan lain-lain.
Hasil pengujian menyimpulkan hasil yang beragam tapi secara keseluruhan kerangka teori Gray dan Hofstede masih
relevan bahkan berguna dalam mendisain standar akuntansi internasional selain digunakan oleh investor dalam
mapping budaya dan disclosure diberbagai negara.
-4-
DAFTAR PUSTAKA
Bedford, M. 1966. The international flow of accounting thought. The International Journal of Accounting. Vol. 1. 1-9.
Doupnik, T.S. and S.B. Salter. 1993. An empirical test of a judgmental international classification of financial reporting
practices. Journal of International Business Studies. Vol. 24: 41-60.
Eddie, I.A. 1990. Asia Pacific cultural values and accounting systems. Asia Pacific International Management Forum. Vol.
16: 22-30.
Gray, S.J. 1988. Towards a theory of cultural influence on the development of accounting systems internationally. Abacus.
Vol. 24: 1-15.
Gray, S.J., L.G. Campbell and J.C. Shaw. 1984. Information disclosure and the multinational corporation. Chichester: John
Wiley.
Gray, S.J. and H.M. Vint, H.M. 1995. The impact of culture on accounting disclosures: some international evidence. AsiaPacific Journal of Accounting. Vol. 21: 33-43.
Harrison, G.L. and J.L. McKinnon, J.L. 1986. Culture and accounting change: anew perspective on corporate reporting
regulation and accounting policy formation. Accounting, Organizations and Society. Vol. 11: 233-252.
Hofstede, G. 1980. Culture's consequences: International differences in work-related values. London: Sage Publications.
Hofstede, G. 1983. National cultures in four dimensions. International Studies of Management and Organizations. Vol. 13:
46-74.
Hofstede, G. 1986. The cultural context of accounting. Accounting and Culture: Plenary Session Papers and Discussants'
Comments from the 1986 Annual Meeting of the American Accounting Association, 1-11.
Hofstede, G. and M.H. Bond, M.H. 1988. The Confucius connection: from cultural roots to economic growth.
Organizational Dynamics. Vol. 16: 4-22.
Hofstede, G. 2001. Culture's consequences: Comparing values, behaviors, institutions, and organizations across nations.
Thousand Oaks: Sage Publications.
Hope, O-K. 2003. Firm-level disclosures and the relative roles of culture and legal origin. Journal of International Financial
Management & Accounting. Vol. 14: 218-248.
Jaggi, B. and P.Y. Low. 2000. Impact of culture, market forces, and legal system on financial disclosures. The Intemational
Journal of Accounting. Vol. 35: 495-519.
Mueller, G.G. 1968. Accounting principles generally accepted in the United States versus those generally accepted
elsewhere. The International Journal of Accounting. Vol. 3: 91-103.
Nobes, C. 1998. Towards a general model of the reasons for international differences in financial reporting. Abacus. Vol. 34:
162-187.
Salter, S.B. and F. Niswander. 1995. Cultural influence on the development of accounting systems internationally: a test of
Gray's (1988) theory. Journal of International Business Studies. Vol. 26: 379-397.
Seidler, L.J. 1969. Nationalism and the international transfer of accounting skills. The Internalional Journal of Accounting.
Vol. 5: 35-45.
Sudarwan, M. and T.J. Fogarty. 19%. Culture and accounting in Indonesia: an empirical examination. The International
Journal of Accounting. Vol. 31: 463-481.
Violet, W.J. 1983. The development of international accounting standards: an anthropological perspective. The International
Journal of Accounting. Vol. 18: 1-12.
Wingate, M.L. 1997. An examination of cultural influence on audit environments. Research in Accounting Regulation. Supp.
1: 129-148.
Zarzeski, M.T. 1996. Spontaneous harmonization effects of culture and market forces on accounting disclosure practices.
Accounting Horizons. Vol. 10: 18-37.
-5-
Fly UP