...

pembuatan mikroemulsi dari minyak buah merah

by user

on
Category: Documents
8

views

Report

Comments

Transcript

pembuatan mikroemulsi dari minyak buah merah
ISSN : 1693-9883
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. VI, No. 1, April 2009, 18 - 27
PEMBUATAN MIKROEMULSI
DARI MINYAK BUAH MERAH
Mahdi Jufri, Joshita Djajadisastra, Ledy Maya
Laboratorium Farmasetika Departemen Farmasi
FMIPA-Universitas Indonesia, Depok 16424
ABSTRACT
Red fruit oil (Pandanus conoideus) is a natural product typicaly from Papua used as
a medication for some disease, as a food supplement, and for beauty skin care. But this
advantages are not supported by an appropriate dosage form. Oils are difficult to
dissolve in GIT and difficult to penetrate the human skin, slower the absorption then.
Microemulsion is a dispersion system which can help to solve the problems by enhancing the oil solubility in GIT and the oil penetration through the skin. The objective of
this study is to formulate a clear and stabile microemulsion. Microemulsion will be
physically evaluated for 2 months. The material composition is 5% glycerin and
15% sorbitol as the cosolvent, and 20% , 30%, and 40% tween -20 as the surfactants.
The result showed that formula of 40% tween-20 gave a good microemulsion which is
physically stable as long as 2 months stored at room temperature.
Key words: microemulsion, red fruit oil, surfactant.
ABSTRAK
Minyak buah merah (Pandanus conoideus) adalah hasil alam khas dari Papua yang
bermanfaat untuk membantu pengobatan beberapa penyakit, food supplement, dan
perawatan serta kecantikan kulit manusia. Tetapi, hal ini tidak didukung oleh bentuk
sediaan minyak buah merah. Minyak sulit larut di dalam saluran pencernaan dan
sulit menembus lapisan kulit manusia sehingga memperlambat proses absorbsi.
Mikroemulsi adalah suatu sistem dispersi yang dapat membantu mengatasi masalah
ini. Mikroemulsi dapat meningkatkan kelarutan minyak di dalam saluran pencernaan
dan penetrasi minyak ke dalam kulit manusia. Penelitian ini bertujuan untuk membuat
sediaan mikroemulsi yang jernih dan stabil. Mikroemulsi akan dievaluasi secara fisik
selama 2 bulan. Komposisi bahan yang digunakan adalah 5% gliserin dan 15% sorbitol sebagai kosolven serta surfaktan tween 20 dengan konsentrasi 20%, 30%, dan
40%. Tween 20 dengan konsentrasi 40% dapat membentuk sediaan mikroemulsi.
Dari hasil pengamatan, formula mikroemulsi ini tetap stabil secara fisik selama dua
bulan penyimpanan pada suhu kamar.
Kata kunci: mikroemulsi, minyak buah merah, surfaktan.
Corresponding author : E-mail : [email protected]
18
PENDAHULUAN
Buah merah (Pandanus conoideus)
adalah tanaman sejenis pandan khas
dari Papua. Masyarakat Papua menyebut tumbuhan ini buah merah,
sedangkan masyarakat Wamena
menyebutnya kuanus. Secara turuntemurun, buah merah dikonsumsi
masyarakat Papua sebagai penambah
energi dan daya tahan tubuh. Masyarakat Wamena menggunakan pasta
buah merah sebagai penghalus kulit
dan tabir surya. Mereka mengkonsumsi buah ini dengan ubi dan sayuran dalam kehidupan sehari-hari
dan upacara bakar batu. Mereka
mengolah buah merah menjadi
minyak dan pasta agar khasiat dan
manfaatnya cepat dirasakan, serta
keawetannya terjaga jika disimpan
dalam waktu yang lama (1).
Masyarakat di luar Papua mengenal dan mengkonsumsi minyak
buah merah yang telah diolah dan
diproduksi dalam skala pabrik.
Mereka mengkonsumsi minyak buah
merah karena dapat membantu pengobatan beberapa penyakit dan
sebagai food supplement (1).
Minyak buah merah mengandung senyawa-senyawa aktif yang
bermanfaat bagi tubuh manusia.
Senyawa-senyawa aktif tersebut
antara lain tokoferol, betakaroten,
dan beberapa jenis asam lemak
seperti asam oleat, asam linoleat,
asam linolenat, dan dekanoat. Tokoferol berkhasiat sebagai antioksidan
sehingga dapat memperkuat sistem
kekebalan tubuh dan menangkal
radikal bebas. Betakaroten berfungsi
sebagai penyuplai vitamin A (1).
Karena manfaatnya yang luas,
minyak buah merah tidak hanya digunakan untuk membantu pengobatan, tetapi juga untuk perawatan
dan kecantikan kulit. Minyak buah
merah mengandung antioksidan
tinggi yang berkhasiat sebagai anti
radikal bebas dan anti penuaan pada
kulit. Tetapi, hal ini kurang didukung
oleh bentuk sediaan minyak buah
merah. Jika digunakan secara oral,
minyak tidak mudah diabsorbsi
dalam saluran pencernaan karena
bersifat hidrofobik sehingga sukar
larut di dalam saluran pencernaan
(2,3). Jika digunakan secara topikal,
minyak buah merah sulit menembus
lapisan-lapisan kulit di bawah stratum corneum yang lebih bersifat
hidrofilik (4). Selain itu, minyak buah
merah sulit dibersihkan dengan air
sehingga kurang nyaman.
Salah satu sistem penghantaran
obat (Drug Delivery System) yang bisa
digunakan untuk mengatasi masalah
di atas adalah mikroemulsi (microemulsion). Mikroemulsi dapat meningkatkan kelarutan minyak buah
merah di dalam saluran pencernaan
karena mikroemulsi tersusun dari
misel-misel yang mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kelarutan zat yang sukar larut dalam air
(solubilisasi misel). Akibatnya, minyak
buah merah yang terperangkap di
dalam misel semakin mudah larut di
dalam saluran pencernaan (5). Ukuran partikel yang sangat kecil juga
dapat mempercepat proses pelarutan
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.1, April 2009
19
mikroemulsi dalam saluran pencernaan. Oleh karena itu, mikroemulsi
dapat meningkatkan absorbsi minyak
buah merah sehingga dapat meningkatkan bioavailabilitas senyawasenyawa aktif yang terkandung di
dalam minyak buah merah (2,3,4).
Selain itu, pemanis dan flavouring
agent dapat ditambahkan ke dalam
mikroemulsi minyak buah merah
sehingga lebih disukai masyarakat
minyak buah merah (6).
Mikroemulsi juga bisa digunakan
secara topikal. Mikroemulsi lebih
cepat menembus lapisanlapisan kulit
manusia karena terdapat bagian yang
hidrofilik. Ukuran partikel yang
sangat kecil semakin mempercepat
mikroemulsi menembus lapisanlapisan kulit manusia sehingga dapat
mengurangi proses abrasi (4). Mikroemulsi juga lebih mudah dibersihkan
dengan air shingga pemakaiannya
lebih nyaman. Oleh karena itu,
minyak buah merah sangat baik jika
dibentuk ke dalam sediaan mikroemulsi.
Mikroemulsi merupakan sistem
dispersi yang dikembangkan dari
sediaan emulsi. Mikroemulsi adalah
sistem dispersi minyak dengan air
yang distabilkan oleh lapisan antarmuka dari molekul surfaktan (7).
Mikroemulsi terdiri dari air, minyak,
surfaktan, dan kosurfaktan. Surfaktan yang digunakan dapat tunggal
atau campuran dengan surfaktan
yang lain (8). Kosurfaktan yang digunakan merupakan alkohol-alkohol
rantai sedang yang mempunyai tiga
sampai delapan atom karbon (8,9).
Jika dibandingkan dengan
emulsi (macroemulsion), mikroemulsi
mempunyai beberapa kelebihan.
Mikroemulsi stabil secara termodinamik transparan atau translucent,
viskositasnya rendah, serta mempunyai tingkat solubilisasi yang
tinggi sehingga dapat meningkatkan
bioavailabilitas obat di dalam tubuh
(3,8,10). Mikroemulsi mudah menembus lapisan kulit manusia karena
mempunyai ukuran partikel yang
sangat kecil (10-100 nm) (4,10).
Pada penelitian ini dilakukan
percobaan pembuatan sediaan mikroemulsi minyak dalam air (m/a)
menggunakan minyak buah merah
sebagai fase minyak. Percobaan dilakukan dengan variasi surfaktan
(tween 20) yang bertujuan untuk
mengetahui konsentrasi surfaktan
terbaik agar menghasilkan sediaan
mikroemulsi yang jernih. Pada penelitian sebelumnya, tween 20 dapat
digunakan untuk membuat sediaan
mikroemulsi yang transparan dan
stabil (11,12). Gliserin dan sorbitol
adalah kosolven yang dapat meningkatkan kelarutan minyak buah merah
di dalam air (13).
Selama percobaan, karakteristik
dan kestabilan mikroemulsi diperhatikan. Hal-hal tersebut diperhatikan dari pemeriksaan organoleptis,
pengukuran tegangan permukaan,
bobot jenis, uji pH, uji stabilitas, uji
viskositas, sentrifugasi, dan pengukuran ukuran partikel mikroemulsi
(14,15,16).
Penelitian ini bertujuan untuk
membuat sediaan mikroemulsi
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
20
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
minyak buah merah yang jernih dan
stabil.
2. Pembuatan sediaan mikroemulsi
minyak buah merah
METODOLOGI PENELITIAN
a. Perhitungan HLB minyak buah
merah Harga HLB minyak buah
merah diukur dengan menggunakan
persamaan:
HLB = Σ (angka-angka gugus
hidrofilik) - Σ (angka-angka gugus
lipofilik) + 7
Alat dan Bahan
1. Alat
Peralatan yang digunakan adalah
alat-alat gelas, timbangan analitik,
Viskometer Brookfield (RVF 97363),
pH meter (Jenwey 3010), Magnetic
heater stirrer, Surface Tensiomat model
21, Piknometer MC 10 ml, Table-top
Centrifuge 5100 Kubota, Zetasizer
Nano S (Malvern).
2.
Bahan
Bahan yang digunakan adalah
Minyak Buah Merah (Sari Buah
Merah dari PT Reddish Papua),
Tween 20 (RRC), Sorbitol (Roquett,
Prancis), Gliserin (Cusson), Ultra pure
water (PT Clariant Indonesia), Benzen
(Merck), Aseton (Merck)
Cara Kerja
1. Karakterisasi minyak buah merah
a. Pemeriksaan organoleptis minyak buah merah
Minyak buah merah diperiksa
organoleptisnya meliputi warna, bau,
dan rasa.
b. Pengukuran bobot jenis minyak
buah merah (11,17). Bobot jenis diukur dengan menggunakan piknometer pada suhu 250C.
c. Penentuan tegangan antarmuka
minyak buah merah-air.
d. Penentuan tegangan permukaan
minyak buah merah.
b.
Percobaan pendahuluan
Percobaan pendahuluan dilakukan untuk menentukan kondisi percobaan terbaik dan komposisi bahan
yang sesuai untuk menghasilkan
sediaan mikroemulsi yang jernih dan
stabil. Kondisi yang harus diperhatikan dalam pembuatan sediaan mikroemulsi ini meliputi kecepatan
pengadukan (500-17.000 rpm), waktu
pengadukan (2-5 menit), temperatur
divariasikan 30 0 - 40 0C. Komposisi
bahan mikroemulsi meliputi variasi
konsentrasi sorbitol (5-20%) dan
gliserin (5-15%) sebagai kosolven,
dan minyak buah merah (4,2-16,7%)
sebagai fase minyak.
c.
Percobaan utama
Aquadest dipanaskan sampai
mencapai suhu 330C. Tween 20, gliserin, dan sorbitol dilarutkan ke
dalam aquadest yang telah dipanaskan sambil diaduk dengan magnetic
heater stirrer pada suhu 330C sampai
didapatkan larutan yang jernih.
Minyak buah merah dilarutkan ke
dalam fase air, diaduk dengan magnetic heater stirrer pada kecepatan
700 rpm selama 3 menit hingga terbentuk sediaan mikroemulsi yang
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.1, April 2009
21
jernih. Ada 3 formula yang dibuat
yaitu formula A, B, dan C dengan
perbedaan konsentrasi surfaktan
secara berurutan yaitu 20%, 30%,
dan 40%.
Tabel 1. Komposisi bahan mikroemulsi
formula A, B, C dengan variasi
perbandingan konsentrasi surfaktan
(Tween 20)
Bahan (V/V)
Sari buah merah
Tween 20
Gliserin
Sorbitol
Aqudest ad
A
Formula
B
C
8,4
20
5
15
100
8,4
30
5
15
100
8,4
40
5
15
100
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi terbaik untuk membuat
mikroemulsi yang jernih adalah pada
kecepatan pengadukan 700 rpm,
waktu pengadukan 3 menit, dan temperatur 330C. Komposisi bahan yang
digunakan untuk membuat 100 ml
mikroemulsi (v/v) adalah 5% sorbitol dan 15% gliserin sebagai kosolven,
dan 8,35% minyak buahmerah.
Percobaan utama bertujuan untuk
mendapatkan formula terbaik yang
dapat menghasilkan mikroemulsi
yang jernih dan stabil. Ada 3 formula
yaitu A, B, dan C dengan perbedaan
pada variasi konsentrasi tween 20.
Formula A (dengan konsentrasi surfaktan 20%) dan B (dengan konsentrasi surfaktan 30%) menghasilkan
emulsi yang keruh dan berwarna merah. Formula C (dengan konsentrasi
surfaktan 40%) menghasilkan mikro-
emulsi yang jernih dan berwarna
merahtua.
Tegangan permukaan mikroemulsi pada minggu ke-0 adalah
45,811 dyne/cm. Tegangan permukaan pada minggu ke-2 sama dengan
minggu ke-0. Pada minggu ke-4 dan
ke-6 mengalami peningkatan secara
berurutan yaitu 48,799 dan 46,807
dyne/cm. Pada minggu ke-8, tegangan permukaan turun kembali menjadi
45,811 dyne/cm.
Tabel 2. pH mikroemulsi pada suhu 40,
270, dan 400C selama 8 minggu
Minggu
0
2
4
6
8
4
pH pada suhu (0C)
27
40
5,85
5,79
5,65
6,02
5,70
5,85
5,20
5,06
4,95
4,81
5,85
4,28
4,77
4,53
4,45
pH mikroemulsi diperhatikan
selama 8 minggu dengan pengukuran
setiap 2 minggu sekali. Uji pH diperlakukan pada mikroemulsi yang
disimpan pada suhu 40, 270, 400C. Pada
suhu 270 dan 400C terjadi penurunan
pH. Pada suhu 40C terjadi penurunan
dan kenaikan pH.
Pengukuran tegangan antarmuka
minyak buah merah menggunakan
alat dengan metode Du Nuoy Ring.
Tensiometer Du Nuoy dipakai luas
untuk mengukur tegangan permukaan dan tegangan antarmuka. Prinsip
alat ini bergantung pada kenyataan
bahwa gaya yang diperlukan untuk
melepaskan suatu cincin platinum-iridium yang dicelupkan pada permukaan atau antarmuka adalah seban-
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
22
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
ding dengan tegangan permukaan
atau tegangan antarmuka. Angka
yang dihasilkan alat (P) dikalikan dengan fator koreksi (F) untuk menghasilkan tegangan antarmuka absolut
(S). Faktor koreksi dipengaruhi oleh
jari-jari cincin yang digunakan (R),
berat jenis fase yang di bawah (air),
dan berat jenis fase yang di bawah
(minyak buah merah).
Untuk menghitung faktor koreksi, bobot jenis minyak buah merah
diukur dengan piknometer dan didapatkan bobot jenis 0,911 g/ml. Dari
hasil perhitungan, faktor koreksi alat
adalah 0,9959. Faktor koreksi juga
berguna untuk menghitung tegangan
permukaan minyak buah merah dan
mikroemulsi.
Tegangan antarmuka minyak
buah merah-air dari hasil pengukuran adalah 14 dyne/cm. Setelah
dikalikan dengan faktor koreksi,
tegangan antarmuka absolut adalah
13,943 dyne/cm.
c. Pengukuran tegangan permukaan
minyak buah merah (18)
Tegangan permukaan adalah
gaya persatuan panjang yang harus
diberikan sejajar pada permukaan
untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm.
Dari hasil pengukuran, angka
yang dihasilkan alat (P) adalah 47
dyne/cm. Data ini dikalikan dengan
faktor koreksi 0,9959. Tegangan permukaan minyak buah merah absolut
adalah 46,807 dyne/cm.
Dengan mengetahui tegangan
permukaan minyak buah merah, air,
dan tegangan antarmuka minyak
buah merah-air, koefisien sebar (S)
minyak buah merah di atas air dapat
diketahui. Koefisien sebar adalah
angka yang menunjukkan kerja yang
dilakukan minyak untuk menyebar
di atas permukaan air. S dapat
diukur dengan perhitungan
S=γ -γ -γ
S
L
LS
γ adalah tegangan permukaan
S
cairan yang menyebar (air). γL adalah
tegangan permukaan cairan sebar dan
γ adalah tegangan antarmuka anLS
tara kedua cairan tersebut. Bila S
positif, minyak akan menyebar ke
atas permukaan air.
Tegangan permukaan aquabidest
( γS) dari pengukuran adalah 70,71
dyne/cm. Tegangan permukaan
minyak buah merah (γL) 46,81 dyne/
cm dan antarmuka dengan air adalah
13,94 dyne/cm. Dari data-data di
atas, koefisien sebar (S) minyak buah
merah di atas air adalah 9,96 dyne/
cm. Ini berarti minyak buah merah
akan menyebar di atas permukaan
air. Minyak akan menyebar di atas
permukaan air karena minyak
mengandung gugus polar seperti
-COOH atau -OH. Koefisien sebar
dapat dinaikkan dengan penambahan surfaktan.
Pengukuran HLB dilakukan
dengan memecah molekul ke dalam
gugus penyusunnya dimana masingmasing gugus diberi suatu angka.
Penjumlahan dari angka-angka gugus
memungkinkan perhitungan nilai
HLB dengan persamaan berikut :
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.1, April 2009
23
HLB = Σ (angka-angka gugus hidrofilik) - Σ (angka-angka gugus lipofilik)
+ 7 Senyawa-senyawa di dalam sari
buah merah yang dapat dihitung nilai
LBnya adalah asam laurat, palmitat,
stearat, oleat, linoleat, dan α-linolenat, serta tokoferol. Senyawa-senyawa ini mempunyai bagian yang
lipofilik dan hidrofilik. Umumnya,
bagian hidrofilik adalah gugus -COO
dan bagian lipofilik =CH-, -CH 2-,
atau -CH3-.
Dari literatur, HLB tokoferol,
asam oleat, asam laurat, dan stearat
secara berurutan adalah 6, 17, 16, dan
17. Dari perhitungan, harga HLB
asam palmitat, linoleat, dan α-linolenat secara berurutan adalah 18,975;
18,025; dan 18,025. Persentase total
fase minyak dalam sari buah merah
adalah 56,904%. Asam oleat mempunyai persentase paling besar di
dalam jumlah total fase minyak. Dari
hasil perhitungan, HLB butuh minyak
buah merah adalah 17,09 Mikroemulsi membutuhkan pengadukan
yang lembut (mild agitation). Dalam
percobaan ini, kecepatan pengadukan
divariasi antara 500-17.000 rpm. Jika
dilakukan pada kecepatan 500 rpm,
mikroemulsi sulit terbentuk dan
keruh. Jika dilakukan pada kecepatan
tinggi antara 10.000-17.000 rpm,
mikroemulsi sulit terbentuk dan
udara terlalu banyak di dalam campuran. Setelah 24 jam, campuran
tersebut membentuk 2 lapisan (tidak
stabil). Ketika kecepatan diturunkan
menjadi 1000-2000 rpm, mikroemulsi
juga sulit terbentuk dan banyak
terdapat busa (foaming). Selanjutnya,
kecepatan pengadukan divariasikan
antara 600-900 rpm. Pada kecepatan
600 rpm, sediaan yang terbentuk
masih dalam bentuk emulsi. Pada
kecepatan 800-900 rpm, mikroemulsi
terbentuk tetapi masih banyak terdapat busa. Pada kecepatan 700 rpm,
mikroemulsi terbentuk dan busa
yang ada lebih sedikit. Sehingga,
kecepatan pengadukan yang optimal
untuk membuat mikroemulsi adalah
700 rpm.
Lamanya waktu pengadukan
juga mempengaruhi hasil akhir mikroemulsi. Jika terlalu lama, mikroemulsi akan menjadi keruh karena
tetesan yang terdapat di dalam
mikroemulsi saling berbenturan dan
membentuk tetesan-tetesan yang
lebih besar. Sehingga, emulsi atau
mikroemulsi menjadi tidak stabil dan
terjadi pemisahan fase. Jika pengadukan terlalu singkat, mikroemulsi
juga menjadi keruh karena terjadi
penggumpalan bahan-bahan yang
tidak homogen (20).
Pada percobaan ini, mikroemulsi
diaduk dengan kecepatan 700 rpm
selama 2-5 menit. Jika pengadukan
terlalu singkat, mikroemulsi belum
terbentuk. Mikroemulsi terbentuk
ketika campuran diaduk selama 3
menit. Semakin lama diaduk, mikroemulsi menjadi keruh (berkabut).
Pengadukan yang terlalu lama membuat semakin banyak udara yang
terperangkap di dalam campuran.
Udara tersebut akan naik ke atas
membentuk busa (foam).
Pada percobaan ini, temperatur
divariasikan antara 30 0-40 0C. Jika
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
24
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
dibuat pada suhu antara 40 0-50 0C,
mikroemulsi sulit terbentuk. Campuran cenderung untuk membentuk
campuran yang keruh (milky). Hal ini
mungkin terjadi karena kelarutan
surfaktan di dalam air berkurang
(lebih bersifat lipofilik). Akibatnya,
misel-misel pecah dan ukuran tetesan
minyak yang teremulsi mulai meningkat. Kenaikan temperatur
selanjutnya dapat menyebabkan
pemisahan masing-masing fase.
Pengadukan selama proses penambahan minyak dapat memperkecil ukuran partikel minyak. Ketika
minyak ditambahkan ke dalam
campuran fase air, minyak lebih
memilih larut di dalam misel karena
sifatnya hidrofobik. Misel-misel ini
melarutkan tetesan-tetesan minyak
yang ukurannya sangat kecil sehingga campuran menjadi jernih.
Lapisan pelindung misel cukup kuat
untuk menghalangi penggabungan
misel-misel atau fase dalam ke dalam
bentuk yang lebih besar.
Pada minggu ke-0, mikroemulsi
mempunyai pH 5,85. Mikroemulsi
mengalami penurunan pH jika
disimpan pada suhu 40, 270, dan 400C.
Pada suhu 40C, penurunan pH berjalan lambat, meskipun terjadi kenaikan pH pada minggu ke-6. Pada
suhu 270 dan 400C, penurunan pH
lebih besar bila dibandingkan dengan
suhu 4 0C. Penurunan pH terjadi
karena gliserin dan sorbitol merupakan alkohol polihidris yang mudah
teroksidasi. Bila teroksidasi, gliserin
dan sorbitol dapat menghasilkan
asam karboksilat (35). Asam karbok-
silat tersebut dapat menurunkan pH.
Jika suhu dinaikkan, kecepatan reaksi
ini semakin meningkat. Oleh karena
itu, pada suhu 270 dan 400C penurunan pH lebih besar (36). Tetapi,
penurunan pH tidak terlalu besar
sehingga dapat disimpulkan mikroemulsi tetap stabil. Mikroemulsi ini
lebih stabil jika disimpan pada suhu
270C.
Pada temperatur kamar (270C)
Mikroemulsi tidak menunjukkan
perubahan yang berarti selama 8
minggu penyimpanan. Mikroemulsi
tetap transparan dan homogen.
Warna dan bau tidak mengalami
perubahan. Hal ini memperlihatkan
tidak adanya reaksi kimia yang
berarti yang dapat mengakibatkan
sistem menjadi tidak stabil.
Cycling test digunakan untuk
melihat kestabilan pada sediaan
emulsi, krim, dan larutan, apakah
akan terjadi kristalisasi dan pengendapan. Reaksi yang terjadi bersifat
reversibel atau sebaliknya. Cycling
test dilakukan sebanyak 6 siklus. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa
sediaan dapat melewati 6 siklus
dengan baik. Sediaan tetap jernih dan
homogen. Hal ini menunjukkan
bahwa perubahan sifat yang terjadi
jika sediaan disimpan pada suhu
tinggi atau rendah, bersifat reversibel.
Ukuran partikel mikroemulsi
diukur dengan menggunakan alat
Zetasizer Nano S (Malvern). Alat ini
dapat mengukur ukuran partikel
antara 0,6 nm-6 µm. Mikroemulsi
dilarutkan dengan ultra pure water di
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.1, April 2009
25
dalam labu ukur atau beaker glass.
Ukuran partikel campuran diukur
dengan menggunakan kuvet yang
bersih dan bebas lemak.
mula ini cukup stabil secara fisik
selama 2 bulan pengamatan. Formula
ini lebih stabil jika disimpan pada
suhu kamar yaitu 270C.
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
Gambar 1. Grafik ukuran mikroemulsi
yang disimpan
pada berbagai temperatur
Mikroemulsi yang diukur adalah
sediaan yang telah disimpan selama
4 minggu pada suhu 40, 270, dan 400C,
serta sediaan yang telah dipaparkan
6 siklus cycling test. Dari hasil pengamatan, ukuran partikel mikroemulsi
yang disimpan pada suhu 40, 270, dan
400C secara berurutan adalah 6,825;
2,564; dan 9,664 nm. Ukuran partikel
mikroemulsi yang telah dipaparkan
cycling test adalah 8,471 nm.
KESIMPULAN
Mikroemulsi minyak buah merah
dapat dibuat pada suhu 33 0C dan
kecepatan pengadukan sebesar 700
rpm selama 3 menit. Komposisi bahan
yang dapat menghasilkan mikroemulsi yang jernih adalah 5% gliserin,
15% sorbitol, dan 40% tween 20. For-
3.
4.
5.
6.
7.
Redaksi Trubus. 2005. Panduan
Praktis Buah Merah Bukti Empiris
dan Ilmiah. Penebar Swadaya,
Jakarta : 17-33.
Shargel L & Ab Yu. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan, ed.III. Universitas Airlangga, Surabaya: 86-87, 95-99,
113-127.
Gulati R, S Sharma & V Gupta.
2002. Pharmacokinetics of Cyclosporine from Conventional
and New Microemulsion Formulation in Healthy Volunteers. 4
hlm. http://www.panaceabiotec.com/
publication/journal / panimun
Bioral14.htm, 9 Juni 2006, pk.14.55.
Schoenwald RD & DR Flnagan.
1989. Bioavailability of Disperse
Dosage Forms. Dalam: Lieberman HA, MM Rieger & GS
Banker, eds. Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems.
Vol.2. Marcel Dekker Inc., New
York: 115-117.
Joshita. 2002. Buku Petunjuk Praktikum Farmasi Fisika. Depok:
Jurusan Farmasi FMIPA-UI, 5254.
Ansel H. 1989. Pengantar Bentuk
Sediaan Farmasi. Ed.IV. UI-Press,
Jakarta: 377-387.
El-Laithy HM. 2003. Preparation
and Physicochemical Character-
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
26
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
ization of Dioctyl Sodium Sulfosuccinate (Aerosol OT) Microemulsion for Drug Delivery. 4
Februari: 10 hlm. http://www.
aapsphamscitech.Org/view.asp?
art=pt040111&pdf=yes, 3 April
2006, pk.15.10.
8. Purnajoti P, RT Patil, PD Sheth,
G Bommareddy, P Dondeti & K
Egbaria. 2002. Design and Development of Topical Microemulsion for Poorly Water-Soluble
Antifungal Agents. 8 hlm. http://
www.jrnlapplied research.com/article/vol2Iss1/purnajoti.htm, 12
Februari 2006, pk.11.16.
9. Bakan JA. 1995. Microemulsion.
Dalam: Swarbrick J & J Bolan,
eds. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology. Vol.9. Marcel
Dekker Inc., New York: 335-368.
10. Block LH. 1989. Emulsions and
Microemulsions. Dalam: Lieberman HA, MM Rieger & GS Banker, eds. Pharmaceutical Dosage
Forms: Diperse Systems.Vol.2.
Marcel Dekker Inc., New York:
336-339.
11. Rahmawati J. 2003. Percobaan
Pendahuluan Pembuatan Sediaan
Mikroemulsi dengan Menggunakan Gameksan sebagai Model
Obat. Skripsi Program Sarjana
Farmasi. Jurusan Farmasi FMIPA
UI, Depok.
12. Nandi I, M Bari & H Joshi. 2006.
Study of Isopropyl Myristate
Microemulsion System Containing Cyclodextrin to Improve The
13.
14.
15.
16.
17.
18.
Solubility of 2 Model Hydroprobic Drugs. 4 hlm. http://
wwwpharmscitech.org, 20 Februari
2006, pk.11.00.
Rubino JT. 1990. Cosolvents and
Cosolvency. Dalam: Swarbrick J
& JC Boylan, eds. Encyclopedia
of Pharmaceutical Technology.Vol.3. Marcel Dekker Inc.,
New York: 375-395.
Rieger MM. 2000. Harry’s Cosmeticology, 8 th ed. Chemical
Publishing Co. Inc., New York:
891-897.
Carstensen JT. 1990. Drug Stability Principle and Practice. Vol.43.
Marcel Dekker Inc., New York:
354-362.
Idson B. 1989. Pharmaceutical
Emulsion. Dalam: Lieberman
HA, MM Rieger & GS Banker,
eds. Pharmaceutical Dosage
Forms: Diperse Systems. Vol.1.
Marcel Dekker Inc., New York:
336-339.
Utami PM. 2005. Uji Stabilitas
Sediaan Mikroemulsi Menggunakan Hidrolisat Pati (DE 3540) sebagai Stabilizer. Skripsi
Program Sarjana Farmasi. Departemen Farmasi FMIPA UI,
Depok.
Martin A, J Swarbrick & A
Cammarata. 1993. Farmasi Fisik.
Jilid 2 ed.III. Terjemahan dari
Physical Chemical Principles in
The Pharmaceutical Science, oleh
Joshita. UI-Press, Jakarta: 9401010.
Sudah dipresentasikan di Kongres Ilmiah ISFI XV, 17-19 Juni 2007, Jakarta.
Vol. VI, No.1, April 2009
27
Fly UP