...

Reaksi ketahanan 19 varietas padi rawa terhadap

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Reaksi ketahanan 19 varietas padi rawa terhadap
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON
Volume 1, Nomor 6, September 2015
Halaman: 1457-1460
ISSN: 2407-8050
DOI: 10.13057/psnmbi/m010633
Reaksi ketahanan 19 varietas padi rawa terhadap penyakit hawar daun
bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae)
Resistance of 19 varieties of swampy rice to bacterial leaf blight (Xanthomonas oryzae pv.
oryzae)
ANGGIANI1,♥, CAHAYA UMAH2
1
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Jl. Raya 9 Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat. Tel. +62-260-520157. Fax. +62-260-520158, ♥email:
[email protected]
2
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Jalan Agatis, Gedung Fapet Wing 2 Lt. 4. Kampus
IPB Darmaga, Bogor 16680, Jawa Barat.
Manuskrip diterima: 19 Mei 2015. Revisi disetujui: 23 Juni 2015.
Anggiani, Umah C. 2015. Reaksi ketahanan 19 varietas padi rawa terhadap penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv.
oryzae). Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1: 1457-1460. Luas total lahan rawa secara nasional di Indonesia seluas 33.393.570 ha.
Sebaran areal tersebut ada di Sumatera 9.370.000 ha; Kalimantan 11.707.400 ha; Sulawesi 1.793.450 ha dan Papua 10.522.720 ha.
Varietas padi sawah tumbuh baik di daerah tersebut tetapi tidak tahan terhadap cekaman abiotik dan biotik. Kendala biotik yang ada di
lahan ini tikus, wereng, penyakit blas, juga hawar daun bakteri ( Xanthomonas oryzae pv. oryzae).Hawar daun bakteri merupakan
penyakit yang oleh Xanthomonas oryzae pv oryzae (Xoo) yang merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang padi sawah
pada semua fase pertumbuhan, bakteri ini mampu membentuk ‘strain’ atau kelompok yang berbeda-beda di tiap daerah yang menjadi
lokasi serangannya. Di Indonesia sendiri dikenal beberapa kelompok yang sering menyerang antara lain kelompok III, IV, V, VI, VIII
dan VIII. Dari kelompok-kelompok tersebut yang paling tinggi tingkat virulensinya adalah kelopok IV. Hasil penelitian 2011 komposisi
patotipe Xanthomonas oryzae pv Oryzae di daerah sentra produksi padi di Jawa pada umumnya terdiri dari Patotipe III (12,8%) IV
(18,6%) dan VIII (68,6%). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menginformasikan reaksi ketahan 19 varietas padi rawa nasional
yang sudah dilepas terhadap penyakit hawar daun bakteri kelompok IV dan VIII di rumah kaca. Hasil pengujian dari 19 varietas diuji
ternyata bervariasi ada yang tahan, agak tahan, agak rentan dan rentan pada pengamatan I dan umumnya rentan pada pengamatan II
pada kelompok VIII, sedang pada kelompok IV agak rentan dan rentan.
Kata kunci: Hawar daun bakteri, padi rawa, Xanthomonas oryzae pv oryzae
Anggiani, Umah C. 2015. Resistance of 19 varieties of swampy rice to bacterial leaf blight (Xanthomonas oryzae pv. oryzae). Pros Sem
Nas Masy Biodiv Indon 1: 1457-1460. The total area of wetlands in Indonesia covering 33.39357 million ha nationally; distributed in
Sumatra (9.37 million ha), Kalimantan (11.7074 million ha), Sulawesi (1.79345 million ha) and Papua (10.52272 million ha). Lowland
rice varieties grow well in the wetlands area but subjected by abiotic and biotic stresses. Biotic constraints in this field including mice,
leafhoppers, blast disease, as well as bacterial leaf blight (Xanthomonas oryzae pv. oryzae). Bacterial leaf blight is a disease lead by
Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) which is one of the most important diseases attacked all phases of rice growth, these bacteria are
able to form 'strains' or different groups in each attacked areas. In Indonesia, it is known several groups that often attacked on wetland
rice paddy, namely groups III, IV, V, VI, VIII and VIII. Of these groups, the highest level of virulence is group IV. The results of the
study in 2011 showed that the composition of Xanthomonas oryzae pv oryzae pathotype in the area of rice production centers in Java
consisted of pathotype III (12.8%) IV (18.6%) and VIII (68.6%). The purpose of this study was to inform the resilience reaction of 19
national swampy rice varieties that had been released against bacterial leaf blight disease groups IV and VIII in the greenhouse. The
tests on 19 varieties of swampy rice showed varying results from resistant, moderately resistant, slightly vulnerable and vulnerable on
the first observation and generally susceptible on the second observation to group VIII; while there was slightly vulnerable and
vulnerable to group IV.
Keywords: Bacterial leaf blight, swamp rice, Xanthomonas oryzae pv oryzae
PENDAHULUAN
Kebutuhan beras domestik terus meningkat seiring
dengan peningkatan jumlah penduduk dan tingginya tingkat
konsumsi. Inovasi teknologi berperan penting dalam
produksi beras. Penelitian tanaman padi telah menghasilkan teknologi yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan
produksi padi. Peningkatan produksi padi dilakukan
dengan menggunakan varietas unggul yang berdaya hasil
tinggi dan tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik.
Luas total lahan rawa secara nasional di Indonesia
adalah 33.393.570 ha. Sebaran areal tersebut ada di
Sumatera 9.370.000 ha; Kalimantan 11.707.400 ha;
Sulawesi 1.793.450 ha dan Papua10.522.720 ha (Ismail et
1458
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON 1 (6): 1457-1460, September 2015
al. 1993; Isdijanto 2008). Varietas padi sawah tumbuh baik
di daerah tersebut tetapi tidak tahan terhadap cekaman
abiotik dan biotik. Kendala biotik di lahan ini adalah tikus,
wereng, penyakit blas dan hawar daun bakteri
(Xanthomonas oryzae pv. oryzae) (Xoo) (Santoso 1998).
Hawar daun bakteri merupakan salah satu penyakit penting
yang menyerang padi sawah pada semua fase pertumbuhan.
Penyakit hawar daun bakteri yang dikenal dengan HDB
pada tahun 1992-1997 menyerang 121.133 ha (Direktorat
Bina Perlindungan Tanaman Pangan 2001). Bakteri ini
mampu membentuk ‘strain’ atau kelompok yang berbedabeda di setiap daerah yang menjadi lokasi serangannya.
HDB mempunyai 12 patotipe yang selalu berubah (Sudir et
al. 2009). Di Indonesia sendiri dikenal beberapa kelompok
yang sering menyerang antara lain kelompok III, IV, V, VI,
VIII dan VIII. Dari kelompok-kelompok tersebut yang
paling tinggi tingkat virulensinya adalah kelopok IV. Hasil
penelitian Sudir (2011) komposisi patotipe Xanthomonas
oryzae pv. oryzae di daerah sentra produksi padi di Jawa
pada umumnya terdiri dari Patotipe III (12,8%), IV
(18,6%), dan VIII (68,6%). Adapun tujuan dari penelitian
ini adalah menginformasikan reaksi ketahan 19 varietas
padi rawa nasional yang sudah dilepas terhadap penyakit
hawar daun bakteri kelompok IV dan VIII di rumah kaca.
BAHAN DAN METODE
Kegiatan penelitian dilakukan di laboratorium, rumah
kaca di Muara dan Sukamandi,Varietas/galur uji yang
berasal dari Kelti Pemuliaan, ditanam di pot berisi tanah
sawah dan diberikan pupuk 3 kali menggunakan N; K2O;
P2O5. Pupuk susulan masing-masing pada 1 dan 2 bulan
setelah tanam. Inokulasi HDB kelompok IV dan VIII
dilakukan secara buatan pada tanaman berumur 55-60 hst
dengan metode pengguntingan (clipping method).
Tabel 1. Kriteria ketahanan galur/varietas terhadap serangan
Penyakit HDB
Skala
Luas serangan
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0-3%
4-6%
7-12%
13-25%
26-50%
51-75%
76-87%
88-94%
95-100%
Sangat Tahan
Tahan
Agak Tahan
Agak Rentan
Rentan
Rentan
Sangat Rentan
Sangat Rentan
Sangat Rentan
Bahan inokulasi dibuat dari biakan Xanthomonas
oryzae pv. oryzae berumur 2 hari yang ditumbuhkan pada
medium Wakimoto. Pengamatan dilakukan pada 2 dan 3
minggu setelah inokulasi dengan skoring berdasarkan S.E.S
IRRI 2014.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan pertama dari 19 varietas
padi rawa yang diinokulasi oleh Xoo kelompok VIII dan
IV hasilnya bervariasi dari tahan (T) sampai rentan (R ).
Reaksi ketahan terhadap kelompok VIII pada pengamatan
pertama dimana reaksi terbanyak adalah reaksi agak tahan
(AT) sebanyak 10 varietas (52.6%), agak rentan sebanyak 6
varietas (31.6%), rentan 2 varietas (10.5%), dan tahan 1
varietas (5.3%) (Tabel 3). Pada pengamatan kedua reaksi
yang tadnya tahan, agak tahan dan agak rentan berubah
menjadi rentan dan sangat rentan (Tabel 2).
Varietas yang tidak mengalami perubahan sifat dari
awal pengamatan sampai akhir pengmatan yaitu varietas
Inpara 1, Inpara 2 yang bersifat rentan, sedang yang
lainnya sebanyak 17 varietas berubah menjadi rentan.
Tabel 2. Reaksi ketahanan 19 varietas padi rawa unggul nasional terhadap penyakit hawar daun bakteri
Reaksi ketahanan Xoo
Kelompok VIII
Pengamatan I
Pengamatan II
38
Inpara 1
5
R
5
R
39
Inpara 2
5
R
5
R
40
Inpara 3
4
AR
5
R
41
Inpara 6
3
AT
6
R
42
Inpara 7
4
AR
6
R
43
Inpari 29 rendaman
3
AT
5
R
44
Inpari30 rendaman
4
AR
5
R
45
Inpara IPB Kapuas 7R
3
AT
6
R
46
Batanghari
4
AR
6
R
47
Banyuasin
3
AT
6
R
48
Sei Lalan
3
AT
6
R
49
Dendang
2
T
6
R
50
Lambur
3
AT
6
R
51
Indragiri
4
AR
5
R
52
Martapura
3
AT
5
R
53
Margasari
3
AT
6
R
18
IR42
3
AT
7
SR
55
Air Tenggulang
3
AT
5
R
56
Mendawak
4
AR
6
R
Keterangan: T: Tahan, R: Rentan, AT: Agak Tahan, AR: Agak Rentan, SR: Sangat Rentan
No.
Kode
Galur/varietas
4
4
3
3
3
3
3
3
3
5
4
4
4
3
4
4
3
3
4
Reaksi ketahanan Xoo
Kelompok IV
Pengamatan I
Pengamatan II
AR
5
R
AR
5
R
AT
4
AR
AT
5
R
AT
5
R
AT
4
AR
AT
5
R
AT
5
R
AT
4
AR
R
5
R
AT
4
AR
AR
5
R
AR
5
R
AT
4
AR
AR
5
R
AR
4
AR
AT
5
R
AT
5
R
AR
5
R
FAHMI & SUJITNO – Produktivitas jagung di lahan kering dataran tinggi
1459
Gambar 1. Isolat Xanthomonas oryzae pv. Oryzae kelompok VIII dan IV
Gambar 2. Gejala dau terinfeksi Xanthomonas oryzae pv. Oryzae kelompok VIII no 38-56
Gambar 3. Gejala dau terinfeksi Xanthomonas oryzae pv. oryzae kelompok IV no 38-56
Pengamatan pada kelompok IV dari 19 varietas unggul
yang menunjukan sifat agak rentan ada 11 varietas
(57.9%), agak rentan sebanyak 7 varietas (36.8%) dan
rentan ada 1 varietas (5.3%) yaitu varietas Banyuasin
(Tabel 3). Hasil pengamatan ke dua terjadi perubahan sifat
dari agak rentan menjadi rentan seperti pada Inpara 1,
Inpara 2, Dendang, Lambur, Martapura dan Mendawak,
sedang yang agak tahan berubah menjadi rentan ada pada
varietas Inpara 6, Inpara 7 Inpara IPB Kapuas 7R, IR 42
dan Air Tenggulang dan yang agak tahan berubah menjadi
agak rentan ada pada varietas Inpara 3, Inpari 29 rendaman,
Batang hari, Sei Lalan, dan Indragiri (Tabel 2).
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON 1 (6): 1457-1460, September 2015
1460
Tabel 3. Presentase (%) serangan Xoo kelompok VIII dan IV
pada 19 varietas unggul padi rawa
Kriteria
Tahan (T)
Agak Tahan (AT)
Agak rentan (AR)
Rentan (R )
Persentase (% )serangan BLB
Kelompok VIII
Kelompok IV
(1)5.3
(0)0
(0)0
(0)0
(10)52.6 (0)0
(11)57.9 (0)0
(6)31.6
(0)0
(7)36.8
(6)31.6
(2)10.5
(19)100 (1)5.3
(13)68.4
Berdasarkan hasil pengamatan varietas yang bereaksi
agak rentan terhadap Xoo kelompok IV pada pengamatan
ke dua seperti Inpari 3, Inpari 29 rendaman, Batanghari, Sei
Lalan, Indragiri dan Margasari masih dapat digunakan oleh
para petani didaerah yang tidak edemik penyakit hawar
daun, sedang untuk daerah endemik Xoo kelompok VIII,
19 varietas ini sebaiknya tidak ditanam didaerah tersebut.
Suatu varietas padi yang memiliki sifat tahan terhadap
Xoo dapat menjadi rentan karena patah ketahannya. Faktor
yang mempengaruhi perubahan varietas tahan menjadi
tidak tahan, yaitu kecepatan perubahan ketahanan, pola
tanam dan komposisi varietas dengan latar belakang
genetis berbeda yang ditanam dalam waktu dan hamparan
tertentu (Mew 1989; Ogawa 1993), begitu juga dari
patogennya dimana virulensi patogen sangat dipengaruhi
oleh ketahanan tanaman terhadap pathogen baik genetik
maupun kandungan nutrisi yang akan mempengaruhi
perkembangan pathogen (Suryadi dan Kadir 2008), sedang
menurut Abadi (2003) keragaman reaksi ketahanan/
kepekaan terhadap pathogen di antara varietas tanaman
disebabkan oleh gen ketahanan yang berbeda dalam setiap
varietas. Gen menunjukan setiap yang memberikan
virulensi terhadap pathogen berkaitan
ketahanan dalam inang dan sebaliknya.
dengan
gen
DAFTAR PUSTAKA
Abadi LA. 2003. Genetika Penyakit Tumbuhan dalam Ilmu Penyakit
Tumbuhan 2. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Bayumedia
Publising, Malang.
Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Pangan. 2001. Evaluasi kerusakan
tanaman padi karena organisme pengganggu tahun 1995-1999.
Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Pangan, Departemen
Pertanian, Jakarta.
International Rice Research Institute. 2014. Standart Evaluation System
for Rice. 5th ed. IRRI. Los Banos. Philippines.
Isdijanto AR, Jumberi A. 2008. Padi di Lahan Rawa Lebak dan
peranannya dalam Sitem Produksi Padi nasional. Buku Padi 2. Balai
Besar penelitian Tanaman Padi, Sukamandi Subang.
Ismail IG, Alihansyah T, Adhi IPGW, Suwarno, Herawati T, Thahir R,
Sianturi DE. 1993. Sewindu Penelitian di Lahan Rawa P3LPSRSWAMP II. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.
Mew TW. 1989. An overview of the word bacterial blight situation. In
Bacterial blight. Proc. Intl Workshop on Blight Rice. IRRI, Los
Banos, Philippines.
Ogawa T. 1993. Methods and strategy for monitoring race distribution and
identification of resistence genes to bacterial leaf blight (Xoo) in rice.
JARQ 27:71-81
Santoso T. 1998. Permasalahan dan strategi pengendalian organisme
pengganggu tanaman (OPT) pertanian lahan rawa. Seminar Proyek
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP.
Puslitbang Tanaman Pangan, 24 Juli 1998.
Sudir, Suprihanto, Kadir TS. 2009. Identifikasi patotipe Xanthomonas
oryzae pv. oryzae penyebab penyakit hawar daun bakteri padi di
daerah sentra produksi padi di jawa. Jurnal Penelitian Pertanian 28
(3): 131-138.
Sudir. 2011. Komposisi patotipe Xanthomonas oryzae pv. oryzae
penyebab penyakit hawar daun bakteri padi di daerah sentra produksi
padi di jawa. Prosiding Seminar Hasil Penlitian Padi Nasional 2010:
Buku 1: 617-626.
Fly UP