...

REBELIEVING Dari Sofyan bin Abdullah Ats

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

REBELIEVING Dari Sofyan bin Abdullah Ats
REBELIEVING
Oleh : Irsyadi,S.Ag.MA (Wasek PTA Padang)
Dari Sofyan bin Abdullah Ats-Tsaqofi berkata, sesungguhnya seorang laki-laki berkata :
“Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan
menanyakannya lagi kepada seseorang selain hanya kepada engkau,” Rasulullah berkata
:” Katakanlah ! Aku beriman kepada Allah kemudian Istiqamah.” (Sebagai tambahan) Aku
berkata : “Ya Rasulullah apa yang harus aku jaga ?” Maka Rasulullah mengisyaratkan
kepada lidahnya sendiri dan berkata : “ini” ( HR. Muslim di dalam shahihnya ).
Menurut hadits Muslim tersebut diatas, kita bisa mengerti bahwa sesudah Iman kepada
Allah ialah Istiqamah sebagai pasangan iman dan sekaligus syarat yang tidak bisa ditawartawar lagi. Istiqamah menjadi sikap yang amat urgen dan perangkat yang tidak bisa
dipisahkan dalam mewujudkan Iman dan Akhlaqul Kariimah.
Istiqamah menurut bahasa artinya : lurus, lempang dan tidak berbelok-belok. Umar bin
Khathab menjelaskan bahwa : Istiqamah itu tetap mengikuti perintah dan ( menjauhi )
larangan serta tidak menyimpang dari padanya.” Abu Bakar menambahkan, bahwa yang
dimaksud dengan perkataan “Istiqamu“ ialah ( sesudah beriman ) tidak mempersekutukan
Allah dengan suatu apapun.
Menurut ahli ma‟rifat Istiqamah ialah, pertama Iman kepada Allah dan dua mengikuti
ajaran Rasulullah baik secara lahir maupun bathin. Allah berfirman : “ Dan tetaplah (
Istiqamah ) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu
mereka.” ( QS. Asy-Syura : 15 ).
Dengan pengertian tersebut diatas maka Istiqamah harus menjadi karakter dan
kepribadian orang-orang beriman. Seperti apa yang menjadi motto dan garis hidup orangorang beriman bahwa, hidup ialah pengabdian, perjuangan dan pengorbanan. Tanpa iman
dan pendirian yang teguh ( Istiqamah ) tidak mungkin dapat mempertahankan eksistensi
dirinya sebagai orang beriman. Kemungkinan jika ia berhasil dalam karir, tapi goyah
pendiriannya dan luntur kepribadiannya, bisa-bisa iman dan Agamanya pun tergadaikan.
Sebaliknya bila gagal dalam hidup ia akan putus asa dan tegoncang jiwanya. Dua
kerugiannya secara fisisk ia gagal dan rendah nilai pribadinya.Imam Al-Gazaly menyatakan
bahwa iman tampa amal jatuh kejurang iman yang lemah sedangkan amal tanpa iman
jatuh kejurang ria
Istiqamah adalah Jiwa Besar yang dimiliki oleh para Nabi.
Hanya orang-orang berjiwa besarlah yang dapat memikul tanggung jawab yang besar.
Para Nabi kekasih Allah dipilih untuk melaksanakan tugas besar ini dan mereka mampu
melaksanakan dengan sebaik-baiknya, demikian juga selanjutnya seperti para shahabat,
orang-orang shalih terdahulu karena mereka memiliki sifat Istiqamah, berpendirian teguh
sesudah imannya. Istiqamah melahirkan sifat percaya diri dan optimis, sifat-sifat inilah
yang menjadi energi penggerak kemauan yang keras untuk mencapai tujuan dan cita-cita
yang luhur.
Al-Qur‟an telah mengabadikan ibrah ( contoh ) para Nabi kekasih-kekasih Allah dalam
memperjuangkan misinya sebagai utusan Allah. Nabi Nuh „Alaihis salam dalam melakukan
da‟wahnya di hadang dengan kedurhakaan kaumnya dan di antara yang menghadang itu
justru buah hati dan belahan jiwanya yaitu istri dan anak kandungnya sendiri. Tapi
jiwanya tidak tergoncang dan tidak terpengaruh oleh sentuhan yang paling mendasar,
karena beliau memiliki sifat amanah.
Nabi Musa „Alaihis salam harus berhadapan dengan raja yang mengklaim sebagai
maharaja yang berkuasa absolute dan semena-mena sehingga harus berhadapan dengan
tukang sihir dan kejaran bala tentara yang sangat kuat sehingga sampai di Laut merah.
Keadaan amat kritis, dibelakang tentara kafir semakin mendekat sementara di depan
mereka laut siap menenggelamkannya. Allah memperkaya jiwa Nabi Musa as. Dengan
Istiqamah yang melahirkan optimisme dan tawakal akhirnya tepat pada waktunya
pertolongan Allah datang dengan mu‟jizat yang amat terkenal dengan tongkatnya
membelah Laut Merah.
Nabi Muhammad tidak diragukan lagi keteguhan jiwanya,peristiwa demi peristiwa,
tantangan dan ancaman dilaluinya dengan para shahabat. Berapa kali usaha pembunuhan
terhadap diri beliau dilakukan oleh mereka dan berapa kali usaha penyerbuan mereka
untuk menghancur leburkan kaum muslimin.Psy War dan provokasi mereka tidak
menggetarkan hati Rasul dan para shahabat, bahkan menambah iman dan mereka
berkata : “ Hasbunallah wa ni‟mal wakil” cukup bagi kami Allah ( sebagai pelindung ) dan
sebaik-sebaik yang kami serahi. Kemudian segala rintangan dapat diatasai, kemenangan
dan kemuliaan dapat diraih dengan izin Allah hanya dengan iman dan istiqamah.
Perhatian Allah terhadap orang Beriman yang Istiqamah.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka
istiqamah maka malaikat akan turun kepada mereka ( dengan mengatakan ) : “Janganlah
kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah dengan surga
yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam
kehidupan di dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan
dan memperoleh ( pula ) didalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan ( bagimu )
dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. Fushilat : 30-32 ).
Tafsir Depag RI menjelaskan : “Kepada orang-orang beriman dan ( istiqamah )
berpendirian teguh dengan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Allah
menurunkan malaikat dengan menyampaikan khabar yang menggembirakannya,
memberikan yang bermanfaat, menolak kemudharatan, menghilangkan duka cita yang
mungkin ada padanya dalam seluruh urusan duniawi maupun ukhrawi, sehingga dadanya
menjadi lapang dan tentram, tidak ada kekhawatiran pada diri mereka. Sedang kepada
orang-orang kafir yang datang adalah setan yang selalu menggoda mereka, sehingga
setan menjadikan perbuatan buruk itu indah menurut pandangan mata mereka.
Pada zaman Umar bin Khattab ada seorang pemuda yang sedang mengembalakan ratusan
ternak; lalu datang Umar Bin Khattab (yang menyamar sebagai seorang tua) lalu bertanya
kepada anak muda tadi;wahai anak muda apakah kamu pemilik domba ini .Pemuda tadi
menjawab, tidak saya hanya seorang pengembala.Maukah kamu menjual seekor saja
kepada saya kata Umar>Pemuda tadi menjawab;Tidak wahai orang tua saya hanya
pengembala kalau Bapak mau beli datanglah ketempat Tuan saya.Wahai Anak Muda
andaikan engkau juan satu atau dua ekor kepada saya niscaya Tuanmu tidak tau karna
ternak yang kamu gembalakan begitu banyak.Wahai orang tua betul bila saya jual 1 atau
2 ekor tuan saya tidak tahu, tetapi ketika saya jual kepada bapak dimana saya letakkan
Allah (ainallah). Mendengar kata-kata pemuda tadi Umar kemudian menemui pemilik
domba tadi dan menebus pemuda tadi untuk dimerdekakan hanya dengan kalimat
“ainallah”
Penerapan istiqamah pada zaman sekarang akan lebih rumit tantangan yang akan
kita hadapi apalagi ketika kita telah satu atap dengan Mahkamah Agung, begitu banyak
dan besar dana yang dikelola;apakah disaat kita mengelola , mungkinkan istiqamah kita
tidak bergeser istilah Nabi “innal mala hudurul uyun (hijau mana kita ketika berhadapan
dengan uang ) akankah kita mampu seperti anak muda tadi yang tidak mudah digoyang
dan digoncang karena nilai istiqamah telah menjadi nilai-nilai ilahiyah dalam
kepribadian.Mudah-mudahan kita bisa.SEMOGA….
Fly UP