...

Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
by Hilfan Soeltansyah - Just Shared on Tel-U - http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa
Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
memeluk Islam atau membayar jizyah?
by Hilfan Soeltansyah - Kamis, Agustus 30, 2012
http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id/id/2012/08/bukankah-kita-bebas-untuk-memilih-agama-lalu-men
gapa-rasulullah-saw-berkata-kepada-penduduk-yaman-untuk-memeluk-islam-atau-membayar-jizyah/
Sumber : http://url.stisitelkom.ac.id/72376
Jizyah berarti membiarkan non-Muslim untuk bebas hidup di pemerintahan Islami tanpa perlu mereka
merubah agamanya; dan hal yang lumrah juga, bahwa orang-orang sepertinya sama seperti Muslimin
biasa diharuskan untuk membayar pajak kepada pemerintah dan kadang kala yang dibayar lebih ringan
daripada warga Muslim. Oleh karena itu membayar jizyah tidak bisa dianggap sebagai paksaan kepada
seseorang untuk menerima agama baru.
Pertanyaan yang telah anda ungkapkan pada hakikatnya bersumber dari beberapa hal yang masih samar
bagi anda. Oleh karena itu kami harus memberikan penjelaskan tentang hal-hal tersebut sebelum
memberikan jawaban yang tepat. Hal-hal itu di antaranya adalah:
1. Apa arti kebebasan dalam memilih agama?
2. Apa itu jizyah dan apakah jizyah adalah salah satu bentuk paksaan terhadap seseorang untuk menerima
Islam?
3. Mengapa dalam peperangan-peperangan yang nabi hadir di dalamnya beliau selalu memberikan dua
pilihan bagi non-Muslim yang mungkin mereka tidak bersedia memilih salah satu pun dari keduanya?
Secara berurutan kami akan memberikan penjelasan satu per satu.
1. Perhatikanlah bahwa kebebasan beragama dalam ayat “Tak ada paksaan dalam agama.”[1]bukan
berarti membenarkan sikap memilih agama apapun seenaknya saja dan membenarkan semua agama yang
ada. Kiranya kami memandang perlu memberikan penjelasan berikut terkait dengan ayat di atas:
Kita dapat mengkategorikan kondisi orang-orang[2] untuk menerima agama Islam:
1.1. Orang-orang yang menerima Islam baik secara lahir maupun batin. Orang-orang seperti ini sama
sekali tidak memiliki keraguan tentang agamanya dan tak pernah lengah untuk bersedia berjuang di jalan
Tuhannya.[3]
1/8
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
by Hilfan Soeltansyah - Just Shared on Tel-U - http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
1.2. Orang-orang yang menanamkan kekufuran dalam hati mereka, dan tidak ragu-ragu untuk
menampakkannya, para nabi pun tidak berhasil memberi hidayah kepada mereka.[4] Bahkan mereka rela
mengeluarkan biaya sebesar apapun untuk menjauhkan masyarakat dari jalan Tuhan.[5]
1.3. Sekelompok orang yang tidak benar-benar beriman, namun karena mereka ingin mengambil manfaat
dari Islam, mereka mengaku sebagai Muslim. Tuhan memerintahkan Rasulullah saw untuk berkata
kepada mereka bahwa mereka tidak benar-benar beriman, dan keimanan tidak berdampak apapun bagi
hati mereka.[6]
1.4. Orang-orang yang beriman di dalam hati namun mereka kesusahan untuk menampakkan imannya
karena kondisi-kondisi yang mereka hadapi. Bagi kebanyakan orang, mereka terlihat seperti orang kafir
lainnya. Namun meski demikian mereka berbakti dan berkhidmat untuk kebaikan masyarakat beragama.
Contohnya seperti orang beriman di antara keluarga Fir’aun[7]yang menyebabkan keselamatan Nabi
Musa As; Abu Thalib yang paman nabi yang selalu membela dan menjaganya dari mara bahaya, Ammar
Yasir, dan lain sebagainya. Al-Quran terbukti membenarkan sikap-sikap mereka yang menyembunyikan
kebenaran karena kondisi-kondisi tertentu.[8]
Dengan melihat kenyataan di atas, secara mudah dapat disadari bahwa iman dalam hati, yakni agama,
bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan.
Namun perlu difahami bahwa Tuhan yang berkata “Tidak ada paksaan dalam agama”[9], di kesempatan
lain, al-Quran menegaskan bahwa satu-satunya agama yang diterima Allah swt adalah Islam. Dengan
demikian, bagi kita agama yang paling benar adalah Islam, namun bagaimanapun juga keimanan yang
benar tidak dapat dipaksakan. Kita pun tidak menerima Islam begitu saja tanpa berusaha, kita beriman
atas dasar mengkaji dan mengenal dengan baik ajaran agama ini, baru setelah itu kita beriman.
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan di atas, jika terjadi keadaan-keadaan tertentu seperti peperangan,
kelompok non-Muslim yang bakal hidup di bawah pemerintahan Islami, dapat diperlakukan dengan salah
satu dari lima pilihan ini:
2.1. Jika mereka enggan untuk menerima agama Islam, mereka harus dihukum mati!
2.2. Mereka harus diusir dari pemerintahan Islami dan dibiarkan pergi menuju negeri-negeri non-Muslim
lainnya.
2.3. Mereka dipaksa untuk mesnerima Islam.
2.4. Mereka dibiarkan bebas begitu saja, dan meskipun mereka menggunakan fasilitas-fasilitas
pemerintahan Islami, mereka tidak memiliki tanggungan apapun.
2.5. Mereka diberi hak memilih antara Islam atau tetap pada agamanya, lalu jika ia menerima Islam, maka
ia memiliki tanggungan-tanggungan seperti umat Islam lainnya, seperti membayar pajak dan lain
sebagainya, namun jika mereka menolak, mereka diberi tanggungan untuk membayar pajak yang
ditentukan negara sesuai dengan kemampuannya.
Pilihan pertama dan kedua tak adil dan tidak dapat dijalankan terhadap orang yang tidak memusuhi Islam
2/8
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
by Hilfan Soeltansyah - Just Shared on Tel-U - http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
dan kaum Muslimin secara terang-terangan.
Karena paksaan dalam agama adalah hal yang mustahil, maka pilihan ketiga juga tidak mungkin
dijalankan.
Pilihan keempat, adalah pilihan yang tidak adil bagi umat Islam. Karena umat Islam memiliki banyak
tanggung jawab keuangan seperti membayar khumus, zakat, dan lain sebagainya yang dialokasikan untuk
kebutuhan negara dan pemerintahan; sehingga jika non-Muslim yang tinggal di dalam pemerintahan
Islam tidak diberi tanggung jawab yang serupa, maka hal itu tidak mencerminkan keadilan.
Jadi yang tersisa hanyalah pilihan kelima. Yakni warga non-Muslim dapat hidup bebas di bawah
pemerintahan Islam dan menggunakan fasilitas-fasilitas negara namun mereka ditugaskan untuk
membayar semacam pajak yang disebut “Jizyah“, yang mana berdasarkan riwayat-riwayat, jumlah jizyah
yang diwajibkan atas mereka tidak boleh melebihi batas kemampuan keuangan pembayarnya.[10] Namun
itu bukan berarti ketika mereka merubah agamanya menjadi Islam mereka akan terbebaskan dari pajak,
karena mereka akan mendapatkan tanggung jawab lainnya sebagimana yang diemban oleh Muslimin
seperti membayar khumus dan zakat serta pajak-pajak tertentu untuk kemaslahatan pemerintahan Islami.
Apakah anda mempunyai metode yang lebih baik dari ini? Dalam pemerintahan Islami, non-Muslim
dilindungi dan mereka pun memiliki tanggung jawab terhadap pemerintah.
3. Mungkin masih ada pertanyaan lain tentang mengapa Rasulullah Saw berperang menakhlukkan negaranegara lainnya lalu membuat masyarakat non-Muslim berhadapan dengan pilihan-pilihan yang tidak
mereka sukai?
Untuk menjawabnya, kita perlu menengok situasi internasional yang ada di masa itu:
Dengan mengkaji sejarah berkenaan dengan masalah ini, peperangan di jaman itu, dan bahkan bertahuntahun setelah tersebarnya Islam pun, adalah hal yang lumrah; artinya setiap pemerintahan selalu berada
dalam keadaan berperang dengan pemerintahan-pemerintahan lainnya. Perang kerajaan Persia dan
Yunani, Persia dan Roma, dan juga perang dunia pertama dan kedua, adalah contoh-contoh di antaranya.
Sekarang pun, meski sudah didirikan badan perserikatan bangsa-bangsa yang bertujuan untuk menjaga
perdamaian di dunia, namun tetap saja kita dapat melihat peperangan di beberapa belahan dunia.
Pada dasarnya Tuhan memerintahkan umat Islam untuk hidup berdamai dengan selain non-Muslim dan
melarang kita untuk melanggar hak-hak mereka.[11] Bahkan jika seandainya terjadi perang, Tuhan
memerintahkan umat Islam, yang dipimpin oleh nabi Muhammad Saw, jika seandainya musuh
menyatakan untuk berdamai maka seharusnya Muslimin berdasarkan tawakal berdamai dengan
mereka.[12] Yakni umat Islam sama sekali tidak berhak untuk menyerang non-Muslim yang tidak
memusuhi dan menyerang Islam.[13]
Namun itu bukan berarti umat Islam di jaman itu hanya perlu diam saja dan menunggu serangan musuh.
Rasulullah Saw sebagai pemimpin mereka dengan jeli telah memperhitungkan gerak-gerik setiap pihak di
luar sana dan telah mengatur siasat sebelum mereka menyerang umat Islam. Beliau mengatur tiap langkahlangkah militer tentara Muslim dengan amat cermat dan cara terbaik. Misalnya di perang Tabuk, perang
dengan jumlah tentara Muslim terbesar di sepanjang sejarah, adalah salah satu aksi militer umat Islam
3/8
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
by Hilfan Soeltansyah - Just Shared on Tel-U - http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
yang berakhir dengan tanpa pertumpahan darah. Semua itu jika diteliti dengan baik sama sekali tidak
bertentangan dengan peraturan internasional saat ini. Kebanyakan perang-perang umat Islam adalah apa
yang disebut sekarang sebagai perang pertahanan; sebagai contoh, perang Uhud dan Khandaq.
Dalam hal ini banyak penulis yang melakukan kajian terhadap perang-perang umat Islam di masa itu dan
meyimpulkan bahwa meskipun peperangan Muslimin terlihat sebagai penyerangan, namun pada dasarnya
mengandung unsur pertahanan.[14]
Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda: “Perdamaian, selama tidak menyebabkan melemahnya
prinsip-prinsip agama, lebih baik daripada berperang.”[15] Para ahli sejarah mencatat bahwa jumlah
orang yang memeluk Islam di sepanjang masa dakwah 20 tahun Rasulullah Saw adalah pasca perjanjian
Hudaibiyah yang berlangsung hanya dua tahun.[16]
Dengan demikian, jika Islam memiliki sebuah pemerintahan dan masyarakat non-Muslim hidup di bawah
kekuasaan pemerintahan Islami, solusi yang penuh keadilan dalam masalah ini adalah memberikan
kebebasan kepada mereka untuk tetap pada agamanya masing-masing dengan syarat membayar pajakpajak yang ditentukan negara untuk kepentingan pemerintahan Islam. [iQuest]
[1]. (Qs. Al-Baqarah [2]: 256)
[2]. Yang jelas bukan mustadh’afin yang mana prinsip-prinsip Islami seputar mereka tidak dijelaskan dan
kami tidak tahu banyak tentang mereka.
[3]. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang mengimani Allah dan rasulNya lalu tidak ragu dan berjihad.” (Qs. Al-Hujurat [49]: 15),
[4]. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir adalah orang yang jika kalian beri peringatan atau tidak
sama bagi mereka, dan mereka tetap saja tidak beriman.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 6)
4/8
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
by Hilfan Soeltansyah - Just Shared on Tel-U - http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
[5]. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir mengeluarkan harta mereka untuk menutup jalan
Allah…” (Qs. Al-Anfal [8]: 36)
[6]. “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman,
tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.“(Qs. Al-Hujurat
[49]: 14)
[7]. “Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan
imannya…” (Qs. Al-Ghafir [40]: 28)
[8]. “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah),
kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan
tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan
baginya azab yang besar.” (Qs. Al-Nahl [16]: 106)
[9]. (Qs. Al-Baqarah [2]: 256)
[10]. Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kâfi, jilid 3, hal. 566, Hadis 1, Dar al-Kutub Islamiah, Teheran,
1365 S.
[11]. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
5/8
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
by Hilfan Soeltansyah - Just Shared on Tel-U - http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
menyukai orang-orang yang berlaku adil.”. (Qs. Al-Mumtahanah [60]: 8)
[12]. “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”. (Qs. Al-Anfal [6]:
61)
[13]. “Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan
kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepadamu sedang hati mereka
merasa keberatan untuk memerangimu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia
memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika
mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu,
maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. Kelak kamu akan
dapati (golongan-golongan) lain, yang bermaksud supaya mereka memperoleh keamanan darimu dan
dari kaumnya. (Karena itu, mereka mengaku beriman. Teteapi), setiap kali mereka diajak kembali
kepada fitnah (syirik), mereka pun terjun ke dalamnya. Dengan demikian, jika mereka tidak membiarkan
kamu dan (tidak pula) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka
(dari memerangimu), maka tawanlah dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan
merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan
membunuh) mereka.” (Qs. Al-Nisa’ [4]: 90-91)
[14]. Abdul Khaliq Nawawi, Al-‘Alaqat Al-Dauliyah wa Al-Nazhm Al-Qadha’iyah, hal. 99-102, Dar alKitab Arabi, Beirut, 1376 HS.
[15]. Kafiuddin Abil Hasan Al-Laitsi Al-Wasithi, ‘Uyûn Al-Hukm wal Mawâ‘idh, hal. 506, Dar al-Hadits,
1376 HS.
6/8
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
by Hilfan Soeltansyah - Just Shared on Tel-U - http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
[16]. Sayid Muhammad Husain Fadhlullah, Al-Islâm wal Mantiq al-Quwwah, hal. 211, Dar al-Ta’aruf lil
Mathbu’at, Beirut, 1987 M.
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk
Yaman untuk memeluk Islam atau membayar jizyah?
Berbagi ilmu walaupun sekedar meneruskan berita dari orang lain…
http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id/id/2012/08/bukankah-kita-bebas-untuk-memilih-agama-lalu-men
gapa-rasulullah-saw-berkata-kepada-penduduk-yaman-untuk-memeluk-islam-atau-membayar-jizyah/
Share this:
Share on Tumblr
Press This
Pocket
Print
Email
7/8
Bukankah kita bebas untuk memilih agama? Lalu mengapa Rasulullah saw berkata kepada penduduk Yaman untuk
by Hilfan Soeltansyah - Just Shared on Tel-U - http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
Like this:
Like Loading...
_______________________________________________
PDF generated by Kalin's PDF Creation Station
8/8
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)
Fly UP