...

CERITA RAKYAT: KI AGENG MANGIR Oleh : Ernawati

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

CERITA RAKYAT: KI AGENG MANGIR Oleh : Ernawati
CERITA RAKYAT: KI AGENG MANGIR
Oleh :
Ernawati Purwaningsih
Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang pada masyarakat tertentu, disampaikan secara
lisan dari satu generasi ke generasi. Banyak cerita rakyat yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia dari berbagai etnik. Dalam cerita rakyat terkandung beberapa hal, seperti nasehat,
hiburan, dan lain sebagainya. Penyampaian cerita rakyat sebagai upaya memperkenalkan
dan menjaga kelestarian nilai budaya. Berikut ini cerita rakyat yang berasal dari Desa
Mangiran, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ki Ageng Mangir adalah cerita rakyat yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dikisahkan bahwa Ki Ageng Mangir adalah seorang penguasa di tanah Mangir. Ia dikenal
sebagai seorang yang tampan, gagah, berani, sakti mandraguna. Ki Ageng Mangir juga
dikenal sebagai orang yang mempunyai senjata ampuh berupa tombak, yang dikenal
dengan sebutan Baru Klinthing. Menurut cerita, tombak Baru Klinthing berasal dari lidah
seekor ular naga raksasa yang bernama Baru Klinthing.
Namun, Ki Ageng Mangir mempunyai sifat yang kurang baik yaitu egois dan sombong. Ia
tidak mau tunduk kepada Mataram. Ia menganggap bahwa tanah Mangir adalah tanah
perdikan, artinya bebas merdeka, tidak harus tunduk dan patuh pada Mataram. Panembahan
Senopati sebagai raja Mataram telah beberapa kali mengirim utusan ke Mangir untuk
membujuk Ki Ageng Mangir mau menghadap ke Mataram. Akan tetapi Ki Ageng Mangir
tetap pada pendiriannya, tidak mau menghadap dan tunduk pada Mataram. Bahkan, ia
menantang untuk perang.
Sikap Ki Ageng Mangir membuat Panembahan Senopati marah dan merasa disepelekan.
Panembahan Senopati memerintahkan agar Kerajaan Mataram mempersiapkan untuk
melakukan perlawanan terhadap Ki Ageng Mangir. Akan tetapi, Ki Juru Mertani, penasihat
Kerajaan Mataram, tidak setuju apabila Ki Ageng Mangir dihadapi dengan perang, sebab
akan membawa banyak korban. Nasihat dari Ki Juru Mertani dipertimbangkan oleh
1
Panembahan Senopati. Akhirnya diambil jalan untuk menghadapi Ki Ageng Mangir dengan
cara tipu daya secara halus.
Panembahan Senopati kemudian memanggil puterinya, yaitu putri Pembayun. Panembahan
Senopati merencanakan untuk menakhlukkan Ki Ageng mangir melalui puterinya.
Pembayun diutus untuk menyamar sebagai ledhek, yaitu wanita cantik yang menari dengan
berpakaian adat Jawa, diiringi oleh gending-gending Jawa. Ledhek biasanya ngamen,
berkeliling dari kampung ke kampung.
Puteri Pembayun menyanggupi permintaan dari ayahandanya, Panembahan Senopati, untuk
menyamar menjadi ledhek. Pembayun ditemani oleh saudara dan pengiringnya. Pembayun
menjadi ledhek dan saudaranya penjadi penabuh gamelan. Mereka kemudian ngamen
berkeliling dari kampung ke kampung. Pada suatu hari, sampailah mereka di Desa Mangir,
tempat Ki Ageng Mangir berkuasa. Ki Ageng Mangir seorang penggemar ledhek. Melihat
ada ledhek yang sangat cantik jelita, Ki Ageng Mangir pun tertarik untuk menikmatinya.
Semakin lama melihat ledhek, Ki Ageng Mangir semakin jatuh cinta. Akhirnya, Ki Ageng
Mangir meminta Pembayun menjadi isterinya. Pembayun pun sangat senang, karena
misinya untuk menarik Ki Ageng Mangir telah berhasil. Ki Ageng Mangir akhirnya
menikah dengan Pembayun.
Dalam perjalanan pernikahannya, Puteri Pembayun diketahui hamil. Mendengar kehamilan
isterinya, Ki Ageng Mangir bahagia sekali, karena sebentar lagi ia akan mempunyai
keturunan dari seorang isteri yang sangat dicintainya. Namun, Pembayun masih merasa ada
ganjalan, karena selama ini ia menyimpan sesuatu dari suaminya. Akhirnya Pembayun
memberanikan diri berterus terang kepada Ki Ageng Mangir mengenai siapa dirinya.
Mendengar pengakuan Pembayun, Ki Ageng Mangir sangat marah, karena ia telah ditipu.
Tanpa sepengtahuannya, ia telah menjadi menantu musuh bebuyutannya, yaitu panembahan
Senopati. Namun, Pembayun tetap dengan sabar tetap mencoba meredam rasa dendam Ki
Ageng Mangir terhadap ayahandanya, Panembahan Senopati. Pembayun meyakinkan Ki
Ageng Mangir bahwa ia benar-benar mencintai Ki Ageng Mangir. Pembayun dengan sabar
membujuk Ki Ageng Mangir agar mau menghadap mertuanya, Panembahan Senopati.
2
Usaha Pembayun membujuk Ki Ageng Mangir akhirnya berhasil. Demi cintanya kepada
sang isteri serta bayi yang sedang dikandung Pembayun, Ki Ageng Mangir mau menuruti
permintaan isterinya untuk menghadap Panembahan Senopati ke Mataram. Kedatangan Ki
Ageng Mangir disambut dengan membuat tarub. Akan tetapi tarub tersebut dibuat pendek,
hanya cukup untuk berdiri saja. Tarub dibuat sedemikian rupa dengan maksud agar senjata
Ki Ageng Mangir, yaitu tombak Baru Klinthing tidak dibawa masuk.
Sesampainya Ki Ageng Mangir di Mataram bersama Pembayun, mereka langsung
menghadap Panembahan Senopati. Tombak Baru Klinthing ditinggal di luar tarub. Begitu
bertemu dengan Panembahan Senopati, Ki Ageng Mangir langsung menghaturkan sujud
sungkem kepada mertuanya. Ketika Ki Ageng Mangir sungkem, Panembahan Senopati
membenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke batu tempat ia duduk yang disebut Watu
Gilang. Kepala Ki Ageng Mangir hancur dan tewas seketika. Melihat suaminya tewas,
Pembayun menangis sejadi-jadinya, karena ia pun sangat mencintai suaminya. Jenazah Ki
Ageng Mangir dimakamkan di makam kerabat Mataram Kotagede. Bagaimanapun juga Ki
Ageng Mangir sebagai menantu sekalian musuh. Untuk mengenang Ki Ageng Mangir,
maka tempat tinggal Ki Ageng Mangir dinamakan Desa Mangir yang terletak di Kecamatan
Pajangan, Kabupaten Bantul.
3
Fly UP