...

Praktek Produksi AV

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Praktek Produksi AV
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
Praktek Produksi AV
PEDOMAN PRRKULIAHAN
PRODUKSI KARYA KOMUNIKASI AUDIO VISUAL
Agar mahasiswa mampu berdisiplin dalam memproduksi suatu karya, termasuk
karya komunikasi audio visual, maka standard operation procedure dalam proses
produksi perlu diajarkan dan diaplikasikan secara maksimal dalam setiap momen
produksi yang melibatkan dirinya. Dalam bab ini, kepada mahasiswa peserta
praktikum (praktikan) ditunjukkan (tanpa bermaksud menjadi petunjuk
satu-satunya) bagaimana prosedur atau langkah-langkah yang sebaiknya
dipertimbangkan untuk ditempuh dalam suatu proses produksi karya komunikasi
audio visual. Dengan demikian dalam bab ini dikemukakan materi produksi, sarana
produksi, organisasi pelaksana produksi dan standard operation procedure dalam
produksi karya komunikasi audio visual secara umum, dalam arti standard umum
yang bisa diaplikasikan dalam proses produksi berbagai jenis karya komunikasi
audio visual. Pada bagian berikutnya (masih dalam bab ini), berturut-turut
dikemukakan pedoman umum dalam produksi karya-karya komunikasi audio visual
seperti produksi film fiksi, produksi film documenter, dan produksi company profile
audio visual.
A.Materi Produksi
Bagi seorang produser, materi produksi karya komunikasi audio visual bisa berupa
apa saja. Hasil olah imajinasi berupa cerita rekaan tentang kehidupan manusia atau
binatang, kisah nyata kehidupan manusia modern berikut penderitaan atau
keberhasilan-keberhasilannya, bisa dijadikan sebagai materi sebuah film (film
documenter atau film drama). Dalam mata kuliah ini, kepada pesrta (praktikan)
ditawarkan untuk memilih dan membentuk sendiri kelompok produksi (jumlah
maksimal anggota kelompok adalah 8 orang) dan diberi kesempatan memilih jenis
produk karya komunikasi audio visual yang mereka minati dan kuasai. Jenis-jenis
produk yang ditawarkan ke para peserta antara lain film drama, film documenter,
company profile audio visual, iklan audio visual, video clip, dan sebagainya.
page 1 / 9
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
Kepekaan kreatif seorang produser dalam melihat materi produksi, dimungkinkan
oleh pengalaman, pendidikan dan sikap kritis. Selain itu, visi juga turut menentukan
kesanggupan seorang produser menjadikan materi produksi membuahkan hasil
karya yang berkualitas. Seorang produser yang tidak memiliki visi akan memilih
materi produksi secara sembarangan. Hanya materi yang berkualitaslah yang bisa
diolah menjadi karya yang berbobot.
Suatu kejadian atau pengalaman yang istimewa biasanya oleh produser dijadikan
sebagai materi produksi untuk program-program televisi semacam film documenter
atau dijadikan ide dasar pengembangan cerita dalam sinetron, atau untuk produksi
film layar lebar. Dengan didahuluioleh risetsecara mendalam, hingga diperoleh
data-data yang mendetail tentang kejadian serta latar belakang terjadinya peristiwa
tersebut, dengan dukungan crew, artis serta peralatan yang cukup, karya film yang
bermutu bisa dihasilkan.
B.Sarana Produksi
Sarana produksi merupakan penunjang untuk mewujudkan ide menjadi produk
(karya). Dalam merubah ide menjadi karya audio visual, tentu diperlukan
seperangkat alat yang dengan kualitas atau standard tertentu, agar baik gambar
maupun suara sesuai mutu yang diharapkan. Kepastian tercukupinya peralatan
sebagaimana yang telah ditetapkan, mendorong kelancaran keseluruhan persiapan
produksi. Biasanya, produser menunjuk seseorang untuk diserahi tanggung jawab
mengupayakan kelengkapan peralatan. Untuk itu, sebuah daftar lengkap
(equipment list) dari seluruh peralatan yang dibutuhkan.
Dalam produksi karya audiovisual, terdapat tiga unit pokok peralatan yang
diperlukan, yakni unit peralatan yang memenuhi fungsi perekam gambar, unit alat
yang memenuhi fungsi perekam suara, serta unit peralatan penunjang
pencahayaan. Untuk itu, dianjurkan setiap unit memiliki daftar peralatan
(equipment list) sendiri-sendiri. Daftar tersebut setiap saat bisa dipakai untuk
pengecekan kelengkapannya, baik ketika produksi hendak dimulai maupunketika
sebuah momen produksi hendak diakhiri. Kualitas dari ketiga macam unit peralatan
produksi tersebut menjadi pertimbangan utama seorang produser ketika hendak
menyiapkan perencanaan produksi. Selebihnya, adalah sarana penunjang seperti
sarana transportasi, penyedia tenaga listrik berikut instalasinya.
page 2 / 9
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
Unit peralatan perekam gambar berupa kamera video beserta lensa tambahan jika
diperlukan (dan tersedia), kaset video, berikut penunjang kelengkapannya seperti
tripod kamera, dolly (jika perlu), kabel kamera, monitor pengambilan gambar untuk
pengendalian pengambilan gambar oleh sutradara, clip serta clip note untuk
menandai adegan demi adegan dalam pengambilan gambar. Dalam pengambilan
gambar, perlu juga dicermati kebutuhan pencahayaannya. Maka beberapa macam
sarana seperti lampu (standard, broadlight, spotlight), tripod/stand lampu, filter
lampu, kabel listrik untuk tiap-tiap lampu, dan reflector perlu dipersiapkan secara
cermat. Dengan kamera berikut kelengkapannya serta pencahayaan berikut
kelengkapannya yang berkualitas, dimungkinkan dapat menghasilkan gambar yang
berkualitas.
Unit peralatan perekam suara merupakan peralatan yang cenderung kurang
memperoleh perhatian cukup, padahal persoalan mutu rekaman suara merupakan
persoalan sangat menentukan mutu hasil produksi karya audio visual secara
keseluruhan. Oleh karenanya mecam-macam mikrofon berikut kelengkapannya
seperti boomer/shotgun, clip-on/lavalier, mikestand, monopod mic, kabel audio
serta jack/konektor yang sesuai kebutuhan, perlu dicermati dari awal.
C.Organisasi Pelaksanaan Produksi
Suatu produksi karya audio visual bisa melibatkan banyak orang, yang bisa
dikelompokkan ke dalam crew, artis, aparat setempat di lokasi shoting
diselenggarakan. Supaya produksi bisa berjalan secara efektif dan efisien dari segi
waktu (karena shoting sangat terikat oleh waktu), maka produser harus memikirkan
dan melakukan penyusunan organisasi pelaksana produksi yang rapi dan
mencukupi namun tetap efisien. Suatu organisasi pelaksana produksi yang tak
tersusun rapi bisa membuat jalannya pelaksanaan produksi jadi terhambat.
Dalam organisasi pelaksana produksi, produser bisa dibantu oleh seorang
pembantu yang disebut produser pelaksana atau production manager. Produser
pelaksana, dalam kerjanya membantu produser membawahi sekertariat produksi,
bendahara serta sutradara. Di dalam sekertariat terdapat unit manajer yang
membawahi bagian perijinan, transportasi, akomodasi (termasuk konsumsi), bagian
property, make-up serta wardrop atau kostum. Dalam organisasi pelaksanaan
produksi, sutradara dibantu oleh seorang asisten sutradara (co-director),
membawahi art designer, direktur fotografi atau Director of Photography (DOP)
yang membawahi kameraman, soundman dan lightingman, dan para artis.
page 3 / 9
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
Untuk produksi di dalam studio, misalnya untuk komsumsi siaran televisi, organisasi
pelaksana produksi sedikit berbeda dengan yang dikemukakan sebelumnya. Dalam
produksi di dalam studio untuk program televisi, sutradara lazim disebut pengarah
acara atau program director (PD). Ia bekerja di belakang meja control di ruang
control (MCR). Dalam kerjanya di studio, program director dibantu oleh asisten
ssutradara yang biasa disebut floor director (FD) yang tugasnya membantu PD
mengarahkan pemain dan crew di studio. Pembantu PD lainnya adalah switcher,
yang bertugas men-switch gambar-gambar dari beberapa kamera di dalam studio
(dalam rekaman di stidio biasanya memakai multi kamera). Salah satu gambar
yang dipilih di-switch oleh switcher, atass perintah PD, ke switch on air. Di samping
switcher gambar, di MCR juga turut terlibat switcher audio, yang bertugas
men-switch audio yang berasal dari suara vocal artis atau presenter dan suara
musik yang telah disiapkan untuk di-on air-kan.
D.Standard Operation Procedure
Produksi karya komunikasi audio visual merupakan produksi yang prosesnya tidak
sederhana. Oleh karenanya diperlukan pencermatan atas prosedur kerja yang telah
teruji efektifitas serta efisiensinya. Maka standard prosedur pelaksanaan atau
standard operation procedure (SOP), yang secara sederhana (minimal) bisa dibagi
ke dalam tiga tahap, yakni:
1.Pra Produksi
Tahap ini merupakan tahap yang amat penting, karena konsep produk yang hendak
diproduksi, letaknya dalam tahapan ini. Secara garis besar tahapan ini bisa dirinci
ke dalam bagian-bagian kerja berikut ini:
a.Pencarian dan Penemuan Ide
Tahap pra produksi dimulai dengan pencarian ide-ide kreatif dalam rangka
menemukaan tema ataau isu yang menarik dan memiliki nilai penting bagi
kehidupan. Dalam aktivitasnya, dalam tahap ini lazim menyertakan aktivitas riset
dan diskusi, dalam rangka memilih, mengembangkan dan memantapkan ide. Dari
page 4 / 9
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
pemantapan ide, penulis naskah melanjutkannya ke dalam naskah atau scrip yang
siap untuk dijadikan panduan dalam produksi.
b.Perencanaan Produksi
Tahap ini meliputi penetapan-penetapan: jangka waktu kerja (time schedule),
kesiapan naskah, pilihan artis, criew, lokasi shoting, alokasi anggaran, jenis dan
jumlah peralatan, property serta wardrop atau kostum artis. Dalam kaitannya
dengan iklim (kondisi alam), kadang estimasi waktu menjadi meleset. Ini bisa
berakibat macam-macam, termasuk akibat pada waktu dan anggaran. Oleh
karenanya perencanaan perlu disusun secermat mungkin.
c.Persiapan Produksi
Tahap ini meliputi aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam rangka membereskan
beberapa hal seperti perijinan, kesiapan artis (biasanya dengan latihan atau
reading), memeriksa kesehatan crew dan artis,pembuatan setting, pemeriksaan
alat, property dan wardrop. Itu semua dicermati dengan mengacu pula pada time
schedule yang telah dibuat.
2.Produksi
Dalam tahap produksi, sutradara bersama crew dan artis berupaya mewujudkan
perencanaan, termasuk di dalamnya adalah naskah yang telah disempurnakan,
menjadi gambar dan suara yang ssiap untuk disusun hingga mampu bercerita.
Sutradara, dalam pelaksanaan produksi, dibantu oleh asisten sutradara
menentukan shot yang akan diambil dalam suatu adegan (scene). Biasanya,
sutradaramempersiapkan shot list dari tiap adegan. Sering terjadi dalam produksi,
satu kalimat dalam dialog, oleh sutradara (dibantu asistennya) dipecah ke dalam 3
atau 4 shot, untukmemperkaya gambar.
Dalam tahap produksi, selain kameraman, lightingman juga menempati posisi yang
page 5 / 9
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
amat penting, karena kualitas gambaar turut ditentukan oleh kecukupan cahaya.
Kondisi alam (perubahaan cahaya) sering membuat kerja lighting menjadi lebih
rumit. Di samping lighting, peran soundman juga amat penting dalam tahap
produksi, karena sebuah pengambilan gambar yang berbarengan dengan
pengambilan suara bisa membuahkan hasil yang tak layak pakai (termasuk hassil
gambarnya) gara-gara mutu suaranya tak layak pakai. Demikian juga property;
terkadang property dianggap kurang penting, dan oleh karenanya dalam produksi
di lokasi shoting, property tak lengkap dan jika itu terjadi, bagian property dituntut
untuk berkreasi menemukan solusi di lapangan dan ditawarkan ke sutradara, atau
shoting ditunda.
Dalam produksi di lokasi shoting, sutradara adalah pemimpinnya. Oleh karenanya ia
dituntut bisa juga mencermati kondisi lingkungan, baik lingkungan alam maupun
manusia di sekitarnya (crew, artis, keamanan), untuk menentukan kapan harus
break (makan, istirahat, dan sebagainya), kapan suatu hari shoting harus diakhiri
untuk diteruskan keesokan harinya.
3.Pasca Produksi
Dalam tahap pasca produksi, dapat ditetapkan tiga tahap atau langkah utama,
yakni:
a.Editing Off Line
Setelah shoting selesai, scrip writer membuat logging, yaitu mencatat kembali
semua hasil shoting berdasarkan catatan shoting dan gambar. Di dalam logging
time code (nomor kode yang dibuat dan muncul dalam gambar) dan hasil
pengambilan setiap shot, dicatat. Berdasarkan catatan tersebut, dibuatlah editing
kasar yang disebut editing off line. Setelah editing off line selesai, hasilnya
dicermati secara seksama dalam screening. Jika masih perlu diedit lagi atau
ditambah, maka pekerjaan perlu segera dilaksanakan, sampai hasilnya
memuaskan. Setelah hasil editing off line dianggap mencukupi, dibuatlah editing
scrip, naskah editing, yang dilengkapi juga dengan uraian untuk narasi, voice over,
ilustrasi musik, efek audio, di bagian-bagian tertentu, untuk diteruskan ke langkah
berikutnya, yakni editing on line.
page 6 / 9
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
b.Editing On Line
Berdasarkan editing scrip, editor melakukan editing secara cermat, adegan-adegan
dan shot-shot yang ada dalam tiap adegan, serta membuat transisi gambar yang
menarik, sesuai tuntutan scrip. Dalam editing on line, materi sound juga
dimasukkan serta ditata sesuai posisi yang dikehendaki oleh naskah. Setelah
editing on line selesai dan dianggap cukup, barulah dilanjutkan ke tahap mixing.
c.Mixing
Narasi yang sudah direkam (jika pakai narasi) dan ilustrasi musik yang sudah
direkam pula, dimasukkan ke data editing untuk di-mix bersama elemen-elemen
lain yang diperlukan. Keseimbangan antara sound effect, suara asli, ilustrasi musik,
dan narasi ditata sedemikian rupa sehingga tidak saling mengganggu danterdengar
jelas. Setelah mixing suara serta gambar selesai, termasuk grafisnya, maka
tahapan-tahapan penting dalam post production bisa dianggap selesai, dan tahap
berikutnya bisa dilakukan preview. Dalam preview, tak ada lagi yang diperbaiki,
karena dianggap telah selesai.
EVALUASI HASIL PRAKTIKUM
Dalam evaluasi hasil praktikum dalam mata kuliah ini, yang berupa pelaksanaan
produksi karya komunikasi audio visual, secara umum evaluasi dilakukan dengan
menilai kualitas proposal yang di dalamnya terdapat latar belakang pemikiran
tentang perlunya suatu paket pesan komunikasi mereka produksi, landasan berpikir
yang jadi acuan dalam memilih eksekusi, perencanaan produksi serta teknik
produksi yang dipilih. Berikutnya, secara umum dievaluasi mutu produk yang
dihasilkannya, termasuk proses produksinya ddan yang penting dalam proses
produksi, untuk dievaluasi, adalah kekompakan tim, kemampuan individual dan
kualitas langkah prosedur dalam kerja produksi. Terakhir, adalah kualitas laporan
praktek produksi yang berisi gambaran pengalaman praktek produksi yang meliputi
kelengkapan data, sistematika penulisan serta bahasa dan kelengkapan ilustrasi
yang diperlukan sebagai lampiran dalam laporan.
page 7 / 9
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
Jika item-item yang dievaluasi sebagaimana diutarakan di atas adalah item-item
yang umum dalam produksi karya komunikasi audio visual pada umumnya, maka
berikut ini adalah item-item yang dievaluasi dalam produksi karya komunikasi audio
visual yang berupa:
1.Produksi Film Drama
Dalam produksi film yang dilakukan oleh suatu kelompok peserta, selain item-item
umum seperti dikemukakan di atas, evaluasi dilakukan pada item-item seperti
pilihan tema atau isu yang diangkat, pengembangan ide ke dalam cerita (termasuk
aspek dramatic, plot, pengembangan konflik), mutu scenario, kualitas hasil casting
artis, mutu acting artis-artisnya, kualitas ilustrasi musik, mutu audio efek, mutu
transisi, keserasian hasil mixing, kualitas grafisnya dan sebagainya.
2.Produksi Film Dokumenter
Lazimnya pembuatan film documenter didahului oleh aktivitas riset secara
mencukupi. Oleh karenanya, penyertaan riset dan kecukupan data yang dihasilkan
dari riset tersebut, menjadi item penting dalam penilaian. Dalam film documenter,
keunikan peristiwa atau fenomena kehidupan yang diangkat, merupakan item
penting pula untuk dinilai. Meskipun film documenter bukanlah film drama, namun
scenario tetap dianggap amat penting. Oleh karenanya, mutu scenario juga menjadi
item evaluasi. Ilustrasi musik, dalam film documenter berfungsi amat menentukan,
dan oleh karenanya, item ini juga memperoleh perhatian dalam evaluasi. Meski film
documenter bukan film drama, pengembangan dramatic cerita juga penting untuk
memperoleh penilaian. Film documenter yang baik, menuntut seminim mungkin
penyertaan wawancara dan narasi (film documenter lebih menghargai bahasa
gambar oleh kaarenanya pula, soal ini juga memperoleh perhatian dalam penilaian.
3.Company Profile
Dalam produksi company profile, kualitas message merupakan bagian penting
dalam evaluasi. Lalu konsepnya; apakah konsepnya bertolak dari narasi lalu atas
dasar itu, gambar diproduksi dan dilengkapi? Atau konsepnya bertolak dari kualitas
page 8 / 9
semacam tulisan | Praktek Produksi AV
Copyright nhas [email protected]
http://chairunnas.staff.umm.ac.id/ngajar/praktek-produksi-av/
gambar lalu atas dasar itu, narasi dicipta sesuai tuntutan gambar? Jika konsepnya
memakai narasi, maka item narasi (kualitas materi, gaya bahasa dan struktur
narasi) menjadi bahan penilaian juga. Begitu pula jika dalam company profile
menyertakan presentasi atau statement tokoh, maka item ini menjadi bahan
penilaian pula, termasuk pilihan tokoh yang ditampilkan.
klik untuk melihat materi
page 9 / 9
Fly UP