...

Teks dan Bahan Bacaan Topik 4

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Teks dan Bahan Bacaan Topik 4
AF
T
D
R
BAB 4
MENGINTEGRASIKAN
IMAN, ISLAM, DAN IHSAN
DALAM MEMBENTUK INSAN
KAMIL
Setelah mengkaji bab ini mahasiswa mampu bersikap wara’
(selalu berhati-hati dalam bersikap dan berprilaku) dengan
selalu mengacu kepada prinsip-prinsip halal dan baik;
zuhud (sederhana dan berorientasi akhirat); sabar dan
tawakal (menyikapi semua problematika kehidupan secara
positif dan menerimanya sebagai kebaikan dari Tuhan);
mensyukuri karunia Allah berupa nikmat iman, Islam, dan
kehidupan; menunjukkan sikap ikhlas (melakukan segala
aktivitas tanpa pamrih dan hanya karena Allah); mampu
menjelaskan esensi dan urgensi integrasi iman, Islam, dan
ihsan dalam pembentukan insan kamil, serta mengkreasi
pemetaan konsistensi dan koherensi pokok-pokok ajaran
Islam sebagai implementasi iman, Islam, dan ihsan.
(KD 1.2; 1.3; 1.4; 1.5; 1.6; 3.4; dan 4.4)
91
M
R
AF
T
uhyidin Ibn Araby (abad ke-13 M) adalah orang pertama yang
mengemukakan istilah insan kamil. Kemudian Syekh Fadhlullah
menyebut insan kamil sebagai proses tanazzul (turun) terakhir
Tuhan. Maksudnya, sebagaimana pandangan Ibn Araby, untuk dapat
kembali kepada Tuhan, maka seseorang haruslah mencapai martabat
insan kamil.
Apa persyaratan seseorang untuk mencapai derajat insan kamil?
Jika keislaman, keimanan dan keihsanan merupakan syarat-syarat utama,
lalu kualitas Islam, iman dan ihsan yang bagaimanakah yang dapat
mengantarkan seseorang mencapai martabat insan kamil?
Ihsan dan insan kamil mungkin merupakan dua istilah yang asing
(kurang diketahui) oleh kebanyakan kaum muslimin. Ketika ditanyakan
kepada mahasiswa apa itu ihsan, mereka memberikan jawaban bahwa
ihsan adalah menjalankan ibadah seolah-olah orang yang menjalankan
ibadah itu melihat Allah; kalau pun ia tidak dapat melihat Allah, maka
Allah pasti melihatnya. Sampai di sini saja pengetahuan kebanyakan
kaum muslimin tentang ihsan. Bagaimanakah dengan Anda? Apa makna
ihsan menurut Anda? Demikian pula halnya istilah insan kamil. Konsep
insan kamil mungkin hanya dikenali di kalangan muslim sufi saja. Apakah
Anda mengenal apa dan siapa insan kamil itu?
A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Islam, Iman dan Ihsan
dalam Membentuk Insan Kamil (Manusia Sempurna)
D
Rasulullah saw bersabda yang kemudian tertuang dalam sebuah
hadis yang cukup panjang. Amati hadis berikut secara cermat.
Umar r.a. berkisah bahwa pada suatu ketika saat ia duduk
bersama Rasulullah saw. tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian
sangat putih, berambut hitam legam, tidak tampak padanya kelelahan
bekas perjalanan, dan di antara para sahabat tidak ada yang pernah
mengenalnya. Laki-laki itu kemudian duduk di hadapan Rasulullah
saw., lalu menyandarkan lututnya pada lutut nabi serta meletakkan
tangannya di atas paha nabi saw., kemudian laki-laki berkata, “Hai
Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam!” Maka Rasulullah
saw. berkata, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa sesungguhnya
tidak ada ilah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan
Allah, engkau mendirikan salat, engkau menunaikan zakat, engkau
berpuasa pada bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah jika engkau
mampu melaksanakannya.” Laki-laki itu berkata, “Engkau benar.”
Umar dan orang-orang yang berada di situ pun heran karena laki-laki
itu bertanya dan ia sendiri membenarkannya.
Kemudian laki-laki itu berkata lagi, ”Beri tahu aku tentang iman!”
Nabi saw. menjawab, “Engkau beriman kepada Allah dan
malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, dan hari akhir,
dan engkau beriman pada qadar (takdir) baik dan buruk.” Laki-laki itu
kembali membenarkan.
92
R
AF
T
Laki-laki itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang ihsan!”
Nabi saw. berkata, “Beribadahlah engkau kepada Allah seakanakan engkau melihat-Nya; jika tidak bisa melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihatmu.”
Laki-laki itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang kiamat!”
Nabi saw. menjawab, “Orang yang bertanya lebih mengetahui
daripada yang ditanya.”
Laki-laki itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang tandatandanya!”
Nabi saw. menjawab, “Jika seorang budak melahirkan tuannya;
jika engkau melihat orang yang kurang hartanya, berbaju compangcamping dan ia penggembala kambing, berlomba-lomba dalam
mendirikan bangunan yang megah.”
Laki-laki itu pun pergi. Beberapa saat setelah itu nabi saw.
berkata kepada Umar r.a., “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah
laki-laki yang bertanya tadi?”
Umar menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”
Nabi saw. berkata, “Dia adalah Malaikat Jibril yang datang untuk
mengajarkan kepadamu tentang agamamu.” (HR Muslim)
D
Cermati kisah di atas! Lakukan telaah reflektif dan buatlah
uraian mengenai koherensi antara salat, zikir, dan iktikaf
(ḫablun minallāh) serta kerja-kerja sosial (ḫablun minannās)
dalam kehidupan empirik! Lanjutkan dengan menyusun peta
konseptual mengenai iman, Islam, ihsan dan hubungan
ketiganya dengan konsep insan kamil! Komunikasikan
kepada dosen Anda!
Menurut Ibn Araby, ada dua tingkatan manusia dalam
mengimani Tuhan. Pertama, tingkat insan kamil.
Mereka mengimani Tuhan dengan cara penyaksian.
Artinya, mereka “menyaksikan” Tuhan; mereka
menyembah Tuhan yang disaksikannya. Kedua,
manusia beragama pada umumnya. Mereka mengimani
Tuhan dengan cara pendefinisian. Artinya, mereka tidak
menyaksikan Tuhan, tetapi mereka mendefinisikan
Tuhan. Mereka mendefinisikan Tuhan berdasarkan
sifat-sifat dan nama-nama Tuhan (Asmā`ul Husna).
Sumber: pengkajianpelitahati.
wordpress.com
93
AF
T
“Selama ini,” kata Imam Ghazali, “saya
selalu menyembah Tuhan. Akan tetapi,
saya tidak pernah mengenali Zat Tuhan;
saya tidak pernah menyaksikan Tuhan.
Selama ini saya hanya menyembah Tuhan
yang saya persepsikan.” Atau, “Saya hanya
menyembah Tuhan yang saya definisikan,
tidak menyembah Tuhan yang saya
saksikan.”
Sumber:
wulandari2842.wordpress.
com
D
R
Masalah penyaksian Tuhan ini berkaitan dengan rukun Islam
pertama, yakni mengucapkan dua kalimah syahadat: Asyhadu an lā
ilāha illā Allāh. Artinya, „Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali
(Tuhan yang nama-Nya) Allah‟; wa asyhadu anna Muhammadan
Rasulūllūh. Artinya, „Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu
Rasulullah (utusan Allah)‟. Teks dua kalimah syahadat ini sudah baku,
tidak bisa dan tidak boleh diubah-ubah. Tidak boleh diubah dengan
teks kalimat berikut, misalnya: Aku “mendengar” bahwa tidak ada
Tuhan kecuali (Tuhan yang nama-Nya) Allah; dan aku “mendengar”
bahwa Nabi Muhammad itu Rasulullah. Teks kalimah syahadat itu
menggunakan kata “bersaksi”, tidak “mendengar”. Apakah Anda setuju
dengan pendapat Ibn Araby? Bagaimana pendapat Anda?
Syekh Hamzah al-Fansuri ulama besar Indonesia (Sumber: sufiroad.blogspot.com/2010/11)
94
R
AF
T
Abdulkarim Al-Jillī membagi insan kamil atas tiga tingkatan.
a) Tingkat permulaan (al-bidāyah). Pada tingkat ini insan
kamil mulai dapat merealisasikan asma dan sifat-sifat Ilahi
pada dirinya. b) Tingkat menengah (at-tawasuth). Pada
tingkat ini insan kamil sebagai orbit kehalusan sifat
kemanusiaan yang terkait dengan realitas kasih Tuhan (alhaqāiq ar-raḫmāniyyah). Pengetahuan yang dimiliki oleh
insan kamil pada tingkat ini telah meningkat dari
pengetahuan biasa, karena sebagian dari hal-hal yang gaib
telah dibukakan Tuhan kepadanya. c) Tingkat terakhir (alkhitām). Pada tingkat ini insan kamil telah dapat
merealisasikan citra Tuhan secara utuh. Ia pun telah dapat
mengetahui rincian dari rahasia penciptaan takdir.
D
Pertanyaan yang perlu diajukan adalah, apakah orang-orang
Islam dapat “menyaksikan” Tuhan? Jika diharuskan menyaksikan
Tuhan berarti orang-orang Islam harus mengenali Zat Tuhan; atau
dalam istilah tasawuf ma’rifat; atau lebih lengkapnya ma’rifat billāh atau
ma’rifat bi Dzātillāh. Pertanyaannya, bagaimanakah cara menyaksikan
Tuhan? Instrumen apa yang tepat digunakan untuk dapat menyaksikan
Tuhan? Lebih konkretnya lagi, apakah manusia, khususnya orangorang Islam, memiliki potensi untuk dapat mengenali Tuhan dengan
cara penyaksian?
Pertanyaan fundamental inilah yang membuat Imam Ghazali
sakit keras. Beliau mengalami sakit keras justru setelah ia mencapai
puncak karier intelektual tertinggi yaitu menjadi “Guru Besar”, “Rektor”,
dan “Hujjatul Islam” (gelar ilmiah tertinggi di kalangan ulama
Nizhamiyah khususnya), dan sangat dipercaya oleh Sultan
Nizhamiyah. Pertanyaan fundamental yang diajukan oleh Imam
Ghazali kepada dirinya sendiri adalah: Selama ini saya menyembah
Tuhan, tetapi saya tidak pernah mengenali Zat Tuhan; saya tidak
pernah menyaksikan Tuhan. Selama ini saya hanya menyembah
Tuhan yang saya persepsikan, (dengan meminjam istilah Ibn Araby)
hanya menyembah Tuhan yang saya definisikan, tidak menyembah
Tuhan yang saya saksikan. Pertanyaan Imam Ghazali ini mungkin juga
dipertanyakan oleh banyak orang, bahkan mungkin juga ditanyakan
oleh Anda (baik ditanyakan kepada orang lain, dan terutama lagi
ditanyakan kepada hati Anda sendiri). Apa Anda pernah
mempertanyakan seperti yang ditanyakan Imam Ghazali?
95
B. Menanyakan Alasan Mengapa Iman, Islam, dan Ihsan
Menjadi Persyaratan dalam Membentuk Insan Kamil
D
R
AF
T
Mari kita telusuri konsep iman, Islam, ihsan, dan insan kamil.
Anda tentu mempunyai konsep atau persepsi tentang term-term ini.
Dalam perkuliahan PAI hampir semua mahasiswa berpendapat bahwa
iman adalah “percaya”. Jadi, seseorang dapat disebut beriman jika
orang itu percaya akan adanya Allah, percaya akan adanya malaikatmalaikat-Nya, percaya akan adanya kitab-kitab-Nya, percaya akan
adanya rasul-rasul-Nya, percaya akan adanya hari akhir, dan percaya
kepada takdir baik dan buruk.
Ketika ditanyakan kepada mereka, “Apakah Anda percaya akan
adanya Allah?” Mereka semua memberikan jawaban yang sama,
“Kami percaya akan adanya Allah; kami percaya akan adanya
malaikat-malaikat-Nya, dan seterusnya.” Kemudian jika ditanya lebih
lanjut, “Adakah manusia yang tidak percaya akan adanya Tuhan?
Adakah manusia yang tidak percaya akan adanya malaikat?” dan
seterusnya (pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan rukun
iman). Hampir semua mahasiswa menjawab, “Tidak ada seorang
manusia pun yang tidak percaya akan adanya Tuhan; tidak ada
seorang manusia pun yang tidak percaya akan adanya malaikat”; dan
seterusnya. Semua manusia percaya akan adanya Tuhan; semua
manusia percaya akan adanya malaikat, dan seterusnya.
Hanya saja mungkin di antara beberapa agama ada yang
berbeda menamai Tuhan dan malaikat. Orang Indonesia
menyebutnya Tuhan, orang Arab menyebutnya Rabb, orang Inggris
menyebutnya God, orang Jawa dan orang Sunda menyebutnya
Pangeran atau Gusti Allah, orang Hindu Bali menyebutnya Sang
Hyang Widi Wasa (Yang Maha Esa), dan orang Yunani Kuno
menyebutnya Hermeus. Untuk menyebut malaikat pun berbeda-beda.
Orang Islam, Kristen, dan Yahudi menyebutnya malaikat (Angel).
Akan tetapi, orang Hindu, Buddha, dan Konghucu menyebutnya
Dewa-Dewi.
Anda pun boleh menjawab pertanyaan ini. Adakah orang-orang
di sekitar Anda (mungkin saudara, kerabat, tetangga, atau temanteman Anda) yang tidak percaya akan adanya Tuhan? Adakah
manusia yang tidak percaya akan adanya malaikat? dan seterusnya
(pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan rukun iman).
Jika jawaban Anda sama dengan para mahasiswa yang telah
terlebih dahulu mengikuti kuliah agama, berarti, tidak ada seorang pun
di sekitar Anda yang tidak percaya akan adanya Tuhan; tidak ada
seorang pun di sekitar Anda yang tidak percaya akan adanya
malaikat; dan seterusnya. Demikian juga di kolong langit ini tidak ada
seorang manusia pun yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Semua
manusia pasti percaya akan adanya Tuhan, malaikat, dan seterusnya.
96
D
R
AF
T
Jika makna iman itu sekedar “percaya” berarti semua manusia di
dunia ini beriman, karena semua manusia percaya akan adanya
Tuhan; semua manusia percaya akan adanya malaikat, dan
seterusnya. Jadi, tidak ada seorang manusia pun yang kafir.
Mungkin di antara Anda ada yang memberikan jawaban berbeda
dengan mereka. Bukankah di dunia ini ada orang-orang yang ateis
(tidak bertuhan)? Jadi, orang-orang ateis itulah yang kafir! Kemudian
orang-orang Islam pun berargumentasi bahwa makna beriman itu
haruslah lengkap, mencakup beriman kepada Nabi Muhammad saw.
sebagai Rasulullah. Jika batasannya ini, maka hanya orang-orang
Islam-lah yang beriman itu, karena orang-orang di luar Islam tidak
mengimani Nabi Muhammad saw.
Jika ditanyakan kepada mahasiswa, “Siapakah di antara dua
orang ini yang lebih baik di hadapan Allah, apakah si A yang
dermawan dan baik budi pekertinya serta selalu memohon
pengampunan Tuhan karena dirinya merasa paling besar dosa-dosa
dan kesalahannya, tetapi dia beragama Konghucu, ataukah si B sang
koruptor jahat dan berbudi pekerti buruk serta sombong dan riya`,
tetapi dia beragama Islam?” Para mahasiswa biasanya sangat sulit
memberikan jawaban. Bagaimana pendapat Anda?
Term ihsan dan insan kamil mungkin merupakan dua term yang
relatif asing (kurang diketahui) oleh kaum muslimin. Ketika ditanyakan
kepada mahasiswa, apa itu ihsan? Beberapa mahasiswa memberikan
jawaban, “Ihsan adalah menjalankan ibadah seolah-olah kita melihat
Allah; kalaupun kita tidak dapat melihat-Nya, Allah melihat kita.”
Sampai di sini saja pengetahuan orang Islam kebanyakan tentang
ihsan. Bagaimanakah dengan Anda? Apa makna ihsan menurut
Anda? Term insan kamil merupakan konsep yang lebih asing lagi bagi
kebanyakan kaum muslimin. Term ini mungkin hanya dikenali di
kalangan muslim sufi saja. Apakah Anda mengenal apa dan siapa
insan kamil itu?
Ada orang mengatakan, belum tentu setiap muslim pasti beriman
(mukmin) karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya
tidak meyakini dengan keimanan yang sempurna walaupun dia
melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya. Status
orang seperti ini hanyalah muslim saja dan tidak tergolong mukmin
dengan iman yang sempurna.
Setiap mukmin pasti muslim karena orang yang telah beriman
secara benar pasti akan merealisasikan iman dengan melaksanakan
amal-amal Islam secara benar pula, sebagaimana Allah Swt. telah
berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu mengatakan, “Kami telah
beriman”. Katakanlah, “Kalian belumlah beriman, tetapi hendaklah
kalian mengatakan, „Kami telah berislam‟.” (QS Al-Hujuraat/49:14).
97
AF
T
Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa di dalam sikap ihsan
sudah terkumpul di dalamnya iman dan Islam. Oleh karena
itu, orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa
dibandingkan orang-orang mukmin yang lain, dan orang
yang mukmin itu juga lebih istimewa dibandingkan muslim
yang lain. Mengenai hal ini, bagaimana pendapat Anda?
Susunlah analisis kritis, tuangkan pendapat Anda menjadi
paper, lalu komunikasikan dengan teman-teman Anda!
C. Menggali Sumber Teologis, Historis, dan Filosofis
tentang Iman, Islam, dan Ihsan sebagai Pilar Agama
Islam dalam Membentuk Insan Kamil
R
1. Menggali Sumber Teologis, Historis, dan Filosofis tentang Iman,
Islam, dan Ihsan sebagai Pilar Agama Islam
D
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Umar bin Khattab r.a.
di atas kaum muslimin menetapkan adanya tiga unsur penting
dalam agama Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan sebagai satu
kesatuan yang utuh. Pada periode berikutnya, para ulama
mengembangkan imu-ilmu Islam untuk memahami ketiga unsur
tersebut.
Kaum muslimin Indonesia lebih familier dengan istilah
akidah, syariat, dan akhlak sebagai tiga unsur atau komponen
pokok ajaran Islam. Akidah merupakan cabang ilmu agama untuk
memahami pilar iman; syariat merupakan cabang ilmu agama untuk
memahami pilar Islam; dan akhlak merupakan cabang ilmu agama
untuk memahami pilar ihsan. Jika digambarkan hubungan antara
iman-Islam-ihsan dan akidah-syariat-akhlak, maka bisa dilihat pada
tabel berikut.
Tabel:
Hubungan Islam, Iman dan Ihsan dengan Ilmu-ilmu Islam
No.
Unsur
Ilmu
Objek Kajian
1.
Islam
syariat
Lima rukun Islam
2.
iman
akidah
3.
ihsan
akhlak
Enam rukun iman
Bagusnya akhlak sebagai
buah dari keimanan dan
peribadatan
98
AF
T
R
D
Sumber: www.katabergambar.net
Perhatikan hadis dari Abdullah bin Mas‟ud di atas.
Tugas Anda, refleksikan hadis di atas pada diri Anda!
Sebagai hasil refleksi, tunjukkan sikap Anda dan
tuangkan dalam sebuah esai, kemudian komunikasikan
kepada teman-teman Anda! Mintalah esai serupa kepada
teman Anda!. Bandingkan agar Anda memperoleh
pengayaan!
Masalah keimanan adalah masalah fundamental dalam
Islam. Jangan sampai manusia merasa sudah beriman, padahal
imannya keliru karena tidak sejalan dengan kehendak Allah. QS
Saba`/34: 51-54 menggambarkan penyesalan manusia setelah
99
AF
T
kematiannya karena ketika di dunia ia memiliki keimanan yang
keliru.
          

         
          
           
    
D
R
Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka
(orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari Kiamat); maka
mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari
tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka). Dan (di waktu itu)
mereka berkata, "Kami beriman kepada Allah." Bagaimanakah
mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu? Dan
sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan
mereka menduga-duga tentang yang gaib dari tempat yang jauh.
Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini
sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa
dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu
(di dunia) dalam keraguan yang mendalam.
Kembali kepada pertanyaan fundamental tadi, dengan
instrumen apakah orang-orang beriman dapat mencapai ma’rifat bi
dzātillāh dengan cara penyaksian? Atau lebih khusus lagi, apakah
di dunia ini ada orang yang telah mencapai ma’rifat bi dzātillāh
dengan cara penyaksian? Mari kita baca Al-Quran. Ternyata dalam
Al-Quran, Dzātullâh (Zat Allah) itu Mahagaib (Al-Ghaib). Namun,
ada makhluk yang dipercaya untuk mengenali Diri Ilahi Yang AlGhaib itu, yakni rasul-Nya.
... dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu
hal-hal yang gaib. Akan tetapi, Allah memilih siapa yang
dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah
kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan
bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. (QS Ali Imran/3:179)
100
AF
T
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali
kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia
mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di
belakangnya. (QS Al-Jin/72: 26-27)
D
R
Maksud kedua ayat di atas adalah bahwa Allah sekali-kali
tidak mengajarkan manusia tentang semua perihal wujud diri-Nya
yang gaib. Akan tetapi, Allah memilih para rasul-Nya yang
dikehendaki oleh-Nya untuk menyampaikan Wujud Allah. Perlu
diketahui bahwa hal ini dilakukan Allah karena Dia sama sekali
tidak akan pernah menampakkan Diri-Nya di muka bumi milik-Nya.
Supaya keimanan kita mencapai ma’rifat billāh, maka satu-satunya
cara menurut Al-Quran adalah bertanya kepada ahli zikir,
sebagaimana firman-Nya, “Fas`alū ahladz-dzikri in kuntum lā
ta’lamūn (QS An-Nahl/16: 43, dan QS Al-Anbiya/21:7).
Mari kita pahami secara benar makna-makna rukun iman.
Rukun iman pertama yaitu beriman kepada Allah. Beriman kepada
Allah sudah dijelaskan secara panjang lebar di atas. Adapun rukun
iman kedua yaitu beriman kepada malaikat-malaikat-Nya. Rukun
iman lainnya perlu dijelaskan kembali walau secara sepintas.
Beriman kepada malaikat-malaikat-Nya tidak sekedar mengimani
adanya malaikat Allah. Alasannya, kalau sekedar mengimani ”ada”nya malaikat, maka iblis dan orang kafir pun dapat disebut beriman.
Iblis dan kebanyakan orang kafir tidak pernah menyatakan bahwa
tidak ada malaikat. Beriman kepada malaikat-Nya adalah dengan
mengikuti jejak para malaikat yang dengan rela sujud kepada
khalīfah fil ardhi (wakil Tuhan di bumi). Keimanan model inilah yang
ditolak oleh iblis. Iblis tidak mau bersujud (dalam arti taat) kepada
khalīfah fil ardhi sehingga iblis divonis kafir oleh Allah. Makna
khalīfah fil ardhi dalam konteks ini adalah Rasulullah. Maksudnya,
kita perlu meneladani para malaikat yang selalu taat kepada
Rasulullah, tidak pernah menuruti kehendak nafsunya.
Telah terjadi konvensi tentang adanya perbedaan dalam
penafsiran dan pemahaman terhadap isi kandungan Al-Quran.
Artinya, adanya perbedaan-perbedaan dalam penafsiran Al-Quran
sudah dimaklumi dan ditoleransi oleh seluruh kaum muslimin.
Adanya mazhab-mazhab dalam Islam mengindikasikan adanya
keragaman dalam memahami “Al-Islām”, terutama dalam
memahami Al-Quran. Berdasarkan QS Al-Waqi`ah/56: 79, yang
berwenang menjelaskan Al-Quran kepada umat hanyalah orang
yang disucikankan oleh Allah. Di luar orang itu haruslah
menjelaskan Al-Quran atas dasar penjelasan dari orang yang
disucikan itu. Orang yang bisa menjelaskan Al-Quran itu tidak lain
adalah Rasulullah saw.
101
AF
T
R
D
Sumber: www.igeder.org.tr
Mengimani kitab-kitab Allah merupakan salah satu
fondasi keberimanan seorang mukmin. Menanyalah lebih
jauh mengenai hal ini. Ajukan minimal lima pertanyaan
berkenaan dengan iman dan keberimanan kepada kitabkitab Allah! Diskusikan dengan teman dan dosen Anda!
Selain itu, untuk dapat mengamalkan perintah Al-Quran pun
tidak bisa asal melaksanakan saja, melainkan harus mengetahui
urutan dan prioritas. Bahwa suatu perintah sah dilaksanakan bila
perintah yang di atasnya telah dilaksanakan. Misal dalam Al-Quran
ada perintah salat. Sahkah seorang muslim mengerjakan salat
dalam keadaan tidak suci? Tentu semua orang Islam sepakat ”tidak
sah”, karena untuk mengerjakan salat harus dalam keadaan suci,
tidak mempunyai hadas besar dan kecil. Pertanyaan lebih lanjut,
”Sahkah salat seorang muslim yang telah memenuhi syarat dan
rukun salat, tetapi tidak mengingat Tuhan (tidak ada zikirnya dalam
salat)?” ”Sahkah salat mereka jika mereka tidak menaati rasulNya?” Dalam ilmu tasawuf, salat harus memenuhi tuntunan syariat
dan hakikat. Memenuhi tuntunan syariat adalah memenuhi syarat
102
D
R
AF
T
dan rukun salat yang ditetapkan oleh rasul-Nya, sedangkan
memenuhi tuntunan hakikat adalah bahwa dengan salat itu
dimaksudkan untuk li dzikrī, artinya, mengingat Aku (Aku = Tuhan),
yakni bahwa dalam salat itu harus ”mengingat” Tuhan (QS
Thaha/20: 14). Salat yang memenuhi tuntunan syariat dan hakikat
akan berpengaruh yaitu dapat mencegah perbuatan keji dan
mungkar (QS Al-Ankabut/29: 45). Dengan ilustrasi memenuhi salat
yang dikehendaki Tuhan, semakin jelas tentang adanya urutan
dalam mengamalkan Al-Quran.
Rukun iman keempat, beriman kepada para rasul-rasul-Nya.
Dalam Al-Quran perintah menaati rasul selalu bergandengan
dengan perintah menaati Allah. Hal ini mengindikasikan bahwa
rasul itu sebagai utusan Tuhan (baca: sebagai wakil Tuhan di bumi)
karena Tuhan tidak menampakkan Diri-Nya di muka bumi. Oleh
karena itu, perintah menaati rasul selalu bergandengan dengan
perintah menaati Allah, antara lain diungkapkan dalam QS AnNisa`/4: 59.
Rukun iman kelima yaitu beriman kepada hari akhir.
Ungkapan kata yang diawali dengan “ber”, seperti bersepatu,
bersepeda, berpakaian, berenang, bergelora, dan bertopi memberi
petunjuk melekatnya sesuatu kepada pelakunya. Begitu halnya
dengan kata ”ber”-iman kepada hari akhir. Hari akhir adalah tempat
pulang kembalinya hamba ke asalnya, “Fī maq’adi shidqin ‘inda
malīkin muqtadirin” (pulang kembali di tempat yang benar [lalu
merasakan betapa bahagianya, betapa bergembiranya, selamalamanya] di sisi Raja Yang Berkuasa). Raja Diraja itu adalah Tuhan
Zat Yang Al-Ghaib.
Oleh karena itu, apabila secara benar telah mengenali Zat
Yang Al-Ghaib ini, lalu selalu mengingat-ingat dan menghayati-Nya
dalam hati, maka mereka inilah yang tergolong, ”Wabil ākhirati hum
yūqinūna,” (Artinya, ‟Dan dengan hari akhir mereka meyakininya‟).
Ini berarti, kehidupan akhirat yang telah dapat dihayati dalam hati
sejak sekarang ini. Alasannya, kematian seseorang sangat
ditentukan oleh keadaan dia sekarang ini ketika masih berada di
dunia. Jika ia ma’rifat billāh, selalu mengingat-ingat dan
menghayati-Nya dalam hati, serta melakukan ibadah dan amal
sosial secara benar, maka sebenarnya orang seperti inilah yang
telah meyakini hari akhir.
Rukun iman keenam yaitu beriman kepada takdir (takdir baik
dan takdir buruk) yang telah ditentukan oleh-Nya. Beriman kepada
takdir (baik atau buruk) berarti meyakini dan mengenali ”Sang
Pembuat Takdir”. Caranya, bereskan dulu keyakinan kita, sebab
Dia adalah segala-galanya. Bagi hamba yang rasa hatinya selalu
lengket dengan Diri-Nya, semua hal yang ditemui dalam hidup dan
kehidupan ini adalah sebagai ujian dan cobaan. Jika seseorang
yang lengket dengan Tuhan dilanda cobaan yang sangat berat
103
R
AF
T
sekalipun (berat yang dirasakan oleh nafsu dan syahwat), dan
seberapa pun beratnya (dimiskinkan, disakitkan, dihilangkan
hartanya, diturunkan dari jabatannya yang tinggi, bahkan hingga
dipenjara dan dibunuh secara kejam seperti yang terjadi pada para
nabi, rasul, dan wali kekasih Allah), maka akan diterima dengan
rasa nikmat. Rasa nikmat mengingat-ingat Allah (berzikir) justru
semakin menyala-nyala; bahkan ujian dan cobaan ini dianggapnya
sebagai hari-raya baginya, karena jika dijalani dengan sabar akan
mendatangkan pahala yang sangat besar.
Sebaliknya, sekiranya memperoleh nasib baik dalam hidup
dan kehidupan dunia, seorang hamba memandang dan meyakini
bahwa ”kesejahteraan” yang dialaminya adalah juga sebagai ujian
dan cobaan. Oleh karena itu, ia justru malah takut sekiranya hal itu
menjadikan dirinya ingkar. Akhirnya, bangkitlah rasa syukur atas
pemberian Tuhan itu sehingga ia dapat berbuat banyak untuk
beribadah dan beramal sosial guna mencapai tujuan hidupnya yaitu
mendekat kepada Tuhannya sehingga selamat dan bahagia
bertemu lagi dengan-Nya di surga.
Sekarang mari kita kaji kembali makna Islam.
Ayat-ayat berikut menegaskan terjadinya penyimpangan dari
Islam, justru dilakukan oleh orang-orang yang menguasai Al-Kitab.
D
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.
Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali
sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian
di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah,
maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. Kemudian jika
mereka mendebat kamu, maka katakanlah, "Aku menyerahkan
diriku kepada Allah; dan (demikian pula) orang-orang yang
mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi
Al-Kitab (ahli kitab) dan kepada orang-orang yang ummi, "Apakah
kamu (mau) masuk Islam?". Jika mereka masuk Islam,
sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka
berpaling, maka kewajiban kamu (hai rasul) hanyalah
menyampaikan; dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(QS Ali Imran/3:19-20)
Sekarang mari kita kaji kembali ibadah-ibadah yang terdapat
dalam rukun Islam. Kita perlu mengkaji kembali apakah ibadahibadah yang kita lakukan itu sudah benar?
Imam Ghazali mengingatkan secara khusus tentang ibadahibadah yang sesat. Maksudnya, orang melakukan salat, zakat,
puasa, dan haji, tetapi ibadah yang dilakukan itu tertolak karena
tidak sejalan dengan kehendak Allah. Al-Ghazali membahas
"Penggolongan Ahli Ibadat yang Tertipu" dalam bab khusus.
Contoh, ibadah haji. “Sayang sekali,” kata Al-Ghazali, “mereka tidak
104
D
R
AF
T
membersihkan harta dari keharaman”. Harta malah didapat dari
penipuan, pengelabuan, penganiayaan, pencolengan, dan lain-lain.
Namun, hutang-hutangnya tidak dibayar terlebih dahulu. Bekal
untuk melaksanakan haji tidak dipilih dari yang halal. Yang
dilakukannya pun malah, bukan haji wajib, melainkan pergi haji
untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya (Al-Qasimi,
1986: 832).
Kemudian tentang “Para Pemilik Harta yang Tertipu”. Mereka
adalah orang-orang yang besar semangatnya untuk membangun
masjid atau bangunan keagamaan yang tampak jelas di mata
khalayak ramai. Tujuannya tidak lain agar nama mereka dikenang,
kedermawanan
mereka
disebut-sebut, dan
kemasyhuran
bersedekah mereka pun tersiar ke pelbagai tempat, dan
seterusnya. Sebaliknya, kadang-kadang menurut pandangan
agama, lanjut Imam Ghazali, lebih utama bersedekah dan
membagi-bagikan hartanya itu kepada kaum fakir-miskin. Akan
tetapi, orang-orang yang tertipu tadi enggan melakukan yang
demikian sebab takut kalau amalannya itu tidak tampak di muka
umum.
Jika Anda sudah memahami makna iman dan beriman
dengan benar, juga memahami makna Islam dan menjalankan
rukun Islam dengan benar, maka Anda akan lebih mudah
memahami makna ihsan. Anda dapat mencapai derajat ihsan
dengan lebih meningkatkan kualitas iman dan Islam.
Makna ihsan, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis,
“Kamu menyembah Allah seolah-olah (mata kepala) kamu melihat
Allah. Jika (mata kepala) kamu tidak bisa melihat Allah (dan pasti
tidak bisa melihat-Nya), tetapi Allah melihat kamu.” Maksudnya,
mata kepala kita tidak mungkin bisa melihat Allah (karena Allah
adalah Zat Yang Mahagaib). Namun, Allah Melihat kita. Oleh
karena itu, supaya ibadah kita mencapai derajat ihsan, maka mata
hati kita harus selalu diusahakan melihat Allah, karena hanya mata
hatilah yang dapat melihat Allah. Ketika beribadah, mata hati kita
harus dapat menghadirkan Allah sehingga kita menyembah Tuhan
yang benar-benar Tuhan, sesuai tuntutan Allah dalam QS AlHijr/15: 99: Wa’bud rabbaka hattā ya`tiyakal yaqīn. Artinya,
“Sembahlah Tuhanmu sampai kamu yakin (Tuhan yang kamu
sembah itu) hadir (dalam mata hatimu).”
2. Menggali Sumber Teologis, Historis, dan Filosofis Konsep Insan
Kamil
Istilah insan kamil (manusia sempurna) pertama kali
diperkenalkan oleh Syekh Ibn Araby (abad ke-14). Ia menyebutkan
ada dua jenis manusia, yakni insan kamil dan monster setengah
manusia. Jadi, kata Ibn Araby, jika tidak menjadi insan kamil, maka
105
AF
T
manusia menjadi monster setengah manusia. Insan kamil adalah
manusia
yang
telah
menanggalkan
ke-monster-annya.
Konsekuensinya, di luar kedua jenis manusia ini ada manusia yang
sedang berproses menanggalkan ke-monster-annya dalam
membentuk insan kamil.
Selain Ibn Araby, sekurangnya ada dua syekh yang
menyusun konsep insan kamil, yakni Syekh Al-Jillī dan Syekh
Fadhlullah.
D
R
Para sufi dan filsuf muslim menggunakan istilah yang
berbeda-beda untuk menyebut insan kamil. Ada yang
mengistilahkannya dengan manusia sufi, manusia
multidimensi, citra Adam, dan istilah-istilah lainnya. Akan
tetapi, substansi pembicaraannya sama, yakni tentang
manusia sempurna (insan kamil).
Lakukan elaborasi lebih mendalam mengenai istilahistilah tersebut! Anda dapat menelusuri Al-Quran atau
hadis. Komunikasikan dengan dosen dan susunlah
menjadi paper pendek!
Syekh Fadhlullah Al-Burhanpuri (wafat tahun 1620 M) yang
atas perintah gurunya, Syekh Ahmad Al-Qusyasyi, dalam Martabat
Tujuh menyusun konsep insan kamil berdasarkan proses tanazzul
(turun) Tuhan dari “Martabat Aḫadiyat” hingga “Martabat Insan
Kamil.”
a. Konsep Manusia dalam Al-Quran
Berbicara tentang konsep ”manusia” begitu kompleks dan
rumit, sekompleks dan serumit dimensi-dimensi dan misterimisteri yang ada pada manusia itu sendiri. Kalau seorang filsuf,
ilmuwan, bahkan sufi sekalipun melontarkan konsepnya
tentang manusia, pada saat yang hampir bersamaan muncul
kritik tajam dari para filsuf, ilmuwan, dan sufi lainnya.
Ringkasnya, secara umum, pembicaraan tentang konsep
manusia selalu berkisar dalam dua dimensi, yakni dimensi
jasmani dan rohani, atau dimensi lahir dan batin. Tentang
konsep dimensi jasmani, atau dimensi lahir, atau dengan
sebutan-sebutan lainnya (tubuh, badan) mungkin tidak terdapat
106
D
R
AF
T
perbedaan karena dimensi ini paling tampak di depan mata dan
mudah diobservasi. Namun, dimensi rohani (atau dengan
sebutan lainnya: dimensi jiwa, batin, atau hati) merupakan yang
paling rumit sehingga dalam pandangan filsuf dan sufi muslim
pun terdapat perbedaan-perbedaan yang kadang-kadang
kontradiktif.
Kajian ini bertujuan menjelaskan term ”manusia” dalam AlQuran. Ada tiga term yang biasa diterjemahkan sebagai
”manusia” dalam Al-Quran, yakni basyar, al-insān, dan an-nās.
Dalam banyak tulisan, basyar disebut-sebut sebagai dimensi
jasmaniah, al-insān dimensi psikologis-rohaniah, dan an-nās
dimensi sosiologis-kemasyarakatan dari manusia. Kalau kita
kaji secara seksama ketiga term itu tidak bisa diartikan secara
tekstual, tetapi harus dipertautkan dengan konteks
keberagamaan. Dengan menggunakan metode Al-Qarafi, term
basyar lebih memperingatkan manusia yang cenderung
mempertuhankan hawa-nafsunya (yang berwujud jiwa-raga).
Sebagaimana iblis yang abā wastakbara (sombong dan
takabur) karena merasa anā khairun minhu („aku lebih baik
daripadanya„), manusia cenderung memandang rendah para
nabi atau rasul dan pengikut-pengikutnya, karena yang dilihat
jiwa-raganya. Term al-insān merupakan peringatan dari Allah
bahwa manusia cenderung kafir. Ketika al-insān menerima
amanat, padahal amanat itu ditawarkan Allah kepada langit,
bumi, dan gunung-gunung, Allah sama sekali tidak memujinya,
malah memvonis bahwa al-insān itu zhalūman jahūla (sangat
zalim dan sangat bodoh). Term an-nās pun memperingatkan
manusia yang cenderung mengikuti agama leluhur, agama
mayoritas, dan agama yang menarik perhatiannya, atau
mengikuti pendapatnya sendiri; bukannya mengikuti man anāba
ilayya (orang yang kembali kepada-Ku), yakni para nabi, para
rasul, atau para khalifah-Nya (wakil Tuhan di bumi). Mungkin di
sinilah letak optimistisnya iblis yang ketika divonis sesat oleh
Allah, ia memohon dipanjangkan umurnya. Iblis bersumpah
akan mengepung manusia dan menyesatkannya (agar manusia
memiliki watak seperti dirinya, yakni abā wastakbara dan anā
khairun minhu). Jarang sekali manusia meneladani malaikat
yang rela sujud kepada Adam (wakil Tuhan di bumi).
b. Unsur-unsur Manusia Pembentuk Insan Kamil
Al-Ghazali menyebutkan adanya unsur luar (tubuh) dan
unsur dalam (batin). Unsur tubuh menyangkut anggota tubuh
dan pancaindra; sedangkan unsur batin berupa hati, akal,
nafsu, dan hasrat. Al-Ghazali menyebut juga roh sebagai unsur
batin, tetapi dipandang sinonim dengan hati. Unsur-unsur
107
D
R
AF
T
manusia yang tersebut diungkap oleh Al-Ghazali (Takeshita,
2005: 112-113). Al-Ghazali menekankan pentingnya hati (qalb),
yang diibaratkan sebagai ”raja”, setelah itu akal (’aql), yang
diibaratkan sebagai ”perdana menteri”; sementara unsur-unsur
lainnya hanya sebagai pelayan dan pengikut. Namun, ada juga
unsur yang sangat rawan, yaitu nafsu dan hasrat. Kedua unsur
ini seharusnya tunduk dikendalikan oleh akal, atas perintah
hati. Akan tetapi, jika kedua unsur (nafsu dan hasrat) malah
mengendalikan akal, maka yang terjadi adalah kudeta terhadap
”raja”.
Secara ringkas, Al-Ghazali (dalam Othman, 1987: 31-33)
menyebut beberapa instrumen untuk mencari ”pengetahuan
yang benar” serta kapasitasnya untuk mencapainya.
Pertama, pancaindra. Pancaindra memiliki keterbatasan,
dan tidak bisa mencapai ”pengetahuan yang benar”, setelah
dinilai oleh akal.
Pancaindra menyaksikan tongkat yang lurus terlihat
bengkok ketika dimasukkan ke dalam kolam; padahal –
menurut penilaian akal – tongkat itu benar-benar lurus dan tidak
bengkok. Matahari terlihat kecil, hanya sebesar bola voli,
padahal menurut perhitungan (akal) justru jauh lebih besar
dibanding bumi yang dihuni manusia. Bintang-bintang terlihat
lebih kecil dibanding matahari, hanya sebesar bola pingpong
dan kelereng, padahal. menurut perhitungan (akal), bintangbintang itu sangat besar dan jauh melebihi matahari.
Sumber: asalasah.blogspot.com/2012
108
R
AF
T
Seorang mukmin, yang baik supaya ia benar-benar
beriman, terlebih dahulu harus menemukan dan
mengenal Allah Swt. yang ia pandang sebagai objek
keimanannya. Al-Ghazali mempertanyakan diri sendiri.
Selama ini ia selalu beribadah, tetapi siapakah Tuhan
yang disembahnya itu? Al-Ghazali merasakan bahwa
dirinya belum kenal dengan Tuhan yang disembahnya.
Apakah manusia memiliki potensi untuk mengenal Zat
Tuhan? Berikutnya, kalau memiliki potensi,
”Bagaimanakah orang itu agar dapat mengenal Allah
Swt. Tuhan yang disembahnya itu?”
Cobalah Anda konstruksi jawaban-jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Al-Ghazali
tersebut!
D
Kedua, akal. Dengan metode ini, dengan cara yang sama,
seharusnya orang pun menilai tingkat kebenaran akal. Orang
seharusnya menggunakan cara yang sama dengan cara yang
digunakan oleh akal ketika menilai kekeliruan pancaindra.
Ketika dalam mimpi serasa peristiwa benar-benar terjadi, tetapi
ketika terbangun, sadarlah bahwa itu hanya kebenaran dalam
mimpi, yang disalahkan oleh pemikiran ketika sedang terjaga.
Oleh karena itu, perlu instrumen ketiga, superintelektual
(kebenaran sufistik). Ternyata kebenaran akal disalahkan oleh
kebenaran sufi. Setelah bersemedi, sufi melepas akal
pikirannya; dan ternyata mereka menyaksikan suasana yang
tidak dapat direkam oleh prinsip-prinsip intelektual. Itulah yang
disebutkan Al-Ghazali dengan sabda Nabi Muhammad saw.,
”Manusia itu dalam keadaan tidur, dan apabila telah mati
terjagalah dia!” juga dalam QS Qaf/50: 52, ”Kami telah
membuka semua penutup kamu, dan penglihatan kamu di hari
ini (saat kematian) menjadi cerah sekali.” Artinya, kebenaran
hidup di dunia disalahkah oleh kebenaran yang disaksikan
pada saat kematian. Artinya, orang beriman harus mencari
kebenaran yang dibenarkan oleh kesadaran saat kematian!
Ketiga, nur Ilahi. Ketika Al-Ghazali sembuh dari sakitnya
(setelah lama merenungkan dan mencari guru untuk
mendapatkan jawaban tentang ”Siapakah Tuhan yang
disembah itu?”), ia menuturkan, ”Kesembuhannya dari sakit
karena adanya nur Ilahi yang menembus dirinya.” Kemudian
Al-Ghazali mengungkapkan pandangannya tentang nur Ilahi
sebagai berikut.
109
AF
T
Kapan saja Allah menghendaki untuk memimpin seseorang,
maka jadilah demikian. Dia-lah yang melapangkan dada orang
itu untuk ber-Islam. (QS Al-An`am/6: 125).
R
Pengertian kata ”Islam” di sini mengandung arti yang
sebenarnya. Bukan dimaksud sebagai sejarah agama secara
formal, tetapi ditujukan kepada ikatan pribadi yang mendalam
dari seserang kepada Allah SWT, setelah ia dapat merasa
dekat dengan Tuhannya. Ketika Nabi Muhammad ditanya
tentang arti dari ”syarḫ-yasyraḫ” (melapangkan) di dalam ayat
tersebut, beliau bersabda: ”Itu merupakan ”nur” yang ditanam
Allah di dalam hati manusia.” Ketika beliau saw. ditanya lagi,
”Apakah tandanya?” Beliau saw. bersabda, ”Menarik diri dari
kebahagiaan semu dan kembali kepada kebahagiaan yang
abadi.” (Othman, 1987: 33-34).
Untuk dapat mengenal Allah (ma’rifat billāh) dengan
diperolehnya nur Ilahi, Al-Ghazali menekankan, ”Kebenaran
harus dicari dan didapat.” (Othman, 1987: 34). Tidak boleh
bersandar pada taklid dan pandangan mayoritas (Othman,
1987: 24-29). Dalam mencari kebenaran itu, ternyata Al-Ghazali
(yang sudah menjadi guru besar dan Hujjatul Islām) masih
mencari ”Syekh” (sebagai “Guru Mursyid”).
D
D. Membangun Argumen tentang Karakteristik Insan Kamil
dan Metode Pencapaiannya
1. Karakteristik Insan Kamil
Insan kamil bukanlah manusia pada umumnya. Ibn Araby
(Takeshita, 2005: 131) menyebutkan adanya dua jenis manusia,
yaitu insan kamil dan monster bertubuh manusia. Maksudnya, jika
tidak menjadi insan kamil, maka manusia akan menjadi monster
bertubuh manusia. Pandangan Araby ini mungkin didasarkan atas
Al-Quran yang memang memvonis manusia sebagai mankhluk
yang rendah dan negatif, yakni: memusuhi rasul, penantang agama
yang paling keras, zalim dan bodoh (tidak tahu agama yang benar),
kikir dan melupakan Tuhan (tidak menjalankan agama
sebagaimana petunjuk Allah dan rasul-Nya, melainkan lebih
memperturutkan hawa nafsunya), suka berkeluh kesah dan banyak
berdoa (ingin segera dihilangkan kesusahannya), padahal manusia
diciptakan oleh Tuhan dalam bentuk dan struktur yang sebaikbaiknya (mempunyai potensi ber-Tuhan dan taat beragama), tetapi
faktor nafsu dan dunia menggelincirkannya ke tempat yang
serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan
binatang ternak sekalipun.
110
D
R
AF
T
Dengan merujuk kepada seluruh ayat Al-Quran tentang term
“manusia” ternyata untuk dapat selamat kembali kepada Tuhan
(masuk surga-Nya) kita harus melepaskan kemanusiaan (dalam arti
basyar, al-insān, dan an-nās). Kita harus mencapai derajat insan
kamil.
Untuk itu, kita perlu mengenali struktur manusia agar kita
dapat mengembangkan diri untuk mencapai derajat insan kamil.
Dengan merujuk kepada filsuf dan sufi muslim, manusia itu terdiri
dari empat unsur, yang dapat divisualisasikan dalam gambar
berikut (Rahmat, 2010).
Gambar:
Empat Unsur Manusia
Keempat unsur manusia dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Pertama, jasad. Keberadaannya di dunia dibatasi dengan
umur. Wujud nafsu manusia tidak lain adalah wujud jasad ini
yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk diuji. Karena wujud
jasad ini sebagai ujian, maka oleh Allah jasad diberi hati (yakni
hati sanubari) yang watak jasadnya persis seperti iblis, yakni
abā wastakbara (takabur) dan anā khairun minhu (ujub, merasa
lebih baik, bahkan dibandingkan dengan khalifah Allah
sekalipun). Kewajiban jasad adalah menjalankan syariat, yakni
menjalankan ibadah badan dan ibadah harta (seperti salat
wajib, puasa Ramadan, membayar zakat, menunaikan ibadah
haji ke Baitullah bagi yang mampu, dan peduli memajukan
lingkungan).
b. Kedua, hati nurani. Letaknya tepat di tengah-tengah dada.
Tandanya ”deg-deg”. Disebut juga dengan hati jantung. Hati
nurani dijadikan Allah dari cahaya, wataknya seperti para
malaikat-Nya yang rela sujud (patuh dan tunduk) kepada wakilNya Tuhan di bumi (QS Al-Baqarah/2: 30-34). Jadi, hati nurani
111
D
R
AF
T
itu selalu tunduk dan patuh kepada Allah dan rasul-Nya, seperti
para malaikat yang telah dimampukan Tuhan untuk
menundukkan nafsu dan syahwatnya. Bukti adanya hati dalam
diri manusia adalah adanya cinta dan benci. Kewajiban hati
adalah menjalankan tarekat, yakni mencintai Allah dengan jalan
mengingat-ingat-Nya (berzikir) dan menaati rasul-Nya. Dalam
QS Ali Imran/3: 31 Allah berfirman, “Qul in kuntum
tuḫibbūnallāha fattabi’ūnī yuḫbib kumullāha wayaghfir lakum
dzunūbakum, wallāhu ghafūrur-raḫīm.” Artinya, Katakanlah (hai
rasul), "Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah (taatilah) aku
(aku=rasul), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni
dosa-dosa kalian." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Kemudian dalam QS Ar-Ra`d/13: 28 dijelaskan
bahwa hati menjadi tentram karena mengingat Allah, “Alā bi
dzikrillāhi tathma`innul qulūb.” Arinya, Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah, hati menjadi tentram.
c. Ketiga roh,letaknya di dalam hati nurani. Roh adalah daya dan
kekuatan Tuhan yang dimasukkan ke dalam jasad manusia,
lalu menandai dengan keluar-masuknya nafas, menjadi hidup
seperti kita di dunia sekarang ini. Ciri adanya roh adalah kita
dihidupkan di dunia ini. Kewajiban roh adalah menjalankan
hakikat, yakni merasa-rasakan daya-kuat-Nya Tuhan.
Maksudnya, bahwa yang mempunyai daya (potensi) adalah
Tuhan; yang mempunyai kekuatan adalah Tuhan; yang bisa
bergerak adalah Tuhan; yang bisa berbuat adalah Tuhan.
Adapun kita dipinjami, Lā ḫaula wa lā quwwata illā billāh,
artinya, Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (daya dan
kekuatan) Allah. Oleh karena itu, Tuhan sangat murka kepada
orang-orang sombong, yakni manusia-manusia yang merasa
mempunyai kelebihan (merasa pintar, merasa kaya, merasa
hebat, dan lain-lain) padahal yang sebenarnya mereka dibuat
pintar oleh Tuhan, dibuat kaya oleh Tuhan, dibuat hebat oleh
Tuhan, dan lain-lain. Maksudnya, untuk diuji (Apakah
merasakan daya-kuat-Nya Tuhan atau diakui sebagai daya dan
kekuatan sendiri?).
d. Keempat, sirr (rasa). Letaknya di tengah-tengah roh yang
paling halus (paling dalam). Rasa inilah yang kembali ke
akhirat. Rasa adalah jati diri manusia. Bukti adanya rasa adalah
kita dapat merasakan berbagai hal dan segala macam (asin,
pahit, getir, enak dan tidak enak, sakit dan sehat, senang dan
susah, sakit hati, frustrasi, dan lain-lain). Kewajiban sirr (rasa)
adalah mencapai ma’rifat billāh, yakni merasa-rasakan
kehadiran Tuhan; bahwa ternyata Tuhan itu dekat sekali
dengan kita; bahkan lebih dekat dibanding urat nadi di leher,
atau lebih dekat dibandingkan dengan jarak antara hitam dan
112
putihnya mata kita (tentu bagi orang yang sudah mencapai
ma’rifat billāh).
D
R
AF
T
Akal bukanlah unsur manusia melainkan pembantu utama
hati; Diiibaratkan perdana menteri sebagai pembantu utama raja,
antara lain diungkapkan oleh Imam Ghazali (Othman, 1982). Oleh
karena itu, Al-Quran dalam mengungkapkan hati menggunakan
„kata benda‟ (karena merupakan salah satu unsur manusia)
sedangkan untuk kata akal Al-Quran menggunakan „kata kerja‟
(karena sebagai fungsi hati). Jika sang raja baik, maka ia akan
memerintah perdana menteri untuk menjalankan kebaikankebaikan bagi rakyat di negerinya; sebaliknya, jika sang raja
angkara murka, maka sang perdana menteri akan diperintahkan
untuk menjalankan proyek-proyek ambisiusnya yang merusak
bangsa dan rakyat. Demikian juga hati. Jika hati nurani yang
menjadi raja, maka sang akal akan memikirkan garapan dunia demi
subḫana-Ka (memahasucikan Allah), yakni untuk kebajikan dan
kemaslahatan umat manusia sesuai dengan perintah Allah dan
rasul-Nya. Namun, jika hati sanubari, yang menjadi rajanya, tidak
baik, maka sang akal akan digunakan untuk mengumbar nafsu dan
syahwat serta memperkokoh watak „aku‟-nya.
Untuk mencapai derajat insan kamil, kita harus dapat
menundukkan nafsu dan syahwat hingga mencapai tangga nafsu
muthma`innah, sebagaimana firman-Nya:
        
       
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah
hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS AlFajr/89:27-30)
Cermati teks berikut.
Apa hubungan sedekah air dengan sosok insan kamil? Dalam
sebuah riwayat dikisahkan bahwa pada suatu saat umat Islam
terancam oleh kemarau panjang. Sumur-sumur mengering,
sumber-sumber air lainnya juga mengerontang. Ada sebuah sumur
yang masih mengeluarkan air, namun sumur itu milik orang kafir.
113
D
R
AF
T
Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Siapa yang akan
membeli sumur umat untuk melepaskan dahaga, mudah-mudahan
Allah mengampuni dosanya.” Sahabat Usman bin Affan pun
menyatakan bahwa dirinya siap membeli sumur itu.
“Apakah engkau rela sumur itu dijadikan sumber air minum
untuk semua orang?” tanya Rasulullah saw. kepada Usman.
Usman pun menyetujui.
Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai sabab annuzūl (sebab turun) ayat ke-27 Surah Al-Fajr di atas.
Sumber: neosunjm.wix.com
Setelah mencermati kisah di atas, amati pula foto di atas,
kemudian lakukan refleksik. Tugas Anda: proyeksikan
hasil refleksi Anda dihubungkan dengan konteks saat ini!
Tunjukkan sikap Anda, karena pasti bisa!
114
AF
T
Ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa nafsu
muthma`innah merupakan titik berangkat untuk kembali kepada
Tuhan. Akan tetapi, dengan modal nafsu muthmainnah pun masih
diperintah lagi oleh Allah untuk menaiki tangga nafsu di atasnya:
rāydhiyah, mardhiyah, hingga kāmilah. Setelah itu, Allah sendiri
yang akan menariknya (melalui fadhl dan rahmat-Nya) dalam
membentuk insan kamil.
Ulama sufi, antara lain Imam Ghazali (1989), menjelaskan
tujuh macam nafsu (sekaligus tujuh tangga) sebagai proses taraqqi
(menaik) manusia menuju Tuhan. Insan kamil adalah manusia yang
sudah menanggalkan karakter kemanusiannya yang rendah dan
telah mencapai tangga nafsu tertinggi (tangga nafsu ketujuh). Tujuh
macam nafsu dan tangga tersebut adalah sebagai berikut.
D
R
a. Nafsu Ammārah, dengan ciri-ciri: sombong, iri-dengki,
dendam, menuruti nafsu, serakah, jor-joran, suka marah,
membenci, tidak mengetahui kewajiban, akhirnya gelap tidak
mengenali Tuhan.
b. Nafsu Lawwāmah, dengan_ciri-ciri: enggan, cuek, suka
memuji diri, pamer, dusta, mencari aib orang, suka menyakiti,
dan pura-pura tidak mengetahui kewajiban.
c. Nafsu Mulhimah, dengan ciri-ciri: suka sedekah, sederhana,
menerima apa adanya, belas kasih, lemah lembut, tobat, sabar,
tahan menghadapi kesulitan, dan siap menanggung betapa
beratnya menjalankan kewajiban.
d. Nafsu Muthma`innah, dengan ciri-ciri: suka beribadah, suka
bersedekah, mensyukuri nikmat dengan memperbanyak amal,
bertawakal, rida dengan ketentuan Allah, dan takut kepada
Allah. Nafsu tangga ke-4 inilah start awal bagi orang-orang
yang berkehendak kembali kepada Tuhan (masuk surga-Nya).
Setelah mencapai tangga ini pun masih harus terus meningkat
hingga tangga nafsu tertinggi, nafsu kāmilah (insan kamil).
e. Nafsu Rādhiyah, dengan ciri-ciri: pribadi yang mulia, zuhud,
ikhlas, wira’i, riyādhah, dan menepati janji.
f. Nafsu Mardhiyyah, dengan ciri-ciri: bagusnya budi pekerti,
bersih dari segala dosa makhluk, rela menghilangkan
kegelapannya makhluk, dan senang mengajak serta
memberikan penerangan kepada roh-nya makhluk.
g. Nafsu Kāmilah, dengan ciri-ciri dianugerahi: ’Ilmul-yaqīn, ’ainulyaqīn, dan ḫaqqul-yaqīn. Orang yang sudah mencapai tangga
nafsu tertinggi ini matanya akan terang benderang sehingga
bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang
yang memiliki nafsu di bawahnya, terlebih-lebih lagi orangorang umum.
2. Metode Mencapai Insan Kamil
115
R
AF
T
Dalam perspektif tasawuf, jalan untuk membentuk insan
kamil haruslah mengikuti jalan yang ditempuh oleh kaum sufi
(yang lurus, bukan kaum sufi yang menyimpang). Syarat pertama
haruslah beriman (secara benar) dan berniat memproses diri
menuju martabat insan kamil. Misal, mengerjakan ibadah salat
secara syariat dan hakikat. Kewajiban syariatnya adalah melakukan
gerakan disertai bacaan salat secara serasi mulai takbiratul iḫrām
hingga salām. Adapun kewajiban hakikatnya, ketika menjalankan
syariat itu keadaan hati hanya mengingat Allah. Cara konkretnya:
(1) memulai salat jika Tuhan yang akan disembah itu sudah dapat
dihadirkan dalam hati, sehingga ia menyembah Tuhan yang benarbenar Tuhan; (2) berniat salat karena Allah. Artinya, ibadah salat
yang didirikannya itu dilakukan dengan ikhlas karena Allah tanpa
ada pamrih dunia (ingin disebut orang beragama, ingin mendapat
pujian, atau ada niat-niat mencari dunia) dan tidak pula ada pamrih
akhirat; (3) selalu menjalankan salat dan keadaan hati hanya
mengingat Allah; dan (4) salat yang telah didirikannya itu dapat
mencegah perbuatan keji dan mungkar.
D
Kata Syekh Abdul Qadir Jailani,
”Jalan sufi adalah shirāthal
mustaqīm, yakni menjalankan syariat
secara lahiriah, dan menjalankan
hakikat secara batiniah. Syariat
adalah segala peribadatan yang
dijalankan oleh raga, seperti
mengucapkan dua kalimah
syahadat, mengerjakan salat,
membayar zakat, berpuasa pada
bulan Ramadan, menunaikan ibadah
haji ke Baitullah, ber-akhlaqul
karīmah (berakhlak mulia), dan
bagusnya budi pekerti. Adapun
hakikat adalah, ketika menjalankan
syariat tersebut dibarengi dengan
keadaan hati yang selalu mengingatingat Allah (disertai dzikir khafy , zikir
di hati, tidak diucapkan).
Sumber: bosnochemaiq.
wordpress.com
Contoh lainnya, ketika Anda kuliah. Kewajiban syariatnya
Anda kuliah karena memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya bahwa
kaum muslimin wajib mencari ilmu akhirat dan ilmu duniawi, dengan
niat karena Allah (tidak untuk mengejar pekerjaan bergengsi atau
mengejar pangkat dan jabatan). Kemudian rasul pun
memerintahkan umatnya untuk bekerja secara profesional. Artinya,
116
AF
T
kuliah pun harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Adapun
kewajiban hakikatnya, ketika mengikuti kuliah dan mengerjakan
tugas-tugas kuliah keadaan hati selalu mengingat-ingat Allah.
Adapun jalan utama yang perlu dilakukan untuk mencapai
derajat insan kamil adalah jihād akbar (jihad menundukkan nafsu
dan syahwat). Imam Ghazali (1333 H: 4) dan kaum sufi lainnya
menguraikan tujuh macam nafsu (sekaligus tujuh tangga), yaitu:
ammārah, lawwāmah, mulhimah, muthma`innah, rādhiyah,
mardhiyyah, dan kāmilah. Jadi, upaya menundukkan nafsu itu
adalah dengan menaiki (proses taraqqi) ketujuh tangga nafsu
tersebut hingga mencapai nafsu kāmilah.
E. Mendeskripsikan tentang Esensi dan Urgensi Iman,
Islam, dan Ihsan dalam Membentuk Insan Kamil
D
R
Insan kamil (manusia sempurna) merupakan tipe manusia ideal
yang dikehendaki oleh Tuhan. Hal ini disebabkan, jika tidak menjadi
insan kamil, maka manusia itu –meminjam istilah Ibn Araby– hanyalah
monster bertubuh manusia. Insan kamil adalah manusia yang telah
menanggalkan kemanusiaannya yang rendah, lalu berjalan menapaki
tangga demi tangga menuju Tuhan sehingga mencapai tangga nafsu
tertinggi. Tangga-tangga yang dimaksud adalah tujuh tangga
(sekaligus tujuh macam nafsu manusia), yakni: ammārah, lawwāmah,
mulhimah, muthma`innah, rādhiyah, mardhiyyah, dan kāmilah..
Siapa dan bagaimana insan kamil itu? Terlebih dahulu, kita perlu
mengingat kembali tentang struktur manusia. Dalam perspektif Islam
manusia memiliki empat unsur, yakni: jasad, hati, roh, dan sirr (rasa).
Pada manusia yang telah mencapai martabat insan kamil, keempat
unsur manusia (jasad / raga, hati nurani, roh, dan rasa) berfungsi
menjalankan kehendak Ilahi. Hati nurani menjadi rajanya (bercahaya,
karena selalu mengingat-ingat Tuhan), sedangkan akal menjadi
perdana menterinya yang selalu berusaha membantu kinerja jasad,
roh, dan rasa selalu beribadah dan mendekati Allah sedekat-dekatnya.
Bagaimanakah cara menundukkan nafsu dan syahwat? Teori
umumnya adalah dengan memperkokoh keimanan (imannya mencapai
tingkat “yakin”, tidak sekedar percaya), bersungguh-sungguh dalam
beribadah (ibadah yang benar dan ikhlas), dan memperbagus akhlak
dan perilaku (dengan akhlaqul karīmah yang sempurna). Untuk
mengokohkan keimanan, maka keimanan kita harus mencapai tingkat
“yakin” (tidak sekedar “percaya”), seperti tabel berikut.
No.
1
Rukun Iman
Iman kepada Allah
Keimanan yang Mencapai Tingkat
“Yakin”
Ma’rifatun wa tashdīqun. Ma’rifat
maksudnya mengenal Allah secara
yakin (ma’rifat billāh); sedangkan
117
AF
T
Iman kepada
malaikat-malaikatNya
Iman kepada
kitab-kitabNya
R
2
D
3
tashdīq maksudnya membenarkan
bahwa orang yang mengenalkan Tuhan
secara benar adalah Rasulullah. Oleh
karena itu, penjelasan tentang Tuhan
harus bersumber dari penjelasan
Rasulullah.
Meneladani para malaikat yang atas
perintah Allah rela sujud kepada wakilNya Tuhan di bumi, dalam arti “selalu”
taat kepada Rasulullah (taat kepada
rasul = taat kepada Allah). Jangan
sampai seperti Iblis yang membangkang
perintah Allah untuk sujud kepada wakilNya Tuhan di bumi.
Menjadikan Al-Quran sebagai pedoman
hidup untuk menjalani kehidupan
sebagaimana kehidupan yang
dijalankan oleh orang-orang yang telah
diberi nikmat oleh Allah (memilih jalan
shirāthal mustaqīm; dan menjadikan AlQuran sebagai pedoman mati, agar
dapat mati (yang hanya sekali terjadi)
dengan mati yang selamat (ḫusnul
khātimah), karena memilih shirāthal
mustaqīm.
Menjadikan rasul sebagai ahli zikir (ahli
mengingat Tuhan karena telah
mengenali Tuhan, telah ma’rifat billāh),
sebagai guru dan teladan dalam
menjalani shirāthal mustaqīm.
Meyakini hari akhir, bahwa dirinya akan
memasuki hari akhir –yang pintu
masuknya– dengan kematian yang
ḫusnul khātimah. Hari akhir dapat
diyakini jika dirinya telah
mempersiapkan kehidupan akhirat sejak
sekarang.
Suka dengan takdir Tuhan. Dibuat
hidupnya serba mudah (dikayakan,
dipintarkan, dihebatkan, dan lain-lain)
bersyukur karena dapat bertambahnya
ibadah dan amal sosial. Namun,
sekaligus takut jika dirinya malah
menyalahgunakan kemudahan
hidupnya untuk mengumbar nafsu dan
syahwat. Dibuat hidupnya serba susah
4
Iman kepada
rasul-rasulNya
5
Iman kepada hari
akhir
6
Iman kepada
Qadhā` dan Qadar
118
AF
T
(dimiskinkan, disakitkan, dan segala
derita lainnya) disyukuri juga, karena
jika dijalani dengan sabar akan
mendatangkan pelbagai kebaikan dari
Allah, sekaligus berikhtiar dan berdoa
untuk melepaskan kesulitan hidupnya.
Untuk dapat beribadah secara sungguh-sungguh dengan benar
dan ikhlas, maka segala ibadah yang kita lakukan (terutama rukun
Islam) harus benar-benar bermakna,sebagai berikut.
No.
Mengucapkan dua
kalimah syahadat
R
1
Rukun Islam
Mendirikan salat
D
2
3
Membayar zakat
4
Berpuasa pada
bulan Ramadan
5
Menunaikan ibadah
Makna Rukun Islam
Menyaksikan Tuhan yang bernama
Allah, yakni keimanan kepada Allah
sehingga mencapai ma’rifat billāh.
Kemudian menyaksikan Nabi saw.
sebagai Rasulullah, dengan jalan
berguru kepadanya dan meneladaninya.
Mendirikan salat dengan khusyuk,
mengingat-ingat Allah, dan menjaga
kondisi salat walau di luar salat dengan
selalu mengingat-ingat Allah (shalāt
dā`im) sehingga salatnya mempunyai
dampak yaitu dapat mencegah
perbuatan keji dan mungkar.
Menyadari bahwa rezeki yang Allah
anugerahkan kepada kita adalah harta
milik Allah (bukan karena hebatnya kita
bekerja mencari nafkah). Oleh karena itu,
zakat dan segala ibadah harta lainnya
(sedekah, infak, dan lain-lain)
dibayarkannya dengan mudah dan
mempunyai kepedulian sosial yang tinggi
(tidak kikir).
Puasa yang dapat meningkatkan
ketakwaan. Ciri utama orang bertakwa
adalah mengimani (dalam arti meyakini)
Zat Tuhan Yang Al-Ghaib, mendirikan
salat, meng-infāq-kan harta yang Allah
anugerahkan kepada dirinya sehingga
meyakini hari akhir. Jangan sampai
puasanya itu sekedar menahan lapar
dan haus, sebagaimana yang diingatkan
oleh Rasulullah.
Haji yang mencapai ma’rifat billāh,
119
sebagaimana sabda nabi, “Al-ḫajju
’arafatun. Praktiknya harus wukuf di
Padang Arafah. Makna wukuf adalah
berhenti. Yang harus dihentikan adalah
semua hal yang menjadikan ter-ḫijāb-nya
(terbentenginya) mata hati sehingga
tidak akan dapat menyaksikan Zat Yang
Al-Ghaib (tidak dapat ma’rifat billāh).
Dalam ibadah haji dan umrah banyak
sekali simbol-simbol. Misal, tawaf
mengelilingi empat pojok Kakbah
sebagai simbol perjalanan menuju Tuhan
(melalui empat unsur manusia: jasad
menjalankan syariat, hati menjalankan
tarekat, roh menjalankan hakikat, dan sirr
/ rasa mencapai ma’rifat billāh).
Mengambil tujuh buah kerikil pada
malam hari untuk alat melempar jumrah
merupakan simbol hamba yang bangun
habis tengah malam, beristigfar, mohon
ampunan kepada-Nya. Bila dikabulkan
oleh-Nya, diberitahu oleh Tuhan bahwa
penyebab orang tergelincir dari jalan
lurus yang licin ini karena tersandung
kerikil, yang biasanya dianggap sepele.
Kerikil-kerikil ini adalah lambang watak
nafsu yang ‟mengaku‟ terhadap semua
amal kebaikan karena dirinya sehingga
lupa atas belas kasih Tuhan yang
membuat dirinya mempunyai hati yang
diizinkan beramal baik. Karena itu, nafsu
ini harus dibuang, yakni dilempar ke
dalam sumur tempat melempar jumrah.
Ini simbol melempar setan supaya setan
(yaitu ajakan dari luar dirinya yang
menyebabkan hidup dan kehidupan tidak
sejalan dengan kehendak Tuhan) tidak
mampu menggoda lagi.
D
R
AF
T
haji ke Baitullah
Di samping itu, ada yang lebih berat, yakni mengurangi (syukursyukur dapat menghilangkan) karakter-karakter buruk dalam diri
sendiri.
Kaum sufi memberikan “tips”. Untuk dapat menaiki tangga demi
tangga, maka seseorang yang berkehendak mencapai martabat insan
kamil diharuskan melakukan riyādhah (berlatih terus-menerus)
menapaki maqām demi maqām yang biasa ditempuh oleh kaum sufi
120
AF
T
dalam perjalanannya menuju Tuhan. Maqām-maqām yang dimaksud
lebih merupakan karakter-karakter „inti‟; dimulai dengan menanamkan
karakter „inti‟ taubat, kemudian maqām kedua, maqām ketiga, dan
seterusnya, hingga maqām tertinggi. Adapun cara menanamkan
karakter-karakter „inti‟ untuk mencapai martabat insan kamil dapat
digambarkan sebagai berikut.
Tabel:
Tahap-tahap Penanaman Karakter „Inti‟ untuk
Menaiki Tangga Nafsu Muthma`innah
I
Taubat
Taubat
Taubat
Taubat
III
IV
V
VI
Wara’
Zuhud
Faqīr
Sabar
Tawakkal
Wara’
Zuhud
Faqīr
Sabar
Wara’
Zuhud
Faqīr
Wara’
Zuhud
Wara’
R
Taubat
II
Taubat
D
Secara operasional, keenam karakter „inti‟ itu harus ditanamkan
secara bertahap dan berurutan mulai maqām pertama sehingga
maqām keenam, sebagai berikut.
1. Menanamkan karakter taubat sehingga benar-benar merasakan
bahwa Anda adalah orang paling banyak melakukan berbuat dosa
dan kesalahan, lalu bangkit untuk selalu beristigfar. Dosa dan
kesalahan yang selalu dan sering dilakukan (oleh orang yang
paling taat beragama sekalipun) adalah: pertama, dosa masih
merasakan wujud (padahal yang wujud hanyalah Tuhan).
Seharusnya Anda merasakan “Ada” atau Wujud-Nya Tuhan
(merasakan kehadiran Tuhan). Akibat merasakan wujud ini (wujud
selain Tuhan) akan mendatangkan dosa kedua, yakni; dosa merasa
mempunyai daya dan kekuatan (merasa hebat, merasa kaya,
merasa pintar, dan lain-lain), padahal sebenarnya manusia dibuat
hebat, dibuat kaya, dibuat pintar, dan lain-lain. Maksud Tuhan
untuk menguji; ketiga, dosa lupa kepada Tuhan (lupa berzikir),
padahal seharusnya Anda selalu ingat Tuhan, sekurang-kurangnya
ketika sedang salat (jangan sampai salatnya divonis sâhûn [=lalai,
lupa berzikir] yang diancam dengan neraka); keempat, melakukan
dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang dilakukan secara terusmenerus; dan kelima, dosa berupa masih kurang dalam melakukan
ibadah dan amal sosial. Pada orang-orang yang beriman secara
121
D
R
AF
T
benar, karakter taubat itu akan menyatu dengan dirinya. Ingat, para
nabi dan para rasul saja (padahal mereka manusia-manusia suci)
selalu bertobat. Nabi Muhammad saw. mengungkapkan, bahwa
dirinya bertobat paling sedikit 70 atau 100 kali dalam seharisemalam, dan beliau saw. sadar benar atas kesalahannya.
2. Dengan tetap dalam kondisi taubat, lalu Anda berusaha
menanamkan karakter wara’. Jika Anda sudah terbiasa bertobat,
maka maqām wara’ akan mulai mudah ditanamkan. Namun, kalau
Anda belum terbiasa bertobat, maka maqām wara’ akan susah
ditanamkan. Pada maqām ini, Anda berlatih untuk selalu sadar
dengan kehalalan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Kemudian Anda hanya makan makanan yang halal, minum
minuman yang halal, berpakaian dengan pakaian yang halal,
bertempat tinggal yang halal, dan barang yang dipilih dari yang
halal-halal, menghindari yang syubhat (tidak jelas halal-haramnya)
terlebih-lebih lagi yang haram. Orientasi hidup seseorang pada
maqām wara’ ini adalah akhirat. Ibadah untuk kepentingan akhirat;
beramal sosial untuk kepentingan akhirat; bekerja, termasuk kuliah
seperti yang Anda jalani adalah untuk kepentingan akhirat. Orang
pada maqām wara’ ini sudah menjalankan perintah nabi, “I’mal li
dunyāka ka`annaka ta’īsyu abadan, wa’mal li ākhiratika ka`annaka
tamūtu ghadan.” Artinya, “Beramallah untuk urusan duniamu
seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beramallah untuk
urusan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.” Karena
tujuan hidup itu untuk kembali kepada Tuhan, maka orientasi
hidupnya –baik urusan dunia ataupun urusan akhirat – hanya diniati
dan bertujuan untuk Allah semata (untuk kepentingan akhirat).
3. Dan seterusnya.
F. Rangkuman tentang Bagaimana Menjadi Insan Kamil
Insan kamil (manusia sempurna) merupakan tipe manusia ideal
yang dikehendaki oleh Tuhan. Sebabnya, jika tidak menjadi insan
kamil, maka manusia itu – meminjam istilah Ibn Araby – hanyalah
monster bertubuh manusia. Insan kamil adalah manusia yang telah
menanggalkan kemanusiaannya yang rendah, lalu berjalan menapaki
tangga demi tangga menuju Tuhan sehingga mencapai tangga nafsu
tertinggi, nafsu kāmilah (insan kamil). Tangga-tangga yang dimaksud
adalah tujuh tangga (sekaligus tujuh macam nafsu manusia), yakni:
ammārah,
lawwāmah,
mulhimah,
muthma`innah,
rādhiyah,
mardhiyyah, dan kāmilah.
Start awal untuk menjadi insan kamil, nafsu kita harus
diusahakan mencapai tangga nafsu keempat (nafsu muthma`innah).
Setelah mencapai tingkatan nafsu ini, nanti Tuhan sendiri yang akan
menaikkan diri kita ke tangga nafsu yang lebih tinggi sehingga nafsu
kāmilah (insan kamil). Dihubungkan dengan iman, Islam, dan ihsan,
122
D
R
AF
T
maka untuk mencapai martabat insan kamil keimanan kita (dengan
mengimani rukun iman) harus benar dan kokoh; peribadatan kita
(dengan menjalankan rukun Islam) harus dijalankan dengan benar,
ikhlas, dan bersungguh-sungguh; dan semua ibadah dan amal sosial
yang kita lakukan harus mencapai tingkat ihsan. Untuk mengokohkan
keimanan kita, maka keimanan kita tidak sekedar “percaya”, tetapi
harus mencapai tingkat “yakin”.
Untuk menapaki jalan insan kamil, terlebih dahulu kita perlu
mengingat kembali tentang empat unsur manusia, yakni: jasad / raga,
hati, roh, dan sirr (rasa). Keempat unsur manusia harus difungsikan
untuk menjalankan kehendak Allah. Hati nurani harus dijadikan rajanya
(dengan cara selalu mengingat-ingat Tuhan). Karena hati nurani
menjadi rajanya, maka secara otomatis raganya menjalankan syariat,
hatinya menjalankan tarekat, rohnya menjalani hakikat, dan sirr
(rasa)nya mencapai makrifat. Adapun hati sanubari ditundukkannya
sehingga sama sekali tidak berfungsi.
Jika sudah secara benar menjalankan keempat unsur manusia
(sesuai kehendak Allah), lalu mengokohkan keimanan, meningkatkan
peribadatan, dan membaguskan perbuatan (ibadah dan amal sosial,
termasuk berakhlak yang baik), sekaligus mengikis karakter-karakter
yang buruk (sombong, bangga diri, riya`, menghendaki kebaikan
dirinya dibicarakan orang, iri-dengki, marah, dendam, dan karakterkarakter buruk lainnya). Kunci keberhasilan menapaki jalan menuju
martabat insan kamil adalah menapaki maqām-maqām (karakterkarakter „inti‟) secara bertahap, mulai tahap pertama, tahap kedua, dan
seterusnya sehingga tahap keenam. Tahap pertama, Anda menyadari
dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang selalu dilakukan setiap
saat. Coba Anda tuliskan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang
“selalu” dilakukan oleh manusia sehingga jika tidak bertobat setiap hari
(bahkan setiap saat), maka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan itu
akan berkarat dan sangat sulit dihilangkan!
G. Tugas Belajar Lebih Lanjut: Proyek Belajar Menjadi
Insan Kamil
Menurut Al-Quran, manusia sebenarnya merupakan makhluk
yang secara potensial insan kamil. Perhatikan ayat berikut.
          
       
123
AF
T
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS AlIsraa‟/17:70)
Namun demikian, kesempurnaan adalah milik Allah Swt. Untuk
mendekati derajat kesempurnaan menurut ketentuan Allah Swt.,
manusia telah diberi anugerah berupa seorang nabi dan rasul sebagai
suri-teladan. Cermati ayat berikut.
            
    
R
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS AlAhzab/33:21)
D
Coba Anda baca dan pahami arti ayat-ayatdi atas. Kemudian amati
gambar di bawah serta kisah sahabat Rasulullah saw. berikutnya.
Sumber: teguhtriatmojo.blogspot.com
124
AF
T
Seorang sahabat Rasulullah saw. bermaksud melaksanakan
salat, berzikir dan beriktikaf di Masjid Nabawi Medinah. Namun, saat
masuk ke dalam masjid dan bersiap menjalankan iktikaf, ia melihat
seorang lelaki sedang menangis meratapi nasibnya. Sang sahabat
mendekatinya dan bertanya, ”Mengapa engkau menangis dan
kesulitan apa yang sedang kaualami?”. Lelaki itu pun menceritakan
masalah pelik yang ia hadapi dan membuatnya sangat sedih.
Sang sahabat pun mengurungkan niat beriktikaf. Kemudian ia
mengajak lelaki itu keluar masjid dan membantunya menyelesaikan
kesulitan yang dihadapinya.
R
Ketika Rasulullah saw. mendengar peristiwa itu, beliau pun
bersabda, “Sungguh berjalannya seseorang di antara kamu untuk
memenuhi kebutuhan saudaranya lebih baik baginya daripada
beriktikaf di masjidku ini sebulan lamanya” (HR Ath-Thabrani dari Abu
Hurairah).
D
Renungkan dan proyeksikan diri Anda sebagai sosok
manusia yang tidak sempurna pada satu sisi, sedangkan
pada sisi lainnya Anda menggambarkan diri sebagai
makhluk yang mukmin, muslim, dan muhsin dalam konteks
kajian pada halaman-halaman terdahulu. Susunlah
identifikasi masing-masing dalam sebuah diagram! Apa saja
kemungkinan faktor penghambat atau penunjang? Jalan
apa yang harus ditempuh untuk mencapai (atau mendekati)
kesempurnaan?
Seperti apa perwujudan sikap wara‟, zuhud, tawakal dan
ikhlas dalam kehidupan riil Anda, termasuk dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara? Komunikasikan
masalah ini dengan teman-teman dan dosen Anda! Sangat
bagus jika hasil akhir dari kerja proyeksi ini Anda tuangkan
dalam esai akademik, unggahlah ke media sosial!
125
BACAAN
AF
T
Afandi, KH Muhammad Munawwar. 2002. Risalah Ilmu Syaththariyah:
Jalan Menuju Tuhan. Bandung: Pustaka Pondok Sufi.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad (1333 H), Ihya Ulũmiddin, Jilid III,
Kairo: Mustafa Babul Halabi.
-------. 2005. Mi’raj al-Sālikin. (Penerjemah Fathur Rahman dengan judul:
Tangga Pendakian bagi para Hamba yang Hendak Merambah
Jalan Allah. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Al-Qasimi, Muhammad Jamaluddîn. 1986. Bimbingan untuk Mencapai
Tingkat Mu`min: Ringkasan Ihya `Ulumiddîn Al-Ghazali.
(Terjemahan). Bandung: CV Diponegoro.
R
Amstrong, Amatullah. 2000. Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia
Tasawuf. (Terjemahan). Bandung: Mizan.
Chodkiewicz, Michel. 1999. Konsep Ibn `Arabi tentang Kenabian dan
Aulia. (Penerjemah Dwi Surya Atmaja). Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Imam dalam al-Qosimi, Muhammad Jamaluddîn (1986),
Bimbingan untuk Mencapai Tingkat Mu`min, Ringkasan Ihya
`Ulumiddîn Al-Ghazali, terjemahan, Bandung: CV Diponegoro.
D
Ghazali,
Jailani, Syekh Abdul Qadir. 1996. Sirrul Asrār, (Penerjemah KH Zezen
Zaenal Abidin Zayadi Bazul Asyhab. Suryalaya Tasikmalaya:
Pondok Pesantren Suryalaya.
Mudatsir, Arief. 1987. ”Makhluk Pencari Kebenaran: Pandangan AlGhazali tentang Manusia”, dalam M. Dawam Rahardjo.
(Penyunting). Insan Kamil: Konsepsi Manusia menurut Islam.
Jakarta: PT Pustaka Grafitipers.
Nasution, Harun (penyunting). 1990. Thoriqot Qōdiriyah Naqsabandiyah:
Sejarah, Asal Usul dan Perkembangannya. Tasikmalaya: IAILM
Suryalaya.
Othman, Ali Issa. 1982. Manusia Menurut Al-Ghazali. (Penerjemah Johan
Smith & Anas Mahyudin Yusuf). Bandung: Pustaka.
Praja, Juhaya S. 1987. Aliran-Aliran Filsafat: Dari Rasionalisme hingga
Sekularisme. Bandung: Alva Gracia.
126
AF
T
Rahmat, Munawar. 2010. Pendidikan Insan Kamil Berbasis Sufisme
Syaththariah. Bandung: ADPISI Press.
Rahmat, Munawar. 2011. Tafsir Al-Quran Sufistik Menyangkut Ayat Inti
dan Ayat Kunci. Bandung: Pustaka Pondok Sufi.
Rahmat, Munawar. 2012. Filsafat Akhlak: Mengkaji Ontologi Akhlak Mulia
dengan Epistimologi Qurani. Bandung: Value Press bekerja
sama dengan Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam
FPIPS UPI.
Takeshita, Masataka. 2005. Insân Kâmil Pandangan Ibnu `Arabi. Sebuah
Disertasi. Surabaya: Risalah Gusti.
Digital
D
R
Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama RI (dalam Al-Quran
Digital).
127
Fly UP