...

pendidikan agama islam dalam membentuk perilaku toleran pada

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

pendidikan agama islam dalam membentuk perilaku toleran pada
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK
PERILAKU TOLERAN PADA WARGA SEKOLAH
Selviyanti Kaawoan
IAIN Sultan Amai Gorontalo
ABSTRAK
Salah satu karakteristik PAI berusaha membentuk dan mengembangkan kesalehan individu dan sekaligus
kesalehan sosial. Jika kesalehan individu merupakan hak pribadi, maka bagaimana dengan keshalehan sosial
yang senantiasa memperhatikan dan peduli akan kondisi sosial sekitar kita. Dalam kehidupan sosial, dimana
sekolah merupakan salah satu lembaga yang mewakili lingkungan sosial ditengah masyarakat harus menjadi
agen sosial pendidikan dalam membentuk perilaku peserta didik yang senantiasa memiliki sikap terbuka dan
toleran dalam membangun semangat ukhuwah Islamiyah. Untuk itu tanggungjawab pendidikan adalah
bagaimana kegiatan pembelajaran dapat memberi kemampuan berdialog dan mencari cammon ground yang
akan menjadi dasar pijakan dan bekal bagi peserta didik untuk berdialog dengan realitas disekitarnya
khususnya realitas keragaman.
Kata Kunci: toleran, PAI, kurikulum PAI,
A. PENDAHULUAN
Indonesia adalah salah satu negara yang
dilihat dari konfigurasi geografis dan etnogrfasi
sangat kaya dibandingkan dengan Negara lain, ini
dibuktikan dengan gugusan pulau-pulau yang
terbentang di wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) berjumlah kurang lebih 13.000
pulau, baik dalam ukuran besar maupun kecil,
ditambah lagi dengan populasi penduduknya
berjumlah lebih dari 240 juta jiwa, terdiri dari 300
suku bangsa dengan menggu-nakan hampir 200
bahasa yang berbeda serta menganut agama dan
kepercayaan yang beragam seperti Islam, Katolik,
Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu serta
1
berbagai aliran kepercayaan.
Keragaman tersebut disatu sisi merupakan
kekayaan bangsa yang sangat berharga dan
potensial untuk mendukung kepentingan pembangunan dan kesejahteraan bangsa, namun disisi lain
menyimpan sejumlah potensi konflik sosial yang bisa
mengancam keutuhan negara (disintegrasi bangsa),
betapa tidak keragaman sering dimanfaatkan dan
disalahtafsirkan oleh orang atau kelompok tertentu
untuk menyulut ketegangan antar suku, agama, ras,
2
dan antar golongan (SARA). Lihat saja kasus yang
pernah mendera tanah air yang dilatarbelakangi oleh
perbedaan SARA diantaranya adalah kasus Ambon
dan Poso (konflik antar agama), peristiwa Sanggau
Ledo, Sambas, dan Sampit (konflik antar etnis
Dayak/Melayu dengan Madura) serta peristiwa Mei
1998 (konflik politik berimbas pada sentimen anti
Cina).
Kasus-kasus yang disebutkan di atas,
sesungguhnya hanyalah beberapa di antara sekian
kasus yang muncul ke ruang publik. Mungkin, ada
ribuan kasus yang belum kita ketahui, karena, tidak
dipublikasikan media massa, dengan argumentasi
bahwa isunya belum “layak” diangkat kepermukaan
sebab kalah aktual dengan isu politik di tanah air
yang jauh lebih menggiurkan bagi kalangan media
massa pada umumnya. Maklum saja, sesuai dengan
teori jurnalistik, isu di masyarakat yang diangkat oleh
media massa kebanyakan memang masalah
kekerasan, konflik politik dan seks. Alasannya
karena, isu seperti itu lebih menguntungkan pangsa
3
pasar. Namun, sesungguhnya yang lebih penting
bukan pada wilayah mempersoalkan atau meperdebatkan apakah konflik terpublikasi atau tidak oleh
media massa, tetapi lebih diarahkan pada ranah
bagaimana memikirkan secara serius, sistematis,
dan komprehensif untuk memini-malisir konflik serta
dalam skala lebih luas membangun sebuah
kesadaran kolektif atas realitas keberagaman dalam
masyarakat. Tumbuhnya kesadaran semacam ini
akan melahirkan budaya toleran dan memandang
mereka yang berbeda sebagai mitra yang harus
dihormati dan dihargai, bukan sebagai musuh yang
harus dihancurkan.
Konflik simbolis keagamaan di berbagai
daerah menjelang dan sesudah reformasi banyak
disinyalir juga terjadi antara lain karena tipisnya
saling pengertian dan penghargaan terhadap
4
perbedaan dan multikul-turalisme. Padahal sifat
masyarakat Nusantara (Indonesia), sebagaimana
3
1
M. Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural: CrossKultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan
(Yogyakarta: Pilar Media, 2005), h. 3-4.
2
Turnomo Rahardjo, Menghargai Perbedaan
Kultural: Mindfulness dalam Komunikasi antar Etnis
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 1
64
Choirul
Mahfud,
Pendidikan
Multikultural
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 4.
4
Suhadi Cholil (editor), Resonansi Dialog Agama
dan Budaya: Dari Kebebasan Beragama, Pendidikan
Multikultural, sampai RUU Anti Pornografi, (Yogyakarta:
Center for Religius & Cross-Studies (CRCS), 2008), h. 29
kita ketahui, kental dengan ciri yang bersifat plural
(bhineka). Ciri plural ini juga merupakan argumen
atas ciri Islam Indonesia, sehingga dengan ciri itu
sejak lama telah muncul prediksi bahwa kebangkitan
peradaban Islam pada masa modern akan terbit dari
5
Indonesia. Zuhairi Misrawi, menggambarkan Islam
Indonesia sebagai Islam yang toleran, sehingga
corak Islam Indonesia mempunyai ciri khas yang
membedakannya dari ciri Islam secara global dan
apalagi dari ciri Islam ala negara yang ada di Timur
6
Tengah.
Toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan
mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan,
baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adatistiadat, budaya, bahasa, serta agama. Ini semua
merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah
menjadi ketetapan Tuhan. Landasan dasar pemikiran
ini adalah firman Allah dalam Qs. al-Hujurat ayat 13.
Penghargaan terhadap kemajemukan atau
keragaman etnik dan agama tak terelakkan lagi
menjadi kepentingan mendasar bangsa Indonesia
7
yang plural. Seluruh manusia tidak akan bisa
menolak sunnatullah ini. Dengan demikian, bagi
manusia, sudah selayaknya untuk mengikuti
petunjuk Tuhan dalam menghadapi perbedaanperbedaan itu. Toleransi antar umat beragama yang
berbeda termasuk ke dalam salah satu risalah
penting yang ada dalam sistem teologi Islam. Karena
Tuhan
senantiasa
mengingatkan
kita
akan
keragaman manusia, baik dilihat dari sisi agama,
suku, warna kulit, adat-istiadat, dan sebagainya.
Untuk menumbuhkan sikap tersebut pendidikanlah yang paling tepat, utamanya pendidikan
Islam untuk dijadikan wadah menyemai benih
toleransi, harmoni kehidupan dan penghargaan yang
tulus atas realitas keragaman kultural-religius
masyarakat. Sebab pendidikan Islam yang menjadi
subsistem pendidikan nasional menjadi salah satu
media yang paling efektif untuk melahirkan generasi
yang memiliki pandangan yang mampu menjadikan
keragaman sebagai bagian yang harus diapresiasi
8
secara konstruktif. Minimal, pendidikan Islam
mampu memberi penyadaran (consciousness)
kepada masyarakat bahwa konflik bukan sesuatu hal
yang baik untuk dibudayakan dan mampu memberi
tawaran-tawaran yang mencer-daskan, antara lain
dengan cara mendesain materi, motode, hingga
kurikulum yang memberi ruang penyadaran kepada
5
M. Dawam Raharjo “Pengantar Fanatisme dan
Toleransi” dalam Irwan Masduqi,
Berislam Secara
Toleran:
Teologi
Kerukunan
Umat
Beragama,
(Bandung:Mizan, 2011), h. xvi
6
Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat:
Toleransi,
Terorisme
dan
Oase
Perdamaian
(Jakarta:Penerbit Buku Kompas, 2010), h. 15
7
Suhadi Cholil (editor), Resonansi Dialog Agama
dan Budaya: Dari Kebebasan Beragama, Pendidikan
Multikultural, sampai RUU Anti Pornografi, (Yogyakarta:
Center for Religius & Cross-Studies (CRCS), 2008), h. 29.
8
Ngainun Naim & Achmad Sauqi, Pendidikan
Multikultural Konsep dan Aplikasi (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2008), h. 8
masyarakat akan pentingnya sikap saling toleran,
menghormati perbedaan suku, agama, ras, etnis dan
9
budaya masyarakat Indonesia yang multikultural.
Hal-hal inilah yang kemudian memunculkan
sebuah kegelisahan akademik tersendiri bagi
peneliti, diperparah lagi dengan munculnya
kontradiksi atau paradoks antara intensitas dialog
antara komunitas (agama) namun benih konflik
tumbuh dimana-mana, serta adanya fenomena baru
kekerasan atas nama agama (Islam) dengan
melibatkan generasi muda (usia SMA, SMK & MA)
untuk dijadikan eksekutor antarsesama tanpa empati
kemanusiaan sedikitpun.
Kajian dalam tulisan ini diarahkan untuk
mengelaborasi apakah pendidikan agama Islam di
SMA telah memberi ruang untuk tumbuhnya perilaku
toleransi bagi warga sekolah ataukah sebaliknya
justru terjadi penyempitan dan penutupan ruang itu
dengan menggunakan model prejudaise dan
menanamkan budaya eksklusifisme atau permusuhan terselubung dalam memaknai sebuah realitas
keragaman serta memunculkan konsekwensi logis
dari pola pembelajaran tersebut.
B. PEMBAHASAN
1.
Tinjauan Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian PAI
Menurut Tafsir, Pendidikan Agama Islam
meru-pakan
suatu nama kegiatan mendidikkan
agama Islam. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang
menjadi dinamakan “Agama Islam”. Sehingga sama
seperti mata pelajaran lainnya di sekolah seperti
mata pelajaran Fisika, Biologi, Matematika dan
bukan mata pelajaran pendidikan Fisika, pendidikan
10
Biologi atau pendidikan Matematika.
Karakteristik Pendidikan Agama Islam; 1)
PAI berusaha untuk menjaga akidah peserta didik
agar tetap kokoh dalam situasi dan kondisi apapun;
2) PAI berusaha menjaga dan memelihara ajaran
dan nilai-nilai yang tertuang dan terkandung dalam
al-Qur’an dan hadis serta otentisitas keduanya
sebagai sumber ajaran Islam; 3) PAI menonjolkan
kesatuan iman, ilmu dan amal dalam kehidupan
keseharian; 4) PAI berusaha membentuk dan mengembangkan kesalehan individu dan sekaligus
kesalehan sosial; 5) PAI menjadi landasan moral
dan etika dalam pengembangan iptek dan budaya
serta aspek-aspek kehidupan lainnya; 6) substansi
PAI mengandung entitas-entitas yang bersifat
rasional
dan supra rasional; 7) PAI berusaha
menggali, mengembangkan dan mengambil ibrah
dari sejarah dan kebudayaan (peradaban ) Islam;
dan 8) dalam beragam, sehingga memerlukan sikap
terbuka
dan toleran
atau semangat ukhuwah
11
Islamiyah.
b. Landasan Pelaksanaan PAI
9
Choirul Mahfud, Pendidikan, h. 5
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, h.
11
H. Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam:
Mengurai
Benang
Kusut
Dunia
Pendidikan,
(Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2006), h. 102
10
65
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun
2003 tentang Sitem Pendidikan Nasional, terutama
padapenjelasan Pasal 37 ayat (1) bahwa pendidikan
agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik
menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak
mulia.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun
2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan
keagamaan, dijelaskan dalam pasal 1 ayat (1)
Pendidikan agama adalah pendidikan yang
memberikan pengetahuan dan membentuk sikap,
kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam
mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan
sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah
pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Ayat
(2) Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang
mempersiapkan
peserta
didik
untuk
dapat
menjalankan peranan yang menuntut penguasaan
pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi
ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.
H. 1
Selanjutnya pada Bab II pasal 2 ayat 1 dan
2, dijelaskan bahwa (1) Pendidikan agama berfungsi
membentuk manusia Indonesia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan
kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama;
(2) Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya
kemampuan
peserta
didik
dalam
memahami, meng-hayati, dan mengamalkan nilainilai agama yang menye-rasikan penguasaannya
dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
c.
Kurikulum PAI
Dalam pembahasan kurikulum Pendidikan
Agama Islam, tertuang dalam pasal 5 ayat 1 sampai
ayat 9 yang berbunyi :
(1) Kurikulum pendidikan agama dilaksanakan
sesuai Standar Nasional Pendidikan.
(2) Pendidikan agama diajarkan sesuai dengan
tahap perkembangan kejiwaan peserta didik.
(3) Pendidikan agama mendorong peserta didik
untuk taat menjalankan ajaran agamanya dalam
kehidupan sehari-hari dan menjadikan agama
sebagai landasan etika dan moral dalam
kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
(4) Pendidikan agama mewujudkan keharmonisan,
kerukunan, dan rasa hormat diantara sesama
pemeluk agama yang dianut dan terhadap
pemeluk agama lain.
(5) Pendidikan agama membangun sikap mental
peserta didik untuk bersikap dan berperilaku
jujur, amanah, disiplin, bekerja keras, mandiri,
percaya diri, kompetitif, kooperatif, tulus, dan
bertanggung jawab.
(6) Pendidikan agama menumbuhkan sikap kritis,
inovatif, dan dinamis, sehingga menjadi
pendorong peserta didik untuk memiliki
kompetensi dalam bidang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, dan/atau olahraga.
66
(7) Pendidikan agama diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
mendorong kreativitas dan kemandirian, serta
menumbuhkan motivasi untuk hidup sukses.
(8) Satuan pendidikan dapat menambah muatan
pendidikan agama sesuai kebutuhan.
(9) Muatan sebagaimana dimaksud pada ayat (8)
dapat berupa tambahan materi, jam pelajaran,
12
dan kedalaman materi.
Djohar
MS,
mengemukakan bahwa
pendidikan agama saat ini memasuki babak baru
sehingga kurikulumnya harus menekankan pada
pemahaman
muatan dan materi pembelajaran.
Misalnya bagaimana siswa berdialog dan mencari
cammon ground yang akan menjadi dasar pijakan
dan bekal bagi siswa untuk
berdialog dengan
realitas
disekitarnya
khususnya
realitas
13
keragaman. Apalagi dengan adanya kurikulum
tingkat satuan pelajaran, yang memung-kinkan guru
untuk dapat lebih kreatif
dalam mendesain
sebuah kurikulum yang berbasis kebutuhan lokal.
Oleh sebab itu sekolah memiliki
potensi yang
berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi daerah
tersebut dimana guru itu melakukan
proses
pendidikan dan pembelajaran.
Dengan melihat realitas lokal, maka desain
kurikulum harus bisa membedakan antara materi
sekunder dan primer yang harus diajarkan di
14
sekolah.
2.
Model Pendidikan Agama (Islam)
Menjadikan model pendidikan agama (Islam)
sebagai basis telaah dan analisis atas sejumlah
problem sosial-kemanusiaan yang terjadi pada
masyarakat plural seperti Indonesia menjadi menarik
dan fungsional. Pengajaran pendidikan agama
menurut Jack L. Seymour harus menggunakan
model yang memungkinkan terbentuknya sikap
penerimaan antarsesama atau sikap toleran diantara
siswa. Hal ini bisa terjadi bila pendidikan agama tidak
sekedar mengajarkan pengetahuan dan ajaran
agama yang diyakininya tetapi mengajarkan
pengetahuan agama lain diluar agama yang
15
diyakininya.
Sementara Tabita Kartika Christiani merumuskan tiga model pendidikan dan pembelajaran
agama, yaitu, pertama, model in the wall. Model ini
lebih
menekankan
pada
pendidikan
dan
12
Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007
tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, h.
13
Suhadi Cholil (editor), Resonansi Dialog Agama
dan Budaya: Dari Kebebasan Beragama, Pendidikan
Multikultural, sampai RUU Anti Pornografi, (Yogyakarta:
Center for Religius & Cross-Studies (CRCS), 2008), h. 33
14
Suhadi Cholil (editor), Resonansi Dialog Agama
dan Budaya: Dari Kebebasan Beragama, Pendidikan
Multikultural, sampai RUU Anti Pornografi, (Yogyakarta:
Center for Religius & Cross-Studies (CRCS), 2008), h. 33
15
Jack L. Seymour, et.al, Educating Christian: The
Intersection of Meaning, Learning, and Vocation,
(Nashville: Parthenon Press, 1997), h. 121.
pembelajaran agama yang berorentasi terbatas pada
agama sendiri, dan tidak mengajarkan agama lain.
Kalau pun diajarkan tentang agama lain lebih
cenderung mengungkap sisi negatif dan kurang
proporsional. Agama lain ditempatkan sebagai
ancaman, patut dicurigai, dan tidak membawa
kebenaran dan keleselamatan. Atau dengan kata lain
model ini mengajarkan agama dengan sangat
eksklusif dengan realitas keragaman agama sekitar.
Kedua, model at the well. Berbeda dengan
pembelajaran model at the well. Model pendidikan
dan pembelajaran mengutamakan tidak hanya
semata-mata mengajarkan agama sendiri, tetapi
mendialogkannya dengan agama lain. Dengan
model ini, mendorong lahirnya satu persepsi dan
sikap yang saling memahami dan mulai tertarik untuk
mendialogkan kebenaran masing-masing demi
menemukan sisi kesamaan dan tidak saling
menegasikan. Dalam model ini sikap inklusif atas
realitas keragaman agama mulai menemuan
bentuknya. Ketiga, model beyond the well.
Pendidikan dan pembelajaran agama dengan model
ini, tidak saja menunjukan sikap penerimaan atau
dialog dengan orang yang beda agama, tetapi lebih
menekankan pada sikap beragama yang toleran dan
dapat bekerja sama dalam membangun perdamaian,
keadilan, harmoni, dan keterlibatan aktif dalam
16
aktivitas kemanusiaan.
Dari ketika model pembelajaran agama yang
ditawarkan diatas penulis lebih
mengapresiasi
model pembelajaran agama yang ketika yang
menonjolkan penerimaan aspek-aspek sosial tanpa
meninggalkan aspek keTuhanan, yang harus
dipengangi oleh setiap individu atas keyakinan
agamanya, apatah lagi bagi para warga sekolah
yang yang heterogen, sehingga harus mampu
menciptakan suasana yang lebih terbuka dan bukan
tertutup pada pemahaman agamanya sendiri.
Dalam
penilaian
M.
Agus
Nuryatno,
pendidikan agama dalam konteks Indonesia yang
pluralis, terutama pendidikan agama Islam masih
ditemukan praktik dominan menggunakan model in
the wall. Ia berharap bahwa, pendidikan agama
Islam sudah saatnya digeser ke model at the wall,
dan model beyond the wall. Agar siswa muslim
memiliki pemahaman dan sikap terbuka dan
proporsional dalam melihat perbedaan keyakinan.
Dalam moment tertentu model model at the wall, dan
model beyond the wall ini menempatkan bahwa
musuh bersama bukanlah perbedaan suku, agama,
ras, gologan, dan etnis tetapi musuh bersama adalah
kekerasan, penistaan, kemiskinan, ketidakadilan,
17
korupsi dan sejenisnya.
16
Tabika Kartika Christiani, “Blessed are The
Peacemaker:
Christian
Religiuos
Education
for
Peacebuilding in The Pluralistic Indonesian Context”,
Dissertation, The Graduate School of Arts and Sciences
Institute of Religious Education, and Pastoral Ministery of
Boston College, 2005, h. 180-181.
17
M. Agus Nuryatno, “Islamic Education in
Pluralistic Society”, dalam Al-Jami’ah, Journal of Islamic
Lain lagi pembacaan Th. Sumartana, dkk yang
terangkum dalam buku Pluralisme, Konflik, dan
Pendidikan Agama di Indonesia bahwa, pendidikan
agama di sekolah adalah pendidikan agama yang
bersifat ideologis-otoriter. Tidak ada nuansa dialog
disana. Perdebatan masalah-masalah “penting” dari
agama tidak pernah dikemukakan secara transparan
demi mendapatkan titik temu bersama. Pendidikan
agama diajarkan secara tekstual-formalistik sehingga
respon
yang
diberikan
terhadap
realitas
kemajemukan menjadi begitu kaku dan tidak
berdaya. Sebaliknya bila pembelajaran agama yang
mencoba menumbuhkan kritisisme dan apresiasi
atas agama sendiri atau agama orang lain bahkan
18
bisa dikategorikan menyesatkan.
Lebih lanjut dalam penilaian Kautsar Azhari
Noer bahwa, penekanan pendidikan agama (Islam)
selama ini pada proses transfer ilmu agama kepada
anak didik, bukan pada proses transformasi nilai-niai
luhur keagamaan kepada anak didik untuk membimbing agar menjadi manusia yang berkepribadian kuat
19
dan berakhlak mulia. Proses yang lebih banyak
berlangsung dalam pendidikan agama selama ini
adalah “pengajaran” agama, bukan “pendidikan”
20
agama.
Hal senada juga diungkap secara
gamblang oleh Amin Abdullah bahwa, praktek di
lapangan, memperlihatkan bahwa pendidikan dan
pembelajaran agama pada umumnya, hingga saat ini
masih lebih menekankan sisi keselamatan individu
dan kelompoknya sendiri, dengan mengetepikan
keselamatan yang dimiliki dan didambakan oleh
orang lain di luar diri dan kelompoknya sendiri. Visi
dan misi pendidikan agama tampak sekali diwarnai
dan didominasi oleh asumsi dasar paradigma klasikskolastik dari para konseptor dan perancangnya
yang terlalu meng-garisbawahi keyakinan dan
anggapan bahwa “keselamatan sosial” dan
“keselamatan kelompok” amat ditentukan oleh dan
tergantung pada “keselamatan individu”. Dengan
kata
lain,
bahwa
keselamatan
individual
Studies, Vol. 49, Number 2, 2011/1432, State Islamic
University (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, h. 411-430.
18
Th. Sumartana, dkk., Pluralisme, Konflik, dan
Pendidikan Agama di Indonesia, (Yogyakarta: Interfidei,
2001), h. vii.
19
Kautsar
Azhari
Noer,
“Pluralisme
dan
Pendidikan di Indonesia: Menggugat Ketidakberdayaan
Sistem Pendidikan Agama” dalam Th. Sumartana, dkk.,
Pluralisme, Konflik, dan Pendidikan Agama di Indonesia,
(Yogyakarta: Interfidei, 2001), h. 233.
20
Perbedaan antara pendidikan dan pengajaran
terletak
pada
penekanan
pendidikan
terhadap
pembentukan kesadaran dan kepribadian peserta didik di
samping transfer ilmu dan keahlian. Dengan proses
semacam ini suatu bangsa atau negara dapat mewariskan
nilai-nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran, dan
keahlian kepada generasi mudanya, sehingga mereka siap
menyongsong kehidupan. Azyumardi Azra, Pendidikan
Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan
Milenium III, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 5.
67
bagaimanapun juga adalah jauh lebih pokok dan
21
lebih utama dari pada keselamatan sosial.
3. Perilaku Toleran
Perilaku toleransi, berasal dari dua kata “
perilaku dan toleran”. Dalam
Kamus Bahasa
Indonesia dijelaskan bahwa, kata “perilaku” merupakan jenis kata benda, yang memiliki arti
“tanggapan atau reaksi terhadap rangsangan atau
22
lingkungan” . Selanjutnya kata “toleran” merupakan
kata sifat yang memiliki arti “bersifat atau bersikap
menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya), yang
berbeda atau bertentangan dengan pendirian
sendiri. Sedangkan kata “toleransi” merupakan kata
kerja yang memiliki tiga makna yaitu: 1) sifat atau
sikap toleran; 2) batas ukur untuk penambahan atau
pengurangan yang masih
diperbolehkan; 3)
penyimpangan yang masih dapat diterima dalam
23
pengukuran kerja.
Kata toleransi begitu mudah diucapkan,
namun sulit dan berat untuk dilakukan dalam sikap
dan perbuatan karena berbagai kepentingan dan
egoisme. Sebenarnya kepentingan diri sendiri atau
golongan untuk toleransi bukan diabaikan, namun
dilakukan upaya titik temu yang dapat memuaskan
semua pihak sehingga tidak ada pihak yang
dirugikan. Kepentingan harus ditempatkan dalam
keseimbangan sehingga terbangun keharmonisan
dalam kehidupan masyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara.Tidak adanya toleransi menyebabkan tata kehidupan bercerai-berai, saling
bermusuhan, saling serang dan merusak tata
kehidupan dan semua elemen akan mengalamai
kerugian, sakit. Tidak ada keuntungan dari tidak
adanya toleransi.
Perbedaan akan menjadi kekuatan apabila
bersinergi dalam membentuk tata kehidupan.
Membangun toleransi harus diawali dari diri sendiri,
bahwa saya ingin senang dan orang lain juga
demikian, jangan sampai kesenangan saya
mengganggu orang lain. Apabila kesenangan
diperoleh dengan mengganggu orang lain, toleransi
menjadi berkurang, apabila tidak segera diselesaikan
permasalahan komunikasi timbul dan sikap
permusuhan akan dengan mudah terjadi.
Setiap tujuan yang akan dicapai hendaknya
dilakukan dengan proses yang baik dan berdampak
positif kepada semua pihak yang terkait, baik
21
M. Amin Abdullah, “Pengajaran Kalam dan
Teologi dalam Era Kemajemukan di Indonesia: Sebuah
Kajian Teori dan Metode” dalam Th. Sumartana, dkk.,
Pluralisme, Konflik, dan Pendidikan Agama di Indonesia,
(Yogyakarta: Interfidei, 2001), h.253.
22
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus
Bahasa Indonesia, ( Jakarta:Pusat Bahasa, 2008), h. 1161
23
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus
Bahasa Indonesia, h. 1722
68
langsung maupun tidak langsung. Semua pihak yang
terkait harus memiliki pemahaman yang sama dan
terdapat keterbukaan informasi, sehingga semua
pihak sadar dan menjadi peduli untuk pencapaian
tujuan bersama. Dalam kondisi yang berbedabeda para pihak yang terlibat memberikan dukungan
sesuai peran dan fungsinya. Toleransi yang
sebenarnya adalah pemberiaan maaf untuk suatu
kesalahan
bukan
atas
suatu
perbedaaan.
Perbedaaan bukan kesalahan, kita semua tidak bisa
memilih untuk hadir di dunia ini menjadi berbeda dan
semua sudah harus terjadi untuk berbeda.
Hambatan dalam membangun toleransi adalah
kurangnya pengetahuan tentang adanya perbedaan
yang menyebabkan orang menjadi egois dan
sombong, merasa lebih baik, dan tidak peduli
dengan saudara, teman, tetangga dan masyarakat.
Orang yang tidak tahu seperti berada dalam ruang
yang gelap, sikap dan tindakanya hanya
berdasarkan prasangka. Prasangka terutama prasangka negatif harus dijauhi, karena ini merupakan
dosa yang menyebabkan rusaknya hubungan
persaudaraan. Pengetahuan adanya perbedaan
sebagai cahaya atau penunjuk jalan agar kita bisa
menempatkan diri, mengatur peran dan fungsi agar
tata kehidupan dapat berjalan dengan damai dan
sejahtera.
Toleransi bukan untuk mengesampingkan hak
dan kewajiban. Saling menghormati merupakan
kewajiban dan mendapat penghormatan merupakan
hak. Hak dan kewajiban harus berjalan seimbang
pada semua orang. Tuhan telah menciptakan kita
dalam kondisi yang berbeda-beda. Semua orang
dihadapan Tuhan sama meski berbeda suku, ras,
agama, kaya, dan miskin.
Dalam perilaku berbertoleransi dapat memberikan manfaat misalnya dapat menghindari
perpecahan, mempererat hubungan, mengokohkan
iman. Ada beberapa contoh bertoleransi yang dapat
kita lakukan misalnya adanya saling menghormati,
tidak menganggu dan berpartisipasi dalam hal yang
positif.
Diakui atau tidak salah satu kehidupan yang
memiliki konstribusi untuk kuatnya atau lemahnya
pemahaman multikulturalisme adalah pendidikan di
sekolah. Sekolah sebenarnya menyediakan ruang
dimungkinkannya memperkuat basis pengetahuan
dan pengalaman hidup siswa menghargai perbedaan
24
dan kemajemukan.
Kesalahan memahami toleransi sebagai
bentuk ketidakpedulian pasif (passive indifference)
yang nampak pada sikap acuh tak acuh yang tidak
positif, atau pasif secara apatis tidak mau
24
Suhadi Cholil (editor), Resonansi Dialog Agama
dan Budaya: Dari Kebebasan Beragama, Pendidikan
Multikultural, sampai RUU Anti Pornografi, (Yogyakarta:
Center for Religius & Cross-Studies (CRCS), 2008), h. 29.
memberikan penilaian apapun terhadap orang lain
karena tidak gairah dan komitmen.
Untuk itu dalam membangun perilaku toleran
akan tetap memberikan penilaian, baik positif
maupun negatif, terhadap pendapat orang lain
dengan komitmen moral dan kesadaran menghormatinya. Oleh sebab itu bertoleransi bukan berarti
kita bersikap acuh tak acuh, sehingga kritik secara
sopan, dan empatik dalam berdialog. Setiap orang
harus menghormati perbedaan sebagaimana juga
harus secara kritis mengoreksi pemahaman sendiri
dan orang lain dalam proses mencari pemahaman
yang lebih baik.
Konsep ini
disebut dengan
“toleransi kritis” (critical toleration) yang berdiri di
25
atas prinsip “interaksi kritis” (critical interaction).
Toleransi dalam tradisi Islam klasik, dapat di lihat
pada sikap imam Malik bin Anas (w. 179 H), yang
senantiasa menghargai perbedaan pendapat,
pembelaan terhadap perbedaan pendapat ini
nampak
pada peristiwa ketika Harun al-Rasyid
(w.193 H) berinisiatif menggantung kitab al-Muwatta
karya Malik bin Anas di atas Ka’bah dan memerintahkan semua orang agar mengikuti kitab tersebut.
Namun, Malik
menolak keinginan itu dengan
menyatakan bahwa “wahai pemimpin kaum
mukminin, janganlah anda gantung kitab itu diatas
Ka’bah, sebab para sahabat Nabi telah berbeda
26
pendapat”. Jawaban Malik bin Anas ini menunjukkan adanya kerendahan hati dan keramahan dalam
menghargai pendapat orang lain,
dan hal ini
menunjukkan sikap toleran yang elegan dan rasa
empati yang patut diteladani. Toleransi
yang
merupakan nifestasi dari sikap sederhana dengan
melakukan kritik diri (self-criticism) dan pengakuan
terhadap pemahaman manusia. Ulama yang tidak
takut untuk mengakui kebodohan dan ketidakpastian
pendapatnya sendiri. Hal ini juga yang dilakukan
imam Malik bin Anas dengan pernyataannya bahwa
“aku hanyalah manusia biasa yang bisa benar dan
bisa salah. Maka telitilah pendapatku, jika sesuai
dengan al-Qur’an dan Sunnah maka ambillah, jika
tidak sesuai maka tinggalkanlah”. (ana basyarun
ukhti’u wa usibu fanzhuru fi ra’yu ma wafaqa alkitaba wa al-sunnata fa khudzu bihi wa ma lam
27
yuwafiq fatrukuhu).
Hal yang sama dapat dilihat pada pernyataan
imam Syafi’i (w.204 H), ia menyatakan bahwa
“pendapatku benar tetapi mungkin salah, sedangkan
pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar”
(ra’yi sawabun yahtamilu al-khata’a wa ra’yu ghayri
khata’un yahtamilu al-sawaba). Dengan prinsip ini
25
Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran:
Teologi Kerukunan Umat Beragama, (Bandung:Mizan,
2011), h.9
26
Ibid.,
h. 17-18, Irwan Masduqi, Berislam
Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama, Lihat
Abu Zahra, Malik: Hayatuha wa ‘Asruhu, Arauhu wa
Fiqhuhu, ( Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 2002), h. 186-187.
27
Ibid, h. 18, Irwan Masduqi, Berislam Secara
Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama, LihatYusuf
al-Qardhawi, Kayfa Nata’amalu ma’a al-Turats wa
Tamadhub wa al-Ikhtilaf, h. 75
imam Syafi’i di satu sisi berusaha terhindar dari
dogmatisme dan obsolutisme yang menganggap
bahwa dirinya sendiri adalah benar sedangkan orang
lain salah. Dan di sisi lain Syafi’i berusaha
menghindari jebakan relativisme yang membenarkan
semua pendapat tergantung perspektif masingmasing. Pandangan moderat imam Syafi’i ini
tentunya memberi inspirasi bahwa “menyalahkan”
orang lain yang berbeda pendapat adalah tindakan
28
yang tidak etis. Sikap menghargai pendapat orang
lain ini tentunya didasari oleh pemahaman dan
wawasan yang luas dan pendidikan yang inklusif.
Bukti penekanan pendidikan yang inklusif ini dapat
dipahami pada dialog
Syafi’i dengan muridnya
Ibrahim al-Muzani (w. 264), ia berkata “wahai Ibrahim
janganlah engkau mengikuti semua ucapanku, tetapi
telitilah dan berpikirlah untuk dirimu sendiri” (Ya
Ibrahim la tuqalliduni fi kulli ma aqulu wanzhur fi
29
dzalika li nafsika).
Sikap toleran ini tentunya dipengaruhi juga
oleh kematangan dalam mengola emosi diri sendiri.
Toleransi dalam tradisi Islam nampak sejalan dengan
filsafat Stoicisme yang
menitikberatkan pada
pentingnya mengontrol emosi ketika menghadapi
suatu perbedaan.
Al-Ghazali (1058-1111 M/450-505 H), dalam
kitabnya Ihya’ ‘Ulul al-Din, menjelaskan tentang
pentingnya kontrol emosi (‘ilaj al-ghadab) dalam
menghargai perbedaan. Kontrol emosi ini dapat
dilakukan
melalui
enam
langkah;
pertama,
merenungi keutamaan memaafkan dan menahan
amarah sebagaimana dalam Qs. Ali Imran ayat 13330
134 ; kedua, takut kepada siksa Allah terhadap
pemarah; ketiga, menghindari ekses negatif dari
permusuhan; kempat, membayangkan raut wajah
yang amat jelek seperti binatang buas saat marah;
kelima, berpikir ulang tentang penyebab kemarahan;
keenam, menyadari bahwa kemarahan keluar dari
28
Ibid, h. 16-17, Irwan Masduqi, Berislam Secara
Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama, LihatYusuf alQardhawi, Kayfa Nata’amalu ma’a al-Turats wa Tamadhub wa alIkhtila<f, Cet. II, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2004), h. 149-150
29
Ibid, h. 16-17, Irwan Masduqi, Berislam Secara
Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama, Lihat Ragab ElBanna, Syi’ah wa al-Sunnah wa Ikhtilafat al-Fiqh wa al-Fiqr wa alTarikh, (Kairo: Dar al-Maarif, t.th.), h. 58
À1šXS›\-‚ \IÁªÔoWà R‰<\BXT ×1Á¯Pˆq C°K% QWm°ÝÙÓW% rQ¯ ßSÄîq\yXT
°Äˆn~¸XT °Äˆn~ƒ r¯Û WDSÁ°Ý=Äc WÛÏ°Š
˼˹
§ª¬¬¨ WÛܪŽ*À-Ú ° Õ1„i°ÃÊ ¿º×q)]XT
§ª¬­¨ |ÚÜ°=¦ÔUÀ-Ù p °VÅf ŒXT ¥ˆ‰< C
¨ Wà WÛÜ°Ù\ÈÙXT [ÁÙkWÓÙ WÛÜ°-°À›[ÙXT
Terjemahan: 133dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa,
(134)(yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.
69
kesombongan
karena
pemarah
seakan-akan
31
perilakunya sesuai dengan maksud Allah.
C. PENUTUP
Untuk menumbuhkan sikap tersebut pendidikanlah yang paling tepat, utamanya pendidikan
Islam untuk dijadikan wadah menyemai benih
toleransi, harmoni kehidupan dan penghargaan yang
tulus atas realitas keragaman kultural-religius
masyarakat. Sebab pendidikan Islam yang menjadi
subsistem pendidikan nasional menjadi salah satu
media yang paling efektif untuk melahirkan generasi
yang memiliki pandangan yang mampu menjadikan
keragaman sebagai bagian yang harus diapresiasi
32
Minimal, pendidikan Islam
secara konstruktif.
mampu memberi penyadaran (consciousness)
kepada masyarakat bahwa konflik bukan sesuatu hal
yang baik untuk dibudayakan dan mampu memberi
tawaran-tawaran yang mencerdaskan, antara lain
dengan cara mendesain materi, motode, hingga
kurikulum yang memberi ruang penyadaran kepada
masyarakat akan pentingnya sikap saling toleran,
menghormati perbedaan suku, agama, ras, etnis dan
budaya masyarakat Indonesia yang multikultural.
Untuk menjadi seorang muslim yang toleran,
hendaknya mengakui dan menghargai adanya
pluralitas pemahaman dan keyakinan tanpa harus
membenarkan
semuanya.
Konsep
pluralitas
merupakan satu sunatullah yang diberikan oleh Allah
swt, hal ini tersirat dalam Qs. Hud (11):119, “jikalau
Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan
manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa
berselisih pendapat”. Dalam Qs. al-Maidah (5):48,
Allah mengisyaratkan yang menandakan adanya
pluralitas dengan makna bahwa “untuk tiap-tiap umat
diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang
terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu
dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak
menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu,
maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan”.
DAFTAR PUSTAKA
Cholil. Suhadi (editor), Resonansi Dialog Agama dan
Budaya:
Dari
Kebebasan
Beragama,
Pendidikan Multikultural, sampai RUU Anti
Pornografi, Yogyakarta: Center for Religius &
Cross-Studies (CRCS.
Christiani. Tabika Kartika, “Blessed are The
Peacemaker: Christian Religiuos Education
for Peacebuilding in The Pluralistic
Indonesian Context”, Dissertation, The
Graduate School of Arts and Sciences
Institute of Religious Education, and Pastoral
Ministery of Boston College, 2005.
Masduqi. Irwan, Berislam Secara Toleran: Teologi
Kerukunan
Umat
Beragama,
Bandung:Mizan, 2011.
Mahfud.
Choirul,
Pendidikan
Multikultural,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Misrawi. Zuhairi, Pandangan Muslim Moderat:
Toleransi, Terorisme dan Oase Perdamaian
Jakarta:Penerbit Buku Kompas, 2010.
Noer. Kautsar Azhari, “Pluralisme dan Pendidikan di
Indonesia: Menggugat Ketidakberdayaan
Sistem Pendidikan Agama” dalam Th.
Sumartana, dkk., Pluralisme, Konflik, dan
Pendidikan
Agama
di
Indonesia,
(Yogyakarta: Interfidei, 2001
Nuryatno. M. Agus, “Islamic Education in Pluralistic
Society”, dalam Al-Jami’ah, Journal of
Islamic Studies, Vol. 49, Number 2,
2011/1432, State Islamic University (UIN)
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Ngainun Naim & Achmad Sauqi, Pendidikan
Multikultural
Konsep
dan
Aplikasi,
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.
H. Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam:
Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan,
Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2006.
El-Banna. Ragab, Syi’ah wa al-Sunnah wa Ikhtilafat
al-Fiqh wa al-Fiqr wa al-Tarikh, Kairo: Dar
al-Maarif, t.th.
Abdullah. M. Amin, “Pengajaran Kalam dan Teologi
dalam Era Kemajemukan di Indonesia:
Sebuah Kajian Teori dan Metode” dalam Th.
Sumartana, dkk., Pluralisme, Konflik, dan
Pendidikan Agama di Indonesia, Yogyakarta:
Interfidei, 2001.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007
tentang pendidikan agama dan pendidikan
keagamaan
Azra. Azyumardi, Pendidikan Islam: Tradisi dan
Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium
III, Jakarta: Kencana, 2012.
Rahardjo. Turnomo, Menghargai Perbedaan Kultural:
Mindfulness dalam Komunikasi antar Etnis ,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
31
Ibid, h. 20, Irwan Masduqi, Berislam Secara
Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama, Lihat, Abu
Hamid al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, Vol.III, (Beirut: Dar alKutub al-Ilmiyyah, 2002), h. 227-233
32
Ngainun Naim & Achmad Sauqi, Pendidikan
Multikultural Konsep dan Aplikasi (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2008), h. 8
70
al-Ghazali. Abu Hamid, Ihya ‘Ulum al-Din, Vol.III,
Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002
Raharjo. M. Dawam “Pengantar Fanatisme dan
Toleransi” dalam Irwan Masduqi, Berislam
Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat
Beragama, Bandung:Mizan, 2011.
Seymour. Jack L., et.al, Educating Christian: The
Intersection of Meaning, Learning, and
Vocation, Nashville: Parthenon Press, 1997
Th.
Sumartana, dkk., Pluralisme, Konflik, dan
Pendidikan Agama di Indonesia, Yogyakarta:
Interfidei, 2001
Tim Penyusun Kamus
Pusat Bahasa, Kamus
Bahasa Indonesia, Jakarta:Pusat Bahasa,
2008
Yaqin. M. Ainul. Pendidikan Multikultural: CrossKultural Understanding untuk Demokrasi dan
Keadilan, Yogyakarta: Pilar Media, 2005.
al-Qardhawi. Yusuf, Kayfa Nata’amalu ma’a alTura<ts wa Tamadhub wa al-Ikhtila<f, Cet. II,
(Kairo: Maktabah Wahbah, 2004.
Zahra. Abu, Malik: Hayatuha wa ‘Asruhu, Arauhu wa
Fiqhuhu, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 2002
71
Fly UP