...

PERANAN KEPEMIMPINAN DALAM MEMBENTUK PERILAKU

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

PERANAN KEPEMIMPINAN DALAM MEMBENTUK PERILAKU
PERANAN KEPEMIMPINAN DALAM MEMBENTUK
PERILAKU INDIVIDU DALAM BERORGANISASI PADA UMKM
(Studi Kasus Manajemen Kepemimpinan UMKM Genteng di Trenggalek)
Amiartuti *
Abstrak
Masalah utama kepemimpinan adalah perkembangan bakat dari berbagai
latar belakang etnis, pendidikan dan status sosial
yang berbeda. Tetapi
perkembangan kepemimpinan masih dipandang sebagai seni dibanding ilmu. Suatu
pemikiran pengembangan kepemimpinan yang tetap dipakai adalah seorang
pemimpin yang menjanjikan, membutuhkan mentor atau model peran. Modelmodel peran ini diasumsikan dapat berfungsi sebagai mentor bagi kaum muda yang
berkeinginan merintis jalan dalam sebuah sistem sosial yang memiliki banyak
halangan terhadap kesuksesannya. Orang yang bercita-cita pada kepemimpinan
disarankan untuk belajar dari seorang mentor. Dari sisi ini di butuhkan sebuah figure
keberhasilan yang mereka atau UMKM katakan adalah figur Kepemimpinan.
Kepemimpinan merupakan suatu proses. Agar bisa memimpin, pemimpin harus
melakukan sesuatu. Seperti telah diobservasi oleh John Gardner (1986-1988)
kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritas. Kendati posisi otoritas
yang diformalkan mungkin sangat mendorong proses kepemimpinan, namun
sekedar menduduki posisi itu tidak menandai seseorang untuk menjadi pemimpin
Kata Kunci: Kepemimpinan, pengembangan, sistem sosial
1. PENDAHULUAN
Pendapatan merupakan suatu masalah yang sangat serius dan sangat penting
dalam kehidupan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dan untuk memperoleh
pendapatan seseorang harus memproduksi barang atau jasa, sehingga hasil produksi
tersebut dapat dinikmati orang lain. Dalam hal ini produksi yang dimaksud adalah
indusri pembuatan genteng. Pelatihan untuk mengetahui besarnya rata-rata produksi
dan pendapatan UKM genteng dan tingkat efisiensi usaha yang dijalankan oleh
UKM genteng.
UKM genteng hendaknya menjalin hubungan kerja yang baik dengan pihak
lain. Hal ini bertujuan untuk memperlancar proses produksi dan pemasaran
sehingga pendapatan yang diperoleh meningkat. Di Indonesia kelompok industri
kecil dan industri rumah tangga merupakan bagian terbesar dari komunitas ekonomi
*
Amiartuti adalah dosen Dpk pada Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
127
lemah. Sekalipun jenis industri ini memberikan kontribusi yang tidak terlalu besar
pada PDRB, rendah produktivitasnya tetapi sangat berarti menyerap limpahan
kelompok pekerja tertinggal di perkotaan maupun pedesaan. Menurut Abdul Latif
(1997:2) dari aspek ketenagakerjaan usaha kecil dan menengah diartikan sebagai
berikut :
1.
Unit usaha kecil industri rumah tangga (cottage indutries) yang menggunakan
tenaga kerja 1-4 orang;
2.
Unit usaha kecil yang menggunakan tenaga kerja antara 5-19 orang; dan
3.
Usaha menengah dyang menggunakan tenaga kerja antara 20-99 orang.
Peran industri rumah tangga sebagai penampung tenaga kerja sangat besar jika
dibanding dengan industri kecil maupun menengah. Menurut Abdul Latif (1997:2)
jumlah tenaga kerja pada masing-masing kelompok industri kecil dan menengah di
Indonesia cukup tinggi. Pertumbuhan jumlah tenaga kerja pada industri rumah tangga
maupun indutri kecil meningkat sangat berarti baik dari penyerapan tenaga kerja
maupun pertumbuhan unit usaha. Untuk industri rumah tangga mendekati jumlah 30.5
juta orang, bekerja pada 20 juta unit usaha. Sedangkan pada kelompok industri
menengah
menunjukkan
pertumbuhan
statis.
Depnaker
telah
menetapkan,
pengembangan usaha kecil dan menengah mempunyai dua pola utama yaitu
pengembangan unit usaha yang telah ada dan penciptaan usaha baru. Berdasarkan
SUPAS 1995 dan Sensus Penduduk 1990, diproyeksikan kelompok industri rumah
tangga ditargetkan masih akan menjadi pilihan utama untuk menampung tenaga kerja
sebesar 4.06 juta yang tersebar pada 6.100 unit usaha. Pada industri kecil ditargetkan
311 ribu orang dan tersebar pada 27.7 ribu unit usaha, sedangkan pada industri
menengah ditargetkan menampung 371.8 ribu orang pada 6.198 unit usaha menengah.
Dari sisi ini di butuhkan sebuah figure keberhasilan yang mereka atau UMKM
katakan adalah figur Kepemimpinan
Secara teoritik kepemimpinan dapat ditelaah melalui teori-teori yang lahir
dinegara
Barat seperti, teori sifat, teori perilaku, yeori kontingensi, teori
transaksional, teori transformasional dan teori kharismatik. Akan tetapi dalam
banyak hal teori-teori tersebut di dalam prakteknya perlu pertimbangan yang lebih
cermat, terutama bagi negara yang latar belakangnya berbeda dengan negara
pencetus teori. Sejak Tahun 80-an kajian manajemen kontemporer mulai beranjak
keluar dari bahasan yang sempit tentang kepemimpinan kearah dimensi yang lebih
128
Media Mahardhika Vol. 11 No 1 September 2012
luas. Kepemimpinan tidak lagi dupandang sebagai pemimpin terhadap manusia
semata, tetapi juga pemimpin terhadap perubahan. Seorang pemimpin tidak hanya
mempengaruhi bawahan, akan tetapi sebagai titik sentral yang mementukan arah
perjalanan organisasi dalam kaitannya dalam berbagai kemungkinan perubahan
yang terjadi pada lingkungan organisasi.
Pertanyaan yang lahir dari kedekatan kepemimpinan adalah bagaimana
kepemimpinan itu dapat memnghadirkan sebuah peningkatan produktifitas pada
UMKM Genteng di Trenggalek?
2. TINJAUAN TEORI
Kepemimpinan
Menurut Definisi Kepemimpinan menurut Locke, E.A pada umumnya
adalah sebagai suatu proses membujuk (inducing) orang lain menuju sasaran
bersama. Definisi tersebut mencakup tiga hal antara lain :
1. Kepemimpinan
merupakan
suatu
konsep
relasi
(relational
concept).
Kepemimpinan hanya ada dalam proses relasi dengan orang lain (para
pengikut). Apabila tidak ada pengikut, maka tidak ada pemimpin. Dalam
definisi ini bahwa para pemimpin yang efektif harus mengetahui bagaimana
membangkitkan inspirasi dan berrelasi dengan para pengikut mereka.
2. Kepemimpinan merupakan suatu proses. Agar bisa memimpin, pemimpin harus
melakukan sesuatu. Seperti telah diobservasi oleh John Gardner (1986-1988)
kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritas. Kendati posisi
otoritas yang diformalkan mungkin sangat mendorong proses kepemimpinan,
namun sekedar menduduki posisi itu tidak menandai seseorang untuk menjadi
pemimpin.
3. Kepemimpinan harus membujuk orang lain untuk mengambil tindakan.
Pemimpin membujuk pengikutnya melalui berbagai cara, seperti menggunakan
otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan
sasaran, memberi imbalan dan hukum, restrukturisasi organisasi, dan
mengkomunikasikan visi.
Bass dan Avolio (1990) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional
tidak hanya mengakui kebutuhan bawahan, tetapi juga berusaha meningkatkan
kebutuhan tersebut dari tingkatan yang rendah ke tingkatan yang lebih tinggi
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
129
sampai ke tingkatan yang mapan.
Dengan demikian proses kepemimpinan
transformasional dapat menghasilkan kemampuan bawahan untuk memimpin diri
mereka sendiri mengambil tanggung jawab bagi tindakannya sendiri dan
memperoleh imbalan melalui kemandirian yang kuat.
Bass (1985) mendefinisikan kepemimpinan transformasional sebagai
pengaruh pemimpin atau atasan terhadap bawahan. Pada prinsipnya kepemimpinan
transformasional adalah memotivasi bawahan untuk berbuat lebih baik dari apa
yang bisa dilakukan dengan kata lain dapat meningkatkan kepercayaan atau
keyakinan diri bawahan.
Pawar dan Eastman (1997:80-109) menyatakan bahwa kharisma merupakan
kunci potensi strategi kepemimpinan.
Sedangkan menurut Howell (1988: 213-236) menyatakan bahwa secara
personal, kharisma tidak bekerja untuk mengembangkan bawahan menjadi
pemimpin. Pada kenyataannya pemimpin kharismatik enggan memberi wewenang
kepada bawahannya, karena pemberian wewenang seperti itu dapat mengancam
kedudukan atau status kepemimpinan.
Bass (1985) memberikan pemahaman yang lebih luas bahwa kepemimpinan
kharismatik lebih dari sekedar keyakinan terhadap kepercayaan, tetapi mereka
memiliki kemampuan supernatural.
Bawahan sebagai bagian dari kepemimpinan Kharismatik tadak hanya
percaya dan hormat pada pimpinannya, tetapi mereka menjadikan idola dan pujaan
sebagai figur spritual.
Pada kondisi persaingan yang tidak pasti dikategorikan sebagai sangat
berisiko dalam arti bawha setiap keputusan yang diambil dapat berdampak buruk
dan berisiko bagi perusahaan. Kondisi yang berisiko tersebut akan menimbulkan
kecemasan baik dari pihak pimpinan, terlebih para bawahan, sehinnga dalam
kondisi demikian sangat dibutuhkan kepemimpinan yang kharismatik.
Saat ini Kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik untuk selalu
dikaji dan diteliti, karena aspek fenomenal yang paling sedikit dipahami.
Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen walaupun tidak
seluruhnya. Sebagai contoh para manajer harus merencanakan dan mengorganisasi,
tetapi peran utama dari kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Fenomena kepemimpinan di negara
130
Media Mahardhika Vol. 11 No 1 September 2012
Indonesia juga telah membuktikan bagaimana kepemimpinan telah berpengaruh
sangat besar terhadap kehidupan berpolitik dan bernegara. Dalam dunia bisnis,
kepemimpinan berpengaruh sangat kuat terhadap jalannya organisasi dan
kelangsungan hidupnya.
Masalah utama kepemimpinan adalah perkembangan bakat dari berbagai
latar belakang etnis, pendidikan dan status sosial
yang berbeda. Tetapi
perkembangan kepemimpinan masih dipandang sebagai seni dibanding ilmu. Suatu
pemikiran pengembangan kepemimpinan yang tetap dipakai adalah seorang
pemimpin yang menjanjikan, membutuhkan mentor atau model peran. Modelmodel peran ini diasumsikan dapat berfungsi sebagai mentor bagi kaum muda yang
berkeinginan merintis jalan dalam sebuah sistem sosial yang memiliki banyak
halangan terhadap kesuksesannya. Orang yang bercita-cita pada kepemimpinan
disarankan untuk belajar dari seorang mentor. Bagaimana perilaku
pemimpinan yang baik untuk dapat mempengaruhi
dan sikap
kinerja karyawan dalam
organisasinya.
Kepemimpinan Dalam Organisasi
Dalam suatu organisasi diperlukan adanya seorang pemimpin untuk
mengatur dan bertanggung jawab atas jalannya suatu proses dalam organisasi
tersebut. Figur pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memahami dan
menyadari bahwa keteladanan yang diberikannya, berdaya pengaruh jauh lebih
hebat dibandingkan bila ia hanya mengkhotbahkannya, dan bisa menjadi sebuah
alat yang ampuh dan efektif yang mampu menunjang kinerja organisasi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pemimpin yang berhasil adalah mereka yang memiliki wawasan pribadi
untuk tumbuh bersama organisasi dan mengubah pandangan mereka sendiri, atau
menyadari keterbatasan mereka dan memungkinkan bentuk kepemimpinan yang
lain muncul. Organisasi yang terus berhasil akan memaksa pemimpin untuk
memperhitungkan bagaimana cara menumbuhkan proses yang tadinya dapat
bekerja dalam skala kecil dan dengan orang muda ke dalam proses yang berfungsi
dalam skala global dengan karyawan yang makin matang.
Untuk menciptakan dan menghidupkan suatu organisasi, diperlukan suatu
visi, keyakinan dan energi yang kuat. Diperlukan suatu penilaian, kebajikan, dan
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
131
ketrampilan dalam mengumpulkan kelompok-kelompok orang yang besar untuk
bersama-sama menjalankan proses pada skala global dengan penduduk yang
beragam secara geografis dan usia. Satu hal yang semakin jelas dapat dilihat dari
perkembangan lembaga atau organisasi masa lampau menjadi bentuk baru
pemerintahan, dan kepemimpinan dituntut untuk dipelajari.. Oleh karena itu,
pemimpin diharapkan memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.
Tingkat persepsi dan wawasan yang luar biasa terhadap realita dunia dan
terhadap diri mereka sendiri.
2.
Tingkat motivasi yang luar biasa yang dapat menguatkan mereka
menghadapi pembelajaran dan perubahan yang terjadi
3.
Kekuatan emosional untuk mengatasi kecemasan diri sendiri dan orang lain
4.
Kemauan dan kemampuan tunuk melibatkan orang lain dan menarik
partisipasi mereka untuk menyelesaikan suatu permasalahan bersama.
5.
Kemauan dan kemampuan untuk membagi kekuasaan dan control menurut
pengetahuan dan ketrampilan orang.
Kita adalah pemimpin di satuan kerja kita masing-masing. Sebagai seorang
pemimpin, kita dituntut untuk memiliki karakteristik-karakteristik khusus
disamping begitu banyak sifat-sifat yang sudah kita miliki. Pada umumnya, orang
beranggapan bahwa organisasi tiu baik atau buruk dilihat dari siapa yang
memimpin dan bagaimana sikap yang ditunjukkan dalam kesehariannya serta
bagaimana caranya dalam bersosialisasi dengan bawahannya. Semua hal tersebut
sangat berpengaruh dalam kinerja organisasi termasuk menjaga nama baik
organisasi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Santa Clara University dan
Tom Peters Group/Learning Systems terhadap lebih dari 5000 manajer senior,
disimpulkan sepuluh watak yang paling dikagumi dari seseorang pemimpin sebagai
berikut :
1.
Jujur (honest),
2.
Kompeten (competent),
3.
Melihat ke depan (forward-looking),
4.
Selalu memicu inspirasi (inspiring),
5.
Pandai dan cerdas (intelligent),
6.
Obyektif, berlaku adil (fair-minded),
7.
Berwawasan luas (broadminded),
132
Media Mahardhika Vol. 11 No 1 September 2012
8.
Berani mengambil resiko (courageous),
9.
Tidak basa-basi, langsung pada persoalan (straightforward),
10.
Penuh imajinasi (imaginative).
Perilaku Pemimpin
Berbagai riset menunjukkan bahwa tipe kepemimpinan sangat bervariasi
berdasarkan situasi yang dihadapi. Tipe kepemimpinan dapat juga digambarkan ke
dalam gambar berikut :
Gambar 1, Tipe Kepemimpinan Berdasarkan Tingkah Laku
Apabila dilihat pada gambar di atas maka tampaklah bahwa setiap tipe
kepemimpinan merupakan kombinasi antara tingkah laku kepemimpinan yang
direktif dan suportif. Kombinasi ini dibedakan atas tiga dimensi, yaitu :
1. Kadar direktif yang diberikan oleh pemimpin.
2. Kadar suportif yang diberikan oleh pemimpin.
3. Kadar keterlibatan bawahan dalam pengambilan keputusan
Catatan :

Tingkah laku yang direktif adalah tingkah laku dimana pemimpin menggunakan
komunikasi satu arah, memerintahkan bawahan terhadap apa, dimana, kapan,
dan bagaimana sesuatu harus dikerjakan, mengabaikan pendapat-pendapat
bawahan serta mengawasi bawahan secara ketat.

Tingkah laku suportif adalah tingkah laku di mana pemimpin menggunakan
komunikasi dua arah, mendengarkan, memberikan bantuan dan semangat,
mengadakan interaksi dan melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan.
Keterangan gambar 2 di atas :
 Tipe I (T.1), seorang pemimpin memberikan direktif tinggi dan suportif
yang rendah. Dia memberikan perintah-perintah yang harus dikerjakan oleh
bawahan dengan memberikan pengawasan yang ketat.
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
133
 Tipe 2 (T.2), adalah tipe seorang pemimpin yang memberikan direktif dan
suportif yang tinggi. Dia memberikan penjelasan tentang keputusankeputusan yang akan diambil dan memperhatikan saran-saran yang
diberikan oleh bawahan, namun tetap memberikan direktif yang berupa
penyelesaian tugas-tugas bawahan.
 Tipe 3 (T.3), adalah tipe kepemimpinan yang memiliki ciri suportif tinggi
namun direktif rendah, pemimpin mengambil keputusan bersama-sama
dengan bawahan dan membantu usaha bawahan dalam upaya penyelesaian
tugas.
 Pada tipe 4 (T.4) seorang pemimpin memberikan direktif dan suportif yang
rendah. Dia menyerahkan pengambilan keputusan dan pertanggungan jawab
kepada bawahan.
Tingkah Laku Kepemimpinan Sebagai Bentuk Pemecahan Masalah dan
Pengambilan Keputusan
Berdasarkan
penjelasan
di
atas
dapat
disimpulkan
bahwa
tipe
kepemimpinan seseorang tidak hanya dilihat dari segi pemimpin, tetapi juga harus
dilihat dari segi yang dipimpin (bawahan). Oleh karena itu dalam proses pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan, tipe seorang pemimpin dapat didefinisikan
sebagai berikut :
Gambar 2, Empat Tipe Dasar Kepemimpinan sebagai Bentuk-bentuk
Proses Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan
Berdasarkan gambar 3 diatas tampaklah bahwa :
 Tipe 1 disebut tipe instruktif, sebab tipe ini ditandai dengan adanya komunikasi
satu arah. Pemimpin membatasi peran bawahan dan menunjukkan kepada
bawahan apa, kapan, di mana, bagaimana sesuatu tugas harus dilaksanakan.
Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata menjadi
134
Media Mahardhika Vol. 11 No 1 September 2012
wewenang pemimpin, yang kemudian diumumkan kepada para bawahan.
Pelaksanaan pekerjaan diawasi secara ketat oleh pemimpin.
Ciri-ciri gaya kepemimpinan ini adalah :
a. Pemimpin memberikan sedikit dukungan dan banyak pengarahan.
b. Pemimpin memberikan batasan peranan bawahan.
c. Pemimpin memberitahukan bawahan tentang apa, bilamana, dimana, dan
bagaimana bawahan melaksanakan tugasnya.
d. Inisiatif pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata
dilakukan oleh pemimpin.
e. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan diumumkan oleh pemimpin,
dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh pemimpin.
 Tipe 2 disebut tipe konsultatif, sebab kepemimpinan tipe ini masih memberikan
instruksi yang cukup besar serta penetapan keputusan-keputusan dilakukan oleh
pemimpin. Bedanya adalah bahwa tipe konsultatif ini menggunakan komunikasi
dua arah dan memberikan suportif terhadap bawahan mendengar keluhan dan
perasaan bawahan tentang keputusan yang diambil. Sementara bantuan
ditingkatkan, pengawasan atas pelaksanaan keputusan tetap pada pemimpin.
Ciri-ciri gaya kepemimpinan ini adalah :
a. Pemimpin memberikan banyak pengarahan maupun dukungan.
b. Pemimpin mengadakan komunikasi dua arah dan berusaha mendengarkan
perasaan, gagasan, dan saran bawahan.
c. Pengawasan dan pengambilan keputusan tetap pada pemimpin.
 Tipe 3 disebut tipe partisipatif, sebab kontrol atas pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan seimbang antara pemimpin dan bawahan, pemimpin
dan bawahan sama-sama terlibat dalam pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan. Komunikasi dua arah makin bertambah frekuensinya, pemimpin
makin mendengarkan secara intensif terhadap bawahannya. Keikutsertaan
bawahan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan makin banyak,
sebab pemimpin berpendapat bahwa bawahan telah memiliki kecakapan dan
pengetahuan yang cukup luas untuk menyelesaikan tugas.
Ciri-ciri gaya kepemimpinan ini adalah :
a. Pemimpin memberikan dukungan tinggi dan sedikit pengarahan.
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
135
b. Posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dipegang
secara berganti antara pemimpin dan bawahan.
c. Komunikasi dua arah ditingkatkan.
d. Pemimpin mendengarkan bawahan secara aktif.
e. Tanggung jawab pemecahan masalah dan pengambilan keputusan sebagian
besar pada bawahan.
 Tipe 4 disebut tipe delegatif, sebab pemimpin mendiskusikan masalah-masalah
yang dihadapi dengan para bawahan dan selanjutnya mendelegasikan
pengambilan keputusan seluruhnya kepada bawahan. Selanjutnya menjadi hak
bawahan untuk menentukan bagaimana pekerjaan harus diselesaikan. Dengan
demikian bawahan diperkenankan untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai
dengan keputusannya sendiri sebab mereka telah dianggap memiliki kecakapan
dan dapat dipercaya untuk memikul tanggung jawab untuk mengarahkan dan
mengelola dirinya sendiri.
Ciri-ciri gaya kepemimpinan ini adalah :
a. Pemimpin memberikan sedikit dukungan maupun pengarahan.
b. Pemimpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan sehingga
tercapai kesepakatan tentang definisi masalah yang dihadapi.
c. Pengambilan keputusan didelegasikan sepenuhnya kepada bawahan.
d. Bawahan memiliki kontrol untuk memutuskan tentang cara melaksanaan
tugas.
e. Pemimpin berkeyakinan bahwa bawahan dapat memikul tanggung jawab dan
dapat mengarahkan diri sendiri.
Tidak ada Tipe Kepemimpinan yang Paling Baik
Banyak ahli berpendapat bahwa dari keempat tipe tersebut, tipe yang paling
baik adalah tipe yang dapat memadukan secara maksimum antara produktivitas dan
kepuasan, pertumbuhan, dan pembangunan manusia dalam semua situasi. Namun
riset menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada tipe kepemimpinan yang terbaik.
Yang penting adalah apabila dia dapat menyesuaikan tipe kepemimpinannya
dengan situasi yang dihadapi. Termasuk dalam pengertian situasi adalah waktu,
tuntutan pekerjaan, suasana organisasi, para pimpinan, rekan sekerja, kemampuan
bawahan, dan harapan-harapan (tujuan organisasi maupun tujuan bawahan). Sejauh
136
Media Mahardhika Vol. 11 No 1 September 2012
mana seorang pemimpin harus memperhatikan situasi akan sangat tergantung
dengan apa yang dinamakan Tingkat perkembangan yang ditunjukkan oleh
bawahan dalam tugas yang spesifik, fungsi, dan tujuan pemimpin yang ingin
dicapai.
Berdasarkan empat gaya kepemimpinan di atas maka timbul pertanyaan;
Adakah kepemimpinan yang terbaik? Jawabnya adalah tidak ada gaya
kepemimpinan yang terbaik. Yang ada adalah kepemimpinan yang berhasil, yaitu
pemimpin yang mampu mengadaptasikan gayanya agar sesuai dengan situasi
tertentu. Hal ini erat kaitannya dengan tingkat perkembangan dan kematangan
bawahan dalam melaksanakan suatu tugas tertentu.
3. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada saat melakukan pengabdian Masyarakat
di daerah Trenggalek dengan pertimbangan bahwa baik data maupun informasi
yang dibutuhkan mudah diperoleh.
Jenis dan Sumber Data
1. Sumber Data
a) Data Primer yaitu data yang diperoleh melalui hasil penelitian secara
langsung terhadap obyek yang diteliti yaitu para UMKM Genteng
Kabupaten Trenggalek
b) Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dan berbagai sumber dokumendokumen atau laporan tertulis lainnya yang ada pada Dinas Koperasi
kabupaten Trenggalek
2. Jenis Data
a) Data Kuantitatif, data yang dapat dihitung berupa angka-angka
b) Data Kualitatif, data yang tidak dapat dihitung atau data yang berbentuk
informasi, yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pimpinan
perusahaan dan pelaku UMKM.
Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini maka digunakan metode
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
137
sebagai berikut:
1. Penelitian Lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung
terhadap objek penelitian. Teknik yang digunakan adalah:
a) Wawancara (interview) yaitu melakukan wawancara Iangsung terhadap
responden yang dalam hal ini adalah karyawan, hal ini dimaksudkan
melalui percakapan dua arah atas inisiatif pewawancara demi memperoleh
informasi dan responden.
b) Dokumentasi yaitu mendapatkan data tertulis yang dibutuhkan, yang
berasal dan dokumen dan catatan-catatan perusahaan seperti : jumlah
karyawan, besarnya gaji dan upah yang diberikan, serta data lainnya yang
dibutuhkan dalam penelitian ini.
c) Kuesioner (angket) yaitu pengumpulan data melalui daftar pertanyaan
yang disiapkan masing-masing responden.
2. Penelitian Kepustakaan, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh
konsep dan landasan teori dengan mempelajari berbagai literature, buku, dan
dokumen yang berkaitan dengan objek pembahasan.
Pengukuran Instrumen Penelitian Skala
Untuk memperoleh data yang diperlukan di dalam penelitian ini digunakan
teknik survei dengan angket. Angket adalah daftar pertanyaan yang
didistribusikan melalui pos untuk diisi dan dikembalikan atau dapat juga dijawab
di bawah pengawasan peneliti. Instrumen variabel penelitian diperoleh melalui
jawaban responden dengan memberikan tanda pada setiap kategori pernyataan
yang disusun berdasarkan skala Likert dengan 5 poin. Setiap jawaban responden
akan diberi skor dan jumlah skor menunjukkan tinggi rendahnya masing-masing
variabel yang diukur. Skor yang diberikan pada setiap jawaban responden
adalah:
1. Sangat Setuju (SS) dengan skor 5.
2. Setuju (S) dengan skor 4.
3. Cukup Setuju (CS) dengan skor 3.
4. Tidak Setuju (TS) dengan skor 2.
5. Sangat Tidak Setuju (STS) dengan skor 1.
Dari hasil penelitian yang dikumpulkan maka selanjutnya akan dapat
138
Media Mahardhika Vol. 11 No 1 September 2012
disajikan metode analisis secara kualitatif berdasar prosentase persetujuan ketika
dilakukan 5 pertanyaan tentang Vision, Optimizing, Integrity, Communication,
Empowering.
4. HASIL DAN INTERPRETASI DATA
Untuk membangun kepemimpinan berdasarkan tim (teamwork-based
leadership) yang efektif diperlukan lima hal pokok (ingredients) yang dapat
dijadikan acuan untuk menilai atau mengevaluasi performance sebuah tim di dalam
tantangan yaitu V.O.I.C.E.
1. Vision (visi atau sasaran yang disepakati oleh seluruh anggota tim atau lebih
jelas dikatakan sebagai shared vision). Setiap anggota tim mengetahui dan
memahami secara jelas sasaran yang ingin dicapai timnya. Ini adalah rahasia
pertama konsep manajemen yang ditulis oleh Kenneth Blanchard dan Spencer
Johnson dalam buku mereka yang sangat terkenal, The One Minute Manager.
Bayangkan sebuah permainan sepak bola tanpa ada gawangnya. Ini akan
membuat seluruh pemain frustrasi dan bergerak tanpa tujuan. Disamping itu
perubahan apapun yang dialami oleh sebuah tim jika memiliki tujuan pasti akan
tercapai, dalam ilustrasi diatas tim sepak bola memiliki satu tujuan yaitu
memasukkan bola ke gawang lawan meskipun strategi dalam tim berbeda
berdasarkan lawan yang dihadapi tetapi tujuannya tetap sama yaitu mencetak
angka kemenangan. Dan hal itulah yang menyebabkan tim tetap solid meskipun
adanya perubahan.
2. Optimizing. (mengoptimalkan kemampuan individu dalam tim). Ini berarti
melengkapi setiap anggota tim dengan kemampuan untuk mengenali potensi
dirinya, kemampuan untuk mendayagunakannya, serta kemampuan untuk
belajar guna meningkatkan potensi dirinya secara terus menerus. Pendeknya,
kepemimpinan
berarti
menginspirasi,
memotivasi
dan
menumbuhkan
antusiasme kepada diri sendiri atau sesama anggota tim untuk mengoptimalkan
kemampuannya. Disini para pemimpin dituntut untuk menyiapkan sebuah tim
yang siap dalam menghadapi permasalahan baru atau perubahan tantangan
baru.
3. Integrity. Setiap anggota tim apalagi yang merasa dirinya pemimpin harus
mampu menunjukkan integritas sehingga tercipta rasa saling percaya dan saling
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
139
menghargai dalam tim yang pada gilirannya dapat menciptakan sinergi positif
untuk mencapai sasaran secara lebih cepat dan efisien. Integritas adalah sifat
yang dapat dipercaya, selalu menepati janji, jujur, memiliki komitmen yang
tinggi terhadap tugas atau terhadap apapun yang telah disepakatinya, serta
memiliki karakter yang baik dan solid. Integritas berarti satunya kata dan
perbuatan, serta senantiasa konsisten dengan apa yang diyakininya. Di dalam
tim integritas harus ditanamkan dalam setiap anggota tim karena faktor ini
sangat penting untuk meredam adanya konflik didalam suatu tim.
4. Communication. Dalam hal ini komunikasi berarti interaksi antar individu
anggota tim sehingga tercipta sinergi kelompok. Setiap anggota tim harus dapat
mengerti dan memahami anggota yang lainnya. Inilah yang disebut Covey (7
Habits of Highly Effective People) dengan komunikasi empatetik atau berusaha
untuk mengerti sebelum dimengerti. Komunikasi yang baik ini sangat
dibutuhkan untuk menyikapi di era saat ini karena di era globalisasi ini
informasi sangat banyak sekali dan cepat berubah sehingga jika
tim tidak
dapat berkomunikasi dengan baik satu dengan yang lainnya maka tim akan
termakan informasi yang menyebabkan kegagalan dalam sebuah tim.
Sebetulnya kunci dasar kemenangan sebuah tim adalah pada kelancaran
komunikasi diantara anggota tim. Betapa banyak perceraian atau krisis rumah
tangga, kegagalan proyek, perselisihan atau krisis yang dihadapi suatu
organisasi hanya karena tidak adanya atau buruknya komunikasi diantara
individu di dalamnya. Komunikasi berarti menciptakan irama dan getaran
harmonisasi yang melingkupi seluruh anggota tim, mengalir dan membawa
seluruh anggota tim ke arah tujuan dan sasaran bersama.
5. Empowering. Ini berarti bahwa setiap anggota tim harus memberdayakan satu
sama lain, saling mengisi, saling memberi inspirasi dan saling membangun
antusiasme di antara mereka. Seorang pemimpin dalam tim harus memiliki
kemampuan untuk memberdayakan anggota timnya. Memberdayakan anggota
tim memiliki tiga aspek penting, yaitu: pertama, membantu seseorang untuk
menggali dan menemukan potensi diri dan hal-hal terbaik dalam diri mereka,
serta membantu mereka menjadi apa yang terbaik bagi diri mereka (finding the
best). Kedua, membantu untuk melakukan penyempurnaan diri secara terus
menerus (lifetime improvements), dan ketiga membantu mereka dalam
140
Media Mahardhika Vol. 11 No 1 September 2012
berinteraksi dengan orang lain (networking). Di dalam era perubahan
permasalahan baru selalu timbul yang mana setiap anggota tim harus
mempunyai empowering untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dari
wawancara yang ada di dapatkan angka yang membuat pemahaman
kepemimpinan semakin penting.
Tabel 1
Analisis Secara Kualitatif Berdasar Prosentase Persetujuan
Uraian
SS
S
CS
TS
STS
1. Voice, bahwa pemimpin mampu
menyampaikan pada setiap anggota tim
40% 50% 10%
untuk mengetahui dan memahami secara
jelas sasaran yang ingin dicapai timnya
2. Optimizing dalam kepemimpinan
berarti menginspirasi, memotivasi dan
menumbuhkan antusiasme kepada diri
45% 55%
sendiri atau sesama anggota tim untuk
mengoptimalkan kemampuannya
3. Integrity pada setiap anggota tim
apalagi yang merasa dirinya pemimpin
harus mampu menunjukkan integritas
sehingga tercipta rasa saling percaya dan
70% 30%
saling menghargai dalam tim yang pada
gilirannya dapat menciptakan sinergi
positif untuk mencapai sasaran secara
lebih cepat dan efisien
4. Communication pada setiap anggota
tim harus dapat mengerti dan memahami
anggota
yang
lainnya,
dengan 40% 20% 40%
komunikasi empatetik atau berusaha
untuk mengerti sebelum dimengerti
5. Empowering yang menunjukkkan
seorang pemimpin dalam tim harus
60% 40%
memiliki
kemampuan
untuk
memberdayakan anggota timnya
Sumber: Olahan penulis berdasar interview 100 peserta UMKM genteng
Dengan kelima unsur pokok tersebut dapat tercipta kepemimpinan yang
didasarkan tim (teamwork-based leadership) yang mampu dalam menanggapi
permasalahan. Hal ini berarti bahwa kita semua perlu melakukan manajemen
diri yang sebaik-baiknya untuk menjadi seorang pemimpin dalam bidang
apapun dan sekaligus menjadi anggota tim (entah itu keluarga kita, kantor
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
141
tempat kita bekerja, lingkungan masyarakat tempat kita tinggal, dan
sebagainya) yang efektif sehingga dapat mencapai sasaran bersama.
5. SIMPULAN
Suatu organisasi merupakan unit kerja tertentu yang didalamnya terdapat
suatu proses yang diatur, dan diarahkan oleh seseorang yang disebut sebagai
pemimpinn dan bagaimana kepemimpinan itu dapat memnghadirkan sebuah
peningkatan produktifitas pada UMKM Genteng di Trenggalek maka seorang
pemimpin dalam melaksanakan kegiatannya tidak lepas dari peran orang-orang
yang ada dibawahnya. Pemimpin yang baik memahami bahwa teladan adalah
sebuah alat yang ampuh dan efektif. Mereka menyadari bahwa keteladanan yang
diberikannya berdaya pengaruh jauh lebih besar dan hebat dibandingkan bila ia
hanya mengkhtobahkannya. Bila menghendaki orang lain pada tim yang di
pimpinanya taat pada aturan yang telah ditetapkan, maka seorang pemimpin yang
baik harus lebih dahulu taat pada peraturan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
BAAS;BM.dan B.J Avolio (1994) Improving Organizational Effectiveness
Through
Transformational
Leadership.Thousand
Oaks:SAGE
Publications,Inc.
Cascio,Wayne F.1995.Managing Human Resources:Productivity,Quality of
;Worklife,Profit,Fourth Edition.Singapore:Moch Chamim NIP 060052210
GrawHill Inc.
Davis,Keith
and
Werther
WB;Human
Resource
Management,Gibson.1997.Manajemen.Jakarta:Erlangga
and
Personal
Harsiwi, Th. Agung M., 2003, Hubungan Kepemimpinan Transformasional dan
Karakteristik
Personal
Pemimpin,
19
Maret
2003,
URL:
http://artikel.us/amharsiwi2.html
Kartono,Kartini.1994.Psikologi Sosial Untuk Manajemen,Perusahaan dan
Industri.Jakarta:PT Raja Grafindo.
Locke, E.A., 1997, Esensi Kepemimpinan, Jakarta, Mitra Utama,.
Mangkunegara,AA.Anwar
Prabu,2002.Manajemen
Manusia.Bandung Remaja Rosdakarnya.
142
Sumber
Daya
Media Mahardhika Vol. 11 No 1 September 2012
Mangkuprawira,TbSyafri.2003.Manajemen
Strategik.Jakarta:Ghalia Indonesia.
Sumber
Daya
Manusia
Network And Security Monitoring Team Forum Silaturahmi Alumni PMR SMU 1
Magetan, 2001, Paradigma Baru Tentang Kepemimpinan, URL:
http://www.geocities.com/forsapmr/pardigma_baru_ttg_kepemimpinan.do
c, 17 November 2004.
Ramdhan,
Muhammad,
2004,
Memimpin
Sesuai
Keadaan,
URL:
http://img.gd.itb.ac.id/~adam98/pemimpin.html, 17 November 2004.
.
Santoso,Singgih.2002.Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik.Jakarta:PT Elex
Media KomputindoKelompok Gramedia.
Singarimbun,Masri
dan
Survai.Jakarta:LP3ES.
Sofian
Efendi.1995.Metode
Penelitian
Tichy,NM dan MA.Devanna.(1990).The Transformasional Leader.New York:John
Wiley
Yukl,GA.(1998).Leadership
hall.Inc.
in
Organizations
Englewood
Cliffs.NJ:Prentice
Peranan Kepemimpinan Dalam Membentuk ..........(Amartuti) h. 127- 143
143
Fly UP