...

Terapi Antiretroviral Lini Kedua pada НIV Anak di RS. Cipto

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Terapi Antiretroviral Lini Kedua pada НIV Anak di RS. Cipto
Artikel Asli
7HUDSL$QWLUHWURYLUDO/LQL.HGXDSDGD+,9$QDNGL
56&LSWR0DQJXQNXVXPR
Dina Muktiarti, Arwin AP Akib, Zakiudin Munasir, Nia Kurniati
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta
Latar belakang. Akses terhadap terapi antiretroviral (ARV) semakin mudah saat ini dan membuat angka
harapan hidup anak terinfeksi HIV semakin panjang. Dalam penanganan jangka panjang anak terinfeksi
HIV, salah satu masalah baru yang timbul adalah gagal terapi dan resistensi obat.
Tujuan. Menilai karakteristik pasien anak terinfeksi di RS. Cipto Mangunkusumo yang menggunakan terapi
ARV lini kedua dan indikasi penggantian ke terapi ARV lini kedua.
Metode. Penelitian kohort pasien anak terinfeksi HIV di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun 2002.
Kriteria inklusi adalah pasien anak terinfeksi HIV yang berobat di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun
2002 sampai April 2012 dan menggunakan salah satu obat antiretroviral lini kedua. Data yang diambil
adalah data demografis, kada CD4, jumlah virus, stadium klinis, dan kombinasi terapi ARV.
Hasil. Empatratus empat pasien anak terinfeksi HIV dan 44 (10,9%) menggunakan terapi antiretroviral
lini kedua. Sebagian besar (59,1%) gagal terapi adalah kombinasi antara kegagalan virologi, imunologis,
dan klinis. Median usia saat memulai terapi ARV lini kedua 69 (26-177) bulan. Median lama subyek
menggunakan terapi ARV lini pertama 9 (13-176) bulan. Seluruh subyek penelitian menggunakan lopinavir/
ritonavir sebagai salah satu obat ARV lini kedua dengan kombinasi terbanyak adalah didanosin, lamivudin,
dan lopinavir/ritonavir (40,9%). Efek samping didapatkan pada 2 pasien akibat abacavir. Sebagian besar
subyek (19/25) yang diperiksa jumlah virus pada 6-12 sesudah menggunakan ARV lini kedua mempunyai
hasil tidak terdeteksi.
Kesimpulan. Jumlah pasien yang menggunakan terapi ARV lini kedua tidak terlalu banyak karena deteksi
kegagalan terapi masih lebih banyak berdasarkan kegagalan klinis dan imunologis.
Sari Pediatri 2012;14(2):130-6.
Kata kunci: anak terinfeksi HIV, terapi antiretroviral lini kedua, gagal terapi
Alamat korespondensi:
Dr. Dina Muktiarti, Sp.A. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUIRSCM, Divisi Alergi-Imunologi. Jl. Salemba 6, Jakarta 10430. Telp.
(021) 316 1144. Fax. (021) 3913982.
130
A
ngka kejadian anak terinfeksi human
immunodeficiency virus (HIV) semakin
meningkat di Indonesia. Data Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia pada triwulan
pertama tahun 2012 menunjukkan bahwa sejak tahun
Sari Pediatri, Vol. 14, No. 2, Agustus 2012
Dina Muktiarti dkk: Terapi antiretroviral lini kedua pada HIV anak
1987 sampai awal 2012 terdapat 82.870 kasus infeksi
HIV di Indonesia. Kasus anak terinfeksi HIV sejak
tahun 2010 sampai dengan Maret 2012 1,4% (696
orang) dari 48.456 kasus. Jumlah tersebut meningkat
dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat 366
kasus anak di bawah usia 15 tahun menderita acquired
immunodeficiency syndrome (AIDS) sampai akhir tahun
2008.1,2
Terdapat akses untuk obat ARV di seluruh dunia
termasuk Indonesia, sehingga prognosis anak terinfeksi
HIV akan menjadi lebih baik. Hal tersebut terlihat dari
angka kematian pasien terinfeksi HIV yang turun.3,4
Salah satu konsekuensi angka harapan hidup yang
meningkat dari anak terinfeksi HIV adalah timbul
masalah baru antara lain kegagalan terapi dan masalah
resistensi obat. Resistensi obat ARV merupakan
konsekuensi supresi yang tidak sempurna dari replikasi
HIV oleh obat ARV.5
Masalah resistensi obat dan kegagalan terapi
pada anak terinfeksi HIV belum banyak dipublikasi
terutama di Indonesia. Obat-obat antiretroviral
(ARV) di Indonesia tersedia dimulai dengan obat
ARV lini pertama dan hanya dua macam obat yaitu
zidovudin dan lamivudin. Formulasi untuk anak baru
tersedia sejak tahun 2009 dan sebelumnya anak yang
memerlukan obat ARV akan memakai tablet dewasa
yang dibelah atau dibuat puyer.
Kegagalan terapi dapat diketahui dari kegagalan
virologi, kegagalan imunologi, atau kegagalan
klinis. Kriteria kegagalan terapi yang diterapkan di
Indonesia masih mengacu kepada kriteria yang dibuat
oleh WHO.6 Kriteria kegagalan terapi WHO lebih
banyak mengandalkan kriteria kegagalan klinis dan
imunologis.7 Berbeda dengan kriteria kegagalan yang
direkomendasikan oleh negara maju seperti rekomendasi
The National Institutes of Health yang memasukkan
kriteria kegagalan virologi sebagai dasar untuk pindah
ke terapi ARV lini kedua.8 Namun sebenarnya angka
sensitivitas dan spesifisitas kriteria imunologis dan
klinis sangat rendah untuk memprediksi kegagalan
virologi sebagai penanda awal kegagalan terapi.9-10
Namun, memasukkan kriteria kegagalan virologi juga
tidak mudah dilakukan karena pasien anak terinfeksi
HIV di negara-negara berkembang di Afrika dan Asia
termasuk di Indonesia tidak selalu mempunyai akses
yang mudah untuk dapat memeriksakan PCR RNA
HIV, atau jumlah virus untuk mengetahui kegagalan
virologi sebagai tanda awal kegagalan terapi.11
Masalah resistensi pada anak merupakan salah satu
Sari Pediatri, Vol. 14, No. 2, Agustus 2012
masalah yang belum dapat diketahui dengan pasti di
Indonesia, karena pemeriksaan resistensi di Indonesia
saat ini masih dalam tahap penelitian yang sedang
berlangsung. Sehingga apabila seorang anak terinfeksi
HIV mengalami kegagalan terapi, pemilihan terapi
ARV selanjutnya dilakukan berdasarkan panduan
baku dan tidak dapat disesuaikan dengan resistensi
obat ARV yang telah dialami. Laporan pasien anak
terinfeksi HIV di Indonesia yang menggunakan terapi
ARV lini kedua belum pernah dipublikasi. Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo merupakan salah satu
rumah sakit yang melayani kasus pasien terinfeksi
HIV dengan kasus yang cukup besar baik kasus dewasa
maupun anak. Penelitian kami merupakan penelitian
awal yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik
pasien anak terinfeksi di RS. Cipto Mangunkusumo
yang menggunakan terapi ARV lini kedua.
Metode
Penelitian kohort pasien anak terinfeksi HIV di RS
Cipto Mangunkusumo sejak tahun 2002. Kriteria
inklusi adalah pasien anak terinfeksi HIV yang
berobat di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun
2002 sampai April 2012 dan menggunakan salah satu
obat antiretroviral lini kedua. Data yang dikumpulkan
yaitu usia, jenis kelamin, gejala klinis, stadium klinis
awal dan saat pindah ke obat antiretroviral lini kedua,
CD4 dan jumlah virus (PCR RNA HIV) saat awal
diagnosis, saat pindah ke terapi ARV lini kedua, dan
6-12 bulan setelah menggunakan terapi ARV lini
kedua. Alasan menggunakan terapi antiretroviral
lini kedua, kriteria gagal terapi pada subyek, lama
menggunakan terapi antiretroviral lini pertama,
kombinasi terapi antiretroviral lini pertama, kombinasi
terapi antiretroviral lini kedua, efek samping obat-obat
antiretroviral lini kedua, dan keadaan terakhir subyek
(hidup, meninggal, atau lost to follow up).
Obat-obatan yang termasuk obat antiretroviral lini
kedua adalah abacavir, didanosin, tenofovir, lopinavir/
ritonavir. Alasan menggunakan terapi antiretroviral lini
kedua adalah gagal terapi atau terdapat efek samping
dengan obat-obatan antiretroviral lini pertama.
Kriteria gagal terapi adalah kegagalan klinis,
kegagalan imunologis, dan kegagalan virologi
berdasarkan kriteria WHO. Kegagalan klinis apabila
terdapat gejala klinis baru yang termasuk dalam
kriteria stadium klinis WHO 3 atau 4 pada seorang
131
Dina Muktiarti dkk: Terapi antiretroviral lini kedua pada HIV anak
anak terinfeksi HIV yang mempunyai kepatuhan baik
dengan terapi antiretroviral. Kegagalan imunologis
apabila terdapat penurunan kadar CD4 di bawah
nilai normal sesuai usia (kurang dari 200 sel/mm3 atau
kurang dari 10% untuk anak berusia 2-5 tahun atau
CD4 kurang dari 100 sel/mm3 untuk anak berusia
lebih dari 5 tahun) atau terdapat kegagalan kenaikan
CD4 dengan terapi antiretroviral. Sedangkan kegagalan
virologi terjadi apabila seorang anak terinfeksi HIV
yang patuh dengan terapi antiretroviral masih memiliki
jumlah virus lebih dari 5000 kopi/ml setelah lebih dari
24 minggu dari inisiasi terapi antiretroviral.
Hasil
Empatratus empat pasien anak terinfeksi HIV dan 44
(10,9%) menggunakan terapi antiretroviral lini kedua
Tabel 1. Karakteristik subyek saat diagnosis pertama (n=44)
Variabel
Usia diagnosis (bulan)
Usia saat memulai terapi ARV lini 1
Jenis kelamin; n(%)
Laki-laki
Perempuan
Stadium klinis awal; n (%)
Stadium 1
Stadium 2
Stadium 3
Stadium 4
CD4 absolut saat diagnosis (sel/μL); n=42
CD4 persentase saat diagnosis (%); n=35
Jumlah virus/viral load saat awal diagnosis (kopi/ml); n=22
Kombinasi terapi antiretroviral lini pertama; n (%)
Zidovudin/lamivudin/nevirapin
Stavudin/lamivudin/nevirapin
Zidovudin/lamivudin/efavirenz
Zidovudin/lamivudin/nelvinafir
Zidovudin/lamivudin
(Tabel 1).
Seluruh subyek mempunyai alasan pindah ke
terapi antiretroviral lini kedua yang sama yaitu karena
kegagalan terapi antiretroviral lini pertama. Tidak
ada subyek penelitian yang pindah ke terapi ARV
lini kedua karena efek samping obat-obat ARV lini
pertama. Dasar penilaian kegagalan terapi tertera pada
Tabel 2. Data subyek penelitian saat pindah ke terapi
antiretroviral lini kedua tertera pada Tabel 3.
Pemantauan jumlah virus setelah jangka waktu
6-12 bulan pemakaian ARV pada 25 pasien didapatkan
jumlah virus tidak terdeteksi pada 19 pasien, jumlah
virus antara 400-5000 kopi/ml pada 5 pasien, dan
1 pasien masih mempunyai jumlah virus lebih dari
5000 kopi/ml. Efek samping yang terjadi pada
subyek penelitian akibat terapi ARV lini kedua 2
pasien mengalami nyeri perut dan muntah setelah
mendapatkan abacavir. Pada saat tulisan kami
Median (rentang); n (%)
30 (1-93)
35 (1-94)
28 (63,6)
16 (36,4)
2 (4,5)
5 (11,4)
18 (40,9)
19 (43,2)
253,5 (3-1801)
7 (0-33)
583996 (32405 – 6.400.000)
28 (63,6)
8 (18,2)
4 (9,1)
1 (2,3)
3 (6,8)
Tabel 2. Dasar kegagalan terapi
132
Dasar gagal terapi
Jumlah (%)
Kegagalan klinis, imunologis, dan virologi
26 (59,1)
Kegagalan klinis dan imunologi
2 (4,6)
Kegagalan imunologi dan virologi
9 (20,5)
Kegagalan virologi saja
7 (15,9)
Sari Pediatri, Vol. 14, No. 2, Agustus 2012
Dina Muktiarti dkk: Terapi antiretroviral lini kedua pada HIV anak
dibuat sejumlah 38 (86,4%) subyek hidup, 2 (4,5%)
meninggal, 3 (6,8%) dirujuk ke rumah sakit lain, dan
1 (2,3%) lost to follow up. Penyebab kematian adalah
limfoma malignum pada 1 pasien dan 1 pasien lain
meninggal di rumah setelah putus obat ARV lini
kedua.
Pembahasan
Anak terinfeksi HIV yang menggunakan terapi
antiretroviral lini kedua di RS. Cipto Mangunkusumo
sejumlah 44 orang (10,9%). Jumlah tersebut lebih
kecil dibandingkan dengan penelitian di Thailand dan
Tabel 3. Karakteristik subyek pada saat pindah ke terapi antiretroviral lini kedua (n =44)
Variable
Median (rentang); %
Usia
69 (26–177)
Stadium klinis; n (%)
Stadium 1
3 (6,8)
Stadium 2
13 (29,5)
Stadium 3
21 (47,7)
Stadium 4
7 (15,9)
CD4 absolut (sel/μL)
272,5 (7–1721)
CD4 persentase (%)
Jumlah virus/viral load (kopi/ml), n=42
Lama menggunakan terapi antiretroviral lini pertama
Kombinasi terapi antiretroviral lini kedua
Didanosin/lamivudin/lopinavir/ritonavir
Abacavir/lamivudin/lopinavir/ritonavir
Abacavir/didanosin/lopinavir/ritonavir
Didanosin/zidovudin/lopinavir/ritonavir
Didanosin/tenofovir/lopinavir/ritonavir
Didanosine/abacavir/lopinavir/ritonavir
Emtricitabine/tenofovir/lopinavir/ritonavir
9 (0–40)
232.000 (503–2.900.000)
29 (13–176)
18 (40,9)
16 (36,4)
1 (2,3)
4 (9,1)
3 (6,8)
1 (2,3)
2 (4,5)
Tabel 4. Perbandingan karakteristik awal subyek penelitian dengan penelitian lain
Karakteristik
Penelitian ini
Thai*11
Iedea13
Malawi*14
Asia/Afrika*15
s5SIASAATMEMULAITERAPI
s !26 LINI PERTAMA MEDIAN
(rentang)
30
(1-93) bulan
TAD
37
(13-86) bulan
2,9
(0,1-18,7)
tahun
2,6
(1,7-3,7)
tahun
s*ENISKELAMINPEREMPUAN
36,4
52,3
45
47
47,1
s3TADIUMKLINIS7(/ATAU
4 (%)
84,1
52
74
TAD
68,2
253,5 (3-1801)
151(35-477)
TAD
TAD
TAD
7 (3- 15)
10 (5 – 15)
TAD
s#$ABSOLUT
s#$
7 (0-33)
s +OMBINASI TERBANYAK TERAPI
AZT/3TC/
ARV lini pertama
NVP (63,6%)
Kombinasi
Kombinasi dengan
d4T/3TC/
2NRTI dengan
d4T /3TC/ 1
NVP (96,2%)
NVP (70%)
NNRTI (80%)
TAD
d4T/3TC/
NVP (60,8)
Keterangan:
*: Seluruh pasien anak terinfeksi HIV baik yang menggunakan terapi ARV lini pertama maupun ARV lini kedua.
TAD: tidak ada data; AZT: zidovudin; d4T: stavudin; 3TC: lamivudin; NVP: nevirapin
Sari Pediatri, Vol. 14, No. 2, Agustus 2012
133
Dina Muktiarti dkk: Terapi antiretroviral lini kedua pada HIV anak
Afrika. Ruel dkk12 menemukan 13% anak terinfeksi
HIV di Uganda akan mengalami kegagalan virologi pada
median waktu kurang lebih 2,5 tahun. Davies dkk13
mendapatkan 19,3% anak terinfeksi HIV di 7 pusat
penanganan HIV di Afrika Selatan akan mengalami
kegagalan virologi dalam waktu 3 tahun setelah memulai
terapi ARV lini pertama. Sementara Bunupuradah dkk10
menemukan angka lebih tinggi 32,7% anak terinfeksi
HIV yang mengalami kegagalan virologi dalam waktu
2 tahun. Berbeda pada penelitian di Malawi dan 48
program penanganan HIV di Asia dan Afrika yang
menemukan 1,5% dan 0,8% pasien terinfeksi HIV
menggunakan terapi ARV lini kedua.14,15
Perbedaan angka tersebut disebabkan seluruh pasien dalam ketiga penelitian pertama pemeriksaan PCR
RNA HIV atau jumlah virus dan kadar CD4 dilakukan
secara rutin, minimal setiap 6 bulan untuk CD4 dan
setiap 12 bulan untuk jumlah virus. Sedangkan pada
kedua penelitian terakhir, pemantauan kegagalan
terapi hanya berdasarkan kriteria klinis dan imunologis
berdasarkan kadar CD4. Protokol pemantauan pasien
anak terinfeksi HIV di Indonesia meliputi pemeriksaan
CD4 minimal setiap 6 bulan, sedangkan pemeriksaan
PCR RNA HIV tidak dimasukkan dalam jadwal
pemantauan untuk evaluasi respons pengobatan. 6
Namun kedua pemeriksaan tersebut tidak dapat
rutin dilakukan untuk semua pasien karena terdapat
kendala biaya, terutama untuk pemeriksaan PCR RNA
HIV. Pemeriksaan PCR RNA HIV yang mahal tidak
ditanggung oleh jaminan kesehatan dari pemerintah
atau asuransi sehingga hanya sedikit pasien dapat
mengakses pemeriksaan ini.
Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa sebagian
besar (59,1%) dasar kegagalan terapi pada penelitian
kami adalah kegagalan virologi, imunologis, dan
klinis. Sebagian kecil subyek pindah ke terapi ARV
lini kedua berdasarkan kegagalan virologi. Hal tersebut
disebabkan pemeriksaan virologi menunggu saat telah
ditemui kegagalan klinis akibat keterbatasan akses
pemeriksaan PCR RNA HIV. Anak dengan kegagalan
klinis dan/atau imunologis tidak selalu mengalami
kegagalan virologi dan tidak perlu pindah ke terapi
ARV lini kedua. Namun keterlambatan pindah ke
terapi ARV lini kedua dengan replikasi virus yang
tinggi dapat mengakibatkan angka resistensi terhadap
regimen ARV lini kedua. Pemeriksaan jumlah virus
sangat berguna untuk identifikasi kegagalan terapi.
Rekomendasi WHO untuk daerah dengan sumber
daya terbatas adalah pemeriksaan PCR RNA HIV
134
dilakukan untuk mengkonfirmasi kegagalan klinis
dan/atau imunologis.7 Kriteria untuk memprediksi
gagal virologi secara dini untuk daerah dengan sumber
daya terbatas perlu dikembangkan. Colebunders dkk16
mengembangkan alat diagnostik untuk memprediksi
kegagalan virologi dengan menggunakan riwayat
penyakit, tingkat kepatuhan terhadap pengobatan, dan
laboratorium sederhana. Namun, perangkat tersebut
perlu diuji lebih lanjut.
Karakteristik awal subyek yang menggunakan
terapi ARV lini kedua tidak jauh berbeda dengan
penelitian lain di Asia dan Afrika. Terapi ARV lini
pertama dimulai saat usia kurang lebih 3 tahun dan
sebagian besar dari mereka datang pada kondisi yang
cukup berat, ditandai dengan stadium klinis WHO
3 dan 4 pada semua penelitian lebih dari 50%, serta
pada kondisi imunosupresi berat (median CD4 <15%).
Kombinasi terapi ARV lini pertama sedikit berbeda
di antara penelitian, karena mengikuti pedoman
nasional masing-masing negara.6,11,13-15 Apabila dilihat
seluruh penelitian menggunakan panduan WHO
untuk memulai terapi ARV lini pertama dengan
menggunakan 2 nucleoside reverse transcriptase inhibitor/
NRTI (zidovudin atau stavudin dan lamivudin) dan
1 non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor/NNRTI
yaitu nevirapin.7
Median usia saat memulai terapi ARV lini kedua
69 (26-177) bulan. Usia tersebut sedikit lebih tua
dibandingkan dengan median usia pada penelitian di
Afrika Selatan 51 (26-103) bulan.13 Hal tersebut juga
terlihat dari median lama menggunakan terapi ARV
lini pertama pada penelitian kami jauh lebih lama
dibandingkan dengan penelitian gabungan Asia dan
Afrika 33 (6-176) bulan dan 27,3 (17,4-30,4) bulan.15
Alasan perbedaan tersebut diakibatkan akses yang
terbatas untuk pemeriksaan PCR RNA HIV sebagai
penanda awal kegagalan terapi. Namun median usia
ini jauh lebih muda dibandingkan dengan median usia
pada penelitian di kelompok TREAT Asia yaitu 120
(78-145) bulan.10
Seluruh subyek penelitian menggunakan lopinavir/
ritonavir sebagai salah satu obat ARV lini kedua
dengan kombinasi terbanyak didanosin, lamivudin,
dan lopinavir/ritonavir. Kombinasi tersebut tidak
sepenuhnya mengikuti rekomendasi nasional yang
menganjurkan kombinasi antara didanosin, abacavir,
lopinavir/ritonavir untuk pasien yang gagal dengan
kombinasi zidovudin atau stavudin dan lamivudin.
Karena pada awalnya abacavir belum tersedia di
Sari Pediatri, Vol. 14, No. 2, Agustus 2012
Dina Muktiarti dkk: Terapi antiretroviral lini kedua pada HIV anak
Indonesia, sehingga diambil kombinasi didanosin dan
lamivudin karena pedoman nasional juga disebutkan
bahwa penggunaan lamivudin pada terapi ARV lini
kedua dapat dipertimbangkan karena lamivudin
dihubungkan dengan ketahanan virus HIV yang
berkurang.6
Faktor risiko kegagalan terapi atau resistensi obat
ARV lini pertama antara lain usia yang lebih muda,
mendapatkan kombinasi dengan nevirapin, CD4%
<25% saat awal terapi, dan kepatuhan minum obat
yang kurang.9 Pada penelitian kami sebagian besar
pasien mendapatkan nevirapin sebagai salah satu obat
ARV lini pertama. Sedangkan kepatuhan minum
obat tidak didokumentasikan dengan baik. Efek
samping terdokumentasi pada 2 pasien, dan keduanya
mengalami efek samping terhadap abacavir.
Jumlah virus setelah penggunaan terapi ARV
lini kedua pada sebagian besar subyek yang dapat
diperiksakan menunjukkan hasil tidak terdeteksi. Hal
tersebut sesuai dengan penelitian lain yang menemukan
bahwa sesudah diberikan obat ARV lini kedua dengan
kombinasi lopinavir/ritonavir, proporsi pasien dengan
jumlah virus tidak terdeteksi terdapat pada 47% pasien
pada minggu ke-24 dan 69% pada minggu ke-96.17,18
Subyek yang masih teratur kontrol ke RS Cipto
Mangunkusumo semuanya masih dalam keadaan
hidup. Dua pasien meninggal dengan penyebab
limfoma malignum dan setelah putus obat.
Masalah pemberian obat ARV lini kedua adalah
penyediaan obat dengan formulasi anak sangat terbatas.
Hal tersebut terlihat pada penelitian yang dilakukan
oleh TREAT Asia Pediatric HIV Observational
Database (TApHOD), The International Epidemiologic
Databases to Evaluate AIDS (IeDEA) Southern Africa
Paediatric Group. Pada survei yang dilakukan oleh
kedua kelompok tersebut didapatkan bahwa sediaan
lopinavir/ritonavir sebagai salah satu obat utama pada
ARV lini kedua yang berupa sirup atau tablet untuk
anak sangat mudah diakses hanya di 10%-80% pusat
penanganan kasus anak terinfeksi HIV.11 Di RS Cipto
Mangunkusumo, semua subyek pengguna obat ARV
lini kedua menggunakan sediaan atau formulasi dewasa
berupa tablet. Hal tersebut merupakan salah satu
tantangan dalam penanganan kasus anak terinfeksi
HIV di Indonesia.
Kelemahan penelitian kami beberapa hal tidak
tercatat dengan baik di dalam rekam medis dan
tidak dicari secara aktif karena merupakan penelitian
observasional. Data-data seperti kepatuhan minum
Sari Pediatri, Vol. 14, No. 2, Agustus 2012
berobat, efek samping, dan kesulitan minum obat
dengan sediaan tablet tidak terdokumentasikan dengan
baik.
Sebagai kesimpulan, masalah gagal terapi dan
resistensi obat ARV harus diwaspadai pada penanganan
jangka panjang anak terinfeksi HIV. Subyek yang
menggunakan obat ARV lini kedua pada penelitian
dini tidak terlalu banyak diakibatkan karena deteksi
kegagalan terapi masih lebih banyak berdasarkan
kegagalan klinis dan imunologis. Perlu dikembangkan
lebih lanjut perangkat diagnostik sederhana yang dapat
memprediksi kegagalan virologi lebih dini untuk
daerah dengan sumber daya terbatas.
Daftar pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan. Laporan situasi perkembangan HIV/AIDS
di Indonesia sampai dengan Maret 2012. Diunduh dari:
http://www.aidsindonesia.or.id/laporan-kementerian-kesehatantriwulan-kesatu-tahun-2012.html, Diakses pada tanggal 11
Mei 2012.
Ditjen PPM & PL Depkes RI. Statistik Kasus HIV/AIDS
di Indonesia sampai dengan Desember 2008. Jakarta;
Departemen Kesehatan RI: 2009
Joint United Nations Programme on HIV/AIDS
(UNAIDS).UNAIDS data tables 2011. UNAIDS;
2011
Puthanakit T, Oberdorfer A, Akarathum N, Kanjanavanit
S, Wannarit P, Sirisanthana T, dll. Efficacy of highly
active antiretroviral therapy in HIVinfected children
participating in Thailand’s National Access to Antiretroviral Program. Clin Infect Dis 2005;41:100-7.
Clavel F, Hance AJ. HIV drug resistance. N Engl J Med
2004;350:1023-35.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan. Pedoman tata laksana infeksi HIV dan
terapi antiretroviral pada anak di Indonesia. Jakarta;
Departemen Kesehatan RI: 2008.
World Health Organization. Antiretroviral therapy for
HIV infection in infants and children: towards universal
access. Recommendations for a public health approach,
2010 revision. Austria; WHO: 2010.
Panel on Antiretroviral Therapy and Medical Management of HIV-Infected Children. Guidelines for the Use
of Antiretroviral Agents in Pediatric HIV Infection.
135
Dina Muktiarti dkk: Terapi antiretroviral lini kedua pada HIV anak
9.
10.
11.
12.
13.
136
August 16, 2010. h. 1-219. Diunduh dari: http://aidsinfo.
nih.gov/ContentFiles/PediatricGuidelines.pdf. Diakses
pada tanggal 15 Oktober 2010.
Emmett SD, Cunningham CK, Mmbaga BT, Kinabo
GD, Schimana W, Swai ME, dkk. Predicting virologic
failure among HIV-1-infected children receiving
antiretroviral therapy in Tanzania: a cross-sectional study.
J Acquir Immune Defic Syndr 2010; 54:368-75.
Bunupuradah T, Puthanakit T, Kosalaraksa P, Kerr
S, Boonrak P, Prasitsuebsai W, dkk. Immunologic
and virologic failure after first-line NNRTI-based
antiretroviral therapy in Thai HIV-infected children.
AIDS Res Ther 2011; 8:40.
TREAT Asia Pediatric HIV Observational Database
(TApHOD), The International Epidemiologic Databases
to Evaluate AIDS (IeDEA) Southern Africa Paediatric
Group. A biregional survey and review of first-line
treatment failure and second-line paediatric antiretroviral
access and use in Asia and southern Africa. J Int AIDS
Soc 2011;14:7.
Ruel TD, Kamya MR, Li P, Pasutti W, Charlebois
ED, Liegler T, dkk. Early virological failure and the
development of antiretroviral drug resistance mutations
in HIV-infectd Ugandan children. J Acquir Immune
Defic Syndr 2011;56:44-50.
Davies MA, Moultrie H, Eley B, Rabie H, van Cutsem
G, Giddy J, dkk. Virologic failure and second-line
14.
15.
16.
17.
18.
antiretroviral therapy in children in South Africa – The
IeDEA Southern Africa Collaboration. J Acquir Immune
Defic Syndr 2011;56: 270-8.
Buck WC, Kabue MM, Kazembe PN, Kline MW.
Discontinuation of standard first-line antiretroviral
therapy in a cohort of 1434 Malawian children. J Int
AIDS Soc 2010;13:31.
Sauvageot D, Schaefer M, Olson D, Pujades-Rodriguez
M, O’Brien DP. Antiretroviral therapy outcomes in
resource-limited settings for HIV-infected children < 5
Years of Age. Pediatrics 2010;125:e1039.
Colebunders R, Moses KR, Laurence J, Shihab HM,
Semitala F, Lutwarna F, dkk. A new model to monitor
the virological efficacy of antiretroviral treatment in
resource-poor countries. Lancet Infect Dis 2006;6:539.
Larru B, de Mendoza C, Bellon JM, de Jose MA, Mellado
MJ, Soriano V, dkk. Predictive factors of virological
success to salvage regimens containing protease
inhibitors in HIV-1 infected children. BMJ Infect Dis
2007;7:55.
Van Rossum AM, Geelen SPM, Hartwig NG, Wolfs
TFW, Weemaes CMR, Scherpbier HJ, dkk. Results of
2 years of treatment with protease-inhibitor-containing
antiretroviral therapy in Dutch children with Human
Immunodeficiency Virus Type 1. Clin Infect Dis 2002;
34:1008-16.
Sari Pediatri, Vol. 14, No. 2, Agustus 2012
Fly UP