...

here - Rhino Resource Center

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

here - Rhino Resource Center
Tingkat Kesesuaian Suaka Margasatwa Cikepuh sebagai Habitat Kedua Badak Jawa
TINGKAT KESESUAIAN SUAKA MARGASATWA CIKEPUH SEBAGAI HABITAT
KEDUA BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822)
(Suitability Level of Cikepuh Wildlife Reserves as Javan Rhino’s Second Habitat)
RIBAI1), HADI S. ALIKODRA2), BURHANUDDIN MASU’UD2), U. MAMAT RAHMAT3)
1)
SMK Kehutanan Bakti Rimba, Yayasan Pendidikan Pengelolaan Sumberdaya Alam (YP2SDA),
Bogor Barat, Bogor 16117
2)
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB,
Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
3)
Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam,
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jakarta
Email: [email protected] Telp: +6285840675337
Diterima 13 April 2015 / Disetujui 30 April 2015
ABSTRACT
Javan rhino (Rhinoceros sondaicus) is one of the rarest species in the world so categorized as critically endangered by IUCN. Survival of the
rhino in Ujung Kulon National Park is threatened by a variety of factors that could cause these extinct animals, such as: invasion langkap, competition
with the bulls, and inbreeding. The strategy should be promoted in maintaining and developing population that is making a second habitat. The purpose
of this research is to know the suitability level of Cikepuh Wildlife Reserves (CWR) as javan rhino’s second habitat. The method used is the field
observations. Results showed that the CWR have high suitability as javan rhino’s second habitat with an area of 6886.4 ha (84.72% CWR). Cikepuh
Wildlife Reserves components that have a high potential as second habitat are on aspects altitude, air temperature, humidity, water availability, and
soil pH. Strategies that can be done in improving the suitability of the CWR as second habitat includ: create pools ofthe rhino, planting food plants that
have a high palatability and reduce human pressure through strict enforcement, public education, standardized regular patrols, rehabilitation and
enrichment of degraded area, livestock expenses , and review the MoU regarding the use of the area as a military Cikepuh SM.
Keywords: Cikepuh Wildlife Reserve, habitat suitability, javan rhino, second habitat
ABSTRAK
Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan salah satu spesies terlangka di dunia sehingga dikategorikan terancam punah oleh IUCN.
Kelangsungan hidup badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon terancam oleh berbagai faktor yang dapat menyebabkan satwa ini punah, seperti:
invasi langkap, persaingan dengan banteng, dan kawin dalam. Strategi yang harus segera diupayakan dalam mempertahankan dan mengembangkan
populasinya yaitu membuat habitat kedua. Metode penelitian yang digunakan yaitu observasi lapangan. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui tingkat
kesesuaian SM Cikepuh sebagai habitat kedua badak jawa Hasil penelitian menunjukkan bahwa SM Cikepuh memiliki kesesuaian tinggi sebagai habitat
kedua badak jawa dengan luas 6.886,4 ha (84,72% SM Cikepuh). Komponen habitat SM Cikepuh yang memiliki potensi tinggi sebagai habitat kedua
terdapat pada aspek ketinggian, suhu udara, kelembaban udara, ketersediaan air, dan pH tanah. Strategi peningkatan kesesuaian SM Cikepuh dapat
dilakukan dengan cara: pembuatan kubangan, penanaman tumbuhan pakan yang memiliki palatabilitas tinggi, dan mengurangi tekanan manusia melalui
penegakan hukum secara tegas, pendidikan masyarakat, patroli reguler terstandar, rehabilitasi dan pengkayaan kawasan terdegradasi, pengeluaran
hewan ternak, dan mengkaji ulang MoU mengenai penggunaan kawasan SM Cikepuh sebagai tempat militer.
Kata kunci: badak jawa, habitat kedua, kesesuaian habitat, Suaka Margasatwa Cikepuh
PENDAHULUAN
Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan
salah satu spesies terlangka di dunia (WWF 2012)
sehingga dikategorikan terancam punah dalam daftar
merah yang dikeluarkan oleh IUCN (International Union
for Conservation of Nature and Natural Resources)
(IUCN 2015) dan terdaftar Apendiks I oleh CITES
(Convention on International Trade in Endangered
Spesies of Wild Fauna and Flora) (CITES 2013). Saat ini
populasi badak jawa di dunia hanya terdapat di Indonesia
(WWF 2012). Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)
menjadi satu-satunya habitat yang tersisa bagi badak jawa
108
di Indonesia (Alikodra et al. 2013) dengan populasi relatif
kecil yaitu lebih kurang 58 ekor (BTNUK 2014).
Kelangsungan hidup badak jawa di TNUK terancam
oleh berbagai faktor yang dapat menyebabkan kepunahan,
faktor-faktor ini antara lain: invasi langkap (Arenga
obtusifolia) (Muntasib et al. 1997), persaingan dengan
banteng (Bos javanicus), dan kawin dalam (inbreeding)
(Rahmat 2009). Strategi penyelamatan dan pelestarian
badak jawa sangat diperlukan dalam upaya
mempertahankan dan mengembangkan populasi satwa
tersebut dari ancaman kepunahan. Salah satu strategi yang
harus segera diupayakan yaitu membuat habitat kedua
Media Konservasi Vol 20, No.2, Agustus 2015: 108-116
untuk memperbanyak kantong-kantong habitat badak
jawa di luar TNUK.
Pembuatan habitat kedua harus didasarkan pada
preferensi habitat badak jawa di TNUK baik dari aspek
fisik, biotik, dan sosial, sehingga badak akan merasa aman
dan nyaman (Rahmat et al. 2012). Habitat aktual badak
jawa di TNUK memiliki karakteristik komponen fisik,
biotik,
dan
sosial
sangat
mendukung
bagi
keberlangsungan hidup badak jawa sehingga dapat
menjadi pembanding untuk calon habitat kedua. Suaka
Margasatwa Cikepuh sebagai salah satu kawasan yang
menjadi sejarah sebaran badak jawa dipandang memiliki
potensi untuk dijadikan prioritas habitat kedua.
Dalam upaya mendukung pembuatan habitat kedua
tersebut, maka diperlukan gambaran secara lebih detil di
SM Cikepuh untuk mengidentifikasi komponen habitat
potensial badak jawa, mengetahui tingkat kesesuaian
habitat potensial sebagai habitat kedua dan merumuskan
strategi peningkatan kesesuaian SM Cikepuh sebagai
habitat kedua. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini
yaitu sebagai bahan pertimbangan dan gambaran obyektif
bagi pengelola untuk menyiapkan calon lokasi habitat
kedua di SM Cikepuh.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada Januari sampai Maret
2014 di SM Cikepuh, Kabupaten Sukabumi. Penelitian
dilakukan berdasarkan 16 blok penelitian di seluruh
kawasan SM Cikepuh dengan luas 8.127,50 ha
(Gambar 1).
Blok Pute
Blok Parang Tembo
Blok Pattunuang
Gambar 1. Blok penelitian di kawasan SM Cikepuh
Data primer yang dikumpulkan antara lain:
komponen fisik habitat (ketinggian, kelerengan, suhu
udara, kelembaban udara, ketersediaan dan pH air, potensi
kubangan, pH tanah dan garam mineral) dan komponen
biotik habitat (ketersediaan tumbuhan pakan) serta
tekanan manusia. Komponen fisik habitat diukur dan
diamati pada setiap blok pengamatan sebanyak tiga kali
pengulangan pada waktu yang sama. Pengukuran dan
pengamatan antara lain: 1) ketinggian diukur
menggunakan GPS, 2) kelerengan diukur menggunakan
klinometer, 3) suhu udara diukur menggunakan
termometer, 4) kelembaban udara diukur menggunakan
hygrometer, 5) ketersediaan air diketahui melalui survey
lapang menggunakan GPS dan pH air diukur
menggunakan pH indicator strips, 6) potensi kubangan
diketahui melalui survey lapang menggunakan GPS.
Potensi kubangan di SM Cikepuh merupakan sumber air
bebas atau genangan air yang berpotensi sebagai
kubangan badak jawa, 7) pH tanah diukur menggunakan
pH meter tanah, 8) garam mineral diukur menggunakan
refraktometer.
Komponen biotik habitat diukur dan diamati melalui
analisis vegetasi untuk mengetahui tingkat ketersediaan
tumbuhan pakan. Analisis vegetasi dilakukan berdasarkan
jenis tutupan lahan SM Cikepuh. Analisis vegetasi
menggunakan metode kombinasi antara metode jalur dan
persegi panjang dengan intensitas sampling 0,1%. Panjang
jalur 500 m dan lebar 20 m serta unit contoh berbentuk
persegi dengan ukuran 20 m x 20 m. Identifikasi tekanan
manusia dilakukan dengan eksplorasi aktifitas manusia di
SM Cikepuh. Identifikasi tekanan manusia dilakukan pada
aktifitas manusia yang dinilai kurang memberi dampak
terhadap kondisi habitat maupun yang dapat mengancam
kehidupan satwa liar dan habitatnya dengan menggunakan
GPS.
Data komponen fisik habitat dan tekanan manusia
disajikan dalam bentuk tabulasi dan dianalisis secara
deskriptif kualitatif. Sedangkan komponen biotik
dianalisis berdasarkan indeks nilai penting (INP) dari jenis
109
Tingkat Kesesuaian Suaka Margasatwa Cikepuh sebagai Habitat Kedua Badak Jawa
tumbuhan pakan yang ditemukan. Kesesuaian SM
Cikepuh sebagai habitat kedua dianalisis melalui
perbandingan antara habitat aktual badak jawa di TNUK
terhadap habitat potensial SM Cikepuh, selanjutnya
dilakukan penjumlahan pada masing-masing parameter
habitat (Tabel 1).
Tabel 1. Kriteria kesesuaian habitat kedua badak jawa dan skor parameter (Hommel 1987, Muntasib 2002, Rahmat 2007,
Rahmat 2012)
Parameter
Ketinggian tempat
Kelerengan tempat
Suhu udara
Kelembaban udara
Ketersediaan air
Potensi kubangan
Kemasaman tanah (pH)
Garam mineral sumber air
Ketersediaan
pakan
tumbuhan
Tekanan manusia
Kriteria
0-100 mdpl
100-500 mdpl
>500 mdpl
0-15%
15-25%
>25%
26-29o C
29-32o C
>32o C
75-91%
60-75%
<60%
Dalam 10 km2 ditemukan lebih dari satu sumber air bebas
Dalam 10 km2 ditemukan satu sumber air bebas
Dalam 10 km2 tidak ditemukan sumber air bebas
Dalam 10 km2 ditemukan lebih dari satu potensi kubangan
Dalam 10 km2 ditemukan satu potensi kubangan
Dalam 10 km2 tidak ditemukan potensi kubangan
4-5
6-7
<4
>0,50/00
0,3-0,50/00
<0,30/00
Apabila rata-rata INP tumbuhan pakan badak jawa > 80%
Apabila rata-rata INP tumbuhan pakan badak jawa 40-80%
Apabila rata-rata INP tumbuhan pakan badak jawa <40%
Tidak ditemukan adanya tekanan manusia
Ditemukan tekanan manusia yang kurang memberi dampak terhadap
kondisi habitat
Ditemukan tekanan manusia yang dapat mengancam kehidupan satwa
maupun kerusakan habitat
Skor kesesuaian habitat kedua =
Keterangan:
skor 30
skor 20-29
skor 10-19
2
1
∑  ℎ  
∑
: sangat sesuai atau sangat tinggi
: sesuai atau tinggi
: tidak sesuai atau rendah
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komponen Fisik
Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat merupakan salah satu komponen
fisik habitat yang mempengaruhi kehidupan badak jawa,
karena satwa ini cenderung menempati daerah yang relatif
110
Skor
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
datar (Muntasib 2002). Hasil pengukuran menunjukkan
ketinggian tempat SM Cikepuh berkisar antara 11-118
mdpl (Tabel 2). Berdasarkan hasil pengukuran, daerah
yang tergolong mudah didatangi badak jawa memiliki luas
7.501,7 ha (92,3% kawasan) dan daerah sulit didatangi
memiliki luas 625,8 ha (7,70% kawasan).
Hommel (1987) menyatakan syarat pertama yang
diperlukan suatu kawasan untuk dijadikan sebagai habitat
Media Konservasi Vol 20, No.2, Agustus 2015: 108-116
badak jawa yaitu tingkat kemudahnnya untuk didatangi
dengan ketinggian 0-100 mdpl. Muntasib (2002) dan
Schenkel & Schenkel-Hulliger (1969) menyatakan
daerah-daerah yang ditemukan badak jawa mempunyai
ketinggian 0-75 mdpl. Menurut Rahmat et al. (2008) dan
Hoogerwerf (1970) badak jawa lebih sering mengunjungi
daerah-daerah yang bertopografi rendah dan jarang atau
hampir tidak pernah ditemukan di daerah perbukitan. Hal
ini juga sesuai dengan Sadjudin & Djaja (1984) yang
menyatakan badak jawa lebih beradaptasi di lingkungan
dataran rendah.
kelerengan 0-8% dengan persentase 97%, sedangkan pada
kelerengan 25-45% tidak ditemukan. Rahmat et al. (2012)
menyatakan badak jawa dapat mendatangi daerah
perbukitan, namun dengan cara menyusuri garis kontur
sehingga akan memperjauh jarak tempuh. Hal ini
menyebabkan kelerengan menjadi faktor pembatas bagi
habitat badak jawa.
Suhu Udara dan Kelembaban Udara
Suhu udara menjadi salah satu komponen fisik
habitat yang berpengaruh terhadap perilaku dan ukuran
tubuh satwaliar (Alikodra 2002). Hasil pengukuran pada
musim penghujan menunjukkan suhu udara minimal SM
Cikepuh yaitu 23o C, sedangkan suhu udara maksimal
yaitu 34o C (Tabel 2). Berdasarkan hasil pengukuran
daerah tergolong sangat sesuai sebagai habitat badak jawa
memiliki luas 7.501,7 ha (92,3% kawasan), sedangkan
daerah tergolong sesuai memiliki luas 625,8 ha (7,7%
kawasan). Rahmat et al. (2008) menyatakan habitat aktual
badak jawa memiliki suhu udara rata-rata harian 26,228,7° C.
Hasil pengukuran kelembaban udara menunjukkan
kelembaban udara minimal di SM Cikepuh 55%,
sedangkan kelembaban udara maksimal 90% (Tabel 2).
Daerah sangat sesuai sebagai habitat badak jawa memiliki
luas 6.140,7 ha (75,55% kawasan), sedangkan daerah
tergolong sesuai memiliki luas 1.986,8 ha (24,45%
kawasan). Rahmat et al. (2008) menyatakan habitat badak
jawa di TNUK memiliki kelembaban udara rata-rata
harian berkisar antara 75-91%.
Kelerengan Tempat
Kelerengan tempat merupakan komponen fisik
habitat yang sangat penting bagi kehidupan badak jawa
dan menjadi prasyarat bagi kesesuaian habitatnya. Hal ini
dikarenakan kelerengan merupakan variabel fisik habitat
yang sulit dimanipulasi atau membutuhkan biaya sangat
tinggi untuk pemerataan tanah menjadi datar (Rahmat
2013). Hasil pengukuran kelerengan SM Cikepuh berkisar
antara 0-54% (Tabel 2). Berdasarkan hasil pengukuran
daerah mudah didatangi badak jawa memiliki luas 2.239,2
ha (27,55% kawasan) daerah sulit didatangi memiliki luas
1.852,9 ha (22,79% kawasan). Sedangkan daerah yang
sangat sulit didatangi memiliki luas 4.035,4 ha (49,65%
dari luas kawasan)
Hommel (1987) menyatakan bahwa kawasan yang
mudah didatangi badak jawa mempunyai kelerengan
antara 0-15%, sulit didatangi 15-25%, dan sangat sulit
didatangi 25-45%. Menurut Rahmat et al. (2008) dan
Muntasib (2002) jejak badak sering ditemukan di daerah
Tabel 2. Ketinggian tempat, kelerengan tempat, suhu udara, dan kelembaban udara di blok penelitian dan skor kesesuaian
sebagai habitat kedua
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Blok Penelitian
Hujungan-Cipanarikan
Pesawahan
Citireum-Leuwi Urug
Cibulakan
Cikepuh
Tegal Pamindangan
Talun-Batu Masigit
Legon Pandan
Pasir parol-Bt Nunggul
Cigadung
Ciawet-Rk Harikukun
Cibabi-Nyalindung
Cibuaya-Lp Lancar
Tegal Pamakanan
Cikakar-Citapen
Pasir Perahu-Gg Putri
Kt
S
Kl
S
16-24
25-27
22-36
22-35
24-47
25-50
23- 61
15-65
33-65
35-65
55-65
70- 83
24-84
30-87
60-96
92-118
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
5-8
0-10
5-10
5-15
9-15
9-20
0-22
0-25
0-27
5-28
0-35
13-35
5-40
10-42
0-47
0-48
3
3
3
3
3
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
Suhu
Mn
Mx
23
30
23
34
24
30
24
30
24
34
23
30
25
34
24
32
24
27
23
28
24
30
23
32
23
32
24
30
23
30
23
30
S
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
KU
Mn
56
65
58
69
65
69
60
65
62
79
64
55
50
64
65
65
Mx
90
87
90
90
85
90
90
90
90
90
90
85
80
90
90
90
S
2
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
3
3
3
Keterangan: Kt: ketinggian tempat (mdpl), S: skor, Kl: kelerengan (%), Mn: suhu udara minimal (o), Mx: suhu udara
maksimal (o), KU: kelembaban udara (%), Mn: kelembaban udara minimal (%), dan Mx: kelembaban udara
maksimal (%)
Ketersediaan Air dan pH Air
111
Tingkat Kesesuaian Suaka Margasatwa Cikepuh sebagai Habitat Kedua Badak Jawa
Air merupakan salah satu komponen penting bagi
kehidupan badak jawa untuk minum, mandi, dan
berkubang (Hoogerwerf 1970, Alikodra 2002, Muntasib
2002, Rahmat 2007). Berdasarkan data Resort SM
Cikepuh bahwa ketersediaan air SM Cikepuh tersedia
sepanjang tahun. Hasil pengukuran menunjukkan SM
Cikepuh memiliki rata-rata pH air sungai berkisar antara
7-8. Rahmat et al. (2008) menyatakan rata-rata pH air
sungai di TNUK antara 6-8 dan Muntasib (2002)
menyatakan rataan pH air di TNUK jawa antara 6,65-7,80.
Hal ini menunjukkan pH air SM Cikepuh memiliki
kesesuaian yang tinggi sebagai habitat kedua.
Berdasarkan hasil pengamatan daerah tergolong
sangat sesuai sebagai habitat badak jawa memiliki luas
3.947,8 ha (48,57% kawasan) dan daerah tergolong sesuai
memiliki luas 4.179,7 ha (51,43% kawasan). Amman
(1985), Schenkel & Schenkel Hulliger (1969),
Hoogerwerf (1970), dan Rahmat (2007) menyatakan
badak jawa memilih areal yang berdekatan dengan sungai
sebagai relung habitatnya untuk mendapatkan
keuntungan.
Potensi Kubangan
Hasil inventarisasi potensi kubangan menunjukkan
SM Cikepuh memiliki potensi kubangan rendah. Hasil
pengamatan menunjukkan daerah tergolong sangat sesuai
sebagai habitat badak jawa memiliki luas 1.125,8 ha
(13,85% kawasan), daerah tergolong sesuai memiliki luas
593,3 ha (7,3% kawasan), dan daerah tidak sesuai
memiliki luas 6.408,4 ha (78,8% kawasan) (Tabel 3).
Tanah
Menurut Rahmat et al. (2008) bahwa badak jawa
cenderung mendatangi daerah-daerah yang memiliki pH
tanah yang rendah yaitu berkisar antara 4-5, karena diduga
ditumbuhi dengan tumbuhan bawah, semak belukar, dan
arealnya cenderung terbuka. Hasil pengukuran
menunjukkan pH tanah di SM Cikepuh tergolong sangat
asam dan agak asam yaitu berkisar antara 3,8-6,8 (Tabel
3). Daerah tergolong sangat sesuai sebagai habitat badak
jawa memiliki luas 6.697,2 ha (82,40% kawasan), daerah
tergolong sesuai memiliki luas 1.105,2 ha (13,59%
kawasan) dan daerah tidak sesuai memiliki luas 325,1 ha
(4,01% kawasan).
Kandungan Garam Mineral
Badak jawa memanfaatkan kubangan tidak hanya
sebagai tempat berkubang, melainkan tempat untuk
minum, membuang kotoran, dan membuang urin
(Hoogerwerf 1970). Menurut Amman (1985) fungsi
utama berkubang adalah untuk menjaga kelembaban kulit,
mengatur suhu tubuh dan mengurangi tingkat infeksi oleh
parasit. Hasil pengukuran menunjukkan pH air potensi
kubangan di SM Cikepuh memiliki rata-rata antara 5-6
(asam) karena proses dekomposisi bahan organik dan
terakumulasi dengan lumpur. Rahmat (2007) menyatakan
rata-rata pH kubangan di TNUK berkisar 4-5 (asam).
Hasil pengukuran kandungan garam pada air di SM
Cikepuh 0,1-17,10/00 (Tabel 3). Daerah tergolong sangat
sesuai sebagai habitat badak jawa memiliki luas 644 ha
(7,92% kawasan), daerah tergolong sesuai memiliki luas
918,4 ha (11,29% tergolong), dan daerah tergolong tidak
sesuai memiliki luas 6.565,1 ha (80,79% kawasan).
Menurut Rahmat et al. (2008) menyatakan karakteristik
habitat aktual yang disukai badak jawa mempunyai
kandungan garam mineral sumber-sumber air 0,250,350/00.
Tabel 3. Ketersediaan air, potensi kubangan, pH tanah, dan kandungan garam mineral di blok penelitian dan skor
kesesuaian sebagai habitat kedua
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Blok Penelitian
Hujungan-Cipanarikan
Talun-Batu Masigit
Citireum-Leuwi Urug
Cibabi-Nyalindung
Cikakar-Citapen
Cibuaya-Langkap Lancar
Pasir Perahu-Gunung Putri
Ciawet-Rimpak Harikukun
Cibulakan
Pesawahan
Cikepuh
Tegal Pamakanan
Cigadung
Tegal Pamindangan
Pasir Parol-Batu Nunggul
Legon Pandan
∑Si
S
∑K
S
1
2
3
2
1
2
2
1
1
1
3
1
1
1
2
1
2
3
3
3
2
3
3
2
2
2
3
2
2
2
3
2
7
6
1
-
1
1
1
1
1
3
3
1
2
1
1
1
1
1
1
1
pH Th
Kisaran
5,5-6,5
5,5-6,3
5,5-6,5
5,8-6,0
5,5-6,4
4,1-4,5
5,5-5,9
5,5-6,3
5-6
3,8-4,0
3,8-6,8
5,5-5,9
5,5-6,3
4-6,8
5,5-5,7
5,5-5,7
R
6
5,9
6
5,9
5,95
4,3
5,7
5,9
5,5
3,9
5,3
5,7
5,9
5,4
5,6
5,6
S
GM
S
2
3
2
3
3
3
3
3
3
1
3
3
3
3
3
3
0,1
0,1
0,1
0,1-0,2
0,2-0,5
0,2-0,5
0,1
13-17,1
-
1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
3
1
Keterangan: ∑Si: jumlah sungai, S: skor, ∑K: jumlah potensi kubangan, R: rataan pH tanah, dan GM: kandungan garam mineral (‰)
Komponen Biotik Habitat
112
Ketersediaan Tumbuhan Pakan
Media Konservasi Vol 20, No.2, Agustus 2015: 108-116
Komponen biotik yang sangat penting bagi
kehidupan badak jawa adalah tumbuhan pakan. Hasil
analisis vegetasi menemukan 157 spesies tumbuhan dan
terdapat 107 (68%) spesies yang merupakan sumber pakan
bagi badak jawa. Hasil inventarisasi vegetasi dan skor
kesesuaian disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Ketersediaan pakan di blok penelitian dan skor kesesuaian
Tutupan Lahan
Hutan primer
Blok Penelitian
Cikepuh dan Tegal Pamindangan
Rata-rata INP Pakan
90,29
Skor
3
2
Hutan sekunder
Hujungan-Cipanarikan, Talun-Batu Masigit,
Citireum-Leuwi Urug, Cibabi-Nyalindung,
Cibuaya-Langkap Lancar, Legon Pandan,
Cibulakan, Cigadung, Pasir Parol-Batu Nunggul,
Tegal Pamakanan, dan Cikakar-Citapen
69,82
2
3
4
5
Hutan pantai
Hutan mangrove
Hutan rawa
78,93
85,63
39,68
2
3
1
6
Hutan belukar
39,56
1
7
Kawasan
Rehabilitasi
38,76
1
No
1
Cibulakan dan Citireum-Leuwi Urug
Citireum-Leuwi Urug
Pesawahan
Ciawet-Rimpak Harikukun, Pasir Perahu-Gunung
Putri, dan Tegal Pamakanan
Pasir Perahu-Gunung Putri dan Citireum-Leuwi
Urug
Berdasarkan hasil inventarisasi vegetasi, daerah
tergolong sangat sesuai sebagai habitat badak jawa
memiliki luas 1.552,6 ha (19,10% kawasan), daerah
tergolong sesuai memiliki luas 5.242 ha (64,49%
kawasan), dan daerah tergolong tidak sesuai memiliki luas
1.332,9 ha (16,41% kawasan).
Tekanan manusia di kawasan Suaka Margasatwa
Cikepuh
Hasil eksplorasi menunjukkan sebagian besar SM
Cikepuh ditemukan tekanan manusia yang dapat
mengancam kehidupan satwa maupun kerusakan habitat.
Sedangkan daerah yang tidak terdapat tekanan manusia
tidak ditemukan di SM Cikepuh (Tabel 5). Hasil
eksplorasi menunjukkan daerah tergolong sesuai sebagai
habitat badak jawa memiliki luas 955,6 ha (11,8%
kawasan) dan daerah tergolong tidak sesuai memiliki luas
7171,9 ha (88,2% kawasan).
Hasil pengamatan menunjukkan terdapat aktifitas
penggembalaan liar di SM Cikepuh oleh masyarakat
sekitar hutan. Jenis ternak yang digembalakan yaitu
kerbau dan sapi dengan jumlah lebih kurang 60 ekor.
Penggembalaan liar dapat menjadi faktor pembatas
terhadap habitat kedua karena dapat menyebabkan
kerusakan hutan, dan hewan ternak akan menjadi pesaing
dalam pemanfaatan ruang maupun pakan serta dapat
berpotensi menyebarkan penyakit. Perambahan hutan
yang ditemukan di SM Cikepuh didominasi oleh
pengambilan kayu bakar. Kebakaran hutan juga
merupakan ancaman yang sangat tinggi, karena sebagian
SM Cikepuh merupakan kawasan semak belukar. Selain
itu, satuan kostrad telah menggunakan SM Cikepuh
sebagai tempat latihan militer seluas 150 ha.
Strategi Peningkatan Kesesuaian SM Cikepuh
sebagai Habitat Kedua
Kawasan habitat kedua harus memiliki kriteria
persyaratan hidup bagi badak jawa sehingga komponen
habitat di SM Cikepuh yang memiliki kesesuaian rendah
harus ditingkatkan. Strategi peningkatan kesesuaian
habitat harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain:
status kawasan, bentang alam, dan teknik yang digunakan.
Hal ini bertujuan untuk mepertahankan kelestarian
ekosistem. Strategi yang dapat dilakukan antara lain:
pembuatan kubangan, pengkayaan tumbuhan pakan, dan
pengendalian tekanan manusia.
Berdasarkan aspek potensi kubangan, daerah sangat
sesuai sebagai habitat kedua yaitu dalam 10 km2
ditemukan lebih dari 1 potensi kubangan, namun 12
daerah di SM Cikepuh tidak ditemukan potensi kubangan
sehingga diperlukan upaya pembuatan kubangan.
Kubangan dibuat dengan bentuk dan ukuran menyerupai
kubangan badak jawa di habitatnya yaitu panjang 2,2-13
m, lebar 1,7-9 m, dan kedalaman 0,5-1,1 m.
Berdasarkan aspek tumbuhan pakan, daerah sangat
sesuai sebagai habitat kedua memiliki rata-rata INP
tumbuhan pakan badak jawa lebih dari 80%, namun 13
daerah di SM Cikepuh hanya memiliki INP kurang dari
80%. Untuk itu diperlukan upaya peningkatan rata-rata
INP tumbuhan pakan hingga lebih dari 80% melalui
penanaman tumbuhan (pengkayaan) pakan yang memiliki
palatabilitas tinggi dan spesias asli. Sedangkan dari aspek
tekanan manusia, habitat sangat sesuai bagi badak jawa
yaitu kawasan yang bebas dari tekanan manusia sehingga
tidak ditemukan aktifitas manusia di dalam kawasan.
Namun, kondisi SM Cikepuh telah mengalami tekanan
manusia yang sangat tinggi, sehingga diperlukan
pengendalian tekanan manusia melalui: penegakan hukum
113
Tingkat Kesesuaian Suaka Margasatwa Cikepuh sebagai Habitat Kedua Badak Jawa
secara tegas, pendidikan masyarakat, patroli reguler
terstandar, rehabilitasi kawasan terdegradasi, pengeluaran
hewan ternak, dan mengatur kembali tata batas kawasan
SM Cikepuh yang berdekatan dengan kawasan militer.
Tabel 5. Tekanan manusia di blok penelitian dan skor kesesuaian
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Blok Penelitian
Hujungan-Cipanarikan
Talun-Batu Masigit
Citireum-Leuwi Urug
Cibabi-Nyalindung
Cikakar-Citapen
Cibuaya-Langkap Lancar
Pasir Perahu-Gunung Putri
Ciawet-Rimpak Harikukun
Cibulakan
Pesawahan
Cikepuh
12
Tegal Pamakanan
13
14
15
16
Cigadung
Tegal Pamindangan
Pasir parol-Batu Nunggul
Legon Pandan
Tekanan manusia
Penggembalaan, pemancingan dan perambahan
Penggembalaan, perambahan, dan perburuan
Penggembalaan dan pemancingan
Penggembalaan
Penggembalaan dan perambahan
Penggembalaan, pemancingan dan perambahan
Penggembalaan, kebakaran, dan perambahan
Pergeseran batas, kebakaran, dan perambahan
Penggembalaan dan pemancingan
Penggembalaan liar
Pemancingan, pemukiman, dan perambahan
Penggembalaan, pemancingan, kebakaran, perambahan,
penggunaan kawasan oleh Kostrad
Pergeseran batas, kebakaran, perambahan, perburuan
Pemancingan
Pemancingan dan perambahan
Pemancingan
S
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
2
Tabel 6. Hasil perbandingan dan skoring SM Cikepuh sebagai habitat kedua
No.
Blok Penelitian
1
2
Skor
∑S
Hujungan-Cipanarikan
Talun-Batu Masigit
KT
3
3
KL
3
3
Sh
3
3
KU
2
3
KA
2
3
Kb
1
1
pH
2
3
GM
1
1
KP
2
2
TM
1
1
3
Citireum-Leuwi Urug
3
2
3
2
3
1
2
1
3
1
21
4
Cibabi- Nyalindung
3
2
3
3
3
1
3
1
2
1
22
5
Cikakar-Citapen
3
3
3
3
2
1
3
1
2
1
22
6
Cibuaya-Lp Lancar
3
3
3
3
3
3
3
1
2
1
25
7
Pasir Perahu-Gg Putri
2
1
2
3
3
3
3
1
1
1
20
8
Ciawet-Rk Harikukun
3
3
3
3
2
1
3
1
1
1
21
9
Cibulakan
3
2
3
3
2
2
3
2
2
1
23
10
Pesawahan
3
1
3
3
2
1
1
2
1
1
18
11
Cikepuh
3
1
3
3
3
1
3
1
3
1
22
12
Tegal Pamakanan
3
1
3
2
2
1
3
1
2
1
19
13
Cigadung
3
1
3
2
2
1
3
1
2
1
19
14
Tegal Pamindangan
3
1
3
3
2
1
3
1
3
2
22
15
Ps parol-Bt Nunggul
3
1
3
3
3
1
3
3
2
1
23
16
Legon Pandan
3
1
3
3
2
1
3
1
2
2
21
Rata-rata skor
20
23
21,3
(0);
Keterangan: KT: ketinggian (mdpl); KL: kelerengan (%); Sh: suhu udara
KU: kelembaban udara (%); KA: ketersediaan air; KB:
ketersediaan potensi kubangan; pH: pH tanah; GM: kandungan garam mineral (0/00); KP: ketersediaan pakan; dan TM:
tekanan manusia.
114
Media Konservasi Vol 20, No.2, Agustus 2015: 108-116
Gambar 2. Peta Kesesuaian SM Cikepuh sebagai habitat kedua badak jawa
SIMPULAN
1. Komponen habitat yang berpotensi tinggi sebagai
habitat kedua di SM Cikepuh terdapat pada aspek
ketinggian, suhu udara, kelembaban udara, ketersediaan air, dan pH tanah sedangkan komponen
habitat yang berpotensi rendah terdapat pada aspek
kelerengan, potensi kubangan, kandungan garam
mineral, ketersediaan pakan, dan tekanan manusia.
2. Kawasan SM Cikepuh sesuai sebagai habitat kedua
dengan luas daerah 6.886,4 ha (84,72% kawasan).
3. Strategi peningkatan kesesuaian SM Cikepuh sebagai
habitat kedua dilakukan dengan cara membuat
kubangan badak jawa, menanam tumbuhan pakan,
mengurangi tekanan manusia.
Naturwissenschaftlichen Fakultat der Universitat
Basel. Basel.
[BTNUK] Balai Taman Nasional Ujung Kulon. 2014.
Monitoring Populasi Badak Jawa (Rhinoceros
sondaicus Desmarest, 1822) Tahun 2014 di Taman
Nasional Ujung Kulon. Pandeglang.
CITES [Convention on International Trade in Endangered
Spesies of Wild Fauna and Flora]. 2013. CITES
species database: Rhinoceros sondaicus. [Internet].
[diunduh 2013 Mei 4]. Tersedia pada:
http://www.cites.org/html.
Hommel WFMP. 1987. Landscape Ecology of Ujung
Kulon. West Java. Indonesia.
Hoogerwerf A. 1970. Udjung Kulon: The Land of The Last
Javan Rhinoceros. E.J. Brill Leiden.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang
diajukan yaitu perlu dilakukan penelitian mengenai aspek
sosial ekonomi di sekitar SM Cikepuh, mengingat
kawasan ini banyak mengalami tekanan manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Alikodra HS et al. 2013. Teknik Konservasi Badak
Indonesia. Literati. Tangerang.
Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar Jilid I.
Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Amman H. 1985. Contribution to the Ecology and
Sociology of the Javan Rhinoceros (Rhinoceros
sondaicus). Inangural Dissertati. Philosophisch.
IUCN [International Union for Conservation of Nature
and Natural Resources]. 2015. The IUCN red list of
threatened:
Rhinoceros
sondaicus.[Internet].
[diunduh 2015 April 29]. Tersedia pada:
http://www.iucnredlist. org /search.
Muntasib EKSH. 2002. Penggunaan ruang habitat oleh
badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.
Disertasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Muntasib EKSH, Haryanto RP, Burhanuddin M, Dones R,
Harnios A, Yeni AM, Siti BR, Prayitno W, Mulyadi
K. 1997. Panduan pengelolaan habitat badak jawa
(Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822) di Taman
Nasional Ujung Kulon. Media Konservasi. Edisi
Khusus:1-15.
Rahmat UM. 2007. Analisis Tipologi Habitat Preferensial
Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Tesis. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
115
Tingkat Kesesuaian Suaka Margasatwa Cikepuh sebagai Habitat Kedua Badak Jawa
Rahmat UM. 2009. Genetika populasi dan strategi
konservasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus).
Manajemen Hutan Tropika. 15(2):83- 90.
Rahmat UM. 2013. Laporan Akhir: Survey Kandidat
Second Habitat Badak Jawa di Provinsi Banten dan
Jawa Barat. WWF Ujung Kulon.
Rahmat UM, Yanto S, Lilik BP, Agus PK. 2008. Analisis
Preferensi Habitat Badak Jawa di TNUK.
Manajemen Hutan Tropika. 15. 116 – 124.
Rahmat UM, Yanto S, Lilik BP, Agus PK. 2012.
Pemodelan Kesesuaian Habitat Badak Jawa di
TNUK. Manajemen Hutan Tropika. 18(2).
116
Sadjudin HR dan B Djaja. 1984. Monitoring Populasi
Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest,
1822) di Semenanjung Ujung Kulon. Fakultas
Biologi, Universitas Nasional. Jakarta.
Schenkel R dan LH Schenkel. 1969. The Javan
Rhinoceros in UKNR, its Ecologi and Behaviour.
Field Study 1967 and 1968. Acta tropica separatum.
[WWF] World Wildlife Fund. 2012. Tambahan 120
kamera video otomatis untuk pengamatan badak
jawa di Ujung Kulon. [Internet]. [diunduh 2013 Juli
29]. Tersedia pada: http://www1.dephut.go.id/ .pdf.
Fly UP