...

Agatha Christie Kasus-kasus Terakhir Miss Marple - alfata-kp

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Agatha Christie Kasus-kasus Terakhir Miss Marple - alfata-kp
Agatha Christie
Kasus-kasus Terakhir Miss Marple
Pertama-tama, cerita tentang seorang pria tak dikenal yang muncul di gereja dengan luka
tembak di tubuhnya… lalu teka-teki harta karun peninggalan seorang lelaki tua yang
eksentrik… kelakuan aneh seorang penunggu rumah setelah suatu kecelakaan berkuda yang
mencurigakan… jenazah seorang wanita dan kaitannya dengan tali pengukur… gadis yang
dituduh melakukan pencurian… kasus boneka yang aneh dan menakutkan., misteri cermin
yang memantulkan bayangan seorang wanita yang ditikam oleh suaminya… dan cerita tentang
pengalaman Miss Marple.
Delapan kasus mencekam yang memiliki satu kesamaan —semuanya dipecahkan dengan brilian
oleh Miss Marple
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Jl. Palmerah Selatan 24—26, Lt.6 Jakarta 10270
ISBN 979-605-829-4
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan
atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujnh) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada
umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), dipidana dengan pidana penjara pating lama S (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 50.000.000,-(lima puluh juta rupiah).
AGATHA CHRISTIE
KASUS-KASUS TERAKHIR MISS MARPLE
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1997
MISS MARPLES FINAL CASES
by Agatha Christie Copyright Š 1979 by Agalha Christie
All rights reserved.
KASUS-KASUS TERAKHIR MISS MARPLE
Alih bahasa: Ny. Suwami A.S
GM 402 97.829 Hak cipta terjemahan Indonesia: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jl.
Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh. Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta November 1997
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
CHRISTIE, Agalha
Kasus-kasus Terakhir Miss Marple/Agatha Christie; alih bahasa, Ny. Suwami A.S —Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1997 192 him. ; 18 cm.
Judul Asli : Miss Marple’s Final Cases ISBN 979 - 605 - 829 - 4
1. Judul n. A.S., Ny. Suwami
813
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di lnar tanggung jawab percetakan
ISI
1. Perlindungan
2. Lelucon yang Aneh 38
3. Pembunuhan dengan Pita Pengukur 57
4. Kasus si Penjaga Rumah 79
5. Kasus Pelayan yang Sempurna 101
6. Miss Marple Bercerita 123
7. Boneka sang Penjahit 138
8. Teka-teki Piinlulan Cermin 168
Perlindungan
Wantta itu membelok di rumah kediaman Pendeta, dengan membawa sepemeluk penuh bunga
krisan. Ia istri sang pendeta. Pada sepatunya yang kokoh melekat tanah kebun, di
hidungnya juga terdapat tanah sedikit, tapi hal itu sama sekali tak disadarinya.
Dengan agak susah payah ia membuka pintu pagar rumah yang berkarat dan sudah setengah
tergantung pada engselnya. Angin berembus meniup topi lakennya yang sudah tua, hingga
topi itu makin miring di kepalanya. “Masa bodoh!” kata Bunch.
Orangtuanya dengan optimis menamainya Diana, tapi pada usia muda nama Mrs. Harmon telah
berubah menjadi Bunch, dan sejak itu nama tersebut melekat padanya. Sambil membawa
bunga-bunga krisan itu, ia melewati pekarangan dan langsung ke pintu gereja.
Udara bulan November terasa lembut dan lem-bap. Awan bertumpuk-tumpuk di langit,
diselingi warna biru di sana-sini. Di dalam gereja gelap
dan dingin. Alat pemanas dinyalakan hanya bila ada misa.
“Brrrr!” kata Bunch Kedinginan. “Sebaiknya cepat-cepat kuselesaikan tugasku ini. Aku
tak ingin mati kedinginan.”
Dengan gesit diambilnya apa-apa yang diperlukannya: jambangan-jambangan, air, dan pakupaku bunga. “Sayang tidak ada bunga lili,” pikir Bunch. “Aku sudah bosan dengan bunga
krisan yang kurus kering ini.” Jemarinya yang kaku mengatur bunga di wadahnya.
Hasil penataannya tidak, istimewa dan tidak berseni, karena Bunch Harmon sendiri puntidak istimewa dan tidak berseni. Namun rangkaian bunga itu sederhana dan menyenangkan.
Sambil membawa jambangan-jambangan itu dengan hati-hati, Bunch melangkah ke arah meja
persembahan. Pada saat itu matahari muncul dari balik awan.
Cahayanya menembus jendela sebelah timur yang terbuat dari kaca berwarna yang agak
kasar, yang sebagian besar berwarna biru dan merah —pemberian seorang jemaat yang kaya.
Keindahan yang mendadak itu terasa agak mengejutkan. “Seperti permata,” pikir Bunch.
Tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia memandang lurus ke depan. Di tangga ke arah
mimbar, sesosok tubuh gelap meringkuk.
Setelah meletakkan bunga-bunga dengan hati-hati, Bunch mendatangi sosok itu dan
membungkuk. Seorang laki-laki terbaring di situ, dengan tubuh meringkuk. Bunch
membungkuk, lalu lambat-lambat dan perlahan-lahan membalikkan tubuh itu.
Dirabanya nadi laki-laki itu—nadi itu demikian lemah dan perlahan, hingga sudah
jelaslah keadaan orang itu, apalagi melihat wajahnya yang’ pucat pasi. Laki-laki ini
pasti sudah sekarat, pikir Bunch.
Laki-laki itu berumur sekitar empat puluh lima tahun, berpakaian kumal warna gelap.
Bunch meletakkan tangan yang sudah tak berdaya itu dan memandangi tangan satunya.
Tangan itu terkepal di dada. Setelah melihat dengan lebih cermat, tampak olehnya bahwa
jemarinya menggenggam sesuatu seperti kain lebar atau saputangan yang ditekankan kuatkuat di dada. Di sekitar tangan yang terkepal itu terdapat cairan cokelat yang sudah
mengering, yang menurut dugaan Bunch adalah darah kering. Bunch berjongkok dan
mengerutkan alisnya.
Selama itu mata laki-laki itu tertutup, tapi lalu tiba-tiba terbuka dan menatap wajah
Bunch. Mata itu tidak kelihatan hampa atau menerawang, melainkan hidup dan tampak
cerdas. Bibirnya, bergerak. Bunch membungkuk untuk menangkap apa yang dikatakannya.
Ternyata orang itu hanya mengucapkan satu kata.
“Sanctuary—Perlindungan.”
Bunch serasa melihat seulas senyum lemah ketika laki-laki itu mengucapkan kata
tersebut. Tak mungkin salah, karena tak lama kemudian ia berkata lagi, “Perlindungan….”
Lalu, sambil mendesah panjang dan lemah, matanya terkatup lagi. Sekali lagi Bunch
meraba nadi—
9
nya. Masih terasa, tapi kini makin lemah dan makin tidak teratur. Bunch bangkit dengan
tegas.
“Jangan bergerak,” katanya, “atau mencoba bergerak Aku akan mencari bantuan.”
Mata laki-laki itu terbuka lagi, tapi kini agaknya ia memusatkan perhatian pada cahaya
warna-warni dari jendela di sisi timur. Ia menggumamkan sesuatu yang tidak tertangkap
oleh Bunch. Bunch terkejut karena mengira yang diucapkan laki-laki itu mungkin nama
suaminya.
“Julian?” tanyanya. “Anda kemari akan menemui Julian?” Tak ada jawaban. Laki-laki itu
terbaring dengan mata tertutup, napasnya lambat dan tersengal-sengal.
Bunch berbalik, lalu cepat-cepat meninggalkan gereja. Ia melihat ke arlojinya, lalu
mengangguk dengan rasa puas. Dr. Griffiths pasti masih ada di tempat prakteknya. Tempat
itu hanya berjarak beberapa menit dari gereja, la masuk tanpa mengetuk atau menekan bel
terlebih dahulu, melewati ruang tunggu, dan langsung ke ruang pemeriksaan dokter.
“Kau harus segera datang,” kata Bunch. “Ada laki-laki yang sekarat di gereja.”
Beberapa menit setelah memeriksa dengan berlutut, Dr. Griffiths bangkit.
“Bisakah kita memindahkannya ke rumah Pendeta? Di sana aku bisa menanganinya dengan
lebih baik, meskipun sudah tak ada gunanya lagi.”
“Tentu,” kata Bunch. “Aku akan pergi untuk mempersiapkan segala sesuatu. Sebaiknya
kupanggil
10
Harper dan Jones untuk membantumu mengangkatnya, ya?”
“Terima kasih. Aku bisa menelepon dari rumah pendeta Untuk minta didatangkan ambulans,
tapi kurasa… saat ambulans datang…” la tidak menyelesaikan kata-katanya.
“Perdarahan di dalam, ya?” tanya Bunch.
Dr. Griffiths mengangguk. “Entah bagaimana dia sampai bisa kemari?” katanya.
“Kurasa sudah semalaman dia di sini,” kata Bunch. “Harper biasanya membuka pintu gereja
di pagi hari, tapi biasanya dia sendiri tidak masuk.”
Lima menit kemudian, Dr. Griffiths meletakkan alat penerima telepon dan kembali ke
ruang duduk. Orang yang terluka itu terbaring di atas selimut yang diatur cepat-cepat
di sofa. Bunch memindahkan baskom berisi air dan berbenah setelah dokter itu selesai
memeriksa.
“Nah, sudah selesai,” kata Griffiths. “Aku sudah minta didatangkan ambulans dan sudah
memberi-tahu polisi.” Dengan dahi berkerut ia memandangi pasien yang terbaring dengan
mata tertutup itu. Tangan kirinya bergerak-gerak tak menentu di sisinya.
“Dia ditembak,” kata Griffiths. “Ditembak dari jarak yang cukup dekat. Saputangannya
digulungnya dan disumbatkannya pada lukanya untuk menghentikan perdarahan.”
“Mutigkinkah dia berjalan jauh setelah ditembak?” tanya Bunch.
“Oh ya, itu mungkin saja. Pernah seseorang
11
yang luka parah bisa bangkit dan berjalan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu
tiba-tiba jatuh lima atau sepuluh menit kemudian. Jadi, mungkin saja dia tidak ditembak
di dalam gereja. Tidak. Mungkin dia ditembak di tempat yang agak jauh. Tentu ada
kemungkinan dia menembak dirinya sendiri, lalu menjatuhkan pistolnya, dan berjalan
terhuyung-huyung ke arah gereja. Entah mengapa dia menuju gereja dan tidak menuju rumah
pendeta.”
“Oh, aku tahu,” kata Bunch. “Dia berkata, ‘Perlindungan.Dokter memandangi Bunch.
“Perlindungan?”
“Ini Julian,” kata Bunch sambil memalingkan kepala ketika mendengar langkah-langkah
kaki suaminya di lorong rumah. “Julian! Mari sini.”
Pendeta Julian Harmon memasuki ruangan itu. Sikapnya yang terpelajar selalu membuatnya
kelihatan jauh lebih tua daripada umurnya yang sebenarnya. “Astaga!” kata Julian
Harmon, sambil memandangi peralatan kedokteran dan sosok yang tak bergerak di sofa.
Bunch menjelaskan dengan gayanya yang ringkas. “Dia berada di dalam gereja, sekarat.
Dia ditembak. Kenalkah kau padanya, Julian? Kalau tidak salah, dia menyebut namamu.”
Pendeta mendekati sofa dan memandangi laki-laki yang sekarat itu. “Kasihan,” katanya,
lalu menggeleng. ‘Tidak, aku tidak kenal padanya. Aku yakin aku tak pernah melihatnya.”
Pada saat itu, laki-laki yang sekarat itu membuka matanya lagi. Mata itu terarah pada
Dokter, pada
12
Julian Harmon, dan kemudian pada istrinya. Mata itu terus menatap ke wajah Bunch
Griffiths mendekat.
“Coba ceritakan pada kami,” desaknya.
Tapi dengan mata tetap menatap Bunch, laki-laki itu berkata dengan suara lemah,
“Tolonglah— tolonglah.” Lalu dengan getaran kecil ia meninggal….
Sersan Hayes menjilat pensilnya, lalu membalik halaman buku catatannya.
“Jadi, hanya itu yang bisa Anda ceritakan, Mrs. Harmon?”
“Hanya itu,” kata Bunch. “Ini barang-barang dari saku mantelnya.”
Di meja, di dekat siku Sersan Hayes, terletak sebuah dompet, sebuah arloji tua yang
sudah pecah kacanya dan bertuliskan huruf-huruf W.S., dan sobekan karcis ke London.
Hanya itu.
“Anda sudah tahu siapa dia?” tanya Bunch.
“Ada orang-orang bernama Mr. dan Mrs. Eccles yang menelepon ke kantor polisi. Agaknya
dia saudara laki-laki Mrs. Eccles. Namanya Sandbourne. Sudah beberapa lama kurang sehat
dan menderita gangguan saraf. Akhir-akhir ini keadaannya memburuk. Kemarin dulu dia
keluar dan tidak kembali. Dia membawa pistol.”
“Lalu dia kemari dan menembak dirinya sendiri dengan pistol itu?” tanya Bunch.
“Mengapa?”
“Yah, katanya dia dalam keadaan tertekan….”
“Bukan itu maksudku,” sela Bunch. “Maksudku, mengapa di sini?”
13
Karena Sersan Hayes tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu, maka ia memberikan jawaban
lain. “Dia datang kemari naik bus jam lima lewat sepuluh.”
“Benar,” kata Bunch. “Tapi mengapa?”
“Aku tidak tahu, Mrs. Harmon,” kata Sersan Hayes. “Tak ada penjelasannya. Kalau pikiran
orang sudah terganggu…”
“Dia mungkin melakukannya di mana saja,” kata Bunch, menyelesaikan kalimat si sersan.
“Tapi aku tetap beranggapan bahwa dia tak perlu naik bus ke desa kecil seperti ini. Dia
tidak kenal siapa-siapa di sini, bukan?”
“Sejauh ini, itu tak bisa dipastikan,” kata Sersan Hayes. Ia berdeham, laiu bangkit.
“Mungkin Mr. dan Mrs. Eccles akan datang menemui Anda, Ma’am. Itu pun kalau Anda tidak
keberatan.”
“Tentu saja aku tidak keberatan,” kata Bunch. “Itu biasa. Aku hanya berharap alangkah
baiknya kalau aku bisa menjelaskannya pada mereka.”
“Aku harus pergi,” kata Sersan Hayes.
Sambil mengantar si sersan ke pintu depan, Bunch berkata, “Untunglah itu bukan
pembunuhan.”
Sebuah mobil sedang menuju pintu gerbang kediaman pendeta. Sersan Hayes yang melihat
mobil itu berkata, “Kelihatannya itu Mr..dan Mrs. Eccles yang datang untuk berbicara
dengan Anda, Ma’am.”
Bunch membesarkan hatinya sendiri untuk menanggung tugas yang rasanya sulit ini.
“Bagaimanapun,” pikirnya, “aku masih bisa meminta Julian membantuku. Kehadiran seorang
pendeta akan sa—
14
ngat menghibur bagi orang-orang yang sedang berduka cita.”
Bunch tak pernah membayangkan, seperti apa Mr. dan Mrs. Eccles itu, tapi ketika
menyambut mereka, ia terkejut. Mr. Eccles bertubuh besar dan tegap, agaknya bersifat
ceria dan Jenaka. Mrs. Eccles tampak agak mencolok. Mulutnya kecil, lancip, dan tampak
jahat. Suaranya kecil melengking.
“Anda tentu bisa membayangkan bahwa ini mengejutkan sekali, Mrs. Harmon,” katanya.
“Oh, saya mengerti,” kata Bunch. “Pasti begitu. Silakan duduk. Bolehkah saya
menawarkan… yah, mungkin terlalu awal untuk minum teh….”
Mr. Eccles mengangkat tangan; jemarinya pendek-pendek. “Tidak, jangan suguhkan apa-apa
pada kami,” katanya. “Anda baik sekali. Kami hanya ingin tahu… yah… apa yang dikatakan
oleh William.”
“Dia sudah lama di luar negeri,” kata Mrs. Eccles, “dan saya rasa dia sudah mengalami
beberapa kejadian mengerikan. Sejak kembali, dia banyak diam dan tampak tertekan.
Katanya dunia ini sudah tak pantas lagi didiami dan tak ada yang bisa diharapkan.
Kasihan Bill, dia selalu murung.”
Beberapa lamanya Bunch memandangi mereka tanpa berkata apa-apa.
“Dia mencuri pistol suami saya,” lanjut Mrs. Eccles. “Tanpa kami ketahui. Lalu agaknya
dia kemari naik bus. Saya rasa dia merasa senang melakukannya. Dia tak ingin
melakukannya di rumah kami.”
15
“Kasihan, kasihan,” kata Mr. Eccles sambil mendesah. “Kita tak bisa menyalahkannya.”
Keadaan sepi sebentar, lalu Mr. Eccles bertanya, “Apakah dia meninggalkan pesan? Katakata terakhir umpamanya?”
Matanya yang cerah dan seperti mata babi memandangi Bunch dengan cermat. Mrs. Eccles
pun membungkuk, seperti ingin sekali mendengar jawabannya.
‘Tidak,” kata Bunch dengan tenang. “Dia masuk ke gereja waktu dia sudah sekarat, untuk
mencari perlindungan.”
Dengan nada heran Mrs. Eccles berkata, “Perlindungan? Saya kurang…”
Mr. Eccles menyela, “Astaga, Sayang,” katanya tak sabaran. “Itulah maksud ibu pendeta.
Kau kan tahu bahwa bunuh diri itu suatu dosa. Kurasa dia ingin minta ampun.”
“Dia mencoba mengatakan sesuatu sebelum meninggal,” kata Bunch. “Dia mulai dengan
berkata ‘Tolonglah,’ tapi hanya itu yang bisa diucapkannya.”
Mrs. Eccles menyeka matanya dengan saputangan dan terisak. “Aduh,” katanya.
“Membingungkan sekali, ya?”
“Sudahlah, Pam,” kata suaminya. “Jangan diambil hati. Memang sudah demikian keadaannya.
Kasihan Willie. Tapi sekarang dia sudah tenang. Yah, terima kasih, Mrs. Harmon. Saya
harap kami tidak mengganggu Anda. Istri pendeta selalu sibuk, kami tahu itu.”
16
Mereka bersalaman dengan Bunch. Lalu tiba-tiba Eccles berbalik dan berkata, “Oh ya, ada
satu hal lagi. Saya rasa mantelnya ada pada Anda di sini, ya?”
•“Mantelnya?” Bunch mengerutkan dahi.
“Kami menginginkan semua barangnya,” kata Mrs. Eccles, “sebagai kenang-kenangan.”
“Ada arloji dan dompet dan karcis kereta api dalam sakunya,” kata Bunch. “Sudah saya
serahkan pada Sersan Hayes.”
“Kalau begitu, baiklah,” kata Mr. Eccles. “Saya rasa dia akan menyerahkannya pada kami.
Surat-surat pribadinya pasti ada di dalam dompet itu.”
“Ada uang kertas bernilai satu pound dalam dompetnya,” kata Bunch. “Tak ada yang lain.”
“Tak ada surat-surat, atau semacamnya?”
Bunch menggeleng.
“Yah, terima kasih sekali lagi, Mrs. Harmon. Mantel yang dipakainya… mungkin ada pada
sersan itu juga, ya?” Bunch mengerutkan alisnya untuk mengingat-ingat.
“Tidak,” katanya. “Saya rasa tidak… coba saya ingat-ingat. Saya dan Dokter
menanggalkannya, untuk memeriksa lukanya.” Ia melihat ke sekeliling ruangan itu.
“Mungkin saya bawa naik ke lantai atas bersama handuk-handuk dan baskom.”
“Kalau Anda tidak keberatan, Mrs. Harmon… kami menginginkan mantelnya, barang terakhir
yang dipakainya. Istri saya menginginkannya sebagai kenang-kenangan.”
‘Tentu,” kata Bunch. “Apakah Anda tak ingin
17
itu dicuci dulu? Karena mantel itu… yah… bernoda.”
“Oh, tidak, tak apa-apa.”
Bunch mengerutkan alisnya lagi. “Di mana, ya… tunggu sebentar.” la naik ke lantai atas
dan beberapa menit kemudian kembali lagi.
“Maafkan saya,” katanya terengah, “pasti petugas pembersih rumah kami telah
menyisihkannya bersama pakaian lain yang harus dibawa ke binatu. Lama sekali saya baru
bisa menemukannya. Ini dia. Biar saya bungkus dengan kertas pembungkus,”
Tanpa memedulikan protes mereka, dibungkusnya mantel itu, kemudian setelah mengucapkan
selamat berpisah sekali lagi, suami-istri Eccles pun berangkat.
Perlahan-lahan Bunch menyeberangi ruang depan dan masuk ke ruang kerja. Pendeta Julian
Harmon mengangkat wajahnya dan ia tampak senang. Ia sedang mengarang khotbah, dan
merasa cemas kalau-kalau ia terseret oleh minatnya mengenai hubungan politik di antara
Yudea dan Persia, dalam pemerintahan Cyrus.
“Ada apa, Sayang?” tanyanya penuh harap.
“Julian,” kata Bunch. “Apa arti sanctuary sebenarnya?”
Dengan rasa syukur Julian Harmon menyingkirkan kertas khotbahnya.
“Begini,” katanya. “Dalam kuil-kuil Romawi dan Yunani, sanctuary berarti cella, tempat
diletakkannya patung seorang dewa. Altar, yang dalam bahasa Latinnya ara, juga berarti
perlindungan.” Ia me-18
lanjutkan dengan sikap orang pandai, “Pada tahun 399 Masehi, hak perlindungan pada
gereja-gereja Kristen akhirnya diakui dengan pasti. Di Inggris, hak tentang
perlindungan untuk pertama kalinya disebutkan dalam undang-undang yang dikeluarkan oleh
Ethelbert pada tahun 600 Masehi….”
Masih beberapa lama lagi ia melanjutkan penjelasannya, namun sebagaimana sering
terjadi, kata-katanya yang penuh pengetahuan itu tidak tertangkap oleh istrinya.
“Sayangku,” kata istrinya. “Kau sungguh baik.”
Sambil membungkuk diciumnya ujung hidung suaminya. Julian merasa seperti seekor anjing
yang mendapatkan ucapan selamat karena telah melakukan suatu atraksi yang pandai.
“Tadi suami-istri Eccles kemari,” kata Bunch.
Sang pendeta mengerutkan dahinya. “Ecless? Rasanya aku tak ingat…”
“Kau tidak mengenal mereka. Mereka adalah adik perempuan laki-laki yang di dalam gereja
itu, dengan suaminya.”
“Sayangku, seharusnya kau memanggilku.”
“Tak ada perlunya,” kata Bunch. “Mereka tidak memerlukan kata-kata hiburan. Aku baru
ingat…” Dikerutkannya dahinya. “Kalau besok kusiapkan makanan di oven, bisakah kau
makan sendiri, Julian? Aku harus pergi ke London, karena ada obral.”
“Obor apa?” tanya suaminya tak mengerti. “Maksudmu ada festival obor atau apa?”
Bunch tertawa. “Bukan, Sayang. Di toko Burrows
19
and Portman ada obral khusus untuk barang-barang seperti alas tempat tidur, alas meja,
handuk, lap-lap gelas, dan lain-lain. Entah apa yang terjadi dengan lap-lap gelas kita,
cepat sekali usangnya. Kecuali itu,” tambahnya sambil merenung, “rasanya aku ingin
mengunjungi Bibi Jane.”
Miss Jane Marple, wanita tua yang manis itu, sedang menikmati suasana London selama dua
minggu. Ia menginap di apartemen keponakannya yang merangkap studio.
“Baik hati sekali si Raymond itu,” gumamnya. “Dia dan Joan pergi ke Amerika selama dua
minggu, dan mereka berkeras agar aku mau datang kemari untuk bersenang-senang. Dan
sekarang, Bunch tersayang, ceritakan apa yang sedang kaususahkan.”
Bunch adalah anak baptis kesayangan Miss Marple, dan wanita tua itu memandangi Bunch
dengan penuh kasih sayang sementara Bunch mendorong topi lakennya yang terbaik lebih
jauh ke belakang. Lalu ia memulai ktsahnya.
Kisah Bunch singkat dan jelas. Miss Marple mengangguk waktu Bunch selesai bercerita.
“Oh, begitu,” katanya. “Ya, aku mengerti.”
“Itulah sebabnya aku merasa harus menemui Anda,” kata Bunch. “Soalnya, aku tidak
pintar.”
“Tapi kau pintar, sayangku.”
‘Tidak. Tidak sepintar Julian.”
“Tentu saja Julian punya kecerdasan yang mantap,” kata Miss Marple.
20
“Itulah,” kata Bunch. “Julian memiliki kecerdasan, tapi sebaliknya, aku memiliki akal
sehat.”
“Kau memiliki akal yang sehat sekali, Bunch, dan kau cerdas sekali.”
“Tapi aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku tak bisa bertanya pada Julian,
soalnya Julian banyak sekali pekerjaan gereja…”
Pernyataan itu agaknya dipahami benar oleh Miss Marple, yang berkata, “Aku mengerti apa
maksudmu, Sayang. Bagi kita wanita, keadaannya berbeda.” Katanya lagi, “Sudah
kauceritakan apa yang terjadi, Bunch, tapi aku ingin tahu dulu apa pendapatmu.”
“Semuanya salah,” kata Bunch. “Laki-laki yang sedang sekarat di gereja itu tahu semua
tentang Perlindungan. Dia mengucapkannya dengan cara yang sama benar dengan cara
Julian. Maksudku, dia seorang laki-laki berpendidikan dan banyak membaca. Dan
seandainya dia menembak dirinya’ sendiri, dia tidak akan menyeret dirinya ke sebuah
gereja sesudahnya dan mengatakan, ‘Perlindungan’. ‘Perlindungan’ berarti dia dikejar,
dan bila dia masuk ke gereja, dia akan selamat. Orang-orang yang mengejarnya tak bisa
lagi menyentuhnya. Balikan undang-undang pun tak bisa menuntutnya.”
Ia menatap Miss Marple dengan pandangan bertanya, dan wanita tua itu mengangguk. Kata
Bunch lagi, “Orang-orang itu, maksudku suami-istri Eccles, lain sekali. Mereka bodoh
dan kasar. Dan ada satu hal lagi. Arloji itu —arloji laki-laki yang meninggal itu. Di
bagian belakangnya terdapat inisial W.S.,
21
sedangkan di dalamnya—aku membukanya —tertulis dengan huruf-huruf kecil sekali: Untuk
Walter, dari ayahnya, dan tanggalnya. Tapi suami-istri Eccless itu selalu menyebutnya
William atau Bill.”
Agaknya Miss Marple akan berbicara, tapi Bunch cepat-cepat melanjutkan. “Aku tahu.
Orang tidak selalu dipanggil sesuai dengan nama baptisnya. Maksudku, aku mengerti kalau
seseorang dibaptis dengan nama William tapi dipanggil Porgy atau Carrots atau apa saja.
Tapi adiknya sendiri tak mungkin menyebutnya William atau Bill kalau namanya Walter.”
“Maksudmu wanita itu bukan adiknya?”
“Aku yakin benar bahwa dia bukan adiknya. Mereka mengerikan sekali —kedua orang itu.
Mereka datang ke kediaman pendeta untuk mengambil barang-barangnya dan mencari tahu
kalau-kalau dia mengatakan sesuatu sebelum meninggal. Waktu kukatakan bahwa dia tidak
mengatakan apa-apa, aku melihat rasa lega di wajah mereka. Jadi, kupikir,” kata Bunch
menyudahi, “Eccles-lah yang menembaknya.”
“Pembunuhan?”
“Ya,” kata Bunch. “Pembunuhan. Itulah sebabnya aku mendatangi Anda, sayangku.”
Kata-kata Bunch mungkin tidak mengandung arti bagi pendengar yang tidak tahu, tapi
dalam keadaan-keadaan tertentu, Miss Marple terkenal pintar dalam menangani pembunuhan.
“Dia berkata, ‘Tolonglah,* padaku sebelum meninggal,” kata Bunch. “Dia ingin aku
melakukan
22
sesuatu untuknya. Yang menjengkelkan adalah, aku tidak tahu apa-apa.”
Miss Marple berpikir sebentar, lalu menanyakan hal yang juga sudah terpikir oleh Bunch.
“Tapi mengapa dia harus berada di situ?” tanyanya.
“Maksud Bibi,” kata Bunch, “kalau orang memerlukan perlindungan, bisa saja dia masuk ke
gereja mana pun? Dia tak perlu naik bus yang hanya berangkat empat kali sehari dan
datang ke tempat sesepi tempat kita?”
“Dia pasti datang ke situ dengan suatu tujuan,” pikir Miss Marple. “Dia pasti datang
akan menemui seseorang. Chipping Cleghorn bukan desa besar, Bunch. Masa kau tidak tahu
siapa yang ingin ditemuinya itu?”
Bunch mengingat-ingat para penghuni desanya, lalu menggeleng dengan ragu.
“Bagaimanapun,” katanya, “bisa siapa saja.”
“Tidakkah dia menyebutkan suatu nama?”
“Dia mengatakan Julian, kalau tak salah. Mungkin juga Julia. Tapi, sepanjang
pengetahuanku, tak ada orang bernama Julia di Chipping Cleghorn.”
Bunch memicingkan matanya, mengingat kembali peristiwa tersebut. Laki-laki yang
terbaring di tangga mimbar, cahaya matahari yang masuk lewat jendela dengan sinarnya
yang bagaikan permata merah dan biru.
“Mungkinkah dia akan mengatakan, ‘Jewels’ — permata?” kata Miss Marple.
“Sekarang aku akan mengatakan yang terpenting,” kata Bunch. “Alasan sebenarnya aku
datang
23
kemari. Soalnya, suami-istri Eccles itu ribut sekali untuk mendapatkan mantel almarhum.
Kami menanggalkannya waktu Dokter akan memeriksanya. Mantel itu sudah tua dan
usang—rasanya tak ada alasan mengapa mereka menginginkannya. Mereka berpura-pura
mengatakan bahwa itu merupakan benda kenang-kenangan, tapi itu tentu omong kosong.
“Pokoknya, aku naik saja ke lantai atas untuk mencarinya. Waktu sedang menaiki tangga,
aku ingat bahwa almarhum telah melakukan gerak seperti mengambil dengan tangannya,
seolah-olah dia sedang mencari-cari sesuatu-di mantelnya. Jadi, waktu menemukan mantel
itu, kuperhatikan benda itu baik-baik, dan kulihat bahwa salah satu lapisannya dijahit
dengan benang yang warnanya lain. Maka kubuka jahitan itu dan aku menemukan secarik
kertas di dalamnya. Kukeluarkan, lalu ku-jahit lagi baik-baik dengan benang yang
sewarna. Kulakukan dengan cermat sekali, dan kurasa suami-istri Eccles tidak tahu apa
yang telah kulakukan. Kurasa tidak, tapi aku tidak yakin. Kubawa turun mantel itu dan
kuberikan alasan mengapa aku lama menemukannya.”
“Lalu kertas itu?” tanya Miss Marple.
Bunch membuka tasnya. “Aku tidak memperlihatkannya pada Julian,” katanya, “karena dia
pasti akan berkata bahwa seharusnya aku memberikannya pada suami-istri Eccles. Tapi
kupikir lebih baik kuberikan pada Bibi.”
“Karcis bukti penitipan mantel,” kata Miss
24
Marple sambil memandanginya. “Di Stasiun Paddington.”
“Di sakunya memang ada tiket untuk kembali ke Paddington,” kata Bunch.
Kedua wanita itu beradu pandang.
“Kita harus bertindak,” kata Miss Marple dengan bersemangat. “Tapi kurasa kita harus
berhati-hati. Apakah kausadari, Bunch, apa kau diikuti orang atau tidak, dalam
perjalananmu ke London tadi?”
“Diikuti!” seru Bunch. “Masa Bibi mengira…”
“Kupikir mungkin saja,” kata Miss Marple. “Bila segala sesuatu mungkin, kita harus
waspada.” Ia bangkit dengan bersemangat. “Kau datang kemari dengan berpura-pura akan
berbelanja di tempat obral. Oleh karenanya, kupikir yang terbaik adalah pergi ke tempat
obral itu. Tapi sebelum berangkat, kita harus mengadakan beberapa persiapan dulu.
Kurasa,” lanjut Miss Marple, “aku memerlukan setelan tuaku dari bahan wol bercorak
bintik-bintik dan berkerah bulu berang-berang itu.”
Kira-kira sejam kemudian, kedua wanita yang tampak lelah itu sudah mengepit bungkusanbungkusan bahan kain keperluan rumah tangga yang usang. Kini mereka duduk di sebuah
rumah minum kecil yang bernama Apple Bough, untuk memulihkan tenaga sambil makan bistik
dan puding ginjal, yang disusul dengan kue apel dan kue tar.
“Handuknya benar-benar dari kualitas sebelum perang,” desah Miss Marple yang sudah agak
kehabisan napas. “Dan ada huruf J-nya pula. Untunglah istri Raymond bernama Joan. Akan
kusisih—
25
kan barang-barang ini sampai aku benar-benar membutuhkannya, dan kelak akan kuwariskan
padanya bila aku meninggal lebih cepat daripada yang kuharapkan.”
“Aku benar-benar memerlukan serbet-serbet gelas ini,” kata Bunch. “Untung murah sekali,
meskipun tidak semurah serbet-serbet yang dirampas wanita berambut cokelat itu dari
tanganku.”
Pada saat itu seorang wanita muda yang cantik, dengan pemerah pipi dan lipstik tebal,
masuk ke Apple Bough. Setelah melihat berkeliling beberapa lama, ia bergegas ke meja
mereka. Diletakkannya sebuah amplop di dekat siku Miss Marple.
“Nah, ini, Miss,” katanya dengan bersemangat.
“Terima kasih, Gladys,” kata Miss Marple. “Terima kasih banyak. Kau baik sekali.”
“Saya selalu senang membantu,” kata Gladys. “Ernie selalu berkata pada saya, ‘Semuanya
yang baik telah kaupelajari dari Miss Marple, mantan majikanmu itu,’ dan saya benarbenar senang kalau bisa menolong Anda, Miss.”
“Baik benar gadis itu,” kata Miss Marple setelah Gladys berlalu. “Selalu siap sedia dan
baik hati.”
Ia melihat ke dalam amplop, lalu memberikannya pada Bunch. “Berhati-hatilah, Sayang,”
katanya. “Omong-omong, masih adakah inspektur muda yang baik di Melchester itu? Aku
ingat dia.”
“Entah ya,” kata Bunch. “Kurasa masih ada.”
“Yah, kalau sudah tak ada lagi,” kata Miss Marple sambil merenung, “aku bisa menelepon
Kepala Polisi. Kurasa dia masih ingat padaku.”
26
“Pasti dia masih ingat,” kata Bunch. “Semua orang ingat pada Bibi. Sebab Bibi lain dari
yang lain, sih.” Ia bangkit.
Setibanya di Paddington, Bunch pergi ke kantor penitipan barang-harang. Beberapa saat
kemudian, sebuah koper yang sudah tua dan kumal disorongkan ke arahnya. Sambil
menjinjing koper itu, ia berjalan ke arah peron.
Dalam perjalanan pulang tidak terjadi apa-apa. Waktu kereta api tiba di Chipping
Cleghorn, Bunch bangkit dan mengambil koper tua itu. Baru saja ia turun dari
gerbongnya, seorang laki-laki yang berlari di sepanjang peron tiba-tiba merenggutkan
koper tersebut dari tangannya dan membawanya lari.
“Berhenti!” teriak Bunch. “Hentikan dia, hentikan dia. Dia mengambil koperku.”
Petugas tiket di stasiun desa itu adalah orang yang lamban. Ia baru saja mengatakan,
“Hei, Anda tak bisa berbuat begitu…,” tapi suatu pukulan keras di dadanya membuatnya
terdorong ke samping, dan laki-laki yang membawa koper itu melesat keluar dari stasiun.
Ia berlari menuju sebuah mobil yang siap menunggu. Dilemparkannya koper itu ke dalam
mobil dan ia bersiap-siap akan masuk pula. Tapi sebelum ia bisa bergerak, sebuah tangan
mencengkeram pundaknya, dan suara Agen Polisi Abel berkata, “Apa-apaan ini?”
-Dengan terengah-engah Bunch tiba dari stasiun. “Dia merebut koperku. Aku baru saja
membawanya keluar dari kereta api.”
27
“Omong kosong,” kata laki-laki itu. “Aku tidak tahu apa maksud wanita ini. Ini koperku.
Aku baru saja membawanya dari kereta api.”
Dipandanginya Bunch dengan pandangan bodoh tanpa ekspresi. Tak ada orang yang mengira
bahwa pada jam-jam istirahatnya, Agen Polisi Abel dan Mrs. Harmon sudah biasa
berbincang-bincang tentang baiknya rabuk dan makanan dari tulang bagi tanaman mawar.
“Madam, Anda berkata bahwa ini adalah koper Anda?” kata Agen Polisi Abel.
“Ya,” sahut Bunch. “Pasti.”
“Dan Anda, Sir?”
“Ini koperku.”
Laki-laki itu. jangkung, kulitnya gelap dan pakaiannya rapi, suaranya bernada lamban
dan sikapnya angkuh. Sebuah suara wanita berkata dari dalam mobil, “Tentu itu kopermu,
Edwin. Entah apa maksud wanita itu.”
“Kita harus menyelesaikan perkara ini,” kata Agen Polisi Abel. “Kalau koper ini memang
milik Anda, Madam, apa isinya?”
“Pakaian,” kata Bunch. “Mantel panjang dari bahan bercorak bintik-bintik dan berkerah
bulu berang-berang, dua helai baju kaus, dan sepasang sepatu.”
“Nah, itu cukup jelas,” kata Agen Polisi Abel. Ia berpaling pada laki-laki itu.
“Aku petugas bagian pakaian di teater,” kata laki-laki itu dengan sikap sok penting.
“Koper ini berisi barang-barang keperluan teater yang kubawa kemari untuk suatu
pertunjukan amatir.”
28
“Baiklah,” kata Agen Polisi Abel. “Sebaiknya kita melihat isinya. Untuk itu kita harus
ke kantor polisi, atau kalau kalian terburu-buru, kita bisa membawanya kembali ke
stasiun dan membukanya di situ.”
“Aku setuju saja,” kata laki-laki itu. Namaku Moss, Edwin Moss.”
Agen Polisi kembali ke stasiun sambil membawa koper itu. “Aku harus membawa ini ke
kantor penyimpanan barang-barang, George,” katanya pada petugas pemeriksa tiket
Agen Polisi Abel meletakkan koper itu di meja di kantor penyimpanan, lalu membuka tutup
koper. Koper itu tidak terkunci. Bunch dan Edwin Moss berdiri mengapitnya, dan saling
memandang penuh dendam.
“Ah!” kata Agen Polisi Abel setelah mengangkat tutup koper itu.
Di dalamnya terdapat sehelai mantel panjang dari bahan wol yang agak kumal dan berkerah
bulu berang-berang. Ada pula dua helai baju kaus dan sepasang sepatu kets.
“Tepat sekali seperti yang Anda katakan, Madam,” kata Agen Polisi Abel sambil berpaling
pada Bunch.
Mr. Edwin Moss tampak salah tingkah. Rasa sesal dan kecewanya luar biasa.
“Aku benar-benar minta maaf,” katanya. “Aku minta maaf yang sebesar-besarnya.
Percayalah, Madam, kalau kukatakan betapa besarnya rasa sesalku. Tak bisa
dimaafkan—sungguh tak bisa
29
dimaafkan—kelakuanku.” Ia melihat arlojinya. “Sekarang aku harus buru-buru Mungkin
koperku terbawa oleh kereta api.” Sambil mengangkat topinya sekali lagi pada Bunch, ia
berkata dengan halus, “Harap, harap maafkan aku,” lalu melesat keluar dari kantor
penitipan barang-barang.
“Apakah akan Anda biarkan dia pergi’ begitu s saja?” tanya Bunch dengan berbisik pada
Agen Polisi Abel.
Agen itu mengedipkan matanya.
“Dia tidak akan bisa pergi jauh, Madam. Maksudku, dia tidak akan bisa pergi jauh tanpa
diawasi. Anda mengerti kan maksudku?”
“Oh,” kata Bunch lega.
“Wanita tua itu sudah menelepon,” kata Agen Polisi Abel, “wanita tua yang juga berada
di sini beberapa tahun yang lalu. Dia kelihatannya orang yang cerdas, ya? Memang sudah
banyak desas-desus sepanjang hari ini. Jangan heran kalau Pak Inspektur atau Sersan
mendatangi Anda besok pagi.”
Yang datang adalah Inspektur. Inspektur Craddock yang diingat oleh Miss Marple. Ia
menyalami Bunch sambil tersenyum seperti teman lama.
“Ada kejahatan lagi di Chipping Cleghorn,” katanya dengan ceria, “Kita tidak kekurangan
sensasi di sini, bukan, Mrs. Harmon?’
“Aku lebih suka tidak ada sensasi,” kata Bunch. “Apakah Anda datang untuk menanyaiku,
atau Anda ingin menceritakan sesuatu?”
“Pertama-tama, aku akan menceritakan beberapa hal dulu,” kata Inspektur. “Mr. dan Mrs.
Eccles sudah beberapa lama memasang telinga. Beralasan-lah kalau kita percaya bahwa
mereka punya hubungan dengan beberapa perampokan di daerah ini. Satu hal lain, meskipun
Mrs. Eccles memang punya saudara laki-laki bernama Sandboume yang baru-baru ini kembali
dari luar negeri, tapi laki-laki yang Anda temukan sekarat di gereja kemarin sama
sekali bukan Sandboume.”
“Aku sudah menduga,” kata Bunch. “Namanya Walter, bukan Wdliam seperti yang mereka
katakan.”
Inspektur mengangguk. “Namanya Walter St. John, dan empat puluh delapan jam yang lalu
dia melarikan diri dari Penjara Charrington.”
“Pasti,” kata Bunch, berbisik sendiri. “Dia dikejar oleh polisi dan dia mencari
perlindungan.” Lalu dia bertanya, “Kejahatan apa yang telah dilakukannya?”
“Ceritanya panjang dan agak rumit. Beberapa tahun yang lalu, ada seorang penari yang
mengadakan pertunjukan di kafe-kafe. Kurasa Anda tak pernah mendengar tentang dia. Dia
adalah penari khusus tarian-tarian Arab, yang disebut Aladin di Gua Permata. Dia
memakai sedikit batu permata dan berpakaian minim. “Kurasa dia bukan penari andal, tapi
dia… yah… menarik. Pokoknya, seorang bangsawan Asia jatuh cinta setengah mati padanya.
Di antara barang-barang yang diberikannya pada penari itu adalah seuntai kalung zamrud
yang luar biasa indahnya.”
31
30
“Perhiasan-perhiasan seorang Raja Timur yang terkenal?” gumam Bunch dengan bersemangat.
Inspektur Craddock berdeham. “Yah, dalam versi yang lebih modem, Mrs. Harmon. Hubungan
cinta itu tidak berlangsung lama, terputus waktu perhatian pangeran kaya itu beralih
pada seorang bintang film yang tuntutan-tuntutannya tidak begitu sederhana.
“Zobeida, begitulah nama panggung penari itu, menjaga kalung itu baik-baik, tapi barang
itu kemudian dicuri. Barang itu hilang di ruang pakaiannya di teater. Beberapa lama
polisi curiga bahwa penari itu sendirilah yang mendalangi pencurian itu. Hal-hal
semacam itu biasa dilakukan untuk meraih popularitas, atau mungkin dengan alasan-alasan
lain yang tidak jujur.
“Kalung itu tak pernah ditemukan kembali, tapi selama diadakan pemeriksaan, perhatian
polisi tertarik pada laki-laki bernama Walter St. John itu. Dia seorang laki-laki baikbaik dan berpendidikan, tapi dia jatuh ke dunia hitam. Dia bekerja sebagai ahli permata
pada sebuah perusahaan yang tidak jelas, yang dicurigai sebagai penadah batu-batu
permata hasil rampokan.
‘Terdapat bukti bahwa kalung itu telah jatuh ke tangannya. Namun dia akhirnya diadili
dan kemudian dijatuhi hukuman penjara sehubungan dengan barang-barang perhiasan lain.
Sebenarnya masa hukumannya sudah tidak begitu lama lagi, jadi pelariannya merupakan
suatu kejutan.”
‘Tapi mengapa dia datang kemari?” tanya Bunch.
32
“Kami ingin sekali mengetahui hal itu, Mrs. Harmon. Setelah diadili, agaknya dia pergi
dulu ke London. Dia tidak mengunjungi seorang pun di antara teman-teman lamanya, tapi
dia mengunjungi seorang wanita tua bernama Mrs. Jacobs yang pernah menjadi juru pakaian
teater. Wanita itu tak mau bicara sepatah pun mengenai kunjungan itu, tapi menurut
penghuni-penghuni lain di rumah tersebut, laki-laki itu pergi sambil membawa sebuah
koper.”
“Oh, begitu,” kata Bunch. “Koper itu ditinggalkannya di ruang penitipan mantel di
Paddington, lalu dia kemari.”
“Sementara itu,” kata Inspektur Craddock, “Eccles dan laki-laki yang menamakan dirinya
Edwin Moss itu mencari jejaknya. Mereka menginginkan koper itu. Mereka melihat St. John
naik bus. Mereka pasti sudah mendahuluinya naik mobil, dan menunggunya turun dari bus.”
“Lalu dia dibunuh?” kata Bunch.
“Ya,” kata Craddock. “Dia ditembak. Dengan pistol Eccles, tapi kurasa Moss-lah yang
menembak. Nah, Mrs. Harmon, yang ingin kami ketahui adalah di mana koper yang
sebenarnya disimpan oleh Walter St. John di Stasiun Paddington itu?”
Bunch nyengir. “Kurasa sekarang sudah ada pada Bibi Jane,” katanya, “maksudku Miss
Marple. Itulah rencananya. Seorang mantan pelayannya disuruhnya menitipkan sebuah koper
berisi barang-barangnya di ruang penitipan di Paddington, lalu kami tukarkan karcis
penitipan kami. Aku mengam-33
bil kopernya dan membawanya naik kereta api. Agaknya sudah diduganya bahwa akan ada
percobaan untuk merampasnya dariku.”
Kini giliran Inspektur Craddock yang nyengir. “Begitulah yang dikatakannya padaku waktu
dia menelepon. Aku akan pergi ke London untuk menemuinya. Anda mau ikut, Mrs. Harmon?”
“Yaah,” kata Bunch sambil berpikir. “Yaah, sebenarnya kebetulan sekali. Semalam gigiku
sakit, jadi aku memang harus ikut untuk menemui dokter gigi, bukan?”
‘Tentu,” kata Inspektur Craddock…
Miss Marple menatap Inspektur Craddock, lalu beralih memandang wajah Bunch Harmon yang
penuh harapan. Koper itu terletak di meja. “Aku tentu tidak membukanya,” kata wanita
tua itu. “Tak mungkin aku mau melakukannya sebelum seorang pejabat resmi datang.
Apalagi,” tambahnya dengan senyum nakal, “koper itu terkunci.”
“Inginkah Anda menebak apa isinya, Miss Marple?” tanya Inspektur.
“Kurasa Anda tahu bahwa isinya adalah pakaian teater Zobeida. Apakah Anda perlu pahat,
Inspektur?”
Pahat itu langsung menjalankan tugasnya. Kedua wanita itu agak terengah waktu tutup
koper terbuka. Sinar matahari yang masuk lewat jendela menyinari isinya yang merupakan
harta karun yang tak ter-hingga jumlahnya, perhiasan bertatahkan permata berwarna
merah, biru, hijau, dan Jingga.
“Gua Aladin,” kata Miss Marple. “Batu-batu
34
perhiasan kemilau yang dipakai gadis itu untuk menari.”
“Ah,” kata Inspektur Craddock. “Menurut Anda, seberapakah nilai semua ini sampai
seorang laki-laki dibunuh untuk mendapatkannya?”
“Kurasa gadis itu tajam otaknya,” kata Miss Marple merenung. “Dia sudah meninggal, kan,
Inspektur?” “Ya, tiga tahun yang lalu.” “Kalung zamrud yang berharga itu ada padanya,”
kata Miss Marple. “Permata-permata itu disuruhnya lepaskan dari ikatannya dan dipasang
di sana-sini pada pakaian teaternya, supaya semua orang mengira permata-permata itu
hanya batu-batu berwarna biasa. Lalu disuruhnya membuat tiruan kalung itu. Kalung
itulah yang dicuri. Tak heran kalau kalung itu tak pernah sampai ke pasaran. Pencurinya
langsung tahu bahwa batu-batunya palsu.”
“Ini ada amplop,” kata Bunch sambil menyisihkan beberapa buah batu yang kemilau.
Inspektur Craddock mengambilnya, lalu mengeluarkan dua helai kertas yang kelihatannya
merupakan surat-surat resmi, la pun membacanya, “Surat Nikah antara Walter Edmund St.
John dan Mary Moss. Itulah nama asli Zobeida.”
“Jadi, rupanya mereka menikah,” kata Miss Marple. “Aku mengerti.”
“Apa yang satu lagi?” tanya Bunch.
“Surat keterangan kelahiran seorang anak perempuan, bernama Jewel.”
“Jewel?” seru Bunch. “Ya, jelas. Jewel! Jill!
35
Aku mengerti sekarang, mengapa dia datang ke Chipping Cleghorn. Itulah yang ingin
dikatakannya padaku. Jewel. Anda tentu tahu keluarga Mundy di Laburnum Cottage. Mereka
merawat seorang anak perempuan untuk*seseorang. Mereka menganggapnya sebagai cucu
mereka sendiri. Ya, aku ingat sekarang, namanya memang Jewel, tapi mereka memanggilnya
Jill.
“Kira-kira seminggu yang lalu Mrs. • Mundy mengalami stroke, sedangkan suaminya sakit
keras. Mereka sama-sama ingin masuk ke panti jompo. Aku sedang berusaha keras untuk
mendapatkan penampungan yang baik bagi Jill. Aku tak ingin dia dimasukkan ke sebuah
panti.
“Kurasa ayahnya yang di penjara mendengar juga tentang hal itu. Dia berhasil melarikan
diri dan mengambil koper ini dari wanita tua pengurus pakaian teater. Setahunya, pada
wanita itulah istrinya dulu menitipkannya. Kurasa bila permata-permata itu benar-benar
milik ibu anak itu, barang-barang itu bisa digunakan untuk anak itu sekarang.”
“Kurasa begitu, Mrs. Harmon. Kalau saja barang-barang itu ada di sini.”
“Oh, pasti ada,” kata Miss Marple dengan ceria….
“Syukurlah kau sudah kembali, Sayang,” Pendeta Julian Harmon menyambut istrinya dengan
penuh cinta dan mendesah lega. “Mrs. Burt memang bekerja keras kalau kau pergi, tapi
dia menyuguhkan masakan ikan yang aneh waktu makan siang. Aku tak ingin menyinggung
perasaannya, jadi ku-36
berikan pada si Tiglath Pileser kita, tapi diapun tak mau memakannya, jadi terpaksa
kubuang lewat jendela.”
“Si Tiglath Pileser ini,” kata Bunch sambil membelai kucing yang sedang menggelayut
pada lututnya, “pemilih sekali tentang ikan yang dimakannya. Aku selalu berkata, dia
punya perut yang sombong!” ‘
“Bagaimana dengan gigimu, Sayang? Sudah diobati?”
“Sudah,” kata Bunch. “Sudah tidak sakit lagi, dan aku juga mengunjungi Bibi Jane.”
“Kasihan orang tua itu,” kata Julian. “Mudah-mudahan dia tidak sakit.”
“Sama sekali tidak,” kata Bunch sambil nyengir.
Keesokan paginya Bunch membawa bunga krisan lagi ke gereja. Sekali lagi matahari
bersinar lewat jendela di sisi timur, dan Bunch berdiri dalam cahaya yang bagaikan
permata di tangga menuju mimbar. Sambil berbisik perlahan ia berkata, “Gadis kecilmu
akan baik-baik saja. Aku yang akan berusaha. Aku berjanji.”
Lalu dirapikannya gereja, kemudian ia duduk di salah satu bangku dan berlutut beberapa
saat untuk berdoa, lalu kembali ke kediaman pendeta untuk mengerjakan pekerjaan rumah
tangganya yang sudah dua hari terbengkalai.
37
Lelucon yang Aneh
“Dan ini,” kata Jane Helier, menyudahi perkenalannya, “adalah Miss Marple!”
Sebagai seorang aktris, ia bisa menyatakan maksudnya dengan ekspresif. Jelas bahwa itu
merupakan klimaksnya, penutupan penuh kemenangan! Nadanya mengandung rasa hormat yang
mendalam, bercampur rasa bangga.
Anehnya, orang yang diperkenalkan dengan begitu bangga tak lebih dari seorang perawan
tua yang lembut dan kelihatan cerewet. Di mata kedua orang muda, kepada siapa Jane
memperkenalkannya, tampak rasa tak percaya dan kecewa. Mereka kelihatannya orang-orang
yang baik; yang wanita bernama Charmian Stroud, langsing dan berambut hitam, sedangkan
yang laki-laki, Edward Rossiter, berambut pirang dan bertubuh besar; seorang raksasa
yang ramah.
Dengan agak terengah Charmian berkata, “Oh! Kami senang sekali bertemu Anda.” Namun
matanya membayangkan keraguan. Ia melihat pada Jane
38
Helier dengan pandangan cepat yang mengandung tanda tanya.
“Sayangku,” kata Jane, menjawab pandangan itu, “dia benar-benar luar biasa. Serahkan
saja padanya. Sudah kukatakan aku akan mendatangkannya kemari, dan aku sudah
melakukannya.” Pada Miss Marple ditambahkannya, “Andalah yang akan menyelesaikannya
untuk mereka. Saya yakin itu akan mudah bagi Anda.”
Dengan matanya yang biru jernih Miss Marple melihat pada Mr. Rossiter. “Tolong
katakan,” katanya, “ada apa sebenarnya?”
“Jane adalah sahabat kami,” sela Charmian tak sabar. “Saya dan Edward dalam kesulitan.
Kata Jane, kalau kami mau menghadiri pestanya, dia akan memperkenalkan kami pada
seseorang yang… yang akan… yang bisa…”
Edward membantu. “Kata Jane, Anda selalu bisa menyelesaikan masalah-masalah. Miss
Marple!”
Mata wanita tua itu berbinar, tapi ia membantah dengan rendah hati. “Ah, tidak, tidak!
Sama sekali tidak. Hanya karena tinggal di desa, orang seperti saya jadi tahu banyak
tentang sifat manusia. Tapi Anda sebenarnya telah membangkitkan rasa ingin tahu saya.
Coba ceritakan masalah Anda.”
“Saya kuatir ini hanya omong kosong saja — soal harta terpendam,” kata Edward.
“Begitukah? Tapi kedengarannya mendebarkan sekali!”
“Saya tahu. Seperti Treasure Island. Tapi masalah kami tak ada sentuhan romantikanya.
Tak
39
ada titik di peta yang ditandai dengan tengkorak dan tulang-tulang bersilang, tak ada
petunjuk-petunjuk seperti ‘empat langkah ke kiri, ke arah barat laut’. Petunjuknya
singkat sekali; hanya dikatakan di mana kami harus menggali.”
“Sudahkah Anda mencoba?”
“Sudah kira-kira dua ekar persegi kami gali. Tempat itu akan dijadikan taman pasar.
Kami sedang membicarakan apakah akan kami tanami sayuran atau kentang.”
Dengan agak tegas Charmian berkata, “Benar-benarkah kami boleh menceritakan semuanya
pada Anda?”
“Tentu, anak manis.”
“Kalau begitu, mari kita cari tempat yang tenang. Mari, Edward.” Gadis itu berjalan
mendahului mereka keluar dari ruangan yang penuh orang dan asap rokok itu. Mereka
menaiki tangga, masuk ke sebuah ruang duduk di lantai dua.
Setelah mereka duduk, Charmian memulai dengan tegas, “Begini ceritanya! Kisahnya
berawal dari Paman Mathew, paman —atau tepatnya, kakek setingkat paman bagi kami
berdua. Dia sudah tua sekali. Hanya saya dan Edward-Iah kerabatnya. Dia sayang sekali
pada kami dan selalu berkata bahwa bila dia meninggal, dia akan mewariskan uangnya pada
kami berdua. Nah, dia meninggal pada bulan Maret yang lalu, dan semua yang
ditinggalkannya diwariskannya, supaya dibagi dua antara saya dan Edward. Kedengarannya
tidak berperasaan sekali ucapan saya itu. Bukan maksud
40
saya kami senang dia meninggal—kami sebenarnya sayang sekali padanya. Tapi dia sudah
lama sakit.
“Persoalannya, ‘segala-galanya’ yang ditinggalkannya itu boleh dikatakan tak ada apaapa sama * sekali. Dan terus terang itu merupakan pukulan bagi kami berdua, bukankah
begitu, Edward?”
Edward yang ramah itu membenarkan. “Soalnya,” kata pria muda itu, “kami agak
mengharapkannya. Maksud saya, kalau kita tahu bahwa kita akan mendapatkan sedikit uang,
kita tidak akan… yah… mengencangkan ikat pinggang dan berusaha mencari uang sendiri.
Saya ini tentara dan tak punya apa-apa di luar gaji saya, dan Charmian pun tak punya
harta. Dia bekerja sebagai manajer panggung di sebuah teater kecil —memang menarik, dan
dia menyukai pekerjaannya, tapi tidak menghasilkan uang. Kami sudah berencana akan
menikah, dan kami tidak merisaukan soal keuangannya, karena kami tahu bahwa pada suatu
hari kelak hidup kami akan senang.”
“Dan sekarang, tidak demikian halnya!” kata Charmian. “Apalagi, Ansteys —rumah yang
sama-sama kami sayangi—mungkin harus dijual. Saya dan Edward merasa tidak rela! Tapi
kalau kami tak bisa menemukan uang Paman Mathew, kami harus menjualnya.”
“Tapi, Charmian,” kata Edward, “kita belum sampai pada titik terpenting.”
“Kalau begitu, kau saja yang mengatakannya.”
Edward berpaling pada Miss Marple. “Begini
41
persoalannya. Dengan bertambah tuanya Paman Mathew, dia makin lama makin pencuriga. Dia
tidak mempercayai siapa pun.”
“Itu bijaksana,” kata Miss Marple. “Karakter manusia sudah sangat menurun.”
“Yah, mungkin Anda benar. Pokoknya, begitulah pendapat Paman Mathew. Ada seorang
temannya yang kehilangan uangnya di bank, dan seorang teman lainnya jatuh miskin garagara pengacaranya melarikan diri, dan dia sendiri kehilangan uang dalam suatu
perusahaan yang menipu. Akhirnya dia berpendapat bahwa satu-satunya -cara yang aman dan
masuk akal adalah bahwa uang kita harus dibelikan emas dan perak, lalu dikubur di suatu
tempat.”
“Oh,” kata Miss Marple. “Saya mulai mengerti.”
‘Teman-temannya memang menyalahkannya. Kata mereka, dengan cara itu dia tidak akan
mendapatkan bunga dari uangnya, tapi dia bersiteguh bahwa itu tak apa-apa. Semua uang
kita harus, katanya ‘harus disimpan dalam kotak di bawah tempat tidur, atau dikuburkan
dalam tanah.’ Begitulah kata-katanya.”
Charmian berkata lagi, “Dan waktu dia meninggal, dia boleh dikatakan tidak meninggalkan
apa-apa dalam bentuk asuransi, meskipun dia kaya raya. Jadi, kami pikir, apa yang
dikatakannya itu benar-benar dilakukannya.”
Edward menjelaskan, “Kami dapati bahwa dia kadang-kadang menjual surat-surat berharga
dan menarik uang dalam jumlah besar, dan tak seorang
42
pun tahu diapakannya uang itu. Tapi agaknya dia teuf) bertahan pada prinsipnya, dan dia
memang membeli emas, lalu menguburkannya.”
“Apakah dia tidak mengatakan apa-apa sebelum meninggal? Tidak meninggalkan kertas
berharga umpamanya? Atau surat?”
“Itulah yang membuat kami heran. Tak ada. Dia tak sadar beberapa hari, tapi dia sadar
sebentar sebelum meninggal. Dia memandangi kami berdua, lalu tertawa kecil dengan suara
lemah dan samar. Katanya, ‘Kalian akan baik-baik saja, pasangan burung daraku yang
cantik.’ Lalu dia menyentuh matanya- —mata kanannya —dan mengedipkannya pada kami. Lalu
dia meninggal. Kasihan Paman Mathew.”
“Dia mengedipkan matanya,” kata Miss Marple sambil merenung.
“Apakah ada artinya bagi Anda?” tanya Edward dengan penuh harapan. “Saya jadi ingat
akan salah satu cerita Arsene Lupin, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di mata kaca
seseorang. Tapi Paman Mathew tak punya mata kaca.”
Miss Marple menggeleng. ‘Tidak… saat ini tak ada yang terpikir oleh saya.”
Charmian kecewa dan berkata, “Kata Jane, Anda akan segera bisa mengatakan di mana kami
harus menggali!”
Miss Marple tersenyum. “Saya sama sekali bukan tukang sulap. Saya tidak mengenal paman
Anda, atau pria seperti apa dia itu. dan saya tidak tahu rumah maupun tanah itu.”
43
“Bagaimana kalau seandainya Anda mengetahuinya?”
“Yah, tentu akan jadi mudah sekali, bukan?” kata Miss Marple.
“Mudah!” kata Charmian. “Silakan Anda datang ke Ansteys dan lihat bagaimana mudahnya!”
Mungkin ia tidak bersungguh-sungguh mengundang, tapi Miss Marple menjawab dengan
bersemangat, “Wah, Anda baik sekali. Saya selalu ingin mendapatkan kesempatan untuk
mencari harta terpendam. Apalagi,” tambahnya sambil melihat pada mereka dengan berseriseri dan tersenyum, “ada hubungannya dengan cinta!”
“Anda lihat sendiri!” kata Charmian sambil menggerakkan lengannya dengan dramatis.
Mereka baru saja selesai mengelilingi rumah Ansteys yang besar itu. Mereka juga
mengitari kebun dapur yang telah digali. Mereka telah memasuki hutan-hutan kecil,
tempat setiap pohon yang kelihatan penting telah digali di sekelilingnya, dan mereka
memandangi dengan sedih permukaan yang berlubang-lubang di pekarangan yang semula rata.
Mereka sampai naik ke gudang di loteng, tempat peti-peti tua telah dikosongkan isinya.
Mereka pun turun ke gudang bawah tanah, tempat semua batu tanggul dicabut dari
lubangnya. Mereka mengukur dan mengetuk-ngetuk tembok-tembok, dan kepada Miss Marple
diperlihatkan setiap potong perabot antik yang mungkin berisi laci rahasia.
Di atas sebuah meja di ruang duduk ada se—
44
tumpuk surat yang ditinggalkan almarhum Mathew Stroud. Tak ada selembar pun yang
dimusnahkan, sementara Charmian dan Edward mengulangi kembali membaca surat-surat
tagihan, undangan-undangan, dan korespondensi bisnis, dengan harapan dari situ bisa
didapatkan petunjuk yang mungkin selama ini tak terlihat.
“Kira-kira masih adakah tempat yang belum kita periksa?” tanya Charmian penuh harap.
Miss Marple menggeleng. “Agaknya Anda sudah teliti sekali, Sayang. Kalau saya boleh
berkata, bahkan agak terlalu teliti. Saya selalu berpikir bahwa orang harus punya
rencana. Seperti teman saya, Mrs. Eldritch, umpamanya. Dia punya seorang pelayan kecil
yang manis sekali. Dia selalu menggosok barang-barang kuningan dengan rajin, demikian
rajinnya hingga lantai kamar mandi pun digosoknya pula. Waktu pada suatu hari Mrs.
Eldritch melangkah keluar dari bak kamar mandi, dia terpeleset pada keset kakinya.
Jatuhnya parah, sampai kakinya patah. Tambahan lagi, pintu kamar mandi terkunci, dan
tukang kebun harus menggunakan tangga panjat untuk masuk lewat jendelanya. Kasihan Mrs.
Eldritch. Dia sangat tertekan, karena dia pemalu sekali.”
Edward tampak gelisah.
Cepat-cepat Miss Marple berkata, “Maafkan saya. Saya menyadari bahwa saya mudah sekali
mengalihkan pokok pembicaraan. Tapi sesuatu memang selalu mengingatkan kita pada soal
yang lain. Dan kadang-kadang itu ada gunanya. Saya
hanya ingin mengatakan bahwa mungkin kalau kita berusaha mempertajam otak kita dan
memikirkan kalau-kalau ada tempat…”
Dengan marah Edward berkata, “Anda saja yang memikirkannya, Miss Marple. Otak saya dan
otak Charmian sekarang sudah hampa!”
“Kasihan sekali. Ini tentu sangat meletihkan. Kalau kalian tidak keberatan, saya ingin
melihat-lihat semuanya itu.” Ia menunjuk kertas-kertas di meja. “Maksud saya, kalau tak
ada yang bersifat terlalu pribadi —saya tak ingin terlalu mencampuri.”
“Oh, tak apa-apa. Tapi saya rasa Anda tidak akan menemukan apa-apa.”
Miss Marple duduk di dekat meja, dan secara metodis mempelajari dokumen-dokumen itu. Ia
membaginya secara otomatis menjadi tumpukan-tumpukan kecil yang rapi. Setelah selesai,
ia duduk menatap ke depan beberapa lama.
Dengan agak kesal, Edward bertanya, “Bagaimana, Miss Marple?”
Miss Marple sadar dan agak terkejut. “Maaf. Sangat membantu.”
“Anda telah menemukan sesuatu yang bisa memberikan petunjuk?”
“Oh, bukan, bukan begitu, saya rasa saya sekarang tahu pria macam apa Paman Mathew
kalian itu. Mirip paman saya sendiri, Paman Henry. Dia suka sekali akan lelucon.
Agaknya dia seorang pria lajang —entah apa sebabnya —mungkin dia pernah dikecewakan di
masa muda? Punya sifat teratur sampai batas tertentu, tapi tak suka terikat—
46
memang sedikit sekali pria lajang yang suka terikat!”
Di balik punggung Miss Marple, Charmian membuat isyarat pada Edward, yang berarti, Dia
pikun.
Miss Marple dengan senang berbicara terus tentang almarhum Paman Henry-nya. “Dia suka
sekali bermain dengan kata-kata. Padahal bagi beberapa orang, permainan kata-kata itu
menjengkelkan sekali. Dia juga orang yang sangat pencuriga. Selalu yakin bahwa para
pelayannya merampoknya. Kadang-kadang itu memang benar, tapi tidak selalu. Kasihan
orang itu, dia terobsesi oleh hal itu. Akhirnya dia curiga bahwa mereka meracuni
makanannya, bahkan akhirnya dia tak mau makan apa-apa kecuali telur rebus! Katanya tak
seorang pun bisa meracuni isi telur rebus. Kasihan Paman Henry, padahal dia dulu
periang—dia suka sekali minum kopi setelah makan malam. Dia selalu berkata, ‘Kopi ini
sangat Moorish,’ yang berarti bahwa dia minta lagi.”
Edward merasa kalau harus mendengarkan tentang Paman Henry lagi, ia bisa gila.
“Dia juga suka pada anak-anak muda,” lanjut Miss Marple, “tapi cenderung senang
mempermainkan mereka. Kalian mengerti, kan, maksud saya? Umpamanya, dia menaruh
sekantong permen di tempat yang tak mungkin bisa dijangkau anak-anak.”
Tanpa memikirkan basa-basi lagi, Charmian berkata, “Saya rasa itu jahat!”
“Oh, tidak, Sayang, dia kan hanya seorang pria
47
lajang tua yang tidak terbiasa pada anak-anak. Dan dia sama sekali tidak bodoh. Dia
suka menyimpan banyak uang di rumah, dan disuruhnya orang membuat kotak penyimpanan
Ribut sekali dia menjaga kotak itu, dan alangkah teliti dia menjaganya. Karena
seringnya dia berbicara tentang hal itu, pada suatu malam masuklah perampok-perampok
dan melubangi kotak itu dengan alat kimia.”
“Rasakan dia,” kata Edward.
“Tapi tak ada apa-apa dalam kotak itu,” kata Miss Marple. “Sebenarnya dia menyimpan
uangnya di suatu tempat lain—di balik beberapa buah buku khotbah dalam perpustakaan.
Katanya orang tak pernah mengambil buku macam itu dari raknya!”
Dengan bersemangat Edward berkata, “Nah, itu baru suatu petunjuk. Bagaimana kalau kita
periksa di perpustakaan?”
Tapi Charmian menggeleng dengan mencemooh. “Kaupikir aku tidak memikirkan hal itu?
Semua buku di situ sudah kuperiksa hari Selasa yang lalu, waktu kau pergi ke
Portsmouth. Semuanya kukeluarkan, kuguncang-guncang. Tak ada apa-apa.”
Edward mendesah, lalu bangkit dan berusaha dengan sopan supaya tamu mereka yang
mengecewakan itu pergi. “Anda baik sekali mau datang dan mencoba membantu kami.
Maafkan, semuanya sia-sia saja. Saya rasa kami sudah menyia-nyiakan banyak waktu Anda.
Biar saya antar Anda ke stasiun, supaya Anda bisa naik kereta api jam setengah empat.”
48
“Oh,” kata Miss Marple, “bukankah kita masih harus menemukan uangnya? Jangan menyerah,
Mr. Rossiter. Bila kita tak berhasil pada usaha pertama, kita coba terus dan terus.”
“Maksud Anda… Anda akan terus mencoba?”
“Terus terang,” kata Miss Marple, “saya bahkan belum mulai. ‘Tangkap dulu kelincinya,’
kata Mrs. Beaton dalam buku masakannya —buku yang bagus sekali, tapi sangat mahal.
Kebanyakan resepnya dimulai dengan, ‘Siapkan satu takaran krim dan selusin telur.’ Eh,
sampai di mana saya? Oh ya, nah, boleh dikatakan kita sudah menangkap kelincinya —yang
dimaksud dengan kelincinya tentulah Paman Mathew kalian, dan sekarang kita tinggal
menentukan di mana dia mungkin menyembunyikan uang itu. Pasti sederhana sekali.”
“Sederhana?” tanya Charmian.
“Oh ya, Sayang. Saya yakin dia menyimpannya di tempat yang sudah jelas sekali. Dalam
sebuah laci rahasia.”
“Tak mungkin orang menyimpan batang-batang emas dalam laci rahasia.”
“Tentu, tentu tidak. Tapi tak ada alasan untuk tak merasa yakin bahwa warisan itu dalam
bentuk emas.”
“Dia selalu berkata…”
“Begitu pula kata Paman Henry saya tentang kotak penyimpanannya! Jadi, saya curiga
sekali bahwa itu hanya tipuan. Berlian —kalau itu bisa dengan mudah disimpan dalam laci
rahasia.”
“Tapi kami sudah mencari dalam semua laci
49
rahasia. Sampai-sampai kami datangkan seorang pembuat lemari untuk memeriksa semua
perabotan.”
“Benarkah begitu? Cerdik sekali Anda. Menurut saya, di dalam meja kerja paman Andalah
yang paling mungkin. Apakah meja tulis antik tinggi yang menempel pada tembok itu?”
“Ya. Dan akan saya perlihatkan pada Anda.” Charmian berjalan ke meja itu.
Ditanggalkannya papan lapis penutup meja itu. Di dalamnya ada lubang-lubang dan lacilaci kecil. Dibukanya sebuah pintu kecil yang ada di tengah-tengah, dan ditekannya
tombol pegas dalam laci sebelah kiri. Dasar dari alas di tengah berbunyi, lalu bergerak
ke arah depan. Charmian mengeluarkannya, hingga di bawahnya tampak sebuah ruang yang
dangkal. Ruang itu kosong.
“Wah, kebetulan sekali!” seru Miss Marple. “Paman Henry juga memiliki meja kerja yang
sama benar dengan ini, hanya dari jenis kayu yang berbeda.”
“Pokoknya,” kata Charmian, “seperti Anda lihat, tak ada apa-apa di situ.”
“Saya rasa pembuat lemari yang Anda datangkan itu adalah orang muda,” kata Miss Marple.
“Dia tidak tahu banyak. Zaman dulu orang lebih berseni bila membuat tempat-tempat
persembunyian. Ada yang disebut rahasia dalam rahasia.”
Dicabutnya sebuah jepit rambut dari kondenya yang rapi beruban. Diluruskannya jepit
rambut itu, lalu ditusukkannya ujungnya ke dalam sebuah lubang kecil di salah satu sisi
lubang rahasia. Dengan
50
agak sulit ditariknya keluar sebuah laci. Di dalamnya terdapat seikat surat yang sudah
kuning dan sehelai kertas terlipat.
Edward dan Charmian langsung menyambar temuan itu serentak. Dengan jemari gemetaran
Edward membuka lipatan kertas itu. Dilepaskannya kertas itu dengan suatu pekik jijik.
“Sialan, hanya resep masakan. Daging goreng!”
Charmian sedang membuka pita yang mengikat surat-surat. Ditariknya sebuah, lalu
dibacanya. “Surat-surat cinta!”
Miss Marple menunjukkan reaksi bersemangat. “Ah, menarik sekali! Mungkin itu merupakan
alasan mengapa paman kalian tak pernah menikah.”
Charmian membacanya:
“Mathew-ku tersayang. Harus kuakui bahwa suratmu yang terakhir sudah lama kuterima.
Soalnya aku sibuk menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan padaku. Sering aku berpikir
bahwa aku beruntung telah melihat banyak bagian dunia. Tapi, waktu aku berangkat ke
Amerika, tak kuduga bahwa aku hams berlayar ke kepulauan yang jauh ini!” Charmian
terhenti. “Dari mana ini, ya? Oh! Dari Hawaii!” Ia membaca lagi:
“Penduduk asli di sini masih sangat rendah budayanya. Mereka tidak mengenakan pakaian
dan masih biadab sekali. Sebagian besar waktu mereka habiskan untuk berenang dan
menari-nari, menghiasi diri dengan untaian bunga. Mr. Gray telah meng-51
adakan beberapa perubahan, tapi itu sulit sekali; dia dan Mrs. Gray jadi kehilangan
semangat. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghibur dan memberikan dorongan, tapi aku
pun sering merasa sedih. Kau tentu tahu alasannya, Mathew sayang. Sayang, perpisahan
merupakan cobaan berat bagi hati yang sedang mencintai. Janji-janjimu mengenai cintamu
dan protes-protesmu yang kauulangi sangat menghiburku. Kaulah yang memiliki hatiku yang
penuh kesetiaan dan cinta kasih, sekarang dan selamanya. Sekian saja —dari kekasihmu
yang setia. Betty Martin.
“NB: Sebagaimana biasa, suratku ini kualamat-kan kepada teman kita berdua, Matilda
Graves, supaya tidak ketahuan orang. Semoga Tuhan memaafkan perbuatan kita yang
sembunyi-sembunyi ini.”
Edward bersiul. “Seorang misionaris wanita! Begitu rupanya percintaan Paman Mathew.
Mengapa mereka tidak menikah, ya?”
“Agaknya wanita itu sudah pergi berkeliling dunia,” kata Charmian sambil melihat-lihat
surat-surat itu. “Yang ini dari Mauritius —dan ada beberapa tempat lain. Mungkin dia
meninggal gara-gara sakit kuning atau apa.”
Sebuah suara tawa halus mengejutkan kedua orang muda itu. Kelihatannya Miss Marple
senang sekali. “Wah,” katanya. “Bayangkan saja.”
Ia sedang membaca resep untuk daging goreng. Ketika melihat pandangan bertanya kedua
orang
52
itu, ia membacakan, “Daging goreng dengan bayam. Ambil daging asap yan.s baik, lumuri
dengan cengkeh, dan kemudian dengan gula merah. Goreng dengan api kecil. Hidangkan
dengan dikelilingi bayam yang sudah dilumatkan.” Bagaimana pendapat kalian tentang
resep itu?”
“Saya rasa sama sekali tak enak,” kata Edward.
“Tidak, tidak, sebenarnya enak sekali —tapi bagaimana pendapat kalian tentang
semuanya?”
Tiba-tiba wajah Edward berseri. “Apakah menurut Anda itu sebuah kode —suatu tulisan
yang mengandung rahasia atau semacamnya?” Dicengkeramnya kertas resep itu. “Lihatlah,
Charmian, mungkin saja. Tak ada alasan untuk menyimpan resep masakan dalam laci
rahasia.”
“Tepat,” kata Miss Marple. “Jelas sekali.”
“Saya tahu itu apa,” kata Charmian. “Tinta yang tidak kelihatan! Mari kita panaskan.
Nyalakan perapian listrik.”
Edward melakukannya, tapi tak ada tanda-tanda tulisan yang muncul setelah usaha itu.
Miss Marple berdeham “Menurut saya, Anda menyulitkan keadaan itu sendiri. Resep itu
boleh dikatakan hanya suatu petunjuk. Saya rasa surat-suratnyalah yang penting.”
“Surat-surat?”
“Terutama,” kata Miss Marple, “tanda tangannya.”
Tapi Edward boleh dikatakan tidak mendengarnya. Ia memanggil dengan kacau, “Charmian!
Kemarilah! Dia benar. Lihat ini! Amplop-amplopnya
53
memang sudah tua, itu benar, tapi surat-suratnya belum lama ditulis.”
“lepat,” kata Miss Marple.
“Amplop-amplop itu sengaja dibuat supaya kelihatan. Saya rasa Paman Mat sengaja
melakukannya.”
“Tepat,” kata Miss Marple.
“Semuanya ini hanya tipuan. Tak pernah ada misionaris wanita itu. Itu pasti sebuah
kode.”
“Anak-anakku tersayang, sebenarnya tak perlu mempersulit semuanya. Paman kalian itu
sebenarnya orang yang sederhana. Dia hanya ingin bergurau, itu saja.”
Barulah kini mereka memberikan perhatian sepenuhnya pada Miss Marple.
“Apa maksud Anda sebenarnya, Miss Marple?” tanya Charmian.
“Maksud saya, Sayang, pada saat ini Anda sedang memegang harta itu.”
Charmian menatap ke tangannya.
“Tanda tangan itulah yang membuka rahasia. Resep itu hanya suatu petunjuk. Tanpa
cengkeh dan gula merah dan yang lain-lain, apalah itu sebenarnya? Lalu daging yang
diasapi dan bayam! Daging yang diasapi dan bayam! berarti omong kosong! Jadi, jelaslah
bahwa surat-surat itulah yang penting. Lalu pertimbangkanlah apa yang dilakukan pamanmu
menjelang dia meninggal. Dia mengedipkan matanya, katamu. Nah, itulah dia… itulah
petunjuknya.”
“Apakah kami yang gila atau Anda?” kata Charmian.
54
“Aduh, Sayang, kau pasti pernah mendengar ungkapan tentang sesuatu yang bukan merupakan
gambaran sebenarnya, ataukah itu sudah tidak dikenal lagi sekarang? All my eye and
Betty Martin”
Edward menahan napas, matanya tertuju pada surat di tangannya. “Betty Martin?”
“Tentu, Mr. Rossiter. Seperti yang Anda katakan sendiri tadi, tak ada orang yang
bernama begitu. Surat-surat itu ditulis oleh paman kalian sendiri, dan saya yakin dia
gembira sekali menuliskannya! Seperti Anda katakan, tulisan pada amplop jauh lebih tua.
Sebenarnya amplop itu bukan amplop ,untuk surat-surat tersebut, karena stempel pos pada
amplop yang sedang Anda pegang itu bertanggal tahun seribu delapan ratus lima puluh
satu.”
Ia berhenti sebentar, lalu dengan nada menekankan ia berkata lagi, “Delapan belas lima
puluh satu. Itu menjelaskan segala-galanya, bukan?”
“Bagi saya belum,” kata Edward.
“Yah, tentulah,” kata Miss Marple. “Bagi saya pun pasti tidak akan jelas, kalau tidak
karena cucu keponakan saya Lionel. Anak kecil yang baik itu adalah seorang kolektor
prangko yang bersemangat. Dia tahu segalanya tentang prangko. Dialah yang mengatakan
pada, saya tentang adanya prangko-prangko yang langka dan mahal, dan bahwa suatu temuan
baru yang istimewa telah ditawarkan di lelang. Saya ingat dia menyebutkan satu prangko
seharga dua sen dari tahun delapan, belas lima -puluh satu yang berwarna biru. Kalau
tak salah, itu bernilai dua puluh lima ribu dolar. Bayangkan!
55
Saya rasa prangko-prangko yang lain pun langka dan mahal. Paman kalian pasti telah
membelinya dari pengedar dan selalu ‘menjaga jejaknya’ dengan cermat, kata orang dalam
kisah-kisah detektif.”
Edward terpekik, la duduk, lalu menutupi wajahnya dengan tangan.
“Ada apa?” tanya Charmian.
“Tak apa-apa. Aku hanya menyadari dengan menyesal, bahwa sekiranya tak ada Miss Marple,
surat-surat ini pasti telah kita bakar.”
“Ah,” kata Miss Marple, “itu kan hanya karena pria-pria tua yang suka sekali berlelucon
itu tidak menyadarinya. Saya ingat Paman Henry. Dia mengirimi keponakan kesayangannya
uang sebanyak lima pound sebagai hadiah Natal. Uang itu dimasukkannya ke dalam kartu
Natal, direkatnya kartu itu, lalu di atasnya dituliskannya, Cinta dan doaku. Sayang
hanya ini yang bisa kukirimkan tahun ini.
“Gadis malang itu kesal karena mengira betapa kikirnya kakeknya itu, lalu dia langsung
melemparkan kartu itu ke api; akibatnya orang tua itu harus mengiriminya uang lagi.”
Perasaan Edward terhadap Paman Henry telah mengalami perubahan besar.
“Miss Marple,” katanya, “saya akan mengambil sebotol sampanye. Kita semua akan minum
demi kesehatan Paman Henry Anda itu.”
56
Pembunuhan dengan Pita Pengukur
Miss POLiTT mencengkeram alat pengetuk pintu, lalu mengetuk pintu rumah kecil itu
dengan sopan. Tak lama kemudian ia mengetuk lagi. Bungkusan yang dikepitnya di bawah
lengan kirinya tergeser sedikit waktu ia melakukan itu, dan ia memperbaiki letaknya. Di
dalam bungkusan itu terdapat gaun hijau musim dingin yang baru, milik Mrs. Spenlow. Dan
tangan kiri Miss Politt terjuntai sebuah tas sutra hitam berisi sebuah pita pengukur,
bantalan kecil tempat jarum pentul, dan sebuah gunting besar yang banyak gunanya.
Miss Politt bertubuh kurus tinggi, hidungnya tajam, bibirnya lancip, dan rambutnya
sedikit, berwarna kelabu. Ia ragu ketika hendak menggunakan alat pengetuk pintu itu
untuk ketiga kalinya. Waktu ia melihat ke jalan, tampak sebuah sosok yang mendekat
dengan terburu-buru. Miss Hartnell yang ceria dan sudah berusia lima puluh lima tahun
berseru dengan suaranya yang nyaring dan lantang, “Selamat sore, Miss Politt!” •
“Selamat sore, Miss Hartnell,” jawab tukang
57
jahit itu. Nada suaranya sangat halus dan lembut. Sudah sejak muda ia menjadi pelayan
seorang wanita terkemuka. “Maafkan saya,” lanjutnya, “tapi apakah Anda tahu, Mrs.
Spenlow ada di rumah atau tidak?”
“Saya sama sekali tidak tahu,” kata Miss Hartnell.
“Aneh sekali. Saya harus mencobakan baju baru Mrs. Spenlow petang ini. Katanya jam
setengah empat.”
Miss Hartnell melihat ke arlojinya. “Sekarang sudah lewat sedikit.”
“Ya. Saya sudah mengetuk tiga kali, tapi tak ada jawaban. Jadi, saya pikir, mungkin
Mrs. Spenlow keluar dan lupa. Biasanya dia tak pernah lupa janji, dan dia ingin
mengenakan baju ini lusa.”
Miss Hartnell memasuki pintu pagar, lalu berjalan mendatangi Miss Politt di luar pintu
rumah yang bernama Laburnum Cottage itu.
“Mengapa Gladys tidak membukakan pintu, ya?” katanya, “Oh, tentu tidak, ini hari
Kamis—hari libur Gladys. Saya rasa Mrs. Spenlow tertidur. Saya rasa Anda kurang keras
menggunakan alat pengetuk ini.”
Dipegangnya alat pengetuk itu, lalu diketukkan-nya kuat-kuat sampai memekakkan telinga,
tok-tok-tok-tok. Lalu digedornya pula daun pintu itu. Ditambahkannya lagi dengan
suaranya yang nyaring, “Hei, siapa yang di dalam!”
Tak ada jawaban.
Miss Politt bergumam, “Oh, saya rasa Mrs. Spenlow lupa, lalu pergi. Biarlah saya datang
lain kali saja/’ Ia mulai bergerak ke arah jalan.
“Omong kosong,” kata Miss Hartnell tegas. “Tak mungkin dia keluar. Kalau dia keluar,
pasti saya bertemu dengannya tadi. Biar saya jenguk lewat jendela-jendela, k au-k au
ada orang.”
Ia tertawa dengan tawanya yang khas, untuk menunjukkan bahwa kata-katanya itu hanya
lelucon. Namun ia melongok juga ke dalam lewat kaca jendela terdekat, meski ia tahu
bahwa ruang depan itu jarang digunakan. Mr. dan Mrs. Spenlow lebih suka duduk di ruang
duduk belakang. Meskipun ia melakukannya asal-asalan saja, namun perbuatannya
memberikan hasil. Memang benar Miss Hartnell tidak melihat benda yang bernyawa. Yang
dilihatnya lewat jendela itu adalah Mrs. Spenlow yang terbaring di alas
perapian—meninggal.
“Ya,” kata Miss Hartnell, yang mengisahkan kejadian itu kemudian, “saya tentu berusaha
untuk tenang. Makhluk bernama Politt itu sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.
‘Kita harus tetap berpikiran sehat,’ kata saya padanya. ‘Kau tetap di sini, dan saya
akan mendatangi Agen Polisi Palk.’ Katanya dia tak mau ditinggalkan, tapi saya sama
sekali tak peduli. Kita harus tegas dengan orang semacam itu. Saya memang selalu senang
kalau bersibuk-sibuk. Jadi, saya sudah akan berangkat, tapi pada saat itu Mr. Spenlow
muncul dari sudut rumah.”
Miss Hartnell berhenti agak lama, hingga pen—
59
58
dengarnya bertanya dengan menahan napas, “Bagaimana dia kelihatannyaV
Lalu Miss Hartnell melanjutkan, “Terus terang, saya langsung mencurigai sesuatu! Dia
tampak terlalu tenang. Dia sama sekali tidak kelihatan heran. Dan Anda boleh berkata
apa pun, tapi tidaklah wajar seorang laki-laki yang mendengar bahwa istrinya sudah
meninggal sama sekali tidak memperlihatkan perasaan apa-apa.”
Semua orang membenarkan pernyataan itu.
Polisi juga membenarkan. Demikian curiganya mereka akan keterlibatan Mr. Spenlow,
hingga mereka tidak membuang-buang waktu dalam mencari kepastian, bagaimana kedudukan
pria itu dengan meninggalnya istrinya. Waktu mereka temukan bahwa Mrs. Spenlow-lah
pihak yang memiliki uang, dan bahwa uangnya akan menjadi milik suaminya berdasarkan
surat wasiat yang dibuat segera setelah mereka menikah, polisi makin curiga.
Miss Marple, seorang perawan tua berwajah manis —dan menurut kata beberapa orang
berlidah tajam, yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Pendeta —diwawancarai
secepatnya, yaitu setengah jam setelah ditemukannya kejahatan itu. Ia dihubungi oleh
Agen Polisi Palk, yang dengan sikap orang penting membalik-balik buku catatan. “Kalau
Anda tidak keberatan, Ma’am, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan pada
Anda.”
Miss Marple berkata, “Sehubungan dengan pembunuhan Mrs. Spenlow?”
60
Palk terperanjat. “Bolehkah saya bertanya, dari mana Anda tahu?”
“Dari ikan,” sahut Miss Marple.
Jawaban itu sama sekali tidak jelas bagi Agen Polisi Palk. Namun ia bisa menebak dengan
benar bahwa anak pengantar ikanlah yang membawa berita itu, waktu mengantarkan pesanan
Miss Marple.
Dengan halus Miss Marple melanjutkan, “Dia terbaring di lantai ruang duduk,
tercekik—mungkin dengan tali yang kecil sekali. Tapi tali itu telah diambil.”
Wajah Palk jadi cemberut. “Bagaimana si Fred itu sampai tahu semuanya….”
Cepat-cepat Miss Marple menyela. “Ada jarum pentul di pakaian seragam Anda.”
Agen Polisi Palk menunduk, dan terperanjat. Katanya, “Kata pepatah, ‘Kalau melihat
jarum pentul, pungutlah. Maka sepanjang hari itu kau akan beruntung.’”
“Saya harap itu akan menjadi kenyataan. Nah, apa yang ingin Anda tanyakan?”
Agen Polisi Palk menelan air ludahnya, memandang dengan sikap orang penting, lalu
membaca buku catatannya. “Ada pernyataan dari Mr. Spenlow, suami almarhumah. Mr.
Spenlow mengatakan bahwa seingatnya, pada jam setengah tiga, dia menerima telepon dari
Miss Marple, yang bertanya apakah dia bisa datang jam tiga lewat seperempat, karena
Miss Marple ingin membicarakan sesuatu. Nah, Ma’am, apakah itu benar?”
61
“Sama sekali tidak,” kata Miss Marple.
“Anda tidak menelepon Mr. Spenlow pada jam setengah tiga?”
“Tidak jam setengah tiga, tidak pula pada waktu lain.”
“Oh,” kata Agen Polisi Palk, lalu menarik napas dengan rasa puas sekali.
“Apa lagi yang dikatakan Mr. Spenlow?”
“Mr. Spenlow menyatakan bahwa dia datang kemari sebagaimana yang Anda minta. Dia
meninggalkan rumahnya pada jam tiga lewat sepuluh. Dikatakannya pula bahwa waktu dia
tiba di sini, pelayan Anda mengatakan Miss Marple tidak ada di rumah.”
“Bagian itu memang benar,” kata Miss Marple. “Dia memang datang kemari, tapi saya
sedang rapat di Yayasan Wanita.”
“Oh,” kata Agen Polisi Palk lagi.
Miss Marple berseru, “Katakan terus terang, Pak Polisi, apakah Anda mencurigai Mr.
Spenlow?”
“Saya tak dapat mengatakannya pada saat ini. Tapi saya rasa ada seseorang, yang tidak
saya sebutkan namanya, sedang mencoba bersandiwara.”
“Mr. Spenlow?” tanya Miss Marple sambil merenung.
Ia menyukai Mr. Spenlow. Tubuhnya kecil dan kurus, kata-katanya kaku dan selalu
teratur, dan ia memancarkan kesan sangat terhormat. Rasanya aneh kalau ia mau tinggal
di desa. Jelas ia biasa hidup di kota-kota sepanjang hidupnya. Ia pernah menceritakan
alasannya kepada Miss Marple. Katanya,
62
“Sejak kecil, saya selalu ingin tinggal di desa pada suatu hari kelak, dan memiliki
kebun sendiri. Saya memang banyak berhubungan dengan bunga-bunga, soalnya istri saya
memiliki sebuah toko bunga. Di situlah saya pertama kali bertemu dengannya.”
Suatu pernyataan yang datar, namun berkesan romantis. Membuat orang membayangkan Mrs.
Spenlow yang lebih muda dan lebih cantik, yang terlihat dengan berlatar belakang bungabunga
Tapi Mr. Spenlow sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang bunga. Ia tidak mengerti soal
benih-benih, bibit, penanamannya, juga tidak tentang bunga-bunga tahunan maupun bungabunga yang selalu bersemi. Ia hanya punya suatu bayangan tentang sebuah kebun kecil di
rumah mungil yang banyak ditumbuhi bunga yang harum dan beraneka warna. Ia belajar
dengan bersungguh-sungguh, dan selalu mencatat jawaban-jawaban dari Miss Marple atas
pertanyaan-pertahyaannya, dalam sebuah buku kecil.
Ia adalah orang yang tenang. Mungkin tingkah lakunyalah yang membuat polisi menaruh
perhatian padanya, waktu istrinya ditemukan terbunuh. Dengan sabar dan tekun mereka
banyak mempelajari tentang almarhumah Mrs. Spenlow, dan dalam waktu singkat, seluruh
St. Mary Mead tahu juga.
Almarhumah Mrs. Spenlow mengawali hidupnya sebagai pelayan menengah di sebuah rumah
besar. Kedudukan itu ditinggalkannya untuk menikah dengan tukang kebun majikannya dan
bersamanya memulai sebuah toko bunga di London. Toko itu
63
berkembang dengan baik. Tapi sebaliknya dengan tukang kebun itu. Tak lama kemudian ia
jatuh sakit dan meninggal.
Jandanya tetap menjalankan toko itu dan bahkan membesarkannya. Hidupnya bertambah
makmur.
- Lalu dijualnya usahanya itu dengan harga mahal dan ia menikah lagi —dengan Mr.
Spenlow, seorang pemilik toko perhiasan setengah baya yang telah mewarisi usaha
kecilnya yang kurang maju. Tak lama setelah itu, mereka menjual usaha itu dan datang ke
St. Mary Mead.
Mrs. Spenlow adalah seorang wanita kaya. Keuntungan dari usaha toko bunganya
diinvestasikan-nya. “Dengan tuntunan roh-roh,” katanya pada semua orang. Tanpa diduga,
tuntunan roh-roh itu memberinya petunjuk-petunjuk yang bijak.
Semua investasinya berkembang, bahkan ada di antaranya yang luar biasa. Tapi ia
kemudian terjun dengan sepenuh hati ke dalam agama yang para penganutnya adalah orangorang India, yang meredanya didasarkan pada berbagai macam cara pernapasan yang dalam.
Tapi ketika tiba di St. Mary Mead, ia sudah menganut paham Gereja Inggris ortodoks. Ia
sering pergi ke kediaman Pendeta dan mengikuti misa-misa gereja dengan
- khusyuk. Ia menjadi pelindung toko-toko desa, menaruh minat pada kejadian-kejadian di
desa, dan menjadi anggota pemain bridge desa. Kehidupan sehari-harinya padat dan begitu
biasa.
Dan tiba-tiba… ia dibunuh.
***
a
64
Kolonel Melchett, Kepala Polisi, telah memanggil Inspektur Slack.
Slack adalah seorang pria yang tegas. Ia tak pernah ragu bila telah memutuskan sesuatu.
Kini pun ia yakin. “Suaminya pelakunya, Sir,” katanya.
“Begitukah pikiranmu?”
“Saya yakin sekali. Lihat saja dia. Jelas-jelas memperlihatkan sikap bersalah. Tak
sekali pun dia menunjukkan tanda-tanda kesedihan atau perasaan lain. Dia kembali ke
rumah setelah tahu bahwa istrinya sudah meninggal.”
“Bukankah seharusnya dia berpura-pura mencoba menjadi suami yang kehilangan?”
“Dia tidak, Sir. Dia terlalu senang sendiri. Memang ada laki-laki yang tak bisa
berpura-pura. Terlalu, kaku.”
“Apakah ada wanita lain dalam hidupnya?” tanya Kolonel Melchett.
“Kami tidak berhasil mendapatkan jejak perempuan itu. Dia memang pandai menyembunyikan.
Dia tentu menyembunyikan jejaknya. Menurut saya, dia hanya merasa bosan pada istrinya.
Istrinya itulah yang memiliki uang, dan saya rasa wanita itu merupakan teman hidup yang
sulit, suka sekali mengikuti aliran-aliran keagamaan tertentu. Maka diputuskannya
dengan darah dingin untuk menyingkirkan istrinya itu dan hidup sendiri dengan nyaman.”
“Ya, kurasa memang begitulah duduk perkaranya.”
“Hal itu sudah lama direncanakannya dengan
65
cermat. Lalu dia berbohong dengan mengatakan bahwa dia menerima telepon.”
“Apakah telepon itu tak bisa ditelusuri?” sela Melchett.
“Tidak, Sir. Itu berarti dia berbohong, atau penelepon itu menelepon dari telepon umum.
Padahal di sini hanya ada dua telepon umum, yaitu di stasiun dan di kantor pos. Jelas
bukan dari kantor pos. Mrs. Blade —petugas kantor pos —pasti melihat setiap orang yang
datang. Mungkin dari stasiun. Kereta api tiba jam dua lewat dua puluh tujuh menit, dan
orang berdesak-desakan. Tapi yang penting adalah, laki-laki itu mengatakan bahwa Miss
Marple yang menelepon, dan itu jelas tidak benar. Telepon itu tidak berasal dari
rumahnya, dan Miss Marple sendiri sedang berada di Yayasan.”
“Apakah kau tidak melupakan kemungkinan bahwa suami itu sengaja disingkirkan oleh
seseorang yang ingin membunuh’Mrs. Spenlow?”
“Anda pasti membayangkan anak muda bernama Ted Gerard itu, bukan? Saya sudah
menanganinya Kendala kita dalam hal itu adalah kurangnya motif. Anak muda itu tidak
akan mendapatkan keuntungan apa-apa.”
“Tapi dia orang yang tidak baik. Sudah sering melakukan penipuan.”
“Saya tidak mengatakan bahwa dia bukan orang jahat. Tapi dia pergi menghadap
pimpinannya dan mengakui penipuan itu. Dan para majikannya jadi tak mengerti.”
“Salah seorang anggota Oxford Grouper,” kata Melchett.
“Benar, Sir. Dia sadar, lalu hidup di jalan yang benar dan mengaku telah menggelapkan
uang. Ingat, Sir, saya tidak mengatakan bahwa itu tidak mungkin akal liciknya. Mungkin
dia merasa sudah dicurigai dan memutuskan untuk berpura-pura insaf.”
“Kau tidak mudah percaya, Slack,” kata Kolonel Melchett. “Omong-omong, sudahkah kau
berbicara dengan Miss Marple?”
“Apa hubungannya dengan dia, Sir?”
“Ah, tak ada apa-apa. Tapi dia itu banyak mendengar. Sebaiknya kautemui dia dan
mengobrol dengannya. Dia wanita tua yang berotak tajam.”
Slack mengalihkan bahan pembicaraan. “Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada Anda,
Sir. Mengenai pekerjaan almarhum di awal kariernya — yaitu di rumah Sir Robert
Abercrombie. Bukankah di situ pernah terjadi perampokan perhiasan —permata-permata
zamrud—yang bernilai mahal sekali? Perampoknya tak pernah tertangkap. Saya membalikbalik perkara itu lagi. Itu pasti terjadi waktu Mrs. Spenlow masih bekerja di situ,
meskipun pada saat itu dia pasti masih sangat muda. Mungkinkah dia terlibat di situ,
Sir? Waktu itu Spenlow adalah seorang pedagang perhiasan kecil yang tidak berarti, yang
cocok benar dijadikan perisai.”
Melchett menggeleng. “Kurasa tak ada hubungannya ke situ. Waktu itu perempuan itu
bahkan belum kenal pada Spenlow. Aku ingat perkara itu.
67
66
Di kalangan kepolisian beredar pendapat bahwa putra orang rumah itu sendirilah yang
terlibat. Jim Abercrombie—anak muda yang suka menghambur-hamburkan uang. Utangnya
bertumpuk, dan tak lama setelah perampokan itu, semua utang itu diselesaikan —oleh
seorang wanita kaya, kata orang, tapi entahlah. Pak tua Abercrombie agak berbelit-belit
dalam perkara itu. Dia bahkan mencoba menyuap polisi supaya menghentikannya.”
“Itu hanya pikiran saya saja, Sir,” kata Slack.
Miss Marple menyambut Inspektur Slack dengan senang, terutama waktu ia mendengar bahwa
inspektur itu disuruh ke situ oleh Kolonel Melchett.
“Wah, baik sekali Kolonel Melchett itu. Tidak saya sangka bahwa dia masih ingat pada
saya.”
“Dia memang masih ingat pada Anda. Katanya, apa yang tidak Anda ketahui tentang
kejadian di St. Mary Mead, memang tak perlu diketahui.”
“Baik sekali dia tapi saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Maksud saya tentang
pembunuhan itu.”
“Tapi Anda tahu apa kata orang tentang itu.”
“Oh, tentu, tapi bukankah tak ada gunanya mengulangi obrolan orang?”
Dalam usahanya untuk bersikap baik, Slack berkata, ‘Tapi ini bukan percakapan resmi.
Boleh dikatakan sekadar berbagi rahasia.”
“Maksud Anda, Anda benar-benar ingin tahu apa kata orang? Apakah ada benarnya atau
tidak?”
“Begitulah.”
68
“Yah, tentulah banyak sekali yang dikatakan orang, dan banyak yang berspekulasi. Bahkan
ada dua kelompok yang nyata. Pertama-tama, ada orang-orang yang berpikiran bahwa
suaminya yang melakukannya. Seorang suami atau seorang istri memang wajar menjadi orang
yang dicurigai, bukan?”
“Mungkin,” kata inspektur itu dengan hati-hati.
“Soalnya merekalah orang-orang yang terdekat. Lalu sering pula soal uang. Saya dengar
Mrs. Spenlow-lah yang memiliki uang, dan oleh karenanya Mr. Spenlow akan beruntung
dengan kematian istrinya itu. Di dalam dunia yang jahat ini, kesimpulan-kesimpulan yang
tak mengenal belas kasihan sering dibenarkan.”
“Laki-laki itu memang akan mendapatkan warisan dalam jumlah besar.”
“Memang benar. Maka agaknya akan sangat masuk akal, bukan, bila dia mencekik istrinya
itu, meninggalkan rumah lewat pintu belakang, lalu menyeberangi ladang-ladang dan
datang ke rumah saya menanyakan saya, dan berpura-pura bahwa dia telah menerima telepon
dari saya. Lalu dia pulang kembali dan menemukan istrinya terbunuh
sepeninggalnya—tentu dengan berharap agar kejahatan itu dituduhkan pada seorang
gelandangan atau perampok.”
Inspektur mengangguk. “Bagaimana dengan urusan keuangannya, dan siapa tahu hubungan
mereka memang kurang baik akhir-akhir ini?”
Tapi Miss Marple menyelanya. “Tapi itu tidak benar.”
“Anda tahu yang sebenarnya?”
“Semua orang pasti tahu kalau mereka bertengkar! Pelayan mereka, Gladys Brent —dia
pasti menyiarkannya ke seluruh desa.”
Dengan lemah Inspektur berkata, “Mungkin dia tidak tahu.” Sebagai jawaban, ia melihat
senyum Miss Marple yang menyiratkan rasa iba.
Kemudian Miss Marple melanjutkan, “Lalu ada kelompok yang satu lagi. Mengenai Ted
Gerard. Seorang pemuda tampan. Saya rasa Anda tahu bahwa ketampanan biasanya memberikan
pengaruh yang kurang baik. Pendeta pembantu kami sebelum yang terdahulu
umpamanya—menimbulkan keadaan yang ajaib! Semua gadis berdatangan ke gereja, baik ke
misa malam maupun misa pagi. Banyak wanita yang sudah lebih tua menjadi aktif sekali
dalam kegiatan paroki, dan bukan main banyaknya sandal dan selendang rajutan yang
dibuatkan untuknya! Sangat tak enak bagi anak muda yang malang itu.
“Tapi… akh, apa yang akan saya katakan sebenarnya tadi? Oh ya, anak muda itu, Ted
Gerard. Pasti banyak gunjingan mengenai dia. Dia sering mengunjungi Mrs. Spenlow.
Meskipun Mrs. Spenlow mengatakan sendiri pada saya bahwa pemuda itu adalah anggota dari
apa yang disebut Oxford Group. Suatu gerakan keagamaan. Saya rasa mereka sangat tulus
dan bersungguh-sungguh mengenai hal itu, dan Mrs. Spenlow sangat terpengaruh oleh itu
semua.”
Miss Marple menarik napas, lalu melanjutkan,
70
“Dan saya yakin tak ada alasan untuk menduga bahwa ada sesuatu yang lebih jauh dari
itu, tapi Anda kan tahu orang-orang. Banyak sekali orang yang yakin bahwa Mrs. Spenlow
tergila-gila pada anak muda itu, dan bahwa dia meminjaminya banyak uang. Dan benar
sekali bahwa dia terlihat di stasiun hari itu. Dalam kereta api —kereta yang berangkat
jam dua lewat dua puluh tujuh menit. Tapi tentu mudah sekali, bukan, kalau orang
menyelinap keluar dari kereta api lewat sisi kereta yang lain, mengambil jalan pintas,
lalu melompati pagar, dan sama sekali tidak keluar lewat jalan masuk stasiun. Maka dia
tidak terlihat pergi ke rumah itu, dan orang-orang berpendapat bahwa pakaian Mrs.
Spenlow memang agak aneh.” “Aneh?”
“Dia memakai kimono. Bukan gaun.” Wajah Miss Marple memerah. “Hal semacam itu mungkin
memberikan kesan tertentu bagi orang.”
“Apakah bagi Anda juga memberikan kesan lain?”
“Oh, tidak, saya tidak berpikiran begitu. Saya rasa itu wajar-wajar saja.”
“Anda menganggapnya wajar?”
“Dalam hal ini, ya.” Pandangan Miss Marple dingin dan merenung.
Kata Inspektur Slack, “Mungkin itu bisa merupakan motif lagi bagi suaminya. Yaitu rasa
cemburu.”
“Oh, tidak, Mr. Spenlow tak pernah cemburu. Dia orang yang tak pernah melihat apa-apa.
Bila istrinya pergi dengan meninggalkan surat pem—
71
beritahuan di bantalan jarum pentul, barulah dia akan tahu.”
Inspektur Slack heran melihat betapa tajamnya pandangan Miss Marple pada dirinya. Ia
jadi mendapatkan kesan bahwa semua percakapan Miss Marple memang bertujuan untuk
menyatakan sesuatu yang tak dipahaminya. Kini wanita tua itu berkata dengan nada
menekankan, “Apakah Anda tidak menemukan petunjuk apa-apa di tempat kejadian?”
“Sekarang ini orang tidak meninggalkan sidik jari atau abu rokok, Miss Marple.”
“Tapi saya rasa merupakan suatu kejahatan gaya lama,” kata Miss Marple.
“Apa maksud Anda?” tanya Inspektur Slack dengan tajam.
Perlahan-lahan Miss Marple menjawab, “Saya rasa Agen Polisi Palk bisa membantu Anda.
Dialah orang pertama yang berada di tempat yang dikatakan orang ‘tempat kejadian
kejahatan’.”
Mr. Spenlow sedang duduk di kursi malas. Ia kelihatan bingung. Dengan suara halus namun
pasti, ia berkata, “Mungkin apa yang terjadi itu cuma bayanganku saja. Pendengaranku
sudah kurang baik. Tapi kurasa aku mendengar dengan jelas seorang anak laki-laki
berseru di belakangku, ‘Siapa yang pembunuh?’ Kata-kata itu memberikan kesan bahwa dia
berpendapat bahwa… bahwa akulah yang membunuh istriku tersayang.”
Sambil menggunting dengan halus tangkai bunga
mawar yang sudah kering, Miss Marple berkata, “Itu pasti kesan yang ingin
disampaikannya.”
“Tapi mengapa anak kecil itu sampai berpikiran begitu?”
Miss Marple berdeham. “Pasti karena mendengarkan pendapat orang-orang tua.”
“Maksud Anda… benarkah maksud Anda bahwa orang-orang lain juga berpendapat begitu?”
“Lebih dari separuh penduduk St. Mary Mead.”
“Tapi… mengapa sampai timbul pendapat seperti itu? Saya mencintai istri saya dengan
tulus. Sayang dia tak bisa sesenang yang saya harapkan, hidup di desa, tapi tak mungkin
orang bisa menyukai segala sesuatu sepenuhnya. Yakinlah bahwa saya sangat kehilangan
dia.”
“Mungkin. Tapi maafkan saya kalau berkata bahwa Anda tidak kelihatan begitu.”
Mr. Spenlow meluruskan tubuhnya yang kurus. “Ibu yang baik, bertahun-tahun yang lalu
saya pernah membaca tentang seorang filsuf Cina yang, ketika istri yang sangat
dicintainya dilarikan, dia tetap memukul gong di jalan —yang saya rasa merupakan
kebiasaan orang Cina untuk mengisi waktu —seperti biasa saja. Orang-orang di kota
terkesan oleh ketabahannya.”
“Tapi,” kata Miss Marple, “penduduk St. Mary Mead bereaksi agak berbeda. Mereka tidak
tertarik pada falsafah Cina.”
“Tapi Anda sendiri mengerti, bukan?” Miss Marple mengangguk. “Pamanku Henry,” jelasnya,
“adalah seorang pria yang sangat pandai
73
72
mengendalikan diri. Dia punya pendirian bahwa ‘Jangan pernah perlihatkan perasaanmu’.
Dia juga sangat menyukai bunga.”
“Saya jadi terpikir,” kata Mr. Spenlow dengan agak bersemangat, “mungkin sebaiknya saya
suruh orang membuat pergola di sisi barat rumah. Nanti ditanami bunga mawar merah jambu
atau bunga wisteria. Dan ada pula bunga berbentuk bintang yang berwarna putih, yang
namanya saya lupa.”
Dengan suara yang biasa digunakannya bila berbicara dengan cucu keponakannya, Miss
Marple berkata, “Inir saya punya katalog bergambar. Mungkin Anda ingin melihatlihatnya. Saya harus pergi ke desa.”
Ditinggalkannya Mr. Spenlow duduk dengan senang di kebun itu bersama katalognya. Lalu
ia kembali ke rumahnya dan naik ke kamarnya. Cepat-cepat dibungkusnya sehelai baju
dengan kertas berwarna cokelat, lalu ia keluar lagi dari rumah dan pergi ke kantor pos.
Miss Politt, penjahit itu, tinggal di kamar di atas kantor pos.
Tapi Miss Marple tidak segera menaiki tangga ke kamarnya. Waktu itu jam setengah tiga,
dan bus Much Benham yang terlambat satu menit, berhenti di pintu kantor pos. Itu
merupakan salah satu kejadian rutin di St. Mary Mead. Wanita penjaga kantor pos itu
bergegas keluar membawa bungkusan-bungkusan. Bungkusan-bungkusan itu berhubungan dengan
bagian toko dari kantor pos itu, karena kantor pos itu juga menjual permen, buku-buku
murah, dan mainan anak-anak.
74
Beberapa menit lamanya Miss Marple berada seorang diri di dalam kantor pos.
Setelah wanita penjaga kantor pos itu kembali, barulah Miss Marple naik ke lantai atas
dan menjelaskan pada Miss Politt bahwa ia ingin baju krep tuanya yang berwarna abu-abu
diubah menjadi model yang lebih baru, kalau bisa. Miss Politt berjanji akan
mengusahakannya.
Kepala Polisi agak terkejut waktu dinyatakan bahwa Miss Marple ingin menemuinya. Ia
masuk dengan meminta maaf berulang kali. “Maafkan saya —maaf sebesar-besarnya saya
mengganggu Anda. Saya tahu Anda sibuk sekali. Tapi saya tahu Anda baik hati, Kolonel
Melchett, dan “saya rasa lebih baik saya menemui Anda daripada Inspektur Slack.
Pertama-tama saya tak ingin Agen Polisi Palk mengalami kesulitan. Maksud saya, menurut
saya sebenarnya dia tak boleh menyentuh apa-apa.”
Kolonel Melchett agak kebingungan. “Palk?” katanya. “Itu kan Agen Polisi di St. Mary
Mead? Apa yang telah dilakukannya?”
“Dia telah memungut sebuah jarum pentul. Jarum itu ada di pakaian seragamnya. Dan pada
saat itu terpikir oleh saya bahwa dia mungkin memungutnya di rumah Mrs. Spenlow.”
“Benar, benar. Tapi, apalah artinya sebuah jarum pentul? Dan nyatanya dia memang
memungutnya di dekat jenazah Mrs. Spenlow. Kemarin dia datang dan mengatakan hal itu
pada Slack. Saya dengar
75
Anda yang mengatakan padanya tentang jarum itu. Anda katakan bahwa dia sebaiknya tidak
menyentuh apa-apa, tapi saya katakan, apalah artinya sebuah jarum? Itu hanya sebuah
jarum pentul biasa. Suatu benda yang mungkin dipakai oleh setiap wanita.”
“Oh, tidak, Kolonel, Anda keliru. Di mata seorang pria, mungkin itu hanya sebuah jarum
biasa, tapi tidak. Itu sebuah jarum khusus, sebuah jarum yang halus sekali, yang bisa
dibeli sekotak-sekotak, yang biasa dipakai oleh penjahit.”
Melchett memandanginya dengan mata memancarkan pengertian. Miss Marple menganggukangguk dengan bersemangat.
“Ya, tentu. Rasanya sudah jelas. Dia mengenakan kimono karena dia akan mencoba gaun
barunya. Dia masuk ke ruang depannya, dan Miss Politt mengatakan sesuatu tentang
ukuran, lalu mengalungkan pita pengukurnya ke leher wanita itu, kemudian dia tinggal
menyilangkan dan menariknya—mudah sekali, begitulah yang sering saya dengar. Lalu dia
keluar, menutup pintu, dan berdiri di situ sambil mengetuk-ngetuk, seolah-olah dia baru
saja tiba. Tapi jarum pentul itu menunjukkan bahwa dia sudah berada di dalam rumah
sebelumnya.”
“Dan Miss Politt-lah yang menelepon Mr. Spenlow.”
“Ya. Dari kantor pos, jam setengah tiga, tepat pada saat bus datang dan kantor pos
kosong.” “Tapi, Miss Marple yang baik,” kata Kolonel
76
Melchett, “mengapa? Mengapa? Orang tidak membunuh tanpa suatu motif.”
“Ah, saya rasa Anda pun tahu, Kolonel Melchett. Saya dengar, suatu kejahatan mungkin
terjadi sehubungan dengan kejahatan masa lalu. Saya jadi ingat akan dua orang saudara
sepupu saya, Antony dan Gordon. Apa saja yang dilakukan Antony selalu berhasil dengan
baik, sedangkan dengan Gordon sebaliknya. Kuda-kuda balapnya tiba-tiba lumpuh, sahamsaham jatuh, dan usaha perumahannya bangkrut. Saya rasa kedua wanita itu juga mengalami
hal yang sama.”
“Hal apa?”
“Perampokan di masa lalu itu. Saya dengar barang-barangnya adalah permata-permata
zamrud yang mahal sekali. Mereka berdua adalah pelayan dan pelayan menengah wanita kaya
itu. Ada satu hal yang tak dijelaskan —yaitu setelah pelayan menengah itu menikah
dengan tukang kebun, bagaimana mereda sampai punya cukup uang untuk mendirikan sebuah
toko bunga?
“Jawabannya adalah, uang itu adalah bagian pelayan menengah” itu dari perampokan
tersebut. Semua yang dilakukannya selalu menguntungkan. Uangnya beranak pinak. Tapi
yang seorang lagi, pelayan wanita kaya itu, pasti tidak beruntung. Dia akhirnya hanya
menjadi penjahit desa. Lalu mereka bertemu lagi. Saya rasa semula semuanya baik-baik
saja, sampai Mr. Ted Gerard muncul.
“Agaknya Mrs. Spenlow sudah menyadari dosanya. Anak muda itu pasti telah mendesaknya
untuk
77
berani menghadapi kenyataan dan mengakui kesalahannya, dan saya yakin wanita itu sudah
akan melakukannya. Tapi Miss Politt berpandangan lain. Yang disadarinya adalah bahwa
dia mungkin akan dimasukkan ke penjara gara-gara perampokan yang telah dilakukannya
bertahun-tahun yang lalu itu. Maka dia putuskan untuk mencegahnya. Saya rasa Anda tahu
bahwa dia adalah wanita yang jahat. Saya rasa bila Mr. Spenlow yang bodoh itu sampai
digantung pun dia tidak akan peduli.”
Kolonel Melchett berkata perlahan-lahan, “Kami… eh… bisa menerima teori Anda, kecuali
satu hal. Yaitu bahwa Miss Politt adalah pelayan wanita di Abercrombie itu….”
Miss Marple cepat-cepat meyakinkannya- “Itu mudah sekali. Dia jenis yang akan segera
mengaku bila dihadapkan pada kenyataan. Lalu pita pengukurnya ada pada saya. Saya… eh…
mengambilnya diam-diam waktu saya harus mencoba baju saya. Bila dia merasa kehilangan
barang itu, dan mengira bahwa itu ada pada polisi… yah dia itu wanita bodoh, dan dia
akan mengira bahwa itu bisa membuktikan bahwa dia akan kalah dalam perkara ini.
“Yakinlah, Anda tidak akan mengalami kesulitan,” katanya sambil tersenyum membesarkan
hati. Nada suara Miss Marple sama benar dengan nada suara bibi sang kolonel yang dulu
meyakinkannya bahwa ia pasti bisa lulus ujian masuk ke Sekolah Pendidikan Polisi
Sandhurst.
Dan ia memang lulus.
78
Kasus si Penjaga Rumah
“Nah,” kata Dokter Haydock pada pasiennya. “Bagaimana keadaannya hari ini?”
Miss Marple tersenyum lemah dari pembaringannya.
“Saya rasa saya sudah lebih baik,” sahutnya, “tapi saya merasa tertekan sekali. Mau tak
mau saya berpikir, betapa akan jauh lebih baik kalau saya mati. Soalnya saya sudah tua.
Tak ada yang memerlukan dan memedulikan saya.”
Dengan cara bicaranya yang tegas, sebagaimana biasa, Dokter Haydock menyela, “Ya, itu
memang reaksi yang biasa setelah penyakit flu ini. Anda butuh sesuatu yang bisa
mengalihkan pikiran Anda. Obat mental.” Miss Marple mendesah dan menggeleng. “Apalagi,”
lanjut Dokter Haydock, “saya kebetulan membawa obat itu!”
Diletakkannya sebuah amplop panjang ke tempat tidur.
“Itu cocok benar untuk Anda. Teka-teki yang merupakan kegemaran Anda.”
79
“Teka-teki?” Miss Marple kelihatan tertarik.
“Saya mencoba menulis cerita,” kata si dokter dengan wajah memerah. “Saya sudah mencoba
menjadikannya cerita yang biasa, dengan kata-kata yang umum. Tapi fakta-fakta di
dalamnya sungguh-sungguh nyata.”
“Tapi apa maksudnya dengan teka-teki?” tanya Miss Marple.
Dokter Haydock tertawa kecil. “Karena penafsirannya tergantung pada Anda. Saya ingin
melihat, apakah Anda benar-benar sepandai seperti kesan yang selalu Anda berikan.”
Dengan sindiran keras itu, ia pergi.
Miss Marple mengambil naskah itu, lalu mulai membaca.
“Lalu mana mempelai wanitanya?” tartya Miss Harmon ramah.
Seluruh desa sudah ribut ingin melihat mempelai wanita yang kaya dan cantik, yang telah
dibawa Harry Laxton dari luar negeri. Semuanya ikut merasa senang untuk Harry, pemuda
bandel yang selalu membuat ulah itu, karena ia sudah begitu beruntung. Semua memang
selalu merasa kasihan pada Harry. Bahkan para pemilik jendela rumah yang telah menjadi
korban ketapel Harry yang tidak pandang bulu itu langsung luluh begitu mendengar
pernyataan maaf Harry yang tulus. Pemuda itu sering memecahkan jendela-jendela, mencuri
buah-buahan, memburu kelinci, terlilit utang, dan terlibat cinta dengan putri penjual
tembakau se-80
tempat. Hubungan itu diputuskan dan ia diusir ke Afrika. Beberapa wanita lajang yang
sudah berumur bergumam dengan sayang, “Yah, namanya juga anak muda! Lambat laun dia
pasti akan lebih tenang!”
Dan kini si anak hilang benar-benar sudah kembali —bukan dalam keadaan susah, melainkan
dengan membawa kemenangan. Harry Laxton telah “menjadi orang baik-baik”, seperti kata
orang. Ia telah bekerja keras, dan akhirnya bertemu dan berhasil melamar seorang gadis
Indo Prancis yang memiliki kekayaan cukup besar.
Sebenarnya Harry bisa saja tinggal di London, atau membeli sebidang tanah di daerah
perburuan yang banyak dikunjungi orang, tapi ia lebih suka kembali ke desa yang
merupakan kampung halamannya. Dan di situ, dengan cara yang romantis sekali, dibelinya
tanah telantar tempat berdirinya rumah masa kecilnya.
Kingsdean House sudah tujuh puluh tahun tidak dihuni. Rumah itu perlahan-lahan rusak
dan telantar. Seorang penjaga rumah yang sudah tua dan istrinya tinggal di sebuah
sudutnya yang masih bisa ditinggali. Rumah itu besar dan luas sekali, kebunnya
ditumbuhi bermacam-macam rerumputan liar dan dikelilingi pepohonan, hingga seperti
sarang penyihir.
Rumah besarnya menyenangkan dan anggun, dan lama disewakan kepada Mayor Laxton, ayah
Harry. Waktu masih kecil, Harry suka berkelana di tanah Kingsdean, dan ia mengenal
setiap sudut hutan
81
lebat di situ. Ia selalu merasa terpesona oleh rumah besar itu
Mayor Laxton telah meninggal beberapa tahun yang lalu, hingga orang mungkin mengira
bahwa sudah tak ada ikatan lagi yang bisa membawa Harry kembali ke rumah itu. Namun ke
rumah masa kecilnya itulah Harry membawa mempelai wanitanya. Rumah tua Kingsdean
dirombak. Serombongan besar tukang dan kontraktor memenuhi tempat itu, dan dalam waktu
yang luar biasa singkat—begitu besarnya pengaruh uang —berdirilah rumah baru yang
putih berkilau di antara pepohonan.
Kemudian datang serombongan tukang kebun, dan menyusul pula serangkaian truk pembawa
perabotan rumah tangga.
Sekarang rumah itu siap ditempati. Pelayan-pelayan berdatangan. Dan akhirnya sebuah
limou-. sine yang mewah menurunkan Harry dan Mrs. Harry di depan pintu.
Seluruh isi desa berduyun-duyun berdatangan. Mrs. Price, yang memiliki rumah terbesar
dan menganggap dirinya pemimpin masyarakat di tempat itu, mengedarkan kartu-kartu
undangan untuk pesta “menyambut mempelai wanita”.
Itu merupakan peristiwa besar. Beberapa wanita mengenakan gaun baru untuk pesta itu.
Semuanya ribut, penuh ingin tahu, ingin sekali melihat makhluk yang ajaib itu. Kata
mereka segalanya seperti dongeng saja!
“Lalu mana mempelai wanitanya?” tanya Miss
82
Harmon, seorang perawan tua yang sudah dimakan cuaca dan penuh semangat, sambil
menyelinap mencari jalan untuk melewati pintu ruang tamu utama yang penuh sesak. Miss
Brent, juga seorang perawan tua, tapi bertubuh kecil dan berwajah masam, memberikan
informasi.
“Wah, cantik sekali. Tata kramanya pun halus sekali. Dan dia masih sangat muda. Sungguh
kita jadi merasa iri melihat orang memiliki segalanya seperti itu. Wajah cantik, uang,
dan pendidikan— semuanya luar biasa, tak ada yang murahan pada dirinya, dan si Harry
tampak sangat sayang padanya!”
“Ah,” kata Miss Harmon, “masih baru!”
Hidung Miss Brent yang kecil bergerak penuh perhatian, “Apa kaukira…”
“Kita semua tahu siapa si Harry itu,” kata Miss Harmon.
“Kita tahu bagaimana dia dulu! Tapi kurasa sekarang…”
“Ah,” kata Miss Harmon, “laki-laki selalu sama. Sekali tukang menipu, tetap saja
begitu. Aku tahu orang-orang yang begitu.”
“Wah, kasihan sekali gadis itu,” Miss Brent tampak jauh lebih senang. “Ya, kurasa dia
akan mengalami kesulitan dengan suaminya itu. Harus >ada orang yang memperingatkannya.
Apakah dia sudah mendengar tentang masa lalu suaminya itu, ya?”
“Rasanya sungguh tidak adil kalau dia sama sekali tidak tahu,” kata Miss Brent.
“Rasanya tak
83
enak. Apalagi di desa ini hanya ada satu toko obat.”
Putri bekas pemilik toko tembakau dulu sudah menikah dengan Mr. Edge, pemilik toko obat
itu.
“Akan lebih baik kalau Mrs. Laxton berhubungan dengan Boots di Much Benham saja,” kata
Miss Brent.
“Aku yakin Harry sendiri akan menganjurkan hal itu padanya,” Miss Harmon menimpali.
Lagi-lagi mereka saling pandang dengan penuh arti.
“Tapi aku tetap yakin bahwa istrinya hanis tahu,” kata Miss Harmon.
“Setan!” kata Clarice Vane dengan geram pada pamannya, Dokter Haydock. “Memang ada
orang yang benar-benar setan!”
Sang dokter menatapnya dengan pandangan bertanya.
Gadis itu bertubuh tinggi, cukup cantik, berhati tulus, dan mudah menyatakan isi
hatinya. Mata cokelatnya yang besar kini berapi-api karena geram waktu ia berkata,
“Semua kucing-kucing itu… mengoceh macam-macam, menyindir macam-macam.”
“Tentang Harry Laxton?”
“Ya, tentang hubungan cintanya dengan putri pemilik toko tembakau dulu.”
“Oh, itu!” Sang dokter angkat bahu. “Banyak anak muda yang punya hubungan semacam itu.”
“Tentu. Dan itu sudah berlalu. Jadi, mengapa
84
diulang-ulangi, dibahas lagi bertahun-tahun kemudian? Seperti hantu kuburan yang
melahap mayat saja.”
“Mungkin begitulah di matamu. Tapi sadarilah, sedikit sekali bahan percakapan mereka di
sini, makanya mereka cenderung mengingat kejadian-kejadian skandal masa lalu. Tapi aku
jadi ingin tahu, mengapa kau begitu kesal?”
Clarice Vane menggigit bibirnya, wajahnya agak memerah. Dengan suara agak tertahan ia
berkata, “Mereka… mereka kelihatan begitu berbahagia. Maksudku suami-istri Laxton itu.
Mereka masih muda dan saling mencintai, dan segalanya begitu indah bagi mereka. Aku tak
suka membayangkan semua itu dirusak oleh bisik-bisik dan sindiran-sindiran, kata-kata
yang menyakiti hati dan kebinatangan itu.”
“Oh, begitu.”
Clarice berkata lagi, “Tadi Harry berbincang-bincang denganku. Dia begitu bahagia,
penuh semangat, penuh hasrat, dan… ya, penuh haru karena telah bisa mencapai
keinginannya, yaitu membangun kembali Kingsdean. Dia gembira seperti anak-anak.
Sedangkan istrinya… yah, kurasa sepanjang hidupnya dia tak pernah mengalami kesusahan.
Dia selalu memiliki segala-galanya. Paman kan sudah melihatnya. Bagaimana pendapat
Paman tentang dia?”
Sang dokter tidak segera menjawab. Bagi orang-orang Iain, Louise Laxton memang
menimbulkan rasa iri. Ia adalah kesayangan Dewi Fortuna yang
85
manja. Tapi bagi sang dokter, ia hanya merupakan ulangan dari sebuah lagu lama yang
populer, Gadis kecil kaya yang malang….
Louise bertubuh kecil dan rapuh, rambutnya keriting pirang, ditata agak kaku di sekitar
wajahnya, matanya biru besar dan sayu.
Louise sudah agak kuyu. Arus panjang ucapan selamat telah meletihkannya. la berharap
bisa pergi secepatnya. Mungkin sebentar lagi Harry akan mengatakannya. Ia mengerling
pada Harry. Suaminya kelihatan begitu jangkung, dadanya bidang, dan ia kelihatan begitu
senang dan gembira dalam pesta yang membosankan ini.
Gadis kecil kaya yang malang….
“Hhhmp!” Louise mendesah lega.
H&rry menoleh dan menatap istrinya dengan senang. Mereka sedang dalam perjalanan pulang
dari pesta itu.
“Membosankan sekali pestanya, ya, Sayang!” kata istrinya.
Harry tertawa- “Ya, membosankan sekali. Tak apalah, sayangku. Itu memang harus kita
hadapi. Semua kucing tua itu mengenalku waktu aku masih kecil dan tinggal di sini.
Mereka pasti akan kecewa sekali bila tak bisa melihatmu dari dekat.”
Louise nyengir. “Apakah kita harus sering bertemu dengan mereka?” tanyanya.
“Apa? Oh, tidak. Mereka akan datang berkunjung, lalu kau harus membalas kunjungan itu.
Setelah itu, tak perlu lagi. Kau bisa memilih
86
teman-temanmu sendiri, atau apa saja yang kausukai.”
Sebentar kemudian Louise berkata, “Tak adakah seorang pun yang menyenangkan di sekitar
sini?”
“Oh, ada. Ada Perkumpulan Desa. Tapi mungkin kau juga akan menganggap mereka agak
membosankan, karena kebanyakan hanya berminat pada bunga, anjing, dan kuda. Kau juga
bisa menunggang kuda. Kau pasti akan senang. Di Eglinton ada seekor kuda. Akan kubawa
kau melihatnya. Hewan yang cantik sekali, sudah terlatih dengan baik, tidak jahat, tapi
agak liar.”
Mobil mengurangi kecepatan karena akan membelok ke pintu pagar Kingsdean. Harry menekan
rem kuat-kuat dan mengumpat ketika sesosok tubuh besar melompat ke tengah jalan, dan
Harry hampir saja tak bisa menghindarinya. Sosok itu berdiri di situ sambil mengacungacungkan tinju dan berteriak pada mereka.
Louise mencengkeram lengan suaminya. “Siapa itu… wanita mengerikan itu?”
Harry mengerutkan alisnya sampai bertemu. “Itu si tua Murgatroyd. Dia dan suaminyalah
yang menjaga rumah tua dulu. Hampir tiga puluh tahun mereka tinggal di situ.”
“Mengapa dia mengacung-acungkan tinjunya padamu?”
Wajah Harry menjadi merah. “Dia… yah, dia tak suka rumah itu dirobohkan. Sebab dia jadi
tersingkir. Suaminya meninggal dua tahun yang
87
lalu. Kata orang, dia jadi kurang waras setelah suaminya itu meninggal.”
“Apakah dia… dia tidak kelaparan, kan?”
Pikiran Louise terbatas dan agak menyedihkan. Orang-orang kaya memang kadang tak bisa
melihat kenyataan.
Harry jadi marah sekali. “Ya Tuhan, Louise, pikiran apa itu! Aku tentu saja memberinya
uang pensiun… dan dalam jumlah besar! Bahkan aku mencarikan dia rumah baru.”
“Lalu mengapa dia keberatan?” tanya Louise kebingungan.
Harry mengerutkan alisnya lagi. “Mana aku tahu? Karena gila tentu! Dia mencintai rumah
itu.”
“Padahal kan sudah bobrok sekali, ya?”
“Memang. Sudah hancur. Atapnya sudah bocor dan bangunan itu sudah tidak aman. Namun
kurasa rumah itu sangat berarti baginya. Lama sekali dia tinggal di situ. Ah, entahlah.
Sudah benar-benar gila dia rupanya.”
Dengan rasa cemas Louise berkata, “Dia… kurasa dia mengutuk kita. Oh, Harry, semoga dia
tidak melakukannya.”
Louise merasa rumah barunya ternoda dan diracuni oleh sosok mengerikan perempuan tua
jahat yang gila itu. Bila ia bepergian dengan mobil, berkuda, atau berjalan-jalan
dengan anjing-anjing, sosok itu selalu ada. Duduk meringkuk dengan topi kumuh menutupi
rambut kusutnya yang beruban, sambil menggumamkan kutukannya.
88
Louise jadi percaya bahwa Harry memang benar —perempuan tua itu gila Namun hal itu
tidak mempermudah keadaan. Mrs. Murgatroyd tak pernah mendatangi rumah mereka, tidak
mengucapkan ancaman-ancaman yang jelas, dan tidak melakukan kekerasan. Sosoknya yang
meringkuk itu tetap tinggal di luar pintu pagar. Tidak ada gunanya mengadukan wanita
itu ke polisi, dan Harry memang tak mau mengambil langkah itu. Katanya itu malah akan
mengundang simpati orang banyak terhadap si tua jahat itu. Ia menghadapinya dengan
lebih santai daripada Louise.
“Jangan kuatir, Sayang. Dia akan bosan sendiri dengan kutukan-kutukannya itu. Mungkin
dia hanya mencoba kita saja.”
“Tidak, Harry. Dia… dia benci pada kita! Aku bisa merasakannya. Dia mendoakan yang
jahat bagi kita.”
“Dia bukan nenek sihir, Sayang, meskipun kelihatannya memang seperti itu! Jangan
ketakutan terus.”
Louise diam. Setelah kesibukan mengatur hidup barunya sudah selesai, anehnya ia merasa
kesepian dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia sudah terbiasa dengan kehidupan di London
dan Riviera. Ia tidak tahu dan tidak mengerti tentang kehidupan desa di Inggris. Ia
tidak pandai berkebun, kecuali menata bunga. Ia tidak begitu suka pada anjing. Ia
merasa bosan dengan tetangga-tetangganya. Yang paling disukainya adalah menunggang
kuda, kadang-kadang dengan Harry, kadang-kadang seorang diri,
89
bila Harry sibuk dengan urusannya. Ia berkuda melalui hutan-hutan dan jalan setapak,
menikmati lari kuda cantik yang dibelikan Harry untuknya. Tapi bahkan Prince Hall, kuda
berwarna cokelat yang sangat penurut itu, cenderung jadi ketakutan dan mendengus bila
ditunggangi nyonyanya melewati sosok perempuan tua jahat yang meringkuk itu.
Pada suatu hari, Louise memberanikan diri. Ia sedang berjalan-jalan di luar. Ia
melewati Mrs. Murgatroyd dengan berpura-pura tidak melihatnya, tapi tiba-tiba ia
berbalik dan berjalan mendatanginya. Dengan agak terengah ia berkata, “Ada apa? Apa
sebenarnya? Apa yang kauinginkan?”
Perempuan itu melihat padanya sambil menger-japkan mata. Wajahnya cerdik dan gelap,
seperti wajah gipsi, matanya dipicingkan dengan curiga, rambutnya yang penuh ubantampak kusut. Louise jadi ingin tahu, apakah ia biasa minum minuman keras.
Ia berbicara dengan suara melengking yang mengandung ancaman. “Kau bertanya apa yang
kuinginkan? Apa, coba! Sesuatu yang telah dirampas dariku. Siapa yang telah mengusirku
dari Kingsdean House? Aku sudah tinggal di situ sejak gadis sampai tua, hampir empat
puluh tahun lamanya. Sungguh jahat mengusirku keluar dari situ, dan nasib buruk dan
siallah yang akan menimpamu dan suamimu!”
“Bukankah kau sudah diberi rumah kecil yang bagus dan…,” kata Louise.
90
Kata-katanya terputus karena lengan perempuan tua itu melayang ke atas. Ia berteriak,
“Apa gunanya itu untukku? Yang kuinginkan adalah tempatku sendiri, perapianku sendiri,
di mana aku selalu duduk selama bertahun-tahun. Dan mengenai kau dan suamimu, dengarlah
kata-kataku, tidak akan ada kebahagiaan untuk kalian di rumah baru kalian yang bagus
itu. Kesedihan mendalam akan menimpa kalian! Kesedihan dan kematian karena ku-tukanku.
Semoga wajahmu yang cantik itu membusuk.”
Louise berbalik, lalu lari dengan terhuyung-huyung. Aku harus pergi dari sini!
pikirnya. Kami harus menjual rumah ini! Kami harus pergi.
Pada saat itu, penyelesaian seperti itu terasa mudah. Tapi ia terkejut karena Harry tak
mau mengerti. “Pergi dari sini?” seru Harry. “Menjual rumah ini? Hanya karena ancamanancaman seorang perempuan tua yang gila? Sudah gila kau!”
“Tidak. Tapi dia… dia menakutkan. Aku yakin akan terjadi sesuatu.”
Dengan tegas Harry berkata, “Serahkan Mrs. Murgatroyd padaku. Biar aku yang
menyelesaikannya!”
Suatu persahabatan telah terjalin antara Clarice Vane dan Mrs. Laxton muda itu. Kedua
wanita itu kira-kira sebaya, meskipun watak dan selera keduanya berbeda. Berada di
dekat Clarice, Louise merasa percaya diri. Louise menceritakan tentang Mrs. Murgatroyd
dan ancaman-ancamannya. Tapi
91
menurut Clarice hal itu menjengkelkan, bukan menakutkan.
“Keadaan seperti itu perbuatan orang bodoh,” katanya. “Dan pasti menjengkelkanmu.”
“Tahukah kau, Clarice, aku… kadang-kadang aku ketakutan sekali. Jantungku berdebardebar terus.”
“Omong kosong, jangan biarkan dirimu kalah oleh perbuatan bodoh semacam itu Dalam waktu
singkat, dia akan bosan sendiri.”
Louise diam saja beberapa lama. “Ada apa?” tanya Clarice.
Louise^diam sebentar, kemudian menjawab cepat-cepat, “Aku benci tempat ini! Aku tak
suka berada di sini. Hutan-hutan itu, rumah ini, dan kesunyian yang mengerikan di malam
hari, juga suara aneh burung hantu. Juga orang-orangnya, pokoknya segala-galanya.”
“Orang-orangnya? Orang-orang mana?”
“Orang-orang di desa. Perawan-perawan tua yang suka mengintip dan bergunjing.”
Dengan tajam Clarice berkata, “Apa kata mereka?”
“Aku tak tahu. Tak ada yang khusus. Tapi pikiran mereka busuk. Bila kita berbicara
dengan mereka, kita merasa bahwa kita tak bisa mempercayai siapa pun lagi —sama sekali
tak ada yang bisa dipercayai.”
“Ah, lupakan mereka,” kata Clarice tajam. “Mereka tak punya kegiatan lain kecuali
bergunjing. Dan kebanyakan bahan pembicaraan itu mereka karang sendiri.” Ś
92
“Kalau saja kami tidak datang kemari,” kata Louise. “Tapi Harry memuja tempat ini,”
katanya dengan suara halus.
Louise memuja Harry, pikir Clarice. Tiba-tiba ia berkata, “Aku harus pergi.”
“Biar kusuruh sopir mengantarmu pulang. Datang lagi secepatnya, ya?”
Clarice mengangguk. Louise merasa terhibur dengan kunjungan teman barunya itu. Harry
senang melihatnya lebih ceria, dan sejak itu disuruhnya istrinya untuk meminta agar
Clarice sering datang.
Lalu pada suatu hari ia berkata, “Ada kabar baik untukmu, Sayang.”
“Oh ya? Apa?”
“Murgatroyd sudah kuurus. Dia punya anak laki-laki di Amerika. Nah, kuatur supaya dia
pergi ke sana menyertai anaknya itu. Aku yang akan membayar biaya perjalanannya.”
“Oh, Harry, bagus sekali. Kurasa dengan begitu aku akan bisa menyukai Kingsdean.”
“Jadi suka? Padahal ini adalah tempat terindah di seluruh dunia!”
- Louise agak bergidik. Tak semudah itu ia menghilangkan rasa takutnya yang bagaikan
takhayul itu.
Kaum wanita St. Mary Mead sebenarnya akan senang sekali kalau bisa memberikan informasi
tentang masa lalu Harry pada Louise, namun Harry Laxton sudah lebih dulu mengambil
tindakan. Pada suatu hari Miss Harmon dan Clarice Vane
93
berada di toko Mr. Edge. Yang seorang membeli kapur barus, dan yang seorang lagi
membeli sebungkus obat antihairia. Tiba-tiba Harry Laxton dan istrinya masuk.
Setelah menyapa kedua wanita itu, Harry berbalik ke meja pelayanan dan baru akan
menanyakan sikat gigi, tapi kata-katanya terhenti dan ia berseru dengan gembira, “Wah,
wah, ini kejutan! Pasti Belia, ya?”
Mrs. Edge, yang bergegas keluar dari belakang untuk membantu kesibukan di toko,
membalas sapaannya dengan tersenyum ceria, memperlihatkan giginya yang besar-besar dan
putih. Dulu ia seorang gadis berambut hitam yang cantik, dan sampai sekarang pun masih
cantik, meskipun dia sudah ngak gemuk dan garis-garis wajahnya mulai kasar. Tapi mata
cokelatnya yang besar tampak penuh kehangatan waktu ia menjawab, “Memang Belia, Mr.
Harry, senang bertemu Anda setelah sekian lama.”
Harry menoleh pada istrinya. “Belia ini bekas pacarku, Louise,” katanya. “Aku tergilagila padanya waktu itu, bukan begitu, Belia?”
“Ah, kau,” kata Mrs. Edge.
Louise tertawa. Katanya, “Suami saya senang sekali bertemu dengan teman-teman lamanya
lagi.”
“Oh,” kata Mrs. Edge, “kami tak lupa padamu, Harry. Rasanya seperti dongeng saja, kau
menikah dan membangun kembali Kingsdean House yang sudah bobrok itu.”
“Kau kelihatan sehat dan makin cantik saja,”
94
kata Harry. Mrs. Edge tertawa dan berkata bahwa ia tak kurang suatu apa, lalu
menanyakan bagaimana dengan sikat gigi itu.
Clarice melihat wajah Miss Harmon yang terkejut, dan berpikir, Hebat, Harry. Kau telah
menggagalkan rencana mereka.
Dokter Haydock tiba-tiba berkata pada keponakannya, “Aku mendengar omong kosong tentang
si tua Mrs. Murgatroyd yang suka berkeliaran di Kingsdean, dan mengacung-acungkan
tinjunya sambil mengutuk penghuni baru itu.”
“Itu bukan omong kosong. Itu memang benar. Itu sangat menyusahkan Louise.”
“Katakan padanya supaya dia jangan kuatir. Waktu suami-istri Murgatroyd itu masih
menjadi penjaga rumah di sana, tak henti-hentinya mereka menggerutu tentang rumah itu.
Mereka tetap tinggal di situ karena Murgatroyd itu peminum dan tak bisa mendapatkan
pekerjaan lain.”
“Akan saya katakan,” kata Clarice ragu, “tapi saya rasa dia tidak akan percaya. Soalnya
perempuan tua itu berteriak-teriak dengan marah sekali.”
“Aku tak mengerti. Waktu Harry masih kecil, mereka sayang sekali padanya.”
“Yah…,” kata Clarice, “sebentar lagi mereka tidak akari diganggu lagi. Harry telah
membiayai perjalanannya ke Amerika.”
Tiga hari kemudian, Louise terlempar dari kuda dan tewas.
Dua orang laki-laki yang sedang berada di mobil
95
tukang roti menyaksikan kecelakaan itu Mereka melihat Lousie berkuda keluar dari pintu
pagar, kudanya melihat perempuan tua itu melompat dan berdiri di jalan sambil mengayunayunkan tangan dan berteriak. Mereka melihat kuda itu terkejut, mengelak, lalu melesat
membabi buta, hingga Louise terlempar melewati kepalanya.
Salah seorang di antaranya berdiri memandangi wanita yang pingsan itu, tanpa tahu apa
yang harus dilakukannya, sedangkan yang seorang lagi berlari cepat ke rumah untuk
meminta bantuan.
Harry Laxton datang berlari-lari dengan wajah pucat. Mereka melepaskan pintu mobil
tukang roti itu untuk mengangkat Louise ke rumah. Louise meninggal tanpa sempat siuman
dan sebelum dokter tiba.
(Demikianlah akhir naskah Dokter Haydock)
Waktu Dokter Haydock tiba keesokan paginya, ia gembira melihat wajah Miss Marple sudah
bersemu dadu dan sikapnya sudah jauh lebih-ceria.
“Nah,” katanya, “bagaimana keputusannya?”
“Apa masalahnya, Dokter Haydock?” balas Miss Marple.
“Ah, apakah masih harus saya katakan?”
“Apakah mengenai kelakuan aneh istri penjaga rumah itu?” kata Miss Marple. “Mengapa dia
berkelakuan begitu aneh? Orang memang keberatan kalau diusir dari rumahnya. Tapi itu
bukan rumah mereka. Dan dia bahkan dulu suka mengeluh dan menggerutu, waktu masih
tinggal di situ. Ya, kelihatannya memang ada yang tidak beres. Apa yang terjadi atas
dirinya, ya?”
“Dia sudah lari - ke Liverpool. Kecelakaan itu membuatnya ketakutan. Kurasa dia
sekarang sedang menunggu kapal.”
“Semuanya itu sangat menguntungkan bagi seseorang,” kata Miss Marple. “Ya, saya rasa
masalah kelakuan penjaga rumah itu bisa diselesaikan dengan mudah. Penyuapan, kan?”
“Itukah penyelesaian Anda?”
“Yah, bila apa yang dilakukannya itu tidak wajar, berarti dia main sandiwara, dan itu
berarti ada orang yang membayarnya untuk berbuat begitu.”
“Dan Anda tahu siapa orang itu?”
“Ya, saya rasa begitulah. Lagi-lagi soal uang. Dan saya selalu melihat bahwa laki-laki
cenderung mengagumi tipe yang sama.”
“Saya jadi tak mengerti.”
“Ah, semuanya berkaitan. Harry Laxton mengagumi Bella Edge, wanita berambut hitam yang
bersemangat. Demikian pula keponakan Anda, Clarice. Sedangkan istrinya yang malang,
lain sekali tipenya—berambut pirang dan sangat bergantung pada orang lain —sama sekali
bukan tipe yang disukainya. Jadi, Harry menikahinya pasti karena uangnya. Dan
membunuhnya karena uangnya pula!”
“Anda menggunakan kata ‘membunuh’?”
“Yah, kedengarannya Harry memang tipe seperti itu. Mudah menarik perhatian wanita dan
suka sekali menuruti hasratnya yang jahat. Saya rasa
97
96
dia ingin tetap memiliki uang istrinya dan menikahi keponakan Anda. Dia memang
kelihatan berbicara dengan Mrs. Edge, tapi saya rasa dia sudah tidak tertarik lagi
padanya. Namun kelihatannya wanita malang itu menduga laki-laki itu masih tertarik
padanya, dan dia segera bertekuk lutut.”
“Menurut Anda, bagaimana sebenarnya dia mem-. bunuh istrinya?”
Miss Marple menatap ke depan dengan mata birunya yang menerawang selama beberapa menit.
“Waktunya sudah direncanakan dengan baik, hingga mobil tukang roti itu ada di situ.
Mereka memang melihat perempuan tua itu, dan mereka tentu mengaitkan ketakutan kuda itu
dengannya. Tapi saya pikir itu disebabkan oleh sebuah senapan angin atau ketapel. Ya,
tepat pada saat kuda itu melewati pintu gerbang. Tentu saja si kuda berlari melesat,
dan Mrs. Laxton terlempar.”
Ia berhenti dan mengerutkan alisnya.
“Wanita itu memang mungkin tewas karena jatuh. Tapi suaminya tidak yakin. Dia jenis
orang yang selalu menyiapkan rencananya dengan cermat dan tak mau bergantung pada
kesempatan. Apalagi Mrs. Edge bisa saja menjual sesuatu padanya tanpa diketahui
suaminya. Kalau bukan begitu, untuk apa Harry bermanis-manis dengannya? Ya, saya rasa
dia telah menyiapkan suatu obat keras, yang bisa diberikan pada wanita itu sebelum Anda
tiba. Soalnya, bila seorang wanita terlempar dari kudanya dan menderita cedera berat,
lalu meninggal tanpa pernah siuman, yah… biasanya dokter tidak
98
akan curiga, kan? Dia akan menduga bahwa itu disebabkan oleh shock atau yang lain.”
Dokter Haydock mengangguk.
“Mengapa Anda curiga?”
“Itu bukan karena saya pintar,” kata Dokter Haydock. “Itu merupakan kenyataan biasa
yang sudah kita kenal. Seorang pembunuh yang begitu senang dengan kecerdikannya jadi
tidak berhati-hati. Saya baru saja mengucapkan kata-kata hiburan pada suami yang
kehilangan itu, dan memang juga merasa kasihan padanya. Lalu dia mengempaskan dirinya
ke sofa untuk bersandiwara, dan sebuah alat suntik jatuh dari sakunya.
“Dia cepat-cepat memungutnya dan kelihatan ketakutan sekali, hingga saya jadi berpikir.
Harry Laxton bukan pemakai obat-obat terlarang; kesehatannya prima. Jadi, untuk apa dia
memiliki alat suntik? Waktu melakukan otopsi, secara khusus saya teliti kalau-kalau ada
kandungan sebangsa racun pembunuh yang bernama strophanthin. Sisanya mudah saja. Laxton
juga memiliki strophanthin, dan waktu Belia ditanyai oleh polisi, dia mengakui bahwa
dialah yang menjualnya pada Harry. Dan akhirnya si tua Mrs. Murgantroyd mengakui pula
bahwa Harry Laxton-lah yang mengatur supaya dia bersandiwara dengan ancaman kutukan
itu.”
“Lalu bisakah keponakan Anda melupakan peristiwa itu?”
“Bisa. Dia memang tertarik pada laki-laki itu, tapi belum sampai terlalu jauh.”
99
Sang dokter mengambil naskahnya.
“Nilai tertinggi untuk Anda, Miss Marple, dan nilai tertinggi pula untuk resep saya
yang tepat. Anda boleh dikatakan sudah pulih kembali.”
100
Kasus Pelayan yang Sempurna t$
“Maafkan saya, Madam, bolehkah saya berbicara dengan Anda sebentar?”
Permintaan itu bisa dianggap tidak masuk akal, karena Edna, pelayan kecil Miss Marplelah yang berbicara dengan majikannya pada saat itu.
Tapi, karena tahu bahwa tentu ada sesuatu yang sangat penting, maka Miss Marple
langsung berkata, “Tentu, Edna, masuklah dan tutup pintunya. Ada apa?”
Setelah dengan patuh menutup pintu, Edna masuk ke kamar sambil melipit-lipit sudut
celemeknya dan menelan beberapa kali.
“Ya, Edna?” tanya Miss Marple membesarkan hati.
“Maaf, Ma’am, ini mengenai sepupu saya, Gladdie.”
“Astaga,” kata Miss Marple. Pikirannya langsung membayangkan yang terburuk —bahwa
Gladys mungkin hamil. “Dia mengalami… kesulitan?”
Edna cepat-cepat menenangkannya “Oh, tidak, Ma’am, bukan begitu. Gladdie bukan gadis
yang
101
begitu. Tapi dia sedang susah. Soalnya dia kehilangan pekerjaannya.”
“Wah, kasihan sekali. Dia bekerja di Old Hall, kan, untuk Miss Skinner atau Miss
Skinner Bersaudara?”
“Benar, Ma’am. Dan Gladdie sedih sekali — susah sekali.”
“Bukankah dia memang sudah sering berpindah-pindah tempat bekerja?”
“Memang, ,dia memang suka berpindah-pindah tempat bekerja. Agaknya dia tak pernah
merasa tenang di suatu tempat. Tapi selama ini selalu dia yang minta berhenti!”
“Dan kali ini keadaannya terbalik?” tanya Miss Marple datar.
“Benar, Ma’am, dan Gladdie susah sekali.”
Miss Marple melihat dengan agak terkejut. Ingatannya mengenai Gladys> yang sekalisekali datang untuk minum teh di dapur pada hari liburnya, adalah bahwa gadis itu
tinggi besar, suka cekikikan, dan bertemperamen tinggi.
Edna berkata lagi, “Soalnya, Ma’am, cara kejadiannya itu —cara pandangan Miss Skinner.”
“Bagaimana cara Miss Skinner memandang?’ tanya Miss Marple dengan sabar.
Kini Edna sudah bisa menyampaikan beritanya dengan lancar.
“Wah, Gladdie terkejut sekali, soalnya Miss Emily kehilangan salah satu brosnya. Dia
ribut sekali. Tentu saja tak ada seorang pun yang suka keadaan seperti itu. Itu tentu
menyusahkan sekali,
102
bukan, Ma’am? Gladdie membantu mencarinya ke mana-mana. Lalu Miss Lavinia mengatakan
dia akan melaporkannya pada polisi, tapi barang itu ditemukan, terselip di bagian
belakang sebuah laci meja rias. Gladdie senang sekali.
“Keesokan harinya sebuah piring pecah, dan Miss Lavinia marah sekali, lalu menyuruh
Gladdie berhenti mulai bulan berikutnya. Gladdie merasa itu tak mungkin disebabkan oleh
piring yang pecah itu. Itu hanya dijadikan alasan. Gara-garanya pasti bros itu. Mereka
tentu mengira Gladdie yang telah mengambilnya dan mengembalikannya setelah mereka
menyebut-nyebut polisi. Padahal Gladdie tak mungkin melakukan hal semacam itu, tidak
akan pernah. Dia ingin membantah nal itu, karena itu merupakan hal penting bagi seorang
gadis, bukan, Ma’am?”
Miss Marple mengangguk. Meskipun kurang menyukai Gladys yang banyak ulah dan selalu
merasa dirinya hebat, Miss Marple yakin bahwa gadis itu pada dasarnya jujur, dan ia
mengerti benar mengapa gadis itu jadi begitu susah.
Dengan murung Edna berkata, “Saya rasa tak ada yang bisa Anda lakukan, bukan? Tapi
seperti biasa, Gladdie itu suka memaksa.”
“Katakan padanya supaya jangan bodoh,” kata Miss Marple dengan tegas. “Kalau dia memang
tidak mengambil bros itu—aku percaya dia memang tidak mengambilnya —maka dia tak perlu
susah.”
“Akan saya sampaikan,” kata Edna murung.
“Aku… eh…,” kata Miss Marple, “kebetulan
103
akan pergi ke arah itu petang ini. Aku akan berbicara dengan Miss Skinner bersaudara
itu.” “Oh, terima kasih, Ma’am,” kata Edna.
Old Hall adalah sebuah rumah besar bergaya Victoria, yang dikelilingi oleh hutan dan
areal taman. Karena rumah itu terbukti tak laku disewakan dan dijual, maka seorang
spekulator bangunan membagi rumah itu menjadi empat buah flat dengan sistem air panas
sentral; tanah di sekelilingnya boleh digunakan bersama oleh para penyewa. Eksperimen
itu terbukti memuaskan. Seorang wanita tua yang kaya dan nyentrik menempati satu flat.
^Wanita tua itu suka sekali burung, dan setiap kali mengumpulkan hewan-hewan bersayap
itu untuk diberi makan. Seorang pensiunan hakim India menyewa flat kedua. Sepasang
suami-istri muda yang baru menikah, menempati flat ketiga, dan flat keempat baru disewa
dua bulan yang lalu oleh dua orang wanita lajang bernama Skinner. Hubungan penyewa
keempat flat itu tidak akrab, karena masing-masing tak punya persamaan. Kata orang,
pemilik bangunan itu senang akan keadaan tersebut. Yang ditakutinya adalah kalau
terjalin persahabatan yang disusul oleh perpecahan, dan kemifSian pengaduan
terhadapnya.
Miss Marple kenal pada semua penyewa itu, meskipun tidak kenal baik benar. Yang lebih
tua dari Miss Skinner Bersaudara, Miss Lavinia, boleh dikatakan yang lebih rajin di
antara mereka berdua. Miss Emily, yang lebih muda, menghabiskan se-104
bagian besar waktunya di tempat tidur, menderita keluhan-keluhan yang, menurut pendapat
orang-orang St. Mary Mead, sebagian besar hanya bayangannya saja. Hanya Miss Lavinia
yang sungguh-sungguh percaya akan penderitaan adiknya, dan ia sabar menanggungnya.
Dengan rela ia mau disuruh-suruh pergi ke mana saja di desa, untuk membeli barangbarang yang “tiba-tiba diinginkan” oleh adiknya.
Menurut penduduk St. Mary Mead, sekiranya Miss Emily memang menderita setengahnya saja
dari apa yang dikatakannya, ia pasti sudah lama meminta Dokter Haydock datang. Tapi
bila hal itu dianjurkan padanya, Miss Emily langsung memejamkan matanya dan bergumam
bahwa sakitnya tidak sesederhana itu, dan para spesialis di London pun merasa bingung.
Dikatakannya pula bahwa ada seorang dokter baru yang hebat, yang telah menanganinya
dengan cara baru yang revolusioner, -dan ia berharap kesehatannya akan membaik dengan
pengobatan itu. Tak seorang pun dokter umum biasa yang bisa mengerti penyakitnya.
“Dan kupikir,” kata Miss Hartnell yang banyak bicara, “dia cukup cerdik untuk tidak
memeriksakan dirinya pada Dokter Haydock. Karena Dokter Haydock yang baik dan suka
berterus terang itu pasti akan berkata bahwa dia tidak apa-apa, lalu dia akan disuruh
bangun dan tidak meributkannya! Itu baru baik baginya!”
Namun karena tak pernah mendapatkan penanganan semacam itu, Miss Emily tetap saja ber—
105
baring di sofa-sofa, dikelilingi oleh botol-botol pil yang aneh. Ia menolak hampir
semua makanan yang dimasakkan untuknya dan meminta yang lain, yang biasanya sulit dan
tak mudah didapatkan.
Yang membukakan pintu untuk Miss Marple adalah “Gladdie” yang kelihatan sangat
tertekan. Tak per-i nah Miss Marple mengira bahwa ia bisa kelihatan begitu. Di ruang
duduk (suatu bagian dari bekas ruang tamu utama yang telah dibagi menjadi ruang makan,
ruang tamu utama, kamar mandi, dan lemari pelayan), Miss Lavinia bangkit menyambut Miss
Marple.
Lavinia Skinner adalah seorang wanita bertubuh tinggi, kurus, dan bertulang. Ia berumur
lima puluh tahun. Suaranya serak dan sikapnya tegas.
“Senang bertemu dengan Anda,” katanya. “Emily sedang berbaring. Hari ini dia merasa
tidak sehat. Kasihan dia. Sebenarnya saya ingin dia bangun dan bertemu dengan Anda,
supaya dia agak ceria. Tapi kadang-kadang dia tak ingin bertemu dengan siapa-siapa.
Kasihan dia, dia sabar sekali.”
Miss Marple menanggapi dengan sopan. Pelayan merupakan bahan percakapan utama di St.
Mary Mead, maka tidaklah sulit untuk mengarahkan percakapan ke topik itu. Kata Miss
Marple, ia mendengar bahwa gadis manis bernama Gladys Holmes itu akan berhenti.
Miss Lavinia mengangguk. “Hari Rabu minggu yang akan datang. Dia sering memecahkan
barang-barang. Saya tak suka.” •
Miss Marple mendesah dan berkata bahwa sekarang ini kita harus banyak menyesuaikan diri
dengan keadaan. Sulit sekali untuk mendapatkan pelayan-pelayan yang mau bekerja di
desa. Apakah Miss Skinner merasa sudah tepat memecat Gladys?
“Saya tahu, memang sulit mendapatkan pelayan,” kata Miss Lavinia. “Keluarga Devereux
tak punya pelayan, tapi saya tidak heran —mereka selalu bertengkar, lalu membunyikan
musik jazz, sepanjang malam, setiap saat ingin makan. Wanita muda itu tak tahu apa-apa
tentang rumah tangga. Saya merasa kasihan pada suaminya! Lalu suami-istri Larkin baru
saja kehilangan pelayan mereka. Tentu saja, soalnya pensiunan hakim India itu pemarah
sekali, dan selalu minta apa yang disebutnya chota hazri pada jam enam pagi, sedangkan
Mrs. Larkin selalu ribut. Jadi, saya tidak heran. Pelayan Mrs. Carmichael yang bernama
Janet itu sudah lama sekali, padahal menurut saya dia sama sekali tidak baik. Dia
berani pada wanita tua itu.”
“Kalau begitu, apakah menurut Anda pemecatan atas Gladys tak bisa dipertimbangkan lagi?
Dia gadis yang baik sekali. Saya kenal semua keluarganya; dia jujilr dan terpercaya
sekali.”
Miss Lavinia menggeleng.
“Saya punya alasan,” katanya dengan sikap penting.
“Saya dengar Anda kehilangan bros,” gumam Miss Marple.
“Wah, siapa yang berbicara? Saya rasa gadis itu. Terus terang saja, saya boleh
dikatakan yakin
107
106
bahwa dialah yang mengambilnya. Lalu dia ketakutan, dan mengembalikannya —tapi kita
tentu tak bisa berkata terus terang kalau kita tak yakin.” la lalu mengalihkan pokok
pembicaraan. “Mari kita melihat Emily, Miss Marple. Saya yakin itu baik sekali
untuknya.”
Miss Marple mengikuti dengan enggan ke sebuah kamar. Miss Lavinia mengetuk pintu,
disuruh masuk, dan mengantar tamunya masuk ke kamar terbaik di flat itu. Hampir semua
cahaya yang masuk ke kamar itu dihalangi dengan kerai yang tertutup separuh. Miss Emily
sedang terbaring di tempat tidur. Agaknya ia suka akan keadaan setengah gelap itu, dan
penderitaannya sendiri yang tak menentu itu.
Cahaya samar yang masuk membuat ia tampak sebagai makhluk kurus yang tak berpendirian.
Rambutnya yang lebat dan sudah beruban mengelilingi wajahnya dengan kusut dan
mengeriting, hingga tampak seperti sarang burung yang pasti tidak disukai oleh burung
yang punya harga diri. Dalam ruangan itu ada bau cologne, biskuit yang sudah basi, dan
kapur barus.
Dengan mata setengah tertutup serta suara halus dan lemah, Emily Skinner menjelaskan
bahwa ini adalah “salah satu hari sakitnya”.
“Yang terburuk dari sakit adalah,” kata Miss Emily dengan nada murung, “bahwa kita tahu
kita merupakan beban bagi semua orang di sekeliling kita.
“Lavinia baik sekali pada saya. Lavvie sayang,
108
aku sebenarnya tak suka menyusahkan, tapi kalau botol air panasku bisa diisi seperti
yang kusukai… kalau terlalu penuh rasanya terlalu berat mem-bebaniku; sebaliknya kalau
tidak diisi secukupnya, dia langsung dingin!”
“Ah, kasihan kau. Sini, berikan padaku. Akan kukurangi isinya.”
“Kalau kau mau melakukannya, sebaiknya diganti saja airnya. Kurasa… tak ada biskuit
baru di rumah, ya? Tidak, tidak, tak apa-apa. Tak perlu. Minum teh encer saja dengan
seiris jeruk lemon. Tak ada lemon? Ya sudah, tapi aku tak bisa minum teh tanpa jeruk
lemon. Kurasa susunya agak basi tadi pagi. Aku jadi tak ingin minum teh dengan susu.
Biarlah aku tidak minum teh. Tapi aku jadi merasa lemah sekali. Kata orang, kerang
adalah makanan bergizi. Bisakah aku minta beberapa? Tidak, tak usah, sudah terlalu sore
untuk mencarinya. Aku bisa puasa sampai besok.”
Lavinia keluar dari kamar sambil bergumam kurang jelas, bahwa ia harus bersepeda ke
desa lagi.
Miss Emily tersenyum pada tamunya dan berkata dengan lemah bahwa ia tak suka
menyusahkan siapa pun.
Malam itu Miss Marple mengatakan pada Edna bahwa ia merasa misinya tidak berhasil
Ia agak resah, karena gunjingan mengenai ketidakjujuran Gladys sudah mulai beredar di
desa.
Di kantor pos, Miss Wetherby berkata padanya, “Jane, mereka telah memberi gadis itu
surat
109
pengantar yang mengatakan bahwa dia rajin dan bersahaja serta tahu sopan santun, tapi
tidak disebutkan mengenai kejujurannya. Kurasa itu sudah jelas sekali! Kudengar ada
kejadian mengenai sebuah bros. Kurasa ada juga benarnya di situ. Kita kan tahu bahwa
zaman sekarang ini kita tidak memecat pelayan kalau tak ada kesalahan berat. Mereka
akan sulit sekali mendapatkan yang lain. Gadis-gadis tak mau bekerja di Old Hall itu.
Bila mereka libur, di rumah mereka jadi gugup. Lihat saja, kakak-beradik Skinner itu
tidak akan menemukan pelayan lagi. Kalau sudah begitu, barangkali adik yang pura-pura
sakit itu terpaks<r\harus bangun dan bekerja!”
Seisi desa kecewa besar waktu diberitahukan bahwa Miss Skinner Bersaudara telah
menemukan seorang pelayan baru, lewat agen. Pelayan baru itu merupakan pelayan teladan
yang sempurna, dalam segala hal.
“Dia membawa surat keterangan yang bagus sekali dari bekas majikannya, di mana dia
bekerja selama tiga tahun. Dia lebih suka bekerja di desa, dan bahkan meminta gaji yang
lebih rendah daripada Gladys. Kami benar-benar beruntung.”
“Wah, bagus sekali,” kata Miss Marple yang bertemu dengan Miss Lavinia di tempat
penjualan ikan. “Rasanya terlalu bagus untuk merupakan kenyataan.”
Kemudian penduduk St. Mary Mead berharap bahwa pelayan teladan itu akan berpikir pada
saat terakhir dan menolak untuk datang.
110
Tapi harapan buruk itu tidak menjadi kenyataan, dan desa bisa melihat pelayan teladan
yang bernama Mary Higgins itu memasuki desa naik taksi Reed, menuju Old Hall. Harus
diakui bahwa penampilannya pun bagus. Seorang wanita yang tampak terhormat sekali, dan
berpakaian rapi.
Waktu Miss Marple kemudian berkunjung ke Old” Hall, dalam kesempatan mengumpulkan para
pemilik kios dalam pesta paroki, Mary Higgins yang membuka pintu. Ia benar-benar tampak
sebagai seorang pelayan yang sangat luar biasa. Diperkirakan umurnya empat puluh tahun,
rambutnya hitam dan rapi, pipinya bersemu dadu, bertubuh sintal, berbalut pakaian hitam
yang rapi, lengkap dengan celemeknya dan topi pelayan. “Benar-benar tipe pelayan zaman
dahulu,” kata Miss Marple kemudian. Pelayan itu juga sopan dan pelan jika berbicara,
begitu berbeda dari suara Gladys yang nyaring dengan logat yang sengau.
Miss Lavinia kelihatan jauh lebih tenang daripada sebelumnya, meskipun ia menyesal tak
bisa membuka kios, “gara-gara kesibukannya dengan adiknya. Namun ia menawarkan untuk
memberikan bantuan keuangan dalam jumlah besar, dan berjanji akan membuatkan lap-lap
pena dan kaus kaki bayi.
Miss Marple menyatakan keadaannya yang tampak lebih baik.
“Saya rasa ini benar-benar berkat Mary. Saya bersyukur sekali telah memutuskan untuk
memecat gadis yang sebelumnya itu. Mary benar-benar tak
111
ternilai baiknya. Masakannya enak dan layanannya baik sekali. Dia menjaga kebersihan
flat kecil kami ini hingga tanpa cacat —kasur dibalik tiap hari. Dan dia baik sekali
terhadap Emily!”
Miss Marple cepat-cepat menanyakan keadaan Emily.
“Ah, kasihan dia. Akhir-akhir ini keadaannya sangat buruk. Dia tentu tak bisa berbuat
lain, tapi kadang-kadang hal itu mempersulit keadaan. Dia umpamanya menginginkan
makanan tertentu, dan bila dibawakan, dikatakannya bahwa sekarang dia tak bisa makan,
lalu setengah jam kemudian dia memintanya lagi, padahal makanannya sudah dingin dan
harus dimasak lagi. Itu tentu menambah banyak pekerjaan, tapi untunglah kelihatannya
Mary sama sekali tidak keberatan. Dia biasa melayani orang-orang cacat, katanya, dan
dia mengerti. Itu menyenangkan sekali.”
“Wah,” kata Miss Marple. “Anda beruntung sekali.”
“Ya, saya benar-benar merasa bahwa Mary telah didatangkan pada kami sebagai jawaban
atas doa kami.”
“Kedengarannya dia terlalu baik,” kata Miss Marple. “Sebaiknya… yah, sebaiknya Anda
agak lebih berhati-hati.”
Lavinia Skinner tak mengerti maksud pernyataan itu. Katanya, “Oh! Percayalah, saya
melakukan apa saja supaya dia merasa senang. Entah apa yang harus saya lakukan kalau
dia pergi.”
“Saya rasa dia tidak akan pergi sebelum dia
112
merasa siap untuk pergi,” kata Miss Marple sambil memandangi nyonya rumahnya lekatlekat.
Kata Miss Lavinia, “Bila kita tidak punya kesulitan rumah tangga, beban pikiran kita
pun sangat berkurang, bukan? Bagaimana dengan si Eina kecil di rumah Anda itu?”
“Dia baik-baik saja. Tak banyak kemajuan. Tidak seperti Mary Anda. Tapi saya tahu
banyak tentang Edna, karena dia gadis desa.”
Waktu ia keluar ke ruang depan, didengarnya suara si sakit meninggi dengan kesal.
“Kompres ini sudah kering sekali, padahal Dokter Allerton menekankan harus terusmenerus dibasahi. Sudahlah, biarkan saja. Aku minta teh dan telur rebus — ingat,
direbus hanya-tiga menit setengah, dan suruh Miss Lavinia kemari.”
Mary yang cekatan keluar dari kamar tidur dan berkata pada Lavinia, “Miss Emily meminta
Anda masuk, Ma’am.” Ia lalu membukakan pintu untuk Miss Marple, membantunya mengenakan
mantelnya, dan memberikan payungnya dengan cara yang tak bercela. ~*
Miss Marple mengambil payung itu, tapi payung itu jatuh. Ia mencoba mengambilnya, tapi
tasnya ikut jatuh dan terbuka. Dengan sopan Mary mengembalikan beberapa isi tas
in*—sehelai saputangan, buku catatan perjanjian, sebuah dompet kulit model lama, dua
shilling, tiga penny, dan sebuah permen bergaris-garis.
Miss Marple menerima permen itu kembali dengan sikap bingung.
113
“Astaga, itu tentu ulah anak kecil Mrs. Clement. Saya ingat dia sedang mengisapnya,
lalu diambilnya tas saya untuk dipermainkannya. Pasti dimasukkannya permen itu. Lengket
sekali, ya?”
“Bagaimana kalau saya ambil, Ma’am?”
“Oh ya, terima kasih.”
Mary membungkuk akan mengambil benda terakhir, sebuah cermin kecil. Setelah benda itu
dimasukkan, Miss Marple berseru, “Wah, untung sekali tidak pecah.”
Setelah itu ia pulang, sedangkan Mary berdiri dengan sopan di dekat pintu sambil
memegang sebuah permen basah bergaris-garis dengan wajah polos.
Selama sepuluh hari berikutnya, St. Mary Mead harus tahan mendengarkan kehebatan
pelayan Miss Lavinia dan Miss Emily.
Pada hari kesebelas, desa bangun dengan ketegangan yang luar biasa.
Mary, pelayan teladan itu, menghilang! Tempat tidurnya tidak ditiduri, dan pintu depan
kedapatan terbuka sedikit. Agaknya ia menyelinap keluar pada malam hari.
Dan bukan hanya Mary yang menghilang! Dua buah bros, lima buah cincin milik Miss
Lavinia; tiga buah cincin, sebuah leontin, sebuah gelang, dan empat buah bros milik
Miss Emily juga ikut hilang!
Itu merupakan awal dari babak kekacauan besar. Mrs. Devereux muda juga kehilangan
berliannya
114
yang disimpan di laci yang tidak dikunci, dan beberapa helai pakaian dari bulu hewan
yang mahal, yang diterimanya sebagai hadiah pernikahan. Hakim dan istrinya juga
kehilangan beberapa perhiasan dan sejumlah uang. Mrs. Carmichael-Iah yang paling banyak
kehilangan. Ia tidak hanya menyimpan perhiasan banyak sekali, tapi juga menyimpan uang
dalam jumlah besar di flat itu. Semuanya hilang. Malam itu adalah malam libur Janet,
dan majikannya punya kebiasaan berjalan-jalan di kebun saat senja, sambil memanggil
burung-burung dan menaburkan remah-remah. Agaknya Mary, si pelayan yang sempurna itu,
telah membuat kunci-kunci palsu yang cocok dengan semua kamar di flat itu!
Harus diakui bahwa di desa timbul rasa senang yang tak baik. Soalnya Miss Lavinia telah
sering sekali membanggakan tentang Mary-nya yang luar biasa.
“Ternyata dia hanya pencuri biasa!”
Kemudian menyusul kenyataan-kenyataan lain yang menarik. Bukan hanya Mary yang hilang
tanpa bekas; agen yang telah menyerahkannya dan telah menjamin surat keterangannya jadi
ketakutan-sebab mereka mendapati bahwa Mary Higgins yang telah melamar pekerjaan pada
mereka dan yang surat keterangan kelakuan baiknya telah mereka terima, ternyata tidak
ada. Nama itu adalah nama seorang pelayan baik-baik yang tinggal dengan adik perempuan
seorang dekan yang juga baik-baik. Tapi Mary Higgins yang sebenar-115
nya itu tinggal dengan damai di suatu tempat di Cornwall.
“Semuanya permainan yang pintar sekali,” Inspektur Slack harus mengakuinya. “Dan
menurut saya, perempuan itu bekerja sama dengan sebuah geng. Ada perkara serupa terjadi
di Northumberland, setahun yang lalu. Barang-barangnya tak pernah ditemukan, dan dia
sendiri tak pernah tertangkap. Tapi kami akan berhasil di Much Benham!”
Inspektur Slack memang orang yang percaya diri.
Namun minggu demi minggu berlalu, dan Mary Higgins tetap tak ditemukan. Inspektur Slack
menggandakan usahanya, namun sia-sia, padahal kasus itu sangat mempengaruhi
reputasinya.
Miss Lavinia menangis terus. Miss Emily sedih sekali, dan merasa ketakutan akan keadaan
kesehatannya, hingga akhirnya dimintanya juga Dokter Haydock datang.
Seisi desa ingin sekali tahu hasil pemeriksaan dokter terhadap penyakit yang dikeluhkan
Miss Emily itu, tapi mereka tentu tak bisa bertanya. Tapi jawaban atas keadaan itu
mereka peroleh dari Mr. Meek, asisten apoteker yang sedang berjalan-jalan dengan Clara,
pelayan Mrs. PricS-Ridley. Lalu diketahuilah bahwa Dokter Haydock telah memberikan
resep campuran asafoetida dan valerian, yang menurut Mr. Meek merupakan obat persediaan
untuk para prajurit yang berpura-pura sakit!
Tak lama setelah itu terdengar bahwa Miss
116
Emily, yang merasa tak puas akan pengobatan yang didapatkannya, menyatakan bahwa
mengingat keadaan kesehatannya, ia merasa sebaiknya tinggal dekat dengan spesialis di
London yang mengerti keadaannya. Katanya itu demi Lavinia.
Flat mereka pun lalu disewakan pada orang lain.
Beberapa hari kemudian, Miss Marple datang ke kantor polisi di Much Benham dengan wajah
bersemu dadu dan terengah-engah. Ia minta bertemu dengan Inspektur Slack.
Inspektur Slack tak suka pada Miss Marple. Tapi ia tahu bahwa Kepala Polisi, Kolonel
Melchett, tidak demikian. Oleh karenanya diterimanya juga wanita itu dengan agak
menggerutu.
“Selamat petang, Miss, apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?”
“Wah,” kata Miss Marple, “saya rasa Anda Sedang terburu-buru, ya?”
“Memang sedang banyak pekerjaan,” kata Inspektur Slack, “tapi saya bisa memberi Anda
waktu beberapa menit.”
“Aduh,” kata Miss Marple. “Mudah-mudahan saya bisa mengatakannya dengan benar. Sulit
sekali kalau harus menjelaskan, bukan? Ah tidak, mungkin bagi Anda tidak. Tapi saya,
yang tak pernah mendapatkan pendidikan modern —hanya dibimbing oleh seorang guru privat
yang mengajarkan tentang raja-raja Inggris, tanggal-tanggal, dan pengetahuan umum
seperti misalnya siapa Dokter Brewer, tiga
117
macam penyakit gandum—penyakit karena kutu, penyakit daun… lalu apa yang ketiga, ya?
Apakah penyakit dengan bintik hitam?”
“Apakah Anda ingin membicarakan tentang penyakit gandum?” tanya Inspektur Slack.
“Oh, tidak, tidak.” Miss Marple sama sekali tak ingin berbicara tentang penyakit
gandum. “Itu hanya suatu contoh. Juga mengenai bagaimana cara pembuatan jarum, dan
sebagainya. Memang luas sekali, tapi kita lalu tak bisa berpikir tepat ke tujuan.
Padahal itulah yang ingin saya bicarakan. Yaitu mengenai pelayan Miss Skinner, Gladys.”
“Mary Higgins,” kata Inspektur Slack.
“Ya, itu pelayan yang kedua. Tapi yang saya maksud adalah Gladys Holmes —seorang gadis
yang kurang sopan dan sangat puas diri, tapi dia benar-benar jujur. Dan itu penting
untuk diakui.”
“Setahu saya, selama ini tak ada tuduhan terhadapnya,” kata Inspektur.
“Saya tahu bahwa tak ada tuduhan, tapi justru itulah yang paling merugikan. Karena
dengan demikian, orang tetap berprasangka. Wah, lagi-lagi saya salah menjelaskannya.
Maksud saya sebenarnya, Mary Higgins itu perlu sekali ditemukan.”
“Tentu,” kata Inspektur Slack. “Apakah Anda punya pendapat mengenai hal itu?”
“Yah, sebenarnya ada,” kata Miss Marple. “Bolehkah saya bertanya? Apakah sidik jari tak
ada artinya bagi Anda?”
“Yah,” kata Inspektur Slack, “di situlah kecerdikannya. Semuanya dia lakukan dengan
memakai
118
sarung tangan karet. Apalagi dia cermat sekali — semua bekas di kamar tidurnya dan di
tempat mencuci piring dihapusnya. Kami tak bisa menemukan satu pun sidik jarinya di
rumah itu!”
“Kalau ada sidik jari, apakah itu akan membantu?”
“Mungkin, Ma’am. Mungkin sidik jari itu dikenal di Scotland Yard, karena saya rasa ini
bukan kejahatannya yang pertama!”
Miss Marple mengangguk dengan berbinar. Dibukanya tasnya, lalu dikeluarkannya sebuah
kotak karton kecil. Di dalamnya terdapat sebuah cermin kecil yang terbungkus kain kasa.
“Ini dari tas saya,” kata Miss Marple. “Di situ terdapat sidik jari pelayan itu. Saya
rasa sidik jari itu cukup jelas, soalnya dia telah menyentuh sesuatu yang sangat
lengket sebelumnya.”
Inspektur Slack terbelalak. “Anda mengambil sidik jarinya dengan sengaja?”
“Tentu.”
“Jadi, Anda udah mencurigainya?”
“Yah, soalnya, saya pikir dia itu terlalu sempurna. Sudah saya katakan pada Miss
Lavinia. Tapi dia sama sekali tak mau menerima peringatan saya! Soalnya lagi,
Inspektur, saya tak percaya ada tokoh teladan. Kebanyakan kita punya cacat, dan pada
pelayan rumah tangga cepat kelihatan!”
“Yah,” kata Inspektur Slack, setelah menemukan kembali kepercayaan dirinya, “saya
sangat berterima kasih pada Anda. Ini akan kami kirimkan ke Scotland Yard, dan kita
lihat apa pendapat mereka.”
119
Ia berhenti berbicara. Miss Marple memiringkan kepala dan melihat padanya dengan
pandangan penuh arti.
“Tidakkah Anda mempertimbangkan untuk mencari lebih dekat, Inspektur?”
“Apa maksud Anda, Miss Marple?”
“Sulit sekali menjelaskannya, tapi bila kita menemukan sesuatu yang aneh, kita tentu
bisa melihatnya. Meskipun hal-hal yang aneh itu sering-sering hal-hal kecil. Saya juga
merasa Anda sudah tahu; maksud saya tentang Gladys dan bros itu. Dia gadis yang jujur;
bukan dia yang mengambil bros itu. Lalu mengapa Miss Skinner mengira dia yang
mengambilnya? Miss Skinner itu bukan orang bodoh; sama sekali tidak! Lalu mengapa dia
ingin sekali memecat seorang pelayan sebaik itu, padahal sulit mendapatkan pelayan?
Aneh, kan? Jadi, saya lalu berpikir. Saya jadi bertanya-tanya. Lalu saya temukan
sesuatu yang aneh lagi! Miss Emily adalah orang yang selalu menganggap dirinya sakit,
tapi dia tidak langsung meminta dokter datang. Orang-orang begitu biasanya suka sekali
pada dokter, tapi Miss Emily tidak!”
“Bagaimana pendapat Anda, Miss Marple?”
“Yah, saya beranggapan bahwa Miss Lavinia dan Miss Emily adalah orang-orang yang aneh.
Miss Emily menghabiskan seluruh waktunya di kamar yang gelap. Dan bila rambutnya itu
bukan rambut palsu, saya berani bertaruh, sangat mungkin seorang wanita kurus, pucat,
dan berambut ubanan dan suka meratap, berubah menjadi seorang wanita
120
sintal berambut hitam dan berpipi merah jambu. Dan tak seorang pun pernah melihat Miss
Emily dan Mary Higgins bersama pada suatu waktu.
“Cukup banyak-waktu untuk mendapatkan tiruan kunci-kunci, banyak sekali waktu untuk
mengetahui segala-galanya tentang penyewa-penyewa yang lain, kemudian memecat pelayan
yang gadis lokal itu. Pada suatu malam, Miss Emily berjalan menyeberangi desa, dan pagi
harinya tiba di stasiun sebagai Mary Higgins. Kemudian, pada saat yang tepat, Mary
Higgins menghilang, dan orang pun ribut mencarinya. Akan saya katakan di mana Anda bisa
menemukannya, Inspektur. Di sofa Miss Skinner! Ambil sidik jarinya kalau Anda tak
percaya pada saya, tapi Anda akan melihat bahwa saya benar! Skinner bersaudara itu
adalah pencuri-pencuri yang pandai, dan mereka pasti ada hubungannya dengan pos-pos,
pelindung-pelindung tertentu, atau entah apa Anda menyebutnya, yang pandai pula. Tapi
kali ini mereka tidak akan lolos! Saya tidak terima kalau kejujuran seorang gadis desa
kita diragukan seperti itu! Gladys Holmes itu anak yang jujur, dan semua orang harus
mengakuinya! Selamat petang!”
Miss Marple sudah berjalan keluar sebelum Inspektur Slack sadar.
“Wah?” gumamnya. “Aku ingin tahu apakah dia benar?”
Ia segera tahu bahwa Miss Marple lagi-lagi benar.
Kolonel Melchett mengucapkan selamat atas ke—
121
jelian Inspektur Slack, dan Miss Marple menyuruh Gladys datang minum teh dengan Edna
dan berbicara serius dengannya, supaya ia menetap di satu tempat saja bila ia menemukan
satu tempat bekerja yang baik.
122
Miss Marple Bercerita
Raymond, dan kau, Joan, kurasa aku tak pernah menceritakan pada kalian tentang suatu
perkara kecil yang aneh, beberapa tahun yang lalu. Aku sama sekali tak ingin
membanggakan diri. Aku tahu bahwa dibanding dengan kalian, anak-anak muda, aku sama
sekali tidak pandai—Raymond mengarang buku-buku yang sangat modern, semuanya tentang
laki-laki dan wanita-wanita muda yang tidak menyenangkan, sedangkan Joan melukis
gambar-gambar yang luar biasa, yaitu orang-orang berpostur empat persegi dan pada
tubuhnya ada bentol-bentol yang aneh. Pandai sekali kalian, Sayang. Tapi seperti yang
selalu dikatakan Raymond (dengan cara yang halus sekali, karena dia adalah keponakan
yang sangat baik), aku ini kolot sekali. Aku mengagumi Mr. Alma-Tadema dan Mr. Frederic
Leighton, dan kurasa bagi kalian mereka kolot sekali. Ah, apa yang akan kukatakan tadi,
ya? Oh ya, bahwa aku tak ingin dianggap membanggakan diri. Tapi, mau tak mau, aku juga
senang sedikit, karena dengan menggunakan akal sehatku,
123
kurasa aku benar-benar telah menyelesaikan suatu masalah yang tak terselesaikan oleh
orang-orang yang lebih pintar daripada aku. Meskipun sebenarnya kupikir itu semua sudah
jelas sejak awalnya.
Nah, akan kuceritakan kisah kecilku, dan bila kalian pikir aku cenderung membanggakan
diri, sebaiknya kalian ingat bahwa setidaknya aku telah membantu seseorang, sesama
manusia yang dalam keadaan sangat susah.
Pertama kali aku tahu tentang urusan itu adalah pada suatu malam, kira-kira jam
sembilan, waktu Gwen—(kalian ingat Gwen? Pelayan kecilku yang berambut merah) —nah,
Gwen masuk dan mengatakan bahwa Mr. Petherick dan seorang pria lain datang. Gwen telah
mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu utama. Aku sedang duduk di ruang makan, karena
di awal musim semi ini kurasa boros kalau menyalakan dua perapian.
Kusuruh Gwen menyiapkan brendi buah ceri dan gelas-gelasnya, sementara aku bergegas
pergi ke ruang tamu utama. Aku tidak yakin kalian kenal Mr. Petherick. Dia meninggal
dua tahun yang lalu, tapi sudah bertahun-tahun dia menjadi temanku, dan dia jugalah
yang menangani semua urusanku yang berhubungan dengan hukum. Dia seorang pekerja keras
dan seorang ahli hukum yang pandai sekali. Sekarang putranya yang menangani urusanurusanku; dia anak muda yang sangat baik dan sangat modern, tapi entah mengapa aku
tidak terlalu yakin padanya seperti pada Mr. Petherick.
124
Kujelaskan pada Mr. Petherick tentang perapian, dan dia langsung berkata bahwa dia dan
temannya mau masuk ke ruang makan. Lalu dia memperkenalkan temannya —namanya Mr.
Rhodes. Dia masih agak muda, umurnya empat puluh tahun lebih sedikit. Aku langsung
melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sikapnya aneh sekali. Orang bisa
menyebutnya kasar, kalau orang tidak tahu bahwa laki-laki malang itu sedang tegang.
Setelah kami duduk di ruang makan dan Gwen sudah menghidangkan brendi, Mr. Petherick
menjelaskan alasan kedatangannya.
“Miss Marple,” katanya, “maafkan teman lama Anda ini. Saya datang untuk minta
petunjuk.”
Aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya, dan dia melanjutkan,
“Bila seseorang sakit, dia memerlukan dua macam pandangan, yaitu petunjuk dari
spesialis dan dari dokter pribadi. Biasanya orang menilai petunjuk dari spesialis lebih
tinggi, tapi saya kurang sependapat. Spesialis hanya berpengalaman dalam bidangnya
sendiri; dokter keluarga mungkin kurang pengetahuannya, tapi pengalamannya lebih luas.”
Aku mengerti sekali apa maksudnya, karena belum lama ini keponakanku yang masih muda
terburu-buru melarikan anaknya ke seorang spesialis penyakit kulit yang sangat
terkenal, tanpa meminta petunjuk dokternya sendiri yang dianggapnya kolot. Spesialis
itu memberikan resep obat yang mahal sekali. Padahal kemudian ternyata yang diderita
anak itu adalah semacam campak yang tidak biasa.
125
Hal itu kuceritakan—aku takut kalau aku menyimpang lagi —untuk memperlihatkan bahwa
aku membenarkan pendapat Mr. Petherick, padahal aku tetap belum mengerti apa maksudnya.
“Kalau Mr. Rhodes sakit…,” kataku, lalu berhenti, karena laki-laki malang itu tertawa
keras sekali.
Katanya, “Mudah-mudahan saya mati gara-gara patah leher saja beberapa bulan lagi.”
Setelah itu ia menceritakan semuanya. Belum lama ini telah terjadi pembunuhan di
Bamchester, sebuah kota kira-kira dua puluh mil dari sini. Kuakui bahwa aku tidak
terlalu memperhatikannya waktu itu, karena waktu itu kami sedang meributkan tentang
perawat desa kami, dan peristiwa-peristiwa di luar, seperti gempa bumi di India dan
pembunuhan di Bamchester, meskipun sebenarnya tentu jauh lebih penting, tidak begitu
mendapat perhatian seperti peristiwa-peristiwa kecil dalam masyarakat kami ini.
Begitulah keadaan dkdesa. Tapi aku memang ingat bahwa ada seorang wanita ditikam di
sebuah hotel, meskipun aku tak ingat namanya. Tapi kini ternyata wanita itu adalah
istri Mr. Rhodes, dan seolah-olah berita itu belum cukup buruk, Mr. Rhodes sendiri yang
dituduh telah membunuhnya.
Semuanya itu diceritakan oleh Mr. Petherick dengan sangat jelas. Dikatakannya pula
bahwa meskipun juri dari kantor pemeriksaan mayat telah memutuskan bahwa pembunuhan itu
dilakukan oleh orang atau orang-orang yang tak dikenal, Mr.
126
Rhodes berkeyakinan bahwa dia akan ditahan dalam beberapa hari lagi. Oleh karenanya dia
mendatangi Mr. Petherick dan menyerahkan perkara itu padanya. Selanjutnya dikatakannya
bahwa petang itu mereka telah mendatangi Sir Malcolm Olde untuk minta petunjuk, dan
bahwa bila sampai ada sidang perkara itu, Sir Malcolm-lah yang akan ditunjuk untuk
membela Mr. Rhodes.
Kata Mr. Petherick, Sir Malcolm itu masih muda, metodenya modem sekali, dan dia
mempunyai cara pembelaan yang khusus. Tapi Mr. Petherick tidak terlalu yakin akan cara
itu.
“Soalnya, Miss Marple,” katanya, “cacatnya adalah bahwa dia memiliki pandangan seorang
spesialis. Bila menyerahkan suatu perkara pada Sir Malcolm, maka dia akan melihatnya
hanya dari satu sisi, yaitu pembelaan yang paling masuk akal. Padahal cara yang terbaik
sekalipun mungkin sama sekali mengabaikan hal yang terpenting. Apa pun juga yang telah
terjadi.”
Lalu dia juga mengatakan sesuatu yang sangat baik dan membesarkan hati tentang
ketajaman pikiranku, penilaianku, dan pengetahuanku tentang sifat manusia. Lalu dia
minta izin untuk menceritakan jalannya perkara itu, dengan harapan agar aku bisa
memberikan pandangan.
Kulihat Mr. Rhodes sangat meragukan kemampuanku, dan dia kelihatan kesal telah dibawa
kemari. Tapi Mr. Petherick tak peduli dan mulai menceritakan apa yang terjadi pada
malam tanggal 8 Maret yang lalu itu.
127
Mr. dan Mrs. Rhodes sedang bermalam di Hotel Crown di Bamchester. Dengan hati-hati Mr.
Petherick menyatakan bahwa Mrs. Rhodes agak suka menganggap dirinya sakit. Setelah
makan malam, dia langsung pergi tidur. Dia dan suaminya menempati dua kamar yang
dihubungkan oleh sebuah pintu. Mr. Rhodes, yang sedang menulis buku mengenai bebatuan
prasejarah, mulai bekerja di kamar sebelahnya. Jam sebelas dia membenahi kertaskertasnya dan bersiap-siap tidur. Sebelum itu, dia menjenguk ke kamar istrinya, akan
melihat kalau-kalau ada yang diinginkannya. Dilihatnya bahwa lampunya masih menyala,
dan istrinya terbaring di tempat tidur dan tertikam di jantungnya. Sudah sejam dia
meninggal—mungkin lebih. Diberikannya pula petunjuk-petunjuk yang berikut. Ada sebuah
pintu di kamar Mrs. Rhodes untuk menuju lorong hotel. Pintu tersebut terkunci dan
diselot. Menurut Mr. Rhodes tak ada orang melewati kamar tempatnya duduk, kecuali
^eorang pelayan kamar yang membawakan botol-botol air panas. Senjata yang ditemukan
pada luka adalah sebuah belati kecil yang terletak di meja rias Mrs. Rhodes. Dia biasa
menggunakannya untuk memotong kertas atau membuka amplop. Tak ada sidik jari pada pisau
itu.
Kesimpulan dari keadaan itu adalah: tak ada orang yang memasuki kamar korban, kecuali
Mr. Rhodes dan pelayan kamar itu. 1 Kutanyakan soal pelayan kamar itu.
“Itulah yang pertama-tama kami selidiki,” kata
128
Mr. Petherick. “Mary Hill adalah wanita setempat. Sudah sepuluh tahun dia bekerja
sebagai pelayan kamar di Hotel Crown. Sama sekali tak ada alasan dia melakukan
pembunuhan terhadap seorang tamu. Lagi pula, gadis itu bodoh luar biasa, boleh
dikatakan tidak waras. Keterangan yang diberikannya tak pernah berubah. Dia memang
mengantar air panas untuk Mrs. Rhodes, dan waktu itu Mrs. Rhodes sudah mengantuk —sudah
hampir tertidur. Terus terang, saya tak percaya, dan saya yakin tidak akan ada anggota
juri yang percaya bahwa dia yang melakukan kejahatan itu.”
Selanjutnya Mr. Petherick menambahkan beberapa hal yang lebih terperinci. Di puncak
tangga di Hotel Crown itu ada sebuah ruang tunggu mini, tempat orang kadang-kadang
duduk minum kopi. Dari situ ada sebuah lorong yang membelok ke kanan, dan pintu
terakhir di situ adalah pintu kamar yang dihuni Mr. Rhodes. Kemudian lorong itu
membelok dengan tajam ke kanan lagi, dan pintu pertama di sudut itu adalah pintu kamar
Mrs. Rhodes. Kedua pintu itu bisa dilihat oleh saksi-saksi. Pintu pertama, yaitu pintu
kamar Mr. Rhodes—yang akan saya sebut A —terlihat oleh empat orang, dua orang pedagang
keliling dan sepasang suami-istri yang sudah tua, yang sedang minum kopi. Menurut
mereka tak ada orang yang masuk atau keluar dari pintu A, kecuali Mr. Rhodes dan
pelayan kamar itu. Mengenai pintu yang satu lagi di lorong B, di situ ada seorang
tukang listrik yang sedang bekerja, dan dia pun bersumpah bahwa
129
tak ada orang yang masuk atau keluar dari pintu B, kecuali pelayan kamar.
Sungguh sebuah perkara yang aneh dan menarik. Sepintas lalu kelihatannya memang Mr.
Rhodes-lah yang telah membunuh istrinya. Tapi kulihat Mr. Petherick yakin sekali bahwa
kliennya tak bersalah, dan Mr. Petherick itu adalah orang yang tajam sekali
pandangannya.
Pada pemeriksaan pendahuluan, Mr. Rhodes telah menyampaikan suatu cerita yang meragukan
dan kacau, tentang seorang wanita yang menulis surat-surat ancaman pada istrinya.
Kudengar ceritanya itu amat sangat meragukan. Atas permintaan Mr. Petherick, Mr. Rhodes
menjelaskan.
‘Terus terang,” katanya, “saya tak pernah percaya tentang surat-surat itu. Saya kira
Amy hanya mengada-ada saja.”
Kudengar Mrs. Rhodes adalah seorang pembohong yang romantis, yang menjalani hidup
dengan membesar-besarkan segala sesuatu yang terjadi atas diri mereka. Jumlah
petualangan yang terjadi atas dirinya dalam setahun, menurut ceritanya sendiri, tak
terkirakan banyaknya. Bila dia tergelincir oleh kulit pisang, dikatakannya bahwa dia
telah lolos dari ancaman maut. Bila sebuah tudung lampu terbakar, dikatakannya bahwa
dia telah diselamatkan dari sebuah gedung terbakar yang mengancam hidupnya. Suaminya
jadi terbiasa harus menyatakan bahwa kisah-kisah istrinya itu tidak benar. Kisahnya
mengenai seorang wanita yang anaknya cedera karena kecelakaan mobil, yang telah
bersumpah
130
akan membalaskan dendamnya pada Mrs. Rhodes… yah, sama. sekali tidak dipedulikan oleh
Mr. Rhodes. Kecelakaan itu terjadi sebelum dia menikahi istrinya, dan meskipun istrinya
membacakan surat-surat yang ditulis dengan bahasa yang kacau itu, Mr. Rhodes curiga
bahwa itu adalah karangannya sendiri. Soalnya dia memang pernah melakukannya sekali dua
kali. Dia seorang wanita yang punya kecenderungan histeris, yang tak sudah-sudahnya
bermimpi tentang kejadian-kejadian mencekam.
Nah, semuanya itu kuanggap biasa saja. Di desa ini pun ada seorang wanita yang seperti
itu. Bahayanya pada orang-orang yang begitu adalah bila suatu kejadian luar biasa
benar-benar menimpa diri mereka, tidak akan ada orang yang percaya bahwa hal itu memang
benar. Kurasa demikian pulalah halnya dalam perkara ini. Kudengar polisi percaya bahwa
Mr. Rhodes hanya mengarang-ngarang ceritanya sendiri untuk mengelak dari tuduhan.
Kutanyakan apakah ada wanita-wanita yang tinggal sendiri di hotel itu. Agaknya ada dua
orang. Yang seorang bernama Mrs. Granby, seorang janda Indo India, dan yang seorang
lagi bernama Miss Carruthers, seorang perawan tua yang bila berbicara tidak melafalkan
huruf g. Mr. Petherick menambahkan bahwa meskipun sudah menyelidiki dengan sangat
teliti, mereka gagal menemukan orang yang telah melihat salah seorang dari mereka di
dekat tempat kejadian kejahatan, dan tak ada satu pun
131
yang bisa menghubungkan mereka dengan kejadian itu. Kuminta dia menggambarkan mereka
berdua. Dikatakannya bahwa Mrs. Granby berambut kemerahan dan tidak rapi, berwajah
pucat, dan berumur kira-kira lima puluh tahun. Pakaiannya agak mencolok, kebanyakan
terbuat dari sutra lokal, dan sebagainya. Miss Carruthers berumur kira-kira empat puluh
tahun, mengenakan kacamata tanpa gagang, rambutnya dipotong pendek sekali, seperti
laki-laki, dan mengenakan pakaian yang kelaki-lakian.
“Wah,” kataku, “sulit sekali jadinya.”
Mr. Petherick melihat padaku dengan pandangan bertanya, tapi waktu itu aku belum mau
berkata apa-apa -lagi, hanya kutanyakan apa kata Sir Malcolm Olde.
Sir Malcolm yakin akan bisa mengajukan kesaksian medis yang berbeda-beda, dan akan
mengemukakan suatu cara untuk mengatasi kesulitan sehubungan dengan sidik jari. Aku
bertanya pada Mr. Rhodes apa pendapatnya, dan dia berkata bahwa semua dokter dungu,
tapi dia^endiri tidak yakin istrinya telah bunuh diri. “Dia bukan wanita macam itu,”
katanya singkat, dan aku percaya padanya. Orang-orang histeris biasanya tak mau bunuh
diri. „
Aku berpikir sebentar, lalu bertanya apakah pintu dari kamar Mrs. Rhodes berhubungan
langsung dengan lorong hotel. Mr. Rhodes berkata tidak, ada sebuah ruang kecil tempat
kamar mandi dan W.C. Pintu dari ruang tidur ke arah ruang kecil itulah yang terkunci
dan diselot dari dalam.
132
“Kalau begitu,” kataku, “semuanya mudah sekali.”
Dan ternyata memang itu sesuatu yang amat sangat mudah. Tapi agaknya tak seorang pun
beranggapan begitu.
Baik Mr. Petherick maupun Mr. Rhodes memandangiku, hingga aku merasa serba salah.
“Mungkin Miss Marple tidak memperhatikan kesulitan-kesulitannya,” kata Mr. Rhodes.
“Saya memperhatikannya,” kataku. “Ada empat kemungkinannya. Mrs. Rhodes dibunuh oleh
suaminya, atau oleh pelayan kamar, atau dia bunuh diri, atau dia dibunuh oleh orang
luar yang tak terlihat oleh seorang pun saat dia masuk atau keluar.”
“Itu tak mungkin,” sela Mr. Rhodes. “Tak seorang pun bisa masuk atau keluar lewat kamar
saya tanpa saya lihat. Bahkan kalaupun ada seseorang masuk lewat pintu kamar istri saya
tanpa dilihat oleh pekerja listrik itu, bagaimana dia bisa keluar lagi dengan pintu
terkunci dan terselot di dalam?”
Mr. Petherick melihat padaku dan berkata, “Bagaimana, Miss Marple?” dengan cara yang
membesarkan hati.
“Saya ingin bertanya, Mr. Rhodes,” kataku, “bagaimana rupa pelayan kamar itu?”
Katanya dia kurang yakin; kalau tak salah, pelayan itu agak tinggi. Dia tak ingat
apakah rambutnya pirang atau hitam. Aku berpaling pada Mr. Petherick dan mengajukan
pertanyaan yang sama.
Katanya gadis itu tingginya sedang, rambutnya
133
agak pirang, matanya biru, dan wajahnya agak merah.
Kata Mr. Rhodes, “Anda pemerhati yang lebih baik daripada saya, Mr. Petherick.”
Aku ingin membantah. Lalu kutanyakan pada Mr. Rhodes, apakah dia bisa melukiskan dengan
kata-kata, pelayan di rumahku. Baik dia maupun Mr. Petherick tak bisa melakukannya.
“Tidakkah Anda menyadari apa artinya itu?” kataku. “Anda berdua datang kemari dipenuhi
urusan Anda berdua saja, sedangkan orang yang membukakan pintu untuk Anda hanya seorang
pelayan. Demikian pula halnya dengan Mr. Rhodes di hotel. Dia melihat pakaian seragam
dan celemek gadis itu. Dia sedang asyik dengan pekerjaannya. Tapi Mr. Petherick telah
mewawancarai wanita yang sama dalam keadaan lain. Dia telah melihatnya sebagai manusia
biasa.
“Itulah yang diharapkan perempuan pembunuh itu.”
Karena mereka belum juga mengerti^ aku harus menjelaskannya.
“Saya rasa,” kataku, “beginilah kejadiannya. Pelayan kamar masuk lewat pintu A ke kamar
Mrs. Rhodes, melewati kamar Mr. Rhodes dengan membawa botol air panas, lalu keluar
lewat kamar kecil ke lorong B. X —begitu saya sebut perempuan pembunuh itu —masuk lewat
pintu B ke dalam kamar kecil itu. Dia bersembunyi di suatu bagian kamar kecil itu,
menunggu sampai pelayan kamar itu lewat. Lalu dia masuk ke kamar Mrs. Rhodes,
134
mengambil pisau belati itu dari meja rias —(pasti dia sudah meneliti kamar itu
sebelumnya), mendekati tempat tidur, menikam wanita yang sedang tidur itu, dan menyeka
gagang pisau belati itu, lalu dia mengunci dan menyelot pintu yang dilaluinya waktu dia
masuk tadi, kemudian dia keluar lewat kamar tempat Mr. Rhodes sedang bekerja.”
Mr. Rhodes berseru, “Kalau begitu, pasti saya melihatnya. Dan tukang listrik itu tentu
melihatnya masuk.”
“Tidak,” kataku. “Di situlah kesalahan Anda. Anda pasti tidak memperhatikannya kalau
dia mengenakan seragam pelayan kamar juga.” Kubiarkan dia menyerap informasi itu, lalu
aku berkata lagi, “Anda sedang asyik bekerja. Dari ekor mata Anda, Anda melihat seorang
pelayan kamar masuk ke kamar istri Anda, lalu kembali dan keluar. Pakaiannya memang
sama, tapi orangnya tidak sama. Itulah pula yang dilihat oleh orang-orang yang sedang
minum kopi—seorang pelayan kamar masuk dan seorang pelayan kamar keluar. Demikian pula
dengan si tukang listrik. Seandainya pelayan kamar itu cantik, seorang pria pasti
melihat wajahnya— itu sudah merupakan sifat manusia —tapi kalau dia hanya seorang
perempuan setengah baya yang biasa-biasa saja, maka… yah, hanya baju pelayan kamarlah
yang Anda lihat, bukan orangnya.”
“Siapa dia?” seru Mr. Rhodes.
“Yah,” kataku, “itu agak sulit. Dia pasti Mrs. Granby atau Miss Carruthers. Agaknya
Mrs. Granby biasa memakai rambut palsu, jadi dia bisa
135
memakai rambutnya sendiri sebagai pelayan kamar. Sebaliknya, Miss Carruthers yang
rambutnya dipotong pendek sekali seperti laki-laki, bisa dengan mudah memakai rambut
palsu untuk memainkan sandiwaranya. Saya yakin Anda akan menemukan pelakunya dengan
mudah di antara mereka. Saya sendiri cenderung mengatakan Miss Carruthers-lah
orangnya.”
Dan, anak-anaku sayang, itulah akhir ceritaku. Carruthers adalah nama palsu, tapi
memang dialah orangfiya. Dalam keluarganya banyak yang tidak waras. Mrs. Rhodes adalah
seorang pengemudi yang ceroboh dan berbahaya. Dialah yang menabrak gadis kecil
perempuan itu, dan perempuan itu menjadi gila karenanya. Dengan pandai disembunyikannya
kegilaannya; dia hanya menulis surat yang benar-benar gila-gilaan kepada calon
korbannya. Sudah beberapa lama dia mengikuti jejak Mrs. Rhodes, dan rencananya
diaturnya dengan cermat. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, dikirimkannya rambut palsu
dan pakaian pelayan kamar itu lewat pos. Waktu disodorkan pada kebenaran itu, dia tidak
kuat dan langsung*rnengakui-nya. Perempuan malang itu kini berada di penjara Broadmoor,
dalam keadaan benar-benar gila. Tapi kejahatannya benar-benar direncanakannya dengan
apik.
Setelah itu Mr. Petherick mendatangiku lagi dan mengantarkan sepucuk surat yang bagus
sekali isinya dari Mr. Rhodes—aku jadi malu. Lalu teman lamaku itu berkata, “Satu hal
saja. Mengapa Anda
136
mengira bahwa lebih besar kemungkinannya Miss Carruthers daripada Mrs. Granby? Anda kan
tak pernah melihat keduanya?”
“Yah,” kataku. “Kata Anda, bila dia berbicara huruf g-nya tidak terdengar. Nah, itu
banyak dilakukan oleh orang-orang yang berburu dalam buku-buku, tapi saya tak pernah
menemukan banyak orang yang seperti itu dalam kenyatan, apalagi orang yang berumur di
bawah enam puluh tahun. Kata Anda, perempuan itu berumur empat puluh. Saya pikir hanya
orang-orang yang sedang main sandiwara saja yang berbuat begitu, dan berlebihan pula
melakukannya.”
Aku tak mau mengatakan komentar Mr. Petherick tentang pandanganku itu. Pokoknya dia
sangat memujiku, dan mau tak mau aku merasa agak bangga juga pada diriku.
Dan luar biasanya, keadaan-keadaan bisa berbalik menjadi baik sekali di dunia ini. Mr.
Rhodes telah menikah lagi, dengan seorang gadis yang manis dan bijak, dan* mereka
mendapat bayi yang lucu sekali, dan —percayakah kalian? —mereka telah memintaku menjadi
ibu baptis. Baik sekali mereka, ya?
Ah, kuharap kalian tidak menganggapku terlalu berkepanjangan memuji diri….
137
Boneka sang Penjahit
Boneka itu tergeletak di kursi besar berlapis beludru. Tak banyak cahaya dalam kamar
itu; langit di London gelap. Dalam ketemaraman hijau ke-abuan yang lembut itu, warna
pelapis kursi yang hijau melebur menjadi satu dengan gorden dan alas lantai. Boneka itu
pun melebur. Ia terbaring memanjang dan lunglai, mengenakan pakaian dari beludru
berwarna hijau, bertopi beludru, dengan wajah dicat. Ia adalah boneka mainan yang
digandrungi wanita-wanita kaya, boneka yang biasa diletakkan di sebelah pesawat
telepon, atau di antara bantal-bantal kursi di sofa. Ia tergeletak di situ, senantiasa
lunglai, namun anehnya ia seolah-olah hidup. Ia seperti merupakan produk abad kedua
puluh yang sudah merosot.
Sybil Fox, yang bergegas masuk dengan membawa beberapa pola, melihat ke boneka itu
dengan perasaan heran dan bingung. Ia ingin bertanya, tapi apa yang ingin ditanyakannya
tidak muncul ke dalam pikirannya. Ia lalu berpikir, “Apa yang terjadi dengan pola bahan
beludru biru itu? Di
138
mana aku menaruhnya.? Kku yakuv aku me\e\akkannya di sini tadi.” Ia keluar ke tangga
dan berseru ke arah ruang kerja di atas.
“Elspeth, Elspeth, apakah pola biru itu ada padamu? Mrs. Fellows-Brown akan datang
beberapa menit lagi.”
Ia masuk lagi sambil menyalakan lampu. Ia menoleh ke arah boneka itu lagi. “Ah, di mana
sih… oh, itu dia.” Diambilnya pola itu, yang tadi terjatuh dari tangannya. Terdengar
suara berderak di luar, waktu lift berhenti. Beberapa menit kemudian, Mrs. FellowsBrown masuk dengan terengah-engah, diiringi oleh anjing Peking-nya, tak ubahnya kereta
api yang masuk dengan ribut di stasiun.
“Akan hujan lebat,” katanya, “pasti hujan lebati” Ditanggalkannya sarung tangannya,
lalu dilemparkannya bersama mantel bulu hewannya. Alicia Coombe pun masuk. Akhir-akhir
ini ia tidak selalu masuk, hanya bila ada pelanggan istimewa dan Mrs. Fellows-Brown
adalah pelanggan semacam itu.
Elspeth, mandor penjahit, turun membawa gaunnya dan Sybil memasangkannya pada Mrs.
Fellows-Brown lewat kepalanya.
“Nah,” katanya, “saya rasa sudah bagus. Ya, benar-benar bagus.”
Mrs. Fellows-Brown berdiri miring dan melihat ke cermin.
“Terus terang,” katanya, “pakaian jahitan Anda bisa menyembunyikan bokong saya.”
139
“Anda jauh lebih Ťkurus daripada tiga bulan, yang lalu,” kata Sybil meyakinkannya. .
“Sebenarnya tidak,” kata Mrs. Fellows-Brown, “tapi dengan gaun ini saya kelihatan
begitu. Garis potongan yang Anda buat jadi mengecilkan bokong saya. Saya kelihatan
seolah-olah tak punya bokong—maksud saya, besarnya jadi biasa-biasa saja, seperti yang
dimiliki orang umumnya.” Ia mendesah dan dengan ragu melicinkan bagian yang mengganggu
dari tubuhnya itu. “Saya selalu merasa agak terganggu,” katanya. “Selama bertahun-tahun
saya memang bisa menyembunyikannya dengan menonjolkan tubuh saya ke depan. Tapi
sekarang saya tak bisa lagi melakukannya, karena selain bokong, sekarang perut saya pun
gendut. Maksud saya, kita kan tak bisa mengempiskan keduanya?”
“Coba saja’Anda lihat pelanggan kami yang lain!” kata Alicia Coombe.
Mrs. Fellows-Brown berjalan hilir-mudik untuk mencoba.
“Perut gendut lebih jelek daripada bokong,” katanya. “Karena lebih kelihatan. Atau
mungkin kita mengira begitu, karena, maksud saya, bila kita berbicara dengan orangorang, kita berhadapan dengan mereka, dan pada saat itu orang tak bisa melihat bokong
kita, tapi mereka bisa melihat perut kita. Pokoknya, saya jadi terbiasa mengempiskan
perut saya dan membiarkan saja bokong saya apa adanya.” Diulurkannya lehernya lebih
jauh sambil melihat ke sekelilingnya, lalu tiba-tiba ia berkata, “Ihh, boneka Anda itu!
Saya ngeri
140
melihatnya. Sudah berapa lama benda itu ada di sini?”
Sybil melihat dengan tak yakin pada Alicia Coombe yang kelihatan tak mengerti, tapi
agak tertekan.
“Saya tak tahu pasti… saya rasa sudah beberapa lama. Saya tak pernah bisa ingat.
Mengerikan sekali sekarang ini—saya benar-benar tak bisa mengingat apa-apa. Sybil,
sudah berapa lama kita memilikinya?”
“Entah,” kata Sybil singkat.
“Yah,” kata Mrs. Fellows-Brown, “saya ngeri melihatnya. Menakutkan! Soalnya, dia
seolah-olah memperhatikan kita semua, dan mungkin dia menertawakan kita di belakang.
Kalau saya jadi Anda, akan saya buang benda itu.” Ia agak bergidik. Lalu ia kembali
pada soal-soal pembuatan pakaian, sampai hal yang sekecil-kecilnya. Apakah ia sebaiknya
memendekkan lengannya satu inci atau tidak? Lalu bagaimana dengan panjang gaunnya?
Setelah semua hal penting itu diselesaikan dengan memuaskan, Mrs. Fellows-Brown
mengenakan pakaiannya lagi dan bersiap-siap untuk pulang. Waktu melewati boneka itu, ia
berpaling lagi.
“Sungguh,” katanya, “saya tak suku boneka itu. Dia tampak terlalu nyaman di sini. Itu
tidak sehat.”
“Apa sih maksudnya?” tanya Sybil setelah Mrs. Fellows-Brown pergi menuruni tangga.
Sebelum Alicia Coombe sempat menjawab, Mrs. Fellows-Brown muncul kembali, melongokkan
kepalanya di pintu.
“Ya Tuhan, saya betul-betul lupa pada si Fou-Ling. Di mana kau, Sayang? Astaga!”
Ia terbelalak dan kedua wanita yang lain terbelalak pula. Anjing Peking itu sedang
duduk di dekat kursi berlapis beludru hijau, mendongak dan menatap boneka lunglai yang
terbaring di atasnya. Pada wajahnya yang kecil dan bermata menonjol itu tidak tampak
ekspresi apa pun, tak ada rasa senang maupun benci. Ia hanya melihat saja.
“Mari, sayang mami,” kata Mrs. Fellows-Brown.
Namun si sayang mami sama sekali tidak menaruh perhatian.
“Makin hari dia makin bandel,” “‘kata Mrs. Fellows-Brown. “Ayolah, Fou-Ling. Ada kue.
Ada lauk hati yang enak.”
Fou-Ling memalingkan kepala kira-kira satu inci ke arah majikannya, lalu dengan sikap
melecehkan memandangi boneka itu lagi.
“Dia pasti terkesan oleh boneka itu,” kata Mrs. Fellows-Brown. “Saya rasa selama ini
dia belum pernah melihatnya. Saya juga tidak. Apakah dia sudah ada di sini waktu saya
kemari terakhir kali?”
Kedua wanita yang lain” berpandangan. Sybil tampak mengernyitkan alisnya, sedangkan
Alicia Coombe berkata sambil mengerutkan dahi, “Sudah saya katakan, saya sama sekali
tak bisa mengingat apa-apa sekarang ini. Sudah berapa lama kita memilikinya, Sybil?”
“Dari mana dia?” tanya Mrs. Fellows-Brown. “Apakah Anda membelinya?”
“Oh, tidak.” Entah mengapa, Alicia Coombe
142
terkejut sekali mendengar pertanyaan itu. “Oh, tidak. Kalau tak salah, saya rasa ada
orang yang memberikannya pada saya.” Ia menggeleng. “Gila rasanya!” serunya. “Sungguh
gila rasanya, kalau semua yang baru saja terjadi sudah kita lupakan.”
“Ayo, jangan bodoh, Fou-Ling,” kata Mrs. Fellows-Brown tajam. “Ayo. Aku terpaksa
mengangkatmu.”
Diangkatnya anjing itu. Fou-Ling memprotes dengan melolong sedih. Mereka keluar dari
ruangan. Fou-Ling menoleh lewat pundaknya yang berbulu panjang. Ia masih tetap menatap
boneka di kursi itu dengan penuh perhatian.
“Boneka itu,” kata Mrs. Groves, “membuat saya takut sekali.”
Mrs. Groves adalah wanita yang bertugas membersihkan rumah. Ia baru saja selesai
membersihkan lantai ke arah belakang. Kini ia bangkit dan perlahan-lahan menjalankan
pembersih debu sekeliling ruangan.
“Lucunya,” kata Mrs. Groves, “baru kemarin saya benar-benar memperhatikannya. Lalu
langsung saja saya merasakannya-^.
“Kau tak menyukainya?” tanya Sybil.
“Terus terang, Mrs. Fox, saya ngeri melihatnya,” kata wanita itu. “Dia tidak wajar.
Mengertikah Anda maksud saya? Kakinya yang panjang dan berjuntai itu, caranya
terbaring, dan matanya yang licik itu. Menurut saya kelihatannya tidak sehat.”
“Dulu-dulu kau tak pernah berkata apa-apa tentang dia,” kata Sybil.
143
“Sudah saya katakan, tak pernah terlihat oleh saya —baru tadi pagi. Memang saya tahu
bahwa benda itu sudah beberapa lama ada di sini, tapi „.” Ia berhenti dan di wajahnya
tampak pandangan tak mengerti. “Dia seperti mimpi di malam hari,” katanya, lalu setelah
mengumpulkan beberapa peralatan kebersihan, ia meninggalkan ruang pas itu dan
menyeberangi tangga ke kamar di sisi lain.
Sybil memandangi boneka yang tampak santai itu. Di wajahnya tampak pandangan bingung.
Alicia Coombe masuk dan Sybil menoleh cepat ke arahnya.
“Miss Coombe, sudah berapa lama Anda memiliki makhluk ini?”
“Apa, boneka itu? Sayang, kau kan tahu bahwa aku tak bisa mengingat apa-apa.
Kemarin—ah, gila sekali!—aku akan pergi menghadiri, ceramah, tapi setengah jalan aku
tiba-tiba lupa harus pergi ke mana Aku berusaha keras mengingatnya. Akhirnya kukatakan
pada diriku, pasti aku harus ke toko Fortnums. Aku tahu bahwa aku memerlukan sesuatu
yang harus kubeli di toko Fortnums. Nah, mungkin kau tak percayať, sampai aku pulang
dan sedang minum teh, barulah aku ingat ceramah itu. Yah, aku sudah tahu bahwa orang
jadi pikun kalau sudah berumur, tapi pada diriku itu terjadi terlalu awal. Sekarang
saja aku lupa di mana tasku, juga kacamataku. Di mana aku meletakkan kacamata itu? Tadi
baru saja aku memakainya— aku membaca sesuatu di harian The Times.”
“Kacamatanya ada di alas penutup perapian.
144
Ini,” kata Sybil sambil menyerahkannya “Bagaimana Anda mendapatkan boneka itu? Siapa
yang memberikannya pada Anda?”
“Aku lupa juga,” kata Alicia Coombe. “Kurasa seseorang telah memberikannya padaku, atau
mengirimkannya padaku…. Tapi dia cocok sekali di ruangan ini, ya?”
“Saya rasa bahkan terlalu cocok,” kata Sybil. “Lucunya, saya tak ingat kapan saya
pertama kali melihatnya di sini.”
“Nah, jangan sampai kau jadi sama pelupanya dengan aku,” tegur Alicia Coombe. “Soalnya
kau masih sangat muda.”
“Tapi sungguh, Miss Coombe, saya tak ingat. Maksud saya, kemarin saya melihatnya, lalu
saya pikir ada sesuatu—ya, Mrs. Groves memang benar — ada sesuatu yang mengerikan pada
benda itu. Lalu saya pikir saya memang pernah berpikir begitu, lalu saya mencoba
mengingat, kapan pertama kali saya berpikiran begitu, dan… yah, saya tak ingat apa-apa!
Rasanya seolah-olah saya belum pernah melihatnya —tapi rasanya tidak begitu. Rasanya
dia sudah lama di sini, tapi baru terlihat oleh saya.”
“Mungkin pada suatu hari dia masuk lewat jendela, terbang naik gagang sapu,” kata
Alicia Coombe. “Pokoknya, sekarang dia berada di sini.” Ia melihat ke sekelilingnya.
“Kita sekarang sulit membayangkan ruangan ini tanpa dia, bukan?”
“Memang,” kata Sybil dengan agak merinding, “tapi rasanya lebih baik kalau saya bisa…”
“Bisa apa?”
145
“Membayangkan ruangan ini tanpa dia.”
“Perlukah kita semua jadi kacau gara-gara boneka ini?” tanya Alicia Coombe tak sabaran.
“Apa sih salahnya benda malang itu? Dia kelihatan seperti kubis yang sudah rusak saja,
tapi mungkin,” tambahnya, lagi, “karena aku tidak memakai kacamata.” Dipasangnya
kacamatanya, lalu ia melihat dengan tajam ke boneka itu. “Ya,” katanya, “aku mengerti
maksudmu. Dia memang agak mengerikan… kelihatan sedih, tapi… yah, licik dan juga agak
keras kepala.”
“Lucu,” kata Sybil, “Mrs. Fellows-Brown sangat benci padanya.”
“Dia terlalu ceplas-ceplos,” kata Alicia Coombe.
“Tapi aneh,” kata Sybil bertahan, “mengapa boneka ini sampai bisa memberikan kesan
begitu terhadapnya.”
“Yah, memang ada orang yang bisa tiba-tiba saja merasa tak suka.”
“Mungkin,” kata Sybil sambil tertawa kecil, “boneka itu memang baru kemarin ada di
sini. Mungkin dia terbang dan masuk lewat jendela, seperti yang Anda katakan, dan
menempatkan dirinya di sini.”
“Tidak,” kata Alicia Coombe, “aku yakin dia sudah beberapa lama berada di sini. Mungkin
baru kemarin dia tampak.”
“Begitulah saya rasa,” kata Sybil, “bahwa sudah beberapa lama dia berada di sini, tapi
selama itu, seingat saya baru kemarinlah saya melihatnya.”
“Ah, sudahlah,” kata Alicia dengan tegas, “henti—
146
kanlah itu. Kau jadi membuatku merasa aneh dah merinding. Kau kan tidak akan membesarbesar-kannya, hingga dia seolah-olah merupakan mahkluk ajaib?” Diambilnya boneka itu,
diguncang-guncang, diperbaiki letak pundaknya, lalu didudukkannya di kursi lain. Boneka
itu langsung lunglai lagi.
“Sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupannya,” kata Alicia Coombe sambil menatap
boneka itu. “Tapi, lucunya, dia kelihatan hidup, ya?”
“Hii, saya takut sekali,” kata Mrs. Groves saat berkeliling di ruang pamer,
membersihkannya. “Demikian takutnya, hingga saya boleh dikatakan tak mau masuk ke ruang
pas lagi.”
“Apa yang membuatmu takut?” tanya Miss Coombe yang sedang duduk di meja tulis, di
sudut. Ia sedang sibuk menghitung. “Wanita ini,” katanya lagi, bukan pada Mrs. Groves,
melainkan pada dirinya sendiri, “mengira dia akan bisa menjahitkan dua pakaian pesta,
tiga pakaian untuk koktail, dan satu setelan setiap tahun, tanpa membayar barang sesen
pun padaku! Dasar!”
“Boneka itu,” kata Mrs. Groves.
“Apa? Boneka kita lagi?”
“Ya, duduk di meja tulis itu, seperti manusja. Iih, saya takut sekali!”
“Bicara apa kau?”
Alicia Coombe bangkit, berjalan menyeberangi ruangan, lalu masuk ke kamar di
seberangnya— ruang pas. Di salah satu sudutnya ada sebuah meja tulis bergaya Sheraton,
dan di situlah boneka itu
147
duduk, di kursi yang ada di dekat meja itu, dengan lengan lunglainya yang panjang di
atas meja.
“Pasti ada seseorang yang ingin bercanda,” kata Alicia Coombe. “Bayangkan,
mendudukkannya seperti itu. Tapi dia benar-benar kelihatan wajar.”
Pada saat itu, Sybil Fox turun dengan membawa sehelai gaun yang akan dicoba pagi itu.
“Mari sini, Sybil. Lihat, boneka kita sedang duduk di meja tulis pribadiku dan menulis
surat.”
Kedua wanita itu melihat.
“Sungguh,” kata Alicia Coombe, “sangat tak masuk akal! Aku ingin tahu siapa yang
mendudukkannya di situ. Kaukah?”
“Tidak.” kata Sybil. “Pasti salah seorang gadis di lantai atas.”
“Lelucon konyol,” kata Alicia Coombe. Diambilnya boneka itu, lalu dilemparkannya
kembali ke sofa.
Sybil meletakkan gaun itu di kursi dengan hati-hati, lalu ia keluar dan naik ke ruang
kerja di lantai atas.
“Kalian tentu tahu boneka “itu ” katanya, “boneka beludru yang ada di kamar Miss Coombe
di lantai bawah—di kamar pas itu?”
Mandor dan ketiga gadis itu mengangkat wajah.
“Ya, tentu kami tahu.”
“Siapa yang mendudukkannya di meja tulis tadi pagi untuk berolok-olok?”
Ketiga gadis itu menatapnya, lalu Elspeth, mandor mereka, berkata, “Mendudukkannya di
meja tulis? Saya sih tidak.”
148
“Saya juga tidak,” kata salah seorang gadis itu. “Kaukah, Marlene?” Marlene menggeleng.
‘Itukah caramu bercanda, Elspeth?”
“Sama sekali tidak,” kata Elspeth, seorang wanita serius yang mulutnya kelihatan
seolah-olah selalu berisi jarum pentul. “Pekerjaan saya banyak. Mana sempat saya
bermain-main dengan boneka dan mendudukkannya di meja tulis?”
“Dengarlah,” kata Sybil, dan ia merasa heran sendiri karena suaranya agak bergetar.
“Itu… lelucon itu tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu siapa yang melakukannya.”
Ketiga gadis itu menjadi gempar.
“Sudah kami katakan, Mrs. Fox. Tak seorang pun di antara kami yang melakukannya, begitu
kan, Marlene?”
“Aku tidak melakukannya,” kata Marlene, “dan kalau Nellie dan Margaret tidak
melakukannya, maka tak ada di antara kita yang melakukannya.”
“Anda sudah tahu apa kata saya,” kata Elspeth. “Tapi, ada apa sih, Mrs. Fox?”
“Mungkin Mrs. Groves, ya?” kata Marlene.
Sybil menggeleng. “Tak mungkin Mrs. Groves. Soalnya dia sendiri ketakutan.”
“Saya akan tumn dan melihatnya sendiri,” kata Elspeth.
“Sekarang dia sudah tidak di situ lagi,” kata Sybil. “Miss Coombe telah mengambilnya
dan melemparkannya kembali ke sofa.” Ia diam sebentar. “Yah, maksudku, pasti ada
seseorang yang mendudukkannya di kursi di meja tulis itu, sebagai
149
olok-olok. Itu dugaanku. Dan aku… aku tak mengerti mengapa orang itu tak mau
mengatakannya.”
“Sudah dua kali saya katakan, Mrs. Fox,” kata Margaret. “Saya tak mengerti, mengapa
Anda terus-menerus menuduh kami berbohong. Tak seorang pun di antara kami mau berbuat
sebodoh itu.”
“Maafkan aku,” kata Sybil. “Jangan marah. Tapi… tapi siapa lagi yang mungkin
melakukannya?”
“Mungkin dia bangkit, lalu berjalan sendiri ke situ,” kata Marlene, lalu terkikik.
Sybil tak senang mendengar kata-kata itu.
“Ah, itu hanya omong kosong saja,” katanya, lalu turun lagi.
Alicia Coombe sedang bersenandung dengan riang. Ia melihat ke sekeliling kamar.
“Aku kehilangan kacamataku lagi,” katanya, “tapi tak apa-apa. Saat ini aku tidak ingin
melihat apa-apa. Sulitnya, bila orang sebuta aku kehilangan kacamata, dia tidak akan
bisa menemukannya, karena dia tak bisa melihat apa-apa, kecuali kalau dia punya
sepasang yang lain.”
“Biar saya carikan,” kata Sybil. “Tadi Anda memakainya “
“Aku pergi ke kamar sebelah waktu kau naik. Kurasa aku membawanya kemari lagi.”
Ia menyeberang ke kamar sebelah.
“Menyusahkan sekali,” kata Alicia Coombe. “Aku ingin mengerjakan pembukuan ini terus.
Sekarang mana bisa tanpa kacamataku?”
“Biar saya naik dan mengambilkan kacamata Anda yang sepasang lagi di kamar tidur,” kata
Sybil.
150
“Sekarang ini aku tak punya lagi,” kata Alicia Coombe.
“Mengapa? Apa yang terjadi?”
“Kurasa ketinggalan waktu aku pergi makan siang. Sudah kutelepon tempatku makan siang
itu, dan sudah kutelepon pula dua toko tempatku berbelanja kemarin.”
“Astaga,” kata Sybil, “saya rasa Anda harus memiliki tiga pasang.”
“Kalau aku memiliki tiga pasang kacamata,” kata Alicia Coombe, “maka seumur hidupku aku
harus mencari kacamata itu bergantian. Kurasa yang terbaik adalah memiliki satu saja.
Jadi, kita harus mencarinya sampai ketemu.”
“Yah, pasti kacamata itu ada,” kata Sybil. “Anda kan tidak keluar dari dua kamar ini?
Yang pasti tak ada di ruang ini, maka pasti Anda meletakkannya di ruang pas.”
Ia pergi, lalu mencari dengan lebih teliti. Akhirnya, sebagai usaha terakhir,
diangkatnya boneka itu dari sofa.
“Saya menemukannya,” serunya.
“Oh, di mana, Sybil?”
“Di bawah boneka kita. Saya rasa ikut terlempar waktu Anda melemparkan boneka itu
kembali ke sofa.”
“Tidak. Sungguh tidak.”
“Oh,” kata Sybil dengan perasaan kacau. “Kalau begitu, boneka itu yang mengambilnya dan
menyembunyikannya dari Anda!”
Sambil memandangi boneka itu dengan serius,
151
Alicia berkata, “Aku tidak akan meremehkan dia. Dia kelihatan cerdas, ya, Sybil?”
“Saya rasa, saya tak suka wajahnya itu,” kata Sybil. “Kelihatannya dia tahu sesuatu
yang tidak kita ketahui.”
“Tidakkah menurutmu dia kelihatan sedih dan manis?” kata Alicia dengan nada membujuk,
namun tanpa keyakinan.
“Saya rasa dia sama sekali tidak manis,” kata Sybil.
“Yah… mungkin kau benar. Ah, sudahlah, sebaiknya kita meneruskan pekerjaan. Sepuluh
menit lagi Lady Lee akan tiba. Aku hanya ingin menyelesaikan faktur ini supaya bisa
dibawa ke kantor pos.”
“Mrs. Fox. Mrs. Fox?”
“Ya, Margaret?” kata Sybil. “Ada apa?”
Sybil sedang sibuk menggunting sepotong bahan satin yang ditebarkan di meja.
“Oh, Mrs. Fox, lagi-lagi boneka itu. Saya membawa turun gaun cokelat seperti yang Anda
perintahkan, dan saya lihat boneka itu duduk di meja tulis lagi. Bukan saya yang
mendudukkannya— bukan salah seorang di antara kami. Sungguh, Mrs. Fox, kami tidak akan
mau melakukan perbuatan semacam itu.”
Gunting Sybil tergeser sedikit.
“Tuh,” katanya dengan marah, “lihat, apa yang terjadi gara-gara kau. Mudah-mudahan
tidak apa-apa. Lalu mengapa dengan boneka itu?”
“Dia duduk di meja tulis lagi.”
152
Sybil turun dan masuk ke ruang pas. Boneka •itu duduk di meja tulis, sama benar seperti
sebelumnya.
“Kau bandel sekali, ya?” kata Sybil pada boneka itu.
Diangkatnya boneka itu dengan kasar, lalu diletakkannya kembali di sofa.
“Di sini tempatmu,” katanya. “Tinggal di sini.” Lalu ia pergi ke kamar sebelah “Miss
Coombe.” “Ya, Sybil?”
“Memang ada orang yang mempermainkan kita. Boneka itu duduk di meja tulis lagi.”
“Menurutmu siapa?”
“Pasti salah seorang dari yang bertiga di lantai atas itu,” kata Sybil. “Saya rasa
mereka pikir itu lucu. Mereka memang sudah bersumpah bahwa bukan mereka yang
melakukannya.”
“Menurutmu siapa? Margaret?”
“Bukan, saya rasa bukan Margaret. Dia kelihatan ketakutan waktu dia masuk dan
mengatakannya pada saya. Saya rasa Marlene, si tukang cekikikan itu.”
“Pokoknya itu perbuatan dungu.”
“Memang—bahkan gila,” kata Sybil. “Bagaimanapun,” katanya lagi dengan geram, .“saya
akan menghentikan perbuatan itu.”
“Apa yang akan kaulakukan?”
“Lihat saja,” kata Sybil.
Malam itu, sebelum pulang, Sybil mengunci ruang pas dari luar.
153
“Kamar ini saya kunci,” katanya, “dan kuncinya saya bawa.”
“Oh, begitu,” kata Alicia Coombe dengan agak geli. “Rupanya kau mulai menduga aku yang
melakukannya, ya? Kaupikir demikian pikunnya aku, hingga aku masuk ke situ dengan niat
akan menulis di meja itu. Tapi yang kulakukan adalah mengangkat boneka itu dan
mendudukkannya di situ supaya dia yang menulis untukku. Begitukah pikiranmu? Lalu aku
sama sekali lupa? Begitu?”
“Yah, itu mungkin saja,” kata Sybil. “Pokoknya saya ingin yakin bahwa tidak akan ada
lelucon yang tak sehat malam ini.”
Keesokan paginya, dengan bibir terkatup rapat, yang pertama dilakukan Sybil begitu tiba
adalah membuka pintu ruang pas yang terkunci, dan berjalan masuk. Mrs. Groves sudah
menunggu di tangga dengan lap debu, lap pel, dan wajah sedih.
“Sekarang kita lihat!” kata Sybil.
Lalu ia mundur dengan tercekat.
Boneka itu duduk di meja tulis.
“Astaga!” kata Mrs. Groves. “Mengerikan! Sungguh. Wah, Mrs. Fox, Anda pucat sekali,
seolah-olah Anda baru melihat hantu. Anda perlu minum sedikit. Apakah Miss Coombe punya
minuman keras di lantai atas?”
“Aku tak apa-apa,” kata Sybil.
Ia berjalan ke arah boneka itu, diangkatnya dengan hati-hati, lalu ia menyeberangi
ruangan dengan boneka itu.
154
“Ada orang yang mempermainkan Anda lagi,” kata Mrs. Groves.
“Kali ini aku tidak tahu bagaimana orang itu bisa mempermainkan diriku,” kata Sybil
lambat-lambat. “Pintu itu kukunci semalam. Kau tahu sendiri bahwa tak seorang pun bisa
masuk.”
“Mungkin ada orang yang memiliki kunci lain,” kata Mrs. Groves, membantu memberikan
pandangannya.
“Kurasa tidak,” kata Sybil. “Selama ini kami tak pernah merasa perlu mengunci kamar
ini. Kunci pintu ini kunci kuno, hanya ada satu.”
“Mungkin kunci yang lain cocok—kunci pintu di seberang itu.”
Mereka lalu mencobakan semua kunci di toko itu, tapi tak sebuah pun yang cocok ke pintu
ruang pas itu.
“Sungguh aneh, Miss Coombe,” kata Sybil kemudian, saat mereka makan siang bersama.
Alicia Coombe kelihatan agak senang.
“Ah,” katanya. “Kurasa itu hanya luar biasa. Kurasa sebaiknya kita menulis surat kepada
orang-orang di bagian riset psikis tentang hal ini. Mungkin mereka nanti mengirim
seseorang untuk menyelidiki—seorang paranormal atau siapa —akan melihat kalau kalau
ada sesuatu yang aneh dengan kamar itu.”
“Kelihatannya Anda sama sekali tak peduli,” kata Sybil.
“Yah, boleh dikatakan aku menyukai keadaan ini,” kata Alicia Coombe. “Maksudku, bagi
orang
155
seumurku, menyenangkan juga bila ada sesuatu yang terjadi! Tapi… tidak,” katanya lagi
sambil merenung. “Kurasa aku tak suka. Maksudku, boneka itu telah menjadi besar kepala,
bukan?”
Malam itu Sybil dan Alicia Coombe sekali lagi mengunci pintu itu dari luar.
“Saya tetap berpendapat ada seseorang yang membuat lelucon yang tidak sehat. Saya tak
mengerti mengapa…,” kata Sybil.
“Apa kaupikir dia akan duduk di meja tulis lagi besok pagi?” tanya Alicia.
“Ya, saya rasa begitu,” sahut Sybil.
Tapi mereka keliru. Boneka itu tidak duduk di meja tulis, melainkan di ambang jendela,
melihat ke jalan di luar. Dan lagi-lagi sikap duduknya tampak wajar.
“Semuanya ini bodoh dan mengerikan, ya?” kata Alicia Coombe ketika mereka minum teh
petang itu. Atas persetujuan bersama, mereka tidak minum di ruang pas sebagaimana
biasa, melainkan di kamar Alicia Coombe sendiri di seberangnya.
“Bodoh dalam hal apa?”
“Yah, tak ada yang bisa kita jadikan pegangan. Hanya sebuah boneka yang selalu
berpindah tempat.”
Dari hari ke hari, hal itu merupakan bahan peninjauan. Kini bukan hanya malam hari
boneka itu berpindah tempat. Setiap saat bila mereka masuk ke ruang pas, setelah mereka
meninggalkannya beberapa menit saja, mereka menemukan boneka itu berada di tempat lain.
Kadang-kadang mereka
156
meninggalkannya di sofa dan menemukannya di kursi. Kemudian ia berada di kursi yang
lain. Kadang-kadang ia berada di kursi di dekat jendela, kadang-kadang di meja tulis
lagi.
“Dia berpindah-pindah sesuka hatinya,” kata Alicia Coombe. “Dan kurasa, Sybil, kurasa
dia suka!”
Kedua wanita itu berdiri sambil menunduk memandangi sosok yang terbaring tak bergerak,
dengan baju beludru lembut dan wajah dari sutra bergambar itu.
“Dia sebenarnya hanya terdiri atas beberapa potong beludru, sutra, dan sedikit cat,”
kata Alicia Coombe. Suaranya terdengar tegang. ‘Tahukah kau, kurasa kita bisa… kita
bisa saja membuangnya.”
“Apa maksud Anda membuangnya?” tanya Sybil. Suaranya terdengar shock.
“Yah,” kata Alicia Coombe, “kita bisa melemparnya ke dalam api, kalau sedang ada api.
Maksudku, membakarnya, seperti nenek sihir…. Atau kita juga bisa saja memasukkannya ke
tempat sampah.”
“Saya rasa itu tidak akan berhasil,” kata Sybil. “Mungkin saja seseorang
mengeluarkannya dari tempat sampah itu, lalu membawanya kembali pada kita.”
“Atau kita bisa mengirimkannya ke suatu tempat,” kata Alicia Coombe. “Umpamanya ke
salah satu yayasan yang sering menulis surat untuk meminta sesuatu untuk dijual di
bazar atau semacamnya. Kurasa itulah cara yang terbaik.”
“Entahlah…,” kata Sybil. “Saya takut melakukannya.”
157
“Takut?”
“Soalnya, saya rasa dia akan kembali,” kata Sybil. “Maksudmu, dia akan kembali kemariT
“Ya.”
“Seperti burung merpati pos?”
“Ya, begitulah maksud saya.”
“Kurasa kita ini tidak sinting, kan?” kata Alicia Coombe. “Mungkin aku benar-benar
sudah linglung dan mungkin kau hanya menghiburku saja. Begitukah?”
“Tidak,” kata Sybil. “Tapi saya punya perasaan yang menakutkan —suatu perasaan yang
mengerikan, bahwa dia terlalu kuat bagi kita.”
“Apa? Kumpulan perca-perca kain itu?”
“Ya, kumpulan perca-perca kain yang menjengkelkan itu. Karena dia ternyata bandel
sekali.”
“Bandel?”
“Dia berbuat sekehendak hatinya saja! Maksud saya, seolah-olah ini kamar dia sekarang!”
“Ya,” kata Alicia Coombe sambil melihat* ke sekelilingnya. “Iya, ya? Tapi kalau
dipikir, memang selalu begitu—warnanya dan sebagainya… kurasa dia cocok berada di
sini, tapi kamarnyalah yang cocok dengannya. Boleh kukatakan,” kata penjahit itu lagi
dengan suara tegas, “rasanya bodoh juga bila sebuah boneka merampas segala-galanya
seperti ini. Lihat saja, Mrs. Groves tak mau lagi datang untuk membersihkan rumah.”
“Apakah dia mengatakan takut pada boneka itu?”
“Tidak. Dia memberikan banyak alasan.” Kemu—
158
dian Alicia berkata lagi dengan agak panik, “Apa yang harus kita lakukan, Sybil? Aku
jadi tertekan. Sudah berminggu-minggu aku tak bisa merancang apa-apa.”
“Saya juga tak bisa memusatkan pikiran dengan baik saat menggunting,” kata Sybil. “Saya
membuat macam-macam kesalahan yang bodoh. Mungkin,” katanya lagi dengan ragu, “pikiran
Anda untuk menulis surat pada bagian riset psikis itu baik juga-“
“Tapi kita akan kelihatan seperti orang-orang dungu,” kata Alicia Coombe. “Aku tidak
serius waktu itu. Tidak, kurasa kita jalani saja dulu sampai…”
“Sampai apa?”
“Ah, entahlah,” kata Alicia, lalu “ia tertawa ragu.
Keesokan harinya, waktu Sybil tiba, didapatinya pintu kamar pas terkunci.
“Miss Coombe, apakah kuncinya ada pada Anda? Andakah yang menguncinya semalam?”
“Ya,” kata Alicia Coombe, “aku yang menguncinya dan akan tetap terkunci.”
“Apa maksud Anda?”
“Maksudku, aku tak mau menggunakan kamar itu lagi. Biar untuk boneka itu saja. Kita
tidak memerlukan dua buah kamar. Kita bisa mengepas di sini.”
“Tapi ini kan ruang duduk pribadi Anda.”
“Ah, aku tak mau lagi. Aku sudah punya kamar tidur yang nyaman sekali. Aku bisa
menjadikannya kamar tidur merangkap ruang duduk, bukan?”
159
“Maksud Anda, Anda benar-benar tidak akan pernah masuk ke ruang pas itu lagi?” tanya
Sybil kurang percaya.
“Begitulah” maksudku.”
“Tapi bagaimana dengan kebersihannya? Kamar itu akan kotor sekali.”
“Biar saja!” kata Alicia Coombe. “Bila tempat itu rusak gara-gara menjadi milik sebuah
boneka, biar saja—biar saja dia memilikinya. Dan membersihkannya sendiri.” Lalu
katanya lagi, “Tahukah kau, dia membenci kita.”
“Apa maksud Anda?” tanya Sybil. “Boneka itu membenci kita?”
“Ya,” kata Alicia. “Tak tahukah kau? Seharusnya kau tahu. Seharusnya kau melihatnya
waktu kau menatapnya.”
“Ya,” kata Sybil sambil merenung, “memang, saya rasa saya merasakannya —bahwa dia
membenci kita dan ingin kita keluar dari situ “
“Dia itu benda kecil yang penuh kebencian,” kata Alicia Coombe. “Pokoknya, dia harus
puas sekarang.”
Setelah itu keadaan jadi lebih tenang. Alicia Coombe mengumumkan pada para karyawannya
bahwa untuk sementara ia tidak akan menggunakan ruang pas —terlalu banyak kamar yang
harus dibersihkan, jelasnya.
Tapi keadaan itu tidak begitu menolong, karena pada malam itu juga didengarnya salah
seorang gadis pekerjanya berkata pada temannya, “Sudah benar-benar sinting Miss Coombe
itu sekarang.
160
Aku selalu merasa bahwa dia agak aneh —seringnya dia kehilangan barang-barangnya, dan
sifat pelupanya. Tapi sekarang sudah melampaui batas, bukan? Dia jadi begitu gara-gara
boneka di lantai bawah itu.”
“Aduh, kaupikir dia akan jadi benar-benar sinting?” kata gadis temannya bicara itu.
“Hingga dia mungkin menikam kita atau semacamnya?”
Mereka lewat sambil berceloteh, dan Alicia duduk tegak karena berangnya. “Menjadi
sinting, ya!” Lalu ditambahkannya dengan murung, “Kurasa, kalau bukan karena Sybil,
harus kuakui bahwa aku memang sinting. Tapi ini, kecuali aku, Sybil dan Mrs. Groves
juga. Jadi, pasti ada benarnya. Tapi yang tidak kumengerti adalah, bagaimana hal ini
akan berakhir?”
Tiga minggu kemudian, Sybil berkata pada Alicia Coombe, “Sekali-sekali kita harus masuk
ke kamar itu.”
“Mengapa?”
“Maksud saya, pasti kotor sekali kamar itu. Barang-barang mungkin diserang ngengat.
Kita hanya membersihkan debunya dan menyapunya, lalu kita kunci lagi.”
“Aku lebih suka membiarkannya tertutup dan tidak masuk lagi ke situ,” kata Alicia
Coombe.
“Wah,” kata Sybil, “rupanya Anda lebih percaya takhayul daripada saya.”
“Kurasa memang,” kata Alicia Coombe. “Aku memang jauh lebih mudah mempercayainya
daripada kau. Tapi aku… yah aku merasa keadaan
161
aneh ini mencekam juga. Entahlah. Aku takut, dan tak ingin masuk ke kamar itu lagi.”
“Saya mau,” kata Sybil, “dan saya akan melakukannya.”
“Tahukah kau apa yang terjadi dengan dirimu?” kata Alicia Coombe. “Kau hanya ingin tahu
saja.”
“Baiklah, saya memang ingin tahu. Saya ingin melihat, apa yang telah dilakukan boneka
itu.”
“Aku tetap berpikiran lebih baik boneka itu jangan diganggu,” kata Alicia. “Setelah
kita tinggalkan ruang itu sekarang, dia puas. Sebaiknya biar saja dia merasa puas.” Ia
mendesah keras. “Mengapa kita jadi omong kosong begini?”
“Ya, kita memang sedang omong kosong, tapi kalau Anda ingin saya tidak omong kosong,
berikanlah kuncinya pada saya.”
“Baiklah, baiklah.”
“Saya rasa Anda takut saya akan mengeluarkannya. Tapi saya rasa dia adalah makhluk yang
bisa melewati pintu dan jendela.”
Sybil membuka kunci pintu, lalu masuk.
“Aneh sekali,” katanya.
“Apa yang aneh?” kata Alicia Coombe, dengan mengintip lewat pundak Sybil.
“Kamar ini boleh dikatakan ^sama sekali tak berdebu, ya? Karena tertutup selama ini,
kita pikir…”
“Ya, memang aneh.”
“Itu dia,” kata Sybil.
Boneka itu ada di sofa. Ia tidak terbaring dalam keadaan terkulai seperti biasanya. Ia
duduk tegak.
162
dengan sebuah bantal kursi di belakang punggungnya. Sikapnya seperti nyonya rumah yang
sedang menunggu akan menerima tamu.
“Yah,” kata Alicia Coombe, “kelihatannya dia betah sekali, ya? Aku sampai merasa harus
meminta maaf padanya karena kita masuk.”
“Mari kita keluar,” kata Sybil.
Ia berjalan mundur, menutup pintu, dan menguncinya lagi.
Kedua wanita itu berpandangan.
“Alangkah baiknya kalau aku tahu,” kata Alicia Coombe, “mengapa kita begitu takut…”
“Ya Tuhan, siapa yang tidak akan ketakutan?”
“Yah, maksudku, apa yang sebenarnya terjadi? Sebenarnya tak apa-apa —hanya semacam
boneka yang bisa berkeliling kamar. Kurasa bukan boneka itu sendiri
persoalannya—melainkan setan nakal.”
“Ya, itu masuk akal.”
“Ya, tapi aku tak begitu percaya. Kurasa… bonekanya itu.”
“Yakinkah Anda bahwa Anda tidak tahu dari mana datangnya boneka itu sebenarnya?”
“Aku sama sekali tak ingat,” kata Alicia. “Dan makin kupikirkan, makin yakin aku bahwa
aku tidak membelinya, dan bahwa tak ada orang yang memberikannya padaku. Kurasa dia…
yah, dia datang begitu saja”
“Menurut Anda, apakah dia… akan pergi?”
“Ah,” kata Alicia, “aku tak mengerti mengapa dia harus pergi. Dia sudah mendapatkan apa
yang diinginkannya.”
163
Tapi rupanya boneka itu tidak mendapatkan semua yang diinginkannya.
Keesokan harinya, waktu Sybil masuk ke ruang pamer, ia tiba-tiba menahan napas, lalu ia
berseru ke arah lantai atas.
“Miss Coombe, Miss Coombe, coba turun.”
“Ada apa?”
Alicia Coombe yang bangun kesiangan, menuruni tangga dengan terpincang-pincang karena
lutut kanannya rematik.
“Ada apa, Sybil?”
“Lihat, lihatlah apa yang “terjadi sekarang.”
Mereka berdiri di ambang pintu ruang pamer. Boneka itu duduk di sofa, bersandar dengan
nyaman pada lengannya.
“Dia keluar,” kata Sybil. “Dia sudah keluar dari kamar itu! Dia juga menginginkan kamar
ini.”
Alicia Coombe duduk di dekat pintu. “Kurasa dia akan menginginkan seluruh toko ini,”
katanya.
“Mungkin saja,” kata Sybil.
“Hei, makhluk kotor, licik, dan jahat,” kata Alicia pada boneka itu. “Mengapa kau
datang dan mengganggu kami? Kami tidak menginginkanmu.”
Baik Alicia maupun Sybil melihat seolah-olah boneka itu bergerak sedikit sekali. Kaki
dan tangannya seolah-olah makin santai. Lengannya yang panjang dan lunglai terletak
pada lengan sofa, dan wajahnya yang setengah tersembunyi seolah-olah mengintip dari
bawah ketiaknya. Pandangannya licik dan jahat.
164
“Dasur makhluk menjengkelkan,” kata Alicia. “Aku tak tahan! Aku sudah tak tahan lagi.”
Tiba-tiba, dengan sangat mengejutkan Sybil, Alicia melesat menyeberangi ruangan itu.
Diangkatnya boneka itu, lalu ia berlari ke jendela, membuka jendela itu, dan
mencampakkan boneka itu ke jalan. Napas Sybil tertahan, lalu ia terpekik ngeri.
“Aduh, Alicia, kau tak boleh berbuat begitu! Aku yakin kau tak boleh melakukannya!”
“Aku harus melakukan sesuatu,” kata Alicia Coombe. “Aku sudah tak tahan lagi.”
Sybil mendatanginya ke jendela. Di bawah, boneka itu tergeletak di trotoar, lunglai
dengan wajah tertelungkup.
“Anda telah membunuhnya” kata Sybil.
“Jangan bodoh… mana mungkin aku membunuh sesuatu yang hanya terbuat dari potonganpotongan bahan beludru dan sutra? Itu benda mati.”
“Itu hidup, dan mengerikan,” kata Sybil.
Alicia menahan napasnya.
“Astaga. Anak itu…”
Seorang gadis kecil berpakaian compang-camping berdiri di atas boneka itu di trotoar.
Ia melihat ke kiri-kanan jalan yang tidak begitu ramai pada jam sekian pagi hari,
meskipun beberapa mobil lewat; kemudian, setelah kelihatan puas, anak itu membungkuk,
memungut boneka itu, lalu berlari menyeberangi jalan.
“Berhenti, berhenti!” seru Alicia.
Ia menoleh pada Sybil.
165
“Anak itu tak boleh mengambil boneka itu. Tak boleh! Boneka itu berbahaya —dia jahat.
Kita harus melarangnya.”
Bukan mereka yang menghentikan langkah anak itu, melainkan lalu lintas. Pada saat itu
ada tiga buah taksi menuju ke satu arah, dan dua buah truk pedagang dari arah
berlawanan. Anak itu terkurung di tengah-tengah jalan. Sybil cepat-cepat menuruni
tangga, disusul oleh Alicia Coombe. Dengan menghindari sebuah truk barang dan sebuah
mobil pribadi, Sybil yang langsung disusul oleh Alicia Coombe, tiba di tempat anak itu
sebelum ia bisa menembus lalu lintas ke seberang jalan.
“Kau tak boleh mengambil boneka itu,” kata Alicia Coombe. “Kembalikan padaku.”
Anak itu melihat padanya. Anak itu kurus sekali, berumur kira-kira delapan tahun, dan
agak juling. Wajahnya menantang.
“Mengapa saya harus memberikannya pada Anda?” tanyanya. “Anda kan sudah melemparkannya
dari jendela—saya melihat Anda. Kalau sudah Anda lemparkan dari jendela, artinya Anda
sudah tak menginginkannya lagi, jadi sekarang dia milik saya.”
“Akan kubelikan kau boneka baru,” kata Alicia gugup. “Mari kita pergi ke toko
mainan—yang mana pun yang kausukai. Akan kubelikan kau boneka terbagus yang bisa kita
dapatkan. Tapi kembalikan padaku yang ini.”
“Tidak mau,” kata anak itu.
Lengannya memeluk boneka beludru itu dengan sikap melindungi.
166
“Kau harus mengembalikannya,” kata Sybil. “Itu bukan milikmu.”
Diulurkannya tangannya untuk mengambil boneka itu, tapi pada saat itu si anak
mengentakkan kakinya, berbalik, dan berteriak pada mereka.
“Tidak mau! Tidak mau! Tidak mau! Dia milikku. Aku menyayanginya. Kalian tidak
menyayanginya. Kalian membencinya. Kalau kalian tidak membencinya, tentu kalian tidak
akan melemparkannya dari jendela. Aku menyayanginya, dan itulah yang diinginkannya. Dia
ingin disayangi.”
Lalu, bagaikan belut, ia menyelinap melewati kendaraan-kendaraan. Anak itu berlari ke
seberang jalan, masuk ke lorong, dan tidak kelihatan lagi.
“Dia sudah hilang,” kata Alicia.
“Katanya boneka itu ingin disayangi,” kata Sybil.
“Mungkin,” kata Alicia, “mungkin itulah yang selama ini diinginkannya… disayangi…”
Di tengah-tengah lalu lintas kota London, kedua wanita yang ketakutan itu saling
menatap.
Teka-teki Pantulan Cermin
Aku tak punya penjelasan mengenai cerita ini. Aku tak punya teori mengenai mengapa dan
apa sebabnya. Itu hanya suatu hal yang telah terjadi.
Namun kadang-kadang aku berpikir, apa yang akan terjadi bila pada saat itu aku
menyadari satu hal penting, yang tak pernah kusadari sampai bertahun-tahun kemudian.
Kalau saja aku menyadarinya, yah, kurasa jalan hidup tiga orang pasti akan sangat
berbeda. Pokoknya, pikiran itu sangat menakutkan.
Untuk memulainya, aku harus kembali ke musim panas tahun 1914, tak lama menjelang
perang, saat aku pergi ke Badgeworthy dengan Neil Carslake. Neil boleh dikatakan adalah
sahabat karibku. Aku juga mengenal Alan, adiknya, tapi tidak begitu akrab. Dengan
adik .mereka, Sylvia, aku tak pernah bertemu. Gadis itu dua tahun lebih muda daripada
Alan dan tiga tahun lebih muda daripada Neil. Dua kali, waktu kami masih sama-sama
bersekolah, aku berencana akan pergi berlibur bersama Neil di Badgeworthy, tapi dua
kali pula
168
ada halangannya. Sehingga akhirnya waktu aku berumur dua puluh tiga, barulah untuk
pertama kalinya aku melihat rumah Neil dan Alan.
Mereka akan mengadakan pesta besar di sana. Adik Neil, Sylvia, bertunangan dengan
seseorang bernama Charles Crawley. Kata Neil, laki-laki itu jauh lebih tua daripada
Sylvia, tapi ia orang yang baik sekali dan lumayan kaya.
Aku ingat, kami tiba kira-kira jam tujuh malam. Semua orang sudah berada di kamarnya,
bersiap-siap untuk perjamuan malam bersama. Neil mengantarku ke kamarku. Badgeworthy
adalah sebuah rumah yang menarik, tua dan luas sekali. Rumah itu banyak mengalami
tambahan selama tiga abad terakhir, hingga banyak sekali tangga kecil untuk turun atau
naik, dan banyak tangga di tempat-tempat yang tak disangka-sangka. Di rumah itu tidak
mudah menemukan jalan kita. Aku ingat Neil berjanji akan menjemputku kalau ia turun ke
ruang makan. Aku merasa agak malu-malu, karena harus bertemu dengan orang-orang yang
belum kukenal. Aku ingat aku berkata sambil tertawa bahwa di rumahnya itu orang mungkin
akan bertemu dengan hantu di lorong rumah, dan dengan santai Neil berkata bahwa kata
orang rumah itu memang berhantu, tapi tak seorang pun di antara mereka pernah
melihatnya, dan ia tidak tahu dalam bentuk apa hantu itu muncul.
Lalu Neil bergegas pergi, dan aku sibuk mencari pakaian malamku di koper. Keluarga
Carslake bukan orang kaya; mereka tetap mempertahankan
169
rumah tua. mereka, tapi tak ada pelayan yang membukakan koper atau melayani kita.
Aku baru akan memasang dasiku. Aku berdiri di depan cermin. Terlihat olehku wajahku
sendiri dan pundakku, dan di belakangku ada dinding kamar itu —sebuah dinding kosong
yang hanya terbelah di tengah-tengah oleh sebuah pintu. Ketika aku sedang memasang
dasiku, kulihat pintu itu terbuka.
Entah mengapa, aku tidak berbalik —kurasa sewajarnya orang berbalik. Pokoknya, aku
hanya memandangi pintu itu terbuka perlahan-lahan, dan setelah terbuka, aku melihat ke
dalam kamar di sebelah kamarku.
Kamar itu adalah sebuah kamar tidur, lebih besar daripada kamar yang kutempati: ada dua
buah tempat tidur. Dan tiba-tiba aku menahan napas.
Karena di bagian kaki salah satu tempat tidur itu ada seorang gadis, dan di lehernya
ada sepasang tangan laki-laki; laki-laki itu sedang mendorongnya ke belakang sambil
mencekik lehernya, sehingga gadis itu perlahan-lahan tercekik lemas.
Aku tak mungkin salah. Yang kulihat jelas sekali. Di situ sedang terjadi pembunuhan.
Aku bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas, rambumya yang keemasan dan kemilau,
ketakutan hebat di wajahnya yang cantik, yang perlahan-lahan memucat. Mengenai lakilaki itu, yang terlihat adalah punggungnya, tangannya, dan bekas luka memanjang di sisi
kiri wajahnya, ke arah tengkuk.
170
Untuk menceritakannya dibutuhkan beberapa menit, padahal hanya beberapa saat aku
terbelalak, memandanginya tanpa bisa bersuara. Lalu aku berbalik akan membantu…. Ť
Tapi pada dinding di belakangku, yaitu dinding yang terpantul di cermin tadi, hanya ada
sebuah lemari pakaian dari kayu mahoni bergaya Victoria, Tak ada pintu yang
terbuka—tak ada pemandangan kekerasan. Aku berbalik lagi ke cermin. Cermin itu hanya
memantulkan lemari pakaian itu.
Kugosok-gosok mataku. Lalu aku melompat menyeberangi kamar dan mencoba menggeser lemari
pakaian itu. Pada saat itu Neil masuk lewat pintu lain yang membuka ke arah lorong
rumah. Ia bertanya, apa yang sedang kulakukan.
Mungkin ia menganggap aku kurang waras waktu aku bertanya padanya, apakah ada pintu di
belakang lemari pakaian itu. Ada, katanya, pintu itu untuk masuk ke kamar di sebelah.
Kutanyakan siapa yang menempati kamar di sebelah itu. Katanya orang-orang bernama
Oldham—seorang mayor bernama Oldham dan istrinya. Lalu kutanyakan apakah Mrs. Oldham
berambut sangat pirang, dan waktu Neil menjawab dengan datar bahwa rambutnya hitam,
kusadari bahwa aku mungkin telah memperbodoh diriku. Kutenangkan diriku, kuberikan
penjelasan asal-asalan, lalu kami turun bersama-sama. Kuyakinkan diriku bahwa aku pasti
telah mengalami halusinasi—aku merasa malu sekali dan bodoh. Lalu… lalu… Neil berkata,
“Ini saudara pe-171
rempuanku. Sylvia.” Dan yang kulihat adalah gadis cantik yang baru saja kulihat dicekik
sampai mati… dan aku dikenalkan pula pada tunangannya, seorang pria jangkung berambut
hitam yang di sisi kiri wajahnya ada bekas luka.
Yah, begitulah. Aku ingin tahu, apa yang akan Anda lakukan seandainya Anda berada di
tempatku. Inilah gadis yang… yang serupa benar… dan ada pula laki-laki yang kulihat
sedang mencekiknya— padahal mereka akan menikah sebulan lagi….
Apakah aku telah diberi penglihatan akan apa yang bakal terjadi di masa depan, atau
apa? Apakah di masa yang akan datang Sylvia dan suaminya akan tinggal di tempat ini
beberapa lama, dan diberi kamar itu (kamar tamu terbaik), dan apakah peristiwa yang
kusaksikan itu akan benar-benar terjadi? —
Apa yang harus kulakukan? Bisakah aku melakukan sesuatu? Apakah ada orang —Neil —atau
gadis itu sendiri—yang mau mempercayaiku?
Selama seminggu di situ, hal itu berulang kali kubolak-balik dalam otakku. Haruskah aku
berbicara atau tidak? Lalu boleh dikatakan segera muncul pula suatu kerumitan baru. Aku
jatuh cinta pada Sylvia Carslake pada pandangan pertama. Aku menginginkannya lebih dari
yang lain di dunia ini. Dan aku merasa tanganku terikat.
Namun, bila tidak kukatakan, Sylvia akan menikah dengan Charles Crawley, dan Crawley
akan membunuhnya….
Maka, sehari sebelum aku pulang, kuceritakan
172
semuanya pada Sylvia. Kukatakan kurasa ia akan mengira aku. sudah tidak waras atau
semacamnya, tapi aku bersumpah bahwa aku benar-benar melihat kejadian itu sebagaimana
yang kuceritakan padanya. Kukatakan pula bahwa jika ia tetap akan menikah dengan
Crawley, aku harus menceritakan pengalamanku yang aneh itu.
Sylvia mendengarkan dengan tenang. Ada sesuatu di matanya yang tidak kumengerti. Dia
sama sekali tidak marah. Setelah aku selesai berbicara, ia mengucapkan terima kasih
banyak.
“Aku benar-benar melihatnya. Sungguh,” kataku berulang-ulang, seperti orang dungu. Dan
ia berkata, “Aku yakin kau melihatnya, kalau itu yang kaukatakan. Aku percaya padamu.”
AJdiirnya aku pulang, tanpa tahu apakah aku telah melakukan sesuatu yang benar, ataukah
aku dungu.
Seminggu kemudian, Sylvia memutuskan pertunangannya dengan Charles Crawley.
Setelah itu perang pun pecah, dan tak ada waktu santai untuk memikirkan hal-hal lain.
Sekali atau dua kali, waktu sedang cuti, aku bertemu dengan Sylvia, tapi aku
menghindarinya sedapat mungkin.
Aku masih tetap sangat mencintainya seperti sebelumnya, tapi kurasa itu tidak akan
menguntungkan. Gara-gara akulah ia memutuskan pertunangannya dengan Charles Crawley,
dan aku terus meyakinkan diri bahwa aku harus membuktikan kebenaran kata-kataku, dengan
bersikap tidak menaruh minat.
173
Lalu, pada tahun 1916, Neil tewas, dan akulah yang ditugaskan untuk menceritakan pada
Sylvia tentang saat-saat terakhirnya. Setelah itu kami sama-sama tak bisa lagi bersikap
resmi. Sylvia memuja Neil, sedangkan aku sahabat karib Neil. Dalam kesedihannya, Sylvia
sangat manis. Aku berhasil menahan diri untuk tidak berkata apa-apa, dan pergi sambil
berdoa semoga sebuah peluru mengenai diriku, supaya bisa mengakhiri persoalan yang
rumit itu. Rasanya tak ada gunanya aku hidup tanpa Sylvia.
Tapi tak ada peluru yang nyasar ke arahku. Ada sebuah, tapi hanya melesat mengenai
bagian bawah telinga kananku, sedangkan sebuah lagi memantul dari wadah rokok di
sakuku, tapi aku selamat. Charles Crawley tewas dalam tugas pada awal tahun 1918.
Hal itulah yang membawa perubahan. Aku pu—‘lang pada musim gugur tahun 1918, tak lama
menjelang gencatan senjata. Aku langsung mendatangi Sylvia dan mengatakan bahwa aku
mencintainya. Aku tidak berharap banyak bahwa ia akan langsung bisa menyayangiku.
Betapa terperanjatnya aku waktu ia bertanya,^ mengapa aku tidak dulu-dulu
mengatakannya. Aku jadi gugup waktu menyebutkan Crawley sebagai alasan, tapi ia
berkata, “Tapi tahukah kau mengapa aku memutuskan hubungan dengannya?” Lalu
dikatakannya bahwa ia jatuh cinta padaku seperti aku padanya — pada pandangan pertama.
Kukatakan kukira ia memutuskan pertunangannya
174
gara-gara pengalaman yang kuceritakan padanya. Dia tertawa mengejek, dan mengatakan
bahwa bila seorang wanita mencintai seorang laki-laki, ia tidak akan sepengecut itu.
Kami membicarakan kembali penglihatanku itu, dan kami sependapat bahwa itu aneh, tak
lebih dari itu.
Yah, tak banyak lagi yang dapat diceritakan setelah itu. Aku menikah dengan Sylvia dan
kami berbahagia sekali. Tapi segera setelah ia benar-benar menjadi milikku, kusadari
bahwa aku bukanlah suami yang baik. Aku mencintai Sylvia dengan tulus, tapi aku
cemburu. Aku cemburu membabi buta, bahkan pada orang yang hanya tersenyum padanya.
Mula-mula Sylvia menertawakan hal itu. Kurasa ia bahkan merasa senang. Setidaknya itu
membuktikan betapa besar cintaku padanya.
Sedangkan aku sendiri, aku benar-benar menyadari bahwa aku bukan saja membodohi diriku
sendiri, melainkan juga membahayakan kedamaian dan kebahagiaan hidup kami bersama.
Kukatakan bahwa aku mengerti, tapi aku tak bisa mengubahnya. Setiap kali Sylvia
menerima surat yang tidak diperlihatkannya padaku, aku ingin tahu dari siapa surat itu.
Bila ia tertawa dan bercakap-cakap dengan seorang laki-laki, aku jadi uring-uringan dan
waswas.
Seperti kukatakan, mula-mula Sylvia menertawakan aku. Itu dianggapnya sebagai lelucon
besar. Lalu ia mulai menganggap bahwa lelucon itu tidak begitu lucu. Aldiirnya ia sama
sekali tidak menganggapnya sebagai lelucon lagi.
175
Dan perlahan-lahan ia mulai menarik diri dariku. Bukan dalam arti fisik, tapi
pikirannya yang bersifat rahasia disembunyikannya dariku. Aku tak tahu lagi apa yang
ada dalam pikirannya. Ia tetap baik, tapi sedihnya, seolah-olah dari jarak jauh.
Sedikit demi sedikit kusadari bahwa ia tak lagi mencintaiku. Cintanya telah mati, dan
akulah yang membunuh cinta itu.
Langkah berikutnya tak terelakkan. Kudapati diriku menunggunya —ketakutan menunggunya.
Kemudian Derek Wainwright memasuki hidup kami. la memiliki segala-galanya yang tak ada
pada diriku. Ia berotak cerdas dan pandai berbicara. Ia pun tampan, dan —aku terpaksa
mengakuinya— benar-benar baik. Begitu melihatnya, kukatakan pada diriku sendiri,
^“Inilah laki-laki yang tepat untuk Sylvia….”
Ia membantahnya dengan keras. Aku tahu ia berjuang… tapi aku tidak membantunya. Aku tak
bisa. Aku terkungkung dalam keenggananku yang murung. Aku menderita. Aku merasa seperti
dalam neraka, dan aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diriku.
Aku tidak membantu Sylvia. Aku memperburuk keadaan. Pada suatu hari kumuntahkan
semuanya padanya dengan kata-kata kasar dan tuduhan tak berdasar. Aku hampir gila garagara kecemburuan dan kesedihan. Kata-kata yang kuucapkan kasar dan tidak benar, dan
saat mengatakannya pun aku tahu bahwa itu kejam dan tidak benar. Namun aku senang
mengatakannya.
176
Kuingat betapa wajah Sylvia memerah dan ia meringkuk.
Aku telah menyeretnya ke batas ketahanannya.
Aku ingat ia berkata, “Ini tak bisa berlanjut.”
Waktu aku pulang malam itu, rumah kosong — kosong. Seperti biasa, ada surat.
Dalam surat itu dikatakannya bahwa ia meninggalkanku —untuk selamanya. Ia akan pergi ke
Badgeworthy untuk sehari dua. Setelah itu ia akan mendatangi seseorang yang menyayangi
dan membutuhkannya. Aku harus menerima itu sebagai keputusannya.
Kurasa sampai sejauh itu aku tidak benar-benar mempercayai kecurigaanku sendiri.
Pernyataan hitam di atas putih yang membenarkan apa yang paling kutakuti itu membuatku
berang dan gelap mata. Kudatangi ia di Badgeworthy secepat mobilku bisa melarikanku.
Aku ingat, ia baru saja berganti pakaian dengan gaun untuk makan malam, waktu aku
menyerbu masuk. Kulihat wajahnya —terperanjat, cantik, ketakutan.
Kataku, “Tidak akan ada orang lain yang boleh memilikimu, kecuali aku. Tak seorang
pun.”
Lalu kutangkap lehernya, kucengkeram, dan kudorong tubuhnya ke belakang. Tiba-tiba
kulihat pantulan bayangan kami di cermin. Sylvia yang tercekik dan aku yang
mencekiknya, juga bekas luka di pipiku, bekas peluru yang melesat di bawah telinga
kananku.
Tidak—aku tak sampai membunuhnya. Pantulan
177
yang mendadak itu melumpuhkan diriku. Kulepaskan cengkeramanku dan kubiarkan ia lepas
ke lantai.
Lalu aku menangis sejadi-jadinya —dan ia menghiburku. Ya, ia menghiburku.
Kuceritakan segala-galanya padanya, dan dikatakannya bahwa yang dimaksudnya dengan
“seseorang yang menyayangi dan membutuhkannya” adalah kakaknya, Alan. Malam itu kami
membuka isi hati masing-masing, dan sejak saat itu, kurasa hati kami tak pernah jauh
lagi.
Terhibur rasanya menjalani hidup dengan kesadaran bahwa hanya dengan berkat Tuhan dan
sebuah cermin, aku terhindar dari perbuatan pembunuhan.
Ada satu hal yang mati malam itu —setan kecemburuan yang telah menggenggamku selama
itu.
Tapi kadang-kadang aku masih berpikir, seandainya aku tidak membuat kesalahan awal
itu— bekas luka pada pipi kiri, padahal sebenarnya pada pipi kanan —yang terbalik di
cermin… Apakah aku akan yakin bahwa laki-laki itu adalah Charles Crawley? Apakah aku
akan memberi peringatan pada Sylvia? Apakah Sylvia akan menikah dengan dia —atau
denganku?
Atau apakah masa lalu dan masa depan telah menyatu?
Aku hanya laki-laki biasa, dan aku tak bisa berpura-pura bahwa aku memahami hal-hal
itu, tapi aku memang benar-benar melihatnya, dan gara—
178
gara apa yang kulihat, aku dan Sylvia bersatu sebagaimana yang dikatakan pepatah
kuno—sampai maut memisahkan kami. Dan mungkin bahkan lebih lama….
179
Fly UP