...

Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap
Aulia, et al., Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap Terhadap Kebersihan Gigi…
Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap
Terhadap Kebersihan Gigi Tiruan Pasca Insersi
(Relation Between Knowledge Of Full Denture Maintenance
Toward Denture Hygiene Post Insertion)
Dyah Kurnia Aulia, Hestieyonini Hadnyanawati, Dewi Kristiana
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember
Jln. Kalimantan 37, Jember 68121
Email korespondensi: [email protected]
Abstract
Background: Insertion of removable partial dentures and full dentures will cause
ecological changes in the oral cavity and facilitate accumulation of plaque on the
denture. The accumulation of plaque on the denture base is affected by duration of using
dentures, type denture base material and knowledge of denture hygiene maintenance
that was obtained from dentist's instruction. Objective: The objective of this research is
to determine the relation between knowledge of full denture maintenance toward denture
hygiene post insertion. Method: The type of research is analytic observational study with
cross sectional approach. Knowledge of full denture maintenance was measured using a
questionnaire while, dentures hygiene was measured using Ausberger and Elahi
methods. The collected data were tabulated and analyzed with Spearman Rank
Correlation test. Result and Conclusion: The result is the value of p = 0.00 <α = 0.005,
yielding a correlation coefficient between knowledge of full denture maintenance toward
denture hygiene of -0.907. This coefficient value indicates that the direction of the
negative correlation. Negative correlation means that the relations are inversely
proportional, the higher level of knowledge about removable denture maintenance, then
the lower hygiene scores of full dentures.
Keywords: full denture, denture hygiene, knowledge, denture plaque.
Abstrak
Latar Belakang: Pemasangan gigi tiruan sebagian lepasan dan gigi tiruan penuh akan
menimbulkan perubahan ekologis dalam rongga mulut dan memudahkan penumpukan
plak pada gigi tiruan. Penumpukan plak pada basis gigi tiruan dipengaruhi oleh lama
pemakaian gigi tiruan, bahan dari basis gigi tiruan dan pengetahuan pemeliharaan
kebersihan gigi tiruan yang di peroleh dari instruksi dokter gigi. Tujuan penelitian:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan pemeliharaan gigi
tiruan lengkap terhadap kebersihan gigi tiruan pasca insersi. Metode: Jenis penelitian
yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross
sectional. Pengetahuan pemeliharaan gigi tiruan lengkap diukur menggunakan kuisioner
sedangkan kebersihan gigi tiruan diukur menggunakan metode Ausberger dan Elahi.
Data yang telah terkumpul selanjutnya ditabulasi dan diuji menggunakan uji Spearman
Rank Correlation. Hasil dan Simpulan: Hasil yang didapatkan adalah nilai p = 0,00 < α=
0,005, menghasilkan koefisien korelasi antara pengetahuan pemeliharaan gigi tiruan
lengkap terhadap kebersihan gigi tiruan sebesar -0,907. Angka koefisien ini menunjukkan
bahwa arah korelasi negatif. Korelasi negatif berarti hubungan yang terjadi bersifat
berbanding terbalik yaitu, semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang pemeliharaan gigi
tiruan lepasan, maka skor kebersihan gigi tiruan semakin rendah.
Kata Kunci: Gigi tiruan lengkap, kebersihan gigi tiruan, pengetahuan, plak gigi tiruan.
e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4(no. 1), Januari, 2016
41
Aulia, et al., Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap Terhadap Kebersihan Gigi…
Pendahuluan
Pemasangan gigi tiruan sebagian
lepasan dan gigi tiruan penuh akan
menimbulkan perubahan ekologis dalam rongga
mulut dan memudahkan penumpukan plak pada
gigi tiruan tersebut [1]. Penumpukan plak ini
tidak akan terjadi apabila pasien pemakai gigi
tiruan mengikuti instruksi yang diberikan tentang
pemeliharaan kebersihan gigi tiruan dengan baik
[2].
Seorang dokter gigi bertanggung jawab
untuk memberikan instruksi yang cukup setelah
pemasangan gigi tiruan sehingga akan
menambah pengetahuan pemakai gigi tiruan
tentang bagaimana cara yang tepat untuk
menjaga kebersihan gigi tiruannya [3]. Instruksi
secara lisan yang diberikan kepada pasien,
sebaiknya diperkuat dengan pemberian instruksi
tertulis [3].
Bahan dari basis gigi tiruan juga
merupakan
faktor
yang
mempengaruhi
pemeliharaan kebersihan gigi tiruan. Gigi tiruan
dengan basis resin akrilik dapat menjadi tempat
berkumpulnya stain dan plak disebabkan oleh
sifat akrilik yang porus dan menyerap air,
sehingga mudah terjadi akumulasi sisa
makanan dan minuman selanjutnya akan
berpengaruh buruk terhadap kesehatan rongga
mulut si pemakai. Permukaan gigi tiruan yang
tidak dilakukan pemolesan juga mempermudah
melekatnya plak dan merupakan tempat yang
baik untuk perkembangbiakan mikroorganisme
yang dapat menyebabkan inflamasi [4].
Hasil studi pendahuluan terdapat
perbedaan cara dan waktu membersihkan gigi
tiruan serta pemahaman kontrol periodik yang
merupakan pengetahuan pemeliharaan gigi
tiruan. Hasil studi pendahuluan juga terlihat
adanya perbedaan score kebersihan gigi tiruan
yang dimiliki responden. Hal inilah yang menarik
perhatian peneliti untuk mengetahui hubungan
pengetahuan pemeliharan gigi tiruan lengkap
terhadap kebersihan gigi tiruan pasca insersi.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah
observasional analitik dengan pendekatan cross
sectional.
Penelitian
dilakukan
dengan
mendatangi rumah responden pemakai gigi
tiruan lengkap yang melakukan insersi pada
bulan Maret dan Juni 2014 di klinik Prostodonsia
e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4(no. 1), Januari, 2016
RSGM Universitas Jember. Teknik pengambilan
sampel dilakukan secara total sampling, yaitu
sampel yang ada pada jumlah populasi diambil
seluruhnya. Jumlah sampel pada penelitian ini
sebanyak 15 responden. Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah pengetahuan pemeliharaan
gigi tiruan lengkap yang diukur menggunakan
kuisioner. Sedangkan, variabel terikat dalam
penelitian ini adalah kebersihan gigi tiruan yang
diukur metode Ausberger dan Elahi.
Data mengenai karakteristik responden
yang terdiri dari; umur, jenis kelamin dan
pendidikan terakhir disajikan dalam bentuk
diagram batang. Data dari kuesioner dan hasil
pemeriksaan gigi tiruan lengkap ditabulasi dan
diuji dengan menggunakan uji Spearman Rank
Correlation untuk mengetahui ada atau tidak
hubungan pengetahuan pemeliharaan gigi tiruan
lengkap terhadap kebersihan gigi tiruan pasca
insersi.
Hasil Penelitian
Penelitian
tentang
hubungan
pengetahuan pemeliharaan gigi tiruan lengkap
terhadap kebersihan gigi tiruan pasca insersi
dilakukan pada bulan September-Oktober 2014
di rumah pasien yang pernah dirawat oleh
mahasiswa/mahasiswi
co-ass
di
klinik
Prostodonsia RSGM Universitas Jember dan
memakai gigi tiruan lengkap sejak bulan Maret
dan Juni 2014. Dari hasil penelitian didapatkan
jumlah responden sebanyak 15 orang. Hasil
observasi jumlah responden/subjek penelitian
dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin,
umur, pendidikan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Distribusi
Responden
Penelitian
Berdasarkan Jenis Kelamin, Umur dan
Pendidikan Terakhir.
Responden Penlitian
Frekuensi %
Jenis Kelamin
Laki-laki
12
80
Perempuan
3
20
Umur
46-55 tahun
4
26,7
56-65 tahun
8
53,3
66-75 tahun
3
20
Pendidikan
SD/MI
10
66,6
SMP/MTS
1
6,7
SMA/SMK/MAK
3
20
Perguruan
1
6,7
Tinggi/S1
42
Aulia, et al., Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap Terhadap Kebersihan Gigi…
Tabel
1.
menunjukkan
distribusi
responden dengan jenis kelamin lebih banyak
daripada responden perempuan yaitu sebanyak
12 orang (80%). Pada Tabel umur responden
dikelompokkan menjadi 46-55, 56-65 dan 66-75.
Pengelompokkan ini didasarkan oleh kategori
usia menurut Depkes RI yaitu masa lansia awal
46-55, masa lansia akhir 56-65 dan masa
manula 65 tahun ke atas. Distribusi responden
berdasarkan kelompok umur menurut Tabel di
atas jumlah responden yang paling banayk
terdapat pada kelompok umur adalah sebanyak
56-65 tahun yaitu sebanyak (53,3%). Pada
kelompok tingkat pendidikan terakhir responden
yang paling banyak ialah SD/MI yaitu 10 orang
(66,6%).
Tabel 2.
Distribusi
Frekuensi
Berdasarkan
Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan
Lengkap.
Pengetahuan
Jumlah
Presentase (%)
Baik
Cukup
Kurang
Total
8
7
15
53.3
46.7
100
Gambar 2.
Diagram
Distribusi
Pengetahuan
Menurut
Umur.
Frekuensi
Kelompok
Berdasarkan Gambar 2 responden
yang memiliki pengetahuan baik pada kelompok
umur 46-55 tahun sebanyak 2 orang (13,3%),
kelompok umur 56-65 tahun sebanyak 5 orang
(33,3%) dan pada kelompok umur 66-75 tahun
sebanyak 1 orang (6,7%). Sedangkan,
responden yang memiliki pengetahuan cukup
pada kelompok umur 46-55 tahun sebanyak 2
orang (13,3%), pada kelompok umur 56-65
tahun sebanyak 3 orang (20%) dan pada
kelompok umur 66-75 tahun sebanyak 2 orang
(13,3%).
Hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa
responden paling banyak memiliki tingkat
pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 8 orang
(53,3%). sedangkan, responden yang memiliki
pengetahuan kurang tidak ditemukan.
Gambar 3.
Gambar 1.
Diagram
Distribusi
Frekuensi
Pengetahuan Menurut Jenis Kelamin.
Berdasarkan Gambar 1 diketahui
bahwa responden laki-laki yang memiliki
kategori pengetahuan baik sebanyak 7 orang
(46,7%) dan perempuan sebanyak 1 orang
(6,7%). Sedangkan, responden laki laki yang
memiliki pengetahuan cukup sebanyak 5 orang
(33,3%) dan responden perempuan sebanyak 2
orang (13,3%).
e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4(no. 1), Januari, 2016
Diagram
Distribusi
Pengetahuan
Menurut
Pendidikan.
Frekuensi
Tingkat
Berdasarkan Gambar 3 responden
yang memiliki pengetahuan baik menurut
tingkat pendidikan terakhir SD/MI sebanyak 5
orang (33,3%), pendidikan terakhir SMP/MTS
sebanyak 1 orang (6,7%), pendidikan terakhir
SMA/SMK/MAK sebanyak 1 orang dan
pendidikan terakhir S1 sebanyak 1 orang
(6,7%). Sedangkan responden yang memiliki
pengetahuan cukup dengan pendidikan terakhir
SD/MI sebanyak 5 orang (33,3%) dan
pendidikan terakhir SMA/SMK/MAK sebanyak 2
orang (12,3%).
43
Aulia, et al., Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap Terhadap Kebersihan Gigi…
Tabel 3.
Hasil Skor Kebersihan Gigi Tiruan
Lengkap dan Kategori Pengetahuan
Pemeliharaan Gigi Tiruan Lepasan
Responden.
Skor Kebersihan
Gigi Tiruan
Lengkap
Kategori Pengetahuan
Baik
Skor 0
2
Skor 1
6
Cukup
Skor 2
4
Skor 3
3
Jumlah
Responden
8
7
Berdasarkan Tabel 3 diperoleh hasil
dari 15 responden yang mendapatkan skor 0
kebersihan gigi tiruan sebanyak 2 orang
(13,3%), responden yang mendapat skor 1
kebersihan gigi tiruan sebanyak 6 orang (40%),
responden yang mendapat skor 2 sebanyak 4
orang (26,7%) dan responden yang mendapat
skor 3 sebanyak 3 orang (20%). Tabel 3 juga
menunjukkan responden yang mendapat skor
kebersihan gigi tiruan 0 dan skor 1 masuk ke
dalam kategori pengetahuan baik. Sedangkan,
responden yang mendapatkan skor kebersihan
gigi tiruan 2 dan 3 masuk kedalam kategori
pengetahuan cukup.
Gambar 4.
skor 3 untuk responden laki-laki sebanyak 1
orang (6,7%) dan responden perempuan
sebanyak 2 orang (13,3%).
Gambar 5.
Diagram Hasil Skor Kebersihan Gigi
Tiruan Menurut Kelompok Umur.
Berdasarkan
Gambar
5
pada
kelompok umur 56-65 responden yang
mendapatkan skor 0 sebanyak 2 orang (13,3%),
pada kelompok umur 45-55 dan 66-75 tahun
responden yang mendapatkan skor 0 tidak
ditemukan. Responden yang mendapatkan skor
1 pada kelompok umur 46-55 tahun sebanyak 2
orang (13,3%), pada kelompok umur 56-65
tahun sebanyak 3 orang (20%) dan pada
kelompok umur 66-75 tahun sebanyak 1 orang
(6,7%). Untuk responden yang mendapatkan
skor 2 pada kelompok umur 46-55 tahun
sebanyak 1 orang (6,7%), kelompok umur 56-65
tahun sebanyak 2 orang dan kelompok umur 6675 tahun sebanyak 1 orang (6,7%). Sedangkan,
pada kelompok umur 46-55, 56-65 dan 66-75
responden yang mendapatkan skor 3, tiap
kelompok umur sebanyak 1 orang (6,7%).
Diagram Hasil Skor Kebersihan Gigi
Tiruan Menurut Jenis Kelamin.
Berdasarkan Gambar 4 responden lakilaki yang memiliki skor 0 kebersihan gigi tiruan
engkap sebanyak 2 orang (13,3%) dan
responden perempuan yang memiliki skor 0
tidak ditemukan. Responden laki-laki yang
memiliki skor 1 sebanyak 5 orang (33,3%) dan
responden perempuan sebanyak 1 orang
(6,7%). Untuk responden laki-laki yang memiliki
skor 2 sebanyak 4 orang (26,7%). Sedangkan,
e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4(no. 1), Januari, 2016
Gambar 6.
Diagram Hasil Skor Kebersihan Gigi
Tiruan Menurut Tingkat Pendidikan.
Berdasarkan Gambar 6 responden
yang mendapatkan skor 0 menurut tingkat
pendidikan terakhir SD/MI sebanyak 1 orang
(6,7%), pendidikan terakhir SMP/MTS dan
44
Aulia, et al., Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap Terhadap Kebersihan Gigi…
perguruan tinggi/S1 skor 0 tidak ditemukan.
Sedangkan, SMA/SMK/MAK skor 0 ditemukan
sebanyak 1 orang (6,7%). Responden yang
mendapatkan skor 1 menurut tingkat pendidikan
terakhir SD/MI sebanyak 4 orang (26,7%),
pendidikan terakhir SMP/MTS dan perguruan
tinggi/S1 masing-masing sebanyak 1 orang
(6,7%). Responden yang memiliki skor 2 dengan
pendidikan terakhir SD/MI dan SMA/SMK/MAK
masing-masing sebanyak 2 orang (13,3%).
Responden yang mendapatkan skor 3 menurut
tingkat pendidikan terakhir SD/MI sebanyak 3
orang (20%), sedangkan skor 3 menurut tingkat
pendidikan terakhir SMP/MTS, SMA/SMK/MAK
dan perguruan tinggi/S1 tidak ditemukan.
Pada hasil uji Spearman Rank
Correlation (P = 0,00 < α =0,005), menghasilkan
koefisien
korelasi
antara
pengetahuan
pemeliharaan gigi tiruan terhadap kebersihan
gigi tiruan sebesar -0,907. Angka koefisien ini
menunjukkan bahwa arah korelasi negatif.
Korelasi negatif berarti hubungan yang terjadi
bersifat berbanding terbalik yang berarti bahwa
semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang
pemeliharaan gigi tiruan, maka skor kebersihan
gigi tiruan semakin rendah.
Pembahasan
Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan
bahwa hasil penelitian terhadap 15 responden
bahwa sebanyak 7 orang (46,7%) memiliki
pengetahuan baik, 8 orang (53,3%) memiliki
pengetahuan cukup dan tidak ditemukan
responden yang memiliki pengetahuan kurang.
Data ini menunjukkan bahwa presentase antara
responden yang memiliki pengetahuan baik dan
cukup mempunyai selisih yang sedikit.
Pengetahuan yang didapatkan oleh responden
berasal dari instruksi lisan oleh operator.
Instruksi yang diberikan oleh operator secara
lisan sering dilupakan oleh responden, hal ini
terlihat
dari
responden
yang
memiliki
pengetahuan cukup. Instruksi secara lisan yang
diberikan kepada pasien kurang efektif oleh
karena dapat disalah artikan dan dilupakan.
Instruksi lisan sebaiknya diperkuat dengan
pemberian instruksi tertulis [5].
Gambar 1 menunjukkan hasil distribusi
frekuensi pengetahuan responden menurut jenis
kelamin. Diketahui bahwa responden laki-laki
yang memiliki kategori pengetahuan baik
sebanyak 7 orang (46,7%) dan perempuan
sebanyak 1 orang (6,7%). Sedangkan,
responden laki laki yang memiliki pengetahuan
cukup sebanyak 5 orang (33,3%) dan
e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4(no. 1), Januari, 2016
responden perempuan sebanyak 2 orang
(13,3%). Hasil ini menunjukkan responden
dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak
memiliki pengetahuan baik daripada responden
perempuan tetapi hal ini tidak bisa dijadikan
perbandingan oleh karena jumlah responden
dengan jenis kelamin perempuan lebih sedikit
yaitu hanya berjumlah 3 orang. Jenis kelamin
juga bukan faktor yang mempengaruhi
pengetahuan itu sendiri. Beberapa faktor yang
mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan,
informasi media masa, sosial budaya dan
ekonomi, lingkungan, pengalaman, usia [6].
Gambar 2 menunjukkan distribusi
frekuensi responden berdasarkan pengetahuan
menurut kelompok umur. Responden yang
memiliki pengetahuan baik pada kelompok umur
46-55 tahun sebanyak 2 orang (13,3%),
kelompok umur 56-65 tahun sebanyak 5 orang
(33,3%) dan pada kelompok umur 66-75 tahun
sebanyak 1 orang (6,7%). Sedangkan,
responden yang memiliki pengetahuan cukup
pada kelompok umur 46-55 tahun sebanyak 2
orang (13,3%), pada kelompok umur 56-65
tahun sebanyak 3 orang (20%) dan pada
kelompok umur 66-75 tahun sebanyak 2 orang
(13,3%). Umur merupakan faktor yang
mempengaruhi
pengetahuan,
Umur
berpengaruh terhadap daya tangkap dan pola
pikir seseorang [6]. Pada usia lanjut
pengetahuan yang baru diperoleh cenderung
hanya sebagai ingatan jangka pendek. Hal ini
terlihat dari responden yang lupa tentang
intruksi yang diberikan oleh operator dan tidak
melakukan
instruksi
cara
memelihara
kebersihan gigi tiruan lengkapnya [6].
Berdasarkan Gambar 3 responden yang
memiliki pengetahuan baik menurut tingkat
pendidikan terakhir SD/MI sebanyak 5 orang
(33,3%),
pendidikan
terakhir
SMP/MTS
sebanyak 1 orang (6,7%), pendidikan terakhir
SMA/SMK/MAK sebanyak 1 orang dan
pendidikan terakhir S1 sebanyak 1 orang
(6,7%). Sedangkan responden yang memiliki
pengetahuan cukup dengan pendidikan terakhir
SD/MI sebanyak 5 orang (33,3%) dan
pendidikan terakhir SMA/SMK/MAK sebanyak 2
orang (12,3%). Hasil ini berbeda dengan teori
yang sudah ada yaitu seseorang dengan
pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan
semakin luas pula pengetahuannya [6]. Pada
hasil pengetahuan baik lebih banyak diperoleh
oleh responden dengan tingkat pendidikan
terakhir SD/MI hal ini dikarenakan dari seluruh
reponden yang ada jumlah tingkat pendidikan
terakhir SD/MI paling banyak. Hasilnya akan
45
Aulia, et al., Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap Terhadap Kebersihan Gigi…
berbeda apabila didapatkan responden dengan
jumlah yang sama tiap tingkat pendidikan
terakhir.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar,
makin tinggi pendidikan seseorang makin
mudah orang tersebut untuk menerima
informasi. Dengan pendidikan tinggi maka
seseorang akan cenderung untuk mendapatkan
informasi, baik dari orang lain maupun dari
media massa. Semakin banyak informasi yang
masuk semakin banyak pula pengetahuan yang
didapat tentang kesehatan. Namun perlu
ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan
rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan
rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak
mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan
tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non
formal [6].
Tabel 3 menunjukkan hasil pengukuran
skor kebersihan gigi tiruan dari 15 responden.
Responden yang memiliki skor kebersihan gigi
tiruan 0 sebanyak 2 orang (13,3%), skor 1
sebanyak 6 orang (40%), skor 2 sebanyak 4
orang (26,7%), skor 3 sebanyak 3 orang (20%)
dan tidak ditemukan responden dengan skor 4.
Pada Tabel 3 menunjukkan responden yang
mendapat skor kebersihan gigi tiruan 0 dan skor
1 masuk ke dalam kategori pengetahuan baik.
Sedangkan, responden yang mendapatkan skor
kebersihan gigi tiruan 2 dan 3 masuk kedalam
kategori
pengetahuan
cukup.
Kebiasaan
responden memelihara kebersihan gigi tiruan,
frekuensi, waktu, dan cara yang digunakan
untuk membersihkan gigi tiruan bervariasi pada
setiap individu oleh karena itu hasil skor
kebersihan gigi tiruan responden terdapat
perbedaan.
Beberapa faktor yang berhubungan
dengan kondisi gigi tiruan yang buruk adalah
bertambahnya usia, pasien berjenis kelamin
laki-laki, ras, lingkungan tempat tinggal,
terbatasnya interaksi dan dukungan sosial,
kesehatan umum yang buruk, serta tingkat
pendidikan dan penghasilan yang rendah [7].
Berdasarkan Gambar 4 responden lakilaki yang memiliki skor 0 kebersihan gigi tiruan
lengkap sebanyak 2 orang (13,3%) dan
responden perempuan yang memiliki skor 0
tidak ditemukan. Responden laki-laki yang
memiliki skor 1 sebanyak 5 orang (33,3%) dan
responden perempuan sebanyak 1 orang
(6,7%). Untuk responden laki-laki yang memiliki
skor 2 sebanyak 4 orang (26,7%). Sedangkan,
skor 3 untuk responden laki-laki sebanyak 1
orang (6,7%) dan responden perempuan
sebanyak 2 orang (13,3%). Hasil ini
e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4(no. 1), Januari, 2016
menunjukkan responden laki-laki memiliki skor
kebersihan gigi tiruan yang lebih baik daripada
perempuan. Hal ini dikarenakan responden lakilaki lebih banyak daripada perempuan sehingga
tidak bisa dilihat hasil yang sama dengan teori
yang sudah ada. Terdapat teori yang
menyebutkan bahwa gigi tiruan yang dipakai
pasien perempuan lebih bersih daripada pasien
laki-laki oleh karena pasien perempuan lebih
mementingkan estetis dan cenderung memiliki
kesehatan rongga mulut yang lebih baik [8].
Berdasarkan Gambar 5 pada kelompok
umur 56-65 responden yang mendapatkan skor
0 sebanyak 2 orang (13,3%), pada kelompok
umur 46-55 dan 66-75 tahun responden yang
mendapatkan
skor
0
tidak
ditemukan.
Responden yang mendapatkan skor 1 pada
kelompok umur 46-55 tahun sebanyak 2 orang
(13,3%), pada kelompok umur 56-65 tahun
sebanyak 3 orang (20%) dan pada kelompok
umur 66-75 tahun sebanyak 1 orang (6,7%).
Untuk responden yang mendapatkan skor 2
pada kelompok umur 45-55 tahun sebanyak 1
orang (6,7%), kelompok umur 56-65 tahun
sebanyak 2 orang dan kelompok umur 66-75
tahun sebanyak 1 orang (6,7%). Sedangkan,
pada kelompok umur 46-55, 56-65 dan 66-75
responden yang mendapatkan skor 3, tiap
kelompok umur sebanyak 1 orang (6,7%). Hasil
ini menunjukkan skor kebersihan gigi tiruan
paling baik ada pada kelompok umur 56-65
tahun. Untuk skor kebersihan gigi tiruan 1,2 dan
3 pada tiap kelompok umur terlihat perbedaan
yang tidak signifikan.
Berdasarkan Gambar 6 responden yang
mendapatkan skor 0 menurut tingkat pendidikan
terakhir SD/MI sebanyak 1 orang (6,7%),
pendidikan terakhir SMP/MTS dan perguruan
tinggi/S1 skor 0 tidak ditemukan. Sedangkan,
SMA/SMK/MAK skor 0 ditemukan sebanyak 1
orang (6,7%). Responden yang mendapatkan
skor 1 menurut tingkat pendidikan terakhir
SD/MI sebanyak 4 orang (26,7%), pendidikan
terakhir SMP/MTS dan perguruan tinggi/S1
masing-masing sebanyak 1 orang (6,7%).
Responden yang memiliki skor 2 dengan
pendidikan terakhir SD/MI dan SMA/SMK/MAK
masing-masing sebanyak 2 orang (13,3%).
Responden yang mendapatkan skor 3 menurut
tingkat pendidikan terakhir SD/MI sebanyak 3
orang (20%), sedangkan skor 3 menurut tingkat
pendidikan terakhir SMP/MTS, SMA/SMK/MAK
dan perguruan tinggi/S1 tidak ditemukan. Hasil
ini menunjukkan skor 0 kebersihan gigi tiruan
terdapat pada responden dengan tingkat
pendidikan
terakhir
SD/MI
dan
tingkat
46
Aulia, et al., Hubungan Pengetahuan Pemeliharaan Gigi Tiruan Lengkap Terhadap Kebersihan Gigi…
SMA/SMK/MAK. Hasil ini berbeda dengan teori
yang ada sebelumnya yang menyatakan bahwa
tingkat pendidikan memiliki hubungan yang
signifikan dengan kebersihan gigitiruan [8].
Perbedaan ini timbul akibat jumlah responden
berdasarkan tingkat pendidikan terakhir SD/MI
lebih banyak dari tingkat pendidikan SMP/MTS,
SMA/SMK/MAK dan perguruan tinggi/S1.
Apabila
jumlah
responden
tiap
tingkat
peendidikan terakhir sama, maka hasil yang
didapatkan pun bisa sesuai dengan teori.
Hasil uji Spearman Rank Correlation (P =
0,00 < α =0,005), menghasilkan koefisien
korelasi antara pengetahuan pemeliharaan gigi
tiruan terhadap kebersihan gigi tiruan sebesar
-0,907. Angka koefisien ini menunjukkan bahwa
arah korelasi negatif. Korelasi negatif berarti
hubungan yang terjadi bersifat berbanding
terbalik yang berarti bahwa semakin tinggi
tingkat pengetahuan tentang pemeliharaan gigi
tiruan, maka skor kebersihan gigi tiruan semakin
rendah. Skor kebersihan gigi tiruan dengan
metode Ausberger dan Elahi skor 0 merupakan
skor yang paling baik karena menunjukkan tidak
adanya plak pada gigi tiruan. Oleh karena itu
semakin skor kebersihan gigi tiruan rendah
maka
semakin
baik.
Berbeda
dengan
pengetahuan, kategori dengan pengetahuan
baik apabila responden mendapatkan nilai
maksimal dari kuisioner. Untuk pengetahuan
pemeliharaan gigi tiruan yang diukur melalui
kuisioner didapatkan hasil untuk pengetahuan
gigi tiruan baik skor kebersihan gigi tiruan yang
diperoleh responden yaitu skor 0 dan skor 1,
responden yang masuk dalam kategori
pengetahuan cukup adalah responden yang
memiliki skor kebersihan gigi tiruan 2 dan 3.
Saran dari penelitian ini antara lain;
Meningkatkan pengetahuan pemeliharaan gigi
tiruan kepada pemakai gigi tiruan lengkap agar
kebersihan gigi tiruan terjaga. Penelitian ini juga
diharapkan dapat meningkatkan peran dokter
gigi dalam memberikan instruksi lisan dan
tertulis tentang cara menjaga kebersihan gigi
tiruan yang efektif kepada pasien yang
menggunakan gigi tiruan.
Daftar Pustaka
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut: ada
hubungan antara pengetahuan pemeliharaan
gigi tiruan lengkap terhadap kebersihan gigi
tiruan pasca insersi. Hubungan yang terjadi
bersifat berbanding terbalik yaitu semakin tinggi
tingkat pengetahuan pemeliharaan gigi tiruan
lengkap, maka skor kebersihan gigi tiruan
semakin rendah.
e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4(no. 1), Januari, 2016
[8]
Elteen KH, Hamad MA, Salah SA.
Prevalence of oral Candida infections in
diabetic patients. Bahrain Medical Bulletin;
2006. 28 (1): 1-8.
Haryanto AG. Buku ajar ilmu geligi tiruan
sebagian lepasan. Jakarta: Hipokrates.
1991.
Dikbas I, Koksal T, Calikkocaoglu S..
Investigation of the cleanliness of dentures
in a university hospital. Int J Pros; 2006.
19(3).
Silva BCM, de Sousa AA, de Magalhaes
MA, Andre M, Brito E Dias R. Candida
albicans in patients with oronasal
communication and obturator prostheses.
Braz Dent J; 2009. 20(4): 336-40.
Grant AA, Johnson W. An introduction to
removable denture prosthetics. London:
Churchill Livingstone. 1983: 153.
Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan dan
Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.
2007.
Mundt T, Polzer I, Samietz S, Grabe HJ,
Messerschmidt H, Doren M, Schwarz S,
Kocher T, Biffar R, Schwahn C.
Socioeconomic indicators and prosthetic
replacement of missing teeth in a
working-age-population – Results of the
study in Pomerania (SHIP). Community
Dent Oral Epidemiol; 2009. 37: 104-15.
Baran I, Nalcaci R. Self-reported denture
hygiene habits and oral tissue conditions
of complete denture wearers. Arch Ger;
2009. 49(2): 237-41.
47
Fly UP