...

pengetahuan, sikap dan kebutuhan pengunjung apotek terhadap

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

pengetahuan, sikap dan kebutuhan pengunjung apotek terhadap
PENGETAHUAN, SIKAP DAN KEBUTUHAN PENGUNJUNG APOTEK
TERHADAP INFORMASI OBAT DI KOTA DEPOK
Nur Alam Abdullah,2 Retnosari Andrajati3, Sudibyo Supardi1
Abstract
Background: One of the obligations of pharmacist at a dispensary was to give drug information to the patient. The aims
of this study were to describe the knowledge, attitude and need of dispensary visitor to the drug information in Depok City.
This research uses cross sectional design with descriptive approach. The research samples are 150 dispensary visitors in
Depok City during May–July 2008. Methods: The data collected using the questionnaire which has been reliability tested.
The data were analyzed by frequency distribution and Chi Square Test. Results and Conclusions: The Results of this
study show that: 1) Most of the dispensary visitors are women, age up to 40 years old, academic graduated, employee with
income Rp 3–5 millions per month, and buying prescription. 2) Most of the dispensary visitor have high knowledge to the
drug information, except in the case of knowledge about duty of pharmacist, who is to give drug information, logo of generic
drug and way of giving drug information. 3) Most of the dispensary visitor have positive attitude to the drug information,
except in the case of consultation room seen in front of the counter, pharmacist’s fee from the drug information service, and
the drug information required a computer. 4) Most of the dispensary visitor need the drug information. 5) The knowledge
of dispensary visitor does not correlate to the drug information requirement, but the attitude of dispensary visitor correlate
significantly to the drug information requirement
Key words: dispensary, pharmacist, behavioral of visitor dispensary, drug information
Abstrak
Salah satu kewajiban apoteker di apotek adalah memberikan informasi obat kepada pasien. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui deskripsi pengetahuan, sikap dan kebutuhan pengunjung apotek terhadap pelayanan informasi obat,
dan mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap dan kebutuhan pengunjung apotek terhadap informasi obat. Desain
penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan pendekatan deskriptif. Sampel penelitian adalah
150 pengunjung apotek milik apoteker di Kota Depok selama bulan Mei–Juli 2008. Sampling dilakukan dengan metode
consecutive sampling, di mana setiap subjek yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian. Alat pengumpul
data adalah kuesioner angket yang telah diuji coba reliabilitasnya. Data yang diperoleh dari kuesioner angket diolah dengan
komputer dan analisis data menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
1) Persentase terbesar pengunjung apotek adalah perempuan, berumur sampai dengan 40 tahun, pendidikan tamat
akademi/perguruan tinggi, bekerja, penghasilan antara 3–5 juta per bulan, dan tujuan ke apotek untuk menebus resep.
2) Persentase terbesar pengunjung apotek mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang informasi obat, kecuali dalam hal
pengetahuan tentang tugas apoteker di apotek, orang yang berhak memberikan informasi obat di apotek, pengetahuan
tentang logo obat keras dan cara memberikan informasi obat. 3) Persentase terbesar pengunjung apotek mempunyai sikap
yang positif terhadap informasi obat, kecuali dalam hal ruang konsultasi obat terlihat di depan counter, apoteker berhak
memperoleh imbalan terhadap jasa informasi obat, dan untuk informasi obat dibutuhkan komputer on-line. 4) Persentase
terbesar pengunjung apotek membutuhkan informasi obat, kecuali dalam hal tersedianya meja dan kursi yang nyaman,
tersedianya materi, brosur dan leaflet, dan pelaksanaan Informasi dilakukan apoteker. 5) Hubungan antara pengetahuan
dan kebutuhan pengunjung apotek terhadap informasi obat secara statistik tidak bermakna, tetapi hubungan antara sikap
dan kebutuhan pengujung apotek terhadap informasi obat secara statistik bermakna.
Kata kunci: apotek, apoteker, perilaku pengunjung apotek, informasi obat
Naskah Masuk: 1 September 2010, Review 1: 3 September 2010, Review 2: 3 September 2010, Naskah layak terbit: 17 September 2010
1�����������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan�����������������
, Jl. Percetakan
Negara 23A Jakarta, e-mail: [email protected]
Mahasiswa Pascasarjana Departemen Farmasi FMIPA-UI
3 Dosen Pascasarjana Departemen farmasi FMIPA-UI
2
344
Pengetahuan, Sikap dan Kebutuhan Pengunjung Apotek (Nur Alam Abdullah, Retnosari Andrajati, Sudibyo Supardi)
PENDAHULUAN
Di dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian disebutkan bahwa Pelayanan
kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan
dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai
hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan
pasien. Fasilitas pelayanan kefarmasian adalah
sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan
pelayanan kefarmasian, antara lain adalah apotek.
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat
dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Apoteker
adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai
Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan
apoteker. Dalam menjalankan praktik kefarmasian
pada fasilitas pelayanan kefarmasian, apoteker harus
menerapkan standar pelayanan kefarmasian.
Pelayanan kefarmasian di apotek yang semula
hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai
komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut,
apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan dan perilaku agar dapat melaksanakan
interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi
tersebut antara lain adalah pemberian informasi,
monitoring penggunaan obat agar sesuai harapan,
dan pendokumentasian dengan baik. (Kepmenkes
No. 1027/Menkes/SK/IX/2004).
Tujuan ditetapkannya standar pelayanan
kefarmasian di apotek adalah sebagai pedoman
praktik apoteker dalam menjalankan profesi,
untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang
tidak professional, dan melindungi profesi dalam
menjalankan praktik kefarmasian. Standar pelayanan
kefarmasian mencakup pengelolaan sumber daya dan
pelayanan pasien.
Pengelolaan sumber daya meliputi (Kepmenkes
No. 1027/Menkes/SK/IX/2004):
1. Sumber daya manusia menurut ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku, apotek
harus dikelola oleh seorang apoteker. Apoteker
harus memiliki kemampuan menyediakan dan
memberikan pelayanan yang baik, mengambil
keputusan yang tepat, mampu berkomunikasi antar
profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam
situasi multidisipliner, kemampuan mengelola
SDM secara efektif.
2. Prasarana lokasi apotek harus dengan mudah
dikenali dan diakses oleh anggota masyarakat.
Pada halaman terdapat papan petunjuk yang
dengan jelas tertulis kata apotek. Masyarakat harus
diberi akses secara langsung untuk memperoleh
informasi dan konseling dari apoteker. Sarana
apotek harus memiliki ruang tunggu yang nyaman
bagi pasien, tempat untuk mendisplai informasi
bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi
informasi, ruangan tertutup untuk konseling bagi
pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta
lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien,
ruang peracikan obat, dan tempat pencucian
alat.
3. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat,
obat tradisional dan kosmetika. Pengelolaan
persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan
lainnya dilakukan sesuai ketentuan perundangan
yang berlaku meliputi: perencanaan, pengadaan,
penyimpanan dan pelayanan. Pengeluaran obat
memakai sistem FIFO (first in first out) dan FEFO
(first expire first out).
4. Administrasi pelayanan kefarmasian di apotek
meliputi administrasi umum untuk pencatatan,
pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika
dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, serta administrasi pengarsipan
resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien,
pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat.
Pelayanan pasien meliputi (Kepmenkes
No. 1027/Menkes/SK/IX/2004):
1. Pelayanan resep mencakup skrining administrative
resep, yaitu nama, SIP dan alamat dokter, tanggal
penulisan resep, tanda tangan/paraf dokter
penulis resep, nama, alamat, umur, jenis kelamin
dan berat badan pasien, cara pemakaian dan
informasi lainnya. Skrining kesesuaian farmasetik
meliputi bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,
inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.
Pertimbangan klinis meliputi adanya alergi, efek
samping, interaksi, kesesuaian dosis, durasi,
jumlah obat dan lain-lain. Jika ada keraguan
terhadap resep hendaknya dikonsultasikan
kepada dokter penulis resep dengan memberikan
pertimbangan dan alternatif seperlunya.
345
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 13 No. 4 Oktober 2010: 344–352
Peracikan obat merupakan kegiatan menyiapkan
menimbang, mencampur, mengemas dan
memberikan etiket pada wadah. Dalam
melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu
prosedur tetap dengan memperhatikan dosis,
jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang
benar. Etiket harus jelas dan dapat dibaca. Obat
yang diserahkan hendaknya dikemas dengan
rapi dalam kemasan yang cocok sehingga
terjaga kualitasnya. Sebelum obat diserahkan
pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir
terhadap kesesuaian antara obat dengan resep.
Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai
pemberian informasi obat dan konseling kepada
pasien. Apoteker harus memberikan informasi yang
benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak
bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat
pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara
pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka
waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan
minuman yang harus dihindari selama terapi.
2. Konseling adalah suatu proses komunikasi dua
arah yang sistematik antara apoteker dan pasien
untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah
yang berkaitan dengan obat dan pengobatan.
Apoteker harus memberikan konseling, mengenai
sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan
kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki
kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan
terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau
penggunaan obat yang salah. Untuk penderita
penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes,
TBC, asma dan penyakit kronis lainnya, apoteker
harus memberikan konseling secara berkelanjutan.
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker
harus melaksanakan pemantauan penggunaan
obat, terutama untuk pasien tertentu seperti
kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit
kronis lainnya.
3. Promosi dan Edukasi dalam rangka pemberdayaan
masyarakat. Apoteker harus ikut membantu
diseminasi informasi, antara lain dengan
penyebaran leaflet, brosur, poster, penyuluhan,
dan lain lainnya.
4. Pelayanan Residensial (home care) adalah
pelayanan apoteker sebagai care giver dalam
pelayanan kefarmasian di rumah-rumah
khususnya untuk kelompok lansia dan pasien
dengan pengobatan terapi kronis lainnya.
346
Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat
melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat
kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok
lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit
kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus
membuat catatan berupa catatan pengobatan
(medication record).
Studi tentang intervensi oleh apoteker melalui
informasi lisan dan tertulis pada permulaan terapi
obat menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam
kepatuhan pengunjung apotek. Adapun tujuan dari
pemberian informasi kepada pengunjung apotek
adalah mengoptimalkan hasil terapi obat dan tujuan
medis dari terapi obat dapat tercapai (Siregar,
2006).
Pelayanan informasi bagi pengunjung apotek
merupakan salah satu bagian dari pelayanan farmasi,
karena baik tenaga farmasi maupun pengunjung
apotek memperoleh keuntungan dari kegiatan
informasi. (Allen, 1995). Pelayanan informasi
mengenai obat sebagai salah satu metode edukasi
pengobatan secara tatap muka merupakan salah satu
bentuk pelayanan kefarmasian. Hal ini adalah usaha
untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan
penobatan bagi pengunjung apotek.
Ada 30–50% kasus perilaku ketidakpatuhan
pengunjung apotek yang menerima obat. Penyebab
kegagalan obat yang demikian bersifat multifokus,
antara lain adalah karena kurangnya edukasi, berkaitan
dengan terapi sampai pada hambatan finansial
yang menghalangi pembelian obat. Pada penelitian
Arhayani (2007) ditemukan bahwa hanya 2,81%
pengunjung apotek menjadikan apoteker sebagai
sumber informasi obat, dan 6,17% pengunjung apotek
mendapatkan informasi obat dari apoteker.
Pengertian perilaku adalah keadaan jiwa
(berpikir, bersikap, bertindak, dan sebagainya) untuk
memberikan respons terhadap situasi di luar dirinya.
Operasional perilaku dikelompokkan menjadi tiga
bentuk (a) pengetahuan sebagai suatu hasil dari
proses belajar atau pengalaman, (b) sikap sebagai
kecenderungan jiwa atau perasaan yang relatif tetap
terhadap kategori tertentu dari objek atau situasi,
dan (c) tindakan sebagai perbuatan yang dilakukan
terhadap rangsangan dari luar dirinya. Perilaku dalam
bentuk pengetahuan dan sikap masih bersifat tertutup
(covert behavior), sedangkan perilaku dalam bentuk
tindakan bersifat terbuka (overt behavior). Tindakan
Pengetahuan, Sikap dan Kebutuhan Pengunjung Apotek (Nur Alam Abdullah, Retnosari Andrajati, Sudibyo Supardi)
mulai terbentuk dari pengetahuan, saat seseorang
mengetahui adanya rangsangan. Kemudian, akan
timbul tanggapan batin dalam bentuk sikap terhadap
rangsangan yang diketahuinya tersebut. Setelah
rangsangan tadi diketahui dan disadari sepenuhnya,
akan timbul tindakan terhadap rangsangan tersebut
(Notoatmodjo, 1991).
Pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap
informasi obat merupakan salah satu perilaku
kesehatan. Menurut Green (l980), setiap perilaku
kesehatan dapat dilihat sebagai fungsi pengaruh kolektif
dari (a) faktor predisposisi antara lain pengetahuan,
sikap, dan persepsi, (b) faktor pemungkin antara lain
sarana dan prasarana, dan (c) faktor penguat antara
lain dukungan sosial dan peraturan perundangan.
Kebutuhan informasi obat erat kaitannya dengan
pengetahuan dan sikap pengunjung apotek.
Pertanyaan penelitian yang timbul adalah
bagaimana deskripsi pengetahuan, sikap dan
kebutuhan pengunjung apotek terhadap pelayanan
informasi obat di apotek? dan bagaimana hubungan
antara pengetahuan, sikap dan kebutuhan
pengunjung apotek terhadap pelayanan informasi
obat oleh apoteker di apotek? Tujuan penelitian
adalah mengetahui deskripsi pengetahuan, sikap dan
kebutuhan pengunjung apotek terhadap pelayanan
informasi obat di apotek, dan mengetahui hubungan
antara pengetahuan, sikap dan kebutuhan pengunjung
apotek terhadap pelayanan informasi obat oleh
apoteker. Manfaat penelitian yang diharapkan adalah
sebagai informasi tentang kebutuhan pengunjung
No.
1.
2.
3.
Variabel
Pengetahuan
tentang informasi
obat
apotek terhadap informasi obat yang berasal dari
apoteker.
METODe
Hipotesis penelitian adalah (1) ada hubungan
antara pengetahuan dan kebutuhan responden
terhadap informasi obat, (2) ada hubungan antara
sikap dan kebutuhan responden terhadap informasi
obat.
Adapun definisi operasional variabel disusun
sebagaimana tabel di bawah:
Desain penelitian menggunakan potong lintang
(cross sectional) dengan pendekatan deskriptif.
Populasi penelitian ini adalah seluruh pengunjung
yang datang ke apotek yang pemilik sarananya
apoteker di Kota Depok selama bulan Mei–Juli 2008.
Sampel diambil dengan metode consecutive sampling,
di mana setiap subjek yang memenuhi kriteria
inklusi dimasukkan dalam penelitian. Besar sampel
pengunjung apotek dihitung dengan rumus n = Z2 p
( 1 – p ) /d2 (Lwanga, 1991). Dengan tingkat kepercayaan
95% dan p �������������������������������������
0,10 (10% pengunjung apotek mendapat
informasi dari apoteker menurut penelitian Arhayani,
2007) dan nilai presisi 0,05, diperoleh sampel minimal
138, dibulatkan menjadi 150 orang. (Dinkes Kota
Depok, 2008). Alat pengumpul data adalah kuesioner
angket yang telah diuji coba reliablilitasnya terhadap
30 responden. Data yang diperoleh diolah dengan
komputer dan dianalisis menggunakan distribusi
frekuensi dan uji Chi-Square.
Definisi operasional
pengetahuan adalah kemampuan responden menjawab
dengan benar 10 pertanyaan tentang informasi obat. Setiap
jawaban yang benar dari responden diberi skor = 1 dan
jawaban salah skor = 0, total skor antara 0–10.
Sikap terhadap
Sikap adalah respon responden berupa setuju, ragu-2, atau
informasi obat
tidak setuju terhadap 10 pernyataan tentang informasi obat,
diberi skor = 2 untuk pernyataan setuju, skor = 1 untuk
ragu-ragu dan skor = 0 untuk tak setuju, total skor antara
0–20.
Kebutuhan
Kebutuhan adalah pernyataan responden terhadap
terhadap informasi informasi obat dibuat 18 pertanyaan dengan jawaban
obat
butuh, kurang butuh dan tidak butuh. Setiap jawaban butuh
diberi skor = 2, jawaban kurang butuh diberi skor - 1 dan
jawaban tidak butuh skor = 0, total skor antara 0–36.
Hasil ukur
Skala
Tinggi, bila skor Nominal
antara 6–10
Rendah, bila
skor antara 0–5
Positif, bila skor Nominal
antara 11–20
Negatif, bila
skor antara
0–10
Butuh, bila skor nominal
antara 20–36
Tidak butuh,
bila skor antara
0–19
347
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 13 No. 4 Oktober 2010: 344–352
HASIL PENELITIAN DAN
���� PEMBAHASAN
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan
Pengetahuan Tentang Informasi Obat,
Depok 2008
1. Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan
Karakteristiknya, Depok 2008
Karakteristik Responden
Jenis kelamin:
- Laki-laki
- Perempuan
Umur:
- ≤ 40 tahun
- > 40 tahun
Pendidikan:
- Tamat SMP
- Tamat SMA
- Tamat akademi/Perguruan tinggi
Pekerjaan:
- Bekerja
- Tidak bekerja
Tingkat penghasilan:
- 1 juta
- 3–5 juta
- > 5 juta
Tujuan ke apotek
- Menebus obat resep
- Membeli sediaan farmasi (tanpa
resep)
Total
Jumlah
%
32
118
21,3
78,7
90
60
60,0
40,0
32
57
61
21,3
38,0
40,7
84
66
56,0
44,0
51
73
26
34,0
48,7
17,3
136
14
90,7
9,3
150
100,0
Tabel 1 menunjukan persentase terbesar
pengunjung apotek adalah perempuan (78,7%),
berusia sampai dengan 40 tahun (60%), pendidikan
tamat akademi/perguruan tinggi (40,7%), bekerja
(56%), berpenghasilan 3–5 juta per bulan (48,7%) dan
tujuan ke apotek menebus resep (90,7%).
Hasil p���������������������������������������
enelitian ini sesuai dengan penelitian
Rinukti dan Widayati (2005) yang menunjukkan
bahwa swamedikasi dilakukan oleh sebagian besar
perempuan 74,5%. Namun penelitian Susyanty AL,
dkk. (2007) di Jakarta menunjukkan sebagian besar
pengunjung apotek adalah laki-laki dan berpendidikan
SMU.
2. Pengetahuan Responden tentang Informasi Obat
Tabel 2 menunjukan persentase terbesar
pengunjung apotek mempunyai pengetahuan yang
tinggi tentang informasi obat, kecuali dalam hal
pengetahuan tentang tugas apoteker di apotek,
orang yang berhak memberikan informasi obat di
348
Jumlah
Salah Benar
(n = 150)
%
%
%
1 Tugas apoteker di apotek 41,3 58,7
100
2 Informasi obat di apotek
23,3 76,7
100
3 Tujuan Informasi obat
18,0 82,0
100
4 Kegunaan Informasi obat 10,7 89,3
100
5 Yang berhak memberikan 42,0 58,0
100
Informasi obat
6 Pengetahuan tentang
11,3 88,7
100
aturan pakai obat
7 Pengetahuan tentang
39,3 60,7
100
logo obat keras
8 Materi yang diberikan
8,0 92,0
100
dalam Informasi obat
9 Cara memberikan
43,3 56,7
100
Informasi obat
10 Tempat memberikan
26,7 73,3
100
Informasi obat
% Rerata
24,7 75,3
100
No
Pengetahuan tentang
Informasi Obat
apotek, pengetahuan tentang logo obat keras dan
cara memberikan informasi obat.
Persentase terbesar pengunjung apotek
mempunyai pengetahuan tentang pelayanan informasi
obat di apotek. Hal ini mungkin disebabkan karena
sebagian besar pengunjung apotek berpendidikan
akademi/perguruan tinggi. Walaupun demikian,
masih ditemukan pengunjung apotek yang tidak
memahami tugas seorang apoteker di apotek. Hal
ini sejalan dengan penelitian Arhayani (2007) yang
menemukan bahwa hanya 2,81% pengunjung apotek
yang menjadikan apoteker sebagai sumber informasi
obat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa masih
cukup banyak masyarakat yang belum mengenal
profesi apoteker. Hal ini mungkin terkait dengan
ketidakhadiran apoteker di apotek atau ketidak
mampuannya untuk memberikan informasi obat. Masih
banyak pengunjung apotek yang belum mengenal
logo obat keras, padahal hampir semua resep dokter
ada obat kerasnya. Hal ini menunjukkan bahwa peran
apoteker sebagai sumber informasi belum dirasakan
secara nyata.
3. Sikap Responden terhadap Informasi Obat
Tabel 3 menunjukan persentase terbesar
pengunjung apotek mempunyai sikap yang positif
Pengetahuan, Sikap dan Kebutuhan Pengunjung Apotek (Nur Alam Abdullah, Retnosari Andrajati, Sudibyo Supardi)
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap terhadap Informasi Obat, Depok 2008
No
Sikap terhadap Informasi Obat
1
2
3
4
Apoteker wajib memberikan informasi obat di apotek
Jadwal informasi obat terpampang dan mudah dilihat
Ruangan informasi obat mudah terlihat dari counter obat
Apoteker sebaiknya menggunakan baju praktik profesi
yang bersih dan rapi dalam memberikan pelayanan
informasi obat.
5 Apoteker sebaiknya memasang identitas diri.
6 Dalam memberikan informasi obat sebaik nya apoteker
mengambil dari pustaka yang terbaru dan relevan.
7 Apoteker berhak memperoleh jasa profesi dalam
pelayanan informasi obat
8 Apoteker dalam kegiatan informasi obat membutuhkan
fasilitas komputer
9 Apoteker dalam kegiatan informasi obat membutuhkan
brosur obat
10 Pemberian informasi obat dilakukan pada saat
penyerahan obat
% Rerata
terhadap informasi obat, kecuali dalam hal ruang
konsultasi obat terlihat dari depan counter, apoteker
berhak memperoleh jasa profesi terhadap pelayanan
informasi obat, dan kegiatan informasi obat
membutuhkan komputer.
Sebagian besar pengunjung apotek menyatakan
setuju posisi ruangan informasi obat sebaiknya terihat
di depan counter apotek. Dengan demikian diharapkan
keberadaan informasi obat diketahui responden dan
mempermudah akses bagi pengunjung apotek untuk
meminta pelayanan tersebut. Tersedianya fasilitas
yang dapat telihat di depan counter akan menjadikan
faktor pendukung pengunjung apotek bersikap
positif terhadap informasi obat. Selain itu, sebagian
besar pengunjung apotek juga menginginkan agar
pelayanan informasi obat dilaksanakan di tempat
khusus yang nyaman. Berdasarkan petunjuk dan
pedoman yang ada, setiap praktik informasi obat
berlangsung sebaiknya menyediakan ruangan
yang ideal untuk menjaga kenyamanan responden
pengunjung apotek dalam berkomunikasi dengan
apoteker, terkait masalah obat yang di konsumsinya
(Binfar, 2006).
Sebagian besar pengunjung apotek setuju dalam
pemberian jasa profesi apoteker dalam pelayanan
informasi obat. Tiga puluh persen pengunjung
apotek tidak setuju karena manfaat dari pelayanan
96,0
81,3
58,0
83,3
Kurang
Setuju
%
2,7
14,7
32,7
12,7
Tidak
Setuju
%
1,3
4,0
9,3
4,0
92,7
80,0
4,7
17,3
2,7
2,7
100
100
53,3
30,0
16,7
100
59,3
24,0
16,7
100
86,0
12,0
2,0
100
72,0
25,3
2,7
100
76,2
17,6
6,2
100
Setuju
%
Jumlah
(n = 150)
%
100
100
100
100
informasi obat yang diberikan oleh apoteker belum
dirasakan sepenuhnya sampai saat ini. Sikap tersebut
menunjukkan kesiapan atau kesediaan mereka
untuk bertindak. Pengunjung apotek yang setuju
terhadap jasa apoteker kemungkinan mereka percaya
bahwa apoteker itu mampu memberikan pelayanan
informasi obat yang bermanfaat. Sementara itu,
pengunjung apotek yang kurang setuju mungkin
disebabkan karena mereka tidak percaya atau belum
pernah mengetahui manfaat dari pelayanan tersebut.
Karena itu, untuk mendapatkan kepercayaan dari
pengunjung apotek, apoteker harus berperan aktif
melakukan pelayanan informasi obat di apotek.
Hal tersebut sesuai dengan teori perilaku Soekidjo
(2007) yang mengatakan bahwa sikap itu memiliki
3 komponen pokok, yakni kepercayaan (keyakinan),
ide dan konsep terhadap suatu objek, evaluasi dari
objek tersebut, dan kecendrungan untuk bertindak.
Komponen-komponen tersebut tentunya merupakan
suatu keputusan sikap yang utuh sehingga perannya
sangatlah penting.
4. Kebutuhan Responden terhadap Informasi
Obat
Tabel 4 menunjukan persentase terbesar
pengunjung apotek membutuhkan informasi obat,
meskipun demikian masih perlu ditingkatkan dalam
349
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 13 No. 4 Oktober 2010: 344–352
Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Kebutuhan terhadap Informasi Obat, Depok 2008
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
Nama generik obat yang dibeli di apotek
Nama obat yang sejenis
Indikasi atau kegunaan obat
Bentuk sediaan obat (misalnya syrup)
Dosis obat (misalnya 500 mg, 250 mg)
Aturan penggunaanobat
Cara Penyimpanan obat yang tepat
Efek yang merugikan & cara menghindarinya
Interaksi obat dengan obat /makanan/alkohol
Informasi tentang pengulangan obat resep
Informasi khusus obat tertentu
Harga obat sejenis yang lebih murah dan terjangkau
Apoteker melakukan pendokumentasian dan evaluasi
Informasi obat membutuhkan alat peraga yang komunikatif
Informasi obat membutuhkan meja dan kursi yang nyaman
Tersedianya materi, brosur dan leaflet
Pelayanan informasi dilakukan apoteker
Apoteker berhak mendapat jasa profesi dalam pelayanan
informasi obat
Jumlah
hal apoteker melakukan pendokumentasian dan
evaluasi, tersedianya meja dan kursi yang nyaman,
tersedianya materi, brosur dan leaflet, dan pelayanan
informasi dilakukan oleh apoteker.
Data Arhayani (2007) menunjukkan bahwa
hanya 6,17% pengunjung apotek yang memperoleh
pelayanan informasi, dan 62,7% tidak pernah
menerima pelayanan informasi obat di apotek.
Sebenarnya sebagian besar pengunjung apotek
(95,0%) membutuhkan pelayanan tersebut. Hal
ini menunjukkan bahwa walaupun kebutuhan
terhadap informasi obat besar, baru sebagian kecil
yang meminta untuk menjalani pelayanan informasi
obat. Hal tersebut sejalan dengan teori perilaku
Notoadmodjo (2007), yang menyatakan bahwa
setelah seseorang mengetahui stimulus dari suatu
objek kesehatan yang menurut mereka bermanfaat, ia
akan mengadakan penilaian dan pendapat terhadap
apa yang diketahuinya sehingga proses selanjutnya
akan dijalankan atau dipraktikkan berdasarkan apa
yang telah diketahuinya, atau disikapi dengan baik
dalam bentuk tindakan yang positif.
Kebutuhan pasien untuk meminta pelayanan
informasi obat (tindakan) sesungguhnya dipengaruhi
350
91,3
87,3
92,0
97,3
82,0
98,0
94,0
87,3
88,7
82,7
78,7
79,3
72,0
93,3
70,7
74,0
72,0
84,6
Kurang
Butuh
%
5,3
8,0
2,7
1,3
12,7
0,7
4,7
11,3
6,0
12,7
20,0
20,0
20,7
6,0
25,3
24,7
25,3
9,3
Tidak
Butuh
%
3,3
4,7
5,3
1,3
5,3
1,3
1,3
1,3
5,3
4,7
1,3
0,7
7,3
0,7
4,0
1,3
2,7
6,0
Total
(n = 150)
%
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
81,8
13,9
4,2
100,0
Butuh
%
Kebutuhan terhadap informasi
oleh adanya faktor demografi, status sosial, psikologis,
pendapatan keluarga, dan kepercayaan terhadap
kesehatan itu sendiri (Anderson dan Newman, 1979).
Semakin besar masalah tersebut misalnya menderita
penyakit serius, maka semakin besar kemungkinan
tindakan pencarian pengobatan dilakukan. Tindakan
yang dilakukan akan tergantung pada manfaat dan
rintangan-rintangan yang dirasakan. Umumnya,
manfaat dari tindakan yang dirasakan lebih menentukan
daripada rintangan-rintangan yang mungkin dihadapi.
Oleh sebab itu, faktor yang memungkinkan untuk
mencari layanan informasi pengobatan dapat terwujud
di dalam tindakan apabila hal itu dirasakan sebagai
kebutuhan.
5. Hubungan antara Pengetahuan, Sikap dan
Kebutuhan terhadap Informasi Obat
Tabel 5 menunjukan persentase terbesar
pengunjung apotek yang mempunyai pengetahuan
tinggi tentang informasi obat lebih membutuhkan
informasi obat daripada yang mempunyai pengetahuan
rendah. Hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan
informasi obat secara statistik tidak bermakna.
Secara teoritis, ada hubungan antara
pengetahuan responden dengan tindakan.
Pengetahuan, Sikap dan Kebutuhan Pengunjung Apotek (Nur Alam Abdullah, Retnosari Andrajati, Sudibyo Supardi)
Tabel 5. Tabel Silang antara Pengetahuan, Sikap dan Kebutuhan Informasi Obat di Apotek, Depok 2008
Variabel
Independen
Pengetahuan
- Tinggi
- Rendah
Sikap
- Positif
- Negatif
Total
Butuh
Kebutuhan Informasi Obat
Tidak butuh
Jumlah
114 (93,4%)
23 (82,1%)
8 ( 6,6%)
5 (17,9%)
122 (100%)
28 (100%)
0,055
135 (97,8%)
2 (16,7%)
137
3 ( 2,2%)
10 (83,3%)
13
138 (100%)
12 (100%)
150
0,000
Berdasarkan teori perilaku menunjukkan bahwa
pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting dalam memengaruhi tindakan
seseorang (Notoadmodjo, 2007). Hubungan antara
pengetahuan dan kebutuhan informasi obat tidak
bermakna, mungkin menunjukkan bahwa pengunjung
apotek mengetahui tentang informasi obat tetapi tidak
membutuhkan karena kemungkinan apoteker tidak
ada di apotek. Hal ini merupakan suatu tantangan
dan keharusan bagi setiap apoteker untuk lebih
bekerja keras dalam menunjukkan eksistensinya
di apotek kepada masyarakat yang membutuhkan.
Apoteker harus menunjukkan bahwa profesi farmasi
itu ada, dan tugas yang penting adalah memenuhi
hak-hak konsumen melalui pelayanan informasi
obat. Pelayanan informasi obat dilakukan dengan
tujuan untuk meningkatkan keberhasilan terapi,
memaksimalkan efek terapi dan meminimalkan efek
samping obat (Binfar, 2006).
Tabel 5 menunjukkan persentase terbesar
pengunjung apotek yang mempunyai sikap positif
terhadap informasi obat lebih membutuhkan informasi
obat daripada yang mempunyai sikap negatif.
Hubungan antara sikap dan kebutuhan informasi
obat secara statistik bermakna.
Suka atau tidak sukanya responden terhadap
pelayanan informasi obat di apotek tentunya ditentukan
oleh berbagai penilaian terhadap seberapa besar
manfaat layanan yang diterimanya. Sikap tersebut
akan memberikan hasil dengan tindakan yang baik
untuk meminta atau mau menjalani pelayanan
informasi obat di apotek melalui perubahan perilaku
itu sendiri. Adanya hubungan bermakna antara
keduanya menunjukkan bahwa perilaku pengunjung
apotek dalam bersikap dipengaruhi oleh faktor-faktor
pencetus terbentuknya dasar-dasar dari kebutuhan
akan pelayanan Informasi obat yang dimilikinya.
Nilai p
Chi-Square
Pemberian pelayanan informasi obat di apotek
telah dapat meningkatkan perubahan sikap seseorang
menjadi lebih baik dengan bertindak untuk mau
meminta atau menjalaninya. Hal ini sejalan dengan
Notoatmodjo (1991) yang menyatakan bahwa salah
satu faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
seseorang adalah penyuluhan langsung perorangan
sebagai faktor untuk meningkatkan pengetahuan dan
membentuk sikap yang positif.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
diambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Persentase terbesar pengunjung apotek adalah
perempuan, berumur sampai dengan 40 tahun,
pendidikan tamat akademi/perguruan tinggi,
bekerja, penghasilan 3–5 juta per bulan, dan
tujuan ke apotek untuk menebus resep.
2. Persentase terbesar pengunjung apotek
mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang
informasi obat, kecuali dalam hal pengetahuan
tentang tugas apoteker di apotek, tentang siapa
yang berhak memberikan informasi obat, tentang
logo obat keras dan tentang cara memberikan
informasi obat.
3. Persentase terbesar pengunjung apotek mempunyai
sikap yang positif terhadap informasi obat, kecuali
dalam hal ruang konsultasi obat terlihat di depan
counter, apoteker berhak memperoleh imbalan
terhadap jasa informasi obat, dan informasi obat
membutuhkan komputer.
4. Persentase terbesar pengunjung
������������������
apotek
membutuhkan informasi obat.
5. Hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan
pengunjung apotek terhadap informasi obat secara
statistik tidak bermakna, tetapi hubungan antara
351
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 13 No. 4 Oktober 2010: 344–352
sikap dan kebutuhan pengujung apotek terhadap
informasi obat secara statistik bermakna.
Disarankan agar dilakukan penelitian tingkat
kepuasan pengunjung apotek terhadap kualitas
pelayanan praktik informasi obat oleh apoteker di
apotek.
DAFTAR PUSTAKA
Allen, Lloyd V Jr. 1994. Practice Standards of ASHP, Am J.
Hosp. Pharm. Inc, All Rights reserved.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. 2006.
Pedoman Konseling Pelayanan Kefarmasian di
Sarana Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Green, Lawrence W, Marshall W. Keuter, Sigrid G. Deeds,
dan Kay B. Partridge. 1980. Health Education
Planning, a Diagnostic Approach. California: Mayfield
Publishing Company, 14–15.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek
Lwanga, S.K, and S. Lemeshow, 1991, Sample Size
Determination in Health Studies, a practical manual,
World Health Organization, Geneva.
352
Martin, B. 2005. Quality Customer Service. Penerbit PPM,
Jakarta.
Notoadmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu
Perilaku. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmodjo, S. 1991. Pengantar Perilaku Kesehatan.
Jurusan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia,
Depok.
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 992/Menkes/PER/
X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotek.
Peraturan Pemerintah nomor 51 Tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian.
Rinukti dan Widayati. 2005. ”Hubungan antara Motivasi
dan Pengetahuan Orang Tua dengan Tindakan
Penggunaan Produk Obat Demam Tanpa Resep untuk
Anak – Anak RW V di Kelurahan Terban Tahun 2004”,
Sigma Jurnal Sains dan Teknologi 8(1): 25–33.
Siregar, Charles JP. 2006. Farmasi Klinik. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
World Health Organization. 1997. Report of a Third
Consultative Group on The Role of Pharmacist.
Vancouver, Canada, 27–29 Agustus.
www.google.com/jurnal_kesehatan/Depkes_RI/Susyanty_
A,2007 12 Mei 2008.
www.unairlib.id.com, Arhayani/Abstrak/Thesis Unair
2007.
Fly UP