...

Masa Depan Bahasa Indonesia

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Masa Depan Bahasa Indonesia
MASA DEPAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI PEMERSATU BANGSA
DALAM BINGKAI MULTIKULTURALISME
Oleh
Asep Muhyidin
FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten
Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multikultural dan sekaligus
juga multilingual. Hal ini berarti bahwa setiap suku atau kelompok etnik mempunyai tradisi dan
kebudayaan sendiri, termasuk keanekaan bahasanya. Bahasa-bahasa kelompok etnik tersebut,
atau lebih dikenal sebagai bahasa daerah, selain dituturkan dan didukung oleh jumlah kelompok
penutur yang sangat variatif, juga memiliki wilayah yang tersebar luas.
Tersebarnya bahasa daerah tertentu ke wilayah lain di Nusantara tentunya memungkinkan
terjadinya persaingan antarbahasa daerah tersebut. Hal ini perlu disikapi secara serius oleh para
pengambil kebijakan, dalam hal ini pemerintah. Kalau dibiarkan pergesekan antarbahasa daerah
tersebut, dikhawatirkan akan menjadi pemicu disintegrasi bangsa. Apalagi wilayah Indonesia
memiliki banyak pulau dan memiliki banyak ragam budaya, hal ini tentunya akan berimbas
kepada persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mempersatukan bangsa yang berbeda-beda budaya,
salah satunya adalah dengan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu bangsa. Sampai saat ini, bahasa
Indonesia belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang
berasal dari berbagai ragam suku dan daerah. Hal ini dapat terjadi, karena bahasa Indonesia dapat
menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi efektif, berdampingan dan bersama-sama
dengan bahasa daerah yang ada di Nusantara dalam mengembangkan dan melancarkan berbagai
aspek kehidupan dan kebudayaan. Hal ini pulalah yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai
sarana pertahanan bangsa dari ancaman disintegrasi.
Bahasa yang masih hidup akan senantiasa mengalami perubahan, termasuk bahasa
Indonesia. Perubahan itu sejalan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat penuturnya dan
juga karena kebutuhan masyarakat terhadap bahasa yang bersangkutan. Selain itu, luas wilayah
pemakaian bahasa Indonesia yang tersebar di pulau-pulau yang secara geografis terpisahkan oleh
laut memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan di tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu
diadakan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa yang berkesinambungan. Pernyatan tekad
membina sikap positif terhadap bahasa Indonesia sering kita dengar, lebih-lebih pada bulan
Oktober yang dikenal sebagai Bulan Bahasa. Pemakaian bahasa Indonesia yang tertib dan teratur
perlu dibina terus agar bahasa Indonesia menjadi bahasa yang diperhitungkan dunia.
Salah satu bentuk pembinaan terhadap bahasa Indonesia adalah dengan menumbuhkan
sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Upaya untuk membina sikap positif terhadap bahasa
Indonesia dilakukan dengan jalur media masssa dan jalur kepemimpinan. Pembinaan bahasa
Indonesia dilakukan melalui jalur media massa karena jangkauannya sangat luas. Kemudian,
jalur kepemimpinan dapat pula dilakukan sebagai salah satu alternatif membina sikap positif
terhadap bahasa Indonesia karena pemimpin merupakan panutan masyarakat.
Pengembangan bahasa Indonesia dilakukan melalui pemekaran kosakata. Pemekaran
kosakata yang paling penting adalah dengan menggali potensi kosakata dari bahasa serumpun,
dalam hal ini adalah bahasa daerah yang tersebar di seluruh Nusantara. Dengan demikian, setiap
keunggulan bahasa lokal akan menempati porsinya dalam membangun bahasa Indonesia yang
merupakan bahasa persatuan. Dengan bersatunya seluruh wilayah Nusantara melalui sarana
bahasa nasional, mudah-mudahan pertahanan bangsa akan semakin kokoh.
I. Pendahuluan
Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multikultural dan sekaligus
juga multilingual. Hal ini berarti bahwa setiap suku atau kelompok etnik mempunyai tradisi dan
kebudayaan sendiri, termasuk keanekaan bahasanya. Bahasa-bahasa kelompok etnik tersebut,
atau lebih dikenal sebagai bahasa daerah, selain dituturkan dan didukung oleh jumlah kelompok
penutur yang sangat variatif, juga memiliki wilayah yang tersebar luas.
Tersebarnya bahasa daerah tertentu ke wilayah lain di Nusantara tentunya memungkinkan
terjadinya persaingan antarbahasa daerah tersebut. Hal ini perlu disikapi secara serius oleh para
pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah. Kalau dibiarkan pergesekan antarbahasa daerah
tersebut, dikhawatirkan akan menjadi pemicu disintegrasi bangsa. Apalagi wilayah Indonesia
memiliki banyak pulau dan memiliki banyak ragam budaya, hal ini tentunya akan berimbas
kepada persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mempersatukan bangsa yang berbeda-beda budaya,
salah satunya adalah dengan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tidak dapat dilepaskan dari masyarakat
Indonesia. Masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang bilingualisme.1 Mereka
pada umumnya di samping menguasai bahasa Indonesia, juga menguasai bahasa daerah sebagai
bahasa ibu. Dengan demikian, situasi kebahasaan di Indonesia sangat kompleks karena bahasa
Indonesia dan 700-an bahasa daerah digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan
yang dijunjung oleh segenap
bangsa
Indonesia. Hal ini tercermin pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi Kami putra
dan putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga
merupakan bahasa negara yaitu selain sebagai bahasa persatuan (bahasa nasional), bahasa
Indonesia juga sebagai satu-satunya bahasa resmi secara nasional di Indonesia. Hal ini sesuai
dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36.
Menyikapi situasi kebahasaan di Indonesia sangat kompleks, tentunya banyak masalah
yang harus dibenahi. Dalam makalah singkat ini akan difokuskan kepada masalah pembinaan dan
pengembangan bahasa Indonesia (bahasa nasional) yang dikaitkan dengan sarana pemersatu
untuk mengukuhkan pertahanan bangsa. Pemakalah akan memaparkan beberapa hal pokok terkait
dengan pembinaan bahasa Indonesia melalui peran media massa dan peran kepemimpinan,
pengembangan bahasa Indonesia melalui pemekaran kosakata, dan
mengingat bahwa bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional terkait dengan persatuan bangsa maka akan dipaparkan pula
masa depan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu bangsa.
II. Sekilas Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana dalam kegiatan manusia, seperti bidang
kebudayaan, ilmu dan teknologi. Kebudayaan, ilmu dan teknologi berkembang sejalan dengan
perkembangan zaman. Perkembangan kebudayaan, ilmu, dan teknologi itu membuat bahasa juga
ikut berkembang. Selain itu, luas wilayah pemakaian bahasa Indonesia yang tersebar di pulaupulau yang secara geografis terpisahkan oleh laut memungkinkan terjadinya perubahanperubahan di tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya pembinaan dan
pengembangan bahasa yang berkesinambungan.
Di dalam hasil rumusan Seminar Politik Bahasa Nasional (1999) disebutkan bahwa yang
dimaksud pembinaan adalah upaya untuk meningkatkan mutu pemakaian bahasa. Usaha-usaha
pembinaan ini mencakup upaya peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa.
Usaha pembinaan yang dilakukan, antara lain, melalui pengajaran dan pemasyarakatan.
Sedangkan, yang dimaksud dengan pengembangan adalah upaya meningkatkan mutu bahasa agar
dapat dipakai untuk berbagai keperluan dalam kehidupan masyarakat. Upaya pengembangan itu,
antara lain, meliputi penelitian, pembakuan, dan pemeliharaan.
Usaha pembinaan melalui pengajaran bahasa Indonesia melalui sistem persekolahan
dilakukan dengan mempertimbangkan bahasa sebagai satu keseluruhan berdasarkan konteks
pemakaian yang ditujukan untuk peningkatan mutu penguasaan dan pemakaian bahasa yang baik
dengan tidak mengabaikan adanya berbagai ragam bahasa Indonesia yang hidup dalam
masyarakat. Peningkatan mutu pendidikan bahasa itu dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut:
1) pengembangan kurikulum bahasa Indonesia; 2) pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan
kebutuhan siswa dan perkembangan metodologi pengajaran bahasa; 3) pengembangan tenaga
kependidikan kebahasaan yang profesional; dan 4) pengembangan sarana pendidikan bahasa yang
memadai, terutama sarana uji kemahiran bahasa.
Usaha pembinaan dapat pula dilakukan melalui pemasyarakatan bahasa Indonesia.
Pemasyarakatan bahasa Indonesia ini dimaksudkan untuk meningkatkan sikap positif masyarakat
terhadap bahasa Indonesia dan meningkatkan mutu penggunaannya. Pemasyarakatan bahasa
Indonesia juga harus menjangkau kelompok yang belum bisa berbahasa Indonesia agar berperan
lebih aktif dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih maju. Pemasyarakatan bahasa
Indonesia ke seluruh lapisan masyarakat itu diarahkan pada upaya memperkukuh persatuan dan
kesatuan bangsa.
Pengembangan bahasa dilakukan dengan melakukan penelitian dalam berbagai aspek
bahasa Indonesia. Penelitian itu dilakukan baik pada tataran gramatikal maupun pada tataran yang
lain. Penelitian ini diharapkan akan meningkatkan mutu bahasa Indonesia. Selain penelitian aspek
bahasa Indonesia, juga dilakukan penelitian di bidang pemakaian bahasa Indonesia. Penelitian ini
diharapkan akan meningkatkan mutu pemakaian bahasa Indonesia.
Selain dengan penelitian, pengembangan bahasa Indonesia dilakukan dalam hal
pembakuan bahasa Indonesia. Pembakuan ini dilakukan dengan memperhatikan asas demokrasi
dan keragaman bahasa Indonesia serta diarahkan untuk menciptakan komunikasi yang lebih luas
dan efektif
Usaha lain pengembangan bahasa dilakukan dengan pelestarian bahasa itu sendiri.
Pelestarian bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Indonesia
sebagai alat komunikasi modern yang terbuka dan dinamis. Pelestarian itu dilakukan berdasarkan
perkembangan sosiokultural dan konteks sosial, ekonomi, budaya, dan politik bangsa Indonesia.
Dalam diskusi ini, pemakalah hanya akan memaparkan pembinaan bahasa Indonesia
melalui peran media massa dan peran kepemimpinan, kemudian pengembangan bahasa Indonesia
melalui pemekaran kosakata .
A. Upaya Pembinaan Bahasa Indonesia Melalui Peran Media Massa
Media
massa cetak
maupun elektronik setiap
hari mengunjungi masyarakat
Indonesia.Umumnya setiap media massa menggunakan sarana bahasa Indonesia. Oleh karena itu,
media massa memiliki fungsi sangat strategis dalam upaya pembinaan bahasa Indonesia.
Media massa, baik itu media cetak ataupun media elektronik memiliki jangkauan yang
sangat luas. Negara kita wilayahnya luas sekali dan juga memiliki banyak pulau. Hal ini tentunya
membutuhkan alat komunikasi yang dapat menjangkau semua wilayah itu. Anggota masyarakat
yang tersebar luas itu memiliki minat berbeda dalam hal mengakses informasi. Ada orang yang
senang menonton TV, mendengarkan radio, atau bahkan membaca surat kabar. Dengan demikian,
anggota masyarakat yang tersebar luas itu merupakan konsumen media massa.
Media massa selama ini dijadikan konsumsi sehari-hari oleh sebagian besar masyarakat
Indonesia. Oleh karena itu, menempatkan media massa sebagai salah satu upaya pembinaan
bahasa Indonesia adalah hal yang tepat. Dikatakan tepat oleh karena melalui media massa
masyarakat yang tersebar luas itu dapat membaca atau mendengarkan secara langsung bahasa
Indonesia yang digunakan oleh media massa tersebut. Jika bahasa Indonesia yang digunakan
tersebut adalah bahasa Indonesia yang benar, ini berarti bahwa secara tidak langsung pula
masyarakat telah diarahkan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang benar pula. Bahasa
Indonesia yang digunakan dalam media massa sangat mempengaruhi kebiasaan berbahasa para
pembaca media massa tersebut. Jika bahasa Indonesia yang digunakan dalam media massa
tersebut tidak sesuai dengan kaidah, maka hal ini akan merusak penggunaan bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam surat kabar secara umum masih belum tertib.
Penggunan bahasa Indonesia dalam surat kabar nasional sudah dirasakan lebih tertib jika
dibandingkan surat kabar daerah. Misalnya dalam penggunaan awalan me- pada surat kabar
nasional sebagian besar sudah mematuhi kaidah yang berlaku. Hal ini berbeda dengan surat kabar
daerah yang masih tidak taat asas dalam penggunaan awalan me-. Pada surat kabar daerah masih
dijumpai kata seperti: memperkosa, mensukseskan, dan lain sebagainya.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam radio dan televisi jauh lebih buruk, apalagi dalam
siaran langsung. Hal ini karena ketika siaran langsung tidak ada peranan penyunting yang akan
memperbaiki penggunaan bahasa Indonesia yang dipakai oleh para reporter. Berbeda halnya
dengan surat kabar yang selalu disunting oleh redaktur penyunting, sehingga kualitas penggunaan
bahasa Indonesianya sudah lebih baik.
Untuk memperbaiki penggunaan bahasa Indonesia oleh kalangan media massa dapat
dilakukan dengan adanya pembinaan dari Pusat Bahasa. Bagi praktisi media massa di daerah,
pembinaan ini dapat dilakukan oleh Balai Bahasa atau Kantor Bahasa yang tersebar di tiap
provinsi. Pembinaan ini dilakukan kepada para redaktur penyunting, dan jika perlu dilakukan
pada para reporter radio dan televisi. Dengan adanya pembinaan ini mudah-mudahan penggunaan
bahasa Indonesia oleh kalangan media massa akan lebih baik lagi.
Jika penggunaan bahasa Indonesia oleh kalangan media massa sudah mengikuti kaidah
yang berlaku, diharapkan hal ini akan membawa hal positif terhadap pembinaan bahasa
Indonesia. Kebiasaan menonton televisi atau memdengarkan radio, membaca surat kabar yang
disampaikan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar secara tidak langsung akan
membentuk sikap cinta pada bahasa Indonesia. Selanjutnya, sikap senang mendengarkan radio,
menoton televisi atau membaca surat kabar secara bertahap akan menumbuhkan kebiasaan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalan wujud lisan maupun tulisan.
B. Upaya Pembinaan Bahasa Indonesia Melaui Jalur Kepemimpinan
Jalur lain yang dapat dilakukan dalam upaya membina sikap positif terhadap bahasa
Indonesia adalah jalur kepemimpinan. Pemimpin disini adalah pemimpin formal yang dikenal
dengan sebutan pejabat dan pemimpin nonformal yang dalam masyarakat
disebut pemuka
masyarakat. Pejabat adalah seseorang yang memangku jabatan, baik itu jabatan sipil atau pun
militer. Pemuka masyarakat adalah seseorang yang disegani masyarakat karena kewibawaannya.
Para pejabat dan pemuka masyarakat pada umumnya memiliki sejumlah pengikut.
Pengikutnya itu tersebar luas dan tidak diketahui identitasnya. Mereka akan meneladani para
pejabat dan pemuka masyarakat tersebut. Mereka adalah pengagum-pengagum tersembunyi
terhadap hal-hal yang dianggap baik yang terdapat pada orang yang dikaguminya. Salah satu
yang dikagumi oleh masyarakat adalah dalam hal bertutur kata. Jika pejabat dan pemuka
masyarakat bertutur kata dengan baik dan sopan, maka dengan tidak disadari masyarakat pun
ingin meneladani cara bertutur kata yang baik dan sopan tersebut. Dalam hal inilah
kepemimpinan dapat dijadikan sebagai salah satu upaya membina sikap positif terhadap bahasa
Indonesia.
Para pejabat dan pemuka masyarakat diharapkan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Jika mereka menunjukkan kecintaannya pada bahasa Indonesia serta
kepatuhannya terhadap kaidah-kaidah bahasa Indonesia, maka secara tidak langsung mereka
memberi himbauan kepada masyarakat luas untuk mencintai bahasa Indonesia serta mematuhi
kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Pada masa Orde Baru saat Presiden Soeharto berkuasa, hampir
seluruh pejabat di bawahnya termasuk para pegawai rendahan dengan latah ikut-ikutan bertutur
seperti beliau. Padahal, bawahannya belum tentu
memiliki bahasa ibu yang sama dengan
Presiden Soeharto. Pada saat itu hampir setiap pejabat bertutur selalu menggunakan bahasa
Indonesia yang kental dengan dialek yang dipakai Presiden Soeharto.
Mudah-mudahan pada saat ini bangsa kita bisa meneladani Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono yang dalam pandangan penulis cukup baik dalam bertutur menggunakan bahasa
Indonesia. Pada akhirnya diharapkan masyarakat secara otomatis akan menjadi penutur-penutur
bahasa Indonesia yang baik dan benar.
C. Upaya Pengembangan Bahasa Indonesia Melalui Pemekaran Kosa kata
Sejalan dengan perkembangan zaman, kehidupan kebangasaanpun kian terjalin
antarmasyarakat. Sebagai bagian dari masyarakat antarbangsa, masyarakat Indonesia harus
memperkaya khazanah bahasa Indonesia, khususnya dalam bidang kosakata dan peristilahan
sehingga apa yang kita serap dari lingkungan yang demikian luas dan multidimensi dapat
diteruskan ke masyarakat Indonesia. Sakri
mengemukakan bahwa setiap bahasa alamiah
memiliki kemampuan untuk berkembang ke seluruh arah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan
komunikasi.2 Keadaan ini berlaku, apabila muncul konsep baru dalam pengalaman masyarakat
bahasa. Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, serta media pengungkap cita rasa, dan pikiran
yang dapat tumbuh sendiri secara alamiah mengikuti keperluan masyarakat pemakainya. Dengan
demikian tuntutan zaman memacu Indonesia untuk memperbanyak kosakata dan istilah yang
dapat mempercepat perkembangan kosakata Indonesia.
Pemekaran kosa kata diperlukan untuk memungkinkan pelambangan konsep dan gagasan
kehidupan modern (Dutton, 1976). Cakrawala sosial budaya yang meluas yang melampaui batasbatas kehidupan yang tertutup menimbulkan keperluan adanya kata, istilah, dan ungkapan dalam
bahasa.
Ada dua hal yang berkaitan dengan pemekaran kosa kata. Pertama, masalah sumber bagi
unsur leksikal yang baru. Kedua, bertalian dengan cara membentuk unsur yang baru dan
memadukannya dengan kosakata yang sudah ada. Moeliono mengemukakan bahwa pemekaran
kosakata dapat dilakukan dengan babarapa cara, yaitu: 1) menggali sumber dari bahasa itu
sendiri; 2) mengambil dari bahasa serumpun; 3) mengambil dari sumber bahasa asing.3
Pertama, menggali sumber dari bahasa itu sendiri diwujudkan dengan memberi makna
baru melalui perluasan makna dan penyempitan makna. Perluasan makna, misalnya pada kata
kakak. Kata kakak yang sebenarnya bermakna saudara sekandung yang lebih tua,
meluas
maknanya menjadi siapa saja yang pantas dianggap atau disebut sebagai saudara sekandung yang
lebih tua. Penyempitan makna, misalnya pada kata sarjana. Kata sarjana yang pada mulanya
berarti orang pandai atau cendekiawan , pada perjalanannya kemudian kata sarjana tersebut
menyempit maknanya menjadi orang yang lulus dari perguruan tinggi, seperti tampak pada
sarjana ekonomi, sasjana sastra, dan sarjana hukum.
Selain melalui perluasan dan penyempitan makna, pemekaran kosa kata dengan cara
menggali bahasa itu sendiri dapat pula dilakukan dengan menghidupkan kembali kosa kata yang
kini tidak aktif lagi. Baik dengan makna yang sama sebagaimana dahulu atau dengan diberi
makna baru untuk penutur bahasa masa kini. Misalnya kata hulubalang, yang diketahui kata
tersebut tergolong kata usang karena tidak dipakai oleh penutur bahasa Indonesia sekarang.
Kedua, pemekaran kosakata dengan cara mengambil dari bahasa serumpun yang
pemakaiannya berdampingan dengan bahasa Indonesia. Bahasa serumpun yang jumlah
penuturnya terbanyak, seperti bahasa Jawa, merupakan sumber utama pemekaran kosa kata.
Misalnya pada kata-kata dari bahasa Jawa seperti godog, sasana [sasono], wisma [wismo],
pelafalannya disesuaikan dengan bahasa Indonesia menjadi godok, sasana, wisma.
Ketiga, sumber pemekaran kosa kata dari bahasa asing merupakan cara lain untuk
langkah pemekaran kosa kata. Bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia
sudah sejak lama mengalami proses pemekaran kosa kata melalui pemungutan dari bahasa asing.
Misalnya kursi (bahasa Arab), lonceng (bahasa Cina), gereja (bahasa Portugis).
Sehubungan dengan hal tersebut, pemekaran kosa kata yang paling penting adalah
dengan menggali potensi kosakata dari bahasa serumpun, dalam hal ini adalah bahasa daerah
yang tersebar di seluruh Nusantara. Dengan demikian, setiap keunggulan bahasa lokal akan
menempati porsinya dalam membangun bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan.
Dengan bersatunya seluruh wilayah Nusantara melalui sarana bahasa nasional, mudah-mudahan
pertahanan bangsa akan semakin kokoh.
III. Masa Depan Bahasa Indonesia Sebagai Sarana Pemersatu Bangsa
Sejalan dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi
Daerah sebagian masyarakat menuntut pengutamaan penggunaan bahasa daerah. Walaupun
begitu tuntutan agar bahasa daerah digunakan untuk komunikasi baik dalam situasi formal dan
nonformal mengalami banyak kendala. Kendala itu berkaitan dengan kedudukan dan fungsi
bahasa Indonesia. Pada bagian ini akan dipaparkan tuntutan pengutamaan penggunaan bahasa
Indonesia dalam
kedudukannya sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa negara. Yang
dimaksud dengan kedudukan bahasa Indonesia adalah status bahasa Indonesia sebagai sistem
lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial. Yang dimaksud dengan fungsi
bahasa Indonesia adalah peran bahasa Indonesia pada masyarakat Indonesia.
Berdasarkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia
memunyai kedudukan sebagai bahasa nasional. Sesuai dengan kedudukannya sebagai bahasa
nasional, bahasa Indonesia memunyai fungsi (a) lambang kebanggaan kebangsaan, (b) lambang
identitas nasional, (c) alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya; (d) alat yang
memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan
bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia. Di samping berkedudukan
sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara seperti yang
tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36. Dalam kedudukannya sebagai bahasa
negara, bahasa Indonesia memunyai fungsi (a) bahasa resmi kenegaraan, (b) bahasa pengantar
dalam dunia pendidikan, (c) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan
perencanaan pembangunan; (d) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan
teknologi.4 Selanjutnya, dalam rumusan Seminar Politik Bahasa Tahun 1999 dijelaskan bahwa
fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara masih ditambah lagi dengan tiga fungsi, yaitu (a)
bahasa media massa; (b) pendukung sastra Indonesia; (c) pemerkaya bahasa dan sastra daerah.5
Sesuai dengan hal tersebut, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional ketika
diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah mengalami
ancaman terutama yang berkaitan dengan fungsinya sebagai lambang kebanggaan kebangsaan.
Pemberlakukan undang-undang tersebut berdampak pula terhadap penggunaan bahasa Indonesia
di daerah-daerah. Ini terbukti dari desakan masyarakat di beberapa daerah yang menginginkan
penggunaan bahasa daerah sebagai alat perhubungan. Jika dilihat dari fungsi yang lain, yaitu
sebagai alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya, serta alat yang
memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya, kedudukan
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional masih kuat. Artinya, dalam komunikasi sosial
antardaerah dan antarbudaya, masyarakat Indonesia masih menggunakan bahasa Indonesia.
Bahkan, di lingkungan keluarga di perkotaan ada kecenderungan untuk menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa ibu. Kecenderungan itu terjadi karena munculnya kekhawatiran para
orangtua terhadap penguasaan bahasa Indonesia anak ketika sekolah. Jika ia tidak belajar bahasa
Indonesia sejak dini, anak tersebut ketika sekolah akan mengalami kesulitan memahami bahasa
Indonesia yang digunakan oleh gurunya.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam lingkungan keluarga lebih banyak dijumpai di
lingkungan keluarga kawin campur atau kawin antaretnis, misalnya perkawinan etnis Batak
dengan etnis Sunda. Bahasa yang dipakai biasanya adalah bahasa Indonesia. Ini dapat dipahami
karena dalam keluarga seperti itu si anak akan lebih mudah belajar bahasa Indonesia daripada
belajar dua bahasa daerah yang berbeda. Hal ini tentunya akan semakin mengukuhkan bahasa
Indonesia sebagai sarana pemersatu, yang selanjutnya akan semakim memperkuat pertahanan
bangsa dari ancaman disintegrasi.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indoensia masih mempunyai
kedudukan yang kokoh atau tidak mengalami gangguan yang berarti. Fungsi bahasa Indonesia
masih berjalan dengan baik. Seperti telah dinyatakan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36
bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Sedikit kendala barangkali karena masih adanya
warga Indonesia yang belum mampu berbahasa Indonesia. Tetapi jumlahnya tidak banyak, hanya
orang-orang yang berada di pedalalam saja biasanya yang belum mampu berbahasa Indonesia.
Bagaimana bahasa Indonesia menyikapi perkembangan zaman di era globalisasi ini yang
ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada penggunaan
bahasa asing (Inggris)? Bahasa Indonesia mau tidak mau membuka diri terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, kosakata dalam bahasa ilmu pengetahuan dan
teknologi diserap ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini sejalan dengan kebijakan bahasa nasional
yang merupakan hasil dari Seminar Politik Bahasa Tahun 1999 dalam menyikapi hal tersebut.
Salah satu rumusan dalam kebijakan tersebut adalah bahasa asing (bahasa Inggris) dapat diserap
ke dalam bahasa Indonesia. Penyerapan kosakata bahasa Inggris ini tentu akan memperkaya
perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia.
Saat ini di lingkungan sekolah juga sedang gencar-gencarnya menggunakan bahasa asing
terutama bahasa Inggris. Bahasa Inggris mulai marak digunakan di sekolah-sekolah berstandar
internasional sebagai bahasa pengantar pendidikan. Berkaitan dengan penggunaan bahasa Inggris
di sekolah berstandar internasional, pihak Departemen Pendidikan Nasional telah menyatakan
sikapnya. Hal ini ditegaskan oleh Sudibyo (2008a) bahwa sekolah berstandar internasional harus
menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam pengajaran mata pelajaran di
sekolah. Selanjutnya, Sudibyo (2008b) menyatakan bahwa bahasa Inggris hanya dapat digunakan
di sekolah bertaraf internasional untuk mata pelajaran teknologi.
Kosakata bahasa daerah menjadi kebutuhan yang sangat penting terutama berkaitan
dengan kata/konsep bahasa daerah yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Bahkan,
kebutuhan kosakata bahasa daerah menjadi kebutuhan yang sangat penting jika dikaitkan dengan
penamaan pulau-pulau di Indonesia. Kosakata daerah sangat dibutuhkan untuk menamai pulaupulau Indonesia yang belum bernama. Ini tentu menjadi alasan yang strategis karena dengan
menggunakan kosakata bahasa daerah tentu kosakata tersebut tidak terdapat di negara lain.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bahasa daerah mempunyai peran terhadap perkembangan
kosakata bahasa Indonesia.
Penempatan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional bangsa
Indonesia adalah sesuatu yang tepat. Bahasa Indonesia telah mampu menyatukan berbagai lapisan
masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasa serta etnis ke dalam satu
kesatuan
bangsa
Indonesia.
Tatanan kehidupan dunia yang baru telah membuka lembaran baru dalam kehidupan
umat manusia. Kehadiran teknologi informasi (seperti telepon, faksimile, dan internet) dengan
kemampuan daya jangkau yang dapat menerobos batas ruang dan waktu telah melahirkan
keterbukaan sehingga dunia ini bagaikan sebuah desa global. Teknologi informasi itu
menggunakan bahasa sebagai pengantar maka dalam media itu terpajang berbagai macam bahasa
dunia. Dalam kondisi seperti itu sebenarnya tidak hanya terjadi persaingan secara terbuka produk
dan jasa, tetapi telah terjadi juga persaingan secara terbuka antara bahasa yang satu dan bahasa
yang lainnya. Kondisi itu bisa membuat orang berpikir bahwa bahasa menjadi sangat penting bagi
kehidupan suatu bangsa. Untuk itu, perlu dilakukan berbagai upaya pemantapan peran bahasa
Indonesia, terutama sebagai alat pemersatu bangsa.
Bahasa Indonesia memiliki peran penting di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara. Peranan ini tampak di dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai wilayah
Indonesia. Komunikasi perhubungan pada berbagai kegiatan masyarakat telah memanfaatkan
bahasa Indonesia di samping bahasa daerah sabagai wahana dan piranti untuk membangun
kesepahaman,
kesepakatan
dan
persepsi
yang
memungkinkan
terjadinya
kelancaran
pembangunan masyarakat di berbagai bidang. Bahasa Indonesia sebagai milik bangsa, dalam
perkembangan dari waktu ke waktu telah teruji keberadaannya, baik sebagai bahasa persatuan
maupun sebagai bahasa resmi negara. Adanya gejolak dan kerawanan yang mengancam
kerukunan dan kesatuan bangsa Indonesia bukanlah bersumber dari bahasa persatuannya,
melainkan bersumber dari krisis mutidimensional terutama krisis ekonomi, hukum, dan politik,
serta pengaruh globalisasi.
Bahasa Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu dan belum pernah dijadikan
sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang berasal dari berbagai ragam suku dan
daerah. Hal ini dapat terjadi, karena bahasa Indonesia dapat menempatkan dirinya sebagai sarana
komunikasi efektif, berdampingan dan bersama-sama dengan bahasa daerah yang ada di
Nusantara dalam mengembangkan dan melancarkan berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan.
Dengan demikian bahasa Indonesia memiliki peran penting di dalam memajukan pembangunan
masyarakat di dalam berbagai aspek kehidupan.
IV. Penutup
Tersebarnya bahasa daerah tertentu ke wilayah lain di wilayah Nusantara tentunya
memungkinkan terjadinya persaingan antarbahasa daerah tersebut. Hal ini perlu disikapi secara
serius oleh para pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah. Kalau dibiarkan pergesekan
antarbahasa daerah tersebut, dikhawatirkan akan menjadi pemicu disintegrasi bangsa. Apalagi
wilayah Indonesia memiliki banyak pulau dan memiliki banyak ragam budaya, hal ini tentunya
akan berimbas kepada persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mempersatukan bangsa yang
berbeda-beda budaya, salah satunya adalah dengan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana dalam kegiatan manusia, seperti bidang
kebudayaan, ilmu dan teknologi. Kebudayaan, ilmu dan teknologi berkembang sejalan dengan
perkembangan zaman. Perkembangan kebudayaan, ilmu, dan teknologi itu membuat bahasa juga
ikut berkembang. Selain itu, luas wilayah pemakaian bahasa Indonesia yang tersebar di pulaupulau yang secara geografis terpisahkan oleh laut memungkinkan terjadinya perubahanperubahan di tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya pembinaan dan
pengembangan bahasa yang berkesinambungan. Makalah ini hanya membahas masalah
pembinaan bahasa Indonesia melalui peran media massa dan pengembangan bahasa Indonesia
melalui pemekaran kosakata .
Bahasa Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu bangsa. Sampai saat ini, bahasa
Indonesia belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang
berasal dari berbagai ragam suku dan daerah. Hal ini dapat terjadi, karena bahasa Indonesia dapat
menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi efektif, berdampingan dan bersama-sama
dengan bahasa daerah yang ada di Nusantara dalam mengembangkan dan melancarkan berbagai
aspek kehidupan dan kebudayaan. Hal ini pulalah yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai
sarana pertahanan bangsa dari ancaman disintegrasi.
Daftar Pustaka
Alwi, Hasan dan Dendy Sugono (editor). 2003. Politik Bahasa (Risalah Seminar
Politik Bahasa). Jakarta: Depdiknas.
Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai. 2002. Cermat Berbahasa Indonesia untuk
Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Dutton, Thomas E. 1976. Language and National Development. Orasi Ilmiah. Prot
Moresby: University of Papua New Guinea.
Lauder, Multamia RMT.2008. Orientasi Pengembangan Kosakata Dalam Menyongsong
Masyarakat Madani Di Indonesia. Jakarta: Depdiknas Pusat Bahasa.
Moeliono, Anton. 1981. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Ancangan
Alternatif di Dalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan.
Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV
Diponegoro.
Sudibyo, Bambang. 2008a. Bahasa Indonesia Wajib Dipakai di Sekolah Internasional. Media
Indoensia, Edisi 17 Februari 2008.
Sudibyo, Bambang. 2008b. Bahasa Inggris Hanya untuk Pelajaran Sains dan Teknologi.
Kompas, Edisi 18 Februari 2008.
Sugono, Dendy. 1989. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: PT Priastu.
Suhardi, Basuki.1996. Sikap Bahasa. Jakarta: FS Universitas Indonesia.
Endnote:
1
Yus Rusyana, Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan (Bandung: CV Diponegoro,1984), hal 55.
Multamia RMT Lauder, Orientasi Pengembangan Kosakata Dalam Menyongsong Masyarakat Madani di
Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), hal. 14.
3
Anton Moeliona, Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Ancangan Alternatif Dalam Perencanaan
Bahasa (Jakarta: Djambatan, 1981), hal 116-118.
4
Zainal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi (Jakarta:
Akademika Pressindo, 2002), hal 10.
5
Hasam Alwi dan Dendy Sugono, Politik Bahasa (Jakarta: Depdiknas, 2003), hal 232.
2
Asep Muhyidin
Pengajar pada Program Studi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten
Fly UP