...

90 Status Usaha Kepiting Bakau Ditinjau dari Aspek Peluang dan

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

90 Status Usaha Kepiting Bakau Ditinjau dari Aspek Peluang dan
Status Usaha Kepiting Bakau
Ditinjau dari Aspek Peluang dan Prospeknya
Nur Ansari Rangka
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jalan Makmur Dg Sitakka No. 129 Maros, 90512
Abstract: A mangrove crab represents one of fishery commodities which has a prospect in the
future. Demand of this commodity tends to increase from year to year not only in Indonesia but
also abroad. At this time, need of the crabs in Indonesia mostly are fullfilled from nature catches.
In the future, these activities should be changed into crab cultures. Planning and development of
crab cultures need attention from various aspects for resource sustainability objective, production
increament and market opportunity in a balance and sustainability.
Keywords: mangrove crab, crab cultures.
PENDAHULUAN
Perencanaan dan pengembangan budidaya Kepiting Bakau perlu mendapat perhatian dari
berbagai aspek untuk tujuan kelestarian sumber daya, peningkatan produksi dan pemenuhan
peluang pasar secara seimbang dan berlanjut.
Diperkirakan perkembangan usaha perdagangan kepiting bakau dimasa mendatang akan
terus meningkat antara lain dengan adanya indikasi: (1) peluang pasar ekspor terbuka luas dengan
sedikitnya ada 11 negara konsumen, (2) potensi lahan bakau yang merupakan habitat hidupnya
cukup besar dan belum digali secara optimal, (3) pengetahuan budidaya yang semakin meningkat
baik budidaya pembenihan maupun pembesaran.
Peluang pasar yang cukup besar dengan harga tinggi menyebabkan bisnis kepiting mulai
berkembang di beberapa tempat seperti di Sulawesi Selatan, Cilacap, Medan dan lain-lain. Dengan
target pemasaran lokal maupun ekspor. Negara tujuan ekspor antara lain: Jepang, Hongkong,
Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Malaysia, Australia dan Prancis. Kepiting ekspor sebagai
sumber devisa negara sekitar 70% berasal dari usaha budidaya meliputi pembesaran,
penggemukan maupun produksi kepiting bertelur.
Sesuai dengan namanya, Kepiting Bakau mempunyai habitat hidup di daerah pantai dengan
vegetasi bakau di sekitar muara sungai. Kepiting Bakau memiliki penyebaran yang sangat luas
yaitu meliputi perairan wilayah Indopasifik. Di Indonesia dengan potensi hutan bakau yang sangat
besar (4,25 juta ha) tersebar di beberapa pulau seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
Maluku dan Irian Jaya, diduga merupakan habitat dan fishing ground kepiting bakau.
Prasyarat pasar produk kepiting agar segar antara lain: (a) sehat, (b) kondisi fisik
utuh/tidak cacat, (c) ukuran berat minimal tercapai, (d) gemuk/berisi dan bertelur penuh untuk
betina, (e) bebas dari gangguan dan penempelan penyakit dan parasit, (f) memiliki warna cerah
dan menarik. Akhir-akhir ini ada upaya ekspor produk olahan dengan melakukan pemisahan antara
daging dan telur.
90
Morfologi Kepiting Bakau
Kepiting bakau adalah hewan berkulit keras dari kelas Crustacea, ordo Decaphoda, familia
Portunidae dan Genus Scylla. Crustacea merupakan hewan berkulit keras sehingga
pertumbuhannya dicirikan oleh proses ganti kulit (moulting). Ordo Dechapoda ditandai dengan
adanya 10 buah (lima pasang) kaki, pasangan kaki pertama disebut capit yang berperan sebagai
alat penangkap/pemegang makanan, pasangan kaki kelima berbentuk seperti kipas (pipih)
berfungsi sebagai kaki renang dan pasangan kaki selebihnya sebagai kaki jalan. Dengan capit dan
kaki jalan, kepiting bisa berlari cepat di darat dan berbekal kaki renang dapat berenang dengan
cepat di air sehingga tergolong Swimming Crab (Portunidae). Genus Scylla ditandai oleh bentuk
carapace yang oval dengan bagian depan memiliki 9 duri pada sisi kiri dan kanan serta 4 duri di
antara kedua matanya.
Jenis Kepiting Lokal
Ada 3 jenis kepiting bakau yang dinilai memiliki potensi pasar yaitu Scylla serrata, Scylla
oceanica, dan Scylla transquebarica. S. serrata dapat dibedakan dengan dua jenis lainnya
berdasarkan morfologi terutama bentuk duri baik pada carapace maupun pada bagian capitnya
serta warna dominan pada tubuhnya. S. serrata memiliki duri yang relatif pendek dibanding dua
species lainnya. Warna kemerahan hingga orange terutama pada capit dan kakinya, sedangkan
pada jenis lain dominan warna ungu pucat atau kehitaman. Ciri lain yaitu pada Scylla oceanica
berwarna kehijauan dan terdapat garis-garis biru coklat hampir pada bagian seluruh tubuhnya
kecuali bagian perut. S. transquebarica berwarna kehijauan sampai kehitaman dengan sedikit
garis-garis berwarna kecoklatan pada kaki renangnya. Secara umum Scylla oceanica, dan Scylla
transquebarica memiliki ukuran lebih besar daripada S. serrata untuk umur yang sama. Kepiting
jantan dicirikan oleh bagian abdomen yang berbentuk agak lancip menyerupai segitiga sama kaki,
sedangkan pada kepiting betina dewasa agak membundar dan melebar. Pada kepiting dewasa,
yang jantan memiliki ukuran capit lebih besar dibandingkan dengan betina untuk umur yang sama
demikian pula halnya dengan ukuran tubuhnya
Siklus Hidup
Bila kondisi ekologi mendukung, kepiting dapat bertahan hidup hingga mencapi umur 3 - 4
tahun. Sementara itu pada umur 12 - 14 bulan kepiting sudah dianggap dewasa dan dapat
dipijahkan. Sekali memijah, kepiting bisa menghasilkan jutaan telur tergantung ukuran induk. Di
alam bebas, jumlah larva yang mampu menjadi kepiting muda sangat kecil karena antara lain
faktor lingkungan yang tiak mendukung dan banyaknya musuh alami. Sekali melakukan
pemijahan kepiting betina mampu menyimpan sperma jantan dan dapat melakukan pemijahan
hingga tiga kali tanpa perkawinan lagi.
Telur kepiting yang telah dibuahi akan menetas menjadi zoea, megalops dan kepiting muda
yang akhirnya menjadi kepiting dewasa. Selama masa pertumbuhan, kepiting menjadi dewasa
akan mengalami pergantian kulit antara 17 - 20 kali tergantung kondisi lingkungan dan pakan yang
dapat mempengaruhi pertumbuhan. Proses molting (pergantian kulit) pada zoea berlangsung lebih
cepat yaitu sekitar 3 - 4 hari, sedangkan pada fase megalops, proses dan interval pergantian kulit
berlangsung relatif lama yaitu setiap 15 hari. Setiap molting, tubuh kepiting akan bertambah besar
sekitar 1/3 kali ukuran semula dan panjang carapace meningkat 5 - 10 mm pada kepiting dewasa.
Kepiting dewasa berumur 12 bulan memiliki lebar carapace 17 cm dan berat sekitar 200 g.
Status Usaha Kepiting Bakau Ditinjau dari .....................................................
91
Pembuahan
Kepiting
Dewasa
Telur
Kepiting
Muda
Larva Zoea
Megalops
Keterangan : 1. Sekali perkawinan bisa 3 kali memijah
2. Pelepasan telur bisa terjadi setengah jam, dan proses penetasan dapat berlansung selama 3
hari
3. Proses perkembangan telur hingga penuh berlangsung selama 30 hari.
Gambar 1. Siklus hidup kepiting
Sumber Makanan dan Kebiasaan Makan
Meskipun banyak yang berpendapat kepiting memakan bangkai tetapi dari hasil
pengamatan menunjukkan bahwa kepiting sensitif terhadap bahan cemaran terutama gas beracun
seperti H2S dan amoniak. Oleh karena itu perlu diperhatikan pergantian air bersih dan pemberian
pakan yang baik serta tidak berlebihan. Kondisi air/dasar tambak yang sangat jelek dapat
mematikan secara total bila kepiting tersebut tidak dapat kesempatan untuk berlindung ketempat
yang lebih aman. Jenis pakan yang dikonsumsi kepiting bervariasi, tergantung stadia/ukuran
kepiting. Sejak fase megalops sampai dewasa kepiting bakau bersifat bentik dan suka berbenam
diri kedalam lumpur. Pada fase zoea bersifat pemakan plankton, setelah megalops bersifat
carnivora, dan kepiting muda hingga dewasa bersifat omnivorus scavenger, yaitu senang memakan
daging. Oleh karena itu beberapa alternatif pakan yang bisa diberikan adalah antara lain ikan rucah
segar, ikan rucah kering tawar, kulit sapi/kambing, jenis siput (keong sawah), bekicot, daging ular,
belut, dan kerang (kepah/joi atau sejenisnya).
Pada umumnya kepiting aktif pada saat air pasang atau bersamaan arus air baru. Sebaiknya
pemberian pakan disesuaikan dengan kebiasaan tersebut. Biasanya petani penangkap melakukan
pemasangan alat tangkap yang diberikan umpan beberapa saat sebelum datang air pasang. Untuk
pemberian pakan ikan kering tawar sebelumnya direndam dulu supaya pada saat disebar/diberikan
segera tenggelam mendekat kepiting yang biasanya ada didasar. Bila tidak, pakan tersebut akan
sulit dijangkau oleh kepiting karena mengapung di permukaan yang akhirnya bisa keluar pagar
melalui celah pagar dan tidak termakan.
POLA BUDIDAYA
Di beberapa lokasi tempat budidaya mulai berkembang, hasil tangkapan kepiting untuk
segala ukuran sudah laku dijual. Biasanya untuk ukuran yang belum memenuhi prasyarat pasar
akan dibesarkan, digemukkan atau ditelorkan sehingga harga meningkat. Pekerjaan penangkapan
ini biasa dilakukan oleh anak-anak hingga orang dewasa, lelaki atau perempuan, dengan peralatan
yang cukup sederhana. Alat tangkap yang umum dipergunakan antara lain bulu/wadong dan pintur
sejenis rakkang terapung terutama di daerah Cilacap, rakkang tancap dan amban (mirip anco kecil)
92
Neptunus, Vol. 14, No. 1, Juli 2007: 90 - 100
seperti di Sulawesi Selatan, Aceh, Kalimantan Barat dan Timur dan juga kail. Semua jenis alat
tersebut memerlukan umpan berupa ikan rucah, belut, daging ular dan lain-lain. Biasanya operasi
penangkapan bersamaan pasang naik pada waktu kepiting aktif mencari makan.
Alat tersebut biasa dipasang dengan jarak antara 10 - 15 m di perairan dekat hutan bakau,
muara atau sepanjang sungai yang banyak terdapat kepiting bakau, dengan bantuan sampan
dilakukan pengecekan secara teratur. Hasil penangkapan segera dilakukan pengikatan sehingga
mudah penanganan selanjutnya. Sebaiknya hasil tangkapan yang telah diikat jangan disimpan
terlalu lama (lebih dari 3 hari) agar mutu tidak menurun. Bila jumlah hasil tangkapan cukup
banyak dapat dilakukan seleksi ukuran yang siap dijual (berisi/gemuk/bertelur penuh). Ukuran
kecil yang belum memenuhi prasyarat pasar bisa dibesarkan dalam kurungan yangditempatkan
dalam tambak/saluran air yang mendapat air baik dan diberi makan selama 1 - 2 minggu
tergantung ukuran awal.
Budidaya Pembesaran
Budidaya pembesaran kepiting bisa dilakukan secara monokultur atau polikultur dengan
bandeng. Pemilihan komoditas untuk dipolikultur harus komoditas yang bersifat plankton feeder,
lincah sehingga tidak mudah ditangkap kepiting. Dengan demikian kepiting tidak bisa
dibudidayakan dengan udang karena sifat udang yang hidup di dasar dan mengalami ganti kulit
akan mudah dimangsa oleh kepiting. Pemberian pakan kepiting berupa ikan rucah akan
memberikan efek menyuburkan air dan menstimulir pertumbuhan plankton akibat dari sebagian
sisa pakan/protein yang terlepas berfungsisebagai pupuk. Plakton inilah yang bisa dimanfaatkan
oleh bandeng disamping klekap yang ada.
Padat penebaran berkisar antara 1 - 3 ekor/m2, ukuran benir tebar sekitar 60 g dengan masa
pemeliharaan 5 - 6 bulan. Untuk polikultur per hektar bisa ditebar sekitar 10.000 ekor benih
kepiting dan 1500-2000 ekor bandeng.
Budidaya Penggemukan
Budidaya penggemukan dimaksudkan untuk memelihara kepiting yang tidak berisi/keropos
dengan pemberian pakan menjadi berisi/gemuk sehingga dapat meningkatkan harga. Dalam
penangkapan jumlah banyak dan pengumpulan dari penangkap sering ditemukan banyak kepiting
tidak berisi baik jantan maupun betina. Dalam kondisi smacam ini kepiting tidak laku/murah sekali
karena dagingnya sedikit. Untuk jumlah yang cukup dapat ditampung ditambak atau dalam
kurungan bambu, diberi makan secara cukup mutu dan jumlahnya sehingga dalam waktu relatif
singkat 1 - 2 minggu menjadi gemuk. Kepadatan tebar untuk ukuran sekitar 100 - 150 g sebanyak
10 - 20 ekor/m2 dan ukuran 200 - 250 g sekitar 10 ekor/m2 tergantung kondisi wadah budidaya dan
sistem penggantian air.
Produksi Kepiting Bertelur
Harga kepiting betina yang bertelur penuh bisa 3 kali lebih tinggi daripada kepiting betina
yang tidak bertelur untuk ukuran yang sama. Untuk kepiting ukuran sekitar 200 g yang baru mulai
bertelur dinilai sama harganya dengan kepiting yang belum bertelur, padahal dengan menahan
1 - 2 minggu dan pemberian pakan yang cukup, mutu dan jumlahnya akan diperoleh kepiting
betina bertelur penuh.
Prinsip pemeliharan sama dengan penggemukan, bedanya disini dilakukan secara monosex
(betina semua). Ukuran tebar 200 - 250 g dengan masa pemeliharaan sekitar 2 minggu diperoleh
75 - 100% betina bertelur penuh. Yang perlu diperhatikan adalah penggantian air secara cukup,
pemberian pakan cukup mutu dan jumlah. Pada kepiting bertelur, semakin berkembang telur
Status Usaha Kepiting Bakau Ditinjau dari .....................................................
93
menjadi penuh maka nafsu makan semakin berkurang seperti “berpuasa” sehingga jumlah pakan
dikurangi supaya tidak berlebih yang dapat menurunkan mutu air.
Desain dan Tata Letak
Ukuran dan tata letak petakan disesuaikan dengan pola budidaya yang akan ditetapkan.
Tambak pembesaran secara sederhana untuk polikultur dengan bandeng bisa berukuran antar 1 - 2
ha, untuk pembesaran monokultur 0,5 - 1 ha dan untuk penggemukan atau produksi kepiting
bertelur antara 0,01 - 0,05 ha. Oleh karena itu usaha budidaya penggemukan dan produksi kepiting
bertelur dapat pula dengan memanfaatkan genangan air saluran, lahan mangrove yang cukup
mendapat penggantian air dan tidak kering waktu surut terendah.
K
K
P
P
K
G
*
G
*
*
P
PT
PT
S
PG
PG
- Kurungan bambu untuk penggemukan/produksi kepiting bertelur
- Petak pembesaran (monkultur atau polikultur dengan bandeng)
- Gundukan tanah tempat kepiting “rest” bila
kondisi air tidak mendukung
- Beberapa tanamanmangrove
- Petak pembesaran (mono/ polikultur)
PT - Petak peneluran secara intensif
PG - Petak penggemukan intensif
S - Penampung air dan dialirkan kedalam
masing-masing petak konstruksi beton
P
- Sistimbaterai untuk produksi kepiting
bertelur.
(D) - Masing-masing petak berisi 1 ekor (16
ekor/m2)
P - Ukuran petak 25x25 cm, dengan
pelampung bambu.
- P = pelampung bambu utuh
xx
S
x
P
x
S
x
x
x
P
x
x
x
- Pada lahan bakau dengan parit untuk
mempertahankan air pada saat surut rendah
- Pagar bambu
- Bakau
- Pagar bambu di tempat yang tidak P
kering waktu surut
x
Gambar 2. Beberapa model kontruksi budidaya kepiting
94
Neptunus, Vol. 14, No. 1, Juli 2007: 90 - 100
Lokasi tambak berada pada daerah pasang surut sehingga tambak bisa dikeringkan dan
diisi air secara gravitasi dalam jumlah yang cukup. Untuk budidaya yang lebih intensif bisa dibuat
konstruksi pematang dan pintu air beton dan sirkulasi air dibantu dengan pompa. Beberapa tipe
dan contoh petak budidaya seperti terlihat pada gambar 2.
PEMILIHAN LOKASI
Pemilihan lokasi merupakan tahap awal yang perlu mendapat perhatian secara cermat
karena akan menentukan tingkat keberhasilan usaha budidaya selanjutnya. Pemilihan lokasi yang
salah dapat mengakibatkan kegagalan, biaya investasi dan biaya operasional tinggi sehingga tidak
lagi menguntungkan. Beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain:
Faktor Ekologi
Faktor tanah, tekstur tanah liat berpasir, liat berlempung sehingga mudah untuk konstruksi,
tidak mudah bocor atau porous, bukan tanah gambut dan masam dengan tingkat kesuburan yang
cukup.
Iklim yang meliputi curah hujan, suhu, angin dan berkaitan dengan gelombang atau ombak
besar perlu diperhatikan. Perbedaan musim hujan dan kemarau yang sangat tegas dan panjang
akan mengakibatkan kendala fluktuasi salinitas, bahaya banjir dan erosi dan abrasi pantai sehingga
air menjadi keruh. Informasi rinci mengenai iklim penting untuk memperhatikan pola tanam.
Topografi yang relatif datar dan pondasi pantai stabil merupakan tempat yang ideal.
Air irigasi yang ideal adalah air irigasi dapat diperoleh secara cukup mutu dan jumlah
setiap diperlukan, baik air tawar maupun air laut. Persyaratan lainnya kadar garam berkisar antara
10 - 35 permil, pH 6.5 - 8.5, kandungan oksigen terlarut lebih dari 4 ppm, air bersih dan bebas
cemaran, sirkulasi air cukup dengan fluktuasi pasang surut berkisar antara 1.5 - 2 m, terlindung
dari ombak dan arus deras serta bebas banjir.
Faktor Sosial Ekonomi
Yang termasuk faktor sosial ekonomi antara lain: (a) perlu kejelasan status dan pemilikan
lahan, (b) sarana transportasi tersedia untuk pengadaan saprodi dan pengangkutan hasil panen serta
mudah dijangkau, (c) cukup tersedia tenaga kerja, (d) keamanan terjamin, (e) merupakan fishing
ground kepiting bakau.
Persiapan Petakan Budidaya
Prinsip budidaya kepiting bakau adalah menciptakan lingkungan budidaya sesuai dengan
habitatnya sehingga kepiting bakau bisa kerasan, cukup makan dan tumbuh normal. Pada
lingkungan aslinya (perairan di lahan bakau) yang merupakan habitatnya diduga merupakan
tempat yang sangat cocok. Pada usaha budidaya dibuat suasana baru dengan menggali lahan
aslinya menjadi kolam/tambak sehingga terjadi perubahan-perubahan ekologi terutama mutu tanah
dan air. Tambak-tambak baru di lahan mangrov dan nipah pada umumnya bersifat masam dengan
keasaman aktif dan keasaman potensial yang masing-masing di dominasi oleh bahan-bahan
organik dan Fe, Al atau sulfat. Oleh karena itu perlu dilakukan proses reklamasi untuk
memperbaiki lingkungan tersebut.
Reklamasi
Tahapan kerja meliputi pengeringan, pengolahan tanah/pencangkulan agar terjadi oksidasi
senyawa yang semula tidak larut menjadi larut dan mudah dicuci. Tahapan berikutnya perendaman
Status Usaha Kepiting Bakau Ditinjau dari .....................................................
95
dan pencucian yang diakhiri dengan pemberian kapur sehingga pH lebih dari 6.5 atau mendekati
netral. Beberapa ciri tambak yang sudah normal, sepanjang pematang tidak terdapat bercak-bercak
warna kuning, kemerahan seperti warna karat, warna putih dan hitam, demikian pula pada tanah
dasar tambak pada saat dikeringkan. Pada saat diisi air, warna air tetap normal tidak kembali
menjadi kekuningan/kemerahan dan pekat setelah perendaman antara 5 - 10 hari tergantung
kondisi musim dan air.
Shelter (Pelindung)
Kepiting mempunyai sifat kanibal, terutama saat lapar atau bila ada sesamanya yang
sedang molting akan akan diserang. Sifat ini yang sering menyebabkan mortalitas tinggi pada
budidaya pembesaran karena dari frekuensimolting ukuran kecil lebih sering. Untuk mengurangi
sifat kanibal ini perlu upaya pemberian makanan yang bermutu dan cukup, pemeliharaan monosex
dan pemberian shelter yang berguna sebagai tempat berlindung, terutama kepiting yang molting
dan kepiting kecil. Shelter dapat dibuat dari akar/bahan yang sejenisnya yang tahan terhadap air
dan tidak membusuk atau berubah sifat/mutu air ditempat secara terpisah (menyebar dalam
petakan tambak). Bila dikhawatirkan akan terjadi perubahan/penurunan mutu selama pemeliharaan
misalnya akibat kelebihan pakan, sulit ganti air yang dapat mengakibatkan kematian kepiting,
maka perlu adanya gundukan tanah atau semacamnya yang bisa dipergunakan oleh kepiting untuk
menghindarkan diri dari kondisi air yang jelek sebelum adanya pergantian air. Keberadaan
vegetasi mangrov di petak pembesaran yang luas dalam jumlah terbatas (beberapa pohon saja)
dapat juga berfungsi sebagai shelterdan mengurangi pengaruh suhu tinggi bila ketinggian air
berkurang.
PASCA PANEN
Dalam rangka usaha budidaya kepiting, proses panen, penanganan hasil panen, distribusi
dan pemasaran merupakan serangkaian kegiatan yang menunjang keberhasilan budidaya. Untuk
mempertahankan mutu produk segar maupun olahan, maka kegiatan panen, penanganan hasil
panen dan pendistribusiannya harus dipertimbangkan langkah-langkah yang tepat untuk
memelihara kesehatan/kesegaran dan menghindari kerusakan fisik.
Prinsip Penanganan
Beberapa prinsip penanganan kepiting hasil panen perlu memperhatikan faktor-faktor
waktu, suhu, higienis sejak kepiting itu dipanen hingga diserahkan kepada pembeli atau diolah.
Panen perlu dilakukan secara cepat dan hati-hati untuk menghindari stres yang berlebihan. Faktor
suhu dapat mempengaruhi laju metabolisme, kesehatan, kesegaran dan laju dehidrasi. Kehilangan
berat sekitar 3 - 4% akibat dehidrasi pada proses penyimpanan kepiting tanpa air dapat
menyebabkan kematian. Penyimpanan kepiting tanpa air pada suhu kurang dari 12oC atau lebih
besar dari 32oC dapat menyebabkan kematian kepiting.
Penangkapan dan penanganan kepiting konsumsi relatif sulit karena mudah lari, menyerang
satu sama lainya yang mengakibatkan cacat fisik, maupun menyerang orang yang menangani
sehingga mengakibatkan kegiatan penanganananya menjadi lambat . Oleh karena itu, panen dan
penanganan kepiting perlu dilakukan oleh tenaga-tenaga terampil untuk menangkap dan mengikat.
Pengelompokan kepiting hasil panen sudah harus dimulai sejak penanganan pertama terhadap
ukuran, kelengkapan fisik, hidup/mati, jantan/betina, belum/sudah bertelur serta kegemukan
(isi/keropos) sehingga langkah-langkah selanjutnya bisa cepat dilakukan. Misalnya mana yang
96
Neptunus, Vol. 14, No. 1, Juli 2007: 90 - 100
telah siap dijual, diolah, ditebarkan kembali untuk penggemukan dan atau produksi kepiting
bertelur.
Pasca Panen
Kepiting yang baru saja dipanen harus segera diikat supaya tidak lepas dan saling
menyerang, memudahkan seleksi dan penanganan selanjutnya. Pengikatan dapat dilakukan dengan
dua cara yakni: (1) pengikatan seluruh kaki dan capit sehingga kepiting tidak mampu bergerak,
(2) pengikatan pada capit saja sehingga kepiting masih mampu berjalan tetapi tidak dapat
menyerang. Pengikatan pertama mempunyai kelemahan bila dibiarkan dalam beberapa hari, ketika
akan dilepas, kepiting menjadi lumpuh, tidak lincah sehingga dinilai lemah/sakit yang dapat
menurunkan mutu, sedangkan pengikat cara kedua kepiting masih bisa lari kecuali yang
lemah/sakit sehingga peluang lepas/hilang bila tempat penyimpanan/penampungan tidak tertutup,
selalu ada.
Kepiting yang telah diikat, disortir, disusun rapi (tidak terbalik) di dalam keranjang atau
semacamnya bersusun 3 - 5 lapis dengan kondisi keranjang cukup memiliki ventilasi/lubang untuk
sirkulasi udara. Dalam keadaan ini dapat disimpan dalam ruangan lembab bersuhu rendah.
Ditingkat petani sering ditutup dengan karung bersih dan basah dan segera dikirim kepada
konsumen. Oleh karenanya, jumlah panen perlu diperhitungkan supaya cukup dan secara ekonomi
menguntungkan dengan mempertimbangkan biaya transport.
Bila karena sesuatu hal kepiting yang telah diikat tadak dapat segera dikirim kepada
konsumen/pembeli, maka setiap 12 jam dapat dicelup dalam air asin selama beberapa menit untuk
menghindari dehidrasi. Bila ada yang lemah sekali atau mati harus segera dipisahkan untuk
menghindari kematian kepiting lainya. Kepiting yang lemah, kurang sehat ditandai dengan gerakan
tangkai mata dan kaki renang yang lamban, serta keluar busa dari mulutnya.
PEMASARAN
Pasar adalah rangkaian dari usaha budidaya, karena peningkatan produksi tidak akan
memberikan dampak positif tanpa adanya potensi dan peluang pasar yang baik. Pengalaman
menunjukkan bahwa banyak teknologi yang tidak berkembang karena produk yang dihasilkan
tidak memiliki kepastian pasar dalam arti ekonomi secara luas. Disamping itu pemasaran produk
kepiting segar perlu adanya alternatif pemasaran produk kepiting olahan untuk menghindari
monopoli dan persaingan yang semakin ketat.
Pemasaran Segar/Hidup
Untuk pemasaran kepiting segar, perlu memperhatikan prasyarat pasar seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya. Bagi kepiting segar yang tidak memiliki syarat karena keropos, ukuran
belum mencukupi, telur belum penuh, cacat fisik dan lain-lain perlu upaya peningkatan mutu
untuk memenuhi prasyarat tersebut. Pengelolaan ini akan menguntungkan apabila secara kumulatif
memenuhi jumlah minimum untuk dipasarkan secara serentak. Satu kelemahan pasar di tingkat
petani antara lain informasi pasar yang sering terlambat atau bahkan tidak menjangkau. Misalnya
banyak petani penangkap tidak mengetahui prasyarat pasar, tidak mengetahui sistem grading,
harga yang tinggi untuk kepiting betina bertelur dan lain-lain. Oleh karena itu perlu adanya upaya
pembinaan dan bantuan dari pihak terkait sehingga petani bisa mendapatkan harga yang layak
untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Meskipun telah diketahui kepiting tahan hidup tanpa air selama beberapa hari, namun
untuk mempertahankan mutu perlu penanganan serius, misalnya bila terjadi satu ekor saja yang
Status Usaha Kepiting Bakau Ditinjau dari .....................................................
97
mati dan membusuk di antara kepiting yang banyak akan segera menular dan terjadi kematian
yang lain, sehingga sering terdengar kasus kerugian karena tiba di tempat konsumen/tujuan
kepiting banyak yang mati, padahal pada saat dikirim masih hidup. Pembeli yang melakukan
sorting dengan ketat akan melakukan seleksi ulang terhadap ukuran, kesehatan dengan melihat
gerak tangkai mata, kaki renang, respon gerak setelah ikatan dilepas dan faktor higienis dari
packingnya.
Pemasaran dalam bentuk hidup harus segera dilakukan dengan cepat dan dini sehingga
harus dipertimbangkan harus mempertimbangkan jumlah yang cukup untuk setiap panen dan
pemasaran. Dengan budidaya diharapkan target produksi serta mutu produksi bisa dijamin.
Produk Olahan
Tidak seperti pada pemasaran kepiting segar yang menuntut berbagai prasyarat penting,
pada produk olahan kepiting lebih sederhana tidak membedakan jenis dan keutuhan fisik tetapi
kesegaran dan faktor higienis dalam olahan sangat penting. Kepiting afkir untuk diperdagangkan
dalam keadaan segar karena cacat fisik bisa segera diolah untuk dipisahkan bagian yang dapat
dimakan (edible portion) yang berupa daging atau telur.
Kepiting jantan memiliki tubuh dan capit yang lebih besar daripada betina untuk umur
yang sama.kepiting jantan dengan kisaran berat antara 100 - 200 g mempunyai berat capit antara
30 - 45% berat tubuhnya, oleh karena itu kepiting jantan lebih diutamakan untuk produksi daging.
Kepiting betina memiliki berat dan capit lebih kecil, untuk ukuran sekitar 150 g berat capit
berkisar 20%.
Bagian terbesar dari tubuh kepiting berupa limbah (60%) dan sisanya (40%) merupakan
edible portion. Bagian yang dapat dimakan dari kepiting bertelur penuh terdiri dari 46% telur dan
sisanya daging kepiting. Sedangkan daging kepiting sekitar 58% berada pada tubuhnya dan sekitar
42% berada dalam capitnya. Oleh karena itu capit banyak penggemarnya karena dagingnya
terkumpul dan relatif lebih mudah untuk mendapatkan secara utuh.
Pengolahan kepiting berupa proses pemisahan antara limbah (carapase, kaki jalan, kaki
renang dan insang) daging dan telur dapat dilakukan dengan cara sederhana yaitu dengan merebus
kepiting segar yang telah bersih selama 3 - 5 menit, kemudian dilepas carapace-nya, dipecah capit
secara hati-hati. Daging dan telur diambil dengan bantuan pinset/garpu secara hati-hati sehingga
bagian kotoran yang berwarna kuning kehitaman dan lunak tidak menkontaminasi telur/daging
yang dapat menurunkan mutu, daging dan telur yang telah dipisahkan dapat disimpan dalam suhu
dingin dengan kemasan yang baik.
Produk olahan untuk konsumsi lokal di warung makan atau restoran dapat disajikan dalam
variasi menu yang menarik seperti kepiting rebus, kepiting gule, goreng, sop daging, sop telur
kepiting dan lain-lain dengan harga bervariasi.
Nutrisi Produk Olahan
Hasil analisis proksimasi dan telur kepiting bakau dapat dilihat pada tabel 1. Kandungan
protein yang tinggi dan kandungan lemak dan abu yang rendah merupakan salah satu indikasi
komposisi makanan yang baik. Lebih jauh perlu diketahui komposisi asam amino penyusun
protein yang tinggi tersebut.
Mengingat tingginya edibleportion (60%), maka perlu kiranya upaya pemanfaatan yang
ekonomis dan efisien. Bagian yang tidak dapat dimakan terutama carapace dan lain-lain, banyak
mengandung zat kapur (Warner, 1977) dengan kandungan protein dan lemak sangat rendah dan
abu tinggi, diduga dapat dimanfaatkan sebagai sumber mineral sebagai campuran ransom ternak.
Salah satu keberatan adalah kandungan chitcin tinggi yang perlu adanya proses pengolahan lebih
98
Neptunus, Vol. 14, No. 1, Juli 2007: 90 - 100
lanjut. Menurut informasi, di Amerika Serikat telah berhasil mengolah limbah pengolahan kepiting
bakau yang disebut dengan chitosan yang bermanfaat sebagai absorban logam berat.
Tabel 1. Analisis proksimasi kepiting bakau (S. Serrata) *) (%)
Bagian Tubuh
Protein
Lemak
Edible portion :
Daging
65.72
0.88
Telur
88.55
8.16
Non edible portion
1.99
ttd
Keterangan :
- edible portion (40 %), non edible portion (60 %)
- ttd = tidak terdeteksi
*) Hasil analisis lab. Balitkandita, Maros
Abu
7.5
3.2
49.9
ANALISIS USAHA
Untuk mengetahui tingkat pendapatan petani budidaya kepiting bakau di Sulawesi Selatan
disajikan beberapa jenis analisis usaha antar lain: (a) analisis usaha budidaya kepiting di tingkat
petani di Bone Sulawesi Selatan, dengan luas 0,25 ha, (b) analisis usaha polikultur pembesaran di
tingkat petani Bone (Sulawesi Selatan) dengan luas 0.25 ha, (c) prediksi analisis usaha budidaya
pembesaran kepiting bakau untuk luas petak 1 ha, (d) prediksi analisis usaha budidaya polikultur
kepiting dengan bandeng untuk luas petak 1 ha, (e) analisis usaha budidaya produksi kepiting
bertelur untuk luas petak 0.25 ha.
Kendala Pengembangan
Eksploitasi Berlebih
Potensi pasar yang baik dengan harga tinggi menyebabkan petani menangkap kepiting
semakin intensif. Salah satu contoh adalah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tempat mutu
kepiting dinilai baik untuk ekspor sehingga investor dan eksportir mendorong petani untuk
melakukan penangkapan lebih intensif dengan memberikan uang sebelum kepiting ditangkap.
Akibat lebih lanjut produksi kepiting tangkap menurun drastis, sementara usaha budidaya baru
dimulai.
Benih Hatchery
Untuk mengantisipasi kebutuhan benih kepiting sejalan dengan usaha budidaya
pembesaran, penggemukan dan produksi kepiting bertelur, maka serangkaian penelitian dan uji
coba pembenihan telah dan sedang dilakukan oleh Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai,
BBAP, universitas dan swasta.
Hasil terakhir yang bisa dipantau adalah bahwa produksi induk siap tetas sudah berhasil
baik, produksi larva tidak banyak masalah namun pemeliharaan larva hingga kepiting muda masih
mengalami moralitas yang tinggi. Diduga masalah lingkungan/mutu air dan pakan belum dapat
terpecahkan dan diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan berhasil seperti halnya
hatchery udang.
Keberadaan Sero di Pantai
Untuk memijah dan menetaskan telurnya induk kepiting akan berupaya ke laut untuk
mendapatkan salinitas dan kondisi air yang cocok. Dalam perjalanan ke laut ini kepiting yang siap
Status Usaha Kepiting Bakau Ditinjau dari .....................................................
99
menetas sering tertangkap dan biasanya akan dibawa petani sero bersama-sama dengan hasil
tangkapan lainnya. Apabila rata-rata per hari dari beberapa sero tertangkap 10 ekor induk siap
memijah, maka sedikitnya sekitar 10 juta telur akan hilang. Dan bila 10% dari larva yang menetas
hidup, berarti kehilangan sedikitnya 100.000 ekor benih per hari. Oleh karenanya diperlukan
kesadaran petani sero untuk melepaskan induk kepiting supaya menetaskan telurnya demi
kelestarian sumber daya kepiting alam sehingga produksi tangkap bisa berlanjut.
Teknologi Budidaya
Meskipun teknologi ini kelihatannya sederhana namun keberhasilan petani sangat
tergantung kepada kepedulian menerapkan sifat biologis kepiting yang sangat penting, misalnya
sifat kanibalisme, sensitive terhadap bahan tercemar, beruaya bila tiba saatnya memijah, pakan dan
kebiasaan makan dan lain-lain, disamping pertimbangan teknis dan non teknis lainnya.
Informasi Pasar
Potensi pasar yang besar serta harga yang tinggi mendorong investor untuk menanam
modalnya di bidang bisnis kepiting. Namun bila informasi pasar hanya sampai ditingkat
pengusaha, maka petani tidak menikmati hasil usahanya sehingga gairah untuk meningkatkan
usahanya menurun kalau tidak berhenti sama sekali. Oleh karena itu perlu ada mitra kerja di antara
kelompok petani dengan pengusaha dan pihak terkait lainnya.
Produk Olahan
Variasi produk olahan kepiting diharapkan dapat memberikan nilai tambah (added value)
yang lebih baik, di samping upaya pemanfaatan limbah hasil olahan kepiting.
DAFTAR PUSTAKA
Arriola, F. J. 1990. A Preliminary Study of Life History of Scylla serrata Forskal. Phil. J. Sci. 73
(4); 437-456.
Cholik, F and Hanafi, A. 1991. A Review of the status of the Mud crab ( Scilla sp ). Fishery and
culture in Indonesia. A Report of the Seminar Convened in Surathani, Thailand. Nov. 5-8.
Cholik, F. 1990. Effect of Shelter of Different Materials on Survival rate of Mud Crab ( Scilla s )
Coasta Aqua. Res. J. RICA. Maros South Sulawesi Indonesia.
Dirjen Perikanan. 1990. Ekspor dan Impor Hasil Perikanan Departemen Pertanian, Indonesia.
Jakarta.
Hanafi, A. dan Sulaeman. 1991. Teknologi Produksi Kepiting Bertelur. Makalah disampaikan pada
temu APT di BIP Surabaya.
Hanafi, A. dan Sulaeman. 1992. Teknologi Kepiting Bakau. ( Scilla Serrata ) dan pasca Panen.
Makalah disampaikan pada seminar sehari Prospek pengembangan dan pemasaran
kepiting Bakau sebagai Komoditas Ekspor Non Migas. Ujung Pandang. 21 April 1992.
100
Neptunus, Vol. 14, No. 1, Juli 2007: 90 - 100
Fly UP