...

Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau (Scylla serata

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau (Scylla serata
Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau pada Konsentrasi Sublethal Fenol
(Sari dkk.)
36
Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau (Scylla serata) pada
Konsentrasi Sublethal Fenol sebagai Peringatan Dini (Early warning)
Toksisitas Fenol di Estuaria
Alfi Hermawati Waskita Sari1*, Yenny Risjani1, Agung Pramana Warih Marhendra2
1
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya
2
Abstrak
Fenol dan senyawa fenolik merupakan salah satu xenobiotik yang menjadi salah satu faktor stres lingkungan pada
biota yang terpapar dan telah menjadi masalah lingkungan akibat dampak antropogenik lingkungan. Konsentrasi fenol
yang melebihi batas ambang ke dalam ekosistem perairan dapat menjadi stresor kimia bagi organisme akuatik,
termasuk kepiting bakau (Scylla serata). Teknik histologi juga merupakan salah satu metode umum yang dapat
digunakan untuk mengetahui efek sublethal polutan. Sebelum menetapkan konsentrasi sublethal, terlebih dahulu
dilakukan penentuan konsentrasi LC50 (96 jam). Berdasarkan data mortalitas dari hasil uji toksisitas akut LC50 (96 jam)
fenol terhadap kepiting bakau (Scylla serata) yang dianalisis dengan analisis probit, diperoleh konsentrasi LC50 (96 jam)
-1
sebesar 26 mg.L . Dari hasil tersebut kemudian ditentukan perlakuan konsentrasi sublethal fenol (96 jam) yang
-1
-1
-1
dilakukan, yakni perlakuan A (1,62 mg.L ), B (6,5 mg.L ), C (13 mg.L ) serta kontrol. Hasil pengamatan pada akhir
perlakuan diketahui terdapat perbedaan yang signifikan terhadap histologi organ insang dan hepatopankreas pada tiap
perlakuan dimana pada konsentrasi yang semakin tinggi menunjukkan kerusakan jaringan yang semakin terlihat jelas
pada hepatopankreas juga terlihat perubahan yang signifikan yang terlihat pada tubulus hepatopankreatik kepiting
bakau (S. serata) yaitu vakuola lebih terbentuk, epitel tampak tidak teratur, hilangnya bentuk bintang pada lumen.
Kata Kunci : fenol, hepatopankreas, kepiting bakau.
Abstract
Phenols and phenolic compounds is one of xenobiotics which became one of the environmental stress factors on
biota exposed and have become environmental problems due to anthropogenic environmental impacts. Phenol
concentrations that exceed the threshold into the aquatic ecosystem can be a chemical stressors to aquatic organisms,
including also for the mud crab (Scylla serata). Histological technique is also one of the common methods used to
determine the sublethal effects of pollutants. Before setting sublethal concentrations, first performed the
determination of the concentration LC50 (96 hours). Based on mortality data from the test results of acute toxicity LC50
(96 hours) phenol of mangrove crab (S. serata) are processed using probit analysis, obtained by concentration LC50 (96
-1
hours) at 26 mg.L . From the results of treatment are then determined sublethal concentrations of phenol (96 hours) is
-1
-1
-1
performed, ie, treatment A (1.62 mg.L ), B (6.5 mg.L ), C (13 mg.L ) and control. Observations in the end of treatment
showed a significant difference to hepatopankreas organ histology in each treatment which at the higher
concentrations indicates that the more tissue damage visible on hepatopankreas also seen significant changes seen in
the tubules hepatopankreatik mangrove crab (S. serata) the vacuole is more established, the epithelium appears
irregular, loss of star shape in the lumen.
Keywords: Phenol, hepatopancreas, mangrove crab
PENDAHULUAN
Fenol dan senyawa fenol dapat menjadi salah
satu bahan pencemar air yang masuk ke alam
dan masuk ke dalam perairan melalui limbah cair
dari berbagai industri antara lain industri
batubara, manufaktur fenol, farmasi, resin, cat,
tekstil, kulit, petrokimia, pulpmill [1], limbah

Alamat korespondensi:
Agung Pramana Warih Mahendra
email : [email protected]
Alamat : Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Jl. Veteran,
Malang, 65145
J.Exp. Life Sci. Vol. 2 No. 1, 2012
fenol juga dapat berasal dari pestisida non
spesifik, herbisida, bakterisida dan fungisida [2]
maupun berasal dari berbagai proses industri
yang digunakan pada gasifikasi batubara dan
kilang minyak [1]. Baku mutu yang sesuai dengan
ketentuan PP 82/2001, Sungai Kelas III, besarnya
konsentrasi fenol maksimum yang diperbolehkan
-1
adalah 0,001 mg.L [3]. Hadirnya fenol yang
melebihi batas ambang dalam ekosistem
perairan dapat menjadi stresor kimia bagi
organisme akuatik, termasuk juga bagi kepiting
bakau yang hidup di ekosistem muara [4], oleh
ISSN. 2087-2852
E-ISSN. 2338-1655
Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau pada Konsentrasi Sublethal Fenol
(Sari dkk.)
karena muara (estuaria) merupakan daerah
pertemuan antara air tawar dari perairan sungai
dan air laut sehingga berpotensi mengandung
bahan kimia antropogenik. Hal tersebut dapat
terjadi dikarenakan fenol yang terdapat pada
limbah sungai pada akhirnya akan mengalir
menuju muara sebagai akhir pembuangan [5].
Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan
invertebrata yang umum digunakan dalam studi
ekotoksisitas polutan dengan berbagai alasan
berikut: (1) memiliki distribusi luas di lingkungan
muara yang dimanfaatkan sebagai daerah
pembibitan untuk pakan, pertumbuhan dan
perkembangan (2) bersifat semi pelagik di alam,
(3) sensitif terhadap polutan, (4) tersedia
sepanjang tahun sehingga meminimalkan
kesulitan yang terlibat dalam lokasi dan
pengambilan sampel di lapangan, (5) dapat
diaklimatisasikan pada kondisi laboratorium
dengan mudah [4]. Berdasarkan respon
organisme, terbagi dalam efek lethal dan
sublethal. Efek letal akan secara langsung
berdampak pada kematian individu dalam waktu
singkat pada satu kali kesempatan. Sedangkan
efek sublethal merupakan pengaruh bahan toksik
akibat perlakuan yang belum mematikan dalam
selang waktu yang cukup lama [6]. Konsentrasi
sublethal telah banyak digunakan untuk
mengevaluasi toksisitas polutan dalam air
berbagai organisme. Untuk mengetahui efek
sublethal dari paparan bahan toksik, perubahan
histologi pada organisme akuatik tersebut juga
merupakan biomarker yang sangat baik terhadap
toxican karena merupakan gambaran hasil
biokimia dan perubahan fisiologis. Tanggapan
histositologi relatif mudah untuk menentukan
dan bisa berkaitan dengan kesehatan individu
yang memungkinkan pengembangan monitoring
lebih lanjut [7].
Hepatopankreas yang
merupakan organ
pencernaan pada kepiting yang juga memiliki
fungsi penting, termasuk fungsi absorpsi yang
ditandai oleh sel mikrovili menunjukkan sebuah
penyerapan
[8],
sekresi
enzim
[9,10],
penyimpanan nutrisi, metabolisme, tempat
sintesis vitellogenin selain ovarium, serta
detoksifikasi [8, 10]. Sebagai organ utama
detoksifikasi xenobiotik pada kelas krustasea,
hepatopankreas sangat sensitif terhadap
perubahan fisiologis dan lingkungan [8].
Perubahan histologi pada organisme akuatik
tersebut merupakan biomarker yang sangat baik
terhadap toxican karena merupakan gambaran
hasil biokimia dan perubahan fisiologis. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai
J.Exp. Life Sci. Vol. 2 No. 1, 2012
37
sejauh mana konsentrasi sublethal fenol
terhadap perubahan histologi insang dan
hepatopankreas kepiting bakau (Scylla serata),
sehingga diharapkan informasi ini dapat
diintegrasikan sebagai salah satu sistem
peringatan dini (early warning) untuk memantau
sejauh mana pencemaran fenol dalam perairan
dalam upaya untuk menghindari dampak yang
lebih jauh pada ekosistem perairan terutama
estuaria dan terlebih lagi terhadap populasi
manusia.
METODE PENELITIAN
Aklimasi
Aklimasi Sebelum uji toksisitas, kepiting
bakau (S. serata) terlebih dahulu diaklimatisasikan dalam kondisi laboratorium selama 6-8 hari.
Kepiting uji yang berukuran panjang 9±0,5 cm
dan lebar 6±0,5 cm dengan berat rata-rata 65-75
gram dipelihara dalam aquarium kaca 40x25x20
cm dengan volume 10 liter air laut salinitas 25‰,
kepadatan 10 ekor kepiting per akuarium [4].
Aklimatisasi tersebut di kondisi laboratorium
yang terkendali dengan aerasi konstan [12].
Kepiting bakau diberi pakan dengan moluska dan
udang sekali sehari. Pengisian air dilakukan
secara rutin setiap 24 jam untuk menghindari
residu toksisitas. Suhu, salinitas dan derajat
keasaman (pH) dimonitor secara rutin demikian
juga dengan oksigen terlarut (DO). Fotoperiodik
12 jam gelap dan 12 jam terang juga diberikan.
Kondisi
pasang
surut
disimulasikan
di
laboratorium
dengan
meningkatkan
dan
menurunkan tingkatan air di dalam setiap durasi
12 jam [11].
Uji Toksisitas Fenol di Laboratorium
Setelah aklimasi dengan kondisi laboratorium,
uji toksisitas dilakukan untuk menentukan
konsentrasi median (LC50) fenol pada kepiting
bakau (S. serrata). Penentuan LC50 dilakukan
untuk mendapatkan nilai ambang batas
konsentrasi median toksisitas fenol pada kepiting
bakau. Masing-masing kepiting bakau dibagi
menjadi beberapa kelompok dan setiap
kelompok berisi 10 kepiting dalam kaca akuarium
berisi air laut salinitas 22‰, dalam tiga kali
replikasi. Larutan stok, dibuat konsentrasi fenol
yang diinginkan untuk menentukan toksisitas
kepiting bakau. Selama uji toksisitas berlangsung,
tidak dilakukan pemberian pakan [4]. Kepiting
secara rutin diperiksa mortalitasnya. Kepiting
yang mengalami kematian langsung dibuang
untuk menghindari toksisitas tambahan dan
kualitas air yang jelek [12]. Data mortalitas diolah
ISSN. 2087-2852
E-ISSN. 2338-1655
Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau pada Konsentrasi Sublethal Fenol
(Sari dkk.)
dengan
regresi
linier
(Y=a+bx)
untuk
mendapatkan nilai LC50 (96 jam). Selama
perlakuan percobaan, wadah uji ditutupi oleh
tutup untuk mencegah pengeringan lewat
atmosfer [12].
Histologi Organ Hepatopankreas
Adapun pembuatan preparat histologi dan
histopatologi meliputi tahap parafinasi atau
embedding dengan langkah pertama adalah
2
pengirisan jaringan dengan ukuran 0,5x0,5 cm ,
perendaman dalam larutan fiksatif, yaitu
formalin 10% selama 24 jam sampai tak terbatas,
diikuti dengan perendaman dalam alkohol 70%,
80%, 90%, 95%, alkohol absolut I, II, xylol I, xylol
II, masing-masing 2 jam. Kemudian perendaman
dengan menggunakan parafin I, parafin II selama
1 jam. Lalu proses embedding atau pemblokkan
dilakukan dengan cara memasukkan jaringan
dalam cetakan berisi parafin cair menggunakan
embedding machine “LEICA EG 1120”.
Pendinginan
hingga
mengeras
dengan
menggunakan embedding machine LEICA 1150C
selanjutnya disimpan dalam suhu kamar selama
24 jam.
Tahap kedua adalah tahap deparafinasi yakni
pemotongan blok parafin yang berisi jaringan
dipotong dengan menggunakan mikrotom
dengan ketebalan 5 mikron. Lalu jaringan yang
terpotong diletakkan pada air hangat dalam
Tissue Float Bath untuk mencegah hasil
pemotongan melengkung. Selanjutnya diletakkan
diatas gelas obyek lalu dikeringkan hingga
jaringan menempel sempurna pada permukaan
gelas obyek. Kemudian dilakukan pencelupan
secara berturut-turut pada larutan xylol I dan II;
alkohol absolut I dan II; alkohol 99%, 90%, 80%,
70% masing-masing selama 3 menit. Lalu
dilakukan pencelupan dalam aquadest selama 5
menit. Sedangkan tahapan ketiga adalah tahap
pewarnaan, tahapan ini dimulai dengan
pencelupan dalam larutan pewarna haematoxilin
sampai hasil terbaik, apabila warna terlalu pekat,
rendam beberapa detik dengan 1% HCL dalam
alkohol 70%, kemudian bilas dengan air mengalir
selama 5-30 menit dilanjutkan dengan proses
pewarnaan II dengan eosin selama 5-30 menit
lalu bilas dengan akuades kemudian untuk
pengecatan mengunakan wright dengan metode
yang sama dengan haematoxilin. Tahapan
selanjutnya adalah dehidrasi yakni pencelupan
kembali secara berturut-turut pada larutan
alkohol 70%, 80% selama 30 menit; alkohol 90%,
95% selama 1 menit dilanjutkan alkohol absolut I,
II selama 1 menit, kemudian diikuti tahapan
J.Exp. Life Sci. Vol. 2 No. 1, 2012
38
clearing dengan proses pencelupan dalam xylol I
dan xylol II selama 2 menit. Tahapan akhir dari
teknik histologi adalah mounting dimana
preparat di lem dengan menggunakan albumin
meyer, kemudian ditutup dengan cover glass.
Hindari terjadinya gelembung. Lalu dibiarkan
dalam suhu ruangan sampai lem mengering,
kemudian diamati di bawah miskroskop.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Toksisitas Akut LC50 (96 Jam) Bahan Toksik
Fenol Terhadap Kepiting Bakau (S. serata)
Uji toksisitas akut LC50 (96 jam) fenol
terhadap kepiting bakau (S. serata) dilakukan
untuk menentukan lethal concentration 50 %
digunakan lima perlakuan konsentrasi yang
-1
berbeda yakni perlakuan A (16 mg.L ), B (32
-1
-1
-1
mg.L ), C (64 mg.L ), D (128 mg.L ) dan kontrol
(tanpa perlakuan). Pada uji toksisitas akut
tersebut, persentase mortalitas kepiting bakau
(S. serata) tertinggi adalah pada perlakuan D
(100%) kemudian diikuti perlakuan C (70%), B
(50%), A(40%), dan K (0%). Berdasarkan
perhitungan dengan analisis probit maka dapat
diketahui nilai LC50 (96 jam) fenol terhadap
-1
kepiting bakau (S. serata) adalah 26 mg.L . Data
perhitungan penentuan konsentrasi LC 50 (96 jam)
fenol terhadap kepiting bakau (S. serata)
berdasarkan analisis probit ditunjukkan pada
Tabel 1.
Tabel 1. Perhitungan penentuan konsentrasi LC50 (96
jam) fenol terhadap kepiting bakau (S. Serata)
berdasarkan analisis probit
Konsentrasi
(ppm)
Log
Konsentrasi
Persen
Kematian (%)
Nilai
probit
16
32
64
128
1,2041
1,5051
1,8062
2,1072
40
50
70
100
4,75
5,00
5,52
8,09
Persamaan regresi yang diperoleh dari data
diatas adalah Y= 3,5012X+0,0433 (r=0,8871). Nilai
LC50 (96 jam) diperoleh dengan cara memasukan
nilai probit 5,00 (% kematian 50%) sebagai
variabel Y kedalam persamaan regresi tersebut,
sehingga didapatkan median konsentrasi letal
50% (LC50) selama 96 jam fenol terhadap
-1
kepiting bakau (S. serata) sebesar 26 mg.L .
Uji Toksisitas Sublethal Fenol terhadap Kepiting
Bakau (S. serata)
Konsentrasi perlakuan yang digunakan untuk
uji toksisitas sublethal tersebut mengacu pada
nilai LC50-96 jam yang telah didapatkan dari uji
toksisitas akut. Selama penelitian berlangsung
ISSN. 2087-2852
E-ISSN. 2338-1655
Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau pada Konsentrasi Sublethal Fenol
(Sari dkk.)
pergantian media uji sehari sekali. Pemberian
pakan kepiting bakau (S. serata) dilakukan 2 kali
sehari, yaitu pagi dan sore. Kepadatan kepiting
uji adalah lima ekor kepiting bakau (S. serata) per
unit percobaan, yang diisi 5 liter air payau
dengan salinitas sebesar 22 ppt. Parameter
kualitas air yang diamati adalah, oksigen terlarut
(DO), suhu dan derajat keasaman (pH) yang
diamati setiap hari. Perlakuan pada uji toksisitas
sublethal adalah berdasarkan nilai sublethal atau
setengah nilai LC50–96 jam ke seri tingkatan
konsentrasi yang lebih rendah. Konsentrasi fenol
yang digunakan untuk uji toksisitas sublethal
selama 7 hari adalah 1/16, 1/4 dan 1/2 dari LC5096 jam. Jadi konsentrasi perlakuan pada uji
39
toksisitas sublethal adalah sebagai berikut:
kontrol (tanpa perlakuan), perlakuan A (1,62
-1
-1
mg.L ), perlakuan B (6,5 mg.L ), perlakuan C (13
-1
mg.L ). Pengamatan yang dilakukan pada uji
toksisitas sublethal adalah histologi organ
hepatopankreas kepiting bakau (S. serata).
Histologi Organ Hepatopankreas setelah
Pemaparan Konsentrasi Sublethal Fenol
Berdasarkan
pengamatan
di
bawah
mikroskop cahaya tampak struktur umum dari
tubulus hepatopancreatik kepiting bakau (S.
serata) pada tiap perlakuan ditunjukkan oleh
Gambar 1.
a.
b.
c.
d.
e.
Gambar 1. Gambaran histologi hepatopankreas kepiting bakau (S. serata) setelah akhir perlakuan pemaparan konsentrasi
sublethal fenol. Keterangan: a,b. Kontrol; c. Perlakuan dengan fenol konsentrasi konsentrasi 1,62 mg.L-1; d.
Perlakuan dengan fenol konsentrasi konsentrasi 6,5 mg.L-1; e. Perlakuan dengan fenol konsentrasi konsentrasi 13
mg.L-1; Skala bar: 10μ.
Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat
perubahan yang signifikan yang terlihat pada
tubulus hepatopankreatik kepiting bakau (S.
serata) yang terpapar konsentrasi sublethal fenol
yang berbeda selama tujuh hari bila
dibandingkan dengan kontrol (tanpa perlakuan).
Disamping itu juga, terlihat perbedaan pada
J.Exp. Life Sci. Vol. 2 No. 1, 2012
masing-masing perlakuan. Perubahan histologi
yang terlihat pada organ hepatopankreas
kepiting bakau (S. serata) adalah membran
hepatopankreas tampak kusut dan vakuola lebih
terbentuk.
Selain
itu,
epitel
tampak
bergelombang, bahkan seperti tidak beraturan
dan pada konsentrasi sublethal fenol yang
ISSN. 2087-2852
E-ISSN. 2338-1655
Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau pada Konsentrasi Sublethal Fenol
(Sari dkk.)
-1
semakin tinggi, yakni perlakuan C (13 mg.L ) dan
bentuk bintang pada lumen sudah tidak terlihat
jelas dan vakuola semakin terlihat jelas.
Pembahasan
Hepatopankreas merupakan organ yang
sangat sensitif terhadap pengaruh pencemaran,
sehingga organ ini sering digunakan untuk
memonitor efek dari berbagai toksikan. Efek dari
paparan beberapa perlakuan konsentrasi
sublethal fenol melalui teknik histologis untuk
mengetahui perubahan jaringan hepatopankreas
dari kepiting bakau (S. serata) di amati pada
penelitian ini. Teknik histopatologi merupakan
teknik yang cepat, sensitif, handal dan relatif
murah sebagai alat penilaian terhadap respon
stres dari bahan toksik xenobiotik. Perubahan
dan
evaluasi
manifestasi
histopatologis
memberikan wawasan informasi terhadap
tingkat
stres,
kerentanan
dan
adaptif
kemampuan organisme menghadapi stres.
Perubahan histopatologis memberikan evaluasi
tingkat stres, kerentanan dan kemampuan
adaptif organisme terhadap stres, seperti halnya
pada organ hepatopankreas kepiting bakau (S.
serata). Hal tersebut menunjukkan bahwa organ
tersebut sangat bereaksi terhadap perubahan
lingkungan [13].
Sebagian besar toksikan masuk melaui darah
kedalam tubuh organime melalui alat
pencernaan yang kemudian diabsorpsi dan
dibawa ke hepar. Organ tersebut berfungsi
sebagai organ utama yang penting dalam
regulasi, metabolisme dan detoksifikasi racun
oleh xenobiotik yang bersifat toksik. Xenobiotik
atau senyawa asing didalam hepar dapat
mengalami detoksifikasi tetapi juga dapat
dibioaktifkan menjadi lebih toksik. Fungsi hepar
tersebut dapat terganggu apabila ada gangguan
proses metabolisme karena adanya senyawa
bersifat racun, termasuk fenol yang secara
kuantitatif mempengaruhi aktivitas enzim
metabolisme di zona hepar. Untuk itu hepar
memiliki peranan penting sebagai penjelasan
profil metabolik fenol [14]. Pada organisme
kepiting, xenobiotik masuk melalui air, sedimen
ataupun makanan melalui insang kemudian
menumpuk pada organ kaya lemak yakni
hepatopankreas. Hepatopankreas crustacea
memiliki banyak fungsi yang terkait seperti
halnya organ hati
maupun pankreas pada
vertebrata yang meliputi sintesis dan sekresi
enzim pencernaan, penyerapan nutrisi, dan
akumulasi gizi cadangan [15]. Hepatopankreas
tidak hanya merupakan organ pencernaan yang
J.Exp. Life Sci. Vol. 2 No. 1, 2012
40
memiliki kemampuan penyerapan, pencernaan,
penyimpanan, dan sekresi, tetapi juga besar situs
di mana biotransformasi dan detoksifikasi alami
pada kelas krustasea. Rute toksik selama
metabolisme merupakan hal penting yang harus
diperhatikan menentukan pilihan organ untuk
mengamati efek dari pengaruh xenobiotik serta
menunjukkan umum dan tanggapan khusus
untuk tertentu stres. Hepatopankreas pada
dasarnya terdiri tubulus bercabang dan berbagai
jenis lapisan sel epitel tubulus. Oleh karena itu,
kemungkinan bahwa paparan bahan kimia
berbahaya (xenobiotik) akan tercermin dalam
perubahan struktur tubulus sel epitel [16].
Sehingga diharapkan informasi gambaran lesi
akibat efek toksik tersebut dapat menjadi
biomarker histopatologis (histological biomarker)
sebagai upaya peringatan dini (early warning)
pencemaran fenol yang mengancam estuaria.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Saha N.C., Bhunia F., dan Kaviraj A. 1999.
Toxicity of Phenol to Fish and Aquatic
Ecosystems. Bulletin of Environmental
Contamination and Toxicology. 63: 195.202.
[2] Gupta S., Dalela R.C., dan Saxena P.K. 1983.
Effect of phenolic compounds on in vivo
activity of transaminases in certain tissues
of the fish of the fish Notopterus
notopterus. Environ. Res. 32: 8-13.
[3] Herawati N., Purwanto, and Hadiyarto A.
2007. Analisis risiko lingkungan aliran
Lumpur Lapindo ke badan air (studi kasus
Sungai Porong dan Sungai Aloo Kabupaten
Sidoarjo). Program Studi Magister Ilmu
Lingkungan Pasca Sarjana. Universitas
Diponegoro. Semarang.
[4] Vijayavel K., Gopalakrishnan S., Thiagarajan
R., dan Thilagam H. 2008. Immuno-toxic
Effects of Nickel in the Mud Crab Scylla
serrata. Fish & Shellfish Immunology. 26 (1):
133-139.
[5] Abdel-Hameid N.H. 2007. Physiological and
Histopathological Alterations Induced by
Phenol Exposure in Oreochromis aureus
Juveniles. Turkish Journal of Fisheries and
Aquatic Sciences. 7: 131-138.
[6] Connell D.W. and Milller G.J. 1995. Kimia
dan
Ekotoksikologi
Pencemaran.
Terjemahan: Yanti Koestoer. Penerbit
Universitas Indonesia Press. Jakarta. 52-337.
[7] Larsson U., Elmgren R., and Wulff F. 1985.
Eutrophication and the Baltic Sea: Causes
and consequences. Ambio. 14: 10–14.
ISSN. 2087-2852
E-ISSN. 2338-1655
Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau pada Konsentrasi Sublethal Fenol
(Sari dkk.)
[8]
[9]
[10]
[11]
[12]
[13]
[14]
[15]
[16]
41
Sousa L.G., and Petriella A.M. 2007.
Functional morphology of the Hepatopancreas of Palaemonetes argentinus
(Crustacea: Decapoda): Influence of
environmental pollution. Revista de Biologia
Tropical. 55(1):78-86.
Ceccaldi H.J. 1989. Anatomy and physiology
of digestive tract of Crustaceans Decapods
reared in aquaculture. Advances in Tropical
Aquaculture, Workshop at Tahiti, French
Polynesia. Chapter 26: 243-259.
Zeng H., Ye H., Li S., Wang G., and Huang J.
2010. Hepatopancreas cell cultures from
Mud Crab Scylla paramamosain. In Vitro
Cellular & Development Biology-Animal. 46:
431-437.
Saha S., Ray M., and Ray S. 2010. Screening
of phagocytosis and intrahemocytotoxicity
in arsenic exposed crab as Innate immune
response. Asian Journal Experimental
Biological Sciences. 1: 47-54.
Saha P., Selvan V.T., Mondal S.K., Mazumder
U.K., Gupta M. 2008. Antidiabetic and
antioxidant activity of Methanol extract of
Ipomoea reptans poir aerial parts in
Streptozotocin induced diabetic rats.
Pharmacologyonline. 1: 409-421.
Sousa L.G. and Petriella A.M. 2007.
Functional morphology of the hepatopancreas of Palaemonetes argentinus
(Crustacea: Decapoda): influence of
environmental pollution. Revista de Biología
Tropical. 55: 79-86.
Medinsky M.A., Kenyon E.M., and Schlosser
P.M. 1995. Benzene: a case study in parent
chemical and metabolite interactions.
Toxicology. 105 (2-3): 225-233.
Gibson O. and Barker P.L. 1979. The
decapod hepatopancreas. Oceanography
and Marine Biology Annual Review. 17: 285346.
Bhavan P.S. and Geraldine P. 2000. Histopathology of the hepatopancreas and gills of
the prawn Macrobrachium malcolmsonii
exposure to endosulfan. Aquatic Toxicology.
50(4): 331-339.
J.Exp. Life Sci. Vol. 2 No. 1, 2012
ISSN. 2087-2852
E-ISSN. 2338-1655
Fly UP