...

IndustrI KreatIf Punya PotensI Besar

by user

on
Category: Documents
5

views

Report

Comments

Transcript

IndustrI KreatIf Punya PotensI Besar
EDISI 3 - 2011
MADE IN INDONESIA
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Tas Manggar
Casava “Cokro”
Coklat “Monggo”
Bamboomedia
Angklung “Mang Udjo”
Batik Betawi
Ecoplas Tirta Marta
Kertas Sinar Tech
APKJ Jepara
Kain Tenun Songket Bali
Batik Sekarjati
Minuman Khas Bali
Ayu Orchid
Keris Tosan Aji
TEKNOLOGI
• Angklung Tradigi
Mesin Deteksi Wajah
APA DAN SIAPA
Keramik Lidya
Industri Kreatif
Punya Potensi Besar
Menopang Ekonomi Nasional
Daftar Isi
DARI MEJA REDAKSI
Cintai & Gunakan
PRODUKSI
INDONESIA
EDISI 3 - 2011
AKTUALITA
Perekonomian dunia terus berkembang seiring dengan munculnya potensipotensi ekonomi baru yang mampu menopang kehidupan perekonomian
masyarakat dunia. Pada awalnya kegiatan perekonomian masyarakat dunia
bertumpu pada perekonomian berbasis sumber daya alam (SDA), yaitu
pertanian, kini perekonomian dunia sudah bergeser ke perekonomian berbasis
sumberdaya manusia (SDM), yaitu industri dan teknologi informasi.
4
Industri Kreatif Punya Potensi Besar Menopang Ekonomi Nasional
MADE IN INDONESIA
8
10
12
14
18
20
22
24
26
28
30
32
34
36
Pakar ekonomi dunia Alvin Toffler, membagi perkembangan peradaban ekonomi
dunia ke dalam tiga gelombang ekonomi, yaitu gelombang ekonomi pertama
berupa perekonomian yang didominasi oleh kegiatan pertanian; gelombang
ekonomi kedua berupa perekonomian yang didominasi oleh kegiatan industri;
dan gelombang ekonomi ketiga berupa perekonomian yang berbasis teknologi
informasi.
Alvin juga memperkirakan setelah gelombang ekonomi ketiga akan muncul
gelombang ekonomi keempat atau yang disebut juga dengan gelombang ekonomi
kreatif, yaitu perekonomian yang berbasiskan pada ide-ide atau gagasan yang kreatif
dan inovatif. Gelombang ekonomi keempat inilah yang kini sudah mulai terlihat
menggeliat di tanah air. Secara kebetulan Indonesia memiliki banyak insan-insan
kreatif yang mampu menghasilkan produk industri kreatif yang khas dan handal.
Karena itu, tidak mengherankan apabila pemerintah c.q. Kementerian Perindustrian
memberikan perhatian yang cukup besar terhadap industri kreatif ini.
Tas Manggar
Casava “Cokro”
Coklat “Monggo”
Bamboomedia
Angklung “Mang Udjo”
Batik Betawi
Ecoplas Tirta Marta
Kertas Sinar Tech
APKJ Jepara
Kain Tenun Songket Bali
Batik Sekarjati
Minuman Khas Bali
Ayu Orchid
Keris Tosan Aji
Walaupun dalam cetak biru pengembangan ekonomi kreatif di tanah air terdapat 14
subsektor ekonomi kreatif yang akan dan terus dikembangkan pemerintah, namun
sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Kementerian Perindustrian melalui
Direktort Jenderal Industri Kecil dan Menengah (Dirjen IKM) lebih memfokuskan diri
untuk membina dua subsektor industrikreatif, yaitu subsektor fashion dan kerajinan.
Kedua subsektor industri kreatif ini secara kebetulan merupakan subsektor yang
paling menonjol kontribusinya terhadap industri kreatif secara keseluruhan, baik
dalam nilai tambah, tenaga kerja, jumlah perusahaan, maupun nilai ekspor.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang pengembangan industri kreatif di Kementerian
Perindustrian, pada majalah KINA edisi nomor III ini kami sengaja menurunkan
laporan mengenai industri kreatif hasil wawancara dengan Dirjen IKM Kemenperin
Euis Saedah. Laporan tersebut kami sajikan pada rubrik Aktualita.
TEKNOLOGI
38 Angklung Tradigi
40 Mesin Deteksi Wajah
Pada rubrik Made in Indonesia kami juga sengaja menampilkan serangkaian
laporan menarik mengenai produk industri kreatif seperti produk Tas Manggar,
Casava Cokro, Cokelat Monggo, produk teknologi informasi Bamboomedia,
Angklung Mang Ujo,Batik Betawi dan lain-lain. Sementara itu, pada rubric
Teknologi kami sengaja mengangkat laporan menganai Angklung Tradigi,
sebuah produk kreatif hasil kreasi anak bangsa yang memadukan alat musik
tradisional angklung dengan teknologi digital sehingga dihasilkan alat musik
yang siap diperdengarkan kapan saja.
Kami, Tim Redaksi majalah KINA sangat mengharapkan berbagai tulisan dan
laporan tersebut dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sekalian,
paling tidak berbagai laporan dan tulisan tersebut dapat menjadi inspirasi
kepada seluruh pemangku kepentingan industri di tanah air dalam
mengembangkan berbagai produk industri yang kreatif dan inovatif.
Selamat membaca. LINTAS BERITA
42 Kampoong Industry
43 World Batik Summit
OPINI
44 Rudy Sutedja
APA DAN SIAPA
46 Keramik Lidya
REDAKSI
2
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Pemimpin Umum: Ansari Bukhari | Pemimpin Redaksi: Hartono | Wakil Pemimpin Redaksi: Nyoman Wirya Artha |
Redaktur Pelaksana: Intan Maria | Sekretaris: Bimo | Editor: Djuwansyah | Anggota Redaksi: Krisna, Laras |
Desain: Andi | Photografer: J. Awandi | Tata usaha: Dedi, Sukirman S, Achyani , Suparman, Windy
Redaksi menerima artikel, opini, surat pembaca. Setiap
tulisan hendaknya diketik dengan spasi rangkap dengan
panjang naskah 6000 - 8000 karakter, disertai identitas
penulis. Naskah dikirim ke [email protected]
Alamat Redaksi
Pusat Komunikasi Publik, Gedung Kementerian Perindustrian, Lt 6, Jl. Gatot Subroto Kav. 52-53, Jakarta
Telp: (021) 5255609, 5255509, Pes. 4074, 2174.
Majalah ini dapat
diakses melalui www.kemenperin.go.id
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
3
AKTUALITA
Industri Kreatif
Punya Potensi Besar
Menopang Ekonomi Nasional
AKTUALITA
Ditjen IKM Fokus ke Industri Fashion dan Kerajinan kontribusi terhadap PDB sebesar 7,28% akan
tetapi di tahun 2009 meningkat menjadi 7,6 %.
Struktur
perekonomian
dunia
terus
mengalami transformasi dengan cepat seiring
dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya
berbasis sumber daya alam (SDA) sekarang
menjadi berbasis SDM, dari era pertanian ke era
industri dan informasi.
Mengingat begitu besarnya kontribusi
industri kreatif terhadap perekonomian nasional,
pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan
untuk mengembangkan industri kreatif di dalam
negeri.
Alvin Toffler (1980) dalam teorinya telah
melakukan pembagian gelombang peradaban
ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang
pertama adalah gelombang ekonomi pertanian.
Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga
adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian
diprediksikan gelombang keempat adalah
gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi
pada ide dan gagasan kreatif.
Kehadiran gelombang ekonomi kreatif kini
sudah menjadi kenyataan. Dalam beberapa
tahun terakhir ini, industri kreatif telah banyak
dikembangkan di muka bumi ini.
Bahkan, ekonomi kreatif yang dipresentasikan
melalui industri kreatif yang bermodalkan
ide-ide kreatif, talenta dan keterampilan serta
ide-ide terbarukan, telah menjadi penopang
perekonomian suatu negara.
Kontribusi positif dari keberadaan industri
kreatif terhadap posisi perekonomian nasional
juga telah dirasakan Indonesia.
Data
Kementerian
Perdagangan
menunjukkan kontribusi ekonomi kreatif jika
ditinjau dari sisi ekspor, rata-rata kontribusinya
pada periode 2002-2008 mencapai 9,2 %.
Bahkan, kontribusinya terus meningkat
dari tahun ke tahun, seperti pada tahun 2008
4
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Salah satu kebijakan yang diambil pemerintah
adalah menetapkan subsektor industri mana saja
yang dapat digolongkan sebagai industri kreatif.
Setelah melalui studi intensif, akhirnya
ditentukan 14 subsektor (kelompok industri)
yang masuk dalam industri kreatif. Keempat
belas subsektor itu adalah arsitektur, desain,
fashion,film, video, dan fotografi, kerajinan,
layanan komputer dan piranti lunak,
musik, pasar barang seni, penerbitan dan
percetakan,periklanan,permainan interaktif, riset
& pengembangan,seni pertunjukan, televisi dan
radio.
Selain
itu,
agar
pembinaan
dan
pengembangan industri kreatif lebih terpokus,
pemerintah juga telah mengeluarkan Instruksi
Presiden nomor 6 tahun 2009 tentang
Pengembangan Ekonomi Kreatif.
Dalam INPRES tersebut disampaikan
mengenai peran dan tanggungjawab dari instansi
terkait dengan pengembangan ekonomi kreatif.
Menurut Dirjen Industri Kecil dan Menengah,
Kementerian Perindustrian, Euis Saedah,
lewat INPRES itu, Kementerian Perindustrian,
melalui Ditjen IKM, bertanggungjawab terhdap
pembinaan dan pengembangan kelompok
industri kreatif fashion dan kerajinan.
Euis
menegaskan,
pembinaan
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
dan
5
AKTUALITA
AKTUALITA
tentang Ekonomi Kreatif, Ditjen IKM Kementerian
Perindustrian pun telah menerapkan sejumlah
strategi dan kebijakan untuk membina dan
mengembangkan industri fashion dan industri
kerajinan.
potensi industri kreatif yang cukup besar,”ujarnya.
Namun, ungkapnya, tanpa adanya kepekaan
terhadap nilai kreasi yang bernilai, potensi
yang besar itu akan sia-sia saja. Karena itu,
untuk membangkitkan nilai kreasi yang orisinil
dan terbarukan, Kemenperin akan mengutus
sejumlah desainer ke sentra-sentra industri
fashion dan kerajinan di Indonesia.
Terkait dengan pembinaan terhadap industri
kreatif fashion, Kemenperin akan mengarahkan
industri fashion yang bernuansa etnis dan
fashion muslim yang jelas sudah memiliki banyak
penggemar.
Selain itu, akan dikirimkan pula buku yang
diterbitkan oleh komunitas kreatif Bali kepada 32
Dekranasda. Di dalam buku itu terdapat banyak ide produk industri kreatif yang berkelas.
Untuk menuju ke arah sana, ungkap Euis,
Kemenperin telah melakukan kerjasama dengan
asosiasi perancang busana serta kegiatan
pameran fashion.
“Diharapkan dengan membaca buku itu bisa
timbul inovasi dan ide-ide baru bagi pembuatan
produk fashion dan kerajinan yang baru,” ucap
Euis.
Menurutnya. akan ada pagelaran FashionWeek
pada bulan Pebruari 2012 untuk mengangkat
industri fashion Indonesia agar lebih dikenal
Dengan strategi dan kebijakan di atas,
Kemenperin menargetkan industri fashion dan
kerajinan nasional bisa tumbuh dari 7% ke 10%
pertahun.dan bisa mengangkat sumber bahan
baku lokal ke dalam produk fashion dan kerajinan.
pengembangan industri fashion dan kerajinan
memegang peranan penting dalam industri
kreatif, mengingat kedua subsector ini merupakan
yang paling menonjol kontribusinya di industri
kreatif, baik dalam nilai tambah, tenaga kerja,
jumlah perusahaan, dan ekspor.
“Target itu diperkirakan bisa tercapai pada
2014,” ungkap Euis optimis.
Nilai tambah yang dihasilkan subsektor fashion dan kerajinan, berdasarkan data Kementerian
Perdagangan tahun 2010, berturut-turut sebesar
44,3% dan 24,8% dari total kontribusi sektor
industri kreatif, dengan penyerapan tenaga kerja
sebesar 54,3% dan 31,13%, dan jumlah usaha
sebesar 51,7% dan 35,7%.
“Besarnya dominasi kedua subsektor
sejalan dengan beragamnya budaya fashion
dan kerajinan di Indonesia,” papar Dirjen IKM,
Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Euis
Saedah.
Menurutnya, kedua subsektor tersebut
memang memiliki potensi besar untuk terus
dibina dan dikembangkan. Hal ini didukung
oleg fakta di lapangan bahwa industri fashion dan
kerajinan di Indonesia tidak pernah surut. Apalagi
kreasi industri kreatif fashion dan kerajinan
Indonesia sudah digemarin oleh masyarakat di
luar negeri.
“Bahkan produk fashion muslim kita tidak
hanya digemari oleh kaum muslim saja. Kerudung
kini tidak hanya sekadar pembalut kepala saja,”
papar Euis.
Begitu juga dengan produk kreatif kerajinan
Indonesia, ungkapnya, juga sangat kaya. Sumber
produk kerajinan Indonesia berasal dari rotan,
logam, tanah liat dan permata berupa batubatuan dan batu mulia.
Walaupun memiliki potensi besar, namun
industri fashion dan kerajinan di dalam negeri
masih tetap memerlukan pembinaan dan
pengembangan dari instansi terkait.
Sejalan dengan INPRES Nomor 6 Tahun 2009
6
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
luas oleh umum, terutama terhadap hasil karya
desainer-desainer muda yang berbakat.
akan lebih mengarahkan industri ini ke produk
yang berbasis budaya.
“ Dari kegiatan itu, kita juga ingin mendapatkan
masukan dari para stakeholders tentang persepsi
mereka terhadap industri fashion Indonesia,” kata
Euis.
“ Untuk itu kami akan melakukan pelatihan
dengan melibatkan desainer-desainer di industri
kerajinan agar para pelaku di industri ini bisa
berkembang lebih cepat lagi,” ujar Euis.
Kemenperin juga akan menggunakan para
desainer senior untuk melakukan pelatihan
terhadap para pelaku usaha di industri fashion di
dalam negeri.
Dirjen IKM Kemenprin ini mengakui kalau
sentra industri kreatif fashion dan kerajinan
banyak tersebar di Indonesia, tidak hanya terfokus
di Pulau Jawa saja.
Sementara
untuk
pembinaan
dan
pengembangan industri kerajinan, Kemenperin
“Sentra industri di luar Jawa seperti macan
tidur. Wilayah Sumbar, Sumsel dan Sulsel memiliki
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
7
Made in Indonesia
Made in Indonesia
Tas
Lokal
Berpotensi Masuki
Pasar Ekspor
Tas lokal berpotensi memasuki pasar ekspor tampaknya
bukanlah sesuatu yang mustahil, tapi suatu kenyataan yang
bisa ditelusuri di sentra-sentra produksi industri kecil dan
menengah di berbagai Propinsi.
S
ebut saja misalnya Yogyakarta yang
selama ini dikenal sebagai daerah
tujuan wisata, ternyata dihuni sekitar 50
produsen tas dengan berbagai produk
yang berpotensi untuk memasuki pasar ekspor. Di sisi lain, setelah mengunjungi beberapa
produsen tas rotan, ia pun pada akhirnya mampu
menguasai pengetahuan dibidang industri rotan.
” Tidak terlalu sulit untuk mempelajari teknis
produksi tas rotan,” ujarnya.
Dari 50 produsen tas yang ada di Yogyakarta
dan sekitarnya, terdapat industri kecil Manggar
Natural yang memproduksi 25 jenis tas, terutama
berbahan baku rotan dan pandan. Usaha ini
yang dikelola oleh Yovie, seorang ibu rumah
tangga, didirikan pada akhir Oktober tahun 2008
setelah dia melihat peluang yang masih terbuka,
terutama ditingkat menengah ke bawah.
Melihat potensi tenaga terampil dalam
jumlah cukup besar yang sudah tidak bekerja lagi,
ditambah pengetahuannya dibidang produksi
dan desain, dengan memanfaatkan mereka
sebagai pekerja.
Selain peluang pasar, dia mengaku kalau bisnis
tas untuk keperluan wanita, didasari beberapa
pertimbangan, pertama, tenaga terampil
pembuat berbagai produk rotan banyak tersedia
di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Kedua,
proses produksi yang mudah dipelajari, dan ketiga,
dimilikinya pengetahuan desain tas wanita. Lebih
jauh Yovie mengatakan, ketika berkunjung kesebuah desa
di Kabupaten Kulonprogo,
Yogyakarta, medio Juli 2008, ia
menyaksikan
banyak
tenaga terampil yang tidak
bekerja lagi. Padahal, pada
kunjungan
sebelumnya,
April
2008,
tenaga
terampil tadi masih aktif
memproduksi berbagai
jenis barang dari rotan,
seperti kursi, alat-alat
kebutuhan
rumah
tangga, dan sebagainya.
8
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Pada awalnya, produksi tas Manggar Natural
masih terbatas pada pemenuhan pelanggan
rental mobil yang didirikan Yovie pada tahun 1999. Para pelanggan rental inilah yang hingga
saat ini masih membeli tas rotan sebagai oleholeh dari Yogyakarta. Selain itu, untuk keperluan
masyarakat lainnya, dia juga menitipkan hasil
produksinya ke sesama teman pengusaha, baik di
Yogyakarta maupun Bali. Setelah kurang lebih tiga
bulan produksi, ia pun mulai mencoba cara baru
untuk memasarkan tas karya Manggar Natural
yakni promosi via internet. Dikatakan cara
baru, sebab pada waktu itu,
pemasaran lewat internet
belum begitu dikenal oleh
para produsen sejenis di
Yogayakarta.
Tampaknya,
promosi
melalui internet membawa
berkah
tersendiri
bagi
Manggar Natural. Sebab,
lewat media inilah produk
tas Manggar Natural secara
bertahap
mulai
dikenal masyarakat luas. Tidak saja di
Jakarta juga sampai ke Malaysia. Pengusaha
asal Malaysia ini pernah berkomunikasi dengan
Manggar Natural untuk pembelian barang contoh
sebanyak 20 buah.
pada pameran Hongkong Fashion Week, yang
berlangsung di Hongkong, medio Juli 2011 yang
lalu. Pada event internasional yang baru pertama
kali diikutinya, Yovie memperoleh dukungan dari
Kementerian Koperasi dan UKM.
Berbagai cara rupanya terus ditempuh Yovie
bersama staf, guna mempeluas pemasaran.
Melengkapi berbagai upaya yang dilakoninya
tadi , ternyata ia juga aktif mengikuti berbagai
pameran yang digelar oleh berbagai event
organizer maupun instansi pemerintah di Jakarta.
Sebut saja misalnya, pameran produk kerajinan
Inacraft, Plasa Perindustrian dan Plasa Promosi
Kementerian Koperasi dan UKM (Smesco). ” Kami
di Jakarta diberi kesempatan untuk berpromosi
secara tetap oleh Kementerian Koperasi dan UKM
di Gedung SMESCO, jalan Gatot Subroto, ” ujar
Jovie penuh rasa gembira.
Berkat berbagai upaya yang terus
dilakukannya, produk Manggar Natural kini
semakin banyak diminati masyarakat. Karenanya,
tidaklah mengherankan bila nilai penjualan
tas Manggar Natural dari tahun ke tahun
menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.
Menurut keterangan pimpinan usaha ini, pada
tahun 2010 lalu omzet penjualan tas mencapai
Rp 250 juta. Sedangkan pada tahun 2011 ini
diperkirakan bisa mencapai Rp 375 juta atau mengalami kenaikan sebesar Rp 125 juta bila
dibandingkan tahun 2010. ” Bagi kami yang hanya
pengusaha kecil, kenaikan omzet sebesar itu dalam
setahun tentunya sangat menggembirakan,
sehingga bisa memacu semangat untuk bekerja
lebih keras lagi pada tahun-tahun mendatang ,”
kata Yovie.
Berbicara mengenai kemungkinan memasuki
pasar ekspor, ia tampak begitu antusias. Namun
di sisi lain dia mengakui pula bahwa, rencana
pemasaran ke luar negeri baru mulai dirintisnya secara serius pada tahun 2011 ini. Pasalnya,
sejak berdirinya pada Oktober 2008, konsentrasi
pemasaran produk Manggar Natural masih
tertuju ke pasar lokal guna mengisi kebutuhan
masyarakat menengah-bawah.
Upaya memasuki pasar ekspor salah satunya
ditempuh melalui keikutsertaan Manggar Natural
Pada ajang pameran Hongkong Fashion
Week, Yovie mendapat pembeli dari berbagai
negara seperti Malaysia, Jepang, USA, dan Italia.
Mereka pada umumnya membeli tas Manggar
Natural masih dalam tahap perkenalan, sehingga
tidak terjadi penjualan secara besar-besaran.
” Meski tidak terjadi penjualan dalam jumlah
besar, namun respon mereka, pembeli asing,
cukup bagus. Selain itu, berbagai masukan yang
disampaikan pembeli asing merupakan hal positif
untuk pengembangan pasar ke depan, terutama
ekspor,” ujar Yovie. Ia mengungkapkan pula
bahwa, pembeli asing pada Hongkong Fashion
Week lebih menyukai produk dengan desain
minimalis. Dengan desain seperti itu, tampilan
tas akan menonjolkan kenaturalannya.
Terkait dengan rencananya untuk memasuki
pasar ekpor, ia berharap kepada pemerintah
kiranya dapat terus membantu promosi dan
memberikan pembinaan kepada industri kecil
tentang kiat-kiat memasuki pasar ekspor. informasi »
MANGGAR NATURAL
Jl. Masjid No. 3 Pakualaman Yogyakarta
Telp: (0274) 585861; 02749259762
Fax: (0274) 512804
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
9
Made in Indonesia
Made in Indonesia
Produk Olahan
Berbasis Singkong
SEMAKIN BERKEMBANG
S
ingkong atau cassava sudah sejak lama
dikenal masyarakat sebagai bahan
baku untuk berbagai keperluan, salah
satunya adalah sebagai bahan baku
makanan olahan. Keripik singkong misalnya,
panganan ini sudah lama menjadi makanan
kecil atau cemilan yang banyak disukai orang.
Bahkan, keripik singkong sudah memasuki
pasar ekspor untuk dijadikan sebagai makanan
ringan.
Besarnya konsumsi masyarakat akan
makanan olahan berbasis singkong, baik di
10
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
dalam maupun di luar negeri, mendorong
tumbuhnya wirausaha yang pada umumnya
merupakan pengusaha kecil dan menengah.
Namun, tidak menutup kemungkinan
munculnya usaha besar yang memproduksi
keripik singkong dengan berbagai cita rasa.
Dalam kurun waktu belakangan ini,
sejalan dengan berkembangnya teknologi
dan berkembangnya inovasi serta kreativitas
masyarakat pengusaha, singkong sudah
dimanfaatkan untuk produk makanan olahan
lain. Sebut saja, cassava brownies tela, tela
crezz better cassava dan cokro tela cake,
yang diproduksi oleh pengusaha muda asal
Yogyakarta, Firmansyah.
Ketika ditemui reporter Majalah Kina
beberapa waktu lalu di pameran Kampoong
Industry,
Nusadua,
Bali,
Firmansyah
mengaku kalau produk yang dihasilkannya
banyak diminati masyarakat. Bahkan,
tambah Firmansyah, kassava brownies tela
merupakan brownies pertama di Indonesia
yang menggunakan singkong. “ Kassava
brownies tela dibuat dalam berbagai varian
produk seperti original, coklat, strawberry,
pandan, keju, mocca, kacang dan lain-lain, “
ujar Firmansyah penuh rasa bangga.
Ia mengatakan, selain kassava brownies
tela yang selama ini menjadi andalan, juga
memproduksi makanan lain seperti tela crezz
better cassava dan cokro tela cake. Kesemuanya
ini memanfaatkan bahan baku singkong yang
disuplai oleh petani dari daerah Gunung Kidul.
Tela krezz better cassava, tambah
Firmansyah, merupakan produk makanan
ringan hasil inovasi dari bahan baku singkong
yang berkualitas, lezat dan bergizi. “Produk
tela crezz better cassava memiliki daya tahan
yang cukup lama, aman dikonsumsi oleh anakanak, remaja hingga orang dewasa. Selain itu,
produk ini juga cocok dimanfaatkan sebagai
cemilan, mulai dari hidangan keluarga dan
tamu, hingga makanan di café-café, restoran
atau supermarket,” ujar Firmansyah kepada
reporter Kina belum lama ini.
Dalam pada itu, produk lainnya yang juga
berbahan baku singkong adalah cokro tela cake.
Panganan ini dapat dinikmati oleh siapa saja,
karena beberapa alasan. Pertama, diproduksi
dalam berbagai varian sesuai kegemaran.
Kedua, singkong sebagai antioksidan, anti
kanker, dan anti tumor di samping kaya serat,
dan ketiga, berbahan baku lokal, asli Indonesia.
Berbicara masalah pemasaran, Firmansyah
mengaku cukup baik dan prospektif. Selain
memiliki tujuh gerai di Yogyakarta, dia juga
mengajak masyarakat untuk memproduksi
kassava brownies tela, tela crezz dan cokro
tela cake, melalui sistem kemitraan. ”Lewat
pola semacam ini, kami ingin mengajak
warga masyarakat terutama Yogyakarta untuk
berwirausaha, mengingat peluang pasar
yang masih terbuka,” ujar Firmansyah. Dia
menambahkan, semakin banyak orang menjadi
wirausaha dibidang makanan olahan, maka
petani singkong di Yogyakarta dan sekitarnya,
akan terjamin penghasilannya. Dengan begitu,
kesejahteraan para petani singkong diharapkan
akan menjadi lebih baik.
Hanya saja, lanjut Firmansyah, persoalan
ketersediaan lahan yang cukup buat pertanian
dimasa depan, perlu dipikirkan sejak saat ini.
Sebab, tidak tertutup kemungkinan terjadi alih
fungsi lahan pertanian ke fungsi lain, seperti
permbanguan perumahan, pertokoan, dan
sebagainya. Padahal, meningkatnya produksi
singkong maupun produk pertanian lain, selain
mendukung industri pengolahan hasil pertanian
di dalam negeri, juga bisa mengurangi impor
bahan pangan secara bertahap.
Menjawab pertanyaan mengapa memilih
bisnis kuliner berbasis singkong, Firmansyah
mengatakan, pertama, produksi singkong
cukup melimpah dan harganya terjangkau.
Kedua, menyerap hasil panen petani dalam
jumlah besar yakni 60 ton per bulan, sehingga
bisa membantu penghasilan mereka, dan
ketiga, merupakan produksi dalam negeri.
Selain itu, alasan lain yang mendorongnya
berbisnis olahan makanan berbasis singkong
adalah banyaknya tenaga kerja Indonesia
yang mencari pekerjaan ke luar negeri seperti
Malaysia.
Dulu, lanjut Firmasyah, ketika baru lulus
dari Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada,
ia bekerja pada Lembaga Sosial Masyarakat
dari Kanada, yakni Canada World Youth.
Setelah enam bulan di Kanada, dia kembali
ke Indonesia dan ditugaskan di Entikong,
perbatasan Kalimantan Barat dengan wilayah
Malaysia.
Dari situlah ia berpikir kenapa para tenaga
kerja tadi tidak bekerja di dalam negeri dengan
mengembangkan produk-produk pertanian
seperti halnya menanam singkong misalnya.
Setelah bertugas di Entikong, Kalbar,
Firmansyah kembali ke Yogyakarta dan
bertekad membangun usaha yang banyak
melibatkan tenaga kerja. Lewat usahanya yang
dibangun pada tahun 2006, saat ini terserap 60
orang tenaga kerja tetap, dan ratusan petani
Gunung Kidul dan sekitarnya, sebagai tenaga
tidak tetap, pemasok bahan baku singkong.
Usaha kuliner yang dipimpin Firmansyah
saat ini memang cukup berkembang dan
memungkinkan untuk terus berkembang
di masa mendatang. Selain resep selalu
memperbaiki kualitas produk dan dengan
harga yang terjangkau, ia juga terus berupaya
membangun jaringan bisnis dalam rangka
perluasan pasar
Itulah sekelumit cerita dari seorang
pengusaha muda
asal Yogyakarta, yang
bertekad untuk terus memanfaatkan bahan
baku lokal sebagai pendukung roda usahanya.
Dalam kaitan inilah, dia berharap kiranya
pemerintah dapat membantu promosi produk
industri kreatif UKM secara berkelanjutan.
Bahkan, promosi di luar negeri menjadi
dambaan Firmansyah serta pengusaha lainnya
guna memasuki pasar global disuatu saat
nanti.(Gns).
informasi »
cokro tela cake
Jl. HOS Cokroaminoto 97 Yogyakarta
Telp: (0274) 619191
Email: [email protected]
Website: www.cokrotelocake.com
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
11
Made in Indonesia
Made in Indonesia
keluarganya hingga saat ini menetap diYogyakarta,
dan membangun bisnis coklat meski dalam skala
usaha kecil. Coklat produksi Cv Anugerah Mulia
yang dikomandani oleh Thierry, menggunakan
merek dagang Monggo. Menurutnya, monggo
adalah kata yang mengekspresikan keramahan
tradisi Jawa.
Bisnis coklat monggo yang digelutinya sejak
tahun 2005 itu, dibangun dengan dasar pemikiran,
mengapa Indonesia harus mengimpor coklat?
Padahal, Indonesia yang dia ketahui memiliki
sumber daya alam yang melimpah, termasuk
cocoa. Di beberapa propinsi, lanjut Thierry, seperti
Sulawesi Selatan, Sumatera, dan lain-lain, cocoa
banyak dihasilkan petani maupun perkebunan
COKLAT ‘MONGGO‘
Kelezatannya Tidak Kalah
Dengan Coklat Asal Impor
Y
ogyakarta selama ini lebih dikenal sebagai
daerah tujuan wisata dengan produkproduk kerajinan sebagai pendukung
berkembangnya industri pariwisata.
Berbagai jenis produk kerajinan yang cukup
terkenal, seperti perak, gerabah, produk kulit dan
batik, di samping obyek wisata itu sendiri, seperti
candi prambanan, candi borobudur di Magelang,
dan sebagainya, telah menjadi daya tarik tersendiri
bagi wisatawan lokal maupun internasional.
Bila ditelusuri lebih jauh, ternyata Yogyakarta
juga memiliki banyak usaha kecil dan menengah
pengolahan pangan yang tidak kalah terkenal
12
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
dibandingkan dengan produk kerajinan.
Makanan khas Yogyakarta seperti bakpia, gudeg,
dan sebagainya, hampir bisa dipastikan banyak
diburu wisatawan, terutama wisatawan lokal.
Belum lagi berbagai panganan lain berbahan baku
singkong seperti tela crezz, cokro tela cake, dan
kasava brownies tela, banyak tersedia diberbagai
pertokoan maupun pusat perbelanjaan sejak lima
tahun belakangan ini.
Nah, di luar produk makanan olahan tadi,
Yogyakarta juga mampu memunculkan produk
makanan berbahan baku coklat, yakni coklat
dengan merek dagang “ Monggo”. Untuk produk
yang satu ini, mungkin belum banyak wisatawan
mengetahuinya. Pasalnya, tidak banyak investor
yang tertarik untuk berbisnis coklat di daerah
Yogyakarta.
Baru pada tahun 2005, seorang warga negara
asing keturunan Perancis-Belgia, Mr Thierry, mau
menginvestasikan modalnya untuk memproduksi
coklat. Pada awalnya, ia datang ke Yogyakarta
sebagai wisatawan. Namun, dari beberapa kali
kunjungannya ke Yogyakarta, ia akhirnya berhasil
mempersunting gadis asal Yogyakarta.
Sejak perkawinannya itu, ia bersama istri dan
berskala besar.
Dengan latar belakang seperti itu ditambah
pengetahuannya tentang pembuatan coklat
olahan, ia pun mulai memproduksi coklat monggo
di Yogyakarta dengan mesin dan peralatan
sederhana. Lewat pengelolaan usaha yang
professional, usaha yang dikembangkan Thierry,
ternyata cukup berhasil di pasar dalam negeri.
Meski harus bersaing dengan produsen sejenis
dari dalam negeri maupun coklat impor, tapi
coklat monggo memiliki basis pasar yang kuat di
beberapa daerah di dalam negeri.
SelaindiYogyakartasendiri,coklatmonggojuga
merambah pasar di Jakarta, Surabaya, Bali, Lombok
dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Menurut
penuturan Vinna Indra, Manajer pemasaran CV
Anugerah Mulia, penjualan coklat monggo ke
daerah-daerah tadi mencapai lebih dari 5 ton per
bulan. Sebagai ilustrasi, tambahnya, pasar Bali
dan Lombok, masing-masing mampu menyerap
sebanyak 2 ton per bulan. “ Dengan pangsa pasar
yang cukup baik, omzet penjualan per bulan pada
tahun 2011 ini, sedikitnya mencapai Rp 250 juta,
kata Vinna Indra kepada reporter Majalah Kina
ketika ditemui pada pameran Kampoong Industry,
di Nusadua, Bali, belum lama ini.
Menjawab pertanyaan tentang keunggulan
coklat monggo, Vinna menyebut memanfaatkan
bahan baku yang berkualitas tinggi yakni
premium dark chocolate. Dalam pembuatannya,
selain menggunakan bahan baku tersebut, juga
memanfaatkan mentega cocoa murni. “ Setiap
varian produk mempunyai keunikan tersendiri dari
citarasa asli bahan-bahan lokal yang merupakan
kreasi dari ahli coklat Belgia,” ujar Vinna, mengakhiri
bincang-bincangnya bersama Kina.
Melihat perkembangan usaha yang cukup
pesat, CV Anugerah Mulia, berencana akan
mendirikan perkebunan cocoa di Kaliurang
Yogyakarta. Namun, rencananya itu rupanya
belum kesampaian karena letusan Gunung Merapi
yang telah merusak daerah Kaliurang.(Gns)
informasi »
CV ANUGERAH MULIA
Dalem Kg III/978 RT 043 RW 010, Kelurahan Purbayan,
Kotagede, Yogyakarta 55173, Indonesia.
Telpon (0274) 7102202, Fax (0274) 373192.
Email : [email protected]
[email protected]
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
13
Made in Indonesia
Made in Indonesia
BAMBOOMEDIA
Pelopor Software Bahasa Indonesia,
Dibangun Putra Bangsa Dari Bali,
Tidak mudah membangun bisnis yang
dilandasi modal tidak besar, penuh kepercayaan
diri, tanpa relasi, tetapi akhirnya kini sudah
dikenal oleh nama-nama besar sekelas Microsoft
Indonesia, Sun, dan Intel Corporation. Kita
mengenalnya sebagai Bamboomedia, brand yang
dibangun berdasarkan akta PT Bamboomedia
Cipta Persada, produsen software yang berbasis
di wilayah Renon, Denpasar, Bali.
Seperti dituturkan oleh Putu Sudiarta,
Direktur PT Bamboomedia dan juga pendiri
serta pengurus Asosiasi Piranti Lunak Telematika
Indonesia (Aspiluki) cabang Denpasar, Bali,
yang menerima saat majalah Kina, bertandang
ke kantornya, perusahaan didirikan tahun 2003,
dan pada waktu didirikan, mereka sama sekali
tidak membekali diri dengan manajemen.
Saat itu mereka membuat produk pelatihan
program software seperti Windows, Office, dsb,
yang dibuat dalam bahasa Indonesia. Pada saat
itu, tim pendiri hanya terdiri atas 3 orang yang
rata-rata berbasis telematika. Pengalaman
sebelumnya kebanyakan mereka bergerak di
bidang edukasi dan informasi dan teknologi
(IT), dan akhirnya sepakat untuk mendirikan
perusahaan. Sementara itu di Bali juga sudah
berdiri perusahaan sejenis yakni Balicamp.
“Waktu itu kami belum menjadi ‘siapasiapa, dan kami adalah tiga gelintir anak muda
yang punya impian, tetapi mulai menghasilkan
produk. Dengan tidak adanya titel, dan belum
dikenal, tidak mungkin bagi kami menggaet
kerjasama dengan perusahaan yang sudah punya
nama, mempercayai kami untuk menghasilkan
software. Memang apabila dillihat dari latar
belakang, rata-rata kami adalah lulusan atau
berlatar belakang IT. Putu Sudiarta lulusan
STIKOM Surabaya, selain ada juga lulusan dari
Universitas Brawijaya, dan yang lainnya lulusan
dari Universitas Udayana.
Karena waktu itu Bamboomedia belum
dikenal, belum ada yang mengetahui kapabilitas
14
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
kami selaku perusahaan. Dari hasil diskusi
akhirnya disimpulkan kami perlu membuat
produk yang relatif di Indonesia belum
available. Saya punya teman kerja lama, yang
studi di Carnegie Mellon University (CMU) di
Pittsburgh, Pensylvania. Dari hasil diskusi yang
dilakukan antara tahun 2002/2003 lalu muncul
ide membuat sesuatu yang teknologinya bisa
dipelajari sendiri sebenarnya, “terang suami dari
Ida Ayu Putri Widiastuti ini.
Dimulai dari Produksi CBT Tahun 2003
Lantas lahirlah berbagai program perangkat
lunak (software) berupa produk Computer Based
Training (CBT) tahun 2003, yang isinya adalah
pelatihan program software komputer seperti
untuk pembuatan email, Windows, MS Office,
dan sejenisnya. Karena dipandang pada saat itu
yang sudah diproduksi perusahaan lain adalah
yang dibuat dalam bahasa Inggris. Sementara
produksi Bamboomedia, dibuat dalam bahasa
Indonesia, di mana program sejenis belum
pernah ada.
“Dengan demikian strategi entry pointnya
pada saat itu adalah kita tidak punya modal
banyak, hanya Rp belasan juta sebagai modal
kerja, dan usaha kami bukan capital intensive,
hanya bermodal semangat dan inisiatif saja,
tetapi kami sepakat membuat program yang
relatif baru. Itulah yang dihasilkan, yakni
program CBT bahasa Indonesia tahun 2003.
Akhirnya setelah periode masa empat bulanan,
yang ternyata ini lebih lama dari yang kami
prediksikan sebelumnya, karena sebelumnya
diperkirakan berlangsung hanya dalam masa
dua bulan, diakui waktu itu kami menghadapi
keterbatasan sumber daya manusia.
Kami memulai pekerjaan ini dengan
hanya kekuatan tiga orang, dan kini pegawai
perusahaan tersebut sudah mencapai 30 orang,
di luar tenaga kerja lepas (freelance). Jadi produk
yang pertama dihasilkan ada tiga macam dan
berikutnya lima jenis produk, sehingga total
produk software yang dihasilkan delapan jenis
produk. Setelah produknya jadi, karena tidak
ada satupun dari kami yang memiliki latar
belakang pendidikan bisnis, akhirnya tidak
tahu juga ke mana harus menjual produk kami,”
jelas Sudiarta yang lulus dari Stikom Surabaya
jurusan Informatika tahun 1997.
Mulai Menjual Produk Melalui Gramedia
Baru pada saat itu kami berpikir menjual
produk kami melalui mitra. Akhirnya tahun
2003 itu juga mereka dapat masuk ke Gramedia,
karena produk yang kami jual adalah produk
pendidikan untuk mempermudah belajar
dengan cepat, dengan menggunakan software.
Pertimbangannya saat itu orang lebih mudah
belajar dengan menggunakan buku, sementara
kami mencoba terobosan melalui visual.
“Itulah sebabnya Gramedia melihat produk
kami sebagai barang yang relatif baru, sehingga
mereka berminat. Setelah dapat menembus ke
seluruh jaringan toko buku Gramedia, baru pada
tahun berikutnya juga produknya masuk ke toko
buku Gunung Agung, Kharisma, dan Disc Tarra.
Kami tinggal mengandalkan network (jaringan)
mereka.
Dari sini kami sudah mulai mendapat
kebahagiaan tersendiri, mulai dari menghasilkan
produk sebagai satu momentum penting.
Setelah itu kami juga sudah menjual produk
melalui saluran pemasaran, atau istilah kami
dapat menancapkan “milestone” yang penting.
Setelah itu kami mulai bersemangat, dan
mendapat income balik. Kami bekerja dengan
sisa tabungan dari hasil kerja sebelumnya,
sehingga pada masa “sulit” modal kerja sempat
menyusut tinggal Rp600 ribu saja, sehingga ini
kami sebut “berada pada titik nadir,” yakni tahun
2003 awal, sampai beberapa bulan kemudian,
setelah produknya terjual, maka kami dapat
bekerja lagi. Ini menjadikan semangat kerja
timbul kembali.
Setelah satu tahun akhirnya tercapai titik
impas (break even point), di mana pada saat itu
sudah dapat membuat CD pelajaran (learning
CD), programming, data base, desain grafis.
Dengan sudah tercapainya titik impas, akhirnya
perusahaan mulai mempekerjakan karyawan.
Sebagai bagian dari ekonomi kreatif, mereka
tidak bekerja atas dasar pesanan (order) dari
toko buku dan penjualan CD, melainkan mereka
melihat dan mencari melalui riset perusahaan,
trend yang berkembang dan diminati masyarakat
pada saat ini.
Dengan Modal Windows Bajakan, Mulai
Berkenalan dengan Microsoft Indonesia
Industri kreatif seperti ini biasanya diacu dari
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
15
Made in Indonesia
pencarian di google, sambil melihat trendnya ke mana, khususnya membuat apa yang
sedang trend di Indonesia, kendati acuannya
juga dari luar negeri, karena yang dicari
terutama apa yang sedang dibutuhkan, dan ini
menjadi peluang (opportunity). Awalnya kami
mulai dari teknologi software-nya. Setelah itu
mulai dengan relasi dengan Microsoft Indonesia
tahun 2004, dan waktu itu diminta datang ke
kantor Microsoft Indonesia di Jakarta.
“Waktu itu kami datang dengan modal
notebook pinjaman dan menggunakan program
software Windows bajakan, kenangnya. Karena
memang saat itu belum punya software yang
16
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Made in Indonesia
asli (original), dan saat itu juga kami dianggap
membantu program Microsoft Indonesia.
Kedatangan kami ke sana sebagai pengusaha
yang baru saja memulai bisnisnya, sehingga
dengan modal software bajakan tersebut juga
tidak mereka permasalahkan, karena mereka
bukan pihak lisensi yang akan mengawasi
peredaran software original atau bajakan.
Kami juga datang dengan niat baik, dan
memang posisi kami sebagai pihak yang
diundang, sehingga kami pikir tidak mungkin
juga kami akan ‘dipreteli’ perangkatnya. Dari
sana kami mulai memperoleh apresiasi, dan
keesokan harinya setelah diminta memasukkan
profil dan data perusahaan dan dari situ kami
dijadikan vendor ID dari Microsoft Indonesia.
Saat itu kembali menjadi milestone
juga bagi perusahaan, karena tidak mudah
menjadi ID vendor bagi perusahaan sekelas
Microsoft Indonesia, dengan seleksi dari
mereka. “Perusahaan kami dianggap sebagai
perusahaan pelopor, sehingga harus memenuhi
juga sejumlah persyaratan mereka.” Kebetulan
waktu itu belum ada perusahaan seperti kami,
karena awalnya adalah, dengan menyebarnya
produk tersebut, sehingga kami memperoleh
recognition (pengakuan).
Salah satunya adalah ketika Microsoft
Indonesia tahu ada produk kami, maka mereka
melihat bahwa produk software kami dibuat
dalam bahasa Indonesia. Ketika menghasilkan
produk, kami juga membuat website-nya, mereka
tahu produk dan bagaimana menghubungi
kami. Setelah memperoleh ID vendor tersebut,
maka dari situ secara rutin, kami memperoleh
order pekerjaan berupa program dan teknologi
apa yang perlu dipelajari oleh kami, dan juga
disebarluaskan oleh Microsoft Indonesia,
sebagai program pelajaran.
“Dengan demikian dari Bamboomedia,
Microsoft memperoleh input software. Mereka
menyediakan buku panduan yang banyaknya
sampai satu rak, mereka membelikan kami
melalui Amazone.com, setelah itu mereka
mengirimnya ke Bali. Kami sendiri membuat
tim yang mengeksplorasi buku-buku tersebut.
Dengan cara dan gaya kami, pada akhirnya
kami membuat materi edukasi untuk disebarkan
melalui software kepada publik, kata anak
kesatu dari tiga bersaudara ini.
Setelah kerjasama dengan Microsoft,
akhirnya kami juga memperoleh pengakuan dari
Intel Corporation, sebagai mitra vendor micro
system. Itulah masa di mana relasi dengan mitra
kerja sudah mulai terbentuk, dan diperkirakan
berlangsung selama tahun 2004. Kerjasama
berlanjut lagi dengan Sun Microsystem, juga
dengan Oracle, dan vendor-vendor IT dari luar
negeri, yang memiliki kantor perwakilan di
Jakarta.
Setelah itu tetap berkarya, karena
sebenarnya “tin plate” nya sudah diperoleh,
jadi tinggal bagaimana menghasilkan produk
seperti itu. Yang dihasilkan setelah CD belajar
(Learning CD) lisensi dari Microsoft, kemudian
juga membuat programming, untuk data base,
juga grafis yang semuanya perlahan-lahan
produknya mulai dilengkapi.
Itu semua akhirnya dapat berjalan karena
siklusnya sudah mulai dikuasai Di tahun 2004.
Seperti halnya bisnis penerbitan, begitu selesai
produksi, kemudian didistribusikan. Dari sanalah
mulai ada feedback, sehingga pada akhirnya
mulai dapat meng’hire’ karyawan, mulai dari
beberapa karyawan, sampai akhirnya
berkembang seperti saat ini.
Order Berlanjut dengan Sejumlah
Perusahaan, Bamboomedia Tambah Divisi
Tetap pelan tetapi akhirnya pasti
bercabang banyak seperti halnya filsafat
pohon bambu, sejak saat itu, perusahaan
mulai mendapat pekerjaan dari beberapa
perusahaan seperti Newmont Nusa
Tenggara, Bank NISP, grup Bina Nusantara,
dan PT Telkom. Rata-rata permintaannya
adalah untuk produksi konten (materi),
dan computer education.
Divisi
juga
berkembang
dari
sebelumnya hanya divisi tutorial, menjadi
divisi untuk permainan (game). Karena
waktu itu ada permintaan projek untuk
memproduksi game. Kemudian muncul
lagi divisi lainnya yakni aplikasi bisnis,
termasuk juga sistem pembayaran gaji
dan program sejenisnya. Rata-rata
berasal dari feedback user, sehingga yang
dibuat adalah panduan (guidance) untuk
membuat aplikasi. Jadi yang dikembangkan
perusahaan adalah software untuk
e-learning dan e-business.
Perusahaan juga membuat software
eksplorasi, CD interaktif, dan juga aplikasi
lainnya. Strategi kami ingin sedikit meniru
gaya Microsoft, dari sekian jenis software yang
mereka miliki, terbesar adalah Windows dan
Vista dari Microsoft. Sedang image orang bahwa
“Microsoft can do many things.“ akhirnya kami
mengarah pada pencitraan (image).
Saat ini perusahaan sedang mengembangkan
diri ke arah yang lebih maju lagi, yakni sebagai
perusahaan periset (research company)
dengan pertimbangan untuk memperoleh nilai
tambah lebih besar. Jadi semakin tinggi added
value yang akan diperoleh, maka sebenarnya
margin yang diperoleh juga relatif lebih besar.
Artinya feedbacknya akan lebih bagus. Dari
sini kami mulai memperkuat branding, karena
perusahaan sudah mulai dikenal. Perusahaan
ingin lebih maju, sehingga dalam hal produk
diharap manfaatnya lebih besar,” kata bapak
dari satu putri ini.
Dikaitkan dengan permintaan pasar, maka
nantinya pengembangkan riset tersebut akan
mengarah pada pengembangan produk. Karena
perusahaan secara finansial tidak membutuhkan
modal, termasuk administrasi dan perpajakan
sudah digarap secara manajemen dan cukup rapi
dari awal. Karena itu harapannya perusahaan
akan berumur panjang.
Pengembangan riset tersebut sudah
berjalan selama enam bulan terakhir ini. Projek
yang dinamai Singapadu Projek, sudah 100
persen memenuhi Tingkat Komponen Dalam
Negeri (TKDN). Projek dikerjakan orang
Indonesia, materinya juga sepenuhnya adalah
tentang Indonesia. Produk-produk ini baik dari
knowledge dan juga desainnya sepenuhnya
dikerjakan di dalam negeri.
Diharapkan projek yang digarap selama lima
tahun (2010 – 2015) ini akan menggabungkan
antara ide, seni, dan juga teknologi, Sebagai
cikal bakal untuk membawa ke tingkat yang
lebih baik, untuk menjadi perusahaan yang
memimpin di depan. Pemilihan nama Singapadu
didasari nama jalan lokasi pertama perusahaan
yang ada di Jl. Singapadu.
Pemilihan Bali sebagai basis perusahaan,
karena produk ini berkaitan dengan kreativitas,
seni, juga desain. Bila proses produksinya sudah
jadi dikerjakan di Jakarta, sedangkan untuk
melakukan berbagai hal mulai dari replikasi,
desain, percetakan, sampai produk tersebut
siap kemas untuk diedarkan ke konsumen
dilakukan oleh perusahaan vendor. Pekerjaan
intelektual lebih bagus dikerjakan di Bali, karena
tekanannya tidak seberat seperti Jakarta.
Sementara ini konsumen kami, untuk bidang
pendidikan melalui program e-learning adalah
siswa dari tingkat SD sampai tingkat SMA.
Perusahaan kami juga sudah dua kali memperoleh
penghargaan dari Kementerian Pendidikan
Nasional. Selain itu ada juga penghargaan
yang kami peroleh di bidang riset tahun 2007,
yakni Silpakara Nugraha, kata narasumber
untuk IT di Kementerian Perindustrian dan juga
Kementerian Perdagangan ini.
Perlu Juga Buat Program Anti
Pembajakan
Sudiarta melanjutkan “Di Indonesia
diperkirakan
perusahaan
seperti
Bamboomedia yang eksis itu, tidak lebih
dari 10 perusahaan. Tidak berkembang
terlalu pesatnya perusahaan seperti
ini, salah satunya karena faktor sifat
medianya, juga akibat banyaknya
pembajakan (piracy). Jadi orang sering
berpikir, awalnya juga tidak memikirkan
anti pembajakan, karena dijual melalui
DVD/VCD.
Kami sendiri juga tidak tahu juga
bagaimana membuat anti pembajakan.
Karena membuat konten materinya saja
sudah sulit, jadi tidak perlu memikirkan
bagaimana memproteksinya. Ternyata
kemudian kami mengetahui reaksi pasar,
di mana akhirnya produk Bamboomedia
juga dibajak, setelah berjalan selama tiga
tahun.
Kami merasa senang, karena dalam
benak kami produk yang dibajak pasti yang
berkualitas bagus. Pembajaknya juga kami
lihat berasal dari Jakarta, karena dilihat
dari channel yang ada, mereka menjualnya
melalui pusat penjualan hardware seperti
Harco Mangga Dua di Jakarta, dan juga
salah satu mal di Surabaya. Lantas ketika
ditanya mereka mengatakan mengambilnya
dari Jakarta.
Itu membantu juga bagi kami dan setelah
itu baru memikirkan anti pembajakan,
seiring dengan ditemukannya teknologi anti
pembajakan. Jadi usaha kami juga berkembang
secara natural saja, seperti pohon bambu,”
tuturnya.
Model Kerja yang Efisien dan Nilai
Tambahnya Tinggi
Kerja seperti ini dikatakan efisien dan
nilai tambahnya tinggi, karena produk yang
dihasilkannya dibuat dalam bentuk digital.
Yang sulit adalah pekerjaan pertama yang
dihasilkannya lebih banyak dalam bentuk
pekerjaan intelektual (intellectual worker). Pada
awalnya kami tidak terlalu menjual mahal harga
pekerjaan kami. Karena rata-rata perusahaan
IT dimulai dari perusahaan individu, sehingga
pada awalnya mereka belum berpikir akan
memperoleh apa, dan yang lebih dipentingkan
adalah berkarya, membangun perusahaan,
sementara untuk dirinya akan dipikirkan
kemudian saja. ***
informasi >
Bamboomedia
Jl. Merdeka No. 45 Renon, Denpasar 80235 Bali – Indonesia
Telp: +62 361 265521, 262787
Fax: +62 361 265504
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
17
Made in Indonesia
Made in Indonesia
Nusa Dua Bali. Dalam paket penampilan internal
tersebut, dibagi dalam tiga kelompok besar,
masing-masing Afternoon Bamboo Show, di mana
pada pertunjukkan ditampilkan demonstrasi
Wayang Golek; prosesi Helaran (arak-arakan);
tarian tradisional dan angklung bagi pemula;
angklung orkestra; dan angklung interaktif yang
melibatkan para peserta atau penonton , dan
juga Arumba (peserta cilik dari SD sampai SMP).
Di akhir pertunjukkan para penonton diminta
bergabung dengan pemain angklung cilik
tersebut, untuk menari bersama dalam suasana
atmosfir alam Pasundan.
Masih dalam pertunjukan internal, ada
program yang dinamakan “Setengah Hari
di Angklung Udjo,” di mana misinya adalah
menjadikan para pesertanya mulai dari anak
didik tingkat TK sampai tingkat SMA tanpa sadar
dibuat lebih mencintai budaya Sunda. Pada
awalnya mereka diajak mengelilingi Komplek
SAU sambil mengetahui sejarah SAU dari sejak
didirikan sampai saat ini, dilanjutkan dengan
belajar membuat angklung bersama para perajin
angklung. Mereka juga diajak melihat pertunjukan
bambu Kaulina Urang Lembur, di Bale Karesmen.
SAUNG UDJO
Pertahankan Angklung Sebagai Warisan
Budaya Tak Benda
S
ejak angklung mendapat pengakuan
UNESCO (United Nations Educational
Scientific and Cultural Organization)
sebagai warisan budaya takbenda dari
Indonesia pada bulan November 2010, para
pencinta budaya asli Jawa Barat melakukan
berbagai upaya mempertahankan status
tersebut. Sebab jika dalam upaya sosialisasi
selama setahun ini ternyata Indonesia dinilai tidak
berhasil, ada kekhawatiran posisi tersebut akan
direbut oleh Malaysia.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui
kepesertaan Angklung Saung Mang Udjo (SAU)
dan juga Angklung Electronic sebagai bagian
18
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
dari industri kreatif dalam Kampoong Industry
Kementerian Perindustrian, yang diadakan di Bali
Collection, Nusa Dua, Bali 8 – 13 November 2011.
Acara yang merupakan partisipasi Kementerian
Perindustrian dalam ASEAN Fair 2011 ini berupaya
memperkuat komunitas ASEAN yang berbasis
pada produk budaya dan kreativitas unggulan
industri.
Penti Octora, Souvenir Shop Staff saung
angklung“Udjo”menuturkan, selama ini performa
seni SAU diselenggarakan melalui berbagai paket
baik secara internal (Internal Performances), dan
juga External Performances, jelasnya di selasela penyelenggaraan Kampoong Industry, di
Menjelang siang hari, para peserta diajak
menikmati hidangan ala Kampung Sunda,
dan pada akhir program diharapkan mereka
menuliskan pengalaman mereka selama
setengah hari di SAU. Melalui penyelenggaraan
SAU workshop, para peserta di program ini
memperoleh kesempatan membuat sendiri
angklung untuk mereka, dan juga dapat
dipertunjukkan di show atau pertunjukan
bambu Kaulinan Urang Lembur sebagai bagian
dari pertunjukan, dan angklung tersebut dapat
dibawa pulang. Paket Penampilan secara External, Angklung
sering Menjadi Sarana Diplomasi
Sementara itu penampilang SAU secara
eksternal, dibagi dalam beberapa kategori yaitu
Iwung, Awi, Gombong, Arumba, dan penampilan
kesenian Sunda lainnya. Biasanya untuk pagelaran
ke luar inilah, kesenian angklung dikenal sebagai
sarana atau jembatan diplomasi antar bangsa,
melalui diadakannya acara-acara kenegaraan.
Angklung yang ditampilkan di sini adalah
dalam bentuk orkestra, khususnya pagelaran
angklung interaktif, arumba, angklung melodi,
bas, beberapa jenis gambang, kendang, suling,
dan kecapi.
Seperti pada era tahun ’80 an di mana
diplomasi yang dilakukan melalui musik bambu
ini, mampu menghadirkan citra positif tentang
Indonesia. Lewat peranan diplomat Mochtar
Kusumaatmadja, diungkapkan keberhasilan
angklung sebagai identitas budaya nasional. Udjo
Ngagalena yang lahir tahun 1929 dan meninggal
tahun 2000 sudah banyak melakoni perjalanan ke
luar negeri dalam bentuk misi pariwisata.
Misalnya bulan Januari 1984 berangkat
satu tim ke Kepulauan Solomon.
Demikian juga saat dilangsungkannya
pertemuan Asia Pasific Economic
Cooperation (APEC) bulan November
1994 di Jakarta, SAU menjadi salah satu
pengisi acara Ladies Night.
Tahun 1990 SAU diminta mengisi
peluncuran paket perdana Garuda
Indonesia jalur Swiss – Indonesia. Bulan
Agustus 1995, Kedubes RI di London
juga mengundang paket kesenian yang
diantaranya diisi oleh SAU. Di dalam
negeri pada saat peluncuran pesawat
N 250 produksi PT Dirgantara Indonesia
(dulunya PT Industri Pesawat Terbang Nusantara) )
Udjo juga diminta tampil. Sementara itu sejumlah
tamu negara seperti Putri Kerajaan Thailand Ratu
Mahachakri Sirindhorn dan juga Mantan Presiden
Megawati termasuk yang mengagumi angklung
Udjo. Tahun 1991 di Bangkok, Udjo tampil dengan
mengemas pertunjukkan yang dibawakan dalam
berbagai bahasa mulai dari bahasa Sunda, bahasa
Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Thailand. Selain itu jelas Penti, berbagai upaya lainnya dilakukan oleh Saung Angklung Udjo yang
lokasinya berada di wilayah Padasuka, Bandung,
Jawa Barat. Antara lain lebih mensosialisasikan
alat musik angklung dengan membuka “Corner
Udjo , sejak bulan Maret 2010. Corner Udjo tidak
hanya diisi dengan perlengkapan angklung
saja, melainkan juga dengan souvenir-souvenir
lainnya. Lokasinya bervariasi seperti di Discovery
Mall (Bali), Cilandak Town Square (Jakarta), dan
juga di Pendopo Anjani (Bandung). Dari rencana
yang tertunda tahun ini, diharapkan Corner
Saung Udjo ini nantinya segera juga berdiri di
Yogyakarta dan Alam Sutera (Serpong, Banten). Mengembalikan Budaya Angklung di Sekolah
Berbagai upaya dilakukan agar minat orang
menguasai alat musik angklung, yang pernah
“berjaya,” di masa sekolah pada tahun-tahun ’80
s/d ’90 an juga dilakukan oleh SAU. Bagi mereka
yang berminat, setiap tiga bulan sekali selalu ada
latihan dan pertunjukan di setiap corner SAU.
Selain itu SAU juga sering mengundang anak-anak
sekolah agar mereka mengetahui lebih banyak,
angklung sebagai salah satu warisan budaya
takbenda dari Indonesia, di beberapa wilayah di
Indonesia khususnya diperkenalkanlah angklung
ke luar Jawa. Sudah sering juga diadakan pelatihan
angklung dan seminar mengenai angklung.
Bagi mereka yang membeli seperangkat
angklung, maka diberi fasilitas seperti diberi
pelatihan untuk guru yang akan mengajar
angklung, selama masa tiga bulan. untuk bisa
memperoleh pelatihan bagi guru yang akan
mengajar angklung di sekolah. Sebab biasanya
pelatihan dilakukan selama tiga bulan untuk
minimal 10 orang. Memang dirasakan angklung
perlu digiatkan kembali di sekolah-sekolah
sebagai bagian dari kegiatan ekstra kurikuler,
bahkan ada usulan hal tersebut kembali seperti
dulu pada masa gamelan juga dikembangkan di
sekolah-sekolah. Peranan sekolah dan pemerintah
diharap lebih besar terhadap pengembangan
budaya seperti ini. Di lain sisi menurut Penti, sudah ada juga
Komunitas Angklung is Indonesia, yang ada di
Jakarta dan Bandung. Kendati baru saja berdiri
bulan Juli 2010, anggotanya mencapai 100 orang
anak-anak muda, yang rata-rata sudah pandai
atau mahir memainkan angklung, dan mencintai
permainan angklung.
Penti juga menambahkan, kendati agak
terlambat, sekitar bulan Agustus/September 2011
pemerintah melalui Kemendikbud sudah mulai
memesan 6.000 unit angklung guna dipasok ke
sejumlah sekolah. Jumlah tersebut akan ditambah
secara bertahap. Dalam pelaksanaannya ada
kendala teknis seperti pengajuan perusahaan
yang ditunjuk, tidak dapat berbadan hukum
yayasan, melainkan harus berbentuk perseroan
terbatas (PT). [***]
informasi »
SAUNGANGKLUNG UDJO
Jl. Padasuka 118, Bandung 40192
Telp: (022) 7271714; 7101736
Fax: (022) 7201587
Hp: 0817212657
Email: [email protected]
Web: www.angklung_udjo.co.id
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
19
Made in Indonesia
Made in Indonesia
LESTARIKAN BATIK BETAWI
– Jakarta Timur ? Menurut Ema, dirinya yang
lahir di wilayah tersebut, sudah tahu kalau sejak
jaman Kolonial Belanda, wilayahnya sudah dikenal
sebagai salah satu produsen mebel furniture.
“Dengan memanfaatkan limbah mereka, nilai
tambah yang diperoleh lumayan besar, artinya
dari nilai jualnya yang Rp 0,- saat masih berbentuk
limbah, setelah diolah lagi akhirnya menjadi aneka
souvenir, berbagai miniatur furniture, mainan
anak-anak, dan juga hiasan di atas meja, atau
sebagai barang hadiah (gift), akhirnya harganya
naik berkali-kali lipat. Produk Si Pitung satu
boneka Rp250 ribu, tempat duduk (dingklik) kayu
sepasang Rp500 ribu,-.
Untuk menghasilkan barang-barang tersebut
saya bekerja dengan sekitar 20 orang pekerja
sebagai tenaga sub kontrak yang berlokasi di
wilayah Bekasi, Jawa Barat. Selain itu ada juga
pekerja saya sendiri yang khusus menggarap
produk-produk tersebut sekitar delapan orang,”
jawab Ema yang antusias menggambarkan
usahanya yang dapat dikatakan menciptakan
lingkungan lebih hijau, dengan pemanfaatan
limbah menjadi produk bernilai tambah tersebut.
[***]
SAMBIL MANFAATKAN LIMBAH KAYU BUAT SOUVENIR
D
engan idealisme melestarikan
budaya Betawi lewat kain sarung
corak Betawi kontemporer, R. Ema
Damayanti menuangkan hal tersebut
lewat goresan batik tulis di atas kain.
Dalam satu perbincangan di sela-sela diadakannya
pameran “IKM Expo 2011,” di Plasa Perindustrian,
Desember lalu, Ema yang didampingi salah satu
pegawainya Avi menuturkan gagasannya, yang
ingin lebih berkreasi karena selama ini kebaya
Encim kreasinya, hanya dipadu dengan kain batik
motif asli Yogja, Solo, dan Pekalongan.
“Saya ingin kebaya Encim saya dikombinasi juga
dengan kain batik khas Jakarta. Itulah sebabnya
saya mengkreasi kain batik Betawi sejak dua tahun
terakhir, dengan corak dan warna khas Betawi yang
mencolok, terang, dan menggambarkan situasi
keseharian Jakarta yang cenderung ‘ramai’ ini.
Berbagai motif yang sedang trend saat ini adalah
motif si Pitung, Monas, Keluarga Aye, Ondel-Ondel,
Busway, Penari Belantek, Suasana Kota Jakarta, dan
Motif Delman,” papar Ema yang sejak lahir menjadi
warga asli Betawi dan tinggal di wilayah Jatinegara
Kaum, Jakarta Timur ini.
Rencananya ada dua motif yang sedang
digarap saat ini dan diharapkan juga lebih menarik
minat yakni tentang laut khususnya pemandangan
Pantai Ancol dan juga Kali Ciliwung. Bicara
masalah pewarnaan untuk batik tulisnya yang
dibandrol dengan kisaran harga Rp700’an ribu ke
20
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
atas ini, dirinya mengaku kalau selama ini masih
mengandalkan teknik pewarna buatan. Alasannya
klasik, “Harga pewarna alam masih mahal, dan
lagi tidak mudah menghasilkan warna seperti
yang dikehendaki, khususnya untuk warna-warna
terang yang dominan pada batik khas Betawi.
Saya juga masih bekerjasama dengan
pewarna batik dari Yogjakarta, sehingga setiap
selesai mendesain, kami kirim batik ke Yogjakarta,
untuk diwarnai. Dari Yogyakarta kami mendapat
batik kami sudah selesai produksi, sekaligus juga
mereka mengirim bahan baku untuk didesain
lagi. Ditambahkan oleh Ema,”Kami memilih
Yogyakarta untuk teknik pewarnaan karena warna
yang dihasilkan lebih terlihat menonjol (keluar
warnanya), seperti yang diminta Batik Betawi.
Selain itu pertimbangan faktor harga (tenaga
kerja) juga lebih kompetitif di Yogja, ketimbang
dari Jakarta sendiri,” paparnya.
Di Yogia dirinya bekerjasama dengan sekitar 20
orang tenaga pewarna batik, guna memenuhi total
produksi 200 potong batik tulis setiap bulannya.
Sementara itu teknik pewarnaan sendiri memakan
waktu pengerjaan sekitar sebulan untuk prosesnya.
Memang berbeda dengan menghasilkan batik cap
yang proses pengerjaannya hanya makan waktu
dua hari. Produksi batik cap sekitar 300 unit per
bulan saat permintaan normal. Karena itu saat
permintaan sedang tinggi, seperti pada masa
perayaan ulang tahun Kota Jakarta yang jatuh
pada setiap tanggal 22 Juni, maka produksinya
harus ditambah, karena permintaannya juga
meningkat, menjadi antara 500 s/d 1000 potong
per bulan.
“Karena itu jika biasanya saya hanya bekerja
dengan enam tenaga pembatik tulis canting, maka
saat permintaan sedang banyak, saya menambah
tenaga pembatik menjadi 20 orang, di luar tenaga
bordir sekitar tiga orang. Repotnya kalau harga
bahan baku malam mengalami kenaikan seperti
beberapa waktu yang lalu, saya tidak dapat
menaikkan harga jual, sehingga solusinya terpaksa
para pelanggan saya banting setir menjadi
membeli batik cap, tidak lagi membeli batik tulis.
Saat ini dari sekian pameran yang diikuti, memang
ada juga yang memproduksi Batik Betawi,
tetapi mereka bukan dari Jakarta, melainkan
adalah para pembatik dari Solo. Itulah sebabnya
mereka menampilkan warna dan corak yang
berbeda dengan yang saya hasilkan yakni motif
kontemporer yang lebih disukai ketimbang motif
klasik,”paparnya dengan bangga menampilkan
warna Betawi dalam paduan kebaya Encim dan
sarung motif Batik Betawi.
Saat ditanya siapa saja pembeli batik Betawinya
tersebut, Ema yang menaruh produknya di
beberapa gerai antara lain Sarinah Thamrin,
Jakarta Pusat; Gedung Smesco UKM Galery Jl.
Gatot Subroto; Dekranasda DKI Jl. Abdul Muis;
serta di rumah produksinya di Jatinegara Kaum,
Ema mengaku kebanyakan produknya adalah
digunakan para abang dan none Betawi pada
ajang tahunan yang setiap tahun diadakan di
DKI Jakarta sebagai hasil seleksi dari lima wilayah
DKI Jakarta, selain juga para pegawai, ibu rumah
tangga, dan juga orang asing warga negara Jepang
dan Amerika Serikat, yang menggunakan batiknya
sebagai koleksi.
“Walau baru dua tahun terakhir saya
memproduksi Batik Betawi, sebagai kelanjutan
produksi kebaya Encim yang sudah berjalan
selama tujuh tahun terakhir, tetapi antusiasme
penggemar Batik Betawi menjadikan saya yakin
produksi ini akan berlangsung terus, karena dari
setiap pameran yang diadakan diperkirakan
sekitar 10 potong laku dibeli.
Apalagi saya juga melengkapi produk saya
dengan asesorisnya seperti selop wanita, bros,
dan juga berbagai hiasan atau miniatur furniture,
ditambah lagi dengan permainan khas Betawi
seperti ondel-ondel, yoyo, congklak, serta
seperangkat pikulan khas pedagang kerak telur, “
tambah Ema lagi.
Pemanfaatan Limbah Kayu Siapa yang menyangka, kalau ternyata produk
mainan anak-anak dan miniatur furniture Betawi
termasuk ondel-ondel yang digarap Ema, ternyata
memanfaatkan limbah bekas furniture yang
dihasilkan oleh usaha furniture di lingkungan
sekitar tempat produksinya di Jatinegara Kaum
informasi »
BATIK BETAWI
Jl. Raya Bekasi Km17 No.43, Jatinegara Kaum, Jakarta Timur
Telp /Fax: (021) 82400085
Email: [email protected]
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
21
Made in Indonesia
Made in Indonesia
Ecoplas, Plastik dari
Tapioka
I
su lingkungan saat ini telah menjadi isu
global. Upaya melestarikan lingkungan
telah menjadi suatu gerakan bersama yang
dilakukan oleh masyarakat internasional.
Salah satu upaya untuk menjaga lingkungan
adalah mengkaitkan isu tersebut terhadap
produk-produk yang dihasilkan oleh pabrik.
Banyak negara yang telah mengkaitkan isu
lingkungan sebagai persyaratan bagi beredarnya
beragam produk di negara tersebut.
Produk yang tidak berwawasan lingkungan
atau bahkan mencemari lingkungan kini mulai
ditinggalkan konsumen. Dengan kesadaran
yang tinggi terhadap pelestarian lingkungan,
masyarakat konsumen lebih menyukai produkproduk yang berwawasan lingkungan.
Kondisi ini telah dirasakan oleh PT Tirta
Marta. Setelah berhasil dengan produk Oxium,
sejenis aditif yang dapat mengurai plastik
dalam kurun waktu hanya 2 tahun. Perusahaan
kembali membuat gebrakan yang fantastis yaitu
menciptakan plastik yang mampu terurai hanya
dalam hitungan bulan saja.
Ecoplas, nama produk yang dihasilkan
perusahaan. Produk ini dimunculkan ke pasaran
setelah melalui serangkaian ujicoba dengan
menggunakan bahan baku dari hsil pertanian,
yakni singkong.
Plastik ecoplas atau dikenal juga sebagai
plastik biobag tersebut lebih mudah terurai oleh
22
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
tanah hanya dalam kurun waktu enam bulan
hingga lima tahun untuk menguraikannya.
Cepat atau lambatnya plastik ecoplas
akan terurai tergantung dari kandungan
mikroorganisme yang ada pada tanah itu sendiri.
Kalau tanahnya subur, ya dalam enam bulan
sudah hancur.
Kebijakan PT Tirta Marta untuk membuat
produk plastik ecoplas antara lain didasarkan
pada banyaknya produk-produk kantong plastik
yang tidak berwawasan lingkungan sehingga
menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan
mahluk di Bumi ini.
Misalnya saja seluruh kantong plastik
yang kita gunakan berakhir menjadi sampah.
Dibutuhkan waktu 500-1000 tahun agar plastik
terurai oleh tanah. Artinya, kantong plastik yang
kita gunakaan saat ini masih akan ada pada tahun
2500
Saat terurai, partikel-partikel plastik akan
mencemari tanah dan air tanah.Jika dibakar,
sampah plastik akan menghasilkan zat dioksin,
yang jika dihirup sangat berbahaya bagi
kesehatan.
Dengan berkaca pada kondisi di atas serta
makin besarnya tuntutan konsumen bagi
penggunaan produk berwawasan lingkungan,
membuat perusahaan melakukan inovasi untuk
menghasilkan sebuah produk yang seringkali
digunakan dalam kehidupan sehari-hari namun
berwawasan lingkungan.
Akhirnya lahirnya produk platik bernama
ecoplas. Produk inovasi sekaligus mahakarya
anak bangsa ini terbuat dari bahan dasar
singkong (tapioka) atau cassava. Setelah melewati
penelitian dan pengembangan, makanan umbiumbian yang sangat melimpah di Indonesia
itu terbukti efektif untuk dijadikan bahan dasar
plastik ramah lingkungan.
Produk yang baru dirilis kepasaran pada
tahun 2009 tersebut ternyata langsung mendapat
apresiasi dan order yang lumayan dan mayoritas
dari konsumen didalam maupun luar negeri.
Sejumlah perusahaan ternama di dalam
dan luar negeri Perusahaan ternama telah
menggunakan ecoplas sebagai kantung
plastik bagi produk-produk yang dijual atau
dihasilkannya.
Memang, ecoplas bukanlah satu-satunya
produk ramah lingkungan yang berasal dari
hasil pertanian. Di Amerika Serikat, juga terdapat
perusahaan besar yang memproduksi plastik dari
bahan baku jagung. Namun harga jual produk
yang mereka tawarkan itu jauh lebih mahal.
Sebagai perbandingan, harga jual pastik dari
bahan jagung berkisar 400 % diatas harga plastik
biasa, Sementara harga produk ecoplas, hanya 2030 % diatas harga plastik normal.
Dengan keunggulan yang dimilikinya itu,
PT Tirta Marta optimis produknya akan terus
mendapat tempat di kalangan konsumen baik di
dalam negeri maupun konsumen luar negeri.Hal
itu sudah mulai terlihat.
Lewat keikutsertaan dalam pameranpameran di luar negeri, beberapa perusahaan
ternama di Amerika dan Singapura seperti Polo
Ralph Lauren, Raoul serta Mall of Amerika dan
beberapa perusahaan asing lain kerap mengorder
produk ecoplas secara rutin.
Begitu juga di dalam negeri. Beberapa hotel
dan produsen kosmetik serta sebuah mal ternama telah menjadi pelanggan tetap perusahaan yang
memperoleh sertifikat ISO 9001 : 2000 ini untuk
segmen di pasar lokal.
Hingga saat ini, kegiatan pemenuhan pesanan
tetap berjalan lancar dan kegiatan produksi
ecoplas tidak mengalami gangguan karena
bahan baku utama pembuatan produk tersebut,
yakni singkong, mudah didapat perusahaan dari
petani di dalam negeri.
Peningkatan kegiatan produksi ecoplas juga
berpeluang meningkatkan taraf hidup petani.
Pasalnya, dengan banyaknya kebutuhan akan
singkong bagi pembuatan ecoplas, maka petani
singkong tidak akan khawatir lagi kalau hasil
panen singkongnya tidak laku.Bw
informasi »
Tirta Marta, PT.
Jl. Raya Serang Km. 17.2 No. 43, Cikupa,Tangerang 15710
Banten,Indonesia Banten
Fax.(021) 5960572
Telp.(021) 5960573, 5960574, 5960575
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
23
Made in Indonesia
Made in Indonesia
telah membuat kondisi ekonomi di dalam negeri
pada saat itu kurang bergairah. Permintaan pasar
terhadap komoditas kertas tidak berkembang.
Jika hal itu dibiarkan, tentunya akan berpengaruh
pada kinerja perusahaan. Karena itu, Sinar Tech
dimunculkan sebagai sebuah terobosan untuk
menggairahkan pasar.
Sinar Tech merupakan jenis kertas art paper yang dikembangkan secara khusus oleh Sinar Mas
untuk kebutuhan produksi kitab suci Al Quran
serta buku-buku keagamaan. Sinar tech adalah
kertas halal, dibuat dari serat kayu yang berasal
dari Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dikelola
sesuai aturan yang ditetapkan pemerintah dan
tidak merusak hutan lindung. Artinya, kegiatan
produksi kertas ini tetap mengutamakan
kelestarian lingkungan.
Kertas ini memiliki sejumlah keunggulan.
Misalnya saja tulisan yang dicetak di atas kertas
Sinar Tech akan mudah dibaca dan walaupun
tipis, namun tulisan tidak berbayang pada
halaman dibaliknya.
Dengan hasil cetak tidak berbayang walaupun
kertas sangat tipis, daya serap terhadap tinta
yang baik tidak belobor sehingga ayat-ayat tetap
terbaca jelas dan benar serta warna kertas yang
ideal dan tidak melelahkan mata pembacanya,
Selain itu, jenis kertas ini juga memiliki daya
tahan yang cukup lama jika dibandingkan dengan
jenis kertas lainnya yang beredar di pasaran.
Kertas Premium
untuk Al Qur’an
K
ondisi krisis sering menimbulkan inovasi
baru dalam pembuatan produk agar
sebuah perusahaan tetap eksis dalam
kondisi tersebut. Hal ini telah ditunjukkan
oleh Sinas Mas Grup. Di saat kondisi Indonesia
tengah dihadang oleh ancaman krisis ekonomi
tahun 2007 lalu, kelompok usaha itu telah
melakukan inovasi atau terobosan baru untuk
24
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
membuat produk kertas yang memiliki banyak
keunggulan dibandingkan dengan produk kertas
yang sudah beredar di pasar nasional maupun
internasional saat itu.
Inovasi atau terobosan baru yang dihasilkan
itu adalah kertas khusus yang diberi nama Sinar
Tech, yang cocok untuk kertas Al-Qur’an. Kertas
premium ini diproduksi oleh anak usaha Sinar Mas
Menurut Gandhi, produk Sinar Tech saat ini
telah menembus pasar internasional. Sesuai
dengan kegunaannya, pangsa pasar utama dari
kertas yang diproduksi di pabrik IKPP diTangerang,
Banten itu adalah negara-negara di kawasan
Timur Tengah. Setidaknya hingga saat ini sudah
26 negara yang menggunakan kertas Sinar Tech
untuk pembuatan Al Qur’an dan produk lainnya,
seperti Mesir, Yordania, Turki, Kuwait, Uni Emirat
Arab, serta Iran. Kertas jenis ini juga diterima di
pasar negara-negara lainnya, di antaranya adalah
Jepang.
Karena keunggulannya itu, permintaan kertas
jenis ini di pasar internasional cukup besar. Pada
tahun 2009, sebanyak 15.000 ton kertas Sinar
Tech telah diekspor. Kegiatan ekspor tetap
menggunakan merek Indonesia.
“Kami menjadi pemasok terbesar produk
kertas Qur’an di wilayah Timur Tengah dengan
pangsa pasar hingga 70%. Sebanyak 30%-nya
diisi oleh produk kertas lokal dan dari pesaing
lainnya seperti Jepang,” papar Gandhi
Dengan kinerja ekspor yang baik tersebut,
perusahaan berhasil meraih penghargaan
Primaniyarta Award 2010 untuk kategori
‘Pembangunan Merek Global’. Sertifikat halal
dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk produk
kertas ini juga telah diraih.
Sementara untuk pasar dalam negeri,
penggunaan kertas Sinar Tech memang masih
belum begitu besar. Tahun lalu, konsumsi nasional
terhadap kertas khusus untuk Al Qur’an tersebut
baru mencapai 1.000 ton. Kecilnya penjualan
produk kertas Qur’an di dalam negeri itu karena
di Indonesia belum banyak produsen yang
menggunakan kertas Qur’an premium untuk
produksi Al-Qur’an.
Walaupun begitu, perusahaan tetap optimis
kalau penggunaan kertas Sinar Tech di dalam
negeri akan terus mengalami peningkatan di
tahun-tahun mendatang.Apalagi Indonesia
merupakan negara dengan jumlah penduduk
Muslim terbesar di dunia.
Begitu juga dengan pangsa pasar luar negeri.
Dengan penerimaan konsumen di luar negeri
saat ini, perusahaan yakin peningkatan volume
ekspor akan tetap terjadi.
Keyakinan itu diperkuat dengan kenyataan
selama ini bahwa produk-produk kertas buatan
Indonesia telah banyaj diterima pasar dunia
baik karena mutunya maupun harganya yang
bersaing. Bw
Grup, PT Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP).
“Produk ini merupakan inovasi saat Indonesia
memasuki masa krisis tahun 2007-2008, yang
baru dikembangkan tahun 2007,” kata Gandhi
Sulistiyanto, Wakil Presiden Komisaris PT Indah
Kiat Pulp & Paper.
Krisis yang terjadi pada waktu itu, yang dipicu
oleh adanya krisis keuangan di Amerika Serikat,
informasi »
PT. INDAH
KIAT PULP
BAKPIA
PATHUK
75 & PAPER
Wisma
Indah No.
Kiat75,
A-B,Yogyakarta
1st-5th Floor, Jl. Raya Serpong Km. 8,
Jl.
K.S. Tubun
Serpong, Tangerang 15310
Telp. (021) 53120001, 53120002, 53120003
Fax. (021) 53120020, 53120362
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
25
Made in Indonesia
Made in Indonesia
Perajin Kecil Jepara Berdayakan Diri,
Untuk Pertahankan Ekspor
order atau pesanan, mereka lebih banyak
berkonsentrasi kepada para broker. Padahal
untuk mendapat kredit dari perbankan juga
sulit, karena tingginya suku bunga bank.
P
endirian Asosiasi Pengrajin Kecil
Jepara (APKJ) didirikan dengan tujuan
membangun satu kelembagaan,
sehingga anggotanya tidak masuk
dalam kondisi yang semakin terpuruk. Selain itu
salah satu tujuan APKJ adalah memberdayakan
usaha perajin agar mampu menjalankan
usahanya secara berkesinambungan, karena
rata-rata usaha mereka bergerak secara turuntemurun.
Melalui kerjasama dengan Centre for
International Forestry Reasearch (CIFOR),
Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan
Kehutanan – Badan Litbang Kehutanan
(FORDA), maka pendirian APKJ diharapkan
lebih mampu bertahan di masa ekspor mebel
mengalami masa-masa sulit seperti pada saat
ini. Hal tersebut dikemukakan oleh Margono,
Ketua APKJ dan Pengusaha perajin Java Mebel di
sela-sela penyelenggaraan Trade Expo Indonesia
(TEI) ke-25, di Jakarta International Trade
Kemayoran, beberapa waktu yang lalu.
Berbagai produk yang ditampilkan dalam
pameran adalah berbagai meja dan kursi,
patung, relief, kerajinan seperti tempat lilin,
lemari dan nakas, yang bahan bakunya juga
bervarisi mulai dari kayu jati, mahoni, trembesi,
dan kayu Munggur. Selain berasal dari Perhutani
Jawa Tengah dan Jawa Timur, ada juga kayu yang
diambil dari Gunung Kidul, Klaten, Jawa Barat,
dan juga dari wilayah Jepara.
Sementara apabila dilihat dari spesifikasi
finishingnya, maka ada yang diselesaikan
tanpa dicat (un-finished product), finishing
melamin/netro cellulose, melamin natural,
serta mozaik rustik. Perusahaan anggota
asosiasi yang berpartisipasi dalam pameran
ada 10 perusahaan. Ia sendiri sudah dua kali
ini mengikuti pameran TEI.
Kendati baru berdiri tahun 2009 tetapi
organisasinya telah melakukan beberapa
hal penting. Di antaranya, mereka sudah
dapat bekerjasama untuk mengetahui berapa
kebutuhan bahan baku perajin. Selain bahan
baku, kerjasama lain yang sudah dilakukan juga
di antaranya adalah untuk mengatasi masalahmasalah yang dihadapi 100 anggotanya, baik
di bidang di bidang permodalan dan juga untuk
membuka akses pemasaran.
26
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
“Para perajin kecil di Jepara ini pernah
mengalami masa-masa keemasan (booming)
di tahun 1998, di saat krisis karena waktu itu
order justru melejit dengan menguatnya dollar
AS. Namun ketika akhirnya ekonomi di dalam
negeri justru membaik dan dollar AS melemah
tahun 2000, akhirnya para perajin kecil Jepara
tidak mampu menghadapi kenyataan tersebut,
tutur Margono yang juga mempromosikan
usahanya melalui website.
Waktu itu, para eksportir justru tidak mau
bermitra dengan para perajin, dan akibatnya
harga jual para perajin menjadi merosot
jauh. Masa itu menjadi semakin ‘gelap’ bagi
para perajin, terutama karena banyak tokoh
masyarakat yang menjarah kayu jati olahan.
Selain itu para pembalak liar juga banyak
“dibeckingi” oleh oknum pemerintah.
Akibatnya para perajin memilih jalan sendirisendiri untuk menyelamatkan usahanya,
sehingga justru terjadi persaingan tidak sehat
di antara mereka. Sementara itu mereka juga
tidak percaya dengan sistem kelembagaan atau
organisasi yang ada.
Akhirnya pada tahun 2007, Indonesia
termasuk dalam salah satu di antara 14 negara
yang proposal kerjasamanya diterima oleh
lembaga internasional. Akhirnya tahun 2008
pemerintah daerah setempat bersama asosiasi
menyusun proposal, dan disetujui oleh CIFOR
yang bermarkas di Australia. Salah satu program
kerja mereka adalah memfasilitasi projek rantai
nilai di dalam pembentukan kelembagaan.
Itulah sebabnya asosiasi ini dibentuk.
Harga Bahan Baku Naik
Di bidang pengadaan bahan baku, sejak
beberapa tahun yang lalu, terjadi kenaikan harga
jual kayu mulai dari jenis kayu jati, mahoni,
dan sonokeling, sebagai dampak pemerintah
menerapkan naiknya harga patokan sumber
daya hutan. Di sisi lain, ada anggapan para
pembalak liar tersebut juga mendapat dukungan
dari pemerintah, sehingga banyak pengusaha
atau perajin yang terpuruk karena para eksportir
menekan harga jual serendah-rendahnya.
Padahal pengusaha dan perajin mebel
harus menaikkan harga jual, selain langkah
tersebut harus diambil sebagai penyesuaian
terhadap kenaikan harga BBM, juga akibat
kenaikan biaya operasional dan penunjang.
Pada satu saat, perajin kecil yang relatif hanya
memiliki tenaga kerja sekitar 10 orang ini, harus
bersaing memperoleh bahan baku yang dikuasai
oleh para pelelang kayu dengan modalnya yang
cukup besar.
Karena itu juga, pembentukan asosiasi
ini selain juga agar pemerintah lebih
memperhatikan para perajin kecil ini, terutama
karena selama ini bantuan dari pemda dan Balai
Riset Pengembangan Hutan Indonesia, hanya
untuk membantu kegiatan pameran dalam
bentuk penyediaan stand (booth). Sementara
yang diharapkan cukup banyak, selain bantuan
permodalan untuk bahan baku, juga termasuk
akses pemasaran.
Kondisi yang berlangsung saat ini adalah
semakin sulitnya pengusaha perajin, karena
dengan mulai melemahnya dollar AS, maka
harga jual semakin rendah. Kalaupun ada
Perajin Mulai Susut
Dengan rentetan masalah ini, maka saat
ini jumlah perajin mebel di wilayah Jepara juga
menyusut. Berdasarkan data dari CIFOR, kalau
tahun 2000 masih ada 15.000 perajin mebel di
wilayah Jepara, maka data terakhir tahun ini
menjadi tinggal 12.000 perajin. Bila masalahmasalah ini tidak selesai, maka dipastikan dari
jumlah ini 50 persennya berada dalam kondisi
collapse (sekarat).
Hasil produksi dari para perajin ini 90
persennya diekspor. Kesulitannya bagi pengusaha
berorintasi ekspor, seperti ke negara-negara
Eropa, Asia, negara-negara Timur Tengah,
dan diperkirakan mencapai 200 negara tujuan
ini, adalah apabila terjadi penyesuaian harga,
berlangsung terlalu cepat, baik harga naik tinggi
secara tiba-tiba dan turun juga berlangsung
secara cepat atau tiba-tiba.
Untuk mencari pasar alternatif tujuan ekspor
juga tidak mudah, karena grade (tingkatan)
bahan bakunya berbeda-beda. Seperti untuk ke
negara-negara Asia, dapat saja menggunakan
kayu bertingkatan B, sementara untuk ke negara
tujuan Eropa kebanyakan harus menggunakan
kayu bertingkatan A. Itulah sebabnya mereka
sangat concern dalam menjaga kelangsungan
usahanya, sehingga dapat terus berlangsung,
kendati mereka menghadapi berbagai masalah
yang tidak mudah. ***
informasi »
Java Mebel
Gedung JTCC, Jl. Raya Jepara – Kudus Km 11,5,
Ringging-Pecangan-Jepara
Telp/Fax: (0291) 754712
Website: javamebel.com
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
27
Made in Indonesia
Made in Indonesia
B
erbicara tentang kain tenun songket,
perhatian kebanyakan masyarakat di
tanah air dapat dipastikan akan langsung
ter tuju pada k ain tenun songket
Palembang. Padahal sebetulnya daerah penghasil
kain songket di tanah air bukan hanya Palembang,
tetapi ada beberapa daerah lain yang juga
memproduksi kain songket yang juga sangat
indah dan menarik. Kain tenun songket dari
berbagai daerah tersebut memiliki ciri khas dan
keunikan masing-masing dengan berbagai motif
yang sangat indah.
Salah satu daerah yang juga dikenal sebagai
penghasil kain tenun songket adalah Pulau
Dewata Bali. Selain memiliki keindahan alam
dan budayanya yang unik dan menarik hingga
banyak menarik minat kalangan wisatawan asing,
Pulau Bali juga memiliki tradisi memakai kain
tenun songket yang sangat kuat. Hal itu terjadi
karena budaya memakai kain tenun songket
diantara masyarakat Bali sudah berlangsung
sejak lama, yaitu sejak masih berkuasanya dinastidinasti kerajaan di daerah tersebut. Tradisi dan
budaya memakai kain tenun songket itu kini
terus diturunkan dan dilestarikan oleh kalangan
masyarakat Bali, khususnya oleh kalangan
keturunan keluarga kerajaan.
Walaupun pada awalnya kain tenun songket
digunakan hanya terbatas di kalangan anggota
keluarga puri (kerajaan), namun kini hampir
seluruh lapisan masyarakat Bali juga menggunakan
kain songket, terutama pada saat penyelengaraan
upacara-upacara adat keagamaan.
Adanya budaya dan tradisi yang sangat
kuat dalam menggunakan kain tenun songket
di kalangan masyarakat Bali inilah yang telah
mengakibatkan tradisi dan budaya pembuatan
kain tenun songket di Bali dapat tetap hidup dan
bertahan walaupun teknologi pembuatan kain
kini sudah jauh berkembang. Dukungan tradisi
dan budaya untuk menggunakan kain tenun
songket inilah yang telah membuat kalangan
perajin kain songket di Bali untuk tetap eksis dan
Kain Tenun
Songket Bali
Budaya memakai kain tenun songket diantara masyarakat Bali
sudah berlangsung sejak lama, yaitu sejak masih berkuasanya
dinasti-dinasti kerajaan di daerah tersebut.
8
28
28
Karya Indonesia
-- 2009
2011
Indonesia edisi
edisi313
secara turun temurun melestarikan seni kerajinan
pembuatan kain tenun songket Bali kepada
generasi berikutnya.
Keaslian dan keunikan motif maupun teknik
pembuatannya yang sangat menarik dan indah
tidak lekang dimakan usia maupun jaman. Faktor
itulah yang justru membuat kain songket Bali
tetap memiliki ciri khas dan daya tarik yang tidak
akan dapat digantikan oleh kain hasil produksi
mesin-mesin modern.
Salah seorang pengusaha kerajinan kain tenun
songket yang sudah menggeluti usaha kerajinan
tenun songket Bali selama 15 tahun adalah A.A.
Dewi Sribudhami Saraswati (44) dengan usaha
kain tenun songketnya “Sribudhami”. Dewi
mengaku sejak remaja sudah tertarik dan hobi
mengoleksi kain tenin songket. Berawal dari
ketertarikan dan hobi itulah, akhirnya pada tahun
1991 Dewi mulai menggeluti usaha kerajinan
pembuatan kain tenun songket.
Menurut Dewi, tradisi memproduksi dan
menggunakan kain tenun songket di kalangan
masyarakat Bali sudah berlangsung sangat lama
sejak jaman kerajaan-kerajaan Bali dahulu. Bahkan
tradisi dan budaya kain tenun songket di Bali lebih
tua ketimbang tradisi dan budaya kain tenun
songket Palembang.
Yang membedakan kain tenun songket Bali
dengan kain tenun songket Palembang adalah
motif dan penggunaan warna pada motif-motif
tersebut, walaupun kedua jenis kain tenun
songket ini umumnya banyak menggunakan
benang emas dan ornamen-ornamen berwarna
mencolok.
“Perbedaan lainnya antara kain tenun songket
Bali dengan kain tenun songket Palembang adalah
penggunaan warna kuning, marun dan ungu yang
sangat menonjol pada kain tenun songket Bali,
disamping tentu saja penggunaan benang emas.
Sementara pada kain tenun songket Palembang
penggunaan benang emas cenderung sangat
dominan,” kata Dewi seraya menambahkan
benang emas untuk pembuatan kain tenun
songket sampai kini masih harus diimpor dari luar
negeri, khususnya dari India, sedangkan untuk
benang dasar seperti benang sutera sudah bisa
diperoleh di dalam negeri.
Selain digunakan untuk bahan pakaian, kain
tenun songket Bali juga banyak digunakan untuk
kain sarung, khususnya pada kegiatan upacara
adapt keagamaan, untuk hiasan interior rumah
(dipajang di dinding dengan menggunakan
bingkai/frame atau ataupun sebagai hiasan pada
barang furniture).
Mengingat cara pembuatan kain tenun
songket yang masih sangat tradisional, yaitu
dengan menggunakan alat yang disebut cagcag, maka pembuatan kain tenun songket
biasanya memakan waktu yang cukup lama.
Rata-rata seorang perajin yang sudah cukup
terampil mampu memproduksi satu lembar kain
tenun songket selama satu bulan. Itu pun untuk
pembuatan kain tenun dengan motif yang tidak
terlalu rumit, sedangkan untuk motif yang rumit
lama pembuatannya bisa selama tiga bulan
tergantung tingkat kesulitan dan kerumitannya.
Dengan dibantu 25 perajin kain tenun
songket Bali, Dewi yang lulusan Fakultas Ekonomi
Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas)
Denpasar itu, setiap bulannya rata-rata mampu
memproduksi sek itar 20-25 lembar k ain
tenun songket Bali. Kain tenun songket yang
dihasilkannya dijual dengan harga yang bervariasi
mulai dari Rp 1,5 juta sampai Rp 15 juta per lembar.
Namun ada juga kain tenun songket dengan motif
khusus yang dijual dengan harga sampai Rp 40
juta per lembar. ***
informasi >
A.A. Dewi Sribhudami Saraswati
Telp. 0361-432236, 081337118688
Karya
Karya
Indonesia
Indonesia
edisi
edisi33edisi
-- 2011
2009
Karya
Indonesia
13
299
29
Made in Indonesia
Made in Indonesia
Mengandalkan
Pemanfaatan Bahan
Pewarna Alami
I
ndustri kerajinan batik merupakan salah
satu industri kreatif yang memiliki sejarah
yang cukup panjang di tanah air. Walaupun
tidak diketahui secara pasti awal mula
pengembangannya, namun industri kerajinan
batik diyakini merupakan bagian dari peninggalan
budaya yang diwariskan secara turun temurun
dari nenek moyang bangsa Indonesia. Walaupun eksistensinya di dalam budaya
Indonesia sudah cukup lama, kerajinan batik
ternyata dapat tetap bertahan selama berabadabad hingga saat ini. Peminat dan penggemar
kerajinan kain batik pun terus bertambah, tidak
hanya di kalangan masyarakat bangsa Indonesia
saja melainkan mampu menembus batas-batas
negara dan budaya di dunia.
30
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Bahkan kini di jaman modern trend
penggunaan batik semakin meluas, tidak hanya
di kalangan generasi tua, tetapi kini telah
merambah ke kalangan generasi muda. Banyak
kalangan muda yang kini menyukai pakaian batik
untuk digunakan tidak hanya sebagai pakaian
untuk acara resmi tetapi juga sebagai pakaian
untuk acara santai.
Mengingat sejarahnya yang cukup panjang
di tanah air, industri kerajinan batik pun telah
berkembang cukup lama di berbagai daerah
di Indonesia. Hampir setiap daerah provinsi di
Indonesia memiliki pusat-pusat pengembangan
industri kerajinan batik. Bahkan, ada satu provinsi
yang memiliki beberapa pusat pengembangan
industri kerajinan batik seperti misalnya provinsi
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI
Yogyakarta.
Dengan berkembangnya pusat-pusat industri
kerajinan batik itu maka berkembang pula desaindesain motif batik yang khas dari masing-masing
daerah tersebut. Berkembangnya desain-desain
motif tersebut telah memperkaya khazanah batik
Indonesia selama ini sehingga kalangan pecinta
batik di dunia mengenal Indonesia sebagai
gudangnya karya seni kerajinan batik.
Jawa Timur sudah sejak lama dikenal sebagai
salah satu provinsi yang memiliki banyak sentra
pengembangan batik. Salah satu wilayah sentra
industri kerajinan batik di Jawa Timur yang
kini mulai banyak dikenal masyarakat pecinta
batik adalah Kabupaten Jombang. Kalangan
perajin batik di Jombang kini terdorong kembali
untuk membangkitkan industri kerajinan batik
bersamaan dengan makin tingginya minat
masyarakat untuk membeli dan memiliki kain
batik.
Salah satu perajin kain batik di wilayah
Jombang itu adalah Ririn Asih Pindari, pemilik
dan pengelola industri kerajinan Batik Sekar Jati.
Dalam menjalankan usaha batiknya, Ririn yang
lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Widyagama,
Malang tahun 1995 ini lebih cenderung untuk
mempertahankan cara-cara dan proses produksi
yang ramah lingkungan, khususnya dalam proses
pewarnaan. Karena itu, Ririn lebih menonjolkan
penggunaan bahan pewarna alami untuk produk
kain batiknya. Ririn mengaku lebih memilih bahan pewarna
alami karena tiga alasan utama, yaitu pewarna alam
lebih teduh, ketersediaannya sangat melimpah
di alam dan penggunaannya tentu saja lebih
ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan
pewarna kimiawi. Para perajin batik di daerah
tidak pernah mengalami kesulitan mendapatkan
bahan-bahan pewarna alami. Di Solo, misalnya,
berbagai bahan pewarna alami dapat dengan
mudah ditemukan di pasar Klewer karena di
sana banyak pedagang yang menjual berbagai
jenis bahan pewarna alami seperti berbagai
jenis bahan dari kayu-kayuan dari Kalimantan
seperti kayu Tingi, Tegeran, Jambal dan Mahoni.
Sebagian bahan pewarna alami untuk kain batik
juga dijual di tukang jamu-jamuan seperti jolawe
karena bahan tersebut juga digunakan untuk
membuat jamu.
Biasanya bahan kain batik yang sudah siap
untuk diwarnai (sebelum dibatik) biasanya
mendapat perlakuan awal berupa proses
mordanting untuk memperkuat penyerapan
warna ke dalam kain. Caranya dengan direbus
selama sekitar dua jam, kemudian direndam
selama semalaman. Proses selanjutnya adalah
dicuci, dikeringkan dan baru kemudian dibatik.
Pewarna alam, walaupun bisa luntur, tapi
tidak akan melunturi kain yang lain. Kain dengan
pewarna alam tidak akan pudar seperti pewarna
kimia. Namun waktu yang dibutuhkan untuk
pembuatan kain batik dengan menggunakan
bahan pewarna alam biasanya lebih lama.
Karena, pewarnaan dengan bahan pewarna alam
membutuhkan banyak proses pencelupan. Kalau
pewarna kimia cukup dua kali celup, sedangkan
untuk pewarna alam bisa sampai 10 kali celup.
Berbagai bahan pewarna alam pun dapat
digunakan untuk mendapatkan warna-warna
tertentu. Misalnya, untuk warna biru biasanya
dipakai daun indigo, untuk warna merah biasanya
dipakai kayu secang dan kulit kayu tingi. Ciri khas
warna alam umumnya lebih teduh, lembut dan
lebih ramah lingkungan.
Kendati demikian, Ririn mengakui bahwa
variasi warna yang dihasilkan oleh bahan
pewarna alam memang kurang begitu banyak,
artinya tidak sebanyak variasi warna yang bisa
dihasilkan oleh bahan pewarna kimia. Namun
demikian, bagi para perajin kain batik yang kreatif
hal itu sebetulnya bisa diatasi dengan melakukan
kombinasi dari berbagai warna yang ada.
Sekar Jati Batik yang kini dikelola Ririn,
berdiri pada tahun 1998. Awalnya orang tua Ririn
menggarap usaha kerajinan kain dengan motif
jumputan. Sejak remaja Ririn sudah membantu
ibunya dalam mengelola usaha kerajinan kain
jumputan itu. Ririn pula yang mewakili ibunya
mengikuti berbagai pelatihan penggunaan zat
warna alami dan pembuatan motif di Balai Besar
Batik Yogyakarta. Setelah sempat menggunakan
bahan pewarna kimia selama beberapa tahun,
Sekar Jati Batik akhirnya lebih memfokuskan diri
dalam penggunaan bahan pewarna alami dan
kini bahan pewarna alami menjadi salah satu ciri
khas dari Sekar Jati Batik.
Ririn mulai mengambil alih usaha kerajinan
batik yang dirintis ibunya itu pada tahun 2007,
ketika suatu waktu pada tahun 2007 ibu Ririn
jatuh sakit. Sejak itu kendali usaha Sekar Jati Batik
sepenuhnya berada di tangan Ririn. Ririn pulalah
yang kini memasarkan produk kain batiknya ke
berbagai daerah dengan mengikuti pameran di
berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Medan,
Pontianak, Balikpapan, Banjarmasin, Mataram
dan lain-lain.
Walaupun sampai saat ini Ririn belum
melakukan ekspor secara langsung namun
sejumlah pembeli yang datang ke galerinya di
Jombang mengaku membeli batik Sekar Jati
untuk dibawa atau dijual kembali kepada pembeli
di luar negeri.
Kini Ririn mempekerjakan 25 orang karyawan
termasuk dua orang desainer yang direkrut
oleh Ririn sendiri. Dengan jumlah karyawan
sebanyak itu, Ririn dengan Sekar Jati Batiknya kini
memproduksi rata-rata 50 potong batik tulis dan
200 potong batik cap setiap bulannya. ***
informasi »
BATIK SEKARJATI
Ds. Jatipelem No. 37 Kec. Diwek. Kabupaten Jombang
Pondok Maspion Blok E No.2 Waru-Sidoardo
Telp: (0321)866344, HP: 081331215918
Email: [email protected]
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
31
Made in Indonesia
Minuman
Khas Bali
32
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Made in Indonesia
B
agi mereka yang memiliki daya kreatifitas
dan inovasi tinggi, kekayaan sumber
daya alam dan seni budaya tradisional
di tanah air seringkali menjadi sumber
inspirasi untuk menciptakan produk-produk baru
yang banyak dibutuhkan masyarakat. Kekayaan
sumber daya alam dan seni budaya asli/tradisional
di dalam negeri itu dapat diolah, dimodifikasi atau
direka ulang menjadi suatu produk atau jasa yang
sangat laku di pasaran.
Dengan sentuhan proses pengolahan produk
menggunakan teknologi mutakhir atau dengan
mengemas produk akhirnya menggunakan
kemasan modern yang lebih menarik, sebuah
produk tradisional pun dapat disulap menjadi
sebuah produk baru yang kualitasnya jauh lebih
baik, lebih menarik dan memiliki nilai tambah
yang lebih tinggi.
Itulah kira-kira yang dilakukan oleh Fa. Udiyana
yang sejak tahun 1968 telah mengembangkan
produk minuman tradisional Bali, yaitu brem Bali
menjadi produk minuman modern yang dapat
lebih diterima kalangan konsumen dengan
kemasan yang lebih menarik dan praktis.
Kini selain disukai kalangan konsumen di
pulau Bali dan daerah sekitarnya, Di kalangan
turis asing sendiri minuman tradisional khas
Bali itu dikenal dengan nama Bali Rice Wine.
Dengan proses produksi yang telah dimodifikasi
menggunakan peralatan yang lebih modern, Fa.
Udiyana mampu memproduksi Brem Bali dengan
standar kualitas yang lebih tinggi. Produk arak Bali
warisan budaya leluhur masyarakat Bali itu dijual
dalam bentuk kemasan botolan dengan merek
Dewi Sri.
Sudah sejak lama arak Bali dikenal memiliki ciri
khas yang sangat unik. Selain merupakan warisan
budaya masyarakat adat Bali, Brem Bali juga
memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan
budaya masyarakat Bali. Sebab, Brem Bali atau
Arak Bali sering dipakai dalam berbagai upacara
adat dan upacara keagamaan Hindu Bali.
Walaupun produk arak tradisional serupa
juga banyak ditemukan daerah atau di negara
lain, namun tidak ada satu pun produk arak
tradisional dari daerah laia ataupun mancanegara
yang memiliki cita rasa yang sama persis dengan
Arak Bali. Di Jepang misalnya terdapat produk
arak tradisonal yang disebut Sake yang terbuat
dari beras putih, namun rasanya sangat berbeda
dengan Brem Bali yang terbuat dari beras ketan
hitam dan beras ketan putih. Demikian juga di
Amerika Latin dan Sulawesi Selatan terdapat
produk arak sejenis tapi tetap saja cita rasanya
berbeda.
Cita rasa Brem Bali juga sangat berbeda dengan
cita rasa anggur (wine). Sebab, selain bahan
bakunya berbeda (wine dibuat dari buah anggur,
sedangkan Brem Bali dibuat dari beras ketan),
juga proses pembuatannya sangat berbeda. Wine
dibuat dengan cara memfermentasi buah anggur
segar, sedangkan Brem Bali dibuat melalui proses
fermentasi beras ketan hitam dan beras ketan
putih yang sebelumnya dimasak terlebih dahulu.
Selain itu, jenis ragi untuk proses fermentasinya
pun berbeda pula.
Kini sudah tiga generasi mengelola industri
Brem Bali di bawah naungan Fa. Udiyana. IB
Raka Dwijawarsa adalah generasi ketiga pewaris,
pemilik sekaligus pengelola perusahaan keluarga
Fa. Udiyana. Kakek Rakalah yang pertama kali
mendirikan usaha industri Brem Bali Fa. Udiyana
pada tahun 1967-1968. Pada awalnya kakek Raka
hanya memproduksi Brem Bali secara tradisional
untuk memenuhi kebutuhan upacara adat
dan hari raya. Namun sejalan dengan makin
meningkatnya permintaan Brem Bali khususnya
berkaitan dengan pelaksanaan proyek pariwisata
pertama di Bali (proyek Bali Beach Hotel di Sanur
pada tahun 1967-1968), maka industri minuman
tradisional ini pun terus berkembang. Untuk
memenuhi permintaan yang makin meningkat
sejalan dengan meningkatnya kegiatan pariwisata
di Bali, maka keluarga Raka akhirnya memutuskan
untuk mendirikan perusahaan industri Brem Bali
secara profesional. Karena itu, pada tahun 1972,
Fa. Udiyana secara resmi didirikan.
Industri Brem Bali yang semula dilakukan
secara rumahan (home industry) kini berkembang
menjadi sebuah usaha yang betul-betul
menerapkan prinsip-prinsip industri. Perusahaan
pun mulai memperkenalkan merek Dewi Sri
dan penampilan kemasan produk ditingkatkan
menjadi kemasan botol yang lebih menarik.
Namun demikian diakui Raka perkembangan
industri Brem Bali selama ini relatif lamban. Sejak
pertama didirikan pada tahun 1972 sampai
saat ini, Fa. Udiyana masih tetap merupakan
industri kecil (jumlah karyawan saat ini 28 orang)
dengan skala usaha yang juga tidak banyak
mengalami perkembangan. Kendati demikian
Raka mengaku optimistis suatu saat industri Brem
Bali ini akan mengalami masa booming. Sebab,
Bali sebagai daerah wisata sangat potensial
untuk pengembangan industri
minuman.
Saat ini Fa. Udiyana memiliki
kapasitas produksi sesuai izin yang
diberikan pemerintah sebesar
125.000 liter per tahun. Namun
demikian, rata-rata produksi riil
setiap tahunnya hanya berkisar
sekitar 50.000 liter sampai 60.000
liter.
Fa. Udiyana memproduksi dua
jenis produk minuman utama,
yaitu brem dan arak. Brem sendiri
terbagi dalam tiga kategori, yaitu
Brem Bali yang merupakan produk
minuman dengan kadar alkohol sekitar 5%, brem
liquor dengan kadar alkohol sekitar 10% dan
brem tabuk (brem untuk upacara) dengan kadar
alkohol sekitar 2,5% namun dengan kualitas yang
lebih rendah dari Brem Bali dan brem liquor. Selain
ketiga jenis produk brem itu, Fa. Udiyana juga
masih memproduksi brem untuk ekspor. Biasanya
brem untuk ekspor ini memiliki kadar alkohol
yang lebih tinggi, sesuai dengan permintaan dari
pembeli, namun umumnya kadar alkohol brem
untuk ekspor itu berkisar sekitar 14%.
Smentara itu, produk arak yang dihasilkan Fa.
Udiyana terdiri dari dua jenis utama, yaitu Arak
Bali dan anggur beras. Kedua jenis arak ini dapat
dibedakan dari kadar alkoholnya dan dari cita
rasanya. Arak Bali memiliki kadar alkohol sekitar
40%, sedangkan anggur beras memiliki kadar
alkohol sekitar 10%.
Berbagai produk brem dan arak tersebut
dijual melalui jalur distributor atau dijual
langsung secara eceran melalui toko ritel milik
Fa. Udiyana sendiri. Sedangkan kegiatan ekspor
dilakukan secara langsung kepada pembeli di
Jepang dengan menggunakan merek sendiri,
yaitu Dewi Sri. Pada tahun 2007 ekspor arak bali ke
Jepang mencapai 40.000 botol. Beberapa tahun
sebelumnya ekspor juga dilakukan ke Jerman
dan Australia, namun kemudian berhenti dan kini
hanya tinggal ke Jepang.
Menurut Raka, permintaan brem dan arak dari
pasar ekspor sebenarnya cukup banyak, namun
Fa. Udiyana tidak dapat memenuhinya karena
kebanyakan importir itu meminta keleluasaan
untuk menggunakan merek mereka sendiri
(bukan merek Dewi Sri). Walaupun dilihat dari sisi bisnis, pesanan dari pasar ekspor itu menjanjikan
keuntungan yang cukup besar, namun Fa.
Udiyana tetap tidak memenuhinya karena selain
menyangkut masalah budaya juga Fa. Udiyana
ingin membesarkan merek sendiri. Kalau ekspor
tanpa merek itu dipenuhi, dikhawatirkan budaya
dan merek Brem/Arak Bali juga akan terjual.
Karena itu, Fa. Udiyana lebih memilih untuk tetap
mempertahankan eksistensi merek milik sendiri
di pasar.***
informasi »
Fa. Udiyana
Jl. Danau Tondano 58 Sanur-Bali
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
33
Made in Indonesia
Made in Indonesia
Sukses Memanfaatkan
Celah Pasar Ekspor
yang Lukratif
B
erbekal pengalaman sebagai
guide wisatawan mancanegara,
I Wayan Nuada bersama istrinya
Ayu (Sari Pertiwi) yang sempat
berprofesi sebagai penjahit, berhasil
mengembangkan berbagai produk
garmen yang banyak diminati kalangan
pembeli di mancanegara. PasanganWayan
dan Ayu pun berhasil memanfaatkan
peluang pasar di berbagai belahan dunia
dengan mengandalkan produk garmen
yang cukup unik dan khas sehingga tidak
mudah disaingi oleh produk serupa dari
negara lain.
34
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Kini, PT Ayu Orchid, perusahaan milik
pasangan Wayan dan Ayu itu mengekspor
100% produk garmen produksinya
ke berbagai negara di dunia. Dengan
mengandalkan keunggulan desain pakaian
dan motif bordir yang khas dan terus
dikembangkan secara inovatif dan kreatif,
PT Ayu Orchid dapat terus dipertahankan
eksistensi produknya di pasar garmen
mancanegara sampai sekarang. Walaupun
sempat bisnisnya sempat mengalami naik
turun akibat krisis ekonomi yang silih berganti
melanda dunia, namun PT Ayu Orchid tetap
mampu bertahan di pasar ekspor dengan
mengandalkan berbagai keunggulan yang
dimilikinya. Usaha garmen itu digeluti Wayan dan Ayu
mulai tahun 1976 setelah mereka berikrar di
hadapan penghulu untuk membina rumah
tangga bersama. Awalnya Wayan dan
Ayu hanya mengerjakan pesanan dari seorang
pengusaha asal AS untuk membuat pakaian dari
kain bordir dengan desain dari pemilik order.
Berbagai model pakaian kain bordir itu laku keras
di pasaran sehingga volume pesanannya terus
meningkat dari waktu ke waktu.
Melihat potensi bisnis yang terbuka luas di
hadapannya, pada tahun 1979 Wayan dan Ayu
pun memutuskan untuk menjalankan usaha
secara independen dengan menciptakan sendiri
desain-desain baru untuk memenuhi kebutuhan
pasar yang sedang booming ketika itu. Wayan pun
mengkonsentrasikan dirinya untuk menangani
kegiatan pemasaran dan menembus pasar-pasar
baru di luar negeri.
Sejak tahun 1980, Wayan mulai mencoba
mengembangkan bisnis garmennya dengan
mencoba memperluas jaringan pasarnya. Salah
satu langkah yang ditempuh Wayan adalah
mengikuti pameran di mancanegara yang
difasilitasi oleh Kementerian Perindustrian.
Pada tahun 1980 itu pula Wayan untuk pertama
kalinya mengikuti pameran garmen di Jerman
atas fasilitas yang disediakan Kementerian
Perindustrian (Departemen Perindustrian ketika
itu).
Dari pameran itu Wayan berhasil memperoleh
pesanan ekspor pakaian jadi wanita yang terbuat
dari kain bordir dan sejak itu pula lah Wayan
berhasil menembus pasar garmen Jerman. Selain
menjanjikan peluang pasar yang cukup besar,
kegiatan ekspor ke Jerman pun menjadi semacam
batu loncatan bagi Wayan untuk menembus
pasar ekspor di negara Eropa lainnya.
Melalui pola penetrasi yang hampir sama
dengan ketika Wayan pertama kali menembus
pasar Jerman, pada tahun 1981 produk garmen
kain bordir Wayan juga mampu menembus
pasar garmen Amerika Serikat setelah mengikuti
pameran di negeri Paman Sam itu. Diawali dengan
diperolehnya pesanan dari buyer dari New
York dan Los Angeles, pesanan pakain jadi kain
bordir dari Amerika Serikat terus mengalir. Untuk
kegiatan ekspor garmen ke Amerika Serikat ini
Wayan dan Ayu sudah mulai menggunakan merek
sendiri, yaitu Ayu Orchid melalui perusahaan
yang didirikannya CV Ayu Orchid.
Terhitung mulai tahun 1982, Wayan dan
Ayu mulai merambah memasuki pasar Jepang
didahului dengan mengikuti pameran di negeri
Sakura itu. Pasar Jepang pun langsung merespon
secara positif berbagai produk garmen kain
bordir Ayu Orchid. Ketika itu, Wayan berhasil
mendapatkan pesanan dari enam buyers besar
di Jepang untuk mengisi jaringan ritel mereka
di Tokyo, Osaka, Nagoya dan Kobe. Upaya
menembus pasar Jepang ini cukup unik dan
memberikan pengalaman berharga tersendiri
bagi Wayan. Sebab, para buyers Jepang itu sangat
ngotot dan ketat dalam hal kualitas barang. Selain
itu, masyarakat Jepang sangat fanatik dengan
bahasa mereka sendiri sehingga hal itu menuntut
Wayan untuk dapat menguasai bahasa Jepang.
Mengingat pentingnya pasar Jepang bagi bisnis
garmen Wayan, secara rutin dia mengikuti
kegiatan pameran di Jepang setidaknya dua kali
dalam satu tahun.
Sejalan dengan terus meningkatnya kegiatan
bisnis ekspor garmen dan makin bertambahnya
jumlah pembeli serta negara tujuan ekspor, pada
tahun 1984 Wayan mengubah badan hukum
perusahaannya dari CV menjadi PT, maka lahirlah
PT Ayu Orchid.Perubahan badan hukum tersebut
menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa
dielakkan lagi untuk mengakomodasi tuntutan
bisnisnya yang makin berkembang.
Selanjutnya pada tahun 1990 permintaan
produk garmen kain mordir dari Jepang mulai
mengalami penurunan sehubungan dengan
mulai menurunnya perekonomian Jepang.
Karena itu, Wayan pun mulai memutar otaknya
lagi untuk menyiasati situasi yang kurang
menguntungkan tersebut. Perburuan pasar
ekspor di luar Jepang pun kembali dilakukan
Wayan. Kali ini Wayan membidik pasar Timur
Tengah dan Afrika seperti Uni Emirat Arab (UEA),
Saudi Arabia dan Afrika Selatan yang selama ini
kurang begitu diperhatikannya.
Tidak puas dengan penetrasi pasar ke Timur
Tengah dan Afrika, pada tahun 2001 Wayan pun
mulai membidik pasar Eropa Timur. Polandia
adalah negara Eropa pertama yang digarapWayan,
namun justru melalui pintu masuk Polandia inilah
Wayan berhasil masuk ke pasar Rusia pada tahun
2002. Rossini merupakan satu dari empat buyer
yang secara rutin membeli berbagai jenis pakaian
jadi wanita dari PT Ayu Orchid. Kini PT Ayu Orchid
memiliki empat buyers besar di Rusia. Setiap
bulannya tidak kurang dari 2 kontainer berisi
garmen Ayu Orchid diekspor ke Rusia.
PT Ayu Orchid kini mempekerjakan lebih dari
1.000 orang tenaga kerja yang tersebar di tiga
lokasi produksi, yaitu di Bali sendiri sebanyak 175
orang yang khusus menangani kegiatan finishing
dan sampling; di Probolinggo sebanyak 400 orang
yang khusus menangani kegiatan pembordiran;
dan di Banyuwangi sebanyak 450 orang yang
juga menangani produksi garmen bordir. Selain
memproduksi garmen bordir, PT Ayu Orchid juga
memproduksi kain sarung untuk busana pantai
dan garmen busana pantai yang seluruhnya
diekspor ke mancanegara. Kain pantai itu dibuat
dengan cara disablon dan dicetak menggunakan
mesin printing tekstil.
Keberhasilan PT Ayu Orchid dalam
mengembangkan industri garmen kain bordir
dan prestasinya dalam melakukan penetrasi pasar
ekspor produk garmen wanita di berbagai belahan
dunia telah membuahkan sebuah penghargaan
dari pemerintah, yaitu penghargaan Upakarti
yang diterima Wayan pada tahun 1993. ***
informasi »
AYU ORCHID
Jl. Imam Bonjol Kuta Bali
Telp: 0361 484526; 0811399324
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
35
Made in Indonesia
Made in Indonesia
Memahami Karya
Seni Keris
K
eris merupakan salah satu dari sekian
banyak karya seni dan budaya asli
Indonesia yang diwariskan secara turun
temurun dari nenek moyang bangsa ini.
Selain memiliki fungsi utama sebagai senjata,
keris juga memiliki sejumlah fungsi lain yang
terkait erat dengan nilai seni dari keris tersebut.
Pada jaman kerajaan dahulu, status seseorang
di masyarakat dapat dengan mudah dikenali
dengan hanya melihat keris yang disandangnya.
Tentu saja keris yang memiliki nilai seni tinggi
menjadi tanda bahwa pemilik dari keris tersebut
memiliki status sosial yang tinggi pula. Demikian
pula sebaliknya, apabila keris yang disandang
seseorang tidak begitu memiliki nilai seni maka itu
menunjukkan bahwa pemiliknya memiliki status
sosial yang tidak begitu tinggi di masyarakat. Karena itu pada jaman kerajaan daulu,
36
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
keris menjadi simbol status sekaligus menjadi
kebanggaan pemiliknya. Di abad modern
dewasa ini pun, keris tetap menjadi kebanggaan
pemiliknya, dalam hal ini keris kini menjadi
kebanggaan nasional, kebanggaan seluruh
bangsa Indonesia yang menjadi pewaris budaya
peninggalan para nenek moyang itu.
Dunia internasional pun melalui Organisasi
Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan
Bangsa-Bangsa atau United Nations Education
and Culture Organization (UNESCO) secara resmi
telah mengakui bahwa keris merupakan warisan
budaya Nusantara. Karena tidak ada satu bangsa
pun di dunia yang memiliki budaya membuat
keris seperti bangsa Indonesia. Karena itu, keris
yang pada jaman kerajaan dulu berfungsi sebagai
senjata utama bagi para komandan pasukan,
bangsawan, pejabat kerajaan hingga raja, kini
telah menjadi bagian dari ciri khas budaya
Indonesia.
Tingginya nilai seni yang terkandung dalam
karya cipta keris telah mendorong Agus Riyanto
untuk mengoleksi keris dari berbagai daerah di
tanah air. Sejak lima tahun lalu Agus mendirikan
Galeri Tosan Aji yang mengoleksi sekitar 300 jenis
keris dari berbagai daerah.
Bagi Agus sendiri daya tarik berupa nilai
seni yang tinggi bukanlah satu-satunya faktor
yang menarik baginya, namun lebih dari itu
keris memiliki kharisma yang kuat sehingga
menimbulkan
kekuatan
tersendiri
bagi
pemiliknya. Kekuatan tersebut berupa kekuatan
magis yang dipercaya dapat menimbulkan derajat,
kewibawaan, rejeki, keselamatan, kerukunan
keluarga dan lain-lain bagi para pemiliknya.
Selain mengoleksi keris Agus dengan Galeri
Tosan Ajinya juga menjalankan kegiatan usaha
jasa perawatan, pengasahan dan penggerindaan
keris. Agus juga memiliki hubungan/jaringan
yang sangat luas, baik diantara kalangan
pecinta, kolektor dan para pembuat keris di
berbagai daerah. Hal itu membuat Agus dikenal
baik di kalangan komunitas tersebut. Selain itu,
Agus memiliki pengetahuan yang cukup luas
mengenai seluk beluk dan berbagai hal tentang
keris. Pengetahuan tersebut diperoleh Agus
dengan cara otodidak dari berbagai sumber
disamping Agus sering mengadakan diskusi dan
tukar pikiran dengan kalangan kolektor, pecinta
dan pembuat keris.
Karena pengetahuannya yang luas tentang
keris dan memiliki hubungan serta jaringan yang
sangat luas dengan kalangan kolektor, pecinta dan
pembuat keris, Agus sering juga mendapatkan
pesanan pembuatan keris dari pembeli, pecinta
atau kolektor keris dari berbagai daerah.
Menurut
Agus,
pembuatan
keris
membutuhkan waktu yang relatif panjang karena
banyaknya tahapan/rangkaian proses yang harus
dilalui oleh seorang pembuat keris. Keris yang
berkualitas tinggi biasanya dibuat dari tujuh
sampai delapan jenis bahan seperti besi baja,
titanium, chlor, karbon, nikel, emas dan pamor
(batu bintang, yaitu batu yang memiliki energi
positif yang merupakan batu yang jatuh dari
langit).
Bahan-bahan logam tersebut disusun secara
berlapis kemudian ditempa dan dilipat. Proses
tempa dan lipat tersebut diulang berkali-kali
sampai ratusan, bahkan ribuan kali proses
tempa dan lipat. Proses ini sangat menentukan
karakteristik dan kualitas batang keris yang
dihasilkan. Semakin banyak proses tempa dan
lipat yang dilakukan, semakin baik karakteristik
keris yang muncul dan semakin baik kualitas dari
keris itu.
Tahapan proses penempaan dan pelipatan ini
pula yang sangat menentukan timbulnya berbagai
pamor pada batang logam keris yang tidak lain
menjadi semacam hiasan pada batang logam
keris. Pamor tersebut diyakini dapat membawa
berbagai peruntungan bagi pemiliknya, misalnya
pamor hujan mas atau sembur mas merupakan
pamor kerejekian. Demikian juga pamor banyu
mili (air mengalir) merupakan pamor kerejekian.
Jenis pamor lainnya yang banyak dikenal dalam
dunia perkerisan diantaranya pendaringan kebak,
wos wuta, ngulit semongko, naga, singa, junjung
drajat, omyang jimbhe, kol buntet, sepang, semar
mesem dll.
Selain dihiasi pamor, batang logam keris
juga sering kali dihiasi oleh berbagai jenis motif.
Beberapa jenis motif batang keris yang banyak
dikenal di dunia perkerisan diantaranya motif
naga, singa, semar, lembu dan lain-lain.
Dalam rangkaian proses pembuatan keris
hingga siap dipergunakan atau dipajang di
ruang koleksi, ada beberapa pihak yang terlibat
yng masing-masing menangani satu tahapan
proses pembuatan. Misalnya, ada pihak yang
khusus menangani proses penempaan dan
pelipatan bahan logam untuk keris, ada yang
khusus menangani proses penggerindaan atau
pengasahan keris, ada yang khusus menangani
pembuatan sarung keris, dan ada juga yang
khusus menangani pembuatan pegangan keris.
“Saya sendiri, dalam berbagai tahapan
pembuatan keris itu, mengkhususkan diri
dalam tahap penggerindaan dan pengasahan
batang logam keris yang telah melalui tahapan
penempaan dan pelipatan,” tutur Agus.
Dilihat dari bentuk fisiknya keris terdiri dari
dua tipe utama, yaitu keris lurus dan keris luk. Keris
lurus memiliki ciri utama berupa batang logam
keris yang bentuknya lurus, sedangkan keris luk
memiliki ciri utama berupa batang logam keris
yang tidak lurus alias berkelok-kelok.
Seluk beluk perkerisan itu menjadi ciri khas
tersendiri bagi seni budaya keris yang kini telah
diakui secara internasional sebagai warisan
budaya Nusantara. Kekhasan itu sudah ada sejak
dari proses pembuatan sampai pada motif, pamor
berikut berbagai mitos dan keyakinan yang
timbul dari benda keris tersebut. Semua itu tidak
hanya memperkaya khazanah budaya nasional,
tetapi menjadi bagian dari khazanah budaya
dunia yang kini telah mendapatkan pengakuan
internasional. ***
informasi »
AGUS KERIS
Ngagel Tirto 3 No.51a, Surabaya 60245
Email: [email protected]
Web: www.keris-agus.com
Hp: 08123115679; 081803080543
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
37
Teknologi
Teknologi
di Istana Negara, Jakarta.
Semua alat musik Angklung Tradigi itu
dihibahkan Kasim kepada masing-masing pihak
terkait sebagai upaya untuk mempromosikan
Indonesia kepada masyarakat dunia melalui
alat musik tradisional yang sudah mendapatkan
sentuhan teknologi digital agar dapat dengan
mudah dimainkan untuk melantunkan sejumlah
lagu, baik lagu Indonesia maupu lagu-lagu lainnya
yang telah diprogram melalui komputer.
Memadukan Alat Musik Tradisional
dengan Teknologi Digital
“Sejauh ini kami belum memproduksi
Angklung Tradigi secara komersial. Jadi, kami
belum pernah menjual di dalam negeri maupun
mengekspornya ke mancanegara. Selama ini
kami hanya memproduksi Angklung Tradigi
untuk memperkenalkan dan mempromosikan
alat musik tradisional Indonesia ini kepada
masyarakat mancanegara,” kata Kasim.
Menurut Kasim, kalau mau dikomersialkan
maka satu unit Angklung Tradigi itu dijual dengan
harga US$ 10.000 atau sekitar Rp 88 juta. Harga
sebesar itu ditetapkan berdasarkan besaran biaya
yang dikeluarkan untuk produksi setiap unit
Angklung Tradigi.
A
lat musik angklung merupakan alat
musik tradisional yang terbuat dari
rangkaian batang bambu yang sudah
dikembangkan sejak lama oleh
masyarakat suku Sunda di Jawa Barat. Alat musik
angklung kaya akan nilai-nilai seni dan kreativitas
yang tentu saja menuntut kejelian dan keahlian
khusus dalam pembuatannya.
Namun demikian, untuk memainkan alat
musik angklung ini cukup mudah dan tidak
dibutuhkan keahlian khusus tentang musik.
Bahkan, orang yang baru mengenal alat musik
angklung pun dapat dengan cepat dan mudah
menguasai cara memainkan angklung dengan
hanya mendapatkan petunjuk praktis singkat
dari seorang instruktur. Hal itulah yang sering
diperagakan oleh para duta kesenian Indonesia
ketika mengadakan lawatan ke luar negeri untuk
memperkenalkan kesenian tradisional angklung
tersebut. Masyarakat di negara sahabat yang baru
pertama kali menyaksikan pertunjukkan kesenian
angklung dapat langsung diajak memainkan alat
musik angklung secara bersama-sama dengan
dipandu oleh salah seorang instruktur.
38
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Untuk memproduksi Angklung Tradigi,
Kasim biasanya mengambil perangkat alat
musik Angklung tradisional dari Saung Angklung
Mang Ujo di Bandung, sedangkan peti kayu jati
untuk menempatkan mesin yang dihubungkan
langsung ke angklungnya sendiri diambil dari
Jepara. Seluruh desain mesin berikut desain
Angkung Tradigi dibuat oleh Kasim sendiri
sedangkan pembuatan program komputernya
dilakukan di PT Emax, sebuah perusahaan
distributor produk teknologi informasi Apple
yang juga milik Kasim. Perakitan alat musik
Angklung Tradigi dilakukan Kasim dan stafnya di
Yogyakarta. ***
Kini alat musik angklung tidak hanya
dimainkan oleh masyarakat suku Sunda di
Jawa Barat, tetapi juga dimainkan oleh anggota
masyarakat di berbagai pelosok daerah di tanah
air, terutama oleh kalangan pelajar di sekolahsekolah tingkat dasar dan menengah. Bahkan,
banyak kalangan masyarakat di berbagai negara
di dunia yang kini tertarik untuk menikmati
masupun memainkan seni musik angklung
secara berkelompok. Setiap tahunnya selalu saja
ada sejumlah kelompok masyarakat dari berbagai
negara yang datang berkunjung ke sanggar seni
Saung Angklung Mang Ujo di kawasan Cicadas
Bandung untuk belajar seni angklung. Lebihlebih setelah organisasi pendidikan dan ilmu
pengetahuan PBB, UNESCO (United Nations
Educational, Scientific and Cultural Organization)
mengakui alat musik angklung sebagai warisan
budaya dunia dari Indonesia, semakin banyaklah
warga dunia yang tertarik mempelajari alat musik
angklung.
Tentu saja pengakuan dunia yang diwakili
UNESCO
itu
sangatlah
membanggakan
masyarakat dan bangsa Indonesia, termasuk
juga Kasim Ghozali, seorang pengusaha muda
yang kini memimpin perusahaan yang bergerak
di bidang percetakan, PT Grafitecindo Ciptaprima
dan PT Printec Perkasa. Kebanggaan dan
kekaguman Kasim terhadap alat musik angklung
telah membawanya pada gagasan untuk lebih
mempromosikan alat musik tradisional asli
Indonesia itu kepada masyarakat dunia. Caranya
adalah dengan menciptakan alat musik angklung
digital yang memadukan unsur ketradisionalan
alat musik angklung dengan teknologi modern
yaitu teknologi berbasis digital. Alat musik
paduan antara alat musik angklung tradisional
dengan tekologi digital itu kemudian diberinama
Angklung Tradigi, yang merupakan kependekan
dari angklung tradisional digital.
Alat musik Angklung Tradigi terdiri dari
seperangkat alat musik angklung tradisional yang
dihubungkan sedemikian rupa dengan mesin
elektrik yang sudah diprogram melalui komputer
sehingga mesin itu dapat menggerakkan
angklung untuk memainkan jenis-jenis lagu
tertentu yang sudah ada di dalam program
komputer tersebut.
Kasim yang menjabat sebagai Managing
Director PT Grafitecindo Ciptaprima dan
PT Printec Perkasa mulai mengembangkan
Angklung Tradigi ini sejak tahun 2009 dan selang
satu tahun kemudian Kasim sudah berhasil
mendaftarkan hak paten desain industri alat
musik Angklung Tradigi itu ke Direktorat Jenderal
Hak dan Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian
Hukum dan HAM pada tahun 2010. Bahkan, Kasim
juga telah berhasil mempatenkan alat musik
Angklung Tradigi itu di Amerika Serikat, China
dan Malaysia.
Sampai saat ini, Kasim mengaku sudah
memproduksi 10 unit Angklung Tradigi yang
produknya kini tersebar di bebagai tempat.
Satu unit Angklung Tradigi kini sudah tersimpan
di Musical Instrument Museum di Phoenix,
Amerika Serikat, sebuah museum instrumen
musik pertama di dunia. Satu unit Angklung
Tradigi lainnya kini tersimpan di Kedutaan Besar
Republik Indonesia (KBRI) di Beijing, China, satu
unit tersimpan di Konsul Jenderal Republik
Indonesia (KJRI) di Guangzhou, China, satu unit
di toko “Made in Indonesia” di Shanghai, satu
unit tersimpan di pabrik percetakan milik Kasim
di Guangzhou, China, dan satu unit lagi tersimpan
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
39
Teknologi
Teknologi
S
ering ditemui, ternyata tidak mudah
menjual produk yang belum dikenal
secara luas oleh masyarakat. Berbagai
upaya harus dilakukan agar masyarakat
secara umum mengetahui kegunaan dan
pentingnya produk tersebut bagi mereka. Yang
memang masih sulit bagi produsen di Indonesia
adalah selain memperkenalkan produk yang
relatif belum dikenal masyarakat, apalagi kalau
produk tersebut sarat dengan teknologi, sehingga
yang dijual bukan hanya perangkat kerasnya saja,
melainkan bagaimana aplikasi teknologi tersebut
dapat membantu memudahkan pekerjaan
manusia.
Dimulai dari bulan April tahun 2006, ketika
salah satu orang Indonesia yang ‘nekat’ Ir.H.
Widiyantono sebagai Direktur Utama PT Cindy &
Chintia (C & C) memulai produksi face recognition
technology atau teknologi pendeteksian
wajah, dan akhirnya saat itu ditandai sebagai
tonggak penting dalam sejarah perangkat lunak
multimedia di Indonesia. Akhirnya berkembang,
di mana perusahaan akhirnya juga mulai
membuat face catch pada bulan Desember
tahun 2007, dan alat ini kegunaan alat ini adalah
untuk menangkap teroris. “Jadi kita membuat
alat, sehingga kalau ada teroris lewat, mereka
bisa ditangkap. Tetapi oleh pihak Kepolisian RI,
alat tersebut tidak
dipakai, sehingga sebenarnya kami kecewa.
Jadi setelah itu kami membuat alat lagi, satu
lagi yakni face reconstruction, di mana dalam
proses rekonstruksi di sini sudah menggunakan
komputer, karena biasanya menggunakan
gambar secara manual. Kita sendiri sudah sempat
launching, tetapi sama sekali tidak dipakai, jelas
suami dari Komisaris Utama perusahaan Sri
Afriani.
Alasan mereka belum menggunakan produk
tersebut, karena dinilai belum saatnya Indonesia
menggunakan alat seperti itu. Bukan karena
harganya mahal, sebab sebagai pemilik kata
Widiyantono yang asli orang Jawa ini, kalaupun
dirinya memberi harga serendah mungkin, itu
sah-sah saja, karena memang mereka sendiri
yang merakit alat tersebut.
Ternyata memang saat itu dinilai tidak
ada goodwill, sehingga akhirnya perusahaan
membuat lagi alat yang baru yaitu mesin absensi
wajah yang mulai diproduksi tahun 2008. Jadi
sebenarnya idenya juga sama, yaitu mengenali
wajah. Alat satunya untuk menangkap teroris,
dan satunya lagi buat mesin absensi,” papar
Widiyantono yang kini sudah bekerja dengan
hanya 20 orang pegawainya, bekerja di kantor
yang letaknya di samping rumahnya yang asri di
wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan.
C & C merupakan satu dari 10 perusahaan
terbaik anak negeri Indonesia, yang bergerak
dalam bidang pengembangan perangkat lunak
(software) multimedia , dan berkomitmen
untuk memaksimalkan potensi anak bangsa,
di bidang pengembangan teknologi informasi,
dan diharapkan mampu memberi pelayanan
terbaik bagi pelanggan dan masyarakat luas pada
umumnya. Selain berambisi menjadi perusahaan
teknologi multimedia terbaik dan terkemuka di
Indonesia, perusahaan juga diharapkan menjadi
wadah bagi generasi muda Indonesia yang kreatif
Mesin Deteksi Wajah
Lebih Diminati Pembeli Luar Negeri
40
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
41
Teknologi
dalam
mengembangkan
teknologi
multimedia, selain memberi kontribusi dalam
menghemat devisa, karena produknya dihasilkan
dari dalam negeri.
Lahirnya perusahaan sebenarnya diharap
dapat memberi perspektif baru bagi masyarakat
Indonesia, karena produk yang dihasilkan C
& C, menjadi produk perangkat lunak yang
dikembangkan menggunakan teknologi terbaru,
berupa teknologi pendeteksian wajah, sehingga
menjadikan C & C sebagai satu-satunya perusahaan
software Indonesia yang menyajikannya secara
aplikatif dan berdaya guna. Karena itu perusahaan
akan terus menghasilkan produk perangkat lunak
yang sedang berkembang, dengan kualitas yang
tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri.
Berikut berbagai produk yang dimiliki
oleh C & C antara lain Automatic Face Presence
Machine yakni Mesin Sistem Absensi Wajah
dengan menggunakan teknologi pengenalan
wajah (face recognition technology) menjadi
salah satu teknologi biometrik terkini, di mana
gambar wajah pengguna terekam dalam kamera,
dan akan dikenali dengan wajah yang tersimpan
dalam database. Automatic Face Presence
Machine (AFM) dapat diintegrasikan dengan
sistem informasi lainnya, dan format laporan
dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Software yang diikutsertakan dalam AFM
adalah Face Gallery, yang menjadi perangkat
lunak yang digunakan untuk menyimpan basis
data wajah, sebagai verifikasi dan identifikasi
dalam proses absensi wajah.
Dengan menggunakan wajah sebagai proses
identifikasi dan verifikasi saat melakukan absensi,
maka proses absensi menjadi lebih cepat, akurat,
dan kehadirannya tidak dapat diwakilkan oleh
orang lain.
Tingkat akurasinya mencapai 99,7 persen,
dan prosesnya hanya berlangsung kurang dari
3 detik, tidak terpengaruh oleh pemakaian
kacamata, serta detail laporan dapat dihasilkan
dalam periode tertentu. Laporan berbasis web
dapat diinput ke file PDF dan Excel.
Aplikasi peralatan lain yang dapat dihasilkan
adalah peralatan Face Login (Login Windows
dengan Wajah), yakni aplikasi komputer yang
digunakan untuk Windows Login (akses masuk ke
Windows) menggunakan teknologi pengenalan
wajah (Face Recognition Technology) sebagai
proses verifikasi penggunanya. Aplikasi teknologi
ini dapat di-instal di Personal Computer (PC),
notebook ataupun laptop dengan sistem operasi
windows XP SP2.
Guna mengoperasikan aplikasi ini dibutuhkan
perangkat keras tambahan berupa webcam,
Dengan aplikasi Face Login, maka PC ataupun net/
notebook/laptop tersebut, hanya dapat diakses
oleh pemiliknya atau hanya yang berhak, dengan
42
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Teknologi
menggunakan wajah sebagai passwordnya.
Selain itu masih ada lagi peralatan lain yang
juga diproduksi C & C, yakni Visitor Management
(V-Man), sebagai aplikasi sistem manajemen
tamu dari gedung, yang dapat mempersingkat
waktu proses pendaftaran tamu secara otomatis,
menggunakan teknologi pengenalan wajah
(Face Recognition Technology) dan Teknologi
Optical Character Recognition (OCR). Keunggulan
teknologi ini selain mampu mengenali wajah
pengunjung yang tertangkap kamera, tanpa
pengunjung melihat kamera, juga akan
mengurangi proses input data manual, karena
secara otomatis data diinput ke dalam sistem.
Untuk itu waktu yang dibutuhkan kurang dari 20
detik.
Perusahaan juga dapat menghasilkan Human
Counter (software penghitung pengunjung),
Automatic Mark Reader (software pemeriksa
lembar jawaban komputer otomatis), serta
Automatic Face Finger Machine (absensi deteksi
wajah dan sidik jari). Spesifikasi yang dibutuhkan
sebagai persyaratan minimum adalah seperti
penggunaan processor Intel Pentium 4, 2.0
Ghz atau AMD Athlon XP 1800, dengan sistem
operasi Microsoft Windows XP Service Pack 2 (SP
2), dengan memori 1 GB RAM.
Produk yang cukup laku atau diminati untuk
sekarang ini, khususnya adalah dari Bangladesh,
sehingga untuk itu mereka bersedia membuat
tender di kepolisian mereka, untuk face
reconstruction. Mereka ingin C&C mengirimkan
sample, karena rencananya mereka akan tender
bulan November ini. Jadi kalau datang ke
kepolisian, untuk menggambarkan tersangka,
sekarang ini tinggal direkonstruksi di depan
komputer. Di Indonesia produk yang paling laku
atau diminati adalah mesin absensi wajah Banyak
juga orang luar negeri yang paling menyatakan
minatnya terutama untuk face catch untuk
ditaruh di supermarket, atau ditaruh di mana
saja. China sedang meminta Indonesia untuk
memodifikasi alat ini, sehingga begitu mereka
menyatakan bersedia, baru perusahaan akan
merakit. Barangnya sudah ada, sehingga tinggal
disesuaikan dengan kebutuhan customer.
Penjualan Per Lisensi
Produksi itu dibuat per lisensi, seperti juga
halnya penjualan Microsoft. Jadi ketika ditanya
sudah berapa lisensi dikeluarkan, untuk automatic
face presence machine, atau mesin sistem absensi
wajah, artinya alat yang menggunakan teknologi
pengenalan wajah, kini sudah mencapai 100
lisensi; untuk face catch satu kliennya dari BNI,
visitor management dibeli pihak Telkom dan dari
Nigeria, sedang kalau untuk face reconstructor
sedang tender di Bangladesh, dengan lisensi
sekitar 300 dan nilai kontraknya sekitar Rp7
produk C&C diberikan diskon.Mengenai produk
China, dalam hal menjual mesin absensi wajah, setelahmereka tahu bahwaproduk China itu
bukan dari C&C yang asli Indonesia, selain
memang ada juga pengusaha yang nakal, saya
katakan alat yang saya jual adalah produk mesin
absensi wajah. Mereka juga bilang, kalau mereka
juga memproduksi mesin absensi wajah. Jadi
mereka tidak menggunakan istilah lain, samasama mesin absensi wajah. Akhirnya dari pihak
Pertamina yang membeli produk itu melihat,
bahwa ternyata barangnya tidak berkualitas
bagus, demikian juga dari Singapura tidak mau
menggunakan lagi produk tersebut. Di sana
mereka juga gencar memasarkan, tetapi akhirnya
produk kami sudah mulai masuk ke pemasaran di
Semarang, karena kebetulan ada yang meminta
menjadi distributor di sana. Untuk pemasaran
kami sempat ada tenaga yang menangani, tetapi
karena produknya belum booming, sehingga
produknya perlu lebih diperkenalkan, kami juga
masih menyeleksi distributor yang meminta
bekerjasama dengan kami, jangan sampai produk
luar yang memanfaatkan, karena ada yang hanya
menjadikannya sebagai perbandingan produk
saja, tuturnya.
miliar. 1 lisensi itu diperuntukkan hanya pada
satu komputer, dan itulah keuntungannya
menjual software, sehingga kalau dicopy tidak
dikeluarkan izinnya.
Widiyantono juga menjelaskan,” Kadang
mereka kami beri lisensi lebih banyak, karena
membelinya dalam jumlah besar. Untuk
perangkat lunak 100 persen dikerjakan oleh orang
Indonesia, dan juga Tingkat Kandungan Dalam
Negeri (TKDN) sudah 100 persen dibuat dengan
komponen dari dalam negeri. Bahkan tim dari
Kemenperin sudah datang dan kini tinggal proses
memperoleh sertifikatnya saja. Teknologinya
mengacu dari trend software di dunia, yakni
Face recognition .or.id, yang berbasis di Amerika
Serikat. Situs itu adalah untuk mengetest akurasi
software.
Nilai yang diperoleh C&C cukup tinggi yakni
99,7 persen, sehingga orang luar negeri banyak
yang tertarik.” ungkapnya. Untuk pemasaran,
dilakukan lewat internet dan juga sering
mengadakan seminar, seperti yang dilakukan di
Kemenperin, Mereka tidak menyangka Indonesia
dapat membuat peralatan canggih seperti itu.
Terutama untuk visitor management, sekarang
sudah sering dimintai untuk berdemo.
Apalagi untuk Visitor Management (V-Man)
sejak Telkom menggunakan, maka hampir
semua cabang dan kantor wilayahnya sudah
menggunakan alat ini. Terakhir dari Malaysia
sudah datang ke Indonesia, dan mereka bilang
V-Man dari Indonesia kualitasnya lebih bagus,
sehingga untuk itu mereka akan mengganti
dengan versi C&C Indonesia. Ada juga kerjasama
dengan Artha Loka, penggarap manajemen
gedung untuk pelanggan mereka, juga Valco
dari Malaysia di mana di Indonesia sekitar 500’an
pelanggan mereka, akan diganti dengan sistem
dari C&C.
kami jual, karena berapapun harga yang dijual,
yang penting Indonesia bisa dikenal di luar
negeri untuk software. Jadi kami menekan harga
jual dulu, supaya orang kenal dulu produk kita,
ucapnya bangga.
Minta Perlindungan Pemerintah
Kita sedang testing beberapa software
mereka, dan kita boleh menggunakan software
mereka secara gratis. Untuk itu kalau dari pihak
C & C menyatakan okay, mereka akan coba
memasarkan produk-produk itu. Mereka juga
bingung, dan mereka kagum dengan produk
Indonesia. Begitu demo produk, kadang satu atau
dua kali dealing, akhirnya mereka mau beli produk
kita. Tinggal masalahnya, memang diakui cukup
terengah-engah juga memasarkan produknya.
Tetapi yang harusnya memang, tetapi sekarang
permintaan produk cukup besar, sehingga buat
kami pemasaran tidak jadi masalah lagi,” tuturnya.
Menghadapi persaingan tidak adil dengan
produsen perangkat lunak (software) asing
yang beroperasi di dalam negeri, mereka selaku
produsen software lokal meminta pemerintah
menunjukkan keberpihakannya dengan memberi
semacam “perlindungan,” kepada mereka, karena
selain sudah mampu menunjukkan penggunaan
100 persen Tingkat Kandungan Dalam Negeri
(TKDN), produk mereka juga lebih murah, dapat
dipercaya karena sudah dijamin dengan test
akurasi software, dan dari segi pelayanan produk
dapat diandalkan, karena pabrik dan tenaga
programmernya ada di dalam negeri.
Menurut Widiyantono, harga produk
seperti ini kalau dari Indonesia lebih murah,
dibanding produksi sejenisnya dari luar. Sebagai
perbandingan harga produknya adalah 1:100.
Kami di sini masa bodoh dengan harga yang
“Produk yang kami hasilkan harga jualnya lebih
murah, karena asumsi orang menjual software
itu mahal, padahal sebenarnya bisa dibuat
murah, cuma masalahnya orang mau menjual
itu dengan murah atau tidak, dan apakah orang
mau memakai barang yang sebenarnya lebih
murah itu atau tidak. Kita sendiri juga dilirik, dan
kita sudah ketemu dengan Microsoft Indonesia,
dan mereka juga mau memasarkan produk kita.
Untuk produsen V-man di Indonesia
sebenarnya cukup banyak, tetapi kebanyakan
yang masuk adalah perusahaan dari luar negeri.
Mereka memasarkan produk luar dengan
perwakilan yang ada di Indonesia, tetapi
prosesnya dari sana. Ada barang dari luar masuk ke
Indonesia, dan rencananya semua mau dipasang
di seluruh Indonesia, karena pelanggan mereka
seperti perusahaan Telkom.
Bank Mandiri juga sempat gagal saat
mengadakan tender dengan perusahaan
kami karena melalui kepanjangan tangan dari
perusahaan perantara. Mereka mengkali lipatkan
nilai tendernya, sehingga harga produknya
menjadi mahal. Sementara idealisme perusahaan
C & C adalah supaya produknya dapat digunakan
di dalam negeri. Banyak orang tahu, ternyata
harganya lebih murah, karena dibanding harga
dari luar negeri, bahkan yang kami tawarkan tiga
kali lebih murah dibanding harga produk dari luar
negeri.
Kami dapat menjual produk kami secara
murah, karena kami melakukanbanyak efisiensi.
Kami bekerja dengan asas kekeluargaan,
sehingga adabeberapa karyawan yang diberi
saham. Untuk karyawan lainnya ada perhitungan
insentif dan bonus. Saat ini kami juga sedang
membuka lowongan yang besar untuk menerima
pegawai, terutama untukprogrammer software
dan supporting (pendukung). Harga Produk
Sejenis dari AS Mahal Sekali
Ada produk sejenis dari AS itu harganya mahal
sekali. Karena mahal,sampai sekarang produk
yang mereka keluarkan sejak tiga tahun yanglalu,
belum laku juga. Padahal akurasinya belum tentu
juga dapat diandalkan. Namanya FX Guards.
Harga mereka Rp150 juta, padahalIndonesia
saja dapat memproduksi yang sejenis dengan
harga Rp15 juta.Selama berpameran juga
Berdasarkan informasi yang diterima selama
penyelenggaraan Trade Expo Indonesia, di
Nigeria juga seperti itu, bahwa ternyata produk ini
sempat menjadi trend dan banyak orang Nigeria
justru berminat dengan produk itu. Kami sendiri
ingin supaya ada pembanding dari produk lain,
sehingga terlihat kelemahan produk kami apa,
karena barang ini lahirnya dari ide, ingin membuat
apa. Kami begini, karena kami capai juga bekerja
dengan orang, terutama tidak mudah menjual
produk software, ucapnya jujur.
“Kami lelah mengadakan demo ke sanasana, karena belum ada bentuk. Akhirnya kami
bekerjasama dengan Advance, di mana mereka
yang memiliki perangkat kerasnya, dan kami
menyediakan software-nya. Baru pada saat itu
barang kami kelihatan, tetapi dengan dijual
terpisah (hardware dan sotware), banyak pihak
yang tidak setuju. Mereka maunya setelah terjadi
persetujuan penjualan barang, tidak perlu
tambah ini dan itu, karena dari sisi konsumen,
lebih ingin supaya produknya terjual satu paket
saja, dan langsung siap dipakai. Jadi mulai dari
tahun 2007, baru mulai terjual bulan Agustus
2008, di mana pembeli pertama mesin absensi
wajah, adalah PT Colorobbia Indonesia, “ kenang
dia saat itu.***
informasi >
Ir. Widiyantoro
Jl. Kecapi V No. 88, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620
Telp. +62 21 78894048; 78888934 Fax. +62 21 78894049
Website: www.wajahku.com; www.absensiwajah.com
Email: [email protected]
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
43
Lintas Berita
Lintas Berita
Kampoong Industry
World Batik Summit 2011
Mengangkat Industri Kreatif ke Kancah Internasional
K
ementerian Perindustrian (Kemenperin)
menyelenggarakan
pameran
“Kampoong Industry” pada 8-13
November 2011 di Nusa Dua-Bali, yang
merupakan rangkaian kegiatan ASEAN Fair 2011.
Kegiatan ASEAN Fair 201 1 ini dilaksanakan untuk
menyambut perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) ASEAN 2011.
Pameran Kampoong Industry sekaligus
menjadi ajang promosi industri kreatif
berbasis budaya di lndonesia. Tujuannya untuk
memberikan gambaran dan pemahaman
kepada masyarakat ASEAN tentang kemampuan
serta kekayaan produk berbasis budaya yang
bernilai seni dan ekonomi tinggi. Dalam hal ini,
Kemenperin mendorong upaya pengembangan
dna pelestarian industri kreatif yang nilai
tambahnya besar dan banyak menyerap tenaga
kerja.
Kampoong Industry yang memamerkan
ratusan produk kreatif hasil kreasi anak bangsa dari
sejumlah daerah ini berlokasi di Bali Collection,
Nusa Dua. Aneka produk kerajinan tangan khas
Indonesia, mulai batik, tas, perhiasan, ukiran
kayu, produk garmen, hingga produk makanan
44
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
dan minuman, ditampilkan seakan menunjukkan
keanekaragaman serta kreativitas anak bangsa
yang seakan tak pernah surut diterpa badai
masalah.
Secara umum, ada enam stan berupa rumah
di areal 400 meter persegi untuk menampilkan
beragam produk kreatif dari para perajin pelestari
warisan budaya bangsa mi. Ada rumah produk
kreatif tradisional, rumah produk kreatif berbasis
teknologi, rumah display, rumah produk makanan
dan minuman, rumah khusus produk berbasis
cassano (singkong), serta rumah khusus sumber
daya alam.
Pembukaan diselenggarakannya Kampoong
Industry diresmikan oleh Menteri Perindustrian
MS Hidayat, Selasa (8/11). Turut mendampingi
Sekretaris Jenderal Kemenperin Ansari Bukhari.
Hadir pada acara ini Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria
Bima, kalangan dunia usaha, pejabat Kemenperin
dan Provinsi Bali, serta puluhan orang tamu
undangan lainnya.
Selain wisatawan domestik, ajang pameran
yang diselenggarakan Pusat Komunikasi
Publik Kemenperin ini juga banyak dikunjungi
wisatawan asing. Sasaran pengunjung pameran
ini tentunya juga dari para delegasi ASEAN,
pengusaha, pelajar dan mahasiswa, masyarakat
umum, serta media massa.
Menperin MS Hidayat mengatakan, kegiatan
ekonomi, khususnya perdagangan produk
industri di negara-negara ASEAN tersebut,
merupakan peluang bagi Indonesia, terutama
untuk industri kreatif berbasis budaya.
“Pameran Kampoong Industry ini merupakan
upaya untuk mempromosikan kekayaan industri
berbasis budaya di Indonesia yang memiliki
nilai seni (ian ekonomi tinggi. Produk kreatif asal
Indonesia sudah banyak dikenal oleh dunia,” tutur
Menperin.
Penamaan Kampoong Industry mengandung
makna sebuah kawasan/wilayah yang di dalamnya
terdapat berbagai macam industri hasil karya
anak bangsa Indonesia. Sekaligus menjadi ajang
berkumpulnya pelaku-pelaku industri berbasis
budaya untuk selaing mengenal dan bekerja
sama, bahkan hingga ke tingkat ASEAN.
Pameran Kampoong Industry menyertakan
industri kreatif berbasis budaya unggulan, di
antaranya industri berbasis sumber daya alam,
industri kreatif berbasis teknologi tinggi, industri
berbasis singkong (cassava) serta industri kecil
dan menengah sektor kerajinan. Industri-industri
kreatif ini akan menjadi prioritas untuk terus
dikembangkan, terutama melalui peningkatan
daya saing melalui pengembangan kompetensi
dan pasar.
“Sesuai amanat Perpres (Peraturan Presiden)
Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri
Nasional, salah satu sektor industriyang mendapat
perhatian pemerintah untuk dikembangkan
adalah industri kreatif. Yaitu industri berbasis
eksploitasi kekayaan intelektual berupa
kreativitas, keahlian, dan bakat individu. Bahkan
dipertegas dengan Perpres Nomor 6 Tahun 2009
tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif,” ucap
Menperin
Ke depan, industri kreatif harus tumbuh lebih
produktif, efisien, berdaya saing tinggi, mandiri
serta modem. Dengan promosi yang masif, maka
produk-produk kreatif unggulan khas Indonesia
ini akan membuka peluang dan sekaligus juga
bisa mengantisipasi tantangan globalisasi di
dunia internasional.***
P
residen Susilo Bambang Yudhoyono
secara resmi membuka acara World
Batik Summit (WBS) 2011 di Jakarta
Convention Center. Presiden hadir
bersama istri, Ani Yudhoyono, dan istri Wakil
Presiden Boediono, Herawati Boediono,
beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu
II seperti Menteri Perindustrian Mohamad S
Hidayat, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh,
Menteri Kebudayaan dan Pariwisa Jero Wacik
dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu
Pembukaan
WBS
ditandai
dengan
pemukulan kentongan oleh Presiden. Dalam
sambutannya, Presiden sangat mengapresiasi
penyelenggaraan WBS 2011. Batik diharapkan
menjadi ikon Indonesia di dunia Internasional.
“Saya cinta batik, saya suka batik dan saya suka
dan sering memakai batik”, itulah ungkapan yang
diucapkan Presiden mengenai pendapatnya
mengenai batik.
Perkembangan industri batik yang cukup
pesat, tidak hanya berfungsi sebagai salah
satu cara mempertahankan tradisi dan budaya
Indonesia. Namun, karena terkendala berbagai
hal, WBS baru terlaksana saat ini.
bangsa, namun juga berpengaruh kedalam
aspek kehidupan bangsa lainnya seperti aspek
ekonomi, lingkungan dan sarana diplomasi.
Dalam kesempatan ini Presiden juga
menyatakan bahwa tanggal 2 Oktober
merupakan Hari Batik Nasional. Seusai memberi
sambutan, Presiden berserta rombongan
mengunjungi berbagai stan yang memamerkan
batik, buku tentang batik, hingga alat musik
tradisional.
Ketua panitia WBS Doddy Soepardi dalam
sambutannya mengatakan, WBS sebenarnya
sudah dirancang sejak 2007 oleh Yayasan Batik
Pameran bertema “Indonesia: Global Home
of Batik” ini diikuti sekitar 1.000 delegasi nasional
dan internasional dari berbagai kalangan, seperti
produsen, akademisi, pemasaran, praktisi,
desainer, perajin, kolektor, serta penggemar
batik. Dari luar negeri tercatat ada 117 peserta
dari 11 negara. Melalui pameran ini WBS berharap
bisa mengangkat batik sebagai ikon bangsa dan
daya tarik wisata Indonesia. Diharapkan, WBS
juga dapat menjadi wadah pembelajaran bagi
warga dunia untuk mengenali produk batik dan
proses membatik secara detil dan mendalam.
Sepuluh
karya
terbaik
mahasiswa
berdasarkan penilaian dewan juri Lomba Desain
Motif Batik Indonesia 2011 dipamerkan dalam
ajang World Batik Summit 2011 untuk dipilih
tiga terbaik oleh pengunjung WBS. Melalui
ajang ini, diharapkan kreatifitas dan partisipasi
mahasiswa dalam hal dunia batik dapat semakin
ditingkatkan, dan kreasi batik nusantara akan
semakin kaya.
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
45
Opini
Opini
Industri Animasi
Dari Sudut Kota Cimahi
T
idak berlebihan jika menyebut Cimahi
sebagai kota industri kreatif di Asia,
karena pelaku animasi Jepang dan Korea
pun sudah mengakui itu. NAMA besar di
industri animasi seperti Nino Puriando, Erwin
Argh, Sugeng dan Hendi Hendratman adalah
garansi bahwa akan lahir nama-nama besar
berikutnya dari Cimahi. Karya mereka antara lain
iklas es krim Walls, produk kosmetik Pixy, Belia,
46
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
Citra, makanan ringan Taro, Boneto, Kuku Bima
Energy dan lainnya.
Per 1 Desember 2011 ini, serial film anak
Menggapai Bintang yang ditayangkan di televisi
swasta adalah karya dari Baros Creative Partner
yang merupakan bagian dari Cimahi Creative
Association (CCA). “Ini kerjasama kami dengan
Kemendiknas. Dengan masa pengerjaan hampir
satu tahun,” ujar Direktur Utama Baros Creative
Partner Rudy Suteja kepada Media Industri di
Cimahi, kemarin. Menurut Rudy, yang juga Koordinator CCA,
lembaga tersebutlah yang mengkoordinir,
melatih juga mendorong tumbuh kembangnya
industri kreatif di Cimahi. Sebagai lembaga
inkubasi, CCA melatih ratusan anak muda
berbakat dan mengorganisir berbagai kelompok
industri kreatif. Selain mengembangkan teknologi
informasi dan komunikasi, animasi dan film,
CCA juga mendorong komunitas kreatif lainnya
seperti kerajinan dan batik di Cimahi.
CCA adalah lembaga yang mendapat
dukungan penuh dari Pemerintah Kota Cimahi.
Meski bukan lembaga resmi yang berada di bawah
pemerintah kota Cimahi, dukungan pembiayaan
untuk kegiatan pelatihan dan penyediaan fasilitas
berupa gedung Baros Information Technology
Creative (BITC) memberikan gambaran keseriusan
Pemerintah Kota Cimahi untuk mendukung
tumbuhkembangnya industri kreatif di kota
tersebut.
Untuk melihat potensi yang nyata, 30 Juli
2009 dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) pertama. Hasilnya ternyata pelaku industri kreatif
dimiliki Kota Cimahi cukup banyak, baik industri
kecil dan menengah. Pada FGD kedua (2/09/
2009) dideklarasikanlah pembentukan Cimahi
Creative Association (CCA) dengan SK walikota
No.530/KEP.304-PENMO/2009 yang mewadahi
pelaku industri kreatif Cimahi.
Gedung BITC sendiri salah satu fasilitas yang
akan menjadi ikon Kota Cimahi. BITC adalah
konsep dari Pemerintah Kota Cimahi yang akan
menjadikan wilayah Baros sebagai pusat kegiatan
baru di Kota Cimahi, yaitu sebagai pusat kegiatan
kreatifitas sebagai tempat kegiatan dan pelayanan
yang berskala nasional maupun internasional.
Gedung ini antara lain akan difasilitasi ruang
pelayanan publik atau ruang display informasi
layanan umum, tempat untuk mengenalkan
dunia Informasi Teknologi (IT) kepada masyarakat,
perdagangan, serta ruang penelitian dan
pengembangan bidang industri telematika.
Selain itu, akan disediakan pula ruang untuk
Studio Research and Development bidang
informatika dan telekomunikasi. Ditambah fasilitas untuk tenaga ahli IT dalam melakukan
penelitian, ruang komputer untuk mengakses
perkembangan teknologi, ruang tempat
pelatihan IT dan Kegiatan Komunitas CCA (Cimahi
Creative Association). Ada juga untuk ruangan
display dan simulasi multimedia (auditorium),
tempat seminar, diskusi dan rapat serta ruang
sarana prasarana film dan animasi.
BITC akan dikembangkan menjadi Internet
Data Centre (IDC), fasilitas penyimpanan data
bagi para Internet Sevices Provider (ISP). Selain
itu sebagai tempat pengembangan investasi
infrastruktur untuk sentral TV Kabel. Fungsi
lainnya adalah sebagai fasilitas pengembangan
dan produksi software untuk film dan animasi.
Bahkan BITC digunakan untuk meningkatkan
akses ICT seluas-luasnya ke lokasi pemukiman,
fasilitas sosial dan umum.
Untuk industri kecil, akan menjadi tempat
pengembangan Rumah Desain dan Packaging
House untuk memberikan pelayanan jasa
dibidang desain kemasan dan produk kemasan
yang ramah lingkungan,
serta menghasilkan inovasi
teknologi
pengolahan
dan produksi untuk usaha
kecil menengah (UKM)
di Kota Cimahi. Tak kalah
pentingnya, di gedung ini
akan ada fasilitas sosial dan
umum berupa cyber cafe,
fasilitas IDC dan ruang data
hasil penelitian serta server
utama dengan jaringan
yang lengkap dapat diakses
oleh masyarakat umum.
Membidik Pasar Luar Negeri
Sadar jika pasar dalam negeri belum begitu
bagus karena masih dianggap mahal, produk
animasi dari Cimahi dipasarkan ke luar negeri.
Salah satunya adalah pemerintah Australia yang
meminta dibuatkan animasi sebagai bahan
pelatihan keamanan. Selain itu, pemerintah dan
pengusaha Thailand, Amerika Serikat, Zimbabwe
dan Afganistan telah menjajaki kerjasama.” Film
animasi kami pernah coba ditawarkan ke televisi
swasta, namun belum ada yang mau, jika pun
nawar kemurahan. Padahal jika mereka membeli
Ipin-Upin, Doraemon dan yang lainnya tidak
merasa kemahalan. Saya sih sangat berharap ada
televisi nasional yang mau menayangkan film
animasi lokal,” katanya.
Karena itu, Rudy berharap pemerintah dan
lembaga swasta ada yang mau membiayai
produksi film animasi mereka. “Saya iri dengan
Malaysia. Ipin-Upin itu kan dibiayai penuh oleh
negara. Kita lihat hasilnya sekarang, mereka
berhasil mengembangkan apa yang disebut
Truly Asia. Film animasinya mendunia. Kami ini
bisa membuat film animasi yang lebih baik dari
Ipin-Upin. Tapi kalau tidak ada dana ya susah,”
tandasnya.
Rudy pun mengakui, dukungan perbankan
pun masih rendah. Salah satu sebabnya karena
industri kreatif dianggap secara bisnis belum
menjanjikan. “Memang sudah ada yang mulai
melirik, bahkan Bank Indonesia pun menjanjikan
akan mendorong agar bunga kredit untuk industri
kreatif lebih rendah. Namun kami berharap,
dukung kami dengan memberi kredit modal kerja
hanya dengan adanya surat perintah kerja atau
kontrak kerja dari buyer,” tegasnya. Menurut Rudy, pihaknya memimpikan akan
dapat memproduksi film animasi Indonesia
yang terbaik. “Kami punya idealisme. Ini kan
soal pertarungan ideologi dan cara cepat
menanamkan nilai ke anak melalui film animasi
anak itu. Kalau kita selamanya jadi penonton,
identitas kebangsaan ini pasti akan hilang dengan
perlahan,” katanya.
Terkendala Alat Produksi
Dengan kapasitas sumber daya manusia yang
ada, baik yang sudah dikenal di industri animasi,
film, teknologi informasi dan komunikasi,
termasuk hasil pelatihan, Rudy mengaku jika
pihaknya akan mampu memproduksi berbagai
produk animasi, film dan teknologi informasi
yang berkualitas internasional. Namun diakuinya,
persoalan alat produksi menjadi salah satu
penghambatnya.
Meski demikian, Rudy mengakui, dukungan
besar diberikan oleh Kementerian Perindustrian,
khususnya Direktorat Industri Alat Transportasi
dan Telematika, yang telah memberikan bantuan
berupa alat lander farms, puluhan komputer dan
sering diajak mengikuti berbagai pameran.
Dari Kementerian Negara Pemuda dan
Olahraga diberikan bantuan berupa dana
pelatihan untuk pemuda, dari Dinas Perindustrian
dan Perdagangan juga Bappeda Jawa Barat
juga ada bantuan pelatihan. Demikian pula
dari Kementerian Perdagangan, Kementerian
Komunikasi dan Informasi (Kominfo), BPPT dan
Kementerian Negara Riset dan Teknologi. “Namun
itu semua belum mencukupi,” katanya.
Rudy mengakui, untuk pengadaan alat
produksi film, animasi dan teknologi informasi,
pihaknya membutuhkan dana di atas Rp 5 miliar.
Ini dibutuhkan karena semakin canggih alat
yang dipergunakan, akan semakin baik hasilnya.
“Meski memang, kita berupaya sekreatif mungkin
mengakali keterbatasan alat itu,” katanya.
Rudy pun menyatakan jika pihaknya terus
mengembangkan aplikasi open source agar bisa
diakses dengan mudah oleh masyarakat. Dengan
dukungan 120 orang tim, Rudy mengaku optimis
akan mampu menghasilkan karya terbaik. “Ada
profesional yang menjadi pelatih dan lulusan
terbaik dari berbagai pelatihan yang kami
lakukan. Kalau alumni pelatihannya sudah lebih
dari 400 orang. Namun yang terbaiklah yang kami
libatkan, yang belum hebat disuruh magang dulu
di luar,” ujarnya.
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
47
Apa & Siapa
LYDIA KUSUMA HENDRA
Berlakulah Fair dan Menggunakan
Hati Nurani Dalam Berbisnis.
Apa & Siapa
M
au tidak mau, suka atau tidak
suka, dampak negatif yang
mungkin timbul sebagai akibat
diberlakukannya China Asean Free
Trade Area (Cafta), akhirnya terjadi juga. Dampak
tersebut terjadi pada industri yang memang
belum memiliki kesiapan yang cukup untuk
menghadapi persaingan.
Industri keramik misalnya, belakangan ini
ternyata Mau tidak mau, suka atau tidak suka,
dampak negatif yang mungkin mulai mengalami
kesulitan besar tatkala harus bersaing dengan
keramik asal China. Keramik China diakui diakui
harganya sangat murah, sehingga banyak
diminati masyarakat berpenghasilan menengahbawah.
Benarkah keramik Indonesia tidak mampu
bersaing dengan produk keramik China?.
Menjawab pertanyaan ini, Lydia Kusuma Hendra
, seorang pengusaha yang sudah menggeluti
keramik selama 30 tahun mengatakan, keramik
Indonesia tidak mampu bersaing dari segi harga.
Tapi, dari segi kualitas, keramik lokal jauh lebih
bermutu ketimbang keramik China. Karena
kualitasnya yang lebih tinggi, mau tidak mau
harga jualnya pun berada di atas harga keramik
48
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
China, sekitar 20 – 30%. Sayangnya, tambah Lydia,
daya beli masyarakat yang saat ini masih terbilang
rendah, maka pilihan untuk mendapatkan
keramik jatuh pada keramik China.
Wanita yang dikenal pekerja keras dan
berpengalaman ini menuturkan, harga jual
keramik China yang murah, selain akibat
kualitas produk yang rendah, juga masuknya
ke pasar lokal disinyalir secara ilegal. Namun,
dari hasil pengamatannya ketika berkunjung
ke China, Lydia mengakui perkembangan pasar
keramik China yang pesat itu, tidak terlepas dari
dukungan kuat pemerintah. Salah satu bentuk
dukungan yang diberikan diantaranya adalah,
pemberian hadiah 20-30% dari nilai ekspor
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
49
Apa & Siapa
B
E
R
L
O
G
O
AH
HL
Karya Indonesia edisi 3 - 2011
LI
50
bisnisnya secara adil, sekaligus saling membantu
diantara sesama pengusaha,” kata Lydia saat
berbincang-bincang bersama Majalah KINA.
Sementara itu, Asosiasi Keramik tampaknya juga
tidak bisa berbuat banyak dalam mencegah
terjadinya praktek-praktek tidak terpuji yang
dilakukan anggotanya. Asosiasi selama ini
terkesan lebih berperan membantu pengusaha
besar, sementara pengusaha menengah dan kecil
kurang mendapatkan perhatian.
Menghadapi persaingan bisnis di pasar lokal
yang semakin ketat, sementara banyak pengusaha
yang melakukan praktek tidak terpuji, Lydia
dengan bendera usahanya PT Trimarga Hutama
berencana untuk melakukan diversifikasi produk.
Produk yang selama ini dihasilkan akan beralih ke
PI
apabila pengusaha China berhasil melakukan
ekspor jangka panjang. Selain itu, tambahnya,
dukungan lain yang diberikan pemerintah
China adalah, pembiayaan bagi pengusaha yang
mengikuti pameran internasional di luar China.
Melihat dukungan pemerintah China
terhadap pengusahanya, maka bila dibandingkan
dukungan pemerintah kita, ia menyatakan sangat
berbeda. Untuk mengikuti pameran di luar negeri
misalnya, pengusaha lokal terkena pembebanan
biaya yang cukup memberatkan. Padahal, peserta
pameran pada umumnya merupakan pengusaha
menengah hingga pengusaha kecil yang justeru
membutuhkan bantuan pemerintah.
Menanggapi kondisi pasar di dalam negeri
pasca diberlakukannya Asean Free Trade
Area, Lydia mengakui semakin berat dan sulit
untuk bersaing dengan produk-produk impor,
utamanya China. Dalam kondisi seperti ini,
tambah Lydia, bukan tidak mungkin suatu
saat nanti industri keramik lokal bakal menjadi
penonton dinegerinya sendiri menyaksikan
banjirnya produk impor dengan harga yang
sangat bersaing.
Karena kalah bersaing dan untuk
menyelamatkan usahanya dari kebangkrutan,
ia mensinyalir banyak produsen keramik
yang beralih usaha, menjadi importir keramik
China. Kalau sudah demikian, ujarnya, pasar
lokal akan semakin cepat dibanjiri keramik
asal China. Lydia mengatakan, dia tidak anti
terhadap keramik China. Tetapi yang amat
disayangkannya ádalah, produsen keramik
lokal dalam menjalankan bisnisnya kerapkali
melakukan praktek-praktek tidak terpuji. Sebut
saja misalnya, saling manjatuhkan satu sama
lain, tidak fair dan kurang memperhatikan hati
nurani. “ Yang penting pengusaha melakukan
produksi tail ceramics, dengan mengandalkan
desain batik Iwan Tirta. Bersamaan dengan itu,
upaya membangun kembali jaringan pasar
terutama ekspor, akan menjadi perhatian serius
pimpinan PT Trimarga Hutama.
Menjawab pertanyaan apakah produk lama
akan ditinggalkan sama sekali?, Lydia mengatakan
tetap diproduksi bila ada permintaan pasar. “
Produk lama yang terbukti ramah lingkungan,
sejauh mungkin tetap dipertahankan, “ ujar Lydia
Kusuma Hendra. Dikatakan produksi yang ramah
lingkungan, tambah Lydia, sebab glasir yang
digunakan bebas racun, di samping pembakaran
di bawah 1000 derajat Celsius.
Sebelum mengakhiri bincang-bincangnya,
Lydia Kusuma Hendra mengharapkan kepada
pemerintah agar mulai menginventarisir atau
mempetakan “korban” dan masalahnya, akibat
dampak negatif CAFTA. Demikian pula perlunya
pengawasan yang semakin ketat terhadap
masuknya produk keramik China secara ilegal.
Sedangkan kepada sesama rekan pengusaha,
dia mengharapkan agar menjalankan bisnisnya
secara fair yang didasari hati nurani.
PRODUK
Apa & Siapa
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
www.kemenperin.go.id
Fly UP