...

KOMUNIKASI PENDEK SEBARAN KEPITING MANGROVE

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

KOMUNIKASI PENDEK SEBARAN KEPITING MANGROVE
Pratiwi dan Rahmat – Sebaran Kepiting Mangrove (Crustacea: Decapoda Yang Terdaftar di Koleksi Rujukan Pusat Penelitian Oseanografi
-LIPI 1960-1970)
KOMUNIKASI PENDEK
SEBARAN KEPITING MANGROVE (CRUSTACEA: DECAPODA)
YANG TERDAFTAR DI KOLEKSI RUJUKAN
PUSAT PENELITIAN OSEANOGRAFI-LIPI 1960-1970
[The Mangrove Crabs (Crustacea: Decapoda) recorded in refference collection of
Research Centre for Oceanografi-Indonesian Insitute of Sciences 1960-1970]
Rianta Pratiwi dan Rahmat
Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI, Jakarta, Jln. Pasir Putih 1, Ancol Timur 14330
email: [email protected]; [email protected]
ABSTRACT
Brachyura is a group of Crustaceans species often found in mangrove areas. Mangrove crabs in this study were from mangrove areas found
in almost all Indonesian waters that were stored in the Reference Collection of Marine Biota Division, Research Center for Oceanography,
Indonesian Institute of Sciences (LIPI) from 1960 to 1970. The aim of this study was to assess the presence and distribution of mangrove
crabs from the waters of Indonesia as a search and as a reference collection from 1960 to 1970.A total of 359spesimens were observed,
consisted of 54 species, 22 genera, and seven families. The data were stored in a database system to perform spatial information analisys.
Key Words: Crabs, cr ustacea, mangrove, r efer ence collection of mar ine biota
ABSTRAK
Brachyura adalah kelompok jenis Crustasea yang terdapat di daerah mangrove. Kepiting mangrove dalam penelitian ini berasal dari daerah
mangrove hampir diseluruh perairan Indonesia yang disimpan di dalam divisi Koleksi Rujukan Biota Laut, Pusat Penelitian Oseanografi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari tahun 1960 sampai dengan 1970. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat
keberadaan dan sebaran kepiting mangrove dari perairan Indonesia dari tahun 1960 sampai 1970 sebagai bahan penelusuran dan sebagai
koleksi rujukan. Total 359 spesimen diteliti,terdiri dari 54 jenis, 22 marga, dan tujuh suku. Data disimpan dalam sistem pangkalan data,
untuk analisis sebaran dan keberadaannya.
Kata Kunci: Kepiting, cr ustacea, mangr ove, koleksi r ujukan biota laut
PENDAHULUAN
Kerusakan yang disebabkan oleh konversi
mangrove menjadi kawasan pertambakan, pemukiman, dan industri, menyebabkan mangrove tidak
lagi berfungsi dengan baik dalam ekosistem pantai
bagi kehidupan organisme akuatik.Hilangnya
mangrove dari ekosistem perairan pantai telah
menyebabkan keseimbangan ekologi lingkungan
pantai terganggu, termasuk kehidupan kepiting
mangrove. Menurut Pratiwi (2002) dan Nadia (2006)
kepiting-kepiting di daerah mangrove selalu
memfokuskan aktivitasnya di dalam lubang galian,
lubang-lubang tersebut dijadikan sebagai habitat
yang dapat memberikan perlindungan yang aman
terhadap temperatur, salinitas yang ekstrem,
predator dan serangan dari sesama kepiting.
Tidak semua jenis kepiting dapat hidup di
daerah mangrove, hanya jenis-jenis tertentu yang
biasanya ditemukan seperti dari suku Ocypodidae,
Sesarmidae, Grapsidae, Macropthalmidae, Porcellanidae,Portunidae dan Varunidae.Rahayu dan Setyadi
(2009) dalam penelitiannya di daerah Mimika, Papua
menemukan jenis kepiting yang hidup di daerah
mangrove sebanyak 103 jenis dan yang terbesar
jumlah jenisnya hanya dari dua suku yaitu: Ocypodidae (yang biasa ditemukan di daerah pantai dekat muara sungai) dan Sesarmidae (lebih sering di
daerah yang kering, memanjat akar dan batang
pohon mangrove).
Secara ekologis, mangrove memilki fungsi
dalam peranannya di rantai makanan, sehingga dapat
menunjang kehidupan kepiting. Hutan mangrove
tidak hanya melengkapi pangan bagi kepiting, akan
tetapi dapat juga menciptakan suasana iklim yang
dapat melindungi kepiting-kepiting tersebut hidup
dengan baik dan aman di daerah tersebut. Bentuk
akar mangrove yang khas dari jenis Rhizophora,
Avecennia dan Sonneratia serta kondisi substrat
mangrove, kubangan air yang saling berhubungan
merupakan perlindungan bagi kepiting. Kondisi ini
sangat penting untuk pembesaran kepiting, karena
suplai makanannya yang tersedia dan terlindung dari
*Diterima: 18 Juli 2014 - Disetujui: 16 Februari 2015
195
Berita Biologi 14(2) - Agustus 2015
pemangsa (Pramudji, 2001).
Dengan dikoleksinya kepiting-kepiting di
daerah mangrove perairan Indonesia dari tahun 1960
hingga 1970 dan disimpan dalam Koleksi Rujukan
Biota laut, P2O-LIPI,dharapkan dapat memberikan
gambaran mengenai kekayaan hayati laut Indonesia
serta sebaran dari biota tersebut dapat diketahui, khususnya kepiting mangrove yang dikoleksi dari
perairan Indonesia.Oleh sebab itu pengumpulan
(mengkoleksi) dan menyimpan biota laut sebagai
bukti keberadaannya di masa lalu dan saat sekarang
sangat diperlukan. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk melihat keberadaan dan sebaran kepiting mang
-rove yang berasal dari perairan Indonesia selama
kurun waktu tahun 1960 sampai dengan tahun 1970
sebagai bahan penelusuran dan sebagai koleksi rujukan.
Telah banyak tambahan-tambahan koleksi
spesimen kepiting mangrove yang disimpan di
Koleksi Rujukan P2O setelah tahun 1970 yang juga
berasal dari penelitian-penelitian di perairan Indonesia, akan tetapi tidak dibahas, dikarenakan tujuan
dari tulisan ini adalah hanya ingin mengetahui sebaran kepiting mangrove periode tahun 1960-1970 sebagai bahan penelusuran dan sebagai koleksi rujukan.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan yang digunakan dalam studi ini adalah
spesimen koleksi yang disimpan dalam Laboratorium
Koleksi Rujukan Biota Laut, Pusat Penelitian
Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Jakarta. Sebanyak 22 marga, 54 jenis dan 359 individu dari tujuh suku kepiting mangrovetelah
dikoleksi. Kondisi spesimen masih baik, tetapi ada
beberapa koleksi yang hampir rusak. Spesimen
kemudian dianalisa dengan cara membuka kembali
koleksi tersebut, dilakukan re-identifikasi, di cek
perubahan nama dan susunan hirarkinya secara taxonomy (nomenclature) dan difoto. Selain itu spesimen
juga dilihat peta sebarannya (sebaran geografiknya),
dicocokan dengan sebaran dari spesimen jenis yang
sama, tetapi berasal dari koleksi terbaru yang diperoleh dari perairan Indonesia. Reidentifikasi dan
pencocokan data dengan buku katalog serta buku
identifikasi juga dilakukan, karena kemungkinan
kesalahan dalam posisi dan identifikasi dimasa lalu
196
bisa saja terjadi, atau kemungkinan keberadaan
kepiting dilokasi tersebut sudah banyak mengalami
perubahan, terjadi migrasi atau kepunahan.
HASIL
Kepiting yang hidup di daerah mangrove
merupakan golongan krustasea yang memegang
peranan penting di daerah tersebut, hal ini terlihatdari jumlahnya yang ditemukan lebih berlimpah di
mangrove daripada di daerah karang atau pantai berpasir (Suryono, 2006).
Sebanyak 359 kepiting yang dikoleksi, tergolong dalam suku Dotillidae, Eriphidae, Macrophthalmidae, Ocypodidae, Sesarmidae, Grapsidae dan Varunidae yang yang tersebar di hutan mangrovebeberapa perairan Indonesia (Tabel 1).
Gambar 1 menjelaskan jumlah dari jenis-jenis
kepiting mangrove yang termasuk dalam suku yang
dominan ditemukan di lokasi penelitian. Selama
penelitian terlihat suku Ocypodidae lebih dominan
dibangdingkan dengan suku yang lain yaitu sekitar
95 %, disusul oleh Varunidae (88%), Sesarmidae
(56%), Grapsidae (53%), Dotillidae (30%), Macrophthalmidae (21%) dan Eriphidae (13%).
Sedangkan Gambar 2, menjelaskan sebaran
dan lokasi dari jenis-jenis kepiting mangrove yang
ditemukan di perairan Indonesia yang tersebar sebagian besar di Indonesia bagian Tengah dan Timur.
PEMBAHASAN
Jenis Uca spp. (Ocypodidae) sangat banyak
dijumpai di dataran lumpur pinggiran hutan, lantai
hutan, tambak dandaerah bekas tebangan mangrove.Uca spp. merupakan jenis kepiting yang hidup
dalam lubang atau berendam dalam substratdan
merupakan penghuni tetap hutan mangrove. Hal ini
disebabkan karena habitat yang ditempati sangat
sesuai dengan cara hidup dari jenis kepiting tersebut,
sehingga jenis ini paling dominan ditemukan hingga
mencapai 95%. Kepiting Uca spp. akan selalu
menggali lubang dan berdiam di dalam lubang untuk
melindungi tubuhnya terhadap suhu yangtinggi, karena air yang berada dalam lubang galian dapat
membantu mengatur suhu tubuh melalui evaporasi
(Smith dan Miller, 1973). Umumnya kepiting tersebut berukuran kecil, tetapi biasanya sangat menyolok, karena warnanya yang “ menyala” dan sangat
Pratiwi dan Rahmat – Sebaran Kepiting Mangrove (Crustacea: Decapoda Yang Terdaftar di Koleksi Rujukan Pusat Penelitian Oseanografi
-LIPI 1960-1970)
Tabel 1. Daftar jenis krustasea, habitat dan lokasinya (List of crustacean species, habitat and location)
No
Suku (Family)
1.
Dotillidae
Jenis (Species)
Eriphidae
3
Macrophthalmidae
4
Ocypodidae
Ilyoplax longicarpa
Estuary, mangrove,
mud
Mud, estuary, mangrove
Mud, sand, mangrove
24
Intertidal,
mouth of river Galala,
mangrove
Mouth of river, mangrove
Mouth of river, mangrove
9
1
South island of Satengar
Ambon
Mouth of river Galala,
mangrove
Sand, mud, mangrove
1
23
Kolseer,
Kai Islands
Makasar
Mouth of river, mangrove
1
Makasar
Intertidal, mud, sand,
mangrove
Shore, mud,
mangrove
Mud, sand, mangrove
4
Makasar
2
Mouth of river, mangrove
Mouth of river, mangrove
3
Liang Islands; Piru Bay,
Seram
Makasar
Kolseer, Kai Islands
Pantai Galala, Seram,
Ambon
Kalidupa, southeast Sulawesi, Makasar
Makasar
Makasar
Tmethypocoelis ceratophthalma
Eriphia laevimana
Macrophthalmus (M)
milloti
Macrophthalmus
(Macrophthalmus) dilatatus
Macrophthalmus
(Mareotis) japonicus
Macrophthalmus
(Mareotis) tomentosus
Macrophthalmus
(Macrophthlamus) telescopicus
Uca (Uca) annulipes
Uca (Deltuca) dussumieri
Uca (Amphiuca) inversa
Uca (Celuca) mjoebergi
Uca (Deltuca) coarctata
5
2
9
1
22
Suli Islands, Ambon
Seribu Islands, North
Jakarta
Waituti Island
(Dobo Island)
Makasar Island
North coast of the island
Nusalenga
Makasar East Java, Bali
Ambon
Makasar
Mud, mangrove
Mouth of river, mangrove
Mud, mangrove
7
Uca (Deltuca) acuta
Mouth of river, mangrove
5
Uca (Gelasimus) tetragonon
Mouth of river, mangrove
7
Uca (Gelasimus) vocans
Sand, mangrove
20
Ocypode ceratophthalmus
Sand, mangrove
12
Ocypode cordimanus
Sand, mangrove
12
Clistocoeloma merguiense
7
Suli islands, Ambon
Clistocoeloma villosum
Mud, estuary, mangrove
Mangrove
2
Clistocoeloma balansae
Mangrove
1
East of Selu Island
Ambon,
Seribu, Islands, north
Jakarta
Uca (Deltuca) rosea
Sesarmidae
Lokasi (Location)
Mangrove, Intertidal
Uca (Uca) demani
5
Jumlah
individu
(Total)
1
Ilyoplax integer
Scopimera sp
2.
Habitat
2
Seribu Islands, North
Jakarta
Makasar, Parigi Bay,
Cilacap
Larat Galala,
Ambon,Rumah
Tiga, Ambon
Waleila
Aboru Islands (Naira
Cape Haruku) Ambon
Ihamahu;
Tuhaha Bay,Saparua Ambon
Waleila, Ambon
Suli Islands, Ambon
197
Berita Biologi 14(2) - Agustus 2015
Tabel 1. Daftar jenis krustasea, habitat dan lokasinya (List of crustacean species, habitat and location)
(lanjutan/continued)
No
Suku (Family)
Jenis (Species)
Labuanium politum
Mangrove
Jumlah
individu
(Total)
6
Metasesarma aubryi
Mangrove
1
Metasesarma rouseauxi
Mud, mangrove
Intertidal, mud, mangrove
6
Neosarmatium ambonensis
Mangrove
2
Parasesarma batavianum
Swamp, estuary, mangrove
Mouth of river
Galala, mangrove
Mouth of river Galala,
mangrove
Mangrove
10
Parasesarma rutilimanum
Sand, mud, swamp,
estuary, mangrove
1
Perisesarma indiarum
Mud, mangrove
Swamp, estuary
Intertidal, mud, mangrove
Mud, mangrove
Mud, roots, mangrove
2
Mud, mangrove
Estuary
Mud, mangrove
1
Grapsus albolineatus
Mouth of river, mud,
mangrove
2
Metopograpsus latifrons
Mud
Swamp, estuary, mangrove
Intertidal, mud
Mangrove
Mangrove
7
Sunda strait, Panjang
island,
Pacitan Bay, West East
Java,Sorolio, NusaTenggara
Nusa Island, Bawean
Seribu islands, north Jakarta
Seribu islands, north Jakarta,Pacitan bay, east
Java
Seribu island, north Jakarta
Pacitan bay, east Java
East coast of Ambon
Ambon,
Kalidupa, south east of
Sulawesi
Waleila, Ambon
17
Fish market, north Jakarta
2
Waleila, Ambon
Parasesarma leptosoma
Perisesarma lividum
Parasesarma moluccense
Perisesarma darwinense
6
Grapsidae
Sesarmops impressum
Geograpsus crinipes
Grapsus tenuicrustatus
7
Varunidae
Pseudohelice subquadrata
Metaplax elegans
198
Habitat
9
7
1
2
7
8
Lokasi (Location)
Waleila, Ambon
Muara Karang, Jakarta
Bay
Ambon Waleila, Ambon
Seribu Islands, north Jakarta Muara Karang, Jakarta Bay
Waleila Ambon
Ihamahu (Tuhaka bay,
Saparua) Ambon
Seribu islands, north Jakarta
Waleila,
Ambon
Coastal Fish Market,north
Jakarta
Waleila, Ambon, Cilacap
Parapyxidognathus deianira
Swamp, estuary
8
Ptychognathus altimanus
Swamp, estuary
2
Waleila,
Kabo, Ambon
Ambon
Mouth of river
Ptychognathus barbathus
Mud, mangrove
11
Galala, AmbonWaleila
Ptychognathus guijulugani
Pyxidognathus granulosus
Mud, mangrove
15
Waleila, Ambon
5
Mouth of river
Thalassograpsus harpax
Swamp, estuary, mangrove
Swamp, estuary
1
Galala, AmbonWaleila
Varuna litterata
Swamp, estuary
26
Waleila, Ambon
Pratiwi dan Rahmat – Sebaran Kepiting Mangrove (Crustacea: Decapoda Yang Terdaftar di Koleksi Rujukan Pusat Penelitian Oseanografi
-LIPI 1960-1970)
Gambar 1. J umlah jenis kr ustasea dar i tujuh suku kepiting mangr ove (Number of crustacean species of
seven families of mangrove crab).
Gambar 2. Peta lokasi kr ustasea mangr ove yang ditemukan pada penelitian ini (map of location of crustaceans mangrove found in this study)
cerah, merah, hijau atau biru metalik, terlebih dengan
latar belakang lumpur bakau yang berwarna hitam.
Varuna spp. yang tergolong dalam suku Varunidae merupakan kepiting yang terbanyak kedua
(88%) setelah suku Ocypodidae. Ditemukan di tempat-tempat bekas tambak, berenang dengan bebas
pada kolam-kolam bekas tambak, kaki ke limanya
(kaki terakhir) berupa kaki dayung yang berfungsi
untuk berenang. Ukuran tubuh dengan lebar karapas
kepiting jenis tersebut dapat mencapai 40 mm dan
panjang tubuh 38 mm. Jenis V arunaspp. yang
ditemukan hanya dua jenis di perairan Indonesia
yaitu V . yui dan V . litterata, merupakan kepiting
perenang bebas di tambak maupun di perairan laut.
V. yui banyak ditemukan di daerah tambak, sedangkan V . Litterata ditemukan diperairan air tawar
(freshwater) dekat pantai, dimana saat reproduksi
harus kembali ke laut, sehingga tidak bisa dikatakan
benar-benar kepiting jenis perairan tawar (Dobson,
2004). Varuna yui termasuk kepiting yang sangat
jarang ditemukan, biasanya dewasa ditemukan di laut
terbuka sedangkan yang juvenile ditemukan di pintu
air atau tanggul air di daerah mangrove atau di daerah yang dekat dengan daratan (Yeo et al., 1999).
Kepiting ini memiliki bentuk karapas bulat segi empat, karapas berwarna coklat, hijau atau kehitaman
199
Berita Biologi 14(2) - Agustus 2015
dengan kaki jalan berambut. Kepiting ini termasuk
yang dapat dikonsumsi, karena rasanya yang gurih
(Fujaya dan Sulistiono, 2002). Kemungkinan
keberadaannya di lamun atau mangrove adalah hanya untuk mencari makan dan tidak menjadikannya
sebagai tempat tinggalnya (Pratiwi, 2010).
Jenis kepiting dari suku Sesarmidae (56%)
dan Grapsidae (53%) banyak dijumpai di dalam kawasan mangrove, di akar atau batang mangrove yang
bersubstrat lumpur ataupun lumpur halus. Dijumpai
di saat surut, bersembunyi di balik daun-daun atau
serasah mangrove dan kadangkala memanjat pohon
atau batang dari mangrove. Memiliki bermacammacam warna mulai dari coklat muda, coklat tua,
hitam kecoklatan, hitam atau kehitaman, kuning,
kehijauan dan hitam keunguan serta berbagai corak
pada karapasnya. Kepiting-kepiting tersebut merupakan pemakan serasah mangrove atau bersifat herbivore (memakan daun-daun mangrove). Kepiting tersebut yang bersama suku Grapsidae adalah omnivora
yang cenderung herbivor.
Sedangkan kepiting jenis lain yang termasuk
dalam suku Dotillidae (30%), Macrophthalmidae
(21%) dan Eriphidae (13%) merupakan jenis yang
juga ditemui di daerah mangrove tetapi tidak
sebanyak suku Ocypodidae, Varunidae, Sesarmidae
dan Grapsidae, karena keberadaannya di daerah mangrove hanya untuk mencari makan dan berlindung
saja.
Hilangnya mangrove dari ekosistem perairan
pantai telah menyebabkan keseimbangan ekologi
lingkungan pantai terganggu (Gunarto, 2004). Dampak lainnya adalah menurunnya keaneka-ragaman
hayati organisme akuatik (Soeriaatmadja, 1997), atau
dapat pula karena adanya tekanan dari luar lingkungan, misalnya dari masukan limbah atau dari
kegiatan manusia dan penebangan pohon mangrove
secara tidak ramah lingkungan (Gunarto, 2004).
Jumlah jenis kepiting mangrove di setiap lokasi penelitian sangat beragam (Gambar 2) dimana di
Ambon (Indonesia bagian Timur) lebih tinggi
dibandingkan dengan di lokasi penelitian lainnya.
Kemungkinan hal ini disebabkan perbedaan cara
(metode) pengambilan sampel. Metode yang
digunakan yaitu: satu secara acak dengan alat-alat
tangkap yang biasa digunakan di daerah mangrove
(sekop dan atau dengan tangan). Kedua
200
menggunakan transek dengan cara meletakan frame
pada substrat dan menggali lubang kepiting yang
berada dalam transek. Ketiga, mencari lubang kepiting secara acak dan menyedotnya dengan
menggunakan pompa.
Pasang surut air juga sangat menentukan, dimana krustasea baru dapat diambil apabila air dalam
kondisi surut rendah. Selain itu kepiting-kepiting
yang ada di mangrove memiliki daya adaptasi yang
tinggi terhadap perubahan lingkungan, namun akan
menghindar jika kehidupannya terusik (Chairunnisa,
2004). Jenis kepiting yang paling dominan di daerah
Ambon dan Kepulauan Seribu (Ilyoplax longicarpa,
Macrophthalmus (Mareotis) tomentosus, Uca
(Celuca) mjoebergi, Uca (Thalassuca) vocan,
Metopograpsus latifrons, Parasesarma batavianumdanV aruna litterata). Banyak sedikitnya jenis kepiting (kelimpahan) tidak tergantung dari kerapatan
pohon mangrove yang terdapat pada suatu daerah.
Bisa saja disaat kerapatan pohon tinggi justru kelimpahan jenis kepiting sedikit dan sebaliknya pada saat
kerapatan pohon relatif rendah, kelimpahan kepiting
justru tinggi. Hal ini menandakan bahwa kepiting
mempunyai daya adaptasi terhadap tekanan lingkungan yang tinggi, sehingga kepiting dapat bertahan
dalam keadaan lingkungan yang berubah-ubah. Kondisi ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Chairunnisa (2004) mengenai kelimpahan kepiting di mangrove Kabupaten Pontianak, Kalimantan
Barat.
Adanya kegiatan manusia seperti penebangan
juga dapat mengurangi kelimpahan kepiting karena
lingkungan akan mengalami tekanan dan perubahan
fisik. Perubahan pada substrat pun terjadi hanya saja
komponen dan kandungan yang ada di dalam substrat tidak berubah secara drastis (Chairunnisa,
2004). Nadia (2002) yang melakukan penelitian di
mangrove Muara Sungai Bengawan Solo, Jawa Timur melaporkan bahwa padakondisi yang sama, ketika kerapatan mangrove tinggi biota yang ada sedikit
karena adanya kegiatan penebangan di lokasi tersebut,biota yang tinggal di dalam subsrat menjadi terganggu.
Pencegahan eksploitasi alam yang berlebihantanpa memperhitungkan batastoleransinya perlu
dicegah, misalnyapenangkapan udang, kepiting ataupun ikan denganmenggunakan pukat harimau yang-
Pratiwi dan Rahmat – Sebaran Kepiting Mangrove (Crustacea: Decapoda Yang Terdaftar di Koleksi Rujukan Pusat Penelitian Oseanografi
-LIPI 1960-1970)
dapat menangkap semua jenis dan ukuranikan, kepiting atau udang harus dihentikan. Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut serta untuk memulihkan kondisi perairan pantai yang telah rusak dan menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan
biota laut, maka perbaikan perairan pantai yang telah
rusak mutlak dilakukan dengan melestarikan mangrove. Pengumpulan atau melihat kembali lokasilokasi dari kepiting mangrove yang telah dikoleksi
beberapa tahun lalu diharapkan dapat lebih jelas
diketahui distribusi dan keberadaannya disekitar
perairan mangrove. Selain itu sifat dan karakter dari
jenis-jenis kepiting penghuni mangrove juga perlu
diketahui, agar dapat diketahui kehidupan dan pemilihan habitatnya yang tentunya akan berpengaruh
terhadap sebaran dari jenis-jenis tersebut.
Kemampuan respirasi merupakan masalah
yang khusus bagi kepiting-kepiting mangrove. Kebanyakan dari kepiting-kepiting tersebut sangat aktif
di saat surut rendah, dimana lantai daratan mangrove
betul-betul kering (Bliss, 1983). Suhu yang tinggi,
tidak adanya air, tidak ada tempat berlindung
menambah sulit proses respirasi bagi kepiting yang
tidak dapat beradaptasi dengan mangrove. Sebaliknya di dalam lubang galiannya, kepitingkepiting mangrove dapat bernafas atau ber-respirasi
meskipun dengan oksigen rendah (Pratiwi, 2001;
2002). Nontji (1987) menambahkan, di lumpurlumpur lunak di dasar hutan mangrove yang tidak
terlalu rimbun juga banyak ditemukan kepiting dari
marga Uca. Kepiting tersebut dapat dijumpai di daerah yang lebih dekat ke daratan, sehingga lebih dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kering.
Jenis-jenis Ucadijumpai di habitat mangrove Pantai
Ulee Lheue dengan warna karapas dan capit yang
sangat bervariasi, putih, abu-abu, hitam dan biru
dengan variasi garis (strip) di permukaan karapas
(Sari, 2004). Hal ini didukung oleh pernyataan Smith
(2003) bahwa pola warna dari setiap spesies Uca
sangat khusus tergantung dari habitatnya.
Uca spp. sebagai anggota dari suku Ocypodidae secara umum adalah deposit feeder (pemakan
detritus organik di lumpur) dengan kisaran pasang
surut yang rendah. Aktivitas hidupnya terganggu
setiap hari dengan datangnya pasang surut. Sebagian
besar spesies keluar dari lubangnya untuk mencari
makan hanya di saat air surut dan ketika air pasang
kepiting akan masuk ke dalam lubang yang kemudian ditutupi oleh lumpur (Sari, 2004). Karakterkarakter kehidupan kepiting Uca spp. inilah yang
sangat perlu diperhatikan karena sangat berpengaruh
terhadap keberadaannya di ekosistem mangrove.
Fenomena pemanasan global semakin dirasakan saat
ini dan wilayah yang paling rentan terkena dampak
adalah daerah pantai. Salah satu antisipasi pemanasan global tersebut adalah dengan penghijauan dan
konservasi hutan (Shah, 2008). Namun ironisnya
kondisi pantai terutama komunitas hutan mangrove
saat ini makin memprihatinkan kerusakannya dan
sangat mendesak untuk dihijaukan. Salah satu faktor
pen-ting yang sering mengganggu keberhasilan
penghijauan adalah adanya gangguan organisme
yaitu jenis kepiting wideng (Cannicci et al, 2008;
Hidayat, 2011; Katherisan danBingham, 2001dan
Rawana, 2002).
KESIMPULAN
Terdapat 359 kepiting mengrove yang disimpan dalam laboratorium Koleksi Rujukan Biota Laut
yang termasuk kedalam 54 jenis, 22 marga dan tujuh
suku. Jenis-jenis tersebut merupakan jenis yang
umum terdapat diperairan Indonesia.Kerapatan
pohon didugabukan merupakan indikator terhadap
kelimpahan jenis kepiting dan sebarannya, tetapi
karena kesesuai habitat hutan mangrove dan persediaan makanan alami yang cukup banyak, yaitu yang
berasal dari guguran serasah daun mangrove.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Kepala Laboratorium Koleksi Rujukan Biota Laut
yang telah memberikan izin menggunakan database
Koleksi Rujukan Krustasea untuk dianalisa. Ucapan
terima kasih pula penulis sampaikan kepada kurator
Koleksi Rujukan Biota Laut khususnya kurator
krustasea yang telah membantu mengakses database
krustasea. Disampaikan pula ucapan terima kasih
kepada semua pihak yang telah banyak membantu
dan mohon maaf tidak dapat disebutkan satu persatu
di dalam tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bliss D A. 1983. The Biology of Crustacean. Behavior and Ecology, 4-299,Vol.7. Academic Press. USA.
Cannicci S, D Burrows, SFlatini, TJ Smith, J Offenberg and F
201
Berita Biologi 14(2) - Agustus 2015
Dahdouh-Guebas. 2008. Faunal impact on vegetation
structure and ecosystem function in mangrove forest: A
review.Science Direct Aquatic Botany 89, 186-200.
ChairunnisaR. 2004. Kelimpahan kepiting bakau (Scylla spp.)
di kawasan hutan mangrove KPH Batu Ampar, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Program Studi Ilmu
Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor, [Skripsi].
Direktorat Jenderal Perikanan. 1985. StatistikPerikanan 1984.
Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan danPerhutanan Sosial. 2001.K riteria dan standar teknis rehabilitasi
hutan mangrove. 89. Direktorat Jenderal Rehabilitasi
Lahan danPerhutanan Sosial, Jakarta.
Yeo D C J, YCaiand PK L Ng. 1999. The freshwater and ter restrial decapod crustacean of Pulau Tioman, Peninsular
Malaysia.The Raffles Bulletin of Zoology. Supplement
6,197- 244.
Dobson M. 2004. Fr eshwater crabs in Africa. Fr eshwater
Biological Association.Freshwater Forum, 21, 3–26.
FujayaY, dan Sulistiono. 2002. Cr abs in mangrove area of
Bawana Marana River, South Sulawesi. Dalam: Proceeding of the JSPS-DGHE international seminar on fisheries
science in tropical area; Bogor. Sulistiono, MF Rahardjo, Zairion, M Brodjo, S Watanabe and M Yokota
(Penyunting), 75-77.
Gunarto dan AHanafi. 2000. Pengembangan budidayaikan
dan kepiting bakau dalam kawasan mangrove. Jurnal
Penelitian dan Pengembangan Pertanian 19(1), 33−38.
Gunarto.2004. Konser vasi Mangr ove Sebagai Pendukung
Sumber Hayati Perikanan Pantai. Jurnal Litbang Pertanian 23 (1), 15- 21.
Hidayat J W. 2011.Metode pengendalian wideng (Sesarma
spp.) hama bibit mangrove melalui kegiatan budidaya
kepiting bakau Scylla spp. Bioma 13 (1), 1-9.
Irawan B dan A Soegianto. 2006.Kekayaan jenis Por tunidae di
sisi shipping line, Selat Madura. Berkala. Penelitian
Hayati 11, 93–96.
Kathiresan K and BL Bingham. 2001. Biology of Mangr ove
Ecosystem, Advance in Marine Biology 40, 81 – 251.
Keenan C P, Davie P J and Mann DL. 1998. A r evision of the
genus Scylla DE HAAN, 1833 (Crustacea, Decapoda:
Brachyura: Portunida). The Raffles Bulletin of Zoology
46(1), 217–245.
Martin JW and GE Davis. 2001. An updated classification of the
recent crustacea.124. Science series 39, Natural History
Museum of Los Angeles County.
Nadia2002. Analisa Komunitas Kr ustase Ber ukur an Kecil
(Famili Ocypodidae dan Grapsidae) di Habitat Mangrove
Muara Sungai Bangawan Solo, Desa Pangkah Wetan
Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur. Program Studi Ilmu
Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor, [Skripsi].
Nontji A.1987. Laut Nusantara. 189-198. Penerbit Djambatan,
Jakarta.
Ng PKL and N Sivasothi. 1999. A guide to the mangrove of
Singapore II (animal diversity). 168. Singapore Science
Centre.
202
Ng PKL, D Guinot and PJFDavie. 2008. Systema Brachyurorum: Part I. An annotated checklist of extant brachyuran
crabs of the world.Raffles Bulletin Zoology Supplement
17, 1–286.
Poore GCB. 2004. Marine decapod crustacea of Southern Australia. A Guide to identification, 574. Museum Victoria.
CSIRO Publishing, Australia.
Pramudji 2001. Ekosistem hutan mangr ove dan peranannya
sebagai habitat berbagai fauna aquatik. Oseana 26(4), 1323.
Pratiwi R. 2001. The ecology of bur rowing decapods
(Crustacea). Oseana 27(4), 25-32.
Pratiwi R. 2002. Adaptasi fisiologi, reproduksi dan ekologi
krustasea (Dekapoda) di mangrove. Oseana 27(2), 1-10.
Pratiwi R. 2010. Asosiasi kr ustasea di ekosistem padanglamun
Perairan Teluk Lampung.Ilmu Kelautan 15(2), 66-76.
Primavera J.H. 2000. Integr ated mangr ove aquaculture systems in ASIA. Integrated CoastalZone Management.
Autumn edition, 121-130.
Rahayu DL dan Setyadi G. 2009. M angrove estuary crabs of
the Mimika region, Indonesia. 154. The 6th book in a
series of field guides to the flora and fauna of Mimika
region, Papua. Pt. Freeport Indonesia and Research Center for Oceanography- Indonesian Institute of Sciences.
Rawana. 2002. Problematika Rehabilitasi Mangr ove Ber kelanjutan, Pelatihan dan Workshop Rehabilitasi Mangrove
Tingkat Nasional, INSTIPER Jogyakarta.
Sari S. 2004. Str uktur komunitas kepiting (Brachyura) di
habitat mangrove Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh,
Nangro Aceh Darussalam. Program Studi Ilmu Kelautan,
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor,
[Skripsi].
Sakai T. 1976a. Crabs of Japan and the adjacent seas plates. 773.
Kodarian LTD. Japan.
Sakai T. 1976b. Crabs of Japan and the adjacent seas. 251. Kodarian LTD. Japan.
Shah A. 2008, Climate Change and Global War ming, http ://
www.global issues.org/ Env.Issues/Global Warming.asp.
January01. 2008. (Diunduh 19 September 2014).
Smith J D. 2003. Mar ine biodiversity and ecology of the Wakatobi Marine National Park,Southeast Sulawesi .www.opwall.com. (Diunduh 19 April 2014).
Soeriaatmadja RE. 1997. Kebijaksanaan dan str ategi pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia. Makalah Seminar Nasional Biologi XV.19.Bandar Lampung 24–26 Juli
1997.
Stephenson Wand B Campbell. 1959.The Australian por tunids
III (Crustacea: Portunidae). The genus Portunus. Australian Journal of Marine and Freshwater Research 10(1), 84
-24.
Stephenson W, JH Hudson and B Campbell. 1957. The Australian portunids (Crustacea: Portunidae) II. The genus
Charybdis. Australian Journal of Marine and Freshwater
Research 8(4), 491-507.
Suryono CA. 2006. Ekologi perairan Delta Wulan Demak
Jawa Tengah: Distribusi kepiting (Infra Ordo Brachyura
dan Anomura) di kawasan mangrove. Ilmu Kelautan 11
(4), 210 – 215.
Fly UP