...

penggunaan pertamax sebagai modifier pada

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

penggunaan pertamax sebagai modifier pada
PENGGUNAAN PERTAMAX SEBAGAI MODIFIER PADA
LASBUTAG CAMPURAN DINGIN UNTUK PERKERASAN
JALAN
Alik Ansyori Alamsyah1
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil 1
Fakultas Teknik - Univ. Muhammadiyah Malang
Kampus III, Jl. Tlogomas No. 246 Telp. (0341) 464318-319 Pes. 130 Fax. (0341) 460435
e-mail: [email protected]
ABSTRACT
This research is to know there are any influences of variation modifier to marshall like Stability,
Flow, Marshall Quotient, and Air Void. And ideal variation mixture of Asbuton by using Pertamax
as modifier.by using rate pave oil 2%, 2,2 %, 2,4%, 2,6%, 2,8%, and 3% , made object test counted
3 x 6 test object ( for statistical test) which in form of volume weighing cylinder 1200 grams.
variation of Modifier total which used in this research are 3,75%, 3,85%, 3,95%, 4,05%, 4,15%,
and 4,25% and for the each of - variation modifier use 3 test object. Stability of Marshall will reach
under conditions at usage of total modifier 3,83% and will reach conditions of maximal at usage of
total modifier 4,68%. From variation of modifier fulfilling conditions of SNI-06-2489-1991 Lasbutag
Cold Mix for the Stability , Flow, Air Void and Marshall Quotient which have been known, can be
calculated ideal modifier for the Lasbutag Cold Mix that is ± 4,10%.
Keyword : Pertamax, Lasbutag, cold mix
PENDAHULUAN
Seiring dengan pembangunan ekonomi yang
dewasa ini sedang giat dilaksanakan, maka
diperlukan peningkatan kapasitas dan kualitas
jaringan jalan raya yang merupakan prasarana
utama transportasi darat memegang peranan penting
dalam sector perhubu ngan terutama untuk
kesinambungan distribusi barang dan jasa.
Diharapkan dengan peningkatan mutu perkerasan
jalan dapat diperoleh kapasitas dan kualitas jalan
yang bisa memenuhi tingkat pelayanan yang
memuaskan bagi semua pemakai jalan.
Aspal adalah salah satu bahan yang dipakai
terutama sekali untuk bahan pekerjaan jalan. Secara
umum aspal yang kita kenal terdiri dari dua macam,
yaitu aspal alam seperti Asbuton dan aspal
buatan.Asbuton atau dikenal sebagai Aspal Buton
merupakan material alam yang terdapat di Pulau
Buton Provinsi Sulawesi Tengah. Asbuton belum
dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih
kalah bersaing dengan Aspal Minyak (Asmin), hal
ini disebabkan karena Asbuton masih perlu
pemurnian terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan
untuk campuran perkerasan. Selain itu kadar
bitumen yang terdapat pada Asbuton relative
rendah, yaitu bervariasi antara 15% - 45% dari total
berat ( Tjitjik, S & Sastramihardja, 1998 ).
Penggunaan Asbuton untuk bahan perkerasan
jalan lebih banyak diterapkan di Indonesia saat ini
yang banyak digunakan adalah system campuran
dingin seperti ACAS atau Lasbutag (Indra surya
dkk; 2003). Namun, campuran dingin tersebut
hanya cocok atau baik untuk lalu lintas ringan,
untuk lalu lintas berat kurang cocok sehingga perlu
diteliti lebih lanjut agar dapat digunakan untuk lalu
lintas berat.
Menurut Syahroni, N & Nugroho, B,
Permasalahan yang terutama pada Lasbutag
Campuran Dingin ialah bahan minyak ringan
(minyak tanah / kerosin) pada modifier belum
sepenuhnya menguap dari campuran sehingga
campuran Lasbutag relatif lembek dengan Stabilitas
Marshall yang rendah. Oleh karena itu perlu dicari
Alik Ansyori Alamsyah, Penggunaan Pertamax Sebagai Modifier Pada Lasbutag Campuran Dingin
Untuk Perkerasan Jalan
1
komposisi minyak ringan, minyak berat dan
Asminnya agar dicapai perkerasan jalan bermutu
tinggi untuk lalu lintas berat. Dalam penelitian ini
digunakan minyak ringan campuran kerosin +
pertamax dengan harapan pertamax akan segera
menguap sehingga campuran tidak terlalu lembek.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh penggunaan modifier
Pertamax pada Asbuton campuran dingin
(Coldmix) terhadap sifat campuran aspal (Marshall
Stability, Flow, Air Void dan Marshall Quotient).
Dan untuk mengetahui berapa persenkah variasi
komposisi ideal campuran Asbuton dengan
menggunakan modifier Pertamax agar diperoleh
campuran perkerasan jalan yang berkualitas baik
METODELOGI
Umum
Kegiatan penelitian mengenai Lasbutag
campuran dingin ini dilakukan di Laboratorium
Jalan Raya Jurusan Teknik Sipil Fakultas teknik
Universitas Muhammadiyah Malang. Bahan bahan yang digunakan dalam campuran yaitu:
a. Asbuton halus klasifikasi B-20.
b. Agregat bergradasi rapat (continous graded)
dan memenuhi spesifikasi Bina Marga.
c. Aspal minyak (asmin) dengan nilai penetrasi
80 – 100.
d. Oli Bekas dan Pertamax
Rancangan penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk
mengetahui bagaimana pengaruh Modifier terhadap
sifat campuran Lasbutag Campuran Dingin seperti
Stabilitas, Kelelehan Plastis, Rongga Udara dan
Hasil Bagi Marshall, maka dibuat rancangan dengan
membuat benda uji.
Populasi dan Sampel
dilakukan dalam penelitian ini adalah pembuatan
Lasbutag campuran dingin yang diusahakan volume
campurannya sebatas keperluan pembuatan benda
uji berbentuk silinder. Meskipun demikian
penelitian ini berorientasi kedalam pelaksanaan di
lapangan dimana volume Lasbutag campuran
dingin relatif sangat besar jika dibandingkan dengan
benda uji penelitian.
Agregat halus +
Agregat kasar
Modifier II di
aduk hingga
encer
Modifier I
dicampur rata
Asbuton
Di campur, di aduk rata
Di campur, di aduk rata
Perencanaan Campuran
Pada penelitian ini dicoba cara pencampuran
Asbuton system dingin yang dapat memberikan
nilai – nilai Marshall yang baik. Cara pencampuran
tersebut adalah sebagai berikut
a. Modifier I yang terdiri dari Oli bekas dan
minyak ringan berupa campuran Pertamax, di
aduk hingga rata, dicampur dengan Asbuton
diperam selama 24 jam, bila pada campuran
Pertamax penuh, minyak ringan ini berupa
Pertamax campuran Asbuton + modifier I pada
tempat kering dan tertutup yaitu dimasukkan
kedalam tas plastic dengan tujuan bitumen
Asbuton dapat diencerkan.
b. Modifier II yang terdiri dari asmin dan
Pertamax di aduk hingga rata ( asmin +
Pertamax ) dengan perbandingan 2:1 agar
diperoleh asmin encer dalam keadaan dingin
.Modifier II yang terdiri dari campuran asmin
dan Pertamax ini di biarkan dalam toples /
kaleng secara tertutup setelah itu modifier II
dicampur dengan agregat dan diaduk merata
kemudian di uapkan sehingga pertamax
menguap ¼, ½, dan ¾ dari beratnya dalam
Modifier II, denagn cara menaruh campuran
pada wajan yang diletakkan diatas timbangan.
Campuran ditimbang, agar pertamax menguap
¼, ½, dan ¾ dari beratnya semula
membutuhkan waktu kira-kira berapa jam lalu
dimasukkan campuran Asbuton + Modifier I
yang sudah diperam tertutup dan diaduk
hingga rata
Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan
populasi adalah Lasbutag campuran dingin,
sedangkan sample penelitian adalah benda uji
Lasbutag campuran dingin setelah dicampur dengan
variasi modifier tertentu. Sesungguhnya yang
2
Diagram Alir Penelitian
Media Teknik Sipil, Volume 9, Nomor 1, Februari 2011: 1 - 7
Diperam terbuka Pertamax menguap ¼
sampai ½ dari beratnya semula
Dicampurkan rata di uapkan ½ dari berat
minyak
Pengujian dengan alat Marshall
Hasil Uji Tes
Kesimpulan
Selesai
Gambar 1. Alur Penelitian Lasbutag Campuran Dingin
HASIL DAN PEMBAHASAN
Asbuton
Material aspal yang digunakan adalah aspal
Asbuton (aspal Buton) jenis B-20 karena
mempunyai kandungan bitumen 17% - 23%.
Pemeriksaan dari asbuton meliputi berat jenis bitumen
asbuton, berat jenis mineral Asbuton, kadar air asbuton
serta analisa saringan Asbuton.
a. Pemeriksaan Berat Jenis Bitumen Asbuton
Dari hasil pemeriksaan berat jenis bitumen
asbuton pada Tabel. 1 menghasilkan :
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Berat Jenis Bitumen Asbuton
Nomor Contoh
Berat Contoh
Berat Jenis
Berat jenis rata-rata
I
179.9
1.84
Modifier
Modifier yang digunakan dalam campuran
lasbutag ini adalah oli bekas dan aspal minyak. Oli
II
185.1
1.8
1.82%
bekas dan aspal minyak harus memenuhi persyaratan
untuk digunakan sebagai modifier dalam campuran
lasbutag.
Alik Ansyori Alamsyah, Penggunaan Pertamax Sebagai Modifier Pada Lasbutag Campuran Dingin
Untuk Perkerasan Jalan
3
Pengaruh Modifier Terhadap Stabilitas Marshall
Pengaruh Modifier Terhadap Flow
Dari uji statistik didapat bahwa Flow Lasbutag
Campuran Dingin berpengaruh terhadap modifier
dimana hal tersebut ditunjukkan oleh persamaan :
Y = -3,4571 X + 17,29156 (F-hitung regresi = 487,307 >
F-tabel = 8,53 pada taraf probabilitas 0.01).
Jikadilihat dari nilai r2 dapat dikatakan bahwa
dengan derajat keterandalan 96 %, sekitar 96 %
variasi Y (Flow) dapat diterangkan oleh X (Variasi
Modifier) menurut persamaan di atas. Sehingga
nilai koefisien determinasi dan koefisien kolerasi
tersebut yang menggambarkan variasi X (Variasi
Modifier) berpengaruh terhadap Y (Flow).
4
S tabilitas (Kg)
Flow (mm)
2
1,5
1
Pengaruh Modifier Terhadap Marshall
Quotient
0
3,65
3,75
3,85
3,95
4,05
4,15
4,25
4,35
4,45
Modifier (%)
Dari uji statistik didapat bahwa Hasil Bagi
Marshall pada Lasbu tag Campuran Dingin
berpengaruh terhadap variasi modifier (Tabel.4.52.
dan Gambar.4.7). dimana hal tersebut ditunjukkan
oleh persamaan : Y = 520,79X - 1906 (F-hitung regresi =
179,464 > F-tabel = 8,53 pada taraf probabilitas 0.01).
Gambar3. Grafik Hubungan Flow (mm) dengan Modifier
14,000
12,000
Kadar Modifier Ideal
Setelah dilakukan pengujian dan analisa data
terhadap variasi modifer pada Lasbutag Campuran
Dingin, didapatkan kadar modifier yang memenuhi
persyaratan SNI-06-2489-1991 sebesar 4,10 %.
Gambar grafik hubungan Stabilitas, Kelelehan
Plastis (Flow), Rongga Udara dan Marshal
Quotient Udara dengan Modifier campuran dingin
dapat dilihat pada Gambar .2, 3, dan 4.
10,000
8,000
y = -0,618x + 12,878
R2 = 0,0159
6,000
4,000
2,000
0,000
3,65
3,75
3,85
3,95
4,05
4,15
4,25
4,35
4,45
Modifier (%)
Gambar 4. Grafik Hubungan Rongga Udara dengan Modifier
Stabilitas
Flow
Rongga Udara
y = 1048,6x - 3659
R2 = 0,9179
Marshall Quotient
4,10%
Gambar 5. Modifier Ideal untuk Lasbutag Campuran Dingin
KESIMPULAN
3,75
3,85
3,95
4,05
4,15
4,25
4,35
4,45
Modifier (%)
Gambar 2. Grafik Hubungan Stabilitas (kg) dengan Modifier
4
3
2,5
0,5
Pengaruh Modifier Terhadap Rongga Udara
1400,00
1300,00
1200,00
1100,00
1000,00
900,00
800,00
700,00
600,00
500,00
400,00
300,00
200,00
100,00
0,00
3,65
y = -3,4571x + 17,156
R2 = 0,96
3,5
Rongga Udara (%)
Dari uji statistik didapat bahwa ada pengaruh
Modifer terhadap Stabilitas pada Lasbutag
Campuran dingin. Hal tersebut ditandai dengan
adanya kenaikkan serta penurunan nilai Stabilitas,
akan tetapi penurunan pada Stabilitas tersebut masih
dalam taraf spesifikasi SNI 06-2489-1991 (min 350
kg). Sehingga dengan adanya variasi Modifier
terhadap Lasbutag Campuran Dingin tersebut
sangat berpengaruh terhadap nilai Stabilitas yaitu
dengan ditunjukkan oleh persamaan : Y = 1048,6X
– 3659 (F-hitung regresi = 202,283> F-tabel = 8,53 pada
taraf probabilitas 0.01).
4,5
Dari uji statistik didapat bahwa Rongga Udara
pada Lasbutag Campuran Dingin kurang
berpengaruh terhadap variasi modifier, dimana hal
tersebut ditunjukkan oleh persamaan : Y = -0,618X
+ 12,878 (F-hitung regresi = 0,251 < F-tabel = 8,53 pada
taraf probabilitas 0.01).
Media Teknik Sipil, Volume 9, Nomor 1, Februari 2011: 1 - 7
•
Dari hasil penelitian dan perhitungan di
laboratorium didapatkan hasil dari pengaruh
penggunaan modifier Pertamax terhadap mutu
Asbuton dengan SystemCold Mix sebagai
berikut:
a. Persamaan variasi modifier terhadap
Lasbutag Campuran Dingin menunjukkan,
bahwa Stabilita s Marshall juga
berpengaruh terhadap variasi modifier
Lasbutag Campuran Dingin dari variasi
modifier 3,85 - 4,25, dimana hal tersebut
ditunjukkan oleh persamaan : Y = 1058,66X
– 3699,32 (F-hitung regresi = 202,283> F-tabel =
Alik Ansyori Alamsyah, Penggunaan Pertamax Sebagai Modifier Pada Lasbutag Campuran Dingin
Untuk Perkerasan Jalan
5
8,53 pada taraf probabilitas 0.01). Dan
Stabilitas Marshall akan mencapai batas
maksimal pada modifier 4,68%, sedangkan
akan mencapai ba tas minimum pada
modifier 3,82%. Persamaan variasi
modifier terhadap Lasbutag Campuran
Dingin berpengaru h terhadap nilai
Kelelehan Plastis (Flow) yaitu dengan
ditunjukkan oleh persamaan : Y = -3,4904
X + 17,29 (F-hitung regresi = 487,307 > F-tabel =
8,53 pada taraf probabilitas 0.01).. Dan
diperkirakan Flow akan mencapai
persyaratan maksimum saat memakai
modifier 3,80% dan akan mencapai
persyaratan mimimum saat memakai
modifier 4,36%.
b. Untuk nilai Rongga Udara, Persamaan
variasi modifier terhadap Lasbutag
Campuran dingin dengan penggunaan
variasi modifier 3,75% – 4,25% terhadap
tersebut kurang dan bahkan tidak
berpengaruh, dimana hal tersebut
ditunjukkan oleh persamaan Y = -0,618X
+ 12,878 (F-hitung regresi = 0,251 < F-tabel = 8,53
pada taraf probabilitas 0.01). Karena nilai
Rongga Udara aka n mencapai batas
maksimal pada penggunaan modifier
14,37% dan mencapai batas minimum pada
penggunaan modifier 17,60%. Persamaan
variasi modifier terhadap Hasil Bagi
Marshall (Marshall Quotient) pada
Lasbutag Campuran dingin berpengaruh
pada variasi modifier 3,85 – 4,25, dimana
hal tersebut
ditunjukkan oleh persamaan : Y = 520,79X
- 1906 (F-hitung regresi = 179,464 > F-tabel = 8,53
pada taraf probabilitas 0.01). Marshall
Quotient akan mencapai batas maksimum
pada penggunaan modifier 4,62% dan
mencapai batas minimum pada penggunaan
modifier 3,79%..
Saran – saran
•
besar menyebabkan susunan agregat antar
butiran menjadi kurang rapat. Sehingga
kestabilan campuran rendah. Untuk itu
diperlukan variasi lainnya seperti meningkatkan
mutu Asbuton dengan menambah kadar
bitumennya atau memperbanyak jumlah
tumbukan.
Asmin dapat ditambahkan untuk memperbaiki
lekatan campuran dengan tambahan Asmin
cair (cutback aspal) dapat mempermudah
pencampuran dan pemadatan.
DAFTAR PUSTAKA
Ansyori Alamsyah, Alik, 2008, Penggunaan
Modifier O li Bekas pada Campuran
Perkerasan Lasbutag Dengan Sistem Hot
Mix Untuk Meningkatkan Mutu Jalan,
Proceeding dari FSTPT ke 11, Semarang.
Suroso, TW, 2000, Pelapukan ( Ageing ) Asmin
pada Perkerasan Jalan, Proceeding dari
Konferensi Tahunan Teknik Jalan ke 3,
Bandung.
Mochtar, Indra Surya B., dkk, 2003,
Pengembangan Penggunaan Aspal Buton
dan Karet Alam pada Lasbutag Campuran
Dingin dan Panas untuk Perkerasan Jalan
Bermutu Tinggi, Laporan Penelitian –
Jurusan Teknik Sipil ITS, Surabaya.
Rudianto, Heri, 2000, Penggunaan Modifier
Campuran Kerosen dan Premium Pada
Lasbutag dengan Sistem Cold Mix, Laporan
Penelitian - Jurusan Teknik Sipil ITS,
Surabaya
Bina Marga, 1998, Petunjuk Pelaksanaan
Lapisan Asbuton Aggregat ( LASBUTAG
), Report No. 09/ PT/ B/ 1998
Bina Marga, 1991, Manual Pemeriksaan Bahan
Jalan , No. 01/ MN/ 1991, Departemen
Pekerjaan Umum.
James, EM, 1987, Asbuton Modifier Selection,
Designing and Spesification on Lasbutag
Mixes, Part I, Report No. 3, Asbuton
Spesification D evelopment Project,
Direktorat Jenderal Bina Marga.
Tjitjik, S. & Sastramihardja, R., 1998,
Karakteristik Bitumen Asbuton, Proceeding
dari Konferensi Tahunan Jalan ke - 1,
Bandung.
Sukirman, Silvia, 1999, Perkerasan Lentur
Jalan Raya, Cetakan Kelima, Nova,
Bandung.
Syahroni, N & N ugroho, B, 1997, Studi
Peninjauan Penggunaan Aggregated
Asbuton Cam puran Dingin dengan
Kerosen untuk Perkerasan Jalan, Laporan
Penelitian Jurusan Teknik Sipil ITS,
Surabaya.
•
Pada penelitian ini didapat nilai rongga udara /
VIM yang masih besar, sehingga menjadi salah
satu penyebab rendahnya nilai rata-rata Stabilitas
Marshall dari benda uji. Nilai VIM yang masih
6
Media Teknik Sipil, Volume 9, Nomor 1, Februari 2011: 1 - 7
Alik Ansyori Alamsyah, Penggunaan Pertamax Sebagai Modifier Pada Lasbutag Campuran Dingin
Untuk Perkerasan Jalan
7
Fly UP