...

Lihat Sampling Buku - DiandraCreative.com

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Lihat Sampling Buku - DiandraCreative.com
RISMA JUNIA
SORRY
1
SORRY
oleh : Risma Junia
Copyright 2016 byRismaJunia
Penerbit
@DiandraCreative
www.Diandracreative.com
[email protected]
Desain Sampul :Risma Junia
Diterbitkan melalui :
www.Diandracreative.com
2
Happy Reading Guys 
3
1
CHAPTER 1
Jika dia bersikap dingin. Aku juga bisa bersikap dingin. Dia itu
tidak menarik bagiku sama sekali. Wajah yang dingin dan bahkan lebih
dingin dari Es. Tersenyum saja tidak pernah, aku sih tidak berharap ia
memberiku senyuman. Tapi, uhh... aku kesal melihat wajahnya yang tanpa
ekspresi setiap pagi.
Aku tidak ingin pernikahan ini. Pernikahan yang kami lakukan dua
minggu lalu adalah atas keinginan kedua orang tua kami. Bisa di bilang ini
kategori dari pernikahan perusahaan, karena ini bukan atas dasar cinta atau
apapun. Ini untuk menguntungkan perusahaan baik perusahaan ayahku atau
atau orang tua orang yang aku nikahi ini.
“Hari ini, kita berkunjung ke rumah orang tuaku”, aku menatapnya
dan mengangguk. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat dia
sedikit tersenyum. Bagaimana bisa aku senang tinggal dengan orang
sedingin es seperti dia. Apalagi kami sekamar, walaupun dalam tempat
tidurpun kami tidak bersentuhan.
“aku akan bersiap-siap”, ujarku. Aku segera membuka lemari dan
mencari pakaian yang sopan. Justin masih tetap dalam ekspresinya yang
dingin. Aku juga tidak suka dengan pernikahan ini, tapi ekspresi wajahnya
seakan marah dan menyalahkanku atas pernikahan ini. Akukan juga tidak
mau, tapi bagaimana bisa aku menolak, Justin yang anak laki-laki saja tidak
bisa menolak.
“kita sarapan di rumah orang tuaku”, aku mengangguk. Ia meraih
kunci mobil yang ada di atas meja, lalu keluar dari kamar. Aku menatap
diriku dalam pantulan cermin, lalu aku mengambil tas-ku dan menyimpan
dompet serta handphoneku di dalam tas. Aku segera keluar, dan menyusul
Justin. Sebelum ekspresinya semakin dingin. Mengerikan.
Justin menjalankan mobilnya begitu aku masuk. Bahkan aku
belum mengenakan sabuk pengaman. Aku mendengus, lalu memalingkan
wajahku. Aku akan mengalami tingkat kesepian tertinggi berada dalam
ruang sempit ini dengan manusia es seperti dia.
1
Aku mengambil handphoneku, lalu memasang earphone ke
telingaku. Sejujurnya, aku ingin menyalakan radio. Tapi ini mobil milik
Justin, aku tidak mau membuat masalah, bisa-bisa karena wajahnya
melewati dinginnya es, dia menjadi beku.
“Leora”, Justin menarik earphone di telingaku saat aku tengah
bernyanyi dengan suara rendah.
“ya?”,
“jangan bernyanyi, aku tidak suka mendengarnya”,
“baiklah”, aku mendesah. Lalu kembali memasang earphoneku,
kali ini aku menutup rapat mulutku. Dan menyenderkan punggungku pada
kursi.
Justin terlihat fokus menyetir. Wajahnya masih kaku seperti saat
pertama kami bertemu. Ia juga memakai earphone tapi hanya di telinga
kirinya, yang di kanan tidak ia gunakan. Jari-jarinya mengetuk stir mobil,
tapi mata karamelnya lekat menatap apa yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Justin menoleh dan menatap
tasku.
“Maaf”, aku menatap layar handphoneku. Harry menelponku.
Walau kami sudah putus karena pernikahan sialan ini, sepertinya tak ada
salahnya jika aku masih berhubungan sebagai teman. Mantan bukan berarti
musuh. Lagipula putusnya hubungan kami, dilakukan dengan terpaksa.
“Harry!”,
“wo-ho. Kau sangat semangat”,
“yeah. Aku sedang kesepian”, Harry terdengar tertawa kecil. Aku
ikut tersenyum. Dia adalah orang konyol yang selalu berhasil menghiburku.
Sangat bertolak belakang dengan Justin. Itu sebabnya aku tidak menyukai
Justin. Dia bukan tipeku, sama sekali bukan.
“Jika kau kesepian, kau bisa menghubungiku, kapanpun, Leora
Bieber”,
“Harry, Aku takut menganggumu. Aku yakin, kau sudah memiliki
gadis baru, ini sudah 3 minggu semenjak kita putus”, aku mengkerutkan
bibirku. Jika Harry di sampingku, dia pasti menarik pipiku jika aku
membicarakn gadis lain, lalu menarikku ke pelukannya dan mencium
puncak kepalaku sambil menyupir. Harry itu manis. Walau penampilannya
Liar.
2
“kau tidak pernah mengangguku. Aku belum ingin mencari gadis
lain, masih dirimu, Leora”,
“Benarkah? kalau begitu, jika aku sendirian di rumah mungkin
kita bisa hangout, aku dengar dari Annabeth jika ada cafe baru dan
tempatnya keren, aku harap ada ice cream disana”, aku menggigit bibirku
agar senyumku tidak lebar. Maksudku, bibirku sangat pegal karena
tersenyum sejak tadi. Jadi aku sedikit mengontrol senyumku.
“Aku sudah kesana dengan Annabeth dan yang lain, tempatanya
lumayan, kau bisa menghubungiku kapanpun, aku free”,
“Harry, kau memang yang terbaik”, Justin berdeham. Aku
menoleh ke arahnya. “Aku akan menghubungimu lagi nanti, aku sedang
dalam perjalanan dengan Justin ke rumah orang tuanya, aku tidak sabar
untuk pertemuan kita lagi, Harry”,
“Apa dia masih menjadi Ice Man?”, aku tertawa. Aku pernah
membicarakan tentang wajah Justin pada Harry.
“ya, dan itu yang membuat aku kesepian. Kita sms saja ya?”,
“oke, bye”,
“bye, Harry”, aku mematikan sambungan telpon itu, lalu melepas
earphoneku. Sejak kami putus aku tidak berani menghubungi Harry, karena
dia terlihat marah saat aku ingin putus, dia pasti kecewa, kesal, dan apapun
itu. Aku merasa bersalah, dan itu sebabnya tidak berani menghubunginya,
takut dia kembali merasa emosi.
Aku membalas pesan Harry yang berhasil membuat perutku sakit
karena tertawa. Ia berhasil membuat lelucon menyangkut Justin, dia
memintaku membayangkan bagaimana wajah Justin saat aku menginjak
kaki Justin. Apa Justin masih bisa tetap berwajah dingin? Itu masih rahasia.
Dan aku ingin benar-benar menginjak kaki Justin.
“Apa perjalanan masih jauh?”, Justin menggeleng. “Apa kita bisa
mampir untuk membeli minum?”,
“kita akan sampai satu jam lagi”,
“itu masih jauh”, Pantatku sudah panas duduk di kursi ini. Aku
harap dia mau berhenti dan membiarkan aku berdiri sebentar.
“tidur saja, nanti akan aku bangunkan jika sudah sampai”,
“aku haus bukan mengantuk”,
“jangan manja padaku. Suruh saja mantanmu membawakan
minuman”, Aku menatap ke arahnya. Ekspresinya masih dingin dan kaku.
3
Walau ekspresinya seperti itu, ternyata dia menyimak percakapanku dengan
Harry. Jika dia tidak kaku, aku pasti lebih memilih berbicara dengannya,
setidaknya kami harus saling mengenal. Pernikahan ini bukan main-main.
“kenapa kau harus menyangkutkan rasa hausku dengan mantan
kekasihku? Turunkan aku disini, aku bisa beli minum sendiri”, ia benarbenar menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“keluar”, Ia menatapku. Kali ini ia menyeramkan, sungguh.
“kau—“
“kau yang ingin keluarkan? Aku bisa bilang pada Orang Tuaku
jika kau sedang sakit dan tak ingin ikut, mudahkan?”,
“kau benar-benar—“, ia menjalankan mobilnya saat aku ingin
membuka pintu. Aku memutar wajahku dan menatapnya. Ia terlihat
menggigit bagian dalam mulutnya. Jari-jarinya meremas stir. Menyebalkan.
Dia meminta aku keluar dari mobilnya, saat aku ingin keluar, ia justru
menjalankan mobilnya. Jika aku keluar dari mobil dan mobilnya berjalan,
Bukankah itu berbahaya?
“untuk apa kau menatapku?”, ia berucap.
“Aku tidak menatapmu, aku menatap pemandangan yang ada di
sampingmu”,
“Oh. Jadi, kau masih haus?”,
“tidak”,
“kalau begitu aku saja yang membeli minum”, ia masuk ke dalam
Drive Thru Mc. Donalds. Aku memalingkan wajahku. Walau Harry kadang
menjengkelkan, tapi hanya Justin yang benar-benar menjengkelkan.
“kau yakin tidak mau?”,
“tidak”, ketusku.
“Aku ingin Mc. Flurry Oreo dua, Pepsi dua, dan French Fries
yang besar satu”, aku meliriknya. Rakus juga dia. Tapi walau dia makan
banyak, bentuk tubuhnya aku akui cukup atletis. Justin menjalankan
mobilnya, ia membayar dan kami menunggu lagi.
Justin memajukan mobilnya setelah mobil di depan kami pergi.
“pegang”, ia memberikan aku dua Mc Flurry, lalu pepsi dan
kentang gorengnya. Ia menutup kaca mobil dan menggerakan mobilnya. Ia
mengambil satu Mc. Flurry dan memasukan sesendok ice cream ke
mulutnya sambil menyupir.
“kau hanya menyuruhku memegang makanan mu ini?”,
4
“kau kan tak mau membeli tadi. Jika tak bawa uang bilang saja,
aku bisa traktir”, aku menatap makanannya yang ada di pangkuanku.
Mobilnya bergerak lebih lambat dari tadi, ia terlihat menikmati ice
creamnya dan mengabaikanku.
“aku menyesal pergi denganmu”, aku meletakan makanannya di
belakang. Ini memang kedua kalinya bagiku satu kendaraan dengannya.
Dulu saat pernikahan dan ini yang kedua.
“kau bisa memakan ice cream itu sebelum meleleh, jika meleleh,
rasanya akan jelek dan aku tidak suka”,
“aku tidak mau”, ujarku.
“aku hanya menawarimu”, ia mengangkat kedua bahunya, dan
kembali memasukan ice cream ke mulutnya. Aku mendengus beberapa kali
dan kembali berkutat dengan handphoneku. Beruntung Harry mau
menemaniku.
“dasar perempuan”, aku menoleh ke arahnya.
“Apa kau bilang?”, ia menggidikan bahunya. Aku
mengembungkan pipiku.
“ambilkan kentang gorengku, sejujurnya ini masih lagi dua jam.
Jika kau benar-benar tak mau ice cream itu, kau akan menyesal”, astaga.
Aku harus berada bersamanya 2 jam lagi. Aku melirik jam tanganku.
Kenapa dia memilih sarapan di rumah orang tuanya jika tau perjalanan akan
sejauh ini.
Aku mengambil kentang gorengnya dan memilih memakan ice
cream-nya.
“akhirnya kau mau”,
“itu karena perjalanan masih 2 jam. Kasian juga dengan ice cream
ini”, ia terlihat memutar mulutnya. Satu tangannya mengambil kentang, dan
yang satunya sibuk menyupir. Menyesal aku tidak memakan ice cream ini
sejak tadi. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, Harry lagi.
“bisakah kau minta dia untuk tidak menelpon? Kau bahkan baru
berbicara dengannya 45 menit yang lalu”, aku menatap Justin.
“maaf, aku akan memberitahunya”,
“dasar murahan, sudah tau jika dia sudah menikah”, Justin
bersuara dengan rendah. Justin mungkin berpikir aku tidak mendengarnya,
tapi aku sangat mendengar cibirannya itu dengan jelas. Karena jarak kami
cukup dekat di mobil ini. Aku memutuskan menolak panggilan Harry dan
5
mematikan handphoneku. Mungkin ini salahku, tapi aku tak mungkin
menghubungi Harry jika sejak tadi dia mau berbicara denganku.
“kenapa kau menolak panggilannya?”, aku menggigit bibirku.
“aku bisa menghubunginya nanti. Aku ingin menghabiskan ice
cream ini”, Justin memutar bola matanya.
“ambilkan minumku”,
“apa aku boleh minta satu?”,
“tidak”, aku mengkerutkan bibirku. Lalu menyodorkannya pepsi
yang aku ambil di jok belakang. ia meraihnya dan langsung menyedot
minuman itu tanpa memandangku.
“ingat buang sampai ini saat kita sampai, aku tak mau mobilku
kotor”,
“tapi—“,
“lakukan saja”, aku memanyunkan bibirku. Dia yang makan
banyak, membeli ini semua untuk dirinya sendiri, dan hanya memberikanku
segelas ice cream akan tetapi aku yang di suruh membersihkan seluruh
sampahnya dia. Sungguh menjengkelkan.
“sampai”,
“kau bilang 2 jam lagi kita baru sampai?!”,
“memang, dari rumah kan memang dua jam”, aku mengepalkan
tanganku. Ia keluar begitu saja dan meninggalkanku. Aku segera
mengambil seluruh sampahnya dan memasukannya ke dalam plastik. Pepsi
yang masih tersisa dan kentang goreng aku bawa, lalu plastik yang berisi
sampah segera aku bawa keluar dan aku buang ke tempat sampah.
Dia sudah mengerjaiku beberapa kali pagi ini. biasanya memang
begitu, tapi ini secara langsung. Biasanya dia memang mengerjaiku,
membuang baju kotornya di lantai kamar mandi. Memberantakan lemari
pakaian kami atau apapun. sepertinya dia memiliki sifat jorok yang tidak
bisa di rubah.
“Leora, aku pikir Justin tidak mengajakmu”,
“aku tadi membersihkan mobil Justin, dia meninggalkan banyak
sampah”,
“itu sampahmu! Bukan punyaku”, Justin berteriak dari dapur. Aku
mendesah. Pattie tersenyum, lalu memelukku. Jelas-jelas dia yang memiliki
sampah makanan yang ada di mobilnya. Pattie mengajakku ke ruang tamu
dan kami duduk di sofa. Sepertinya Jeremy sedang tidak di rumah.
6
Fly UP