...

mengenal NCBI - Universitas Brawijaya

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

mengenal NCBI - Universitas Brawijaya
PENGENALAN NCBI
UNTUK ANALISIS DNA, PROTEIN DAN SENYAWA KIMIA
OLEH:
WIDODO
MIFTAKHUNNAFISAH
LABORATORIUM BIOSISTEM
FAKULTAS MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
Pengenalan NCBI (National Center for Biotechnology Information)
NCBI merupakan server yang memuat data base tentang informasi kesehatan dan bioteknologi.
Data base terus menerus di update sesuai dengan penemuan-penemuan terkini yang menyangkut
DNA, Protein, Senyawa aktif dan taksonomi. Disamping data base, ncbi juga menyediakan
berbagai macam software untuk analisis DNA, protein 3D, pencarian primer, pencarian conserve
doamain dan lain sebagainya. NCBI merupakan salah satu bank data gen, protein dan literature
khususnya dib dang kesehatan yang terlengkap dan di acu oleh para peneliti didunia.
NCBI memiliki database dan software (analysis tools) yang sering digunakan untuk analisis adalah
sebagai berikut:
A. DNA-RNA TOOLS:
GenBank
Bank Gen ini bagian dari database nukleotida internasional yang bekerja sama dengan DataBank of
Japan (DDBJ), the European Molecular Biology Laboratory (EMBL), and GenBank at NCBI.
BioSystems
Database yang berisi tentang korelasi biologi dari gen, protein dan small molecule berdasarkan
literature. Kita dapat menggunakan untuk menganalisis fungsi protein dan interaksi protein yang
kita teliti pada level sel. System ini terhubung dengan beberapa database biosystem seperti reactome
dan KEGG. Misalnya kita ingin mengetahui keberadaan/fungsi protein p53 di dalam sel, maka
tinggal memasukkan p53 kedalam keyword box, maka akan diperoleh hasil seperti dibawah yang
menunjukkan p53 berfungsi sebagai DNA-damage response yang terdapat di database reactome.
Database of Expressed Sequence Tags (dbEST)
GenBank yang berisi short single-pass reads of cDNA (transcript) sequences/EST.
Database of Genome Survey Sequences (dbGSS)
GenBank yang berisi short single-pass reads of genomic DNA/GSS.
BLAST (Basic Local Alignment Search Tool)
Software yang dapat digunakan untuk menentukan homologi suatu urutan DNA atau asam amino
dengan data yang ada di NCBI. BLAST memiliki beberapa pilihan menu sesuai dengan analisis
yang akan dikerjakan seperti pada table di bawah ini:
Alligment analysis
Sekuen yang diperoleh dari hasil penelitian di laboratorium dapat dianalisis dengan data serupa
yang telah dipublikasikan sebelumnya di gen bank. Salah satu bentuk analisis yang dapat
dilakukan misalnya adalah analisis penyejajaran. Analisis penyejajran dapat digunakan untuk
membandingkan dua sekuen atau lebih. Program yang digunakan untuk analisis penyejajaran
yaitu program BLAST (Basic Local Allignment Search Tools). Program ini dapat diakses melalui
website National Center for Biotechnology Information at The National Library of Medicine in
Washington, DC (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/BLAST)
Berikut merupakan langkah-langkah untuk mencari dan mendapatkan data dari genbank, misalnya
untuk mencari sekuen insulin (INS)
1.
Ketikkan http://www.ncbi.nlm.nih.gov pada location bar pencarian
2. Pilih preferensi pencarian yang digunakan (pada contoh ini dipilih nucleotide) dan ketikkan
juga molekul yang ingin dicari sebagai kata kunci pencarian (pada contoh ini diketikkan INS)
dan diketik GO
3.
Muncul berbagai pilihan sekuens yang berkaitan dengan INS dan dipilih (dengan cara
mengklik kode) sekuens sesuai kebutuhan. Sekuens dengan kode awal NM menunjukkan
sekuens nukleotida sedangkan NP menunjukkan sekuens protein.
4.
Berdasarkan pulihan tersebut maka akan diperoleh tampilan sebagai berikut
5.
Pada tampilan tersebut discroll ke bawah maka akan diperoleh tampilan berikut. Terdapat
beberapa kode yaitu NM dan NP. NM menunjukkan kode untuk memperoleh informasi
mengenai nukleotida, sedangkan NP menunjukkan kode untuk memperoleh informasi
mengenai protein.
6.
Diklik link FASTA untuk memperoleh sekuen nukleotida dari INS dalam bentuk FASTA
7.
Format FASTA yang diperoleh adalah sebagai berikut.
8.
Apabila diklik kode NM dan Gen Bank, maka akan diperoleh informasi mengenai sekuen
nukleotida, sebagai berikut
9.
Kembali pada tampilan berikut, untuk memperoleh data sekuen protein dalam bentuk FASTA
maka diklik bagian NP.
10.
Diperoleh sekuen asam amino dalam format FASTA
Aplikasi BLAST
Langkah-langkah menggunakan BLAST ditunjukkan pada alur metode berikut, pada contoh kali ini
digunakan molekul INS dari Homo sapiens dan Mus musculus:
a. Buka halaman awal NCBI dan pilih BLAST seperti pada tampilan berikut.
b. Pada tampilan tersebut, terdapat beberapa pilihan penyejajaran, antara lain program BLAST
untuk nukleotida dan untuk protein. Pada modul ini deberikan contoh BLAST untuk nukleotida
dari INS Homo sapiens dan Mus musculus. (Pencarian sekuen mengikuti langkah-langkah
sebelumnya)
c. Klik kolom Allign two or more sequences untuk membandingkan 2 sekuen nukleotida.
Kemudian dimasukkan sekuen yang ingin dibandingkan pada kolom yang telah tersedia.
Sekuen yang dimasukkan harus dalam format FASTA.
d. Setelah sekuen dimasukkan diklik tanda BLAST pada bagian bawah, maka akan diperoleh
tampilan sebagi berikut.
e. Pada tampilan tersebut terdapat suatu skala yang menunjukkan tingkat kesamaan sekuaen
yang dibandingkan. Berdasarkan hasil tampilan tersebut terdapat suatu garis berwarna merah,
hal ini menunjukkan bahwa kedua sekuen tersebut memiliki urutan yang sangat mirip yaitu
lebih dari 200 nukleotida. Apabila discroll maka akan diperoleh tampilan sebgai berikut.
Pada tampilan tersebut dapat diartikan sebagi berikut:
Kedua sekuen tersebut memiliki kesamaan lebih dari 83%
Bagian-bagian dari kedua sekuen yang tidak dihubungkan suatu garis vertical, menunjukkan
letak perbedaan dari kedua sekuen tersebut.
B. SEQUANCE ANALYSIS
Primer-BLAST
Software yang dikembangkan dari algoritma PRIMER3 untuk mendesain primer berdasarkan
sequence yang dimasukkan. Software ini dilengkapi dengan fasilitas automatis BLAST urutan
PRIMER hasil prediksi dengan genbank untuk memperoleh primer yag spesifik.
Open Reading Frame Finder (ORF Finder)
Software yang diperuntukkan untuk mengidentifikasi OFR (open reading frames) atau
menterjemahkan urutan DNA menjadi asam amino (gambar di bawah adalah contoh hasil analisis
dengan ORF).
C. TRUKTUR PROTEIN
Beberapa sekuens protein memiliki motif asam amino yang membentuk struktur terkarakteristik.
Prediksi struktur tersebut berasal dari sekuens yang tersedia. Kebanyakan metode yang
digunakan untuk membuat struktur protein dua dimensi maupun tiga dimensi tersebut hanya
memiliki tingkat akurasi 70-75 %. Namun akurasi tersebut dapat meningkat seiring dengan
semakin banyaknya penelitian yang dilakukan di bidang bioinformatika.
Berikut adalah salah satu cara untuk mensearching gambar struktur 3D protein dari salah satu
situs gene bank.
1. Buka halaman utama website NCBI (http://www.ncbi.nlm.nih.gov) dan dipilih preferensi
pencarian yang digunakan pada kolom Resource, kedudian dipilih Domain & Structure.
2. Selanjutnya pada pilihan display dipilih 3D Domain Database
3.
Selanjutnya ketikkan molekul yang ingin dicari sebagai kata kunci pencarian (pada contoh ini
diketikkan INS) dan diklik GO
4. Dipilih gambar protein 3D target dengan mengklik kode gambar. Pada contoh dipilih gambar
dengan kode 2W44
5. Selanjutnya akan muncul gambar 3D yang dicari disertai dengan informasi yang mendukung.
Selanjutnya diklik PDB ID untuk memperoleh gambar 3D dalam format file PDB.
6. Dipilih download file untuk menyimpan struktur 3D protein yang diperoleh. Namun untuk
membuka struktur yang telah diperoleh, komputer atau laptop yang digunakan harus sudah
terinstal software Pymol.
7. File 3D protein yang telah diperoleh dengan program Pymol yang telah diinstal sebelumnya
selanjutnya dibuka, dengan cara klik kanan pada file PDB yang diperoleh, dipilih Open with,
selanjutnya di pilih Pymolwin. Maka akan diperoleh tampilan sebagi berikut.
8.
Agar tampilan yang diperoleh lebih menarik dan mudah dianalisis, dapat diubah dengan cara
klik pada tombol S (kanan atas), dipilih as selanjutnya dipilih cartoon. Berikut merupakan
tampilan struktur protein yang diperoleh.
D. PubChem Overview
PubChem menyediakan informasi mengenai property dan aktivitas biologis dari satu molekul.
Program ini merupakan bagian dari NIH's Molecular Libraries Roadmap Initiative. Informasiinfor,asi yang dapt diakses melalui PubChem meliputi substansi suatu molekul, struktur penyusun,
dan data Bioactivity, semua itu secara berturut-turut ada pada 3 database primer yaitu Pcsubstance,
Pccompound, dan PCBioAssay.
-
PubChem Substance Database berisi informasi umum mengenai struktur kimia, sinonim,
nomor registrasi, deskripsi, website dan referensi terkait yang terhubung dengan PubMed,
struktur 3D protein, dan hasil screening biologis.
Contoh pencarian informasi molekul ‘methotrexate’.
1. Pada kolom search dipilih PubChem Substance, sedangkan pada kolom for diisi
methotrexate, kemudian di klik GO.
2. Hasil dari pencarian tersebut adalah sebagai berikut.
-
PubChem Compound Database berisi gambaran informasi tervalidasi yang disediakan
untuk mendeskripsikan dengan lebih lengkap suatu substansi pada PubChem Substance,
sehingga diketahui property dari suatu substansi atau molekul. Berbagai macam struktur
senyawa yang tersimpan di dalam PubChem Compound Database telah terlebih dahulu
dikelompokkan dan direferensi dengan mengidentifikasi berdasarkan kelompok yang
memiliki kesamaan. Pada PubChem Compound juga disediakan informasi mengenai
property dan deskripsi untuk mencari dan memilih suatu struktur kimia atau sengyawa.
Contoh pencarian suatu senyawa dengan berat molekul antara 200 hingga 300 dalton.
1. Pada kolom search dipilih PubChem Compound, sedangkan pada kolom for diisi
200:300[mw], kemudian di klik GO.
2. Hasil dari pencarian tersebut adalah sebagai berikut.
-
PubChem BioAssay Database berisi informasi mengenai Bio Aktivitas suatu senyawa yang
telah dideskripsikan pada PubChem Substance. PubChem BioAssay juga menyediakan
informasi dari masing-masing hasil uji biologis.
Contoh pencarian informasi senyawa ‘terpenoid’
3. Pada kolom search dipilih PubChem BioAssay, sedangkan pada kolom for diisi
terpenoid, kemudian di klik GO.
3. Hasil dari pencarian tersebut yaitu
PubChem Structure Search
PubChem Structure Search menyediakan bermacam-macam tipe dan pilihan untuk mencari
informasi mengenai suatu bahan kimia. Pada halaman pencarian di bagian atas terdapat beberapa
tabs, masing-masing tabs tersebut dibedakan menurut kategori pencariannya. Pengguna dapat
mencari informasi suatu molekul dengan memasukkan nama molekul, rumus molekul, CID
(PubChem Compuond Identifier), ataupun struktur molekul dengan format tertentu. Beberapa
pilihan pencarian struktur suatu molekul yaitu:
- Name/Text Search
Informasi struktur suatu bahan kimia dapat diperoleh dengan memasukkan nama bahan kimia yang
dimaksud ataupun sinonim dari nama bahan kimia tersebut. Sebagai contoh adalah untuk mencari
informasi
mengenai
aspirin.
Cara mencari informasi struktur suatu molekul berdasarkan berat molekul (molecular weight/mw),
adalah sebagai berikut, misalnya ingin mencari informasi molekul dengan mw antara 100 hingga
200 dalton.
-
Identity and Similarity Search
Identity and Similarity dapat dipilih untuk memperoleh informasi berdasarkan suatu struktur kimia
atau struktur kimia suatu molekul yang serupa dengan molekul lain. Struktur kimia yang ingin
diperoleh informasinya dapat dimasukkan dalam bentuk file tertentu, menasukkan nomor
identifikasi dalam PubChem (CID) ataupun menyusun secara langsung struktur yang dimaksud.
-
Substructure and Superstructure Search
Substructure and Superstructure Search dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai
suatu bahan kimia berdasarkan bagian penyusun bahan kimia atau molekul yang dimaksud. Cara
memasukkan struktur bagian suatu molekul dilakukan sama seprti pada Identity and Similarity
Search.
-
Molecular Formula Search
Molecular Formula Search dapat digunakan untuk memperoleh informasi suatu molekul
berdasarkan rumus kimia molekul tersebut. (Sebagai contoh adalah molekul dengan rumus kimia
C6H6)
PCR (Polimerase Chain Reaction)
Polymerase Chain Reaction telah di gunakan secara luas sebagai salah satu penemuan paling penting abad
ke-20 dalam biologi molekular. PCR telah dipakai untuk mengidentifikasi dan memanipulasi DNA,
mendeteksi infeksi organism (HIV, hepatitis, TBC, HIN5, H1N1), mendeteksi variasi genetic (SSR, RAPD, AFLP)
dan alainnya. PCR melibatkan tiga langkah berikut: denaturasi, annealing dan ekstensi. Pertama, materi
genetik (DNA) didenaturasi, mengubah untai ganda molekul DNA menjadi untai tunggal. Kedua, Primer
kemudian mengikat ke DNA komplementer nya (annealing). ketiga, DNA akan digandakan/diperpanjang
oleh DNA polimerase. Semua langkah ini sangat tergantung dengan suhu/ suhu sensitif yang pada
umumnya terjadi berkisar pada suhu 94oC (denaturasi), 60oC (analling) dan 72oC (elongasi).
Desain primer yang baik sangat penting untuk keberhasilan reaksi PCR. Pertimbangan desain yang penting
yang diuraikan di bawah ini sebagai kunci untuk amplifikasi spesifik dengan hasil tinggi.
1. Panjang Primer:
Hal ini secara umum diterima bahwa panjang optimal primer PCR adalah 18-22 mer (basa).
2. Primer Melting Temperature:
Primer Melting Temperature (Tm) merupakan temperatur yang diperlukan oleh separoh primer dupleks
mengalamai disosiasi/lepas ikatan. Primer dengan Tm berkisar antara 52-58 oC sangat ideal, sedangkan
Tm diatas 65oC akan mengurangi efektifitas anelaing sehingga proses amplifikasi DNA kurang berjalan baik.
Tm ini sangat ditentukan oleh jumlah basa GC (GC contains).
Tm primer dapat dihitung dengan formula:
A. Tm (oC) = ((G+C) x4) + ((A+T) x2))……….secara kasar (kurang akurat)
B. Tm(oC) = {ΔH/ ΔS + R ln(C)} - 273.15……..secara akurat
3.Primer annealing temperature :
The primer annealing temperature (Ta) merupakan suhu yang diperkirakan primer dapat berikatan dengan
template (DNA) dengan stabil (DNA-DNA hybrid stability). Jika suhu aneling tinggi akan menyulitkan
terjadinaya iktan primer dengan DNA template sehingga akan menghasilkan produk PCR yang rendah
(kurang efisien). Namun jika Ta terlalu rendah akan menyebabkan terjasinya penempelan primer pada DNA
tempalt yang tidak spesifik. Ta dapat dihitung dengan menggunakanformula di bawah ini:
Ta = 0.3 x Tm(primer) + 0.7 Tm (product) – 14.9
Tm(primer) = Tm primer
Tm(product) = Tm produk PCR
4. GC Content :
Jumlah Basa G dan C (GC content) di dalam primer yang ideal sekitar 40-60%.
5. GC Clamp :
Jumlah basa G dan C yang terdapat pada 5 basa terakhir (3’) disebut dengan GC clamp. GC clamp yang baik
sekitar 3 basa G/C dan tidan melebihi 5 basa G/C. keberadaan G/C di ujung 3’ primer sangat membantu
terjadinya stabilitas iktan antara primer dengan DNA templat yang diperlukan untuk inisiasi polymerase
DNA (proses PCR).
6. Primer Secondary Structures :
i) Hairpins : terbentuknya struktur loop/hairpin pada primer sebaiknya dihindari, namun sangat
sulit untuk memperoleh primer tanpa memiliki struktur hairpin. Hairpin pada ujung 3' dengan
ΔG(energy yang dipelukan untuk memecah struktur hairpin) = -2 kcal/mol dan hairpin internal
dengan ΔG = -3 kcal/mol masih dapat ditoleransi.
ii) Self Dimer : primer dapat beriktan dengan primer lainnya yang sejenis disebut dengan self-dimer
. self-dimer pada ujung 3' dengan ΔG = -5 kcal/mol dan self- dimer pada bagian internal dengan
ΔG= -6 kcal/mol masih dapat ditoleransi.
iii) Cross Dimer : Primer dapat beriktan dengan primer pasangannya (reverse dan forward) sehingga
disebut cross dimmers. Cross dimmer re homologous. Optimally a 3' end cross dimer with a ΔG of 5 kcal/mol and an internal cross dimer pada ujung 3' dengan ΔG = -5 kcal/mol dan self- dimer pada
bagian internal dengan ΔG= -6 kcal/mol masih dapat ditoleransi.
7. Repeats : primer sebaiknya tidak memiliki urutan pengulangan dari 2 basa dan maksimum pengulangan 2
basa sebanyak 4 kali masih dapat di toleransi. Misalnya ATATATAT.
8. Runs : Primers sebaiknya tidak memiliki urutan basa yang di ulang terus menerus. Pengulangan basa
berurutan sampai 4 kali masih dapat di toleransi. Misalnya AGCGGGGGATGGGG memiliki urutan basa G
diulang 5 kali berturut-turut.
9. Avoid Cross homology : untuk meghindari cross homologi dapat dilakukan dengan cara
menganalisis homologi primer dengan DNA genome melalui BLAST-NCBI.
10. Amplicon Length :
Panjang PCR produk yang ideal berkisar antara 100-500 basang basa.
11. Optimum Annealing temperature (Ta Opt):
Suhu annealing optimum sangat mempengaruhi hasil pcr. TaOpt ini dapat dihitung dengan cara
Ta Opt = 0.3 x(Tm of primer) + 0.7 x(Tm of product) - 25
5. Primer Pair Tm Mismatch:
Perbedaan Tm sepasang primer sebaiknya tidak lebih dari 5oC.
CARA MENDESAIN PRIMER
Berikut langkah-langkah mendesain PRIMER menggunakan NCBI
1. buka website http://www.ncbi.nlm.nih.gov/tools/primer-blast/
2. memsukkan urutan DNA dalam bentuk FASTA ke dalam kotak yang telah disediakan
3. diperoleh hasil seperti di bawah
4. di analisis dimer dan hairpin dengan software OLIGO ANALYZER
5. ORDER PRIMER
Fly UP