...

PP 17/1948, PEMERIKSAAN PESAWAT UAP

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PP 17/1948, PEMERIKSAAN PESAWAT UAP
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 17 TAHUN 1948
TENTANG
PEMERIKSAAN PESAWAT UAP
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:
bahwa berhubung dengan keadaan-keadaan pada waktu sekarang, ongkos guna
mengadakan pemeriksaan pesawat-pesawat uap sudah menjadi begitu tinggi,
sehingga perlu diadakan perubahan-perubahan didalam aturan pembayaran biaya
pemeriksaan pesawat uap, sebagaimana disebut dalam Stoomverordening tahun 1930
(Stbl. 1930 No. 339 serta perubahan-perubahan dan penambahan-penambahannya
semenjak itu);
Mengingat:
Maklumat Menteri Sosial tertanggal 20 Pebruari 1946 Nomor 7 dan pasal 5 ayat 2
Undang-Undang Dasar;
Memutuskan:
Menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai berikut:
PERATURAN PERUBAHAN PEMBAYARAN PEMERIKSAAN PESAWAT UAP.
Pasal 1.
Aturan-aturan tersebut dalam Stoomverordening tahun 1930 (Stbl. tahun 1930
No. 339 serta perubahan-perubahan dan penambahan-penambahannya semenjak itu)
tetap berlaku dengan perubahan-perubahan tersebut dalam pasal-pasal berikut.
Pasal 2.
Aturan-aturan pembayaran biaya pemeriksaan pesawat uap seperti tersebut
dalam artikel 41 Stoomverordening tahun 1930 tersebut dalam pasal 1 Peraturan ini,
dicabut dan diganti sebagai berikut:
(1)
Pemakai pesawat uap dikenakan pembayaran kepada Negara guna pemeriksaan
dan percobaan pesawat uap tadi seperti tersebut dalam artikel 16
Stoomordonnantie 1930, buat tiap-tiap tahun penanggalan sejumlah:
a.
Rp. 50,- biaya tetap untuk tiap-tiap peruk uap, ditambah dengan Rp. 1,untuk tiap-tiap meter persegi luasnya dataran yang dipanasi (Luas Pemanasan).
b.
Rp. 25,- biaya tetap untuk tiap-tiap pesawat uap
lainnya.
(2)
Jumlah-jumlah tersebut dalam ayat (1) dikenakan sepenuhnya untuk tahun
penanggalan, dalam mana akte ijin dari pesawat uap itu berlaku.
(3)
Dengan menyimpang dari ketentuan-ketentuan tersebut dalam ayat 2 pasal ini
maka Kepala Pengawasan Keselamatan Kerja dapat memberikan pembebasan:
a.
kepada seseorang, yang dalam tahun penanggalan berhenti menjadi
pemakai pesawat uap, baik untuk selama-lamanya maupun untuk waktu
sedikit-dikitnya satu tahun, buat bulan-bulan selanjutnya setelah ia berhenti
menjadi pemakai pesawat uap itu. Dalam hal-hal yang khusus Kepala
Pengawasan Keselamatan Kerja dapat mengadakan aturan-aturan lain tentang
waktu pembebasan dengan menyimpang daripada yang telah ditentukan
dimuka.
b.
kepada seseorang, yang didalam tahun penanggalan menjadi pemakai
pesawat uap buat bulan-bulan sebelum ia menjadi pemakai pesawat uap tadi,
dengan ketentuan, bahwa kepadanya akan diberikan pembebasan juga buat
bulan-bulan selanjutnya setelah ia menjadi pemakai pesawat uap itu, bilamana
ia telah membayar biaya pemeriksaan dan percobaanpertama dari pesawat uap
tersebut.
(4)
Semua pembayaran-pembayaran tersebut dalam ayat-ayat dimuka dilakukan
oleh pemakai pesawat uap dengan surat "tanda pembayaran" yang dikirimkan
kepadanya oleh Kantor Pusat Pengawasan Keselamatan Kerja.
Pasal 3.
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1948.
Ditetapkan di Yogyakarta
pada tanggal 10 Agustus 1948.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
.
SOEKARNO.
Diumumkan
pada tanggal 10 Agustus 1948
Wakil Sekretaris Negara,
Menteri Perburuhan dan Sosial,
RATMOKO
KOESNAN.
PENJELASAN
PERATURAN PEMERINTAH NO. 17 TAHUN 1948.
TENTANG
PEMBAYARAN BIAYA PEMERIKSAAN PESAWAT UAP.
Pada tanggal 20 Pebruari 1946 Menteri Sosial dalammaklumatnya No. 7 telah
menetapkan, bahwa Stoomordonnantie 1930 dan Stoomverordening 1930 serta
perubahan-perubahan dan penambahan-penambahannya selanjutnya masih tetap
berlaku.
Dengan begitu maka masih berlaku pula aturan-aturan tentang pembayaran
biaya pemeriksaan pesawat uap, tersebut dalam artikel 41 dalam Stoomverordeing
1930 tadi.
Karena pada waktu dikeluarkannya O. R.I. belum diadakan peraturan peralihan
mengenai jumlah-jumlah biaya pemeriksaan ini, maka sekarang perlu diadakan
peraturan guna kepentingan itu.
Sebelum "Undang-Undang Uap" dapat dikeluarkan, maka perlu diadakan
perubahan pasal 41 dalam Stoomverordeing 1930, agar supaya tercapai perimbangan
antara jumlah biaya pemeriksaan dengan harga alat-alat teknik guna pemeriksaan
pada dewasa ini, yang amat tinggi itu.
PENJELASAN PASAL DEMI PASAL:
Pasal 1.
Cukup terang.
pasal 2.
Pembayaran biaya pemeriksaan dan percobaan itu mempunyai dua
dasar:
1.
biaya tetap.
2.
biaya tidak tetap.
Biaya tetap besarnya menurut banyaknya periuk uap dan pesawat uap
lainnya, tidak melihat besar-kecilnya pesawat tadi, sedangkan
Biaya tidak tetap itu didasarkan atas luasnya datar yang dipanasi atau
besarnya tekanan kerja.
ayat 2.
Cukup terang.
ayat 3.
Aturan tersebut dalam ayat ini diadakan supaya pemakai
pesawat uap tidak diharuskan membayar biaya pemeriksaan buat
sewaktu-waktu ia sebetulnya bukan menjadi "pemakai pesawat uap" lagi.
Dalampada itu kepala Pengawasan Keselamatan Kerja
masih mempunyai kesempatan juga mengadakan peraturan-peraturan yang
lebih adil, dengan mengingat keadaan-keadaan yang senjata-senjatanya.
ayat 4.
Untuk mencapai uniformiteit danmemudahkan administrasi
oleh Kantor Pusat Pengawasan Keselamatan Kerja akan diadakan satu model
"tanda pembayaran".
Pembayaran-pembayaran itu dilakukan di Kas negara atau
Kantor Pos yang berdekatan.
Pasal 3.
Cukup terang.
ECELAKAAN. Perubahan. Peraturan tentang mengadakan perubahan dalam Peraturan
Pemerintah No. 2, tahun 1948 dari hal peraturan kecelakaan.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:
Perlu mengadakan beberapa perubahan didalam Peraturan Pemerintah No. 2 tahun
1948 tentang Peraturan Kecelakaan 1947;
Mengingat:
akan pasal 5 ayat 2 Undang-Undang Dasar, pasal 37 Undang-Undang No. 33 tahun
1947, pasal 1 ayat 2, ayat dan ayat 4, pasal 5, pasal 7 ayat 2 dan pasal 15 Peraturan
Pemerintah No. 2 tahun 1948;
Memutuskan:
Menetapkan peraturan sebagai berikut:
PERATURAN MENGUBAH PERATURAN PEMERINTAH
No. 2 TAHUN 1948.
Pasal 1.
I.
1.
Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 1948 diganti dengan
ayat 2 baru, yang bunyinya sebagai berikut:
Aturan-aturan tersebut dalam Stoomverordening tahun 1930 (Stbl. tahun 1930
No. 339 serta perubahan-perubahan dan penambahan-penambahannya semenjak itu)
tetap berlaku dengan perubahan-perubahan tersebut dalam pasal-pasal berikut.
Pasal 2.
Aturan-aturan pembayaran biaya pemeriksaan pesawat uap seperti tersebut
dalam artikel 41 Stoomverordening tahun 1930 tersebut dalam pasal 1 Peraturan ini,
dicabut dan diganti sebagai berikut:
(1)
Pemakai pesawat uap dikenakan pembayaran kepada Negara guna pemeriksaan
dan percobaan pesawat uap tadi seperti tersebut dalam artikel 16
Stoomordonnantie 1930, buat tiap-tiap tahun penanggalan sejumlah:
a.
Rp. 50,- biaya tetap untuk tiap-tiap peruk uap, ditambah dengan Rp. 1,untuk tiap-tiap meter persegi luasnya dataran yang dipanasi (Luas Pemanasan).
b.
Rp. 25,- biaya tetap untuk tiap-tiap pesawat uap lainnya.
(2)
Jumlah-jumlah tersebut dalam ayat (1) dikenakan sepenuhnya untuk tahun
penanggalan, dalam mana akte ijin dari pesawat uap itu berlaku.
(3)
Dengan menyimpang dari ketentuan-ketentuan tersebut dalam ayat 2 pasal ini
maka Kepala Pengawasan Keselamatan Kerja dapat memberikan pembebasan:
a.
kepada seseorang, yang dalam tahun penanggalan berhenti menjadi
pemakai pesawat uap, baik untuk selama-lamanya maupun untuk waktu
sedikit-dikitnya satu tahun, buat bulan-bulan selanjutnya setelah ia berhenti
menjadi pemakai pesawat uap itu. Dalam hal-hal yang khusus Kepala
Pengawasan Keselamatan Kerja dapat mengadakan aturan-aturan lain tentang
waktu pembebasan dengan menyimpang daripada yang telah ditentukan
dimuka.
b.
kepada seseorang, yang didalam tahun penanggalan menjadi pemakai
pesawat uap buat bulan-bulan sebelum ia menjadi pemakai pesawat uap tadi,
dengan ketentuan, bahwa kepadanya akan diberikan pembebasan juga buat
bulan-bulan selanjutnya setelah ia menjadi pemakai pesawat uap itu, bilamana
ia telah membayar biaya pemeriksaan dan percobaanpertama dari pesawat uap
tersebut.
(4)
Semua pembayaran-pembayaran tersebut dalam ayat-ayat dimuka dilakukan
oleh pemakai pesawat uap dengan surat "tanda pembayaran" yang dikirimkan
kepadanya oleh Kantor Pusat Pengawasan Keselamatan Kerja.
Pasal 3.
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1948.
Ditetapkan di Yogyakarta
pada tanggal 10 Agustus 1948.
Diumumkan
pada tanggal 10 Agustus 1948.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SOEKARNO.
Wakil Sekretaris Negara,
Menteri Perburuhan dan Sosial,
RATMOKO
KOESNAN.
PENJELASAN
PERATURAN PEMERINTAH NO. 17 TAHUN 1948.
TENTANG
PEMBAYARAN BIAYA PEMERIKSAAN PESAWAT UAP.
Pada tanggal 20 Pebruari 1946 Menteri Sosial dalammaklumatnya No. 7 telah
menetapkan, bahwa Stoomordonnantie 1930 dan Stoomverordening 1930 serta
perubahan-perubahan dan penambahan-penambahannya selanjutnya masih tetap
berlaku.
Dengan begitu maka masih berlaku pula aturan-aturan tentang pembayaran
biaya pemeriksaan pesawat uap, tersebut dalam artikel 41 dalam Stoomverordeing
1930 tadi.
Karena pada waktu dikeluarkannya O. R.I. belum diadakan peraturan peralihan
mengenai jumlah-jumlah biaya pemeriksaan ini, maka sekarang perlu diadakan
peraturan guna kepentingan itu.
Sebelum "Undang-Undang Uap" dapat dikeluarkan, maka perlu diadakan
perubahan pasal 41 dalam Stoomverordeing 1930, agar supaya tercapai perimbangan
antara jumlah biaya pemeriksaan dengan harga alat-alat teknik guna pemeriksaan
pada dewasa ini, yang amat tinggi itu.
PENJELASAN PASAL DEMI PASAL:
Pasal 1.
Cukup terang.
pasal 2.
Pembayaran biaya pemeriksaan dan percobaan itu mempunyai dua
dasar:
1.
biaya tetap.
2.
biaya tidak tetap.
Biaya tetap besarnya menurut banyaknya periuk uap dan pesawat uap
lainnya, tidak melihat besar-kecilnya pesawat tadi, sedangkan
Biaya tidak tetap itu didasarkan atas luasnya datar yang dipanasi atau
besarnya tekanan kerja.
ayat 2.
Cukup terang.
ayat 3.
Aturan tersebut dalam ayat ini diadakan supaya pemakai
pesawat uap tidak diharuskan membayar biaya pemeriksaan buat
sewaktu-waktu ia sebetulnya bukan menjadi "pemakai pesawat uap" lagi.
Dalampada itu kepala Pengawasan Keselamatan Kerja
masih mempunyai kesempatan juga mengadakan peraturan-peraturan yang
lebih adil, dengan mengingat keadaan-keadaan yang senjata-senjatanya.
ayat 4.
Untuk mencapai uniformiteit danmemudahkan administrasi
oleh Kantor Pusat Pengawasan Keselamatan Kerja akan diadakan satu model
"tanda pembayaran".
Pembayaran-pembayaran itu dilakukan di Kas negara atau
Kantor Pos yang berdekatan.
Pasal 3.
Cukup terang.
KECELAKAAN. Perubahan. Peraturan tentang
mengadakan perubahan dalam Peraturan Pemerintah No. 2, tahun 1948 dari
hal peraturan kecelakaan.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:
Perlu mengadakan beberapa perubahan didalam Peraturan Pemerintah No. 2 tahun
1948 tentang Peraturan Kecelakaan 1947;
Mengingat:
akan pasal 5 ayat 2 Undang-Undang Dasar, pasal 37 Undang-Undang No. 33 tahun
1947, pasal 1 ayat 2, ayat dan ayat 4, pasal 5, pasal 7 ayat 2 dan pasal 15 Peraturan
Pemerintah No. 2 tahun 1948;
Memutuskan:
Menetapkan peraturan sebagai berikut:
PERATURAN MENGUBAH PERATURAN PEMERINTAH No. 2 TAHUN 1948.
Pasal 1.
I.
1.
Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 1948 diganti dengan
ayat 2 baru, yang bunyinya sebagai berikut:
Aturan-aturan tersebut dalam Stoomverordening tahun 1930 (Stbl. tahun 1930
No. 339 serta perubahan-perubahan dan penambahan-penambahannya semenjak itu)
tetap berlaku dengan perubahan-perubahan tersebut dalam pasal-pasal berikut.
Pasal 2.
Aturan-aturan pembayaran biaya pemeriksaan pesawat uap seperti tersebut
dalam artikel 41 Stoomverordening tahun 1930 tersebut dalam pasal 1 Peraturan ini,
dicabut dan diganti sebagai berikut:
(1)
Pemakai pesawat uap dikenakan pembayaran kepada Negara guna pemeriksaan
dan percobaan pesawat uap tadi seperti tersebut dalam artikel 16
Stoomordonnantie 1930, buat tiap-tiap tahun penanggalan sejumlah:
a.
Rp. 50,- biaya tetap untuk tiap-tiap peruk uap, ditambah dengan Rp. 1,untuk tiap-tiap meter persegi luasnya dataran yang dipanasi (Luas Pemanasan).
b.
Rp. 25,- biaya tetap untuk tiap-tiap pesawat uap lainnya.
(2)
Jumlah-jumlah tersebut dalam ayat (1) dikenakan sepenuhnya untuk tahun
penanggalan, dalam mana akte ijin dari pesawat uap itu berlaku.
(3)
Dengan menyimpang dari ketentuan-ketentuan tersebut dalam ayat 2 pasal ini
maka Kepala Pengawasan Keselamatan Kerja dapat memberikan pembebasan:
a.
kepada seseorang, yang dalam tahun penanggalan berhenti menjadi
pemakai pesawat uap, baik untuk selama-lamanya maupun untuk waktu
sedikit-dikitnya satu tahun, buat bulan-bulan selanjutnya setelah ia berhenti
menjadi pemakai pesawat uap itu. Dalam hal-hal yang khusus Kepala
Pengawasan Keselamatan Kerja dapat mengadakan aturan-aturan lain tentang
waktu pembebasan dengan menyimpang daripada yang telah ditentukan
dimuka.
b.
kepada seseorang, yang didalam tahun penanggalan menjadi pemakai
pesawat uap buat bulan-bulan sebelum ia menjadi pemakai pesawat uap tadi,
dengan ketentuan, bahwa kepadanya akan diberikan pembebasan juga buat
bulan-bulan selanjutnya setelah ia menjadi pemakai pesawat uap itu, bilamana
ia telah membayar biaya pemeriksaan dan percobaanpertama dari pesawat uap
tersebut.
(4)
Semua pembayaran-pembayaran tersebut dalam ayat-ayat dimuka dilakukan
oleh pemakai pesawat uap dengan surat "tanda pembayaran" yang dikirimkan
kepadanya oleh Kantor Pusat Pengawasan Keselamatan Kerja.
Pasal 3.
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1948.
Ditetapkan di Yogyakarta
pada tanggal 10 Agustus 1948.
Diumumkan
pada tanggal 10 Agustus 1948.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SOEKARNO.
Wakil Sekretaris Negara,
Menteri Perburuhan dan Sosial,
RATMOKO
KOESNAN.
PENJELASAN
PERATURAN PEMERINTAH NO. 17 TAHUN 1948.
TENTANG
PEMBAYARAN BIAYA PEMERIKSAAN PESAWAT UAP.
Pada tanggal 20 Pebruari 1946 Menteri Sosial dalammaklumatnya No. 7 telah
menetapkan, bahwa Stoomordonnantie 1930 dan Stoomverordening 1930 serta
perubahan-perubahan dan penambahan-penambahannya selanjutnya masih tetap
berlaku.
Dengan begitu maka masih berlaku pula aturan-aturan tentang pembayaran
biaya pemeriksaan pesawat uap, tersebut dalam artikel 41 dalam Stoomverordeing
1930 tadi.
Karena pada waktu dikeluarkannya O. R.I. belum diadakan peraturan peralihan
mengenai jumlah-jumlah biaya pemeriksaan ini, maka sekarang perlu diadakan
peraturan guna kepentingan itu.
Sebelum "Undang-Undang Uap" dapat dikeluarkan, maka perlu diadakan
perubahan pasal 41 dalam Stoomverordeing 1930, agar supaya tercapai perimbangan
antara jumlah biaya pemeriksaan dengan harga alat-alat teknik guna pemeriksaan
pada dewasa ini, yang amat tinggi itu.
PENJELASAN PASAL DEMI PASAL:
Pasal 1.
Cukup terang.
pasal 2.
Pembayaran biaya pemeriksaan dan percobaan itu mempunyai dua
dasar:
1.
biaya tetap.
2.
biaya tidak tetap.
Biaya tetap besarnya menurut banyaknya periuk uap dan pesawat uap
lainnya, tidak melihat besar-kecilnya pesawat tadi, sedangkan
Biaya tidak tetap itu didasarkan atas luasnya datar yang dipanasi atau
besarnya tekanan kerja.
ayat 2.
Cukup terang.
ayat 3.
Aturan tersebut dalam ayat ini diadakan supaya pemakai
pesawat uap tidak diharuskan membayar biaya pemeriksaan buat
sewaktu-waktu ia sebetulnya bukan menjadi "pemakai pesawat uap" lagi.
Dalampada itu kepala Pengawasan Keselamatan Kerja
masih mempunyai kesempatan juga mengadakan peraturan-peraturan yang
lebih adil, dengan mengingat keadaan-keadaan yang senjata-senjatanya.
ayat 4.
Untuk mencapai uniformiteit danmemudahkan administrasi
oleh Kantor Pusat Pengawasan Keselamatan Kerja akan diadakan satu model
"tanda pembayaran".
Pembayaran-pembayaran itu dilakukan di Kas negara atau
Kantor Pos yang berdekatan.
Pasal 3.
Cukup terang.
Fly UP