...

Setelah pondasi yang berada di dalam tanah, bagian selanjutnya

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Setelah pondasi yang berada di dalam tanah, bagian selanjutnya
TIANG
Setelah pondasi yang berada di dalam tanah, bagian selanjutnya dari struktur Rumah
Bubungan Tinggi adalah tiang. Tiang merupakan struktur vertikal yang menyalurkan beban dari
bagian atap hingga ke pondasi. Tiang dalam arsitektur Bubungan Tinggi dapat dibedakan atas 3 (tiga)
jenis; yaitu (1) tiang utama, (2) tiang tongkat, dan (3) tiang dinding.
Tiang dalam bahasa Banjar disebut juga tihang, yaitu bagian yang menerus dari pondasi
hingga ke balok keliling (ringbalk) di bagian atas dan menjadi stuktur utama yang menyalurkan beban
secara vertikal. Tiang terbuat dari kayu ulin yang utuh tanpa sambungan dan berasal dari sebatang
pohon yang cukup besar dan tanpa cacat. Tiang utama memiliki bentuk persegi panjang dengan
dimensi bagian bawah sekitar 15 x 30 cm dan semakin mengecil ke atas. Tongkat adalah tiang yang
menerus dari pondasi hingga balok lantai atau gelagar, umumnya untuk membagi beban di antara
tiang utama. Panjang dan dimensinya lebih kecil sekitar 5 x 10 cm, namun jumlahnya lebih banyak
dari tiang utama. Sedangkan tiang dinding atau biasa disebut tihang turus tawing merupakan tiang
yang dimulai dari balok lantai hingga ke balok keliling di bagian atas. Tiang ini dibutuhkan untuk
tempat menempelkan papan dinding.
Tiang dan tongkat yang bertumpu pada pondasi ini selanjutnya sampai pada bagian lantai.
Pada bagian ini, tiang utama menjadi tempat bertumpu balok lantai dengan teknik memasukkan balok
lantai ke dalam lubang yang terdapat pada tiang utama (lihat gambar 40). Dengan demikian jumlah
balok lantai ini sebanyak jumlah tiang utama yang menjadi tumpuannya. Kayu yang digunakan untuk
balok lantai ini adalah kayu ulin dengan dimensi 5/10 cm atau 6/12 cm dengan bentangan antara 3,5
m s/d 6 m. Untuk menghindari balok lantai ini melentur karena bentang yang jauh dan beratnya
beban, maka dipasanglah tiang tongkat di bawah balok lantai tersebut. Pemasangan tiang tongkat
umumnya pada tiap jarak 1 m s/d 1,5 m dan dikakukan dengan memberi suai.
Gambar Balok Lantai Dimasukkan ke dalam Tiang
(Sketsa : Ridwan)
Gambar Kontruksi Lantai
Sebelum papan lantai di pasang, terlebih dahulu dipasang balok gelagar di atas balok lantai
yang pertama. Balok gelagar dipasang agar lantai papan ulin tidak melentur karena jarak balok lantai
yang ada cukup jauh. Selain itu, balok lantai yang ada lebih dimaksudkan sebagai struktur bangunan
yang mengikat tiang utama serta sebagai struktur penahan beban hidup bangunan. Untuk itu, tetap
dibutuhkan adanya rangka lantai sebagai bidang dasar ruang.
Gambar Lantai dan Dinding.
Rangka lantai meliputi balok gelagar dan papan penutupnya. Balok gelagar ini berbahan ulin
ukuran 5/7 panjang 4 m dengan jarak pemasangan antara 30 s/d 50 cm. Papan ulin yang dipasang
adalah papan ulin yang lurus, memiliki ketebalan 2-3 cm, dan berasal dari kayu yang sudah tua
usianya. Untuk pemasangannya lantai rumah ada dua macam, yaitu dipasang rapat dan renggang
sekitar 0,25 – 0,5 cm. Sebagian besar ruangan di pasang rapat, kecuali pada ruang surambi sambutan,
bagian belakang ruang anjung jurai kiri1, ruang pedapuran, dan palatar balakang lantainya dipasang
renggang. Hal ini agar air yang sering digunakan pada ruang-ruang tersebut cepat jatuh ke tanah.
Gambar Hubungan Konstruksi Lantai dan Balok Watun
Secara umum pola penempatan tiang utama pada Rumah Bubungan Tinggi terbagi 2 (dua),
yaitu;
1. Pola 1: tiang dipasang berjajar selebar bangunan. Pada posisi seperti ini jumlah tiang mulai dari 4
hingga 6 buah dan dipasang secara simetris terhadap as bangunan. Deretan tiang dipasang tepat
pada bagian perbatasan ruang, dan pada rumah bubungan tinggi di Desa Teluk Selong Ulu
terdapat 9 (sembilan) deret tiang dari bagian pelataran (surambi muka) hingga ke bagian paling
belakang (dinding dapur/padu).
2. Pola 2: tiang dipasang searah panjang bangunan, namun jumlahnya tergantung jarak kolom pola
1. Pada pola kedua ini tiang dapat dilihat sebagai deretan tiang di sisi samping bangunan.
Selanjutnya kolom yang dipasang sejajar lebar bangunan diikat oleh sebuah balok pengikat
yang posisinya tepat setinggi permukaan lantai. Balok pengikat ini biasa disebut dengan watun.
1
Menurut penuturan, bagian ini digunakan untuk membersihkan bayi yang baru lahir atau tempat memandikan mayat.
Tetapi keadaan rumah saat ini sudah tidak ada lagi.
Gambar Ilustrasi Konstruksi Balok Pengikat (watun)
(Sketsa : Ridwan)
Gambar Watun langkahan pada
ruang panampik menuju anjung.
Gambar Watun juntaian /
sandaran pada ruang anjung dan
panampik penangah.
Dalam rumah bubungan tinggi yang dibahas dalam tulisan ini terdapat 9 (sembilan) buah
balok pengikat (watun) sebagaimana jumlah deretan tiang utama yang telah dijelaskan di atas. Pola
ikatan tiang utama ini serupa dengan pola ikatan di bagian pondasi, yaitu diikat oleh balok (log)
pondasi. Konstruksi yang terbentuk ini menjadikan tiang memiliki kestabilan di bagian bawah dan
tengah.
Watun, secara harfiah dapat berarti adanya pembagian bidang datar suatu wilayah/area
menjadi beberapa bagian. Pembagian tersebut dapat berupa adanya perbedaan ketinggian, ataupun
karena perbedaan lainnya. Dalam konteks arsitektur rumah tradisional Banjar ini, bidang datar
(permukaan lantai) yang terbagi (menjadi ruang) disebabkan karena adanya perbedaan ketinggian
lantai yang ditandai/disimbolkan dengan adanya balok. Sehingga balok pembatas yang berada di
perbatasan ketinggian lantai lebih dipahami sebagai balok watun.
Dalam penyebutannya, watun disebut dengan dua cara; pertama, terkait dengan fungsinya
secara konstruksi, yaitu sebagai balok pengikat. Karena teknis pengikatan dengan cara memasukkan
tiang ke dalam lubang yang ada pada watun, maka watun disebut dengan watun barasuk (dapat
diartikan sebagai balok pengikat yang berlubang untuk memasukkan tiang ke dalamnya). Dengan
pengertian ini maka seluruh watun yang ada dapat disebut dengan watun barasuk.
Kedua, terkait dengan fungsi dan sesuai keberadaannya yaitu bisa disebut dengan bermacam
sebutan, antara lain:
1. Watun sambutan. Disebut demikian karena balok pengikat ini terletak di ruang pelataran
(surambi sambutan) yang diidentikkan sebagai tempat tuan rumah berdiri menyambut tamu.
2. Watun langkahan. Disebut demikian karena di atas watun ini terdapat balok yang dipasang
berdiri melintang di tengah pintu dan menyebabkan setiap orang yang akan masuk pintu
melangkahkan kakinya, sehingga disebut watun langkahan.
3. Watun jajakan. Disebut demikian karena umumnya watun yang berada pada ruang panampik ini
tepat pada bagian yang berbeda elevasi lantainya (antara panampik kecil dan panampik tengah).
Dan karena dimensi watun yang cukup besar menyebabkan setiap akan melangkah ke lantai yang
di atas atau di bawahnya kaki akan menginjak watun ini sebagai titik melangkah.
4. Watun juntaian. Watun juntaian dan watun sandaran pada dasarnya adalah watun yang sama dan
terletak pada perbatasan ruang anjung dan ruang panampik penangah. Disebut watun juntaian
karena jika ada anggota keluarga yang duduk di ruang anjung maka kakinya akan menginjak
ruang panampik penangah dan kondisi ini seakan-akan kakinya menjuntai ke bawah. Sebenarnya
perbedaan elevasi lantainya hanya 30 cm sehingga tidak mungkin kaki menjuntai sepenuhnya.
5. Watun sandaran. Sedangkan jika anggota keluarga tersebut duduk di ruang panampik penangah,
maka seakan-akan seperti orang yang bersandar pada dinding setinggi 30 cm tersebut.
Gambar Ilustrasi watun sandaran dan juntaian
6.
Watun padu. Secara spesifik, disebut watun padu karena memang berada di ruang padu atau
pedapuran (dapur).
Mengenai posisi dan penyebutan nama balok pengikat (watun) dapat dilihat pada gambar 51
dengan penjelasan sebagai berikut,
Nama dan Posisi Balok Pengikat
Watun merupakan bagian utama struktur bangunan sebagaimana fungsi sloof pada bangunan
beton sekarang ini. Watun, merupakan balok kayu ulin yang berdimensi besar sekitar 10 x 30 cm dan
memiliki panjang selebar bangunan.
Selanjutnya tiang yang telah diikat oleh watun akan memiliki kestabilan lateral satu arah.
Untuk kestabilan ke arah frontal lainnya masing-masing watun diikat kembali oleh sebuah balok yang
dipasang berdiri yang disebut balok panapih. Prinsip pengikatan balok watun oleh balok panapih ini
serupa sengan prinsip pengikatan tiang oleh balok watun.
Gambar Ilustrasi Konstruksi Balok Pengikat (watun) dan panapih
(Sketsa : Ridwan)
.
Panapih merupakan balok yang berfungsi sebagai pengikat antar balok watun, dan melengkapi
kestabilan lateral satu arah yang diciptakan oleh balok pengikat (watun). Dengan adanya balok
panapih ini maka tercipta kestabilan lateral dua arah. Kesatuan antara tiang, balok pengikat (watun),
dan balok panapih mampu membentuk ikatan yang sangat kuat di bagian tengah struktur bangunan
Rumah Bubungan Tinggi ini. Sedangkan ikatan di bagian bawah terbentuk dari ikatan pondasi dan
balok suai.
Dengan dua titik kestabilan ini, maka konstruksi kayu pada Rumah Bubungan Tinggi sudah
memiliki keunggulan teknis untuk mengatasi kondisi daya dukung lahan yang sangat lemah dan juga
pemecahan masalah teknologi material kayu yang digunakan.
Gambar Konstruksi Balok Pengikat watun (balok panapih).
Pemasangan dinding secara vertikal dengan bantuan tiang turus tawing.
Gambar Kontruksi tihang turus tawing (Sketsa : Ridwan)
Dari seluruh struktur bangunan yang ada, struktur bangunan yang paling utama adalah
delapan buah tiang utama atau tiang guru yang disebut tihang pitugur. Kedelapan tiang ini menerus
dari pondasi hingga ke balok atap. Di bagian bawah tiang guru ini bertumpu pondasi balok (log),
selanjutnya di bagian tengah (lantai) diikat oleh balok watun dan di bagian atas disatukan kembali
oleh balok keliling.
Bagian ini menjadi utama sebab secara konstruksi merupakan bagian yang paling besar dan
berada di tengah bangunan dengan fungsi menyangga konstruksi atap sangga banua sehingga tercipta
bentuk atap yang disebut bubungan tinggi.
Gambar Sketsa Konstruksi 8 buah Tiang Utama (pitugur)
(Sketsa : Ridwan)
Di bagian atas dari tiang guru ini disatukan oleh balok ulin yang dimensinya juga cukup
besar. Masing-masing balok ini menghubungkan sepasang tiang guru, sehingga terdapat empat buah
balok dan disebut sampaian empat. Dengan adanya balok sampaian empat ini maka setiap dua buah
tiang guru terikat menjadi satu dan menjadi stabil. Dan untuk mengikat kedelapan tiang guru, maka
di atas balok sampaian empat ini terdapat lagi tiga balok yang melintang dan mengikat keempatnya.
Selain sebagai pengikat, ketiga balok ini juga berfungsi sebagai tempat bertumpunya rangka kudakuda bubungan tinggi yang disebut sangga ribut.
Gambar Sketsa Konstruksi Kuda-Kuda (Sketsa : Ridwan)
Pada setengah dari empat buah tiang utama (pitugur) yang berada di bagian belakang (di
tengah ruang paledangan) terdapat tempat bertumpu balok lantai. Lantai tambahan yang ada tersebut
bersifat non permanen, dan dapat dibongkar pasang. Ruang tersebut disebut karawat, dan berfungsi
sebagai bagian ruang serupa yang berada di atas panampik padu, yaitu tempat/kamar tidur bagi anak
gadis yang belum berkeluarga (lihat gambar 60).
Sebagai ruang utama, ruang paledangan yang berada di bawah atap bubungan ini ditutup
dengan plafon dari pasangan papan. Sedangkan rangka atap di bagian lainnya terbuka dan dapat
terlihat dengan jelas.
Dari segi bahan yang digunakan, seluruh konstruksi menggunakan bahan kayu ulin yang
memiliki kelas kekuatan dan keawetan yang sangat baik. Dengan bahan kayu ini maka sangat
memungkinkan konstruksi yang dikembangkan adalah konstruksi dengan sistem takikan (barasuk).
Dengan sistem takikan ini, walaupun volume bahan kayu menjadi berkurang akibat ditakik, namun
akan kembali tertutup oleh kombinasi/pasangan dari dua bagian yang saling melengkapi. Sehingga
tidak perlu dikhawatirkan adanya pengurangan/ kehilangan kekuatan kayu pada saat dalam bentuk
terpasang.
Fly UP