...

Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial - Puisi

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial - Puisi
Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial - Esai - Horison Online
Ditulis oleh Jamal D. Rahman
Rabu, 12 September 2012 11:05 -
Denny JA memperkenalkan apa yang disebutnya “puisi esai”, dengan menerbitkan buku puisi A
tas Nama Cinta
(2012)
.
Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignas Kleden membicarakan puisi
Denny, dalam buku itu juga. Sebagai ilmuwan sosial, esais, dan kolumnis, Denny merasa
medium-medium “lama” (esai, kolom, karya ilmiah) tidak memadai lagi untuk mengungkapkan
gagasan, perhatian dan kepeduliannya atas fenomena dan fakta sosial. Sementara itu, puisi
yang umum dipahami orang pun tidak memuaskannya pula, sebab puisi sulit dipahami atau
diapresiasi oleh khalayak luas. Tapi bagaimanapun puisi dipandangnya sebagai bentuk karya
yang bisa menyentuh dan menggugah perasaan orang. Atas dasar itu, Denny mencari medium
baru yang pas untuk mengemukakan gagasan-gagasannya. Bagi Denny, puisi esai adalah
medium baru yang dipandangnya tepat untuk itu.
Apa sesungguhnya puisi esai? Denny JA (2012) telah menetapkan kriterianya, yaitu: “Pertama,
ia mengeksplor sisi batin, psikologi dan sisi human interest pelaku. Kedua, ia dituangkan
dalam larik dan bahasa yang diikhtiarkan puitik dan mudah dipahami. Ketiga, ia tak hanya
memotret pengalaman batin individu tapi juga konteks fakta sosialnya. Kehadiran catatan kaki
dalam karangan menjadi sentral. Keempat, ia diupayakan tak hanya menyentuh hati
pembaca/pemirsa, tapi juga dicoba menyajikan data dan fakta sosial.” Dengan kriteria tersebut,
kiranya apa yang dimaksud dengan “puisi esai” cukup jelas. Karenanya, di sini kita tidak akan
mendiskusikan istilah “puisi esai” yang memadukan dua jenis karangan (puisi dan esai) yang
sesungguhnya berbeda
itu.
Apa yang dihasilkan Denny JA dengan konsep puisi esai adalah puisi-puisi naratif tentang
fenomena atau fakta sosial dalam Atas Nama Cinta. Karena naratif, maka puisi-puisi di situ
relatif panjang. Buku itu
sendiri berisi 5 puisi
esai, yang masing-masing merupakan puisi naratif, lengkap dengan catatan kaki sebagai
keterangan dan terutama sebagai sumber rujukan tentang fenomena, data, dan fakta sosial
yang menjadi perhatian sang penyair dalam puisi-puisinya. Isu-isu sosial yang dibicarakan
adalah diskriminasi terhadap faham agama, diskriminasi gender, diskriminasi terhadap etnis
Tionghoa, diskriminasi terhadap kaum homoseks, dan diskriminasi terhadap agama.
Kisah-kisah ini diceritakan dari atau menggali sudut pandang para korban, sehingga kisah-kisah
itu mengharukan. Dengan demikian, secara implisit puisi esai Denny memberikan simpati
kepada para korban berbagai diskriminasi sosial.
1/4
Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial - Esai - Horison Online
Ditulis oleh Jamal D. Rahman
Rabu, 12 September 2012 11:05 -
Melihat kriteria puisi esai dan apa yang dihasilkannya (Atas Nama Cinta), segera tampak pula
bahwa ada satu hal penting yang tidak disebutkan dalam kriteria namun muncul dalam puisi
esai, yaitu cerita. Semua puisi esai dalam
Atas Nama Cinta
adalah cerita tentang korban-korban diskriminasi sosial yang ditulis dalam susunan larik.
Dengan demikian, apa yang disebut puisi esai sebenarnya merupakan puisi naratif, yakni puisi
yang mengandung cerita dengan sejumlah tokoh, alur, latar, konflik, dan selesaian yang sejauh
mungkin diusahakan menyentuh, menggugah, dan atau mengejutkan.
Bentuk puisi sejenis itu tentu saja sudah kita kenal dalam puisi kita, misalnya puisi Ajip Rosidi,
Taufiq Ismail, dan terutama puisi-puisi balada Rendra. Hanya saja, puisi esai Denny lebih
spesifik mengangkat isu-isu diskriminasi sosial. Kecuali itu, berbeda dengan beberapa penyair
yang menulis puisi naratif, Denny menekankan arti penting catatan kaki pada puisi esainya.
Denny menulis, “Karangan [puisi esai] itu ditulis dalam bentuk puisi kisah cinta, namun dipenuhi
catatan kaki tentang fakta. Ini sebuah eksperimen yang menjembatani fiksi dan fakta. Detail
kisahnya fiksi. Tapi kenyataan sosial dari isu itu fakta.” Begitu pentingnya catatan kaki,
sehingga Denny mengatakan pula, “Kehadiran catatan kaki dalam karangan [puisi esai itu]
menjadi sentral.”
Demikianlah Denny JA menekankan pentingnya catatan kaki dan mengangkat isu-isu sosial
dalam puisi esai. Apa artinya itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya konsep puisi
esai kita lihat dari sosok Denny JA sendiri sebagai seorang sarjana ilmu sosial atau seorang
aktivis sosial. Dalam arti tertentu, dalam menulis puisi esai Denny JA bekerja dengan cara kerja
atau cara pandang seorang ilmuwan sosial —sebab dia memang seorang sarjana ilmu sosial,
seorang ilmuwan sosial. Bagi seorang ilmuwan sosial, data dan fakta sosial adalah hal primer.
Sebaliknya, imajinasi adalah skunder, betapapun imajinasi relevan dalam rangka memahami
dan menafsirkan fenomena dan fakta sosial. Dalam arti itu imajinasi "hanya" digunakan dalam
konteks merespon atau menyikapi fakta sosial. Karena merupakan hal primer, maka fakta
sosial harus diriset dengan disiplin (ilmu) tertentu agar diperoleh fakta yang sesungguhnya.
Dalam "puisi esai", riset itu harus ditunjukkan dengan jelas, tidak ambigu, dan dinyatakan
dengan sumber akurat. Kerja kesarjanaan (akademis) mewujudkannya dalam catatan kaki,
yang di samping merupakan keterangan tambahan, juga adalah sumber referensi yang sahih
dan terpercaya.
Dalam puisi esai, catatan kaki juga berfungsi menjelaskan konteks atau fakta sosial dari kisah
korban diskriminasi sosial yang merupakan fiksi. Itulah yang oleh Denny disebut eksperimen
untuk menjembatani fakta dan fiksi. Maka, fiksi harus diletakkan atau didasarkan pada fakta
atau kenyataan sosial yang sejauh mungkin diperoleh melalui riset. Fiksi tidak boleh
mengawang-ngawang di langit imajinasi belaka, melainkan harus dikaitkan langsung dengan
fakta dan kenyataan sosial. Sekali lagi ini merupakan cara pandang seorang ilmuwan sosial:
2/4
Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial - Esai - Horison Online
Ditulis oleh Jamal D. Rahman
Rabu, 12 September 2012 11:05 -
meskipun dia sedang berimajinasi dan menciptakan sebuah fiksi, dia tidak lantas meninggalkan
fakta sosial, sebab baginya fakta sosial merupakan hal primer. Fakta tak bisa dinomorduakan
bahkan di ranah fiksi sekalipun.
Pada hemat saya, karya sastra selalu merupakan dialektika antara fakta dan fiksi. Karya sastra
merupakan hasil dari pengolahan kreatif atas keduanya. Fakta akan merangsang fiksi, dan fiksi
akan menemukan relevansi aktualnya dalam kenyataan-kenyataan partikular yang mungkin
berbeda-beda. Tapi dalam puisi (dan sastra), fakta (sosial) bersifat skunder. Yang primer
adalah fiksi, imajinasi dan terutama bahasa sebagai alat artikulasinya dalam menanggapi fakta
(sosial). Ini tidak berarti sastrawan tidak meriset fakta sosial yang menarik perhatiannya dan
akan diresponnya lewat karyanya. Seorang sastrawan pastilah meriset dan mendalami fakta
yang menarik perhatiannya. Hanya saja, cara kerja risetnya tidak menggunakan metodologi
ketat seperti di dunia ilmu/ akademis. Katakanlah riset seorang penyair adalah sebuah riset
intuitif atas fenomena atau fakta partikular. Maka, penyair tidak selalu (merasa perlu)
menyertakan catatan kaki pada puisi sosialnya.
Lalu apa itu fakta bagi seorang penyair dan apa pula fakta bagi seorang ilmuwan sosial? Atau
tepatnya, fakta macam apa yang menjadi perhatian seorang penyair dan fakta macam apa
yang menjadi perhatian seorang ilmuwan sosial? Bagi penyair, fakta sekecil apa pun
merupakan hal penting sejauh ia menggugah perasaan dan hatinya. Dan, fakta sesederhana
apa pun dapat menggugah jiwa seorang penyair. Maka D. Zawawi Imron, misalnya, menulis
puisi “Sungai Kecil” yang diilhami oleh sebuah sungai kecil yang pernah dilihatnya. Sementara
itu, fakta yang akan menarik perhatian seorang ilmuwan sosial pertama-tama dan yang utama
adalah fakta atau fenomena sosial. Dalam konteks itulah kita bisa memahami kenapa puisi esai
Denny JA selalu dikaitkan dengan fakta sosial.
Dalam menggagas puisi esai, sosok Denny JA sebagai seorang sarjana ilmu sosial yang juga
seorang aktivis tampaknya mengandung konsekuensi lebih jauh. Kalau sebagai seorang
ilmuwan sosial Denny menaruh perhatian pada fakta dan kenyataan sosial, sebagai seorang
aktivis tampaknya Denny menaruh perhatian dan simpati pada korban isu-isu (diskriminasi)
sosial. Tidak mengherankan kalau dari 5 puisi panjangnya dalam Atas Nama Cinta dia sama
sekali tidak berbicara tentang korban bencana alam, misalnya. Korban diskriminasi sosial
pastilah lebih menarik perhatiannya ketimbang korban bencana alam yang paling dahsyat
sekalipun. Demikianlah maka korban diskriminasi sosial akibat faham keagamaan lebih menarik
perhatiannya tinimbang korban tsunami misalnya. Gay sebagai korban diskriminasi sosial lebih
menggugah kepeduliannya tinimbang misalnya korban gempa bumi 9,7 skala richter. Tentu ini
tidak berarti dia tidak punya simpati dan solidaritas terhadap korban bencana alam.
3/4
Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial - Esai - Horison Online
Ditulis oleh Jamal D. Rahman
Rabu, 12 September 2012 11:05 -
Bagaimanapun, dengan beberapa alasan, gagasan puisi esai bukan saja menarik, melainkan
juga penting. Pertama, puisi esai adalah sebuah percobaan: menulis puisi sosial dengan cara
kerja atau cara pandang seorang ilmuwan/ akademisi sosial. Cara pandang tersebut
menempatkan fakta sosial sebagai hal primer, sementara puisi justru menempatkan fiksi (dan
imajinasi) sebagai hal primer. Dengan demikian, dalam puisi esai fakta dan fiksi sama
pentingnya. Fiksi dikaitkan langsung dengan fakta partikular, tanpa menutup kemungkinan
kaitan fiksi itu sendiri dengan fakta-fakta partikular lainnya yang relevan.
Kedua, sudah jamak diketahui bahwa puisi Indonesia mutakhir didominasi oleh puisi liris, yaitu
puisi yang berbicara tentang perasaan, masalah, dan pengalaman pribadi penyair, bahkan
seringkali perasaan yang sangat pribadi. Sesungguhnya mengherankan juga bahwa di tengah
begitu karut-marutnya berbagai masalah sosial kita, kebanyakan puisi kita justru berbicara
tentang masalah-masalah pribadi. Kiranya gagasan puisi esai akan mendorong para penyair
dan banyak pihak untuk menulis puisi naratif, yang dengan sendirinya merupakan puisi sosial.
Hal itu sekaligus merefleksikan tanggung jawab sosial puisi kita atas kenyataan-kenyataan
Indonesia yang dalam banyak aspek terasa pahit dan diskriminatif pula.
Ketiga, karena bersifat naratif, puisi esai niscaya akan lebih komunikatif dengan lebih banyak
kalangan. Dalam konteks itu, menyemarakkan puisi naratif berarti mendekatkan puisi dengan
sebanyak mungkin kalangan. Puisi esai akan mempersempit jarak antara puisi dengan
publiknya. Memang, puisi kian marak di mana-mana. Tapi bagaimanapun harus diakui bahwa
sesungguhnya ada jarak dan kesenjangan yang cukup jauh antara khalayak dengan puisi, yang
untuk sebagian disebabkan oleh kekurangpedulian para penyair atas perhitungan
komunikatif-tidaknya puisi dengan penikmatnya.
Tentu saja, untuk melihat seberapa besar sumbangan gagasan tersebut bagi khazanah puisi
Indonesia, kita masih harus menunggu perkembangan dari percobaan ini selanjutnya.
Perkembangan mana berkaitan dengan lingkup pengaruh puisi esai itu sendiri dan terutama
capaian estetikanya yang membanggakan. Joomla SEO by AceSEF
4/4
Fly UP