...

MENINGKATKAN PERCAYA DIRI MELALUI LAYANAN BIMBINGAN

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

MENINGKATKAN PERCAYA DIRI MELALUI LAYANAN BIMBINGAN
Jurnal Penelitian Tindakan
Bimbingan dan Konseling
Vol. 1, No. 3, September 2015
ISSN 2442-9775
MENINGKATKAN PERCAYA DIRI MELALUI LAYANAN BIMBINGAN
KELOMPOK DENGAN TEKNIK DISKUSI KELOMPOK
Novi Wahyu Hidayati dan Hassana Nofari
IKIP PGRI Pontianak
Abstrak
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan gambaran peningkatan percaya diri siswa dalam
berinteraksi di kelas melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi kelompok pada
siswa. Subjek berjumlah 6 siswa berdasarkan skor terendah skala percaya diri. Tehnik
pengumpulan data yang digunakan berupa skala sikap, daftar cek (checklist), dan wawancara.
Penelitian dilaksanakan dua siklus melalui tahap perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan antara sebelum dan sesudah tindakan.
© 2015 Jurnal Penelitian Tindakan Bimbingan & Konseling
Kata Kunci: Bimbingan Kelompok; Diskusi Kelompok; Percaya Diri
PENDAHULUAN
Merupakan suatu tantangan yang sangat besar bagi para siswa untuk berkompetisi dalam
meningkatkan kualitasnya sebagai seorang siswa. Tentunya bukan hanya siswa saja yang merasa
mempunyai tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas tersebut. Akan tetapi, semuanya harus
memberikan dukungan kepada siswa agar mampu menatap hari yang lebih cerah lagi. Baik itu
dukungan dari guru yang membimbing mereka di sekolah atau orang tua yang memberikan
dukungan di rumah mereka. Salah satu cara peningkatan kualitas tersebut antara lain dengan cara
membangkitkan semangat percaya diri siswa dalam berinteraksi di dalam kelas.
Percaya diri penting artinya karena individu dapat memandang diri dan dunianya. Percaya
diri dapat mempengaruhi perilaku individu dan juga tingkat kepuasaan yang diperoleh dalam
hidupnya. Setiap individu pasti memiliki percaya diri tetapi mereka tidak tahu apakah percaya diri
yang di milikinya itu negative atau positif. Siswa yang memiliki percaya diri positif ia akan memiliki
dorongan mandiri yang lebih baik, siswa dapat mengenal serta memahami dirinya sendiri sehingga
dapat berperilaku efektif dalam berbagai situasi.
Menurut Santrock (2003) “percaya diri adalah dimensi evaluative yang menyeluruh dari
diri. Percaya diri disebut juga sebagai harga diri atau gambaran diri”. Orang yang percaya diri
biasanya mempunyai inisiatif, kreatif dan optimis terhadap masa depan, mampu menyadari
kelemahan dan kelebihan diri sendiri, berfikir positif, menganggap semua permasalahan pasti ada
jalan keluarnya. ”Siswa yang percaya diri dalam bertanya dan menjawab pertanyaan berdampak
pada kemampuan siswa dalam berinteraksi di dalam kelas. Sebagai indikator peningkatan interaksi
siswa didalam kelas adalah siswa aktif saling berkomunikasi antar siswa dan guru baik secara lisan
maupun tertulis dengan cara mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan memberikan
gagasan sehingga siswa dapat berinteraksi di dalam kelas secara maksimal.
27
Jurnal Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Vol. 1, No. 3, September 2015
Peranan sekolah, dalam hal ini guru dalam upaya menumbuhkan rasa percaya diri siswa
sangat penting. Hamalik (2008) mengemukakan bahwa: “Selain lingkungan keluarga, sekolah
adalah lingkungan sosial siswa yang bertanggung jawab untuk menjadikan siswa sebagai pribadi
yang memiliki wawasan, sikap dan keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat”.
Guru yang bertanggung jawab mengajar, mendidik, membimbing dan membina siswa adalah orang
tua kedua bagi siswa. Dalam hal ini, kemampuan berinteraksi sebagai suatu pengetahuan, sikap dan
keterampilan perlu untuk diajarkan dan ditanamkan oleh guru, agar dapat dimiliki oleh siswa dan
diimplementasikannya dengan baik dan benar.
Berkaitan dengan permasalahan yang di hadapi siswa, perlu di lakukan upaya untuk
membangun percaya diri. Cara membangun percaya diri dapat mengadakan kegiatan yang
memanfaatkan dinamika kelompok. Seperti yang dikemukakan oleh Mungin (2005) “Bimbingan
kelompok merupakan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada individu untuk
membahas masalah atau topik umum secara luas dan mendalam yang bermanfaat bagi anggota
kelompok.”Siswa yang mengikuti kegiatan bimbingan kelompok dapat secara langsung berlatih
menciptakan dinamika kelompok. Yaitu berlatih berbicara, menanggapi, mendengarkan dan
bertenggang rasa dalam suasana kelompok.
Kegiatan ini merupakan tempat pengembangan diri dalam rangka belajar berinteraksi
secara positif dan efektif dalam kelompok kecil. Dan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok,
siswa sebagai anggota kelompok akan bersama-sama membahas topik-topik masalah mengenai cara
meningkatkan percaya diri dan menciptakan dinamika kelompok yang dapat di jadikan tempat
untuk meningkatkan percaya diri. Diskusi kelompok adalah teknik bimbingan kelompok yang
dilaksanakan dengan maksud agar para siswa anggota kelompok mendapat kesempatan untuk
memecahkan masalah secara bersama-sama. Surya (2011) menyatakan diskusi kelompok
merupakan suatu teknik dalam bimbingan kelompok yang murid-muridnya mendapat kesempatan
memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid mendapat kesempatan untuk menyumbang
pikiran dalam memecahkan suatu masalah.
Berdasarkan hasil observasi prapenelitian, masih terdapat siswa-siswi yang belum memiliki
percaya diri dalam berinteraksi di kelas sebagaimana yang diharapkan. Percaya diri yang rendah
muncul, sehingga siswa tersebut tidak mampu menunjukkan atau mengeluarkan kemampuan
sesungguhnya secara optimal. Selain itu siswa tersebut tidak aktif dalam berkomunikasi antar siswa
dan guru, baik secara lisan maupun tulisan. Mereka malu dalam mengajukan pertanyaan, menjawab
pertanyaan dan memberikan gagasan.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapat
informasi secara objektif mengenai gambaran umum percaya diri siswa dalam berinteraksi di dalam
kelas sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok, pelaksanaan bimbingan kelompok dengan
teknik diskusi kelompok untuk meningkatkan percaya diri siswa dalam berinteraksi di kelas, Serta
mengetahui peningkatan percaya diri siswa dalam berinteraksi di kelas setelah diberikan layanan
bimbingan kelompok dengan teknik diskusi kelompok.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan (action research) yaitu
salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses
pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Penelitian tindakan ini
menggunakan alat pengumpul data yang berupa lembar observasi berupa data checklist, skala sikap,
dan wawancara. Subjek yang dikenakan tindakan berjumlah enam siswa yang memiliki karakteristik
percaya diri rendah kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Bina Utama Pontianak.
28
Jurnal Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Vol. 1, No. 3, September 2015
Data yang dianalisis yaitu komponen pelaksanaan kegiatan yang terdiri dari komponenkomponen yaitu : 1). Tahap pembentukan (proses pemasukan diri peserta ke dalam kelompok); 2).
Tahap peralihan (pemantapan kesiapan anggota kelompok untuk mengikuti kegiatan); 3). Tahap
kegiatan (tumbuhnya dinamika dalam kelompok); 4). Tahap pengakhiran (adanya kesan mendalam
bagi peserta kelompok setelah mengikuti kegiatan). Setelah dianalisis, peneliti membuat suatu
perencanaan selanjutnya terhadap tindakan yang akan dilakukan untuk menghentikan tindakan jika
dianggap sudah berhasil. Untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil skala sikap
menggunakan persentase, hasil observasi menggunakan rumus rerata atau mean, sementara untuk
hasil wawancara akan diinterpretasikan secara rasional dan naratif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan pada kondisi awal keenam siswa yang memiliki skor skala percaya diri
paling rendah sebelum adanya tindakan dan sesudah mendapat tindakan layanan bimbingan
kelompok dengan teknik diskusi kelompok dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Hasil inventori skala sikap pada kondisi awal
Hasil inventori skala sikap
Nama
Subjek
Skor
%
KTG
MS
10
33,33
KB
RT
13
43,33
CB
SG
11
36,66
KB
SH
12
40
KB
SP
10
33,33
KB
YS
11
36,66
KB
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pada skala I yaitu kondisi awal sebelum
tindakan, semua subjek memiliki rasa percaya diri yang rendah dengan persentase 33,33% sampai
43,33%. Subjek MS (33,33%), SG (36,66%), SH (40%), SP (33,33%), YS (36,33%) berada pada
kategori kurang baik, dan hanya RT (43,33%) yang berada di kategori cukup baik. Dari data ini
sangat mendukung diberikannya tindakan berupa layanan bimbingan kelompok dengan teknik
diskusi kelompok untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam berinteraksi di kelas.
Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
Tindakan pada siklus I direncanakan selama dua pertemuan. Pertemuan dilakukan di ruang
bimbingan kelompok. Pertemuan pertama untuk menyusun jadwal pelaksanaan layanan bimbingan
kelompok dengan teknik diskusi kelompok, menentukan tempat untuk pelaksanaan tindakan,
menyiapkan satuan layanan bimbingan kelompok, menyiapkan seluruh bahan. Pertemuan kedua
melaksanakan layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi kelompok.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini meliputi empat tahapan yaitu tahap
pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran.
a. Tahap pembentukkan
Pada tahap pembentukkan pertama diperoleh nilai rata rata 1,83 dengan persentase 45,75
Kategori cukup, sehingga bisa diambil kesimpulan kegiatan kelompok pada tahap pembentukan ini
29
Jurnal Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Vol. 1, No. 3, September 2015
masih belum berhasil atau efektif, peserta kelompok masih belum semangat dalam mengikuti
kegiatan kelompok. Hal ini Nampak pada siswa yang masih terlihat diam dan pasif karena merasa
enggan mengikuti bimbingan kelompok. Pada pertemuan kedua sebagian besar peserta kelompok
mulai menampakkan sikap keakraban hal ini terlihat dengan anggota kelompok sudah mau
berbicara dan bercerita tentang masalah dan mau memberikan pendapatnya, sehingga terlihat
perubahan sikapnya lebih baik dari tahap pertama, dapat dilihat dengan naiknya presentase dari
sebelumnya, dengan nilai rata rata 2,0 persentase 50 % di katagorikan cukup baik.
b. Tahap peralihan
Pada tahap peralihan ini pertemuan pertama diperoleh nilai rata rata 1,50 dengan
presentase 37,5% Masih tergolong kategori kurang baik, pemimpin kelompok masih belum secara
penuh memberikan motivasi kepada peserta kelompok, sehingga tahap peralihan mengalami
peningkatan walaupun tidak terlalu signifikan, dengan nilai rata rata 2,5 persentase 62,5 % Dengan
katagori baik.
c. Tahap kegiatan
Berdasarkan perolehan nilai rata rata dan perolehan presentase bisa disimpulkan tahap
kegiatan pada pertemuan pertama masih belum terlaksana dengan baik hal itu bisa dilihat pada nilai
rata rata 1,33 persentase 33,25 % katagori kurang baik ditunjukkan juga dengan peserta kelompok
masih belum leluasa dalam mengungkapkan permasalahan yang dialami, sedangkan pada siklus I
pertemuan kedua dengan rata rata 2,11 presentase 52,73 % kategori cukup dengan adanya
peningkatan pada siklus kedua.
d. Tahap pengakhiran
Pertemuan pertama pada tahap pengakhiran ini peserta kelompok masih belum
menunjukkan minat mengikuti kegiatan secara penuh, peserta kelompok belum menampakkan
kesan kesan atas kegiatan yang telah dilaksanakan karena dinamika kelompok yang diharapkan
masih jauh dari apa yang direncanakan, dan belum efektifnya pengakraban yang dilakukan
pemimpin kelompok dengan nilai rata rata 1,66 Dengan presentase 41,50 % katagori cukup baik,
tapi masih belum mengarahkan pada katagori sangat baik, tapi pada pertemuan kedua presentase
sedikit mengalami perubahan walaupun tidak banyak dengan pencapaian nilai rata rata 2,67 dengan
presentase 66,75 % kategori baik di tunjukkan adanya sedikit antusias dari peserta didik.
3. Observasi
Observer melakukan pengamatan terhadap kegiatan pelaksanaan layanan bimbingan
kelompok dengan teknik diskusi kelompok pada siklus I.
4. Refleksi
Dari hasil refleksi pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi
kelompok pada siklus I diperoleh yaitu peserta kelompok masih belum menunjukkan minat
mengikuti kegiatan secara penuh, peserta kelompok belum menampakkan kesan kesan atas kegiatan
yang telah dilaksanakan karena dinamika kelompok yang diharapkan masih jauh dari apa yang
direncanakan, dan belum efektifnya pengakraban yang dilakukan pemimpin kelompok.
Hasil pelaksanaan tindakan siklus I meliputi 4 tahapan dapat dilihat lebih jelas pada
Gambar 1.
30
Jurnal Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Vol. 1, No. 3, September 2015
70
60
50
66,75
62,5
45,75
52,73
50
37,5
40
41,5
33,25
30
pertemuan pertama
pertemuan kedua
20
10
0
pembentukan
peralihan
kegiatan inti pengakhiran
Gambar 1. Grafik presentase bimbingan kelompok Siklus I
Siklus II
1. Perencanaan Tindakan
Pertemuan siklus II direncanakan 2 kali pertemuan. Rencana tindakan pada siklus II pada
dasarnya sama dengan siklus I, hanya ada perbedaan yaitu pelaksanaan layanan bimbingan
kelompok dengan teknik diskusi kelompok dilakukan dengan cara meningkatkan minat anggota dan
keakraban dari anggota kelompok.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini meliputi empat tahapan yaitu tahap
pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran.
a. Tahap pembentukan
Pada tahap pembentukan pertama siklus II ini nilai rata rata yang diperoleh 2,67 Dengan
persentase 66,75 % Dengan katagori baik. hal ini di tunjukkan pada adanya tingkat percaya diri
siswa ke arah yang lebih baik. Dilihat dari kemauan siswa untuk bergabung dengan sesama
temannya, dan mulai untuk tampil dengan penuh percaya diri, dan pengakraban dari masing masing
anggota kelompok. Sedangkan pada pertemuan kedua siklus II memperoleh nilai dan persentase
meningkat sedikit dari pertemuan pertama ini menunjukkan persentase 3,0 Dengan nilai rata rata 75
dengan katagori sangat baik. terlihat dari perubahan ke arah lebih baik lagi dari pertemuan pertama
anggota kelompok sudah mau hadir tepat waktu dan lebih antusias dan semangat dalam mengikuti
kegiatan bimbingan kelompok.
b. Tahap peralihan
Tahap peralihan ini mendapatkan nilai rata rata 2,5 dengan persentase 62,5 % katagori I
baik bisa dilihat dari sedikit perubahan yang terjadi, peserta kelompok melaksanakan refleksi
bersama sama walaupun belum terlaksana dengan baik, tetapi sudah ada perubahan sedikit lebih
baik dari sebelumnya. Sedangkan pada tahap peralihan pertemuan kedua siklus II persentase yang
diperoleh meningkat secara signifikan dengan perolehan nilai rata rata 3 dengan persentase 75
katagori sangat baik.
c. Tahap kegiatan
Pada tahap kegiatan pertemuan pertama siklus II ini sudah mendapat katagori baik dengan
nilai rata rata 2,55 dengan persentase 63,75%. Adanya keleluasaan dalam mengungkapkan masalah
yang dirasakan dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Pada siklus II pertemuan kedua
nilai dan presentase yang diperoleh dari pertemuan pertama, memperoleh nilai 2,77 presentase
69,25 dengan kategori baik. Dengan pencapaian tersebut bisa dilihat dari perubahan perilaku peserta
dalam keleluasaan mengungkapkan masalah dan dalam menerima masukkan dari teman lain, serta
terbuka dalam mengungkapkan masalah yang dialami supaya meringankan beban pikiran sehingga
lebih baik dari sebelumnya.
31
Jurnal Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Vol. 1, No. 3, September 2015
d. Tahap pengakhiran
Pada tahap pengakhiran pertemuan pertama siklus II memperoleh nilai 3 dengan persentase
75% mendapat kategori sangat baik dengan adanya antusias serta minat untuk melanjutkan
bimbingan kelompok berikutnya. Setelah melaksanakan pertemuan pertama selanjutnya pertemuan
kedua siklus II pada tahap pengakhiran memperoleh nilai rata rata 3 dengan presentase 75% dengan
kategori sangat baik bisa lihat dengan adanya respon yang positif dan rasa ingin dilaksanakan
kegiatan bimbingan kelompok lagi, karena peserta kelompok masih sangat membutuhkan tempat
curahan hati atas masalah yang menimpa mereka sehingga pertemuan dikemudian hari bisa
dilaksanakan kembali.
3.
Observasi
Observer melakukan pengamatan terhadap kegiatan pelaksanaan layanan bimbingan
kelompok dengan teknik diskusi kelompok pada siklus II.
4. Refleksi
Pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok pada pertemuan pertama dan kedua pada siklus
II sudah terlaksana dengan baik, hal ini dilihat dari semangat peserta kelompok dalam pelaksanaan
serta berjalannya dengan baik dinamika kegiatan kelompok.
Hasil pelaksanaan tindakan siklus II meliputi 4 tahapan dapat dilihat lebih jelas pada
Gambar 2 berikut:
90
75
66,75
70
75
62,5
75 75
69,25
63,75
50
pertemuan pertama
30
pertemuan kedua
10
-10 pembentukan
peralihan
kegiatan inti pengakhiran
Gambar 2. Persentase kegiatan bimbingan kelompok siklus II
Sedangkan data observasi per individu siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
Tabel 2. Data hasil observasi penilaian percaya diri siswa Siklus I dan Siklus II
Jumlah Checklist "ya"
Siklus
Subyek
I
II
I
II
II
II
MS
2
4
5
5
SG
1
4
5
SH
2
3
SP
3
RT
YS
Jumlah
aspek
yang
diamati
%
Siklus
I
II
Peningkatan
siklus I
Peningkatan
siklus II
I
II
I
II
7
28,57
57,14
71,42
71,42
28,57
0
6
7
14,28
57,14
71,42
85,71
42,86
14,29
4
6
7
28,57
42,85
57,14
85,71
14,28
28,57
2
5
5
7
28,57
42,85
71,42
71,42
14,28
0
2
4
4
5
7
28,85
57,14
42,85
71,42
28,29
28,57
3
5
5
6
7
42,85
71,42
71,42
85,71
28,57
14,29
32
Jurnal Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Vol. 1, No. 3, September 2015
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa pada siklus I subyek penelitian dengan inisial MS
mengalami peningkatan 28,57% sedangkan pada siklus II tidak mengalami peningkatan. SG pada
siklus 1 mengalami peningkatan dengan persentase 42,86% sedangkan pada siklus kedua mengalami
peningkatan menjadi 14,29%. SH pada siklus I mengalami peningkatan 14,28% sedangkan pada
siklus kedua menjadi 28,57%. SP mengalami peningkatan pada siklus I 14,28% sedangkan pada
siklus II tidak mengalami peningkatan. RT mengalami peningkatan dengan persentase pada siklus I
28,29% sedangkan siklus II 28,57%. Dan YS mengalami peningkatan dengan persentase pada siklus
1 28,57% dan pada siklus II 14,29%. Penilaian yang dilakukan berdasarkan hasil observasi pada
perubahan perilaku siswa menunjukkan peningkatan. Terjadinya peningkatan dapat dilihat pada
tabel diatas sehingga menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok yang dilaksanakan
dinyatakan berhasil.
SIMPULAN
Dari hasil penelitian tindakan yang telah dilaksanakan oleh peneliti, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa Layanan bimbingan kelompok yang dilakukan dapat meningkatkan Percaya Diri
Siswa Dalam Berinteraksi. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian sebagai berikut: Gambaran
percaya diri siswa dalam berinteraksi di dalam kelas siswa sebelum dilaksanakan layanan bimbingan
kelompok tergolong Kurang baik. Tingkah laku yang kurang baik tersebut adalah memiliki percaya
diri yang rendah dalam berinteraksi di dalam kelas seperti tidak mampu menunjukkan atau
mengeluarkan kemampuan sesungguhnya secara optimal, tidak aktif berkomunikasi antar siswa dan
guru secara lisan, malu mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan memberikan gagasan.
Tahapan bimbingan kelompok adalah tahap pembentukkan, peralihan, kegiatan,dan
pengakhiran. Pada tahap pembentukkan anggota kelompok sudah memahami suasana dalam
bimbingan kelompok akrab dengan sesama kelompok dan pemimpin kelompok, serta melibatkan
diri dalam kegiatan. Tahap peralihan anggota kelompok sudah siap dan bersemangat memasuki
tahap yang selanjutnya. Di tahap kegiatan kelompok anggota kelompok berdiskusi untuk
memecahkan masalah. Pada tahap pengakhiran anggota kelompok berani menyampaikan pendapat
dan tidak ragu ragu. Percaya diri siswa dalam berinteraksi di dalam kelas setelah diberikan layanan
bimbingan kelompok mengalami peningkatan yang mencapai kategori cukup baik. Hal ini terlihat
pada tingkah laku siswa yang sudah mulai percaya diri dalam berinteraksi di dalam kelas seperti
mulai berani mengemukakan pendapat, dan tidak malu untuk tampil di depan kelas.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kepada Kepala Sekolah (M. Ashar Sapto OK, ST), Guru Bimbingan dan Konseling (Dedy
Risnanto, S.Pd), Siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan Bina Utama Pontianak diucapkan terima
kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:Bumi Aksara
Santrock, Jhon W. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja . Jakarta:Erlangga
Surya, M (2011). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: PPB-UPI.
Wibowo, Eddy Mungin. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: Unnes Press
33
Fly UP