...

SECRET CHURCH 6 Salib Kristus Dr. David Platt Ada dua

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

SECRET CHURCH 6 Salib Kristus Dr. David Platt Ada dua
SECRET CHURCH 6
Salib Kristus
Dr. David Platt
Ada dua bagian lain lagi yang akan kita bahas. Yang pertama adalah mengenai maksud dari
salib. Apa maksud dari salib. Ada satu Allah dan satu pengantara antara Allah dengan manusia,
dan manusia Kristus Yesus yang menjadikan diri-Nya sebagai tebusan, untuk semuanya. Untuk
semuanya, yang adalah kesaksian yang diberikan pada saat yang tepat. Dan pertanyaannya
adalah untuk siapakah Kristus mati? Saya sudah menyiapkan sejak awal ketika membahas lima
pokok dalam Kalvinisme, saat anda melihat mengenai kehancuran total. Pilihan tak bersyarat,
anugerah yang tidak bisa ditolak, dan kesetiaan orang-orang percaya dan di tengah-tengahnya
anda melihat ada pendamaian terbatas. Dan mungkin ini bagian yang paling banyak
diperdebatkan. Karena itu, pertanyaannya adalah, untuk siapakah Kristus mati?
Tetapi ada juga kesepakatan di sini. Kecukupan dari kematian Kristus, dan saya mengatakan hal
ini disepakati oleh orang-orang Kristen Injili. Orang-orang yang percaya kepada Injil, orang-orang
Kristen yang mengikuti Injil. Kecukupan dari kematian Kristus, bahwa pembayaran Kristus di
kayu salib atas dosa sudah cukup untuk seluruh dunia dan karena itu tidak diragukan lagi tentang
kenyataan bahwa kematian Kristus memang cukup untuk kita. Cukup bagi dosa untuk
seberapapun banyaknya manusia, untuk manusia dalam jumlah yang tak terbatas. Kecukupan
dari kematian Kristus.
Hanya itu, kecukupan itu, yang menjadi tantangan untuk kita perhatikan, hanya mereka yang
percaya kepada Kristus untuk keselamatannya, yang akan kita sebut dengan dua cara, orangorang pilihan dari antara jemaat. Ketika kita menyebut orang-orang pilihan, dan ini memang
istilahnya, ini adalah sebuah istilah rohani. Seringkali ketika kita berpikir tentang pilihan, ada
banyak pemikiran yang muncul dan ini memang bagian dari diskusi Kalvinisme, tetapi orangorang pilihan adalah penjelasan yang sering dipakai oleh Perjanjian Baru mengenai jemaat. Jadi,
hanya mereka yang percaya kepada Kristus untuk keselamatannya yang bisa mengalami hasil
dari kayu salib. Dan karena itu hanya kalau anda percaya kepada Kristus sajalah kemudian kayu
salib dan kenyataan kayu salib, penebusan, pendamaian, menjadi efektif di dalam kehidupan
anda oleh iman di dalam Kristus.
hal itu tidak terjadi secara otomatis. Ini bukan universalisme, contohnya, yang mengatakan
bahwa karena Kristus sudah melakukannya, maka secara otomatis semua manusia sudah
diselamatkan. Tidak demikian, anda harus percaya kepada Kristus dan kemudian harus ada
pemberitaan tentang kematian Kristus. Injil harus diberitakan kepada semua orang. Saya rasa
kita bisa mengatakan bahwa kebanyakan orang akan sepakat dengan pemahaman ini.
Lalu bagaimana dengan bagian yang masih didiskusikan, apakah Allah di dalam Kristus,
memang memiliki maksud untuk sedapat mungkin menyelamatkan semua manusia? Apakah
Allah di dalam Kristus memang memiliki maksud untuk mungkin menyelamatkan semua
manusia? Atau, apakah Allah di dalam Kristus memang bermaksud untuk dengan pasti
menyelamatkan beberapa orang saja? Maksudnya adalah orang-orang pilihan, jemaat. Apakah
Allah memang sengaja bermaksud menyelamatkan semua manusia? Apakah Kristus mati untuk
membuat keselamatan itu mungkin bagi semua manusia, atau Kristus mati untuk membuat
keselamatan itu mungkin bagi sebagian manusia saja? Apakah Yesus membayar hutang dosa
semua manusia atau apakah Yesus hanya membayar hutang dosa dari orang-orang pilihan saja.
Kata yang dipakai oleh Kalvinisme yang sering menjadi perdebatan adalah kata penebusan
terbatas. Saya tidak akan memakai kata itu sekarang. Namun saya akan memakai istilah lain,
bukannya penebusan itu terbatas atau tidak terbatas, saya akan menjelaskan penebusan umum
atau penebusan tertentu. Kata terbatas, menurut saya, bukan kata yang tepat. Bahkan bagi
orang-orang yang meyakini hal itu, yang berpegang kepada pengajaran itu, ataupun yang tidak
meyakininya, karena siapa yang ingin membatasi keindahan dari apa yang kita lihat ada di kayu
salib itu? Tidak ada orang yang mau membatasinya. Dan dalam kaitan dengan hal itu, maka
perlu dilihat bahwa hanya mereka yang percaya kepada Kristus yang akan diselamatkan oleh
hasil dari apa yang terjadi di kayu salib, dan dengan demikian bisa dikatakan tentang adanya
pengudusan yang terbatas. Selama tidak semua manusia akan menerima keselamatan, maka
itu berarti ada batasan tentang siapa saja yang akan diselamatkan, dan hal itu di dasarkan
kepada iman.
Kembali kepada istilah penebusan umum dan tertentu. Jadi, saya ingin menggali kedua sisi itu.
Penebusan umum. Ini yang akan kita lihat pertama-tama, penebusan umum. Mereka yang
mengatakan bahwa Kristus mati untuk membayar dosa manusia, dan dengan itu memungkinkan
semua manusia di dunia ini untuk bisa diselamatkan. Inilah yang kita maksud dengan
penebusan umum. Beberapa kebenaran Alkitab menjelaskan hal ini. Allah mengasihi semua
manusia dan ingin semua orang diselamatkan. Anda melihat bagian-bagian yang berbicara
mengenai Kristus mati bagi dosa dan anda akan melihat bahasa yang universal di sana.
Yohanes 3:16, dengan jelas memberikan contoh, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” 1 Petrus 3:9, Ia tidak menghendaki
seorangpun binasa, Ia menjadi korban yang memperdamaikan bagi dosa-dosa kita, 1 Yohanes 2.
Dan bukan hanya itu, tetapi juga segala dosa dunia.
I Yohanes 4:14, kita melihat dan bersaksi bahwa Bapa mengutus Anak-Nya untuk menjadi
Juruselamat bagi dunia. Dunia, kata ini muncul 28 kali di dalam 1 Yohanes, paling sering
menunjuk kepada gambaran universal, Kristus mati untuk menjadi Juruselamat dunia. Dan
bahkan teks yang sangat jelas, 1 Timotius 2:5 dan 6, yang bisa dikatakan menjadi teks pondasi,
untuk semuanya. Jadi, penebusan umum mengatakan, Allah mengasihi semua orang dan
menghendaki agar semua manusia diselamatkan. Kristus mati bagi segala dosa seluruh
manusia. Kalau Allah sungguh-sungguh mengasihi semua orang dan sungguh-sungguh ingin
semua orang diselamatkan, maka sangat sulit dipahami bahwa Ia akan memberikan Kristus
untuk membayar hutang dosa hanya bagi beberapa orang saja. Kasih Allah yang universal
menuntut adanya pembayaran yang universal akan dosa. Anak Domba Allah menanggung
segala dosa dunia. Yohanes 1:29.
Kita meletakkan pengharapan kita pada Allah yang hidup yang adalah Juruselamat dari semua
manusia khususnya mereka yang percaya. Dan itulah tempatnya anda melihat semua manusia,
gambaran yang universal dan khususnya orang-orang yang percaya, sehingga Ia adalah
Juruselamat semua manusia, bukan hanya orang-orang percaya saja. Orang-orang percaya
ditambahkan ke dalam gambaran ini tetapi Ia adalah Juruselamat bagi semua manusia. Ibrani
2:9. Hal yang sama, dengan anugerah Allah Ia bisa merasakan maut untuk semua manusia. 2
Petrus 2:1 mengatakan, “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat
Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan
pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa
yang telah menebus mereka.” Para guru palsu ini, nabi palsu dan penyesat, Allah sudah
menebus mereka. Kristus sudah menebus mereka.
Jadi Kristus menebus, dalam sisi tertentu di sini, dengan jelas, semua manusia, termasuk guru
palsu dan nabi palsu. Kebenaran selanjutnya, iman kepada Kristus sangat penting agar hasil
dari kematian Kristus bisa diterapkan di dalam kehidupan kita. Kita sudah berbicara mengenai
hal itu, orang-orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan kehidupan kekal. Akuilah dengan
mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan dan percayalah di dalam hatimu bahwa Allah
membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan kamu akan diselamatkan. Dan akhirnya, Injil
harus diberitakan kepada semua manusia. Karena semua manusia memiliki kemungkinan untuk
datang kepada keselamatan. Injil harus diberitakan kepada semua manusia karena setiap orang
memiliki kesempatan untuk datang kepada keselamatan.
Jelas sekali, pergi dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Roh Kudus menyertaimu sampai ke
ujung dunia. Bagaimana kita bisa memberitakan, sungguh-sungguh memberitakan Injil kepada
semua manusia kalau Injil itu tidak tersedia bagi semua manusia. Kalau Kristus hanya mati bagi
beberapa orang saja, maka bagaimana kita bisa pergi kepada semua manusia dan mengatakan
bahwa Kristus mati bagi mereka. Dan inilah yang dikatakan Yesus, Ia mengatakan, “Marilah
kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Ia mengatakan, semua yang letih lesu. Ia tidak mengatakan sebagian dari kamu yang letih lesu.
Jadi gambaran di sini adalah adanya penebusan umum yaitu Allah merancang akan terjadinya
keselamatan, merancang adanya kayu salib untuk membuat keselamatan menjadi mungkin bagi
semua orang. Inilah penebusan umum. Penebusan tertentu, saya akan menjelaskan bagian ini.
Kristus mati untuk membayar hukuman atas dosa-dosa orang-orang yang terpilih. Ini membuat
adanya kepastian bahwa orang-orang itu akan diselamatkan. Dan di sinilah gambaran yang
akan ditunjukkan di dalam penebusan tertentu itu. Allah mengasihi orang-orang yang terpilih dan
Ia merancang akan keselamatan mereka di kayu salib. Ia mengasihi orang-orang yang terpilih
dan merancang keselamatan mereka di kayu salib. Efesus 1. Ini bagian yang cukup panjang,
tetapi yang kita lihat di dalam Efesus 1:3-14, adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Perhatikan apa
yang dikatakan di sana.
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” kita akan mulai dengan Bapa, “yang dalam
Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam
Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di
hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk
menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia.” Jadi Bapa memilih kita, menentukan kita, mengangkat kita sebelum dunia
dijadikan, untuk menjadi milik-Nya.
Kemudian ia berbicara mengenai Kristus, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh
penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkanNya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Anda melihat ada beberapa kalimat yang
mengatakan, “Di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula
ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala
sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya --supaya kami, yang sebelumnya telah
menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Dan kemudian
dijelaskan mengenai Roh Kudus. “Di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan
dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita
sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk
memuji kemuliaan-Nya.”
Jadi yang anda lihat adalah, berbicara dari sisi penebusan tertentu, anda melihat Bapa, yang
sebelum dunia diciptakan sudah memilih, menetapkan kasih-Nya, menentukan, adanya orangorang yang akan diangkat menjadi umat-Nya. Anda melihat adanya Roh Kudus yang menjadikan
hal itu sebagai kenyataan, memeteraikan mereka sampai kekekalan. Kalau Bapa dan Roh
Kudus memusatkan perhatian kepada orang-orang yang tertentu lalu mengapa Anak-Nya mati
bagi semua manusia? Bapa sudah memilih, menentukan orang-orang tertentu. Yang dijelaskan
di dalam Efesus 1 adalah bahwa sang Anak mati bagi semua manusia, artinya sang Anak mati
bagi orang-orang yang tidak ditentukan sebelumnya oleh Bapa untuk diangkat sebagai anakanak-Nya. Ini akan membuat adanya perbedaan antara Bapa dengan Anak. Sang Anak
berusaha membuat keselamatan itu tersedia bagi semua manusia, tetapi Bapa, sungguhsungguh hanya menentukan, memanggil, mengangkat beberapa orang saja, orang-orang yang
tertentu.
Jadi, gambaran mengenai penebusan tertentu ini mengatakan, Allah mengasihi orang-orang
pilihan dan merancangkan keselamatan mereka di kayu salib. Kristus mati untuk secara pasti
menyelamatkan umat-Nya. Matius 1:21 mengatakan Ia akan diberi nama Yesus karena Ia akan
menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka, bukan mungkin akan menyelamatkan, atau
kalau bisa menyelamatkan, tetapi Ia akan menyelamatkan umat-Nya. Yohanes 6:37, Yesus
sendiri mengatakan, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan
barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Kehendak Bapa-Ku adalah agar semua
orang memandang kepada Anak dan percaya kepada-Nya dan mereka akan mendapatkan
kehidupan kekal dan Aku akan membangkitkan mereka di akhir jaman. Aku tidak akan
melepaskan barangsiapa yang diberikan Bapa kepada-Ku. Aku tidak akan melepaskan satupun
dari mereka. Jadi barangsiapa ditarik Bapa kepada-Ku, tidak akan Kulepaskan.
Ada orang-orang yang pasti di sini. Kisah Para Rasul 20:28, jagalah kawanan domba Allah, yang
sudah dibeli Kristus dengan darah-Nya. Dia yang menebus jemaat-Nya. Suami, kasihilah
isterimu, sebagaimana Kristus mengasihi Gereja dan memberikan diri-Nya bagi mereka. Bagi
gereja. Titus 2, Yesus Kristus sendiri memberikan diri-Nya bagi kita untuk menebus kita dari
segala kejahatan dan memurnikan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri, yang rindu berbuat
apa yang baik.
Sekarang, inilah yang paling sering diangkat oleh pendukung ajaran penebusan tertentu, yaitu
bahwa tidak semua orang diselamatkan, tidak semua orang diselamatkan. 2 Tesalonika 1:7-9
menjelaskan hal ini, tidak semua orang diselamatkan. Mari kita menggali hal ini. Tidak semua
orang diselamatkan. Jadi, kalau Kristus mati untuk membayar hutang semua dosa manusia,
maka itu berarti bahwa Ia sudah melunaskan hutang dosa semua manusia. Lalu, mengapa
masih ada saja orang-orang yang masuk neraka? Kalau ia sudah melunasi hutang dosa semua
manusia, mengapa mereka masih masuk neraka?
Mungkin anda berkata, yah itu terjadi karena mereka tidak percaya. Tetapi, ketidakpercayaan
adalah dosa, kita harus ingat itu, dan dosa-dosa mereka termasuk dosa ketidakpercayaan itu
sudah dibayar lunas. Jadi, kalau dosa ketidakpercayaan sudah dibayar lunas, lalu bagaimana
ada manusia yang masih masuk neraka sementara semua dosa mereka sudah dihapuskan,
termasuk dosa ketidakpercayaan? Itulah yang dijelaskan Ibrani 2:17, “Itulah sebabnya, maka
dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam
Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa
seluruh bangsa.”
Itulah gambaran dari pendamaian. Ibrani 2, mengadakan penebusan. Dosa-dosa sudah ditebus.
Murka Allah sudah dipuaskan. Bagaimana mereka masih harus masuk neraka kalau dosa-dosa
mereka sudah dibayar lunas dan murka Allah sudah dipuaskan? Itu yang biasanya ditanyakan
oleh orang-orang yang mendukung ajaran pendamaian tertentu. Dan mereka kemudian akan
memberikan tiga pilihan. Yang pertama, kalau Kristus memang menahan murka Allah atas
segala dosa semua manusia, dan kalau itu yang terjadi, maka semua manusia akan masuk ke
surga, karena Yesus sudah menanggung hukuman mereka. Tidak ada lagi murka, semua sudah
dipikul-Nya. Jadi tidak lagi murka yang harus dialami. Dan semua manusia masuk ke surga.
Tetapi itu pandangan universalisme yang salah. Mari kita langsung melihat pilihan yang ketiga,
dan baru setelah itu melihat pilihan yang kedua. Pilihan yang ketiga, Kristus hanya menanggung
murka Allah untuk sebagian dosa sebagian manusia saja. Untuk pilihan ini, kalau Yesus hanya
menanggung sebagian dosa sebagian manusia, maka tidak akan ada manusia yang bisa masuk
surga. Kita tahu bahwa ini juga tidak benar.
Jadi, ini menyisakan satu pilihan lagi, Kristus menanggung segala dosa sebagian manusia.
Segala dosa sebagian manusia. Mari kita menggalinya lebih mendalam lagi, apakah Allah selalu
menggenapkan tujuan-Nya? Kalau Allah selalu menggenapkan tujuan-Nya, dan Kristus mati
dengan tujuan untuk menyelamatkan semua manusia, lalu mengapa ada orang-orang yang tidak
diselamatkan? Kalau demikian, apakah Yesus menggenapi maksud-Nya atau tidak? Tidak ada
rencana-Mu yang gagal, kata Ayub. Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan
Kulaksanakan. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah
merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya, Yesaya 46. John Owen pernah
mengatakan, “Kalau Kristus mati untuk semua tetapi tidak semua diselamatkan, maka Kristus
tidak efektif dalam kematian-Nya, dan tidak mungkin demikian.” Kalau Kristus mati bagi semua
tetapi tidak semua diselamatkan, maka tujuan-Nya tidak digenapi.
Apakah anda mau
mengatakan bahwa salib Kristus tidak cukup untuk menyelamatkan? Bahwa Ia mati untuk
membuatnya menjadi mungkin tetapi kemudian Ia hanya bisa duduk dan menunggu bahwa suatu
saat ada orang yang mau mengambil tawaran-Nya itu?
Apakah itu melemahkan gambaran Allah di dalam Kristus. Kristus dengan demikian mati dengan
tujuan untuk menyelamatkan orang-orang tertentu, orang-orang yang terpilih. Ia mengatakan,
Akulah Gembala yang baik yang menyerahkan nyawa untuk domba-dombanya. Ketika anda
melihat Yohanes 17, maka anda akan melihat Ia mengatakan, Aku bukan berdoa untuk dunia,
tetapi untuk mereka yang Kau berikan kepada-Ku. Doa-Ku bukan untuk mereka. Aku berdoa
untuk mereka yang akan percaya kepada-Ku karena pemberitaan mereka. Ia berdoa untuk
orang-orang Kristen di sini. Yesus tidak berdoa untuk semua orang. Apakah Yesus mati untuk
orang-orang yang menolak didoakan-Nya? Apakah Ia berdoa untuk mereka sebelum Ia naik ke
kayu salib? Ia berdoa untuk orang-orang tertentu.
Anda melihat Roma 8 dan gambarannya adalah bahwa Bapa tidak akan menyayangkan AnakNya, tetapi akan memberikan-Nya kepada kita, apakah ada yang tidak akan diberikan-Nya
dengan penuh rahmat kepada kita? Ia berbicara tentang Yesus Kristus yang mati. Lebih dari itu,
Dialah yang dibangkitkan dan duduk di sebelah kanan Bapa menjadi syafaat bagi kita. Siapa
yang bisa memisahkan kita dari Dia? Ketika anda melihat bagian akhir dari penjelasan ini, tidak
ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.
Dikatakan bahwa Allah memberikan Anak-Nya bagi kita semua. Tetapi keseluruhan gambaranNya adalah siapakah yang akan mendakwa orang-orang yang sudah dipilih Allah. Kalau Allah
yang membenarkan, siapa yang bisa menyalahkan mereka?
Apakah anda melihat hal itu? Ketika disana dibicarakan mengenai umat Allah maka maksudnya
adalah orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah dan yang sudah memiliki Kristus sebagai
Juruselamat, yang duduk di sebelah kanan Bapa dan menjadi syafaat bagi kita. Sekarang,
orang-orang yang mendukung pandangan penebusan terbatas akan mengatakan bahwa iman di
dalam Kristus adalah cara yang dipakai Allah dan Kristus membawa anugerah bagi orang-orang
yang terpilih untuk diselamatkan. Di sinilah pembahasan menjadi semakin menarik, dan bahkan
sering menjadi panas. Perhatikan Kisah Para Rasul 18. Ketika Apolos mau mengunjungi
Akhaya, saudara seiman di sana menguatkan dia dan menulis kepada orang-orang percaya di
sana untuk menyambut dia.
Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna
bagi orang-orang yang percaya. Mereka percaya kepada kasih karunia Allah. Kasih karunia,
karena hal itu diberikan kepada anda oleh Kristus, bukan hanya untuk percaya kepada-Nya,
tetapi juga untuk menderita bersama dengan Dia. Dikaruniakan kepada anda untuk percaya
kepada-Nya, dan iman itulah karunia itu. Yang terjadi bukanlah Allah sudah melakukan
beberapa hal di dalam Kristus sampai di suatu tempat dan kemudian kita harus menyambungnya
dengan iman. Yang terjadi, yang dijelaskan oleh para pendukung pandangan penebusan
tertentu adalah bahwa Alkitab mengatakan kalau iman itu juga termasuk pemberian. Anda tidak
bisa beriman dan percaya kalau anda tidak memiliki karunia untuk beriman itu. Kalau anda tidak
diberi iman, maka anda tidak akan percaya. Anda akan mati di dalam dosa anda. Bagaimana
anda bisa hidup, kalau anda mati?
Anda membutuhkan anugerah sebagai karunia bahkan untuk beriman. G.I. Packer pernah
mengatakan, “Yang satu mengatakan keselamatan bergantung kepada pekerjaan Allah. Yang
lain menganggap hal itu sebagai pekerjaan manusia. Yang satu mengatakan bahwa iman adalah
bagian dari karunia keselamatan yang diberikan Allah. Yang lainnya menganggap bahwa iman
adalah peranan manusia untuk mencapai keselamatan. Yang satu memberikan semua
kemuliaan atas karya keselamatan sepenuhnya kepada Allah. Yang satunya membagi
kemuliaan itu, sebagian untuk Allah, sebagian untuk manusia.” Jadi Allah, bisa dikatakan seperti
membangun mesin keselamatan, dan sekarang manusia mengoperasikan mesin itu dengan
percaya.
Berbicara mengenai penebusan umum, ia melanjutkan, kita ingin memberitakan Kristus sebagai
Juruselamat, namun kemudian kita justru mengatakan bahwa Kristus, sesudah menjadikan
keselamatan itu mungkin terjadi, kemudian membiarkan diri kita menjadi juruselamat bagi diri kita
sendiri. Hampir sampai terjadi, kita ingin memuliakan anugerah penyelamatan dari Allah dan
kuasa keselamatan dari Kristus, dengan mengatakan bahwa kasih penebusan dari Allah
menjangkau kepada semua manusia dan Kristus sudah mati untuk menyelamatkan semua
manusia. Kemudian untuk menghindari universalisme, kita harus memangkas semua yang
sudah kita katakan sebelumnya dan menjelaskan bahwa bagaimanapun, apapun yang sudah
dilakukan oleh Allah dan Kristus tidak akan bisa menyelamatkan kita kalau kita tidak
menambahkan sesuatu atasnya.
Dan Packer juga menambahkan, faktor yang dianggap sangat menentukan dalam keselamatan
kita sebenarnya adalah kepercayaan kita. Di dalamnya seolah-olah kita mau mengatakan,
Kristus menyelamatkan diri kita dengan pertolongan kita. Dan artinya, kalau sungguh-sungguh
dipikir, adalah kita menyelamatkan diri kita sendiri dengan pertolongan Kristus. Sebenarnya iman
adalah cara yang dipakai Allah di dalam Kristus memberikan anugerah, kepada orang-orang
yang terpilih untuk diselamatkan, dan sama sekali bukan peranan kita terhadap karya
keselamatan. Segala sesuatu adalah peranan Allah. Dan karena itu, Injil harus diberitakan
kepada semua manusia karena beberapa di antara mereka pasti akan diselamatkan.
Memang ada juga orang-orang yang sampai terlalu jauh dalam pemahaman penebusan terbatas
atau penebusan tertentu sampai mereka mengatakan kita tidak perlu memberitakan Injil dan kita
tidak sampai sejauh hal itu. Banyak juga di sepanjang sejarah, para penginjil yang sangat luar
biasa, seperti Charles Spurgeon, George Whitefield yang dengan penuh semangat dan kesetiaan
memberitakan Injil dan pada saat yang sama meyakini adanya penebusan tertentu. Dan karena
itu, mereka akan mengatakan, ya, kita memberitakan Injil kepada semua manusia karena kita
tidak tahu yang mana di antara mereka yang terpilih. Mereka yang terpilih akan memberikan
respons yang baik karena anugerah Allah. Dan karena itu kita memberitakan Injil kepada semua
orang dengan keyakinan bahwa seseorang akan diselamatkan, tetapi kita tidak tahu yang mana,
sehingga kita memberitakan Injil kepada semua orang.
Gabungkan keduanya, dan anda akan melihat di dalam sejarah gereja sesuatu yang sangat
menarik. Saya sudah menyebutkan tentang George Whitfield tadi, dia adalah seorang penginjil.
Pada masa yang sama, muncul juga John Wesley, yang juga seorang penginjil. Keduanya
memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini.
Saya harap mereka berdua masih ada saat ini dan bisa menjelaskan banyak tentang pandangan
mereka, pasti sangat menarik. Baik, mari kita menyimpulkan apa yang sudah kita bicarakan.
Dan tentu saja tidak ada penjelasan singkat untuk hal ini, apalagi hanya sekedar memilih ya atau
tidak. Dengan sangat serius saya mengajak kita melihat bagian ini dengan kerendahan hari
karena sudah ada banyak saudara seiman yang ada sebelum kita yang memaparkan banyak
pandangan yang luar biasa mengenai kedua sisi dalam pendekatan ini, dan saya yakin sekali,
Allah sudah memakai orang-orang yang hebat, meski dalam keberbedaan pandangan mengenai
hal ini. Tetapi ini yang akan saya lakukan, sebagai seorang hamba Tuhan, saya akan
menjelaskannya dengan melakukan pendekatan yang paling dekat dengan Alkitab, sedekat yang
saya bisa. Ada beberapa persepsi mengenai kehendak Allah.
Ada beberapa persepsi mengenai kehendak Allah. Saya ingat kita pernah membahasnya ketika
kita belajar mengenai siapakah Allah. Dan saya ingin kita memperhatikan apa yang saya
katakan. Adalah kehendak Allah untuk meremukkan Yesus dan membuat Dia menderita. Kisah
Para Rasul 2:23, pikirkan mengenai salib. Yesus diserahkan kepada para penyiksa-Nya, orangorang yang menganiaya-Nya, dan sesuai dengan maksud dan pengetahuan Allah dan bagi anda,
dengan pertolongan orang-orang jahat yang membunuh-Nya dengan memakukan-Nya di kayu
salib. Jadi, adalah kehendak Allah bahwa Kristus harus disalibkan. Apakah ini berarti bahwa
Allah menghendaki orang-orang itu melakukan pembunuhan?
Banyak persepsi mengenai kehendak Allah. Pikirkan mengenai hal itu dengan dua cara, di
dalam Alkitab. Yang pertama, kehendak Allah yang dinyatakan, apa yang disampaikan-Nya. Ini
adalah Firman-Nya. Firman-Nya. Ia mengatakan, inilah perintah yang Aku berikan, yang Aku
ingin agar kamu lakukan. Firman-Ku, inilah yang Aku katakan. 1 Timotius 3:4, kehendak-Nya
yang dinyatakan, 2:3, 4, Ia menghendaki agar semua manusia diselamatkan dan sampai kepada
pemahaman akan kebenaran. Inilah kehendak-Nya yang dinyatakan, tetapi apakah semua
manusia menerima keselamatan dan sampai kepada pengenalan akan kebenaran? Tidak, lalu
apakah itu berarti kehendak Allah ini tidak terlaksana?
Bukan demikian, itu berarti bahwa kehendak-Nya yang dinyatakan, apa yang dinyatakan-Nya
berbeda dengan yang kedua, kehendak Allah yang rahasia, apa yang ditetapkan-Nya.
Kehendak-Nya yang dinyatakan adalah apa yang dikatakan-Nya, apa yang disampaikan di dalam
Firman-Nya, kehendak yang ditetapkan-Nya adalah apa yang terjadi, apa yang sungguh-sungguh
terjadi di dunia ini. Ia tidak mengatakan, Ia tidak memerintahkan manusia untuk melakukan dosa.
Tetapi apakah ada dosa di dunia? Ya. Kehendak-Nya yang dinyatakan, jangan melakukan dosa.
Kehendak-Nya yang ditetapkan, ada dosa dan Allah masih tetap memegang kendali atas semua
yang terjadi. Mazmur 139, semua hari-hari yang Kau-tetapkan untuk aku sudah tercatat di dalam
kitab-Mu sebelum semuanya itu datang kepadaku.
Anda melihat semua gambaran itu bersama-sama di dalam Kejadian 50:20. Di sana dikatakan
mengenai Yusuf yang dijual sebagai budak, dan ia mengatakan, “Memang kamu telah merekarekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan
maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang
besar.” Apakah Allah memerintahkan kepada saudara-saudara Yusuf, jual dia menjadi budak,
tetapi Ia menetapkan hal itu terjadi sehingga akhirnya, seluruh keluarga itu diselamatkan dari
perbudakan karena ia ada di Mesir, jadi kehendak yang dinyatakan dan kehendak yang
ditetapkan keduanya ada dalam kasus ini. Dua bentuk kehendak Allah di sini. Lalu, bagaimana
keduanya ada bersama-bersama? Inilah yang kita bicarakan ketika membahas mengenai misteri
ini. Kedaulatan Allah. Ia mengendalikan. Allah sepenuhnya berdaulat. Ia sepenuhnya berdaulat
atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa kita lakukan, tidak ada apapun yang bisa kita katakan
yang bisa membuat Allah terkejut dan lengah. Kedaulatan Allah. Ia mengendalikan. Di saat
yang sama, ada tanggungjawab manusia.
Tanggungjawab manusia, kita membuat banyak pilihan. Sekarang, anda melihat kedaulatan Allah
di dalam bagian-bagian seperti dari Roma 9, Yohanes 15, dan kemudian Efesus 1 yang sudah
kita lihat sebelumnya, Aku memilih engkau, menentukan engkau, inilah kedaulatan Allah. Ia
mengendalikan segala sesuatu. Pada saat yang sama, harus dipahami bahwa Alkitab tidak
memberikan gambaran mengenai diri kita sebagai robot yang hanya sekedar menanggapi
kepada suatu ilah mekanis. Ini bukan mengenai penentuan fatalisme, dimana kita hanya
melakukan apa saja yang Dia inginkan, di sini ada gambaran tentang kedaulatan Allah dan
tanggungjawab manusia. Kita membuat pilihan, sehingga kalau kita melihat Kisah Para Rasul
2:23, Yesus disebutkan disana, Dia diserahkan kepada kamu dengan serangkaian maksud Allah
yang sudah ditetapkan dan di dalam pengetahuan-Nya dan kemudian dengan pertolongan orangorang durhaka maka kamu membunuhnya dengan memakukan-Nya ke kayu salib. Inilah
kedaulatan Allah. Ini bukan berarti Allah duduk saja di surga dan berharap bahwa pada suatu
hari akan ada orang yang menyalibkan Anak-Nya.
Ia menentukan bahwa Anak-Nya akan disalibkan, tetapi di saat yang sama, mereka yang
melakukannya bukanlah robot. Orang-orang yang terlibat di dalam penyaliban ini membuat
pilihan dan mereka bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan. Saya mau memberikan
sedikit penjelasan mengenai pilihan kita. Pilihan kita itu pasti terjadi, tetapi tidak perlu demikian.
Maksud saya adalah, pilihan yang perlu itu harus terjadi. Kalau itu, berarti penentuan yang
fatalistik. Kita tidak bisa bertindak bertentangan dengan rencana Allah. Dan saya rasa itulah
kesimpulannya, saya yakin Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa pilihan kita memang
sungguh-sungguh ada. Kita sendiri yang melakukan pilihan itu, meski pilihan itu tidak
sepenuhnya bebas. Kita tidak bebas dalam arti kita tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu
yang mengejutkan Allah dan yang tidak diketahui sebelumnya oleh Allah.
Pada saat yang sama, pilihan kita itu nyata. Kita membuat pilihan sebenarnya setiap hari, tidak
bisa menyalahkan orang lain atas pilihan yang kita lakukan sendiri. Kita yang membuat pilihan.
Tidak bisa menyalahkan Allah atas pilihan yang kita buat. Ya, Dia berkuasa, tetapi kita
bertanggungjawab. Pilihan nyata yang kita buat memiliki tanggungjawab yang nyata juga.
Kemudian, bagaimana Allah melihat kedua hal ini, kedaulatan-Nya dan tanggungjawab manusia,
di sinilah misteri itu berada. Tetapi kita memang secara nyata bertanggungjawab kepada Allah.
Orang-orang yang memakukan Yesus di kayu salib memang bertanggungjawab atas apa yang
mereka lakukan. Anda dan saya bertanggungajwab kepada Allah atas dosa kita, meski kita
melakukan dosa di bawah payung kedaulatan Allah.
Kita semua pada hakekatnya, secara moral bertanggungjawab kepada Allah, secara intelektual
bertanggungjawab kepada Allah. Dan saya sudah mendaftarkan beberapa ayat di dalam buku
pedoman belajar, tetapi kita tidak akan menggalinya secara mendalam. Namun dalam setiap
ayat itu anda akan melihat kedaulatan Allah, tanggungjawab manusia, berada bersama-sama.
Anda melihat kedaulatan Allah dan tanggungjawab manusia secara bersama di dalam masingmasing gambaran itu.
Kisah Para Rasul 13:48, saya ingin menunjukkan di sini, “Mendengar itu bergembiralah semua
orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang
ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Kedaulatan Allah, mereka ditentukan
untuk hidup kekal. Tanggungjawab manusia, mereka percaya. Keduanya ada bersama-sama,
dan berjalan seiring. Dan karena itu, kita melihat adanya beberapa persepsi mengenai kehendak
Allah, kita perlu mengingat hal itu. Dan kedua, ada berbagai dimensi yang berbeda mengenai
kasih Allah. Berbagai dimensi mengenai kasih Allah. Allah adalah kasih, apa artinya? Mari kita
pikirkan kasih Allah yang dinyatakan dengan lima cara yang berbeda di dalam Alkitab.
Pertama-tama kasih di antara Tritunggal. Kita melihat adanya gambaran tentang Allah Bapa
yang mengasihi Anak, dan Anak mengasihi Bapa, kasih Allah di dalam Tritunggal. Ini seringkali
dipakai untuk menjelaskan kasih Allah. Kedua, kasih Allah kepada semua ciptaan. Alkitab
berbicara mengenai bagaimana kasih Allah terhadap semua ciptaan. Bahkan burung di udara
dikasihi Allah, dijaga, dipelihara oleh Allah. Kasih Allah kepada semua ciptaan. Yang ketiga,
kadangkala Alkitab berbicara mengenai kasih Allah secara umum kepada semua manusia, kasih
Allah kepada seluruh dunia. Pada saat yang sama, keempat, Allah secara khusus mengasihi
orang-orang pilihan-Nya, itu secara nyata dijelaskan di dalam Alkitab. Perhatikan mengenai kasih
Allah kepada umat-Nya ini di dalam kitab Ulangan. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari
bangsa mana pun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu -- bukankah kamu
ini yang paling kecil dari segala bangsa? --tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang
sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa
kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan
Firaun, raja Mesir. Aku mengasihi, kata Allah, dan menetapkan pilihan atas Israel. Anda melihat
di dalam Ulangan 10, Maleakhi 1. Yakub Aku kasihi, tetapi Aku membenci Esau. Ini gambaran
tentang kasih Allah kepada sekelompok orang-orang pilihan.
Kemudian kita masuk ke dalam Perjanjian Baru. Efesus 5:25, Kristus mengasihi jemaat dan
memberikan diri-Nya bagi mereka dan karena itu Alkitab berbicara mengenai Allah mengasihi
orang-orang tertentu yang dipilih-Nya. Cara kelima dimana kita melihat kasih Allah adalah dalam
kasih-Nya yang tak bersyarat. Apakah kasih Allah bersyarat? Sebelum anda terburu-buru
menjawabnya, mari kita lihat dulu beberapa bagian Firman Allah. Ia menunjukkan kasih-Nya
kepada beribu-ribu keturunan dari mereka yang mengasihi-Nya dan memelihara perintah-Nya.
Yohanes 15:9 dan 10, Yesus mengatakan, kalau kamu taat kepada perintah-Ku, kamu akan
tinggal di dalam kasih-Ku. Tetaplah di dalam kasih Allah saat anda menantikan kasih karunia
Tuhan Yesus Kristus, dengan ketaatan.
Sekarang, ini yang sering menjadi ungkapan klise jaman ini, dan kita harus berhati-hati. Apakah
ini benar? Saya mau mengatakannya begini, ya, memang benar dalam hal Ia mengasihi semua
ciptaan-Nya, dalam hal Ia mengasihi semua manusia, tetapi tidak dalam hal kasih-Nya yang
bersyarat. Seringkali di dalam Alkitab, kasih Allah disebutkan sebagai kasih yang bersyarat.
Lalu bagaimana dengan pernyataan yang mengatakan, Allah mengasihi semua manusia secara
sama. Apakah itu benar atau salah? Bisa ya, bisa juga tidak. Ya, Ia mengasihi seluruh dunia
dalam arti kasih-Nya yang universal kepada semua manusia, ya Ia mengasihi semuanya dengan
cara yang sama. Apakah Ia mengasihi semua bangsa lain sama seperti Ia mengasihi bangsa
Israel di Perjanjian Lama? Tentu saja tidak. Jelas sekali tidak demikian. Jadi kita harus hati-hati
dengan ungkapan klise yang sering kita pakai. Banyak persepsi mengenai kehendak Allah.
Banyak sisi dalam kasih Allah yang menjadikan kita seperti adanya kita sekarang ini. Lalu
bagaiman kaitana semuanya itu. Baik, kita akan melihat kaitan dari semuanya itu berkaitan yaitu
dalam beberapa tujuan yang ada di salib Kristus. Beberapa tujuan yang ada di salib Kristus.
Dan di sinilah saya akan mengaitkan semua yang kita bahas tadi, kehendak Allah, kasih Allah
dan salib Kristus. Saya mau mengatakan bahwa berdasarkan kepada apa yang kita lihat di
dalam Alkitab, Yesus mati bagi semua.
Ia mati bagi semua, dalam artian bahwa kematian-Nya itu cukup untuk menutupi segala dosa
dunia, menunjukkan di sini akan kasih Allah yang umum kepada semua manusia. Ia
menghendaki agar semua orang bertobat. Itulah yang diajarkan Alkitab. Ia memiliki kasih yang
umum kepada semua manusia. Melalui salib Allah menghendaki dan menuntut semua manusia
untuk percaya kepada-Nya. Itulah kehendak-Nya yang dinyatakan, yang dikatakan-Nya. Jadi,
dalam kaitan dengan kasih-Nya secara umum kepada semua mansuia, kehendak Allah yang
dinyatakan, yang dikatakan-Nya, Yesus mati bagi semua.
Tetapi, pada saat yang sama, berhenti sampai di situ saja tidaklah lengkap. Yesus mati bagi
orang-orang pilihan, bagi jemaat, dalam artian bahwa, kematian-Nya memang efisien bagi
mereka. Allah secara khusus memberikan kasih khusus kepada suatu umat pilihan. Itulah yang
diajarkan Alkitab. Sejak dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Dan kadangkala
demikianlah Ia berbicara mengenai kasih-Nya. Jadi melalui kayu salib, Allah memampukan dan
memberikan kuasa kepada umat-Nya untuk percaya kepada-Nya dan inilah rahasia kehendak
Allah yang ditetapkan-Nya. Itulah yang terjadi, tidak semua orang percaya kepada-Nya. Ia
sudah menyatakan bahwa semua manusia harus berpaling kepada-Nya. Tetapi tidak semua
orang percaya kepada-Nya.
Itulah kehendak Allah yang ditetapkan, kehendak rahasia-Nya, yang ditetapkan-Nya. Dan
melalui kayu salib, Allah memampukan dan memberikan kekuatan kepada umat-Nya untuk
percaya kepada-Nya. Lalu apa pengaruhnya hal ini bagi kita? Ada beberapa tujuan. Beberapa
implikasi. Tiga implikasi. Yang pertama, kita dengan berani mengakui kecukupan yang agung
dari kematian Kristus di kayu salib bagi dosa-dosa seluruh dunia. Dengan berani kita mengakui
hal itu. Kecukupan yang agung dari kematian Kristus di kayu salib bagi dosa-dosa seluruh dunia.
Jangan sampai kita mengecilkan hal itu.
Pada saat yang sama, kedua, kita dengan rendah hati mengakui kecukupan kasih karunia
kematian Kristus yang memastikan keselamatan bagi orang-orang pilihan-Nya. Dan di sinilah
saya percaya bahwa keseluruhan gambaran ini akan membuat kita dengan rendah hati bersujud
dengan ucapan syukur karena sama sekali tidak mungkin ada peranan kita dalam penyelamatan
ini. Semuanya semata-mata karena anugerah dan semuanya bagi kemuliaan-Nya, dan bahkan
kemampuan kita untuk menjadi percaya juga diberikan oleh Kristus dan hal itu sungguh-sungguh
tak terukur, tidak bisa dijelaskan, dan kenyataannya, meskipun kita sungguh-sungguh tidak bisa
mengambil bagian dalam hal apapun bagi keselamatan kita, Ia sudah menyelamatkan saya. Ia
sudah menebus saya. Kita sudah diselamatkan. Bukan aktif, tetapi pasif, diselamatkan, Ia
sudah melakukan pekerjaan kasih karunia di dalam hati saya dan tidak ada jalan lain untuk
mencapai hal itu selain karena anugerah Allah. Ini sangat membuat kita rendah hati. Pada saat
yang sama, muncul pertanyaan, lalu apa artinya penginjilan di dalam missi itu?
Dengan tanpa takut kita memberitakan salib Kristus kepada bangsa-bangsa. Kita tanpa takut
memberitakan salib Kristus kepada bangsa-bangsa. Kita pergi kepada segala bangsa dengan
berita yang jelas. Berita yang kita bawa adalah Allah mengasihi mereka dan menghendaki
keselamatan mereka. Beberapa orang yang mendukung pandangan penebusan terbatas
mungkin akan mengatakan, kita tidak bisa menjelaskan bahwa Allah mengasihi dan
menghendaki keselamatan semua orang. Tetapi, beranikah kita mengatakan demikian tentang
kasih Allah itu? Tentu saja, Alkitab menuntut kita memberitakan hal itu, bahwa Allah mengasihi
mereka dan menghendaki keselamatan mereka semua. Itu adalah kehendak-Nya yang
dinyatakan. Ia menghendaki semua manusia mengalami pertobatan.
Apakah Allah mengasihi semua manusia? Ya. Apakah Allah menghendaki agar semua manusia
datang kepada keselamatan? Ya, tentu saja. Jadi kita memberitakan hal itu dengan berani,
dengan berita yang jelas. Pada saat yang sama, kita pergi kepada segala bangsa dengan
jaminan yang pasti. Dan jaminannya adalah, saat kita memberitakan Injil, saudara seiman,
manusia akan menjadi percaya dan diselamatkan. Ini bukan karena kuat kuasa kita. Ada suatu
hari di masa depan dalam Wahyu 7 dimana dari antara semua bangsa, suku, kaum dan bahasa,
akan ada di antara mereka yang berkeliling tahta Allah menyanyikan pujian bagi Dia.
Apakah anda tahu apa artinya? Ini artinya anda bisa pergi ke tempat yang terjauh, terdalam,
tergelap dan yang paling sulit dijangkau di dunia ini kepada mereka yang belum terjangkau, lalu
anda bisa memberitakan Injil kepada mereka dengan keyakinan bahwa ada dari antara orangorang itu yang akan menjadi percaya. Akan ada di antara mereka juga yang termasuk di antara
orang-orang yang mengelilingi tahta di akhir jaman itu. Kristus sudah memastikan bahwa dari
antara segala suku dan segala bangsa dan bahasa akan berkeliling di sekitar tahta-Nya dan
menyanyikan pujian bagi-Nya. Dan itu merupakan jaminan keyakinan yang sangat besar. Jadi,
kita memberitakan Injil dengan tidak takut di tempat kerja kita, di rumah kita, di lingkungan kita,
dan kita memiliki keyakinan bahwa Injil-Nya memiliki kuasa untuk menyelamatkan. Bukan
mungkin, tetapi pasti akan menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka.
Jadi, itulah jawaban atas pertanyaan tadi. Selanjutnya. Memang saya menyadari bahwa ada
sangat banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran kita, lebih banyak dari jawaban yang
bisa kita berikan. Tetapi jangan khawatir, itu sesuatu yang baik, karena saya juga memiliki
pertanyaan yang tidak sedikit, jadi kita bisa tetap membahas bagian ini dan mencoba
menemukan apa yang bisa kita dapatkan. Kita melihat efek dari salib, Galatia 6:14, Tetapi aku
sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya
dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Saya berharap bahwa ayat ini akan menjadi
lebih masuk akal setelah pembahasan kita. Ini pernyataan yang cukup aneh, bahwa seseorang
mau bermegah atas kayu salib. Sebuah kayu salib. Di abad pertama, itu berarti seseorang yang
bermegah atas suatu hukuman penyiksaan. Ini hampir mirip dengan seseorang yang
mengatakan di jaman ini bahwa ia bermegah atas tiang gantungan.
Ada apa di dalam salib yang bisa membuat kita mengatakan, saya akan bermegah atas salib itu.
Saya akan bermegah dan saya sungguh-sungguh merindukan dan sungguh-sungguh mengasihi
satu hal di dalam hidup saya, dan saya sungguh-sungguh terjerat kepada satu hal saja di dalam
kehidupan saya, yaitu kepada salib Yesus Kristus. Mengapa, apa sebabnya kita bermegah di
dalam kayu salib? Ada tujuh alasan. Yang pertama, karena kayu salib memperhadapkan kita
kepada keadaan kita yang semula. Salib memperhadapkan kita kepada keadaan kita yang
semula. Anda melihat Efesus 2. Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan
dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya. Artinya, kita adalah orang-orang yang patut dimurkai.
Kayu salib mengingatkan kepada kita betapa mengerikannya dosa. Kita perlu memahami hal ini.
Salib memberikan kepada kita gambaran mengenai kengerian yang luar biasa dari dosa.
Sebagai akibatnya, di sinilah Salib melindungi kita. Saudara seiman, kayu salib melindungi kita
dari kemungkinan jatuh ke dalam sikap optimisme mendustai diri yang mencengkeram
masyarakat di jaman ini. Inilah sebabnya kayu salib tidak terlalu banyak ditonjolkan dalam
budaya kita sekarang karena kita hidup dalam budaya yang mengatakan, tingkatkan kemampuan
dirimu sendiri, tingkatkan kemampuan dirimu sendiri, sedangkan salib mengatakan, tidak
mungkin. Tidak ada kemungkinan meninggikan diri di kayu salib.
Salib mengingatkan kita akan hal itu. Inilah sebabnya kita tidak bisa merangkul Salib dan
kemudian begerak di dalam kehidupan Kekristenan kita untuk maju ke bagian selanjutnya. C.J
Mahaney mengatakan bahwa salib bukan salah satu kelas di dalam kehidupan Kekristenan,
tetapi salib adalah dasar dimana semua kelas yang ada didirikan. Segala sesuatu ditembus oleh
salib. Inilah sebabnya kita tidak akan bisa meninggalkan salib. Karena semakin kita paham,
semakin kita mengenal kebenaran salib, kita akan semakin membenci dosa. Semakin kita
melihat diri kita kembali kepada dosa setelah kita diselamatkan dari dosa dan meletakannya
kepada salib Kristus, kita semakin tidak menginginkan dosa itu. Kunci dari pertumbuhan kita di
dalam kekudusan adalah pengenalan yang teguh akan salib. Dan kita memerlukan hal itu. Kita
sudah menjadi sangat tidak sensitif kepada dosa karena pengaruh jaman ni. Kita duduk di depan
TV dan menyaksikan film, lalu kita melihat ada orang-orang yang menyebut nama Tuhan dengan
sembarangan di sana, dan kita bahkan sama sekali tidak merasakan apa-apa. Orang-orang
melihat foto-foto dan gambar-gambar yang tidak pantas di internet, dan bahkan orang-orang
yang mengikut Kristus juga melakukan hal itu, dan kemudian mengatakan, toh semua orang lain
melakukannya. Cornelius Plantinga menuliskan sebuah buku yang luar biasa, yang berjudul, Not
the Way It’s Supposed to Be.
Di dalamnya ia mengatakan, “Kesadaran akan dosa, kesadaran yang mendalam akan
ketidaktaatan dan kepedihan pengakuan dosa dahulu menjadi bayang-bayang kita. Orang-orang
Kristen membenci dosa. Orang-orang Kristen takut melakukan dosa. Orang-orang Kristen lari
dari dosa. Orang-orang Kristen berduka karena dosa. Beberapa tokoh iman pendahulu kita
begitu menderita atas dosa-dosa mereka. Bahkan kemarahan yang meledak bisa membuat
seseorang berpikir apakah ia masih layak untuk menerima Perjamuan Kudus. Seorang wanita
yang selama bertahun-tahun merasa iri kepada salah seorang saudari yang lebih cantik dan lebih
pintar akan mulai berpikir jangan-jangan sikapnya itu berpengaruh kepada keselamatannya.
Tetapi bayang-bayang itu sudah memudar. Sekarang ini, tuduhan atau pernyataan bahwa
seseorang sudah melakukan dosa seringkali diungkapkan secara enteng saja dan bahkan
dengan tersenyum atau menjadikannya sebagai lelucon. Padahal ada saatnya tuduhan dan
pernyataan itu sudah sangat menggentarkan seseorang.”
Kita perlu memandang kepada salib dan mengingat bagaimana mengerikannya dosa itu. Kita
perlu mengingat hal itu setiap hari. Dan, kayu salib mengingatkan kepada kita betapa anugerah
itu membuat kita merendahkan diri karena kita memahami apa yang dikatakan oleh salah
seorang puritan, bahwa bahkan air mata pertobatan kita juga sudah dibasuhkan dengan darah
Yesus. Tidak ada yang bisa kita bawa untuk menambahkan sesuatu ke atas anugerah itu. Kita
memerlukan anugerah itu setiap saat. Kayu salib mengingatkan kepada kita keadaan kita yang
semula. Saya suka 1 Petrus 1:17-21, dan silahkan perhatikan saat saya membaca bagian ini.
“Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi
semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama
kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu
yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan
pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang
sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Anda bisa melihatnya?
Hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini, sebab kamu tahu
kamu telah ditebus dengan darah yang mahal. Ya Allah, tolonglah kami untuk tidak hanya
menaikkan doa tetapi juga sungguh-sungguh menghidupi doa itu di dalam kehidupan kami
sehari-hari. Tolonglah kami untuk setiap hari menjalani kehidupan di dalam ketakutan. Takut
bahwa kami hidup dengan cara yang tidak layak yang membuat kami merendahkan harga salib
itu.
Takut bahwa kami meremehkan dosa dan membuat salib tidak lagi menjadi harta yang mulai
dari-Mu, dimana Engkau memberikan kepada kami kehidupan. Salib mengingatkan kita akan
keadaan kita yang semula. Yang kedua, mengapa kita bermegah di dalam kayu salib, karena
kayu salib menghiburkan kita dalam keadaan kita sekarang. Kalau kita mengadakan survey
mengenai empat hal yang kita bahas, Perjamuan Terakhir, Taman Getsemani, seruan
kepedihan, dan pernyataan kemenangan, kita bisa melihat kenyataannya. Salib menghiburkan
kita dalam keadaan kita sekarang. Kita hidup bagi Allah.
Saudara, Ia sudah mengalahkan kematian, kita sudah mati, dan sekarang kita hidup. Kita hidup.
Kita tidak lagi mati atas dosa. Dan kita tidak mati di dalam dosa, tetapi kita mati terhadap dosa.
Kita bukan lagi hamba diri kita sendiri. Kita hidup, bukan hanya kita hidup bagi Allah, tetapi kita
memiliki pembela di hadapan Allah, Ia masih melakukan pekerjaan-Nya. Kita memiliki Imam
Besar yang duduk di sebelah kanan Allah pada saat ini dan menaikkan syafaat bagi kita. Ia
masuk ke hadirat Allah, pengorbanan-Nya sempurna. Ia duduk di sebelah kanan tahta Allah dan
Ia menaikkan syafaat bagi kita.
Ia menanggung hukuman bagi kita sehingga kita menjadi sahabat. Kita menjadi sahabat. Kita
sahabat Allah. Anda dan saya yang sebenarnya orang-orang berdosa yang layak masuk neraka,
menajdi sahabat Allah. Kita memiliki pembela di hadapan Allah. Kita memiliki akses kepada
Allah. Mari kita mendekat kepada Allah. Ia yang sudah menderita karena keterpisahan kita. Kita
dahulu terbuang, tetapi sekarang kita diundang untuk masuk. Pikirkan tentang hal ini. Orangorang berdosa yang layak masuk neraka bisa dengan aman ada di hadapan Allah. Bukan hanya
aman di hadapan Allah tetapi juga disambut di hadapan-Nya, diundang untuk datang kepadaNya, bersukacita di hadapan Allah. Kita diangkat menjadi anak oleh Allah. Penebusan, Ia
membayar lunas hutang kita. Saudara seiman, kita dahulu adalah hamba, sekarang kita adalah
anak-anak.
Anak-anak, Roh Kudus bersaksi dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak dan kalau kita
anak-anak maka kita adalah ahli waris, ahli waris dari Allah dan sesama ahli waris dengan
Kristus, kalau memang kita ikut mengambil bagian di dalam penderitaan-Nya agar suatu saat
nanti, suatu hari nanti, kita akan mengambil bagian di dalam kemuliaan sebagai anak-anak Allah,
diangkat menjadi anggota keluarga Allah. Kita tidak ada hubungannya dengan Allah, kita harus
mengingat hal ini. Saat kita hidup di dalam Kekristenan, kita tidak memiliki hubungan dengan
Allah yang adalah Pribadi yang siap untuk menghukum kita di dalam dosa kita setiap saat. Saat
kita hidup dalam hubungan dengan Allah, kita adalah anak dan Ia adalah Bapa. Kita anak-anak
Allah. Kristus sudah menanggung hukuman kita. Ia sudah membayar hutang dosa kita dan kita
menjadi anak-anak-Nya. Kita tidak lagi memikul beban dosa kita lagi. Anda tidak memikul beban
dosa anda lagi. Jangan memikul beban dosa anda sendiri. Anda adalah anak-anak Allah. Dan
inilah alasan kita bisa bermegah atas salib. Yang ketiga karena salib mengajarkan kepada kita
apa artinya diselamatkan. Apa maksudnya?
Maksud saya, salib menjelaskan tentang pembenaran kita. Galatia 2:15-20 megatakan
bagaimana kita sekarang menajdi percaya kepada Kristus dan kemudian, “Aku telah disalibkan
dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus
yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup
oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Kita bukan dibenarkan karena mentaati hukum, itu yang dikatakan Paulus, tetapi oleh iman di
dalam Yesus Kristus. Itulah artinya pembenaran. Kristus mati bagi kita. Tidak ada alasan untuk
pembenaran di dalam diri kita sendiri.
Kristus mati bagi kita. Ia dibuat menjadi berdosa agar kita bisa menjadi benar di hadapan Allah.
Perhatikan hal ini, Katekismus Heidelberg, pertanyaan nomor 60, dan kita coba resapi.
Bagaimana anda menjadi benar di hadapan Allah? Hanya dengan iman yang benar kepada
Yesus Kristus. Meski kenyataannya hati nurani saya menuduh bahwa saya sudah dengan keji
melakukan dosa melawan hukum Allah dan tidak mentaati satupun dari hukum itu dan saya
masih tetap saja rentan kepada apa yang jahat. Namun, Allah, tanpa ada usaha dari diri saya
sendiri, karena anugerah yang murni sudah membuat saya mendapatkan keuntungan dari
pengorbanan sempurna Kristus, memperhitungkan kepada saya kebenaran dan kekudusan ini,
seolah-olah saya tidak pernah melakukan satu dosapun atau pernah menjadi berdosa, sudah
menggenapkan di dalam diri saya semua ketaatan yang dilakukan Kristus bagi saya, kalau saya
menerima kebaikan itu dengan hati yang percaya.
Seolah-olah saya tidak pernah melakukan satu dosapun. Kita berbicara mengenai hal ini dalam
kitab Galatia. Beberapa tahun yang lalu seorang kaya dari Inggris membeli sebuah mobil Rolls
Royce. Ia membawa mobil barunya ini ke Perancis. Mobil itu sudah dipromosikan sebagai mobil
yang terbaik melebihi semua mobil lain. Tidak mungkin ada masalah dengan mobil ini. Tetapi
ketika sampai di Perancis, mobil itu rusak. Jadi, ia menelpon pegawai Rolls Royce di Inggris dan
mereka mengirimkan seorang mekanik ke Perancis untuk memperbaiki mobil itu. Tentu saja
orang kaya itu berpikir bahwa pasti tagihannya akan banyak karena pabrik Rolls Royce harus
mengirimkan seseorang dari Inggris ke Perancis hanya untuk memperbaiki mobilnya. Berbulanbulan berlalu tetapi orang kaya itu tidak menerima pemberitahuan apapun.
Akhirnya ia menuliskan surat kepada mereka dan mengatakan, “Saya siap membayar
tagihannya. Kirimkan saja tagihannya dan saya akan membayarnya.” Pabrik Rolls Royce itu
kemudian menuliskan balasan yang mengatakan, “Maaf, Pak, tetapi kami sama sekali tidak
menemukan masalah apapun di dalam mobil Bapak.” Ha! Allah semesta alam tidak menemukan
kesalahan apapun di dalam kehidupan kita. Ia memandang kepada anda dan yang dilihat-Nya
adalah kebenaran Yesus Kristus dan itu sama sekali bukan sekedar menyembunyikan kesalahan
di bawah karpet dan berpura-pura tidak ada apa-apa. Itulah karya salib, Ia mengambil
semuanya. Iasaudah menanggung semuanya. Itulah pembenaran. Dan sebagai hasilnya,
perhatikan ini. Kita tidak bekerja untuk dibenarkan, tetapi kita bekerja karena dibenarkan. Luar
biasa, bukan?
Itu mengubah segalanya. Bagaimana? Sinclair Ferguson mengatakan, “Betapa mudahnya bagi
kita untuk terjebak kepada anggapan bahwa kita tetap dibenarkan selama ada dasar di dalam diri
kita untuk pembenaran itu.” Jangan bekerja untuk menjadi benar di hadapan Allah. Percaya,
dengan iman kepada Kristus, anda benar di hadapan Allah. Salib memungkinkan terjadinya
pembenaran kita. Kristus sekarang hidup di dalam kita. Inilah gambaran dan janji Roh Kudus
dan Allah bekerja bagi keselamatan kita, Filipi 2. Dan inilah keindahannya. Kita, perhatikan baikbaik, kita tidak berhutang kepada Kristus. Jangan menyelesaikan pembahasan kita mengenai
memandang kepada salib Kristus dan kemudian mengatakan, saya banyak berhutang kepada
Kristus.
Kenyataannya tidak demikian. Tidak benar bahwa kita berhutang kepada-Nya, dan kemudian
kita mulai berusaha tampil sebaik mungkin di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen dalam
usaha untuk membayar kembali hutang itu. Kita tidak boleh juga bahkan mengatakan bahwa
karena Kristus sudah melakukan semuanya ini bagi saya, maka paling tidak saya bisa melakukan
hal ini bagi Dia atau melakukan beberapa hal ini. Karena saat kita mulai berpikir untuk
melakukan sesuatu sebagai pembayaran kepada Kristus, maka kita sudah memangkas inti dari
anugerah. Hal itu menjadi anugerah karena kita tidak harus membayarnya. Kita bukan
berhutang kepada Kristus, tetapi kita didiami oleh Kristus. Dan itulah kenyataannya. Ketika
berbicara mengenai salib, seringkali kita berbicara mengenai apa yang dilakukan Kristus bagi
kita. Kenyataannya adalah, bahkan kalaupun sekarang ada sesuatu yang baik di dalam diri kita,
itu karena Kristus. Semua kebaikan kita dasarnya adalah Kristus. Semua kebaikan yang nanti
muncul di dalam kehidupan kita di masa depan, juga dasarnya adalah Kristus. Seluruh
keberadaan saya dasarnya adalah karena Ia berdiam di dalam kehidupan saya. Itulah yang
dijelaskan di dalam Kolose 1, Kristus di dalam kamu, pengharapan kemuliaan. Salib membuka
jalan bagi pembenaran kita, memungkinkan adanya pembenaran kita, dan Salib memastikan
pemuliaan kita. Mereka yang ditentukan-Nya juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya
dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, dimuliakan-Nya.
Kristus akan datang untuk kita dan kita tidak hidup bagi dunia ini. Ia mengorbankan diri sekali
untuk menanggung dosa banyak orang, dan Ia akan datang kedua kalinya, bukan untuk
menanggung dosa, tetapi membawa keselamatan bagi mereka yang menantikan Dia. Empat
alasan mengapa kita bermegah di dalam salib, dan ini membawa kepada salah satu teori, meski
tidak lengkap tetapi sangat jelas nampak di sini. Karena salib menunjukkan kepada kita apa
artinya mengasihi. Beginilah cara kita mengetahui apakah kasih itu.
Yesus Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita dan kita harus memberikan hidup kita bagi saudara
seiman kita. Demikianlah mereka tahu bahwa kita murid-murid-Nya yaitu kalau kita saling
mengasihi. Itulah artinya kasih di dalam gereja. Kita berbicara mengenai hal ini ketika
membahas Perjamuan Terakhir. Berbalik kepada Kristus berarti berbalik kepada masyarakat.
Kita adalah satu tubuh. Kita saling memiliki, di antara orang-orang yang terhilang kita
memberitakan salib.
Anda tidak bisa menerima kebenaran tetapi tidak memberitakannya.
Kalau kita tidak
memberitakan kebenaran ini, ini karena kita tidak menyadari keajaiban dari kebenaran ini. Dan
terhadap orang-orang miskin, kita mewujudkan salib, Kristus, meski Ia tidak bersalah, menjadi
miskin bagi kita. Saudara seiman, dengan cepat bisa dikatakan, semua keterikatan kita kepada
apa yang ada di dunia ini tidak sesuai dengan salib Yesus Kristus. Dan hal itu juga tidak akan
menyatakan salib Kristus kepada 30.000 anak-anak yang mati karena kelaparan atau karena
wabah yang sebenarnya bisa dicegah. Tidak sesuai. Kita justru harus mewujudkan salib bagi
orang-orang miskin.
Yang kelima, karena salib mengingatkan kita bahwa keselamatan kita bukanlah berasal dari
dunia ini. Betapa luar biasa bahwa tempat kita yang paling aman adalah di tempat dimana Allah
menghendaki kita berada, bahkan di dalam tempat yang paling gelap dan paling sulit dalam
pandangan dunia ini. Salib bukan mengenai mencari aman sendiri. Kita tidak takut akan
penderitaan. Kita tidak takut akan penderitaan. Jangan takut kepada apa yang bisa membunuh
tubuh, tetapi tidak bisa membunuh jiwa. Namun, takutlah kepada yang bisa membunuh tubuh
dan jiwa di neraka.
Yesus mengatakan kepada para murid-Nya di sini, ketika kamu pergi, kamu akan dianiaya.
Kamu akan dibenci. Itulah yang dikatakan dalam Matius 10. Keadaan akan sulit, tetapi ada
kabar baik, yang paling buruk terjadi adalah mereka membunuh kamu. Itu kabar baik. Itulah
yang menjadi kemuliaan di dalam keseluruhan gambaran ini, yang terburuk yang bisa terjadi
adalah mati untuk mendapatkan keuntungan, karena salib. Karena itu jangan takut kepada
apapun. Jangan takut kepada apa yang bisa dilakukan manusia kepadamu, karena, lebih baik
ditembak dan dibunuh, mengalami buah keselamatan kita dan kemudian kita akan menikmati
buah itu di dalam kekekalan. Kita tidak perlu takut kepada apapun. Sekarang kita banyak
menderita karena ketakutan.
Merdeka untuk menderita. Sudah dikaruniakan kepada anda untuk menderita, Filipi 1.
Datanglah kepada Kristus dan terima karunia itu, menderita. Strategi Allah untuk membuat
kemuliaan-Nya dan kasih-Nya dikenal di seluruh dunia berkisar kepada hamba-Nya yang
menderita dan mengorbankan Anak-Nya yang Tunggal itu. Siapa yang berpiikir bahwa strategi
Allah untuk membuat kasih-Nya dikenal di dunia ini adalah dengan membuat hidup kita mudah?
Bagaimana kita akan menunjukkan tentang Kristus yang di atas kayu salib itu kalau semuanya
berjalan dengan mudah? Dan kalau semuanya lancar-lancar saja bagi kita. Di dalam
penderitaanlah Kristus sangat jelas dinyatakan di dalam diri umat-Nya.
Kita merdeka untuk menerima karunia penderitaan. Keenam, karena kayu salib menjaga kita
sehingga tidak menyia-nyiakan kehidupan kita di dunia ini. Salib menjaga kita agar tidak menyianyiakan kehidupan kita di dunia ini. Filipi 3. Apapun yang nampak menguntungkan sekarang,
kuanggap rugi karena salib Kristus. Semua yang ada di dunia ini hanyalah sampah jika
dibandingkan dengan yang satu itu, kebesaran yang tak terhingga dari pengenalan akan Kristus.
Paulus mengatakan hal ini dengan jelas, dunia ini tidak ada artinya bagi kita. Paulus mati bagi
dunia. Mati bagi dunia. Dunia bukanlah sumber dari kehidupan dan kepuasan dan sukacitanya.
Dan bukan sumber kita juga. Segala-galanya, bahkan yang terbaik sekalipun, digabungkan
bersama-sama, hanyalah sampah dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus. Dunia ini
tidak ada artinya bagi kita karena Kristus memiliki segala-galanya bagi kita. Segala-galanya bagi
kita. Ya Allah, tolonglah saya untuk menunjukkan bahwa kehidupan saya sepenuhnya dan
seluruhnya berserah kepada Kristus dan bukannya mengejar uang atau rumah yang lebih bagus
atau mobil yang lebih mewah atau pekerjaan yang lebih baik atau gaji yang lebih tinggi atau
kehidupan keluarga yang lebih nyaman. Ya Allah, tolonglah saya untuk melihat bahwa dunia ini
tidak ada artinya bagi kami, karena Kristus memiliki semuanya bagi kami.
Mungkin ada yang bertanya, apakah kalau demikian semua yang ada di dunia ini buruk? Ya,
yang bisa kita megahkan hanyalah salib. Apakah itu berarti kita tidak bisa merasa bangga kalau
anak kita mulai belajar berjalan? Kalau anak kita yang masih kecil mulai bisa melakukan
sesuatu, atau istri kita melakukan sesuatu, tidakkah kita bisa berbangga dengan itu? Ya, tetapi
saya mau mengatakan sesuatu di sini, kita memahami bahwa semua hal dan pengalaman yang
baik di dunia ini hanya bisa terjadi karena Kristus sudah membayar semuanya di kayu salib. Dan
sekarang, kita melihat kepada anak-anak kita atau ayah atau ibu kita dan keberhasilan atau
segala sesuatu yang ada didasarkan kepada kenyataan bahwa Kristus sudah membayar lunas
semuanya di kayu salib karena sebenarnya kita sama sekali tidak layak menerima semua itu.
Yang terakhir, salib menanamkan di dalam diri kita visi akan dunia yang akan datang. Salib
menanamkan di dalam diri kita visi akan dunia yang akan datang. Mari kita perhatikan Wahyu 5.
Kita akan menutup dengan bagian ini. Wahyu 5. Anda akan melihat beberapa ayat yang
didaftarkan. Salib menanamkan di dalam diri kita visi akan dunia yang akan datang. Kita akan
bersama-sama menemukan gambaran di dalam Wahyu 5. Yesus sudah melihat ada beberapa
masalah di sana. 5:1 mengatakan, “Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas
takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai
dengan tujuh meterai.” Gambaran di sini adalah tentang sebuah gulungan dan kita melihat hal itu
dituliskan di beberapa bagian dalam Kitab Wahyu.
Ini adalah gambaran tentang gulungan kitab yang membukakan kepenuhan sejarah
penyelamatan. Dan akhir dari dosa dan penderitaan adalah dengan munculnya gambaran
tentang ciptaan baru yang dibukakan dalam Kitab Wahyu 21 dan 22. Gambarannya adalah
tentang suatu gulungan kitab yang ada di tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta. “Dan aku
melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: "Siapakah
yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?” Siapakah yang
layak untuk datang ke hadirat Allah, mengambil gulungan kitab tentang bagaimana sejarah
manusia akan dibukakan. Siapa yang layak melakukannya? Yohanes mengatakan, “Tetapi tidak
ada seorang pun yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat
membuka gulungan kitab itu atau yang dapat melihat sebelah dalamnya. Maka menangislah aku
dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka
gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.”
Mengapa ia menangis? Letakkan diri anda di dalam konteks peristiwa abad pertama dimana
orang-orang percaya yang membaca kitab ini, kebanyakan sedang menghadapi penganiayaan.
Tidakkah ada yang bisa menghentikan semuanya itu? Tidakkah ada seseorang yang bisa
mengakhiri penderitaan dosa dan kanker dan wabah dan penganiayaan, hal itu membuat
Yohanes menangis, karena tidak ada yang dianggap layak.
Inilah masalah yang paling utama di dalam alam semesta, yang kita bicarakan saat ini. Siapa,
siapakah yang bisa menangani masalah dosa dan menyelesaikannya? Dan kita berdiri di
hadapan Allah yang kudus dalam situasi ini dengan tak berdaya dan tidak memiliki harapan. Tak
berdaya dan tidak memiliki harapan. Ini seperti habis bermain di tempat bermain seperti
Timezone, bukan? Anda pernah ke sana? Bermain di sana hampir membuat orang sakit kepala
dan patah hati seketika.
Mungkin anda pernah ke sana sewaktu kecil, atau membawa anak-anak anda ke Timezone itu.
Anda lalu membeli kupon atau mengisi ulang kartu bermain. Lalu anda bermain di sana selama
beberapa jam, berpindah-pindah dari satu permainan ke permainan lain. Setiap kali anda
menyelesaikan sebuah permainan, akan keluar beberapa tiket dari alat permainan itu,
bergantung kepada keahlian anda. Anda kemudian berusaha untuk mengumpulkan semua tiket
itu. Dan seberapapun tiket yang anda atau anak anda peroleh, anda menyadari bahwa tiket itu
tidak perlu dibawa pulang, karena ada counter penukaran tiket di sana.
Dan anda pasti paham yang kemudian terjadi. Anda berjalan ke tempat penukaran hadiah.
Anda menggenggam tiket itu dengan penuh semangat dan memandang ke rak hadiah, bagian
yang paling atas. Di sana ada sebuah boneka beruang cantik, yang harus ditukar dengan 80.000
tiket. Lalu anak anda memandang kepada anda dan mengatakan, “Saya ingin boneka itu.” Anda
dengan pelan mengatakan, “Wah, nak, tiketnya tidak cukup.”
Lalu, di rak yang agak di bawahnya, ada mainan lain yang juga sangat menarik, tetapi maaf,
harus ditukar dengan 60.000 tiket, sedangkan anda tidak memiliki tiket sebanyak itu. Lalu, anda
harus memandang ke rak yang bawah, turun terus sampai ke rak yang hampir paling bawah,
dimana ada pensil berwarna-warni, dan juga ada penghapus di sana. Anda menghitung-hitung
tiket di tangan anda, dan hanya cukup untuk sebuah pensil dan sebuah penghapus. Mau tidak
mau anda harus menerimanya. Ini salah satu saat yang paling menyedihkan bagi anak-anak.
Sudah bermain berjam-jam dan berusaha keras mengumpulkan tiket, tetapi hanya bisa
mendapatkan tiket yang cukup untuk sebuah pensil dan sebuah penghapus, padahal yang
dikejar adalah boneka beruang yang bagus di rak bagian atas.
Bayangkan hal itu ketika anda melihat Wahyu pasal 5. Yang ditawarkan sangat besar, di rak
paling atas, penebusan manusia. Akhir dari segala dosa, penebusan sempurna, ditawarkan
untuk masuk ke dalam sejarah manusia. Lalu di surga ada suara panggilan yang menyerukan,
siapa yang layak untuk membuka gulungan kitab itu? Siapa yang punya tiket yang cukup? Dan
anda membayangkan mengenai panggilan itu, lalu Abraham, bapa orang beriman di dalam
Perjanjian Lama, Abraham dilihat, tetapi ia tidak layak. Musa juga diperhatikan, lalu ada
Perjanjian Musa, tetapi tidak cukup juga. Nabi demi nabi muncul, tetapi tidak ada yang dianggap
layak. Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, mungkin karena mereka menuliskan kitab di
dalam Perjanjian Baru, mereka bisa. Tetapi tidak, tiketnya juga tidak mencukupi. Lalu waktu
terus berjalan. Bagaimana dengan Billy Graham, yang sudah berkhotbah kepada lebih banyak
orang dibandingkan dengan siapapun dalam sejarah gereja, tetapi Billy Graham juga tidak bisa.
Lalu tokoh-tokoh lain berdatangan. Orang-orang yang dianggap memulai agama baru, yang
dianggap suci oleh banyak orang. Tetapi tidak layak. Selebritis dan politikus, juga tidak layak.
Anda dan saya, hanya bisa memandang ke rak yang paling bawah, dan itupun belum bisa. Kita
hanya bisa melakukan yang dilakukan Yohanes, menangis dan menangis karena tidak ada
satupun yang dianggap layak dan kemudian anda menemukan pribadi yang layak, Yesus
membayar harga yang penuh. “Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: "Jangan
engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang,
sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.”
Ia adalah sang singa penakluk. Singa dari Yehuda, dari Tunas Daud. Bisa ditarik kembali ke
Kejadian 49, tetapi bukan hanya singa penakluk. Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan
keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah
disembelih.” Gambaran yang luar biasa, Anak Domba yang telah disembelih, apakah anda
melihatnya? Anak Domba yang disembelih, tetapi masih berdiri di tengah-tengah tahta.
Mengejutkan sekali. Anak Domba Singa, singa yang seperti anak domba. Dan kita menemukan
bahwa Yesus bisa menggenapi tujuan utama itu. Wahyu 5:7, “Lalu datanglah Anak Domba itu
dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.” Bisakah anda
membayangkannya? Kita berdiri di sana dengan tiket penuh ditangan kita tetapi tidak bisa
melakukannya.
Kita ingin, kita merindukan adanya penebusan yang penuh tetapi kita tidak berdaya karena tidak
layak mendapatkannya, tetapi tiba-tiba seseorang datang dan mengatakan, Aku memiliki tiket
yang cukup untuk itu. Ia memang memiliki tiket yang cukup dan membayar harga secara lunas.
Ia membayar lunas semuanya. Ia masuk ke dalam sejarah penebusan. Di sinilah kemudian
segala kekekalan tertuju. Dan yang terjadi adalah, ada Anak yang layak dipuji, Yesus yang layak
menerima segala pujian. Mereka menyanyikan nyanyian baru, ayat 9, “Engkau layak menerima
gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan
dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan
kaum dan bangsa.” Nyanyian kita, saudara seiman, akan menjadi baru dan nyanyian kita tidak
akan pernah berakhir. Tidak pernah berakhir dari segala suku, bahasa, bangsa dari antara
segala jemaat yang sudah ditebus Allah yang akan menyanyikan pujian bagi-Nya selamanya.
Semua membawa kita ke bagian akhir dari Wahyu 22:1-5 dan anda bisa membaca bagian itu,
tetapi pada dasarnya karena penggantian yang memuaskan di kayu salib, inilah kenyataannya.
Mereka yang dahulu mati di dalam dosa, suatu hari akan hidup dengan Allah. Mereka yang
dahulu ada di bawah murka Allah akan mengalami berkat-Nya. Mereka yang dahulu terpisah
dari Allah akan memandang wajah-Nya. Dan mereka yang dahulu terbelenggu dosa dan maut
akan memerintah bersama dengan Allah dalam kehidupan kekal. Haleluya! Juruselamat yang
ajaib.
Fly UP