...

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN FAKTOR

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN FAKTOR
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
Fithia DP, dkk.
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI
DENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK SEKOLAH DASAR
DI DAERAH ENDEMIS GAKI
Fithia Dyah Puspitasari1; Toto Sudargo2 dan Indria Laksmi Gamayanti3
Nutrition Department, Medical Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta.
2Public Health Department, Medical Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta.
3Child Health Department, Medical Faculty, Gadjah Mada University/ Child Health Installation,
Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta.
1Health
ABSTRAK
Lebih dari sepertiga (36,1%) anak di Indonesia tergolong pendek ketika memasuki usia sekolah. Pada sisi
yang lain penelitian-penelitian di negara berkembang lebih mengutamakan faktor kesehatan dibandingkan
faktor pengasuhan orangtua sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan fungsi kognitif seorang
anak. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi dengan
kemampuan kognitif anak sekolah dasar di daerah endemis GAKI. Rancangan penelitian adalah cross
sectional. Subyek adalah anak usia 9-12 tahun yang bersekolah di daerah Kismantoro yang merupakan
daerah endemis GAKI sedang. Sebanyak 69 anak sekolah dasar dipilih secara simple random sampling
untuk ikut serta dalam penelitian ini. Data sosiodemografi diperoleh lewat angket sedangkan data status
gizi diperoleh lewat pengukuran antropometri secara langsung. Inform Consent didapatkan dari masingmasing keluarga subyek. Hasil analisa bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara status gizi
dengan kemampuan verbal (p= 0,037) dan kemampuan kognitif total subyek (p= 0,021). Subyek yang
mengalami stunted memiliki risiko 9,226 kali lebih besar untuk memiliki nilai IQ dibawah rata-rata
dibandingkan subyek yang berstatus gizi normal. Hubungan yang signifikan juga ditunjukkan oleh
variabel lama pendidikan orangtua terhadap seluruh aspek kemampuan kognitif (p 0,000-0,009). Setelah
dilakukan uji multivariat diketahui bahwa hanya lama pendidikan orangtua yang tetap berhubungan
secara signifikan terhadap kemampuan kognitif subyek. Kemampuan kognitif total dan kemampuan verbal
subyek dipengaruhi oleh lama pendidikan ibu. Sedangkan lama pendidikan ayah memiliki hubungan yang
signifikan dengan kemampuan non verbal subyek penelitian. Untuk itu, para orangtua harus menempuh
pendidikan setinggi-tingginya untuk mendukung perkembangan kemampuan kognitif anaknya.
Kata kunci: status gizi, faktor sosiodemografi, kemampuan kognitif, anak sekolah dasar
ABSTRACT
THE CORRELATION BETWEEN NUTRITION STATUS AND SOCIODEMOGRAPHY FACTORS
TO COGNITIVE FUNCTION OF SCHOOL AGED CHILDREN
IN IODINE DEFICIENCY DISORDER ENDEMIC AREA
Over one third (36,1%) Indonesian children are stunted when entering school age at the first time. On the
otherside, research conducted in development country put greater emphasis on health factors as
determinant of child cognitive development rather than parenting care factor. The objective of the study is
to examine the correlation between nutrition status and sociodemography factors to cognitive function of
school aged children in iodine deficiency disorder endemic area. Cross-sectional study was employed to
gather information on nutrition status and sociodemography factors among 69 children aged 9-12 years
who lived in Iodine Deficiency Disorder (IDD) area. Research subjects were chosen using simple random
sampling method. Sociodemography data were gathered using questionnaire. Direct antrophometry
measurement was used for nutrition status data. Every parents of each subject signed in an Inform
Consent before allowing their children to take part in this research. The result showed that significant
correlation were found between nutritional status of children to cognitive capability (p= 0,037) and total
cognitive (p= 0,021). Subjects who were suffered from stunted had 9,226 times higher of having low total
cognitive function compared to those who had normal nutrition status. A significant correlation also
showed that between parents` education to verbal, non verbal and total cognitive function were
significance (p= 0,000-0,009). Using multivariat analysis, it was clear that only parental education still
showed a significant correlation to child cognitive function. In conclusion, it showed that mothers`
education gave 10,3% contribution to children`s total cognitive function and 8,3% it contribution to
52
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
Fithia DP, dkk.
children`s verbal capability. Fathers`education gave 13,8% contribution to children non verbal capability.
Therefore, parents should attain highest formal education level to achieve to their child’s normal cognitive
function.
Keywords: nutrition status, sociodemography, cognitive, school age children
sosio
demografi
yang
mempengaruhi
perkembangan kemampuan kognitif seorang
anak yang tinggal di daerah endemis GAKI,
diharapkan semua anak akan dapat
mengembangkan kemampuan kognitifnya
secara maksimal sehingga kualitas hidupnya
akan menjadi lebih baik di masa mendatang.
PENDAHULUAN
S
aat ini bangsa Indonesia masih harus
berjuang memerangi berbagai macam
penyakit infeksi dan kurang gizi.1
Penelitian lain2 membuktikan bahwa anak
dengan stunting berat pada usia 2 tahun
memiliki skor kognitif yang diukur dengan
WISC-R 10 poin lebih rendah dibandingkan
anak yang tidak menderita stunting. Salah satu
bentuk kurang gizi adalah kurang iodium.
Kekurangan iodium menyebabkan kehilangan
IQ sebesar 10 hingga 15 poin pada tingkat
populasi di seluruh dunia. Kurang iodium juga
menjadi penyebab utama kerusakan otak dan
retardasi mental di dunia yang sebenarnya bisa
dicegah.3
Penderita
Gangguan
Akibat
Kekurangan Iodium (GAKI) banyak di temukan
di daerah pegunungan karena umumnya
mereka tergantung pada bahan makanan yang
tumbuh di daerah tersebut yang kandungan
iodium dalam tanahnya rendah.4
Belum diketahui secara jelas interaksi
antara kurangnya pengetahuan pengasuhan
oleh orang tua dengan perkembangan kognitif
seorang anak di negara miskin. Kebanyakan
literatur dari Amerika Serikat menghubungkan
keadaan sosial ekonomi yang lebih tinggi;
diukur melalui pendapatan, harta yang dimiliki
dan
pendidikan
orangtua;
dengan
perkembangan kemampuan kognitif anak yang
lebih baik. Penelitian-penelitian di negara
berkembang lebih mengutamakan faktor
kesehatan dibanding faktor pengasuhan
orangtua sebagai faktor yang mempengaruhi
perkembangan fungsi kognitif seorang anak.5
Rendahnya pengetahuan orangtua akan
berakibat langsung kepada rendahnya stimulasi
yang diterima anak yang diperlukannya untuk
mengembangkan kemampuan kognitifnya.
Penelitian kohort di Denmark memberikan bukti
bahwa seorang anak dengan kemampuan
kognitif yang lebih baik akan memiliki risiko
yang lebih kecil untuk meninggal di usia muda.6
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor yang mempengaruhi kemampuan kognitif
anak sekolah dasar di daerah endemis GAKI.
Dengan diketahuinya faktor status gizi dan
METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan merupakan
penelitian
observasional/analitik
dengan
rancangan cross-sectional yang digunakan
untuk menentukan hubungan antara variabel
bebas dengan variabel terikat.7 Penelitian ini
merupakan bagian dari penelitian payung yang
berjudul `Identifying Geogenic Controls Of
Iodine Deficiency Disorder (IDD) Incidence In
The Volcanic Landscape And The Relationship
Determinant With Cognitive Function Of
Elementary School Children In Iodine Deficiency
Disorders Area.
Penelitian dilaksanakan di Kecamatan
Kismantoro Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah
pada September 2007. Kecamatan Kismantoro
dipilih sebagai tempat pelaksanaan penelitian
karena:
1. Berdasarkan Ahli Gizi Dinas Kesehatan
Wonogiri, prevalensi gondok di Wonogiri
mencapai 21,1 persen. Prevalensi tersebut
membuat Wonogiri masuk dalam kategori
daerah endemis GAKI tingkat sedang.
2. Desa Kismantoro dipilih berdasarkan hasil
survei kesehatan oleh tim medis RSUP dr.
Sardjito pada tahun 2006.8 Survei ini
mendeteksi telah terjadi penurunan
kemampuan kognitif pada 40 orang anak
pada 1 Sekolah Dasar di kecamatan
Kismantoro. Survei ini juga menemukan
kasus kretinisme pada lebih dari 1 orang
juga beberapa gangguan THT pada
penduduk Kismantoro.
Subyek dalam penelitian ini adalah anak
berusia 9 hingga 12 tahun yang duduk di kelas
4 hingga kelas 6 Sekolah Dasar di Wonogiri
Jawa Tengah. Jumlah subyek penelitian
dihitung menggunakan rumus besar sampel
53
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
untuk penelitian kesehatan.9 Berdasarkan
perhitungan tersebut dengan loss to follow up
10 persen maka didapatkan jumlah sampel
minimal yang dibutuhkan adalah 71 orang.
Pada akhir penelitian terdapat dua subyek yang
drop-out karena ketidaklengkapan data, maka
analisa statistik hanya dilakukan terhadap data
dari 69 subyek penelitian yang sesuai dengan
kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang diteliti
adalah status gizi, faktor sosiodemografi
(meliputi pola asuh, lama pendidikan orangtua,
struktur keluarga dan jumlah anak) dan
kemampuan kognitif anak sekolah dasar.
Fithia DP, dkk.
HASIL
Tabel 1 menunjukkan 53,6 persen subyek
penelitian berjenis kelamin perempuan.
Kebanyakan subyek penelitian diasuh oleh ibu
yang demokratis dan tinggal di dalam keluarga
yang nuclear. Rata-rata jumlah anak yang
dimiliki oleh keluarga subyek adalah 2 orang.
Orangtua sampel yang menempuh pendidikan
lebih dari 6 tahun berjumlah kurang dari 16
persen. Hampir 40 persen sampel mengalami
stunted. Sebanyak 82,6 persen subjek memiliki
nilai IQ total dibawah nilai rata-rata (< 90).
Berdasarkan pengujian normalitas data
(tabel hasil uji terdapat di lampiran) diketahui
bahwa data IQ, struktur keluarga, pola asuh,
jumlah saudara dan lama pendidikan orangtua
(ibu dan ayah) dari 69 subyek semuanya valid
(tidak ada data yang hilang/kurang lengkap).
Berdasarkan uji kolmogorov-Smirnov; data IQ
(baik verbal, nonverbal maupun total) memiliki
nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (p > 0,05).
Sedangkan data status gizi, struktur keluarga,
pola asuh, jumlah saudara dan lama pendidikan
orangtua memiliki nilai p < 0,05. Nilai sig. < 0,05
pada uji normalitas data menunjukkan data
tersebut terdistribusi tidak normal. Analisis
statistik untuk data terdistribusi tidak normal
adalah uji statistik non parametrik. Nilai IQ untuk
semua uji berskala rasio kecuali untuk uji chisquare (berskala nominal).
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa
variabel yang memiliki hubungan yang
signifikan dengan kemampuan kognitif (total,
verbal, non verbal) anak sekolah dasar di
daerah endemis GAKI adalah variabel lama
pendidikan orangtua (ayah dan ibu). Sedangkan
status gizi anak memiliki hubungan yang
signifikan terhadap kemampuan kognitif total
dan kemampuan verbal sampel penelitian. Uji
chi-square yang dilakukan terhadap variabel
status gizi dan kemampuan kognitif
menunjukkan OR 9,225 pada kemampuan
kognitif total sampel. Hal ini berarti anak yang
mengalami stunted memiliki risiko 9,226 kali
lebih besar untuk memiliki nilai IQ total di bawah
rata-rata. Untuk mengetahui sumbangan
pengaruh variabel bebas terhadap variabel
terikat maka dilakukan uji multivariat (Tabel 3).
Kriteria inklusi subyek:
- Anak yang berusia 9 hingga 12 tahun.
- Bagi anak wanita belum mengalami
menstruasi.
- Sudah tinggal di lokasi penelitian
selama minimal 6 bulan.
Kriteria eksklusi subyek:
- Saat tes kemampuan kognitif
dilakukan, subyek dalam keadaan
sakit.
- Mengalami sakit kronis (contoh:
malaria, talasemia, dll).
Instrumen
yang
digunakan
untuk
mengumpulkan data sosiodemografi yang
dibutuhkan adalah angket pola asuh yang terdiri
dari 30 item pertanyaan dan kuisioner. Status
gizi anak didapatkan melalui pengukuran tinggi
badan anak secara langsung untuk kemudian
dibandingkan dengan standar status gizi anak.10
Nilai IQ subyek diuji menggunakan 10 sub test
WISC-R yang dilakukan oleh tenaga psikolog.
Setelah angket pola asuh diuji
menggunakan uji validitas terpakai, diketahui
bahwa hanya terdapat 23 item pertanyaan yang
valid. Selanjutnya hanya jawaban dari 23 item
pertanyaan tersebut yang digunakan dalam
analisis statistik. Analisis statistik dilakukan
menggunakan analisis bivariat dan multivariat.
Analisis statistik bivariat dilakukan untuk
mengetahui hubungan antara masing-masing
variabel bebas terhadap variabel terikat.
Analisis multivariat dilakukan dengan tujuan
mengetahui sumbangan pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikat.
54
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
Fithia DP, dkk.
Tabel 1
Karakteristik Responden
Karakteristik
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Umur
Intelligence Quotient Total
Mentally Defective
Borderline
Agak Rendah
Rata-rata
Intelligence Quotient Verbal
Intelligence Quotient Non Verbal
Pola Asuh Ibu
Permisif
Otoriter
Demokratis
Lama Pendidikan Ibu
≤ 6 tahun
> 6 tahun
Lama Pendidikan Ayah
≤ 6 tahun
> 6 tahun
Struktur Keluarga
Nuclear
Extended
Status Gizi
Normal
Stunted
Jumlah Anak
n
%
32
37
46,4
53,6
Mean (±SD)
10,3 thn (±14,5 bln)*
73,15 (±14,8)
27
18
12
12
39,1
26,1
17,4
17,4
73,09 (±14,6)
78,07 (±14,1)
4
2
63
5,8
2,9
91,3
6 (±2,57)*
58
11
84,1
15,9
6 (±2,43)*
57
12
82,6
17,4
43
26
62,3
37,7
42
27
60,87
39,13
2 (±1,21)*
* Merupakan median (± SD)
Tabel 2
Hasil Uji Bivariat
Variabel Bebas
IQ Verbal
IQ Non Verbal
IQ Total
Status Gizi
0,037
0,057
0,021
Pola Asuh
0,52
0,37
0,37
Lama Pendidikan Ibu
0,003
0,009
0,002
Lama Pendidikan Ayah
0,003
0,000
0,000
Struktur Keluarga
0,30
0,23
0,28
Jumlah Anak
0,25
0,53
0,67
55
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
Fithia DP, dkk.
Tabel 3
Hasil Uji Multivariat
Status Gizi
IQ Verbal
Adjusted
Sig
R Square
0,70
IQ Non Verbal
Adjusted
Sig
R Square
0,322
IQ Total
Adjusted
Sig
R Square
0,105
Pola Asuh
0,963
0,511
0,745
Lama Pendidikan Ibu
0,009
0,116
0,003
Lama Pendidikan Ayah
0,647
0,001
Struktur Keluarga
0,522
0,390
0,436
Jumlah Anak
0,360
0,724
0,753
Variabel
0,083
Berdasarkan Tabel 3 dapat kita simpulkan
bahwa faktor yang mempengaruhi kemampuan
kognitif anak adalah lama pendidikan orangtua.
Lama pendidikan ibu memberikan sumbangan
sebesar 8,3 persen dan 10,8 persen terhadap
kemampuan verbal dan kemampuan kognitif
total anak (p< 0,005). Sedangkan lama
pendidikan ayah memberikan sumbangan
sebesar 13,8 persen terhadap kemampuan non
verbal anak (p< 0,005).
0,138
0,108
0,162
perkembangan psikososial. Orangtua yang
memiliki lebih banyak sumber daya akan
mengasuh anaknya dengan lebih baik.14
Hubungan Antara Pola Asuh Ibu dengan
Kemampuan Kognitif Anak Usia Sekolah
Dasar Yang Tinggal di Daerah Endemis GAKI
Hasil uji bivariat antara variabel pola asuh
dengan kemampuan kognitif menunjukkan hasil
yang tidak signifikan. Ketidaksignifikanan
hubungan antara pola asuh ibu dengan
kemampuan kognitif anak pada penelitian ini
dimungkinkan karena angket pola asuh yang
digunakan dalam penelitian ini kurang dapat
menggambarkan pola asuh yang sebenarnya
diterapkan oleh ibu kepada anak-anaknya. Hal
ini dibuktikan oleh penelitian lain yang
memberikan informasi bahwa walaupun pola
asuh seorang ibu sudah diusahakan untuk digali
dalam sebuah wawancara namun setelah
dilakukan observasi ternyata apa yang
dilaporkan ibu dalam wawancara berbeda
dengan pola asuh yang mereka jalankan seharihari.15
Penelitian ini hanya mengukur pola asuh
ibu saja. Padahal anak yang diasuh dengan
pola asuh campuran (antara ayah dan ibu)
memiliki risiko 1,9 kali lebih besar untuk
mengalami
hambatan
perkembangan
dibandingkan anak yang diasuh dengan pola
asuh demokratis saja.12
Tidak adanya hubungan yang signifikan
antara pola asuh ibu dengan kemampuan
kognitif anak juga disebabkan karena dalam
variabel pola asuh ibu tidak menggali
bagaimana stimulasi kognitif yang diberikan
oleh ibu kepada subyek sejak masa awal
BAHASAN
Hubungan Antara Status Gizi Anak dengan
Kemampuan Kognitif Anak Usia Sekolah
Dasar Yang Tinggal Di Daerah Endemis
GAKI
Terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara tinggi badan dengan nilai IQ
anak.11 Anak berusia 3-6 tahun yang mengalami
malnutrisi memiliki risiko 1,9 kali lebih besar
untuk mengalami hambatan pertumbuhan
dibandingkan anak yang status gizinya
normal.12
Anak malnutrisi memiliki rata-rata nilai IQ
22,6 poin lebih rendah dibandingkan anak
berstatus gizi baik. Malnutrisi pada anak akan
mengganggu sistim informasi di dalam otak.13
Bahkan sebelum status gizi anak menjadi
kurang, anak yang kekurangan makanan
(indikasi: keluarga beberapa kali/sering tidak
memiliki cukup makanan) memiliki skor aritmetik
(diukur menggunakan WRAT-R) 0,4 poin lebih
rendah dan memiliki risiko 1,44 kali lebih besar
untuk tinggal kelas. Hal ini menunjukkan bahwa
ada hubungan negatif antara ketidakcukupan
pangan dengan nilai akademi anak sekolah dan
56
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
kehidupannya. Anak usia 5-6 tahun yang
kurang diberi stimulasi kognitif akan memiliki
risiko 15,6 kali lebih besar untuk mendapatkan
kecerdasan yang tidak normal.16 Selain pola
asuh dan stimulasi kognitif, variabel lain
berkaitan dengan pola asuh yang juga
mempengaruhi kecerdasan anak adalah
kemampuan orangtua untuk mengorganisasi
lingkungan rumah, materi bermain, keterlibatan
orangtua, variasi stimulasi, penerimaan
orangtua terhadap kreatifitas anak, rasa frustasi
selama pengasuhan, tingkat pengontrolan
orangtua terhadap anak dan kemampuan
orangtua untuk memfasilitasi kegiatan belajar
mengajar. Faktor-faktor tersebut dikategorikan
sebagai faktor lingkungan.17 Secara statistik
faktor lingkungan tersebut berpengaruh
langsung terhadap fungsi kecerdasan anak
bahkan setelah faktor status sosial ekonomi
dikendalikan.
Fithia DP, dkk.
hambatan pertumbuhan dibanding anak yang
diasuh ibu berpendidikan lebih tinggi.12
Penelitian lain menyebutkan bahwa ibu
yang menempuh pendidikan formal lebih dari 5
tahun akan lebih banyak memberikan respon
kepada anak secara verbal dan emotional, lebih
mampu mengorganisasi lingkungan, cukup
menyediakan materi bermain dan permainan,
keterlibatannya dengan anak lebih besar dan
stimulasi yang mereka berikan juga lebih
bervariasi.20 Anak berumur 3-6 tahun yang
memiliki ayah yang mengenyam pendidikan ≤ 6
tahun maka akan memiliki risiko sebanyak 3,57
kali lebih banyak untuk mengalami
perkembangan kognitif yang lebih rendah
dibandingkan anak yang ayahnya mengenyam
pendidikan > 6 tahun.21
Semakin tinggi tingkat pendidikan orang
dewasa yang tinggal bersama anak, maka akan
semakin tinggi pula kemampuan kognitif anak
tersebut di segala aspek (verbal, non verbal
maupun total).22 Oleh Dollahite dan Rommel
(1993), pendidikan orang dewasa yang tinggal
bersama seorang anak merupakan sebuah
sumber daya.22 Sumber daya tersebut dianggap
dapat menyediakan apa yang dibutuhkan oleh
anak. Kemampuan penyediaan ini akan
semakin besar seiring dengan semakin
tingginya tingkat pendidikan yang ditempuh
orang dewasa tersebut. Investasi sumber daya
rumah tangga untuk perkembangan seorang
anak tidak disangkal lagi akan berpengaruh
terhadap fungsi kognitif anak tersebut.22
Orangtua dengan taraf pendidikan yang
lebih baik akan menghasilkan lebih banyak
uang dalam hidupnya, dapat menyediakan
tempat tinggal yang lebih baik, memberikan
kesempatan pendidikan lebih banyak kepada
anaknya dan tentu saja mereka akan memiliki
status sosio ekonomi yang lebih baik.15
Pola asuh yang memiliki hubungan
signifikan dengan kemampuan kognitif anak
adalah pola asuh yang responsif (sensitif,
memfokuskan perhatian anak, penggunaan
bahasa yang lebih banyak serta mengurangi
intonasi negatif dalam perkataan). Anak yang
menerima pola asuh responsif sepanjang masa
perkembangan (balita, pra sekolah dan masa
sekolah dasar) memiliki nilai IQ 5 poin lebih
tinggi dibanding anak yang hanya menerima
pola asuh responsif selama 2 masa
perkembangan. Anak yang menerima pola asuh
responsif hanya pada salah satu masa
perkembangan akan memiliki nilai IQ yang lebih
rendah 10 poin dibanding anak yang
menerimanya pada 2 masa perkembangan.18
Hubungan Antara Lama Pendidikan
Orangtua dengan Kemampuan Kognitif Anak
Usia Sekolah Dasar Yang Tinggal Di Daerah
Endemis GAKY
Hubungan Antara Struktur Keluarga dengan
Kemampuan Kognitif Anak Usia Sekolah
Dasar Yang Tinggal Di Daerah Endemis
GAKY
Signifikannya hubungan antara lama
pendidikan orangtua dengan kemampuan
kognitif anak pada penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan sebelumnya 19,11
menyatakan bahwa anak yang diasuh oleh
orangtua yang menyelesaikan pendidikan
hingga ke tahap sekunder atau lebih akan
memiliki nilai IQ yang lebih tinggi. Anak yang
diasuh oleh ibu yang hanya mengenyam
pendidikan hingga sekolah dasar akan memiliki
risiko 3 kali lebih besar untuk mengalami
Hubungan yang signifikan antara struktur
keluarga dengan kemampuan kognitif anak
pada penelitian ini sesuai dengan beberapa
hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di
Asia. Keluarga extended pada komunitas Asia
akan menguntungkan perkembangan kognitif
anak.19 Namun penelitian lain mengatakan
struktur
keluarga
nuclear-lah
yang
57
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
menguntungkan bagi perkembangan kognitif
anak.23 Orangtua yang tinggal dalam keluarga
yang extended mengenyam pendidikan yang
lebih tinggi dibanding orangtua dalam keluarga
nuclear. Anak yang tinggal di dalam keluarga
yang nuclear juga memiliki output pendidikan
yang lebih baik dibanding mereka yang tinggal
di dalam keluarga extended.24
Keluarga extended terutama di Indonesia
memang memiliki sumber daya yang relatif
lebih banyak dibanding keluarga nuclear.
Namun hal ini tidak berpengaruh banyak
terhadap perkembangan anak. Salah satu
contohnya adalah hasil penelitian yang
mengatakan bahwa konsumsi barang di tingkat
keluarga lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat
pendapatan keluarga tersebut dibandingkan
oleh faktor bentuk keluarga.25 Faktor yang
mempengaruhi status gizi (tinggi badan) anak
adalah banyaknya anggota keluarga yang
belum mandiri. Semakin banyak anggota
keluarga belum mandiri yang tinggal bersama
anak tersebut, maka tinggi badannya akan
menurun. Anggota keluarga yang belum
mandiri adalah anak yang usianya kurang dari
10,5 tahun.26
Keuntungan yang didapat dari keluarga
yang berukuran sangat besar sudah
menghilang
untuk
daerah
pedesaan.
Sedangkan
bukti
yang
menunjukkan
keuntungan dari memiliki keluarga yang
berukuran kecil dan kerugian dari keluarga
berukuran besar belum ada hingga saat ini.27
Tidak ada perbedaan perkembangan pada anak
yang tinggal dalam keluarga nuclear maupun
extended.21
Fithia DP, dkk.
dibanding mereka yang memiliki 5-6 saudara.
Anak yang memiliki saudara lebih dari 7 orang
juga bersekolah 0,75 tahun lebih sedikit
dibanding mereka yang memiliki 5-6 saudara.27
Bertambahnya jumlah anak akan memiliki efek
negatif kepada pencapaian pendidikan anak
Afrika Selatan jika anak tersebut tinggal di
dalam keluarga yang nuclear. Hal ini tidak
terjadi pada anak yang tinggal di dalam
keluarga yang extended karena keluarga dapat
memikul biaya pengasuhan anak bersama
dengan saudara mereka.29
Hubungan yang tidak signifikan antara
jumlah anak dengan kemampuan kognitif
dikarenakan dalam variabel jumlah anak tidak
menggambarkan jarak kelahiran antar saudara.
Tinggi badan anak laki-laki akan bertambah jika
jarak kelahiran diperpanjang dari 12-17 bulan
menjadi 30-35 bulan. Untuk anak perempuan,
tinggi badan mereka akan bertambah jika jarak
kelahiran diperpanjang menjadi 24-29 bulan.26
Bertambahnya
jarak
kelahiran
akan
meningkatkan
pertumbuhan
kecerdasan
seorang anak. Hal ini dibuktikan dengan
rendahnya kemampuan kognitif pada anak yang
terlahir kembar. 23
Jarak kelahiran yang lebih dari 5 tahun
akan membuat seorang anak dan saudara
kandungnya tidak berebut perhatian orangtua
dan sumber daya yang dimiliki keluarga.30
Selain itu rata-rata nilai stimulasi dalam
lingkungan keluarga akan lebih tinggi pada
anak yang tinggal bersama dengan lebih sedikit
anak balita.20
SIMPULAN
Hubungan Antara Jumlah Anak dengan
Kemampuan Kognitif Anak Usia Sekolah
Dasar Yang Tinggal Di Daerah Endemis
GAKY
1. Terdapat hubungan yang bermakna antara
status gizi anak dengan kemampuan
kognitif anak sekolah dasar di daerah
endemis GAKI.
2. Tidak ada hubungan yang bermakna antara
pola asuh dengan kemampuan kognitif
anak sekolah dasar di daerah endemis
GAKI.
3. Terdapat hubungan yang bermakna antara
lama pendidikan orangtua dengan
kemampuan kognitif anak sekolah dasar di
daerah endemis GAKI.
4. Tidak ada hubungan yang bermakna antara
struktur keluarga dengan kemampuan
kognitif anak sekolah dasar di daerah
endemis GAKI.
Hubungan yang tidak signifikan antara
jumlah anak dalam keluarga dengan
kemampuan kognitif pada penelitian ini
didukung oleh beberapa literatur. Salah satunya
adalah hasil penelitian di Indonesia. Hasil dari
penelitian tersebut adalah bahwa tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara penyelesaian
pendidikan dengan jumlah anak dalam sebuah
keluarga di pedesaan.28 Penelitian sebelumnya
menemukan fakta bahwa seorang anak yang
tidak memiliki atau memiliki 1 saudara
menempuh sekolah 0,75 tahun lebih sedikit
58
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
Fithia DP, dkk.
5. Tidak ada hubungan yang bermakna antara
jumlah anak dengan kemampuan kognitif
anak sekolah dasar di daerah endemis
GAKI.
6. Dari uji multivariat diketahui bahwa lama
pendidikan ibu berpengaruh terhadap
kemampuan kognitif total dan kemampuan
verbal sampel. Sedangkan lama pendidikan
ayah berpengaruh terhaap kemampuan
non verbal sampel.
Sardjito Yogyakarta Bersama Kodam IV
Diponegoro Di Desa Lemahbang Kec
Kismantoro Kab Wonogiri Jawa Tengah.
Yogyakarta: RSUP Dr Sardjito, 2006.
9. Lemeshow, S and Hosmer, .W. Besar
Sampel dalam Penelitian Kesehatan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press,1997.
10. CDC.
Growth
Indicators.
www.cdc.gov.2000.
RUJUKAN
11. Lawlor, D.A., Batty, G.D., Morton, S.M.B.,
et al. Early Life Predictor of Childhood
Intelligence: Evidence from the Aberdeen
Children of the 1950s Study. Journal of
Epidemiology and Community Health 2005;
59: 656-663.
1. Hadi, H. Artikel Beban Ganda Masalah Gizi
dan Implikasinya Terhadap Kebijakan
Pembangunan
Kesehatan
Nasional.
www.gizi.net. 2005.
2. Berkman, D.S, Lescano A.G, Gilman R.H,
Lopez S.L, Black M.M. Effect of Stunting,
Diarrhoeal Disease, and Parasitic Infection
During Infancy on Cognition in Late
Childhood: A Follow-up Study. The Lancet,
2002; 359: 564-571.
12. Nanthamongkolchai, S., Ngaosusit, C.,
Munsawaengsub, C. Influence of Parenting
Styles on Development of Children Aged
Three to Six Years Old. J Med Assoc Thai
2007 Vol. 90 No. 5 : 971-976.
13. Birch, H.G. Malnutrition, Learning and
Intelligence. AJPH 1972; 62(6): 773-784.
14. Alaimo, K., Olson, C.M. and Frongillo Jr,
E.A. Food Insufficiency and American
School-Aged
Children`s
Cognitive,
Academic, and Psychosocial Development.
Pediatrics, 2001; 108: 44-53.
15. Quinn, K.C. Beliefs About Parenting and
How It Affects A Child`s Education.
Michigan: Eastern Michigan University,
2006.
16. Andarwati, R., Prawirohartono, E. P. dan
Gamayanti, I. L. Hubungan Berat Badan
Lahir, Pemberian ASI Eksklusif, Status Gizi
dan Stimulasi Kognitif dengan Kecerdasan
Anak Usia 5-6 Tahun. Jurnal Gizi Klinik
Indonesia, 2006, 2 : 95-100.
3. Delange, F. Iodine Deficiency as a Cause
of Brain Damage. Postgrad. Med. J.
2001;77: 217-220.
4. Triyono., Gunanti, R. I. Identifikasi Faktor
Kejadian Gondok pada Anak SD. Jurnal
GAKY Indonesi, 2004; 3(1-3).
5. Paxson, C. Research Paper: Cognitive
Development Among Young Children in
Ecuador : The Roles of Wealth, Health and
Parenting. England : Princenton University.
JEL codes: 112, O12. 2005. Diakses dari
www.weblamp.princeton.edu pada tanggal
14 Februari 2007.
6. Osler, M., Andersen, A.M.N., Due, P.,
Lund, R., Damsgaard, M.T., Holstein, B.E.
Sosioeconomic Position in Early Life, Birth
weigth, Childhood Cognitive and Adult
Mortality. A Longitudinal Study of Danish
Men Born in 1953. J Epidemiol Community
Health 2003,57: 681-686.
17. Coscia, J.M., Christensen, B.K., Henry,
R.R., et al. Effect of Home Environment,
Socioeconomic Status, and Health Status
on Cognitive Functioning in Children with
HIV-1 Infection. Journal of Pediatric
Psychology, 2001; 6: 321-329.
18. Smith, K.E., Landry, S.H. and Swank, P.R.
The
Role
of
Early
Maternal
Responsiveness in Supporting SchoolAged Cognitive Development for Children
Who Vary in Birth Status. Pediatrics, 2006;
117: 1608-1617.
7. Ghazali, M.V., Sastromihardjo, S.,
Soedjarwo, S.R., Soelaryo, T., Pramulyo,
H.S. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian
Klinis : Studi Cross Sectional. Jakarta:
Binarupa Aksara, 1995.
8. Tim Medis RSUP Sardjito. Laporan
Pemeriksaan Gondok Kretin RSUP Dr
59
Gizi Indon 2011, 34(1):52-60
Hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi
19. Avan, B.I., Rahbar, M.H. dan Raza, S.A.
The Role of Family Configuration in Early
Childhood Intellectual Development in the
Context of an Extended Family System in
Pakistan. J Postgrad Med, 2007; 53: 27-33.
20. Andrade, S.A., Santos, D.N., Bastos, A.C.,
Regina, M., Pedromonica, M., AlmeidaFilho, N., Barreto, M.L. Family Environment
and Child’s Cognitive Development: an
Epidemiological Approach. Rev Saúde
Pública, 2005; 39 (4): 1-6.
21. Isaranurug, S., Nanthamongkolchai, S.,
Kaewsiri,
D.
Factors
Influencing
Development of Children Aged One to
Under Six Years Old. J Med Assoc Thai,
2005 ; 88 (1): 86-90.
Fithia DP, dkk.
25. Witoelar,
Firman.
Inter-household
Allocations within Extended Family:
Evidence from the Indonesia Family Life
Survey (Center Discussion Paper No. 912).
America : Economic Growth Center Yale
University, 2005.
26. Russell, M. The Relationship of Family Size
and Spacing To the Growth of Preschool
Mayan Children in Guatemala. AJPH
December 1976; 66 (12): 1165-1172.
27. Maralani, V. Family Size and Educational
Attainment in Indonesia: A Cohort
Perspective (Paper CCPR 017 04). Los
Angeles : California Center for Population
research, 2004.
28. Maralani, V. The Changing Relationship
Between Family Size and Educational
Attainment Over the Course of
Socioeconomic Development: Evidence
From Indonesia. Los Angeles: California
Center for Population research, 2007.
29. Lu, Y. Shibship Size, Family Organization
and Children`s Education in South Africa:
Black-White Variations On-Line Working
Paper Series). America : California Center
for Population Research, 2005.
30. Hesketh,
B.
S.,
Iodine
and
Neuropsychological Development. The
Journal of Nutrition 2000; 130: 493S-495S.
22. Kramer, R.A., Allen, LR.A. and Gergen,
P.J. Health and Social Characteristics and
Children`s Cognitive Functioning: Results
from a National Cohort. American Journal
of Public Health, 1995; 85(3): 312-318.
23. Zajonc, R.B. Family Configuration and
Intelligence. Science 1976; 192: 227-236.
24. Edlund, L., Rahman, A. Household
Structure and Child Outcomes : Nuclear vs.
Extended Families – Evidence from
Bangladesh.
Columbia:
Columbia
University. Research Paper, 2004. Diakses
dari www.economics.uchicago.edu pada
tanggal 10 Juli 2007.
60
Fly UP