...

setting parameter mesin press dengan metode respon permukaan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

setting parameter mesin press dengan metode respon permukaan
Jurnal Riset Industri Vol. V, No.2, 2011, Hal 153-160
SETTING PARAMETER MESIN PRESS DENGAN METODE RESPON
PERMUKAAN PADA PABRIK KELAPA SAWIT
PARAMETER SETTING OF PRESS MACHINE USING RESPONSE SURFACE METHOD IN OIL
PALM FACTORY
Candra Bachtiyar 1 dan Rodhi Amrillah 2
1
2
Pendidikan Teknologi Kimia Industri Medan
PT. Perkebunan Lembah Bakti, Astra Agro Lestari, Tbk
[email protected], [email protected]
ABSTRAK
Parameter kontrol yang harus dijaga pada mesin press adalah biji pecah (broken nut) dengan nilai standard
maksimal 18% dan kehilangan minyak dalam serabut (oil losses in fibre/oil dry) dengan nilai standard adalah 6,8–
7,5%. Penelitian ini menggunakan metode respon permukaan sebagai alat untuk menentukan kondisi operasi
optimum mesin press dengan parameter temperatur digester dan tekanan hidraulik. Temperatur digester
divariasikan pada 93, 98, 103 0C dan tekanan hidrolik divariasikan pada 30, 40, 50 bar untuk percobaan orde
pertama dan menggunakan skema central composite design (CCD) pada percobaan orde kedua. Hasil penelitian
menunjukkan temperatur digester dan tekanan hidrolik berpengaruh terhadap kualitas parameter yang dikontrol.
Model yang dihasilkan untuk biji pecah adalah
0,014 X 1
Yˆb
2
2
= 275,397 – 6,059 X 1 + 1,847 X 2 + 0,033 X 1 - 0,003 X 2 -
X 2 dan untuk kehilangan minyak dalam serabut adalah Yˆo
= 237,337 – 4,431 X 1 - 0,814 X 2 + 0,022
X 12 + 0,002 X 22 + 0,006 X 1 X 2 . Parameter optimal mesin press diperoleh pada saat temperatur digester 96,9
0
C dan tekanan hidraulik 39,3 bar dengan respon broken nut sebesar 13,75% dengan nilai desirability 0,70916
dan oil dry sebesar 7,01% dengan nilai desirability 0,9883.
Kata kunci: Metode respon permukaan, biji pecah, kerugian minyak, temperatur digester, tekanan hidraulik
ABSTRACT
Control parameter in press machine are broken nut with standard maximum is 18 % and oil losses in fibre (oil dry)
with standard value 6,8-7,5 %. In this research response surface method employed as tool to determine optimum
parametric in press machine with digester temperature and hydraulic pressure as parameter. Digester
temperature variated at 93, 98, 103 0C and hydraulic pressure at 30, 40, 50 bar in first orde experiment and using
central composite design (CCD) for second experiment. Result of experiment shown digester temperature and
hydraulic pressure influnetial the quality. The model for broken nut is
2
2
0,033 X 1 - 0,003 X 2 - 0,014 X 1
X 2 and for oil dry is Yˆo
Yˆb
= 275,397 – 6,059 X 1 + 1,847 X 2 +
= 237,337 – 4,431 X 1 - 0,814 X 2 + 0,022
X 12 + 0,002
X 22 +
0,006 X 1 X 2 . Optimal parametric in press machine provided at digester temperature 96,9 0C and
hydraulic pressure 39,3 bar with broken nut 13,75% with desirability 0,70916 and oil dry response 7,01% with
desirability 0,9883.
Keywords: Response surface method, broken nut, oil dry, digester temperature, hydraulic pressure
PENDAHULUAN
Peraturan presiden nomor 28 tahun 2008
tentang kebijakan industri nasional,
mengelompokkan industri agro terdiri atas
industri
pengolahan
kelapa
sawit,
pengolahan hasil laut, pengolahan karet,
pengolahan kayu, pengolahan tembakau,
pengolahan kakao dan coklat, pengolahan
buah, pengolahan kelapa, pengolahan kopi,
pulp dan kertas. Khusus industri pengolahan
kelapa sawit menempatkan Indonesia
sebagai salah satu penghasil minyak sawit
mentah (CPO) terbesar di dunia. Oleh
karenanya, perkembangan industri kelapa
sawit terus didorong oleh pemerintah. Salah
satu langkah yang ditempuh adalah dengan
memasukkan pengembangan industri
kelapa sawit dalam salah satu dari enam (6)
koridor pengembangan industri melalui
program Master Plan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI)
yang lokasi utamanya di pulau Sumatera.
(Ministry of Industri, 2011).
153
Setting Parameter Mesin Press……….( Candra Bachtiyar dkk)
Produk utama yang dihasilkan pabrik
pengolahan minyak kelapa sawit adalah
CPO dan kernel. Buah kelapa sawit yang
merupakan bahan baku dalam industri
kelapa sawit akan diolah melalui proses
perebusan, pemipilan, pelumatan, pengempaan, pemisahan, pengeringan, dan
penimbunan (Pardamean, 2008). Oleh
karennya, dalam pabrik kelapa sawit (PKS)
akan terdiri unit-unit kerja yang berfungsi
mendukung proses guna mewujudkan
produk pengolahan kelapa sawit. Selain itu,
pabrik pengolahan minyak kelapa sawit juga
membutuhkan unit pendukung lainnya
seperti pengolahan air, pembangkit tenaga
dan boiler dan pengolahan limbah.
Untuk mengendalikan proses pengolahan
kelapa sawit diperlukan pengetahuan dan
penguasaan terhadap proses, kinerja mesin
dan alat, memadukan setiap proses
pengolahan dan kemampuan untuk
mengoperasikan serta mendiagnosis suatu
penyimpangan.
Khusus
pada
unit
pemisahan, proses kontrol yang harus
dijaga pada mesin press adalah biji pecah
(broken nut) dan kehilangan minyak dalam
serabut (oil losses in fibre/oil dry). Dimana
broken nut adalah biji yang pecah, bahkan
sampai ke inti/kernel. Bila broken nut ini
terlalu tinggi maka akan memiliki potensi
kehilangan kernel di fibre cyclone.
Sedangkan oil dry adalah minyak yang
masih terkandung dalam padatan serabut.
Bila oil dry tinggi maka minyak yang hilang
akan tinggi. Sedangkan pada kondisi oil dry
rendah berdampak pada broken nut tinggi
yang potensial menjadi kehilangan kernel.
Melihat kondisi ini, proses kontrol
dibutuhkan agar didapat kerugian yang
seminim mungkin.
Metode respon permukaan adalah teknik
yang digunakan untuk memodelkan
hubungan antara variabel respon dan
faktor perlakuan. Variabel faktor dapat
disebut variabel independen dan dikontrol
dalam eksperimen. Metode ini juga dapat
digunakan untuk menemukan bagian
kombinasi yang menghasilkan respon
maksimum.
Dalam
metode
respon
permukaan solusi optimum dapat dipilih
untuk kondisi maksimum, minimum,
kondisi hasil yang paling diinginkan dan
kondisi sepanjang batas atas dan batas
154
bawah. Langkah yang ditempuh dalam
metode respon permukaan adalah (1)
menentukan
tujuan,
(2)
menentukan
variabel respon yang akan diukur, variabel
bebas yang berpengaruh terhadap respon
dan menentukan range variabel bebas agar
didapatkan hasil yang layak, (3) membuat
rancangan orde pertama, (4) membuat
model orde pertama dan menguji model
apakah dapat melanjutkan ke percobaan
orde kedua atau tidak, (5) membuat
rancangan percobaan orde kedua, (6)
membuat model orde kedua dan menguji
apakah model sesuai dengan model yang
diduga, (7) menentukan kondisi optimum
dari model orde kedua yang sesuai
(Montgomery, 2001).
Penelitian menggunakan metode respon
permukaan telah dilakukan dan ditemukan
di dunia industri, untuk industri farmasi
(Kwak, 2005), industri manufaktur (Kikuchi,
2009) dan aplikasi desain (Reh, 2006; Ng,
2008). Khusus terkait dengan PKS, belum
ditemukan
penelitian
tentang
setting
parameter mesin press. Pada penelitian ini
difokuskan mencari setting operasi optimum
pada mesin press dengan kualitas
parameter yang dijaga adalah broken nut
dan oil dry. Penelitian ini diharapakan dapat
memberikan masukan kepada perusahaan
tentang setting mesin press yang mampu
menghasilkan produk secara optimal,
sehingga dapat dijadikan salah satu acuan
untuk melakukan proses produksi.
METODE
Langkah yang diambil dalam penelitian
ditunjukkan dalam Gambar 1. Dimulai
dengan studi literatur, kemudian dilakukan
studi lapangan yang selanjutnya dilakukan
identifikasi dan formulasi masalah. Langkah
selanjutnya
adalah
membuat
desain
rancangan eksperimen berdasarkan metode
respon permukaan dan pengambilan data,
dengan variabel yang dikontrol dalam
penelitian ini adalah temperatur digester dan
tekanan hidraulik yang ditunjukkan dalam
Tabel 1. Mesin press yang digunakan
adalah type screw dengan operasi kerja
pada 20-70 bar.
Jurnal Riset Industri Vol. V, No.2, 2011, Hal 153-160
Tabel 1. Variabel dan level
Kode
level
Temperatur
digester
(X1)
91
93
98
103
105
-1,414
-1
0
1
1,414
Tekanan
hidrolik (X2)
25,8
30
40
50
54,2
Analisa dilakukan setelah data selesai
ditabulasi dalam software minitab 14,
dengan parameter kontrol yang harus dijaga
adalah broken nut maksimum 18% dan oil
dry 6,8-7,5%. Asumsi yang digunakan
dalam melakukan uji identik, uji independen
dan distribusi normal secara berturut-turut
ditunjukkan sebagai berikut. Residual
bersifat identik, tidak ada korelasi antar
pengamatan dan residual berdistribusi
normal. Selanjutnya langkah optimasi
dilakukan berdasarkan metode respon
permukaan dan validasi parameter optimasi
ditunjukkan melalui eksperimen konfirmasi.
Langkah terakhir yang dilakukan adalah
penarikan kesimpulan.
Mulai
HASIL DAN PEMBAHASAN
Eksperimen orde pertama dilakukan dengan
melakukan 6 pengamatan yang terdiri dari 4
pengamatan pada kombinasi level dan 2
perlakuan untuk pengamatan pada titik
pusat dengan hasil pengamatan ditunjukkan
dalam Tabel 2.
Tabel 2. Data eksperimen orde pertama
Level Faktor
Respon
Oil Broken
Temperatur Tekanan
dry
nut
-1
-1
7,87 13,58
-1
1
6,87 17,63
1
-1
7,35
9,38
1
1
6,58 14,21
0
0
7,12 14,37
0
0
7,16
15,3
Rancangan
yang
digunakan
untuk
membentuk model orde kedua adalah
central composit design (CCD) dengan total
pengamatan sebanyak 12 pengamatan
dengan hasil pengamatan ditunjukkan
dalam Tabel 3. Untuk analisa respon broken
nut dan oil dry digunakan nilai α (level of
significance) adalah 0,05.
Studi literatur
Identifikasi dan formulasi masalah
Rancangan eksperimen dengan metode respon permukaan
Tabel 3. Data eksperimen orde kedua
Level Faktor
Temperatur
Tekanan
-1
-1
1
1
-1.414
1.414
0
0
0
0
0
0
-1
1
-1
1
0
0
-1.414
1.414
0
0
0
0
Pengambilan data
Tidak
Periksa kestabilan mesin
Ya
Tabulasi data dengan software minitab 14
Analisa dan optimasi
Percobaan konfirmasi
Kesimpulan
Selesai
Gambar 1. Rancangan penelitian
Respon
Oil Broken
dry
nut
8,32
12,13
6,70
17,62
8,64
12,47
8,21
15,19
7,54
16,24
8,38
14,23
7,57
9,65
7,23
16,21
6,87
13,99
6,89
14,39
7,22
12,35
7,16
14,23
155
Setting Parameter Mesin Press……….( Candra Bachtiyar dkk)
3.1 Analisa Broken Nut
Data pada Tabel 2, diolah untuk mengetahui
pengaruh masing-masing variabel proses
terhadap respon yang diamati. ANOVA orde
pertama
untuk
respon
broken
nut
ditunjukkan dalam Tabel 4.
Tabel 4. ANOVA orde pertama broken nut
yaitu sebesar 238,9 dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa model orde kedua tidak
mengandung lack of fit atau model yang
diperoleh telah sesuai. Sedangkan untuk uji
parameter serentak, terlihat bahwa nilai Pvalue untuk regresi linear maupun kuadratik
lebih kecil dari nilai α, dimana α = 0,05.
Artinya adalah bahwa secara keseluruhan
variabel X1 dan X2 memberikan kontribusi
nyata terhadap model yang terbentuk. Uji R2
untuk
broken
nut
adalah
94,3%,
menunjukkan bahwa 94.3% variasi dari
respon tersebut dapat dijelaskan oleh model
regresi yang dihasilkan.
Tabel 5. ANOVA orde dua broken nut
Yˆb = 275,397 – 6,059 X 1 + 1,847 X 2 +
0,033 X 12 - 0,003 X 22 - 0,014 X 1 X 2
……….
(1)
dimana:
Yˆb
=
taksiran broken nut
X 12
=
interaksi
ulang
antara
temperatur
digester
dan
temperatur digester
interaksi ulang antara tekanan
hidrolik dan tekanan hidrolik
interaksi antara temperatur
digester dan tekanan hidrolik
X
2
2
X1 X 2
=
=
Untuk memeriksa kesesuaian model broken
nut yang dibentuk, dilakukan uji lack of fit, uji
parameter serentak dan uji R2. Pada uji lack
of fit yang ditunjukkan melalui Tabel 5,
terlihat bahwa nilai F hitung lack of fit adalah
0,13 lebih kecil dari F tabel dengan  = 0,05
156
Selain itu pengujian lainnya yang dilakukan
adalah pengujian residual yang dilakukan
melalui uji identik, uji independen dan
distribusi normal. Pada pengujian identik
yang ditunjukkan melalui Gambar 2 terlihat
bahwa plot residual versus fitted values,
residual tersebar secara acak disekitar
harga nol dan tidak membentuk pola
tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa asumsi
bersifat identik terpenuhi.
Residuals Versus the Fitted Values
(response is Broken Nut)
0.5
0.0
Residual
Dari Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa
variabel proses yakni temperatur digester
dan tekanan hidrolik berpengaruh signifikan
terhadap broken nut. Nilai Fhitung untuk lack
of fit adalah 2,16 lebih kecil dari Ftabel
sebesar 215,7 yang berarti model orde
pertama telah sesuai dan dapat dilanjutkan
ke percobaan orde kedua. Selain itu juga
didapat nilai R2 untuk broken nut 93,7%,
menunjukkan bahwa 93,7% variasi dari
respon tersebut dapat dijelaskan oleh model
regresi yang dihasilkan.
Sedangkan model orde kedua untuk broken
nut yang dihasilkan ditunjukkan dalam
persamaan berikut:
-0.5
-1.0
-1.5
9
10
11
12
13
14
Fitted Value
15
16
17
18
Gambar 2. Pengujian identik broken nut
Jurnal Riset Industri Vol. V, No.2, 2011, Hal 153-160
Untuk uji independen, dari plot ACF semua
2
korelasi berada pada interval ±
Contour Plot Broken Nut Vs Suhu & Pressure
. Hal ini
n
Probability Plot of RESI2
Normal - 95% CI
99
Mean
StDev
N
AD
P-Value
95
90
-8.58064E-14
0.5216
12
0.640
0.072
Percent
80
50
45
Pressure
menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antar
pengamatan, yang berarti asumsi bahwa
pengamatan dilakukan secara independen
terpenuhi. Sedangkan untuk uji distribusi
normal, dengan asumsi yang terakhir yaitu
residual harus berdistribusi normal.
Pemeriksaan asumsi distribusi normal
dilakukan dengan melihat plot probabilitasnya
dan menunjukkan bahwa plot mendekati garis
lurus, sehingga dapat dikatakan bahwa
residual berdistribusi normal.
Broken
Nut
< 10
10 - 12
12 - 14
14 - 16
16 - 18
18 - 20
> 20
40
35
30
92
94
96
98 100
Suhu
102
104
Gambar 4. Plot kontur temperatur digester
dan tekanan hidrolik terhadap
broken nut
Surface Plot Broken Nut Vs Suhu & Pressure
70
60
50
40
30
20
10
5
20
1
-2
-1
0
RESI2
1
2
Gambar 3. Uji distribusi normal
Broken Nut 15
10
90
Selain itu pemeriksaannya dapat juga
dilakukan dengan uji Kolmogorof Smirnov.
Pada uji Kolmogorof Smirnov ini didapatkan
P-value = 0,072 yang lebih besar dari α =
0,05. Hal ini berarti residual berdistribusi
normal.
Hubungan antara broken nut dengan
variabel-variabel proses yang berpengaruh,
yaitu temperatur digester dan tekanan
hidrolik ditunjukkan dalam gambar 4 dan 5.
95
Suhu
100
30
50
40 Pressure
105
Gambar 5. Plot permukaan temperatur
digester dan tekanan hidrolik terhadap
broken nut
157
Setting Parameter Mesin Press……….( Candra Bachtiyar dkk)
3.2 Analisa oil dry
Hasil perhitungan ANOVA orde pertama
untuk oil dry ditunjukkan pada Tabel 6.
terbentuk. Uji R2 untuk oil dry adalah 87,5%,
menunjukkan bahwa 87,5% variasi dari
respon tersebut dapat dijelaskan oleh model
regresi yang dihasilkan.
Tabel 7. ANOVA orde dua oil dry
Tabel 6. ANOVA orde pertama oil dry
Dari Tabel 6 dapat disimpulkan bahwa
kedua variabel proses yakni temperatur
digester dan tekanan hidrolik mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap oil dry.
Nilai Fhitung untuk lack of fit adalah 8,90 lebih
kecil dari Ftabel sebesar 215,7 yang berarti
model orde pertama telah sesuai dan dapat
dilanjutkan ke percobaan orde kedua. Selain
itu juga didapat nilai R2 untuk oil dry adalah
98,4%, menunjukkan bahwa 98,4% variasi
dari respon tersebut dapat dijelaskan oleh
model regresi yang dihasilkan.
Sedangkan model orde kedua untuk oil dry
ditunjukkan dalam persamaan berikut : Yˆo =
Selain itu pengujian lainnya yang dilakukan
adalah pengujian residual yang dilakukan
melalui uji identik, independen dan distribusi
normal. Pada pengujian identik terlihat
melalui Gambar 6. bahwa plot residual
versus fitted values, residual tersebar
secara acak disekitar harga nol dan tidak
membentuk
pola
tertentu.
Hal
ini
menunjukkan bahwa asumsi bersifat identik
terpenuhi.
237,337 – 4,431 X1 - 0,814 X2 + 0,022 X 12 +
X 1 X 2 ……..........................
+
0,006
= taksiran oil dry
Untuk memeriksa kesesuaian model oil dry
yang dibentuk, dilakukan uji lack of fit, uji
parameter serentak dan uji R2. Pada uji lack
of fit yang ditunjukkan melalui Tabel 7,
terlihat bahwa nilai F hitung lack of fit adalah
5,25 lebih kecil dari F tabel dengan  = 0,05
yaitu sebesar 238,9. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa model orde kedua
tidak mengandung lack of fit atau model
yang diperoleh telah sesuai. Sedangkan
untuk uji parameter serentak, yang
ditunjukkan melalui Tabel 7. terlihat bahwa
nilai P-value untuk regresi linear maupun
kuadratik lebih kecil dari nilai α, dimana α =
0,05. Artinya adalah bahwa secara
keseluruhan variabel X1 dan X2 memberikan
kontribusi yang nyata terhadap model yang
158
0.3
(2)
dimana:
Yˆo
(response is Oil Dry)
0.4
0.2
0.1
Residual
X
0,002
2
2
Residuals Versus the Fitted Values
0.0
-0.1
-0.2
-0.3
-0.4
-0.5
7.0
7.5
8.0
8.5
Fitted Value
Gambar 6. Pengujian identik oil dry
Untuk uji independen terlihat bahwa semua
korelasi berada pada interval ±
2
n
. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antar
pengamatan, yang berarti asumsi bahwa
pengamatan dilakukan secara independen
terpenuhi. Sedangkan uji distribusi normal
menunjukkan bahwa plot mendekati garis
lurus, sehingga dapat dikatakan bahwa
residual berdistribusi normal.
Jurnal Riset Industri Vol. V, No.2, 2011, Hal 153-160
3.3 Optimasi
Probability Plot of RESI1
Normal - 95% CI
99
Mean
StDev
N
AD
P-Value
95
90
5.514339E-14
0.2361
12
0.150
0.946
Percent
80
70
60
50
40
30
20
10
5
1
-1.0
-0.5
0.0
RESI1
0.5
1.0
Gambar 7. Uji distribusi normal
Selain itu pemeriksaannya dapat juga
dilakukan dengan uji Kolmogorof Smirnov.
Pada uji Kolmogorof Smirnov ini didapatkan
P-value = 0,946 yang lebih besar dari α =
0,05. Hal ini berarti residual berdistribusi
normal.
Contour Plot Oil Dry Vs Suhu & Pressure
O il Dry
< 7.0
7.5
8.0
8.5
9.0
> 9.0
7.0
7.5
8.0
8.5
50
Pressure
45
40
Untuk mencari kombinasi level variabel
proses yang menghasilkan respon yang
optimal,
maka
digunakan
metode
permukaan respon dengan pendekatan
fungsi desirability. Pendekatan fungsi
desirability ini digunakan untuk mencari nilai
kombinasi variabel proses temperatur
digester dan tekanan hidrolik agar dihasilkan
karakteristik kualitas broken nut dengan
spesifikasi < 18% dan oil dry dengan
spesifikasi 6,8–7,5%.
Fungsi desirability untuk respon oil dry
digunakan nominal the best desirability
function, dengan L1 = 6,8 %, U1 = 7,5 %, T1
= 7,0 %, dan weight = 1 dan untuk broken
nut digunakan lower is better desirability
function, dengan U2 < 18%, T2 = 12%, dan
weight = 1. Model matematika diselesaikan
dengan software Minitab versi 14 sehingga
diperoleh
grafik
yang
menunjukkan
kombinasi dari variabel proses yang
menghasilkan respon broken nut dan oil dry
yang optimal.
35
30
92
94
96
98
Suhu
100
102
104
Gambar 8. Kontur plot temperatur digester
dan tekanan hidraulik
terhadap oil dry
Untuk menunjukkan hubungan antara
respon oil dry dengan variabel-variabel
proses yang berpengaruh, yaitu temperatur
digester dan tekanan hidrolik ditunjukkan
dalam Gambar 8 dan 9.
Surface Plot Oil Dry Vs Suhu & Pressure
9
Oil Dry
8
7
50
90
40
95
Suhu
100
30
Pressure
105
Gambar 9. Plot permukaan temperatur
digester dan tekanan hidrolik terhadap oil
dry
Gambar 10. Grafik kombinasi variabelvariabel proses yang menghasilkan respon
yang optimal
Dari analisa didapat kombinasi setting
variabel proses yang optimum, yaitu untuk
temperatur digester 96,9 oC dan tekanan
hidrolik 39,3 bar. Kombinasi ini diprediksi
akan menghasilkan respon oil dry sebesar
7,01% dengan nilai desirability 0,9883 dan
broken nut sebesar 13,75% dengan nilai
desirability 0,70916. Untuk optimasi secara
serentak, nilai desirability adalah 0,837.
159
Setting Parameter Mesin Press……….( Candra Bachtiyar dkk)
3.4 Eksperimen Konfirmasi
Eksperimen konfirmasi dilakukan dengan
cara menjalankan mesin press menggunakan nilai variabel proses sesuai
dengan kombinasi nilai optimum yang
telah diperoleh dan ditunjukkan hasilnya
dalam Tabel 8.
Kombinasi setting ini diprediksi akan
menghasilkan respon oil dry sebesar 7,01%
dengan nilai desirability 0,9883 dan broken
nut sebesar 13,75% dengan nilai desirability
0,70916. Nilai desirability total sebesar
0,83718. Eksperimen konfirmasi menunjukkan
nilai oil dry mendekati prediksi respon.
Sedangkan untuk broken nut, eksperimen
konfirmasi sudah masuk dalam standard yang
diinginkan.
Tabel 8. Hasil eksperimen konfirmasi
UCAPAN TERIMAKASIH
No
Faktor
Respon
Temperatur
Tekanan
Oil
dry
Broken
nut
1
2
96,9
96,9
39,3
39,3
7,11
7,14
14,14
13,94
3
4
5
6
96,9
96,9
96,9
96,9
Rata-rata
39,3
39,3
39,3
39,3
7,04
6,94
7,02
7,12
7,06
14,52
13,87
13,47
13,91
13,98
Dari Tabel 8 terlihat bahwa nilai broken nut,
sudah masuk dalam standard yang
diinginkan dan oil dry mendekati prediksi
respon.
KESIMPULAN
Telah ditunjukkan langkah yang ditempuh
guna
mencari
setting
mesin
pres
menggunakan metode respon permukaan
dengan parameter yang dijaga adalah
broken nut dan oil dry. Dari penelitian yang
telah dilakukan, menunjukkan parameter
temperatur digester dan tekanan hidraulik
berpengaruh signifikan terhadap kualitas
broken nut dan oil dry. Model yang
dihasilkan untuk broken nut adalah Yˆb =
275,397 – 6,059 X 1 + 1,847 X 2 + 0,033 X 12 0,003 X 22 - 0,014 X 1 X 2 dan untuk oil dry
adalah Yˆo = 237,337 – 4,431 X 1 - 0,814 X 2 +
0,022 X 12 + 0,002 X 22 + 0,006 X 1 X 2 .
Harga-harga kombinasi variabel proses
guna menghasilkan broken nut dan oil dry
yang optimal adalah temperatur digester
96,9 0C dan tekanan hidraulik 39,3 bar.
160
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
PT. Sari Lembah Subur, Astra Agro Lestari,
Tbk yang telah membantu terlaksananya
kegiatan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Kikuchi. Shingo and Takayama. Kozo. 2009.
Reliability assessment for the optimal
formulations of pharmaceutical products
predicted by a nonlinear response
surface method. International Journal of
Pharmaceutics. Vol. 374. pp. 5–11
Kwak,
Jae-Seob. 2005. Application of
Taguchi
and
response
surface
methodologies for geometric error in
surface grinding process. International
Journal
of
Machine
Tools
&
Manufacture. Vol. 45. pp. 327–334
Ministry of Industry. 2011. The Development
of Six Economic Corridors. Industry Fact
& Figures. Jakarta
Montgomery, D. C. 2001. Design and
Analysis of Experiments. 5th edition.
John Wiley and Sons Inc. Singapura
Ng, K.C., Kadirgama, K., Ng, E.Y.K.. 2008.
Response surface models for CFD
predictions of air diffusion performance
index in a displacement ventilated office.
Energy and Buildings. Vol. 40. pp.774–
781
Pardamean, Maruli. 2008. Panduan lengkap
pengelolaan kebun dan pabrik kelapa
sawit. Agro Media Pustaka. Jakarta
Reh, Stefan, Beley, Jean-Daniel, Mukherjee,
Siddhartha, Khor, Eng Hui. 2006.
Probabilistic finite element analysis using
ANSYS. Structural Safety. Vol. 28. pp.
17–43.
Fly UP