...

- Gtk - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

- Gtk - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
PETUNJUK TEKNIS
PENYALURAN TUNJANGAN PROFESI MELALUI DIPA
DIREKTORAT PEMBINAAN PTK PENDIDIKAN DASAR
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2015
KATA PENGANTAR
Pada tahun anggaran 2015, penyaluran tunjangan profesi bagi seluruh guru Pegawai Negeri
Sipil Daerah (PNSD) lulusan program sertifikasi tahun 2006 sampai dengan tahun 2014
dibayarkan melalui dana transfer daerah. Sedangkan penyaluran tunjangan profesi bagi guru
bukan PNS dan guru PNS binaan provinsi dan pengawas satuan pendidikan binaan provinsi
dibayarkan melalui pusat.
Mekanisme yang digunakan untuk pelaksanaan pembayaran tunjangan profesi melalui DIPA
tahun 2015 Dit. Pembinaan PTK Dikdas dilakukan dengan cara sistem digital (dapodik).
Untuk kelancaran penyaluran tunjangan profesi pendidik bagi guru melalui mekanisme DIPA
tahun 2015 Direktorat Pembinaan PTK terkait, maka perlu disusun Petunjuk Teknis pelaksanaan.
Petunjuk Teknis ini merupakan acuan bagi pengelola baik di tingkat pusat maupun daerah serta
pihak terkait lainnya.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan
Petunjuk Teknis ini.
Jakarta, Februari 2015
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................................ - 1 BAB I................................................................................................................................................. - 2 PENDAHULUAN .............................................................................................................................. - 2 A. Latar Belakang........................................................................................................................... - 2 B. Landasan Hukum....................................................................................................................... - 3 C. Tujuan ........................................................................................................................................ - 4 D. Ruang Lingkup .......................................................................................................................... - 4 E. Sasaran ...................................................................................................................................... - 5 BAB II ................................................................................................................................................... 6
TUNJANGAN PROFESI GURU PNS JENJANG PENDIDIKAN DASAR DI BAWAH BINAAN PROVINSI,
GURU BUKAN PNS JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN PENGAWAS ........................................... 6
A. Pengertian ..................................................................................................................................... 6
B. Besaran .......................................................................................................................................... 6
C. Sumber Dana ................................................................................................................................. 6
D. Kriteria Penerima Tunjangan Profesi ........................................................................................... 7
BAB III .................................................................................................................................................14
PEMBAYARAN TUNJANGAN PROFESI GURU ..................................................................................14
A. Mekanisme Penerbitan SKTP ......................................................................................................14
B. Mekanisme Penyaluran Tunjangan Profesi ............................................................................... 18
C. Jadwal Pelaksanaan Program .................................................................................................... 20
BAB IV ................................................................................................................................................ 22
PEMBATALAN DAN PENGHENTIAN ................................................................................................. 22
A. Pembatalan Pembayaran............................................................................................................ 22
B. Penghentian Pembayaran .......................................................................................................... 22
BAB V ................................................................................................................................................. 23
PENGENDALIAN PROGRAM ............................................................................................................. 23
A. Pengendalian ............................................................................................................................... 23
B. Pengawasan ................................................................................................................................ 23
C. Pelaporan Perubahan Data Individu .......................................................................................... 23
D. Sanksi .............................................................................................Error! Bookmark not defined.
BAB VI ................................................................................................................................................ 25
PENUTUP ........................................................................................................................................... 25
-1-
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan
bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal.
Sebagai pendidik profesional, guru diwajibkan memiliki kualifikasi akademik, kompetensi,
sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak memperoleh penghasilan di atas
kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Penghasilan di atas
kebutuhan hidup minimum meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta
penghasilan lain berupa tunjangan profesi pendidik bagi guru, tunjangan fungsional,
tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang
ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.
Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
menyebutkan bahwa guru yang telah memiliki sertikat pendidik dan memenuhi persyaratan
lainnya berhak mendapatkan tunjangan profesi yang besarnya setara dengan satu kali gaji
pokok dan dalam ayat (3) menyatakan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud
dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan/atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan Pasal 17
menjelaskan bahwa tanggung jawab pemerintah terhadap pendanaan biaya personalia
pegawai negeri sipil di sektor pendidikan di antaranya adalah biaya personalia satuan
pendidikan, baik formal maupun nonformal. Dalam peraturan pemerintah tersebut
disebutkan bahwa salah satu biaya personalia satuan pendidikan adalah tunjangan profesi.
Pelaksanaan pembayaran tunjangan profesi bagi guru harus memperhatikan data
kepegawaian guru yang bersangkutan, karena terkait dengan perubahan besaran gaji
pokok dan status kepegawaiannya.
Berdasarkan Keputusan Rapat Kerja Komisi X DPR-RI dengan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan RI tanggal 14 Desember 2012 menyepakati bahwa semua kegiatan
dekonsentrasi ditarik ke pusat kecuali kegiatan yang sesuai dengan pembagian urusan
pemerintahan bidang pendidikan di provinsi yaitu: perencanaan, koordinasi, sosialisasi,
pengawasan, dan evaluasi dan monitoring.
Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah mengambil kebijakan mulai tahun 2013,
bahwa anggaran tunjangan profesi bagi guru PNS Jenjang Pendidikan Dasar di bawah
binaan provinsi dan guru bukan PNS Jenjang Pendidikan Dasar serta pengawas satuan
pendidikan Pendidikan Dasar dibawab binaan Provinsi dianggarkan pada dana APBN
-2-
Direktorat Pembinaan PTK Dikdas. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2005 Tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang
Guru menyebutkan bahwa guru yang telah memiliki sertikat pendidik dan memenuhi
persyaratan lainnya berhak mendapatkan tunjangan profesi baik guru PNS maupun guru
bukan PNS. Untuk kelancaran pembayaran tunjangan profesi bagi seluruh guru PNS
Jenjang Pendidikan Dikdas di bawah binaan provinsi dan guru bukan PNS serta pengawas
satuan pendidikan di bawah binaan Provinsi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
perlu disusun Petunjuk Teknis Pembayaran Tunjangan Profesi melalui DIPA tahun 2015
Direktorat Pembinaan PTK Dikdas.
B. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999.
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan
Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, serta Tunjangan Kehormatan Profesor.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2014 tentang perubahan keenam belas atas
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil.
10. Keputusan Presiden Nomor 121/P Tahun 2014 tentang Pembentukan Kementerian dan
Pengangkatan Menteri Kabinet Kerja Periode 2014-2019.
11. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pemberian Kuasa
kepada Direktur yang menangani Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal, Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar, serta Direktorat Jenderal Pendidikan Dikdas untuk
Menandatangani Keputusan Pemberian Tunjangan Profesi Guru, Tunjangan Khusus dan
Subsidi Tunjangan Fungsional.
12. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
13. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka
Kreditnya.
14. Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan dan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan dan
-3-
Menteri Agama: Nomor 05/X/PB/2011, Nomor SPB/03/M.Pan-RB/10/2011, Nomor 48 Tahun
2011, Nomor 158/PMK.01/2011, Nomor 11 Tahun 2011, Tahun 2011 tentang Penataan dan
Pemerataan Guru PNS.
15. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2012 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2012 Tentang
perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2012
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 62 Tahun 2013 tentang Sertifikasi
Guru Dalam Jabatan Dalam Rangka Penataan dan Pemerataan Guru.
17. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 57 Tahun 2014 tentang
Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 58 Tahun 2014 tentang
Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.
19. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 59 Tahun 2014 tentang
Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
20. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 60 Tahun 2014 tentang
Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan.
21. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 63 Tahun 2014 tentang
Pendidikan Kepramukaan Sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib Pada Pendidikan
Dasar dan Menengah.
22. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2014 tentang Peran
Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Guru Keterampilan Komputer dan
pengelolaan Informasi Dalam Implementasi Kurikulum 2013.
23. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 79 Tahun 2014 tentang Muatan
Lokal Kurikulum 2013.
24. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2014 tentang
Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013.
C. Tujuan
Petunjuk Teknis ini disusun sebagai acuan dalam pelaksanaan pembayaran tunjangan
profesi guru PNS Jenjang Pendidikan Dasar di bawah binaan provinsi dan guru bukan PNS
Jenjang Pendidikan Dasar serta pengawas satuan pendidikan Dasar di bawah binaan
Provinsi melalui DIPA tahun 2015 Direktorat Pembinaan PTK Dikdas.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Petunjuk Teknis pembayaran tunjangan profesi bagi guru PNS Jenjang
Pendidikan Dikdas di bawah binaan provinsi dan guru bukan PNS Jenjang Pendidikan Dasar
-4-
serta pengawas satuan pendidikan Pendidikan Dasar di bawah binaan Provinsi melalui DIPA
tahun 2015 Direktorat Pembinaan PTK Dikdas meliputi: kriteria guru penerima tunjangan
profesi, pembayaran tunjangan profesi, jadwal pelaksanaan program; mutasi, pembatalan,
dan penghentian pembayaran tunjangan profesi; pengendalian, pengawasan, dan
pelaporan, serta sanksi atas pelanggaran dalam pelaksanaannya.
E. Sasaran
Petunjuk Teknis ini disusun sebagai acuan bagi pihak yang berkepentingan yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
Kementerian Keuangan;
Aparat Pengawas Fungsional;
Badan Kepegawaian Daerah;
Dinas Pendidikan Provinsi/kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya;
Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Bagian Keuangan,
Badan Pengelola Keuangan Daerah pada Kabupaten/Kota dan Provinsi DKI Jakarta
khusus untuk Provinsi DKI Jakarta;
7. Satuan Pendidikan dan Guru; dan
8. Instansi terkait lainnya.
-5-
BAB II
TUNJANGAN PROFESI GURU PNS DI BAWAH BINAAN PROVINSI, GURU
BUKAN PNS, DAN PENGAWAS SEKOLAH
A. Pengertian
Tunjangan profesi dimaksudkan untuk peningkatan mutu guru PNS Jenjang Pendidikan
Dasar di bawah binaan provinsi dan guru bukan PNS Jenjang Pendidikan Dasar, pengawas
satuan pendidikan Pendidikan Dasar di bawah binaan Provinsi sebagai penghargaan atas
profesionalitas untuk mewujudkan amanat Undang-Undang Guru dan Dosen antara lain
mengangkat martabat guru, meningkatkan kompetensi guru, memajukan profesi guru,
meningkatkan mutu pembelajaran, dan meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.
Tunjangan profesi yang dibayarkan melalui DIPA tahun 2015 Direktorat Pembinaan PTK
Dasar adalah tunjangan yang diberikan kepada guru bukan PNS Jenjang Pendidikan Dasar,
guru PNS Jenjang Pendidikan Dasar di bawah binaan provinsi, dan pengawas satuan
pendidikan jenjang pendidikan Dasar di bawah binaan Provinsi yang telah memiliki sertifikat
pendidik dan memenuhi persyaratan lainnya.
Tunjangan profesi dibayarkan paling banyak 12 (dua belas) bulan dalam satu tahun, serta
diberikan kepada guru PNS Jenjang Pendidikan Dasar di bawah binaan provinsi dan guru
bukan PNS Jenjang Pendidikan Dasar serta pengawas satuan pendidikan Pendidikan Dasar
di bawah binaan Provinsi terhitung mulai awal tahun anggaran berikut setelah yang
bersangkutan dinyatakan lulus sertifikasi dan memperoleh Nomor Registrasi Guru (NRG)
dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
B. Besaran
Tunjangan profesi bagi guru PNS Jenjang Pendidikan Dasar dan pengawas satuan
pendidikan Dasar di bawah binaan Provinsi adalah setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok per
bulan sesuai peraturan perundang-undangan. Bagi guru bukan PNS Jenjang Pendidikan
Dasar diberikan sebesar Rp. 1.500.000,- per bulan, sedangkan bagi guru bukan PNS yang
sudah disetarakan (inpassing) adalah setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok per bulan dan
dikenakan pajak penghasilan berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
Tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2008.
C. Sumber Dana
Dana untuk pembayaran tunjangan profesi bagi guru PNS Jenjang Pendidikan Dasar di
bawah binaan provinsi dan guru bukan PNS jenjang pendidikan Dasar serta pengawas pada
Jenjang Pendidikan Dasar di bawah binaan Provinsi bersumber dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) tahun 2015 melalui DIPA Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan
Dasar.
-6-
Jika terdapat kelebihan dana tahun anggaran 2015 setelah realisasi pembayaran tunjangan
profesi guru PNS di bawah binaan provinsi, guru bukan PNS jenjang pendidikan Dasar serta
pengawas pada Jenjang Pendidikan Dasar di bawah binaan provinsi maka dana tersebut
dapat digunakan untuk pembayaran kekurangan tunjangan profesi guru PNS di bawah
binaan provinsi dan guru bukan PNS jenjang pendidikan Dasar serta pengawas pada Jenjang
Pendidikan Dasar di bawah binaan provinsi tahun-tahun sebelumnya, setelah SK carry-over
diterbitkan oleh Direktorat P2TK Dasar.
D. Kriteria Penerima Tunjangan Profesi
Tunjangan profesi melalui DIPA tahun 2015 Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan Dasar
diberikan kepada penerima yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan mengenai penerima tunjangan profesi guru yang melaksanakan tugas
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kriteria penerima tunjangan profesi melalui DIPA Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan
Dasar tahun 2015:
1. Guru Tetap Bukan PNS yang diangkat oleh Kepala Daerah yang dibuktikan dengan SK
Pengangkatan oleh Bupati/Walikota/Gubernur atau pejabat yang diberi kewenangan
oleh Bupati/Walikota/Gubernur yang masih berlaku dan pembiayaannya dibebankan
pada APBD atau Guru Tetap Yayasan yang dibuktikan dengan SK Pengangkatan oleh
Ketua Yayasan, dan mengajar pada satuan pendidikan di bawah binaan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan kecuali guru pendidikan agama;
2. Guru PNS Jenjang Pendidikan Dasar di bawah binaan provinsi;
3. Pengawas Satuan Pendidikan dan Pengawas Matapelajaran jenjang pendidikan dasar
4. Memiliki satu atau lebih sertifikat pendidik yang telah diberi satu Nomor Registrasi Guru
(NRG) yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Setiap guru
hanya memiliki satu (1) NRG walaupun guru yang bersangkutan memiliki satu atau lebih
sertifikat pendidik;
5. Memiliki Surat Keputusan Tunjangan Profesi (SKTP) yang dikeluarkan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan;
6. Sebelum berlakunya Pasal 17 mengenai rasio guru siswa pada Peraturan Pemerintah
Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru yaitu pada awal tahun 2016, bagi satuan pendidikan
yang hanya memiliki satu rombongan belajar pada tingkat kelas tertentu maka jumlah
rasio guru siswa dapat kurang dari 20 untuk SD/SMP/SMA dan kurang dari 15 untuk
TK/SMK.
7. Beban kerja guru ditentukan berdasarkan kurikulum yang berlaku di rombongan
belajarnya. (Daftar sekolah pelaksana Kurikulum 2013 dan Kurikulum Tahun 2006 adalah
yang terdaftar pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
8. Beban kerja guru adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan
sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu, sesuai
dengan sertifikat pendidik yang dimilikinya.
-7-
9. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 8 dikecualikan apabila guru:
a. Mengajar pada rombongan belajar di SMP/SMA/SMK yang melaksanakan Kurikulum
2013 pada semester pertama menjadi Kurikulum Tahun 2006 pada semester kedua
tahun pelajaran 2014/2015. Dalam hal terdapat guru mata pelajaran tertentu di
SMP/SMA/SMK tersebut tidak dapat memenuhi beban mengajar minimal 24 (dua
puluh empat) jam tatap muka per minggu, pemenuhan beban mengajar dilakukan
melalui ekuivalensi kegiatan pembelajaran/pembimbingan sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2015 tentang
Ekuivalensi Kegiatan Pembelajaran/Pembimbingan Bagi Guru yang Bertugas pada
SMP/SMA/SMK yang Melaksanakan Kurikulum 2013 pada Semester Pertama Menjadi
Kurikulum Tahun 2006 pada Semester Kedua Tahun Pelajaran 2014/2015
b. Mendapat tugas tambahan sebagai kepala satuan pendidikan, mengajar paling
sedikit 6 (enam) jam tatap muka per minggu yang sesuai dengan sertifikat pendidik
yang dimilikinya atau membimbing 40 (empat puluh) peserta didik bagi kepala
satuan pendidikan yang berasal dari guru bimbingan dan konseling/konselor.
c. Mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala satuan pendidikan, mengajar paling
sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka per minggu atau membimbing 80 (delapan
puluh) peserta didik bagi wakil kepala satuan pendidikan yang berasal dari guru
bimbingan dan konseling/konselor, untuk jumlah wakil kepala satuan pendidikan
jenjang pendidikan SMP adalah sebagai berikut.
i.
1-9 rombel = 1 (satu) orang wakil kepala satuan pendidikan.
ii.
10-18 rombel = 2 (dua) orang wakil kepala satuan pendidikan.
iii.
≥18 rombel = 3 (tiga) orang wakil kepala satuan pendidikan.
d. Mendapat tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan pada jenjang
SD/SMP/SMA/SMK, kepala laboratorium pada jenjang SMP/SMA/SMK, ketua
program keahlian/program studi, kepala bengkel, kepala unit produksi dan
sejenisnya, mengajar paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka per minggu.
Pengangkatan tugas tambahan pada huruf d ini oleh kepala sekolah dan diketahui
oleh kepala dinas pendidikan Provinsi/kabupaten/kota dengan mengacu pada
persyaratan yang telah ditentukan dalam Permendiknas nomor 25 tahun 2008
tentang standar tenaga perpustakaan sekolah/madrasah. “Setiap sekolah/madrasah
untuk semua jenis dan jenjang yang mempunyai jumlah tenaga perpustakaan
sekolah/madrasah lebih dari satu orang, mempunyai lebih dari enam rombongan
belajar (rombel), serta memiliki koleksi minimal 1000 (seribu) judul materi
perpustakaan dapat mengangkat kepala perpustakaan sekolah/madrasah”.
e. Bertugas sebagai guru Bimbingan Konseling mengampu paling sedikit 150 (seratus
lima puluh) peserta didik pada satu atau lebih satuan pendidikan, dengan
mengampu paling sedikit 40 orang peserta didik di satminkalnya.
f. Bertugas sebagai guru pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan inklusi atau pendidikan terpadu paling sedikit 6
(enam) jam tatap muka per minggu; guru pembimbing khusus dapat berasal dari
SLB atau guru PNS yang ada di sekolah inklusi yang sudah dilatih menjadi guru
pembimbing khusus.
g. Bertugas sebagai guru pada satuan pendidikan di daerah khusus yang
daerahnya/desanya ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan
-8-
Kebudayaan. Penetapan daerah khusus ini menggunakan data dari Kementerian
Pembangunan Desa Tertinggal dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
h. Bertugas pada satuan pendidikan khusus, dimana peserta didiknya memiliki tingkat
kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,
mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
i.
Bertugas pada sekolah kecil (unit sekolah baru yang memenuhi persyaratan
pendirian sekolah baru dengan jangka waktu yang dipersyaratkan), sekolah terbuka
dan sekolah terintegrasi (sesuai dengan persyaratan pendirian sekolah terbuka dan
sekolah terintegrasi) serta sekolah darurat yang tidak berada di daerah khusus, dan
ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maka agar tetap
tunjangan profesinya dibayarkan, guru tersebut harus melakukan kegiatan
ekuivalensi sebagaimana terdapat dalam lampiran. Bukti dokumen atau
pemberkasan sebagaimana dimaksud di atas diverifikasi oleh Pemerintah/Dinas
Pendidikan Provinsi/Kab/Kota.
j.
Bertugas atas dasar pertimbangan kepentingan nasional, yaitu guru yang bertugas
di sekolah Indonesia di luar negeri dan guru yang ditugaskan menjadi guru di negara
lain atas dasar kerjasama antar negara.
k. Bagi guru produktif yang berkeahlian khusus/berkeahlian langka/memiliki
keterampilan atau budaya khas daerah, untuk mengajarkan praktik dapat dilakukan
oleh guru lebih dari 1 (satu) orang dengan keahlian yang dibutuhkan.
10. Belum pensiun.
11. Tidak beralih status dari guru atau pengawas sekolah.
12. Tidak terikat sebagai tenaga tetap pada instansi selain satuan pendidikan tempat
bertugas di bawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
13. Tidak merangkap sebagai eksekutif, yudikatif, atau legislatif.
14. Khusus bagi guru PNS di bawah binaan pemerintah provinsi, dalam pelaksanaan
peraturan bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan dan
Menteri Agama Nomor: 05/X/PB/2011, SPB/03/M.PAN-RB/10/2011, 48 Tahun 2011,
158/PMK.01/2011, 11 Tahun 2011 tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri
Sipil, guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik tetapi dialihtugaskan antarsatuan
pendidikan, antarjenjang dan/atau antarmata pelajaran masih mendapatkan tunjangan
profesinya maksimal 2 (dua) tahun sejak dipindahtugaskan apabila yang bersangkutan
memenuhi persyaratan angka 1 sampai dengan 7 di atas, sebagaimana diatur dalam BAB
IV Ketentuan Peralihan, Pasal 5, Permendikbud Nomor 62 Tahun 2013 tentang Sertifikasi
Guru Dalam Jabatan Dalam Rangka Penataan dan Pemerataan Guru, yang dibuktikan:
a. Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota tentang alihtugas antarsatuan pendidikan,
antarjenjang dan/atau antarmata pelajaran dalam rangka Penataan dan
Pemerataan Guru PNS berdasarkan perencanaan kebutuhan guru seluruh
Provinsi/kabupaten/kota; dan
b. Surat keterangan pembagian tugas mengajar yang diterbitkan oleh satuan
pendidikan tempat mengajar yang baru dan disahkan oleh dinas pendidikan
setempat
-9-
15. Dinas pendidikan Provinsi/kabupaten/kota mengirimkan SK alihtugas dan surat
keterangan pembagian tugas mengajar sebagaimana dimaksud pada angka 14 kepada
Direktorat Pembinaan PTK Dasar. Tunjangan profesi bagi guru yang dipindahtugaskan
antarkabupaten/kota pada tahun berjalan tetap menjadi tanggungan Kabupaten/kota
sesuai terbitnya SK. Pada tahun berikutnya menjadi tanggungan kabupaten/kota yang
baru.
16. Selama proses sertifikasi guru tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 terjadi perubahan
nomor kode dan nama bidang studi sertifikasi guru pada tahun 2009 dengan
mempertimbangkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi, dan Keputusan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah No.251/C/KEP/MN/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan
Menengah Kejuruan yang mulai diimplementasikan pada tahun 2009, maka untuk
kelengkapan persyaratan pencairan perlu adanya penyesuaian (konversi) nomor kode
dan nama bidang studi sertifikasi guru dalam daftar Penyesuaian (Konversi) Bidang
Studi Sertifikasi sebelum dan setelah tahun 2009 yang sudah ditetapkan oleh Badan
Pengembangan SDM Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan,
Kemdikbud.
17. Bagi guru yang sudah memiliki serifikat pendidik tetapi status kepegawaiannya masih
calon pegawai negeri sipil (CPNS), maka tunjangan profesinya tidak dibayarkan sampai
guru yang bersangkutan menjadi PNS dan memenuhi persyaratan lainnya.
18. Ketentuan bagi pengawas adalah sebagai berikut.
a.
Pengawas TK melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial untuk TK,
Pengawas SD melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial untuk SD
dan mapel olahraga dan agama, Pengawas mapel melaksanakan tugas pengawasan
akademik dan manajerial untuk SMP/SMA/SMK. Bagi pengawas mata pelajaran,
dalam melaksanakan tugas kepengawasannya, wajib memiliki sertifikat pendidik
kepengawasan sesuai peruntukannya.
1)
Pengawas TK/RA melaksanakan tugas pengawasan paling sedikit 10 satuan
pendidikan tingkat TK/RA.
2) Pengawas SD/MI melaksanakan tugas pengawasan paling sedikit 10 satuan
pendidikan tingkat SD/MI, termasuk tugas pengawasan terhadap guru agama
dan penjasorkes di satuan pendidikan yang menjadi binaannya.
3) Pengawas mata pelajaran di SMP/MTs dapat memenuhi beban kerja tugas
pengawasan di SMA/MA dan/atau SMK/MAK pada mata pelajaran yang sama
dan sebaliknya.
4) Pengawas SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK melaksanakan tugas pengawasan
paling sedikit 7 (tujuh) satuan pendidikan dan/atau paling sedikit 40 (empat
puluh) guru; dalam hal tidak mencukupi satuan pendidikan, maka pengawas
satuan pendidikan yang belum memenuhi jumlah satuan pendidikan yang
menjadi binaannya, dapat memenuhi kekurangan tersebut dengan melakukan
pembinaan guru sesuai dengan latar belakang bidang pendidikan/ sertifikat
pendidik yang dimilikinya. Adapun ekuivalensi satuan pendidikan terhadap
jumlah guru adalah 1:6.
- 10 -
5) Pengawas Sekolah Luar Biasa melaksanakan tugas pengawasan paling sedikit 5
(lima) satuan pendidikan dan/atau 40 (empat puluh) guru termasuk guru
pembimbing khusus, baik yang ada di SLB maupun sekolah inklusi. Adapun
ekuivalensi satuan pendidikan terhadap jumlah guru adalah 1:6.
6) Pengawas Bimbingan dan Konseling melaksanakan tugas pengawasan paling
sedikit 40 (empat puluh) guru Bimbingan dan Konseling.
7) Pengawas Sekolah yang bertugas di daerah khusus melaksanakan tugas
pengawasan paling sedikit 5 (lima) satuan pendidikan lintas jenis dan jenjang
satuan pendidikan dan/atau 15 (lima belas) guru. Adapun ekuivalensi satuan
pendidikan terhadap jumlah guru adalah 1:3.
8) Pengawas satuan pendidikan TK/RA atau SD/MI di suatu kecamatan/kabupaten
yang terdapat desa tertinggalnya sehingga jumlah satuan pendidikan yang
dibina paling sedikit 5 (lima) satuan pendidikan dan tidak terdapat pengawas
lain, maka pengawas tersebut tetap mendapat tunjangan profesi.
9) Pengawas Sekolah wajib melakukan verifikasi terhadap hasil penilaian kinerja
guru dari guru yang menjadi binaannya.
b. Guru yang menjadi binaan pengawas sekolah adalah guru yang memiliki jam
mengajar di satuan pendidikan (masih aktif mengajar sesuai dengan peraturan
perundangundangan).
19. Bagi Satuan Pendidikan yang menggunakan Kurikulum Tahun 2006 dapat menambah
beban belajar per minggu sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik dan/atau
kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang dianggap penting di dalam
struktur program, namun yang diperhitungkan Pemerintah maksimal 4 (empat)
jam/minggu.
20. Beban kerja bagi guru pada satuan pendidikan yang menggunakan Kurikulum 2013
diatur sebagai berikut.
a.
Guru kelas/guru matapelajaran yang melaksanakan tugas tambahan sebagai
pembina pramuka (minimal telah bersertifikat kursus mahir dasar) dihitung sebagai
bagian dari pemenuhan beban kerja guru paling banyak 2 jam pelajaran per minggu.
Jumlah guru yang diberi tugas tambahan sebagai pembina pramuka di kegiatan
ekstrakurikuler wajib di satu satuan pendidikan adalah sebagai berikut.
 Jumlah rombel 1 – 6 = 1 pembina pramuka;
 Jumlah rombel 7 – 12 = 2 pembina pramuka;
 Jumlah rombel 13 – 18 = 3 pembina pramuka;
 Jumlah rombel > 18 = 4 pembina pramuka.
b. Berdasarkan Lampiran I Surat Edaran Kepala BPSDMPK dan PMP No.
29277/J/LL/2014 Tanggal 25 November 2014 mengenai Jenis dan Sertifikat Pendidik
Guru Pengampu Mata Pelajaran Kurikulum 2013:

Guru SMP yang bersertifikat keterampilan dan IPA dapat mengampu
matapelajaran prakarya di SMP.

Guru Fisika, Kimia, Biologi, dan Ekonomi dapat mengajar matapelajaran prakarya
dan kewirausahaan di SMA dengan syarat sudah mengikuti pelatihan penajaman
aspek prakarya dan kewirausahaan pada instansi yang ditunjuk oleh Pemerintah.
- 11 -

c.
Guru yang mengajar rumpun mata pelajaran IPA dan IPS jenjang SMP, SMA, dan
SMK beban kerjanya dihitung berdasarkan kurikulum yang berlaku pada
rombongan belajar yang dibinanya
Satuan Pendidikan yang melaksanakan kurikulum 2013 dan menetapkan muatan
lokal sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, dapat menambah beban belajar
muatan lokal paling banyak 2 (dua) jam per minggu. Kebutuhan sumber daya
pendidikan yang meliputi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,
dan dana termasuk Tunjangan Profesi sebagai implikasi penambahan beban belajar
muatan lokal ditanggung oleh pemerintah daerah yang menetapkan.
d. Bertugas sebagai guru TIK/KKPI memberikan layanan kepada paling sedikit 150
(seratus lima puluh) peserta didik pada satu atau lebih satuan pendidikan, bagi
satuan pendidikan yang menggunakan kurikulum 2013. Jumlah peserta didik yang
dilayani pada satminkal paling sedikit 40 peserta didik.
e.
Bagi Guru TIK/KKPI yang mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala sekolah
yang melaksanakan Kurikulum 2013 untuk memenuhi 24 jam tatap muka per minggu
harus membimbing paling sedikit 40 (empat puluh) peserta didik.
f.
Bagi Guru TIK/KKPI yang mendapatkan tugas tambahan sebagai Wakil Kepala
Sekolah/Kepala Laboratorium/Kepala Perpustakaan yang melaksanakan Kurikulum
2013 untuk memenuhi 24 jam tatap muka per minggu harus membimbing paling
sedikit 80 (delapan puluh) peserta didik.
g. Bagi Satuan pendidikan jenjang Sekolah Dasar yang menggunakan Kurikulum 2013
dapat menambah beban belajar per minggu sesuai dengan kebutuhan belajar
peserta didik dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang
dianggap penting di dalam struktur program, namun yang diperhitungkan
Pemerintah maksimal 2 (dua) jam/minggu hanya terbatas bagi Mata pelajaran
Agama dan Penjasorkes.
h. Bagi Satuan pendidikan jenjang SMP, SMA/SMK yang menggunakan Kurikulum 2013
dapat menambah beban belajar per minggu sesuai dengan kebutuhan belajar
peserta didik dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang
dianggap penting di dalam struktur program, namun yang diperhitungkan
Pemerintah maksimal 2 (dua) jam/minggu.
21. Guru memiliki hasil penilaian kinerja guru. Dalam masa transisi, sampai dengan akhir
tahun 2015, tunjangan profesi diberikan bagi guru tanpa memperhitungkan nilai dari
hasil penilaian kinerja guru dan instrumen sesuai dengan Permendiknas Nomor 35 Tahun
2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya. Bagi guru yang telah melaksanakan penilaian kinerja guru sumatif tahun 2014,
hasil penilaian kinerja gurunya dilaporkan kepada kepala dinas pendidikan
provinsi/kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya pada awal tahun 2015. Bagi
guru yang belum pernah melaksanakan penilaian kinerja guru, wajib melaksanakannya
pada awal tahun 2015 (penilaian formatif) sebagaimana diatur dalam Permendiknas
Nomor 35 Tahun 2010 dan Buku Pedoman Penilaian Kinerja Guru dari Departemen
Pendidikan Nasional.
Hasil penilaian kinerja guru sumatif tahun 2014 atau penilaian kinerja guru formatif tahun
2015 inilah yang menjadi bukti pelaksanaan penilaian kinerja guru untuk pembayaran
- 12 -
tunjangan profesi tahun 2015. Hasil Penilaian kinerja guru yang diakui adalah hasil
penilaian yang sesuai dengan sertifikat pendidik yang dimilikinya
Untuk tahun-tahun berikutnya, guru wajib meningkatkan hasil penilaian kinerja sumatif
tahun 2015 karena mulai tahun 2016 tunjangan profesi akan diberikan bagi guru dengan
hasil penilaian kinerja guru minimal baik. Mekanisme verifikasi hasil penilaian kinerja
guru adalah pengawas memverifikasi hasil penilaian kinerja guru terhadap guru yang
menjadi binaannya, mengentrikan hasilnya melalui aplikasi SIMPAK, dan melaporkannya
kepada dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
- 13 -
BAB III
PEMBAYARAN TUNJANGAN PROFESI GURU
A. Ketentuan Pembayaran
Ketentuan tentang pembayaran tunjangan profesi pada tahun 2015 bagi guru PNS atau guru
bukan PNS yang sudah disetarakan (inpassing) adalah sebagai berikut.
1. Besaran tunjangan profesi pada tahun 2015 dibayarkan menggunakan Peraturan
Pemerintah Nomor 34 tahun 2014 dan berdasarkan usulan dari Dinas Pendidikan
Provinsi/Kabupaten/Kota pada akhir tahun 2014.
2. Apabila terbit Peraturan Pemerintah tentang kenaikan gaji PNS yang terbaru pada tahun
2015, kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil akibat PP tersebut mulai diberlakukan dan
dibayarkan sesuai dengan berlakunya Peraturan Pemerintah dimaksud.
3. Bagi guru PNS, besaran tunjangan profesi akibat kenaikan gaji berkala dan kenaikan
pangkat yang terbit pada tahun berjalan, besaran tunjangan profesi akibat kenaikan
dimaksud mulai diberlakukan pada tahun berikutnya setelah diverifikasi oleh dinas
pendidikan Provinsi/kabupaten/kota sesuai kewenangannnya.
Ketentuan tentang pembayaran tunjangan profesi pada tahun 2015 bagi guru bukan PNS
yang dalam proses pelaporan SK Inpassingnya adalah sebagai berikut.
1. SK Kesetaraan (inpassing) yang terbit berdasarkan ketentuan Permendiknas Nomor
47 tahun 2007 dan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2010 tentang Inpassing,
tunjangan profesinya dapat dibayarkan setelah melaporkan SK tersebut ke Dinas
Pendidikan Provinsi/kabupaten/kota sesuai kewenangannnya untuk diusulkan ke
Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan Dasar dan mulai diperhitungkan selisihnya
pada tahun berikutnya.
2. SK Pemberian Kesetaraan Jabatan dan Pangkat yang terbit berdasarkan
Permendikbud Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pemberian Kesetaraan Jabatan dan
Pangkat Bagi Guru Bukan PNS, maka penyesuaian tunjangan profesinya akan
diberlakukan pada Januari tahun berikutnya setelah SK Pemberian Kesetaraan
Jabatan dan Pangkat diterbitkan dan guru bersangkutan menunjukkan hasil
penilaian kinerja minimal baik.
B. Mekanisme Penerbitan SKTP
1. Penerbitan SKTP dilakukan dengan cara digital, yaitu menggunakan sistem Data Pokok
Pendidikan (Dapodik). SKTP diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan PTK Dikdas secara
otomatis dengan menggunakan data PTK dari Dapodik setelah data valid menurut
sistem. Dinas Kabupaten/kota berhak mengajukan pembatalan penerbitan SKTP jika
calon penerima tidak memenuhi persyaratan. Pengajuan pembatalan diberi waktu
selama tujuh (7) hari setelah data dinyatakan valid.
- 14 -
2. Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan Dasar menyusun dan menetapkan daftar
penerima tunjangan profesi sebagaimana Lampiran
3. Apabila terjadi kesalahan data guru pada keputusan yang telah diterbitkan, maka
Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan Dasar dapat melakukan penyesuaian perubahan
data berdasarkan data perubahan individu penerima tunjangan profesi melalui proses
pemutakhiran data di Dapodik atau rekap usulan perubahan dari dinas pendidikan
provinsi/kabupaten/kota untuk sistem manual.
- 15 -
- 16 -
Ya
Penyaluran Ke
Rekening Penerima
KPPN/BANK
PENYALUR
MONEV Pelaksanaan
PembayaranTunjangan
Copy SKTP
Sosialisasi Ke
Kab/Kota
PEMERINTAH
PROVINSI
Penerbitan SP2D
Per Tri Wulan
Pemutakhiran Data
Lanjutan
Koordinasi
Pemutakhiran Data
PEMERINTAH
KAB/KOTA
Pencairan Tunjangan
per Tri Wulan
(SPP/SPM)
Penerbitan SKTP
Diinformasikan melalui
Situs Kemdikbud
Tidak
Syarat
Terpenuhi?
DAPODIK
Pemuktahiran Data
Lanjutan
Pemuktahiran Data
Awal
Data Penerima TP &
Lulusan Baru TA 2013
Sosialisasi Ke Provinsi
SATUAN PENDIDIKAN
PEMERINTAH PUSAT
Gambar 1. Proses Digital Pelaksanaan Pembayaran Tunjangan Profesi
- 17 -
Copy SKTP
Ya
Syarat
Terpenuhi?
KPPN/BANK
PENYALUR
Penyaluran Ke
Rekening Penerima
Tidak
Sosialisasi Ke
Kab/Kota
PEMERINTAH
PROVINSI
MONEV Pelaksanaan
Koordinasi
Pemutakhiran
Data
Pemberkasan
Sosialisasi Ke
Satuan
PEMERINTAH
KAB/KOTA
Penerbitan SP2D
Pemutakhiran
Data
Pemuktahiran Data
SATUAN PENDIDIKAN
Pencairan Tunjangan
per Tri Wulan (SPP/SPM)
Penerbitan SKTP
Sosialisasi
Data Penerima TP &
Lulusan Baru TA 2013
PEMERINTAH PUSAT
Gambar 2. Proses Manual Pelaksanaan Pembayaran Tunjangan Profesi
C. Mekanisme Penyaluran Tunjangan Profesi
1.
Umum
a. Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Badan PSDMPK dan PMP menyerahkan data
kelulusan dan NRG Guru Jenjang Pendidikan Dasar tahun 2014 ke Direktorat
Pembinaan PTK Pendidikan Dasar.
b. Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan Dasar menerbitkan SKTP 2 (dua) tahap dalam
1 (satu) tahun. Tahap 1 berlaku untuk semester satu, terhitung mulai bulan Januari
sampai dengan Juni (6 bulan), sedangkan tahap 2 berlaku untuk semester dua
terhitung mulai bulan Juli sampai dengan Desember (6 bulan).
c. Apabila ada perubahan data individu penerima tunjangan profesi pada semester 1
tahun berjalan dikarenakan guru tersebut tidak memenuhi persyaratan, maka SKTP
guru tersebut akan diterbitkan pada semester 2 jika guru tersebut memenuhi
persyaratan berdasarkan bukti perubahan data dari dinas pendidikan provinsi/
kabupaten/kota dan hanya berlaku untuk semester 2.
d. SK Tunjangan Profesi (SKTP) yang sudah diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan merupakan salah satu syarat proses pembayaran tunjangan
profesi.
e. Bagi guru yang mengikuti program Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan
(PKB) dengan pola pendidikan dan latihan (diklat) paling banyak 100 jam (14 hari
kalender) dalam bulan yang sama, dan mendapat izin/persetujuan dari Dinas
Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya, tunjangan
profesinya tetap dibayarkan.
f. Selama liburan berdasarkan kalender akademik, guru tetap memperoleh tunjangan
profesi.
g. Berdasarkan SKTP, Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan Dasar menyiapkan berkas
SPP dan SPM untuk diajukan ke Kantor Perbendaharaan Kas Negara (KPPN).
h. KPPN menelaah dan menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SPPD).
Selanjutkan SPPD tersebut dikirimkan ke direktorat sebagai Bukti Penyaluran dana.
i.
KPPN melalui Bank Operasionalnya mentransfer dana tunjangan profesi kepada
rekening Bendahara Pengeluaran Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan Dasar di
Bank Penampung sesuai dengan PMK 81 tahun 2012.
j.
Bank Penampung mentransfer dana tunjangan profesi ke rekening masing-masing
penerima tunjangan sesuai dengan yang tertera dalam lampiran pengajuan
pembayaran.
k. Apabila terjadi kesalahan data yang menyebabkan terjadinya retur, maka
diselesaikan sesuai peraturan perundang-undangan.
l.
akan
Tunjangan profesi disalurkan ke rekening penerima per-tri wulan.
m. Pelaksanaan Pembayaran Tunjangan dan Perencanaan Anggaran memperhatikan
hal-hal berikut :
- 18 -
1) Apabila terjadi kekurangan dana yang dialokasikan dengan realisasinya, maka
akan diperhitungkan pada tahun anggaran berikutnya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan, dan apabila terjadi kelebihan dana akan
dikembalikan ke Kas Negara.
2) Tunjangan profesi bagi guru PNS di bawah binaan provinsi dan guru bukan PNS
serta pengawas sekolah dibayarkan melalui DIPA Direktorat Pembinaan PTK
Pendidikan terkait.
3) Apabila terjadi perubahan tempat tugas atau status kepegawaian guru
antarsatuan pendidikan, antarjenis pendidikan dalam satu provinsi atau
antarprovinsi, dan antar kementerian, baik atas kepentingan kedinasan atau
pemekaran wilayah, maka bagi guru PNS di bawah binaan provinsi, guru bukan
PNS, atau Pengawas Sekolah yang masih memenuhi persyaratan, tunjangan
profesinya tetap dibayarkan oleh Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan terkait.
4) Apabila terjadi mutasi guru PNS di bawah binaan provinsi dan guru bukan PNS
serta pengawas sekolah menjadi pejabat struktural, fungsional lainnya,
meninggal dunia atau karena pensiun dini, maka pembayaran tunjangan
profesinya akan dihentikan bulan berikutnya, kecuali mutasi guru PNS binaan
provinsi menjadi pengawas satuan pendidikan di bawah binaan provinsi.
5) Apabila terjadi perubahan status guru bukan PNS menjadi CPNS, maka tunjangan
profesinya dihentikan sejak tanggal SPMT (Surat Pernyataan Melaksanakan
Tugas) pada satuan pendidikan yang dituju. Guru dimaksud dapat diusulkan
menerima tunjangan profesi apabila telah menjadi PNS dan memenuhi
persyaratan untuk menerima tunjangan profesi.
n. Monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembayaran tunjangan profesi
dilakukan pada periode antara bulan Mei sampai Desember tahun berjalan dengan
berkoordinasi dengan stakeholder terkait.
2. Dapodik
a. Direktorat Pembinaan PTK Dikdas memverifikasi kelayakan calon penerima
tunjangan profesi lulusan tahun 2007 sampai dengan 2013 maupun lulusan tahun
2014 (beban mengajar 24 jam, rasio siswa guru, masa kerja, golongan, dan gaji
pokok) sebelum SKTP diterbitkan secara digital sesuai dengan gambar 1 di atas.
b. Sebelum penerbitan SKTP, guru dapat melihat kelengkapan data dan/atau
persyaratan untuk menerima tunjangan profesi pada situs www.kemdikbud.go.id.
c. Bagi guru yang SKnya belum terbit karena datanya belum memenuhi persyaratan
pada penerbitan SK sebelumnya, akan diterbitkan jika guru tersebut memenuhi
syarat berdasarkan hasil pengecekan Dapodik yang datanya sudah diperbaiki oleh
guru yang bersangkutan melalui operator sekolah. SK tersebut mencakup seluruh
hak guru jika guru tersebut memenuhi persyaratan menerima tunjangan profesi.
3. Manual
- 19 -
Bagi guru yang menambah pemenuhan jam mengajar di Madrasah/SMA/SMK/SMLB
harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
wajib
melampirkan surat keterangan penugasan disertai jadwal mengajar mingguan dari
kepala satuan pendidikan yang disahkan oleh kantor kementerian agama
provinsi/kabupaten/kota bagi yang mengajar di madrasah atau dinas pendidikan
provinsi/kabupaten/kota bagi yang mengajar di SMA/SMK. Surat keterangan dan
jadwal mengajar tersebut dikirim ke provinsi/kabupaten/kota sesuai dengan
kewenangannya sebagai dasar peng-entrian beban kerja bagi guru yang menambah
jam mengajar di satuan pendidikan di luar jenjang pendidikan satminkal-nya atau di
bawah binaan kementerian Agama dalam rangka pemenuhan jam mengajar sesuai
dengan sertifikat pendidiknya.
D. Jadwal Pelaksanaan Program
Berikut adalah jadwal pelaksanaan program tunjangan profesi tahun 2014 :
2014
No
2015
Kegiatan
9 10 11 12 1
1
Sosialisasi Petunjuk
Teknis pelaksanaan
pembayaran tunjangan
profesi.
2
Penerimaan daftar guru
yang lulus sertifikasi dan
NRG dari Badan
Pengembangan SDMPK
dan PMP
3
Verifikasi data secara
manual penerima
tunjangan dari dinas
pendidikan Provinsi/
kabupaten/kota
4
Kemdikbud menerbitkan
SK Penerima Tunjangan
Profesi
5
Penyaluran tunjangan
profesi ke rekening
penerima tunjangan.
- 20 -
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
2014
No
2015
Kegiatan
9 10 11 12 1
6
Pelaporan rekapitulasi
data guru penerima
tunjangan profesi
7
Monev. Pelaksanaan
Pembayaran Tunjangan
- 21 -
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
BAB IV
PEMBATALAN DAN PENGHENTIAN
A. Pembatalan Pembayaran
Tunjangan profesi bagi guru dibatalkan pembayarannya apabila:
1. Memperoleh sertifikat pendidik secara melawan hukum;
2. Menerima lebih dari satu tunjangan profesi;
Guru wajib mengembalikan tunjangan profesi yang dibatalkan dan kelebihan penerimaan
tunjangan profesi guru kepada kas negara.
B. Penghentian Pembayaran
Pemberian tunjangan profesi dihentikan apabila guru penerima tunjangan profesi
memenuhi satu atau beberapa keadaan sebagai berikut:
1. Meninggal dunia;
2. Mencapai batas usia pensiun;
3. Tidak bertugas lagi sebagai guru atau pengawas pada satuan pendidikan;
4. Sedang mengikuti tugas belajar;
5. Tidak mengampu mata pelajaran yang sesuai dengan sertifikat pendidik yang
diperuntukannya kecuali bagi guru yang dimutasi akibat implementasi SKB Lima Menteri
tentang penataan dan pemerataan guru PNS;
6. Memiliki jabatan rangkap, sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
7. Mutasi menjadi pejabat struktural atau fungsional lainnya;
8. Pensiun dini; atau
9. Dengan alasan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kondisi tersebut di atas dibuktikan dengan surat resmi atau surat keterangan dari pihak
yang berwenang.
- 22 -
BAB V
PENGENDALIAN PROGRAM
A. Pengendalian
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan
Dikdas berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian
Keuangan melakukan pengendalian pelaksanaan pembayaran tunjangan profesi mencakup
semua upaya yang dilakukan dalam rangka menjamin pelaksanaan pembayaran tunjangan
profesi agar dapat berjalan sebagaimana mestinya, tepat sasaran dan tepat waktu, tepat
jumlah besaran, dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kegiatan pengendalian penyaluran tunjangan profesi ini dilakukan melalui:
1. Pelaksanaan bimbingan teknis program penyaluran tunjangan profesi oleh pusat kepada
dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota.
2. Pemantauan dan evaluasi (Monitoring dan Evaluasi) dilakukan oleh instansi terkait
sampai ke penerima tunjangan profesi.
3. Penyelesaian masalah secara terus-menerus dilakukan atas permasalahan yang terjadi
dalam proses pelaksanaan pembayaran tunjangan profesi.
4. Rekonsiliasi data penerima tunjangan profesi dengan instansi terkait.
Dengan melakukan pengendalian, akan diperoleh data guru penerima tunjangan profesi
yang valid dan pelaksanaan penyaluran tunjangan profesi sesuai peraturan perundangundangan.
B. Pengawasan
Untuk mewujudkan penyaluran dan penerimaan tunjangan profesi yang transparan,
akuntabel dan tepat sasaran, diperlukan pengawasan oleh aparat fungsional internal dan
eksternal sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
C. Pelaporan Perubahan Data Individu
Dinas pendidikan kabupaten/kota dan dinas pendidikan provinsi DKI Jakarta wajib
menyampaikan laporan bulanan yang disampaikan setiap triwulan kepada Direktorat
Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan yang ditujukan kepada:
Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Ditjen
Dikdas
Kompleks Kemdikbud Gedung C Lt. 18, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat
10270. Telp/Fax. (021) 57853580
- 23 -
Email
: [email protected] atau
[email protected]
Website
: http://p2tkdikdas.kemdiknas.go.id
D. Sanksi
Sanksi diberikan kepada guru penerima Tunjangan Profesi berdasarkan hasil pemantauan
dan laporan dari Aparat Pengawas Fungsional baik internal maupun eksternal dan telah
dilakukan verifikasi ternyata ditemukan:
1. Ada ketidaksesuaian antara data penerima tunjangan profesi dengan data yang
disampaikan dengan sengaja yang bertujuan untuk mendapatkan tunjangan profesi.
2. Guru terbukti memperoleh penetapan angka kredit (PAK) dengan cara melawan hukum.
guru wajib mengembalikan seluruh tunjangan profesi yang pernah diterima sejak guru
yang bersangkutan melakukan kesalahan tersebut.
- 24 -
BAB VI
PENUTUP
Petunjuk Teknis ini merupakan acuan dalam pelaksanaan penyaluran tunjangan profesi.
Pelaksanaan program tunjangan profesi dapat terlaksana sesuai dengan apa yang diharapkan
karena adanya komunikasi antara pemerintah pusat, provinsi, maupun tingkat kabupaten/kota.
Diharapkan tunjangan profesi mampu memberikan dampak positif pada proses pembelajaran
yang lebih baik dan bermutu, serta mendorong perbaikan kinerja guru dalam meningkatkan
mutu pendidikan.
- 25 -
- 26 -
Lampiran 1
Fly UP