...

Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu Simpan untuk

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu Simpan untuk
J. Hort. Vol. 25 No. 1, 2015
J. Hort. 25(1):78-87, 2015
Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu Simpan
untuk Mempertahankan Kualitas Buah Mangga
(Mangifera indica L.) cv. Gedong
[Hot Water Treatment and Storage Temperature Control
to Maintain the Quality Mango Fruit
(Mangifera indica L.) cv. Gedong]
Ilmi, NK1), Poerwanto, R1), dan Sutrisno2)
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor,
Jln. Meranti Kampus IPB, Dramaga, Bogor 16680
2)
Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor,
Jln. Meranti Kampus IPB Dramaga, Bogor, 16680
E-mail: [email protected]
Naskah diterima tanggal 19 Agustus 2014 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 19 Januari 2015
1)
ABSTRAK. Penanganan pascapanen yang kurang tepat mengakibatkan kualitas buah mangga rendah dan kehilangan hasil. Oleh
karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian perlakuan pascapanen berupa perlakuan panas dan suhu penyimpanan pada
buah mangga Gedong. Tujuan penelitian adalah menentukan perlakuan yang dapat mempertahankan kualitas pascapanen buah
mangga Gedong. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013 di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian
Bogor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan pola split plot terdiri atas dua faktor yaitu suhu
pencucian (60±1°C, 53±1 °C, suhu air normal) dan suhu penyimpanan (suhu 18,1±1°C, 16,1±1°C, suhu ruang). Pencucian dengan
suhu 53±1°C dapat digunakan untuk membersihkan buah. Perlakuan yang dapat menghambat perubahan susut bobot, kekerasan buah,
kandungan asam (asam tertitrasi total), dan padatan terlarut total adalah penyimpanan pada suhu rendah (16,1±1°C dan 18,1±1°C).
Perlakuan yang memberikan penampilan yang baik, dapat menekan perkembangan penyakit antraknos, dan menghambat perubahan
warna buah adalah kombinasi perlakuan suhu pencucian 53±1°C dengan suhu simpan 16,1±1°C.
Katakunci: Mangga Gedong; Perlakuan panas; Antraknos; Kualitas pascapanen; Suhu penyimpanan
ABSTRACT. The improper postharvest handling lead to a poor mango fruit quality and fresh fruit yield loss. Therefore, this study
performed postharvest handling testing focused on heat treatment and storage temperature of Gedong mango. This research aimed
to determine the best treatment which can maintain Gedong mango postharvest quality. This research was conducted in July 2013
at Center of Tropical Horticulture Studies Laboratory of Bogor Agricultural University using completely randomized design with
split plot, consisted of washing water temperature factor (60±1°C, 53±1°C, normal water temperature) and storage temperature
factor (18.1±1°C, 16.1±1°C, room temperature). The washing with 53±1°C temperature can be utilized for fruit cleaning. Low
storage temperature of 16.1±1°C is able to inhibit weight loss, fruit firmness, acid content (total titratable acidity), and total soluble
content. The combination of washing temperature treatment of 53±1°C and storage temperature treatment of 16.1±1°C can result a
good fruit performance, suppress anthracnose infestation, and slow down the fruit color change.
Keywords: Gedong mango; Heat treatment; Antrachnose; Postharvest quality; Storage temperature
Getah menjadi salah satu penyebab menurunnya
kualitas pascapanen buah mangga karena getah dapat
menyebabkan buah terlihat kotor, dermatitis, dan
menjadi media bagi pertumbuhan cendawan (Yuniarti
& Suhardjo 1994). Upaya yang dapat dilakukan
untuk menghilangkan getah yaitu dengan pencucian.
Penelitian sebelumnya telah menemukan formulasi
bahan pencuci yang dapat menghilangkan getah, debu,
dan kotoran lain yang melekat pada buah mangga
Arumanis dan Gedong yakni menggunakan larutan
deterjen dan Ca(OH)2 (Poerwanto 2013).
Beberapa tahun terakhir, perlakuan panas (heat
treatment) menjadi salah satu teknologi pengendalian
hama dan penyakit yang banyak dilakukan pada hasil
panen hortikultura. Perlakuan vapour hot treatment
78
(VHT) dengan suhu 52–55°C selama 10 menit menjadi
salah satu cara untuk mengatasi penyakit diplodia
(Diplodia natalensis) yang diaplikasikan setelah buah
mangga Arumanis dipanen (Deptan 2008). Pada buah
mangga Gedong Gincu telah dilakukan pengendalian
lalat buah menggunakan teknik VHT. Vapour hot
treatment dengan suhu 46,5°C yang diikuti pelilinan
dapat mempertahankan buah mangga hingga 28
hari dalam penyimpanan (Marlisa 2007). Selain itu,
perlakuan panas digunakan untuk memperpanjang
umur simpan buah-buahan yang didasarkan pada
pengaruhnya terhadap aktivitas enzim dalam buah
(Ketsa et al. 2000). Perlakuan panas sebelum
penyimpanan dapat menghambat sintesis enzim yang
terlibat dalam proses pemasakan buah tomat termasuk
Ilmi, NK et al.: Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu
Simpan untuk Mempertahankan Kualitas Buah ...
enzim yang terlibat dalam sintesis etilen (Lurie et
al. 1996), yakni 1-aminocyclopropane-1-carboxylic
acid (ACC) sintase dan oksidase (Zhou et al. 2002).
Pembentukan etilen dari metionin yakni melalui
senyawa intermedier S-adenosil-metionin (SAM) dan
ACC. Perubahan SAM menjadi ACC dilakukan oleh
enzim ACC-sintase, kemudian ACC dirubah menjadi
etilen oleh ACC-oksidase. ACC-oksidase merupakan
enzim yang labil dan sensitif terhadap oksigen, dan
suhu tinggi di atas 35°C. ACC-oksidase menjadi tidak
aktif akibat perlakuan panas, dan penurunan sintesis
ACC-oksidase terjadi melalui penurunan m-RNA.
Akibatnya, ACC meningkat tajam, sedangkan etilen
mengalami penurunan (Lurie et al.1996, Lurie 1998,
Sudjatha & Wisaniyasa 2008).
Hasil penelitian Ketsa et al. (2000) menunjukkan
bahwa perlakuan panas pada suhu 38°C tidak dapat
menghambat pemasakan buah mangga cv. Nam
Dok Mai. Diduga bahwa perlakuan panas akan
berpengaruh terhadap pemasakan buah mangga jika
suhu ditingkatkan. Namun demikian, perlakuan panas
dengan suhu 38°C dapat memperbaiki kualitas buah
setelah disimpan pada suhu rendah. Selain itu, buah
mangga mengalami kerusakan yang lebih rendah
dibandingkan dengan buah mangga yang tidak diberi
perlakuan panas.
Perbaikan kualitas buah mangga dapat dilakukan
dengan mengombinasikan beberapa perlakuan
pascapanen untuk mengoptimalkan pengaruhnya
terhadap perubahan fisiologis yang selanjutnya dapat
menghambat penurunan kualitas buah (Prawaningrum
2012). Penyimpanan pada suhu kamar dapat
mempercepat proses respirasi dan meningkatkan
kehilangan hasil (Napitupulu 2013). Sementara itu,
Yahia & Campos (2000) menyatakan bahwa perlakuan
air panas dapat menyebabkan kerusakan pada kualitas
buah mangga jika perlakuan tidak diterapkan dengan
baik dan buah mangga tidak segera disimpan pada
suhu rendah setelah diberikan perlakuan panas. Oleh
karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian
perlakuan panas dan suhu penyimpanan pada buah
mangga Gedong. Aplikasi perlakuan panas dilakukan
bersamaan dengan proses pencucian. Penyimpanan
pada suhu rendah digunakan karena merupakan cara
efektif dalam menghambat proses pemasakan jika
dalam kisaran yang tidak menyebabkan chilling injury
(Purwoko & Magdalena 1999). Hasil penelitian Baloch
et al. (2011) menunjukkan bahwa buah mangga Langra
dan Samar Baghist Caunsa yang direndam pada suhu
air 15°C (precooling) kemudian disimpan pada suhu
15°C dapat menghambat perubahan warna kulit buah
yang menunjukkan pemasakan buah terhambat.
Tujuan penelitian adalah menentukan perlakuan
panas dan suhu penyimpanan yang dapat
mempertahankan kualitas pascapanen buah mangga
kultivar Gedong. Hipotesis yang diajukan adalah
terdapat suhu perlakuan panas dan suhu penyimpanan
yang dapat mempertahankan kualitas pascapanen buah
mangga kultivar mangga Gedong.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013 di
Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika,
Institut Pertanian Bogor. Tempat pengambilan buah
mangga Gedong di Desa Girinata, Kecamatan Duku
Puntang, Kabupaten Cirebon.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara
lain buah mangga cv. Gedong, deterjen komersial, dan
Ca(OH)2. Alat yang digunakan antara lain waterbath,
refraktometer digital, timbangan analitik, hardness
tester, dan lemari pendingin.
Rancangan Percobaan dan Analisis Data
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap
pola split plot, digunakan dua faktor perlakuan yaitu
suhu pencucian terdiri atas suhu 60±1°C, 53±1°C,
dan suhu air normal (27±1°C), dan suhu penyimpanan
terdiri atas suhu 18,1°C, 16,1°C, dan suhu ruang (25–
28°C), dengan tiga ulangan sehingga terdapat 27 unit
percobaan dan setiap unit percobaan terdiri atas dua
sampel. Data nonparametrik dianalisis menggunakan
Kruskal-Wallis. Jika terdapat pengaruh nyata, diuji
lanjut dengan uji Duncan pada taraf 5%. Data
parametrik dianalisis menggunakan analisis ragam
pada taraf nyata 5%, apabila hasil menunjukkan ada
pengaruh nyata perlakuan, diuji lanjut dengan DMRT
pada taraf 5%.
Pelaksanaan Penelitian
Buah mangga Gedong dipanen menggunakan galah
yang dilengkapi keranjang penampung dan pisau.
Indeks panen yang digunakan adalah warna buah hijau,
bentuk lekukan bagian pangkal dan ujung hampir
hilang, umur buah 90–100 hari setelah antesis dan
lentisel tersebar merata pada permukaan buah. Setelah
itu, dilakukan sortasi berdasarkan keutuhan, bebas
memar, ukuran buah, layak konsumsi, serta bebas dari
hama dan penyakit (Badan Standardisasi Nasional
2009). Bagian kulit buah yang terkena getah ditandai
untuk menentukan persentase getah. Buah diangkut
menuju laboratorium menggunakan kemasan kardus
79
J. Hort. Vol. 25 No. 1, 2015
yang dilengkapi ventilasi setelah buah dibungkus
kertas koran. Buah mangga dicuci menggunakan
larutan Ca(OH)2 0,25% + deterjen 1% pada 24 jam
setelah dipanen. Buah mangga dimasukkan ke dalam
waterbath berisi larutan bahan pencuci dengan suhu
60±1°C dan 53±1°C, dan sebagian buah dimasukkan
dalam larutan bahan pencuci pada suhu air normal
(27±1°C). Buah dibersihkan menggunakan busa halus,
kemudian dibilas dengan air bersih, lalu dikeringanginkan. Kemudian, buah disimpan dalam lemari
pendingin bersuhu 18,1±1°C, 16,1±1°C, dan disimpan
pada suhu ruang (25–28°C).
Variabel yang diamati sebagai data nonparametrik
yaitu persentase getah yang menempel, persentase
yang menunjukkan gejala antraknos, dan warna
buah. Pengamatan data nonparametrik menggunakan
teknik skoring berdasarkan Holmes et al. (2009).
Variabel yang diamati sebagai data parametrik yaitu
susut bobot dengan cara mengukur bobot buah setiap
hari pengamatan, tingkat kekerasan menggunakan
hardness tester, asam tertitrasi total menggunakan
metode titrasi, dan padatan terlarut total buah
menggunakan refraktometer digital.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase Kehilangan Getah
Penentuan persentase kehilangan getah dilakukan
untuk memastikan pencucian dapat menghilangkan
getah yang menempel pada buah. Banyaknya getah
yang hilang setelah pencucian ditunjukkan pada
Gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan adanya kehilangan getah
pada kulit buah mangga setelah dicuci. Pencucian
buah pada suhu 53±1°C dan 27±1°C memiliki skor
getah sebelum dicuci yang lebih tinggi dibandingkan
dengan suhu 60±1°C, namun yang dinilai adalah
banyaknya getah yang hilang akibat pencucian. Oleh
karena itu, pencucian buah mangga Gedong pada
suhu 53±1°C mampu menghilangkan getah pada kulit
buah lebih banyak dibandingkan pada suhu 60±1°C.
Secara umum, penampilan buah setelah dicuci lebih
baik dibandingkan buah sebelum dicuci. Berdasarkan
data yang diperoleh, pencucian dengan suhu 53±1°C
lebih baik digunakan untuk membersihkan buah
mangga Gedong dari getah yang menempel selama 24
jam sejak buah dipanen. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian Jabbar et al. (2012) yang menunjukkan
bahwa kombinasi penghilangan getah secara kimia
dan perlakuan air panas efektif menekan kerusakan
akibat getah pada buah mangga Samar Bahist Chaunsa.
Perlakuan air panas perlu dilakukan karena memiliki
efek membersihkan dan kemungkinan ini berkaitan
dengan kandungan minyak dalam getah.
Daya Simpan
Daya simpan ditentukan berdasarkan periode buah
tetap terlihat segar, tidak busuk, dan rasa yang tetap
normal selama dalam penyimpanan sehingga masih
layak dikonsumsi. Daya simpan buah mangga Gedong
setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 menunjukkan bahwa daya simpan buah
mangga Gedong terlama adalah 12 hari setelah
panen (HSP). Buah mangga Gedong yang memiliki
daya simpan 12 HSP yakni buah pada kombinasi
perlakuan suhu pencucian 53±1°C dengan suhu
simpan 18,1±1°C, suhu pencucian 53±1°C dengan
suhu simpan 16,1±1°C, dan suhu pencucian 53±1°C
dengan suhu ruang. Selanjutnya, buah pada kombinasi
pencucian pada suhu air normal dengan suhu simpan
16,1±1°C juga memiliki daya simpan 12 HSP. Buah
mangga Gedong yang paling cepat membusuk adalah
5,00
4,33
4,50
3,78
4,00
3,50
3,00
3,44
2,61
2,50
2,44
2,39
2,00
Sebelum
dicuci (Before washing)
Sebelum Dicuci
Setelah
dicuci (After washing)
Setelah Dicuci
1,50
1,00
0,50
0,00
60±1°C
53±1°C
27±1°C
Gambar 1. Banyaknya getah yang menempel pada kulit buah sebelum dan sesudah buah dicuci (The
amount of sap on the mango peel before and after washing)
80
Ilmi, NK et al.: Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu
Simpan untuk Mempertahankan Kualitas Buah ...
Tabel 1. Pengaruh suhu pencucian, suhu simpan, dan kombinasi keduanya terhadap daya simpan buah
mangga Gedong (Effect of washing temperature, storage temperature, and the combination both of
those)
Perlakuan
(Treatments)
Kriteria (Criteria)
HSP (DAH)
Periode kesegaran
Mulai busuk
(Fresh period)
(Start of rot)
Suhu pencucian* Suhu simpan
(Washing temperature* storage temperature)
60±1°C * suhu ruang
60±1°C * 18,1±1°C
60±1°C *16,1 ±1°C
53±1°C * suhu ruang
53±1°C * 18,1±1°C
53±1°C * 16,1±1°C
27±1°C * suhu ruang
27±1°C *18,1±1°C
27±1°C * 16,1±1°C
9
10
11
12
12
12
12
12
12
12
12
13
12
12
12
9
10
12
Daya simpan
(Shelf life)
HSP (DAH)
9
10
11
12
12
12
9
10
12
Data tidak dianalisis statistika (No statistically analyzed data)
HSP = Hari setelah panen, DAH = Days after harvesting
buah yang dicuci pada suhu 27±1°C (air normal), dan
buah yang dicuci pada 27±1°C kemudian disimpan
pada suhu ruang (25–28°C). Daya simpan yang telah
diketahui tersebut harus didukung oleh data sifat
fisik, kimia buah, dan kerusakan yang tampak pada
permukaan buah. Oleh karena itu, lebih lanjut dibahas
pada pembahasan setiap variabel pengamatan.
Penampilan Buah
Buah mangga Gedong pada setiap suhu pencucian
yang disimpan pada suhu ruang mengalami perubahan
warna pada bagian eksokarp (kulit buah) dan mesokarp
(daging buah) yang lebih cepat yaitu sejak 6 HSP. Kulit
buah mangga Gedong yang dicuci pada suhu 53±1°C
kemudian disimpan pada suhu ruang masih didominasi
warna hijau.
Buah mangga Gedong yang memiliki penampilan
baik hingga 12 HSP adalah buah yang dicuci pada
suhu 53±1°C kemudian disimpan pada suhu 18,1±1°C
maupun 16,1±1°C, dan buah yang dicuci pada suhu
normal kemudian disimpan pada suhu 16,1±1°C.
Penampilan buah yang paling tidak menarik adalah
buah mangga Gedong yang dicuci pada suhu normal
kemudian disimpan pada suhu ruang disebabkan
adanya penyakit antraknos. Sementara itu, buah
mangga Gedong yang dicuci pada suhu 60±1°C
memiliki warna kulit buah yang tidak menarik dan
terdapat bagian yang mengisut, walaupun serangan
antraknos tidak begitu parah. Hal ini diduga akibat
suhu pencucian yang terlalu tinggi sehingga jaringan
buah mangga Gedong lebih cepat rusak.
Susut Bobot
Susut bobot ialah kehilangan bobot buah setelah
buah dipanen, akibat penurunan kadar air (Darmajana
2008). Perubahan susut bobot selama penyimpanan
ditampilkan pada Tabel 2 yang menunjukkan susut
bobot buah mangga Gedong semakin meningkat
seiring bertambahnya waktu simpan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa suhu simpan berpengaruh
nyata terhadap susut bobot sejak 2 HSP hingga 12
HSP, sedangkan pengaruh nyata suhu pencucian
hanya terlihat pada 2 HSP, dan kombinasi perlakuan
tidak berpengaruh nyata terhadap susut bobot buah
mangga Gedong. Susut bobot buah mangga pada
suhu ruang nyata lebih tinggi dibandingkan pada suhu
rendah (16,1±1°C dan 18,1±1) dengan nilai susut
bobot tertinggi mencapai 19,18% pada 12 HSP dan
penampilan buah yang lebih cepat berubah menjadi
masak (Gambar 3), namun suhu simpan 16,1±1°C dan
18,1±1 cenderung tidak berbeda nyata.
Penurunan bobot terjadi secara alami karena buah
tetap melakukan proses metabolik yaitu respirasi
dan transpirasi selama proses penyimpanan dan
pematangan sehingga terjadi kehilangan air dan
bahan organik lain (Sudjatha & Wisaniyasa 2008).
Susut bobot buah merupakan salah satu komponen
yang dipengaruhi oleh suhu simpan dan suhu simpan
memengaruhi laju respirasi buah (CandelarioRodriguez et al. 2014, Lubis 2010). Suhu rendah dapat
menunda proses pemasakan pada buah klimakterik
(Sudjatha & Wisaniyasa 2008). Persentase susut
bobot yang rendah menunjukkan bahwa suhu rendah
81
J. Hort. Vol. 25 No. 1, 2015
60+1oC* 28+1oC
53+1oC* 28+1oC
27+1oC* 28+1oC
Gambar 2. Penampilan buah mangga Gedong pada setiap suhu pencucian yang disimpan pada suhu ruang
pada 6 HSP (Appearance of Gedong mango on each washing temperature in the room storage
temperature at 6 DAH)
16,1±1°C maupun 18,1±1°C menghambat transpirasi
dan respirasi sehingga susut bobot buah mangga
Gedong pun terhambat. Laju transpirasi buah mangga
pada suhu rendah terhambat kemungkinan disebabkan
oleh tekanan uap air dalam buah telah seimbang atau
bahkan lebih rendah daripada tekanan uap air dalam
ruang pendinginan (Winarno 2002).
Apabila air yang digunakan oleh buah untuk
transpirasi tidak mencukupi maka akan terjadi
kerusakan seperti kulit buah keriput (Sudjatha &
Wisaniyasa 2008). Hal ini ditunjukkan oleh buah
mangga yang dicuci pada suhu air 60±1°C kemudian
disimpan pada suhu ruang yang memiliki kesegaran
hanya selama 9 HSP. Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh tingginya laju transpirasi dan respirasi akibat
suhu tinggi. Penelitian Paramitha (2009) menunjukkan
bahwa puncak klimakterik pada proses respirasi
semakin cepat terjadi pada suhu tinggi.
untuk setiap perlakuan. Suhu simpan berpengaruh
nyata terhadap kekerasan buah. Suhu rendah dan suhu
ruang menunjukkan beda nyata selama penyimpanan,
sedangkan suhu rendah 18,1±1°C dan16,1 ±1°C tidak
berbeda nyata pada 6 dan 12 HSP.
Kekerasan buah mangga Gedong mengalami
perubahan selama penyimpanan. Nilai pada Tabel 3
berarti bahwa semakin kecil nilainya menunjukkan
buah semakin lunak. Nilai kekerasan buah pada suhu
rendah cenderung lebih tinggi daripada suhu ruang.
Kekerasan terendah setiap perlakuan suhu simpan
terjadi pada 12 HSP, namun buah yang disimpan pada
suhu rendah memiliki kekerasan yang lebih tinggi
daripada suhu ruang.
Kekerasan buah merupakan salah satu karakter
kualitas buah yang diamati. Nilai kekerasan buah
mangga Gedong selama penyimpanan ditampilkan
pada Tabel 3.
Nilai kekerasan buah terendah pada perlakuan
suhu ruang kemungkinan disebabkan oleh enzim
pektinase dan selulase yang berperan dalam proses
perombakan protopektin dan hemiselulosa bekerja
lebih aktif daripada enzim pada buah mangga yang
disimpan pada suhu rendah. Perombakan tersebut
mengakibatkan lemahnya dinding sel dan menurunnya
daya kohesi yang mengikat sel satu dengan sel lainnya
(Broto 2003).
Tabel 3 menunjukkan bahwa suhu pencucian dan
kombinasi perlakuan tidak berpengaruh nyata. Data
kekerasan buah pada 2 HSP tidak ditampilkan karena
merupakan data awal dimana nilai kekerasan sama
Penyimpanan pada suhu rendah dapat menunda
pelunakan buah diduga akibat terhambatnya aktivitas
enzim-enzim yang berperan dalam proses degradasi
senyawa-senyawa penyusun dinding sel. Enzim-enzim
Kekerasan Buah
Gambar 3. Penampilan buah mangga Gedong yang dicuci pada suhu normal kemudian disimpan pada
suhu ruang, dan buah mangga yang dicuci pada suhu 60±1°C, pada 12 HSP (Appearance
mango Gedong washed at normal temperature and then stored at room temperature, and washed
mango at 60 ± 1°C, at 12 HSP)
82
Ilmi, NK et al.: Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu
Simpan untuk Mempertahankan Kualitas Buah ...
Tabel 2. Perubahan susut bobot buah mangga Gedong selama penyimpanan (Changes of Gedong mango
weight loss during storage)
Perlakuan (Treatments)
Susut bobot (Weight loss), %
2 HSP (DAH)
3 HSP (DAH)
6 HSP (DAH) 9 HSP (DAH) 12 HSP (DAH)
Suhu pencucian (Washing temperature)
60±1°C
1,42 a
4,45
7,31
10,48
13,75
53±1°C
0,87 b
3,96
6,77
9,39
11,09
27±1°C
1,32 a
4,27
6,89
9,41
12,86
1,48 a
5,92 a
9,93 a
13,56 a
19,18 a
18,1±1°C
1,13 b
3,64 b
6,13 b
8,42 b
9,92 b
16,1 ±1°C
1,01 b
3,12 b
4,91 c
7,30 b
8,60 b
Suhu simpan suhu ruang
(Storage temperature)
KK (CV), %
9,74
14,23
16,68
10,98
15,93
Angka rerata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT 5% , KK: koefisien
keragaman (Mean followed by the same letter in the same column are not significantly different based on DMRT, p=0,05, CV: coefficient
of variance)
yang dimaksud yakni enzim selulase yang memecah
selulosa menjadi selubiosa, enzim hemiselulase
yang memecah hemiselulosa, enzim protopektinase
yang merubah protopektin menjadi pektin, enzim
pektin metilesterase, dan poligalakturonase yang
menghidrolisis pektin (Sudjata & Wisaniyasa 2008,
Efendi 2005).
Asam Tertitrasi Total (ATT)
Selama penyimpanan terjadi perubahan kandungan
asam organik buah. Menurut Amiarsi & Mulyawanti
(2013), asam tertitrasi total (ATT) dapat digunakan
untuk mengidentifikasi asam-asam organik pada buah
mangga. Nilai ATT buah mangga Gedong ditunjukkan
dalam Tabel 4.
Suhu simpan berpengaruh nyata terhadap ATT pada
9 dan 12 HSP dengan nilai ATT tertinggi pada buah
mangga yang disimpan pada suhu 16,1±1°C. Suhu
pencucian dan kombinasi perlakuan tidak berpengaruh
nyata terhadap ATT buah mangga Gedong. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan asam
buah mangga Gedong cenderung menurun seiring
bertambahnya umur simpan. Adanya nilai ATT yang
meningkat maupun konstan diduga akibat buah yang
digunakan dalam analisis destruktif adalah buah yang
memiliki perbedaan tingkat kemasakan yang tidak
terdeteksi saat buah dipanen.
Pada buah mangga Arumanis perubahan kandungan
total asam dan pH disebabkan oleh perubahan
kandungan asam organik (Mulyawanti et al. 2010).
Suhu simpan dapat menghambat proses perubahan
asam organik menjadi senyawa yang lebih sederhana
yang menunjukkan bahwa proses respirasi terhambat.
Hal ini juga dibuktikan pada penelitian Baloch et
al. (2011) yakni pada dua varietas mangga yang
diberikan perlakuan suhu rendah dapat menghilangkan
sejumlah panas dari buah. Bersamaan dengan itu,
kandungan asam sitrat menurun dan diduga asam
sitrat terlibat sebagai substrat dalam respirasi. Adanya
penghambatan perubahan asam organik pada suhu
rendah sejalan dengan penghambatan susut bobot dan
penurunan kekerasan buah mangga Gedong.
Padatan Terlarut Total (PTT)
Padatan terlarut total dapat digunakan untuk
menunjukkan kandungan gula dalam buah mangga
Tabel 3. Perubahan kekerasan buah mangga Gedong selama penyimpanan (Change of Gedong mango
firmness during storage)
Perlakuan (Treatments)
Suhu simpan suhu ruang
(Storage temperature)
18,1±1°C
16,1 ±1°C
KK (CV), %
3 HSP (DAH)
1,23 a
0,96 b
1,18 a
14,73
Kekerasan (Firmness), kg/detik
6 HSP (DAH) 9 HSP (DAH) 12 HSP (DAH)
1,24 a
1,67 b
1,87 b
14,84
0,60 c
0,87 a
1,40 b
23,70
0,21 b
0,45 a
0,54 a
9,06
83
J. Hort. Vol. 25 No. 1, 2015
Tabel 4. Perubahan asam tertitrasi total (ATT) buah mangga Gedong selama penyimpanan (Change of
Gedong mango total titratable acidity during storage)
ATT (Total titratable acidity), %
Perlakuan (Treatments)
3 HSP (DAH)
6 HSP (DAH)
1,41
1,67
1,59
8,55
0,70
0,84
0,71
7,33
Suhu simpan suhu ruang (Storage temperature)
18,1±1°C
16,1±1°C
KK (CV) %
Gedong karena gula adalah zat padat terlarut terbanyak
yang terdapat dalam jus buah-buahan (Kitinoja &
Kader 2003). Perubahan PTT buah mangga Gedong
ditunjukkan pada Tabel 5.
Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa suhu
pencucian dan kombinasi perlakuan tidak berpengaruh
nyata terhadap PTT buah mangga Gedong. Suhu
simpan berpengaruh nyata terhadap PTT buah mangga
Gedong pada 6 HSP dengan nilai PTT tertinggi dicapai
oleh buah yang disimpan pada suhu ruang. Suhu
18,1±1°C dan 16,1±1°C tidak berbeda nyata, namun
memberikan efek penghambatan terhadap peningkatan
PTT buah mangga Gedong. Pada 12 HSP kandungan
PTT buah mangga pada suhu 18,±1°C nyata lebih
rendah. Nilai PTT menunjukkan adanya penurunan
kandungan PTT buah dari hari pengamatan 9 HSP
pada suhu ruang dan 18,1±1 C, sedangkan pada suhu
16,1±1°C terjadi peningkatan PTT.
Nilai PTT yang rendah pada suhu 18,1±1°C maupun
16,1±1°C menunjukkan adanya penghambatan
peningkatan PTT buah. Saat proses pemasakan
buah, terjadi proses hidrolisis pati menjadi gula
akibatnya kandungan PTT buah meningkat secara
bertahap setelah panen selama proses pematangan
(Sivakumar et al. 2011, Poerwanto & Susila 2014).
Peningkatan PTT yang terhambat oleh suhu rendah
kemungkinan disebabkan oleh adanya penghambatan
proses hidrolisis pati menjadi gula. Berbeda dengan
kandungan ATT yang cenderung menurun, PTT
meningkat hingga hari penyimpanan tertentu kemudian
9 HSP (DAH) 12 HSP (DAH)
0,70 b
0,72 b
0,97 a
20,68
0,33 b
0,36 b
0,52 a
11,87
mengalami penurunan. Kandungan PTT buah yang
disimpan pada suhu ruang menurun pada 12 HSP,
kemungkinan disebabkan karena substrat (pati) telah
banyak digunakan pada awal penyimpanan (Purwoko
& Magdalena 1999).
Warna Kulit Buah
Selama penyimpanan terjadi perubahan warna kulit
buah mangga Gedong. Perubahan warna buah dapat
dilihat pada Tabel 6. Suhu simpan berpengaruh nyata
terhadap warna buah mangga Gedong, sedangkan suhu
pencucian tidak berpengaruh nyata. Data pada Tabel 6
menunjukkan adanya interaksi suhu pencucian dengan
suhu simpan pada 6 HSP. Kombinasi pencucian pada
suhu 53±1°C dan suhu simpan 16,1±1°C menunjukkan
skor warna terendah yaitu 2,67 sehingga dapat
dikatakan bahwa kombinasi tersebut menghambat
perubahan warna buah mangga Gedong.
Buah mangga yang disimpan pada suhu ruang
memiliki skor warna tertinggi yaitu 4,39 pada 6 HSP,
5,11 pada 9 HSP, dan 5,89 pada 12 HSP (Gambar 2
dan 3). Sebaliknya, buah pada suhu 16,1±1°C memiliki
skor warna terendah hingga 12 HSP, namun pada 6 dan
9 HSP pengaruh suhu 16,1±1°C tidak berbeda dengan
18±1°C. Hasil ini menunjukkan bahwa suhu rendah
baik 16,1±1°C maupun 18±1°C dapat mempertahankan
warna hijau buah mangga Gedong.
Kehilangan warna hijau pada kulit buah disebabkan
oleh proses degradasi warna hijau dan diikuti dengan
proses pembentukan warna lain (Ritonga et al. 2008).
Tabel 5. Perubahan padatan terlarut total (PTT) buah mangga Gedong selama penyimpanan (Change of
Gedong mango total soluble solid during storage)
Perlakuan (Treatments)
PTT (Total soluble solid), °brix
3 HSP (DAH)
6 HSP (DAH)
9 HSP (DAH)
12 HSP (DAH)
Suhu simpan suhu ruang
(Storage temperature)
18,1±1°C
11,20
11,99
15,52 a
13,40 b
15,51
14,50
14,80 ab
14,17 b
16,1±1°C
KK (CV), %
11,52
16,78
13,25 b
10,80
14,14
7,90
15,90 a
13,09
84
Ilmi, NK et al.: Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu
Simpan untuk Mempertahankan Kualitas Buah ...
Tabel 6. Perubahan warna buah mangga Gedong selama penyimpanan (Change of Gedong mango color
during storage)
Perlakuan
(Treatments)
Suhu simpan suhu ruang
(Storage temperature)
18,1±1 °C
16,1±1 °C
Suhu pencucian*suhu simpan
(Washing temperature*storage temperature)
60±1°C * suhu ruang
60±1°C * 18,1±1°C
60±1°C *16,1 ±1°C
53±1°C *suhu ruang
53±1°C * 18,1±1°C
53±1°C * 16,1 ±1°C
27±1°C *suhu ruang
27±1°C *18,1±1°C
27±1°C * 16,1 ±1°C
Warna (Color)
9 HSP (DAH)
S
P
6 HSP (DAH)
S
P
12 HSP (DAH)
S
P
4,39
19,78 a
5,11
19,28 a
5,89
18,00 a
3,94
3,22
13,11 ab
9,11 b
4,50
4,00
13,67 ab
9,06 b
5,00
4,56
15,00 a
9,00 b
4,33
4,00
4,00
4,67
4,17
2,67
4,17
3,67
3,00
20,67 a
14,33 abc
17,00 ab
20,67 a
14,33 abc
3,33 c
18,00 ab
10,67 abc
7,00 bc
4,83
4,50
4,67
5,17
4,83
3,33
5,33
4,17
4,00
16,83
14,00
14,00
20,50
16,83
3,33
20,50
9,50
7,33
5,83
5,00
5,00
5,83
5,17
4,33
6,00
4,83
4,33
18,00
13,00
13,00
18,00
18,00
4,50
18,00
13,50
9,00
Penyebab terjadinya degradasi adalah terjadinya
perubahan pH, perubahan enzim oksidatif, dan adanya
enzim klorofilase (Sudjatha & Wisaniyasa 2008).
Pengaruh suhu simpan rendah yang dapat menghambat
perubahan warna kulit buah diduga akibat suhu
tersebut dapat menghambat kerja enzim klorofilase
yang berperan dalam degradasi klorofil.
Hasil penelitian Paramitha (2009) dan Badriyah
(2011) menunjukkan bahwa penurunan kandungan
warna hijau terjadi lebih lambat pada buah mangga
Gedong Gincu yang disimpan pada suhu 8°C daripada
suhu 13°C. Hasil penelitian Baloch et al. (2011) juga
menunjukkan bahwa perlakuan perendaman buah
mangga Langra dan Samar Baghist Caunsa dalam
air dengan suhu 15°C selama 20 menit kemudian
disimpan selama 120 menit pada suhu 15°C dapat
menghambat perubahan warna kulit buah. Hal ini
terbukti dari jumlah total karotenoid yang lebih rendah
daripada perlakuan lain yang berarti bahwa rendahnya
aktivitas klorofirase. Selain itu, diketahui pula bahwa
total karotenoid berkorelasi negatif dengan tingkat
kemasaman buah sehingga perubahan warna dapat
pula dikaitkan dengan ATT. Nilai ATT buah mangga
Gedong yang disimpan pada suhu 16,1±1°C pada
9 dan 12 HSP lebih tinggi daripada perlakuan suhu
simpan lainnya. Oleh karena itu, diduga bahwa laju
respirasi terhambat ketika kandungan asam masih
tinggi, kemudian degradasi klorofil terhambat sehingga
kandungan karotenoid sedikit.
Antraknos
Antraknos ialah penyakit yang disebabkan oleh
cendawan Colletotrichum gloeosporioides (Martoredjo
2009). Perkembangan penyakit antraknos sejak muncul
pada 6 HSP disajikan pada Tabel 7. Suhu pencucian
menunjukkan pengaruh nyata terhadap pengendalian
serangan antraknos, sedangkan suhu simpan tidak
berpengaruh nyata. Suhu pencucian 53±1°C dan
60±1°C tidak berbeda nyata pada 9 dan 12 HSP, namun
berbeda nyata dengan suhu 27±1°C (suhu normal).
Skor menunjukkan tingkat serangan antraknos yang
lebih rendah baik pada suhu 53±1°C maupun suhu
60±1°C daripada suhu normal.
Hasil penelitian pada Tabel 7 menunjukkan bahwa
serangan antraknos paling cepat terjadi pada 6 HSP
pada buah yang dicuci menggunakan air normal
(suhu 27±1°C) dan kombinasi suhu air normal dengan
penyimpanan suhu ruang. Kombinasi perlakuan
berpengaruh nyata terhadap antraknos pada 9 dan 12
HSP. Kombinasi perlakuan suhu pencucian 60±1°C
dengan suhu simpan 16,1±1°C, 53±1°C dengan suhu
ruang, dan 53±1°C dengan 16,1±1°C masing-masing
menunjukkan skor 0,0; 0,33; dan 0,17 dengan nilai
peringkat yang sama. Skor yang rendah menunjukkan
kombinasi perlakuan tersebut dapat menekan serangan
antraknos pada 12 HSP.
Hasil penelitian Spadoni et al. (2014) menunjukkan
bahwa suhu panas 60°C selama 20 detik efektif
menekan pertumbuhan hifa dan konidia Monilia
85
J. Hort. Vol. 25 No. 1, 2015
Tabel 7. Perkembangan penyakit antraknos pada buah mangga Gedong selama penyimpanan (Development
of Gedong mango anthracnose during storage)
Antraknosa pada hari ke- (Antrachnose at-)
6 HSP (DAH)
9 HSP (DAH)
12 HSP (DAH)
S
P
S
P
S
P
Perlakuan (Treatments)
Suhu pencucian (Washing temperature)
60±1°C
53±1°C
27±1°C
Suhu pencucian *Suhu simpan
(Washing temperature* storage temperature)
60±1°C * suhu ruang
60±1°C * 18±1°C
60±1°C * 16,1±1°C
53±1°C * suhu ruang
53±1°C * 18,1±1°C
53±1°C * 16,1 ±1°C
27±1°C * suhu ruang
27±1°C * 18,1±1°C
27±1°C * 16,1 ±1°C
0,00
0,00
0,28
13,50
13,50
15,00
0,22
0,00
1,06
12,00 b
12,00 b
18,00 a
0,83
0,33
2,61
12,33 b
8,00 b
21,67 a
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,83
0,00
0,00
13,50
13,50
13,50
13,50
13,50
13,50
18,00
13,50
13,50
0,50
0,17
0,00
0,00
0,00
0,00
2,00
1,17
0,00
12 b
12 b
12 b
12 b
12 b
12 b
21 a
21 a
12 b
2,00
0,50
0,00
0,33
0,50
0,17
3,83
1,83
2,17
20,00 abc
10,00 bcd
7,00 d
7,00 d
10,00 bcd
7,00 cd
26,00 a
19,00 ab
20,00 ab
laxa pada buah peach. Cendawan pembusuk buah
umumnya tumbuh optimal pada suhu 20 sampai 25ºC
dan suhu pertumbuhan minimum yakni 5 sampai 10ºC
(Utama 2006). Penyimpanan pada suhu rendah dapat
menyebabkan penurunan laju pertumbuhan mikrob.
Jika suhu cukup rendah, spora fungi tidak dapat tumbuh
(Sudjata & Wisaniyasa 2008). Perlakuan yang diuji
dalam penelitian ini merupakan suhu di luar kondisi
optimum. Namun suhu rendah tidak berpengaruh
terhadap perkembangan penyakit antraknos, diduga
bahwa pengaruh suhu rendah terhadap serangan
penyakit tersebut dapat terlihat jika terlebih dahulu
diberi perlakuan panas.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Pencucian menggunakan suhu 53±1°C dapat
digunakan untuk membersihkan buah mangga
Gedong dari getah.
2. Perlakuan yang dapat menghambat perubahan susut
bobot, kekerasan buah, asam tertitrasi total, dan
padatan terlarut total adalah penyimpanan pada
suhu 16,1±1°C dan 18,1±1°C.
3. Perlakuan yang memberikan penampilan yang
baik termasuk dapat menekan serangan antraknos
dan menghambat perubahan warna buah adalah
kombinasi perlakuan suhu pencucian 53±1°C
dengan suhu simpan 16,1±1°C.
86
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah membantu
mendanai penelitian ini melalui program Hibah
Kompetensi dengan judul Perbaikan Kualitas Buah
Manggis dan Mangga Sebagai Upaya Peningkatan
Ekspor Buah Tropika Nusantara.
DAFTAR PUSTAKA
1. Amiarsi, D & Mulyawanti, I 2013, ’Pengaruh metode
pembekuan terhadap karakteristik irisan buah mangga beku
selama penyimpanan’, J. Hort., vol. 23, no.3, hlm. 255-62.
2. Badan Standardisasi Nasional 2009, ‘Standar nasional
Indonesia-mangga’, diunduh, 14 September 2013, <http://
sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/detail_sni/9481>.
3. Badriyah, HO 2011, ‘Kajian gejala chilling injury terhadap
perubahan mutu buah mangga varietas Gedong Gincu selama
penyimpanan dingin’, Skripsi, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
4. Baloch, MK, Bibi, F & Jilani, MS 2011, ’Quality and shelf
life of mango (Mangifera indica L.) fruit: As affected by
cooling at harvest time’, Scientia Hort., vol. 130, hlm. 642-6.
5. Broto, W 2003, Mangga: Budidaya, pascapanen, dan tata
niaganya, Agromedia Pustaka, Tangerang.
6. Candelario-Rodriguez, E, Zavala-Garcia, F, Leon, JAR,
Aranda-Ruiza, J, De Oca, MMM &Velazquezt, G 2014,
’Effect of high pressure processing on postharvest
physiology of ‘Keitt’ mango’, Posth Biol and Technol., vol.
94, pp. 35-40.
Ilmi, NK et al.: Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu
Simpan untuk Mempertahankan Kualitas Buah ...
7. Darmajana, DA 2008, Upaya memperpanjang umur simpan
ubi jalar (Ipomoea batatas) dengan teknik pelilinan, Balai
Besar Teknologi Tepat Guna, Subang.
8. Departemen Pertanian 2008, ’Standard operating procedure
(SOP) mangga Arumanis 143 Kabupaten Pemalang’, pdf.
9. Efendi, D 2005, ’Rekayasa genetika untuk mengatasi masalahmasalah pascapanen’, Bul. Agron., vol. 33, no.2, hlm. 49-6.
10.Holmes, R, Hofman, P & Barker, L 2009, Mango quality
assessment manual- a guide to assessing the post-harvest
quality of australian mangoes, Queensland Government,
Queensland.
11. Ketsa, S, Chidtragoo, S & Lurie, S 2000, ’Prestorage heat
treatment and poststorage quality of mango fruit’, Hort.
Science., vol. 35, no. 2, pp. 247-9.
12. Kitinoja, L & Kader, AA 2003, Praktik-praktik penanganan
pascapanen skala kecil: Manual untuk produk hortikultura,
edisi ke 4. Utama, IMS(eds.), penerjemah, Udayana,
Terjemahan dari: Postharvest Horticulture Series, Bali.
13.Jabbar, A, Malik, AU, Maqbool, M, Amin, M, Saeed, M
& Hameed, R 2012, ‘Anti-sap chemicals and hot water
quarantine treatment effects on storage life and fruit quality
of mango cv. Samar Bahist Chaunsa’, Pak. J. Bot., vol. 44,
no. 2, pp.757-64.
14. Lubis, A 2010, ‘Kajian penggunaan metode respon permukaan
untuk optimasi pascapanen (Studi kasus perlakuan konsentrasi
pelilinan dan suhu penyimpanan buah manggis)’, Tesis,
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
15. Lurie, S, Handros, A, Fallik, E & Shapira, R 1996, ’Reversible
inhibition of tomato fruit gene expression at high temperatureeffects on tomato fruit ripening’, Plant Physiol., vol.110, pp.
1207-14.
16. Lurie, S 1998, ’Postharvest heat treatments’, Postharv. Biol.
and Technol., vol. 14, pp. 257-69.
17.Marlisa, E 2007, ’Kajian disinfestasi lalat buah dengan
perlakuan uap panas (vapor heat treatment) pada mangga
Gedong Gincu’, Tesis, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
18. Martoredjo, T 2009, Ilmu penyakit pascapanen, Bumi Aksara,
Jakarta.
19. Mulyawanti, I, Dewandari, KT & Yulianingsih 2010, ’Effects
of freezing and storage periods on characteristics of frozen
sliced Arumanis mango’, Indonesian J. Agric., vol. 3, no. 1,
pp. 32-8.
20.Napitupulu, B 2013, ’Kajian beberapa bahan penunda
kematangan terhadap mutu buah pisang Barangan selama
penyimpanan’, J. Hort., vol. 23, no. 3, hlm. 263-75.
22.Poerwanto, R 2013, Perbaikan kualitas buah manggis dan
mangga sebagai upaya peningkatan ekspor buah tropika
nusantara, Laporan akhir, Program Hibah Kompetensi,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
23. Poerwanto, R & Susila, AD 2014, Teknologi hortikultura, IPB
Press, Bogor.
24. Purwoko, BS & Magdalena, FS 1999, ‘Pengaruh perlakuan
pascapanen dan suhu simpan terhadap daya simpan dan
kualitas buah mangga (Mangifera indica L.) varietas
Arumanis’, Bul. Agron., vol. 27, no.1, hlm. 16-24.
25. Ritonga, AW, Syabani, NR, Novianti, DA, Fatimah, S, Effendi,
D 2008, ‘Degreening dan chilling injuring’, Skripsi, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
26.Santoso, BB 2005, Kematangan produk dan indeks
panen, diunduh 14 Maret 2011, <http://fp.unram.
ac.id/data/DR.Bambang%20B%20Santoso/BahanAjar
PascapanenHortikultura/BAB-4-KematanganProduk.pdf>.
27.Sivakumar, D, Jiang, Y & Yahia, EM 2011, ’Maintaining
mango (Mangifera indica L.) fruit quality during the export
chain’, Food Research Inter., vol. 44, pp. 1254-63.
28. Spadoni, A, Guidarelli, M, Sanzani, SM, Ippolito, A & Maria
M 2014, ‘Influence of hot water treatment on brown rot of
peach and rapid fruit response to heat stress’, Posth. Biol. and
Technol., vol. 94, pp. 66-75.
29. Sudjatha, W & Wisaniyasa, NW 2008, Fisiologi dan teknologi
pasca panen (buah dan sayuran), Udayana University Press,
Bali.
30.Utama, IMS 2006, ‘Pengendalian organisme pengganggu
pascapanen produk hortikultura dalam membentuk GAP,
pemberdayaan petugas dalam pengelolaan OPT hortikultura
dalam rangka mendukung good agricultural practice (GAP),
Bali, Indonesia, 3-8 Juli 2006.
31. Yahia, EM, Campos, P 2000, ‘The effect of hot hater treatment
used for insect control on the ripening and quality of mango
fruit’, Acta Horticulturare (509), pp. 495-501.
32.Yuniarti & Suhardjo 1994, ’Pengaturan waktu dan teknik
pemanenan buah mangga arumanis, Agritech., vol. 17, no.3,
hlm. 1-3.
33. Winarno, FG 2002, Fisiologi lepas panen produk holtikultura,
M-Brio Press, Bogor.
34. Zhou, T, Xu, S, Sun, DW & Wang, Z 2002, ‘Effects of heat
treatment on postharvest quality of peaches’. J. of Food
Engineering, no. 54, pp. 17-22.
21. Paramitha, NR 2009, ’Kajian perubahan mutu buah mangga
Gedong Gincu selama penyimpanan dan pematangan buatan’,
Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
87
Fly UP